You are on page 1of 4

Pembangunan Rumah Sakit Universitas Brawijaya Dihentikan Paksa1

Selasa, 13 Oktober 2009 | 15:36 WIB

TEMPO Interaktif, Malang - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemkot Malang
menghentikan paksa kegiatan pembangunan Rumah Sakit Akademik Universitas Brawijaya
(RSAUB) di Perumahan Griya Shanta Kota Malang. Menurut Kepala Satpol PP Kota Malang
Bambang Suharijadi, Universitas Brawijaya melanggar Perda No 01/2004 Kota Malang tentang
Pelaksanaan Pembangunan.

"Proyek belum berizin," katanya, Selasa (13/10).

Perintah penghentian disampaikan secara lisan. Meski demikian, Universitas Brawijaya


mematuhi perintah tersebut. Satpol PP selanjutnya akan membawa kasus ini ke sidang tindak
pidana ringan. Adapun sangsi atas pelanggaran ini berupa denda maksimal Rp 5 juta atau
hukuman kurungan selama enam bulan.

"Untuk pelanggaran pertama biasanya dikenakan denda," ujar Bambang. Adapun perintah
penghentian secara tertulis akan dikeluarkan setelah vonis hakim turun.

Satpol PP sebelumnya memanggil pihak universitas untuk mengklarifikasi soal pembangunan


rumah sakit itu. Pemanggilan itu dilakukan setelah mendapat informasi dari Dinas Pekerjaan
Umum soal belum diterbitkannya site plan dan advice planning. Selain itu, juga mendapat
pengaduan dari warga Griya Shanta. Setelah melakukan pengecekan lapangan, Satpol PP pun
memutuskan untuk menghentikan pembangunan hingga terbit surat izin.

Kepala Humas Univeritas Brawijaya Ninik Chairani mengaku selama ini pihaknya belum pernah
mendapat teguran dari Satpol PP. "Tak mungkin dihentikan karena semua prosedur dijalankan,"
katanya.

Salah seorang warga, Iwan Sang Angga Bhuwana mengeluhkan kedatangan sejumlah peralatan
berat ke lokasi proyek karena sejumlah fasilitas umum rusak. "Mereka menutup saluran air untuk
jalan peralatan berat," ujarnya.

Rumah sakit yang dibangun dengan dana Rp 600 miliar akan berfungsi sebagai rumah sakit
pendidikan dan riset, serta pengobatan umum. Dana Rp 600 miliar akan dipakai untuk
pembangunan gedung dan pembelian peralatan medis. Dana berasal dari APBN selama tiga
tahun dan direncanakan akan mulai dioperasionalkan pada 2011. Dibangun di kawasan Jl
Soekarano Hatta Kota Malang, rumah sakit dibangun di atas lahan seluas 2,5 hektar. Adapun
pelaksana proyek ini adalah PT Nindya Karya.

1
http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/10/13/brk,20091013-202353,id.html di
askes tanggal 20-12-10
Warga Perumahan Griya Shanta Kota Malang menolak pembangunan rumah sakit karena
khawatir terkena dampak pencemaran limbah rumah sakit. Selain itu, juga adanya kesalahan
peruntukan lahan yang semestinya untuk pusat perbelanjaan.

ANALISIS :

Penggalan artikel kasus RSA UB di atas adalah salah satu contoh kasus yang terjadi di
lingkungan sekitar kita. Secara garis besar, artikel diatas menjelaskan tentang pemberhentian
pembangunan RSA UB dikarenakan izin mendirikan bangunannya belum keluar. Hal ini
dianggap tidak cocok dengan prosedur yang seharusnya berjalan, karena yang seharusnya terjadi
adalah setelah izin dikeluarkan barulah pembangunan bisa dilakukan. Hal inilah yang menjadi
polemik kasus diatas. Kita akan dapat lihat, hal apakah yang menjadi penyebab dari masalah ini
dari salah satu sisi, yang menyebabkan hal fundamental seperti belum adanya IMB bisa
dianggapremeh sehingga disepelekan oleh orang-orang yang dianggap mengerti hukum. Berikut
adalah analisis kami mengenai keefektifan hukum UU no. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit
dengan teori kefektifan hukum menurut Satjipto Raharjo.
Keefektifan hukum adalah situasi dimana hukum yang berlaku dapat dilaksanakan, ditaati
dan berdaya guna sebagai alat kontrol sosial atau sesuai tujuan dibuatnya hukum tersebut.
Efektivitas hukum yang dimaksud berarti mengkaji kaidah hukum yang harus memenuhi syarat,
yakni hukum yang diberlakukan berlandaskan pada landasan yuridis, sosiologis maupun
filosofis. Adapun beberapa faktor penting yang dapat mempengaruhi daya kinerja hukum di
masyarakat adalah sebagai berikut.

1. Factor substansi hukum

Substansi atau materi dari suatu produk peraturan perundang-undangan


merupakan faktor yang cukup penting untuk diperhatikan dalam penegakkan hukum,
tanpa substansi atau materi yang baik dari suatu peraturan perundang-undangan rasanya
sangat sulit bagi aparatur penegak hukum untuk dapat menegakkan peraturan
perundangan secara baik pula, dan hal tersebut sangat ditentukan atau dipengaruhi ketika
proses penyusunan suatu peraturan perundang-undangan dilakukan. Suatu produk
peraturan perundang-undangan dapat dikatakan baik apabila hal-hal yang diatur dalam
peraturan perundangan tersebut dirumuskan secara jelas, tegas, sistematis dan mudah
untuk dimengerti oleh semua pihak, sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang
berbeda-beda bagi setiap orang yang membaca peraturan perundangan tersebut.

Dalam kasus RSA UB di atas, dalam hal substansi hukum ini kami mengambil
pasal 9a UU no. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit yang mengatakan bahwa :
“Persyaratan administratif dan persyaratan teknis bangunan gedung pada umumnya
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”
Jika kita lihat dari redaksi kalimatnya masih terlalu umum, belum di rumuskan
secara jelas, tegas, dan sistematis untuk dimengerti semua pihak, sehingga bagi pihak-
pihak yang belum membaca dan mengetahui ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan
administratif maupun teknis seperti yang disebutkan dalam pasal tersebut bisa salah
kaprah dalam penafsirannya sehingga menimbulkan penafsiran yang berbeda pula antara
pihak satu dengan yang lain. redaksinya gimana?? Udah bagus???

2. Faktor aparat penegak hukum

Peranan aparatur penegak hukum juga tidak kalah pentingnya dalam menentukan
tingkat keberhasilan penegakkan suatu peraturan perundang-undangan, baik buruknya
aparatur penegak hukum dapat menentukan baik buruknya pula suatu penegakkan
peraturan perundang-undangan. Suatu peraturan perundang-undangan yang baik
terkadang tidak dapat ditegakkan secara baik, apabila yang menegakkan peraturan
perundangan tersebut adalah aparatur penegak hukum yang tidak baik atau tidak cakap.
Dan hal tersebut dapat dipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya rendahnya tingkat
pemahaman dari aparatur penegak hukum terhadap substansi suatu peraturan
perundangan. Kemudian diberlakukannya suatu peraturan perundang-undang yang
mempunyai maksud dan tujuan baik belum tentu memberikan suatu manfaat yang nyata
bagi masyarakat, apabila tidak ditegakkan secara konsisten dan bertanggung jawab
aturan-aturan hukum yang ada didalamnya. Karena suatu peraturan perundang-undangan
pada dasarnya hanyalah rangkaian kalimat yang tidak akan memberikan makna tanpa
adanya mekanisme penegakkan hukum yang jelas dan pelaksanaan yang konsisten dari
aparatur penegak hukumnya.2

Dalam masalah ini, sepertinya kinerja aparat penegak hukum cukup bagus dalam
melaksanakan kinerjanya, karena para Satpol PP tersebut dengan sigap dan cepat
mendeteksi adanya pembangunan tanpa izin yang dilakukan oleh pihak Brawijaya
buktinya sebelum batu pertama di letakkan sekalipun (hanya pemagaran area tempat
rencana pembangunan), Satpol PP tersebut sudah turun dan memberi peringatan kepada
pihak Brawijaya dengan memberi sanksi terhadap tindak pidana ringan pada tanggal 12
oktober 2009 dengan amar putusan : kurungan 7 hari serta denda Rp 4.500.000,-.

3. Factor budaya masyarakat

Faktor budaya atau kesadaran hukum tidak dapat diabaikan begitu saja dalam
menentukan sukses atau tidaknya penegakkan hukum, meskipun materi suatu peraturan
perundang-undangan itu baik, dan dilengkapi oleh aparatur hukum yang cakap dalam
menegakkannya, tanpa adanya budaya hukum yang kondusif di masyarakat rasanya akan
sangat sulit bagi suatu produk peraturan perundang-undangan dapat berjalan secara

2
http://fathudin.blogspot.com/2010/04/efektifitas-hukum-dalam-masyarakat.html diaskes tanggal 20-12-2010
efektif. Sedangkan budaya hukum itu sendiri tercermin dalam sikap warga masyarakat
yang sangat dipengaruhi oleh sistem nilai yang dianut oleh masyarakat. Respon
masyarakat terhadap penerapan hukum yang mengatur perilaku akan sangat dipengaruhi
oleh sistem nilai yang dianutnya. Apabila produk hukum yang mengatur mengacu pada
sistem nilai tertentu dihadapkan pada masyarakat yang menganut sistem nilai dan
memiliki budaya hukum yang berbeda, bukan hal yang aneh bila penerapan produk
hukum tersebut akan mengalami kesulitan
Menurut Soerjono Soekanto, terdapat empat indikator kesadaran hukum yang
masing-masing merupakan suatu bagi tahapan berikutnya, yatu pengetahuan hukum,
pemahaman hukum, sikap hukum dan pola perilaku hukum. Demikian juga Lawrence
Friedmann mengkatogerikam budaya hukum sebagai moralitas dalam konteks pemikiran
sistem hukum. Menurutnya aspek budaya hukum dianggap sebagai kesdaran hukum
yang mencul sebagai tingkah laku yang didasari oleh suara bathiniyah yuridis. Dengan
demikian munculnya kesadaran manusia untuk menjalankan hukum sesuai dengan kaidah
normatif dibungkus oleh moralitas seseorang sebagai pencerminan dari moralitas religi
yang dianut.

4. Factor sarana dan prasarana

Sarana atau fasilitas hukum sangat penting dalam menjamin terwujudnya efektivitas
hukum. Ruang lingkup yang dimaksud adalah meliputi sarana fisik yang berfungsi
sebagai faktor pendukung. Seperti adanya institusi pengadilan yang merata beserta
sarana penunjang administrasinya. Demikian juga lembaga kepolisian dapat bekerja
dengan baik apabila sarana penunjang kinerjanya dapat dilengkapi seperti kendaraan dan
alat-alat komunikasi yang proporsional. Apabila segala fasilitas tersebut telah ada maka
sarana pemeliharaanya pun harus tersedia. Seperti kebutuhan renovasi gedung,
pemeliharaan dan perawatan aset kendaraan. Apabila sarana dan fasilitas ini dapat
dipenuhi oleh pemerintah, efetifitas kinerja aparatur penegak hukum akan dapat
dikerjakan lebih efisien. Ini semua tentunya membutuhkan perhatian khusus pemerintah
terkait dengan alokasi dana yang dinutuhkan untuk mengembangkan sarana dan fasilitas
hukum sebagai salah satu unsur penting demi terwujudnya efektivitas hukum.