You are on page 1of 42

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Xeropthalmia

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Patofisiologi


Dosen Pengampu : Ns. Lantin Setyorini, M.Kep

Oleh :
NAMA : Muhammad Ulul Amri
NIM : 082310101059

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2011

i
DAFTAR ISI

JUDUL ……………………………………………………………………………….
KATA PENGANTAR……………………………………………………………….
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………...
BAB 1 PENDAHULUAN ………………………………………………………….
1.1 LATAR BELAKANG …………………………………………………………
1.2 TUJUAN ……………………………………………………………………….
1.3 MANFAAT …………………………………………………………………….
BAB 2 KONSEP PENYAKIT ………………………………………………………
2.1 DEFINISI ………………………………………………………………………
2.2 ETIOLOGI ……………………………………………………………………..
2.3 EPIDEMOLOGI ……………………………………………………………….
2.4 PATOGENESIS/PATOFISIOLOGI …………………………………………..
2.5 MANIFESTASI KLINIS (TANDA DAN GEJALA) ………………………….
2.6 KOMPLIKASI …………………………………………………………………
2.7 PENCEGAHAN PRIMER, SEKUNDER, DAN TERSIER ………………….
2.8 PENATALAKSANAAN ……………………………………………………..
2.9 PROGNOSIS …………………………………………………………………
BAB 3 PATHWAY …………………………………………………………………
3.1 PATOFISIOLOGI GAMBARAN PENYAKIT SECARA MENYELURUH ..
BAB 4` IMPLIKASI DALAM BIDANG KEPERAWATAN …………………….
4.1 IMPLIKASI PATOFISIOLOGI PENYAKIT DALAM BIDANG
KEPERAWATAN……………………………………………………………..
4.2 PERANAN KEPERAWATAN ……………………………………………….
BAB 5 PENUTUP …………………………………………………………………...
5.1 KESIMPULAN………………………………………………………………..
5.2 SARAN ……………………………………………………………………….
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………
LAMPIRAN ………………………………………………………………………..

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Peningkatan kualitas manusia berkaitan dengan banyak faktor, dan faktor


gizi mempunyai peranan yang sangat strategis. Gizi yang baik merupakan hasil
dari konsumsi makanan dengan kecukupan yang dianjurkan dan keseimbangan
antar zat-zat gizi tersebut. Jika keseimbangan ini tidak tercapai maka akan timbul
berbagai jenis kelainan gizi.

Kelainan gizi dihasilkan dari ketidakseimbangan antara kebutuhan tubuh


untuk sumber zat gizi dan energi dengan penyediaan sunstrat matabolisme.
Ketidakseimbangan mungkin terjadi karena kekurangan atau kelebihan yang
ditandai dengan intik yang tidak sesuai atau penggunaan yang kurang baik, atau
kadang-kadang karena kombinasi keduanya. Terlepas dari kebutuhan manusia
untuk mempertahan kesehatan, malnutrisi selanjutnya akan menjadi penyebab
utama kesakitan dan kematian di negara-negara berkembang, khususnya bagi
anak-anak.

Pada masyarakat yang teknologinya sudah maju, gizi kurang sehubungan


dengan keterbatasan tidak lagi merupakan bahaya utama bagi kesehatan, tapi
tetap terjadi pada pasien di rumah sakit dan khususnya pada kelompok yang
rentan. Keadaan kekurangan tetap terjadi dan meningkat pada pasien dengan
masalah alkohol dan penyiksaan jangka panjang dan dalam perilaku konsumsi
pangan. Gizi kurang skunder yang dihasilkan dari kesalahan absorpsi, kegagalan
transportasi, penyimpanan atau penggunaan seluler, atau kehilangan akibat
praktek pengobatan. Penggunaan yang kurang tepat dari suplemen zat gizi
menunjukkan berbagai contoh toksisitas vitamin dan mineral, yang sering
disebabkan oleh kelalaian pengguna atau kekurangan informasi. Vitamin A
merupakan salah satu zat gizi yang mempunyai beragam resiko baik karena
defisiensi maupun kelebihan intik.

iii
Anak-anak yang mengalami kurang gizi berat berada pada resiko yang
tinggi dari perkembangan kebutaan sehubungan dengan defisiensi vitamin A.
Selain anak-anak, kelompok yang juga rentan terhadap defisiensi gizi adalah
wanita hamil yang selanjutnya akan membahayakan janin yang dikandungnya.
Hal ini sangat penting untuk diperhatikan karena generasi-generasi baru yang
akan lahir sangat ditentukan sejak dalam kandungan.

1.2. Tujuan

1.2.1. Tujuan Umum

Mahasiswa dapat memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan


diagnosa medis xeropthalmia.

1.2.2. Tujuan Khusus

a. Mahasiswa mengetahui pengkajian pada pasien xeropthalmia.

b. Mahasiwa mengetahui diagnosa yang muncul pada pasien


xeropthalmia.

c. Mahasiswa mengetahui intervensi yang dapat diberikan pada pasien


xeropthalmia.

d. Mahasiswa dapat melakukan implementasi sesuai intervensi yang telah


dibuat pada pasien xeropthalmia.

e. Mahasiswa dapat mengevaluasi pasien xeropthalmia.

1.2.3. Manfaat

a. Mahasiswa dapat memahami konsep dasar xeropthalmia


b. Mahasiswa dapat mengetahui cara memberikan askep pada pasien
xeropthalmia

iv
BAB II

KONSEP DASAR TEORI XEROPTHALMIA

2.1. Anatomi dan Fisiologi Mata

Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm. Bola mata
dibagian depan (kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam sehingga
terdapat bentuk dengan 2 kelengkungan yang berbeda Mata mempunyai reseptor
khusus untuk mengenali perubahan sinar dan warna. Secara keseluruhan struktur
mata terdiri dari bola mata, termasuk otot-otot penggerak bola mata, rongga
tempat mata berada, kelopak, dan bulu mata. Bola mata di bungkus oleh tiga
lapis jaringan, yaitu (Vaughan, 2000):

• Sklera merupakan jaringan ikat kenyal memberikan bentuk pada


mata,dan bagian luar yang melindungi bola mata. Bagian depan disebut
kornea yang memudahkan sinar masuk ke dalam bola mata.
• aringan uvea merupakan jaringan vaskuler. Jaringan sklera dan uvea
dibatasi oleh ruang yang mudah dimasuki darah bila terjadi perdarahan
pada ruda paksa di sebut juga perdarahan suprakoroid. Jaringan uvea
terdiri atas iris, badan sillier dan koroid.

• Lapis ketiga bola mata adalah retina yang mempunyai susunan 10 lapis.
Retina dapat terlepas dari koroid yang disebut ablasi retina.

v
2.1.1. Kornea

Kornea (latin cornum= seperti tanduk) adalah selaput bening


mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan
yang menutup bola mata sebelah depan terdiri atas lapis (Vaughan,
2000);

1. Epitel

a) Tebalnya 50µm, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang
saling tumpang tindih, yaitu sel basal, sel poligonal, sel gepeng.

b) Sel basal sering terlihat mitosis sel.

vi
c) Sel basal berikatan erat dengan sel basal disampingnya dan sel
polygonal didepannya melalui dermosom dan makula okluden,
ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa yang
merupakan barrier.

d) Sel basal menghasilkan membrane basal yang melekat erat. Bila


terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren.

e) Epitel berasal dari ektoderm permukaan.

2. Membran Bowman

a) Terletak dibawah membrane basal epitel kornea yang merupakan


kolagen yang tersusun tak teratur seperti stroma dan berasal dari
bagian depan stroma.

b) Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi

3. Stroma

Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen. Pada permukaan


terlihat seperti anyaman yang teratur. Keratosit merupakan sel stroma
kornae yang merupakan fibroblast.

4. Membrane Descemet

a) Merupakan membrane aselular dan merupakan batas belakang


stroma kornea yang dihasilkan sel endotel dan merupakan
membrane basalnya.

b) Bersifat sangat elastic dan berkembang terus seumur hidup.

5. Endotel

Berasal dari mesotelium, melekat pada membrane descement melalui


hemidesmosom dan zonula okluden.

vii
Sumber-sumber nutrisi untuk kornea adalah pembuluh-pembuluh darah limbus,
humour aquaeus dan air mata. Kornea superfisial juga mendapatkan oksigen
sebagian besar dari atmosfer. Saraf-saraf sensorik kornea didapat dari
percabangan pertama (oftalmika) dari nervus kranialis V (trigeminus).
Transparansi kornea disebabkan oleh strukturnyayang seragam, avaskularitasnya
dan deturgensinya.

2.1.2. Uvea

Uvea terdiri dari iris, korpus silier dan khoroid. Bagian ini adalah lapisan
vascular . tengah mata dan dilindungi oleh kornea dan sclera (Vaughan,
2000);

1. Iris

Merupakan lanjutan dari badan siliar kedepan dan merupakan


diafagma yang membagi bola mata menjadi dua segmen anterior dan
segmen posterior. Berbentuk sirkular yang ditengah- tengahnya
berlubang yang disebut pupil. Secara histologi iris terdiri dari stroma
yang jarang dan diantaranya terdapat lekukan-lekukan yang berjalan
radier yang disebut kripta. Di dalam stroma terdapat sel pigmen yang
bercabang, banyak pembulluh darah dan serat saraf . dipermukaan
anterior ditutup oleh endotel terkecuali kripta, dimana pembuluh
darah dalam stroma dapat berhubungan langsung dengan cairan
coa,yang memungkinkan cepatnya terjadi pengaliran makanan ke coa
dan sebaliknya.
Di bagian posterior dilapisi oleh dua epitel yang mrupakan lanjutan
dari epitel pigmen retina. Permukaan depan iris warnanya sangat
bervariasi tergantung pada sel pigmen yang bercabang yang terdapat
didalam stroma.Jaringan otot iris tersusun longgar dengan otot polos
yang melingkar pupil (m. Sfingter pupil) terletak di dalam stroma
dekat pupil dan di atur oleh saraf parasimpatis (N. III) dan yang
berjalan radial dari akar iris ke pupil (m. dilatator pupillae) terletak di
bagian posterior stroma dan diatur oleh saraf simpatis (Vaughan,
2000).

viii
menipis didekat perlekatannya di badan siliar dan menebal
didekat pupil. Pembuluh darah disekitar pupil disebut sirkulus minor
dan yang berada dekat badan siliar disebut sirkulus mayor. Iris
dipersarafi oleh nervus nasosiliar cabang dari saraf cranial III yang
bersifat simpatis untuk midriasis dan parasimpatis untuk miosis.

Pupil bekerja sebagai apertura di dalam kamera. Dalam


keadaan radang, didapatkan iris menebal dan pupil mengecil. Dalam
keadaan normal pupil sentral bulat, isokor (sama kanan dan kiri),
reaksi cahaya langsung dan tidak langsung positif. Reaksi pupil ada
tiga, yaitu reaksi cahaya langsung dan tidak langsung, reaksi
terhadap titik dekat, dan terhadap obat-obatan.

2. Badan Siliar

Berbentuk segitiga terdiri dari dua bagian, yaitu (Vaughan, 2000):

a) Pars korona, pada bagian anterior bergerigi panjangnya kira-kira


2mm

b) Pars plana, yang posterior tidak bergerigi, panjangnya 4mm

Badan siliar dimulai dari pangkal iris ke belakang sampai


koroid terdiri atas otot siliar dan prosesus siliar. Otot siliar berfungsi
untuk akomodasi. Jika otot ini berkontraksi ai menarik prosesus siliar
dan koroid kedapan dan ke dalam, mengendorkan zonula zinni
sehingga lensa menjadi lebih cembung. Radang pada badan siliar
akan mengakibatkan melebarnya pembuluh darah di daerah limbus
yang akan mengakibatkan mata merah yang merupakan gambaran
khas peradangan intraokular.

Prosesus siliar menghasilkan cairan mata yaitu, akueous


humour yang mengisi bilik mata depan. Yang berfungsi memberi
makanan untuk kornea dan lensa. Pada peradangan akibat hiperemi
yang aktif, maka pembentukan cairan mata bertambah sehingga
dapat menyebabkan tekanan intraokuler meninggi dan timbullah

ix
glukoma sekunder. Bila peradangan hebat dan merusak sebagian
badan siliar maka produksi akueous humour berkurang, tekanan
berkurang dan berakhir sebagai atrofi bulbi okuli (Sidarta dan Ilyas,
2005).

c) Koroid

Koroid merupakan suatu membran yang berwarna cokelat


tua, yang terletak diantara sklera dengan retina terbentang dari ora
serata sampai ke papil saraf optik. Koroid terdri dari beberapa
lapisan, yaitu;

i. Lapisan epitel pigmen

ii. Membran Bruch (lamina vitrea)

iii. Koriokapiler

iv. Pembuluh darah sedang dan pembuluh darah besar

v. Suprakoroid

Lapisan suprakoroid terdiri dari lapisan protropoblas


yang mengandung nukleus. Membran bruch merupakan
membran yang tidak berstruktur. Pembuluh darah besar
kebanyakan terdiri dari pembuluh balik yhang kemudian
bergabung menjadi empat vena vortikosa,yang keluar dari tiap
kuadran posterior bola mata yang menembus sclera (Sidarta
dan Ilyas, 2005).

x
Pembuluh darah arteri berasal dari arteri siliais brevis
yang mengandung serat elastis dan khromatofor. Koroid
melekat erat pada pinggir N.II dan berakhir di oraserata.

2.1.3. Lensa

Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular tak berwarna


dan hampir transparan sempurna. Tebalnya kira-kira 4mm dan
diameternya 9mm. Lensa digantung oleh zonula, yang
menghubungkannya dengan korpus silier. Di bagian anterior lensa
terdapat humor aquaeus, disebelah posteriornya vitreus. Kapsul lensa
adalah suatu membranyang semi permiabel (sedikit lebih permeabel dari
pada dinding kapiler) yang akan memperoleh air dan elektrolit masuk
(Sidarta dan Ilyas, 2005).

Lensa ditahan ditempatnya oleh ligamentum yang dikenal


sebagai zonula (zonula zinnii), yang tersusun dari banyak fibril dari
permukaan korpus siliare dan menyisip ke dalam ekuator lensa.Secara
fisiologik lensa mempunyai sifat tertentu (Sidarta dan Ilyas, 2005);

a. Kenyal atau lentur karena memegang peranan terpenting dalam


akomodasi untuk menjadi cembung.

b. Jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan

c. Terletak ditempatnya.

Keadaan patologik lensa ini dapat berupa :

a. Tidak kenyal pada orang dewasa yang akan mengakibatkan presbiopi.

b. Keruh atau apa yang disebut katarak

c. Tidak berada ditempat atau subluksasi dan dislokasi.

2.1.4. Retina

xi
Retina adalah selapis lembar tipis jaringan saraf yang semi
transparan. Retina merupa kan reseptor yang menerima rangsangan
cahaya. Retina berbatas dengan koroid dan sel pigmen epitel retina, dan
terdiri atas lapisan (Sidarta dan Ilyas, 2005);

a. Membrana limitans interna

b. Lapisan serat saraf yang mengandung akson-akson sel ganglion yang


berjalan menuju kenervus optikus.

c. Lapisan sel ganglion

d. Lapisan pleksiformis dalam, yang mengandung sambungan-


sambungan sel ganglion dengan sel amakrin dan sel bipolar

e. Lapisan inti dalam badan sel bipolar, amakrin dan sel horizontal

f. Lapisan pleskiformis luar, yang mengandung sambungan-sambungan


sel bipolar dan sel horizontal dengan fotoreseptor

g. Lapisan inti luar sel fotoreseptor

h. Membran limitans eksterna

i. Lapisan fotoreseptor segmen dalam dan luar batang dan kerucut

j. Epitelium pigmen retina

Warna retina biasanya jingga dan kadang-kadang pucat pada


anemia dan iskemia dan merah pada hiperemia.

Pembuluh darah di dalam retina merupakan percabangan arteri


oftalmika, arteri retina sentral masuk retina melalui papil saraf optik
yang akan memberikan nutrisi pada retina dalam. Lapisan luar retina
atau sel kerucut dan batang mendapat nutrisi dari koroid.

2.2. Definisi

xii
Xeroftalmia adalah kelainan mata akibat kekurang vitamin A. Sebelum
terdeteksi menderita xeropthalmia, biasanya penderita akan mengalami buta
senja. Gejala xeropthalmia terlihat pada kekeringan pada selaput lendir
(konjungtiva) dan selaput bening (kornea) mata. Kekeringan berlarut-larut
menyebabkan konjungtiva menebal, berlipat-lipat, dan berkerut. Selanjutnya
pada konjungtiva akan tampak bercak putih seperti busa sabun (bercak
Bitot).Selanjutnya, kornea akan melunak dan terjadi luka (tukak kornea). Jika
kornea telah putih atau bola mata mengempis terjadi kebutaan permanen yang
tak bisa dipulihkan lagi.

2.3. Etiologi

Xeroftalmia disebabkan oleh kekurangan vitamin A yang dipicu oleh


kondisi gizi kurang atau buruk. Kerap terjadi pada bayi lahir berat badan rendah,
gangguan akibat kurang yodium (GAKY) serta anemia gizi ibu hamil.

Kelompok rentan xeroftalmia adalah anak dari keluarga miskin, anak di


pengungsian, anak di daerah yang pangan sumber vitamin A kurang, anak
kurang gizi atau lahir dengan berat badan rendah, anak yang sering menderita
penyakit infeksi (campak, diare, tuberkulosis, pneumonia) serta cacingan serta
anak yang tidak mendapat imunisasi serta kapsul vitamin A dosis
tinggi.Defisiensi vitamin A awalnya merupakan ancaman yang tidak kelihatan,
yang apabila tidak ditangani dapat menyebabkan hilangnya penglihatan
seseorang terutama pada anak-anak. Dampak selanjutnya adalah ketika mereka
tidak lagi bisa melihat pada cahaya yang suram dan akan menderita penyakit
yang disebut night blindness (buta senja) atau xerophthalmia.Apabila
penderitaan terus berlanjut konjangtiva dan cornea mata menjadi kuning)
kemudian muncul bercorak pada kornea dan selanjutnya berakibat pada
kebutaan yang permanen.

Penyebab utama kekurangan vitamin A adalah asupan zat gizi vitamin A


(preformed retinol) atau prekursor vitamin A yang tidak mencakupi peningkatan
kebutuhan vitamin A pada kondisi fisiologis dan patologis tertentu, penyerapan
yang kurang kehilangan karena diare sering merupakan penyebab kekurangan
vitamin A.

xiii
Faktor yang menjadi penyebab tingginya kasus Xeroftalmia di Indonesia adalah:

a. Konsumsi makanan yang tidak mengandung cukup vitamin A atau pro-


vitamin A untuk jangka waktu yang lama.
b. Bayi tidak diberikan ASI Eksklusif
c. Menu tidak seimbang (kurang mengandung lemak, protein, seng/Zn atau zat
gizi lainnya) yang diperlukan untuk penyerapan vitamin A dan penggunaan
vitamin A dalam tubuh
d. Adanya gangguan penyerapan vitamin A atau pro-vitamin A seperti pada
penyakit-penyakit antara lain penyakit pancreas, diare kronik, KEP dan lain-
lain sehingga kebutuhan vitamin A meningkat.
e. Adanya kerusakan hati, seperti pada kwashiorkor dan hepatitis kronik,
menyebabkan gangguan pembentukan RBP (Retinol Binding Protein) dan
pre-albumin yang penting untuk penyerapan vitamin A.
f. Tingginya angka infeksi pada anak (gastroenteritis/diare)

2.4. Patofisiologi

Terjadinya defisiensi vitamin A berkaitan dengan berbagai faktor


dalam hubungan yang komplek seperti halnya dengan masalah KKP. Makanan
yang rendah dalam vitamin A biasanya juga rendah dalam protein, lemak dan
hubungannya antar hal-hal ini merupakan faktor penting dalam terjadinya
defisiensi vitamin A.

Vitamin A merupakan “body regulators” dan berhubungan erat dengan


proses-proses metabolisme. Secara umum fungsi tersebut dapat dibagi dua (i)
Yang berhubungan dengan penglihatan dan (ii) Yang tidak berhubungan
dengan penglihatan.
Fungsi yang berhubungan dengan penglihatan dijelaskan melalui mekanisme
Rods yang ada di retina yang sensitif terhadap cahaya dengan intensitas yang
rendah, sedang Cones untuk cahaya dengan intensitas yang tinggi dan untuk
menangkap cahaya berwarna. Pigment yang sensitif terhadap cahaya dari Rods
disebut sebagai Rhodopsin, yang merupakan kombinasi dari Retinal dan
protein opsin.

xiv
Ada dua macam sel reseptor pada retina, yaitu sel kerucut (sel konus)
dan sel batang (sel basilus). Sel konus berisi pigmen lembayung dan sel batang
berisi pigmen ungu. Kedua macam pigmen akan terurai bila terkena sinar,
terutama pigmen ungu yang terdapat pada sel batang. Oleh karena itu, pigmen
pada sel basilus berfungsi untuk situasi kurang terang, sedangkan pigmen dari
sel konus berfungsi lebih pada suasana terang yaitu untuk membedakan warna,
makin ke tengah maka jumlah sel batang makin berkurang sehingga di daerah
bintik kuning hanya ada sel konus saja.

Pigmen ungu yang terdapat pada sel basilus disebut rodopsin, yaitu
suatu senyawa protein dan vitamin A. Apabila terkena sinar, misalnya sinar
matahari, maka rodopsin akan terurai menjadi protein dan vitamin A.
Pembentukan kembali pigmen terjadi dalam keadaan gelap. Untuk
pembentukan kembali memerlukan waktu yang disebut adaptasi gelap (disebut
juga adaptasi rodopsin). Pada waktu adaptasi, mata sulit untuk melihat.
Pigmen lembayung dari sel konus merupakan senyawa iodopsin yang
merupakan gabungan antara retinin dan opsin. Ada tiga macam sel konus,
yaitu sel yang peka terhadap warna merah, hijau, dan biru. Dengan ketiga
macam sel konus tersebut mata dapat menangkap spektrum warna. Kerusakan
salah satu sel konus akan menyebabkan buta warna.

Perubahan dari rhodopsin ke retinene terjadi pada proses penglihatan:


Disini mungkin rhodopsin hanya salah satu dari struktur protein yang akan
menjadi stabil setelah dikombinasi dengan vitamin A.

Efek lain dari vitamin A pada penglihatan yang berpengaruh secara


tidak langsung ialah pada epitel kornea dan konjungtiva. Pada keadaan
defisiensi, epitel menjadi kering dan terjadi keratinisasi seperti tampak pada
gambaran Xerophthalmia.

Xeroftalmia merupakan mata kering yang terjadi pada selaput lendir


(konjungtiva) dan kornea (selaput bening) mata. Xeroftalmia yang tidak segera
diobati dapat menyebabkan kebutaan. Xeroftalmia terjadi akibat kurangnya
konsumsi vitamin A pada bayi, anak-anak, ibu hamil, dan menyusui.

xv
Patogenesis xeroftalmia terjadi secara bertahap;

1. Buta senja (XN)

Disebut juga rabun senja. Fungsi fotoreseptor menurun. Tidak


terjadi kelainan pada mata (mata terlihat normal), namun penglihatan
menjadi menurun saat senja tiba, atau tidak dapat melihat di dalam
lingkungan yang kurang cahaya. Untuk mengetahui keadaan ini, penderita
sering membentur atau menabrak benda yang berada di depannya. Jika
penderita adalah anak yang belum dapat berjalan, agak susah
mendeteksinya. Biasanya anak akan diam memojok dan tidak melihat
benda di depannya. Dengan pemberian kapsul vitamin A maka
pengelihatan akan dapat membaik selama 2 hingga 4 hari. Namun jika
dibiarkan, maka akan berkembang ke tahap selanjutnya.

2. Xerosis konjungtiva (X1A)

Selaput lendir atau bagian putih bola mata tampak kering, keriput,
dan berpigmentasi pada permukaan sehingga terlihat kasar dan kusam.
Mata akan tampak kering atau berubah menjadi kecoklatan.

3. Xerosis konjungtiva dan bercak bitot (X1B)

X1B merupakan tanda-tanda X1A ditambah dengan bercak seperti


busa sabun atau keju, terutama di daerah celah mata sisi luar. Mata
penderita umumnya tampak bersisik atau timbul busa. Dalam keadaan
berat, tampak kekeringan meliputi seluruh permukaan konjungtiva (bagian
putih mata), konjungtiva tampak menebal, berlipat-lipat, dan berkerut.
Dengan pemberian vitamin A yang baik dan pengobatan yang benar,
bercak akan membaik selama 2 hingga 3 hari, dan kelainan mata akan
menghilang dalam waktu 2 minggu.

xvi
4. Xerosis kornea (X2)

Kekeringan pada konjungtiva berlanjut hingga kornea (bagian


hitam mata) sehingga tampak kering dan suram, serta permukaan kornea
tampak kasar. Umumnya terjadi pada anak yang bergizi buruk, menderita
penyakit campak, ISPA, diare, dan sebagainya. Pemberian vitamin A yang
benar akan membuat kornea membaik setelah 2 hingga 5 hari, dan
kelainan mata akan sembuh selama 2 hingga 3 minggu.

5. Keratomalasia dan ulserasi kornea (X3A/ X3B)

Kornea melunak seperti bubur dan terjadi ulkus kornea atau


perlukaan. Tahap X3A bila kelainan mengenai kurang dari 1/3 permukaan
kornea. Tahap X3B bila kelainan mengenai sama atau lebih dari 1/3
permukaan kornea. Keadaan umum penderita sangatlah buruk. Pada tahap
ini dapat terjadi perforasi kornea (pecahnya kornea). Bila penderita telah
ditemukan pada tahap ini maka akan terjadi kebutaan yang tidak dapat
disembuhkan.

6. Xeroftalmia Scars (XS)

Disebut juga jaringan kornea. Kornea mata tampak memutih atau


bola mata tampak mengempis. Jika penderita ditemukan pada tahap ini,
maka kebutaan tidak dapat disembuhkan.

Pemenuhan kebutuhan vitamin A sangat penting untuk


pemeliharaan keberlangsungan hidup secara normal. Kebutuhan tubuh
akan vitamin A untuk orang indonesia telah dibahas dan ditetapkan dalam
Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (1998) dengan mempertimbangkan
faktor-faktor khas dari keadaan tubuh orang Indonesia

Diagnosis penderita xeroftalmia dapat diperoleh dengan memakai cara


diagnostik, seperti(Wjitcher and Tears, 1995):

xvii
1. Tes Schirmer

Tes ini dilakukan dengan mengeringkan lapisan air mata dan


memasukkan strip Schirmer (kertas saring Whartman No. 41) ke dalam
cul de sac konjungtiva inferior pada batas sepertiga tengah dan
temporal dari palpebra inferior. Bagian basah yang terpapar diukur
lima menit setelah dimasukkan. Panjang bagian basah kurang dari 10
mm tanpa anestesi dianggap abnormal (produksi air mata
sedikit/berkurang).

2. Tes Break-up Time

Tes ini berguna untuk menilai stabilitas air mata dan komponen lipid
dalam cairan air mata; diukur dengan meletakkan secarik kertas
berfluorescein di konjungtiva bulbi dan meminta penderita untuk
berkedip. Lapisan air mata kemudian diperiksa dengan bantuan filter
cobalt pada slitlamp, sementara penderita diminta tidak berkedip.
Selang waktu sampai munculnya titik-titik kering yang pertama dalam
lapis fluorescein kornea adalah break-up time. Biasanya lebih dari 15
detik. Selang waktu akan memendek pada mata dengan defisiensi lipid
pada air mata.

3. Tes Ferning Mata

Sebuah tes sederhana dan murah untuk meneliti komponen musin air
mata ; dilakukan dengan mengeringkan kerokan lapisan air mata di
atas kaca obyek bersih.

4. Sitologi Impresi

Adalah cara menghitung densitas sel Goblet pada permukaan


konjungtiva. Pada orang normal, populasi sel Goblet paling tinggi di
kuadran infra nasal.

xviii
5. Pemulasan Fluorescein

Dilakukan dengan secarik kertas kering fluorescein untuk melihat


derajat basahnya air mata dan melihat meniskus air mata. Fluorescein
akan memulas daerah yang tidak tertutup oleh epitel selain defek
mikroskopik pada epitel kornea.

6. Pemulasan Rose Bengal

Rose Bengal lebih sensitif daripada fluorescein. Pewarna ini akan


memulas semua sel epitel yang tidak tertutup oleh lapisan musin yang
mengering dari kornea dan konjungtiva.

7. Pengujian kadar lisozim air mata

Air mata ditampung pada kertas Schirmer dan diuji kadarnya dengan
cara spektrofotometri.

8. Osmolalitas air mata

Hiperosmolalitas air mata telah dilaporkan pada keratokonjungtivitis


sicca dan pemakai lensa kontak; diduga sebagai akibat berkurangnya
sensitifitas kornea. Laporan-laporan penelitian menyebutkan bahwa
hiperosmolalitas adalah tes yang paling spesifik bagi kerato-
konjungtivitis sicca, karena dapat ditemukan pada pasien dengan tes
Schirmer normal dan pemulasan Rose Bengal normal.

9. Laktoferin

Laktoferin dalam cairan air mata akan rendah pada pasien dengan
hiposekresi kelenjar lakrimal.

2.5. Pathway

Devisit vitamin A

xix
Kekeringan pada retina

Implus yang masuk tidak

Resiko tinggi perubahan dapat di tangkap dengan


baik

Terhadap penglihatan oleh retina dan

cedera pada senja hari diteruskan ke saraf optik

ancaman kehidupan gangguan adaptasi gelap

ansietas gangguan sensori-

persepsi penglihatan

2.6. Tanda-tanda dan Gejala Klinis


Kurang vitamin A (KVA) adalah kelainan sistemik yang mempengaruhi
jaringan epitel dari organ-organ seluruh tubuh, termasuk paru-paru, usus, mata
dan organ lain, akan tetapi gambaran yang karakteristik langsung terlihat pada
mata.
Kelainan kulit pada umumnya tampak pada tungkai bawah bagian depan
dan lengan atas bagian belakang, kulit tampak kering dan bersisik seperti sisik
ikan. Kelainan ini selain disebabkan karena KVA dapat juga disebabkan karena
kekurangan asam lemak essensial, kurang vitamin golongan B atau Kurang
Energi Protein (KEP) tingkat berat atau gizi buruk.
Gejala klinis KVA pada mata akan timbul bila tubuh mengalami KVA
yang telah berlangsung lama. Gejala tersebut akan lebih cepat timbul bila anak
menderita penyakit campak, diare, ISPA dan penyakit infeksi lainnya.
Tanda-tanda dan gejala klinis KVA pada mata menurut klasifikasi
WHO/USAID UNICEF/HKI/ IVACG, 1996 sebagai berikut :
XN : buta senja (hemeralopia, nyctalopia)
XIA : xerosis konjungtiva
XIB : xerosis konjungtiva disertai bercak bitot

xx
X2 : xerosis kornea
X3A : keratomalasia atau ulserasi kornea kurang dari 1/3 permukaan kornea.
X3B : keratomalasia atau ulserasi sama atau lebih dari 1/3 permukaan kornea
XS : jaringan parut kornea (sikatriks/scar)
XF : fundus xeroftalmia, dengan gambaran seperti ÒcendolÓ.
XN, XIA, XIB, X2 biasanya dapat sembuh kembali normal dengan
pengobatan yang baik. Pada stadium X2 merupakan keadaan gawat darurat yang
harus segera diobati karena dalam beberapa hari bias berubah menjadi X3.
X3A dan X3B bila diobati dapat sembuh tetapi dengan meninggalkan
cacat yang bahkan dapat menyebabkan kebutaan total bila lesi (kelainan) pada
kornea cukup luas sehingga menutupi seluruh kornea (optic zone cornea).
1. Buta senja = Rabun Senja = Rabun Ayam= XN
(Istilah lokal dapat dilihat di lampiran 8)
Tanda-tanda :
• Buta senja terjadi akibat gangguan pada sel batang retina.
• Pada keadaan ringan, sel batang retina sulit beradaptasi di ruang yang
remang-remang setelah lama berada di cahaya terang
• Penglihatan menurun pada senja hari, dimana penderita tak dapat melihat
di lingkungan yang kurang cahaya, sehingga disebut buta senja.
Untuk mendeteksi apakah anak menderita buta senja dengan cara :
a) Bila anak sudah dapat berjalan, anak tersebut akan membentur/ menabrak
benda didepannya, karena tidak dapat melihat.
b) Bila anak belum dapat berjalan, agak sulit untuk mengatakan anak
tersebut buta senja. Dalam keadaan ini biasanya anak diam memojok bila
di dudukkan ditempat kurang cahaya karena tidak dapat melihat benda
atau makanan didepannya.
2. Xerosis konjungtiva = XIA
Tanda-tanda :
• Selaput lendir bola mata tampak kurang mengkilat atau terlihat sedikit
kering, berkeriput, dan berpigmentasi dengan permukaan kasar dan
kusam.
• Orang tua sering mengeluh mata anak tampak kering atau berubah warna
kecoklatan.

xxi
3. Xerosis konjungtiva dan bercak bitot = X1B.
Tanda-tanda :
• Tanda-tanda xerosis kojungtiva (X1A) ditambah bercak bitot yaitu
bercak putih seperti busa sabun atau keju terutama di daerah celah mata
sisi luar.
• Bercak ini merupakan penumpukan keratin dan sel epitel yang
merupakan tanda khas pada penderita xeroftalmia, sehingga dipakai
sebagai kriteria penentuan prevalensi kurang vitamin A dalam
masyarakat.
Dalam keadaan berat :
• Tampak kekeringan meliputi seluruh permukaan konjungtiva.
• Konjungtiva tampak menebal, berlipat-lipat dan berkerut.
• Orang tua mengeluh mata anaknya tampak bersisik

4. Xerosis kornea = X2
Tanda-tanda :
• Kekeringan pada konjungtiva berlanjut sampai kornea.
• Kornea tampak suram dan kering dengan permukaan tampak kasar.
• Keadaan umum anak biasanya buruk (gizi buruk dan menderita, penyakit
infeksi dan sistemik lain)
5. Keratomalasia dan ulcus kornea = X3A, X3B
Tanda-tanda :
• Kornea melunak seperti bubur dan dapat terjadi ulkus.
• Tahap X3A : bila kelainan mengenai kurang dari 1/3 permukaan kornea.
• Tahap X3B : Bila kelainan mengenai semua atau lebih dari 1/3
permukaan kornea.
• Keadaan umum penderita sangat buruk.
• Pada tahap ini dapat terjadi perforasi kornea (kornea pecah)
Keratomalasia dan tukak kornea dapat berakhir dengan perforasi dan
prolaps jaringan isi bola mata dan membentuk cacat tetap yang dapat

xxii
menyebabkan kebutaan. Keadaan umum yang cepat memburuk dapat
mengakibatkan keratomalasia dan ulkus kornea tanpa harus melalui
tahap-tahap awal xeroftalmia.
6. Xeroftalmia scar (XS) = sikatriks (jaringan parut) kornea
Kornea mata tampak menjadi putih atau bola mata tampak mengecil.
Bila luka pada kornea telah sembuh akan meninggalkan bekas berupa
sikatrik atau jaringan parut.
Penderita menjadi buta yang sudah tidak dapat disembuhkan
walaupun dengan operasi cangkok kornea.
7. Xeroftalmia Fundus (XF)
Dengan opthalmoscope pada fundus tampak gambar seperti cendol
2.7. Factor yang Mempengaruhi Terjadinya Xeroftalmia
2.7.1. Faktor Sosial budaya dan lingkungan dan pelayanan kesehatan
a. Ketersediaan pangan sumber vitamin A
b. Pola makan dan cara makan
c. Adanya paceklik atau rawan pangan
d. Adanya tabu atau pantangan terhadap makanan tertentu terutama yang
merupakan sumber Vit A.
e. Cakupan imunisasi, angka kesakitan dan angka kematian karena
penyakit campak dan diare
f. Sarana pelayanan kesehatan yang sulit dijangkau
g. Kurang tersedianya air bersih dan sanitasi lingkungan yang kurang
sehat
h. Keadaan darurat antara lain bencana alam, perang dan kerusuhan
2.7.2. Faktor Keluarga
a. Pendidikan :
Pendidikan orang tua yang rendah akan berisiko lebih tinggi
kemungkinan anaknya menderita KVA karena pendidikan yang rendah
biasanya disertai dengan keadaan sosial ekonomi dan pengetahuan gizi
yang kurang.
b. Penghasilan :
Penghasilan keluarga yang rendah akan lebih berisiko mengalami
KVA Walaupun demikian besarnya penghasilan keluarga tidak
menjamin anaknya tidak mengalami KVA, karena harus diimbangi

xxiii
dengan pengetahuan gizi yang cukup sehingga dapat memberikan
makanan kaya vitamin A.
c. Jumlah anak dalam keluarga
Semakin banyak anak semakin kurang perhatian orang tua dalam
mengasuh anaknya.
d. Pola asuh anak.
Kurangnya perhatian keluarga terhadap pertumbuhan dan
perkembangan anak seperti pasangan suami istri (pasutri) yang bekerja
dan perceraian.
2.7.3. Faktor individu
a. Anak dengan Berat Badan Lahir Rendah (BB < 2,5 kg).
b. Anak yang tidak mendapat ASI Eksklusif dan tidak diberi ASI sampai
usia 2 tahun.
c. Anak yang tidak mendapat MP-ASI yang cukup baik kualitas maupun
kuantitas
d. Anak kurang gizi atau dibawah garis merah (BGM) dalam KMS.
e. Anak yang menderita penyakit infeksi (campak, diare, Tuberkulosis
(TBC), Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), pneumonia dan
kecacingan.
f. Frekuensi kunjungan ke posyandu, puskesmas/pelayanan kesehatan
(untuk mendapatkan kapsul vitamin A dan imunisasi).
2.8. Penatalaksaan
2.8.1. Pencegahan Xeroftalmia

Prinsip dasar untuk mencegah xeroftalmia adalah memenuhi


kebutuhan vitamin A yang cukup untuk tubuh serta mencegah penyakit
infeksi terutama diare dan campak. Selain itu perlu memperhatikan
kesehatan secara umum.

Berikut beberapa langkah untuk mencegah Xeroftalmia:

1. Mengenal tanda-tanda kelainan secara dini


2. Bagi yang memiliki bayi dan anak disarankan untuk mengkonsumsi
vitamin A dosis tinggi secara periodik, yang didapatkan umumnya
pada Posyandu terdekat.

xxiv
3. Segera mengobati penyakit penyebab atau penyerta
4. Meningkatkan status gizi, mengobati gizi buruk
5. Memberikan ASI Eksklusif
6. Ibu nifas mengkonsumsi vitamin A (<30 hari) 200.000 SI
7. Melakukan Imunisasi dasar pada setiap bayi

2.8.2. Pengobatan

Pengobatan xeroftalmia adalah sebagai berikut;

a. Berikan 200.000 IU Vitamin A secara oral atau 100.000 IU Vitamin A


injeksi.
b. Hari berikutnya, berikan 200.000 IU Vitamin A secara oral

c. 1 – 2 minggu berikutnya, berikan 200.000 IU Vitamin A secara oral

d. Obati penyakit infeksi yang menyertai

e. Obati kelainan mata, bila terjadi

f. Perbaiki status gizi

2.9. Pemeriksaan fisik


Dilakukan untuk mengetahui tanda-tanda atau gejala klinis dan menentukan
diagnosis serta pengobatannya, terdiri dari :
a. Pemeriksaan umum
dilakukan untuk mengetahui adanya penyakit-penyakit yang terkait langsung
maupun tidak langsung dengan timbulnya xeroftalmia seperti gizi buruk,
penyakit infeksi, dan kelainan fungsi hati.
Yang terdiri dari :
• Antropometri
Pengukuran berat badan dan tinggi badan

xxv
• Penilaian Status gizi
Apakah anak menderita gizi kurang atau gizi buruk Bila BB/TB : > -3 SD
- < -2 SD, anak menderita gizi kurang atau kurus Bila BB/TB : £ 3, anak
menderita gizi buruk atau sangat kurus.
• Periksa matanya apakah ada tanda-tanda xeroftalmia.
• Kelainan pada kulit : kering, bersisik.
b. Pemeriksaan Khusus
Pemeriksaan mata untuk melihat tanda Xeroftalmia dengan menggunakan
senter yang terang. (Bila ada, menggunakan loop.)
• Apakah ada tanda kekeringan pada konjungtiva (X1A)
• Apakah ada bercak bitot (X1B)
• Apakah ada tanda-tanda xerosis kornea (X2)
• Apakah ada tanda-tanda ulkus kornea dan keratomalasia (X3A/X3B)
• Apakah ada tanda-tanda sikatriks akibat xeroftalmia (XS)
• Apakah ada gambaran seperti cendol pada fundus oculi dengan
opthalmoscope (XF).

2.10. Pemeriksaan Laboratorium


 Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mendukung diagnose
kekurangan vitamin A, bila secara klinis tidak ditemukan tanda-tanda khas
KVA, namun hasil pemeriksaan lain menunjukkan bahwa anak tersebut
risiko tinggi untuk menderita KVA.
 Peneriksaan yang dianjurkan adalah pemeriksaan serum retinol. Bila
ditemukan serum retinol < 20 ug/dl, berarti anak tersebut menderita KVA
sub klinis.
 Pemeriksaan laboratorium lain dapat dilakukan untuk mengetahui penyakit
lain yang dapat memperparah seperti pada :

xxvi
• pemeriksaan darah malaria
• pemeriksaan darah lengkap
• pemeriksaan fungsi hati
• pemeriksaan radiologi untuk mengetahui apakah ada pneumonia atau
TBC
• pemeriksaan tinja untuk mengetahui apakah ada infeksi cacing serta
• pemeriksaan darah yang diperlukan untuk diagnosa penyakit penyerta.
 Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan di Puskesmas, Rumah
Sakit/Labkesda atau BKMM, sesuai dengan ketersediaan sarana
laboratorium.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIAGNOSA MEDIS


XEROPTALMIA

3.1. Pengkajian Keperawatan

Secara umum pengkajian dimulai dengan mengumpulkan data tentang :

xxvii
3.1.1. Biodata pasien

a. Identitas Pasien

• Nama anak
• Umur anak
• Jenis kelamin
• Jumlah anak dalam keluarga
• Jumlah anak balita dalam keluarga
• Anak ke berapa
• Berat Lahir : Normal/BBLR

Umur pasien bisa menunjukkan tahap perkembangan pasien


baik secara fisik maupun psikologis biasanya xeropthalmia akan
menyerang pada kelompok umur bayi usia 6 – 11 bulan dan balita pada
usia 1 – 5 tahun

Jenis kelamin dan pekerjaan perlu dikaji untuk mengetahui


hubungan dan pengaruhnya terhadap terjadinya masalah/penyakit,
Tingkat pendidikan dapat berpengaruh terhadap pengetahuan klien
tentang masalahnya/penyakitnya, biasnya tingkat pengetahuan yang
rendah akan mempengaruhi resiko terjadinya penyakit.

Biasanya xeropthalmia terjadi pada daerah pengungsian dan


derah yang kurang kandungan vitamin A nya biasnya daerah yang
kekeringan.

b. Identitas Penanggung Jawab

• Nama ayah/ibu
• Alamat/tempat tinggal
• Pendidikan
• Pekerjaan
• Status Perkawinan

xxviii

3.1.2. Keluhan Penderita

a. Keluhan Utama

Pasien akan mengeluh biasanya penglihatn rabun atau Ibu mengeluh


anaknya tidak bisa melihat pada sore hari (buta senja) atau ada
kelainan pada matanya. Kadang-kadang keluhan utama tidak
berhubungan dengan kelainan pada mata seperti demam.

b. Keluhan Tambahan
• Tanyakan keluhan lain pada mata tersebut dan kapan terjadinya ?
• Upaya apa yang telah dilakukan untuk pengobatannya ?
3.1.3. Riwayat penyakit yang diderita sebelumnya
• Apakah pernah menderita Campak dalam waktu < 3 bulan ?
• Apakah anak sering menderita diare dan atau ISPA ?
• Apakah anak pernah menderita Pneumonia ?
• Apakah anak pernah menderita infeksi cacingan ?
• Apakah anak pernah menderita Tuberkulosis ?

3.1.4. Riwayat kesehatan keluarga

Keluarga ada yang menderita penyakit yang sama atau penyakit yang
lainnya.

3.1.5. Riwayat tumbuh kembang

a. Tahap pertumbuhan

Pada anak umur lima tahun, perkiraan berat badan dalam kilogram
mengikuti patokan umur 1-6 tahun yaitu umur ( tahun ) x 2 + 8. Tapi ada
rata-rata BB pada usia 3 tahun : 14,6 Kg, pada usia 4 tahun 16,7 kg dan 5
tahun yaitu 18,7 kg. Untuk anak usia pra sekolah rata – rata pertambahan
berat badan 2,3 kg/tahun.Sedangkan untuk perkiraan tinggi badan dalam
senti meter menggunakan patokan umur 2- 12 tahun yaitu umur ( tahun )

xxix
x 6 + 77.Tapi ada rata-rata TB pada usia pra sekolah yaitu 3 tahun 95 cm,
4 tahun 103 cm, dan 5 tahun 110 cm. Rata-rata pertambahan TB pada usia
ini yaitu 6 – 7,5 cm/tahun.Pada anak usia 4-5 tahun fisik cenderung
bertambah tinggi.

b. Tahap perkembangan.

 Perkembangan psikososial ( Eric Ercson ) : Inisiatif vs rasa


bersalah.Anak punya insiatif mencari pengalaman baru dan jika
anak dimarahi atau diomeli maka anak merasa bersalah dan
menjadi anak peragu untuk melakukan sesuatu percobaan yang
menantang ketrampilan motorik dan bahasanya.
 Perkembangan psikosexsual ( Sigmund Freud ) : Berada pada fase
oedipal/ falik ( 3-5 tahun ).Biasanya senang bermain dengan anak
berjenis kelamin berbeda.Oedipus komplek ( laki-laki lebih dekat
dengan ibunya ) dan Elektra komplek ( perempuan lebih dekat ke
ayahnya ).

 Perkembangan kognitif ( Piaget ) : Berada pada tahap


preoperasional yaitu fase preconseptual ( 2- 4 tahun ) dan fase
pemikiran intuitive ( 4- 7 tahun ). Pada tahap ini kanan-kiri belum
sempurna, konsep sebab akibat dan konsep waktu belum benar dan
magical thinking.

 Perkembangan moral berada pada prekonvensional yaitu mulai


melakukan kebiasaan prososial : sharing, menolong, melindungi,
memberi sesuatu, mencari teman dan mulai bisa menjelaskan
peraturan- peraturan yang dianut oleh keluarga.

 Perkembangan spiritual yaitu mulai mencontoh kegiatan


keagamaan dari ortu atau guru dan belajar yang benar – salah untuk
menghindari hukuman.
vi. Perkembangan body image yaitu mengenal kata cantik,
jelek,pendek-tinggi,baik-nakal, bermain sesuai peran jenis kelamin,
membandingkan ukuran tubuhnya dengan kelompoknya.

xxx
 Perkembangan sosial yaitu berada pada fase “ Individuation –
Separation “. Dimana sudah bisa mengatasi kecemasannya
terutama pada orang yang tak di kenal dan sudah bisa mentoleransi
perpisahan dari orang tua walaupun dengan sedikit atau tidak
protes.

 Perkembangan bahasa yaitu vokabularynya meningkat lebih dari


2100 kata pada akhir umur 5 tahun. Mulai bisa merangkai 3- 4 kata
menjadi kalimat. Sudah bisa menamai objek yang familiar seperti
binatang, bagian tubuh, dan nama-nama temannya. Dapat
menerima atau memberikan perintah sederhana.

 Tingkah laku personal sosial yaitu dapat memverbalisasikan


permintaannya, lebih banyak bergaul, mulai menerima bahwa
orang lain mempunyai pemikiran juga, dan mulai menyadari bahwa
dia mempunyai lingkungan luar.

 Bermain jenis assosiative play yaitu bermain dengan orang lain


yang mempunyai permainan yang mirip.Berkaitan dengan
pertumbuhan fisik dan kemampuan motorik halus yaitu melompat,
berlari, memanjat,dan bersepeda dengan roda tiga.

3.1.6. Riwayat imunisasi

Anak usia pre sekolah sudah harus mendapat imunisasi lengkap


antara lain : BCG, POLIO I,II, III; DPT I, II, III; dan campak.

3.1.7. Riwayat nutrisi

Kebutuhan kalori 4-6 tahun yaitu 90 kalori/kg/hari.Pembatasan


kalori untuk umur 1-6 tahun 900-1300 kalori/hari. Untuk pertambahan
berat badan ideal menggunakan rumus 8 + 2n.

Status Gizi

Klasifikasinya sebagai berikut :

xxxi
Gizi buruk kurang dari 60%¬

Gizi kurang 60 % -¬ <80 %

Gizi baik 80 % - 110 %¬

Obesitas lebih dari 120 %¬

3.1.8. Dampak Hospitalisasi

Sumber stressor :

1. Perpisahan

a. Protes : pergi, menendang, menangis

b. Putus asa : tidak aktif, menarik diri, depresi, regresi

c. Menerima : tertarik dengan lingkungan, interaksi

3.1.9. Riwayat pola makan anak


• Apakah anak mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan?
• Apakah anak mendapatkan MP-ASI setelah umur 6 bulan ?
• Bagaimana cara memberikan makan kepada anak : Sendiri / Disuapi.
3.1.10. Aktivitas/istirahat
Gejala: perubahan aktivitas biasanya/hobi sehubungan dengan gangguan
penglihatan khususnya pada senja hari.
3.1.11. Neurosensori

Gejala: gangguan penglihatan (kabur/tidak jelas) khuisusnya pada sore


hari, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat, perubahan
respons biasanya terhadap rangsangan.

Tanda: kekeringan pada konjungtiva bulbi

Bagian mata putih timbul bercak seperti buih sabun, kering,


kusam, tegang dan keriput.

xxxii
Bagian mata hitam menjadi kering, kusam, keruh, keriput, dan
timbul bercak yang mengganggu penglihatan.

3.1.12. Nyeri/kenyamanan

Gejala: ketidaknyamanan ringan/mata kering, sakit kepala

3.1.13. Integritas Ego

Gejala: peningkatan kepekatan atau kegelisahan

Tanda: cemas, marah, depresi

Ketidakmampuan untuk berkonsentrasi dalam membuat keputusan,


ketakuta dan ragu-ragu.

3.1.14. Interaksi sosial

Gejala: perasaan isolasi/penolakan

Perasaan kesepian

Ketidakamanan dalam situasi sosial

Menggambarkan kurang hubungan yang berarti

Tanda: keinginan terhadap kontak lebih banyak dengan orang lain

Kontak mata buruk

3.1.15. Pemeriksaan diagnostic

a. Tes adaptasi gelap

b. Kadar vitamin A darah (kadar <200 mg/200 ml menunjukkan kurang


intake.

3.2. Pengelompokan Data

A. Data Objektif

xxxiii
• Kekeringan pada konjungtiva bulbi

• Bagian mata putih tinbul bercak seperti buih sabun, kering, kusam,
tegang dan keriput

• Bagian mata hitam menjadi kering, kusam, keruh, keriput dan timbul
bercak yang mrngganggu pengelihatan

• Peningkatan kepekatanatau kegelisahan

• Isolasi dan penolakan

• Ketidak inginan terhadap kontak lebih banyak dengan orang lain

• Kontak mata buruk

B. Data subjektif

• Keluhanperubahan pengelihatan pada senja hari

• Perubahan respon biasanya terhadap rangsangan

• Tidak bisa memfokuskan kerja dengan dekat

• Ridal suka mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah

• Ketik nyamanan ringan/mata kering

• Cemas,marah, defresi, ketakutan dan ragu-ragu

• Perasaan kesepian

• Ketidak amanan dal;am situasi sosial

3.3. Analisa Data

Data Penyebab Masalah

xxxiv
DS:

-perubahan respon Defisiensi vit.A Ganggguan sensori-


biasanya terhadap persepsi penglihatan
rangsang

Kekeringan pada retina


DS:

-menurunnya
ketajaman/gangguan Influs yang masuk tidak
pengelihatan dapat ditangkap dengazn
baik oleh retina dan di
teruskan ke saraf optic

Gangguan adaptasi
gelap

DS:

-mata hitam menjadi Devisit vit.A Resiko tinggi terhadap

kering, kusam, keriput dan cedera

timbul brcak yang


mengganggu penglihatan
Perubahan penglihatan
pada senja hari
DO:

-keluhan perubahan

penglihatan pada senja


hari
DS:

-ketakutan Devisit vit.A Ansietas

-ragi-ragu

xxxv
DO: Imflus yang masuk tidak
dapat di tangkap dengan
-menyatakan masalah
baik oleh retina dan
tentang perubahan hidup
diteruskan ke saraf optic

Perubahan penglihatan
pada senja hari

Ancaman kehidupan

3.4. Diagnosa dan Intervensi

1. Gangguan sensori-persepsi penglihatan

Berhubungan dengan:

- gangguan penerimaan sensori/status organ indra

- lingkungan secara terapeutik dibatasi

Ditandai dengan:

- menurunnya ketajaman,gangguan penglihatan

- perubahan respons biasanya terhadap rangsang

Plaining

tujuan:sensori-perseptual:penglihatan tidak mengalami perubahan dengan


criteria:

- meningkatnya ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu

- mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan

- mengidentifikasi/memperbaiki potensial bahaya dalm linkungan.

xxxvi
Intervefensi atau tindakan

1. Kaji ketajaman penglihatan

Rasional: untuk mengetahui ketajaman penglihatan klien dan member


penglihatan menurut ukuran yang baku.

2. Dorong menegkspresikan perasaan tentang kehilangan atau


kemungkinan kehilangan penglihatan.

Rasional : sementara intervensi dini mencegah kebutaan, psien


menghadapi kemungkinan kehilangan penglihatan sebagian atau
total.meskipun kehilangan penglihatan telah terjadi tidak dapat
diperbaiki meskipun dengan pengobatan kehilangan lanjut dapt dicegah.

3. Lakukan tindakan untuk membantu klien menangani keterbatasan


penglihatan.

Contoh: kurangikekacauan, atur perabot,perbaiki sinar yang suram dan


masalah penglihatan malam.

Rasional: menurunkan bahaya keamanan sehubungan dengan perubahan


lapang pandang atau kehilangan penglihatan dan akomodasi pupil
terhadap sinar lingkungan.

4. Kolaborasi

a. Test adaptasi gelap

Rasional : untuik mengetahui adanya kelainan atau abnormalitas dari


ffungsi penglihatan klien.

b. Pemeriksaan kadar vitamin A dalam darah.

Rasional: untuk mengetahui keadaan defisiensi keadaan vitamin A


dalama darah sebagai pemicu terjadinya penyakit xeroftalmia.

c. Pemberian obat sesuai indikasi :

• Pemberian vitamin A dalam dosis terapeutik yaitu vitamin A oral


50.000 – 75.000 IU/kg BB tidak lebih dari 400.000 -500.000 IU.

xxxvii
Rasional : pemberian vitamin A dosis terapeutok dapat mengatasi
gangguan penglihatan tahap dini. Dengan memlberikan dosis
vitamin secara teratur dapat mengembalikan perubahan
penglihatan pada mata.

• Pengobatan kelaina pada mata

o stadium I : tanpa pengobatan

o stadium II : berikan AB

o stadium III : berikan sulfa atropine 0,5% ,tetes mata pada


anak atau SA 4% pada orang dewasa.

Rasional: mengembalikan ke fungsi penglihatan yang baik


dan mencegah terjadinyakomplikasi lebih lanjut.

2. Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan keterbatasan


penglihatan ditandai dengan:

- mata hitam menjadi kering,kusam, keruh, keriput, dan timbul bercak yang
mengganggu penglihatan.
- keluhan PA penglihatan pada senja hari
Planning
Tujuan: cedera tidak terjadi
Dengan criteria:
• -klien dapat mengidentifikasi potensial bahaya dalam
lingkungan.

Intervensi/tindakan
1. Orientasi klien dengan lingkungan sekitarnya

Rasional: meningkatkan pengenalan terhadap lingkungannya.

2. Anjurkan keluarga untuk tidak memberikan mainan kepada klien yang


yang mudah pecah seperti kaca dan benda-benda tajam.

xxxviii
Rasional: menghindari pecahnya alat mainan yang dapat mencedera
klien atas benda tajam yang dapat melukai klien.

3. Arahkan semua alat mainan yang dibutuhkan klien pada tempat yang
sentral dari pandangan klien.

Rational: memfakuskan lapang pandang dan menghindari cedera.

3. Ansietas berhubungan dengan:

- Factor fisiologis

- Perubahan status kesehatan: kemungkinan/kenyataan

- Kehilangan penglihatan

Planning
Tujuan: klien akan mengungkapkan bahwa kecemasan sudah
berkurang/hilang
Dengan criteria:
- Tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat
diatasi

- Menunjukkan keterampilan pemecahan masalah

- Menggunakan sumber secara efektif

Intervensi/Tindakan
1. Kaji tingkat ansietas, timbulnya gejala tiba-tiba dan pengetahuan
kondisi saat ini.

Rasional: factor ini mempengaruhi persepsi pasien terhadap ancaman


diri, potensial siklus ansietas dan dapat mempengaruhi upaya medic
untuk mengontrol terapi yang diberikan.

2. Berikan informaasi yang akurat dan jujur. Diskusikan kemungkinan


bahwa pengawasan dan pengobatan dapat mencegah kehilangan
penglihatan tambahan

xxxix
Rasional: menurunkan ansietas sehubungan dengan
ketidaktahuan/harapan yang akan dating dan berikan dasar fakta untuk
membuat pilihan informasi tentang pengobatan.

3. Dorong pasien untuk mengakui masalah dan mengekspresikan


perasaan.

Rasional: memberikan kesempatan untuk pasien menerima situasi


nyata, mengkelarifikasi salah konsepsi dan pemecahan masalah.

4. Identifikasi sumber/orang yang menolong.

Rasional: meberikan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri dalam


menghadapi maslah.

3.5. Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan sesuai dengan intervensi.


3.6. Evaluasi Keperawatan

a. Ketajaman penglihatan klien dalam batas normal.

b. Klien dapat mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap


perubahan.

c. Klien dapat memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.

d. Klien dapat menyatakan pemahaman factor yang terlibat dalam kemungkinan


cedera.

e. Klien dapat Menyatakan pemahaman kondisi atau proses penyakit dan


pengobatan.

BAB IV

PENUTUP

xl
4.1. Kesimpulan

Xerophthalmia Gangguan kekurangan vitamin A pada mata yang


mengakibatkan kelainan anatomi bola mata dan gangguan fungsi retina yang
berakibat kebutaan.

Vitamin sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan hidup, tidak hanya


pada fungsi penglihatan tetapi juga pada proses perkembangan yang dimulai
sejak pembentukan embrio. Vitamin A terus diperlukan untuk mempertahankan
diferensiasi sel secara nornal sepanjang hidup. Dapat dipahami pentingnya jika
vitamin A digunakan sepanjang waktu untuk pencegahan dan kontrol penyakit
kanker.

4.2. Saran

Untuk menjaga kesehatan dan keseimbangan metabolisme dalam tubuh


seseorang sebaiknya mengkonsumsi zat-zat gizi sesuai dengan kecukupannya.
Karena vitamin A mempunyai efek yang kurang baik bagi keseimbangan di
dalam tubuh, baik jika dikonsumsi dalam jumlah yang kurang maupun
berlebihan maka sangat penting untuk dipertimbangkan kembali untuk
mengkonsumsinya dalam jumlah yang berlebih (misalnya dengan suplemen).

xli
DAFTAR PUSTAKA

Hasan,R.2005. Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Bagian Ilmu Kesehatan
Anak Fakultas Universitas Indonesia.

Hidayat, Aziz Alimul A. 2008. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta : Salemba
Medika.

Ranuh, I.G.N,Dkk. 2001. Buku Imunisasi Di Indonesia. Jakarta: Satgas Imunisasi


Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Dengan Intervensi


NIC dan Kriteria Hasil NOC. Jakarta : EGC.

Staf pengajar ilmu kesehatan anak fakultas kedokteran UI. 1985. Buku Kuliah Ilmu
Kesehatan Anak. Jakarta: Infomedika

http://duta4diagnosa.blogspot.com/2010/06/asuhan-keperawatan-xeropthalmia.html
http://Blog pada WordPress.com/2010/xeroftalmia.html
http://www.healthnewflash.com/2009/05/xeroftalmia.

http://www.eyemdlink.com/.

http://www.eyescenters.com/.

xlii