You are on page 1of 20

PPh Pasal 21 2.1.1 Pemotong pajak penghasilan pasal 21 a.

Pemberi kerja yang terdiri dari orang pribadi dan badan, baik merupakan pusat maupun cabang, perwakilan atau unit, bentuk usaha tetap, yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama apapun, sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang dilakukan oleh pegawai atau bukan pegawai. b. Bendaharawan, Bendaharawan pemerintah termasuk bendaharawan pada Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, instansi atau lembaga pemerintah, lembaga-lembaga negara lainnya dan Kedutaan Besar RI di luar negeri yang membayarkan gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama apapun sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan. c. Badan pensiun / badan penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja, dan badan-badan lain yang membayar uang pensiun dan Tabungan Hari Tua atau Jaminan Hari Tua. d. Perusahaan, badan, dan bentuk usaha tetap, usaha tetap yang membayar honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan

sehubungan dengan kegiatan jasa, termasuk jasa tenaga ahli dengan status Wajib Pajak dalam negeri yang melakukan pekerjaan bebas dan bertindak untuk dan atas namanya sendiri, bukan untuk dan atas ama persekutuannya.

e. Yayasan atau lembaga, panitia dll, (termasuk yayasan di bidang kesejahteraan, rumah sakit, pendidikan, kesenian, olahraga,

kebudayaan), lembaga, kepanitiaan, asosiasi, perkumpulan, organisasi massa, organisasi sosial politik, dan organisasi lainnya dalam bentuk apapun dalam segala bidang kegiatan sebagai pembayar gaji, upah, honorarium, atau imbalan dengan nama apapun sehubungan dengan pekerjaan, jasa, kegiatan yang dilakukan oleh orang pribadi.

f. Penyelenggara kegiatan (termasuk badan pemerintah, organisasi termasuk organisasi internasional, perkumpulan, orang pribadi serta lembaga lainnya yang menyelenggarakan kegiatan) yang membayar honorarium, hadiah atau penghargaan dalam bentuk apapun kepada Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri berkenaan dengan suatu kegiatan.

2.1.2

Subjek pajak penghasilan

1. Subyek pajak pribadi yaitu setiap orang yang tinggal di Indonesia atau tidak bertempat tinggal di Indonesia yang mendapatkan penghasilan dari indonesia. 2. Subyek pajak harta warisan belum dibagi yaitu warisan dari seseorang yang sudah meninggal dan belum dibagi tetapi menghasilkan pendapatan, maka pendapatan itu dikenakan pajak. 3. Subyek pajak badan yaitu perkumpulan orang dan/atau modal baik melakukan usaha maupun tidak melakukan kegiatan usaha meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau daerah dengan nama dan bentuk usaha apapun seperti firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, perkumpulan, persekutuan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi sejenis, lembaga, bentuk usaha tetap dan bentuk badan lainnya. 4. Bentuk usaha tetap yaitu bentuk usaha yang digunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu dua belas bulan, atau badan yang tidak didirikan dan berkedudukan di Indonesia, yang melakukan kegiatan di Indonesia.

2.1.3 Bukan subyek pajak penghasilan Undang Undang No. 17 tahun 2000 menjelaskan tentang apa yang tidak termasuk obyek pajak sebagai berikut:

1. Badan perwakilan negara asing. 2. Pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat - pejabat lain dari negara asing dan orang - orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama mereka dengan syarat bukan warga negara indonesia dan negara yang bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik. 3. Organisasi internasional yang ditetapkan oleh keputusan menteri keuangan dengan syarat Indonesia ikut dalam organisasi tersebut dan organisasi tersebut tidak melakukan kegiatan usaha di Indonesia. Contoh: WTO, FAO, UNICEF. 4. Pejabat perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan oleh keputusan menteri keuangan dengan syarat bukan warga negara indonesia dan tidak memperoleh penghasilan dari Indonesia. 2.1.4 Penghasilan yang dipotong PPH Pasal 21

1. Kelompok penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai atau penerima pensiun. Contoh : gaji, uang pensiun bulanan, upah, honorarium, premi bulanan, uamg lembur, uang sokongan, tunjangan isteri, tunjangan anak, beasiswa, premi asuransi yang dibayar pemberi kerja dan penghasilan teratur lainnya. 2. Kelompok penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai, penerima pensiun atau mantan pegawai secara teratur. Contoh : jasa produksi, tatiem, gratifikasi, tunjangan cuti, bonus, premi tahunan dan penghasilan jenis lainnya yang bersifat tidak tetap.

3. Upah yang diterima oleh pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas. Contoh : upah harian, upah mingguan, upah satuan, upah borongan. 4. Uang saku yang diterima peserta pendidikan, pelatihan/pemagangan yang merupakan calon pegawai. Contoh : uang saku harian, uang saku mingguan. Penghasilan sehubungan dengan pemutusan hubungan kerja. 5. Imbalan atas kegiatan yang dilakukan wajib pajak dalam negeri. Contoh : honorarium, uang saku, hadiah atau penghargaan, komisi, beasiswa dan pembayaran lain. 6. Penghasilan diterima pejabat Negara, pegawai negeri sipil serta pensiunan. Contoh : gaji, gaji kehormatan, tunjangan lain yang terkait dengan gaji dan honorarium atau imbalan lain yang bersifat tidak tetap yang diterima oleh pejabat Negara dan pegawai negeri sipil. 2.1.5 Penghasilan yang tidak termasuk dalam penghasilan yang tidak dipotong Pph Pasal21. 1. Pembayaran asuransi dari perusahaan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa. 2. Penerimaan dalam bentuk natura dan kenikmatan dalam bentuk apapun yang diberikan oleh Wajib Pajak atau pemerintah, kecuali yang diatur dalam pasal 5 ayat (2), yaitu penerimaan dalam bentuk natura dan kenikmatan lainnya dengan nama apapun yang diberikan oleh bukan Wajib Pajak. 3. Iuran pensiun yang dibayarkan kepada dan pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Mentri Keunangan dan Iuran Jaminan Hari Tua kepada badan penyelenggara Jamsostek yang dibayar oleh pemberi kerja. 4. Zakat yang diterima oleh orang pribadi yang berhak dan badan atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah.

2.1.6

Jenis pengurang dalam PPh Pasal 21

1. Biaya jabatan Biaya jabatan merupakan biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan. Jumlah/besarnya biaya jabatan adalah : 5% x Penghasilan Bruto Besarnaya biaya jabatan ini maks Rp. 500.000 / bulan atau Rp. 6.000.000/ tahun. 2. Iuran yang dibayar Wajib Pajak Iuran yang terkait dengan gaji yang dibayar oleh pegawai kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan atau badan penyelenggara Tabungan Hari Tua atau Jaminan Hari Tua yang dipersamakan dengan dana pensiun yang pendiriannya telah disakan oleh Menteri keuangan.

3. Penghasilan tidak kena pajak Besarnya PKP dari seorang pegawai dihitung berdasarkan penghasilan netonya dikurangi dengan PTKP yang jumlahnya adalah sebagai berikut: Untuk diri pegawai Rp 15.840.000 /tahun. Tambahan untuk pegawai kawin Rp 1.320.000 /tahun.

Tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan semenda dalam garis keturunan lurus, serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang 1.320.000 /tahun . @Rp

Dalam hal karyawati kawin, PTKP yang dikurangkan adalah hanya untuk dirinya sendiri, dan dalam hal tidak kawin pengurangan PTKP selain untuk dirinya sendiri ditambah dengan PTKP untuk keluarga yang menjadi tanggnga sepenuhnya.

Bagi karyawati yang menunjukkan keterangan tertulis dari Pemda setempat (serendah-rendahnya kcamatan) bahwa suaminya tidak menerima atau memperoleh penghasian, diberikan tambahan PTKP sejumlah Rp1.320.000 (satu juta dua ratus ribu rupiah) setahun atau Rp110.000 (seratus ribu rupiah) sebulan dan ditambah PTKP untuk keluarganya. Besarnya PTKP ditentukan berdasarkan keadaan pada awal tahun takwim yang bersangkutan. 3 Tarif pajak penghasilan Tarif pajak yang diterapkan atas penghasilan kena pajak bagi Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri adalah sebagai berikut : Lapisan penghasilan kena pajak PPh Pasal 17: 5% x s/d Rp. 50.000.000 15% x Rp. 50.000.000 Rp. 250.000.000 25% x Rp. 250.000.000 Rp. 500.000.000 30% x > Rp. 500.000.000 4 Perhitungan pajak penghasilan pasal 21 Secara garis besar sistematika perhitungan PPh Pasal 21 dapat dikelompokan dalam dua perhitungan dasar berikut ini : a. Perhitungan PPh Pasal 21 bagi pegawai tetap. b. Perhitungan PPh Pasal 21 bagi pegawai harian, mingguan, pemagang dan pegawai tidak tetap.

Sistematika perhitungan PPh Pasal 21 1. Perhitungan PPh Pasal 21 bagi pegawai tetap. Penghasilan Bruto (PB): Gaji Tunjangan-tunjangan Iuran ditanggung oleh pemberi kerja: Premi jaminan kecelakaan Premi jaminan kematian Jumlah Pengurangan: Biaya jabatan: 5% x PB, max 500.000/bln Iuran dibayar oleh pegawai: Iuran pensiun Iuran jaminan hari tua XXX XXX XXX XXX XXX XXX XXX XXX

Jumlah Penghasilan netto sebulan Penghasilan netto setahun Penghasilan tidak kena pajak (PTKP) Penghasilan kena pajak (PKP) PPh Ps. 21 Setahun Sbulan : tarif pasal. 17 x PKP : 1/12 x PPh Pasal. 21 setahun XXX XXX XXX XXX

2. Perhitungan PPh Pasal 21 bagi pegawai harian, mingguan, pemagang dan pegawai tidak tetap. Upah s.d. Rp 1.320.000 sebulan: Upah sehari Upah sehari > Rp. 150000 PPh Ps. 21 sehari: 5% x (X-150.000) s.d. Rp 1.320.000 sebulan (n-1) hari Perhitungan hari ke (n) > 1.320.000: Upah (n) hari PTKP : n/360 x PTKP Upah harian terutang pajak PPh Ps. 21: n hari : 5% x (nX L) Telah dipotong: (n-1) x Y) Kurang dipotong Perhitungan hari ke (n + 1): Upah sehari PTKP : 1/360 x PTKP Upah harian terutang pajak PPh Ps. 21sehari: 5% x (X-P) X P (X-P) Q M N (M-N) nX L (nX-L) Y X X-Rp. 150.000

Pasal 22 Pajak penghasilan pasal 22 adalah pajak yang dipungut oleh bendaharawan pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, instansi atau lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga Negara lainnya berkenaan dengan pembayaran atas penyerahan barang, dan badan-badan tertentu baik badan pemerintahan maupun swasta berkenaan dengan kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain. 2.2.1 Pemungut pph Pasal 22 a. Wajib Pajak badan tertentu untuk memungut pajak dari pembeli atas penjualan barang yang tergolong sangat mewah. b. bendahara pemerintah untuk memungut pajak sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang. c. badan-badan tertentu untuk memungut pajak dari Wajib Pajak yang melakukan kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain. Ketentuan mengenai dasar pemungutan, kriteria, sifat, dan besarnya pungutan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Besarnya pungutan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang diterapkan terhadap Wajib Pajak yang tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak lebih tinggi 100% (seratus persen) daripada tarif yang diterapkan terhadap Wajib Pajak yang dapat menunjukkan Nomor Pokok Wajib Pajak.

2.2.2 Dikecualikan dari pemungutan PPh Pasal 22 1. Impor barang atau penyerahan barang yang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan tidak terutang PPh; 2. Impor barang yang dibebaskan dari pungutan Bea Masuk dan atau Pajak Pertambahan Nilai: a. barang perwakilan negara asing beserta para pejabatnya yang bertugas di Indonesia berdasarkan asas timbal balik.

b. barang untuk keperluan badan internasional yang diakui dan terdaftar pada Pemerintah Indonesia beserta pejabatnya yang bertugas di Indonesia dan tidak memegang paspor Indonesia. c. barang kiriman hadiah untuk keperluan ibadah umum, amal, sosial, atau kebudayaan. d. barang untuk keperluan museum, kebun binatang, dan tempat lain semacam itu yang terbuka untuk umum. e. barang untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. f. barang untuk keperluan khusus kaum tunanetra dan penyandang cacat lainnya. g. peti atau kemasan lain yang berisi jenazah atau abu jenazah. h. barang pindahan. i. barang pribadi penumpang, awak sarana pengangkut, pelintas batas, dan barang kiriman sampai batas jumlah tertentu sesuai dengan ketentuan perundang-undangan pabean. j. barang yang diimpor oleh Pemerintah yang ditujukan untuk kepentingan umum. k. persenjataan, amunisi, dan perlengkapan militer, termasuk suku cadang yang diperuntukan bagi keperluan pertahanan keamanan negara. l. barang dan bahan yang dipergunakan untuk menghasilkan barang bagi keperluan pertahanan dan keamanan negara. m. Vaksin Polio dalam rangka pelaksanaan program Pekan Imunisasi Nasional (PIN). n. buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama. o. kapal laut, angkutan sungai, danau dan penyeberangan, kapal pandu, kapal tunda, kapal penangkap ikan, kapal tongkang, dan suku cadang serta alat keselamatan pelayaran atau alat keselamatan manusia yang diimpor dan digunakan oleh Perusahaan Pelayaran Niaga Nasional atau perusahaan penangkapan ikan nasional. dan

p. pesawat udara dan suku cadang serta alat keselamatan penerbangan atau alat keselamatan manusia, peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan yang diimpor dan digunakan oleh Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional. q. kereta api dan suku cadang serta peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan serta prasarana yang diimpor dan digunakan oleh PT. Kereta Api Indonesia. 3. Dalam hal impor sementara jika pada waktu impornya nyata-nyata dimaksudkan untuk diekspor kembali; 4. Pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp.1.000.000,00 (satu juta rupiah) dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-pecah; 5. Pembayaran untuk pembelian bahan bakar minyak, listrik, gas, air minum/PDAM dan benda benda pos; 6. Emas batangan yang akan diproses untuk menghasilkan barang perhiasan dan emas untuk tujuan ekspor; 7. Pembayaran/pencairan dana Jaring Pengaman Sosial (JPS) oleh Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara (KPKN); 8. Impor kembali (re-impor) yang meliputi barang-barang yang telah diekspor kemudian diimpor kembali dalam kualitas yang sama atau barang-barang yang telah diekspor untuk keperluan perbaikan, pengerjaan, dan pengujian, yang telah memenuhi syarat yang ditentukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. 9. Peralatan yang digunakan untuk penyediaan data batas dan foto udara wilayah Negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia; 2.2.3 Tata cara pemungutan dan penyetoran 1. PPh pasal 22 dipungut pada setiap pelaksanaan pembayaran oleh KPPN atau bendaharawan atas penyerahan barang oleh wajib pajak (rekanan). 2. PPh pasal 22 yang pemungutannya dilakukan oleh bendaharawan harus disetor pada hari yang sama dengan pelaksanaan pembayaran atas penyerahan barang yang dibiayai dari belanja Negara.

3. Penyetoran dilakukan di Bank persepsi atau kantor pos dengan menggunakan SSP yang telah diisi oleh dan atas nama rekanan serta ditandatangani oleh bendaharawan. Dalam hal pemungutan PPh Pasal 22 dilakukan KPPN, SSP juga diisi oleh dan atas nama rekanan serta ditandatangani oleh KPPN. 4. Dalam hal rekanan belum mempunyai NPWP, maka kolom NPWP pada surat setoran pajak (SSP) cukup diisi angka (0) nol, kecuali untuk 3 (tiga) digit kolom kode KPP diisi dengan kode KPP tempat bendaharawan terdaftar. 2.2.4 Tarif pajak Besarnya pajak penghasilan Pasal 22 adalah sebagai berikut : 1. Atas impor : a. Yang menggunakan Angka Pengenalan Importir (API), besarnya pungutan PPh Pasala 22 adalah sebesar 2,5% dari nilai impor. b. Yang tidak menggunakan API, besarnya pungutan PPh Pasal 22 adalah sebesar 7,5% dari nilai impor. c. Yang tidak dikuasai, besarnya pungutsn PPh Pasal 22 adalah sebesar 7,5% dari harga jual lelang. 2. Atas pembelian barang yang dipungut oleh pemungut pajak pada sebagaimana dimaksud dalam butir 2,3, dan 4 sebesar 1,5% dari harga pembelian. 3. Atas penjualan hasil produksi atau pembelian dilakukan oleh badan usaha yang bergerak di bidang industri semen, industri rokok, industry kertas, infustri baja, industry otomotif yang ditunjuk oleh kepala kantor pelayanan pajak, pertamina serta badan usaha lainnya yang bergerak di bidang bahan bakar minyak jenis premix, super TT dan gas atas penjualan hasil produksi nya di dalam negeri serta industry dan pengekspor yang bergerak dalam sector perhutanan, perkebunan, pertanian, dan perikanan yang ditunjuk oleh kepala kantor pelayanan pajak, atas pembelian bahan-bahan untuk keperluan industry atau ekspor mereka dari pedagang pemngumpul, tariff PPh Pasal 22 ditetapkan sebagai berikut :

a. Besarnya tarif PPh pasal 22 yang wajib dipungut oleh badan usaha yang bergerak di bidag industry rorkok atas penjualan rorkok dalam negeri (kecuali industry rokok yang tergolong pengusaha pabrik hasil tembakau golongan kecil sebagaimana beberapa kali diubah, terakhir dengan keputusan mentri keuangan nomor 384/KMK.04/2001) yaitu sebesar 0,15% dari harga bandrol dan bersifat final. b. Besarnya tariff PPh Pasal 22 yang wajib dipungut oleh industry dan eksportir yang bergerak dalam sekotor perhutani

PPh pasal 23 2.3.1 Pengertian Pajak penghasilan (PPh) Pasal 23 adalah pajak atas penhasilan dengan nama dan bentuk apapun yang berasal dari modal, penyerahan jasa, atau penyelenggaraan kegiatan selain yang telah dipotong PPh Pasal 21. 2.3.2 Penghasilan yang dikenakan pemotongan PPh pasal 23 1. Dividen, bungan termasuk premium, diskonto dan imbalan karena jaminan pengembalian utang, royalti, hadiah dan penghargaan sehubungan dengan pelaksanaan suatu kegitan selain yang telah dipotong PPh Pasal 21. Bagi penghasilan tersebut dikenakan tariff sebesar 15% dari peredaran bruto. 2. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta, selain sewa atas tanah dan atau bangunan sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 4 ayat (2) dan imbalan sehubungan dengan jasa dikenakan tariff 2% dari peredaran bruto. Adapun jasa yang dimaksud adalah : 1) Pengertian jasa teknik Jasa teknik ialah pemberian jasa dalam bentuk pemberian informasi yang berkenaan dengan pengalaman dalm bidang industri, perdagangan dan ilmu pengetahuan. 1) Pengertian jasa manajemen Jasa manajemen ialah pemberian jasa dengan ikut serta secara langsung dalam melaksanakan manajemen dengan mendapatkan balas jasa berupa imbalan manajemen (management fee). 2) Pengertian jasa konsultan Pemberian advis profesional dalam suatu bidang usaha, kegiatan atau pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga ahli atau perkumpulan tenaga ahli, yang tidak disertai dengan keterlibatan langsung para tenaga ahli tersebut dalam pelaksanaanya. 3) Pengertian jasa maklon Semua pemberian jasa dalam rangka proses penyelesaian suatu barang tertentu dengan proses pengerjaannya dilakukan oleh pihak pemberi jasa (disubkontrakan) sedangkan spesifikasinya, bahan baku dan/atau barang setengah jadi dan atau bahan penolong/pembantu yang diproses sebagian/seluruhnya disediakan oleh pihak pemakai jasa. 4) Pengertian jasa konstruksi Jasa konstruksi adalah layanan jasa konsultasi perencanaan pekerjaan konstruksi, layanan jasa pelaksanaan ekerjaan konstruksi dan layanan jasa konsultasi pengawasan konstruksi. Adapun pekerjaan konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan perencanaan dan atau pelaksanaan beserta pengawasan yang mencakup pekerjaan arsitektural, sipil mekanikal, elektrikal, dan tata lingkungan masing-

masing beserta kelengkapannya , untuk mewujudkan suatu bangunan atau bentuk fisik lainnya. 5) Pengertian jasa penunjamg di bidang penerbangan Bandar udara a. Bidang aeronatika, termasuk : - Jasa pendaratan, penempatan, penyimpanan, pesawat udara, dan jasa lainnya sehubungan dengan pendaratan pesawat udara. - Jasa penggunan jembatan pintu (avio bridge) - Jasa pelayanan penerbangan - Jasa ground handling - Jasa penunjang lainnya di bidang aeronatika b. Bidang non-aeronatika - Jasa catering dipesawat dan jasa pembersihan pantry pesawat udara - Jasa penunjang lainnya di bidang non-aeronatika 6) Pengertian jasa keamanan Jasa keamanan adalah semua pemberian pelayanan penyelidikan, pengawasan,, penjagaan, dan kegiatan atau perlindungan untuk keselamatan peorangan dan harta milik, termasuk penyelidikan latar belakang seseorang, pencarian jejak orang hilang, encurian, dan penggelapan serta patroli. 2.3.3 Tidak dikenakan pemotongan PPh Pasal 23 1. Penghasilan yang dibayar atau terutang pada bank 2. Sewa dibayarkan atau gterutang sehubungan dengan sewa guna usaha dengan hak opsi (capital else). 3. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseorangan terbatas sebagai WP dalam negeri, koperasi, yayasan atau organisasi sejenis, BUMN/BUMD, dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia, dengan syarat : a. Berasal dari cadangan laba yang ditahan b. Bagi perseroan terbatas, BUMN dan BUMD yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% dari jumlah modal yang disetor dan harus mempunyai usaha aktif diluar kepemilikan saham tersebut. 4. Bunga obligasi yang diterima atau diperoleh perusahaan reksa dana selama 5 tahun pertama sejak pendirian perusahaan atau pemberian ijin usaha. 5. Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi. 6. Sisa hasil usaha (SHU) koperasi yang dibayarkan kepada anggotanya.

7. Bunga simapanan yang tidak melebihi jumlah sebesar Rp. 240.000 setiap bulannya yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya. Pasal 24 2.4.1 Penjelasan PPh pasal 24 adalah pajak yang dipungut diluar negeri atas penghasilan yang diperoleh wajib pajak dalam negeri diluar negeri, dan penghasilan yang diperoleh diluar negeri tersebut merupakan bagian dari seluruh penghasilan di Indonesia . jika penghasilan luar negeri berasal dari beberapa negara, perhitungan batas maksimum kredit pajak dilakukan untuk masing-masing negara. 1. Dasar penggabungan penghasilan Penggabungan penghasilan yang berasal dari luar negeri dilakukan sebgai berikut : a. Untuk penghasilan dari usaha dilakukan dalam tahun pajak diperolehnya penghasilan tersebut. b. Unutuk penghasilannya dilakukan dalam tahun pajak yang diterimanya penghasilan tersebut. c. Unutuk penghasilan berupa deviden dilakukan dalam tahun pajak pada saat perolehan deviden tersebut ditetapkan sesuai dengan keputusan mentri keuangan. 2. Kerugian Kerugian yang diderita di luar negeri tidak boleh digabungkan dalam menghitung penghasilan kena pajak, sedang rugi usaha didalam negeri dapat dikompensasikan dengan pengasilan dari usaha di luar negeri. 3. PPh terhutang diluar negeri>kredit pajak yang diperkenalkan. Dalam hal jumlah pajak penghasilan yang dibayar atau terutang diluar negeri melebihi jumlah kredit pajak yang dperkenankan, maka kelebihan tersebut : a. Tidak dapat diperhitungkam dengan pajak penghasilan yang terutang tahun berikutnya. b. Tidak boleh dibebankan sebagai biaya atau pengurang penghasilan. c. Tidak dapat dimintakan restitusi.

4. Batas maksimum kredit pajak Jumlah kredit pajak, paling tinggi sama dengan jumlah pajak yang dibayar atau terutang diluar negeri, tetapi tidak boleh melebihi jumlah tertentu, yaitu jumlah yang dihitung menurut perbandingan antara penghasilan dari luar negeri terhadap penghasilan kena pajak dikalikan dengan pajak yang terutang atas penghasilan kena pajak, palin tinggi sama dengan pajak yang terutnag atas penghasilan kena pajak dalam hal penghasilan kena pajak lebih kecil dari penghasilan luar negeri. Apabila penghasilan luar negeri berasal dari beberapa Negara, maka perhitungan kredit pajak, dilakukan untuk masing-masing Negara. 5. Prosedur pengajuan kredit pajak luar negeri a. Untuk melaksanakan pengkreditan pajak luar negeri, wajib pajak wajib menyampaikan pemohonan kepada Direktur Jendral Pajak dengan dilampiri : 1. Laporan keuangan dari penghasilan yang berasal dari luar negeri. 2. Fotokopi surat pemberitahuan pajak yang disampaikan di luar negeri. 3. dokumen pembayaran pajak diluar negeri. b. Penyampaian permohonan kredit pajak luar negeri tersebut pada (a) dilakukan bersamaan dengan penyamapaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan. c. Atas permohonan wajib pajak, Direktur Jendral Pajak dapat memperpanjang jangka waktu penyampaian lampiran-lampiran

tersebut pada (a) karena alasan-alasan diluar kekuasaan Wajib Pajak (force majeur).

2.4.2 Perhitungan PPh Pasal 24 Secara garis besar perhitungan PPh apabila penghasilan bersumber dari luar negeri dan dalam negeri adalah sebagai berikut : 1. Penghasilan luar negeri 2. Penghasilan dalam negeri 3. Penghasilan kena pajak A B (A+B)

4. PPh terhutang (tariff pasal 17 x [A+B]) 5. PPh Pasal 24 6. PPh yang masih harus dibayar di Indonesia 7. Kredit pajak dalam negeri 8. PPh yang kurang bayar/nihil/lebih bayar

C D (C-D) E (C-D-E)

2.4.3 sistematika perhitungan PPh Pasal 24 1) Penghasilan luar negeri Negara X : Laba Negara Y : Laba Negara Z : Rugi XX YY ZZ

Jumlah penghasilan netto luar negeri (XX+YY) A

2) Penghasilan netto dalam negeri 3) Jumlah Penghasilan netto 4) PPh terhutang Tariff pasal 17 x (A+B) 5) Maksimum kredit pajak luar negeri (MKPLN) a. Negara X XX x C=p (A+B) PPh terutang/dibayar di LN=q, Pilih terkecil, misal p b. Negara Y YY x C=r (A+B) PPh terutang/dibayar di LN=s, Pilih terkecil, misal s c. MKPLN (PPh Pasal 24) Negara X = p Negara Y = s Jumlah (p+s) = D

B (A+B) C

D C-D E

6) PPh yang masih harus dibayar di Indonesia 7) Kredit pajak dalam negeri

8) Kurang baya/nihil/lebih bayar

(C-D-E)