You are on page 1of 19

BAB I ANAK PEMBOHONG A. PENGERTIAN DAN CIRI-CIRI ANAK PEMBOHONG Menurut bra Rosmala Dewi M.

Pd Bohong berarti menceritakan hal yanq tidak benar secara sadar, bentuk kebohongan anak beragam yakni : bohong dalam bentuk penyangkalan sederhana, contoh : ani mengatakan bahwa dia sudah mandi padahal belum bohong dalam bentuk melebih-lebihkan,contohnya anak menggambcr kehebatan ibunya sacara beriebih-lebihan bohong dalum bentuk mengarang cerita,contoh : ani mengatakan bahwa dia pernah naik pesawat bersama presiden bohong denqan membuat tuduhan palsu,contoh : ani menuduh adeknya menyerakkan mainan padahal dia sendiri yg menyerakkan Bohong merupakan aspek yg sangat erat sekali kaitannya dengan sikap dan prilaku anak. Belajar berbohong caranya sama dengan belajar kejujuran dan percaya diri. Semua ini sangat di pengaruhi oleh contoh prilaku dari orang vang ada di sekeiiliug anak. Guru dapat mengajarkan kejujuran kepada anak jika guru dalam kehidupannya telah menunjukkan sebagai seorang yang jujur, sebaiiknya jika guru mengajarkan kejujuran pada anak tetapi prilakunya menunjukkan kebohongan, yang akan muncul pada anak adalah yang dilihatnya yaitu belajar bohong. Dirumah orang tua lah yang menjadi contoh prilaku anak-anak, apakah ayah atau ibu yang sering berbohong, misalnya membohongi tukang perabot ketika datang menagih angsuran perabotnya walaupun dikatakan oleh orang tua bahwa bohong itu tidak baik dan anak-anak tidak boleh berbohong, tetapi anak melihat orang tua berbohong maka yang akan dilakukan anak apa yang dia lihat, bukan apa yang dkatakan. Menurut Rika Eka izzaty,S.Psi berbohong adalah mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan, bila dilakukan oleh orang dewasa maka sikap kita akan hal itu adalah jelas namun hal ini menjadi berbeda bila dilakukan oleh anak usia pra sekolah, ada beberapa hal yang harus di pertimbangkan yaitu : 1. tentang. Orang dewasa dengan jelas dapat membedakan mana yang fakta yakni yang secara objektif ada di lingkungan dengan sifatnya fantasi atau khyalan,

contoh makhluk monster bagi orang tua hanya ada didalam khayalan namun anak-anak dengan sepenuh hati akan meyakini bahwa mereka ada secara objektif, karenanya kebohongan yang dilakukan anak-anak kemungkinan disebabkan oleh ketidak mampuan untuk memilah mana yang bukan fakta dan mana yang merupakan fantasi, sesjatu yang paling baik dilakukan barangkali adalah menganggap cerita anak sebagai bagian dari proses berfantasi yang bermanfaat untuk mengembangkan kreatifitasnya. 2. orang tua mungkin melakukan kebohongan untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya atau pada beberapa kasus untuk melindungi diri, keuntungan yang ingin dicapai bisa bersifat material,misalnya uang atau benda berharga, maupun sosial, pangkat,derajat sosial atau sekedar untuk kebanggaan didepan orang lain, kebohongan orang tua memiliki 2 sisi. Disisi lain kebohongan itu bertujuan mendapatkan keuntungan tertentu bagi sipelaku dan sisi lain kebohongan itu dapat merugikan orang lain, dalam kebanyakan kasus sulit dicari sisi yang menguntungkan bagi semua pihak dari kebohongan yang dilakukan oleh orang tua. Sekalipun terdapat sisi-sisi positif pada kebohongan anak terspat juga kemungjinan kesalahan berkembang yang mengarah pada terbentuknya kebiasaan bohong sampai usia dewasa, bila itu terjadi maka akan terbentuk bibit-bibit kebohongan patalogis pada anak. Guru TK sering mengatakan siapa yang selesai mengerjakan gambar akan dibawa kekebun binatang, tetapi sesudah keesokan hari guru tidak juga mengajak pergi kekebun binatang, cara-cara yang dilakukan guru itu memberikan pengaruh pada terbentuknya anak pembohong, oleh karena itu guru harus hati-hati berjanji pada anak-anak dikelas. Prilaku bohong muncul datam diri anak terutama ketika anak mulai mampu untuk berbicara, oleh karena itu untuk mencegah munculnya anak pembohong guru TK Juga me'mpunyai peranan penting, sewajarnyalah kalau dikatakan guru TK seharusnya menunjukkan kejujuran didalam kegiatannya di sekolah. B. PENYEBAB ANAK BERBOHONG Beberapa situasi m.embuat kebohongan terasa mcnyenangkan bagi pelakunya maupun bagi anak lain ataupun orang dewasa yang mendengarkannya, pada situasi

semaam ini bagi anak lainpun atau orang dewasa yang mendengarkannya. Pada situasi ini anak cendrung menonjolkan diri dan pengalaman-pengalaman hebatnya. Misalanya puiangs ekolah baju anak mungkin menjadi kotor dan ada sedikit luka gires di lututnya, sianak mengembangkan cerita bahwa dia baru bergulat dengan raksasa dan terjatuh kekubangan lumpur, atau bergulat dengan anak yg besar dan dia memenangkan pergulatan itu,kebohongan semacam itu lebih terasa sebagai bualan. Bila di cermati ada 4 kebohongan pada situasi semacam itu Pertama, kebohongan yg menutupi kondisi dirinya. Anak sadar bahwa setiap orang perlu melakukan kebaikab dan kebaikan sering disimbolkan dengan kemenangan satria atas raksasa jahat, anak menumbuhkan cerita bualan untuk menumbuhkan penghargaan pada dirinya Kedua, anak ingin menunjukkan superioritasnya dibanding anak-anak yang lain, karena anak identik dengan pengalaman-pengalaman yang hebat, maka mungkin anak melebih lebihkan cerita tentang apa yang baru saja dilakukannya. Ketiga, faktor situasional yang mengancam. Kadang orang tua atau pendidik TK Menghukum anak secara sembarangan. Dalam pikiran anak hukuman ifu tidak setimpal dengan apa yang dilakukannya.bila hal itu berlangsung terus menerus anak berfikir lebih baik berbohong untuk menghindari hukuman yang mungkin diterimanya. Keempat, meniru kebohongan yang dilihat atau didengar oleh anak seperti dongeng, cerita dan film anak-anak. Contohnya si kansil mengandung unsur kebohongan. Suatu hal yang jarang disadari orang tua adalah bahwa kebohongan anak mungkin sebenarnya menyiratkan apa yang diinginkan orang lain, anak yang bercerita tentang sesekor kucing yang kesepian, mungkin sebenarnya secara tidak sadar menunjukkan kebutuhannya akan perhatian orang tua. Berikut ini ada beberapa alasan mengapa anak berbohong : Satu, Menghindari konsekuensi tdk menyenangkan dari kesalahan yang dilakukan seperti : seperti hukuman atau penolakan orang tua. Mengatasi perasaan atau khayaian yang menyakiti, contoh anak menyangkal tentang apa yg dilakukannya setelah dimarahi oleh gurunya. Meniru orang dewasa Keinginan untuk mendapatkan perhatian, pujian Menunjukkan loyalitas pada teman dengan cara melindungi atau

menutupi kesalahn yang dilakukan teman Mendapatkan keuntungan dari orang lain, misalkan uang jajan selalu diminta oleh teman Mempertegas kesan orang lain tentang dirinya Akibat ketidak percayaan orang tua Ima, musbikin 2003 mengidentifikasikan beberapa factor penyebab anak berbohong : 1. Karena takut Anak berbohong untik menghindari hukuman yang biasanya diterapkan atas dirinya apabila melakukan kesaiahan, hal ini terjadi karena kekerasan dan kekasaran orang tua atau pendidik dalam mendidik. Dan cara yang paling sering dilakukan anak untuk menghidari kekasaran dan kekerasan itu adalah dengan berbohong. 2. Orang tua atau guru sering berbohong Orang tua dan guru juga tidak jarang berbohong didepan anak, misalnya ketika orang tua mengatakan " jika ada yang cari ibu, katakan ibu tidak ada" padahal ibunya sedang tidur dan tidak mau diganggu. Atau ketika guru mengatakan jangan rnenangis ya, Besok ibu beli coklat." padahal gurunya hanya "berjanji" untuk mendiamkan anak muridnya yang sedang menagis. Tanpa disadari, orang tua atau guru sudah mengajari anaknya untuk berbohong. Apa bila anak berbohong, itu adalah pengalaman yang diperoleh anak dari orang tua dirumah atau guru di sekolah. 3. Mengatasi kekurargan pada diri anak. Kesadaran anak akan kekurangan dirinya sering kali mendorongnya untuk berbohong. Hal ini di dilakukan anak untuk mempertahankan kebanggan diri dan menghindari perlakuan orang lain yang menghancurkan rasa harga dirinya. Guru sebagai pendidik harus menunjukan profesionalismenya sebagai guru dimanapun dia berada, dan menyadari pentingnya interaksi yang mengandung nilai pendidikan. Sekecil uuapun yang dilakukan anak untuk berbohong, segeralah diarahkan untuk. menyatakan yang sebenarnya, tanpa harus mengkeritiknya. 4. Mendengar cerita khayal Pada umumnya anak-anak menyukai dongeng atau cerita khayal, bahkan mereka bisa larut dalam mendengarkan cerita dongeng tersebut. Karena anak biasanya belum

mampu meoedakan mana yang konkrit dengan yang khayal, terkadang mendorong anak untuk menyatakan "sesuatu" dengan yakin padahal hal tersebut tidak nyata. Untuk menjaga keseimbangan antara cerita khayal dan cerita sebenarnya adalah tugas guru untuk menjelaskan bahwa cerita itu hanya khayalan dari pengarangnya dan yang perlu ditekankan kepada anak adalah sikap-sikap yang perlu dicontoh dari cerita dongeng tersebut. Maka akan lebih tepat apa bila guru menceritakan ketauladanan dari nabi-nabi atau kisah kepahlawanan dan pahlawan-pahlawan kita. 5. Balas dendam Perilaku guru yang pilih kasih kepada anak dapat membuat anak berbohong untuk melakukan balas dendam. Jika anak merasa tidak diperlakukan sama dengan anak yang lainya maka anak tersebut dapat berbohong untuk melukai anak yang yang disenangi oleh gurunya. Kebohonga seperti ini jangan dianggap ringan sebab sudah ada unsur kesengajaan didalamnya. Dan hal ini bisa terbawa saat anak dewasa kelak. Dan tidak sedikit kekerasan yang terjadi sekarang ini berawal dari pengalaman masa kecil yang dialami anak seperti ini. C. CONTOH KASUS Aisya berusia 4 tahun 2 bulan mengatakan pada ibu guru bahwa hari senin yang lalu Aisyia bersama ibunya pergi kerumah nenek. Aisya tidak sekolah. Ketika istirahat ibu Aisya datang ke kantor untuk membayar uang sekolah. Guru aisya kemudinn menanyakan pada ibu Aisya mengapa Aisya tidak nadir pada hari senin, Ibu aisya mengatakan Aaisya tidakmau bangun dari tidurnya samapai pukul 8.00 wib, Guru memanggii Aisya kemudian menayakan kepada Aisya mengapa tidak masuk pada hari senin, dengan rasa malu Aisya tidak menjawab dan langsuhg berlari ketempat bermain. D. GEJALA-GEJALA YANG TAMPAK Berbeda dengan kebohongan orang tua, seringkali sangat sulit untuk mendeteksi kebohongan pada anak dari ekspersi wajahnya. Bila orang tua berbohong maka dia cendrung untuk menghidari bertatap muka dengan lawan bicara (eye contact). Tidak demikian dengan anak-anak. seringkali dengan polosnya mereka mengekspresikan

kebohongan tersebut. Karena itu yang penting diperhatikan pada anak-anak bukanlah apakah dia sedang berbohong, namun apa yang diungkapk&nnya. Selanjutnya yang perlu di perhatikan adalah mengapa dia berbohong. Hal yang benar-benar perlu diperhatikan adlah bila anak "bercerita" dengan ekspresi yang sedih atau dengan tema-tema yang menyedihkan.gaya dan isi cerita tersebut mungkin menyiratkan kebutuhan akan perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Semakin beruiang cerita tersebut, semakin dalam isinya, mungkin menunjukan kebutuhan yang makin besar. Hal lain yang perlu diperhatikan dari isi " cerita" adalah kemungkinan efek negatif pada anak lain yang menjadi subjek cerita. Secara ringkas, yang perlu diperhatikan adalah isi cenia anak. Isi cerita mengungkapkan banyak ha!; baik secara nyata ataupu apa yang tersirat didalamnya.

BAB II ANAK PENAKUT PENGERTIAN MASALAH Ketakutan adalah suatu reaksi emosi yang timbul karena adanya ancaman yang ada di benaknya. Ungkapan perasaan ini dapat menyatakan adanya ketidakseimbangan dalam jiwanya, misalnya menjadi cemas dan gugup, atau juga menyatakan reaksi fisiknya seperti jantung yang berdebar cepat. Kadang-kadang dengan hati yang penuh ketakutan dapat menghindarkan diri dari bahaya dan menolong diri untuk tetap berusaha memiliki semangat hidup. HAL-HAL YANG MEMBUAT ANAK TAKUT 1. Takut terhadap orang asing. Sebagian pakar ilmu jiwa beranggapan bahwa takut terhadap orang asing merupakan pengalaman yang harus ditempuh oleh seorang anak pada masa pertumbuhannya, khususnya seorang bayi. Untuk mencegah takut ini menjadi hal yang berkepanjangan, sebaiknya orangtua mengusahakan agar anak lebih banyak bertemu dan bergaul dengan orang lain, misalnya membawanya ke rumah kerabat atau sahabat dan bermain dengan anak sebaya. Usaha ini harus dilakukan dengan sabar dan jangan terburu-buru atau sedikit dipaksa. Seorang guru Sekolah Minggu pun harus dapat dengan sabar mendorong anak untuk bergaul dengan orang yang dianggap asing sampai akhirnya berkenalan dan terjalin hubungan yang baik dengannya. 2. Takut berpisah dengan orangtua. Anak usia satu tahun sering mengalami ketakutan. Baru setelah semakin besar, anak bisa mengerti bahwa perpisahan itu hanya sementara. Namun bila sampai berkelanjutan dapat menimbulkan masalah. Jadi orangtua perlu membina kepercayaan anak terhadap dirinya. Berlakulah jujur dan terus terang mengatakan ke mana, apa tujuan orangtua pergi dan kapan mereka kembali. Kepercayaan anak terhadap orangtua dapat memberikan rasa aman kepadanya dan menghilangkan ketakutannya sewaktu harus berpisah dengan orangtua. 3. Takut terhadap benda aneh. Anak yang masih kecil penuh dengan daya imajinasi dan masalah akan timbul bila daya imajinasinya dikuasai oleh ketakutan. Mereka sering takut kepada benda/binatang aneh karena ia membandingkan apa yang ada dalam pikirannya tentang

cerita hantu, nenek sihir, dan yang lainnya. Mereka belum mampu membedakan antara yang khayal dan yang nyata. Cara menolong mereka ialah dengan memperhatikan acara teve yang ditonton, buku cerita/ dongeng yang dibaca, dan kemudian memberikan pengertian bahwa kebanyakan cerita hantu, nenek sihir, dan sebagainya itu hanyalah cerita khayalan belaka, dan membimbing mereka untuk percaya bahwa dengan penyertaan Tuhan Yesus, mereka tidak perlu takut. 4. Takut terhadap binatang atau serangga. Ini merupakan gejala lain yang menimbulkan ketakutan bagi seorang anak, bahkan bisa berlanjut hingga masa remaja. Binatang yang ditakuti umumnya adalah anjing, tikus, kecoa, laba-laba, dll. Untuk mengurangi ketakutan terhadap binatang bersikaplah ramah terhadap binatang yang tidak dapat melukai. Buanglah konsep ajaran yang salah yang ditimbulkan dari gambar/kartun, buku cerita atau dari acara teve mengenai binatang-binatang. Beritahukan bahwa ada kebaikan dari setiap binatang, misalnya anjing untuk menjaga rumah dan bila tidak diganggu, anjing tidak akan menggigit. Beberapa binatang ada yang mengeluarkan suara yang menakutkan, itu sebenarnya hanyalah ciri dari binatang itu sendiri, seperti manusia juga ada yang bicara dengan suara keras. Allah menciptakan beraneka macam binatang dan semuanya baik adanya serta Allah berpesan agar kita memelihara dan melindungi mereka (Kejadian 1:26). 5. Takut akan kegelapan. Bukan saja anak yang takut pada kegelapan, tetapi ada juga orang dewasa yang takut pada kegelapan; ini merupakan gejala yang umum. Ketakutan ini biasanya dinyatakan bila anak tidak mau tidur bila tidak ditemani ibu, lampu tidak boleh dipadamkan, takut pada suara-suara atau bayang-bayang. Pencegahan mudah dilakukan, yaitu dengan mengajak mereka bermain "petak-umpet", di mana anak ditutup matanya dan disuruh mencari, atau dengan menyalakan lampu kecil/lampu tidur, menemaninya sampai tidur dan menyalakan lampu di luar agar ada sinar yang masuk ke ruang tidur. Atau pintu kamar dibuka dan lampu dipadamkan. Cara terbaik adalah dengan meyakinkan pada mereka Allah beserta mereka, ajak mereka sebelum tidur berdoa untuk menolong meyakinkan bahwa Allah beserta mereka sehingga tidak perlu takut.

6. Takut pada petir/kilat. Bencana alam mengakibatkan banyak orang kehilangan rumah atau meninggal. Peristiwa mengerikan itu sering ditayangkan di layar teve dan sangat mempengaruhi baik anak maupun orang dewasa yang menyaksikannya. Petir/kilat yang keras juga merupakan fenomena alam yang menakutkan. Bagaimana membantu anak yang takut pada petir? Bila ada tanda akan ada petir/kilat, pangkulah si anak dan mengajaknya bersama untuk melihat sinar petir/kilat itu dari jendela rumah sambil menjelaskan dari mana asal petir. Sikap demikian dapat menenangkan anak dari ketakutannya, ditambah pula dengan penjelasan bahwa Allah adalah pencipta alam semesta, bencana alam tidak akan terjadi bila tidak dikehendaki Allah. 7. Takut pergi ke dokter. Banyak anak takut pergi ke dokter umum atau dokter gigi. Oleh sebab itu, banyak dokter yang dengan bermacam upaya mengusahakan supaya anak dapat merasa tenang dan nyaman sewaktu diperiksa, misalnya dengan mainan untuk menghilangkan ketakutan anak. Dapat juga melalui permainan dokter-dokteran untuk mempersiapkan hati anak ketika mau pergi ke dokter. Usahakan jujur ketika anak bertanya apakah sakit bila gigi ditambal, misalnya dengan jawaban seperti, "Kalau lubang gigi itu besar akan sakit bila ditambal, tetapi kalau tidak ditambal, akan lebih sakit lagi." Mendampingi mereka atau mengajak mereka berdoa di depan dokter gigi ketika gigi mereka akan dicabut, dapat mengurangi ketegangan, ketakutan, serta rasa sakit mereka. 8. Takut pergi ke sekolah. Akan menjadi masalah bila sampai usia sekolah, anak masih takut untuk pergi ke sekolah. Perasaan takut ini disimpan bertahun- tahun di bawah sadarnya, dan akibatnya anak menjadi rendah diri, sering gagal, gelisah dalam belajar, dan sulit berkonsentrasi ketika belajar. Selain masalah pelajaran, juga ada masalah keluarga sehingga anak mengalami dua tekanan yang membuat mereka takut untuk terus maju. Sewaktu menghadapi ujian, karena terlalu tegang, mereka lupa apa yang sudah dipelajari. Lambat laun mereka takut bertemu dengan guru, teman, dan juga takut pergi ke sekolah. Tidaklah bijak bila membantu anak ini dengan gertakan, sebaiknya dengan sabar orangtua memberi dorongan untuk menjalin hubungan yang baik dengan temanteman; jangan membiarkan ia menyendiri di sekolah, jangan mengkritiknya bila gagal.

PENYELESAIAN MASALAH 1. Menguasai lingkungan. Mengatur suatu lingkungan pengalaman yang menyenangkan supaya perasaan ketakutan secara perlahan-lahan menjadi hilang. Misalnya anak yang takut gelap, biarkan dia perlahan-lahan mendekati sendiri kegelapan itu, bermain tutup mata untuk mencari sesuatu, atau dengan memasang lampu yang bersinar lembut untuk mendampingi mereka tidur malam. Bantu mereka bertumbuh dalam lingkungan yang nyaman. 2. Meredakan ketegangan. Untuk menenangkan emosi yang sedang mencekam, suruhlah anak menarik napas panjang, kemudian tangan diulur ke depan sambil dikepalkan dan diam sejenak, selanjutnya angkat kaki kiri dengan kedua tangan dieratkan dan diamkan sejenak, lalu ganti kaki kanan dan lakukan gerakan tadi. Ulangi terus gerakan-gerakan tersebut sampai anak merasa tenang dan tidak tegang lagi. 3. Menggunakan daya imajinasinya. Menolong anak menghilangkan rasa takutnya dapat juga dengan menggunakan daya imajinasinya. Anak dibimbing untuk berimajinasi bagaimana Yesus menemani mereka di dokter atau pada waktu duduk di kursi dokter gigi. 4. Mempelajari sesuatu melalui observasi. Bila orang dewasa gugup, anak pun akan ikut gugup, namun mereka dapat dibimbing melalui observasi belajar untuk mengurangi rasa takut dan gugup itu. Caranya adalah dengan menyuruh mereka belajar dari teman sebaya sewaktu menghadapi situasi yang sama, tetapi tidak takut, atau dengan menyaksikan film di acara teve di mana anak dapat menghadapi situasi yang tegang tetapi tetap dapat tenang. 5. Menjelaskan konsep dengan tepat. Salah dalam menggunakan daya imajinasi atau kurangnya pengetahuan umum dapat membuat anak takut pada sesuatu yang belum diketahuinya. Memberikan penjelasan tentang asal mula gejala- gejala yang membuat mereka takut akan sangat menolong mereka. 6. Memberikan pujian. Mungkinkah memberi pujian dapat mengurangi rasa takut seseorang? Pujian bukan hanya memberikan sesuatu benda, tetapi bisa juga dalam bentuk seperti: ucapan

semangat yang mendorong atau memberikan hak/wewenang. Misalnya, bila ia berani melakukan apa yang tadinya ditakuti, ia boleh menonton teve dengan waktu yang lebih panjang, atau bermain lebih lama. Sumber: Menerobos Dunia Anak, Dr. Mary Go Setiawani, , halaman 123 - 127, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 2000.

BAB III ANAK PEMALU PENGERTIAN MASALAH Perasaan malu adalah perasaan gelisah yang dialami seseorang terhadap pandangan orang lain atas dirinya. Ada yang mengartikannya sebagai sesuatu yang "aneh", "hati-hati", "curiga" dan sebagainya. Pada umumnya sejak lahir manusia telah memiliki sedikit perasaan malu, namun bila perasaan itu telah berubah menjadi semacam rasa takut yang berlebihan, maka hal itu akan menjadi suatu fobia, yaitu takut mengalami tekanan dari orang lain atau takut menghadapi masyarakat. Anak yang pemalu selalu menghindar dari keramaian dan tidak dapat secara aktif bergaul dengan temannya yang lain. Guru tidak mudah mengetahui apakah muridnya seorang pemalu, sebab pada umumnya mereka tidak suka berbuat kegaduhan atau masalah. Sifat pemalu dapat menjadi masalah yang cukup serius sebab akan menghambat kehidupan anak, misalnya dalam pergaulan, pertumbuhan harga diri, belajar, dan penyesuaian diri. Umumnya ciri anak pemalu ialah terlalu sensitif, ragu-ragu, terisolir, murung, dan juga sulit bergaul. Jadi mereka perlu diberi bantuan. PENYEBAB MASALAH 1. Unsur Keturunan Hal ini merupakan faktor yang tidak langsung dan belum pasti. Sejak lahir anak tersebut terlihat agak sensitif dan kemungkinan hal itu terjadi karena pembawaan saat ibu yang ketika sedang mengandung mengalami tekanan jiwa maupun fisik. Namun ini juga belum dapat menjadi suatu bukti yang kuat apakah kelak anak yang sensitif itu akan menjadi seorang pemalu. 2. Masa Kanak-kanak Kurang Gembira Ada sebagian anak yang mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan pada masa kanak-kanaknya. Misalnya orangtua sering berpindah- pindah, orangtua bercerai, orangtua meninggal, dipaksa pindah sekolah atau dihina oleh teman dan sebagainya. Semua pengalaman itu mengakibatkan terganggunya hubungan sosial mereka dengan lingkungan, suka menghindar atau mundur, dan tidak berani bergaul dengan orang yang tidak dikenal.

3. Kurang Bermasyarakat Sifat pemalu akan terjadi bila anak hidup dengan latar belakang di mana ia diabaikan oleh orangtuanya, atau dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang mengasingkan diri, terlalu dikekang sehingga mereka tidak dapat mengalami hubungan sosial yang normal dengan masyarakat. 4. Perasaan Rendah Diri Mungkin perasaan malu itu timbul karena anak bertubuh pendek, bersikap kaku atau punya kebiasaan yang jelek, lalu berusaha untuk menutupinya dengan cara menyendiri atau menghindari pergaulan dengan orang lain. Karena kurang rasa percaya diri dan beranggapan dirinya tidak sebanding dengan orang lain, ia tidak suka memperlihatkan diri di keramaian. 5. Pandangan Orang Lain Banyak anak yang menjadi pemalu karena pandangan orang lain yang telah merasuk ke dalam dirinya sejak kecil. Mungkin orang dewasa sering mengatakan bahwa ia pemalu, bahkan guru dan teman-teman juga berpendapat sama, sehingga akhirnya ia benar-benar menjadi seorang pemalu. PENYELESAIAN MASALAH 1. Memerlukan Instrospeksi Apakah orangtua atau orang dewasa telah memberikan rasa aman yang cukup kepada anak-anak dan mengasihi mereka dengan tanpa pamrih? Apakah anak diberi kesempatan untuk mengungkapkan isi hatinya? Atau selama ini yang dinyatakan hanyalah hak, kuasa, dan otoriter orangtua? Bila hanya itu yang ditonjolkan secara serius, maka akan timbul masalah dalam emosi dan kurangnya perhatian. Eleanor Maccoby berkata,"Bila anak terlalu bergantung, itu disebabkan karena dua hal, yaitu diremehkan atau diperlakukan secara kasar misalnya dihadapi dengan tanpa perasaan, diperlakukan kasar, diberi tanggung jawab atau ditolak." Sifat ketergantungan itu sangat erat hubungannya dengan sifat pemalu. 2. Memberikan Kepercayaan Bagaimana caranya menghilangkan ketakutan yang ada pada diri anak bila sifat pemalunya itu disebabkan oleh perasaan takut? Cara yang terbaik ialah dengan

membangun rasa percaya dirinya terhadap orang lain. Orangtua harus mempercayai dia, supaya dengan semakin dipercayai, anak belajar semakin percaya kepada orang lain. Kepercayaan adalah dasar dari pendekatan. Anak menjadi pemalu karena ia tidak dapat mempercayai orangtua dan juga tidak dapat mempercayai orang lain. 3. Memperluas Hubungan Sosial Bila anak pemalu karena sejak kecil tidak mempunyai kesempatan bergaul, maka sebaiknya orangtua memperhatikan kebutuhan di segi ini. Dengan membawa anak ke rumah sanak saudara akan memberi kesempatan kepada anak untuk bergaul dengan orang lain atau dengan membawanya ke Sekolah Minggu, yang merupakan tempat yang baik baginya. Sebagai langkah awal sebaiknya membawa mereka ke tempat yang tenang dan terhindar dari lingkungan yang banyak menimbulkan persaingan, agar dengan banyaknya pengalaman yang diterima, anak terdorong untuk maju dalam pergaulannya. 4. Membangun Rasa Percaya Diri Orangtua sebaiknya memberikan perhatian ini, yaitu apabila anak sedang menghadapi masalah, janganlah terlalu cepat membelanya agar jangan sampai perkembangan percaya diri anak mengalami gangguan. Sumber: Menerobos Dunia Anak, Dr. Mary Go Setiawani, , halaman 112 - 114, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 2000.

BAB IV ANAK AGRESIF A. Pengertian Perilaku Agresif Secara umum, yang dimaksud dengan gangguan emosi dan perilaku adalali ketidakmampuan yang ditunjukkan dengan respons emosional atau perilaku yang berbeda dari usia sebayanya, budaya, atau norma sosial. Ketidakmampuan tersebut juga mempengaruhi prestasi sekolahnya. Yang dimaksud dengan prestasi sekolah adalah prestasi akadermk, interaksi sosial dan keterampilan pribadinya. Ketidakmampuan ini sifatnya menelap dan akan lebih tampak bila sang anak berada dalam situasi yang dirasakan menegangkan oiehnya. Gangguan emosi dan perilaku dapat saja muncul bersama gangguan psikologis lain, misalnya ADD/ADHD atau retardasi mental. Perilaku agresif inemang paling menarik perhatian dibandingkan tipe lair) dari gangguan emosional dan perilaku. Karakteristik dari rnasalah perilaku dan ernosiona! ini sangat bervariasi. Berikut ini akan digambarkan karakteristik perilaku agresif. Perilaku agresif dapat bersifat verbal maupun nonverbal. Bentuk-bentuk perilaku agresif yang biasanya tampak adalah memulcul, berkelahi, metigejek, berteriak, tidak rnau mengikuti perintah atau permintaan, menangis, atau merusak. Anak yang menunjukkan perilaku ini biasanya kita anggap sebagai pengganggu atau pembuat onar. Sebenarnya, anak yang tidak mengalami rnasalah emosi atau perilaku juga menampiikan perilaku seperti yang disebutkan di atas, tetapi tidak sesering atau seimpuisif anak yang niemiliki rnasalah emosi atau perilaku. Anak dengan perilaku. agresif biasanya mendapatkan rnasalah tambahan seperti tidak diterima oleh teman-temannya ( d i m u s u h i . d i j a u h i . tidak diajak bermain) dan dianggap sebagai pembuat rnasalah oieb guru. Perilaku agresif semacam itu biasanya diperkuat dengan didapatkan penguatan dari lingkungan berupa status dianggap hebat oleh teman sebaya, atau didapatkannya sesuatu yang diinginkan, termasuk melihat temannya menangis karena dipukul oiehnya. Oleh sebab itu, dalam penanganan anak dengan pefilaku agresif, hams diperhatikan juga penangaiifin atas anak yang rnenjadi korbati perilaku tersebut. Tidak jarang, ada sekeiompok anak yang seialu rnenjadi korban dari para jagoan karena. ketidakmampuannya untuk mempertahankan atau membela diri dari perilaku agresif teman yang. lain.

Perilaku agresif merupakan bagian dari perilaku antisosial. Perilaku anti Sosial sendiri mencakup berbagai macam tindakan seperti tindakan agresif, ancarnan secara verbal terhadap orang lain, perketahian, perusakan hak milik, pencurian, suka tiierusak (vandalis), kebohongan, pembakaran, kabur dari rumah, pembunnhan dan Iain-lain. Menurut buku panduaa diagnostik untuk gangguan mental, seseorarig dikatakan mcngalami gangguan perilaku antisosial (terrnasuk agresif) bila tiga di antara daftar perilaku khusus berikut terdapat dalam seseorang secara bersama-sarna paling tidak selama enam bulan. Perilaku tersebut sebagai berikut. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Mencuri tanpa menyerang korban lebih dari satu kali. Kabur dari rumah semalam paling tidak dua kali selama tinggal di runlah orang tua. Sering berbohong. Dengan sengaja melakukan oembakaran. Sering bolos sekolah. Memasuki rumah. kantor. mobil, orang lain tanpa izin. Mengonarkan milik orang la;.n dengan sengaja Menyiksa binatang Memaksa orang lain untuk melakukan hubungan seksual.

10. Menggunakan senjata lebih dari satu kali dalam perkelahian. B. Macam-Macam Agresivitas Agresivitas yang wajar. Tidak setiap tindakan agresi merupakan periiaku. yang bermasalah. Agresi mungkin muncul sebagai pelampiasan perasaan rriarah dan frustasi. Bila agresivitas muncul karena kondisi psikologisyangbersifat temporer, danbisa dipahami berdasarkan konteks situasi yang dihadapi analc, maka itu merupakan tindakan yang rnasih bisa diterima. Justru ketidakmampuan seorang anak untuk nujigekspresikan dorongan agresi pada situasi-situasi tertentu merupakan indikasi adanya pertnasalahan perkembangan pada dirinya. Mungkin itu merupakan akibat dari mekiinisme hambatan yang berlebihan, yang secara psikologis tidak terlalu sehat untuk perkembangan selanjutnya. Agresivitas yang tidak wajar. Namun ada kecerkiefungan agresivitas yang bersifat menetap pada anak terfentu. Secara umum kecendrungan ini menandakan

kepribadian yang agresif. Ini merupakan perkembangan kepribadian. I. ampak negatif pada diri sendiri dan pada lingkungan cukup serius. Misalnya gangguan pada proses belajar di TK. Deteksi permasalahan perkembangan ketika anak masih di TK mungkin merupakan deteksi dini yang bermanfaat untuk langkah-langkah intervensi. Fenomena lain yang perlu dicermati adalah perbedaan kecenderungan antara iaki-laki dan perempuan. Sikap agresif dominasi terjadi pada anak laki-laki dibandirtgkan anak perempuan, hai ini beikaitan erat dengan paudangan anak laki-laki tidak belch cengeng atau menangis. Merasa pelampiasan ; emosinya dibatasi maka anak laki-laki mengalihkannya dengan periiaku agresif. Contoh-contoh dari bentuk agresivitas di atas umum ditemukan di TK. Bentukbentuk agresivitas ini perlu dicermati pada anak sejak usia ini karena secafa potensial dapat menjadi pemicu timbulnya permasalahan periiaku pada tahap selanjutnya. TK merupakan arena yang tepat di luar lingkungan keluarga untuk

TUGAS DIAGNOSTIK KESULITAN ANAK GANGGUAN TINGKAH LAKU


D I S U S U N

OLEH : ANNISA FEBRINA DIAN SONETA FITRIANI AL JUSMIDAR RENI SUSILAWATI MICE TIWARMAN NURJAYANTI ELTRIA SRIWIYANI RIKA AMELIA
DOSEN PEMBIMBING : KODARNI. S.ST

1.

2. 3. 4. 5.
6.

7. 8. 9.
10.

STKIP AISYIYAH PEKANBARU 2008

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang maha esa yang telah memberi petunjuk sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Maksud dan tujuan makalah ini, adalah untuk mengetahui Gangguan Tingkah Laku Pada Anak. Dengan ini saya ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam pembuatan makalah ini Selanjutnya penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan karen amasih kurangnya ilmu pengetahuan penulis dalam penulisan makalah ini. Justru karena itu, saya mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun.

Pekanbaru, Mei 2008

Penulis