You are on page 1of 31

A.

PROGRAM PSYCHOLOGICAL ASSESSMENT


Asesmen merupakan usaha untuk mengumpulkan informasi, memproses dan
menginterpretasikannya. Informasi tersebut dapat berupa latar belakang, sikap, tingkah
laku atau karakteristik yang dimiliki individu, dengan kata lain asesmen ditujukan untuk
mendapatkan gambaran potensi dan kompetensi yang dimiliki oleh individu.

1. Asesmen tingkat Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar


untuk meningkatan kualitas sumber daya manusia harus dimulai sejak usia dini. Dengan
mengetahui potensi diri siswa dan mengembangkannya secara tepat maka proses
pendidikan akan dapat berlangsung dengan lebih baik.

2. Asesmen tingkat Sekolah Menengah Pertama dan Menengah Atas


Terdiri dari:
1. Pemeriksaan Psikologi untuk mengetahui Minat dan Bakat untuk penjurusan
siswa
2. Pemeriksaan Psikologi untuk kelas khusus Akselerasi
3. Pemeriksaan Psikologi untuk penyaringan tes masuk

3. Asesmen untuk Guru dan Wakil/Kepala Sekolah


Bertujuan untuk menggali potensi individu dan bagaimana upaya yang dapat dilakukan
untuk meningkatkannya sehingga diharapkan dapat digunakan sebagai modal dasar untuk
menjalin dan mengembangkan teamwork yang solid guna kemajuan sekolah.

4. Asesmen untuk Karyawan


Seringkali assessment dilakukan untuk melakukan proses seleksi, yaitu menentukan
orang yang tepat untuk menduduki jabatan atau posisi tertentu yang sesuai dengan
persyaratan jabatan yang telah ditentukan. Asesmen berguna dalam penyeleksian calon
karyawan serta membantu pimpinan atau manajemen untuk mengoptimalisasi SDM
melalui asas the right man in the right place.

B. TRAINING
1. Training untuk Siswa
2. Training untuk Guru
3. Training untuk Karyawan

C. OUTBOND
1. Outbond untuk Anak
2. Outbond untuk Remaja
3. Outbond untuk Karyawan

D. TERAPI
Tidak semua siswa mampu mengikuti pelajaran dengan baik disebabkan faktor biologis
maupun faktor psikologis. Kami berupaya untuk mengatasi ketidakmampuan tersebut
dengan memberikan terapi yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa secara individual.
E. PARENTING CLASS
Bagian penting yang harus terlibat dalam pendidikan anak adalah faktor keterlibatan guru
dan orang tua atau wali murid dalam mensukseskan program pendidikan. Untuk itu kami
memberikan layanan parenting class bagi pihak sekolah dan siapapun yang peduli serta
memiliki kecintaan terhadap perkembangan anak usia dini.

F. PERSIAPAN PUBERTAS
Program ini ditujukan bagi siswa Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama agar
mereka dapat memahami perubahan yang terjadi pada dirinya saat memasuki masa
remaja baik perubahan fisik maupun psikologis, memberikan arahan bagaimana perilaku
yang sehat agar dapat menghindarkan mereka dari pengaruh negatif ataupun pergaulan
yang tidak baik.

Bagaimana Cara Mengendalikan Stres


Anda
Apakah anda kerap merasa stres (stress)? Cobalah cara pendekatan yang berbeda agar
andalah yang memegang kendali terhadap stres tersebut dan bukan anda yang
dikendalikan oleh stres. Stres kerap melanda dalam kehidupan, terlebih di saat seperti ini,
dimana kesibukan baik pada pekerjaan maupun keluarga, seolah tak ada
putusnya.Tentunya, secara teoritis anda tahu bahwa sangatlah penting untuk melakukan
hal-hal yang bermanfaat seperti cukup istirahat, berolahraga yang teratur serta menjaga
kadar gizi pada asupan makanan agar stres tersebut minimal dampaknya terhadap
kebugaran tubuh dan pikiran anda.

Akan tetapi, bahkan memikirkan untuk memulai hal-hal teresebut saja sudah membuat
anda stres. Jika anda mulai merasa bahwa stres tersebut mulai menguasai kehidupan
anda, maka inilah saat yang tepat untuk menjalankan strategi agar andalah yang
mengendalikan stres tersebut dan bukan anda yang dikendalikan oleh stres. Beberapa tips
yang bisa dicoba:

Ingatlah bahwa sedikit stres justru baik bagi anda


Dengan adanya stres, maka anda akan memiliki rangsangan untuk melakukan sesuatu dan
anda bisa menjadikan stres sebagai alat pendorong anda untuk lebih berkembang dan
maju. Hal inilah yang disebut dengan stres yang positif.

Umpamakan stres sebagai lampu


Seperti halnya lampu, stres pun juga bisa anda kendalikan seperti menyalakannya dan
juga mematikannya. Jika lampu terus anda biarkan hidup maka lama-lama akan meledak,
begitu juga dengan stres jika tidak pernah mematikannya. Sedikit stres memang baik,
tetapi anda pun juga perlu tahu kapan harus anda matikan.
Kapan stres itu mulai dimatikan? Jawabanya ketika stres itu telah menyiksa diri anda.
Sehingga anda mulai untuk menganiaya diri sendiri, seperti minum alkohol, meminum
obat penenang, obat tidur, merokok, dan lain-lain. Maka mulailah untuk mematikannya.

Terima kenyataan bahwa stres adalah bagian dari hidup


Selama anda hidup, stres tidak akan pernah bisa anda hindari 100%. Terimalah bahwa
dalam hidup anda selalu akan muncul yang namanya stres. Tidak anda seorangpun yang
bisa secara total menghindari stres. Jika anda berpikir ingin hidup tanpa stres, maka hal
itu adalah mimpi bagi anda.

Lain halnya jika anda menerima stres sebagai bagian hidup anda. Secara mental dan fisik,
anda akan lebih siap menghadapi stres. Karena stres memang merupakan bagian dari
hidup dan selalu akan ada.

Persiapkan diri anda untuk menghadapi berbagai berntuk stres setiap hari
Persiapan yang baik adalah anda selalu mempersiapkan diri untuk beradaptasi dengan
segala situasi. Stres bisa muncul ketika anda berada di kemacetan lalu lintas maupun
antrian panjang di supermarket. Maka biasakan dan adaptasikan diri anda pada situasi
tersebut, bisa dengan cara berangkat ke kantor lebih pagi, mendengarkan musik,
membaca koran atau majalah.

Hidupkan pengharapan dalam hati


Harapan dapat mengurangi dampak stres yang muncul. Dimana dengan harapan anda
akan merasa andanya jalan keluar dari stres. Oleh karena itu, janganlah anda
menghilangkan harapan anda. Lalu bagaiman cara memunculkan harapan?

Harapan akan muncul ketika anda sudah melakukan tindakan positif. Misalnya, ketika
anda merasa stres dengan beban keuangan anda, maka tindakan aktif adalah mulai untuk
membuat daftar apa saja yang harus anda lakukan, siapa saja yang bisa membantu anda,
dan buatlah berbagai pilihan yang ada. Dengan melakukan hal ini maka anda akan
melihat bahwa masih ada harapan untuk keluar dari stres.

Lakukan aktifitas baru


Sesuatu yang baru dan menarik bagi anda akan terasa lebih menyenangkan. Dengan
melakukan hal itu, anda akan terasa lebih cerah. Cobalah ingat hobi anda yang mungkin
bisa anda lakukan ataupun bisa dengan mencoba sesuatu hal yang baru sama sekali,
sehingga anda tertantang untuk menguasainya. Ini bisa anda gunakan untuk mengusir
stres yang anda rasakan.
Membantu Anak Meraih Sukses
Memilih sekolah yang baik dan sesuai dengan karakter anak adalah sangat penting.
Sekolah merupakan tempat ke dua bagi anak untuk mencari ilmu dan mengembangkan
kemampuan atau bakatnya. Sekolah yang baik dan sesuai dengan karakter anak akan
mampu menuntun anak ke arah yang lebih baik di masa depan kelak. Di sekolah anak
akan lebih banyak lagi belajar sesuatu tentang ilmu pengetahuan formal dan bagaimana
bersosialisasi yang baik. Anak-anak akan belajar bagaimana menjalin hubungan yang
baik dengan banyak teman, bagaimana manfaatnya bekerja sama, dan berbagi dengan
orang lain (teman). Selain itu anak juga akan belajar banyak hal tentang ilmu
pengetahuan lain seperti matematika yang sangat penting dalam hal memutuskan sesuatu
di masa depan nanti.

Kini orangtua memiliki banyak pilihan sekolah untuk anak. Ada sekolah yang
menawarkan kurikulum nasional, campuran, dan bahkan internasional. Berikut ini adalah
langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk memilih sekolah
(http:/www.bayisehat.com):

1. Membuat daftar nama-nama sekolah untuk mempermudah observasi.


2. Pilihlah lokasi sekolah yang lebih baik tetapi dengan jarak yang tidak terlalu jauh
dari rumah. Hal ini supaya si kecil tidak bosan di jalan dan mengalami kebosanan.
Selain itusebagai upaya untuk menghemat biaya dan mempermudah orangtua
apabila sesekali ada acara, pertemuan orangtua siswa, atau mungkin ada sesuatu
yang harus segera ditindaklanjuti oleh pihak sekolah dan orangtua siswa,
misalnya orangtua harus segera menjemput anak karena sakit.
3. Pastikan tenaga pengajar (guru) di sekolah tersebut berkualitas baik, memiliki
minat yang besar terhadap kebutuhan anak.
4. Sekolah memiliki program yang baik, sekolah mampu memberikan banyak waktu
untuk mendorong minat setiap anak.
5. Perputaran tenaga pengajar. Ketidaknyamanan guru boleh jadi mempengaruhi
kegiatan belajar-mengajar.
6. Pastikan sekolah memiliki fasilitas lengkap yang dibutuhkan anak.
7. Perbandingan guru dan anak-anak di dalam kelas. Semakin kecil rasionya, anak-
anak akan mendapatkan perhatian yang cukup dari guru.
8. Pilihlah sekolah yang sesuai dengan kondisi keuangan.
9. Carilah referensi tentang sekolah dari orangtua lain.
10. Hal yang penting adalah membicarakan sekolah yang dimaksud dengan anak.
Pilihlah sekolah yang sesuai dengan karakter anak.

Membantu anak menentukan sekolah yang baik adalah penting. Semakin anak merasa
nyaman di sekolah maka anak akan semakin mudah mengembangkan kemampuan
dirinya. Ada satu hal lain yang penting orangtua lakukan ketika anak sudah mulai
bersekolah adalah menjalin hubungan yang baik dengan guru atau wali kelas anak.
Komunikasikanlah tentang hal-hal yang menyangkut diri anak dengan sekolah. Dengan
perhatian dan kerja sama yang baik antara pihak sekolah dan orangtua, anak akan
semakin nyaman dalam menuntut ilmu. Dengan demikian, kesuksesan akan mudah diraih
oleh anak

Yang Perlu Diperhatikan Oleh Orangtua


Saat Memasukkan Anak ke Taman
Kanak-kanak
Ketika mulai memasuki tahun ajaran baru sebagian orangtua berbondong-bondong antri
mendaftarkan anaknya ke TK yang dianggap favorit bahkan sejak matahari belum
muncul, sebagian lagi sibuk mencari informasi ke beberapa TK dan mungkin sebagian
lagi tidak begitu peduli ke TK mana mereka akan memasukkan anaknya.Beberapa prinsip
yang perlu diperhatikan oleh orangtua saat memasukkan anaknya ke TK adalah
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Berorientasi pada Perkembangan Anak


Dalam melakukan kegiatan, guru memberikan kegiatan yang sesuai dengan tahapan
perkembangan anak. Anak merupakan individu yang unik, maka perlu memperhatikan
perbedaan secara individual. Dengan demikian dalam kegiatan yang disiapkan perlu
memperhatikan cara belajar anak yang dimulai dari cara sederhana ke rumit, konkrit ke
abstrak, gerakan ke verbal, dan dari ke-aku-an ke rasa sosial.

2. Berorientasi pada Kebutuhan Anak


Kegiatan pembelajaran pada anak senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Anak
pada usia dini sedang membutuhkan proses belajar untuk mengoptimalkan semua aspek
perkembangannya. Dengan demikian berbagai jenis kegiatan pembelajaran hendaknya
dilakukan berdasarkan pada perkembangan dan kebutuhan masing-masing anak.

3. Bermain Sambil Belajar


Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan pembelajaran di TK. Kegiatan
pembelajaran yang disiapkan oleh para guru hendaknya dilakukan dalam situasi yang
menyenangkan dengan menggunakan strategi, metode, materi/bahan, dan media yang
menarik serta mudah diikuti oleh anak. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi,
menemukan dan memanfaatkan objek-objek yang dekat dengan anak, sehingga
pembelajaran menjadi bermakna bagi anak. Ketika bermain anak membangun pengertian
yang berkaitan dengan pengalamannya.
4. Stimulasi Terpadu
Stimulasi harus diberikan secara terpadu sehingga seluruh aspek perkembangan dapat
berkembang secara berkelanjutan, dengan memperhatikan kematangan dan konteks
sosial, dan budaya setempat.
Contohnya jika anak melakukan kegiatan makan, maka dalam kegiatan tersebut anak
mengembangkan aspek:
• Moral/agama : mengerti tata cara makan yang baik dan benar
• Sosial, emosional dan kedisiplinan : menolong diri sendiri
• Bahasa : mengenal kosakata tentang nama makanan dan peralatan makan
• Kognitif : mengerti manfaat makan
• Motorik : mulai belajar memegang sendok

5. Lingkungan Kondusif
Lingkungan pembelajaran harus diciptakan sedemikian menarik dan menyenangkan serta
demokratis sehingga anak selalu betah dalam lingkungan sekolah baik di dalam maupun
di luar ruangan. Lingkungan fisik hendaknya memperhatikan keamanan dan kenyamanan
anak dalam bermain.

6. Aktif, Kreatif, Inovatif, Efektif, dan Menyenangkan


Proses pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, efektif, dan menyenangkan dapat
dilakukan oleh anak yang disiapkan oleh para gurunya melalui kegiatan-kegiatan yang
menarik, menyenangkan untuk membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi anak
untuk berpikir kritis, dan menemukan hal-hal baru.

7. Menggunakan Berbagai Media dan Sumber Belajar


Setiap kegiatan untuk menstimulasi perkembangan potensi anak, perlu memanfaatkan
berbagai media dan sumber belajar, antara lain lingkungan alam sekitar atau bahan-bahan
yang sengaja disiapkan oleh pendidik. Penggunaan berbagai media dan sumber belajar
dimaksudkan agar anak dapat bereksplorasi dengan benda-benda di lingkungan
sekitarnya.

8. Mengembangkan Kecakapan Hidup


Proses pembelajaran harus diarahkan untuk mengembangkan kecakapan hidup melalui
penyiapan lingkungan belajar yang menunjang berkembangnya kemampuan menolong
diri sendiri, disiplin dan sosialisasi serta memperoleh keterampilan dasar yang berguna
untuk kelangsungan hidupnya.

9. Pemanfaatan Teknologi Informasi


Pelaksanaan stimulasi pada anak usia dini jika dimungkinkan dapat memanfaatkan
teknologi untuk kelancaran kegiatan, misalnya radio, televisi, komputer. Pemanfaatan
teknologi informasi dalam kegiatan pembelajaran dimaksudkan untuk mendorong anak
menyenangi belajar.

10. Pembelajaran bersifat demokratis


Proses pembelajaran di TK memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpikir,
bertindak, berpendapat, serta berekspresi secara bebas dan bertanggung jawab.
Demikian beberapa panduan yang dapat digunakan oleh para orangtua saat memutuskan
untuk memasukkan anaknya ke Taman Kanak-Kanak. Semoga bermanfaat.

Lingkungan Keluarga yang


Mempengaruhi Motivasi Belajar
Lingkungan keluarga merupakan media pertama dan utama yang berpengaruh terhadap
perilaku dalam perkembangan anak. Tujuan pendidikan secara universal adalah agar anak
menjadi mandiri, bukan hanya dapat mencari nafkahnya sendiri, tapi juga bisa
mengarahkan dirinya pada keputusannya sendiri untuk mengembangkan semua
kemampuan fisik, mental, sosial dan emosional yang dimilikinya, sehingga dapat
mengembangkan suatu kehidupan yang sehat dan produkif.
Motivasi belajar adalah sesuatu yang diperoleh dan dibentuk oleh lingkungan, serta
merupakan landasan esensial yang mendorong manusia untuk tumbuh, berkembang, dan
maju dalam mencapai sesuatu yang diinginkan. Fungsi – fungsi dasar seperti kehidupan
nalar (rasio), kehidupan perasaan, keterampilan psikomotorik maupun intuisinya, yaitu
suatu kondisi kesadaran yang dilandasi ketidaksadarannya. Penyatuan fungsi- fungsi
tersebut akan menumbuhkan kemampuan kreatif anak untuk menempuh hidup dengan
kemampuan motivasi yang terarah.
Untuk itu dalam lingkungan rumah harus diciptakan kondisi yang kondusif bagi anak,
yaitu suatu suasana yang demokratis yang terbuka, saling menyayangi, dan saling
memercayai. Komunikasi dua arah antara orang tua dan anak sangat penting dibangun
bagi perkembangan anak. Dengan landasan inilah anak akan berkembang menjadi pribadi
yang harmonis, yaitu anak lebih peka terhadap kebutuhan dan tuntutan lingkungan, dan
lebih sadar akan tujuan hidupnya, sehingga menjadi lebih termotivasi dan lebih yakin
dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
Sarana belajar juga dianggap sebagai salah satu prasyarat motivasi belajar, meskipun
bukan menjadi suatu ukuran mutlak untuk perwujudan peningkatan motivasi belajar.
Tentu saja, sarana fisik dapat berguna bagi peningkatan motivasi belajar, apabila
dimanfaatkan secara efektif.
Suatu lingkungan keluarga baru dapat dikatakan berusaha memenuhi tuntutan motivasi
belajar, apabila keluarga tersebut dapat mengadakan lingkungan yang kaya stimulasi
mental dan intelektual, dengan mengusahakan suatu suasana dan sarana belajar yang
memberikan kesempatan kepada anak secara spontan dapat menyatakan dan
memerhatikan diri terhadap berbagai kejadian di dalam lingkungannya. ( Conny
Semiawan)
Stimulasi Dini untuk Mengembangkan
Kecerdasan Jamak dan Kreativitas
Anak
Apa yang dimaksud dengan kecerdasan multipel ?

Kecerdasan multipel (multiple inteligensia) adalah berbagai jenis kecerdasan yang dapat
dikembangkan pada anak, antara lain verbal-linguistic (kemampuan menguraikan pikiran
dalam kalimat-kalimat, presentasi, pidato, diskusi, tulisan), logical–mathematical
(kemampuan menggunakan logika-matematik dalam memecahkan berbagai masalah),
visual spatial (kemampuan berpikir tiga dimensi), bodily-kinesthetic (ketrampilan gerak,
menari, olahraga), musical (kepekaan dan kemampuan berekspresi dengan bunyi, nada,
melodi, irama), intrapersonal (kemampuan memahami dan mengendalikan diri sendiri),
interpersonal (kemampuan memahami dan menyesuaikan diri dengan orang lain),
naturalist (kemampuan memahami dan memanfaatkan lingkungan).

Faktor-faktor apa yang mempengaruhi kualitas kecerdasan ?

Kecerdasan multipel dipengaruhi 2 faktor utama yang saling terkait yaitu faktor
keturunan (bawaan, genetik) dan faktor lingkungan. Seorang anak dapat mengembangkan
berbagai kecerdasan jika mempunyai faktor keturunan dan dirangsang oleh lingkungan
terus menerus.

Orangtua yang cerdas anaknya cenderung akan cerdas pula jika faktor lingkungan
mendukung pengembangan kecerdasaannnya sejak didalam kandungan, masa bayi dan
balita. Walaupun kedua orangtuanya cerdas tetapi jika lingkungannya tidak menyediakan
kebutuhan pokok untuk pengembangan kecerdasannya, maka potensi kecerdasan anak
tidak akan berkembang optimal. Sedangkan orangtua yang kebetulan tidak
berkesempatan mengikuti pendidikan tinggi (belum tentu mereka tidak cerdas, mungkin
karena tidak ada kesempatan atau hambatan ekonomi) anaknya bisa cerdas jika dicukupi
kebutuhan untuk pengembangan kecerdasan sejak di dalam kandungan sampai usia
sekolah dan remaja.

Apa kebutuhan pokok untuk mengembangkan kecerdasan ?

Tiga kebutuhan pokok untuk mengembangkan kecerdasan antara lain adalah kebutuhan
FISIK-BIOLOGIS (terutama untuk pertumbuhan otak, sistem sensorik dan motorik),
EMOSI-KASIH SAYANG (mempengaruhi kecerdasan emosi, inter dan intrapersonal)
dan STIMULASI DINI (merangsang kecerdasan-kecerdasan lain).

Kebutuhan FISIK-BIOLOGIS terutama gizi yang baik sejak di dalam kandungan sampai
remaja terutama untuk perkembangan otak, pencegahan dan pengobatan penyakit-
penyakit yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan, dan ketrampilan fisik
untukmelakukanaktivitassehari-hari.

Kebutuhan EMOSI-KASIH SAYANG : terutama dengan melindungi, menimbulkan rasa


aman dan nyaman, memperhatikan dan menghargai anak, tidak mengutamakan hukuman
dengan kemarahan tetapi lebih banyak memberikan contoh-contoh dengan penuh kasih
sayang. Kebutuhan STIMULASI meliputi rangsangan yang terus menerus dengan
berbagai cara untuk merangsang semua system sensorik dan motorik.

Ketiga kebutuhan pokok tersebut harus diberikan secara bersamaan sejak janin didalam
kandungan karena akan saling berpengaruh. Bila kebutuhan biofisik tidak tercukupi,
gizinya kurang, sering sakit, maka perkembangan otaknya tidak optimal. Bila kebutuhan
emosi dan kasih sayang tidak tercukupi maka kecerdasan inter dan antar personal juga
rendah. Bila stimulasi dalam interaksi sehari-hari kurang bervariasi maka perkembangan
kecerdasan juga kurang bervariasi.

Apa itu STIMULASI DINI ? Apa manfaatnya ?

Stimulasi dini adalah rangsangan yang dilakukan sejak bayi baru lahir (bahkan sebaiknya
sejak janin 6 bulan di dalam kandungan) dilakukan setiap hari, untuk merangsang semua
sistem indera (pendengaran, penglihatan, perabaan, pembauan, pengecapan). Selain itu
harus pula merangsang gerak kasar dan halus kaki, tangan dan jari-jari, mengajak
berkomunikasi, serta merangsang perasaan yang menyenangkan dan pikiran bayi dan
balita. Rangsangan yang dilakukan sejak lahir, terus menerus, bervariasi, dengan suasana
bermain dan kasih sayang, akan memacu berbagai aspek kecerdasan anak (kecerdasan
multipel) yaitu kecerdasan : logiko-matematik, emosi, komunikasi bahasa (lingusitik),
kecerdasan musikal, gerak (kinestetik), visuo-spasial, senirupa dll.

Cara melakukan stimulasi dini

Stimulasi sebaiknya dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan bayi/balita.
misalnya ketika memandikan, mengganti popok, menyusui, menyuapi makanan,
menggendong, mengajak berjalan-jalan, bermain, menonton TV, di dalam kendaraan,
menjelang tidur.

Stimulasi untuk bayi 0 – 3 bulan dengan cara : mengusahakan rasa nyaman, aman dan
menyenangkan, memeluk, menggendong, menatap mata bayi, mengajak tersenyum,
berbicara, membunyikan berbagai suara atau musik bergantian, menggantung dan
menggerakkan benda berwarna mencolok (lingkaran atau kotak-kotak hitam-putih),
benda-benda berbunyi, mengulingkan bayi kekanan-kekiri, tengkurap-telentang,
dirangsang untuk meraih dan memegang mainan

Umur 3 – 6 bulan ditambah dengan bermain ‘cilukba’, melihat wajah bayi dan pengasuh
di cermin, dirangsang untuk tengkurap, telentang bolak-balik, duduk.
Umur 6 – 9 bulan ditambah dengan memanggil namanya, mengajak bersalaman, tepuk
tangan, membacakan dongeng, merangsang duduk, dilatih berdiri berpegangan.

Umur 9 – 12 bulan ditambah dengan mengulang-ulang menyebutkan mama-papa, kakak,


memasukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, menggelindingkan bola, dilatih
berdiri, berjalan dengan berpegangan.

Umur 12 – 18 bulan ditambah dengan latihan mencoret-coret menggunakan pensil warna,


menyusun kubus, balok-balok, potongan gambar sederhana (puzzle) memasukkan dan
mengeluarkan benda-benda kecil dari wadahnya, bermain dengan boneka, sendok, piring,
gelas, teko, sapu, lap. Latihlah berjalan tanpa berpegangan, berjalan mundur, memanjat
tangga, menendang bola, melepas celana, mengerti dan melakukan perintah-perintah
sederhana (mana bola, pegang ini, masukan itu, ambil itu), menyebutkan nama atau
menunjukkan benda-benda.

Umur 18 – 24 bulan ditambah dengan menanyakan, menyebutkan dan menunjukkan


bagian-bagian tubuh (mana mata ? hidung?, telinga?, mulut ? dll), menanyakan gambar
atau menyebutkan nama binatang & benda-benda di sekitar rumah, mengajak bicara
tentang kegiatan sehari-hari (makan, minum mandi, main, minta dll), latihan
menggambar garis-garis, mencuci tangan, memakai celana – baju, bermain melempar
bola, melompat.

Umur 2 – 3 tahun ditambah dengan mengenal dan menyebutkan warna, menggunakan


kata sifat (besar-kecil, panas-dingin, tinggi-rendah, banyak-sedikit dll), menyebutkan
nama-nama teman, menghitung benda-benda, memakai baju, menyikat gigi, bermain
kartu, boneka, masak-masakan, menggambar garis, lingkaran, manusia, latihan berdiri di
satu kaki, buang air kecil / besar di toilet.

Setelah umur 3 tahun selain mengembangkan kemampuan-kemampuan umur


sebelumnya, stimulasi juga di arahkan untuk kesiapan bersekolah antara lain : memegang
pensil dengan baik, menulis, mengenal huruf dan angka, berhitung sederhana, mengerti
perintah sederhana (buang air kecil / besar di toilet), dan kemandirian (ditinggalkan di
sekolah), berbagi dengan teman dll. Perangsangan dapat dilakukan di rumah (oleh
pengasuh dan keluarga) namun dapat pula di Kelompok Bermain, Taman Kanak-Kanak
atau sejenisnya.

Pentingnya suasana ketika stimulasi

Stimulasi dilakukan setiap ada kesempatan berinteraksi dengan bayi-balita, setiap hari,
terus menerus, bervariasi, disesuaikan dengan umur perkembangan kemampuannya,
dilakukan oleh keluarga (terutama ibu atau pengganti ibu).

Stimulasi harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan dan kegembiraan antara
pengasuh dan bayi/balitanya. Jangan memberikan stimulasi dengan terburu-terburu,
memaksakan kehendak pengasuh, tidak memperhatikan minat atau keinginan bayi/balita,
atau bayi-balita sedang mengantuk, bosan atau ingin bermain yang lain. Pengasuh yang
sering marah, bosan, sebal, maka tanpa disadari pengasuh justru memberikan rangsang
emosional yang negatif. Karena pada prinsipnya semua ucapan, sikap dan perbuatan
pengasuh adalah merupakan stimulasi yang direkam, diingat dan akan ditiru atau justru
menimbulkan ketakutan bayi-balita.

Pentingnya pola pengasuhan yang demokratik (otoritatif)

Oleh karena itu interaksi antara pengasuh dan bayi atau balita harus dilakukan dalam
suasana pola asuh yang demokratik (otoritatif). Yaitu pengasuh harus peka terhadap
isyarat-isyarat bayi, artinya memperhatikan minat, keinginan atau pendapat anak, tidak
memaksakan kehendak pengasuh, penuh kasih sayang, dan kegembiraan, menciptakan
rasa aman dan nyaman, memberi contoh tanpa memaksa, mendorong keberanian untuk
mencoba berkreasi, memberikan penghargaan atau pujian atas keberhasilan atau perilaku
yang baik, memberikan koreksi bukan ancaman atau hukuman bila anak tidak dapat
melakukan sesuatu atau ketika melakukan kesalahan.

Mengapa stimulasi dini bisa merangsang kecerdasan multipel ?

Sel-sel otak janin dibentuk sejak 3 – 4 bulan di dalam kandungan ibu, kemudian setelah
lahir sampai umur 3 – 4 tahun jumlahnya bertambah dengan cepat mencapai milyaran sel,
tetapi belum ada hubungan antar sel-sel tersebut. Mulai kehamilan 6 bulan, dibentuklah
hubungan antar sel, sehingga membentuk rangkaian fungsi-fungsi. Kualitas dan
kompleksitas rangkaian hubungan antar sel-sel otak ditentukan oleh stimulasi
(rangsangan) yang dilakukan oleh lingkungan kepada bayi-balita tersebut.

Semakin bervariasi rangsangan yang diterima bayi-balita maka semakin kompleks


hubungan antar sel-sel otak. Semakin sering dan teratur rangsangan yang diterima, maka
semakin kuat maka hubungan antar sel-sel otak tersebut. Semakin kompleks dan kuat
hubungan antar sel-sel otak, maka semakin tinggi dan bervariasi kecerdasan anak di
kemudian hari, bila dikembangkan terus menerus, sehingga anak akan mempunyai
banyak variasi kecerdasan (multiple inteligensia).

Bagaimana cara merangsang kecerdasan multipel ?

Untuk merangsang kecerdasan berbahasa verbal ajaklah bercakap-cakap, bacakan cerita


berulang-ulang, rangsang untuk berbicara dan bercerita, menyanyikan lagu anak-anak dll.

Latih kecerdasan logika-matematik dengan mengelompokkan, menyusun, merangkai,


menghitung mainan, bermain angka, halma, congklak, sempoa, catur, kartu, teka-teki,
puzzle, monopoli, permainan komputer dll.

Kembangkan kecerdasan visual-spatial dengan mengamati gambar, foto, merangkai dan


membongkar lego, menggunting, melipat, menggambar, halma, puzzle, rumah-rumahan,
permainan komputer dll.
Melatih kecerdasan gerak tubuh dengan berdiri satu kaki, jongkok, membungkuk,
berjalan di atas satu garis, berlari, melompat, melempar, menangkap, latihan senam,
menari, olahraga permainan dll.

Merangsang kecerdasan musikal dengan mendengarkan musik, bernyanyi, memainkan


alat musik, mengikuti irama dan nada.

Melatih kecerdasan emosi inter-personal dengan bermain bersama dengan anak yang
lebih tua dan lebih muda, saling berbagi kue, mengalah, meminjamkan mainan,
bekerjasama membuat sesuatu, permainan mengendalikan diri, mengenal berbagai suku,
bangsa, budaya, agama melalui buku, TV dll.

Melatih kecerdasan emosi intra-personal dengan menceritakan perasaan, keinginan,


cita-cita, pengalaman, berkhayal, mengarang ceritera dll.

Merangsang kecerdasan naturalis dengan menanam biji hingga tumbuh, memelihara


tanaman dalam pot, memelihara binatang, berkebun, wisata di hutan, gunung, sungai,
pantai, mengamati langit, awan, bulan, bintang dll.

Bila anak mempunyai potensi bawaan berbagai kecerdasan dan dirangsang terus menerus
sejak kecil dengan cara yang menyenangkan dan jenis yang bervariasi maka anak kita
akan mempunyai kecerdasan yang multipel.
Bagaimana cara mengembangkan kreativitas anak ?

Kreativitas dibutuhkan oleh manusia untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam


kehidupan sehari-hari. Kreativitas harus dikembangkan sejak dini. Banyak keluarga yang
tidak menyadari bahwa sikap orangtua yang otoriter (diktator) terhadap anak akan
mematikan bibit-bibit kreativitas anak, sehingga ketika menjadi dewasa hanya
mempunyai kreativitas yang sangat terbatas.

Bagaimana peran orangtua utk mengembangkan kreativitas anak ?

Kreativitas anak akan berkembang jika orangtua selalu bersikap otoritatif (demokratik),
yaitu : mau mendengarkan omongan anak, menghargai pendapat anak, mendorong anak
untuk berani mengungkapkannya. Jangan memotong pembicaraan anak ketika ia ingin
mengungkapkan pikirannya. Jangan memaksakan pada anak bahwa pendapat orangtua
paling benar, atau melecehkan pendapat anak

Orangtua harus mendorong anak untuk berani mencoba mengemukakan pendapat,


gagasan, melakukan sesuatu atau mengambil keputusan sendiri (asalkan tidak
membahayakan atau merugikan oranglain atau diri sendiri). Jangan mengancam atau
menghukum anak kalau pendapat atau perbuatannya dianggap salah oleh orangtua. Anak
tidaklah salah, mereka umumnya belum tahu, dalam tahap belajar. Oleh karena itu
tanyakan mengapa mereka berpendapat atau berbuat demikian, beri kesempatan untuk
mengemukan alasan-alasan. Berikanlah contoh-contoh, ajaklah berpikir, jangan didikte
atau dipaksa, biarkan mereka yang memperbaikinya dengan caranya sendiri. Dengan
demikian tidak mematikan keberanian mereka untuk mengemukakan pikiran, gagasan,
pendapat atau melakukan sesuatu.

Selain itu orangtua harus mendorong kemandirian anak dalam melakukan sesuatu,
menghargai usaha-usaha yang telah dilakukannya, memberikan pujian untuk hasil yang
telah dicapainya walau sekecil apapun. Cara-cara ini merupakan salah satu unsur penting
pengembangan kreativitas anak.

Keluarga harus merangsang anak untuk tertarik mengamati dan mempertanyakan tentang
berbagai benda atau kejadian disekeliling kita, yang mereka dengar, lihat, rasakan atau
mereka pikirkan dalam kehidupan sehari-hari. Orangtua harus menjawab dengan cara
menyediakan sarana yang semakin merangsang anak berpikir lebih dalam, misalnya
dengan memberikan gambar-gambar, buku-buku. Jangan menolak, melarang atau
menghentikan rasa ingin tahu anak, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain.

Orangtua harus memberi kesempatan anak untuk mengembangkan khayalan, merenung,


berfikir dan mewujudkan gagasan anak dengan cara masing-masing. Biarkan mereka
bermain, menggambar, membuat bentuk-bentuk atau warna-warna dengan cara yang
tidak lazim, tidak logis, tidak realistis atau belum pernah ada. Biarkan mereka
menggambar sepeda dengan roda segi empat, langit berwarna merah, daun berwarna biru.
Jangan banyak melarang, mendikte, mencela, mengecam, atau membatasi anak. Berilah
kebebasan, kesempatan, dorongan, penghargaan atau pujian untuk mencoba suatu
gagasan, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain.

Semua hal-hal tersebut akan merangsang perkembangan fungsi otak kanan yang penting
untuk kreativitas anak yaitu: berfikir divergen (meluas), intuitif (berdasarkan intuisi),
abstrak, bebas, simultan.

Ringkasan

Jika menginginkan anak dengan kecerdasan multipel harus dilakukan perangsangan sejak
bayi setiap hari pada semua sistem indera (pendengaran, penglihatan, perabaan,
pembauan, pengecapan), dengan mengajak berbicara, bermain untuk merangsang
perasaan dan pikiran, merangsang gerak kasar dan halus pada leher, tubuh, kaki, tangan
dan jari-jari.

Cara melakukan stimulasi harus disesuaikan dengan umur dan tahapan tumbuh -kembang
anak. Stimulasi dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan bayi/balita,
misalnya ketika memandikan, mengganti popok, menyusui, menyuapi makanan,
menggendong, mengajak berjalan-jalan, bermain, menonton TV, di dalam kendaraan,
menjelang tidur, atau kapanpun dan dimanapun ketika anda dapat berinteraksi dengan
balita anda. Selanjutnya dapat ditambah melalui Kelompok Bermain, Taman Kanak-
Kanak dan sejenisnya.

Stimulasi harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan, yaitu pola asuh yang
otoritatif (demokratik). Artinya : pengasuh harus peka terhadap isyarat-isyarat bayi,
memperhatikan minat, keinginan atau pendapat anak, tidak memaksakan kehendak
pengasuh, penuh kasih sayang, dan kegembiraan, menciptakan rasa aman dan nyaman,
memberi contoh tanpa memaksa, mendorong keberanian untuk mencoba berkreasi,
memberikan penghargaan atau pujian atas keberhasilan atau perilaku yang baik,
memberikan koreksi bukan ancaman atau hukuman bila anak tidak dapat melakukan
sesuatu atau ketika melakukan kesalahan.

Pola asuh otoritatif penting untuk mengembangkan kreativitas anak.


Dengarkan omongan anak, dorong anak untuk berani mengucapkan pendapatnya, hargai
pendapat anak, jangan memotong pembicaraan anak, jangan memaksakan pendapat
orangtua atau melecehkan pendapat anak.
Rangsanglah anak untuk tertarik mengamati dan mempertanyakan tentang berbagai hal
dilingkungannya, beri kebebasan dan dorongan untuk mengembangkan khayalan,
merenung, berfikir, mencoba dan mewujudkan gagasan. Berikan pujian untuk hasil yang
telah dicapainya walau sekecil apapun.
Jangan menghentikan rasa ingin tahu anak, jangan banyak mengancam atau menghukum,
beri kesempatan untuk mencoba, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain.

Lingkungan keluarga merupakan media pertama dan utama yang berpengaruh terhadap
perilaku dalam perkembangan anak. Tujuan pendidikan secara universal adalah agar anak
menjadi mandiri, bukan hanya dapat mencari nafkahnya sendiri, tapi juga bisa
mengarahkan dirinya pada keputusannya sendiri untuk mengembangkan semua
kemampuan fisik, mental, sosial dan emosional yang dimilikinya, sehingga dapat
mengembangkan suatu kehidupan yang sehat dan produkif. (more…)

Ketika mulai memasuki tahun ajaran baru sebagian orangtua berbondong-bondong antri
mendaftarkan anaknya ke TK yang dianggap favorit bahkan sejak matahari belum
muncul, sebagian lagi sibuk mencari informasi ke beberapa TK dan mungkin sebagian
lagi tidak begitu peduli ke TK mana mereka akan memasukkan anaknya.Beberapa prinsip
yang perlu diperhatikan oleh orangtua saat memasukkan anaknya ke TK adalah
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Berorientasi pada Perkembangan Anak Dalam melakukan kegiatan, guru memberikan


kegiatan yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Anak merupakan individu
yang unik, maka perlu memperhatikan perbedaan secara individual. Dengan demikian
dalam kegiatan yang disiapkan perlu memperhatikan cara belajar anak yang dimulai

Apa yang dimaksud dengan kecerdasan multipel ?

Kecerdasan multipel (multiple inteligensia) adalah berbagai jenis kecerdasan yang dapat
dikembangkan pada anak, antara lain verbal-linguistic (kemampuan menguraikan pikiran
dalam kalimat-kalimat, presentasi, pidato, diskusi, tulisan), logical–mathematical
(kemampuan menggunakan logika-matematik dalam memecahkan berbagai masalah),
visual spatial (kemampuan berpikir tiga dimensi), bodily-kinesthetic (ketrampilan gerak,
menari, olahraga), musical (kepekaan dan kemampuan berekspresi dengan bunyi, nada,
melodi, irama), intrapersonal (kemampuan memahami dan mengendalikan diri sendiri),
interpersonal (kemampuan memahami dan menyesuaikan diri dengan orang lain),
naturalist (kemampuan memahami dan memanfaatkan lingkungan). (more…)

Stimulasi Dini untuk Mengembangkan


Kecerdasan Jamak dan Kreativitas
Anak
Apa yang dimaksud dengan kecerdasan multipel ?

Kecerdasan multipel (multiple inteligensia) adalah berbagai jenis kecerdasan yang dapat
dikembangkan pada anak, antara lain verbal-linguistic (kemampuan menguraikan pikiran
dalam kalimat-kalimat, presentasi, pidato, diskusi, tulisan), logical–mathematical
(kemampuan menggunakan logika-matematik dalam memecahkan berbagai masalah),
visual spatial (kemampuan berpikir tiga dimensi), bodily-kinesthetic (ketrampilan gerak,
menari, olahraga), musical (kepekaan dan kemampuan berekspresi dengan bunyi, nada,
melodi, irama), intrapersonal (kemampuan memahami dan mengendalikan diri sendiri),
interpersonal (kemampuan memahami dan menyesuaikan diri dengan orang lain),
naturalist (kemampuan memahami dan memanfaatkan lingkungan).

Faktor-faktor apa yang mempengaruhi kualitas kecerdasan ?

Kecerdasan multipel dipengaruhi 2 faktor utama yang saling terkait yaitu faktor
keturunan (bawaan, genetik) dan faktor lingkungan. Seorang anak dapat mengembangkan
berbagai kecerdasan jika mempunyai faktor keturunan dan dirangsang oleh lingkungan
terus menerus.

Orangtua yang cerdas anaknya cenderung akan cerdas pula jika faktor lingkungan
mendukung pengembangan kecerdasaannnya sejak didalam kandungan, masa bayi dan
balita. Walaupun kedua orangtuanya cerdas tetapi jika lingkungannya tidak menyediakan
kebutuhan pokok untuk pengembangan kecerdasannya, maka potensi kecerdasan anak
tidak akan berkembang optimal. Sedangkan orangtua yang kebetulan tidak
berkesempatan mengikuti pendidikan tinggi (belum tentu mereka tidak cerdas, mungkin
karena tidak ada kesempatan atau hambatan ekonomi) anaknya bisa cerdas jika dicukupi
kebutuhan untuk pengembangan kecerdasan sejak di dalam kandungan sampai usia
sekolah dan remaja.
Apa kebutuhan pokok untuk mengembangkan kecerdasan ?

Tiga kebutuhan pokok untuk mengembangkan kecerdasan antara lain adalah kebutuhan
FISIK-BIOLOGIS (terutama untuk pertumbuhan otak, sistem sensorik dan motorik),
EMOSI-KASIH SAYANG (mempengaruhi kecerdasan emosi, inter dan intrapersonal)
dan STIMULASI DINI (merangsang kecerdasan-kecerdasan lain).

Kebutuhan FISIK-BIOLOGIS terutama gizi yang baik sejak di dalam kandungan sampai
remaja terutama untuk perkembangan otak, pencegahan dan pengobatan penyakit-
penyakit yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan, dan ketrampilan fisik
untukmelakukanaktivitassehari-hari.

Kebutuhan EMOSI-KASIH SAYANG : terutama dengan melindungi, menimbulkan rasa


aman dan nyaman, memperhatikan dan menghargai anak, tidak mengutamakan hukuman
dengan kemarahan tetapi lebih banyak memberikan contoh-contoh dengan penuh kasih
sayang. Kebutuhan STIMULASI meliputi rangsangan yang terus menerus dengan
berbagai cara untuk merangsang semua system sensorik dan motorik.

Ketiga kebutuhan pokok tersebut harus diberikan secara bersamaan sejak janin didalam
kandungan karena akan saling berpengaruh. Bila kebutuhan biofisik tidak tercukupi,
gizinya kurang, sering sakit, maka perkembangan otaknya tidak optimal. Bila kebutuhan
emosi dan kasih sayang tidak tercukupi maka kecerdasan inter dan antar personal juga
rendah. Bila stimulasi dalam interaksi sehari-hari kurang bervariasi maka perkembangan
kecerdasan juga kurang bervariasi.

Apa itu STIMULASI DINI ? Apa manfaatnya ?

Stimulasi dini adalah rangsangan yang dilakukan sejak bayi baru lahir (bahkan sebaiknya
sejak janin 6 bulan di dalam kandungan) dilakukan setiap hari, untuk merangsang semua
sistem indera (pendengaran, penglihatan, perabaan, pembauan, pengecapan). Selain itu
harus pula merangsang gerak kasar dan halus kaki, tangan dan jari-jari, mengajak
berkomunikasi, serta merangsang perasaan yang menyenangkan dan pikiran bayi dan
balita. Rangsangan yang dilakukan sejak lahir, terus menerus, bervariasi, dengan suasana
bermain dan kasih sayang, akan memacu berbagai aspek kecerdasan anak (kecerdasan
multipel) yaitu kecerdasan : logiko-matematik, emosi, komunikasi bahasa (lingusitik),
kecerdasan musikal, gerak (kinestetik), visuo-spasial, senirupa dll.

Cara melakukan stimulasi dini

Stimulasi sebaiknya dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan bayi/balita.
misalnya ketika memandikan, mengganti popok, menyusui, menyuapi makanan,
menggendong, mengajak berjalan-jalan, bermain, menonton TV, di dalam kendaraan,
menjelang tidur.

Stimulasi untuk bayi 0 – 3 bulan dengan cara : mengusahakan rasa nyaman, aman dan
menyenangkan, memeluk, menggendong, menatap mata bayi, mengajak tersenyum,
berbicara, membunyikan berbagai suara atau musik bergantian, menggantung dan
menggerakkan benda berwarna mencolok (lingkaran atau kotak-kotak hitam-putih),
benda-benda berbunyi, mengulingkan bayi kekanan-kekiri, tengkurap-telentang,
dirangsang untuk meraih dan memegang mainan

Umur 3 – 6 bulan ditambah dengan bermain ‘cilukba’, melihat wajah bayi dan pengasuh
di cermin, dirangsang untuk tengkurap, telentang bolak-balik, duduk.

Umur 6 – 9 bulan ditambah dengan memanggil namanya, mengajak bersalaman, tepuk


tangan, membacakan dongeng, merangsang duduk, dilatih berdiri berpegangan.

Umur 9 – 12 bulan ditambah dengan mengulang-ulang menyebutkan mama-papa, kakak,


memasukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, menggelindingkan bola, dilatih
berdiri, berjalan dengan berpegangan.

Umur 12 – 18 bulan ditambah dengan latihan mencoret-coret menggunakan pensil warna,


menyusun kubus, balok-balok, potongan gambar sederhana (puzzle) memasukkan dan
mengeluarkan benda-benda kecil dari wadahnya, bermain dengan boneka, sendok, piring,
gelas, teko, sapu, lap. Latihlah berjalan tanpa berpegangan, berjalan mundur, memanjat
tangga, menendang bola, melepas celana, mengerti dan melakukan perintah-perintah
sederhana (mana bola, pegang ini, masukan itu, ambil itu), menyebutkan nama atau
menunjukkan benda-benda.

Umur 18 – 24 bulan ditambah dengan menanyakan, menyebutkan dan menunjukkan


bagian-bagian tubuh (mana mata ? hidung?, telinga?, mulut ? dll), menanyakan gambar
atau menyebutkan nama binatang & benda-benda di sekitar rumah, mengajak bicara
tentang kegiatan sehari-hari (makan, minum mandi, main, minta dll), latihan
menggambar garis-garis, mencuci tangan, memakai celana – baju, bermain melempar
bola, melompat.

Umur 2 – 3 tahun ditambah dengan mengenal dan menyebutkan warna, menggunakan


kata sifat (besar-kecil, panas-dingin, tinggi-rendah, banyak-sedikit dll), menyebutkan
nama-nama teman, menghitung benda-benda, memakai baju, menyikat gigi, bermain
kartu, boneka, masak-masakan, menggambar garis, lingkaran, manusia, latihan berdiri di
satu kaki, buang air kecil / besar di toilet.

Setelah umur 3 tahun selain mengembangkan kemampuan-kemampuan umur


sebelumnya, stimulasi juga di arahkan untuk kesiapan bersekolah antara lain : memegang
pensil dengan baik, menulis, mengenal huruf dan angka, berhitung sederhana, mengerti
perintah sederhana (buang air kecil / besar di toilet), dan kemandirian (ditinggalkan di
sekolah), berbagi dengan teman dll. Perangsangan dapat dilakukan di rumah (oleh
pengasuh dan keluarga) namun dapat pula di Kelompok Bermain, Taman Kanak-Kanak
atau sejenisnya.

Pentingnya suasana ketika stimulasi


Stimulasi dilakukan setiap ada kesempatan berinteraksi dengan bayi-balita, setiap hari,
terus menerus, bervariasi, disesuaikan dengan umur perkembangan kemampuannya,
dilakukan oleh keluarga (terutama ibu atau pengganti ibu).

Stimulasi harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan dan kegembiraan antara
pengasuh dan bayi/balitanya. Jangan memberikan stimulasi dengan terburu-terburu,
memaksakan kehendak pengasuh, tidak memperhatikan minat atau keinginan bayi/balita,
atau bayi-balita sedang mengantuk, bosan atau ingin bermain yang lain. Pengasuh yang
sering marah, bosan, sebal, maka tanpa disadari pengasuh justru memberikan rangsang
emosional yang negatif. Karena pada prinsipnya semua ucapan, sikap dan perbuatan
pengasuh adalah merupakan stimulasi yang direkam, diingat dan akan ditiru atau justru
menimbulkan ketakutan bayi-balita.

Pentingnya pola pengasuhan yang demokratik (otoritatif)

Oleh karena itu interaksi antara pengasuh dan bayi atau balita harus dilakukan dalam
suasana pola asuh yang demokratik (otoritatif). Yaitu pengasuh harus peka terhadap
isyarat-isyarat bayi, artinya memperhatikan minat, keinginan atau pendapat anak, tidak
memaksakan kehendak pengasuh, penuh kasih sayang, dan kegembiraan, menciptakan
rasa aman dan nyaman, memberi contoh tanpa memaksa, mendorong keberanian untuk
mencoba berkreasi, memberikan penghargaan atau pujian atas keberhasilan atau perilaku
yang baik, memberikan koreksi bukan ancaman atau hukuman bila anak tidak dapat
melakukan sesuatu atau ketika melakukan kesalahan.

Mengapa stimulasi dini bisa merangsang kecerdasan multipel ?

Sel-sel otak janin dibentuk sejak 3 – 4 bulan di dalam kandungan ibu, kemudian setelah
lahir sampai umur 3 – 4 tahun jumlahnya bertambah dengan cepat mencapai milyaran sel,
tetapi belum ada hubungan antar sel-sel tersebut. Mulai kehamilan 6 bulan, dibentuklah
hubungan antar sel, sehingga membentuk rangkaian fungsi-fungsi. Kualitas dan
kompleksitas rangkaian hubungan antar sel-sel otak ditentukan oleh stimulasi
(rangsangan) yang dilakukan oleh lingkungan kepada bayi-balita tersebut.

Semakin bervariasi rangsangan yang diterima bayi-balita maka semakin kompleks


hubungan antar sel-sel otak. Semakin sering dan teratur rangsangan yang diterima, maka
semakin kuat maka hubungan antar sel-sel otak tersebut. Semakin kompleks dan kuat
hubungan antar sel-sel otak, maka semakin tinggi dan bervariasi kecerdasan anak di
kemudian hari, bila dikembangkan terus menerus, sehingga anak akan mempunyai
banyak variasi kecerdasan (multiple inteligensia).

Bagaimana cara merangsang kecerdasan multipel ?

Untuk merangsang kecerdasan berbahasa verbal ajaklah bercakap-cakap, bacakan cerita


berulang-ulang, rangsang untuk berbicara dan bercerita, menyanyikan lagu anak-anak dll.
Latih kecerdasan logika-matematik dengan mengelompokkan, menyusun, merangkai,
menghitung mainan, bermain angka, halma, congklak, sempoa, catur, kartu, teka-teki,
puzzle, monopoli, permainan komputer dll.

Kembangkan kecerdasan visual-spatial dengan mengamati gambar, foto, merangkai dan


membongkar lego, menggunting, melipat, menggambar, halma, puzzle, rumah-rumahan,
permainan komputer dll.

Melatih kecerdasan gerak tubuh dengan berdiri satu kaki, jongkok, membungkuk,
berjalan di atas satu garis, berlari, melompat, melempar, menangkap, latihan senam,
menari, olahraga permainan dll.

Merangsang kecerdasan musikal dengan mendengarkan musik, bernyanyi, memainkan


alat musik, mengikuti irama dan nada.

Melatih kecerdasan emosi inter-personal dengan bermain bersama dengan anak yang
lebih tua dan lebih muda, saling berbagi kue, mengalah, meminjamkan mainan,
bekerjasama membuat sesuatu, permainan mengendalikan diri, mengenal berbagai suku,
bangsa, budaya, agama melalui buku, TV dll.

Melatih kecerdasan emosi intra-personal dengan menceritakan perasaan, keinginan,


cita-cita, pengalaman, berkhayal, mengarang ceritera dll.

Merangsang kecerdasan naturalis dengan menanam biji hingga tumbuh, memelihara


tanaman dalam pot, memelihara binatang, berkebun, wisata di hutan, gunung, sungai,
pantai, mengamati langit, awan, bulan, bintang dll.

Bila anak mempunyai potensi bawaan berbagai kecerdasan dan dirangsang terus menerus
sejak kecil dengan cara yang menyenangkan dan jenis yang bervariasi maka anak kita
akan mempunyai kecerdasan yang multipel.
Bagaimana cara mengembangkan kreativitas anak ?

Kreativitas dibutuhkan oleh manusia untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam


kehidupan sehari-hari. Kreativitas harus dikembangkan sejak dini. Banyak keluarga yang
tidak menyadari bahwa sikap orangtua yang otoriter (diktator) terhadap anak akan
mematikan bibit-bibit kreativitas anak, sehingga ketika menjadi dewasa hanya
mempunyai kreativitas yang sangat terbatas.

Bagaimana peran orangtua utk mengembangkan kreativitas anak ?

Kreativitas anak akan berkembang jika orangtua selalu bersikap otoritatif (demokratik),
yaitu : mau mendengarkan omongan anak, menghargai pendapat anak, mendorong anak
untuk berani mengungkapkannya. Jangan memotong pembicaraan anak ketika ia ingin
mengungkapkan pikirannya. Jangan memaksakan pada anak bahwa pendapat orangtua
paling benar, atau melecehkan pendapat anak
Orangtua harus mendorong anak untuk berani mencoba mengemukakan pendapat,
gagasan, melakukan sesuatu atau mengambil keputusan sendiri (asalkan tidak
membahayakan atau merugikan oranglain atau diri sendiri). Jangan mengancam atau
menghukum anak kalau pendapat atau perbuatannya dianggap salah oleh orangtua. Anak
tidaklah salah, mereka umumnya belum tahu, dalam tahap belajar. Oleh karena itu
tanyakan mengapa mereka berpendapat atau berbuat demikian, beri kesempatan untuk
mengemukan alasan-alasan. Berikanlah contoh-contoh, ajaklah berpikir, jangan didikte
atau dipaksa, biarkan mereka yang memperbaikinya dengan caranya sendiri. Dengan
demikian tidak mematikan keberanian mereka untuk mengemukakan pikiran, gagasan,
pendapat atau melakukan sesuatu.

Selain itu orangtua harus mendorong kemandirian anak dalam melakukan sesuatu,
menghargai usaha-usaha yang telah dilakukannya, memberikan pujian untuk hasil yang
telah dicapainya walau sekecil apapun. Cara-cara ini merupakan salah satu unsur penting
pengembangan kreativitas anak.

Keluarga harus merangsang anak untuk tertarik mengamati dan mempertanyakan tentang
berbagai benda atau kejadian disekeliling kita, yang mereka dengar, lihat, rasakan atau
mereka pikirkan dalam kehidupan sehari-hari. Orangtua harus menjawab dengan cara
menyediakan sarana yang semakin merangsang anak berpikir lebih dalam, misalnya
dengan memberikan gambar-gambar, buku-buku. Jangan menolak, melarang atau
menghentikan rasa ingin tahu anak, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain.

Orangtua harus memberi kesempatan anak untuk mengembangkan khayalan, merenung,


berfikir dan mewujudkan gagasan anak dengan cara masing-masing. Biarkan mereka
bermain, menggambar, membuat bentuk-bentuk atau warna-warna dengan cara yang
tidak lazim, tidak logis, tidak realistis atau belum pernah ada. Biarkan mereka
menggambar sepeda dengan roda segi empat, langit berwarna merah, daun berwarna biru.
Jangan banyak melarang, mendikte, mencela, mengecam, atau membatasi anak. Berilah
kebebasan, kesempatan, dorongan, penghargaan atau pujian untuk mencoba suatu
gagasan, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain.

Semua hal-hal tersebut akan merangsang perkembangan fungsi otak kanan yang penting
untuk kreativitas anak yaitu: berfikir divergen (meluas), intuitif (berdasarkan intuisi),
abstrak, bebas, simultan.

Ringkasan

Jika menginginkan anak dengan kecerdasan multipel harus dilakukan perangsangan sejak
bayi setiap hari pada semua sistem indera (pendengaran, penglihatan, perabaan,
pembauan, pengecapan), dengan mengajak berbicara, bermain untuk merangsang
perasaan dan pikiran, merangsang gerak kasar dan halus pada leher, tubuh, kaki, tangan
dan jari-jari.

Cara melakukan stimulasi harus disesuaikan dengan umur dan tahapan tumbuh -kembang
anak. Stimulasi dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan bayi/balita,
misalnya ketika memandikan, mengganti popok, menyusui, menyuapi makanan,
menggendong, mengajak berjalan-jalan, bermain, menonton TV, di dalam kendaraan,
menjelang tidur, atau kapanpun dan dimanapun ketika anda dapat berinteraksi dengan
balita anda. Selanjutnya dapat ditambah melalui Kelompok Bermain, Taman Kanak-
Kanak dan sejenisnya.

Stimulasi harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan, yaitu pola asuh yang
otoritatif (demokratik). Artinya : pengasuh harus peka terhadap isyarat-isyarat bayi,
memperhatikan minat, keinginan atau pendapat anak, tidak memaksakan kehendak
pengasuh, penuh kasih sayang, dan kegembiraan, menciptakan rasa aman dan nyaman,
memberi contoh tanpa memaksa, mendorong keberanian untuk mencoba berkreasi,
memberikan penghargaan atau pujian atas keberhasilan atau perilaku yang baik,
memberikan koreksi bukan ancaman atau hukuman bila anak tidak dapat melakukan
sesuatu atau ketika melakukan kesalahan.

Pola asuh otoritatif penting untuk mengembangkan kreativitas anak.


Dengarkan omongan anak, dorong anak untuk berani mengucapkan pendapatnya, hargai
pendapat anak, jangan memotong pembicaraan anak, jangan memaksakan pendapat
orangtua atau melecehkan pendapat anak.
Rangsanglah anak untuk tertarik mengamati dan mempertanyakan tentang berbagai hal
dilingkungannya, beri kebebasan dan dorongan untuk mengembangkan khayalan,
merenung, berfikir, mencoba dan mewujudkan gagasan. Berikan pujian untuk hasil yang
telah dicapainya walau sekecil apapun.
Jangan menghentikan rasa ingin tahu anak, jangan banyak mengancam atau menghukum,
beri kesempatan untuk mencoba, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain.

Deteksi Dini Anak Berbakat


Psychology Knowledge : Uraian tentang Deteksi Dini Anak Berbakat: Undang-undang
Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan antara lain bahwa “warga negara yang
memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus”
(Pasal 5, ayat 4). Di samping itu juga dikatakan bahwa “setiap peserta didik pada setiap
satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat
dan kemampuannya” (pasal 12, ayat 1b). Hal ini pasti merupakan berita yan
gmenggembirakan bagi warga negara yang memiliki bakat khusus dan tingkat kecerdasan
yang istimewa untuk mendapat pelayanan pendidikan sebaik-baiknya.

Banyak referensi menyebutkan bahwa di dunia ini sekitar 10 – 15% anak berbakat dalam
pengertian memiliki kecerdasan atau kelebihan yang luar biasa jika dibandingkan dengan
anak-anak seusianya. Kelebihan-kelebihan mereka bisa nampak dalam salah satu atau
lebih tanda-tanda berikut:
• Kemampuan inteligensi umum yang sangat tinggi, biasanya ditunjukkan dengan
perolehan tes inteligensi yang sangat tinggi, misal IQ diatas 120.
• Bakat istimewa dalam bidang tertentu, misalnya bidan gbahasa, matematika, seni,
dan lain-lain. Hal ini biasanya ditunjukkan dengan prestasi istimewa dalam
bidang-bidang tersebut.
• Kreativitas yang tinggi dalam berpikir, yaitu kemampuan untuk menemukan ide-
ide baru.
• Kemampuan memimpin yan gmenonjol, yaitu kemampuan untuk mengarahkan
dan mempengaruhi orang lain untuk bertindak sesuai dengan harapan kelompok.
• Prestasi-prestasi istimewa dalam bidang seni atau bidang lain, misalnya seni
musik, drama, tari, lukis, dan lain-lain.

Pada zaman modern ini orang tua semakin sadar bahwa pendidikan merupakan salah satu
kebutuhan pokok yang tidak bisa ditawar-tawar. Oleh sebab itu tidak mengherankan pula
bahwa semakin banyak orang tua yang merasa perlu cepat-cepat memasukkan anaknya
ke sekolah sejak usia dini. Mereka sangat berharap agar anak-anak mereka “cepat
menjadi pandai.” Sementara itu banyak orang tua yang menjadi panik dan was-was jika
melihat adanya gejala-gejala atau perilaku-perilaku anaknya yang berbeda dari anak
seusianya. Misalnya saja ada anak berumur tiga tahun sudah dapat membaca lancar
seperti layaknya anak usia tujuh tahun; atau ada anak yang baru berumur lima tahun
tetapi cara berpikirnya seperti orang dewasa, dan lain-lain. Dapat terjadi bahwa gejala-
gejala dan “perilaku aneh” dari anak itu merupakan tanda bahwa anak memiliki
kemampuan istimewa. Maka dari itu kiranya perlu para guru dan orang tua bisa
mendeteksi sejak dini tanda-tanda adanya kemampuan istimewa pada anak agar anak-
anak yang memiliki bakat dan kemampuan isitimewa seperti itu dapat diberi pelayanan
pendidikan yang memadai.

Tanda-tanda Umum Anak Berbakat


Sejak usia dini sudah dapat dilihat adanya kemungkinan anak memiliki bakat yang
istimewa. Sebagai contoh ada anak yang baru berumur dua tahun tetapi lebih suka
memilih alat-alat mainan untuk anak berumur 6-7 tahun; atau anak usia tiga tahun tetapi
sudah mampu membaca buku-buku yang diperuntukkan bagi anak usia 7-8 tahun.
Mereka akan sangat senang jika mendapat pelayanan seperti yang mereka harapkan.

Anak yang memiliki bakat istimewa sering kali memiliki tahap perkembangan yang tidak
serentak. Ia dapat hidup dalam berbagai usia perkembangan, misalnya: anak berusia tiga
tahun, kalau sedang bermain seperti anak seusianya, tetapi kalau membaca seperti anak
berusia 10 tahun, kalau mengerjakan matematika seperti anak usia 12 tahun, dan kalau
berbicara seperti anak berusia lima tahun. Yang perlu dipahami adalah bahwa anak
berbakat umumnya tidak hanya belajar lebih cepat, tetapi juga sering menggunakan cara
yang berbeda dari teman-teman seusianya. Hal ini tidak jarang membuat guru di sekolah
mengalamai kesulitan, bahkan sering merasa terganggu dengan anak-anak seperti itu. Di
samping itu anak berbakat istimewa biasanya memiliki kemampuan menerima informasi
dalam jumlah yang besar sekaligus. Jika ia hanya mendapat sedikit informasi maka ia
akan cepat menjadi “kehausan” akan informasi.
Di kelas-kelas Taman Kanak-Kanak atau Sekolah Dasar anak-anak berbakat sering tidak
menunjukkan prestasi yang menonjol. Sebaliknya justru menunjukkan perilaku yang
kurang menyenangkan, misalnya: tulsiannya tidak teratur, mudah bosan dengan cara guru
mengajar, terlalu cepat menyelesaikan tugas tetapi kurang teliti, dan sebagainya. Yang
menjadi minat dan perhatiannya kadang-kadang justru hal-hal yan gtidak diajarkan di
kelas. Tulisan anak berbakat sering kurang teratur karena ada perbedaan perkembangan
antara perkembangan kognitif (pemahaman, pikiran) dan perkembangan motorik, dalam
hal ini gerakan tangan dan jari untuk menulis. Perkembangan pikirannya jauh ebih cepat
daripada perkembangan motoriknya. Demikian juga seringkali ada perbedaan antara
perkembangan kognitif dan perkembangan bahasanya, sehingga dia menjadi berbicara
agak gagap karena pikirannya lebih cepat daripada alat-alat bicara di mulutnya.

Pelayanan bagi Anak Berbakat


Mengingat bahwa anak berbakat memiliki kemampuan dan minat yang amat berbeda dari
anak-anak sebayanya, maka agak sulit jika anak berbakat dimasukkan pada sekolah
tradisional, bercampur dengan anak-anak lainnya. Di kelas-kelas seperti itu akan terjadi
dua kerugian, yaitu: (1) anak berbakat akan frustrasi karena tidak mendapat pelayanan
yang dibutuhkan, dan (2) guru dan teman-teman kelasnya akan bisa sangat terganggu
oleh perilaku anak berbakat tadi.

Beberapa kemungkinan pelayanan anak berbakat dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut:
1) Menyelenggarakan program akselerasi khusus untuk anak-anak berbakat. Program
akselerasi dapat dilakukan dengan cara “lompat kelas”, artinya anak dari Taman Kanak-
Kanak misalnya tidak harus melalui kelas I Sekolah Dasar, tetapi misalnya langsung ke
kelas II, atau bahkan ke kelas III Sekolah Dasar. Demikian juga dari kelas III Sekolah
Dasar bisa saja langsung ke kelas V jika memang anaknya sudah matang untuk
menempuhnya.

Jadi program akselerasi dapat dilakukan untuk:

(1) seluruh mata pelajaran, atau disebut akselerasi kelas, ataupun

(2) akselerasi untuk beberapa mata pelajaran saja. Dalam program akselerasi untuk
seluruh mata pelajaran berarti anak tidak perlu menempuh kelas secara berturutan, tetapi
dapat melompati kelas tertentu, misalnya anak kelas I Sekolah Dasar langsung naik ke
kelas III. Dapat juga program akselerasi hanya diberlakukan untuk mata pelajaran yang
luar biasa saja. Misalnya saja anak kelas I Sekolah Dasar yang berbakat istimewa dalam
bidang matematika, maka ia diperkenankan menempuh pelajaran matematika di kelas III,
tetapi pelajaran lain tetap di kelas I. Demikian juga kalau ada anak kelas II Sekolah Dasar
yang sangat maju dalam bidang bahasa Inggris, ia boleh mengikuti pelajaran bahasa
Inggris di kelas V atau VI.

2) Home-schooling (pendidikan non formal di luar sekolah). Jika sekolah keberatan


dengan pelayanan anak berbakat menggunakan model akselerasi kelas atau akselerasi
mata pelajaran, maka cara lain yang dapat ditempuh adalah memberikan pendidikan
tambahan di rumah/di luar sekolah, yang sering disebut home-schooling. Dalam home-
schooling orang tua atau tenaga ahli yang ditunjuk bisa membuat program khusus yang
sesuai dengan bakat istimewa anak yang bersangkutan. Pada suatu ketika jika anak sudah
siap kembali ke sekolah, maka ia bisa saja dikembalikan ke sekolah pada kelas tertentu
yang cocok dengan tingkat perkembangannya.

3) Menyelenggarakan kelas-kelas tradisional dengan pendekatan individual. Dalam


model ini biasanya jumlah anak per kelas harus sangat terbatas sehingga perhatian guru
terhadap perbedaan individual masih bisa cukup memadai, misalnya maksimum 20 anak.
Masing-masing anak didorong untuk belajar menurut ritmenya masing-masing. Anak
yang sudah sangat maju diberi tugas dan materi yang lebih banyak dan lebih mendalam
daripada anak lainnya; sebaliknya anak yang agak lamban diberi materi dan tugas yang
sesuai dengan tingkat perkembangannya. Demikian pula guru harus siap dengan berbagai
bahan yang mungkin akan dipilih oleh anak untuk dipelajari. Guru dalam hal ini menjadi
sangat sibuk dengan memberikan perhatian individual kepada anak yang berbeda-beda
tingkat perkembangan dan ritme belajarnya.

4) Membangun kelas khusus untuk anak berbakat. Dalam hal ini anak-anak yang
memiliki bakat/kemampuan yang kurang lebih sama dikumpulkan dan diberi pendidikan
khusus yang berbeda dari kelas-kelas tradisional bagi anak-anak seusianya. Kelas seperti
ini pun harus merupakan kelas kecil di mana pendekatan individual lebih diutamakan
daripada pendekatan klasikal. Kelas khusus anak berbakat harus memiliki kurikulum
khusus yang dirancang tersendiri sesuai dengan kebutuhan anak-anak berbakat. Sistem
evaluasi dan pembelajarannyapun harus dibuat yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Pergaulan Anak Berbakat


Anak berbakat seringkali lebih suka bergaul dengan anak-anak yang lebih tua dari segi
usia, khususnya mereka yang memiliki keunggulan dalam bidang yang diminati.
Misalnya saja ada anak kelas II Sekolah Dasar yang sangat suka bermain catur dengan
orang-orang dewasa, karena jika ia bermain dengan teman sebayanya rasanya kurang
berimbang. Dalam hal ini para orang tua dan guru harus memakluminya dan
membiarkannya sejauh itu tidak merugikan perkembangan yang lain.

Di dalam keluarga pun orangtua hendaknya mencarikan teman yang cocok bagi anak-
anak berbakat sehingga ia tidak merasa kesepian dalam hidupnya. Jika ia tidak mendapat
teman yang cocok, maka tidak jarang orang tua dan keluarga, menjadi teman pergaulan
mereka. Umumnya anak berbakat lebih suka bertanya jawab hal-hal yang mendalam
daripada hal-hal yang kecil dan remeh. Kesanggupan orang tua dan keluarga untuk
bergaul dengan anak berbakat akan sangat membantu perkembangan dirinya.
Kebebasan Kembangkan Kreativitas
Anak
Psychology : Meski masih berusia dini, tiap anak memiliki hak untuk berpartisipasi
dalam kegiatan belajar-mengajar. Para guru kelompok bermain dan taman kanak-kanak
seharusnya mampu memberi kebebasan terhadap anak didik untuk mengembangkan
kreativitas. “Guru harus mampu menarik garis untuk masuk ke dunia anak-anak sehingga
lebih bisa memahami,” ungkap Ketua LSM Plan Indonesia Yanti Maskun dalam seminar
literasi anak usia dini untuk guru kelompok bermain (KB) dan taman kanak-kanak (TK)
se-DIY di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri
Yogyakarta, Selasa (31/7).

Anak-anak, lanjut Yanti, adalah manusia seutuhnya sehingga guru harus mampu
menerjemahkan setiap tangisan dan rengekan mereka.Para guru diharapkan tidak sekadar
menerapkan sistem pendidikan warisan orangtua terhadap anak.

“Dulu tiap anak hanya bisa nrimo terhadap apa pun yang diajarkan guru dan orangtua.
Sekarang anak punya hak sepenuhnya untuk mendapat pendidikan terbaik,” kata Yanti.

Pembicara seminar dari Universitas Pendidikan Indonesia Bachrudin Musthafa


menambahkan, tiap guru harus memiliki perspektif sosiokultur, yaitu menerapkan metode
pengajaran berpusat pada anak. Anak harus diperlakukan sebagai teman sebaya sekaligus
sebagai aktor budaya untuk kegiatan aktif dan kreatif.

Pengalaman literasi

Pendidikan KB dan TK tak lagi hanya sebagai jenjang untuk mempersiapkan anak
menuju sekolah dasar. Namun, tiap anak harus mulai belajar tentang pengalaman literasi
atau kegiatan berbahasa. Anak-anak mulai belajar dari bahasa lisan menuju ke bahasa
tulisan. Hingga usia dua tahun, ocehan berkembang menjadi penggunaan kalimat. Seusai
dua tahun, anak mulai dapat menggunakan kata-kata dengan susunan yang lebih tertata.
Selanjutnya mereka mulai memiliki variasi gaya tutur dan mengembangkan kesadaran
sosial.

Pengalaman literasi tersebut akan semakin kuat tertanam dengan dukungan lingkungan
sosial terdekat, antara lain melalui pembacaan cerita. “Pengalaman mendengar cerita
membuat anak menyadari bahwa bahasa lisan dapat dituliskan dan tulisan bisa
mengandung pesan,” tutur Bachrudin.

Guru juga harus memperkaya lingkungan kelas dengan kebiasaan berbahasa. Kelas
sebaiknya dipenuhi dengan buku bacaan dan bahan cetak untuk menarik minat baca.
Mendengarkan, menulis, dan menggambarkan cerita akan membantu anak untuk
memahami kegiatan berbahasa. (WKM)

Pengembangan Kreativitas Anak Melalui


Pembelajaran Kelompok Bermain
Anggapan bahwa pendidikan baru bisa dimulai setelah usia sekolah dasar yaitu usia tujuh
tahun ternyata tidaklah benar. Bahkan pendidikan yang dimulai pada usia TK (4 – 6
tahun) pun sebenarnya sudah terlambat. Hasil penelitian di bidang neurologi yang
dilakukan Benyamin S. Bloom, seorang ahli pendidikan dari Universitas Chicago,
Amerika Serikat (Diktentis, 2003: 1), mengemukakan bahwa pertumbuhan sel jaringan
otak pada anak usia 0 – 4 tahun mencapai 50%, hingga usia 8 tahun mencapai 80%.
Artinya bila pada usia tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal
maka otak anak tidak akan berkembang secara optimal. Pada dasawarsa kedua yaitu usia
18 tahun perkembangan jaringan otak telah mencapai 100%. Oleh sebab itu masa kanak-
kanak dari usia 0 – 8 tahun disebut masa emas (Golden Age) yang hanya terjadi satu kali
dalam perkembangan kehidupan manusia sehingga sangatlah penting untuk merangsang
pertumbuhan otak anak dengan memberikan perhatian terhadap kesehatan anak,
penyediaan gizi yang cukup, dan pelayanan pendidikan.
Data memperlihatkan bahwa layanan pendidikan anak usia dini di Indonesia masih
termasuk sangat memprihatinkan. Sampai dengan tahun 2001 (Jalal, 2003: 20) jumlah
anak usia 0 – 6 tahun di Indonesia yang telah mendapatkan layanan pendidikan baru
sekitar 28% (7.347.240 anak). Khusus untuk anak usia 4 – 6 tahun, masih terdapat sekitar
10,2 juta (83,8%) yang belum mendapatkan layanan pendidikan. Masih banyaknya
jumlah anak usia dini yang belum mendapatkan layanan pendidikan tersebut disebabkan
terbatasnya jumlah lembaga yang memberikan layanan pendidikan bagi anak usia dini.
Layanan pendidikan kepada anak-anak usia dini merupakan dasar yang sangat
berpengaruh terhadap perkembangan anak selanjutnya hingga dewasa. Hal ini diperkuat
oleh Hurlock (1991: 27) bahwa tahun-tahun awal kehidupan anak merupakan dasar yang
cenderung bertahan dan mempengaruhi sikap dan perilaku anak sepanjang hidupnya.
Kreativitas merupakan salah satu potensi yang dimiliki anak yang perlu dikembangkan
sejak usia dini. Setiap anak memiliki bakat kreatif dan ditinjau dari segi pendidikan,
bakat kreatif dapat dikembangkan dan karena itu perlu dipupuk sejak dini. Bila bakat
kreatif anak tidak dipupuk maka bakat tersebut tidak akan berkembang, bahkan menjadi
bakat yang terpendam yang tidak dapat diwujudkan.
Melalui proses pembelajaran dengan kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak yaitu
melalui bermain, diharapkan dapat merangsang dan memupuk kreativitas anak sesuai
dengan potensi yang dimilikinya untuk pengembangan diri sejak usia dini. Hal ini sejalan
dengan apa yang dikemukakan oleh Mulyasa (2005: 164) bahwa: “Proses pembelajaran
pada hakekatnya untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik, melalui
berbagai interaksi dan pengalaman belajar”.
Dalam proses pembelajaran di kelompok bermain, kreativitas anak dirangsang dan
dieksplorasi melalui kegiatan bermain sambil belajar sebab bermain merupakan sifat
alami anak. Diungkapkan oleh Munandar (2004: 94) bahwa penelitian menunjukkan
hubungan yang erat antara sikap bermain dan kreativitas. Namun, jelas Froebel
(Patmonodewo, 2003: 7), bermain tanpa bimbingan dan arahan serta perencanaan
lingkungan di mana anak belajar akan membawa anak pada cara belajar yang salah atau
proses belajar tidak akan terjadi. Ia mengisyaratkan bahwa dalam proses pembelajaran,
pendidik bertanggung jawab dalam membimbing dan mengarahkan anak agar menjadi
kreatif.

1. Pembelajaran Bagi Anak Usia Dini


Berdasarkan definisi Konsensus Knowles dalam Mappa (1994: 12) pembelajaran
merupakan suatu proses di dalam mana perilaku diubah, dibenarkan atau dikendalikan.
Sementara itu Abdulhak (2000: 25) menjelaskan bahwa proses pembelajaran adalah
interaksi edukatif antara peserta didik dengan komponen-komponen pembelajaran
lainnya. Pembelajaran di kelompok bermain jelas sangat berbeda dengan di sekolah,
dimana pembelajaran dilakukan dalam suasana bermain yang menyenangkan.
Anak-anak usia dini dapat saja diberikan materi pelajaran, diajari membaca, menulis, dan
berhitung. Bahkan bukan hanya itu saja, mereka bisa saja diajari tentang sejarah,
geografi, dan lain-lainnya. Jerome Bruner menyatakan, setiap materi dapat diajarkan
kepada setiap kelompok umur dengan cara-cara yang sesuai dengan perkembangannya.
Kuncinya adalah pada permainan atau bermain (Supriadi, 2002: 40). Permainan atau
bermain adalah kata kunci pada pendidikan anak usia dini. Ia sebagai media sekaligus
sebagai substansi pendidikan itu sendiri. Dunia anak adalah dunia bermain, dan belajar
dilakukan dengan atau sambil bermain yang melibatkan semua indra anak.
Supriadi (2002: 40) menjelaskan bahwa Bruner dan Donalson dari telaahnya menemukan
bahwa sebagian pembelajaran terpenting dalam kehidupan diperoleh dari masa kanak-
kanak yang paling awal, dan pembelajaran itu sebagian besar diperoleh dari bermain.
Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tetapi menyenangkan. Menurut Conny R.
Semiawan (Jalal, 2002: 16) melalui bermain, semua aspek perkembangan anak dapat
ditingkatkan. Dengan bermain secara bebas anak dapat berekspresi dan bereksplorasi
untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. Melalui
permainan, anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal, baik
potensi fisik maupun mental intelektual dan spiritual. Oleh karena itu, bermain bagi anak
usia dini merupakan jembatan bagi berkembangnya semua aspek.
2. Konsep Kreativitas
Supriadi (2001: 7) menyimpulkan bahwa pada intinya kreativitas adalah kemampuan
seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata,
yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.
Keberhasilan kreativitas menurut Amabile (Munandar, 2004: 77) adalah persimpangan
(intersection) antara keterampilan anak dalam bidang tertentu (domain skills),
keterampilan berpikir dan bekerja kreatif, dan motivasi intrinsik. Persimpangan
kreativitas tersebut – yang disebut dengan teori persimpangan kreativitas (creativity
intersection)
Ciri-ciri kreativitas dapat ditinjau dari dua aspek yaitu:
a. Aspek Kognitif. Ciri-ciri kreativitas yang berhubungan dengan kemampuan berpikir
kreatif//divergen (ciri-ciri aptitude) yaitu:
(1) keterampilan berpikir lancar (fluency);
(2) keterampilan berpikir luwes/fleksibel (flexibility);
(3) keterampilan berpikir orisinal (originality);
(4) keterampilan memperinci (elaboration); dan
(5) keterampilan menilai (evaluation). Makin kreatif seseorang, ciri-ciri tersebut makin
dimiliki. (Williams dalam Munandar, 1999: 88)

b. Aspek Afektif. Ciri-ciri kreativitas yang lebih berkaitan dengan sikap dan perasaan
seseorang (ciri-ciri non-aptitude) yaitu:
(a) rasa ingin tahu;
(b) bersifat imajinatif/fantasi;
(c) merasa tertantang oleh kemajemukan;
(d) sifat berani mengambil resiko;
(e) sifat menghargai;
(f) percaya diri;
(g) keterbukaan terhadap pengalaman baru; dan
(h) menonjol dalam salah satu bidang seni (Williams & Munandar, 1999).

Torrance dalam Supriadi (Adhipura, 2001: 47) mengemukakan tentang lima bentuk
interaksi guru dan siswa di kelas yang dianggap mampu mengembangkan kecakapan
kreatif siswa, yaitu:
(1) menghormati pertanyaan yang tidak biasa;
(2) menghormati gagasan yang tidak biasa serta imajinatif dari siswa;
(3) memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar atas prakarsa sendiri;
(4) memberi penghargaan kepada siswa; dan
(5) meluangkan waktu bagi siswa untuk belajar dan bersibuk diri tanpa suasana penilaian.

Hurlock pun (1999: 11) mengemukakan beberapa faktor pendorong yang dapat
meningkatkan kreativitas, yaitu:
(1) waktu,
(2) kesempatan menyendiri,
(3) dorongan,
(4) sarana,
(5) lingkungan yang merangsang,
(6) hubungan anak-orangtua yang tidak posesif,
(7) cara mendidik anak,
(8) kesempatan untuk memperoleh pengetahuan.

Amabile (Munandar, 2004: 223) mengemukakan empat cara yang dapat mematikan
kreativitas yaitu evaluasi, hadiah, persaingan/kompetisi antara anak, dan lingkungan yang
membatasi. Sementara menurut Torrance dalam Arieti yaitu:
(1) usaha terlalu dini untuk mengeliminasi fantasi;
(2) pembatasan terhadap rasa ingin tahu anak;
(3) terlalu menekankan peran berdasarkan perbedaan seksual;
(4) terlalu banyak melarang;
(5) takut dan malu;
(6) penekanan yang salah kaprah terhadap keterampilan verbal tertentu; dan
(7) memberikan kritik yang bersifat destruktif (Adhipura, 2001: 46).
Pengaruh Permainan pada
Perkembangan Anak
Bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh
kesenangan, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Adaorang tua yang berpendapat
bahwa anak yang terlalu banyak bermain akan membuat anak menjadi malas bekerja dan
bodoh. Anggapan ini kurang bijaksana, karena beberapa ahli psikologi mengatakan
bahwa permainan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak.

Faktor-faktor yang mempengaruhi permainan anak:

1. Kesehatan
Anak-anak yang sehat mempunyai banyak energi untuk bermain dibandingkan dengan
anak-anak yang kurang sehat, sehingga anak-anak yang sehat menghabiskan banyak
waktu untuk bermain yang membutuhkan banyak energi.

2. Intelegensi
Anak-anak yang cerdas lebih aktif dibandingkan dengan anak-anak yang kurang cerdas.
Anak-anak yang cerdas lebih menyenangi permainan-permainan yang bersifat intelektual
atau permainan yang banyak merangsang daya berpikir mereka, misalnya permainan
drama, menonton film, atau membaca bacaan-bacaan yang bersifat intelektual.

3. Jenis kelamin
Anak perempuan lebih sedikit melakukan permainan yang menghabiskan banyak energi,
misalnya memanjat, berlari-lari, atau kegiatan fisik yang lain. Perbedaan ini bukan berarti
bahwa anak perempuan kurang sehat dibanding anak laki-laki, melainkan pandangan
masyarakat bahwa anak perempuan sebaiknya menjadi anak yang lembut dan bertingkah
laku yang halus.

4. Lingkungan
Anak yang dibesarkan di lingkungan yang kurang menyediakan peralatan, waktu, dan
ruang bermain bagi anak, akan menimbulkan aktivitas bermain anak berkurang.

5. Status sosial ekonomi


Anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang status sosial ekonominya tinggi, lebih
banyak tersedia alat-alat permainan yang lengkap dibandingkan dengan anak-anak yang
dibesarkan di keluarga yang status ekonominya rendah.

Pengaruh bermain bagi perkembangan anak


Bermain mempengaruhi perkembangan fisik anak
Bermain dapat digunakan sebagai terapi
Bermain dapat mempengaruhi pengetahuan anak
Bermain mempengaruhi perkembangan kreativitas anak
Bermain dapat mengembangkan tingkah laku sosial anak
Bermain dapat mempengaruhi nilai moral anak

Macam-macam permainan dan manfaatnya bagi perkembangan jiwa anak

A. Permainan Aktif

1. Bermain bebas dan spontan atau eksplorasi


Dalam permainan ini anak dapat melakukan segala hal yang diinginkannya, tidak ada
aturan-aturan dalam permainan tersebut. Anak akan terus bermain dengan permainan
tersebut selama permainan tersebut menimbulkan kesenangan dan anak akan berhenti
apabila permainan tersebut sudah tidak menyenangkannya. Dalam permainan ini anak
melakukan eksperimen atau menyelidiki, mencoba, dan mengenal hal-hal baru.

2. Drama
Dalam permainan ini, anak memerankan suatu peranan, menirukan karakter yang
dikagumi dalam kehidupan yang nyata, atau dalam mass media.

3. Bermain musik
Bermain musik dapat mendorong anak untuk mengembangkan tingkah laku sosialnya,
yaitu dengan bekerja sama dengan teman-teman sebayanya dalam memproduksi musik,
menyanyi, berdansa, atau memainkan alat musik.

4. Mengumpulkan atau mengoleksi sesuatu


Kegiatan ini sering menimbulkan rasa bangga, karena anak mempunyai koleksi lebih
banyak daripada teman-temannya. Di samping itu, mengumpulkan benda-benda dapat
mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak. Anak terdorong untuk bersikap jujur,
bekerja sama, dan bersaing.

5. Permainan olah raga


Dalam permainan olah raga, anak banyak menggunakan energi fisiknya, sehingga sangat
membantu perkembangan fisiknya. Di samping itu, kegiatan ini mendorong sosialisasi
anak dengan belajar bergaul, bekerja sama, memainkan peran pemimpin, serta menilai
diri dan kemampuannya secara realistik dan sportif.

B. Permainan Pasif

1. Membaca
Membaca merupakan kegiatan yang sehat. Membaca akan memperluas wawasan dan
pengetahuan anak, sehingga anakpun akan berkembang kreativitas dan kecerdasannya.

2. Mendengarkan radio
Mendengarkan radio dapat mempengaruhi anak baik secara positif maupun negatif.
Pengaruh positifnya adalah anak akan bertambah pengetahuannya, sedangkan pengaruh
negatifnya yaitu apabila anak meniru hal-hal yang disiarkan di radio seperti kekerasan,
kriminalitas, atau hal-hal negatif lainnya.

3. Menonton televisi
Pengaruh televisi sama seperti mendengarkan radio, baik pengaruh positif maupun
negatifnya.(iis)