You are on page 1of 4

ABSTRAK Kejahatan penyalahgunaan Narkoba tanpa izin merupakan darah segar yang menghidupi kegiatan bisnis illegal dengan

modus mengalihkan, menyembunyikan harta kekayaan hasil tindak pidana narkoba ke lembaga legal dan melakukan pencucian uang melalui lembaga keuangan sehingga dianggap harta kekayaan merupakan harta yang legal. Selanjutnya melalui modus ini pelaku secara terus menerus mendanai kegiatan bisnis haram. Hal ini mensyaratkan bahwa instrumen yang paling dominan dalam tindak pidana pencucian uang biasanya menggunakan perbankan, salah satu alasan penggunaan perbankan sebagai instrumen yang dominan digunakan oleh pelaku didasarkan pada penawaran instrumen keuangan yang paling banyak bila dibandingkan dengan lembaga keuangan lainnya. Harta kekayaan yang didapat dari kejahatan transaksi narkoba biasanya oleh pelaku baik perseorangan maupun korporasi tidak langsung digunakan karena adanya rasa takut maupun terindikasi sebagai kegiatan pencucian uang. Untuk itu biasanya para pelaku selalu berupaya untuk menyembunyikan asal usul harta kekayaan tersebut dengan berbagai cara yang antara lain berupaya untuk memasukkannya ke dalam sistem keuangan (banking system), cara-cara yang ditempuh berupa menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul harta kekayaan tersebut dengan maksud untuk menghindari upaya pelacakan oleh aparat penegak hukum yang biasanya diistilahkan dengan pencucian uang atau yang secara populer dengan sebutan money laundering. Undangundang tentang pencucian uang (money laundering) yang dianut oleh Negara Indonesia telah mengklasifikasi tentang tindak pidana asa (core crime) yang salah satunya menempatkan penyalahgunaan narkoba ke dalam predicate crime on money laundering. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini meliputi penentuan tindak pidana Narkoba sebagai predicate crime on money laundering, penanggulangan tindak pidana Narkoba melalui rezim anti money laundering dengan menempatkan Narkoba sebagai predicate crime dan hambatan dalam pembuktian predicate crime dalam penyidikan tindak pidana Narkoba. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif, dimana datanya bersumberkan dari data pustaka (library research). Penelitian ini cenderung menggunakan data sekunder baik berupa bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Bahan hukum primer yaitu peraturan perundangan yang berkaitan dengan Narkotika dan Psikotropika dan pencucian uang. Bahan hukum sekunder yaitu pandangan para ahli hukum yang dikutip dari literatur yang mendukung kerangka pemikiran dan analisis terhadap obyek penelitian. Analisis untuk data kualitatif dilakukan dengan cara pemilihan pasal-pasal yang berisi kaidah-kaidah hukum yang mengatur tentang tentang tindak pidana Narkoba sebagai predicate crime on money laundering. Di samping itu untuk melengkapi data skunder, juga didukung dengan data primer yakni dilakukannya wawancara dengan informan yang dianggap memahami tentang tindak pidana Narkoba dan tindak pidana pencucian uang. Data primer berupa wawancara kepada informan yakni penyidik pada Unit II Satuan

Universitas Sumatera Utara

Narkoba Poltabes Medan dan Puji Tarigan, penyidik pada Unit I Satuan Narkoba Poltabes Medan. Penempatan tindak pidana Narkoba sebagai core crime di dalam UndangUndang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Pencucian Uang diharapkan dapat ditanggulanginya berbagai modus yang memanfaatkan lembaga perbankan sebagai tempat transaksi kegiatan illegal yang menghidupi kegiatan peredaran gelap Narkoba, melalui pendekatan rezim anti money laundering tidak saja secara fisik pelaku dapat dideteksi melainkan juga harta kekayaan dari hasil kejahatan asal (core crime) sehingga pelaku pencucian uang yang dilakukan oleh para aktor yang memanfaatkan perbankan sebagai tempat transaksi peredaran gelap Narkoba dapat diminta pertanggungjawabannya, karena dalam prinsip tindak pidana pencucian uang yang utama dikejar adalah uang atau harta kekayaan yang diperoleh dari hasil kejahatan dengan beberapa alasan. Pertama, bila mengejar pelakunya lebih sulit dan berisiko. Kedua, bila dibandingkan dengan mengejar pelaku maka akan lebih mudah dengan mengejar hasil dari kejahatan. Ketiga, hasil kejahatan merupakan darah yang menghidupi tindak pidana itu sendiri (live bloods of the crime). Bila hasil kejahatan itu dikejar dan disita untuk negara dengan sendirinya akan mengurangi kejahatan pencucian uang. Kelemahan pemberantasan tindak pidana narkoba oleh criminal justice sytem khususnya Polri untuk memita pertanggungjawaban pelaku yang mendanai kegiatan penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang tanpa izin disebabkan oleh sistem pertanggungjawaban pelaku yang dianut oleh KUH Pidana terutama menyangkut adanya prinsip pertanggungjawaban pidana yang dianut oleh KUH Pidana bahwa pada dasarnya yang dapat diminta pertanggungjawabkan adalah kepada diri seseorang pelaku tindak pidana yang harus memenuhi 4 (empat) persyaratan sebagai berikut: Pertama, ada suatu tindakan (commission atau ommission) oleh si pelaku. Kedua, yang memenuhi rumusan-rumusan delik dalam undang-undang. Ketiga, tindakan itu bersifat melawan hukum atau unlawful serta pelakunya harus dapat dipertanggungjawabkan. Di samping itu, kelemahan pada proses pembuktian tindak pidana Narkoba sebagai predicate crime, misalnya rendahnya penanganan kasus money laundering dengan menempatkan tindak pidana Narkoba sebagai predicate crime disebabkan terbatasnya penyidik Polri yang menangani kasus ini, selain itu penyidikan TPPU membutuhkan dana besar, lagi pula cepatnya transaksi keuangan membuat terbentur dengan waktu. Contohnya, transaksi keuangan yang mencurigakan dari Pemantau Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dilakukan penyidikan kemudian berkas dikirim ke Jaksa, sesampai di meja Jaksa berkas dikembalikan dengan isyarat agar dipenuhi terlebih dahulu predicat crime (tindak pidana aslinya yakni Narkoba), padahal untuk menentukan dan memproses tindak pidana asal memerlukan koordinasi lebih lanjut, baik tehnis, waktu serta dana.

Kata kunci : Narkoba, Predicate Crime On Money Laundering

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Illegal drug use supports the illegal business activities with the modus of transferring to and hiding the property obtained through a criminal ACT in a legal institution and do the money laundering through a finance institution that the property is regarded being legal. Then, trough this modus, the actor keeps funding illegal businesses. This indicates that the most dominant instrument in a money laundering activity is banking system compared to the other kinds of finance institutions. The Law on Money Laundering existing in Indonesia has classified the core crime, and one of the classifications is to put drug abuse under the classification of predicate crime on money laundering. The problem to be solved in this study included the determination of the criminal act of drug abuse as predicate crime on money laundering, the prevention of drug abuse through the regime of anti money laundering by deciding drug as predicate crime, and the constraints faced in proving the predicate crime in drug criminal act investigation. This is a normative legal study whose data were obtained through library research. The data for this study tend to be primary and secondary legal materials. The primary data were in the forms of the regulations of legislation related to Narcotics, Psychotropic and money laundering. The secondary data were the opinions of legal experts quoted from the literatures supporting the framework and analysis of the study object. The analysis for qualitative data was conducted by selecting the articles containing legal norms which regulate the criminal act of drug as predicate crime on money laundering. The secondary data was supported by the primary data obtained through interviewing the informants such as the investigator in Unit I and Unit II of Anti Drug Abuse Unit of Medan Police Department who are regarded to have understood the criminal act of drug abuse and money laundering. The inclusion of criminal act of drug abuse as core crime in Law No.25/2003 on Money Laundering is expected to be able to prevent various modus which utilize banking institutions as the place for transacting illegal activities supporting the illegal drug distribution through the regime of anti money laundering that not only can the actors be physically detected and asked for their responsibilities but also the property obtained from the core crime can be detected. The money or the property obtained from money laundering activities are the first to be after because, first, chasing the actors is more difficult and risky, second, the property obtained from money laundering is easier to be after than the actors, and third, the property obtained from money laundering is the live blood of the crime. If the property obtained from money laundering is found and confiscated for the state, it will automatically decrease the number of money laundering criminal act. The weaknesses showed by the criminal justice system, especially the Indonesian Police, in fighting the money laundering criminal act is to ask the actors who fund the drug abuse activities for their responsibilities because the responsibility system of the actors is still based on what included in the Indonesian Criminal Codes

Universitas Sumatera Utara

saying that there are 4 conditions to meet before they are asked for their responsibilities such as, first, there is commission or omission done by the actors, second, it meets the definition of crime concerned in the law, and third, what they have done is unlawful. The weaknesses in the process of proving the drug and money laundering criminal act as predicate crime are among other things the limited number of police officers working on these cases, the investigation needs a big cost, and the quick money transaction brings a limited time to do the investigation. For example, a suspected money transaction is investigated then the files are sent to the public prosecutors, then the public prosecutors return the files to the police head quarters to make sure and label the files predicate crime (even though its original crime is drug use) while to determine and process the predicate crime needs more coordination, technical things, time and funs.

Key words: Drug, Predicate Crime on Money Laundering

Universitas Sumatera Utara