You are on page 1of 3

Na-IonaII-me Kanm Mnda Ma-a KInI

Setiap memasuki bulan 0ktobei, kita akan selalu uiingatkan oleh sebuah peiistwa
beisejaiah ualam peijalanan bangsa ini. Peiistiwa teisebut kita kenal sebagai Sumpah
Pemuua 8 0ktobei 98. Sebagai bangsa beiauab, tentu kita tiuak ingin momentum
beisejaiah ini teilewatkan begitu saja. Sehaiusnya aua makna yang bisa uiambil uaii
peiistiwa besai ini. Salah satu makna paling menonjol uaii peiistiwa Sumpah Pemuua ini
aualah menguatnya semangat nasionalisme ui kalangan pemuua saat itu.

Semangat nasionalisme telah mengilhami pemuda pada masa itu, hingga mereka mampu
menjadi pilar penting dan berada pada garda terdepan dalam merintis perjuangan
kemerdekan bangsa Indonesia. Menarik untuk mempertanyakan bagaimana pula dengan
semangat nasionalisme dan kepeloporan pemuda hari ini? Pertanyaan ini acap kali muncul
di tengah keprihatinan berbagai kalangan yang mengkhawatirkan semakin lemahnya
eksistensi dan posisi politik pemuda masa kini, terutama dalam mengemban misi
kebangsaan.

Nasionalisme pemuda Nasionalisme merupakan suatu kehendak untuk bersatu sebagai


bangsa. Kehendak ini tumbuh karena didorong kesadaran akan adanya riwayat atau
pengalaman hidup yang sama dan dijalani bersama. Demikian pengertian yang diberikan
oleh Ernest Renan yang sering disebut sebagai bapak nasionalisme.

Peristiwa kongres pemuda tanggal 28 Oktober 1928 yang kemudian kita peringati sebagai
Sumpah Pemuda adalah manifestasi tumbuhnya kesadaran nasional (nasionalisme) dalam
perjuangan menghadapi kolonialisme dan imperialisme Belanda waktu itu. Langkah ini
menjadi semacam titik balik dari pola perlawanan sebelumnya yang lebih bersifat lokal.
Tidak bisa dipungkiri bahwa tumbuhnya kesadaran tersebut secara nasional tidak bisa
dilepaskan dari kontribusi pemuda pada masa tersebut dengan idealisme dan paradigma
barunya.

Demikianlah seterusnya, sejarah panjang bangsa ini mencatat konstribusi yang diberikan
kaum muda di setiap persimpangan sejarah. Hingga wajar jika banyak pengamat sejarah
yang menyatakan bahwa sejarah suatu bangsa sesungguhnya adalah sejarah kaum muda.
Pemuda hadir pada titik persimpangan sejarah dan memberi arah bagi perjalanan bangsa
ini. Sekadar menjadi catatan, perjuangan kaum muda di panggung sejarah juga terjadi di
hampir seluruh belahan dunia.

Sejarah mereka adalah sejarah perlawanan dan pembelaan. Seperti ada benang merah
bahwa gerakan pemuda biasanya lahir dari kondisi yang dihadapi masyarakat yang sudah
tidak sesuai lagi dengan cita-cita negara dan harapan masyarakatnya. Mereka merespons
berbagai situasi dan kondisi tersebut atas dasar kesadaran moral, tanggung jawab
intelektual, pengabdian sosial, dan kepedulian politik. Tidak jarang pula ditemukan bahwa
situasi global sering menjadi faktor yang memicu dan mematangkan kekuatan aksi mereka.

Semangat zaman Lantas muncul pertanyaan bagaimana dengan pemuda masa kini?
Bagaimana kita menakar nasionalisme mereka saat ini? Bagaimana pula kita memaknai
peran, posisi dan kontribusi politik generasi yang sekarang ini lebih dikenal sebagai generasi
anak nongkrong itu dalam panggung sejarah perubahan?

Louis Gottschalk dalam bukunya yang berjudul Mengerti Sejarah, memperkenalkan istilah
zeigest yang biasa diartikan sebagai semangat zaman. Setiap zaman, diidentifikasi memiliki
karakteristiknya sendiri. Ada tiga unsur yang mempengaruhi karakteristik semangat zaman.
Pertama, ia bisa didesain oleh manusia sebagai pelaku atau tokoh sejarah. Kedua,
semangat zamanlah yang membentuk manusia.

Ketiga, semangat zaman lahir dari sturuktur politik dan kebijakan negara. Dalam sejarah
perjalanan bangsa yang menempatkan sosok kaum muda sebagai instrumen perubahan,
peran politik kaum muda setidaknya dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu: mainstream isu
yang berkembang, kepandaian menerjemahkan semangat zaman, dan ketepatan
merumuskan strategi perjuangannya.

Pemuda Indonesia dalam sejarahan cukup memainkan perannya dalam 'mendesain' setiap
peristiwa besar perubahan bangsa ini, bahkan sekaligus menjadi aktor utama dalam
peristiwa perubahan tersebut. Dalam hal ini bisa katakan bahwa pemuda telah memiliki
daya responsivitas yang tinggi dalam menerjemahkan semangat zamannya masing-masing.
Namun di sisi lain, kenyataan memilukan yang juga sering mengemuka di setiap panggung
sejarah perubahan adalah bahwa kaum muda seperti kurang memiliki energi untuk
mengarahkan perubahan serta kurang memiliki kesiapan kompetensi untuk mengisi
perubahan tersebut.

Di situlah letak tantangan yang harus dihadapi oleh kaum muda saat ini dihadapkan pada
berbagai persoalan, baik di tingkat lokal seperti korupsi, kemiskinan, pengangguran,
kemandirian dan lain-lain maupun di tingkat global seperti isu-isu lingkungan hidup,
pemanasan global, terorisme, dan sebagainya. Itu semua tentu saja tidak bisa diselesaikan
oleh para pemuda yang hanya bisa bernostalgia dan beromantisme mengenang masa yang
telah berlalu.


Setiap perubahan perlu energi besar yang lahir dari jiwa yang senantiasa menggelora khas
anak muda, cerminan dari hati yang bersih serta nurani yang senantiasa berkobar. Jadi
bukan munculnya generasi anak nongkrong yang jadi persoalan. Namun, intinya adalah
ketika sensitivitas krisis dari generasi muda terus melemah serta kepeduliannya terhadap
persoalan-persoalan besar telah terkikis, maka tunggulah saat di mana pemuda akan
semakin menepi dan terpinggirkan dari panggung sejarah peradaban.

Zaman mungkin boleh berubah, semangat zaman yang menyertainya pun mungkin saja
berbeda. Tetapi sekali lagi, akan selalu ada cahaya di ujung lorong yang gelap jika tetap
ada sekelompok pemuda di setiap zaman yang tidak kehilangan sensitivitas dan
kepeduliannya. Dua hal ini merupakan substansi dari nasionalisme yang dapat dipakai
sebagai syarat minimal guna menakar nasionalisme kaum muda di setiap zaman.

oleh: Rama Pratama, Anggota DPR RI.


Nama . Roro Ajeng w.M
KeIas . X-5
No.absen . 33