You are on page 1of 14

FIBROADENOMA MAMMA

Tumor pada mamma yang:

· Timbul pada wanita muda, 15-30 tahun

· Membesar sangat pelan, dalam tahunan

· Bentuk bulat atau oval

· Batas tegas

· Tidak besar, 2- 5 cm

· Permukaan rata

· Konsistensi padat kenyal

· Sangat mobil dalam korpus mamma

· Tidak ada tanda invasi atau metastase

· Dapat singel atau multipel.

· >4 cm diperlukan FNA untuk menyingkirkan kemungkinan tumor filodes

TUMOR FILODES

Tumor pada mamma yang:

o Bentuk bulat atau oval

o Batas tegas

o Besar > 5 cm

o Permukaan dapat berbenjol-benjol

o Tidak melekat dengan kulit atau m.pektoral sangat mobil dalam korpus mamma

o Tidak ada tanda invasi atau metastase

o Vena subkutan melebar.

Di unduh
darihttp://www.zimbio.com/member/bedahumum/articles/3869703/EKSISI+TUMO
R+JINAK+PAYUDARA
Lesi jinak yang memberikan keluhan atau tidak berhasil dengan terapi
konservatif

Untuk keperluan diagnostik

Tumor Jinak Payudara

8:00 AM Posted by Irga

I. PENDAHULUAN
Mayoritas dari lesi yang terjadi pada mammae adalah benigna. Hampir 40% dari
pasien yang mengunjungi poliklinik dengan keluhan pada mammae mempunyai
lesi jinak. Perhatian yang lebih sering diberikan pada lesi maligna karena kanker
payudara merupakan lesi maligna yang paling sering terjadi pada wanita di
negara barat walaupun sebenarnya insidens lesi benigna payudara adalah lebih
tinggi berbanding lesi maligna. Penggunaan mammografi, Ultrasound , Magnetic
Resonance Imaging dan juga biopsi payudara dapat membantu dalam
menegakkan diagnosis lesi benigna pada mayoritas dari pasien.1,2

Mayoritas dari lesi benigna tidak terkait dengan pertambahan risiko untuk
menjadi kanker, maka prosedur bedah yang tidak diperlukan harus dihindari.
Pada masa lalu, kebanyakkan dari lesi benigna ini dieksisi dan hasilnya terdapat
peningkatan dari jumlah pembedahan yang tidak diperlukan. Faktor utama
adalah karena pandangan dari wanita itu sendiri bahwa lesi ini adalah sebuah
keganasan. Oleh karena itu, penting bagi ahli patologi, ahli radiologi dan ahli
onkologi untuk mendeteksi lesi benigna dan membedakannya dengan kanker
payudara in situ dan invasif serta mencari faktor risiko terjadinya kanker supaya
penatalaksanaan yang sesuai dapat diberikan kepada pasien.1,2

Menurut kepustakaan dikatakan bahwa penyebab tersering massa pada


mammae adalah kista, Fibroadenoma mammae dan karsinoma. Kista dan
Fibroadenoma mammae terbentuk di dalam lobus manakala karsinoma pula
terbentuk di duktus terminalis. Keluhan lain yang sering timbul adalah nipple
discharge dan menurut kepustakaan dikatakan penyebab tersering dari gejala ini
adalah papilloma dan duct estasia.3

II. ANATOMI
II.a Gambaran Umum
Mammae adalah kelenjar kulit yang dimodifikasi, terletak di bagian anterior dan
termasuk bagian dari lateral thoraks. Kelenjar susu yang bentuknya bulat ini
terletak di fasia pektoralis. Mammae melebar ke arah superior dari iga dua,
inferior dari kartilago kosta enam dan medial dari sternum serta lateral linea
mid-aksilaris. Kompleks nipple-areola terletak diantara kosta empat dan lima.
Terdapat Langer lines pada kompleks nipple-areola yang melebar ke luar secara
sirkumfranse (melingkar). Langer lines ini signifikan secara klinis kepada ahli
bedah dalam menentukan area insisi pada biopsi mammae.Pada bagian lateral
atasnya jaringan kelenjar ini keluar dari lingkarannya ke arah aksila, disebut
penonjolan Spence atau ekor payudara.3,4

Setiap mammae terdiri dari 15-20 lobus kelenjar yang setiap lobus terdiri dari
beberapa lobulus. Setiap lobulus kelenjar masing-masing mempunyai saluran ke
papila mamma yang disebut duktus laktiferus (diameter 2-4 mm). Diantara
kelenjar susu dan fasia pektoralis, juga diantara kulit dan kelenjar tersebut
mungkin terdapat jaringan lemak. Diantara lobulus tersebut ada jaringan ikat
yang disebut ligamentum Cooper yang memberi bentuk untuk mammae.3,5

II.b Vaskularisasi
Vaskularisasi mammae terutama berasal dari (1) cabang arteri mammaria
interna; (2) cabang lateral dari arteri interkostalis posterior; dan (3) cabang dari
arteri aksillaris termasuk arteri torakalis lateralis, dan cabang pectoral dari arteri
torakoakromial.4,5

II.c Aliran Limfa


Aliran limfe dari mammae kurang lebih 75% ke aksila, sebagian lagi ke kelenjar
parasternal, terutama dari bagian yang sentral dan medial dan ada pula
penyaliran yang ke kelenjar interpektoralis. Di aksila terdapat rata-rata 50
(berkisar dari 10 sampai 90) buah kelenjar getah bening yang berada di
sepanjang arteri dan vena brakialis. Enam kelompok kelenjar limf pada aksila
yang diakui oleh ahli bedah adalah (1) kelompok vena aksila (lateral); (2)
kelompok mammaria eksternal (anterior atau pectoral); (3) kelompok skapular
(posterior atau subskapular); (4) kelompok sentral; (5) kelompok subklavikal
(apical); dan (6) kelompok interpektoral (Rotter’s node).4,5

Kelenjar limfe regional dibagi atas :4,5,6


1. Aksila (ipsilateral) : kelenjar interpektoral (Rotter’s) dan kelenjar disepanjang
vena aksila dan dibagi menjadi 3 tahapan berdasarkan hubungannya dengan
muskulus pektoralis minor :
a. Tahap I (low-axilla) : kelenjar limf terletak lateral dari muskulus pektoralis
minor, terdiri dari kelompok kelenjar limf vena aksila, mammaria eksterna dan
scapular.
b. Tahap II (mid-axilla): kelenjar limf terletak superficial atau profunda dari
muskulus pektoralis minor, terdiri dari kelompok lelenjar limf sentral dan
interpektoral.
c. Tahap III (apical axilla) : kelenjar limf terletak medial atau batasan atas dari
muskulus pektoralis minor, terdiri dari kelompok lelenjar limf subklavikular.
2. Mammaria interna (ipsilateral) : kelenjar limf pada sela iga sepanjang sternum
pada fasia endothorasik.
3. Supraklavikular : kelenjar limf pada fossa supraklavikular, segitiga yang
dibentuk dari muskulus omohyoid dan tendon (batas lateral dan superior), vena
jugularis interna (batas medial) dan klavikula serta vena subklavia (batas
bawah).

II.d Innervasi
Persarafan kulit mammae diurus oleh cabang pleksus servikalis dan nervus
interkostalis. Jaringan kelenjar mammae sendiri dipersarafi oleh saraf simpatik.
Ada beberapa saraf lagi yang perlu diingat sehubung dengan penyulit paralisis
dan mati rasa pasca bedah, yakni nervus interkostobrakialis, nervus kutaneus
brakialis medialis yang mengurus sensibilitas daerah aksila dan bagian medial
lengan atas. Pada diseksi aksila, saraf ini sukar disingkirkan sehingga sering
terjadi mati rasa pada daerah tersebut.4
Saraf nervus pektoralis yang menginervasi muskulus pektoralis mayor dan
minor, nervus torakodorsalis yang menginervasi muskulus latissimus dorsi, dan
nervus torakalis longus yang menginervasi muskulus serratus anterior sedapat
mungkin dipertahankan pada mastektomi dengan diseksi aksila.4

III. DEFINISI
IIIa. Fibroadenoma Mammae
Fibroadenoma merupakan neoplasma jinak yang terutama terdapat pada wanita
muda berusia 15-25 tahun. Setelah menopause, tumor tersebut tidak lagi
ditemukan. Fibroadenoma sering membesar mencapai ukuran 1 atau 2 cm.
Kadang fibroadenoma tumbuh multiple (lebih 5 lesi pada satu mammae), tetapi
sangat jarang. Pada masa adolesens, fibroadenoma tumbuh dalam ukuran yang
besar. Pertumbuhan bisa cepat sekali selama kehamilan dan laktasi atau
menjelang menopause, saat ransangan estrogen meningkat.4.5

III.b Kista Mammae


Kista adalah massa berisi cairan berbentuk bulat atau ovoid. Sebagian besar
merupakan “microcyst” namun pada 20%-25% kasus ditemukan kista yang
dapat terlihat dan dapat dipalpasi. Kista tidak dapat dibedakan dengan massa
lain pada mammae dengan mammografi atau pemeriksaan fisis. Pemeriksaan
ultrasonografi dan sitologi fine needle aspiration (FNA) diperlukan untuk
mendeteksi penyakit ini.1,2

III.c Papilloma Intraduktus


Papilloma Intraduktus merupakan tumor benigna pada epithelium duktus mamae
dimana terjadinya hipertrofi pada epithelium dan mioepithelial. Tumor ini bisa
terjadi di sepanjang sistem duktus dan predileksinya adalah pada ujung dari
sistem duktus yakni sinus lactiferous dan duktus terminalis. Papilloma
Intraduktus soliter sering terjadi di bagian sentral manakala Papilloma
Intraduktus multiple pula jarang terjadi dan secara tipikalnya melibatkan duktus
yang berdekatan dengan bagian perifer dari mammae. Dikatakan bahwa
Papilloma Intraduktus bilateral jarang terjadi1,10,11

IV. INSIDENS
IV.a Fibroadenoma Mammae
Fibroadenoma adalah lesi yang sering terjadi pada mammae; fibroadenoma
terjadi secara asimptomatik pada 25% wanita. Fibroadenoma sering terjadi pada
usia awal reproduktif dan waktu puncaknya adalah antara usia 15 dan 35 tahun.
Dikatakan juga bahwa fibroadenoma ini lebih sering dan terjadi lebih awal pada
wanita kulit hitam berbanding wanita kulit putih.. Insidens fibroadenoma
menurun apabila usia menghampiri menopause yakni ketika involusi terjadi.
Tumor multiple pada satu atau kedua mammae ditemukan pada 10-15%
pasien.1,2

Dalam suatu penelitian, ditemukan bahwa insidens fibroadenoma adalah 7%


sampai 13% pada wanita yang diperiksa klinik manakala hampir 9% ditemukan
melalui autopsi. Fibroadenoma menempati hampir 50% dari biopsi mamae yang
dikerjakan dan angka ini meningkat kepada 75% bagi biopsi yang dilakukan
untuk wanita dibawah usia 20 tahun.13

IV.b Kista Mammae


Menurut kepustakaan dikatakan kista terjadi pada hampir 7% dari wanita pada
suatu waktu dalam kehidupan mereka. Dikatakan bahwa kista ditemukan pada
1/3 dari wanita berusia antara 35 sampai 50 tahun. Secara klasik, kista dialami
wanita perimenopausal antara usia 45 dan 52 tahun, walaupun terdapat juga
insidens yang diluar batas usia ini terutamanya pada individu yang
menggunakan terapi pengganti hormonMenurut beberapa studi autopsi,
ditemukan bahwa hampir 20% mempunyai kista subklinik dan kebanyakkan
berukuran antara 2 atau 3 cm.1,2

IV.c Papilloma Intraduktus


Papilloma Intraduktus soliter sering terjadi pada wanita paramenopausal atau
postmenopausal dengan insidens tertinggi pada dekade ke enam.11

V. ETIOPATOGENESIS
Va. Fibroadenoma Mammae
Etiologi dari fibroadenoma masih tidak diketahui pasti tetapi dikatakan bahwa
hipersensitivitas terhadap estrogen pada lobul dianggap menjadi penyebabnya.
Usia menarche, usia menopause dan terapi hormonal termasuklah kontrasepsi
oral tidak merubah risiko terjadinya lesi ini. Faktor genetik juga dikatakan tidak
berpengaruh tetapi adanya riwayat keluarga (first-degree) dengan karsinoma
mammae dikatakan meningkatkan risiko terjadinya penyakit ini.1,2,13

Fibroadenoma mammae dianggap mewakili sekelompok lobus hiperplastik dari


mammae yang dikenal sebagai “kelainan dari pertumbuhan normal dan
involusi”. Fibroadenoma sering terbentuk sewaktu menarche (15-25 tahun),
waktu dimana struktur lobul ditambahkan ke dalam sistem duktus pada
mammae. Lobul hiperplastik sering terjadi pada waktu ini dan dianggap
merupakan bagian dari perkembangan mammae. Gambaran histologi dari lobul
hiperplastik ini identik dengan fibroadenoma. Analisa dari komponen seluler
fibroadenoma dengan Polymerase Chain Reaction (PRC) menunjukkan bahwa
stromal dan sel epitel adalah poliklonal. Hal ini mendukung teori yang
menyatakan bahwa fibroadenoma merupakan lesi hiperplastik yang terkait
dengan kelainan dari maturitas normal mammae.1,13

Lesi ini merupakan hormone-dependent neoplasma distimulasi oleh laksasi


sewaktu hamil dan mengalami involusi sewaktu perimenopause. Terdapat kaitan
langsung antara penggunaan kontrasepsi oral sebelum usia 20 tahun dengan
risiko terjadinya fibroadenoma. Pada pasien immunosupresi, virus Epstein-Barr
memainkan peranan dalam pertumbuhan tumor ini.1

Vb. Kista Mammae


Seperti fibroadenoma, kista mammae merupakan suatu kelainan dari fisiologi
normal lobular. Penyebab utama terjadinya kelainan ini masih belum diketahui
pasti walaupun terdapat bukti yang mengaitkan pembentukan kista ini dengan
hiperestrogenism akibat penggunaan terapi pengganti hormon. Patogenesis dari
kista mammae ini masih belum jelas.2

Penelitian awal menyatakan bahwa kista mammae terjadi karena distensi duktus
atau involusi lobus. Sewaktu proses ini terjadi, lobus membentuk mikrokista
yang akan bergabung menjadi kista yang lebih besar; perubahan ini terjadi
karena adanya obstruksi dari aliran lobus dan jaringan fibrous yang
menggantikan stroma. Penelitian terakhir menyatakan bahwa etiologi terjadinya
kista mammae adalah lebih kompleks dari pemahaman sebelumnya. Terdapat
dua populasi makrokista yang dapat dibedakan berdasarkan gambaran
mikroskopik, profil biokimia dan gambaran klinik.2

Aspirasi cairan dari simple cyst, menunjukkan rasio Na+:K+ agak tinggi (>3)
sama seperti yang ditemukan didalam plasma. pH cairan dari simple cyst ini pula
kurang dari 7.4 dan dikatakan epitelium gepeng pada kista ini berperan sebagai
membran dimana terjadi penyebaran cairan interstitial secara pasif. Simple cyst
ini biasanya tunggal, tidak berulang dan tidak terkait dengan risiko terjadinya
kanker.2
Kista apokrin dilapisi epithelium apokrin yang terdiri dari sel kolumnar seperti
yang terdapat pada kelenjar keringat apokrin. Rasio Na+:K+ kurang dari 3, dan
sama dengan cairan interstitial. pH kista apokrin ini lebih tinggi dan membran
yang melapisinya mensekresikan bahan seperti konjugat androgen. Hal ini
menunjukkan bahwa epitelium apokrin mensekresikan potassium secara aktif ke
dalam cairan kista. Kista apokrin sering berulang karena keseimbangan antara
sekresi cairan dan reabsorpsi membolehkan terjadinya reakumulasi. Kista ini
juga terkait dengan risiko terjadinya kanker, walaupun buktinya masih belum
kukuh.2

Penelitian lain menunjukkan bahwa, pada tahapan awal pembentukan kista,


mikrokokista yang terbentuk adalah tipe apokrin dan apabila berkembang
menjadi makrokista, kista ini akan berdiferensiasi menjadi simple cyst.2

Vc. Papilloma Intraduktus


Etiologi dan patogenesis dari penyakit ini masih belum jelas. Dari kepustakaan
dikatakan bahwa, Papilloma Intraduktus ini terkait dengan proliferasi dari epitel
fibrokistik yang hiperplasia. Ukurannya adalah 2-3 mm dan terlihat seperti
broad-based atau pedunculated polypoid epithelial lesion yang bisa
mengobstruksi dan melebarkan duktus terkait. Kista juga bisa terbentuk hasil
dari duktus yang mengalami obstruksi.10,14

VI. MORFOLOGI
VI.a Fibroadenoma Mammae
Nodul Fibroadenoma sering soliter, mudah digerakkan dengan diameter 1 hingga
10 cm. Jarang terjadinya tumor yang multiple dan diameternya melebihi 10 cm
(giant fibroadenoma). Walau apa pun ukurannya, fibroadenoma ini sering
“shelled out”. Gambaran makroskopik dari fibroadenoma yang telah dipotong
adalah padat dengan warna uniform tank-white disertai dengan tanda softer
yellow-pink yang menunjukkan area glandular. Gambaran histologi menunjukkan
stroma fibroblastik longgar yang terdiri dari ruang seperti saluran (ductlike)
dilapisi epithelium yang terdiri dari berbagai ukuran dan bentuk. Ductlike atau
ruang glandular ini dilapisi dengan lapisan sel tunggal atau multiple yang regular
dan berbatas tegas serta membran basalis yang intak. Walaupun pada sebagian
lesi, ruang duktal ini terbuka, bulat sampai oval dan regular (pericanaliculi
fibroadenoma), sebagian yang lain dikompresi dengan proliferasi ekstensif dari
stroma dan oleh karena itu, pada cross section Fibroadenoma terlihat seperti
irregular dengan struktur berbentuk bintang (intracanaluculi fibroadenoma)15

VI.b Kista Mammae


Kista bisa terbentuk pada satu mammae saja tetapi biasanya kista ditemukan
multifokal dan bilateral. Area yang terlibat menunjukkan peningkatan densitas
menyeluruh dan nodul-nodul yang terpisah. Kista ini berukuran antara kurang
dari 1 cm sehingga mencapai 5 cm. Kista berwarna coklat kebiruan (blue dome
cyst) dan dipenuhi dengan serous dan cairan keruh. Produk sekretori di dalam
kista ini bisa mengalami kalsifikasi dan terlihat sebagai mikrokalsifikasi pada
pemeriksaan mammogram. Secara histologi, epitelium pada kista berukuran
kecil biasanya kuboidal dan berlapis-lapis. Kista berukuran besar dapat rata atau
mengalami atrofi secara menyeluruh. Proliferasi epitel membentuk massa piled-
up atau papilla. Kista sering dilapisi dengan sel poligonal yang terdiri dari
glandular , sitoplasma eosinofilik serta nuklei kromatik yang kecil dan bulat
sehingga digelar metaplasia apokrin yang biasanya tergolong jinak.15

VI.c Papilloma Intraduktus


Tumor ini biasanya soliter dengan diameternya kurang dari 1 cm. Secara
histologi, tumor ini terdiri dari papilla multiple yang setiap satunya terdiri dari
jaringan ikat dan dilapisi sel epitel kuboidal atau silinder yang biasanya terdiri
dari dua lapisan dengan lapisan terluar epitel menutupi lapisan mioepitel15

VII. GEJALA KLINIK


VII.a Fibroadenoma Mammae
Sebagian besar fibroadenoma terjadi pada wanita muda berusia antara 16
sampai 24 tahun. Namun dengan pemeriksaan patologi untuk mendiagnosa
fibroadenoma, disimpulkan bahwa usia median terjadinya fibroadenoma adalah
menghampiri 30 tahun. Insidens fibroadenoma menurun apabila usia
menghampiri menopause yakni ketika involusi terjadi. Pada waktu ini,
fibroadenoma bisa mengalami kalsifikasi dan terlihat pada mammografi. Oleh
karena itu, kebiasaannya fibroadenoma ini diidentifikasi menggunakan
mammografi pada screening program. Fibroadenoma juga sering terdeteksi
melalui pemeriksaan klinik dan pemeriksaan payudara sendiri.2,13

Fibroadenoma biasanya licin, berbentuk bulat atau lobulated dengan diameter 2


sampai 3 cm. Fibroadenoma teraba sebagai benjolan bulat atau berbenjol-benjol,
dengan simpai licin dan konsistensi kenyal padat. Tumor ini tidak melekat pada
jaringan sekitarnya dan amat mudah digerakkan. Tumor ini biasanya mobil
kecuali yang terletak berdekatan nipple. Mayoritas dari tumor ini terdapat pada
kuadran lateral superior dari mammae. Pada wanita muda, istilah ”breast
mouse” digunakan untuk tumor ini. Pertambahan usia membuatkan mobilitas
dari tumor berkurang karena restraining effects dari jaringan fibrotik. Pada
wanita yang berusia, fibroadenoma memberi gambaran massa kecil, keras dan
masih bisa mobil. Biasanya fibroadenoma tidak nyeri, tetapi kadang dirasakan
nyeri apabila ditekan.2,4,13

Hampir 10% pasien mempunyai presentasi fibroadenoma yang multiple dan


sering terlihat pada wanita muda yang jaringan fibrotik sudah memenuhi
mamaenya. Terdapat juga pasien dengan recurrent fibroadenoma dan hal ini
sering terjadi pada wanita berkulit gelap dan individu oriental.2

VII.b Kista mamae


Secara klasik, kista dialami wanita perimenopausal antara usia 45 dan 52 tahun,
walaupun terdapat juga insidens yang diluar batas usia ini terutamanya pada
individu yang menggunakan terapi pengganti hormon. Kebiasaannya kista ini
soliter tetapi tidak jarang ditemukan kista yang multiple. Pada kasus yang
ekstrim, keseluruhan mammae dapat dipenuhi dengan kista.2
Kista dapat memberikan rasa tidak nyaman dan nyeri. Dikatakan bahwa terdapat
hubungan antara ketidak nyamanan dan nyeri ini dengan siklus menstruasi
dimana perasaan tidak nyaman dan nyeri ini meningkat sebelum menstruasi.2
Kista ini biasanya dapat dilihat. Karekteristiknya adalah licin dan teraba kenyal
pada palpasi. Kista ini dapat juga mobil namun tidak seperti fibroadenoma.
Gambaran klasik dari kista ini bisa menghilang jika kista terletak pada bagian
dalam mammae. Jaringan normal dari nodular mammae yang meliputi kista bisa
menyembunyikan gambaran klasik dari lesi yakni licin semasa dipalpasi.2

VII.c Papilloma Intraduktus


Hampir 90% dari Papilloma Intraduktus adalah dari tipe soliter.Papilloma
Intraduktus soliter sering timbul pada duktus laktiferus dan hampir 70% dari
pasien datang dengan nipple discharge yang serous dan bercampur darah. Ada
juga pasien yang datang dengan keluhan massa pada area subareola walaupun
massa ini lebih sering ditemukan pada pemeriksaan fisis. Massa yang teraba
sebenarnya adalah duktus yang berdilatasi.11

Pasien dengan Papilloma Intraduktus multiple biasanya tidak gejala nipple


discharge dan biasanya terjadi pada duktus yang kecil. Diperkirakan hampir 25%
dari Papilloma Intraduktus multiple adalah bilateral.10
Papilloma Intraduktus ini bisa terjadi pada laki-laki. Kasus terbaru menunjukkan
bahwa pada laki-laki penyakit ini terkait dengan penggunaan phenothiazine.11

VIII. DIAGNOSIS
Massa pada mammae merupakan presentasi tersering dari tumor benigna dan
maligna. Gambar dibawah menjelaskan tentang alur penegakan diagnosis bagi
pasien yang datang dengan keluhan benjolan pada mammae.16
Nipple discharge merupakan cairan (fisiologi atau patologi) yang keluar dari
nipple. Gambar dibawah menunjukan alur penegakan diagnosis bagi pasien yang
datang dengan keluhan nipple discharge.16

VIII.a Fibroadenoma Mammae


Pada pasien dengan usia kurang dari 25 tahun, diagnosa bisa ditegakkan melalui
pemeriksaan klinik walaupun dianjurkan untuk dilakukan aspirasi sitologi.
Konfirmasi secara patologi diperlukan untuk menyingkirkan karsinoma seperti
kanker tubular karena sering dikelirukan dengan penyakit ini. Fine-needle
aspiration (FNA) sitologi merupakan metode diagnosa yang akurat walaupun
gambaran sel epitel yang hiperplastik bisa dikelirukan dengan neoplasia.2

Diagnosa fibroadenoma bisa ditegakkan melalui gambaran klinik pada pasien


usia muda dan karena itu, mammografi tidak rutin dikerjakan. Pada pasien yang
berusia, fibroadenoma memberikan gambaran soliter, lesi yang licin dengan
densitas yang sama atau hampir menyerupai jaringan sekitar pada mammografi.
Dengan pertambahan usia, gambaran stippled calcification terlihat lebih jelas.2

Ultrasonografi mammae juga sering digunakan untuk mendiagnosa penyakit ini.


Ultrasonografi dengan core-needle biopsy dapat memberikan diagnosa yang
akurat. Kriteria fibroadenoma yang dapat terlihat pada pemeriksaan
ultrasonografi adalah massa solid berbentuk bulat atau oval, berbatas tegas
dengan internal echoes yang lemah, distribusinya secara uniform dan dengan
intermediate acoustic attenuation. Diameter massa hipoechoic yang
homogenous ini adalah antara 1 – 20 cm.5,13

VIII.b Kista Mammae


Diagnosis kista mammae ditegakkan melalui aspirasi sitologi. Jumlah cairan yang
diaspirasi biasanya antara 6 atau 8 ml. Cairan dari kista bisa berbeda warnanya,
mulai dari kuning pudar sampai hitam, kadang terlihat translusen dan bisa juga
kelihatan tebal dan bengkak.2
Mammografi dan ultrasonografi membantu dalam penegakkan diagnosis tetapi
pemeriksaan ini tidak begitu penting bagi pasien yang simptomatik.2

Massa soliter dengan dilatasi dari duktus retroareolar merupakan gambaran


yang bisa terlihat pada mammografi atau ultrasonografi sekiranya massa yang
terbentuk agak besar. Massa yang kecil tidak memberikan gambaran khas pada
mammografi dan ultrasonografi. Gambaran kalsifikasi jarang terlihat pada
penyakit ini namun bisa terjadi pada massa yang kecil maupun besar.17
Pemeriksaan galaktografi memberikan gambaran filling defect atau complete
obstruction bagi aliran retrograd dari kontras. Pada pemeriksaan MRI pula
terlihat lesi berbatas tegas dengan duktus berisi cairan.17

Pemeriksaan FNA tidak begitu bermakna pada penyakit ini. Pemeriksaan lain
yang bisa dilakukan adalah eksisi massa dan diperiksa dengan teknik
histopatologi konvensional.3

IX. DIAGNOSIS BANDING


IX.a Fibroadenoma Mammae
i- Tumor Phylloides Benigna : Neoplasma yang dicirikan dengan dua lapisan
epitel yang terletak di dalam celah yang dikelilingi dengan komponen
hiperseluler mesenkima. Sebagian besar dari kasus adalah benigna.18
ii- Tubular Adenoma : Lesi proliferasi benigna yang terdiri dari tubulus kecil yang
uniform serta dilapisi sel epitel dan lapisan tipis dari sel mioepitel.18
IX.b Kista Mammae
i- Ductus Ectasia : Lesi benigna yang dicirikan dengan dilatasi dari duktus
berserta akumulasi fatty detritus di dalam lumen dan terdapat penebalan fibrous
dari dinding dengan atau tanpa inflamasi.18
ii- Flat Epithelial Atipika : Merupakan tipe atypical ductal hyperplasia yang
dicirikan dengan pergantian dari sel epitel mature dengan lapisan tunggal atau
stratified dari sel atipikal disertai dengan distensi dari TDLUs (terminal ductal
lobular unit) yang terkait.18
IX.c Intraductal Papilloma
i- Invasif Duktal Carcinoma : Karsinoma invasif dengan beberapa ciri gambaran
histologi tetapi sering membentuk struktur duktal dan sering dikaitkan dengan
intraduktal karsinoma.18
ii-Adenomioepitelioma : Tumor benigna berbatas tegas yang terdiri dari
proliferasi sel mioepitel disekeliling lapisan epitel dan merupakan massa yang
dapat dipalpasi. Secara morfologi terdiri dari tipe spindle cell, tubular dan
lobulated.18

X. PENATALAKSANAAN
X.a Fibroadenoma Mammae
Pengetahuan yang semakin meluas mengenai natural dari penyakit ini
menyebabkan prosedur untuk mengangkat semua fibroadenoma ditinggalkan.
Kebanyakkan dari fibroadenoma dapat sembuh sendiri (self-limiting) dan tidak
terdiagnosa dan karena itu, terapi konservatif dianjurkan. Sekiranya
fibroadenoma ini tidak diterapi, kebanyakkannya akan berkembang secara
perlahan dari 1 cm menjadi 3 cm dalam jangka waktu 5 tahun. Fase aktif
perkembangannya adalah antara 6 sampai 12 bulan dimana ukurannya bisa
berganda dari asal. Setelah itu, massa ini akan menjadi statik dan pada hampir
1/3 kasus, massa ini akan menjadi semakin kecil.2,5

Pada wanita di bawah usia 25 tahun, pengangkatan rutin tidak diperlukan. Terapi
konservatif ini direkomendasikan untuk wanita di bawah usia 35 tahun dan harus
dilakukan pemeriksaan sitologi setelah 3 bulan untuk menyingkirkan keganasan.
Aturan ini membuatkan sebagian kecil dari kasus kanker tidak terdeteksi dan
beberapa menyarankan pengangkatan fibroadenoma pada wanita yang berusia
lebih dari 25 tahun. Eksisi ini bisa dilakukan dibawah pengaruh anestesi lokal
atau general.2
Fibroadenoma residif setelah pengangkatan jarang terjadi. Sekiranya berlaku
rekurensi, terdapat beberapa faktor yang diduga berpengaruh. Pertama,
pembentukan dari truly metachronous fibroadenoma. Kedua, asal dari tumor
tidak diangkat secara menyeluruh sewaktu operasi dan mungkin karena
presentasi dari tumor phyllodes yang tidak terdiagnosa.2

X.b Kista Mammae


Sebelum ini, eksisi merupakan tatalaksana bagi kista mammae. Namun terapi ini
sudah tidak dilakukan karena simple aspiration sudah memadai. Setelah
diaspirasi, kista akan menjadi lembek dan tidak teraba tetapi masih bisa
dideteksi dengan mammografi. Walaubagaimanapun, bukti klinis perlu bahwa
tidak terdapat massa setelah dilakukan aspirasi. Terdapat dua cardinal rules bagi
menunjukkan aspirasi kista berhasil yakni (1) massa menghilang secara
keseluruhan setelah diaspirasi dan (2) cairan yang diaspirasi tidak mengandungi
darah. Sekiranya kondisi ini tidak terpenuhi, ultrasonografi, needle biopsy dan
eksisi direkomendasikan.2,5

Terdapat dua indikasi untuk dilakukan eksisi pada kista. Indikasi pertama adalah
sekiranya cairan aspirasi mengandungi darah ( selagi tidak disebabkan oleh
trauma dari jarum ), kemungkinan terjadinya intrakistik karsinoma yang sangat
jarang ditemukan. Indikasi kedua adalah rekurensi dari kista. Hal ini bisa terjadi
karena aspirasi yang tidak adekuat dan terapi lanjut perlu diberikan sebelum
dilakukan eksisi. Walaubagaimanapun, sekiranya kista ini masih terus
membesar, eksisi direkomendasikan.2

Pasien dengan kista yang berulang sukar ditangani. Rekurensi sering terjadi
pada daerah yang berbeda dari kista yang pertama. Hampir 15% pasien
mengalami rekurensi kista dalam waktu 5 sampai 10 tahun dengan
mayoritasnya mengalami satu atau dua kali rekurensi. Terdapat sebagian kecil
wanita dengan kista berulang yang regular mengunjungi dokter setiap dua
sampai tiga bulan sekali untuk drainase kista. Dahulu, sebagian pasien dengan
kondisi seperti ini diterapi dengan mastektomi subkutan. Sekarang pengobatan
dengan danazol dan tamoxifen dianjurkan walaupun bukti keberkesanannya
masih belum jelas dan terdapat efek samping serta limitasi dengan pemakaian
obat ini.2

Walaupun tidak membantu dalam penegakan diagnosis, mammografi harus


dikerjakan sebagai prosuder skrining rutin pada wanita berusia lebih dari 35
tahun yang mempunyai kista dengan penampakan dari kanker yang rendah .
Menurut kepustakaan, terdapat bukti yang menyatakan bahwa terjadinya
peningkatan risiko terhadap kanker pada pasien dengan kista. Oleh karena itu,
pemeriksaan mammografi secara berkala ini bisa membantu dalam deteksi awal
dari kanker. Pasien dengan kista soliter biasanya tidak memerlukan pemeriksaan
mammografi regular.2

Teknik yang digunakan untuk aspirasi kista mammae yang dapat dipalpasi sama
dengan teknik yang digunakan untuk pemeriksaan sitologi FNA. Permukaan kulit
dibersihkan dengan alkohol. Biasanya digunakan jarum 21-gauge dan juga
syringe 20ml. Kista di fiksasi menggunakan ibu jari dan jari telunjuk atau jari
telunjuk dan jari tengah. Syringe dipegang oleh tangan yang lain dan kista
dipalpasi sehingga sudah tidak teraba. Volume dari cairan kista biasanya 5 ml
sampai 10 ml tetapi dapat mencapai 75 ml atau lebih. Cairan dari kista biasanya
berwarna coklat, kuning atau kehijauan. Sekiranya didapatkan cairan
sedemikian, pemeriksaan sitologi tidak diperlukan. Apabila ditemukan cairan
kista bercampur darah, 2 ml dari cairan diambil untuk pemeriksaan sitologi.3,5

syringe pistol, needle 20g,7cm)3


Sekiranya kista ditemukan pada ultrasound tetapi tidak bisa dipalpasi, aspirasi
dengan ultrasound-guided needle bisa dilakukan. Kulit dibersihkan dengan
alkohol. Probe ultrasound dipegang dengan satu tangan untuk mengidentifikasi
kista. Syringe dipegang dengan tangan lain dan kista diaspirasi.3

X.c Papilloma Intraduktus


Umumnya, pasien diterapi secara konservatif dan papilloma serta nipple
discharge dapat menghilang secara spontan dalam waktu beberapa minggu.
Apabila hal ini tidak berlaku, eksisi lokal duktus yang terkait bisa dilakukan.
Eksisi duktus terminal merupakan prosedur bedah pilihan sebagai
penatalaksanan nipple discharge. Pada prosedur ini, digunakan anestesi lokal
dengan atau tanpa sedasi. Tujuannnya adalah untuk eksisi dari duktus yang
terkait dengan nipple discharge dengan pengangkatan jaringan sekitar
seminimal mungkin. Apabila lesi benigna ini dicurigai mengalami perubahan kea
rah maligna, terapi yang diberikan adalah eksisi luas disertai radiasi. 3,11,19

XI. PROGNOSIS
XI.a Fibroadenoma Mammae
Melalui satu penelitian retrospektif, risiko terjadinya karsinoma mammae pada
wanita dengan fibroadenoma meningkat 1.3 sampai 2.1 kali berbanding populasi
umum. Peningkatan risiko ini persisten dan tidak berkurang dengan
pertambahan masa.13
XI.b Kista Mammae
Pada umumnya, lesi akan mengalami involusi dan simptom mulai menghilang
apabila mencapai usia menopause.9
XI.c Papilloma Intraduktus
Papilloma Intraduktus subareolar soliter atau intrakistik adalah benigna. Namun,
telah terjadi pertentangan apakah penyakit ini merupakan prekursor bagi
karsinoma papillary atau merupakan predisposisi untuk meningkatkan resiko
terjadinya karsinoma. Menurut komuniti dari College of American Pathologist,
wanita dengan lesi ini mempunyai risiko 1,5 – 2 kali untuk terjadinya karsinoma
mammae.11,14
DAFTAR PUSTAKA

1. Gurray M, Sahin A ; The Oncologist Beningn Breast Disease Classification,


Diagnosis and Management [serialonline]2006 [cited 2009 June 30] Available
from : URL : http://cme.alphamedpress.org/cgi/hierarchy/ampcme_course;ONC-
11-5-435
2. Peter J, William C,editors. Benign Conditions of the Breast [PDB] In: Oxford
Textbook of Surgery, 2nd ed. UK : Oxford Press; 2000,p 106
3. Ismali J, Manfred K, Jean Y.editors. Atlas of Brest Surgery [PDF] NewYork:
Spinger; 2006,p 7-44
4. Jong W,editors. Dinding Toraks, Pleura dan Payudara In Buku Ajar Ilmu Bedah,
Edisi Revisi, ECG : Jakarta;1997, p 534-542
5. Kirby I, Samuel W, Edward E.editors. Schwart Manual Surgery 8th edition [PDF]
USA: Mc Graw Hill; 2006,p 344-48
6. Frederick L,April G, David P ,editors. Breast In AJCC Cancer Staging Atlas,
Spinger : USA ;2006, p 219-221
7. Frank H,editors. Thorax In Atlas of Human Anatomy,3rd ed. Quebecor World :
USA ;2004, p 177
8. Rosai ; Fibroadenoma [serialonline]2006 [cited 2009 June 30] Available from :
URL : http://www.pathconsultddx.com/pathCon/diagnosis?pii=S1559-
8675(06)70216-9
9. Acermann ; Benign Breast Lesion [online]2009 [cited 2009 June 30] Available
from : URL : http://www.hubpages.com/benignbreastlesion
10. Rosai ; Intraductal Papilloma [serialonline]2006 [cited 2009 June 30]
Available from : URL : http://www.pathconsultddx.com/pathCon/diagnosis?
pii=S1559-8675(06)70289-3
11. Paul P, Horal A ; AFIP Atlas of Tumor Pathology: Mammary [serialonline]2006
[cited 2009 June 30] Available from : URL :
http://www.pathologyresources.com/AFIP/mammary/brst07.htm
12. Pam S ; Benign Breast Condition [online]2008 [cited 2009 June 30] Available
from : URL : http://www.about.com/intraductal-papilloma
13. Ron G, Yehuda S, Ofer K ; Management of Breast Fibroadenoma
[serialonline]1998 [cited 2009 June 30] Available from : URL :
http://www.pubmed.com/jgim/fibroadenoma
14. Etta D, Patricia M, Eithe B ; Case 8-Solitary Intraductal Papilloma
[serialonline]1999 [cited 2009 June 30] Available from : URL :
http://www.rsnajournal.com/radiology/intraductal-papilloma
15. Vinay K, Ramzi S, Stanley L,editors. The Female Genital and Breast In Basic
Pathology, 7th ed, Saunders : India ;2003, p 706-10
16. Pierce A, Neil R, editors. Surgery at Glance [PDF] UK: Blackwell; 2002,p 16-21
17. Shiw H, Thomas M, Fattaneh A ; Papillary Neoplasma of the Breast: A Review
[serialonline]2009 [cited 2009 June 30] Available from : URL :
http://www.collageofamericanpathology.com/vol133/no6
18. Rosai ; Breast [serialonline]2006 [cited 2009 June 30] Available from :URL:
http://www.pathconsultddx.com/pathCon/browseByBodySystem?
bodySystem=Brest
19. Wiley W, John D, Robert S. editors. ACS Surgery Principle Practice [PDF]
WebMD; 2006,p 371-71

Diunduh darI http://www.irwanashari.com/2009/12/tumor-jinak-payudara.html