1

H. Agus Jaya, Lc. M.Hum

Tafsir

Al Bidayah
Telaah Surat al Fatihah
&
19 Surat Pendek
Pondok Pesantren al Ittifaqiah
Indralaya Ogan Ilir Sumatera Selatan

‫سورة الفاتحة‬

‫‪2‬‬

‫شششي َ‬
‫ن ال ّ‬
‫ن‬
‫أ ُ‬
‫ه ِ‬
‫عششوذُ بششالل ِ‬
‫مشش َ‬
‫طا ِ‬
‫الّرجيم‬
‫‪Saya berlindung kepada Allah swt semata‬‬
‫‪dari godaan Syaithan yang terkutuk‬‬
‫)‪Istiadzah (memohon perlindungan‬‬

‫أستجير بجناب الله وأعتصم به من شر الشيطان‬
‫العاتي المتمرد‪ ،‬أن يضرني في ديني أو دنييياي‪ ،‬أو‬
‫يصدني عن فعل ما ُأمييرت بييه‪ ،‬وأحتمييي بالخييالق‬
‫السميع العليم من همزه ولمزه ووساوسييه‪ ،‬ف يِإن‬
‫لنسيييان ِإل الليييه رب‬
‫الشييييطان ل يكفيييه عييين ا ِ‬
‫العالمين ‪ ..‬عن النبي صلى الله عليييه وسييلم أنييه‬
‫كان ِإذا قام من الليل‪ ،‬استفتح صلته بييالتكبير ثييم‬
‫يقول‪) :‬أعوذ بالله السييميع العليييم ميين الشيييطان‬
‫الرجيم‪ ،‬من همزه ونفخه ونفثه( ]أخرجه أصحاب‬
‫السيينن‪ :‬أبييو داود والترمييذي‪ ،‬والنسييائي وابيين‬
‫ماجه[‪.‬‬
‫‪Maksud istiadzah adalah ungkapan‬‬
‫‪tulus seorang hamba untuk memohon‬‬
‫‪perlindungan dan pengawalan kepada Allah‬‬
‫‪swt dari kejahatan syaithan yang sangat‬‬
‫‪pembangkang,‬‬
‫‪dengan‬‬
‫‪harapan‬‬
‫‪agar‬‬
‫‪terhindar dari mudhorat yang diakibatkan‬‬

3

oleh syaithan baik didunia maupun diakhirat
dan dari upaya syaithan menghalangi hamba
dari mengerjakan hala-hal yang telah
diperintahkan
kepadanya.
Dan
hamba
memohon perlindungan kepada yang Maha
mendengar dan Maha mengetahui dari
bisikan dan godaan-godaan syaithan, karena
sesungguhnya tidak ada yang mampu
menghalangi syaithan untuk menggoda
manusia kecuali Allah swt Tuhan semesta
alam.
Abu Daud, Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibnu Majah
meriwayatkan:

‫ عن النبي صلى الله عليه وسيلم‬..
‫ اسييتفتح‬،‫أنه كان ِإذا قام من الليل‬
‫ )أعييوذ‬:‫صييلته بييالتكبير ثييم يقييول‬
‫بالله السميع العليم من الشيييطان‬
(‫ من همزه ونفخه ونفثه‬،‫الرجيم‬
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw ketika
bangun tengah malam melaksanakan salat
dan memulai salatnya dengan takbir lalu
berkata : aku berlindung kepada Allah swt
dari ganggunan syaithan yang terkutuk dari
tiupannya dan bisikannya

4

Kata “audzu” yang berarti: hamba
memohon perlindungan, menitipkan pesan
yang sangat penting dan segera untuk
dilaksanakan. Seorang hamba tidak akan
meminta perlindungan jika ia berada dalam
kondisi aman, nyaman dan terkendali. Hanya
orang yang berada dalam kondisi genting,
terancam, bahayalah yang akan mencari
perlindungan.
Dari kata ini bisa dipahami bahwa
seorang hamba yang mampu meresapi,
menyelami dan memahami makna istiadzah
akan mengetahui, menyadari dan merasakan
bahwa dirinya sedang berada dalam
ancaman yang sangat mengerikan dengan
segala bentuk tipu dayanya. Karena yang
mengancam adalah musuh abadinya yang
tidak tampak oleh panca indra.
Allah swt berfirman:
Sesungguhnya
ia
dan
kelompoknya
melihatmu dari tempat yang tidak mampu
engkau lihat. (QS. Al A’raf: 27)
Keberadaan setan yang tidak tampak
oleh manusia saja merupakan satu hal yang
mengerikan, lebih dari itu komitmen setan
untuk senantiasa menggoda dan membujuk
rayu manusia sepanjang masa dari seluruh
arah lebih berbahaya lagi. Komitmen setan

5

tersebut diabadikan
Allah swt berfirman:

di dalam al Qur’an.

Iblis menjawab: "Karena Engkau telah
menghukum saya tersesat, saya benar-benar
akan (menghalang-halangi) mereka dari
jalan Engkau yang lurus, kemudian saya
akan mendatangi mereka dari muka dan dari
belakang mereka, dari kanan dan dari kiri
mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati
kebanyakan mereka bersyukur (taat). (QS. Al
A’raf: 16-17)
Pada ayat ini ada dua pelajaran yang
bisa dipetik, yaitu: Pertama: Arah datangnya
godaan dan bujuk rayu setan yang berasal
dari berbagai arahnya bisa dipahami bahwa
setan akan menggoda manusia dengan
segala bentuk bujuk rayunya melalui seluruh
arah yang ada kecuali arah atas dan bawah.
Dua arah ini yang tidak mampu dilalui
oleh setan untuk melancarkan aksinya.
Karena arah atas adalah simbol keagungan
Allah swt yang Maha Luhur dan Tinggi dan
arah bawah adalah simbol ketundukan dan
penghambaan
seorang hamba
kepada
khaliqnya, sehingga setiap hamba yang
senantiasa tunduk dan menghamba kepada
Allah swt (yang disimbolkan dengan sujud)
untuk mengagungkan Allah swt (yang
disimbolkan dengan takbir sebagai bentuk

6

penyerahan diri seorang hamba kepada Allah
swt yang Maha Agung) akan senantiasa
terjaga dari bujuk rayu setan terlaknat.
Kedua, maksud godaan dan bujuk rayu
dari arah depan, belakang, kanan dan kiri
adalah sebagai berikut:
-

-

-

Kedatangan setan dari arah depan
adalah datang untuk membujuk rayu
manusia secara langsung. Masuk
mengalir bersama aliran darahnya dan
membisikkan hal-hal negatif. Jika cara
ini
tidak
mampu
mempengaruhi
seorang hamba maka setan akan
mengambil jalur lain.
Kedatangan setan dari arah belakang
adalah simbol bujuk rayu setan
terhadap manusia melalui kelurga
terdekatnya, baik istri/suami, anakanak maupun orang tuanya. Sehingga
keluarga terdekat merupakan salah
satu jalan masuknya pengaruh setan
kepada seorang hamba. Agar mampu
menghindari aspek negatif ini maka
sudah semestinya keluarga dibekali
dengan iman yang kokoh sehingga
keluarga menjadi nikmat dan bukan
laknat.
Kedatangan setan dari arah kanan
merupakan simbol bahwa setan tidak
akan putus asa untuk membujuk rayu

7

-

dan
menggoda
seorang
hamba
meskipun diri dan keluarganya telah
memiliki benteng iman yang kuat.
Setan akan mempengaruhi manusia
melalui jalur alternatif yaitu para
sahabat, baik dengan perbandingan
faktor
ekonomi,
pendidikan
dan
kesejahteraan dll.
Kedatangan setan dari arah kiri
merupakan jalan alternatif lain yang
merupakan jalan tol setan untuk
melancarkan bujuk rayunya dengan
menggoda seorang hamba melalui
mitra kerja. Sehingga sogok, suap dan
iming-iming materi, pangkat, dsb
merupakan senjata pamungkas setan
untuk menjebak manusia hingga
terperosok dalam jurang kenistaan.

Dengan menyadari hal ini, maka sudah
semestinya
sorang
hamba
merasakan
ancaman
setan
yang
demikian
berbahayanya berada disekitar dirinya.
Waktu membaca istiadzah
Membaca istiadzah adalah satu hal yang
diperintahkan oleh Allah swt. Allah swt
berfirman:
Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah
kamu meminta perlindungan kepada Allah

8

dari syaitan yang terkutuk. (QS. An Nahl:
98).

ْ

َ ِ ‫ )إ‬secara
Dari ayat diatas (‫ت‬
َ ‫ذا قََرأ‬
dzhohir dipahami bahwa waktu membaca
istiadzah adalah sesudah membaca al
Qur’an. Akan tetapi maksud sesungguhnya
dari ayat ini adalah ( َ ‫ءة‬
َ ‫ِقييَرا‬

‫ن‬
ِ َ ‫)ْالُقْرا‬

َ َ ‫إ‬
‫ت‬
َ ْ ‫ذا أَرد‬
ِ

yaitu membaca istiadzah ketika
hendak memulai membaca al Qur’an.
Adapun penggunaan kata fiil madhi
(kata
kerja
lampau)
diayat
tersebut
menunjukkan waktu membaca istiadzah
adalah sebelum membaca al-Quran yang
ditandai dengan keseriusan untuk memulai
mambaca al Qur’an.

Lafadz Istiadzah
Ada dua bentuk lafadz istiadzah. Yaitu:
Pertama:

َ ْ ‫شي‬
ّ ‫ن ال‬
ِ ِ‫أَعُوْذ ُ ِبالله‬
ِ ‫ن اّلر‬
ِ ‫طا‬
َ ‫م‬
ِ ‫جي ْم‬
Lafadz istiadzah ini berdasarkan firman Allah
swt (QS. An-Nahl: 98) dan (HR. Muslim)

9

tentang petunjuk Rasulullah mengenai
ucapan yang bisa menurunkan
tensi
kemarahan seseorang yang dipengaruhi
setan.
Kedua:

‫ن‬
ُ َ‫أ‬
ِ ِ ‫مي ِْع ال ْعَل ِْييييم‬
ِ ‫سييي‬
ّ ‫عيييوْذ ُ ِبييياللهِ ال‬
َ ‫مييي‬
َ ْ ‫شي‬
ّ ‫ال‬
ِ ‫ن اّلر‬
ِ ‫طا‬
ِ ‫جي ْم‬
Adapun lafadz ini berdasarkan hadits
Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Abu
Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’I dan Ibnu Majah,
bahwa ketika Beliau bangun tengah malam
dan memulai shalatnya, Beliau membaca:

‫أعييوذ بييالله السييميع العليييم ميين‬
‫ مييين هميييزه‬،‫الشييييطان الرجييييم‬
.‫ونفخه ونفثه‬
Hamba memohon perlindungan kepada Allah
swt
yang Maha Mendengar dan Maha
Mengetahui dari godaan setan yang terkutuk
baik dari tiupan dan bisikannya.
Hemat Penulis, meskipun lafadz yang
kedua ini memiliki dasar dari hadits
Rasulullah saw, namun ada riwayat yang
membantahnya, diriwayatkan dari Ibnu

10

Mas’ud ra bahwa ia berkata: saya membaca
“a’udzu billahi as-sami’i al aliim min assyaithani ar-rajiim” lalu Rasulullah saw
bersabda kepadaku: wahai putra Umm Abd,
“a’udzu billahi min as-syaithan ar-rajiim”
demikianlah Jibril membacakannya kepadaku
dari lauh al-mahfudz dari Qolam.1 karena itu
sebaiknya menggunakan lafadz pertama
yang disepakati dan bersumber dari alQur’an dan Hadits.
Kesimpulan
1. Manusia dalam kondisi genting dan
terancam oleh bujuk rayu setan.
Karenanya
membutuhkan
perlindungan
segera
sebelum
terpedaya dan terlambat.
2. Istiadzah
dibaca
ketika
hendak
membaca al-Qur’an.
3. Ada dua bentuk lafadz istiadzah, akan
tetapi bentuk bacaan pertama lebih
kuat
karena
tidak
yang
mempermasalahkannya.

1

Abdullah Muhammad bin Muhammad al Qurtuby, al
Jami’ li ahkam al Qur’an, Darl Hadits Kairo 1996, Jil 1.
Juz 1. Hal. 102

‫‪11‬‬

‫‪Basmalah‬‬

‫بسششششم ِ الل ِ‬
‫ن الّرحيم ِ‬
‫ه الرحم ِ‬
‫‪Dengan nama Allah swt yang Maha Agung‬‬
‫‪Kasih-Nya dan Maha Kekal Sayang-Nya.‬‬
‫‪Tafsir Basmalah‬‬

‫أبدأ بتسمية الله وذكره قبل كل شيييء‪ ،‬مسييتعينا ً‬
‫به ج ّ‬
‫ل وعل في جميع أمييوري‪ ،‬طالب يا ً منييه وحييده‬
‫العييون‪ ،‬فيِإنه الييرب المعبييود ذو الفضييل والجييود‪،‬‬
‫لحسييان‪ ،‬الييذي‬
‫واسييع الرحميية كييثير التفضييل وا ِ‬
‫م فضله جميع النام‪.‬‬
‫وسعت رحمته كل شيء‪ ،‬وع ّ‬
‫تشششنبيشششه‪:‬‬
‫ن الّرحي شم ِ{ افتتييح اللييه‬
‫}بسشم ِ الل ش ِ‬
‫ه الرحم ش ِ‬
‫بهذه الية سورة الفاتحيية وكييل سييورة ميين سييور‬

‫‪12‬‬

‫القرآن ‪ -‬ما عدا سورة التوبة ‪ -‬ليرشد المسييلمين‬
‫إلييى أن يبييدءوا أعمييالهم وأقييوالهم باسييم اللييه‬
‫الرحميين الرحيييم‪ ،‬التماسييا ً لمعييونته وتييوفيقه‪،‬‬
‫ة للوثنّيين الذين يبدءون أعمييالهم بأسييماء‬
‫ومخالف ً‬
‫آلهتهييم أو طييواغيتهم فيقولييوا‪ :‬باسييم اللت‪ ،‬أو‬
‫باسم العزى‪ ،‬أو باسم الشعب‪ ،‬أو باسم هَُبل‪.‬‬
‫قييال الطييبري‪ِ" :‬إن اللييه تعييالى ذكييره وتقدسييت‬
‫دب نبّيه محمدا ً صلى اللييه عليييه وسييلم‬
‫أسماؤه‪ ،‬أ ّ‬
‫بتعليمه ذكر أسمائه الحسنى أمييام جميييع أفعيياله‪،‬‬
‫ة يستّنون بها‪ ،‬وسييبيل ً‬
‫وجعل ذلك لجميع خلقه سن ّ ً‬
‫يتبعونه عليها فقييول القييائل‪ :‬بسييم اللييه الرحميين‬
‫الرحيم ِإذا افتتح تاليا ً سورة ينبئ عيين أن مييراده‪:‬‬
‫أقرأ باسم الله‪ ،‬وكذلك سائر الفعال"‪.‬‬
‫‪Bismillahirrahmanirrahim‬‬
‫‪memiliki‬‬
‫‪arti‬‬
‫‪hamba memulai seluruh urusan hamba‬‬
‫‪dengan menyebut dan mengingat Allah swt,‬‬
‫‪sembari (hanya kepada-Nya) memohon‬‬
‫‪pertolongan, karena sesungguhnya Ialah‬‬
‫‪Sang Pemelihara yang berhak disembah‬‬
‫‪dengan segala keagungan dan kasih‬‬
‫‪sayangnya,‬‬
‫‪keluasan‬‬
‫‪rahmat‬‬
‫‪dan‬‬
‫‪kemuliaannya yang meliputi segala sesuatu‬‬
‫‪di alam semesta ini.‬‬
‫‪Pada sebagian pendapat, Allah swt‬‬
‫‪memulai surat al Fatihah ini dan surat-surat‬‬
‫‪lain dalam al Qur’an dengan Basmalah‬‬
‫‪(kecuali surat at-taubah) untuk membimbing‬‬

13

orang-orang muslim memulai segala sesuatu
baik pekerjaan maupun perkataan dengan
mengucap
“Bismillahirrahmanirrahim”
sebagai
satu
apresisasi
harapan
mendapatkan pertolongan dan petunjuk dari
Allah
swt,
dan
corak
nyata
yang
membedakan dengan penyembah berhala
yang memulai perbuatan mereka dengan
menyebut tuhan-tuhan mereka seperti Lata,
Uzza, Syuab dan Hubal.
Atthobary berkata “Allah swt yang
Maha Tinggi dan Maha Suci mengajari nabiNya Muhammad saw untuk mengingat namaNya yang mulia ketika hendak mengerjakan
segala sesuatu, dan hal itu dijadikan satu
sunnah yang hendaklah diikuti dan jalan
yang hendaklah dilalui. Maka ungkapan
seseorang:
“Bismillahirrahmanirrahim”
ketika memulai membaca sebuah surat
dalam
al
Qur’an
menginformasikan
maksudnya yaitu saya membaca dengan
memulai menyebut nama Allah, demikian
juga setiap perbuatan yang lain.
Karenanya Ba’ pada awal basmalah
adalah huruf jar yang memiliki beberapa
makna, diantaranya: al-Isti’anah yang berarti
memohon pertolongan dengan nama Allah
dalam menghadapi seluruh urusan. Menurut
Sibawaihi, Ba’ disini bermakna al-Ilshaaq wa
al-Ikhtilaath, wa al-Mulabasah (bercampur,

14

bertautan) jadi segala urusan senantiasa
terikat dengan nama Allah swt.
Prinsip Fundamental Basmalah
1. Asas
Setiap hamba, demikian juga setiap
organisasi, instansi, partai dsb sudah
semestinya memiliki asas. Dan asas hidup
seorang hamba adalah Allah swt. Hidup
dari Allah swt, untuk Allah swt dan kembali
kepada Allah swt. Itulah yang dipesankan
lafadz “bismillah” pada setiap basmalah.
Anjuran membaca basmalah pada
hampir
setiap
aktifitas
manusia
merupakan tuntunan untuk mencitai Allah.
Hal ini bisa dipahami bahwa seseorang
yang mencintai sesuatu maka ia akan
sering menyebutnya. Setiap muslim akan
mengucapkan basmalah berkali-kali dalam
sehari, hanya saja terkadang perulangan
tersebut tidak
melahirkan
kecintaan
karena mayoritasnya diucapkan diluar
kesadaran.
Dalam
hal
ini,
Allah
swt
diperumpamakan dengan beras atau nasi,
sangat penting, namun selalu dilupakan,
diingat hanya ketika persediaan beras
atau nasi tersebut menipis atau habis.

15

Demikianlah
dengan
Allah,
menjadi
tumpuan
akhir
namun
terkadang
terlupakan, diingat hanya dalam kondisi
sakit, sedih atau berada dalam kondisi
yang tidak mengenakkan hati.
Kenapa Allah swt harus dicinta, karena
semuanya tertumpu pada Allah swt.
Berasal dari Allah, diatur dan dipelihara
oleh Allah swt serta pada akhirnya kembali
kepada Allah swt sebagai penampungan
akhir.
Setiap
hamba
akan
senantiasa
menantikan
kedamaian,
mencari
keindahan, mengejar kemuliaan dan
seterusnya. Sesungguhnya semua hal itu
ada pada Allah, karena Dia yang as-Salam;
Maha Damai, Dia yang al-Karim dan asySyarif; Maha Mulia, Dia yang al-Jamil; Maha
Indah dan seterusnya.
Jika seorang hamba belum tiba pada
kedamaian,
keluasan,
ketentraman,
kemuliaan dan lain sebagainya itu, maka
ada yang perlu dikoreksi ulang. Boleh jadi
ada proses yang belum sempurna seperti
meletakan sesuatu belum tepat pada
fungsinya. Meletakkan tujuan kedamaian,
kebahagian, ketentraman dsb pada materi
yang tidak kekal.

16

Renungkanlah,
jika
seorang
meletakkannya keindahan pada materi, ia
akan melihat keindahan itu ada pada
kembang, ia tanam dan pupuk sehingga
beberapa bulan kemudian akan tumbuh
subur dan berkembang, memberikan
pemandangan indah untuk beberapa
bulan, namun setelah itu, rumputpun akan
ikut
tumbuh,
keindahannya
akan
berkurang
sehingga
menimbulkan
kebosanan. Berpindah ke hiasan kolam
ikan disekitar rumah yang mengagumkan,
namun untuk beberapa waktu kedepanpun segera berubah menjadi hal yang
membosankan. Lalu berpindah ke interior
rumah dengan lampu kristal yang sangat
indah, dikagumi untuk beberapa bulan,
tapi
selanjutnya
kotor
dan
perlu
dibersihkan sehingga merepotkan dan
akhirnya membosankan.
Ini semua terjadi karena keletakkan
keindahan, kemuliaan, kedamaian pada
materi bukan pada hati. Padahal semua ini
adalah wilayah hati.
2. Misi (Tujuan jangka pendek)
Disamping asas, misi adalah satu hal yang
mutlak
ada
pada
setiap
individu,
kelompok, instansi, organisasi dsb. Adapun
misi yang semestinya diemban oleh setiap

17

hamba adalah mewujudkan kedamaian
dan kasih sayang merata di dunia. Hal ini
dipesankan oleh lafadz “ar-Rahman” yang
memiliki arti adzim ar-rahmah. Meskipun
rahmah Allah swt maha Agung dan Besar
yang diperuntukkan seluruh makhluknya
secara umum tanpa membedakan jenis,
bentuk, warna kulit dll, akan tetapi
semuanya terbatas hanya di dunia.

3. Visi (Tujuan jangka panjang)
Setelah menancapkan misi dengan kokoh
maka
selanjutnya
mengupayakan
terwujudnya visi. Dan sebaik-baiknya visi
seorang hamba, instansi, organisasi dsb
adalah
mewujudkan
kedamaian dan
kesejahteraan di dunia dan akhirat.
Demikianlah lafadz “ar-Rahim” yang
memiliki arti kasih sayang yang abadi
menitipkan pesan kepada setiap hamba
untuk menjadikan visi ini sebagai tujuan
dari kehidupannya.

Sejarah Basmalah

18

Dalam Musnad Abi Daud, As-sya’by, Abu
Malik, Qatadah dan Tsabit bin Imarah
berkata bahwa sebelum turunnya ayat QS.
An-aml: 30, Rasulullah saw belum menulis
lengkap basmalah seperti yang kita baca
selama ini.
Pada kesempatan lain, As Sya’by dan
al-A’masy meriwayatkan bahwa Basmalah
menjadi lengkap seperti yang kita tulis
selama setelah melalui empat tahapan,
yaitu:
Tahapan
Pertama:
Rasululah
menulis
“bismikallahumma”. (‫)باسمك اللهم‬
Tahapan Kedua: Allah swt memerintahkan
kepada nabi Muhammad saw untuk menulis
“bismillah”. (‫)بسم الله‬
Tahapan ketiga: ketika turun ayat

‫"الله أو ادعوا الرحميين‬
saw

“‫قل ادعو‬

maka Rasulullah

memerintahkan untuk menulis

( ‫بسم‬

‫)الله الرحمن‬.
Tahapan keempat: ketika turun QS. An-Naml:
30, maka Barulah ditulis sempurna ( ‫بسم‬

‫ )الله الرحمن الرحيم‬.2
2

Ibid, hal. 108

19

Apakah
Basmalah
Fatihah?

bagian

dari

al

Para ulama sepakat bahwa basmalah adalah
bagian dari surat an-Naml: 30, demikian juga
mereka sepakat bahwa basmalah bukan
termasuk ayat pada surat at-Taubah. Akan
tetapi mereka berbeda pendapat pada suratsurat lainnya. Adapun ringkasan pendapat
para ulama tersebut adalah sebagai berikut;
1.

Basmalah bukan bagian dari surat alFatihah dan surat-surat yang lain dalam
al-Qur’an. Pendapat ini dikemukakan oleh
Imam Malik. Konsekwensi dari pendapat
ini adalah tidak dibacanya basmalah
dalam shalat fardhu baik dalam shalat
jahr (suara dikeraskan) maupun dlam
shalat sirr (suara dilembutkan).
Adapun argumen kelompok ini adalah
riwayat dari Anas bin Malik ra, ia berkata:
“aku shalat dibelakang Rasulullah saw,
Abu Bakar ra dan Umar ra, semuanya
memulai shalatnya dengan membaca
alhamdulillahi rabb al-alamin, tidak
membaca
“bismillahirrahmanirrahim”
baik
diawal
bacaannnya
maupun
diakhirnya. (HR. Muslim)

20

2.

Basmalah bukan termasuk ayat pada
surat al-Fatihah dan surat-surat lainnya
akan tetapi ia adalah ayat al-Qur’an yang
berdiri sendiri, Allah swt turunkan
sebagai berkah dan pemisah antara suatsurat dalam al-Qur’an. Pendapat ini
dikemukakan
oleh
mazhab
Hanafi.
Konsekwensi dari pendapat ini adalah
basmalah dibaca dalam setiap rakaat
shalat sebelum membaca al-Fatihah
dengn sirr (dilembutkan).
Adapun argumen kelompok ini adalah
riwayat dari Anas bin Malik, ia berkata;
Rasulullah saw shalat bersama kami dan
Beliau tidak memperdengarkan kepada
kami bacaan bismillahirrahmanirrahim.
Demikian juga riwayat dari tsabit dari
Anas ra, ia berkata; aku shalat
dibelakang Rasulullah saw, dibelakang
Abu Bakar ra dan Umar ra dan aku tidak
mendengar seorangpun diantara mereka
yang
mengeraskan
bacaan
bismillahirrahmanirrahim.3

3.

3

Basmalah termasuk bagian dari surat al
Fatihah. Pendapat ini dikemukakan oleh
Imam Syafi’i. Konsekwensi dari pendapat
ini adalah basmalah dibaca setiap rakaat

Ibid, hal. 112

21

shalat sebelum membaca al-Fatihah baik
di shalat jahr maupun sirr.
Adapun dasar pendapat kelompk ini
adalah riwayat dari Abi Hurairah ra, dari
Rasulullah saw bersabda: “jika kalian
membaca alhamdulillahi rabb al-alamin
maka bacalah bismillahirrahmanirrahim,
karena sesungguhnya ia (basmalah,
adalah termasuk) umm al-Qur’an, umm
al-itab dan as-sab’u al-matsani. Dan
bismillahirrahmanirrahim adalah salah
satu ayatnya. (HR. Darul Qutni)
4.

Basmalah adalah bagian dari surat alFatihah dan surat-surat lainnya kecuali
surat
at-Taubah.
Pendapat
ini
dikemukakan oleh Abdullah bin Mubrak
Adapun argumen kelompok ini adalah
riwayat dari Anas ra, ia berkata; suatu
hari ketika Rasulullah saw sedang berada
diantara kami, lalu beliau memejamkan
matanya dan mengangkat kepalanya
sembari tersenyum, lalu kamiberkata:
‘apa yang menyebabkanmu tersenyum
wahai Rasulullah saw? Beliau bersabda:
barusan turun kepadaku surat, lalu
Rasulullah
saw
membaca:
Bismillahirrahmanirrahim,
Inna
a’thoinaaka al-Kautsar ... (HR. Muslim)

22

Dari uraian diatas, menurut penulis,
pendapat yang paling kuat adalah pendapat
Imam Malik yang mengatakan bahwa
Basmalah bukan bagian dari surat al-Fatihah
dan surat-surat yang lain dalam al-Qur’an.
Kesimpulan ini berdasarkan:
1. Al-Qur’an
disampaikan
secara
mutawatir dan perbedaan para ulama
tentang kedudukan basmalah itu
sendiri cukuplah menjelaskan bahwa
basmalah bukan bagian dari surat alFatihah.
2. Hadits yang diriwayatkan dari Anas bin
Malik ra, ia berkata: “aku shalat
dibelakang Rasulullah saw, Abu Bakar
ra dan Umar ra, semuanya memulai
shalatnya
dengan
membaca
alhamdulillahi rabb al-alamin, tidak
membaca “bismillahirrahmanirrahim”
baik diawal bacaannnya maupun
diakhirnya. (HR. Muslim)
3. Hadits Qudsi yang diriwayatkan dari
Abu Hurairah ra, ia berkata; aku
mendengar Rasulullah saw bersabda;
Allah swt berfirman; “aku bagi shalat
(al-Fatihah) antaraku dan hambaku
menjadi dua bagian, dan bagi hambaKu segala yang diharapkannya. Ketika
sang hamba berkata; “alhamdu lillahi
rabb al-Alamin”, Allah swt berfirman:
hamba-Ku telah memujiku..., (HR.

23

Muslim). Pada hadits qudsi ini jelas
Allah swt memulai al-Fatihah dari
alhamdu lillah rabb al-Alamin bukan
dari bismillahirrahmanirrahim.
4. Di ujung hadits Qudsi diatas, setelah
Allah swt berfirman; “... dan jika
hambaku
berkata:
‘ihdinasshiratal
mustaqim, shiraatalladzina an’amta
alaihim ghairi al maghdhubi alaihim wa
laa adh-dhoollin, Allah swt berfirman;
“Haa’ula’i
li’abdii”.
(HR.
Malik).
Ungkapan
“haa’ulaa’i”
tersebut
memperkuat argumen ini, karena
menjelaskan
bahwa
dari
kata
“ihdinasshiratal
mustaqim”
hingga
akhir surat al-Fatihah ada tiga ayat.
Seandainya hanya dua ayat, niscaya
menggunakan
kata
“haataani”.
Wallahu a’lam
5. Meskipun penulis berpendapat bahwa
basmalah bukan bagian dari surat alFatihah, akan tetapi dalam shalat
penulis menganjurkan untuk membaca
basmalah sebelum membaca surat alFatihah. Hal ini disebabkan:
a. Tidak ada yang menjelaskan bahwa
batal
shalat
seseorang
yang
membaca basmalah ketika shalat
termasuk juga ketika memabaca
basmalah sebelum membaca surat
al-Fatihah.

24

b. Membaca basmalah dalam shalat
tidak membatalkan shalat, akan
tetapi
jika
ternyata
basmalah
adalah bagian dari surat al-Fatihah
(sebagaimana pendapat yang lain)
maka
jelas
tidak
sah
shalat
seseorang yang tidak membaca
basmalah karena itu berarti ia tidak
membaca surat al-Fatihah dengan
sempurna. Padahal Rasulullah saw
bersabda;
“tidak
sah
shalat
seseorang yang tidak membaca
surat al-Fatihah (HR. Muslim)
Kesimpulan
1. Basmalah merupakan prinsip hidup
yang mengandung azaz, misi dan visi
hidup seorang mukmin baik dalam
kehidupan
individual
maupun
kelompok/organisasi
2. Sejarah Basmalah mengajarkan prinsip
bertahap dalam melakukan perubahan
3. Perbedaan pendapat adalah hal yang
wajar, dan kita dituntut untuk lebih
dewasa menghargai pendapat yang
lain

Sekilas Tentang Surat al Fatihah

‫‪25‬‬

‫لجميياع‪،‬‬
‫هذه السورة الكريمة مكية وآياتها سبعٌ با ِ‬
‫وتسمى "الفاتحة" لفتتاح الكتاب العزيز بها حيث‬
‫ِإنها أول القرآن في الترتيب ل في النييزول‪ ،‬وهييي‬
‫ على قصرها ووجازتها ‪ -‬قد حوت معاني القييرآن‬‫العظيييم‪ ،‬واشييتملت علييى مقاصييده الساسييية‬
‫لجمييال‪ ،‬فهييي تتنيياول أصييول الييدين وفروعييه‪،‬‬
‫با ِ‬
‫تتنيياول العقيييدة‪ ،‬والعبييادة‪ ،‬والتشييريع‪ ،‬والعتقيياد‬
‫ليمييان بصييفات اللييه الحسيينى‪،‬‬
‫بيياليوم الخيير‪ ،‬وا ِ‬
‫وِإفراده بالعبادة والستعانة والدعاء‪ ،‬والتوجه ِإليه‬
‫جييي ّ‬
‫ل وعل بطليييب الهدايييية ِإليييى اليييدين الحيييق‬
‫والصراط المستقيم‪ ،‬والتضرع ِإليه بيالتثبيت عليى‬
‫ليمييان ونهييج سييبيل الصييالحين‪ ،‬وتجنييب طريييق‬
‫ا ِ‬
‫المغضييوب عليهييم والضييالين‪ ،‬وفيهييا الخبييار عيين‬
‫قصييص المييم السييابقين‪ ،‬والطلع علييى معييارج‬
‫السعداء ومنازل الشقياء‪ ،‬وفيها التعبد بييأمر اللييه‬
‫سبحانه ونهيييه‪ ،‬إلييى غييير مييا هنالييك ميين مقاصييد‬
‫وأغييراض وأهييداف‪ ،‬فهييي كييالم بالنسييبة لبقييية‬
‫مى "أم الكتيياب" لنهييا‬
‫السور الكريمة ولهييذا تس ي ّ‬
‫جمعت مقاصده الساسية‪.‬‬
‫‪Waktu dan Tempat turunnya surat al‬‬
‫‪Fatihah‬‬
‫‪Menurut mayoritas ulama surat al‬‬
‫‪Fatihah termasuk surat Makiyah. Hal ini‬‬
‫‪berdasarkan firman Allah swt: “sunggun‬‬
‫‪telah kami wahyukan kepadamu tujuh ayat‬‬
‫‪yang senantiasa di ulang-ulang dan al‬‬
‫‪Qur’an al Adzim”. (QS. Al Hijr: 87). Dan‬‬

26

ulama sepakat bahwa surat al Hijr termasuk
Makiyyah. Disamping itu shalat diwajibkan di
Mekah dalam peristiwa Isra’ mi’raj satu
setengah tahun sebelum Hijrah, Dan tidak
sah shalat seseorang tanpa membaca al
Fatihah.
Disisi lain Abu Hurairah, Mujahid, Atha’
bin Yasar dan az-Zuhri berpendapat bahwa
surat al
Fatihah
termasuk
surat
al
Madaniyah.
Sebagian ulama menggabungkan dua
pendapat diatas, bahwa surat al Fatihah
diwahyukan dua kali. Pertama turun di
Mekah satu setengah tahun sebelum Hijarah.
Dan diwahyukan kedua kalinya di Madinah
ketika perpindahan arah kiblat dari Baitul
Muqaddas di Palestina menuju Baitullah
Ka’bah al Musyarrafah di Mekah.
Az-Zarkasy berkata, sesuatu bisa saja
diwahyukan dua kali sebagai bentuk
pengagungan terhadap hal tersebut dan
mengingatkan dari sesuatu yang terlupa.
Demikianlah halnya dengan surat al Fatihah
yang diwahyukan dua kali. Pertama di Mekah
dan kedua di Madinah.4

4

Az-Zarkasy, Al Burhan fi ulum al Qur’an....

27

Meskipun jumlah ayatnya
hanya
sebanyak tujuh, Surat ini dinamai al fatihah
karena
menjadi
pembuka
al
Qur’an.
Pembuka al Qur’an secara urutan mushaf
bukan urutan turun. Surat yang demikian
ringkasnya ini mengandung seluruh isi al
Qur’an dan secara global menjelaskan isi-isi
kandunganya.
Dalam surat ini memuat pondasipondasi agama dan cabang-cabangnya, yaitu
akidah, ibadah, tasyri’, keyakinan terhadap
hari akhir, iman tehadap sifat-sifat Allah swt
yang Maha Mulia, mengkhususkannya untuk
beribadah, memohon pertolongan dan do’a,
menghadap
hanya
kepadanya
untuk
memohon hidayah menuju agama yang
benar dan jalan yang lurus, merendah diri
kepada Allah swt mengharapkan kekokohan
dalam agama Iman dan menempuh jalanjalan hamba yang sholeh serta memohon
kepada-Nya agar terhindar dari jalan orangorang yang dimurkai dan jalan orang-orang
yang sesat.
Dalam surat ini juga menjelaskan
tentang
kisah-kisah
umat
terdahulu,
penelusuran
terhadap
jalan-jalan
keselamatan dan jalan-jalan kecelakaan.
Didalam surat ini juga tuntunan ibadah
dengan
cara
melaksanakan
perintahperintah Allah swt dan menjauhi larangan-

‫‪28‬‬

‫‪larangan-Nya,‬‬
‫‪demikian‬‬
‫‪juga‬‬
‫‪terdapat‬‬
‫‪maksud-maksud,‬‬
‫‪tujuan-tujuan,‬‬
‫‪dan‬‬
‫‪kegunaan-kegunaan yang lain.‬‬
‫‪Surat ini‬‬
‫‪bagaikan ibu terhadap surat-surat yang‬‬
‫‪lainnya dalam al Qur’an, karenanya surat ini‬‬
‫‪disebut dengan nama “umm al Kitab” karena‬‬
‫‪dalam surat ini telah terkumpul seluruh‬‬
‫‪kandungan-kandungan pokok al Qur’an‬‬
‫‪.‬‬
‫‪Keistimewaan surat al Fatihah‬‬

‫ي بيين‬
‫لمييام أحمييد فييي المسييند أن "أب ي ّ‬
‫أ‪ -‬روى ا ِ‬
‫كعب" قرأ على النبي صيلى اللييه عليييه وسيلم أم‬
‫القرآن فقال رسول الله صلى الله عليييه وسييلم‪:‬‬
‫)والذي نفسي بيده ما ُأنيزل فيي التيوراة ول فيي‬
‫لنجيل ول في الّزبور ول في الفرقان مثلها‪ ،‬هييي‬
‫ا ِ‬
‫م الذي أوتيُته( فهييذا‬
‫السبعُ المثاني والقرآ ُ‬
‫ن العظي ُ‬
‫الحييديث الشييريف يشييير إلييى قييوله تعييالى فييي‬
‫قششدْ آت َي َْنششا َ‬
‫ول َ َ‬
‫ن‬
‫عا ِ‬
‫سششب ْ ً‬
‫مشش ْ‬
‫ك َ‬
‫سيييورة الحجييير } َ‬
‫ْ‬
‫وال ْ ُ‬
‫م{ ]الحجر‪.[87 :‬‬
‫ع ِ‬
‫قْرآ َ‬
‫ن ال َ‬
‫ظي َ‬
‫ال ْ َ‬
‫مَثاِني َ‬
‫ب‪ -‬وفي صحيح البخاري أن النبي صلى الله عليه‬
‫وسييلم قييال لبييي سييعيد بيين المعل ّييى‪) :‬لعلمن ّييك‬
‫سورة هي أعظم السور في القييرآن‪ :‬الحمييد للييه‬
‫قرآن العظيم‬
‫رب العالمين‪ ،‬هي السبعُ المثاني وال ُ‬
‫الذي ُأوتيُته(‪.‬‬

29

Surat al Fatihah adalah pembuka al
Qur’an
yang
memiliki
segudang
keistimewaan. Hal inipun tampak dari
deretan nama yang melekat pada surat al
Fatihah. Diantara kemuliaannya tersebut
adalah:
1. Dari Abi Said bin Mualla’, ia berkata
ketika aku shalat di masjid, Rasulullah
saw
memanggilku
dan
aku
tidak
menjawabnya sehingga aku selesai
shalat, lalu aku mendatangi Rasulullah
saw. Beliau bersabda: “apa yang
menghalangimu
(tidak
langsung)
mendatangiku? Aku berkata: “wahai
Rasulullah saw aku sedang shalat. Beliau
bersabda:
“bukankah
Allah
swt
berfirman: “wahai orang-orang yang
beriman, penuhilah seruan Allah dan
seruan rasul apabila rasul menyeru kamu
kepada suatu yang memberi kehidupan
kepada kamu. (QS. Al anfaal: 24). Lalu
Rasulullah saw bersabda: sungguh aku
akan ajarkan kapadamu surat yang
paling agung dalam al Qur’ansebelum
engka keluar dari masjid. Lalu Beliau
memgang tanganku. Ketika Beliau akan
keluar masjid, aku berkata: wahai
Rasulullah bukankah engkau bersabda
akan mengajarkan kepadaku surat yang

30

paling agung dalam al Qur’an, Beliau
bersabda: “al hamdulillah rabb al alamin,
adalah tujuh ayat yang selalu diulangulang (dalam shalat) dan al Qur’an al
Adzim yang diwahyukan kepadaku. (HR.
Bukhari, Abu Daud, Ibnu Majah, an-Nasa’i
dan Ahmad)
2. Dari Said bin Zubair dari Ibnu Abbas ra ia
berkata ketika Jibril duduk di sisi
Rasulullah saw ia mendengar suara dari
atasnya, lalu ia menengadah dan berkata
bahwa pintu langit yang selama ini tidak
pernah dibuka kini terbuka, lalu turunlah
malaikat. Jibril berkata: “ini malaikat yang
selama ini tidak pernah turun kebumi kini
telah turun dan mengucapkan salam lalu
berkata: terimalah berita gembira dengan
dua cahaya yang diwahyukan kepadamu
dan tidak pernah diwahyukan kepada
seorang nabipun sebelummu, yaitu
fatihatul kitab dan penutup surat al
Baqarah, setiap huruf yang engkau baca
dari keduanya akan (menjadi perantara)
dikabulkannya keinginanmu. (HR. Muslim,
Abu Daud dan an-Nasa’i). Karena
kemuliaan inilah telah menjadi tradisi
membaca
surat
al-Fatihah
ketika
memulai sebuah kegiatan, berdoa agar
kabul hajat, diampuni dosa dan lain
sebagainya.
3. Diriwayatkan dari Imam Ahmad dalam
Musnadnya, bahwa Ubay bin Ka’ab

31

membaca umm al Qur’an (al Fatihah)
kepada nabi Muhammad saw, lalu
Rasulullah saw bersabada:

‫والذي نفسي بيده ما ُأنييزل فييي‬
‫لنجيييل ول فييي‬
ِ ‫التوراة ول فييي ا‬
،‫الّزبييور ول فييي الفرقييان مثلهييا‬
‫ن‬
ُ ‫هييي السييبعُ المثيياني والقييرآ‬
‫م الذي أوتيُته‬
ُ ‫العظي‬
“demi
jiwaku
yang
ada
dalam
genggaman-Nya, tidak diturunkan dan
Taurat, Inzil, Zabur, dan al Qur’an surat
sepertinya (al Fatihah). Surat al Fatihah
itu as sab’u al matsani (tujuh ayat yang
senantiasa diulang-ulang) dan al Qur’an
al Azim yang diwahyukan kepadaku.
Hadits diatas mengisyaratkan kepada firman
Allah swt dalam surat al Hijr : 87. Allah swt
befirman : “dan sungguh telah kami berikan
kepadamu sab’an min al matsani (tujuh ayat
yang senantiasa berulang-ulang) dan al
Qur’an al azim.

32

Nama-nama Surat al Fatihah

،‫ والسيبع المثياني‬،‫ وأم الكتياب‬،‫تسيمى "الفاتحية‬
"‫ والحمد‬،‫ والساس‬،‫ والكافية‬،‫ والوافية‬،‫والشافية‬
‫وقد ذكر العلمة القرطييبي عييددها لهييذه السييورة‬
.‫اثني عشر اسمًا‬

Surat al-Fatihah memiliki demikian banyak
nama yang menunjukkan kemuliaannya.
Diantara nama-nama tersebut adalah:
1. Al-Fatihah
Dinamakan al-Fatihah karena menjadi
pembuka al-Qur’an, demikian juga menjadi
pembuka shalat dan kegiatan-kegiatan
keagamaan lainnya.
2. Al-Qur’an al-Adzim

33

Dinamai dengan al-Qur’an al-Adzim karena
surat al-Fatihah telah mengandung seluruh
makna dan tujuan al-Qur’an. Al-Qurtuby
berkata; al-Fatihah mengandung pujian
kepada Allah swt dengan segala bentuk
kesempurnaan
dan
kemuliaan-Nya,
perintah ibadah dan ikhlas sebagai
pokoknya, pengakuan akan kelemahan diri
untuk melaksanakan perintah-Nya tanpa
pertolongan dari-Nya, dan permohonan
bimbingan dan petunjuk menuju jalan
yang lurus da kondisi akhir perjalanan
orang-orang yang shalih dan orang-orang
yang membangkang.5
3. As-Sab’u al-Matsani,
Dinamakan
demikian
karena
jumlah
ayatnya tujuh dan senantiasa diulangulang dalam setiap rakaat shalat, menurut
pendapat lain karena tujuh ayat tersebut
turun dua kali.
4. Um al-Kitab
Menurut Bukhari, dinamakan um al-Kitab
karena
mushaf
al
Qur’an
dimulai
penulisannya dengan surat ini, dan shalat
dimulai dengan membacanya. Argumen
lain, bahwa surat ini telah mewakili
5

Ibid, hal. 129

34

seluruh kandungan kitab al-Qur’an dan
kitab-kita
samawi
yang
Allah
swt
wahyukan kepada para nabi terdahulu.
5. As-Sholat
Dinamakan as-sholat karena tidak sah
shalat seseorang tanpa membaca surat alFatihah. Di sisi lain Abu Hurairah berkata,
aku mendengar Rasulullah saw bersabda:
“Allah swt berfirman, Aku bagi as-shalata
(surat al Fatihah) antara-Ku dan hamba-Ku
menjadi dua bagian, ... (HR. Muslim, Ibnu
Majah, An-Nasa’i dan Abu Daud).

6. Al-Hamdu
Dinamai al-Hamdu karena dimulai dengan
kata al Hamdu. Meskipun sesungguhnya
ada lima surat dalam al-Qur’an yang
dimulai dengan kata alhamdu, yaitu alFatihah, Al-An’am, al-Kahfi, Fathir dan
Saba’, namun surat ini diistimewakan
dengan nama tersebut karena telah
mewakili seluruh jenis pujian dialam
semesta.
7. as Raqy

35

dinamai dengan ar-Raqy karena sebuah
peristiwa
dimana
seorang
sahabat
mengobati
pembesar
sebuah
kaum
dengan membaca al-Fatihah dan sembuh.
Dari Said al-Khudri, ia berkata; ketika kami
dalam perjalanan dan kami beristirahat,
datanglah seorang pembantu dan berkata:
sesungguhnya pembesar kaum dalam
kondisi sakit dipatuk ular, dan tidak ada
diantara kami yang bisa mengobatinyai,
adakah
diantara
kalian
yang
bisa
menjampinya
(mengobatinya)?
Maka
berdirilah seorang diantara kami yang
kami tidak pernah menduga bahwa ia bisa
menjampi. Lalu ia menjampinya dan
sembuh.
Lalu
kamipun
di
hadiahi
tigapuluh kambing dan di jamu minuman
susu, ketika kami telah kembali, kami
bertanya
kepadanya
(sahabat
yang
meruqiyah);
apakah
kamu
bisa
meruqiyah? Ia berkata; tidak, saya hamba
membaca
umm al kitab, lalu kami
berkata; janganlah engkau berbicara
apapun
sebelum
kita
tiba
kepada
Rasulullah saw dan menanyakannya.
Ketika kami tiba kota Madinah, kami
menyampaikan hal tersebut kepada
Rasulullah saw, dan Beliau bersabda; ia
tidak tahu sesungguhnya umm kitab itu
adalah raqiyah. Berilah dan bagilah
untukku bagian (dari hadiah tersebut).
(HR. Bukhari)

36

8. al-Wafiah
karena
al-fatihah
telah
mengadung
seluruh makna-makna al Qur’an.
9. Al-Kafiyah
Karena cukuplah shalat dengan al-Fatihah
dan tidak cukup dengan bacaan suratsurat yang lain tanpa al-Fatihah.
10.

Al-Asas

Karena al-Qur’an dimulai dengan
Fatihah dalam urutan mushafnya.

al-

Imam as- Suyuthi secara rinci telah
menghitung jumlah nama surat al Fatihah
dan menurut beliau ada lebih dari 20
nama
surat
al
Fatihah
yang
ini
menunjukkan kemuliaan surat tersebut.

37

‫ن‬
ِ َ ‫عال‬
ِ ّ ‫مدُ ل ِل‬
َ ْ ‫ب ال‬
ّ ‫ه َر‬
َ ْ ‫ال‬
َ ‫مي‬
ْ ‫ح‬
Segala puji bagi
sekalian alam.

Allah

Pemelihara

seru

ّ ‫علمنييا البيياري ج ي‬
‫ل وعل كيييف ينبغييي أن نحمييده‬
ْ
ُ‫مشد‬
َ ‫ونقدسه ونثني عليه بما هو أهلييه فقييال }ال‬
ْ ‫ح‬
‫ن{ أي قولوا يا عبادي ِإذا أردتم‬
ِ َ ‫عال‬
ِ ّ ‫ل ِل‬
َ ْ ‫ب ال‬
ّ ‫ه َر‬
َ ‫مي‬
‫ اشييكروني علييى‬،‫شييكري وثنييائي الحمييد للييه‬
‫ فأنييا اللييه ذو العظميية‬،‫ِإحسيياني وجميلييي ِإليكييم‬
‫ رب‬،‫ليجيياد‬
ِ ‫ المتفييرد بييالخلق وا‬،‫والمجد والسؤدد‬
‫ ورب السييييماوات‬،‫لنييييس والجيييين والملئكيييية‬
ِ ‫ا‬
‫ فالثناء والشكر للييه رب العييالمين دون‬،‫والرضين‬
‫ما ُيعبد من دونه‬
Allah
swt
mengajarkan
kepada
hambanya cara memuji, mensucikan dan
mengagungkan Allah swt sebagaimana
mestinya,
yaitu
dengan
mengucapkan
“alhamdu lillah”. Sebagai seorang hamba,
sudah
semetinya
kita
memuji
dan
mengagungkan Allah swt karena kebaikan
dan kasih sayang-Nya yang melimpah ruah
baik
dari
permulaan
penciptaan,
pemeliharaannya terhadap terhadap alam
semesta khususnya manusia dan jin.
Sebagai pembuka al-Qur’an, surat alFatihah mengandung seluruh makna dan
tujuan al-Qur’an.

38

Said Hawa menjelaskan bahwa alQur’an adalah ajakan menuju aqidah, ibadah
dan pegangan hidup. Aqidah dalam Islam
bukanlah sekedar konsep saja karena aqidah
akan melahirkan hasil, pengaruh dan
kewajiban. Pemahaman tengan sifat tarbiyah
Allah dan rahmat-Nya serta hisan menuntut
lahirnya aksi.
Melalui surat ini, Islam mengajarkan
kepada kita untuk mengenal Allah swt sejak
awal, pertengahan dan akhir surat. Diawal
surat ini mengajarkan bahwa Allah swt
adalah Sang Pemelihara yang Maha Kasih
Sayang, ditengah surat mengajarkan bahwa
Allah swt Sang Penolong dan diakhir surat ini
mengajarkan bahwa Allah swt Sang Penunjuk
jalan.
Pokok Akidah Islam tergambar pada
ayat; alhamdulillahi rabb al-Alamin hingga
Maliki Yaum ad-Din,
Pokok ibadah dan Ikhlas sebagai kuncinya
tampak pada ayat; iyyaka na’budu.
Pokok teladan yang baik tergambar
pada ayat; Shirata al-ladzina an’amta
alaihim.

39

Pokok contoh yang buruk tergambar
pada akhir surat; ghair al-Maghdhubi alaihim
wa laa adh-dhoolliin.6
Ar-Rozi berkata; maksud dari al-Qur’an
terkumpul pada empat hal. Yaitu; ilahiyaah
(ketuhanan), al-maad (hari pembalasan), anNubuwaat (kenabian) dan itsbat al-Qodho’
wa al-Qadr.7
Makna
Huruf

(‫ )ال‬pada kata (‫)الحمد‬

(‫)ال‬

pada lafadz

(‫)الحمد‬

memiliki

beberapa makna, yaitu;
1.

2.

li

al-Istigraq,

artinya

meliputi

keseluruhan.
(‫ )ال‬ini menunjukkan
yang berhak mendapatkan pujian secara
mutlak hanyalah Allah swt semata.
Karena hanya Allah swt yang memiliki
nama-nama mulia dan terpuji demikian
juga dengan perbuatan Allah swt
seluruhnya terpuji.
Li al-Jins: artinya isyarat menghadirkan
kemuliaan Allah swt dalam benak dan

6

Said Hawa,al-Asas fi at-Tafsir, Darl as-Salam: Kairo,
1999, Jil. 1. Hal. 38
7

Fakhruddin ar-Rozi, mafatih al-Goib

40

3.

membedakannya dengan segala bentuk
kemuliaan yang hadir dari yang lain.
Li al-Ahdi: artinya seorang hamba
mengikuti cara memuji kepada Allah swt
sebagaimana yang telah di tetapkannya
dalam
syariatnya.
Yaitu
dengan
mengucapkan alhamdulillahi rabb alalamin.

Intisari kata

(‫)الحمد‬

Pujian adalah ungkapan kekaguman
yang muncul dari dalam hati seseorang
kepada yang dikaguminya. Syarat utama
lahirnya pujian adalah adanya khusnu adzdzon (prasangka baik). Tanpa khusnu adzdzon niscaya tidak akan lahir pujian terhadap
orang lain. Karena sebaik apapun karya,
prestasi dan capaian orang yang dibenci
tetap tidak akan muncul rasa kagum yang
melahirkan pujian.
Adapun cara menanamkan khusnu
adz-dzon dalam diri seorang hamba adalah
dengan melatih diri berfikir baik pada setiap
orang, dan meluruskan teknis khusnu adzdzon itu sendiri.
Banyak orang yang merasa kesulitan
untuk mengaflikasikan konsep ini pada

41

semua orang karena terjebak pada teknis
yang tidak tepat.
Perhatikanlah, ketika anda melihat
seseorang dan meletakkan kaca merah
didepannya, maka anda akan melihat orang
tersebut berwarna merah. Namun, ketika
anda menoleh kepada orang lain yang tidak
berada dibelakang kaca merah maka anda
akan melihatnya pada kondisi yang berbeda
tanpa warna merah. Agar semuanya bisa
anda lihat dengan warna merah maka cara
praktis
dan
mudah
adalah
dengan
meletakkan kacamata berwarna merah
dimata anda tanpa harus meletakkan kaca
merah didepan setiap orang yang akan anda
lihat. Demikianlah cara mudah menanamkan
khusnu adz-dzon pada diri kita adalah
dengan meletakkannya di dalam hati bukan
pada diri orang yang kita nilai.
Kata alhamdu pada ayat ini menitipkan
pesan bahwa setiap hamba hendaklah
memulai
seluruh
aktifitasnya
dengan
didasari khusnu adz-dzon baik kepada
sesama makhluk maupun kepada Allah swt.
Kemudian jika diperhatikan dengan
seksama, seluruh kata yang berakar dari
kata hamd akan berarti sesuatu yang terpuji,
hal ini menegaskan bahwa sikap khusnu adzdzhon akan senatiasa menghadirkan kondisi

42

yang baik meskipun terjadi pada saat yang
kurang tepat.
Penggabungan Makna

‫)حمد‬

(‫)ال‬

dan

(

menegaskan bahwa seluruh pujian
hakikatnya kembali kapada Allah swt. Baik
itu pujian dari Al-Kholiq kepada Dzatnya
yang agung, al-Kholiq kepada makhluknya,
Makhluk kepada al-Kholiq maupun makhluk
kepada makhluk itu sendiri.

“Alhamdulillah”
Syiar Para Nabi,
Malaikat dan hamba-hamba Sholih
Dari Anas bin malik ra, ia berkata bahwa
Rasulullah saw bersabda; tidaklah allah swt
memberikan nikmat kepada hamba-Nya dan
hamba-Nya berkata alhamdulillah kecuali
Allah akan memberi yang lebih baik daripada
yang diambil-Nya dari hamba-Nya. (HR. Ibnu
Majah)
Ibnu Abbas meriwayatkan
alhamdulillah
adalah
ungkapan
syukur.

bahwa
setiap

Nabi Adam as ketika bersin berkata:
alhamdulillah

43

Allah memerintahkan nabi Nuh as
untuk
bersyukur
dengan
berkata:
alhamdulillah (segala puji bagi Allah) yang
telah menyelamatkan kami dari kaum yang
dholim. (QS. al Mukminun: 28).
Nabi Ibrahim bersyukur kepada Allah
swt dengan berkata: Alhamdulillah (segala
puji
bagi
Allah)
yang
telah
menganugerahkan kepadaku Ismail dan Isha
hingga besar. (QS. Ibrahim: 39)
Nabi
Daud
dan
Sulaiman
mengungkapkan syukurnya dengan berkata:
alhamdulillah (segala puji bagi Allah) yang
telah memuliakan kami diatas mayoritas
hamba-hamba-Nya yang shalih. (QS. anNaml: 15)
Allah
swt
memerintahkan
nabi
Muhammad saw berkata: dan katakanlah
(Muhammad); alhamdulillah (segala puji bagi
Allah) yang tidak pernah mengambil anak.
(QS. al-Isra’: 111)
Penghuni
surga
mengungkapkan
syukurnya dengan berkata: alhamdulillah
(segala puji bagi Allah) yang telah
menjauhkan kami dari kesedihan dan akhir
dari do’a mereka adalah alhamdulillahi rabb
al-alamin. (QS. Yunus: 10).

44

As-Sayuthi berkata; tujuh hamba yang
menyebut Allah swt dengan; alhamdulillah
dan ketujuhnya mendapatkan kemuliaan dari
Allah
swt.
Nabi
Adam
as
berkata
alhamdulillah sehingga ia mendapat rahmat
dari
Allah
swt
dengan
jawaban
“yarhamukallah”,
nabi
Nuh
berkata
alhamdulillah
(QS.
Al-Mukminun:
28)
sehingga ia mendapatkan keselamatan dari
Allah swt dengan firmannya; “wahai Nuh,
turunlah (dari kapalmu) dengan keselamatan
dari Kami dan keberkatan atasmu. (QS. Hud:
48). Nabi Ibrahim berkata: alhamdulillah (QS.
Ibrahim: 39) sehingga mendapatkan tebusan
bagi nabi Ismail as, Allah berfirman: “ dan
Kami ganti dengan sembelihan yang agung”
(QS. Ash-Shofaat: 107) nabi Daud dan
Sulaiman berkata: alhamdulillah (QS. AnNaml: 15) sehingga memperoleh kenabian
dan kerajaan, Allah swt berfirman: “dan
keduanya kami berikan hukum dan ilmu”
(QS. Al-Anbiya’: 29), nabi Muhammad saw
diperintahkan mengucapkan “alhamdu” lalu
mendapatkan ketinggian dan kemuliaan.
Allah swt berfirman: “Bukankah Kami telah
lapangkan dadamu” (QS. Al-Insyirah: 1).
Al-Qurtuby berkata; hakikat alhamdu
adalah Ha’: al-wahdaniyah, Mim: al-Mulk,
Dal: ad-daimumah. Barang siapa yang
mampu memahami wahdaniyah, daimumah

45

dan al-mulk maka ia telah memahami Allah.
Itulah hakikat hamd.
Syafiq bin Ibrahim berkata dalam
tafsirnya: alhamdulillah memiliki tiga syarat.
Yaitu; pertama, ketika mendapat sesuatu
mengetahui siapa yang memberi. Kedua,
ridha’ atas pemberian tersebut. Tiga, tidak
mendurhakainya ketika masih memiliki
kekuatan.
Makana

(‫)ل‬

pada(‫)لله‬

Arti huruf
(‫ )ل‬pada(‫ )لله‬adalah; li attamlik, yang berarti kepemilikan. Dengan
demikian seluruh bentuk pujian pada
hakikatnya adalah milik Allah swt.
Adapun macam-macam pujian terbagi
menjadi empat kategori, yaitu:
1.

Pujian Al-Kholiq kepada Dzat-Nya yang
Agung.
Sudah semestinya Allah swt memuji dzatNya yang Maha Agung. Segala bentuk
pada alam raya ini berasal dari Allah swt,
ada, hidup, tumbuh dan berkembang
karena Allah swt dan pada akhirnya akan
kembali kepada Allah swt. Demikian juga
dengan
sumpah-Nya
menggunakan

46

kalam-Nya (QS. Yasin: 2), (QS. Shod: 1)
dst.
Menunjukkan
kemuliaan
dan
keagungan sang Kholiq.
2.

Pujian Al-Kholiq kepada Makhluk-Nya.
Pujian Allah swt atas ciptaannya baik
berupa manusia seperti pengakuan-Nya
terhadap
kemuliaan
akhlak
nabi
Muhammad saw (QS. Al-Qalam: 4).
Demikian juga Sumpah Allah swt dengan
menggunakan nama-nama ciptaan-Nya,
baik malaikat-Nya (QS. Ash-Shofaat: 1,
QS. An-Naziaa: 1-5), pena (QS. Al-Qalam:
1), langit, (QS. Al-Buruj: 1), Fajar (QS. AlFajr: 1), matahari dan bulan, siang dan
malam, langit dan bumi dan jiwa (QS.
Asy-Syams: 1-7) malam dan siang (QS.
Al-lail: 1) duha (QS. Ad-Dhuha: 1), Tin dan
Zaitun (QS. At-Tin: 1) kuda perag (QS. AlAdiaat: 1), masa (QS. Al-Ashr: 1) dst,
semua itu menunjukkan keagungan
pencipta-Nya.

3.

Pujian Makhluk kepada al-Kholiq
Sudah
semestinya
seorang
hamba
memuji kemuliaan pencipta-Nya, dan
semua bentuk pujian tersebut tidak
terlepas dari karunia Tuhan-Nya yang
memberikanya
kemampuan
untuk
bersyukur
dan
memuji,
sehingga

47

kemampun
untuk
mengungkapkan
syukur dan pujian itu sendiri adalah satu
hal yang wajib untuk di syukuri dst.
Sehingga
pada
hakikatnya
pujian
tersebut adalah milik Allah swt.
4.

Pujian Makhluk
sendiri.

kepada

Makhluk

itu

Adalah hal yang fitrah ketika seorang
hamba memuji yang lain baik karena
faktor prestasi, kecerdasan, keindahan
tubuh dan lain sebagainya. Semua hal ini
pada hakikatnya adalah pujian kepada
Sang Kreator Allah swt yang telah
mengatur-Nya dengan sangat baik.
Keistimewaan lafadz

(‫)الله‬

Lafadz Allah adalah lafadz al-jalalah
(lafadz yang sangat luhur), merupakan nama
dan
bukan
sifat
bagi-Nya,
memiliki
keistimewaan luar biasa yang tidak dimiliki
oleh seluruh kata yang ada.
Diantara keistimewaan lafadz ini
adalah tidak pernah ditemukan nama
makhluk apapun yang bernama Allah,
meskipun ada menggunakan idhofat seperti
abdullah dan lain lain.

48

Dari sisi bahasa akan kita temukan
keistimewaan yang tidak ditemukan pada

(‫ )الله‬tersusun dari lima
huruf, yaitu: (‫)ا ل ل ل ه‬, kelima huruf
kata lain. Lafadz

ini meskipun dikurangi satu persatu tetap
akan menunjukkan Allah swt, yang hal ini
tidak pernah ditemukan dalam bahasa
apapun. Perhatikanlah berikut ini;
Pertama; lafadz (‫ )الله‬menunjukkan
Allah. Allah swt berfirman;
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal
lagi terus menerus mengurus (makhlukNya).... (QS. Al-Baqarah: 255)
Kedua; lafadz (‫ )للششه‬menunjukkan
Allah. Allah swt berfirman:
Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di
langit dan apa yang ada di bumi.... (QS. AlBaqarah: 284)
Ketiga; lafadz (‫ )الششه‬menunjukkan
Allah. Memang asal mulanya kata ini
ditujukan untuk setiap yang disembah haq
maupun bathil. Kemudian kata ini banyak

49

digunakan untuk sembahan yang haq. Allah
swt berfirman:
“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang
mengatakan: "Bahwasanya Allah salah
seorang dari yang tiga", padahal sekali-kali
tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa.
Jika mereka tidak berhenti dari apa yang
mereka katakan itu, pasti orang-orang yang
kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan
yang pedih.” (QS. Al-Maidah: 73)
Apakah disamping Allah ada tuhan (yang
lain)?... (QS. An-Naml: 60)
Keempat; lafadz (‫ )له‬menunjukkan
Allah. Allah swt berfirman:
Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi,
Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia
Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. AlHadid: 2)
Kelima; lafadz
Allah.

(‫)ه‬

(‫ )ه‬tetap menunjukkan

Adalah isim dhomir muttasil yang

berasal dari isim dhomir munfasil
Allah swt berfirman;

(‫)هو‬.

50

Allah, tiada Tuhan Yang disembah kecuali
Dia, Tuhan Yang mempunyai 'Arsy yang
besar." (QS. An-Naml: 26)
Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang
berhak disembah) melainkan Dia, ... (QS. AlQashash: 70)

(‫ب‬
ّ ‫)َر‬
Tuan8 yang membenahi, mengatur,
mendidik, yang disembah, berkehendak.9
Kata rabb berasal dari kata tarbiyah
artinya
pendidikan,
pengasuhan
dan
pemeliharaan.
Kata rabb pada Allah melekat dengan
dua bentuk, pertama, sifat dzat yang berarti
Tuhan dan Tuan. Kedua, sifat fi’il yang
berarti
mengatur
dan
memelihara
makhluknya.

8

Mahmud bin Umar az-Zamaksyari, al Kassyaf an
haqaiq at-tanzil wa uyun al-aqawil fi wujuh atta’wil,Maktabah Misr, Kairo: tt. Jil. 1, hal. 17
9

Muhammad Amin Abu Bakar Magush, al-Lubab fi
Tafsir Fatihah al-Kitab, Maktabah al-Azhar, kairo, tt,
hal. 48

51

Pemeliharaan Allah swt terhadap manusia
ada dua macam;
1. Pemeliharaan
terhadap
eksistensi
manusia. Yakni ditumbuhkan sejak
kecil hingga dewasa dan adanya
peningkatan kekuatan jiwa
serta
akalnya.
2. Pemeliharaan terhadap agama dan
akhlaknya, yakni melalui wahyu yang
diturunkan kepada salah seorang agar
menyampaikan risalah yang akan
menyempurnakan
akal
dan
membersihkan jiwa mereka.
Derajat tarbiyah Allah berbeda-beda
sesuai dengan keberadaan makhluknya.
Allah swt memelihara arwah dengan
limpahan nikmat-Nya, Allah swt memelihara
jiwa hamba-hamba-Nya dengan hukum
syariat-Nya, memelihara jiwa-jiwa al-‘aarif
dengan adab thoriqoh, dan memelihara
rahasia muhaqqiqin dengan cahaya haikatNya.10
Dari uraian ini bisa dipahami bahwa
kata rabb menitipkan pesan bahwa Allah swt
adalah Tuhan yang tidak saja mencipta
makhluknya dan meninggalkannya akan
tetapi mencipta dan senantiasa mengatur
10

Ibid, hal. 49

52

serta memeliharanya dengan limpahan kasih
sayang.
Perhatikan ketelitian Allah swt dalam
memelihara
manusia,
setiap
manusia
memiliki beberapa tempat yang ditumbuhi
rambut, mulai dari kepala, alis, bulu mata,
rambut hidung, rambut ketiak, rambut dada,
rambut pada kemaluan hingga betis hingga
pada sebagian orang tumbuh rambut di atas
jari jempol kakinya. Dengan ketelitian yang
Maha Sempurna tidak pernah terjadi
pertukaran tempat antara satu rambut
dengan rambut lainnya.
Bayangkan oleh anda, apa yang terjadi
jika rambut kepala tertukar dengan rambut
hidung atau bulu mata? Subhannallah.

(‫ن‬
ِ َ ‫عال‬
َ ْ ‫)ال‬
َ ‫مي‬
Alam semesta.
Yang dimaksud dengan al-alamin
adalah seluruh hal selain Allah swt.

53

Alam merupakan kata single yang
menunjukkan
kelompok,
baik
berakal
maupun tidak. Karenanya dikenal istilah
alam manusia, alam jin, alam binatang, alam
tumbuh-tumbuhan dan lain sebagainya.
Al-Alamin berasal dari kata ‘ilm dan
‘alam.
Kata ‘ilm menegaskan bahwa alam
semesta hanya akan dikuasai dan dikelola
oleh mereka yang memiliki ilmu. Allah swt
berfirman;
Sesungguhnya Kami telah menempatkan
kamu sekalian di muka bumi dan Kami
adakan bagimu di muka bumi (sumber)
penghidupan.
Amat
sedikitlah
kamu
bersyukur (QS. Al-A’raf:10)
Dia telah menciptakan kamu dari bumi
(tanah)
dan
menjadikan
kamu
pemakmurnya,
karena
itu
mohonlah
ampunan-Nya,
kemudian
bertobatlah
kepada-Nya, (QS. Hud; 61)
Demikian juga kata ‘alam menegaskan
bahwa alam semesta ini merupakan petunjuk
adanya yang menciptakannya, dan yang
menciptakannya adalah Dzat yang Maha
Mencipta serta Maha Memelihara-Nya.

54

Fir'aun bertanya: "Siapa Tuhan semesta
alam itu?", Musa menjawab: "Tuhan Pencipta
langit dan bumi dan apa-apa yang di antara
keduanya (Itulah Tuhanmu), jika kamu
sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya."
(QS. As-Syu’ara; 23-24)

(‫ن‬
ِ َ ‫عال‬
َ ْ ‫ب ال‬
ّ ‫)َر‬
َ ‫مي‬
Penggabungan kata rabb dan al-alamin
menegaskan bahwa semua alam yang telah
disebutkan
menerima
tarbiyah
(pemeliharaan) dari Tuhan yang Maha
Pemelihara.
Ringkasnya, untuk menterjemahkan
psinsip basmalah maka hendaklah melatih
khusnu adz-dzon pada diri terhadap segala
hal. Selanjutnya menyandarkan prasangka
baik tersebut kepada Allah swt sebagai Dzat
yang
Maha
mencipta,
pengatur
dan
pemelihara alam semesta.
Kesimpulan
1. Pujian akan lahir dari kekaguman,
kekaguman
akan
muncul
dari
prasangka yang baik dan prasangka
biak harus dilandasi keikhlasan karena
Allah swt.

55

2. Allah swt adalah Dzat yang Maha Mulia
dengan segala karunianya kepada
makhluk-Nya mulai dari menciptakan,
mengatur, memelihara dan pada
akhirnya memperlakukan hamba-Nya
dengan penuh keadilan.

ِ ‫ن الّر‬
ْ ‫الّر‬
َ ‫ح‬
ِ ‫حيم‬
ِ ‫م‬
Yang Maha Agung Kasih Sayang-Nya dan
Maha Kekal Kasih Sayang-Nya

‫م فضييله‬
ّ ‫ وعي‬،‫أي الذي وسعت رحمتييه كييل شيييء‬
‫خل ْييق‬
َ ‫ بمييا أنعييم علييى عبيياده ميين ال‬،‫جميييع النييام‬
‫ فهييو الييرب‬،‫والّرْزق والهداية ِإلى سعادة الييدارين‬
‫لحسان‬
ِ ‫الجليل عظيم الرحمة دائم ا‬
Ar-Rahman dan ar-Rahim merupakan
dua kata yang bersumber dari kata yang
sama. Keduanya berakar dari “rahmat” yang
berarti rahmat, kemurahan dan belas kasih.
Adapun kata ar-Rahman sama wazannya (timbangan katanya) dengan Ghodbaan,
yang berarti sangat marah atau murka.
Ungkapan ini menunjukan marah yang
berlebihan, akan tetapi kemarahan tersebut
terbatas karena dengan berjalannya waktu

56

baik sehari, dua hari atau beberapa hari
maka tensi kemarahan tersebut akan
menurun dan bahkan hilang. Demikianlah
dengan kasih sayang (ar-Rahman) yang
sangat besar dengan cakupan yang juga
sangat luas, namun waktunya terbatas
hanya di dunia saja.
Berbeda dengan ar-Rahim yang wazan-nya
(timbangan katanya) dengan syariif dan
kariim, kedua kata memiliki arti mulia dan
dermawan yang hanya bisa diraih jika
dilaksanakan secara kontinyu dan tidak
terbatas waktunya. Demikianlah ar-Rahim
merupakan kasih sayang Allah swt yang
tidak terbatas waktunya karena menembus
alam dunia dan akhirat.
Antara kata Ar-Rahman dan ar-Rahim samasama memiliki arti yang umum dan khusus,
tergantung dari sisi melihatnya.
Dasi sisi cakupan rahmat, maka arRahman lebih umum daripada ar-Rahim,
karena cakupan ar-Rahman meliputi seluruh
makhluk baik berakal maupun tidak, beriman
maupun tidak. Semua mendapatkan rahmat
dan kasih sayang Allah swt. Sedang arRahim
lebih
bersidat
khusus
karena
cakupannya hanya untuk orang-orang yang
beriman saja.

57

Dari sisi waktu, maka ar-Rahim lebih
umum daripada ar-Rahman, karena ar-Rahim
mencakup kehidupan dunia dan akhirat,
sementara
ar-Rahman
terbatas
hanya
sampai kehidupan dunia saja. Karenanya
jugalah seorang anak dilahirkan dari rahim
seorang ibu, yang menunjukkan kasih
sayang seorang ibu tidak terhingga dan
terbatas, berbeda dengan kasih sayang
seorang anak kepada orang tuanya.
Ayat ini dengan keumuman dan
kekhususannya
mengajarkan
kepada
manusia bahwa sudah semestinya manusia
memperlakukan seluruh makhluk dengan
penuh kasih sayang. Akan tetapi perlakuan
ini tidak menutup kemungkinan untuk
memberlakukan “zona istimewa” kepada
orang-orang istimewa. Dan keistimewaan
tersebut bukan dilihat dari asal-usul, harta,
pangkat, martabat dan kerabat. Akan tetapi
perlakuan khusus tersebut berlaku bagi
saudara-saudara sama akidah.
Kesimpulan
1. Perlakuan Allah swt terhadap alam
semesta
dengan
kasih
sayang
mengajarkan kepada kita untuk bersikap
yang sama terhadap alam khususnya
lingkungan.

58

2.

Allah swt mengajarkan manusia untuk
menggunakan targhib (motivasi) dan
tarhiib (ancaman) dalam dakwah. Pada
ayat ini Allah swt memberikan motivasiNya dengan penuh kasih sayang.

‫ن‬
ّ ‫وم ِ ال‬
ِ ِ ‫مال‬
َ
ْ َ‫ك ي‬
ِ ‫دي‬
Yang memiliki hari perhitungan

،‫أي هيييو سيييبحانه الماليييك للجيييزاء والحسييياب‬
‫المتصرف في يوم الدين تصّرف المالك في ملكه‬
َ
ُ ِ ‫مل‬
ْ َ ‫س ل ِن‬
ْ َ‫ك ن‬
َ ‫س‬
‫م شُر‬
َ ‫و‬
ْ ‫وال‬
ْ َ‫م ل ت‬
ٌ ‫فش‬
َ ‫ش شي ًْئا‬
ْ َ ‫}ي‬
ٍ ‫فش‬
ّ
.[19 :‫ه{ ]النفطار‬
ِ ‫ذ ل ِل‬
ٍ ِ ‫مئ‬
َ ‫و‬
ْ َ‫ي‬
Ahli Qurra membaca maaliki dengan bcaan:
Maaliki (maa: dibaca pangjang) dan Maliki
(ma: dibaca pendek).
Maaliki (maa: dibaca panjang) berarti zulmilki (yang memiliki). Hal ini berdasarkan
firmaan Allah swt;
(Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya
sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan
segala urusan pada hari itu dalam
kekuasaan Allah. (QS. Al-Infithor: 19)

59

Maliki (ma: dibaca pendek) berarti zul-mulki
(yang merajai). Allah swt berfirman:
Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?"
Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha
Mengalahkan. (QS. Al-Mu’min: 40)

‫ن‬
ّ ‫وم ِ ال‬
ْ َ‫ي‬
ِ ‫دي‬
Al-yaum bisa dipahami secara syar’i
adalah masa dari terbitnya fajar hingga
tenggelamnya
matahari.
Adapun
jika
dipahami secara adat maka berarti sejak
terbinya matahari hingga tenggelamnya
matahari. Dan yaum bisa diartikan sebagai
waktu secara umum baik siang maupun
malam, baik lama maupun sejenak.
Ad-din berarti kepercayaan, agama,
aliran, ketaatan, perhitungan, pembalasan
hari kiamat, syariat, ketentuan dan siasat.
Demikian juga memiliki akar kata yang sama
dengan (dain) hutang.
Penggunaan kata “ maliki yaum ad-din
bukan maliki ad-din menunjukkan bahwa din
dengan pengertian diatas (kepercayaan dan
pembalasanan, agama, aliran, kataatan,
perhitungan, syariat, ketentuan dan siasat
serta hutang) memiliki waktu berlakunya
sendiri-sendiri.

60

Adapun yang dimaksud pada ayat ini
adalah hari pembalasan yang berlaku dihari
akhirat.
Perbedaan penggunaan maaliki (ma;
dibaca panjang) dan maliki (ma; dibanca
pendek).
Maaliki; Yang Memiliki hari pembalasan
yang berlaku dihari akhirat. Kata “pemilik”
menegaskan bahwa Allah swt selain memiliki
juga menggunakan hak paksa pada miliknya,
sehingga pada saat itu semua tunduk pada
kehendak Sang Pemilik. Allah swt berfirman;
.... Dan segala urusan pada hari itu dalam
kekuasaan Allah. (QS. Al-Infithor: 19)
Berbeda dengan penggunaan kata
maliki an-naas (ma; dibaca pendek) (QS. AnNaas: 2), menegaskan bahwa Allah swt
adalah raja manusia11 di dunia. Dalam
kerajaan-Nya ini Allah tidak menggunakan
hak paksa-Nya, sehingga manusia bisa bebas
berbuat sekendaknya. Allah swt hanya
menyediakan
sarana
dan
memberikan
kebebasan
kepada
manusia
untuk
menggunakan atau tidak menggunakan
sarana tersebut. Dan ketika tiba dihari
pembalasan manusia baru mempertanggung
11

Pendapat lain, an-Nas adalah jenis/kelompok yang
dibebani kewajiban untuk beribadah yaitu manusia
dan jin

61

jawabkan kebebasannya dalam berbuat
tersebut. Allah swt berfirman: Sesungguhnya
Kami telah menunjukinya jalan yang lurus;
ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.
(QS. Al-Insan: 3).
Pemahaman tentang pembalasan hari
akhirat melahirkan persiapan diri menjelang
tibanya hari tersebut. Dan persiapan diri ini
menghadapi sesuatu yang jauh didepan
yaitu hari akhirat merupakan bentuk dari
sifat visioner dari seorang mukmin.
Jadi, hubungan ar-Rahim dengan
maaliki yaum ad-din merupakan rumusan
dari visi seorang mukmin yaitu meraih
rahmat Allah pada hari pembalasan kelak.
Kesimpulan
1.

2.

Setelah memberikan motivasi pada ayat
sebelumnya, pada ayat ini Allah swt
memberikan ancaman kepada hambaNya
yang
melanggar
dengan
mengedepankan keadilan.
Manusia diajarkan untuk memiliki tujuan
jauh kedepan (Visioner).

َ ‫ك ن َعْب ُد ُ وَإ ِّيا‬
َ ‫إ ِّيا‬
‫ن‬
ْ َ‫ك ن‬
ُ ‫ست َِعي‬

62

Hanya kepada-Mu kami tunduk dan hanya
kepada-Mu kami mengharap .

‫ ونخصييك بطلييب‬،‫صييك يييا اللييه بالعبييادة‬
ّ ‫أي نخ‬
ّ‫ لييك وحييدك نييذل‬،‫ فل نعبييد أحييدا ً سييواك‬،‫لعانيية‬
ِ ‫ا‬
‫ وإ ِي ّيياك ربنييا نسييتعين‬،‫ونخضييع ونسييتكين ونخشييع‬
‫ فِإنييك المسييتحق لكييل‬،‫علييى طاعتييك ومرضيياتك‬
ٌ ‫ ول يملك القدرة علييى عوننييا أحيد‬،‫ِإجلل وتعظيم‬
. ‫سواك‬

َ ‫إ ِّيا‬
ُ ‫ك ن َعْب ُد‬
Hanya kepada-Mu kami tunduk
Hakikat ibadah adalah mewujudkan
seorang hamba yang tunduk kepada
Tuhannya. Jika seseorang rajin ibadah
(mahdhoh) tetapi iapun tidak tunduk
menjalankan titah Tuhannya maka ia belum
.mencapai inti ibadah itu sendiri
Ketundukan seorang hamba adalah
tergambar dari sikapnya yang dengan
senang menjalankan peraturan-peraturan
dari sang Pencipta yang Maha Mengatur dan
.Maha Memelihara
Adapun

minimal

peraturan-peraturan
;tersebut adalah

63

Pertama,
kepasrahan
eksistensi
Muhammad

Ikrar
ketundukan
dan
dalam bentuk kesaksian atas
Allah
swt
dan
kenabian
saw Ikrar tersebut diwujudkan
.dengan ucapan syahadat

Kedua, Shalat yang menjadi sarana
komunikasi permanen antara seorang hamba
.dengan Tuhannya
Ketiga, Puasa yang menjadi sarana
ujian seorang hamba untuk naik kelas
sehingga
semakin
mendapatkan
kepercayaan dari Sang Pencipta yang Maha
.Mengatur dan Maha Memelihara
Keempat, Zakat yang menjadi tolok
ukur kepedulian hamba terhadap ciptaan
Sang Pencipta yang Maha Mengatur dan
.Maha Memelihara
Secara
dzohir,
tampaknya
mengeluarkan uang atau harta merupakan
pengurangan terhadap harta yang ada,
namun
pada
hakikatnya
itu
adalah
penambahan yang arif dari Allah Sang
Pencipta yang Maha Mengatur dan Maha
.Memelihara
Jika
seseorang
menginvestasikan
hartanya di sektor perbankkan, maka ia
hanya akan memperoleh beberapa persen

64

keuntunga jika bank-nya tidak terkena
likuidasi. Demikian juga jika harta di
investasikan disektor lain seperti rumah
makan, perkebunan dan lain sebagainya,
keuntungan
yang
diperoleh
hanyalah
beberapa persen saja, itupun jika usaha
.tersebut tidak mengalami kebangkrutan
Berbeda dengan menginvestasikan
harta kepada bank Allah swt yang Maha luas
dan tidak pernah mengalami kebangkrutan,
:Allah swt berfirman
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu
memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Kami akan menambah
(nikmat)
kepadamu,
dan
jika
kamu
mengingkari
(nikmat-Ku),
maka
sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS.
?(Ibrahim: 7
Penambahan harta tersebut bisa
berbentuk penambahan real dan bisa
berbentuk
keberkahan
nilai.
Adapun
penambahan harta secara real bisa dipahami
bahwa Allah swt telah menyiapkan rizki
tahap kedua dan selanjutnya yang akan
segera Allah swt gelontorkan, akan tetapi
menanti laporan lengkap seorang hamba
dalam bentuk “syukur”. Jika laporan tersebut
telah dilengkapi maka rizki tahap kedua
segera
digelontorkan
dan
ini
berarti

65

penambah rizki secara real. Akan tetapi
ketika laporan tersebut tidak dipenuhi maka
bisa jadi rizki tahap kedua ini akan ditunda
bahkan mungkin jadi dialihkan kepada yang
.lain
Adapun prosentase yang diperoleh
seorang hamba yang menginvestaskan harta
disisi Allah swt dengan bentuk zakat maupun
shadaqah akan berlipat ganda menjadi 700
;kali lipat bahkan lebih. Allahswt berfirman
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan
oleh)
orang-orang
yang
menafkahkan
[166]
hartanya di jalan Allah
adalah serupa
dengan sebutir benih yang menumbuhkan
tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji.
Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi
siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha
Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
((QS. Al-Baqarah: 261
dari satu juta harta yang dimiliki 2,5%
yang disedekahkan adalah 25.000,- pada
lahirnya satu juta yang dimiliki berkurang
menjadi 975.000,- akan tetapi hakikatnya
justru bertambah. Karena harta yang
berjumlah 25.000 itu sdang diinvestasikan
dengan prosentasi keuntungan mencapai
700 kali. Sehingga menjadi; (25.000x700);
17.500.000,- harta investasi + 975.000,-.
Maka
jumlahnya
adalah;
18.475.000,-.

66

Memang harta yang tersisa ditangan
hanyalah 975.000,- akan tetapi harta investsi
berlpat ganda yang dicairkan dalam bentuk
kesehatan, ketenangan, kebahagian dalam
keluarga, keselamatan dan segala bentuk
keberkahan hidup. Itu semua akan dibayar
mahal bahkan bisa jadi sangat mahal jika
.harta yang dimiliki tidak dibersihkan
Kelima,
menunaikan
ibadah
haji
sebagai
bentuk
ketundukan
sempurna
kepada Sang Pencipta yang Maha Pengatur
dan Maha Pemelihara. Ketundukkan itu
diwujudkan dengan meninggalkan seluruh
yang dicintai baik harta benda, keluarga dan
.jabatan
Lebih dari ini semua, penghambaan
sempurna seorang hamba kepada Tuhannya
adalah dengan menjadikan seluruh aktivitas
dirinya sebagai bentuk ketaatan dan
ketundukan kepada Allah swt. Dengan
demikian
ibadah
yang
dikerjakan
menghantarkan
seorang
hamba
untuk
menjadi “abd” yang senantiasa tunduk dan
.patuh kepada Tuhannya

َ ‫وَإ ِّيا‬
‫ن‬
ْ َ‫ك ن‬
ُ ‫ست َِعي‬
Dan

hanya

kepada-Mu

kami mengharap
.((pertolongan

67

Nasta’in berasal dari kata istianah
yang berarti memohon maunah agar bisa
menyempurnakan pekerjaan, karena ia
.sendiri tidak bisa melakukannya
:Allah swt berfirman
Dan
tolong-menolonglah
kamu
dalam
(mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan
jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa
dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu
kepada Allah, sesungguhnya Allah amat
.(berat siksa-Nya. (QS. al-Maidah: 2
Dari ayat ini bisa dipahami bahwa
takwa tidak akan terwujud tanpa adanya
tolong menolong, karena tolong menolong
itu
sendiri
merupakan
bagian
dari
ketakwaan, demikian juga larangan untuk
tolong menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran karena jangankan melakukan
dosa atau pelanggaran, menolongpun sudah
.termasuk dosa
Kata nasta’in menegaskan bahwa
mengaharap
pertolongan
mensyaratkan
kerjasama antara hamba yang memohon
dengan tempat memohon. Kerjasama dari
hamba yang memohon itu minimalnya
adalah mengutarakan permohonannya, atau
berupaya dan setelah itu memohon kepada
Allah swt agar upaya tersebut berhasil sesuai

68

dengan
yang
diharapkan.
Allah
swt
berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku
bertanya kepadamu tentang Aku, maka
(jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.
Aku mengabulkan permohonan orang yang
berdoa apabila ia memohon kepada-Ku,
maka hendaklah mereka itu memenuhi
(segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka
beriman kepada-Ku, agar mereka selalu
berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah:
(186
Peletakan ibadah lebih dahulu baru
memohon pertolongan disebabkan ibadah
adalah kewajiban seorang hamba, sedang
pertolongan
merupakan
haknya,
atau
dikarenakan ibadah merupakan perintis jalan
.turunnya pertolongan
Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in
mengajarkan ketundukan murni kepada Allah
dan pengharapan penuh juga hanya kepada.Nya
Renungkan, jika seorang pembantu
sepenuhnya tunduk kepada tuannya dan
mengerjakan seluruh perintahnya maka
adalah hal yang sangat tidak logis ketika
meminta gaji justru meminta kepada yang
.lain

69

Demikianlah, ketika seorang hamba
telah tunduk pada Allah swt, maka
merupakan kesalahan besar ketika ia
mengharap justru mengharap kepada yang
lain, seperti atasannya, batu, kayu dan lain
.sebagainya
Kesimpulan
1. Hakikat
ibadah
adalah
melahirkan
ketundukan.
2. Ketundukan hanya kepada Allah swt,
maka mengharap pertolonganpun hanya
kepada-Nya
3. Urutan
peletakan
“na’budu”
dan
“nastain” mengajarkan bahwa manusia
hendaknya
mendahulukan
kewajiban
baru menuntut hak.

َ ‫صَرا‬
‫م‬
ِ َ ‫ست‬
ْ ‫ا‬
ِ ‫ه‬
ْ ‫م‬
َ ‫قي‬
ُ ْ ‫ط ال‬
ّ ‫دَنا ال‬
Tunjuki kami jalan yang lurus

‫أي دلنا وأرشدنا يا رب ِإلى طريقك الحييق ودينييك‬
‫لسييلم الييذي بعثييت بييه‬
ِ ‫ وثبتنييا علييى ا‬،‫المسييتقيم‬
،‫ وأرسييلت بييه خيياتم المرسييلين‬،‫أنبياءك ورسييلك‬
‫واجعلنا ممن سلك طريق المقربين‬

70

‫دَنا‬
ْ ‫ا‬
ِ ‫ه‬
Hidayah adalah pertanda yang dapat
menghantarkan seseorang kepadahal yang
dituju.12
Ar-Raghib al-Ashfahani berkata bahwa;
hidayah adalh petunjuk secara halus.
Hidayah Allah swt kepada manusia memiliki
empat tingkatan.
Pertama, hidayah secara umum yang
diperuntukkan seluruh hamba mukallaf
(menerima
beban
kewajiban)
sebagai
konsekwensi amanah yang berbentuk akal.
Allah swt berfirman: “Musa berkata: “Tuhan
kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan
kepada
tiap-tiap
sesuatu
bentuk
kejadiannya,
kemudian
memberinya
petunjuk”. (QS. Thoha: 50)
Kedua, Hidayah yang menghantarkan
manusia tunduk kepada seruan para nabi.
Allah swt berfirman: “Kami telah menjadikan
12

Ahmad Mustafa al Maraghi, Tafsir al-Maraghi (terj),
Toha Putra: Semarang, 1992, jil. 1. Hal. 47

71

mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin
yang memberi petunjuk dengan perintah
Kami dan telah Kami wahyukan kepada,
mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan
sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya
kepada Kamilah mereka selalu menyembah.
(QS. Al-Anbiya: 73)
Ketiga, petunjuk khusus bagi mereka
yang
mendapat
hidayah.
Allah
swt
berfirman:
“Dan mereka berkata: "Hendaklah kamu
menjadi penganut agama Yahudi atau
Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk".
Katakanlah : "Tidak, melainkan (kami
mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan
bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang
musyrik". (QS. Al-Baqarah: 135)
“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada
mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan
amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik
pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik
kesudahannya”. (QS. Maryam: 76)
“Dan orang-orang yang berjihad untuk
(mencari keridhaan) Kami, benar- benar
akan Kami tunjukkan kepada mereka jalanjalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benarbenar beserta orang-orang yang berbuat
baik”. (QS. Al-Ankabut: 69)

72

Keempat, hidayat diakhirat
surga. Allah swt berfirman:

menuju

“Allah akan memberi pimpinan kepada
mereka dan memperbaiki keadaan mereka”.
(QS. Muhammad: 5)
“Dan Kami cabut segala macam dendam
yang berada di dalam dada mereka;
mengalir di bawah mereka sungai-sungai
dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah
yang telah menunjuki kami kepada (surga)
ini. Dan kami sekali-kali tidak akan
mendapat petunjuk kalau Allah tidak
memberi kami petunjuk. Sesungguhnya
telah datang rasul-rasul Tuhan kami,
membawa
kebenaran."
Dan
diserukan
kepada
mereka:
"ltulah
surga
yang
diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang
dahulu kamu kerjakan." (QS. Al-A’raf: 43)
Keempat hidayah ini diperoleh secara
bertahap, dan tidak bisa diperoleh secara
acak.13
Selanjutnya jika kita renungi secara
mendalam, kita akan sadar bahwa setiap
manusia telah mendapatkan hidayah Allah
swt dalam bentuk potensi utama yang
mendukung pelaksanaan tugasnya sebagai
13

Raghib al-Ashfahany, Mu’jam Mufradat al Qur’an,
Darl Fikr, Beirut, tt. Hal. 536

73

khalifah dialam semesta ini, keempat potensi
tersebut adalah;
1.
2.
3.
4.

Potensi
Potensi
Potensi
Potensi

naluriah
Pancaindra/Inderawi
Akal
wahyu

Dengan rahmat dan anugerah Allah
swt, seluruh manusia mendapatkan sarana
hidayah tersebut, hanya saja ada manusia
yang memanfaatkannya dengan baik dan
ada yang tidak memanfaatkannya.

َ ‫صَرا‬
‫م‬
ِ َ ‫ست‬
ْ ‫م‬
َ ‫قي‬
ُ ْ ‫ط ال‬
ّ ‫ال‬
Shirath; Jalan yang mudah ditempuh,
menelan
yang
melaluinya.14
Shirath
menggambarkan
jalan
yang
mudah
ditempuh karena luasnya jalan tersebut.
Mustaqim;
lurus,
tidak
bengkokbengkok.
Karenanya
istiqomah
berarti
berada dijalan yang jalurnya lurus.
Ada beberapa penafsiran tentang
shirath, yaitu; kitab Allah, agama Islam, jalan
menuju agama Allah, jalan surga, Rasulullah
saw, kebenaran dan keadilan. As-Syaukani
berkata bahwa semua arti ini saling
14

Ibid, hal. 235

74

medukung karena siapapun yang mengikuti
al-Qur’an, atau Islam atau Rasulullah saw
maka semuanya berada dalam kebenaran.15
Penggabungan
dua
kata
ini
memberikan arti jalan raya yang lurus, atau
bisa dipahami sebagai jalan tol. Yaitu jalan
yang boleh dilalui oleh para pengendara. Dan
semua pengendara ada jalurnya masingmasing, sehingga antara satu pengendara
dengan pengendara yang lainnya tidak boleh
saling salahkan. Karena sesungguhnya yang
salah adalah yang menyalahkan pengendara
yang lain.
Demikian juga jalan yang lurus ini
menggambarkan Islam yang memiliki jalurjalur kebenaran yang sangat luas, seperti
ibdah shalat, puasa, zakat, haji, dan ibadahibadah sosial lainnya. Ada yang mampu
melalui seluruh jalur tersebut, ada yang
hanya sebagian bahkan ada yang hanya bisa
melalui satu jalur.
Potongan ayat ini mengajarkan untuk
tidak mengklaim bahwa hanya ia dan
kelompoknya yang benar.
Secara utuh ayat ‘ihdina as-shirath almustaqim” memberikan pesan agar manusia
15

Asy-Syaukani, Fath al-Qadir, Jil. 1. Hal: 23-24

75

senantiasa
memohon
bimbangan
dan
tuntunan Allah swt agar senantiasa berada
pada jalur jalan yang lurus.
Adapun makna permohonan hidayah
pada ayat ini adalah memohon kemantapan
dan ketetapan iman. Karena sesungguhnya
yang mengucapkan ‘ihdina as-shirath almustaqim”
adalah
orang
yang
telah
mendapat hidayah sehingga perulangan
permohonan yang selalu dibaca baik dalam
shalat maupun diluar shalat berakana
permohonan agar senantiasa dalam hidayah.
Perhatikan oleh anda, boleh saja
sorang guru yang tengah menjadi guru
mengajukan
permohonan
perpanjangan
kontrak sebagai guru, hal ini dilakukan bukan
karena saat itu ia tidak menjadi guru, akan
tetapi karena ia ingin tetap menjadi guru
pada masa-masa selanjutnya. Demikian juga
dengan permohonan pada ayat ini dilakukan
agar senatiasa mendapat petunjuk pada
waktu-waktu selanjutnya.
Siapa Pemilik Hidayah?
Ada beberapa hal yang sering disebut
sebagai hidayah, akan tetapi perlu dipahami
bahwa hidayah dalam bentuk taufik dan
pertolongan hanyalah milik Allah swt.

76

Allah swt berfirman:
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka
mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah
yang memberi petunjuk (memberi taufiq)
siapa yang dikehendaki-Nya.... (QS. AlBaqarah: 272)
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat
memberi petunjuk kepada orang yang kamu
kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada
orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih
mengetahui
orang-orang
yang
mau
menerima petunjuk”. (QS. Al-Qashsash: 56)
Sementara hidayah dalam bentuk
petunjuk, tanda dan isyarat juga bisa dimiliki
oleh yang lain. Dalam hal ini Allah swt
meletakkanya pada Rasulullah, Al-Qur’an,
Ilmu, Hati dan Akal.
Rasulullah saw sebagai petunjuk bagi
umatnya. Allah swt berfirman: “ ... Dan
sesungguhnya kamu benar- benar memberi
petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. AsySyura’: 52)
Al-Qur’an
sebagai
petunjuk
bagi
manusia. Allah berfirman: “Kitab (Al Quran)
ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk
bagi mereka yang bertaqwa. (QS. AlBaqarah: 2)

77

Ilmu sebagai petunjuk bagi pemiliknya.
Allah swt berfirman: “Dan orang-orang yang
mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman
kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat,...
(QS. Ali Imran: 7)
Hati sebagai Petunjuk bagi dirnya.
Allah swt berfirman: “Hanyalah orang-orang
yang berakal saja yang dapat mengambil
pelajaran, (QS. Ar-Ra’du: 19)
Akal sebagai petunjuk bagi dirinya. Allah swt
berfirman:
“Sesungguhnya
dalam
penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya
malam dan siang, bahtera yang berlayar di
laut membawa apa yang berguna bagi
manusia, dan apa yang Allah turunkan dari
langit berupa air, lalu dengan air itu Dia
hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya
dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis
hewan, dan pengisaran angin dan awan yang
dikendalikan antara langit dan bumi;
sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan
dan kebesaran Allah) bagi kaum yang
memikirkan. (QS. Al Baqarah: 164)
Meskipun akal, ilmu dan hati adalah
termasuk bagian penentu dari perjalanan
manusia, akan tetapi hal itu bisa saja salah,
karenanya akal, hati dan ilmu senantiasa
membutuhkan tuntunan rasul dan wahyu

78

sebagai petunjuk, tanda dan isyarat yang
dijamin kebenarannya oleh Allah swt.

َ ‫ط ال ّذين أ‬
َ ‫عل‬
َ ‫صَرا‬
‫م‬
‫ي‬
‫ت‬
‫م‬
‫ع‬
‫ن‬
َ
ْ
ِ
ْ
َ
َ
َ ِ
ْ ‫ه‬
ْ
ِ
Jalan orang-orang
anugerahi nikmat

yang

telah

Engkau

‫ من‬،‫لنعام‬
ّ ‫أي طريق من تف‬
ِ ‫ضلت عليهم بالجود وا‬
‫ن‬
َ َ‫ و‬،‫ديقين والشهداء والصالحين‬
ّ ‫النبيّين والص‬
ُ ‫ح‬
َ ‫سيي‬
ً ‫أولئك رفيقا‬
Jalan
orang-orang
yang
telah
mendapatkan nikmat dari Allah swt. Allah
swt menjelaskan lebih lanjut maksud dari
ayat ini. Allah swt berfirman:
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan
Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama
dengan orang-orang yang dianugerahi
nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para
shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid,
dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah
teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa:
69).
Jika ayat ini digabungkan dengan
ungkapan selanjutnya, bisa dipahami bahwa
mereka yang mendapat nikmat Allah itu

79

adalah mereka yang telah disebutkan Allah
swt pada QS. An-Nisa: 69, dan mereka yang
terhindar dari murka dari Allah swt dan
kesesatan dari jalanya.
Ayat
ini
mengisyaratkan
cara
memperoleh nikmat dan bentuk-bentuk
nikmat Allah swt bermacam-macam, ini
semua bisa dipahami dari sejarah para nabi
dan kaum shaleh yang telah mendapatkan
nikmat Allah swt.
Meskipun proses memperoleh nikmat
dan bentuk nikmat itu berbeda, akan tetapi
satu hal prisip untuk menuju nikmat tersebut
adalah keimanan kepada Allah swt. Allah swt
berfirman:
“Sesungguhnya
Kami
telah
memberikan wahyu kepadamu sebagaimana
Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh
dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami
telah memberikan wahyu (pula) kepada
Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak
cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan
Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada
Daud”. (QS. An-Nisa: 163)

80

َ َ ‫ب‬
َ
‫ول‬
ْ ‫م‬
ُ ‫غ‬
ْ ‫هشششش‬
َ ْ ‫ر ال‬
ِ ‫ضششششو‬
َ ‫م‬
ِ ‫غْيشششش‬
ِ ْ ‫علي‬
‫ن‬
ّ ‫ال‬
َ ‫ضاّلي‬
Bukan jalan mereka yang dimurkai dan
bukan (jalan) mereka yang sesat.

‫أي ل تجعلنا يا اللييه ميين زمييرة أعييدائك الحييائدين‬
‫ السييالكين غييير المنهييج‬،‫عن الصييراط المسييتقيم‬
‫ من اليهود المغضوب عليهييم أو النصييارى‬،‫القويم‬
،‫ الييذين ضييلوا عيين شييريعتك القدسييية‬،‫الضييالين‬
.‫ اللهم آمين‬،‫فاستحقوا الغضب واللعنة البدية‬
Al-Maghduub;
berasal
dari
kata
“ghadab” yang berarti marah/murka. Almaghdhuub berarti mereka yang dimurkai.
Murka tertuju kepada seseorang yang
melakukan pelanggaran terhadap sesuatu
kebenaran setelah mengetahuinya.
Adapun yang dimaksudkan ayat ini
adalah
orang-orang
Yahudi,
mereka
mendapatkan murka Allah swt karena
mereka telah mengetahui ayat-ayat Allah
swt, namun mereka melanggarnya. Allah swt
berfirman:
“Alangkah buruknya (hasil perbuatan)
mereka yang menjual dirinya sendiri dengan
kekafiran kepada apa yang telah diturunkan

81

Allah,
karena
dengki
bahwa
Allah
menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang
dikehendaki-Nya diantara hamba-hambaNya. Karena itu mereka mendapat murka
sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk
orang-orang
kafir
siksaan
yang
menghinakan.” (QS. Al-Baqarah: 90)
Adh-Dholliin; berasal dari kata dholalah
yang berarti keluar dari jalan yang benar
baik sengaja maupun tidak.16 Para musaffir
menjelaskan yang dimaksud ayat ini adalah
orang-orang Nasrani.
Jadi adh-dholliin berarti orang-orang
Nasrani, yaitu mereka yang sesat, karena
tidak mengetahui kebenaran atau karena
tidak mengerti cara yang benar sehingga
keluar dari jalan yang benar.
Ketidak tahuan terhadap kebenaran ini
bisa disebabkan tidak diutusnya rasul atau
telah
diutus
rasul
namun
nilai-nilai
kebenaran yang dibawa rasul tersebut
kurang jelas bagi mereka.
Allah swt berfirman: ‘Katakanlah: "Hai
Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan
(melampaui batas) dengan cara tidak benar
dalam agamamu. Dan janganlah kamu
16

Ibid. Hal: 306

82

mengikuti hawa nafsu orang-orang yang
telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan
Muhammad) dan mereka telah menyesatkan
kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat
dari jalan yang lurus." (QS. Al-Maidah: 77).
Dari uraian diatas, bisa dipahami
bahwa
orang-orang
Yahudi
kehilangan
perbuatan sehingga dimurkai, dan orangorang Nasrani kehilangan ilmu sehingga
mereka sesat. Meskipun pada hakikatnya
kedua-duanya
adalah
sesat
sehingga
dimurkai Allah swt.
Kolerasi (munasabah) ayat-ayat pada
surat al-Fatihah
Setiap ayat dalam al-Qur’an pasti
memiliki
korelasi,
ada
yang
saling
menguatkan, menjelaskan, menegaskan,
memaparkan kebalikannya dan lain-lain.
Disamping itu ada yang telah di bahas oleh
para ulama dan juga ada yang belum
tersentuh.
Adapun korelasi yang bisa dipetik dari
surat al-Fatihah antara lain bahwa; segala
macam bentuk pujian merupakan hak mutlak
Allah swt. Pujian itu layak dihaturan kepada
Allah swt karena hanya Dia-lah yang
menciptakan alam semesta dan mengatur
serta memeliharanya.

83

Allah swt mengatur dan memelihara
alam semesta ini dengan penuh kasih
sayang baik secara umum maupun khusus
terhadap kaum muslim.
Sebagai bentuk ketelitian Allah swt
dalam mengatur dan memelihara alam
semesta
maka
Allah
swt
berlakukan
perhitungan
(hisab)
sebagai
bentuk
pertanggung jawaban atas segala hal yang
telah diperbuathamba-Nya.
Terhadap Dzat yang Maha Mencipta,
Mengatur dan Memelihara ini, maka sudah
semestinya manusia tunduk kepada-Nya
sebagai inti dari pengabdian dan juga hanya
mengharap kepada-Nya tidak kepada yang
lain.
Dan pengharapan terpenting yang
dibutuhkan sang hamba adalah petunjuk
agar senantiasa berada dijalur jalan yang
lurus yang menghantarkan kepada ridha
Allah swt. Kemudian jalan yang lurus ini
diperjelas dengan pengecualian bahwa jalan
tersebut bukan jalan yang telah dilalui oleh
mereka yang mendapat murka dan sesat.
(Amin) Ya Allah, inilah doa hamba, maka
senantiasa kabulkan.

84

.‫آمين‬
Amin.
Dusunnatkan mengucapkan amin setelah
selesai membaca al-Fatihah. Amin diucapkan
setelah berhenti dari mengucapkan hurup

(

‫)ن‬

sebagai hurup terakhir dari surat alFatihah,
hal
ini
dilakukan
untuk
membedakan al-Qur’an dengan yang bukan
al-Qur’an, karena ulama sepakat bahwa kata
“amin” bukanlah ayat al-Qur’an.
Dalam beberapa referensi tafsir kita
temukan riwayat yang menjelaskan bahwa;
“jibril
membimbing
Rasulullah
saw
mengucapkan amin ketika selesai membaca
surat al-Fatihah, dan Jibril berkata ia (amin)
bagaikan penutup kitab.17
Rasulullah saw bersabda; “orang-orang
Yahudi tidak pernah iri kepada kalian seperti
irinya mereka terhadap ucapan salam dan
(kekompakan mengucapkan) amin. (HR.
Ahmad, Ibnu Majah dan Baihaqi).
Siapa yang mengucapkan Amin

17

Lih. Tafsir Qurtuby, al-Kasyaf dan al-Baidhowi.

85

Ulama berbeda pendapat, Ibnu Umar, Ibnu
Zubair,
ats-Tsauri,
Atho’
dan
Syafi’i
berpendapat bahwa imam dan makmum
mengucapkan
amin
setelah
selesai
membaca
al-Fatihah.
Rasulullah
saw
bersabda: “ketika imam berkata wa laa adhdhollin, maka katakanlah amin, karena
sesunggunya Malaikat juga berkata amin
dan imam juga berkata amin, maka barang
siapa yang ucapan amin-nya bersamaan
dengan amin-nya malaikat niscaya diampuni
dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Ahmad)
Pendapat lain dikemukakan imam
Maliki bahwa yang mengucapkan amin
adalah makmum, sedang imam tidak
mengucapkan amin. Sementara Imam Abu
Hanifah dan Maliki dipendapat yang lain
bahwa sunat mengucapkan amin dengan
suara rendah dan tidak menjaharkannya
(tidak mengeraskannya).

Renungan
Secara bahasa shalat berarti doa. Karena
itulah shalat merupakan tempat dan waktu
doa yang sangat baik. Meskipun demikian
ada beberapa tempat dalam shalat yang
sangat mustajab diantaranya waktu sujud,
khususnya lagi sujud terkahir.

86

Disamping itu ada satu tempat yang
memiliki keistimewaan khusus untuk berdoa,
karena Allah swt langsung yang berjanji akan
memperkenankan doa hamba-Nya pada saat
itu yaitu sesaat setelah selesai membaca
surat al-Fatihah dan sebelum mengucapkan
Amin. Dalam hadits Qudsi-Nya Allah swt
berfirman; dari Abu hurairah ra, ia berkata;
aku mendengar Rasulullah saw bersabda:
Allah swt berfirman: “Aku bagi as-Shalat
(surat al-Fatihah) antara Aku dan hamba-Ku
menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku
akan Aku perkenankan permohonannya.
Ketika sang hamba berkata; “al-hamdu lillah
rabbil alamin” Allah berfirman; “hamba-Ku
telah bersyukur kepada-Ku, ketika sang
hamba berkata; “ar-Rahman ar-Rahiim”,
Allah swt berfirman; hamba-Ku telah memujiKu, ketika sang hamba berkata; “maliki
yaum ad-din” Allah swt berfirman; hamba-Ku
memuliakan-Ku, pada saat lain berfirman;
hamba-ku berpasrah diri kepada-Ku. Ketika
sang hamba berkata; “iyyaka na’budu wa
iyyaka nasta’in” Allah set berfirman; inilah
perbedaa-Ku dengan hamba-ku, dan akan
aku perkenankan seluruh yang dimohonka
oleh hamba-Ku. Ketika sang hamba berkata;
“ihdina
as-shirat
al-mustaqim,
shiratalladziina an’amta alaihim ghairi almaghdhubi alaihim wa laa adh-dholliin”,
Allah swt berfirman; ini untuk hamba-Ku dan

87

setiap permohonan hamba-Ku
perkenankan. (HR. Muslim).

akan

aku

Ungkapan Allah swt di akhir hadits
qudsi diatas menjelaskan bahwa setelah
selasai
membaca
surat
al-Fatihah
merupakan tempat yang sangat istimewa
untuk berdoa karena Allah swt terlah berjanji
untuk mengabulkan doa hamba-Nya pada
tempat tersebut.

Lafadz Amin
Mengenai lafadz
bentuk, yaitu;
Pertama,

amin

Aamiin

hanya

ada

(‫)آميييين‬,

dua

wazan

katanya adalah (‫)فاعيل‬, adapun artinya
adalah; “ya Allah perkenankan permohonan
hamba”.
Kedua, Amiin

(‫)امين‬

wazan katanya

adalah (‫)فعيل‬, adapun artinya adalah; “ya
Allah, senantiasa perkenankan permohonan
hamba”.
Wa maa taufiiqii illa
tawakkaltu wa ilahi uniib.

bi

Allah,

alaihi

88

Rabu,

Pukul:

10.07 Wib
17
Agustus
Sakati 2011
ga, 17 Ramadhan
2011

Surat al-‘Alaq
Sekilas Tentang Surat al-‘Alaq
Surat yang jiga dikenal dengan surat Iqra’ ini
termasuk Makiyah yang konsentrasinya
membahas tentang;
Pertama; turunnya
Muhammad saw
Kedua,
harta

wahyu

pembangkangan

kepada

manusia

nabi

karena

Ketiga; kisah kecelakaan Abu Jahal dan
larangannya kepada nabi Muhammad saw
untuk shalat

‫‪89‬‬

‫‪Surat ini di mulai dengan ajakan untuk‬‬
‫‪senantiasa membaca dan belajar dan ditutup‬‬
‫‪dengan shalat dan ibadah memberikan‬‬
‫‪pesan agar seimbang antara usaha dan doa,‬‬
‫‪perkataan dan pebuatan, teori dan praktek‬‬
‫‪dan ada keserasian antara pembukaan dan‬‬
‫‪penutupan.‬‬

‫لنسششان علششى العلششم‪ ،‬والتحششذير مششن‬
‫حث ا ِ‬
‫اتباع الهوى‬

‫ْ‬
‫سييم ِ َرّبيي َ‬
‫ق)‪َ (1‬‬
‫ذي َ‬
‫ك اّليي ِ‬
‫}اْقييَرأ ِبا ْ‬
‫خَلييقَ‬
‫خَليي َ‬
‫من عَل َق)‪(2‬اقْ يرأ ْ ورب ّي َ َ‬
‫ذي‬
‫م)‪(3‬ال ّي ِ‬
‫سا َ‬
‫ك الك ْيَر ُ‬
‫لن َ‬
‫َ ََ‬
‫ن ِ ْ‬
‫ا ِ‬
‫ٍ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ّ‬
‫َ‬
‫ْ‬
‫ّ‬
‫َ‬
‫ن‬
‫م ِبال َ‬
‫م)‪(5‬كل إ ِ ّ‬
‫سا َ‬
‫لن َ‬
‫م ي َعْلي ْ‬
‫ما لي ْ‬
‫ن َ‬
‫م)‪(4‬عَل َ‬
‫عَل َ‬
‫ما ِ‬
‫قل ِ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ْ‬
‫َ‬
‫ن إ ِلييى‬
‫س يت َغَْنى)‪(7‬إ ِ ّ‬
‫ن لي َطغَييى)‪(6‬أ ْ‬
‫سييا َ‬
‫ن ّرءآهُ ا ْ‬
‫لن َ‬
‫ا ِ‬
‫َرب ّ َ‬
‫جَعى)‪.{ (8‬‬
‫ك الّر ْ‬

‫سبب النزول‪:‬‬
‫نزول )‪:(6‬‬
‫} َ‬
‫ن‪ :{ ..‬أخييييرج أحمييييد‬
‫سشششا َ‬
‫كل إ ِ ّ‬
‫لن َ‬
‫نا ِ‬
‫ومسلم والنسائي وابن المنذر وغيرهم عن أبششي‬

‫‪90‬‬

‫جَهه‬
‫هريرة قال‪ :‬قال أبو جهل‪ :‬هل ُيع ّ‬
‫فر محمد ٌ و ْ‬
‫بين أظهركم ؟ فقيل‪ :‬نعم‪ ،‬فقال‪ :‬واللت والعزى‪،‬‬
‫ن وجهه‬
‫ن على رقبته‪ ،‬ولعفر ّ‬
‫لئن رأيته يفعل لطأ ّ‬
‫فييي الييتراب‪ ،‬فييأنزل اللييه‪َ } :‬‬
‫ن‬
‫سششا َ‬
‫كل إ ِ ّ‬
‫لن َ‬
‫نا ِ‬
‫غى{ اليات‪.‬‬
‫ل َي َطْ َ‬
‫ثم إنييه رأى رسييول اللييه صييلى اللييه عليييه‬
‫وسلم في الصلة‪ ،‬فنكص على عقبيه‪ ،‬فقالوا لييه‪:‬‬
‫مالك يا أبا الحكم ؟ فقال‪ :‬إن بيني وبينييه لخنييدقا ً‬
‫من نار‪ ،‬وهول ً شديدًا‪.‬‬

‫}ا ْ ْ‬
‫سشم ِ َرب ّش َ‬
‫ق{ هييذا‬
‫ذي َ‬
‫ك ال ّش ِ‬
‫قشَرأ ِبا ْ‬
‫خل َش َ‬
‫خطيياب ِإلهييي وجييه ِإلييى النييبي صييلى اللييه عليييه‬
‫وسلم وفيه دعوةٌ ِإلييى القييراءة والكتابيية والعلييم‪،‬‬
‫لسلم أي ِإقرأ يييا محمييد القييرآن‬
‫لنه شعار دين ا ِ‬
‫مبتدئا ً ومستعينا ً باسييم ربييك الجليييل‪ ،‬الييذي خلييق‬
‫سير‬
‫جميع المخلوقات‪ ،‬وأوجد جميع العوالم‪ ،‬ثيم ف ّ‬
‫ق‬
‫لنسييان فقييال } َ‬
‫خَلشش َ‬
‫الخلييق تفخيمييا ً لشييأن ا ِ‬
‫ن َ َ‬
‫لنسان البديع‬
‫ن ِ‬
‫سا َ‬
‫م ْ‬
‫لن َ‬
‫ق{ أي خلق هذا ا ِ‬
‫ا ِ‬
‫عل ٍ‬
‫الشكل‪ ،‬الذي هو أشرف المخلوقات من العلقة ‪-‬‬
‫ب الحييديث‬
‫وهي الدودة الصغيرة ‪ -‬وقد أثبت الطي ّ‬
‫لنسييان محتيوٍ علييى‬
‫أن المن ي ّ‬
‫ي الييذي خلييق منييه ا ِ‬
‫ت وديدان صغيرة ل ُترى بالعين‪ ،‬وِإنما ترى‬
‫حيوانا ٍ‬
‫بالمجهر الدقيق ‪ -‬الميكروسكوب ‪ -‬وأن لها رأس يا ً‬
‫وذنبيييًا‪ ،‬فتبيييارك الليييه أحسييين الخيييالقين قششال‬
‫لنسييان بالييذكر تشييريفا ً لييه‪،‬‬
‫القرطبي‪ :‬خيي ّ‬
‫صا ِ‬

‫‪91‬‬

‫ة قطعة من دم ٍ رطب‪ ،‬سييميت بييذلك لنهييا‬
‫والعلق ُ‬
‫ْ‬
‫وَرب ّش َ‬
‫تعلييق لرطوبتهييا بمييا تمييّر عليييه }ا ْ‬
‫ك‬
‫ق شَرأ َ‬
‫َ‬
‫م{ أي اقرأ يا محمد وربك العظيم الكريييم‪،‬‬
‫الك َْر ُ‬
‫الييذي ل يسيياويه ول يييدانيه كريييم‪ ،‬وقييد د ّ‬
‫ل علييى‬
‫ذي‬
‫كمال كرمه أنه عّلم العباد ما لييم يعلمييوا }ال ّ ِ‬
‫م ِبال ْ َ َ‬
‫م{ أي‬
‫م* َ‬
‫َ‬
‫سا َ‬
‫م يَ ْ‬
‫لن َ‬
‫عل َ ْ‬
‫ما ل َ ْ‬
‫ن َ‬
‫عل ّ َ‬
‫عل ّ َ‬
‫ما ِ‬
‫قل ِ‬
‫الذي عّلم الخ ّ‬
‫ط والكتابة بالقلم‪ ،‬وعّلم البشيير مييا‬
‫لم يكونوا يعرفونه من العلوم والمعارف‪ ،‬فنقلهييم‬
‫ميين ظلميية الجهييل ِإلييى نييور العلييم‪ ،‬فكمييا عل ّييم‬
‫سبحانه بواسطة الكتابيية بييالقلم‪ ،‬ف يِإنه يعلمييك بل‬
‫واسييطة وِإن كنييت أمي يا ً ل تقييرأ ول تكتييب قششال‬
‫القرطبي‪ :‬نّبه تعالى علييى فضييل علييم الكتابيية‪،‬‬
‫لما فيه من المنييافع العظيميية الييتي ل يحيييط بهييا‬
‫دونيت العليوم ول ُقييدت الحكيم‪ ،‬ول‬
‫ِإنسان‪ ،‬وميا ُ‬
‫ب اللييه‬
‫ضبطت أخبييار الولييين ومقييالتهم‪ ،‬ول كت ي ُ‬
‫المنّزلية ِإل بالكتابية‪ ،‬ولولهيا ميا اسيتقامت أميور‬
‫الدنيا والدين ‪ ..‬وهذه اليات الخمس هييي أول مييا‬
‫تنّزل من القرآن‪ ،‬كما ثبت في الصييحاح أن النييبي‬
‫صلى الله عليه وسلم نزل عليه الملك وهو يتعّبييد‬
‫بغار حراء‪ ،‬فقال‪ :‬اقرأ‪ ،‬فقال‪ :‬ما أنا بقارئ ‪ ..‬إلييخ‬
‫قال ابن كثير‪ :‬أول شيء نزل من القرآن هييذه‬
‫ن أّول رحمةٍ رحييم اللييه بهييا‬
‫اليات المباركات‪ ،‬وه ّ‬
‫العبيياد‪ ،‬وأول نعميية أنعييم اللييه بهييا عليهييم‪ ،‬وفيهييا‬
‫لنسييان ميين علقيية‪ ،‬وأن‬
‫التنبيه على ابتداء خلييق ا ِ‬
‫لنسييان مييا لييم يعلييم‪،‬‬
‫من كرمه تعييالى أن عل ّييم ا ِ‬
‫فشرفه وكّرمه بالعلم‪ ،‬وهو القدر الييذي امتيياز بييه‬
‫"آدم" على الملئكة ‪ ..‬ثم أخبر تعييالى عيين سييبب‬

‫‪92‬‬

‫لنسان وطغيييانه فقييال } َ‬
‫ن‬
‫سا َ‬
‫كل إ ِ ّ‬
‫لن َ‬
‫نا ِ‬
‫بطر ا ِ‬
‫ً‬
‫لنسان ليتجيياوز الحييد فييي‬
‫ل َي َطْ َ‬
‫غى{ أي حقا ِإن ا ِ‬
‫الطغيان‪ ،‬واتباع هوى النفس‪ ،‬ويستكبر علييى ربييه‬
‫َ‬
‫غَنى{ أي ميين أجييل أن‬
‫ست َ ْ‬
‫عز وجل }أ ْ‬
‫ن ّرءآهُ ا ْ‬
‫رأى نفسه غنيًا‪ ،‬وأصبح ذا ثروة ومال أشر وبطيير‪،‬‬
‫ن إ َِلششى َرّبشش َ‬
‫ك‬
‫ثيييم توعّيييده وتهيييدده بقيييوله }إ ِ ّ‬
‫ن‪-‬‬
‫لنسييا ُ‬
‫عششى{ أي إ ِ ّ‬
‫ج َ‬
‫الّر ْ‬
‫ن ِإلييى ربييك ‪ -‬أيهييا ا ِ‬
‫المرجعُ والمصييير فيجازيييك علييى أعمالييك‪ ،‬وفييي‬
‫لنسييان ميين عاقبيية‬
‫الييية تهديييد ٌ وتحييذير لهييذا ا ِ‬
‫الطغيييان‪ ،‬ثييم هييو عييام لكييل طيياٍغ متكييبر قششال‬
‫المفسرون‪ :‬نزلت هذه اليات ِإلى آخر السورة‬
‫في "أبي جهييل" بعييد نييزول صييدر السييورة بمييدة‬
‫طويلة‪ ،‬وذلك أن أبا جهل كان يطغى بكثرة ميياله‪،‬‬
‫ويبالغ في عداوة الرسول صلى الله عليييه وسييلم‬
‫والعبرةُ بعموم اللفظ ل بخصوص السبب‪.‬‬

‫فرعشششون هشششذه المشششة وتهديشششد الطغشششاة‬
‫ووعيدهم‬

‫َ َ‬
‫َ َ‬
‫دا إ ِ َ‬
‫ت‬
‫ت ال ّ ِ‬
‫ذي ي َن َْهيى)‪(9‬عَب ْي ً‬
‫صيّلى)‪(10‬أَرأي ْي َ‬
‫}أَرأي ْ َ‬
‫ذا َ‬
‫َ َ‬
‫ن َ‬
‫وى)‬
‫ميييَر ِبيييالت ّ ْ‬
‫ن عََليييى ال ُْهييي َ‬
‫كيييا َ‬
‫إِ ْ‬
‫دى)‪(11‬أوْ أ َ‬
‫ق َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫هّ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ّ‬
‫م ب ِأ ّ‬
‫ن ك َذ ّ َ‬
‫ت إِ ْ‬
‫ن الل َ‬
‫م ي َعْل ْ‬
‫ب وَت َوَلى)‪ (13‬أل ْ‬
‫‪(12‬أَرأي ْ َ‬

‫‪93‬‬

‫ي َيييَرى)‪َ (14‬‬
‫ة)‬
‫سييي َ‬
‫صيييي َ ِ‬
‫فَعا ِبالّنا ِ‬
‫م ي َن ْت َيييهِ ل َن َ ْ‬
‫ن ل َييي ْ‬
‫كل ل َئ ِ ْ‬
‫صييي َةٍ َ‬
‫ة)‪(16‬فَل َْيييد ْعُ َنييادَِيه)‪(17‬‬
‫كاذَِبييةٍ َ‬
‫خيياط ِئ َ ٍ‬
‫‪َ(15‬نا ِ‬
‫ة)‪َ (18‬‬
‫رب{‪:‬‬
‫سن َد ْعُ الّزَبان ِي َ َ‬
‫س ُ‬
‫ه َوا ْ‬
‫َ‬
‫كل ل ت ُط ِعْ ُ‬
‫جد ْ ِواقْت َ ِ‬

‫سبب النزول‪:‬‬
‫نزول الية )‪:(9‬‬
‫َ َ‬
‫هى{‪ :‬أخييرج ابيين جرييير‬
‫ت ال ّ ِ‬
‫}أَرأي ْ َ‬
‫ذي ي َن ْ َ‬
‫عن ابن عباس قال‪ :‬كان رسول الله صلى الله‬
‫عليه وسلم يصلي‪ ،‬فجاءه أبو جهل‪ ،‬فنهاه‪ ،‬فييأنزل‬
‫َ َ‬
‫دا إ ِ َ‬
‫صشّلى{‬
‫هششى* َ‬
‫ت ال ّ ِ‬
‫عب ْش ً‬
‫الله‪} :‬أَرأي ْ َ‬
‫ذي ي َن ْ َ‬
‫ذا َ‬
‫إلى قوله‪َ } :‬‬
‫ة{‪.‬‬
‫ة َ‬
‫خاطِئ َ ٍ‬
‫كاِذب َ ٍ‬

‫سبب نزول الية‪:(17) :‬‬
‫} َ‬
‫ع َناِدَيه{‪ :‬أخييرج أحمييد والترمييذي‬
‫فل ْي َدْ ُ‬
‫والنسائي وابن جرير عن ابن عباس قال‪ :‬كان‬
‫النبي صلى الله عليييه وسييلم يصييلي‪ ،‬فجيياءه أبييو‬
‫جهل‪ ،‬فقال‪ :‬ألم أنهييك عيين هييذا ؟ فزجييره النييبي‬
‫صلى الله عليه وسلم‪ ،‬فقال أبو جهل‪ :‬إنك لتعلييم‬
‫ما بها نادٍ أكثر مني‪ ،‬فأنزل الله‪َ } :‬‬
‫ع َناِدَيه*‬
‫فل ْي َدْ ُ‬
‫ة{ وهييو حسيين صييحيح كمييا قييال‬
‫سن َدْ ُ‬
‫ع الّزَبان ِي َ َ‬
‫َ‬
‫الترمذي‪.‬‬

‫‪94‬‬

‫َ َ‬
‫دا إ ِ َ‬
‫صششّلى{‬
‫هى* َ‬
‫ت ال ّ ِ‬
‫عْبشش ً‬
‫}أَرأي ْ َ‬
‫ذي ي َن ْ َ‬
‫ذا َ‬
‫ب من حال ذلك الشقي الفاجر أي أخبرني يا‬
‫تعجي ٌ‬
‫محمد عن حال ذلك المجييرم الثيييم‪ ،‬الييذي ينهييى‬
‫عبدا ً من عباد الله عن الصلة‪ ،‬ما أسييخف عقلييه‪،‬‬
‫وما أشنع فعله !! قال أبو السعود‪ :‬هييذه الييية‬
‫ح وتشنيعٌ لحال الطاغي وتعجيب منها‪ ،‬وِإيذان‬
‫تقبي ٌ‬
‫بأنهييا ميين الشييناعة والغرابيية بحيييث يقضييى منهييا‬
‫العجييب‪ ،‬وقييد أجمييع المفسييرون علييى أن العبييد‬
‫المصلي هو محمييد صييلى اللييه عليييه وسييلم‪ ،‬وأن‬
‫الذي نهاه هو اللعين "أبييو جهييل" حيييث قييال‪ :‬لئن‬
‫َ َ‬
‫ت‬
‫ت محمدا ً يصلي لطييأن علييى عنقييه }أَرأي ْش َ‬
‫رأي ُ‬
‫ن َ‬
‫دى{ أي أخبرني ِإن كييان هييذا‬
‫ن َ‬
‫كا َ‬
‫إِ ْ‬
‫ه َ‬
‫عَلى ال ْ ُ‬
‫العبد المصلي ‪ -‬وهو النبي صلى الله عليه وسييلم‬
‫ الييذي تنهيياه عيين الصييلة صييالحا ً مهتييديًا‪ ،‬علييى‬‫الطريقة المستقيمة في قوله وفعلييه!! }أ َ َ‬
‫مشَر‬
‫وأ َ‬
‫ْ‬
‫ِبالت ّ ْ‬
‫لخلص والتوحيييد‪،‬‬
‫ق َ‬
‫وى{ أي أو كان آمييرا ً بييا ِ‬
‫داعيا ً ِإلى الهدى والرشاد‪ ،‬كيف تزجييره وتنهيياه !!‬
‫فما أبلهك أيها الغبي الذي تنهي من هذه أوصافه‪:‬‬
‫عبييد ٌ للييه مطيييعٌ مهتييد ٍ منيييب‪ ،‬داع ِإلييى الهييدى‬
‫والرشاد ؟! وما أعجب هييذا ؟ ! ثييم عيياد لخطيياب‬
‫َ َ‬
‫ن‬
‫ت إِ ْ‬
‫الرسول صلى الله عليه وسلم فقال }أَرأي ْ َ‬
‫وّلى{ أي أخييبرني يييا محمييد ِإن ك ي ّ‬
‫ذب‬
‫ك َذّ َ‬
‫وت َش َ‬
‫ب َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ن‬
‫م ب ِ شأ ّ‬
‫م يَ ْ‬
‫علشش ْ‬
‫ليمييان }أل ْ‬
‫بالقرآن‪ ،‬وأعرض عن ا ِ‬
‫ه ي ََرى{ أي ألييم يعلييم ذلييك الشييقي أن اللييه‬
‫الل ّ َ‬
‫م ّ‬
‫طلع علييى أحييواله‪ ،‬مراقييب لفعيياله‪ ،‬وسيييجازيه‬

‫‪95‬‬

‫عليها !! ويله ما أجهله وأغباه ؟! ثم ردعه وزجييره‬
‫فقال } َ‬
‫ه{ أي ليرتدع هذا الفاجر‬
‫م ي َن ْت َ ِ‬
‫كل ل َئ ِ ْ‬
‫ن لَ ْ‬
‫"أبو جهل" عن غيه وضييلله‪ ،‬فييوالله لئن لييم ينتييه‬
‫ما هو عليه مين الكفير‬
‫عن أذى الرسول‪ ،‬ويكف ع ّ‬
‫سشش َ‬
‫ة{ أي لنأخيييذنه‬
‫صششي َ ِ‬
‫عا ِبالّنا ِ‬
‫ف َ‬
‫والضيييلل }ل َن َ ْ‬
‫بناصيته ‪ -‬مقدم شعر الرأس ‪ -‬فلنجرنه ِإلييى النييار‬
‫ة َ‬
‫ة‬
‫كاِذَبشش ٍ‬
‫صششي َ ٍ‬
‫ف وشييدة ونقييذفه فيهييا }َنا ِ‬
‫بعنيي ٍ‬
‫ب فيياجٌر‪،‬‬
‫َ‬
‫خاطِئ َ ٍ‬
‫ة{ أي صاحب هييذه الناصييية كيياذ ٌ‬
‫لجرام قال ابشن جششزي‪ :‬ووصييفها‬
‫كثير الذنوب وا ِ‬
‫بالكذب والخطيئة مجيياٌز‪ ،‬والكيياذب الخيياطئ فييي‬
‫الحقيقيية صيياحبها‪ ،‬والخيياطئ الييذي يفعييل الييذنب‬
‫معتمييدًا‪ ،‬والمخطييئ الييذي يفعلييه بييدون قصييد‬
‫} َ‬
‫ع َناِدَيه{ أي فليدع أهل نيياديه وليستنصيير‬
‫فل ْي َدْ ُ‬
‫ة{ أي سندعوا خزنة جهنييم‪،‬‬
‫سن َدْ ُ‬
‫ع الّزَبان ِي َ َ‬
‫بهم } َ‬
‫الملئكة الغلظ الشداد‪ ،‬روي أن أبا جهل مّر على‬
‫النييبي صييلى اللييه عليييه وسييلم وهييو يصييلي عنييد‬
‫المقام فقال‪ :‬ألم أنهك عن هذا يا محمد ! فأغلظ‬
‫له رسول الله صلى الله عليه وسلم القول‪ ،‬فقال‬
‫أبو جهل‪ :‬بأي شيء تهددني يا محمد ! واللييه ِإنييي‬
‫لكثر أهل الوادي هذا ناديييا ً فييأنزل اللييه } َ‬
‫ع‬
‫فل ْي َدْ ُ‬
‫ة{ قال ابن عباس ‪ :‬لييو‬
‫سن َدْ ُ‬
‫ع الّزَبان ِي َ َ‬
‫َناِدَيه * َ‬
‫َ‬
‫دعا ناديه لخذته ملئكة العذاب من سيياعته }كل‬
‫ه{ أي ليرتييدع هييذا الفيياجر‪ ،‬ول تطعييه يييا‬
‫ل ت ُطِ ْ‬
‫ع ُ‬
‫جدْ‬
‫سشش ُ‬
‫وا ْ‬
‫محمد فيما دعاك ِإليه من ترك الصلة } َ‬
‫وا ْ‬
‫ب{ أي وواظييب علييى سييجودك وصييلتك‪،‬‬
‫ر ْ‬
‫َ‬
‫قت َ ِ‬
‫وتقّرب بذلك ِإلى ربك وفييي الحييديث "أقييرب مييا‬
‫يكون العبد من ربه وهو ساجد"‪.‬‬

‫‪96‬‬

‫سورة ال ْ َ‬
‫در‬
‫ق ْ‬

‫بدء نزول القرآن‪ ،‬وفضائل ليلة القدر‬

‫سوَرة‬
‫ي ال ّ‬
‫َبين ي َدَ ّ‬

‫‪97‬‬

‫* سورة ال ْ َ‬
‫در مكيية‪ ،‬وقييد تحيدثت عين‬
‫ق ْ‬
‫بدء نزول القرآن العظيم‪ ،‬وعن فضل ليليية القييدر‬
‫على سائر اليام والشيهور‪ ،‬لميا فيهيا مين النيوار‬
‫والتجليييات القدسييية‪ ،‬والنفحييات الربانييية‪ ،‬الييتي‬
‫يفيضها البيياري جييل وعل علييى عبيياده المييؤمنين‪،‬‬
‫تكريما ً لنييزول القييرآن المييبين‪ ،‬كمييا تحييدثت عيين‬
‫نزول الملئكة البرار حتى طلوع الفجيير‪ ،‬فيييا لهييا‬
‫من ليلةٍ عظيمة القدر‪ ،‬هي خير عند الله من ألف‬
‫شهر !!‬

‫بدء نزول القرآن‪ ،‬وفضائل ليلة القدر‬

‫ما أ َد َْرا َ‬
‫مييا‬
‫}إ ِّنا َأنَزل َْناهُ ِفي ل َي ْل َةِ ال ْ َ‬
‫ك َ‬
‫قد ِْر)‪(1‬وَ َ‬
‫خي ير م ي َ‬
‫ف َ‬
‫ر)‬
‫ة ال ْ َ‬
‫ة ال ْ َ‬
‫ق يد ِْر)‪(2‬ل َي ْل َي ُ‬
‫ل َي ْل َي ُ‬
‫ن أل ْي ِ‬
‫ق يد ْرِ َ ْ ٌ ِ ْ‬
‫ش يه ْ ٍ‬
‫ن ك ُي ّ‬
‫‪(3‬ت َن َّز ُ‬
‫ل‬
‫ملئ ِك َ ُ‬
‫م ِ‬
‫ة َوالّرو ُ‬
‫ن َرب ّهِي ْ‬
‫ل ال ْ َ‬
‫مي ْ‬
‫ح ِفيَها ب ِإ ِذ ْ ِ‬
‫َ‬
‫ر)‪{(5‬‬
‫مط ْل َِع ال ْ َ‬
‫ف ْ‬
‫ي َ‬
‫سل ٌ‬
‫ر)‪َ (4‬‬
‫حّتى َ‬
‫أ ْ‬
‫م هِ َ‬
‫ج ِ‬
‫م ٍ‬

‫سبب النزول‪:‬‬
‫نزول الية )‪:(1‬‬

‫‪98‬‬

‫أخرج ابن أبي حاتم والواحدي عن مجاهييد‪:‬‬
‫أن رسول الله صلى اللييه عليييه وسييلم ذكيير رجل ً‬
‫من بني إسييرائيل لبييس السييلح فييي سييبيل اللييه‬
‫ألف شهر‪ ،‬فعجييب المسييلمون ميين ذلييك‪ ،‬فييأنزل‬
‫ة ال ْ َ‬
‫مششا‬
‫اللييه‪} :‬إ ِن ّششا َأنَزل ْن َششاهُ ِ‬
‫فششي ل َي ْل َش ِ‬
‫و َ‬
‫ر* َ‬
‫ق شد ْ ِ‬
‫أ َدَْرا َ‬
‫ة ال ْ َ‬
‫ة ال ْ َ‬
‫ن‬
‫ر َ‬
‫ر* ل َي ْل َ ُ‬
‫ما ل َي ْل َ ُ‬
‫خْيششٌر ِ‬
‫مشش ْ‬
‫ك َ‬
‫قد ْ ِ‬
‫قد ْ ِ‬
‫َ‬
‫ف َ‬
‫ر*{ التي لبس ذلك الرجل السلح فيها‬
‫أل ْ ِ‬
‫ش ْ‬
‫ه ٍ‬
‫في سبيل الله‪.‬‬

‫نزول الية )‪:(3‬‬
‫أخرج ابن جرير عن مجاهد قال‪ :‬كان في‬
‫بني إسرائيل رجييل يقييوم الليييل حييتى يصييبح‪ ،‬ثييم‬
‫يجاهد العدو بالنهار حتى يمسي‪ ،‬فعمل ذلك ألييف‬
‫ة ال ْ َ‬
‫ة ال ْ َ‬
‫ر‬
‫ر* ل َي ْل َش ُ‬
‫شهر‪ ،‬فأنزل الله‪} :‬ل َي ْل َش ُ‬
‫ق شد ْ ِ‬
‫ق شد ْ ِ‬
‫َ‬
‫ف َ‬
‫ر{ عملها ذلك الرجل‪.‬‬
‫َ‬
‫خي ٌْر ِ‬
‫ن أل ْ ِ‬
‫ش ْ‬
‫م ْ‬
‫ه ٍ‬
‫ة ال ْ َ‬
‫ر{ أي نحيين‬
‫}إ ِّنا َأنَزل َْناهُ ِ‬
‫في ل َي ْل َ ِ‬
‫ق شد ْ ِ‬
‫أنزلنا هذا القرآن المعجز في ليلة القدر والشرف‬
‫قال المفسرون‪ :‬سييميت ليليية القييدر لعظمهييا‬
‫ه‬
‫وقدرها وشييرفها‪ ،‬والمييراد ُ ب يِإنزال القييرآن ِإنزالي ُ‬
‫من اللوح المحفوظ ِإلى السماء الدنيا‪ ،‬ثم نزل به‬
‫جبريل ِإلى الرض في مييدة ثلث وعشييرين سيينة‬
‫ة‬
‫كما قال ابن عباس‪ :‬أنييزل اللييه القييرآن جمل ي ً‬

‫‪99‬‬

‫واحدة من اللوح المحفيوظ ِإليى بييت العيزة مين‬
‫السماء الدنيا‪ ،‬ثم نزل مفصل ً بحسب الوقائع فييي‬
‫ثلث وعشرين سنة على رسول اللييه صييلى اللييه‬
‫مششا أ َدَْرا َ‬
‫ة ال ْ َ‬
‫ر{‬
‫مششا ل َي ْل َ ش ُ‬
‫ك َ‬
‫و َ‬
‫عليييه وسييلم } َ‬
‫ق شد ْ ِ‬
‫م لمرها أي وما أعلمك يا محمد مييا‬
‫م وتفخي ٌ‬
‫تعظي ٌ‬
‫ة القدر والشرف ؟ قال الخازن‪ :‬وهييذا علييى‬
‫ليل ُ‬
‫سبيل التعظيم لها والتشييويق لخبرهييا كييأنه قييال‪:‬‬
‫أي شيء يبلغ علمك بقدرها ومبلييغ فضييلها ؟! ثييم‬
‫ة‬
‫ذكر فضلها ميين ثلثيية أوجييه فقييال تعييالى }ل َي ْل َ ُ‬
‫َ‬
‫ال ْ َ‬
‫ف َ‬
‫ر{ أي ليلة القدر فييي‬
‫ر َ‬
‫خي ٌْر ِ‬
‫ن أل ْ ِ‬
‫ش ْ‬
‫م ْ‬
‫ه ٍ‬
‫قدْ ِ‬
‫الشرف والفضل خيٌر من ألف شهر‪ ،‬لما اختصييت‬
‫به ميين شييرف ِإنييزال القييرآن الكريييم فيهييا قال‬
‫المفسرون‪ :‬العمل الصالح في ليلة القييدر خي يٌر‬
‫من العمل في ألف شهر ليييس فيهييا ليليية القييدر‪،‬‬
‫وقد روي أن رجل ً لبس السلح وجاهد فييي سييبيل‬
‫الله ألف شهر‪ ،‬فعجييب رسييول اللييه والمسييلمون‬
‫ميين ذلييك‪ ،‬وتمنييى رسييول اللييه صييلى اللييه عليييه‬
‫وسييلم ُ‬
‫لمتييه فقييال يييا رب‪ :‬جعلييت ُأمييتي أقصيير‬
‫المم أعمارًا‪ ،‬وأقلها أعمال ً !! فأعطيياه اللييه ليليية‬
‫ة القدر خيٌر لك ولمتك من ألييف‬
‫القدر‪ ،‬وقال‪ :‬ليل ُ‬
‫شهر‪ ،‬جاهد فيها ذلك الرجل قال مجاهد‪ :‬علمها‬
‫وصييامها وقيامهيا خييٌر مين أليف شيهر‪ ،‬هيذا هييو‬
‫الوجه الول ميين فضييلها ثييم قييال تعييالى }ت َن َّز ُ‬
‫ل‬
‫ن ُ‬
‫كشش ّ‬
‫ل‬
‫ملئ ِك َ ُ‬
‫ح ِ‬
‫م ِ‬
‫والّرو ُ‬
‫مشش ْ‬
‫في َ‬
‫ه ْ‬
‫ال ْ َ‬
‫ها ب ِإ ِذْ ِ‬
‫ة َ‬
‫ن َرب ّ ِ‬
‫َ‬
‫ة وجبريييل ِإلييى الرض فييي‬
‫ر{ أي تنزل الملئك ُ‬
‫أ ْ‬
‫م ٍ‬
‫دره اللييه‬
‫تلك الليلة بأمر ربهم من أجل كل أمرٍ ق ي ّ‬
‫وقضاه لتلك السنة ِإلى السيينة القابليية‪ ،‬وهييذا هييو‬

‫‪100‬‬

‫اليوجه الثيياني مين فضيلها‪ ،‬واليوجه الثييالث قييوله‬
‫حت ّششى َ ْ َ‬
‫ع ال ْ َ‬
‫ر{ أي‬
‫م ِ‬
‫ف ْ‬
‫ي َ‬
‫سل ٌ‬
‫تعالى } َ‬
‫ه َ‬
‫جش ِ‬
‫مطل ش ِ‬
‫ّ‬
‫هي سلم من أول يومها ِإلى طلوع الفجر‪ ،‬تس يلم‬
‫در الله فيها إل‬
‫فيها الملئكة على المؤمنين‪ ،‬ول ُيق ّ‬
‫لنسان‪.‬‬
‫الخير والسلمة لبني ا ِ‬

‫سورة ال ْب َي َّنة‬

‫تكذيب اليهود والنصارى ببعثته صلى اللششه‬
‫عليه وسلم‬

‫‪101‬‬

‫مششآل كششل مششن الشششرار والبششرار فششي دار‬
‫الجزاء‬

‫سوَرة‬
‫ي ال ّ‬
‫َبين ي َدَ ْ‬

‫م‬
‫* سورة ال ْب َي ّن َششة وتسييمى }سششورة ل َش ْ‬
‫ن { مدنية‪ ،‬وهي تعالج القضايا التية‪:‬‬
‫ي َك ُ ِ‬
‫‪ -1‬موقف أهل الكتيياب ميين رسييالة محمييد‬
‫صلى الله عليه وسلم‪.‬‬
‫‪ -2‬موضوع ِإخلص العبادة لله ج ّ‬
‫ل وعل‪.‬‬
‫‪ -3‬مصير كل من السييعداء والشييقياء فييي‬
‫الخرة‪.‬‬

‫* ابتييدأت السييورة الكريميية بالحييديث عيين‬
‫"اليهود والنصارى" ومييوقفهم ميين دعييوة رسييول‬
‫الله صلى الله عليه وسلم‪ ،‬بعد أن بان لهم الح يقّ‬
‫وسطعت أنواره‪ ،‬وبعييد أن عرفييوا أوصيياف النييبي‬
‫المبعييوث آخيير الزمييان‪ ،‬وكييانوا ينتظييرون بعثتييه‬

‫‪102‬‬

‫ومجيئه‪ ،‬فلما بعث خاتم الرسييل كييذبوا برسييالته‪،‬‬
‫وكفروا وعاندوا‪.‬‬

‫* ثم تحدثت السورة عيين عنصيير هييام ميين‬
‫ليمان‪ ،‬وهو "ِإخلص العبيادة" لليه العليي‬
‫عناصر ا ِ‬
‫الكبير‪ ،‬الذي أمر به جمييع أهييل الدييان‪ ،‬وِإفييراده‬
‫جي ّ‬
‫ل وعل بالييذكر‪ ،‬والقصييد‪ ،‬والتييوجه فييي جميييع‬
‫القوال والفعال والعمال‪ ،‬خالصة لوجهه الكريم‪.‬‬

‫لجرام ‪ -‬شّر‬
‫* كما تحدثت عن مصير أهل ا ِ‬
‫البرييية ‪ -‬ميين كفييرة أهييل الكتيياب والمشييركين‪،‬‬
‫وخلودهم في نار الجحيم‪ ،‬وعن مصييير المييؤمنين‪،‬‬
‫أصحاب المنازل العالية ‪ -‬خييير البرييية ‪ -‬وخلييودهم‬
‫فييي جنييات النعيييم‪ ،‬مييع النييبّيين‪ ،‬والصييديقين‪،‬‬
‫والشهداء‪ ،‬والصالحين‪ ،‬جزاء طيياعتهم وِإخلصييهم‬
‫لرب العالمين‪.‬‬

‫تكذيب اليهود والنصارى ببعثته صلى اللششه‬
‫عليه وسلم‬

‫‪103‬‬

‫ف يروا م ي َ‬
‫ب‬
‫ن ال ّي ِ‬
‫}ل َ ْ‬
‫ل ال ْك ِت َييا ِ‬
‫ن أه ْ ي ِ‬
‫ِ ْ‬
‫ن كَ َ ْ ُ‬
‫ذي َ‬
‫م ي َك ُي ِ‬
‫ف ّ‬
‫سييو ٌ‬
‫م ْ‬
‫ل‬
‫من َ‬
‫م ال ْب َي ّن َي ُ‬
‫شرِ ِ‬
‫ن َ‬
‫ة)‪َ(1‬ر ُ‬
‫حّتى ت َأت ِي َهُ ْ‬
‫ن ُ‬
‫َوال ْ ُ‬
‫كي َ‬
‫كي َ‬
‫ة)‬
‫ح ً‬
‫مي ٌ‬
‫مط َهَّر ً‬
‫ِ‬
‫ة)‪ِ(2‬فيهَييا ك ُت ُي ٌ‬
‫ص ُ‬
‫ب قَي ّ َ‬
‫فا ُ‬
‫ن الل ّهِ ي َت ُْلوا ُ‬
‫م َ‬
‫ُ‬
‫ْ‬
‫ّ‬
‫مييا‬
‫ما ت َ َ‬
‫ب ِإل ِ‬
‫فّرقَ ال ِ‬
‫ن أوت ُييوا الك ِت َييا َ‬
‫ن ب َعْ يدِ َ‬
‫‪(3‬وَ َ‬
‫مي ْ‬
‫ذي َ‬
‫ُ‬
‫ه‬
‫م ال ْب َي َّنيي ُ‬
‫مييا أ ِ‬
‫مييُروا ِإل ل ِي َعُْبيي ُ‬
‫َ‬
‫دوا الّليي َ‬
‫ة)‪(4‬وَ َ‬
‫جيياءت ْهُ ْ‬
‫َ‬
‫صييلةَ وَي ُؤْت ُييوا‬
‫ال‬
‫يوا‬
‫ي‬
‫م‬
‫قي‬
‫ي‬
‫و‬
‫َ‬
‫ء‬
‫يا‬
‫ي‬
‫َ‬
‫ف‬
‫ن‬
‫ح‬
‫ن‬
‫دي‬
‫ال‬
‫ه‬
‫ل‬
‫ن‬
‫صي‬
‫ل‬
‫خ‬
‫ْ‬
‫ّ َ ُ َ‬
‫َُِ ُ‬
‫م ِ ِ َ ُ‬
‫ُ‬
‫ّ‬
‫ْ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ة)‪{ (5‬‬
‫م‬
‫ي‬
‫َ‬
‫ق‬
‫ل‬
‫ا‬
‫ن‬
‫دي‬
‫ك‬
‫ل‬
‫ذ‬
‫و‬
‫ة‬
‫كا‬
‫ز‬
‫ال‬
‫ّ َ َ ِ‬
‫ّ َ ِ‬
‫ِ ُ‬

‫م يَ ُ‬
‫ن كَ َ‬
‫فشُروا{ أي لييم يكيين‬
‫ن اّلش ِ‬
‫ذي َ‬
‫}ل َ ْ‬
‫كش ِ‬
‫أهل الكفر والجحود‪ ،‬الذين كفروا بالله وبرسييوله‪،‬‬
‫ب‬
‫ن أَ ْ‬
‫ثييييم بّينهييييم بقييييوله } ِ‬
‫مششش ْ‬
‫ل ال ْك َِتشششا ِ‬
‫هششش ِ‬
‫م ْ‬
‫ن{ أي ميين اليهييود والنصييارى أهييل‬
‫ر ِ‬
‫كي َ‬
‫وال ْ ُ‬
‫َ‬
‫شش ِ‬
‫الكتاب‪ ،‬ومن المشركين عبييدة الوثييان والصيينام‬
‫ْ‬
‫ف ّ‬
‫من َ‬
‫ة{ أي منفصييلين‬
‫م ال ْب َي ّن َش ُ‬
‫ن َ‬
‫حّتى ت َأت ِي َ ُ‬
‫كي َ‬
‫ه ْ‬
‫} ُ‬
‫ومنتهين عما هييم عليييه ميين الكفيير‪ ،‬حييتى تييأتيهم‬
‫الحجة الواضحة‪ ،‬وهي بعثة محمد صلى الله عليييه‬
‫سو ٌ‬
‫ه{‬
‫ن الل ّ ش ِ‬
‫ل ِ‬
‫مش َ‬
‫سرها بقوله }َر ُ‬
‫وسلم ولهذا ف ّ‬
‫أي هذه البّينة هي رسالة محمد صييلى اللييه عليييه‬
‫وسييلم المرسييل ميين عنييد اللييه تعييالى }ي َت ْل ُششوا‬
‫ح ً‬
‫ة{ أي يقرأ عليهييم صييحفا ً منّزهيية‬
‫هَر ً‬
‫ص ُ‬
‫مطَ ّ‬
‫فا ُ‬
‫ُ‬
‫عن الباطل عن ظهر قلب‪ ،‬لن النييبي صييلى اللييه‬
‫ي ل يقيييرأ ول يكتيييب قشششال‬
‫علييييه وسيييلم أمييي ٌ‬
‫القرطششبي‪ :‬أي يقييرأ مييا تتضييمن الصييحف ميين‬
‫المكتوب‪ ،‬يتلوها عن ظهر قلبه ل عن كتياب‪ ،‬لنيه‬
‫عليه السلم كان أميا ً ل يكتب ول يقرأ قال ابششن‬

‫‪104‬‬

‫ة{ من الزور‪ ،‬والشك‪ ،‬والنفاق‪،‬‬
‫هَر ً‬
‫مطَ ّ‬
‫عباس‪ُ } :‬‬
‫والضييللة وقششال قتششادة‪ :‬مطهّييرة عيين الباطييل‬
‫ب َ‬
‫ة{ أي فيها أحكام قيمة ل عوج‬
‫م ٌ‬
‫} ِ‬
‫ها ك ُت ُ ٌ‬
‫في َ‬
‫قي ّ َ‬
‫فيهييا‪ ،‬تييبّين الحييق ميين الباطييل قال الصششاوي‪:‬‬
‫المييراد بالصييحف القراطيييس الييتي يكتييب فيهييا‬
‫القرآن‪ ،‬والمراد بييالكتب الحكييام المكتوبيية فيهييا‪،‬‬
‫ب َ‬
‫ة{ لن القرآن جمييع‬
‫م ٌ‬
‫وِإنما قال } ِ‬
‫ها ك ُت ُ ٌ‬
‫في َ‬
‫قي ّ َ‬
‫ثمرة كتب الله المتقدمة ‪ ..‬ثم ذكر تعالى من لييم‬
‫ما ت َ َ‬
‫ن‬
‫فّرقَ ال ّ ِ‬
‫ذي َ‬
‫و َ‬
‫يؤمن من أهل الكتاب فقال } َ‬
‫ُ‬
‫ْ‬
‫ة{‬
‫م الب َي ّن َ ُ‬
‫ع ِ‬
‫ب ِإل ِ‬
‫ما َ‬
‫ن بَ ْ‬
‫أوُتوا ال ْك َِتا َ‬
‫جاءت ْ ُ‬
‫م ْ‬
‫ه ْ‬
‫د َ‬
‫أي وما اختلف اليهود والنصارى فييي شييأن محمييد‬
‫صلى اللييه عليييه وسييلم‪ِ ،‬إل ميين بعييد مييا جيياءتهم‬
‫الحجة الواضحة‪ ،‬الدالة على صدق رسييالته‪ ،‬وأنييه‬
‫الرسييول الموعييود بييه فييي كتبهييم قششال أبششو‬
‫ة لغاية التشنيع علييى أهييل‬
‫السعود‪ :‬والية مسوق ٌ‬
‫الكتاب خاصة‪ ،‬وتغليظ جناياتهم‪ ،‬ببيان أن تفرقهم‬
‫لييم يكيين ِإل بعييد وضييوح الحييق‪ ،‬وتييبّين الحييال‪،‬‬
‫مششا‬
‫و َ‬
‫وانقطيياع العييذار بالكلييية‪ ،‬كقييوله تعييالى } َ‬
‫ُ‬
‫مشا‬
‫ا ْ‬
‫خت َل َ َ‬
‫عش ِ‬
‫ب ِإل ِ‬
‫ف ال ّ ِ‬
‫ن بَ ْ‬
‫ن أوُتوا ال ْك َِتا َ‬
‫مش ْ‬
‫ذي َ‬
‫د َ‬
‫م{ وقال ابن جزي‪ :‬أي ما اختلفوا‬
‫م ال ْ ِ‬
‫جاء ُ‬
‫َ‬
‫عل ْ ُ‬
‫ه ْ‬
‫في نبوة سيدنا محمد صييلى اللييه عليييه وسييلم ِإل‬
‫ص أهل الكتاب‬
‫من بعد ما علموا أنه حق‪ ،‬وِإنما خ ّ‬
‫هنا بالذكر‪ ،‬لنهم كانوا يعلمييون صييحة نبييوته‪ ،‬بمييا‬
‫ُ‬
‫م شُروا ِإل‬
‫ما أ ِ‬
‫و َ‬
‫يجدون فييي كتبهييم ميين ذكييره } َ‬
‫ن{ أي والحييال‬
‫م ْ‬
‫خل ِ ِ‬
‫ه ال ّ‬
‫عب ُ ُ‬
‫ل ِي َ ْ‬
‫دي َ‬
‫صي َ‬
‫ن لَ ُ‬
‫ه ُ‬
‫دوا الل ّ َ‬
‫ُ‬
‫لنجيل ِإل بييأن يعبييدوا‬
‫أنهم ما أمروا في التوراة وا ِ‬
‫الله وحده‪ ،‬مخلصين العبادة لله ج ّ‬
‫ل وعل‪ ،‬ولكنهم‬

‫‪105‬‬

‫دلوا‪ ،‬فعبدوا أحبارهم ورهبانهم كما قييال‬
‫حّرفوا وب ّ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫خ ُ‬
‫م أْرَباب ًششا‬
‫تعييالى }ات ّ َ‬
‫وُر ْ‬
‫حب َششاَر ُ‬
‫ذوا أ ْ‬
‫هب َششان َ ُ‬
‫ه ْ‬
‫ه ْ‬
‫م َ‬
‫ْ‬
‫ّ‬
‫مششا‬
‫م ِ‬
‫ن الل ش ِ‬
‫ِ‬
‫سششي َ‬
‫ن ُ‬
‫ح اب ْ ش َ‬
‫مش ْ‬
‫و َ‬
‫مْري َ ش َ‬
‫ن َ‬
‫وال َ‬
‫م َ‬
‫ه َ‬
‫دو ِ‬
‫ُ‬
‫َ‬
‫حن َ َ‬
‫فششاءَ{ أي‬
‫وا ِ‬
‫أ ِ‬
‫دا{ } ُ‬
‫ح ً‬
‫عب ُ ُ‬
‫مُروا ِإل ل ِي َ ْ‬
‫دوا إ ِل ً‬
‫ها َ‬
‫لسييلم‪،‬‬
‫مييائلين عيين الديييان كلهييا ِإلييى دييين ا ِ‬
‫مسييتقيمين علييى دييين ِإبراهيييم‪ ،‬دييين الحنيفييية‬
‫السيييمحة‪ ،‬اليييذي جييياء بيييه خييياتم المرسيييلين‬
‫ؤُتوا الّز َ‬
‫وي ُ ْ‬
‫ة{ أي وُأمييروا‬
‫كا َ‬
‫وي ُ ِ‬
‫قي ُ‬
‫موا ال ّ‬
‫صلةَ َ‬
‫} َ‬
‫بأن يؤدوا الصلة على الوجه الكمل‪ ،‬فييي أوقاتهييا‬
‫بشييروطها وخشييوعها وآدابهييا‪ ،‬ويعطييوا الزكيياة‬
‫لمسييتحقيها عيين طيييب نفييس قششال الصششاوي‪:‬‬
‫وذَل ِ َ‬
‫ن‬
‫ك ِديش ُ‬
‫وخ ي ّ‬
‫ص الصييلة والزكيياة لشييرفهما } َ‬
‫ال ْ َ‬
‫ة{ أي وذليييك الميييذكور مييين العبيييادة‬
‫مششش ِ‬
‫قي ّ َ‬
‫لخلص‪ ،‬وِإقام الصييلة وِإيتيياء الزكيياة‪ ،‬هييو دييين‬
‫وا ِ‬
‫لسيييلم ‪ -‬فلمييياذا ل‬
‫الملييية المسيييتقيمة ‪ -‬ديييين ا ِ‬
‫يدخلون فيه ؟‬

‫مششآل كششل مششن الشششرار والبششرار فششي دار‬
‫الجزاء‬

‫ب‬
‫ن كَ َ‬
‫ن أَ ْ‬
‫فيييُروا ِ‬
‫ن اّلييي ِ‬
‫}إ ِ ّ‬
‫ل ال ْك َِتيييا ِ‬
‫هييي ِ‬
‫مييي ْ‬
‫ذي َ‬
‫ُ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫م ْ‬
‫م‬
‫م َ‬
‫خال ِ ِ‬
‫شرِ ِ‬
‫ن ِفي َنارِ َ‬
‫ن ِفيهَييا أوْلئ ِك هُي ْ‬
‫جهَن ّ َ‬
‫َوال ْ ُ‬
‫دي َ‬
‫كي َ‬
‫َ‬
‫ت‬
‫حا ِ‬
‫من ُييوا وَعَ ِ‬
‫ن ال ّي ِ‬
‫شّر ال ْب َرِي ّ ِ‬
‫صييال ِ َ‬
‫ة)‪(6‬إ ِ ّ‬
‫نآ َ‬
‫مل ُييوا ال ّ‬
‫ذي َ‬
‫ُ‬
‫ْ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ت‬
‫م َ‬
‫م ِ‬
‫خي ُْر الب َرِي ّ ِ‬
‫م َ‬
‫ة)‪َ (7‬‬
‫جن ّييا ُ‬
‫عن ْد َ َرب ّهِي ْ‬
‫جَزاؤُهُ ْ‬
‫أوْلئ ِك هُ ْ‬

‫‪106‬‬

‫ن ِفيهَييا‬
‫حت ِهَييا ال َن ْهَيياُر َ‬
‫خال ِي ِ‬
‫ري ِ‬
‫ن تَ ْ‬
‫ن تَ ْ‬
‫دي َ‬
‫مي ْ‬
‫عَد ْ ٍ‬
‫ج ِ‬
‫ّ‬
‫ه ذ َل ِ َ‬
‫ي‬
‫ن َ‬
‫خ ِ‬
‫َر ِ‬
‫م وََر ُ‬
‫ك لِ َ‬
‫ضوا عَن ْ ُ‬
‫ه عَن ْهُ ْ‬
‫ي الل ُ‬
‫ش َ‬
‫م ْ‬
‫ض َ‬
‫‪{(8‬‬

‫َ‬
‫دا‬
‫أب َي ً‬
‫ه)‬
‫َرب ّ ُ‬

‫ثييم ذكيير تعييالى مييآل كييل ميين البييرار‬
‫ن‬
‫والشييرار‪ ،‬فييي دار الجييزاء والقييرار فقييال }إ ِ ّ‬
‫ن كَ َ‬
‫م ْ‬
‫ن‬
‫ن أَ ْ‬
‫ر ِ‬
‫فُروا ِ‬
‫ال ّ ِ‬
‫كي َ‬
‫م ْ‬
‫ذي َ‬
‫وال ْ ُ‬
‫ل ال ْك َِتا ِ‬
‫ب َ‬
‫ه ِ‬
‫شش ِ‬
‫ن الييذين‬
‫م َ‬
‫ن ِ‬
‫ِ‬
‫خال ِش ِ‬
‫هششا{ أي إ ِ ّ‬
‫ر َ‬
‫في َ‬
‫دي َ‬
‫ج َ‬
‫هن ّش َ‬
‫في َنا ِ‬
‫كذبوا بييالقرآن وبنبييوة محمييد عليييه السييلم‪ ،‬ميين‬
‫اليهود والنصارى وعبييدة الوثييان‪ ،‬هييؤلء جميعهييم‬
‫يوم القيامة فييي نييار جهنييم‪ ،‬ميياكثين فيهييا أبييدا ً ل‬
‫ُ‬
‫ول َئ ِ َ‬
‫م َ‬
‫شششّر‬
‫ك ُ‬
‫هشش ْ‬
‫يخرجييون منهييا ول يموتييون }أ ْ‬
‫لطلق‬
‫ري ّ ِ‬
‫ة{ أي أولئك هم شيير الخلييق علييى ا ِ‬
‫ال ْب َ ِ‬
‫قال المام الفخر الرازي‪ :‬فِإن قيل‪ :‬لم ذكيير‬
‫}ك َ َ‬
‫م ْ‬
‫ن{ باسيييم‬
‫ر ِ‬
‫كي َ‬
‫وال ْ ُ‬
‫فُروا{ بلفظ الفعل‪َ } ،‬‬
‫ش ِ‬
‫الفاعل؟ فالجواب تنبيها ً على أن أهيل الكتياب ميا‬
‫كانوا كافرين من أول المر‪ ،‬لنهم كانوا مصييدقين‬
‫لنجيل‪ ،‬ومقرييين بمبعييث محمييد صييلى‬
‫بالتوراة وا ِ‬
‫الله عليه وسلم ثم ِإنهم كفييروا بييذلك بعييد مبعثييه‬
‫عليه السلم‪ ،‬بخلف المشركين فِإنهم ولدوا على‬
‫عبييادة الوثييان‪ ،‬وِإنكييار الحشيير والقياميية‪ ،‬وقييوله‬
‫ُ‬
‫ول َئ ِ َ‬
‫م َ‬
‫لفادة الحصر أي شٌر‬
‫ك ُ‬
‫ري ّ ِ‬
‫ه ْ‬
‫}أ ْ‬
‫ة{ ِ‬
‫شّر ال ْب َ ِ‬
‫من السراق لنهيم سيرقوا مين كتياب الليه صيفة‬
‫محمد صييلى اللييه عليييه وسييلم وشيّر ميين قطيياع‬
‫الطريق‪ ،‬لنهم قطعوا طريق الحق علييى الخلييق‪،‬‬

‫‪107‬‬

‫ولما ذكر مقر الشقياء‪ ،‬ذكر بعييده مقيير السييعداء‬
‫ت{‬
‫و َ‬
‫حا ِ‬
‫ع ِ‬
‫ن ال ّ ِ‬
‫فقال }إ ِ ّ‬
‫صششال ِ َ‬
‫ذي َ‬
‫نآ َ‬
‫مُلوا ال ّ‬
‫مُنوا َ‬
‫ليمان وصييالح‬
‫أي ِإن‬
‫المؤمنين الذين جمعوا بين ا ِ‬
‫ُ‬
‫ْ‬
‫َ‬
‫ولئ ِ َ‬
‫ة{ أي هييم خييير‬
‫م َ‬
‫ك ُ‬
‫ري ّ ِ‬
‫ه ْ‬
‫العمال }أ ْ‬
‫خي ُْر الب َ ِ‬
‫جَزا ُ‬
‫د‬
‫م ِ‬
‫ؤ ُ‬
‫عْنشش َ‬
‫الخليقة التي خلقها الله وبرأهييا } َ‬
‫ه ْ‬
‫م{ أي ثوابهم في الخرة على ما قدموا ميين‬
‫ه ْ‬
‫َرب ّ ِ‬
‫ري‬
‫ت َ‬
‫ن تَ ْ‬
‫ليمان والعمال الصالحة } َ‬
‫جّنا ُ‬
‫عدْ ٍ‬
‫جشش ِ‬
‫ا ِ‬
‫َ‬
‫هاُر{ أي جنات ِإقامة تجييري ميين‬
‫ِ‬
‫ن تَ ْ‬
‫ها الن ْ َ‬
‫حت ِ َ‬
‫م ْ‬
‫َ‬
‫دا{‬
‫تحت قصورها أنهار الجنة } َ‬
‫ن ِ‬
‫خال ِ ِ‬
‫ها أب َش ً‬
‫في َ‬
‫دي َ‬
‫أي ماكثين فيها أبدًا‪ ،‬ل يموتون ول يخرجون منهييا‪،‬‬
‫م‬
‫ه َ‬
‫وهم في نعيم دائم ل ينقطع }َر ِ‬
‫عن ْ ُ‬
‫ه ْ‬
‫ي الل ّ ُ‬
‫ض َ‬
‫ه{ أي رضي الله عنهم بما قدموا في‬
‫ضوا َ‬
‫وَر ُ‬
‫عن ْ ُ‬
‫َ‬
‫الدنيا من الطاعات وفعل الصالحات‪ ،‬ورضوا عنييه‬
‫بما أعطاهم من الخيرات والكرامات }ذَل ِ َ‬
‫ن‬
‫م ْ‬
‫ك لِ َ‬
‫ه{ أي ذلييك الجييزاء والثييواب الحسيين‬
‫َ‬
‫خ ِ‬
‫ي َرب ّ ُ‬
‫ش َ‬
‫لمن خاف الله واتقاه‪ ،‬وانتهى عن معصية موله‪.‬‬

‫ن{‪.‬‬
‫ف َتْعَلُمو َ‬
‫سْو َ‬
‫*ُثّم َكل َ‬

‫‪108‬‬

‫\‬

‫سبب النزول‪:‬‬
‫نزول الية )‪:(1‬‬
‫أخرج البزار وابن أبي حيياتم والحيياكم عششن‬
‫ابن عباس قييال‪ :‬بعييث رسييول اللييه صييلى اللييه‬
‫عليه وسلم خي ً‬
‫ل‪ ،‬ولبثت شهرًا‪ ،‬ل يأتيه منهييا خييبر‪،‬‬
‫حا{‪.‬‬
‫ت َ‬
‫عاِدَيا ِ‬
‫ضب ْ ً‬
‫وال ْ َ‬
‫فنزلت ‪َ } :‬‬

‫‪109‬‬

‫ُ‬
‫م بخيل المجاهدين‬
‫ت َ‬
‫عاِدَيا ِ‬
‫ضب ْ ً‬
‫وال ْ َ‬
‫حا{ أي أقس ُ‬
‫} َ‬
‫المسرعات في الكّر على العدو‪ُ ،‬يسييمع لنفاسييها‬
‫ح قال ابن عبششاس‪ :‬الخيييل‬
‫ت جهير هو الضب ُ‬
‫صو ٌ‬
‫ُ‬
‫ُ‬
‫ح فييذلك ضييبحها قال أبششو‬
‫ح‪ ،‬أ ْ‬
‫ِإذا عدت قييالت‪ :‬أ ْ‬
‫السعود‪ :‬أقسم سبحانه بخيل الغزاة الييتي تعييدو‬
‫نحو العدو وتضبح وهو صوت أنفاسها عنييد عييدوها‬
‫ت َ‬
‫} َ‬
‫حا{ أي فالخيل شرر النار ميين‬
‫رَيا ِ‬
‫قدْ ً‬
‫فال ْ ُ‬
‫مو ِ‬
‫الرض بوقييع حوافرهييا علييى الحجييارة ميين شييدة‬
‫الجري } َ‬
‫حا{ أي فالخيييل الييتي‬
‫م ِ‬
‫غيَرا ِ‬
‫ص شب ْ ً‬
‫فال ْ ُ‬
‫ت ُ‬
‫تغير على العدو وقت الصباح قبل طلوع الشمس‬
‫قال اللوسي‪ :‬هييذا هييو المعتيياد ُ فييي الغييارات‪،‬‬
‫كانوا يعدون ليل ً لئل يشعر بهييم العييدو‪ ،‬ويهجمييون‬
‫صباحا ً ليروا مييا يييأتون ومييا يييذرون } َ َ‬
‫ه‬
‫ن ب ِش ِ‬
‫فأث َْر َ‬
‫نَ ْ‬
‫عا{ أي فأثييارت الخيييل الغبييار الكييثيف لشييدة‬
‫ق ً‬
‫ْ‬
‫العدو‪ ،‬في الموضع الذي أغرن به } َ‬
‫ه‬
‫ن بِ ِ‬
‫سط َ‬
‫و َ‬
‫ف َ‬
‫عا{ أي فتوسطن به جموع العداء‪ ،‬وأصييبحن‬
‫م ً‬
‫َ‬
‫ج ْ‬
‫وسط المعركة ‪ ..‬أقسم سبحانه وتعييالى بأقسييام‬
‫ثلثة على أمييور ثلثية‪ ،‬تعظيميا ً للمقسيم بيه وهيو‬
‫خيل المجاهدين في سبيل الله‪ ،‬التي تسرع علييى‬
‫أعداء اللييه‪ ،‬وتقييدح النييار بحوافرهييا‪ ،‬وُتغييير علييى‬
‫العداء وقت الصباح‪ ،‬فتثير الغبار‪ ،‬وتتوسط العدو‬
‫فتصيبه بالرعب والفزع‪ ،‬أمييا المييور الييتي أقسييم‬
‫د{ أي‬
‫ن ل َِرب ّ ِ‬
‫سا َ‬
‫عليها فهي قوله }إ ِ ّ‬
‫ه ل َك َُنو ٌ‬
‫لن َ‬
‫نا ِ‬
‫لنسان لجاحد لنعم ربه‪ ،‬شديد الكفران قال‬
‫ِإن ا ِ‬
‫ابن عباس‪ :‬جاحد ٌ لنعييم اللييه وقال الحسششن‪:‬‬
‫عَلششى ذَِلشش َ‬
‫ك‬
‫ه َ‬
‫وإ ِن ّ ُ‬
‫يذكر المصائب وينسى النعم } َ‬
‫لَ َ‬
‫لنسان لشاهد علييى كنييوده‪ ،‬ل‬
‫هي ٌ‬
‫د{ أي وِإن ا ِ‬
‫ش ِ‬

‫‪110‬‬

‫ب‬
‫حش ّ‬
‫ه لِ ُ‬
‫وإ ِن ّ ُ‬
‫يقدر أن يجحده لظهور أثييره عليييه } َ‬
‫ر لَ َ‬
‫د{ أي وِإنييه لشييديد الحييب للمييال‬
‫ال ْ َ‬
‫شش ِ‬
‫دي ٌ‬
‫خْيش ِ‬
‫ص على جمعه‪ ،‬وهو لحب عبييادة اللييه وشييكر‬
‫حري ٌ‬
‫دد عليييه‬
‫نعمه ضييعي ٌ‬
‫ف متقيياعس ‪ ..‬ثييم بعييد أن عي ّ‬
‫َ‬
‫وفه فقييال }أ َ‬
‫م إِ َ‬
‫عث ِشَر‬
‫ذا ب ُ ْ‬
‫فل ي َ ْ‬
‫عل َش ُ‬
‫قبائح أفعاله خ ّ‬
‫في ال ْ ُ‬
‫ر{ أي أفل يعلييم هييذا الجاهييل ِإذا‬
‫ما ِ‬
‫َ‬
‫قُبشو ِ‬
‫ُ‬
‫ُأثير ما في القبيور وأخييرج ميا فيهيا مين المييوات‬
‫ص َ‬
‫ر{ أي وجمع وأبرز مييا‬
‫ما ِ‬
‫ص ُ‬
‫و ُ‬
‫ل َ‬
‫في ال ّ‬
‫ح ّ‬
‫} َ‬
‫دو ِ‬
‫فييي الصييدور ميين السييرار والخفايييا الييتي كييانوا‬
‫ن‬
‫ذ لَ َ‬
‫مئ ِ ٍ‬
‫يسرونها }إ ِ ّ‬
‫خِبيٌر{ أي إ ِ ّ‬
‫ن َرب ّ ُ‬
‫و َ‬
‫ه ْ‬
‫ه ْ‬
‫م يَ ْ‬
‫م بِ ِ‬
‫ربهم لعالم بجميع مييا كييانوا يصيينعون‪ ،‬ومجييازيهم‬
‫عليها أوفر الجزاء‪ ،‬وِإنما خص علمه بهم في ذلييك‬
‫اليييوم ‪ -‬يييوم القياميية ‪ -‬لنييه يييوم الجييزاء‪ ،‬بقصييد‬
‫الوعيد والتهديد‪ ،‬فهو تعييالى عييالم بهييم فييي ذلييك‬
‫اليوم وغيره‪.‬‬

‫‪111‬‬

‫سورة ال ْ َ‬
‫عة‬
‫ر َ‬
‫قا ِ‬

‫أهوال القيامة‪ ،‬وحال الناس مع الميزان‬

‫سوَرة‬
‫ي ال ّ‬
‫َبين ي َدَ ْ‬

‫* سورة ال ْ َ‬
‫ة مكية‪ ،‬وهي تتحدث عن‬
‫ر َ‬
‫ع ُ‬
‫قا ِ‬
‫القيامة وأهوالها‪ ،‬والخييرة وشييدائدها‪ ،‬ومييا يكييون‬
‫فيها من أحييداث وأهييوال عظييام‪ ،‬كخييروج النيياس‬
‫من القبور‪ ،‬وانتشييارهم فييي ذلييك اليييوم الرهيييب‬
‫كالفراش المتطاير‪ ،‬المنتشر هنييا وهنيياك‪ ،‬يجيئون‬
‫ويييذهبون علييى غييير نظييام ميين شييدة حيرتهييم‬
‫وفزعهم‪.‬‬

‫‪112‬‬

‫* كما تحدثت عن نسييف الجبييال وتطايرهييا‬
‫حتى تصبح كالصوف المنبث المتطاير في الهييواء‪،‬‬
‫ة راسييخة فييوق الرض‪ ،‬وقييد‬
‫بعييد أن كييانت صييلب ً‬
‫ً‬
‫قرنت بين الناس والجبيال تنبيهيا عليى تيأثير تليك‬
‫القارعيية فييي الجبييال حييتى صييارت كالصييوف‬
‫المندوف‪ ،‬فكيف يكون حال البشر في ذلك اليوم‬
‫العصيب ؟‬

‫* وختمت السورة الكريمة بييذكر المييوازين‬
‫التي توزن بها أعمال الناس‪ ،‬وانقسام الخلق ِإلى‬
‫سييعداء وأشيقياء حسييب ثقيل المييوازين وخفتهيا‪،‬‬
‫وسييميت السييورة الكريميية بالقارعيية لنهييا تقييرع‬
‫القلوب والسماء بهولها‪.‬‬

‫أهوال القيامة‪ ،‬وحال الناس مع الميزان‬

‫مييا أ َد َْرا َ‬
‫مييا‬
‫ما ال ْ َ‬
‫‪}a‬ال ْ َ‬
‫قارِعَ ُ‬
‫قارِعَ ُ‬
‫ك َ‬
‫ة)‪(2‬وَ َ‬
‫ة)‪َ (1‬‬
‫س َ‬
‫م يَ ُ‬
‫ث)‬
‫كييال ْ َ‬
‫ال ْ َ‬
‫قارِعَ ُ‬
‫مب ُْثييو ِ‬
‫كو ُ‬
‫ة)‪(3‬ي َوْ َ‬
‫ش ال ْ َ‬
‫ن الّنا ُ‬
‫فَرا ِ‬
‫َ‬
‫ْ‬
‫‪(4‬وَت َ ُ‬
‫جَبا ُ‬
‫ن‬
‫من ُ‬
‫كو ُ‬
‫مييا َ‬
‫ش)‪(5‬فَأ ّ‬
‫ن ال ْ َ‬
‫ن ال ْ ِ‬
‫مي ْ‬
‫فييو ِ‬
‫ل ك َييالعِهْ ِ‬
‫َ‬
‫عي َ‬
‫مييا‬
‫ثَ ُ‬
‫ه)‪(6‬فَهُوَ فِييي ِ‬
‫ض يي َ ٍ‬
‫ش يةٍ َرا ِ‬
‫ة)‪(7‬وَأ ّ‬
‫واِزين ُ ُ‬
‫ت َ‬
‫قل َ ْ‬
‫م َ‬
‫ُ‬
‫َ‬
‫ما أد َْرا َ‬
‫مييا‬
‫خ ّ‬
‫ن َ‬
‫هاوِي َ ٌ‬
‫ه َ‬
‫ك َ‬
‫ة)‪(9‬وَ َ‬
‫م ُ‬
‫ه)‪(8‬فَأ ّ‬
‫واِزين ُ ُ‬
‫ت َ‬
‫ف ْ‬
‫َ‬
‫م َ‬
‫م ْ‬
‫ة)‪{(11‬‬
‫مي َ ٌ‬
‫حا ِ‬
‫ه)‪َ(10‬ناٌر َ‬
‫هِي َ ْ‬

‫‪113‬‬

‫ما ال ْ َ‬
‫}ا ل ْ َ‬
‫ر َ‬
‫ر َ‬
‫ع ُ‬
‫ع ُ‬
‫ة َ‬
‫ة{ أي القياميية وأيّ‬
‫قا ِ‬
‫قا ِ‬
‫شيء هي القيامة ؟ ِإنها فييي الفظاعيية والفخاميية‬
‫م إنسان فهييي‬
‫بحيث ل يدركها خيال‪ ،‬ول يبلغها وه ُ‬
‫ور‪ ،‬ثييم زاد فييي‬
‫أعظييم ميين أن توصييف أو تصيي ّ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫مششا‬
‫مششا أدَْراك َ‬
‫و َ‬
‫التفخيم والتهويل لشأنها فقال } َ‬
‫ال ْ َ‬
‫ة{ ؟ أي أيّ شييييء أعلميييك ميييا شيييأن‬
‫ر َ‬
‫عشش ُ‬
‫قا ِ‬
‫القارعة في هولها علييى النفييوس ؟ ِإنهييا ل ُتفييزع‬
‫القلوب فحسب‪ ،‬بل تؤّثر فييي الجييرام العظيميية‪،‬‬
‫فتييؤثر فييي السييماوات بالنشييقاق‪ ،‬وفييي الرض‬
‫بالزلزليية‪ ،‬وفييي الجبييال بالييد ّ‬
‫ك والنسييف‪ ،‬وفييي‬
‫الكواكب بالنتثار‪ ،‬وفي الشمس والقميير بييالتكوير‬
‫والنكدار ِإلى غير ما هنالك قال أبششو السششعود‪:‬‬
‫سيييميت القيامييية قارعييية لنهيييا تقيييرع القليييوب‬
‫والسماع بفنون الهوال والفزاع‪ ،‬ووضع الظيياهر‬
‫ما ال ْ َ‬
‫ة{ تأكيييدا ً للتهويييل‪،‬‬
‫ر َ‬
‫عشش ُ‬
‫موضع الضمير } َ‬
‫قا ِ‬
‫والمعنييى أيّ شيييء عجيييب هييي فييي الفخاميية‬
‫مششا‬
‫و َ‬
‫والفظاعة‪ ،‬ثم أكد هولها وفظاعتهييا بقييوله } َ‬
‫أ َدَْرا َ‬
‫ما ال ْ َ‬
‫ة{ ؟ ببيان خروجها عيين دائرة‬
‫ر َ‬
‫ع ُ‬
‫ك َ‬
‫قا ِ‬
‫علوم الخلييق‪ ،‬بحيييث ل تكيياد تنالهييا دراييية أحييد ‪..‬‬
‫وبعد هذا التخويف والتشييويق ِإلييى معرفيية شيييٍء‬
‫من أحوالها‪ ،‬جيياء التوضيييح والبيييان بقييوله تعييالى‬
‫س َ‬
‫م يَ ُ‬
‫كال ْ َ‬
‫ث{ أي‬
‫مب ُْثو ِ‬
‫كو ُ‬
‫و َ‬
‫ش ال ْ َ‬
‫ن الّنا ُ‬
‫}ي َ ْ‬
‫فَرا ِ‬
‫س ميين قبييورهم‬
‫ذلييك يحييدث عنييدما يخييرج النييا ُ‬
‫فزعين‪ ،‬كأنهم فراش متفرق منتشير هنيا وهنياك‪،‬‬
‫يموج بعضهم في بعض من شدة الفييزع والحيييرة‬

‫‪114‬‬

‫قال الرازي‪ :‬شييبه تعييالى الخلييق وقييت البعييث‬
‫ههنا بالفراش المبثوث‪ ،‬وفييي آييية ُأخييرى بييالجراد‬
‫المنتشييير‪ ،‬أميييا وجيييه التشيييبيه بيييالفراش‪ ،‬فلن‬
‫الفراش ِإذا ثار لم يتجه ِإلى جهةٍ واحدة‪ ،‬بييل كييل‬
‫واحدة منها تييذهب إلييى غييير جهيية ا ُ‬
‫لخييرى‪ ،‬فييد ّ‬
‫ل‬
‫ِ‬
‫علييى أنهييم ِإذا ُبعثييوا فزعييوا‪ ،‬وأمييا وجييه التشييبيه‬
‫بالجراد فهو في الكثرة‪ ،‬يصبحون كغوغيياء الجييراد‬
‫يركب بعضه بعضًا‪ ،‬فكذلك الناس ِإذا ُبعثييوا يمييوج‬
‫ضهم في بعض كالجراد والفراش كقوله تعييالى‬
‫بع ُ‬
‫ْ‬
‫ض{‬
‫ج ِ‬
‫ع َ‬
‫مئ ِ ٍ‬
‫فششي ب ْ‬
‫مششو ُ‬
‫وت ََركَنا ب َ ْ‬
‫ض ُ‬
‫ذ يَ ُ‬
‫و َ‬
‫ه ْ‬
‫م يَ ْ‬
‫} َ‬
‫عش ٍ‬
‫ْ‬
‫ْ‬
‫ْ‬
‫َ‬
‫ُ‬
‫ُ‬
‫جَبا ُ‬
‫ش{ هذا هو‬
‫ل كال ِ‬
‫وت َكو ُ‬
‫ع ْ‬
‫ن ال َ‬
‫ن ال ِ‬
‫} َ‬
‫منفو ِ‬
‫ه ِ‬
‫الوصف الثاني من صفات ذلك اليييوم المهييول أي‬
‫وتصير الجبال كالصوف المنتثر المتطيياير‪ ،‬تتفييرق‬
‫أجزاؤها وتتطاير في الجو‪ ،‬حييتى تكييون كالصييوف‬
‫المتطاير عند الندف قال الصاوي‪ :‬وِإنمييا جمييع‬
‫بين حال الناس وحال الجبال‪ ،‬تنبيها ً على أن تلييك‬
‫القارعة أّثرت في الجبال العظيمة الصييلبة‪ ،‬حييتى‬
‫تصير كالصوف المنيدوف ميع كونهيا غيير مكلفية‪،‬‬
‫لنسان الضعيف المقصييود بييالتكليف‬
‫فكيف حال ا ِ‬
‫والحساب !! ثم ذكر تعالى حالة الناس فييي ذلييك‬
‫اليوم‪ ،‬وانقسامهم إلى شقي وسعيد فقال } َ َ‬
‫ما‬
‫فأ ّ‬
‫ِ‬
‫ن ثَ ُ‬
‫ه{ أي رجحيييت ميييوازين‬
‫قَلشش ْ‬
‫مشش ْ‬
‫زين ُ ُ‬
‫ت َ‬
‫َ‬
‫مشش َ‬
‫وا ِ‬
‫َ‬
‫فشي‬
‫و ِ‬
‫حسناته‪ ،‬وزادت حسناُته على سيئاته }ف ُ‬
‫ه َ‬
‫عي َ‬
‫ة{ أي فهو فيي عيييش هنييٍء رغيييد‬
‫ِ‬
‫ضي َ ٍ‬
‫ة َرا ِ‬
‫ش ٍ‬
‫َ‬
‫خ ّ‬
‫ت‬
‫ن َ‬
‫ف ْ‬
‫م ْ‬
‫ما َ‬
‫وأ ّ‬
‫سعيد‪ ،‬في جنان الخلد والنعيم } َ‬
‫ه{ أي نقصت حسناته عيين سيييئاته‪ ،‬أولييم‬
‫زين ُ ُ‬
‫َ‬
‫م َ‬
‫وا ِ‬
‫ُ‬
‫ت ُيعتييد ّ بهييا } َ‬
‫ة{ أي‬
‫وي َش ٌ‬
‫ه َ‬
‫م ُ‬
‫فأ ّ‬
‫يكن لييه حسيينا ٌ‬
‫ها ِ‬

‫‪115‬‬

‫سييماها‬
‫فمسكنه ومصيره جهنم يهوي في قعرها‪ّ ،‬‬
‫ُأمييا ً لن الم مييأوى الولييد ومفزعييه‪ ،‬فنييار جهنييم‬
‫تييؤوي هييؤلء المجرمييين‪ ،‬كمييا يييأوي الولد ِإلييى‬
‫أمهم‪ ،‬وتضييمهم ِإليهييا كمييا تضييم الم الولد ِإليهييا‬
‫ة{ اسييم ميين أسييماء‬
‫وي َ ٌ‬
‫قال أبو السعود‪َ } :‬‬
‫ها ِ‬
‫النار‪ ،‬سميت بها لغاية عمقهيا وبعيد مهواهيا‪ ،‬روي‬
‫ما‬
‫و َ‬
‫أن أهل النييار يهييوون فيهييا سييبعين خريف يا ً } َ‬
‫أ َدَْرا َ‬
‫ه{؟ استفهام للتفخيم والتهويييل أي‬
‫ما ِ‬
‫هي َ ْ‬
‫ك َ‬
‫سييرها بقييوله }َناٌر‬
‫وما أعلمك ما الهاوييية؟ ثييم ف ّ‬
‫ة{ أي هي نار شديدة الحرارة‪ ،‬قييد خرجييت‬
‫مي َ ٌ‬
‫حا ِ‬
‫َ‬
‫سييعرت‬
‫عن الحد المعهود‪ ،‬فِإن حرارة أي نييارٍ إذا ُ‬
‫وُألقي فيها أعظم الوقود ل تعييادل حييرارة جهنييم‪،‬‬
‫أجارنا الله منها بفضله وكرمه‪.‬‬

‫‪116‬‬

‫سورة الت ّ َ‬
‫كاُثر‬
‫اللتهاء بالتفاخر بزينة الدنيا‬

‫سوَرة‬
‫ي ال ّ‬
‫َبين ي َدَ ْ‬

‫* سورة الت ّ َ‬
‫كاُثر مكية‪ ،‬وهي تتحيدث عين‬
‫انشغال النيياس بمغريييات الحيياة‪ ،‬وتكييالبهم علييى‬
‫جمييع حطييام الييدنيا‪ ،‬حييتى يقطييع المييوت عليهييم‬
‫متعتهم‪ ،‬ويأتيهم فجأة وبغتة‪ ،‬فينقلهم من القصور‬
‫ِإلى القبور‪.‬‬
‫ة‬
‫ت يأتي بغت ً‬
‫المو ُ‬

‫والقبُر صندوقُ العمل‬

‫‪117‬‬

‫* وقييد تكييرر فييي هييذه السييورة الزجيير‬
‫لنذار تخويفا ً للناس‪ ،‬وتنبيها ً لهم علييى خطئهييم‪،‬‬
‫وا ِ‬
‫باشييتغالهم بالفانييية عيين الباقييية } َ‬
‫ف‬
‫و َ‬
‫كل َ‬
‫سشش ْ‬
‫ن‬
‫مو َ‬
‫تَ ْ‬
‫عل َ ُ‬
‫* وختمت السورة الكريمة ببيان المخيياطر‬
‫والهييوال الييتي سيييلقونها فييي الخييرة‪ ،‬والييتي ل‬
‫دم صييالح‬
‫يجتازها ول ينجو منها ِإل المؤمن الذي ق ّ‬
‫العمال‪.‬‬

‫اللتهاء بالتفاخر بزينة الدنيا‬

‫َ‬
‫قاب َِر)‪َ (2‬‬
‫م الت ّ َ‬
‫كل‬
‫م َ‬
‫كاث ُُر)‪َ (1‬‬
‫م ال ْ َ‬
‫حّتى ُزْرت ُ ْ‬
‫}أْلهاك ُ ُ‬
‫ن)‪َ (4‬‬
‫م َ‬
‫و‬
‫سوْ َ‬
‫سوْ َ‬
‫مييو َ‬
‫مو َ‬
‫كل َ‬
‫َ‬
‫ف ت َعْل َ ُ‬
‫ن)‪(3‬ث ُ ّ‬
‫ف ت َعْل َ ُ‬
‫كل ل َي ْ‬
‫ْ‬
‫َ‬
‫ْ‬
‫ْ‬
‫َ‬
‫ُ‬
‫م‬
‫ثيي‬
‫(‬
‫‪6‬‬
‫م)‬
‫حييي‬
‫ج‬
‫ل‬
‫ا‬
‫ن‬
‫و‬
‫ر‬
‫تيي‬
‫ل‬
‫(‬
‫‪5‬‬
‫ن)‬
‫قييي‬
‫ي‬
‫ل‬
‫ا‬
‫م‬
‫ليي‬
‫ع‬
‫ن‬
‫مييو‬
‫ل‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫َ‬
‫ِ‬
‫َ‬
‫ّ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ّ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ت َعْ ُ‬
‫َ ُ‬
‫ِ‬
‫َ‬
‫ُ‬
‫َ‬
‫ْ‬
‫ن‬
‫ن الي َ ِ‬
‫م لت ُ ْ‬
‫ن ي َيوْ َ‬
‫ن)‪(7‬ث ُي ّ‬
‫س يأل ّ‬
‫ل َت ََروُن ّهَييا عَي ْي َ‬
‫مئ ِذٍ عَي ِ‬
‫قي ي ِ‬
‫م)‪{(8‬‬
‫الن ِّعي ِ‬

‫سبب النزول‪:‬‬

‫‪118‬‬

‫تقدم سبب نزول السورة‪.‬‬
‫أخرج أحمييد ومسييلم والترمييذي والنسييائي‬
‫عن عبد الله بن ال ّ‬
‫خير قال‪ :‬انتهيت إلى رسييول‬
‫ش ّ‬
‫َ‬
‫ْ‬
‫ُ‬
‫م‬
‫الله صلى الله عليه وسلم‪ ،‬وهو يقول‪}" :‬أل َ‬
‫هاك ُ‬
‫الت ّ َ‬
‫كاث ُُر{ يقول ابين آدم‪ :‬مييالي مييالي‪ ،‬وهييل لييك‬
‫من مالك إل ما أكلت فأفنيت‪ ،‬أو لبسييت فييأبليت‪،‬‬
‫أو تصدقت فأمضيت"‪.‬‬
‫وقال مسلم في صييحيحه عيين أبييي هريييرة‬
‫رضي الله عنه قال‪ :‬قال رسييول اللييه صييلى اللييه‬
‫عليه وسلم‪" :‬يقول العبد‪ :‬مييالي مييالي‪ ،‬وإنمييا لييه‬
‫من ماله ثلث‪ :‬ما أكل فأفنى‪ ،‬أو لبييس فييأبلى‪ ،‬أو‬
‫تصدق فأمضى‪ ،‬وما سييوى ذلييك فييذاهب‪ ،‬وتيياركه‬
‫للناس"‪.‬‬

‫َ‬
‫م الت ّ َ‬
‫س‬
‫}أ ل ْ َ‬
‫هاك ُ ُ‬
‫كاث ُُر{ أي شغلكم أيها النييا ُ‬
‫التفاخر بالموال والولد والرجال عن طاعة الله‪،‬‬
‫م َ‬
‫قششاب َِر{‬
‫وعن الستعداد للخرة } َ‬
‫م ال ْ َ‬
‫حّتى ُزْرت ُ ْ‬
‫أي حييتى أدرككييم المييوت‪ ،‬ودفنتييم فييي المقييابر‪،‬‬
‫ة خييبٌر يييراد بييه الييوعظ والتوبيييخ قششال‬
‫والجمليي ُ‬
‫القرطبي‪ :‬المعنى شغلكم المباهاة بكثرة المال‬
‫مت ّييم ودفنتييم فييي‬
‫والولد عن طاعيية اللييه‪ ،‬حييتى ُ‬
‫المقابر } َ‬
‫ن{ زج يٌر وتهدي يد ٌ أي‬
‫و َ‬
‫مو َ‬
‫ف تَ ْ‬
‫كل َ‬
‫عل َ ُ‬
‫س ْ‬
‫ارتدعوا أيها الناس وانزجروا عن الشييتغال بمييا ل‬
‫ينفييع ول يفيييد‪ ،‬فسييوف تعلمييون عاقبيية جهلكييم‬

‫‪119‬‬

‫وتفريطكم في جنب الله‪ ،‬وانشغالكم بالفاني عن‬
‫م َ‬
‫ن{ وعي يد ٌ ِإثيير‬
‫و َ‬
‫مششو َ‬
‫ف تَ ْ‬
‫كل َ‬
‫عل َ ُ‬
‫البيياقي }ُثش ّ‬
‫سش ْ‬
‫وعيد‪ ،‬زيادة في الزجر والتهديد أي سوف تعلمون‬
‫عاقبة تكاثركم وتفاخركم ِإذا نزل بكم العذاب في‬
‫م َ‬
‫ن{ أي في الخييرة‬
‫و َ‬
‫مو َ‬
‫ف تَ ْ‬
‫كل َ‬
‫عل َ ُ‬
‫القبر }ث ُ ّ‬
‫س ْ‬
‫ل بكييم العييذاب } َ‬
‫ِإذا ح ي ّ‬
‫م‬
‫ن ِ‬
‫مششو َ‬
‫و تَ ْ‬
‫عل ْش َ‬
‫عل َ ُ‬
‫كل ل َش ْ‬
‫ن{ أي ارتدعوا وانزجروا فلو علمتم العلييم‬
‫ال ْي َ ِ‬
‫قي ِ‬
‫الحقيقييي الييذي ل شييك فيييه ول امييتراء‪ ،‬وجييواب‬
‫ف لقصد التهويل أي لو عرفتييم ذلييك‬
‫و{ محذو ٌ‬
‫}ل َ ْ‬
‫لما ألهاكم التكيياثر بالييدنيا عيين طاعيية اللييه‪ ،‬ولمييا‬
‫خدعتم بنعيم الدنيا عن أهييوال الخييرة وشييدائدها‬
‫ُ‬
‫كما قال صلى الله عليه وسييلم‪) :‬لييو تعلمييون مييا‬
‫أعلم لضحكتم قليل ً ولبكيتم كييثيرًا( الحييديث قييال‬
‫ف تقييديره‪ :‬لييو‬
‫و{ محييذو ٌ‬
‫ابن جزي ‪ :‬وجوا ُ‬
‫ب }ل َ ْ‬
‫تعلمون لزدجرتم واستعددتم للخرة‪ ،‬وِإنما حذف‬
‫لقصد التهويل‪ ،‬فيقييدر السييامع أعظييم مييا يخطيير‬
‫ق ُ‬
‫عَلششى‬
‫فششوا َ‬
‫و ِ‬
‫و ت ََرى إ ِذْ ُ‬
‫ول َ ْ‬
‫بباله كقوله تعالى } َ‬
‫ُ‬
‫م{ أي أقسييم وأؤكييد‬
‫ج ِ‬
‫و َ‬
‫ن ال ْ َ‬
‫حيشش َ‬
‫ر{ }ل َت َ شَر ْ‬
‫الن ّششا ِ‬
‫بييأنكم ستشيياهدون الجحيييم عيانييا ً ويقينييا ً قششال‬
‫اللوسششي‪ :‬هييذا جييواب قسييم مضييمر‪ ،‬أكييد بييه‬
‫الوعيد‪ ،‬وشد ّ به التهديد‪ ،‬وأوضح به ما أنذروه بعييد‬
‫م‬
‫ِإبهييامه تفخيمييا ً أي واللييه لييترون الجحيييم }ُثشش ّ‬
‫ن{ أي ثييم لترونهييا رؤييية‬
‫ها َ‬
‫ن ال ْي َ ِ‬
‫عي ْش َ‬
‫ون َ َ‬
‫ل َت ََر ْ‬
‫قي ش ِ‬
‫حقيقة بالمشاهدة العينييية قال أبششو حّيششان‪ :‬زاد‬
‫ن{ نفيا ً لتوهم المجاز‬
‫التوكيد بقوله } َ‬
‫ن ال ْي َ ِ‬
‫عي ْ َ‬
‫قي ِ‬
‫َ‬
‫ُ‬
‫َ‬
‫ن‬
‫ذ َ‬
‫مئ ِ ٍ‬
‫عش ْ‬
‫س شأل ّ‬
‫م لت ُ ْ‬
‫و َ‬
‫في الرؤييية الولييى }ث ُ ّ‬
‫ن ي َش ْ‬
‫ن فييي الخييرة عيين نعيييم‬
‫الن ّ ِ‬
‫عيم ِ{ أي ثييم لتسييأل ّ‬

‫‪120‬‬

‫الدنيا من المن والصحة‪ ،‬وسائر ما ُيتلييذذ بييه ميين‬
‫مطعم‪ ،‬ومشرب‪ ،‬ومركب‪ ،‬ومفرش‪.‬‬

‫صر‬
‫سورة ال ْ َ‬
‫ع ْ‬
‫منهج الستقامة في الحياة‬

‫سوَرة‬
‫ي ال ّ‬
‫َبين ي َدَ ْ‬

‫صر مكييية‪ ،‬وقييد جيياءت فييي غاييية‬
‫* سورة ال ْ َ‬
‫ع ْ‬
‫لنسييان أو‬
‫ليجاز والبيان‪ ،‬لتوضيح سبب سييعادة ا ِ‬
‫ا ِ‬
‫شييقاوته‪ ،‬ونجيياحه فييي هييذه الحييياة أو خسييرانه‬
‫ودماره‪.‬‬

‫‪121‬‬

‫* أقسم تعالى بالعصر وهييو الزمييان الييذي ينتهييي‬
‫لنسان‪ ،‬وما فيه من أصييناف العجييائب‪،‬‬
‫فيه عمر ا ِ‬
‫والعَِبر الدالة على قييدرة اللييه وحكمتييه‪ ،‬علييى أن‬
‫لنسييان فييي خسييارة ونقصييان‪ ،‬إل ميين‬
‫جنييس ا ِ‬
‫ليمششان{ و‬
‫اتصييف بالوصيياف الربعيية وهييي }ا ِ‬
‫}العمششل الصششالح{ و }التواصششي بششالحق{ و‬
‫}العتصششام بالصششبر{ وهييي أسييس الفضيييلة‪،‬‬
‫لمييام الشييافعي رحمييه‬
‫وأساس الدين‪ ،‬لهذا قال ا ِ‬
‫الله‪ :‬لو لم ينزل الله سيوى هيذه السيورة لكفيت‬
‫الناس‪.‬‬

‫منهج الستقامة في الحياة‬

‫ن‬
‫فيي ُ‬
‫ر)‪ِ(2‬إل اّلي ِ‬
‫ن لَ ِ‬
‫سيا َ‬
‫ر)‪(1‬إ ِ ّ‬
‫خ ْ‬
‫لن َ‬
‫}َوال ْعَ ْ‬
‫ذي َ‬
‫سي ٍ‬
‫ص ِ‬
‫نا ِ‬
‫وا‬
‫حا ِ‬
‫مُنوا وَعَ ِ‬
‫وا ب ِييال ْ َ‬
‫صال ِ َ‬
‫آ َ‬
‫وا َ‬
‫وا َ‬
‫مُلوا ال ّ‬
‫صي ْ‬
‫حقّ وَت َ َ‬
‫ص ْ‬
‫ت وَت َ َ‬
‫ر)‪{(3‬‬
‫ِبال ّ‬
‫صب ْ ِ‬

‫ر{ أي‬
‫فششي ُ‬
‫ن لَ ِ‬
‫سششا َ‬
‫ر* إ ِ ّ‬
‫وال ْ َ‬
‫خ ْ‬
‫لن َ‬
‫ع ْ‬
‫} َ‬
‫سشش ٍ‬
‫نا ِ‬
‫صشش ِ‬
‫ُ‬
‫م بالييدهر والزمييان لمييا فيييه ميين أصييناف‬
‫أقسيي ُ‬
‫الغييرائب والعجييائب‪ ،‬والعييبر والعظييات‪ ،‬علييى أن‬

‫‪122‬‬

‫ضييل العاجليية علييى‬
‫لنسان في خسييران‪ ،‬لنييه يف ّ‬
‫ا ِ‬
‫الجلة‪ ،‬وتغلب عليه الهواء والشهوات قال ابششن‬
‫عبششاس‪ :‬العصيير هييو الييدهر أقسييم تعييالى بييه‬
‫لشتماله على أصييناف العجييائب وقششال قتشادة‪:‬‬
‫العصيُر هييو آخيير سيياعات النهييار‪ ،‬أقسييم بييه كمييا‬
‫أقسييم بالضييحى لمييا فيهمييا ميين دلئل القييدرة‬
‫البيياهرة‪ ،‬والعظيية البالغيية ‪ ..‬وِإنمييا أقسييم تعييالى‬
‫ة‬
‫لنسييان‪ ،‬فكييل لحظ ي ٍ‬
‫بالزمييان لنييه رأس عميير ا ِ‬
‫تمضي فِإنها من عمييرك ونقييص ميين أجلييك‪ ،‬كمييا‬
‫قال القائل ‪:‬‬
‫ح بالييام نقطعييها‬
‫ِإنييا لنفير ُ‬
‫ص من الجل‬
‫مضى نق ٌ‬

‫وك ّ‬
‫ل يوم ٍ‬

‫قال القرطبي‪ :‬أقسم الله عز وجييل بالعصيير ‪-‬‬
‫وهو الدهر ‪ -‬لما فيه من التنييبيه بتصييرف الحيوال‬
‫وتبدلها‪ ،‬وما فيها من الدللة على الصييانع‪ ،‬وقيييل‪:‬‬
‫م بصلة العصر لنها أفضل الصييلوات }ِإل‬
‫هو قس ٌ‬
‫ُ‬
‫ت{ أي جمعييوا‬
‫و َ‬
‫حا ِ‬
‫ع ِ‬
‫ال ّ ِ‬
‫صششال ِ َ‬
‫ذي َ‬
‫نآ َ‬
‫ملوا ال ّ‬
‫مُنوا َ‬
‫ليمان وصالح العمال‪ ،‬فهؤلء هم الفييائزون‬
‫بين ا ِ‬
‫لنهيييم بييياعوا الخسييييس بيييالنفيس‪ ،‬واسيييتبدلوا‬
‫الباقيات الصالحات عوضا ً عن الشهوات العاجلت‬
‫ق{ أي أوصييى بعضييهم بعض يا ً‬
‫وا ب ِششال ْ َ‬
‫ح ّ‬
‫وا َ‬
‫صش ْ‬
‫وت َ َ‬
‫} َ‬
‫ليمييان‪ ،‬والتصييديق‪،‬‬
‫بالحق‪ ،‬وهو الخير كلييه‪ ،‬ميين ا ِ‬
‫ر{ أي‬
‫وا ِبال ّ‬
‫وا َ‬
‫صششش ْ‬
‫وت َ َ‬
‫وعبيييادة الرحمييين } َ‬
‫صشششب ْ ِ‬
‫وتواصوا بالصبر على الشدائد والمصييائب‪ ،‬وعلييى‬
‫فعل الطاعات‪ ،‬وتييرك المحرمييات ‪ ..‬حكييم تعييالى‬

‫‪123‬‬

‫بالخسييار علييى جميييع النيياس ِإل ميين أتييى بهييذه‬
‫ليمييان‪ ،‬والعمييل الصييالح‪،‬‬
‫الشياء الربعيية وهييي‪ :‬ا ِ‬
‫والتواصي بيالحق‪ ،‬والتواصيي بالصييبر‪ ،‬فيِإن نجياة‬
‫لنسييان نفسييه‬
‫لنسييان ل تكييون ِإل ِإذا ك ّ‬
‫مييل ا ِ‬
‫ا ِ‬
‫مييل غيييره بالنصييح‬
‫ليمييان والعمييل الصييالح‪ ،‬وك ّ‬
‫با ِ‬
‫لرشاد‪ ،‬فيكون قييد جمييع بييين حييق اللييه‪ ،‬وحييق‬
‫وا ِ‬
‫العباد‪ ،‬وهذا هو السيّر فييي تخصيييص هييذه المييور‬
‫الربعة‪.‬‬

‫مَزة‬
‫سورة ال ُ‬
‫ه َ‬
‫جزاء ال ّ‬
‫طعان بالناس‬

‫سوَرة‬
‫ي ال ّ‬
‫َبين ي َدَ ْ‬

‫مَزة مكية‪ ،‬وقد تحدثت عيين‬
‫* سورة ال ُ‬
‫ه َ‬
‫الذين يعيبون الناس‪،‬ويأكلون أعراضييهم‪ ،‬بييالطعن‬
‫والنتقاص والزدراء‪ ،‬وبالسخرية والستهزاء فعييل‬
‫السفهاء‪.‬‬

‫‪124‬‬

‫* كما ذمت الذين يشتغلون بجمع المييوال‪،‬‬
‫وتكييديس الييثروات‪ ،‬كييأنهم مخلييدون فييي هييذه‬
‫الحياة‪ ،‬يظنون ‪ -‬لفرط جهلهم وكثرة غفلتهم ‪ -‬أن‬
‫المال سيخلدهم في الدنيا‪.‬‬

‫* وختمييت بييذكر عاقبيية هييؤلء التعسيياء‬
‫الشقياء‪ ،‬حيث يدخلون نارا ً ل تخمييد أبييدًا‪ ،‬تحطييم‬
‫المجرمييين وميين يلقييى فيهييا ميين البشيير‪ ،‬لنهييا‬
‫الحطمة نار سقر ! !‬

‫جزاء ال ّ‬
‫طعان بالناس‬

‫ل ل ِك ُ ّ‬
‫}وَي ْ ٌ‬
‫مييال‬
‫ة)‪(1‬ال ّي ِ‬
‫مَز ٍ‬
‫ذي َ‬
‫م يع َ َ‬
‫ج َ‬
‫مَزةٍ ل ُ َ‬
‫ل هُ َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ه)‪َ (3‬‬
‫ن ِفي‬
‫هأ ْ‬
‫كل ل َي ُن ْب َذ َ ّ‬
‫بأ ّ‬
‫س ُ‬
‫ه)‪(2‬ي َ ْ‬
‫ح َ‬
‫خل َد َ ُ‬
‫مال َ ُ‬
‫ن َ‬
‫وَعَد ّد َ ُ‬
‫َ‬
‫ّ‬
‫َ‬
‫ْ‬
‫َ‬
‫ه‬
‫مي ُ‬
‫ة)‪(5‬ن َيياُر الل ي ِ‬
‫مي ِ‬
‫مييا ال ُ‬
‫ال ْ ُ‬
‫حط َ‬
‫مييا أد َْراك َ‬
‫ة)‪(4‬وَ َ‬
‫حط َ َ‬
‫َ‬
‫م‬
‫موقَد َ ُ‬
‫ة)‪(6‬ال ِّتي ت َط ّل ِعُ عََلى الفْئ ِد َ ِ‬
‫ة)‪(7‬إ ِن َّها عَل َي ِْهيي ْ‬
‫ال ْ ُ‬
‫ة)‪.{(9‬‬
‫صد َ ٌ‬
‫مد ّد َ ٍ‬
‫م َ‬
‫مدٍ ُ‬
‫ة)‪ِ(8‬في عَ َ‬
‫ُ‬
‫مو َ‬

‫‪125‬‬

‫ل ل ِك ُش ّ‬
‫وي ْ ش ٌ‬
‫ة{ أي عييذاب‬
‫ل ُ‬
‫م شَز ٍ‬
‫م شَز ٍ‬
‫ة لُ َ‬
‫ه َ‬
‫} َ‬
‫شييديد وهلك ودمييار‪ ،‬لكييل ميين يعيييب النيياس‬
‫ويغتابهم ويطعن في أعراضيهم‪ ،‬أو يلمزهيم سييرا ً‬
‫بعينييه أو حيياجبه قال المفسششرون‪ :‬نزلييت فييي‬
‫السورة في "الخنس ابن شريق" لنه كييان كييثير‬
‫الوقيعيية فييي النيياس‪ ،‬يلمزهييم ويعيبهييم مقبلييين‬
‫م لن العبرة بعموم اللفظ ل‬
‫ومدبرين‪ ،‬والحكم عا ٌ‬
‫ه{‬
‫و َ‬
‫بخصوص السبب‪} ،‬ال ّ ِ‬
‫مش َ‬
‫ذي َ‬
‫عشدّدَ ُ‬
‫ع َ‬
‫ج َ‬
‫مششال َ‬
‫أي الذي جمع مال ً كييثيرا ً وأحصيياه‪ ،‬وحييافظ علييى‬
‫عييدده لئل ينقييص فمنعييه ميين الخيييرات قششال‬
‫الطبري‪ :‬أي أحصى عدده ولم ينفقه فييي سييبيل‬
‫الله ولم يؤد حقّ اللييه فيييه ولكنييه جمعييه فأوعيياه‬
‫َ‬
‫ه{ أي يظيين‬
‫ه أَ ْ‬
‫بأ ّ‬
‫س ُ‬
‫وحفظييه }ي َ ْ‬
‫ح َ‬
‫خل َشدَ ُ‬
‫مششال َ ُ‬
‫ن َ‬
‫هذا الجاهل لفرط غفلته أن ماله سيييتركه مخلييدا ً‬
‫في الدنيا ل يموت } َ‬
‫ة{‬
‫ن ِ‬
‫م ِ‬
‫كل ل َي ُن ْب َذَ ّ‬
‫في ال ْ ُ‬
‫حطَ َ‬
‫ن فييي‬
‫ن فييواللهِ ليطرحي ّ‬
‫أي ليرتدع عيين هييذا الظي ّ‬
‫مششا‬
‫و َ‬
‫النار التي تحطم كل ما ُيلقى فيها وتلتهمه } َ‬
‫أ َدَْرا َ‬
‫م وتهويي ٌ‬
‫ل لشييأنها أي‬
‫م ُ‬
‫ما ال ْ ُ‬
‫ة{ تفخيي ٌ‬
‫حطَ َ‬
‫ك َ‬
‫وما الذي أعلمك ما حقيقيية هييذه النييار العظيميية؟‬
‫ِإنها الحطمة التي تحطم العظييام وتأكييل اللحييوم‪،‬‬
‫حتى تهجم على القلوب‪ ،‬ثم فسرها بقييوله }ن َششاُر‬
‫مو َ‬
‫ة{ أي هي نار الله المسّعرة بييأمره‬
‫قدَ ُ‬
‫الل ّ ِ‬
‫ه ال ْ ُ‬
‫تعييالى وِإرادتييه‪ ،‬ليسييت كسييائر النيييران فِإنهييا ل‬
‫ف‬
‫تخمد أبدًا‪ ،‬وفي الحييديث )ُأوقييد علييى النييار أل ي ُ‬
‫سنة حتى احمرت‪ ،‬ثم ُأوقد عليها ألف سيينة حييتى‬
‫دت‪،‬‬
‫ضت‪ ،‬ثم ُأوقد عليها أل ي ُ‬
‫ف سيينة حييتى اسييو ّ‬
‫ابي ّ‬
‫َ‬
‫ّ‬
‫ّ‬
‫علششى‬
‫ع َ‬
‫فهييي سييوداء مظلميية( }الِتششي ت َطِلشش ُ‬

‫‪126‬‬

‫ال َ ْ‬
‫ة{ أي التي يبلغ ألمها ووجعها إلى القلوب‬
‫فئ ِدَ ِ‬
‫ص الفئدة لن اللم‬
‫فتحرقها قال القرطبي‪ :‬وخ ّ‬
‫ِإذا صار ِإلى الفؤاد مات صاحبه‪ ،‬فِإنهم فييي حييال‬
‫من يمييوت وهييم ل يموتييون كمييا قييال تعييالى }ل‬
‫حَيا{ فهم ِإذا ً أحياء في معنييى‬
‫ت ِ‬
‫ول ي َ ْ‬
‫مو ُ‬
‫في َ‬
‫يَ ُ‬
‫ها َ‬
‫ها َ َ‬
‫ة{ أي ِإن جهنييم‬
‫ص شد َ ٌ‬
‫الموات }إ ِن ّ َ‬
‫م ُ‬
‫هش ْ‬
‫مو َ‬
‫علي ْ ِ‬
‫ة عليهييم‪ ،‬ل يييدخل ِإليهييم روح ول‬
‫مطبقيية مغلقيي ٌ‬
‫ة{ أي وهييم موثوقييون‬
‫في َ‬
‫ريحان } ِ‬
‫مشدّدَ ٍ‬
‫م ٍ‬
‫م َ‬
‫د ُ‬
‫ع َ‬
‫في سلسل وأغلل‪ ،‬تشد ّ بها أيديهم وأرجلهم‪ ،‬بعد‬
‫ِإطبيياق أبييواب جهنييم عليهييم‪ ،‬فقييد يئسييوا ميين‬
‫الخروج بإطباق البواب عليهم‪ ،‬وتمدد العمد ِإيذانا ً‬
‫ِ‬
‫بالخلود ِإلى غير نهاية‪.‬‬

‫فيل‬
‫سورة ال ْ ِ‬
‫قصة أصحاب الفيل‬

‫سوَرة‬
‫ي ال ّ‬
‫َبين ي َدَ ْ‬

‫‪127‬‬

‫فيل مكية‪ ،‬وهي تتحييدث عيين‬
‫* سورة ال ْ ِ‬
‫قصة "أصحاب الفيل" حييين قصييدوا هييدم الكعبيية‬
‫المشرفة‪ ،‬فرد ّ الله كيدهم فييي نحييورهم‪ ،‬وحمييى‬
‫بيته من تسلطهم وطغيانهم‪ ،‬وأرسل علييى جيييش‬
‫"أبرهة الشرم" وجنوده أضعف مخلوقيياته‪ ،‬وهييي‬
‫الطير التي تحمل فييي أرجلهييا ومناقيرهييا حجييارة‬
‫صغيرة‪ ،‬ولكنها أشد ّ فتكا ً وتدميرا ً من الرصاصييات‬
‫القاتلة‪ ،‬حتى أهلكهييم اللييه وأبييادهم عيين آخرهييم‪،‬‬
‫وكان ذلك الحدث التاريخي الهام‪ ،‬فييي عييام ميلد‬
‫سيد الكائنات محمد بيين عبييد اللييه‪ ،‬سيينة سييبعين‬
‫لرهاصييات‬
‫وخمسمائة ميلدية‪ ،‬وكان من أعظييم ا ِ‬
‫الدالة على صدق نبوته صلى الله عليه وسلم‪.‬‬

‫قصة أصحاب الفيل‬

‫ل ربي َ َ‬
‫َ‬
‫ل)‬
‫م ت ََر ك َْيي َ‬
‫ب ال ْ ِ‬
‫صي َ‬
‫ف فََعي َ َ ّ‬
‫}أ ل َ ْ‬
‫حا ِ‬
‫ك ب ِأ ْ‬
‫فيي ِ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫س َ‬
‫جع َ ْ‬
‫م‬
‫م ِفي ت َ ْ‬
‫م يَ ْ‬
‫ل)‪ (2‬وَأْر َ‬
‫ل عَل َي ْهِ ي ْ‬
‫ل ك َي ْد َهُ ْ‬
‫‪(1‬أل َ ْ‬
‫ضِلي ٍ‬
‫ط َْيييًرا أ ََباِبييي َ‬
‫ل)‬
‫م بِ ِ‬
‫ن ِ‬
‫جيياَرةٍ ِ‬
‫ل)‪(3‬ت َْر ِ‬
‫سيي ّ‬
‫ح َ‬
‫ميِهيي ْ‬
‫جي ٍ‬
‫ميي ْ‬
‫مأ ْ ُ‬
‫ل)‪{ (5‬‬
‫ص ٍ‬
‫‪(4‬فَ َ‬
‫ف َ‬
‫جعَل َهُ ْ‬
‫م ك َعَ ْ‬
‫كو ٍ‬

‫ل رب ش َ َ‬
‫َ‬
‫ف َ‬
‫ب‬
‫م ت َشَر ك َي ْش َ‬
‫صش َ‬
‫عش َ َ ّ‬
‫ف َ‬
‫}أل َش ْ‬
‫حا ِ‬
‫ك ب ِأ ْ‬
‫ل{ أي ألم يبلغك يا محمد وتعلم علما ً يقينييا ً‬
‫ال ْ ِ‬
‫في ِ‬

‫‪128‬‬

‫كأنه مشاهد بالعين‪ ،‬ماذا صنع الله العظيم الكييبير‬
‫بأصحاب الفيل الذين قصدوا العتداء على الييبيت‬
‫الحييرام ؟ قششال المفسششرون‪ :‬روي أن "أبرهيية‬
‫ة بصنعاء وأراد أن‬
‫الشرم" ملك اليمن‪ ،‬بنى كنيس ً‬
‫يصرف ِإليها الحجيج‪ ،‬فجاء رج ٌ‬
‫وط‬
‫ل من كنانة وتغ ّ‬
‫فيهييا ليل ً ولطييخ جييدرانها بالنجاسيية احتقييارا ً لهييا‪،‬‬
‫فغضييب "أبرهيية" وحلييف أن يهييدم الكعبيية‪ ،‬وجيياء‬
‫مكة بجيش كبير علييى أفيييال‪ ،‬يتقييدمهم فيييل هييو‬
‫أعظم الفيلة‪ ،‬فلما وصل قريبا ً من مكة فيّر أهلهييا‬
‫إلى الجبال‪ ،‬خوفا ً من جنده وجبروته‪ ،‬وأرسل الله‬
‫تعالى على جيييش أبرهيية طيييورا ً سييودًا‪ ،‬مييع كييل‬
‫طائر ثلثة أحجار‪ ،‬حجر في منقاره وحجييران فييي‬
‫رجليه‪ ،‬فرمتهيم الطييور بالحجيارة‪ ،‬فكيان الحجير‬
‫يدخل في رأس الرجل ويخرج ميين دبييره فيرميييه‬
‫مرهييم عيين‬
‫جثيية هامييدة‪ ،‬حييتى أهلكهييم اللييه ود ّ‬
‫آخرهم‪ ،‬وكانت قصتهم عبرة للمعتبرين قال أبششو‬
‫السعود‪ :‬وتعليقُ الرؤييية بكيفييية فعلييه جييل وعل‬
‫ف َ‬
‫ع َ‬
‫ل{ ل بنفسه بييأن يقييال‪" :‬ألييم تيير مييا‬
‫}ك َي ْ َ‬
‫ف َ‬
‫ليييذان بوقوعهييا‬
‫فعل ربك" الخ لتهويل الحادثة‪ ،‬وا ِ‬
‫على كيفية هائلة‪ ،‬وهيئةٍ عجيبيية داليية علييى عظييم‬
‫قدرة الله تعالى‪ ،‬وكميال علميه وحكمتيه وشيرف‬
‫رسييوله صييلى اللييه عليييه وسييلم ف يِإن ذلييك ميين‬
‫لرهاصات لما روي أن القصة وقعت فييي السيينة‬
‫ا ِ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫م‬
‫التي ولد فيها النبي عليييه الصييلة والسييلم }أل ْ‬
‫ع ْ‬
‫ل{ أي ألييم يهلكهييم‬
‫م ِ‬
‫ل ك َي ْدَ ُ‬
‫فششي ت َ ْ‬
‫ج َ‬
‫يَ ْ‬
‫ه ْ‬
‫ض شِلي ٍ‬
‫ويجعل مكرهم وسعيهم فييي تخريييب الكعبيية فييي‬
‫ضيييياع وخسيييار؟! } َ‬
‫ل َ َ‬
‫سشش َ‬
‫م طَْيششًرا‬
‫وأْر َ‬
‫هشش ْ‬
‫َ‬
‫علي ْ ِ‬
‫ٍ‬

‫‪129‬‬

‫أ ََباِبي َ‬
‫ل{ أي وسّلط عليهم من جنوده طيرا ً أتتهييم‬
‫جماعات‪ ،‬متتابعة بعضها في ِإثر بعييض‪ ،‬وأحيياطت‬
‫ن‬
‫م بِ ِ‬
‫ة ِ‬
‫جششاَر ٍ‬
‫بهييم ميين كييل ناحييية }ت َْر ِ‬
‫ح َ‬
‫مش ْ‬
‫هش ْ‬
‫مي ِ‬
‫ل{ أي تقذفهم بحجييارة صييغيرة ميين طييين‬
‫ِ‬
‫س ّ‬
‫جي ٍ‬
‫متحجر‪ ،‬كأنها رصاصات ثاقبة ل تصل إلى أحييدٍ ِإل‬
‫مأ ْ ُ‬
‫قتلته } َ‬
‫ل{ أي فجعلهييم‬
‫ص ٍ‬
‫م كَ َ‬
‫ج َ‬
‫ف َ‬
‫عل َ ُ‬
‫ف َ‬
‫ه ْ‬
‫ع ْ‬
‫كو ٍ‬
‫كييورق الشييجر الييذي عصييفت بييه الريييح‪ ،‬وأكلتييه‬
‫الدواب ثم راثته‪ ،‬فأهلكهم عن ب َ ْ‬
‫كرة أبيهم‪ ،‬وهييذه‬
‫القصة تدل على كرامة الله للكعبة‪ ،‬وِإنعامه علييى‬
‫قريش بدفع العدو عنهييم‪ ،‬فكييان يجييب عليهييم أن‬
‫يعبدوا الله ويشكروه على نعمائه‪ ،‬وفيها مييع ذلييك‬
‫عجائب وغرائب من قدرة الله على النتقييام ميين‬
‫أعدائه قال أبو حّيان‪ :‬كييان صييرف ذلييك العييدو‬
‫العظيم عام مولده السعيد عليه السلم‪ِ ،‬إرهاصييا ً‬
‫بنبييوته ِإذ مجيييء تلييك الطيييور علييى الوصييف‬
‫المنقيييول‪ ،‬مييين خيييوارق العيييادات والمعجيييزات‬
‫المتقدمة بين أيييدي النبييياء عليهييم السييلم‪ ،‬وقييد‬
‫أهلكهم اللييه تعييالى بأضييعف جنييوده وهييي الطييير‬
‫التي ليست من عادتها أنها تقتل‪.‬‬

‫سورة ُ‬
‫قَرْيش‬

‫‪130‬‬

‫التذكير بنعم الله على قريش‬

‫سوَرة‬
‫ي ال ّ‬
‫َبين ي َدَ ْ‬

‫* تحدثت هذه السورة عن نعم الله الجليلة‬
‫على أهل مكة‪ ،‬حيث كانت لهم رحلتان‪ :‬رحلة في‬
‫الشتاء ِإلى اليمن‪ ،‬ورحلة في الصيف ِإلى الشييام‬
‫من أجل التجارة‪ ،‬وقييد أكييرم اللييه تعييالى قريش يا ً‬
‫ة‬
‫بنعمتين عظميتين مين نعميه الكييثيرة همييا‪ :‬نعمي ُ‬
‫المييين والسيييتقرار‪ ،‬ونعمييية الغنيييى واليسيييار‬
‫َ‬
‫} َ‬
‫ه َ‬
‫م‬
‫ب َ‬
‫ت* ال ّش ِ‬
‫ذا ال ْب َي ْ ِ‬
‫ذي أطْ َ‬
‫دوا َر ّ‬
‫عب ُ ُ‬
‫فل ْي َ ْ‬
‫م ُ‬
‫هش ْ‬
‫ع َ‬
‫ف{‪.‬‬
‫ن َ‬
‫م ِ‬
‫ِ‬
‫و ٍ‬
‫ن ُ‬
‫م ْ‬
‫من َ ُ‬
‫م ْ‬
‫ه ْ‬
‫وآ َ‬
‫خ ْ‬
‫ع َ‬
‫جو ٍ‬

‫التذكير بنعم الله على قريش‬

‫ة ال ّ‬
‫شييَتاءِ‬
‫حَليي َ‬
‫م رِ ْ‬
‫ليل ِ‬
‫ش)‪ِ(1‬إيلفِِهيي ْ‬
‫} ِ‬
‫ف قَُرْييي ٍ‬
‫ّ‬
‫ْ‬
‫ْ‬
‫هيي َ‬
‫ذي‬
‫ب َ‬
‫ت)‪(3‬اليي ِ‬
‫ذا الب َْييي ِ‬
‫دوا َر ّ‬
‫ف)‪(2‬فَلي َعُْبيي ُ‬
‫صييي ْ ِ‬
‫َوال ّ‬
‫َ‬
‫ف)‪.{(4‬‬
‫ن َ‬
‫م ِ‬
‫م ِ‬
‫خوْ ٍ‬
‫ن ُ‬
‫من َهُ ْ‬
‫جوٍع َوآ َ‬
‫مه ُ ْ‬
‫أط ْعَ َ‬
‫م ْ‬
‫م ْ‬

‫‪131‬‬

‫سبب النزول‪:‬‬
‫نزول الية )‪:(1‬‬
‫روى البيهقي في كتيياب الخلفيييات عيين أم‬
‫هانئ بنت أبي طالب ‪ :‬أن رسول الله صييلى اللييه‬
‫ضل الله قريش يا ً بسييبع خلل‪:‬‬
‫عليه وسلم قال‪" :‬ف ّ‬
‫أني منهم‪ ،‬وأن النبوة فيهييم‪ ،‬والحجابيية والسييقاية‬
‫فيهم‪ ،‬وأن الله نصرهم على الفيل‪ ،‬وأنهييم عبييدوا‬
‫الله عز وجل عشيير سيينين ل يعبييده غيرهييم‪ ،‬وأن‬
‫الله أنزل فيهم سورة من القييرآن‪ ،‬ثييم تل رسييول‬
‫ه‬
‫سششم ِ الّلشش ِ‬
‫اللييه صييلى اللييه عليييه وسييلم‪} :‬ب ِ ْ‬
‫ف ُ‬
‫م‬
‫ش* ِإيل ِ‬
‫ن الّر ِ‬
‫حيم ِ ‪ .‬ليل ِ‬
‫الّر ْ‬
‫ه ْ‬
‫ح َ‬
‫ما ِ‬
‫ف ِ‬
‫قَري ْ ٍ‬
‫ف* َ‬
‫ة ال ّ‬
‫هشش َ‬
‫ذا‬
‫شَتا ِ‬
‫حل َ َ‬
‫ب َ‬
‫دوا َر ّ‬
‫عب ُ ُ‬
‫فل ْي َ ْ‬
‫صي ْ ِ‬
‫ر ْ‬
‫وال ّ‬
‫ء َ‬
‫ِ‬
‫َ‬
‫ْ‬
‫ّ‬
‫ْ‬
‫م‬
‫ش‬
‫ه‬
‫ن‬
‫م‬
‫وآ‬
‫ع‬
‫شو‬
‫ش‬
‫ج‬
‫ن‬
‫ش‬
‫م‬
‫م‬
‫ش‬
‫ه‬
‫م‬
‫ع‬
‫ط‬
‫أ‬
‫ذي‬
‫ل‬
‫ا‬
‫ت*‬
‫ي‬
‫ب‬
‫ل‬
‫ِ‬
‫ا َ ْ ِ‬
‫َ َ ُ ْ ِ ْ ُ‬
‫ٍ َ َ َ ُ ْ‬
‫ف*{" قششال ابششن كششثير‪ :‬وهييو حييديث‬
‫ن َ‬
‫ِ‬
‫و ٍ‬
‫م ْ‬
‫خش ْ‬
‫غريب‪.‬‬

‫ف ُ‬
‫م { هييذه اللم‬
‫ش ِإيل ِ‬
‫ليل ِ‬
‫هشش ْ‬
‫} ِ‬
‫ف ِ‬
‫قَري ْ ٍ‬
‫ْ‬
‫متعلقة بالفعل الذي بعدها } َ‬
‫دوا{ ومعنييى‬
‫عب ُش ُ‬
‫فلي َ ْ‬
‫ف والعتييياد يقييال‪ :‬ألييف الرجييل‬
‫للي ُ‬
‫ليلف{ ا ِ‬
‫}ا ِ‬
‫ً‬
‫ً‬
‫ً‬
‫المر إلفا وِإلفا‪ ،‬وآلفه غيره إيلفا والمعنييى‪ :‬ميين‬
‫أجل تسهيل الله علييى قريييش وتيسيييره لهييم مييا‬
‫كانوا يألفونه من الرحلة في الشييتاء ِإلييى اليميين‪،‬‬

‫‪132‬‬

‫ة‬
‫حل َ َ‬
‫ر ْ‬
‫وفي الصيف ِإلى الشام كما قييال تعييالى } ِ‬
‫ال ّ‬
‫ف{ أي فييي رحلييتي الشيييتاء‬
‫شششَتا ِ‬
‫صششي ْ ِ‬
‫وال ّ‬
‫ء َ‬
‫والصيف‪ ،‬حيث كيانوا يسيافرون للتجييارة‪ ،‬وييأتون‬
‫لييياب‪،‬‬
‫بالطعمة والثياب‪ ،‬ويربحون في الذهاب وا ِ‬
‫وهم آمنون مطمئنون ل يتعرض لهيم أحيد بسيوء‪،‬‬
‫ن بيييت اللييه‬
‫لن الناس كانوا يقولون‪ :‬هؤلء جيييرا ُ‬
‫سكان حرمه‪ ،‬وهم أهل اللييه لنهييم ولة الكعبيية‪،‬‬
‫و ُ‬
‫فل تؤذوهم ول تظلموهم‪ ،‬ولما أهلك الله أصحاب‬
‫الفيل‪ ،‬ورد ّ كيدهم فييي نحييورهم‪ ،‬ازداد وقييع أهييل‬
‫مكة في القلوب‪ ،‬وازداد تعظيم المييراء والملييوك‬
‫لهم‪ ،‬فازدادت تلك المنافع والمتاجر‪ ،‬فلييذلك جيياء‬
‫المتنييان علييى قريييش‪ ،‬وتييذكيرهم بنعييم اللييه‬
‫ليوحيييدوه ويشيييكروه } َ‬
‫هششش َ‬
‫ذا‬
‫ب َ‬
‫دوا َر ّ‬
‫عُبششش ُ‬
‫فل ْي َ ْ‬
‫ب‬
‫ال ْب َي ْ ِ‬
‫ت{ أي فليعبييدوا اللييه العظيييم الجليييل‪ ،‬ر ّ‬
‫هذا البيت العتيق‪ ،‬وليجعلوا عبييادتهم شييكرا ً لهييذه‬
‫صييييهم بهييييا قشششال‬
‫النعميييية الجليليييية الييييتي خ ّ‬
‫ْ‬
‫المفسرون‪ :‬وِإنمييا دخلييت الفيياء } َ‬
‫دوا{‬
‫عب ُ ُ‬
‫فلي َ ْ‬
‫لما في الكلم من معنى الشرط كأنه قال‪ِ :‬إن لم‬
‫يعبدوه لسائر نعمييه‪ ،‬فليعبييدوه ميين أجييل ِإيلفهييم‬
‫الرحلتين‪ ،‬التي هي من أظهر نعمه عليهييم‪ ،‬لنهييم‬
‫ذي‬
‫في بلدٍ ل زرع ول ضرع‪ ،‬ولهذا قال بعده }ال ّش ِ‬
‫َ‬
‫ف{ أي‬
‫ن َ‬
‫م ِ‬
‫م ِ‬
‫و ٍ‬
‫ن ُ‬
‫أط ْ َ‬
‫مشش ْ‬
‫من َ ُ‬
‫م ْ‬
‫م ُ‬
‫ه ْ‬
‫وآ َ‬
‫ه ْ‬
‫ع َ‬
‫خشش ْ‬
‫ع َ‬
‫جو ٍ‬
‫لله الذي أطعمهم بعييد شييدة جييوع‪ ،‬وآمنهييم‬
‫هذا ا ِ‬
‫بعد شييدة خييوف‪ ،‬فقييد كييانوا يسييافرون آمنييين ل‬
‫يتعييرض لهييم أحييد‪ ،‬ول ُيغييير عليهييم أحييد ل فييي‬
‫َ‬
‫م‬
‫ول َ ش ْ‬
‫سفرهم ول في حضرهم كما قال تعييالى }أ َ‬
‫َ‬
‫س‬
‫وي ُت َ َ‬
‫خطّ ش ُ‬
‫ما آ ِ‬
‫عل َْنا َ‬
‫ج َ‬
‫وا أّنا َ‬
‫حَر ً‬
‫ف الن ّششا ُ‬
‫مًنا َ‬
‫ي ََر ْ‬

‫‪133‬‬

‫م{ وذلييك ببركيية دعيوة أبيهيم الخلييل‬
‫ِ‬
‫ن َ‬
‫م ْ‬
‫ه ْ‬
‫ح ْ‬
‫ول ِ ِ‬
‫ع ْ‬
‫ه َ‬
‫ذا‬
‫ل َ‬
‫ج َ‬
‫با ْ‬
‫ِإبراهيم عليه السلم حيث قال }َر ّ‬
‫واْرُز ْ‬
‫ت{‬
‫مَرا ِ‬
‫م ِ‬
‫ال ْب َل َدَ آ ِ‬
‫م ْ‬
‫ق ُ‬
‫ن الث ّ َ‬
‫ه ْ‬
‫مًنا{ وقوله } َ‬
‫أفل يجييب علييى قريييش أن يفييردوا بالعبييادة هييذا‬
‫الله الجليل‪ ،‬الذي أطعمهم من جوع وآمنهييم ميين‬
‫خوف ؟!‬

‫‪134‬‬

‫عون‬
‫ما ُ‬
‫سورة ال ْ َ‬
‫حال الكافر الجاحد والمنافق المرائي‬

‫سوَرة‬
‫ي ال ّ‬
‫َبين ي َدَ ْ‬

‫* هذه السورة مكييية‪ ،‬وقييد تحييدثت بِإيجيياز‬
‫عن فريقين من البشر هما‪:‬‬
‫أ‪ -‬الكافر الجاحد لنعم اللييه‪ ،‬المكييذب بيييوم‬
‫الحساب والجزاء‪.‬‬
‫ب‪ -‬المنافق الذي ل يقصد بعمله وجه الله‪،‬‬
‫بل يرائي في أعماله وصلته‪.‬‬

‫* أما الفريييق الول‪ :‬فقييد ذكيير تعييالى ميين‬
‫صفاتهم الذميمة‪ ،‬أنهييم يهينييون اليييتيم ويزجرونييه‬
‫ة ل تأديبييًا‪ ،‬ول يفعلييون الخييير‪ ،‬حييتى ولييو‬
‫غلظيي ً‬

‫‪135‬‬

‫بالتذكير بحق المسكين والفقيير‪ ،‬فل هيم أحسينوا‬
‫في عبادة ربهم‪ ،‬ول أحسنوا ِإلى خلقه‪.‬‬

‫* وأمييا الفريييق الثيياني‪ :‬فهييم المنييافقون‪،‬‬
‫الغييافلون عيين صييلتهم‪ ،‬الييذين ل يؤدونهييا فييي‬
‫أوقاتها‪ ،‬والذين يقومون بهييا "صييورة" ل "معنييى"‬
‫المراءون بأعمالهم‪ ،‬وقد توعدت الفريقين بالويييل‬
‫والهلك‪ ،‬وشنعت عليهم أعظييم تشيينيع‪ ،‬بأسييلوب‬
‫الستغراب والتعجيب من ذاك الصنيع !!‪.‬‬

‫حال الكافر الجاحد والمنافق المرائي‬

‫َ َ‬
‫ن)‪َ(1‬فييذ َل ِ َ‬
‫ذي‬
‫ك ال ّ ي ِ‬
‫ت ال ّ ِ‬
‫ب ِبال ّ‬
‫ذي ي ُك َذ ّ ُ‬
‫}أَرأي ْ َ‬
‫دي ِ‬
‫ن)‬
‫سي ِ‬
‫ض عَل َييى ط َعَييام ِ ال ْ ِ‬
‫م)‪َ(2‬ول ي َ ُ‬
‫م ْ‬
‫ي َيد ُعّ ال ْي َِتيي َ‬
‫حي ّ‬
‫كي ِ‬
‫‪(3‬فَوَْييي ٌ‬
‫م‬
‫م َ‬
‫ن ُ‬
‫ن)‪(4‬اّليي ِ‬
‫صييلت ِهِ ْ‬
‫هيي ْ‬
‫ل ل ِل ْ ُ‬
‫ن َ‬
‫م َ‬
‫عيي ْ‬
‫ذي َ‬
‫صييّلي َ‬
‫ن‬
‫ن ُ‬
‫سيييا ُ‬
‫ن)‪(5‬اّلييي ِ‬
‫من َُعيييو َ‬
‫م ُييييَراءو َ‬
‫هو َ‬
‫َ‬
‫ن)‪(6‬وَي َ ْ‬
‫هييي ْ‬
‫ذي َ‬
‫ن)‪.{(7‬‬
‫ما ُ‬
‫عو َ‬
‫ال ْ َ‬

‫‪136‬‬

‫سبب النزول‪:‬‬
‫نزول الية )‪:(1‬‬
‫َ َ‬
‫ت{ قال ابن عبششاس‪ :‬نزلييت فييي‬
‫}أَرأي ْ َ‬
‫دي‪ :‬نزلت في‬
‫س ّ‬
‫سْهمي وقال ال ّ‬
‫العاص بن وائل ال ّ‬
‫الوليد بين المغييرة‪ .‬وقييل‪ :‬فيي أبييي جهيل‪ ،‬كيان‬
‫وصيا ً ليتيم‪ ،‬فجاءه عريانا ً يسأله من مييال نفسييه‪،‬‬
‫فدفعه‪ .‬وقال ابن جريج‪ :‬نزلت فييي أبييي سييفيان‪،‬‬
‫جيُزورًا‪ ،‬فطلييب منييه‬
‫وكان ينحر فييي كييل أسييبوع َ‬
‫قَرعييه بعصيياه‪ ،‬فييأنزل اللييه هييذه‬
‫يييتيم شيييئًا‪ ،‬ف َ‬
‫السورة‪.‬‬

‫نزول الية )‪:(4‬‬
‫} َ‬
‫وي ْ ٌ‬
‫ن{‪ :‬أخييرج ابيين المنييذر‬
‫ص شّلي َ‬
‫ل ل ِل ْ ُ‬
‫م َ‬
‫ف َ‬
‫عن ابن عباس في قييوله‪َ } :‬‬
‫وي ْش ٌ‬
‫ن{‬
‫صشّلي َ‬
‫ل ل ِل ْ ُ‬
‫م َ‬
‫ف َ‬
‫قال‪ :‬نزلت في المنافقين كانوا يراؤون المييؤمنين‬
‫بصييييلتهم إذا حضييييروا‪ ،‬ويتركونهييييا إذا غييييابوا‪،‬‬
‫ويمنعونهم العارِّية‪ ،‬أي الشيء المستعار‪.‬‬
‫َ َ‬
‫ذي ي ُ َ‬
‫ن{ ؟‬
‫ت اّلششش ِ‬
‫ب ِبالششش ّ‬
‫كشششذّ ُ‬
‫}أَرأْيششش َ‬
‫دي ِ‬
‫استفهام للتعجيب والتشويق أي هل عرفت الييذي‬
‫يكذب الجزاء والحساب في الخرة ؟ هل عرفييت‬

‫‪137‬‬

‫ن تعرفيه‬
‫من هييو‪ ،‬وميا هيي أوصيافه ؟ ِإن أردت أ ْ‬
‫فذَل ِ َ‬
‫} َ‬
‫م{ أي فذلك هييو الييذي‬
‫ذي ي َدُ ّ‬
‫ك ال ّ ِ‬
‫ع ال ْي َِتي َ‬
‫ً‬
‫ً‬
‫يدفع اليييتيم دفعيا عنيفيا بجفييوة وغلظية‪ ،‬ويقهييره‬
‫ض َ‬
‫عَلى طَ َ‬
‫ول ي َ ُ‬
‫ح ّ‬
‫ويظلمه ول يعطيه حقه } َ‬
‫عام ِ‬
‫ن{ أي ول يحث علييى ِإطعيام المسيكين‬
‫س ِ‬
‫ال ْ ِ‬
‫م ْ‬
‫كي ِ‬
‫ض{ ِإشييارة‬
‫ول ي َ ُ‬
‫حش ّ‬
‫قال أبو حيان ‪ :‬وفي قييوله } َ‬
‫ِإلى أنه هو ل ُيطعم ِإذا قدر‪ ،‬وهذا من باب الولى‬
‫ض غيره بخ ً‬
‫ل‪ ،‬فلن يييترك هييو ذلييك‬
‫لنه ِإذا لم يح ّ‬
‫فعل ً أولى وأحرى وقال الرازي‪ :‬فِإن قيييل‪ِ :‬لييم‬
‫ن{ ولييم‬
‫ض َ‬
‫س ِ‬
‫عام ِ ال ْ ِ‬
‫عَلى طَ َ‬
‫ول ي َ ُ‬
‫م ْ‬
‫ح ّ‬
‫قال } َ‬
‫كي ِ‬
‫يقل‪ :‬ول ُيطعم المسكين ؟ فالجواب أنييه ِإذا مَنييع‬
‫اليييتيم حقييه‪ ،‬فكيييف يطعييم المسييكين ميين مييال‬
‫نفسه ؟ بل هيو بخييل مين ميال غييره‪ ،‬وهيذا هيو‬
‫النهاييية فييي الخسيية‪ ،‬ويييدل علييى نهاييية بخلييه‪،‬‬
‫وقساوة قلبه‪ ،‬وخساسيية طبعييه‪ ،‬والحاصييل أنييه ل‬
‫ُيطعييم المسييكين ول يييأمر بِإطعييامه‪ ،‬لنييه يكي ّ‬
‫ذب‬
‫بالقيامة‪ ،‬ولو آمين بيالجزاء وأيقين بالحسياب لميا‬
‫ن{ أي هل ٌ‬
‫صييدر عنييه ذلييك } َ‬
‫وي ْش ٌ‬
‫ك‬
‫ص شّلي َ‬
‫ل ل ِل ْ ُ‬
‫م َ‬
‫ف َ‬
‫ب للمصييلين المنييافين‪ ،‬المتصييفين بهييذه‬
‫وعييذا ٌ‬
‫م‬
‫م َ‬
‫ن ُ‬
‫الوصيياف القبيحيية }ال ّ ِ‬
‫عش ْ‬
‫ذي َ‬
‫ه ْ‬
‫هش ْ‬
‫ن َ‬
‫صششلت ِ ِ‬
‫ن{ أي الييذين هييم غييافلون عيين صييلتهم‪،‬‬
‫سا ُ‬
‫هو َ‬
‫َ‬
‫ً‬
‫يؤخرونها عن أوقاتها تهاونا بها قال ابن عباس‪:‬‬
‫هو المصلي الذي ِإن صلى لم يزح لهييا ثواب يًا‪ ،‬وِإن‬
‫تركها لم يخش عليها عقابا ً وقال أبو العالية‪ :‬ل‬
‫يصييييلونها لمواقيتهييييا‪ ،‬ول يتمييييون ركوعهييييا ول‬
‫سجودها‪ ،‬وقد سئل رسول اللييه صييلى اللييه عليييه‬
‫وسلم عن الية فقال‪) :‬هم الذين يؤخرون الصلة‬

‫‪138‬‬

‫مييا قييال تعييالى‬
‫عن وقتها( قال المفسششرون‪ :‬ل ّ‬
‫علييم‬
‫ن{ ُ‬
‫ن{ بلفظيية } َ‬
‫سا ُ‬
‫هو َ‬
‫عش ْ‬
‫م َ‬
‫}ع ْ‬
‫ه ْ‬
‫ن َ‬
‫صلت ِ ِ‬
‫أنها في المنافقين‪ ،‬ولهذا قال بعششض السششلف‪:‬‬
‫م{ ولييم يقييل‬
‫الحمد لله الذي قال } َ‬
‫ع ْ‬
‫ه ْ‬
‫ن َ‬
‫صششلت ِ ِ‬
‫"في صلتهم" لنه لو قال "فييي صييلتهم" لكييانت‬
‫ن قييد يسييهو فييي صييلته‪،‬‬
‫في المييؤمنين‪ ،‬والمييؤم ُ‬
‫والفرق بين السهوين واضح‪ ،‬ف يِإن سييهو المنييافق‬
‫ك وقليية التفييات ِإليهييا‪ ،‬فهييو ل يتييذكرها‬
‫سييهو تيير ٍ‬
‫ً‬
‫ويكون مشغول عنها‪ ،‬والمؤمن ِإذا سها في صلته‬
‫تداركه في الحال وجييبره بسييجود السييهو‪ ،‬فظهيير‬
‫الفارق بين السهوين‪ ،‬ثم زاد فييي بيييان أوصييافهم‬
‫ن{ أي يصلون‬
‫ن ُ‬
‫الذميمة فقال }ال ّ ِ‬
‫م ي َُراءو َ‬
‫ذي َ‬
‫ه ْ‬
‫أمام الناس رياًء ليقال ِإنهييم صييلحاء‪ ،‬ويتخشييعون‬
‫ليقال ِإنهم أتقياء‪ ،‬ويتصدقون ليقال ِإنهييم كرميياء‪،‬‬
‫ن‬
‫عو َ‬
‫من َ ُ‬
‫وي َ ْ‬
‫وهكذا سائر أعمالهم للشهرة والرياء } َ‬
‫ن{ أي ويمنعون الناس المنافع اليسيييرة‪،‬‬
‫ما ُ‬
‫عو َ‬
‫ال ْ َ‬
‫لبرة‪ ،‬والفييأس‪ ،‬والقييدر‪،‬‬
‫من كل ما يستعان به كييا ِ‬
‫والملح‪ ،‬والماء وغيرهييا قشال مجاهشد‪ :‬الميياعون‬
‫العارية للمتعة وما يتعاطاه الناس بينهم كالفييأس‬
‫والييدلو والنييية وقششال الطششبري‪ :‬أي يمنعييون‬
‫الناس منافع ما عندهم‪ ،‬وأصل المياعون مين كيل‬
‫شيء منفعته ‪ ..‬وفي الية زجر عيين البخييل بهييذه‬
‫الشييياء القليليية الحقيييرة‪ ،‬فيِإن البخييل بهييا نهاييية‬
‫البخل وهو مخل بالمروءة‪.‬‬

‫‪139‬‬

‫وَثر‬
‫سورة ال ْك َ ْ‬
‫إكرام النبي صلى الله عليششه وسششلم بنهششر‬
‫الكوثر‬

‫سوَرة‬
‫ي ال ّ‬
‫َبين ي َدَ ْ‬

‫وَثر مكية‪ ،‬وقد تحييدثت عيين‬
‫* سورة ال ْك َ ْ‬
‫فضييل اللييه العظيييم علييى نييبيه الكريييم‪ ،‬بِإعطيائه‬
‫الخير الكثير والنعم العظيمة فييي الييدنيا والخييرة‪،‬‬
‫وث ََر{ وغييير ذلييك ميين الخييير‬
‫ومنهييا نهيير } ال ْك َش ْ‬
‫العظيم العمييم‪ ،‬وقيد دعيت الرسيول إليى ِإدامية‬
‫الصلة‪ ،‬ونحر الهدي شكرا ً لله‪.‬‬

‫‪140‬‬

‫* وختمت السورة ببشييارة الرسييول صييلى‬
‫الله عليه وسلم بخزي أعدائه‪ ،‬ووصييفت مبغضيييه‬
‫بالذلة والحقارة‪ ،‬والنقطاع من كل خير في الدنيا‬
‫والخرة‪ ،‬بينما ِذكُر الرسول مرفييوعٌ علييى المنييائر‬
‫والمنابر‪ ،‬واسمه الشريف على كييل لسييان‪ ،‬خاليد ٌ‬
‫ِإلى آخر الدهر والزمان‪.‬‬

‫إكرام النبي صلى الله عليششه وسششلم بنهششر‬
‫الكوثر‬

‫ل ل َِرب ّ َ‬
‫}إ ِّنا أ َعْط َي َْنا َ‬
‫ص ّ‬
‫حيْر)‬
‫ك َوان ْ َ‬
‫ك ال ْك َوْث ََر)‪(1‬فَ َ‬
‫شان ِئ َ َ‬
‫ن َ‬
‫ك هُوَ ال َب ْت َُر)‪.{(3‬‬
‫‪(2‬إ ِ ّ‬

‫سبب نزول السورة‪:‬‬
‫أخرج البزار وغيره بسييند صييحيح عيين ابيين‬
‫عباس قال‪ :‬قدم كعب بن الشرف مكة‪ ،‬فقال له‬
‫قريش‪ :‬أنت سيدهم‪ ،‬أل ترى هذا المنصبر المنبتر‬
‫من قومه‪ ،‬يزعم أنه خير منا‪ ،‬ونحن أهل الحجيييج‪،‬‬

‫‪141‬‬

‫وأهل السقاية‪ ،‬وأهييل السييدانة ! قييال‪ :‬أنتييم خييير‬
‫شان ِئ َ َ‬
‫ن َ‬
‫و ال َب ْت َُر{‪.‬‬
‫ك ُ‬
‫منه‪ ،‬فنزلت‪} :‬إ ِ ّ‬
‫ه َ‬
‫ك ال ْ َ‬
‫عطَي َْنشششا َ‬
‫وث ََر{ الخطييياب‬
‫}إ ِّنشششا أ َ ْ‬
‫كششش ْ‬
‫للرسول صلى اللييه عليييه وسييلم تكريم يا ً لمقييامه‬
‫الرفيع وتشريفا ً أي نحن أعطيناك يا محمد الخييير‬
‫الكثير الدائم في الدنيا والخرة‪ ،‬وميين هييذا الخييير‬
‫"نهر الكوثر" وهو كما ثبت في الصحيح )نهيٌر فييي‬
‫در‬
‫الجنيية‪ ،‬حافتيياه ميين ذهييب‪ ،‬ومجييراه علييى اليي ّ‬
‫ب من المسك‪ ،‬وميياؤه أحلييى‬
‫والياقوت‪ ،‬تربُته أطي ُ‬
‫من العسيل‪ ،‬وأبييض مين الثليج‪ ،‬مين شيرب منيه‬
‫ة لما يظمأ بعدها أبدًا( عيين أنييس قييال‪) :‬بينييا‬
‫شرب ً‬
‫رسول الله صلى الله عليه وسييلم ذات يييوم بييين‬
‫أظهرنا‪ ،‬إ ِذ ْ أغفى ِإغفاءةً ثييم رفييع رأسييه مبتسييما ً‬
‫فقلنا‪ :‬ما أضحكك ييا رسيول اللييه ؟ قيال‪ُ :‬أنزليت‬
‫ي آنفا ً سورة فقرأ بسم اللييه الرحميين الرحيييم‬
‫عل ّ‬
‫َ‬
‫ْ‬
‫َ‬
‫ك ال َ‬
‫عطي ْن َششا َ‬
‫وث ََر{ السييورة ثييم قييال‪:‬‬
‫}إ ِن ّششا أ ْ‬
‫كشش ْ‬
‫أتدرون ما الكوثر؟ قلنا‪ :‬الله ورسوله أعلييم قييال‪:‬‬
‫فِإنه نهٌر وعدنيه ربي عز وجل‪ ،‬فيه خيٌر كثير‪ ،‬هييو‬
‫ض تييرد عليييه ُأمييتي يييوم القياميية‪ ،‬آنيت ُييه عييدد‬
‫حو ٌ‬
‫النجوم‪ ،‬فيختلج العبد ‪ -‬أي ينتزع ويقتطييع ‪ -‬منهييم‬
‫فيأقول‪ِ :‬إنيه مين أميتي! فيقيال ِإنيك ل تيدري ميا‬
‫أحدث بعدك( قال أبو حيان‪ :‬وذكيير فييي الكييوثر‬
‫ة وعشرون قو ً‬
‫ح هيو ميا فسيره بيه‬
‫ست ً‬
‫ل‪ ،‬والصيحي ُ‬
‫رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال‪) :‬هو نهييٌر‬

‫‪142‬‬

‫في الجنة حافتاه ميين ذهييب‪ ،‬ومجييراه علييى الييدر‬
‫والياقوت‪ ،‬تربُته أطيب من المسك‪ ،‬وميياؤه أحلييى‬
‫من العسل( وعن ابششن عبشاس‪ :‬الكييوثُر‪ :‬الخييير‬
‫ل ل َِرب ّ َ‬
‫الكثير } َ‬
‫حششْر{ أي فصيي ّ‬
‫ص ّ‬
‫ل لربييك‬
‫وان ْ َ‬
‫ف َ‬
‫ك َ‬
‫الذي أفيياض مييا أفيياض عليييك ميين الخييير خالصيا ً‬
‫لبل التي هي خيييار أمييوال‬
‫لوجهه الكريم‪ ،‬وانحر ا ِ‬
‫العرب شكرا ً له على ما أولك ربك من الخيييرات‬
‫والكرامييات قال ابششن جششزي‪ :‬كييان المشييركون‬
‫يصلون مكيياًء وتصييدية‪ ،‬وينحييرون للصيينام فقييال‬
‫اللييه لنييبيه صييلى اللييه عليييه وسييلم‪ :‬ص ي ّ‬
‫ل لربييك‬
‫وحده‪ ،‬وانحر لوجهه ل لغيييره‪ ،‬فيكييون ذلييك أمييرا ً‬
‫شان ِئ َ َ‬
‫ن َ‬
‫و ال َب ْت َُر{ أي‬
‫ك ُ‬
‫لخلص }إ ِ ّ‬
‫ه َ‬
‫بالتوحيد وا ِ‬
‫ِإن مبغضك يا محمييد هييو المنقطيع عين كيل خيير‬
‫قال المفسرون‪ :‬لما مات "القاسم" ابن النبي‬
‫صلى الله عليه وسلم قشال العشاص بشن وائل‪:‬‬
‫دعوه فإنه رج ٌ‬
‫ل أبتر ل عقب لييه ‪-‬أي ل نسييل لييه‪-‬‬
‫فِإذا هلييك انقطييع ذكييره فييأنزل اللييه تعييالى هييذه‬
‫السورة‪ ،‬وأخبر تعالى أن هذا الكافر هو البتر وِإن‬
‫كييان لييه أولد‪ ،‬لنييه مبتييور ميين رحميية اللييه ‪-‬أي‬
‫مقطوع عنها‪ -‬ولنه ل ُيذكر ِإل ذكر باللعنة‪ ،‬بخلف‬
‫النبي صلى الله عليه وسلم فِإن ذكره خالييد ِإلييى‬
‫آخر الدهر‪ ،‬مرفوع على المآذن والمنابر‪ ،‬مقييرون‬
‫بذكر الله تعالى‪ ،‬والمؤمنون من زمييانه ِإلييى يييوم‬
‫القياميية أتبيياعه فهييو كالوالييد لهييم صييلوات اللييه‬
‫وسلمه عليه‪.‬‬

‫‪143‬‬

‫سورة ال ْ َ‬
‫فُرون‬
‫كا ِ‬
‫البراءة من الشرك والضلل‬

‫سوَرة‬
‫ي ال ّ‬
‫َبين ي َدَ ْ‬

‫‪144‬‬

‫* سورة ال ْ َ‬
‫فُرون مكييية‪ ،‬وهييي سييورة‬
‫كا ِ‬
‫التوحيد والبراءة من الشرك والضييلل‪ ،‬فقييد دعييا‬
‫المشركون رسول الله صلى الله عليه وسلم ِإلى‬
‫المهادنة‪ ،‬وطلبوا منه أن يعبد آلهتم سنة‪ ،‬ويعبييدوا‬
‫ِإلهه سنة‪ ،‬فنزلت السورة تقطع أطماع الكافرين‪،‬‬
‫ليمان‪ ،‬وعبييدة‬
‫وتفصل النزاع بين الفريقين‪ :‬أهل ا ِ‬
‫الوثان‪ ،‬وترد على الكافرين تلك الفكرة السخيفة‬
‫في الحال والستقبال‪.‬‬

‫البراءة من الشرك والضلل‬

‫َ‬
‫ل َيييا أ َي َّهييا ال ْ َ‬
‫}ُقيي ْ‬
‫مييا‬
‫كييافُِرو َ‬
‫ن)‪(1‬ل أعُْبييد ُ َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫د)‪َ(3‬ول أَنا َ‬
‫عاِبييد ٌ‬
‫ما أعْب ُ ُ‬
‫دو َ‬
‫م عاب ِ ُ‬
‫دو َ‬
‫ت َعْب ُ ُ‬
‫ن َ‬
‫ن)‪َ(2‬ول أن ْت ُ ْ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫م‬
‫م َ‬
‫مييا أعْب ُي ُ‬
‫دو َ‬
‫عاب ِي ُ‬
‫د)‪(5‬ل َك ُي ْ‬
‫ن َ‬
‫م)‪َ(4‬ول أن ْت ُي ْ‬
‫مييا عَب َييدت ّ ْ‬
‫َ‬
‫ُ‬
‫ن)‪.{ (6‬‬
‫ِدين ُك ْ‬
‫م وَل ِ َ‬
‫ي ِدي ِ‬

‫سبب نزولها‪:‬‬
‫أخرج الطبراني وابن أبي حيياتم عششن ابششن‬
‫عباس‪" :‬أن قريشا ً دعت رسول الله صييلى اللييه‬

‫‪145‬‬

‫علييه وسيلم إليى أن يعطيوه ميا ً‬
‫ل‪ ،‬فيكيون أغنيى‬
‫رجل بمكة‪ ،‬ويزّوجوه ما أراد من النسيياء‪ ،‬فقييالوا‪:‬‬
‫ف عيين شييتم آلهتنييا‪ ،‬ول‬
‫هييذا لييك يييا محمييد‪ ،‬وتك ي ّ‬
‫تذكرها بسوء‪ ،‬فإن لييم تفعييل فاعبييد آلهتنييا سيينة‪،‬‬
‫قال‪ :‬حتى أنظر ما يأتيني من ربييي‪ ،‬فييأنزل اللييه‪:‬‬
‫َ‬
‫} ُ‬
‫ق ْ‬
‫ن{ إلييى آخيير السييورة‪،‬‬
‫ها ال ْك َششا ِ‬
‫فُرو َ‬
‫ل َيا أي ّ َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ْ‬
‫َ‬
‫لأ َ‬
‫وأنزل‪ُ } :‬‬
‫ق ْ‬
‫ها‬
‫ف َ‬
‫مُرون َِني أ ْ‬
‫غي َْر الل ّ ِ‬
‫عب ُدُ أي ّ َ‬
‫ه ت َأ ُ‬
‫ن{ ]الزمر‪."[64 :‬‬
‫جا ِ‬
‫هُلو َ‬
‫ال ْ َ‬

‫َ‬
‫} ُ‬
‫قش ْ‬
‫ن{ أي قييل يييا‬
‫هششا ال ْك َششا ِ‬
‫فُرو َ‬
‫ل ي َششا أي ّ َ‬
‫محمد لهييؤلء الكفييار الييذين يييدعونك ِإلييى عبييادة‬
‫ن{ أي ل‬
‫الوثان والحجار }ل أ َ ْ‬
‫دو َ‬
‫عب ُش ُ‬
‫مششا ت َ ْ‬
‫عب ُشدُ َ‬
‫أعبد هييذه الصيينام والوثييان الييتي تعبييدونها‪ ،‬فأنييا‬
‫برييٌء ميين آلهتكييم ومعبييوداتكم الييتي ل تضيير ول‬
‫تنفييييع ول تغنييييي عيييين عابييييدها شيييييئا ً قشششال‬
‫المفسششرون‪ِ :‬إن قريشييا ً طلبييت ميين الرسييول‬
‫صييلى اللييه عليييه وسييلم أن يعبييد آلهتهييم سيينة‪،‬‬
‫ويعبدوا ِإلهييه سيينة‪ ،‬فقييال‪ ،‬معيياذ اللييه أن نشييرك‬
‫دقك‬
‫بالله شيئا ً فقييالوا‪ :‬فاسييتلم بعييض آلهتنييا نص ي ّ‬
‫ونعبييد إلهييك‪ ،‬فنزلييت السييورة فغييدا رسييول اللييه‬
‫صلى الله عليه وسلم إلى المسجد الحييرام وفيييه‬
‫المل ميين قريييش‪ ،‬فقييام علييى رؤوسييهم فقرأهييا‬
‫عليهم فأيسوا منه وآذوه وآذوا أصحابه وفي قوله‬
‫} ُ‬
‫ق ْ‬
‫ل{ دليل على أنه مأمور بذلك من عنييد اللييه‪،‬‬
‫وخطابه صلى اللييه عليييه وسييلم لهييم بلفييظ }َيا‬

‫‪146‬‬

‫َ‬
‫ها ال ْ َ‬
‫ن{ ونسبتهم إلى الكفر ‪-‬وهو يعلم‬
‫كا ِ‬
‫فُرو َ‬
‫أي ّ َ‬
‫أنهم يغضبون من أن ُينسبوا إلى ذلك‪ -‬دلي ٌ‬
‫ل علييى‬
‫س من عند اللييه‪ ،‬فهييو ل يبييالي بهييم ول‬
‫أنه محرو ٌ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫د{ أي‬
‫مششا أ ْ‬
‫م َ‬
‫دو َ‬
‫عب ُ ش ُ‬
‫عاب ِ ش ُ‬
‫ن َ‬
‫ول أن ْت ُ ْ‬
‫بطواغيتهم } َ‬
‫ول أنتم يا معشر المشركين عابدون إلهييي الحييق‬
‫ق‬
‫الذي أعبده وهو الله وحده‪ ،‬فأنا أعبد اللييه الح ي ّ‬
‫ب العييالمين‪ ،‬وأنتييم تعبييدون الحجييار‬
‫وهييو اللييه ر ّ‬
‫والوثييان‪ ،‬وشييتان بييين عبييادة الرحميين‪ ،‬وعبييادة‬
‫م{‬
‫مششا َ‬
‫ول أ ََنا َ‬
‫عب َششدت ّ ْ‬
‫عاب ِشدٌ َ‬
‫الهوى والوثييان !! } َ‬
‫تأكيد ٌ لما سبق ميين الييبراءة ميين عبييادة الحجييار‪،‬‬
‫وقط يعٌ لطميياع الكفييار كييأنه قييال‪ :‬ل أعبييد هييذه‬
‫الوثان في الحال ول في الستقبال‪ ،‬فأنييا ل أعبييد‬
‫ت‪ ،‬ل أعبييد أصيينامكم الن‪،‬‬
‫ما تعبدونه أبدا ً ما عش ُ‬
‫َ‬
‫ن‬
‫م َ‬
‫دو َ‬
‫عاب ِ ُ‬
‫ول أن ْت ُ ْ‬
‫ول فيما يستقبل من الزمان } َ‬
‫د{ أي ولستم أنتم في المستقبل بعابييدين‬
‫ما أ َ ْ‬
‫عب ُ ُ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ُ‬
‫ُ‬
‫ي‬
‫ش‬
‫ل‬
‫و‬
‫م‬
‫ش‬
‫ك‬
‫ن‬
‫دي‬
‫م‬
‫ش‬
‫ك‬
‫ل‬
‫}‬
‫يده‬
‫ي‬
‫أعب‬
‫يذي‬
‫ي‬
‫ال‬
‫يق‬
‫ي‬
‫الح‬
‫يي‬
‫ي‬
‫إله‬
‫ِ‬
‫ُ‬
‫ِ‬
‫ْ‬
‫ْ َ‬
‫َ‬
‫ِ‬
‫ن{ أي لكم شرككم‪ ،‬ولي توحيدي‪ ،‬وهييذا غاييية‬
‫دي‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫في التبرؤ من عبادة الكفار‪ ،‬والتأكيد علييى عبييادة‬
‫الواحيييد القهيييار‪ ،‬قشششال المفسشششرون‪ :‬معنيييى‬
‫الجمليتين الولييين‪ :‬الختلف التييام فيي المعبييود‪،‬‬
‫ف يِإله المشييركين الوثييان‪ ،‬وِإلييه محمييد الرحميين‪،‬‬
‫ومعنييى الجملييتين الخرتييين‪ :‬الختلف التييام فييي‬
‫العبييادة‪ ،‬كيأنه قيال‪ :‬ل معبودنيا واحيد‪ ،‬ول عبادتنيا‬
‫واحدة‪.‬‬

‫‪147‬‬

‫سورة النصر‬

‫قرب أجل النبي صلى الله عليه وسلم‬

‫سوَرة‬
‫ي ال ّ‬
‫َبين ي َدَ ْ‬

‫* سورة النصر مدنية‪ ،‬وهي تتحدث عيين‬
‫"فتييح مكيية" الييذي ع يّز بييه المسييلمون‪ ،‬وانتشيير‬
‫لسييلم فييي الجزيييرة العربييية‪ ،‬وتقلمييت أظييافر‬
‫ا ِ‬
‫الشرك والضلل‪ ،‬وبهذا الفتح المبين دخل النيياس‬
‫لسييلم‪ ،‬واضييمحلت‬
‫في دين الله‪ ،‬وارتفعت راية ا ِ‬
‫لخبار بفتح مكة قبل وقييوعه‪،‬‬
‫ملة الصنام‪ ،‬وكان ا ِ‬
‫من أظهر الدلئل على صييدق نبييوته عليييه أفضييل‬
‫الصلة والسلم‪.‬‬

‫‪148‬‬

‫قرب أجل النبي صلى الله عليه وسلم‬

‫َ‬
‫}إ ِ َ‬
‫س‬
‫صُر الل ّهِ َوال ْ َ‬
‫فت ْ ُ‬
‫ذا َ‬
‫ح)‪(1‬وََرأي ْ َ‬
‫ت الّنييا َ‬
‫جاَء ن َ ْ‬
‫َ‬
‫ّ‬
‫م يدِ َرب ّيكَ‬
‫ي َد ْ ُ‬
‫ح بِ َ‬
‫سب ّ ْ‬
‫وا ً‬
‫خُلو َ‬
‫جا)‪(2‬فَ َ‬
‫ح ْ‬
‫ن اللهِ أفْ َ‬
‫ن ِفي ِدي ِ‬
‫َ‬
‫واًبا)‪.{ (3‬‬
‫ست َغْ ِ‬
‫ه كا َ‬
‫َوا ْ‬
‫فْرهُ إ ِن ّ ُ‬
‫ن تَ ّ‬

‫سبب نزولها‪:‬‬
‫أخييرج البخيياري وغيييره عن ابششن عبششاس‬
‫قييال‪" :‬كييان عميير بيين الخطيياب رضييي اللييه عنييه‬
‫جييد فييي‬
‫دخلني مع أشياخ بييدر‪ ،‬فكييأن بعضييهم وَ َ‬
‫يُ ْ‬
‫نفسه‪ ،‬فييدعاهم ذات يييوم‪ ،‬فييأدخله معهييم‪ .‬قال‬
‫ابن عباس‪ :‬فما رأيت أنه دعاني فيهم يييومئذ إل‬
‫ليريهم‪ ،‬فقال‪ :‬ما تقولون في قول الله عز وجييل‪:‬‬
‫وال ْ َ‬
‫}إ ِ َ‬
‫ح{ ؟ فقييال بعضييهم‪:‬‬
‫صُر الل ّ ِ‬
‫فت ْ ُ‬
‫ذا َ‬
‫جاءَ ن َ ْ‬
‫ه َ‬
‫صييرنا وفت َييح‬
‫أمرنييا أن نحمييد الليه ونسيتغفره إذا ن َ َ‬
‫علينا‪ ،‬وسكت بعضهم‪ ،‬فلم يقل شيئًا‪ ،‬فقييال لييي‪:‬‬
‫أكذاك تقول يا ابن عباس ؟ فقلت‪ :‬ل‪ .‬فقييال‪ :‬مييا‬
‫تقول ؟ فقلت‪ :‬هو أجييل رسييول اللييه صييلى اللييه‬
‫عليه وسلم أعلمه الله له‪ ،‬قال‪} :‬إ ِ َ‬
‫ص شُر‬
‫ذا َ‬
‫جششاءَ ن َ ْ‬
‫ح{ فييذلك علميية أجلييك‪َ } ،‬‬
‫وال ْ َ‬
‫ح‬
‫الل ّش ِ‬
‫س شب ّ ْ‬
‫فت ْش ُ‬
‫ف َ‬
‫ه َ‬

‫‪149‬‬

‫ه َ‬
‫د َرب ّ َ‬
‫واًبا{ فقال‬
‫ست َ ْ‬
‫غ ِ‬
‫م ِ‬
‫كا َ‬
‫بِ َ‬
‫وا ْ‬
‫فْرهُ إ ِن ّ ُ‬
‫ح ْ‬
‫ن تَ ّ‬
‫ك َ‬
‫عمر‪ :‬ل أعلم منها إل ما تقول"‪.‬‬

‫وال ْ َ‬
‫}إ ِ َ‬
‫ح{ الخطيياب‬
‫صُر الل ّش ِ‬
‫فت ْش ُ‬
‫ذا َ‬
‫جاءَ ن َ ْ‬
‫ه َ‬
‫لرسول الله صلى اللييه عليييه وسييلم‪ ،‬يييذ ّ‬
‫كره ربييه‬
‫بالنعميية والفضييل عليييه وعلييى سييائر المييؤمنين‪،‬‬
‫والمعنى‪ِ :‬إذا نصرك الله يا محمييد علييى أعييدائك‪،‬‬
‫وفتح عليك مكيية أم القييرى قال المفسششرون‪:‬‬
‫لخباُر بفتح مكة قبل وقوعه ِإخبيياٌر بييالغيب‪ ،‬فهييو‬
‫ا ِ‬
‫َ‬
‫ُ‬
‫في‬
‫س ي َدْ ُ‬
‫ن ِ‬
‫خلو َ‬
‫وَرأي ْ َ‬
‫ت الّنا َ‬
‫وة } َ‬
‫من أعلم النب ّ‬
‫ه أَ ْ‬
‫جا{ أي ورأيييت العييرب يييدخلون‬
‫ن الل ّ ِ‬
‫وا ً‬
‫ف َ‬
‫ِدي ِ‬
‫ب ول‬
‫لسلم جماعا ٍ‬
‫ت جماعات من غييير حيير ٍ‬
‫في ا ِ‬
‫قتال‪ ،‬وذلك بعد فتح مكة صارت العرب تأتي ميين‬
‫ن أحييياء‬
‫أقطار الرض طائعة قال ابششن كششثير‪ :‬إ ِ ّ‬
‫العرب كانت تنتظر فتييح مكية‪ ،‬يقولييون‪ :‬إن ظهير‬
‫ي‪ ،‬فلمييا فتييح اللييه عليييه مكيية‬
‫على قومه فهييو نييب ّ‬
‫ً‬
‫دخلوا في دين الله أفواجا فلم تمض سنتان حييتى‬
‫استوثقت جزيرة العرب ِإيمانًا‪ ،‬ولم يبق في سائر‬
‫لسييلم } َ‬
‫د‬
‫مش ِ‬
‫ح بِ َ‬
‫سشب ّ ْ‬
‫ف َ‬
‫ح ْ‬
‫قبائل العرب ِإل مظهٌر ل ِ‬
‫َرب ّ َ‬
‫ك{ أي فسييّبح ربييك وعظمييه ملتبسييا ً بحمييده‬
‫علييى هييذه النعييم‪ ،‬واشييكره علييى مييا أولك ميين‬
‫النصر علييى العييداء‪ ،‬وفتييح البلد‪ ،‬وِإسييلم العبيياد‬
‫ه{ أي اطلييب منييه المغفييرة لييك‬
‫سششت َ ْ‬
‫غ ِ‬
‫وا ْ‬
‫فْر ُ‬
‫} َ‬
‫ُ‬
‫واًبا{ أي ِإنييه ج ي ّ‬
‫ل وعل كييثير‬
‫ه كا َ‬
‫ولمتك }إ ِن ّ ُ‬
‫ن تَ ّ‬
‫التوبة‪ ،‬عظيم الرحمة لعباده المؤمنين‪.‬‬

‫‪150‬‬

‫سورة المسد‬
‫جزاء أبي لهب وامرأته‬

‫‪151‬‬

‫سوَرة‬
‫ي ال ّ‬
‫َبين ي َدَ ْ‬

‫* سورة المسد مكييية‪ ،‬وتسييمى سييورة‬
‫ت‪ ،‬وقد تحدثت عيين هلك "أبييي‬
‫اللهب‪ ،‬وسورة تب ّ ْ‬
‫دو الله ورسوله‪ ،‬الذي كان شييديد العييداء‬
‫لهب" ع ّ‬
‫لرسول الله صلى الله عليه وسييلم‪ ،‬يييترك شييغله‬
‫ويتبع الرسول صلى الله عليه وسلم ليفسد عليييه‬
‫ليمان به‪ ،‬وقييد توعييدته‬
‫دعوته‪ ،‬ويصد ّ الناس عن ا ِ‬
‫السورة في الخرة بنييارٍ موقييدة يصييلها ويشييوى‬
‫بها‪ ،‬وقرنت زوجته به في ذلك‪ ،‬واختصها بلون من‬
‫ل‬
‫العذاب شديد‪ ،‬هو ما يكون حول عنقها ميين حبيي ٍ‬
‫ف تجذب به فييي النييار‪ ،‬زيييادة فييي التنكيييل‬
‫من لي ٍ‬
‫والدمار‪.‬‬

‫جزاء أبي لهب وامرأته‬

‫‪152‬‬

‫َ‬
‫َ‬
‫ه‬
‫ب وَت َي ّ‬
‫ت يَ َ‬
‫مييا أغْن َييى عَن ْي ُ‬
‫ب)‪َ (1‬‬
‫}ت َب ّ ْ‬
‫دا أِبي ل َهَ ٍ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫صييلى َنيياًرا َ‬
‫ب)‬
‫سيي َ‬
‫ب)‪َ (2‬‬
‫مييا ك َ َ‬
‫ذا َ‬
‫ه وَ َ‬
‫مييال ُ ُ‬
‫َ‬
‫ت لَهيي ٍ‬
‫سي َ ْ‬
‫‪(3‬وامرأ َ‬
‫َ‬
‫ْ‬
‫َ‬
‫ٌ‬
‫ن‬
‫ي‬
‫م‬
‫ل‬
‫ي‬
‫ب‬
‫ح‬
‫ها‬
‫د‬
‫جي‬
‫في‬
‫(‬
‫‪4‬‬
‫ب)‬
‫ط‬
‫ح‬
‫ل‬
‫ا‬
‫ة‬
‫ل‬
‫ما‬
‫ح‬
‫ه‬
‫ت‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ُ‬
‫َ ْ‬
‫َ‬
‫ِ‬
‫َ ْ َ ُ َ ّ‬
‫ِ‬
‫ْ‬
‫د)‪{ (5‬‬
‫س ٍ‬
‫م َ‬
‫َ‬

‫سبب النزول‪:‬‬
‫عن ابيين عبيياس قييال‪ :‬لمييا نزلييت } َ‬
‫ذْر‬
‫وأن ِ‬
‫َ‬
‫شيَرت َ َ‬
‫ك ال َ ْ‬
‫ن{ صييعد النييبي صييلى اللييه‬
‫َ‬
‫ع ِ‬
‫قَرِبي ش َ‬
‫عليه وسلم على الصفا ونادى‪ :‬يا بني فهر‪ ،‬يا بني‬
‫عدي‪ ،‬لبطون مين قرييش حيتى اجتمعيوا‪ ،‬فجعيل‬
‫الرجييل ِإذا لييم يسييتطع أن يخييرج أرسييل رسييول ً‬
‫لينظر ما هو الخبر‪ ،‬فاجتمعت قريييش وجيياء عمييه‬
‫"أبو لهب" فقالوا‪ :‬مييا وراءك ؟ فقييال صييلى اللييه‬
‫ن خيل ً بييالوادي‬
‫عليه وسلم‪ :‬أرأيتكم لو أخييبرتكم أ ّ‬
‫دقي ؟ قييالوا‪ :‬نعييم‬
‫تريد أن تغير عليكم أكنتم مص ي ّ‬
‫َ‬
‫ُ‬
‫ن‬
‫ما جربنا عليك كذبا ً قط‪ ،‬قال‪} :‬ن َ ِ‬
‫م ب َْيشش َ‬
‫ذيٌر لكشش ْ‬
‫ب َ‬
‫ع َ‬
‫د{ فقال له أبو لهب‪ :‬تبا ً لك يييا‬
‫ي َ‬
‫دي ٍ‬
‫ش ِ‬
‫ي َدَ ْ‬
‫ذا ٍ‬
‫محمييد سييائر الييوم‪ ،‬ألهييذا جمعتنيا ؟ فيأنزل الليه‬
‫َ‬
‫ب{ ‪ ..‬السورة‪.‬‬
‫وت َ ّ‬
‫ت يَ َ‬
‫}ت َب ّ ْ‬
‫دا أِبي ل َ َ‬
‫ه ٍ‬
‫ب َ‬
‫ب‪ -‬وعن طييارق المحيياربي قييال‪" :‬بينييا أنييا‬
‫بسوق ذي المجاز إ ِذ ْ أنا بشاب حديث السن يقول‬
‫أيهييا النيياس‪" :‬قولييوا ل ِإلييه ِإل اللييه تفلحييوا" وِإذا‬
‫رجل خلفه يرميييه قييد أدمييى سيياقيه وعرقييوبيه ‪-‬‬
‫ب فل‬
‫مؤخر القدم ‪ -‬ويقول ‪ :‬يا أيها الناس ِإنه كذا ٌ‬

‫‪153‬‬

‫تصدقوه‪ ،‬فقلت‪ :‬من هذا ؟ فقالوا هو محمد يزعم‬
‫أنه نبي‪ ،‬وهذا عمه "أبو لهب" يزعم أنه كذاب"‪.‬‬

‫َ‬
‫ب{ أي هلكت يدا ذلييك‬
‫ت يَ َ‬
‫}ت َب ّ ْ‬
‫دا أِبي ل َ َ‬
‫ه ٍ‬
‫َ‬
‫ب{ وخاب وخسر وض ي ّ‬
‫ل عملييه‬
‫الشقي }أِبي ل َ َ‬
‫ه ٍ‬
‫ب{ أي وقد هلك وخسر‪ ،‬الول دعاٌء‪ ،‬والثاني‬
‫وت َ ّ‬
‫} َ‬
‫ه وقييد هلييك قششال‬
‫ِإخبيياٌر كمييا يقييال‪ :‬أهلكييه الليي ُ‬
‫المفسرون‪ :‬التبات هييو الخسييار المفضييي ِإلييى‬
‫الهلك‪ ،‬والمييراد ميين اليييد صيياحُبها‪ ،‬علييى عييادة‬
‫العييرب فييي التعييبير ببعييض الشيييء عيين كلييه‬
‫وجميعييه‪ ،‬وأبييو لهييب هييو "عبييد العُييزى بيين عبييد‬
‫المطلييب" عييم النييبي صييلى اللييه عليييه وسييلم‬
‫وامرأته العييوراء "أم جميييل" أخييت أبييي سييفيان‪،‬‬
‫وقد كان ك ٌ‬
‫ل منهما شديد العداوة للرسييول صييلى‬
‫الله عليه وسلم فلما سمعت امرأته ما نييزل فييي‬
‫زوجها وفيها‪ ،‬أتييت رسييول اللييه صييلى اللييه عليييه‬
‫وسلم وهو جالس في المسجد عند الكعبيية ومعييه‬
‫أبو بكر رضي الله عنه‪ ،‬وفي يدها فهْيير ‪ -‬قطعيية ‪-‬‬
‫من الحجارة‪ ،‬فلما دنت ميين الرسييول صييلى اللييه‬
‫عليه وسلم أخذ اللييه بصييرها عنييه فلييم تيير إ ِل ّ أبييا‬
‫بكيير‪ ،‬فقييالت‪ :‬يييا أبييا بكيير‪ :‬بلغنييي أن صيياحبك‬
‫يهجوني‪ ،‬فيوالله ليو وجيدته لضيربت بهيذا الحجير‬
‫فاه‪ ،‬ثم أنشدت تقول‪:‬‬
‫ودينه قلْينا‬

‫مما ً عصييينا‪ .‬وأمييره أبيَنييا‪.‬‬
‫مييذ ّ‬
‫ُ‬

‫‪154‬‬

‫ثم انصرفت فقييال أبييو بكيير يييا رسييول اللييه‪ :‬أمييا‬
‫تراها رأتك ؟ قال‪ :‬ما رأتني لقد أخذ اللييه بصييرها‬
‫عني‪ ،‬وكانت قريش يسييبون الرسييول صييلى الليه‬
‫عليه وسلم يقولون‪ :‬مييذمما ً بييدل "محمييد" وكييان‬
‫يقول صلوات الله عليه‪ :‬أل تعجبيون كييف صيرف‬
‫الله عني أذى قريييش ؟ يسييبون ويهجييون مييذمما ً‬
‫وأنا محمد! ؟ قال الخازن‪ :‬فِإن قلت‪ :‬لييم كنيياه‬
‫وفييي التكنييية تشييريف وتكرميية؟ فييالجواب ميين‬
‫وجوه‪:‬‬
‫أحدهما‪ :‬أنه كان مشتهرا ً بالكنية دون السم‪ ،‬فلييو‬
‫ذكره باسمه لم يعرف‪.‬‬
‫الثاني‪ :‬أنه كان اسييمه "عبييد العييزى" فعييدل عنييه‬
‫ِإلى الكنية لما فيه من الشييرك ‪-‬لن العيّزى صيينم‬
‫فلم تضف العبودية ِإلى صنم‪.‬‬
‫الثالث‪ :‬أنه لميا كيان مين أهيل النييار‪ ،‬وميآله ِإليى‬
‫ت لهب‪ ،‬وافقت حيياله كنيتييه وكييان‬
‫النار‪ ،‬والناُر ذا ُ‬
‫َ‬
‫ُ‬
‫ْ‬
‫مششا‬
‫ما أغَنى َ‬
‫و َ‬
‫مششال ُ‬
‫ه َ‬
‫عن ْش ُ‬
‫جديرا ً بأن يذكر بها } َ‬
‫ه َ‬
‫ب{ أي لم يفده ماله الذي جمعييه‪ ،‬ول جيياهه‬
‫س َ‬
‫كَ َ‬
‫مششا‬
‫و َ‬
‫وعزه الييذي اكتسييبه قال ابششن عبششاس‪َ } :‬‬
‫ب{ من الولد‪ ،‬فِإن ولد الرجل من كسييبه ‪..‬‬
‫س َ‬
‫كَ َ‬
‫روي أن الرسول صلى الله عليه وسييلم لمييا دعييا‬
‫ليمان‪ ،‬قال أبو لهب‪ِ :‬إن كان ما يقول‬
‫قومه ِإلى ا ِ‬
‫ً‬
‫ابن أخي حقيا‪ ،‬فيِإني أفتيدي نفسيي مين العيذاب‬
‫بمالي وولدي فنزلت قال اللوسي‪ :‬كييان لبييي‬
‫عتيبيية" وقييد‬
‫عتبة" و "معتب" و " ُ‬
‫لهب ثلثة أبناء " ُ‬

‫‪155‬‬

‫أسلم الولن يوم الفتح‪ ،‬وشييهدا حنين يا ً والطييائف‪،‬‬
‫عتيبة" فلم يسلم‪ ،‬وكانت "أم كلثييوم" بنييت‬
‫وأما " ُ‬
‫رسول الله صلى الله عليه وسييلم عنييده‪ ،‬وأختهييا‬
‫عتبة‪ ،‬فلمييا نزلييت السييورة قيال‬
‫"ُرقية" عند أخيه ُ‬
‫أبو لهب لهما‪ :‬رأسي ورأسكما حرام ِإن لم تطلقا‬
‫عتيبيية" ‪-‬‬
‫ابنييتي محمييد‪ ،‬فطلقاهمييا ولمييا أراد " ُ‬
‫ن‬
‫بالتصغير ‪ -‬الخروج إلى الشام مع أبيه قال‪ :‬لتييي ّ‬
‫محمدا ً وأوذيّنه فأتياه فقيال ييا محميد‪ِ :‬إنيي كيافر‬
‫بالنجم ِإذا هوى‪ ،‬وبالذي دنا فتدلى‪ ،‬ثم تفييل أمييام‬
‫النييبي صييلى اللييه عليييه وسييلم وطل ّييق ابنتييه "أم‬
‫كلثوم" فغضب صلى الله عليه وسلم ودعييا عليييه‬
‫فقييال‪) :‬اللهييم سييلط عليييه كلبييا ً ميين كلبييك(‬
‫فافترسه السد‪ ،‬وهلييك أبييو لهييب بعييد وقعيية بييدر‬
‫ض معيييدٍ كالطييياعون يسيييمى‬
‫بسيييبع لييييا ٍ‬
‫ل بمييير ٍ‬
‫"العدسة" وبقي ثلثة أيام حتى أنتن‪ ،‬فلمييا خييافوا‬
‫العار حفروا له حفرة ودفعوه ِإليها بعود حتى وقع‬
‫فيها ثم قذفوه بالحجارة حتى واروه‪ ،‬فكييان الميير‬
‫صَلى َناًرا َ‬
‫ب{‬
‫ذا َ‬
‫ت لَ َ‬
‫كما أخبر به القرآن } َ‬
‫ه ٍ‬
‫سي َ ْ‬
‫أي سيييدخل نييارا ً حامييية‪ ،‬ذات اشييتعال وتوّقييد‬
‫َ‬
‫ة‬
‫ماَلشش َ‬
‫ه َ‬
‫ح ّ‬
‫مَرأُتشش ُ‬
‫وا ْ‬
‫عظيييم‪ ،‬وهييي نييار جهنييم } َ‬
‫ب{ أي وسييتدخل معييه نييار جهنييم‪ ،‬امرأتييه‬
‫ال ْ َ‬
‫حطَ ِ‬
‫العوراء "أم جميل" الييتي كييانت تمشييي بالنميميية‬
‫بين النيياس‪ ،‬وتوقييد بينهييم نييار العييداوة والبغضيياء‬
‫قششال أبششو السششعود‪ :‬كييانت تحمييل حزميية ميين‬
‫الشوك والحسك فتنثرها بالليل في طريييق النييبي‬
‫ليذائه وقال ابن عباس‪:‬‬
‫صلى الله عليه وسلم ِ‬
‫كانت تمشي بالنميمة بين النيياس لتفسييد بينهشم‬

‫‪156‬‬

‫حب ْ ٌ‬
‫د{ أي فييي عنقهييا‬
‫د َ‬
‫} ِ‬
‫سش ٍ‬
‫ل ِ‬
‫جي ِ‬
‫ها َ‬
‫م َ‬
‫م ْ‬
‫ن َ‬
‫في ِ‬
‫ً‬
‫حب ٌ‬
‫ل من ليف قد فتل فتل ً شديدا‪ ،‬تعييذب بييه يييوم‬
‫القيامة قال مجاهد‪ :‬هو طوقٌ من حديد وقششال‬
‫ابن المسيب‪ :‬كانت لها قلدة فاخرة من جوهر‪،‬‬
‫ت والعُّزى لنفقنها في عداوة محمد‪،‬‬
‫فقالت‪ :‬والل ِ‬
‫فأعقبها الله منها حبل ً في جيدها من مسد النار‪.‬‬

‫سورة الخلص‬
‫توحيد الله وتنزيهه‬

‫‪157‬‬

‫سوَرة‬
‫ي ال ّ‬
‫َبين ي َدَ ْ‬

‫لخلص مكية‪ ،‬وقد تحدثت عن‬
‫* سورة ا ِ‬
‫صييفات اللييه جييل وعل الواحييد الحييد‪ ،‬الجييامع‬
‫لصفات الكمال‪ ،‬المقصود على الدوام‪ ،‬الغني عن‬
‫كل ما سواه‪ ،‬المتنزه عيين صييفات النقييص‪ ،‬وعيين‬
‫المجانسييية والمماثلييية‪ ،‬وردت عليييى النصيييارى‬
‫بالقائلين بالتثليث‪ ،‬وعلى المشركين الذين جعلييوا‬
‫لله الذرية والبنين‪.‬‬

‫توحيد الله وتنزيهه‬

‫ل هُو الل ّ َ‬
‫م ي َل ِيد ْ‬
‫م ُ‬
‫ح ٌ‬
‫هأ َ‬
‫د)‪(2‬ل َي ْ‬
‫ص َ‬
‫د)‪(1‬الل ّ ُ‬
‫ُ‬
‫ه ال ّ‬
‫}ق ُ ْ َ‬
‫َ‬
‫د)‪{ (4‬‬
‫ه كُ ُ‬
‫ح ٌ‬
‫وا أ َ‬
‫م ُيول َ ْ‬
‫ن لَ ُ‬
‫د)‪(3‬وَل َ ْ‬
‫وَل َ ْ‬
‫ف ً‬
‫م ي َك ُ ْ‬

‫‪158‬‬

‫سبب نزول السورة‪:‬‬
‫أخرج المييام أحمييد والترمييذي وابيين جرييير‬
‫عيين أبييي بيين كعييب‪ :‬أن المشييركين قييالوا للنييبي‬
‫صلى الله عليه وسلم‪ :‬يا محمد‪ ،‬انسب لنييا ربييك‪،‬‬
‫ه شو الل ّش َ‬
‫فأنزل الله تعالى‪ُ } :‬‬
‫ق ْ‬
‫ه‬
‫هأ َ‬
‫ح شدٌ * الل ّش ُ‬
‫ُ‬
‫ل ُ َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ُ‬
‫ه‬
‫م ي َكش ْ‬
‫ن لش ُ‬
‫ولش ْ‬
‫ول َش ْ‬
‫مدُ * ل َ ْ‬
‫ص َ‬
‫ال ّ‬
‫م ُيولشدْ * َ‬
‫م ي َل ِدْ َ‬
‫َ‬
‫كُ ُ‬
‫د *{‪.‬‬
‫ح ٌ‬
‫وا أ َ‬
‫ف ً‬

‫هشو الل ّش َ‬
‫} ُ‬
‫ق ْ‬
‫د{ أي قييل يييا محمييد‬
‫حش ٌ‬
‫هأ َ‬
‫ُ‬
‫ل ُ َ‬
‫لهييؤلء المشييركين المسييتهزئين‪ِ :‬إن ربييي الييذي‬
‫أعبده‪ ،‬والييذي أدعييوكم لعبييادته هييو واحييد أحييد ل‬
‫شريك له‪ ،‬ول شبيه له ول نظير‪ ،‬ل فييي ذاتييه‪ ،‬ول‬
‫في صفاته‪ ،‬ول فييي أفعيياله‪ ،‬فهييو جييل وعل واحييد‬
‫أحد‪ ،‬ليييس كمييا يعتقييد النصييارى بييالتثليث "الب‪،‬‬
‫والبن‪ ،‬وروح القدس" ول كما يعتقييد المشييركون‬
‫بتعدد اللهة قال ابن جششزي‪ :‬واعلييم أن وصييف‬
‫ن‪ ،‬كلهيا صيحيحة‬
‫الله تعالى بالواحد ليه ثلثيية معيا ٍ‬
‫في حقه تعالى‪:‬‬
‫ي للعدد‪.‬‬
‫الول‪ :‬أنه واحد ل ثاني معه فهو نف ٌ‬
‫والثاني‪ :‬أنه واحييد ل نظييير ول شييريك لييه‪ ،‬كمييا‬
‫تقييول‪ :‬فلن واحييد فييي عصييره أي ل نظييير لييه‪.‬‬
‫والثالث‪ :‬أنه واحد ل ينقسم ول يتبعض‪.‬‬

‫‪159‬‬

‫والميييراد بالسيييورة نفيييي الشيييريك ردا ً عليييى‬
‫المشركين‪ ،‬وقييد أقييام اللييه فييي القييرآن براهييين‬
‫قاطعيية علييى وحييدانيته تعيالى‪ ،‬وذلييك كييثير جييدًا‪،‬‬
‫وأوضحها أربعة براهين‪:‬‬
‫الول‪ :‬قييوله تعييالى }أ َ َ‬
‫نل‬
‫ن يَ ْ‬
‫مش ْ‬
‫مش ْ‬
‫ق كَ َ‬
‫خل ُ ش ُ‬
‫ف َ‬
‫ليجاد ‪ -‬ف يِإذا ثبييت‬
‫يَ ْ‬
‫خل ُ ُ‬
‫ق{؟ ‪ -‬وهذا دليل الخلق وا ِ‬
‫أن الله تعالى خالق لجميع الموجودات‪ ،‬لييم يصييح‬
‫أن يكون واحد منها شريكا ً له‪.‬‬
‫ة‬
‫هش ٌ‬
‫ن ِ‬
‫و ك َششا َ‬
‫مششا آل ِ َ‬
‫ه َ‬
‫والثاني‪ :‬قوله تعالى‪} :‬ل َ ْ‬
‫في ِ‬
‫ه لَ َ‬
‫لبداع‪.‬‬
‫ف َ‬
‫ِإل الل ّ ُ‬
‫لحكام وا ِ‬
‫سدََتا{ وهو دليل ا ِ‬
‫و َ‬
‫والثالث‪ :‬قوله تعالى‪ُ } :‬‬
‫ق ْ‬
‫ة‬
‫ه ٌ‬
‫كا َ‬
‫م َ‬
‫ه آل ِ َ‬
‫ع ُ‬
‫ن َ‬
‫ل لَ ْ‬
‫ما ي َ ُ‬
‫ن إِ ً‬
‫ش‬
‫ذا لب ْت َ َ‬
‫قول ُششو َ‬
‫وا إ ِل َششى ِذي ال ْ َ‬
‫كَ َ‬
‫غش ْ‬
‫ع شْر ِ‬
‫سِبيل{ وهو دليل القهر والغلبة‪.‬‬
‫َ‬
‫د‬
‫ما ات ّ َ‬
‫ول َ ش ٍ‬
‫ه ِ‬
‫مش ْ‬
‫خ شذَ الل ّش ُ‬
‫الرابع‪ :‬قوله تعالى } َ‬
‫ن َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ُ‬
‫ما َ‬
‫بك ّ‬
‫ه إِ ً‬
‫مشا‬
‫ذا لذَ َ‬
‫ل إ ِل ٍ‬
‫ن إ ِل َ ٍ‬
‫ه ِ‬
‫كا َ‬
‫ه َ‬
‫م َ‬
‫م ْ‬
‫ه بِ َ‬
‫ع ُ‬
‫ن َ‬
‫و َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ض{ ‪-‬وهييو دليييل‬
‫ش‬
‫ع‬
‫ب‬
‫لى‬
‫ع‬
‫م‬
‫ه‬
‫ض‬
‫ع‬
‫ب‬
‫عل‬
‫ل‬
‫و‬
‫ق‬
‫ل‬
‫خ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ُ‬
‫ْ‬
‫َ‬
‫ْ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ُ ْ‬
‫َ َ‬
‫ٍ‬
‫التنيييازع والسيييتعلء ثيييم أكيييد تعيييالى وحيييدانيته‬
‫د{ أي‬
‫م ُ‬
‫صشش َ‬
‫واستغناءه عن الخلق فقال‪} :‬الل ّ ُ‬
‫ه ال ّ‬
‫هو جل وعل المقصود في الحييوائج علييى الييدوام‪،‬‬
‫ن عن العالمين قششال‬
‫يحتاج ِإليه الخلق وهو مستغ ٍ‬
‫صمد السيد ُ الذي ليييس فييوقه أحييد‪،‬‬
‫اللوسي‪ :‬ال ّ‬
‫س فييي‬
‫الييذي يصييمد ُ ِإليييه‪-‬أي يلجييأ ِإليييه‪ -‬النييا ُ‬
‫د{ أي لييم يتخييذ ولييدا‪ً،‬‬
‫م ي َل ِ ْ‬
‫حوائجهم وأمورهم}ل َ ْ‬
‫وليس له أبناء وبنات‪ ،‬فكما هو متصف بالكمالت‪،‬‬

‫‪160‬‬

‫منّزه عن النقائص قييال المفسرون‪ :‬فييي الييية‬
‫رد ّ علييى كييل ميين جعييل للييه ولييدًا‪ ،‬كيياليهود فييي‬
‫ه{ والنصارى في قولهم‪:‬‬
‫قولهم‪ُ } :‬‬
‫ن الل ّ ِ‬
‫عَزي ٌْر اب ْ ُ‬
‫ّ‬
‫ه{ وكمشييركي العييرب فييي‬
‫ن الل ش ِ‬
‫م ِ‬
‫سي ُ‬
‫ح اب ْ ُ‬
‫}ا ل ْ َ‬
‫زعمهييم أن }الملئكشة بنشات اللششه{ فييرد ّ اللييه‬
‫تعالى على الجميع في أنه ليس له ولد‪ ،‬لن الولد‬
‫ل بد ّ أن يكون من جنس والده‪ ،‬والله تعالى أزلييي‬
‫قديم‪ ،‬ليس كمثله شيء‪ ،‬فل يمكيين أن يكييون لييه‬
‫ولد‪ ،‬ولن الولد ل يكون ِإل لمن لييه زوجيية‪ ،‬واللييه‬
‫لشارة بقييوله تعييالى‪:‬‬
‫تعالى ليس له زوجة وِإليه َا ِ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ُ‬
‫ه‬
‫وا ِ‬
‫}َبش ِ‬
‫ض أّنشى ي َكشو ُ‬
‫دي ُ‬
‫ع ال ّ‬
‫ن لش ُ‬
‫سش َ‬
‫ت َ‬
‫ما َ‬
‫والْر ِ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ُ‬
‫د{ أي‬
‫حب َ ٌ‬
‫صا ِ‬
‫م ُيول ْ‬
‫م ت َك ْ‬
‫ول ْ‬
‫نل ُ‬
‫ول ْ‬
‫ه َ‬
‫ة{ ؟! } َ‬
‫ول َدٌ َ‬
‫َ‬
‫ُ‬
‫م‪ ،‬لن كييل مولييود حييادث‪،‬‬
‫أ‬
‫ول‬
‫ب‬
‫أ‬
‫ين‬
‫ي‬
‫م‬
‫يولد‬
‫ولم‬
‫ٍ‬
‫ٍ‬
‫والله تعالى قديم أزلي‪ ،‬فل يصح أن يكون مولودا ً‬
‫ول أن يكون له والد‪ ،‬وقد نفييت الييية عنييه تعييالى‬
‫ِإحاطة النسب من جميع الجهات‪ ،‬فهو الول الذي‬
‫ل ابتداء لوجوده‪ ،‬القديم الذي كان ولم يكيين معييه‬
‫َ‬
‫م يَ ُ‬
‫ه كُ ُ‬
‫د{ أي‬
‫حش ٌ‬
‫وا أ َ‬
‫كش ْ‬
‫ن َلش ُ‬
‫وَلش ْ‬
‫فش ً‬
‫شيييء غيييره } َ‬
‫وليس له جل وعل مثي ٌ‬
‫ل‪ ،‬ول نظير‪ ،‬ول شبيه أحييد ٌ‬
‫من خلقييه‪ ،‬ل فييي ذاتييه‪ ،‬ول فييي صييفاته‪ ،‬ول فييي‬
‫ه َ‬
‫ع‬
‫و ُ‬
‫سش ِ‬
‫مث ْل ِش ِ‬
‫س كَ ِ‬
‫مي ُ‬
‫و ال ّ‬
‫أفعيياله }ل َي ْش َ‬
‫هش َ‬
‫يءٌ َ‬
‫شش ْ‬
‫صيُر{ قييال ابيين كييثير‪ :‬هييو مالييك كييل شيييء‬
‫الب َ ِ‬
‫وخالقه‪ ،‬فكيف يكون له من خلقه نظي يٌر يسيياميه‪،‬‬
‫دس وتن يّزه‪ ،‬وفييي‬
‫أو قريييب يييدانيه ؟ تعييالى وتق ي ّ‬
‫الحديث القدسي )يقول الله عز وجل‪ :‬كذبني ابن‬
‫آدم ولم يكن له ذلك‪ ،‬وشتمني ولم يكن له ذلييك‪،‬‬
‫فأما تكذيبه ِإياي فقوله‪ :‬ليين يعيييدني كمييا بييدأني‪،‬‬

‫‪161‬‬

‫ي ميين ِإعييادته‪ ،‬وأمييا‬
‫وليس أول الخلق بأهون عل ي ّ‬
‫َ‬
‫دا‪ ،‬وأنا الحششد‬
‫شتمه ِإياي فقوله‪ :‬ات ّ َ‬
‫ول ً‬
‫خذَ الل ّ ُ‬
‫ه َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ه‬
‫م ُيول ْ‬
‫م ي َك ُ ْ‬
‫ن لشش ُ‬
‫ول ْ‬
‫ول ْ‬
‫الصمد‪ ،‬الذي ل َ ْ‬
‫د‪َ ،‬‬
‫م ي َل ِدْ َ‬
‫َ‬
‫كُ ُ‬
‫د(‪.‬‬
‫ح ٌ‬
‫وا أ َ‬
‫ف ً‬

‫سورة ال ْ َ‬
‫فَلق‬
‫الستعاذة بالله من المخلوقات الشريرة‬

‫‪162‬‬

‫سوَرة‬
‫ي ال ّ‬
‫َبين ي َدَ ْ‬

‫* سورة ال ْ َ‬
‫فَلق مكية‪ ،‬وفيها تعليم للعبيياد‬
‫أن يلجأوا ِإلى حميى الرحمين‪ ،‬ويسيتعيذوا بجلليه‬
‫وسلطانه من شر مخلوقاته‪ ،‬وميين شيير الليييل ِإذا‬
‫أظلييم‪ ،‬لمييا يصيييب النفييوس فيييه ميين الوحشيية‪،‬‬
‫ولنتشييار الشييرار والفجييار فيييه‪ ،‬وميين شيير كييل‬
‫حاسد وساحر‪ ،‬وهي إحدى المعوذتين اللتين كييان‬
‫وذ نفسه بهما‪.‬‬
‫صلى الله عليه وسلم يع ّ‬

‫الستعاذة بالله من المخلوقات الشريرة‬

‫ب ال ْ َ َ‬
‫}ق ُ ْ‬
‫ن َ‬
‫ق)‬
‫ما َ‬
‫ل أَ ُ‬
‫ق)‪ِ (1‬‬
‫عوذ ُ ب َِر ّ‬
‫خل َي َ‬
‫شّر َ‬
‫م ْ‬
‫فل ِ‬
‫شّر َ‬
‫ن َ‬
‫ق إِ َ‬
‫ن َ‬
‫ت‬
‫شّر الن ّ ّ‬
‫فاث َييا ِ‬
‫ب)‪(3‬وَ ِ‬
‫غا ِ‬
‫‪(2‬وَ ِ‬
‫ذا وَقَ َ‬
‫م ْ‬
‫م ْ‬
‫س ٍ‬
‫ْ‬
‫سدٍ إ ِ َ‬
‫ن َ‬
‫د)‪{ (5‬‬
‫ِفي العُ َ‬
‫حا ِ‬
‫د)‪(4‬وَ ِ‬
‫ق ِ‬
‫س َ‬
‫ذا َ‬
‫شّر َ‬
‫ح َ‬
‫م ْ‬

‫سبب نزول المعوذتين‪:‬‬

‫‪163‬‬

‫السييبب‪ :‬قصيية سييحر َلبيييد بيين العصييم اليهييودي‬
‫رسو َ‬
‫ل الله صلى الله عليييه وسييلم كمييا جياء فيي‬
‫ف‬
‫جي ّ‬
‫الصييحيحين عيين عائشيية‪ ،‬فييإنه سييحره فييي ُ‬
‫)قشر الطلع( فيه مشاطة رأسه صلى اللييه عليييه‬
‫وسلم‪ ،‬وأسنان مشطه‪ ،‬ووتيير معقييود فيييه إحييدى‬
‫قيييدة مغيييروز بيييالبر‪ ،‬فيييأنزلت علييييه‬
‫عشيييرة ع ُ ْ‬
‫المعوذتيان‪ ،‬فجعيل كلميا قيرأ آيية انحليت عقيدة‪،‬‬
‫فة‪ ،‬حتى‬
‫خ ّ‬
‫ووجد صلى الله عليه وسلم في نفسه ِ‬
‫قدة الخيرة‪ ،‬فقييام‪ ،‬فكأنمييا نشييط ميين‬
‫انحلت العُ ْ‬
‫عقال‪ .‬وجعل جبريل ي َْرقى رسول الله صلى اللييه‬
‫ِ‬
‫عليه وسلم‪ ،‬فيقول ‪" :‬باسم الله أرقيك‪ ،‬ميين كييل‬
‫شيييء يؤذيييك‪ ،‬ميين شيير حاسييد وعَْييين‪ ،‬واللييه‬
‫يشفيك"‪.‬‬

‫ب ال ْ َ َ‬
‫} ُ‬
‫قش ْ‬
‫ق{ أي قييل يييا‬
‫ل أَ ُ‬
‫عششوذُ ب ِشَر ّ‬
‫فل ش ِ‬
‫محمد ألتجئ وأعتصييم بييرب الصييبح الييذي ينفلييق‬
‫عنه الليل‪ ،‬وينجلي عنه الظلم قال ابن عباس‪:‬‬
‫}ا ل ْ َ َ‬
‫ح كقيييوله تعيييالى‪َ } :‬‬
‫ق‬
‫ق{ الصيييب ُ‬
‫فشششال ِ ُ‬
‫فلششش ِ‬
‫ن ميين فلييق‬
‫ال ِ ْ‬
‫ح{ وفي أمثال العرب‪ :‬هو أبي ُ‬
‫صَبا ِ‬
‫الصبح قال المفسرون‪ :‬سبب تخصيص الصييبح‬
‫بالتعوذ أن انبثاق نييور الصييبح بعييد شييدة الظلميية‪،‬‬
‫كالمثييل لمجيييء الفييرج بعييد الشييدة‪ ،‬فكمييا أن‬
‫لنسييان يكييون منتظييرا ً لطلييوع الصييباح‪ ،‬فكييذلك‬
‫ا ِ‬
‫ن َ‬
‫مششا‬
‫الخييائف يييترقب مجيييء النجيياح } ِ‬
‫مش ْ‬
‫ششّر َ‬
‫لنييس‪،‬‬
‫َ‬
‫خل َ َ‬
‫ق{ أي من شر جميع المخلوقات مين ا ِ‬

‫‪164‬‬

‫والجيين‪ ،‬والييدواب‪ ،‬والهييوام‪ ،‬وميين شيير كييل مييؤذٍ‬
‫شّر َ‬
‫و َ‬
‫ن َ‬
‫ق إِ َ‬
‫ب{‬
‫غا ِ‬
‫و ِ‬
‫ق َ‬
‫م ْ‬
‫ذا َ‬
‫خلقه الله تعالى } َ‬
‫س ٍ‬
‫أي ومن شر الليل ِإذا أظلم واشييتد ظلمييه‪ ،‬ف يِإن‬
‫لنييس‬
‫ظلمة الليل ينتشر عندها أهييل الشيير ميين ا ِ‬
‫والجن ولهذا قالوا في المثل "اللي ُ‬
‫ل أخفى للويل"‬
‫قال الرازي‪ :‬وِإنما ُأمر أن يتعوذ من شر الليييل‪،‬‬
‫لن في الليل تخرج السباع ميين آجامهييا‪ ،‬والهييوام‬
‫ميين مكانهييا‪ ،‬ويهجييم السييارقُ والمكييابر‪ ،‬ويقييع‬
‫شّر الن ّ ّ‬
‫ن َ‬
‫ت‬
‫فاَثا ِ‬
‫و ِ‬
‫م ْ‬
‫الحريق‪ ،‬ويقل فيه الغوث } َ‬
‫ع َ‬
‫د{ أي وميين شيير السييواحر اللييواتي‬
‫ِ‬
‫قش ِ‬
‫فششي ال ْ ُ‬
‫ً‬
‫يعقدن عقدا في خيوط وينفثن ‪ -‬أي ينفخن ‪ -‬فيها‬
‫ليضروا عباد الله بسحرهن‪ ،‬ويفرقييوا بييين الرجييل‬
‫َ‬
‫د ِإل‬
‫ما ُ‬
‫م بِ َ‬
‫حش ٍ‬
‫ه ِ‬
‫ن ِبش ِ‬
‫نأ َ‬
‫مش ْ‬
‫ضششاّري َ‬
‫هش ْ‬
‫و َ‬
‫وزوجييه } َ‬
‫ه{ قييال أبششو حي ّششان‪ :‬وسييبب نييزول‬
‫ن الل ّ ش ِ‬
‫ب ِ شإ ِذْ ِ‬
‫المعوذتين قصة "لبيييد بيين العصييم" الييذي سييحر‬
‫ط‬
‫رسول اللييه صييلى اللييه عليييه وسييلم فييي مشي ٍ‬
‫ر‬
‫ومشاطة وجف ‪ -‬قشر الطلع ‪ -‬طليعةٍ ذكر‪ ،‬ووتيي ٍ‬
‫لبر‪،‬‬
‫معقييود فيييه ِإحييدى عشيير عقييدة‪ ،‬مغييروزٍ بييا ِ‬
‫فييأنزلت عليييه المعوذتييان‪ ،‬فجعييل كلمييا قييرأ آييية‬
‫انحلت عقدة ووجييد فييي نفسييه خفيية صييلى اللييه‬
‫عليه وسييلم حييتى انحلييت العقييدة الخيييرة فقييام‬
‫ن َ‬
‫د إِ َ‬
‫ذا‬
‫سش ٍ‬
‫حا ِ‬
‫و ِ‬
‫ششّر َ‬
‫مش ْ‬
‫فكأنما نشط من عقال } َ‬
‫د{ أي ومن شيير الحاسييد الييذي يتمنييى زوال‬
‫س َ‬
‫َ‬
‫ح َ‬
‫النعمة عن غيره‪ ،‬ول يرضى بما قسمه الله تعالى‬
‫له‪.‬‬

‫‪165‬‬

‫سورة الّناس‬
‫الستعاذة من شر الشياطين‬

‫سوَرة‬
‫ي ال ّ‬
‫َبين ي َدَ ْ‬

‫* سششورة الّنششاس مكييية‪ ،‬وهييي ثيياني‬
‫المعييوذتين‪ ،‬وفيهييا السييتجارة والحتميياء بييرب‬
‫الرباب من شيير أعييدى العييداء‪ِ ،‬إبليييس وأعييوانه‬
‫لنس والجن‪ ،‬الييذين يغييوون النيياس‬
‫من شياطين ا ِ‬
‫لغواء‪.‬‬
‫بأنواع الوسوسة وا ِ‬

‫* وقد ختم الكتاب العزيز بييالمعوذتين وبييدأ‬
‫بالفاتحة‪ ،‬ليجمع بين حسن البدء‪ ،‬وحسيين الختييم‪،‬‬
‫وذلك غاية الحسيين والجمييال‪ ،‬لن العبييد يسييتعين‬
‫بالله ويلتجئ ِإليه‪ ،‬من بداية المر ِإلى نهايته‪.‬‬

‫‪166‬‬

‫الستعاذة من شر الشياطين‬

‫}ق ُ ي ْ َ‬
‫س)‬
‫مل ِي ِ‬
‫ل أعُييوذ ُ ب ِيَر ّ‬
‫س)‪َ (1‬‬
‫ك الن ّييا ِ‬
‫ب الن ّييا ِ‬
‫َ‬
‫ن َ‬
‫س)‬
‫س ال ْ َ‬
‫س)‪ِ (3‬‬
‫شييّر ال ْوَ ْ‬
‫سي َ‬
‫مي ْ‬
‫خن ّييا ِ‬
‫وا ِ‬
‫‪(2‬إ ِلييهِ الّنييا ِ‬
‫ة‬
‫جن ّي ِ‬
‫س)‪ِ (5‬‬
‫‪(4‬ال ّ ِ‬
‫ص ُ‬
‫ذي ي ُوَ ْ‬
‫ن ال ْ ِ‬
‫س ِفي ُ‬
‫سوِ ُ‬
‫مي َ‬
‫دورِ الن ّييا ِ‬
‫س)‪{ (6‬‬
‫َوالّنا ِ‬
‫} ُ‬
‫قش ْ‬
‫عششو ُ‬
‫ذ{ أي قييل يييا محمييد أعتصييم‬
‫ل أَ ُ‬
‫س{ أي بخييالق‬
‫وألتجييئ وأسييتجير }ب ِ شَر ّ‬
‫ب الّنششا ِ‬
‫النيياس ومربيهييم ومييدبر شييئونهم‪ ،‬الييذي أحييياهم‬
‫وأوجدهم من العييدم‪ ،‬وأنعييم عليهييم بييأنواع النعييم‬
‫ص النيياس بالييذكر ‪-‬‬
‫قال المفسششرون‪ِ :‬إنمييا خ ي ّ‬
‫وِإن كيييان جليييت عظمتيييه رب جمييييع الخلئق ‪-‬‬
‫خر‬
‫تشريفا ً وتكريما ً لهم‪ ،‬من حيييث ِإنييه تعييالى س ي ّ‬
‫لهييم مييا فييي الكييون‪ ،‬وأمييدهم بالعقييل والعلييم‪،‬‬
‫وأسيييجد لهيييم ملئكييية قدسيييه‪ ،‬فهيييم أفضيييل‬
‫س{ أي‬
‫مل ِ ش ِ‬
‫لطلق } َ‬
‫المخلوقييات علييى ا ِ‬
‫ك الن ّششا ِ‬
‫مالك جميع الخلق حاكمين ومحكومين‪ ،‬ملكا ً تام يا ً‬
‫شامل ً كييام ً‬
‫ل‪ ،‬يحكمهييم‪ ،‬ويضييبط أعمييالهم‪ ،‬ويييدّبر‬
‫ه‬
‫شيييؤونهم‪ ،‬فيعيييز وييييذل‪ ،‬ويغنيييي وُيفقييير }إ َِلشش ِ‬

‫‪167‬‬

‫ب لهييم سييواه‪.‬‬
‫س{ أي معبييودهم الييذي ل ر ّ‬
‫الّنا ِ‬
‫َ‬
‫ه‬
‫س* إ ِل ِ‬
‫مل ِ ِ‬
‫قال القرطبي‪ :‬وِإنما قال } َ‬
‫ك الّنا ِ‬
‫س{ لن في الناس ملوكا ً فذكر أنييه ملكهييم‪،‬‬
‫الّنا ِ‬
‫وفييي النيياس ميين يعبييد غيييره فييذكر إنييه ِإلههييم‬
‫ومعبودهم‪ ،‬وأنه الذي يجييب إن يسييتعاذ بييه وُيلجييأ‬
‫ِإليه‪ ،‬دون الملوك والعظماء‪ ،‬وترتيب السورة بهذا‬
‫لنسان أول ً‬
‫لبداع‪ ،‬وذلك لن ا ِ‬
‫الشكل في منتهى ا ِ‬
‫يعرف أن له ربًا‪ ،‬لميا يشياهده مين أنييواع التربييية‬
‫س{ ثم ِإذا تأمل عييرف أن هييذا الييرب‬
‫}َر ّ‬
‫ب الّنا ِ‬
‫ف في خلقه‪ ،‬غنييي عيين خلقييه فهييو الملييك‬
‫متصر ٌ‬
‫س{ ثم ِإذا زاد تييأمله عييرف أنييه‬
‫مل ِ ِ‬
‫لهم } َ‬
‫ك الّنا ِ‬
‫يستحق أن ُيعبد‪ ،‬لنه ل عبادة ِإل للغنييي عيين كييل‬
‫ه‬
‫مييا سييواه‪ ،‬المفتقيير ِإليييه كييل مييا عييداه }إ َِلشش ِ‬
‫س{ وِإنما كرر لفظ النيياس ثلثيا ً ولييم يكتييف‬
‫الّنا ِ‬
‫لظهييار شييرفهم وتعظيمهييم والعتنيياء‬
‫بالضييمير‪ِ ،‬‬
‫بشأنهم‪ ،‬كما حسن التكرار في قول الشاعر‪:‬‬
‫ت شيييييء‬
‫ت يسييييبقُ المييييو َ‬
‫ل أرى المييييو َ‬
‫ت ذا الغَِنى والفقيرا‬
‫نّغص المو ُ‬
‫قال ابن كثير‪ :‬هييذه ثلث صييفات ميين صييفات‬
‫للهييية"‬
‫الرب عز وجل "الربوبية" و "الملييك" و "ا ِ‬
‫ب كل شيء ومليكه وِإلهه‪ ،‬وجميييع الشييياء‬
‫فهو ر ّ‬
‫ُ‬
‫مخلوقة ومملوكيية لييه‪ ،‬فيأمر المسييتعيذ َ أن يتعييوذ‬
‫ن َ‬
‫س{‬
‫بالمتصف بهذه الصفات } ِ‬
‫و ْ‬
‫م ْ‬
‫س َ‬
‫شّر ال ْ َ‬
‫وا ِ‬
‫أي من شر الشيطان الييذي يلقييي حييديث السييوء‬
‫لنسان ليغريييه بالعصيييان‬
‫في النفس‪ ،‬ويوسوس ل ِ‬

‫‪168‬‬

‫س{ الذي يخنييس أي يختفييي ويتييأخر ِإذا‬
‫} ال ْ َ‬
‫خّنا ِ‬
‫ذكر العبد ربه‪ ،‬فِإذا غفل عن اللييه عيياد فوسييوس‬
‫له وفييي الحييديث "ِإن الشيييطان واضييع خطمييه ‪-‬‬
‫أنفه ‪ -‬على قلب ابن آدم‪ ،‬ف يِإذا ذكيير اللييه خنييس‪،‬‬
‫ذي‬
‫وِإذا نسييي اللييه التقييم قلبييه فوسييوس" }ال ّش ِ‬
‫س{ أي الييذي يلقييي‬
‫س ِ‬
‫ص ُ‬
‫و ْ‬
‫في ُ‬
‫و ُ‬
‫يُ َ‬
‫دو ِ‬
‫س ِ‬
‫ر الّنا ِ‬
‫دة خبثه في قليوب البشير صيينوف الوسياوس‬
‫لش ّ‬
‫والوهام‪ .‬قال القرطبي‪ :‬ووسوسُته هو الدعاء‬
‫لطاعته بكلم خفي يصل مفهومه إلى القلب ميين‬
‫ن{‬
‫س{ } ِ‬
‫جن ّ ِ‬
‫غير سماع صوت } ِ‬
‫م ْ‬
‫م ْ‬
‫ن ال ْ ِ‬
‫ة َ‬
‫والّنا ِ‬
‫بيانية أي هذا الذي يوسوس في صدور الناس‪ ،‬هو‬
‫لنيييس كقيييوله تعيييالى‪:‬‬
‫مييين شيييياطين ال ِ‬
‫جييين وا ِ‬
‫ْ‬
‫} َ‬
‫م‬
‫ن ي ُششو ِ‬
‫ع ُ‬
‫شَيا ِ‬
‫حي ب َ ْ‬
‫ضش ُ‬
‫جش ّ‬
‫طي َ‬
‫ه ْ‬
‫وال ِ‬
‫س َ‬
‫نا ِ‬
‫لن ش ِ‬
‫ْ‬
‫ل ُ‬
‫ف ال َ‬
‫غ شُروًرا{ فالييية‬
‫ض ُز ْ‬
‫خ شُر َ‬
‫إ ِل َششى ب َ ْ‬
‫و ِ‬
‫قش ْ‬
‫عش ٍ‬
‫لنس والجن جميعًا‪ ،‬ول شك أن‬
‫استعاذة من شر ا ِ‬
‫ً‬
‫ً‬
‫لنس‪ ،‬أشد ّ فتكا وخطييرا ميين شييياطين‬
‫شياطين ا ِ‬
‫الجيين‪ ،‬فييِإن شيييطان الجيين يخنييس بالسييتعاذة‪،‬‬
‫لنييس ُيزييين لييه الفييواحش ويغريييه‬
‫وشيييطان ا ِ‬
‫بالمنكرات‪ ،‬ول يثنيه عن عزمه شيء‪ ،‬والمعصييوم‬
‫من عصمه الله‪.‬‬

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful