You are on page 1of 1

Abu Hurairah r.

a
Perpustakaan Hadits Berjalan
Oleh: Farhan Fahmi (han@suaradurensawit.com)

Setiap kita mendengar atau membaca Hadits, sering kali Hadits itu diriwayatkan Abu Hurairah ra. Mungkin timbul pertanyaan di hati: Siapa beliau? Abu Hurairah termasuk orang yang masuk Islam belakangan dibanding para Sahabat Rasul lain. Karena itu Abu Hurairah bertekad mengejar ketinggalannya dengan mengikuti Rasulullah SAW dan selalu menyertai majlisnya. Ia datang kepada Nabi di tahun tujuh Hijriah. Sejak bertemu Rasul dan berbai'at, hampir-hampir ia tidak berpisah lagi dari Rasul kecuali di waktu tidur. Ia mewakafkan hidupnya untuk lebih banyak mendampingi Rasulullah sehingga termasuk yang terbanyak menerima dan menghafal Hadits, serta meriwayatkannya. Abu Hurairah menempel dengan Rasul selama empat tahun, sejak ia pertama kali masuk Islam hingga wafatnya Rasulullah. Dari empat tahun bersama Rasul itu banyak sekali Hadits yang telah diriwayatkannya kepada para Sahabat hingga sampai kepada kita saat ini. Sejak memeluk Islam, ia telah menyiapkan dengan menggunakan kekuatan memorinya untuk menangkap pesan Rasul, menghafal dan menyebarkannya. Di zaman itu, para shahabat yang mampu menulis jumlahnya sedikit sekali. Sebagiannya tak memiliki kesempatan mencatat Hadits-hadits yang diucapkan Rasul. Beruntung, meski Abu Hurairah bukan seorang penulis namun ia ahli menghafal yang mahir dan memiliki banyak waktu luang untuk selalu mendampingi Rasulullah. Saat Rasul wafat, Abu Hurairah terus-menerus menyampaikan Hadits-hadits hingga pernah menyebabkan sejumlah shahabatnya heran dan bertanya dari mana datangnya hadits yang dibawakan Abu Hurairah, kapan ia mendengarnya dari Rasul. Pertanyaan itu dijawabnya dengan memberi penjelasan untuk menghilangkan kecurigaan para sahabatnya. Katanya, "Anda mengatakan Abu Hurairah banyak sekali mengeluarkan Hadits Nabi dan mengatakan orang Muhajirin yang lebih dulu masuk Islam tidak ada yang menceritakan hadits itu? Abu Hurairah melanjutkan, Ketahuilah, shahabat orang-orang Muhajirin sibuk dengan perdagangan mereka di pasar, sedang shahabat-shahabatku orang-orang Anshar sibuk degan tanah pertaniannya. Sedangkan aku seorang miskin, yang paling banyak menyertai majlis Rasulullah, maka aku hadir sewaktu yang lain absendan aku selalu ingat seandainya mereka lupa karena kesibukan. Dalam suatu majlis, Rasul berbicara kepada kami. Sabdanya: Siapa membentangkan sorbannya hingga selesai pembicaraanku, kemudian ia meraihnya ke dirinya maka ia takkan terlupa suatu pun dari apa yang telah didengarya dariku. "Maka kuhamparkan kainku, lalu Nabi berbicara kepadaku, kemudian kuraih kain itu ke diriku, dan demi Allah, tak ada suatu pun yang terlupa bagiku dari apa yang telah kudengar daripadanya! Mendengar penjelasan itu, sahabat yang awalnya curiga meminta maaf kepada Abu Hurairah. Mereka pun percaya penuh kepadanya. Sampai-sampai Abu Hurairah pernah menjadi penyelamat ketika munculnya Hadits-hadits palsu yang disebar kaum munafik. Abu Hurairah seolah telah menjadi perpustakaan Hadits berjalan. Ia penyambung lidah tentang yang disampaikan Rasul. Dan hingga kini, berkat kekuatan hafalannya, banyak Hadits yang diiriwayatkan darinya kita pelajari. Ia menceritakan apa yang pernah diucap dan dilakukan Rasul, bukanlah karena dirinya gemar bercerita. Namun, ia memiliki keyakinan dengan menyebarluaskan Hadits-hadits menjadi amanahnya untuk meninggikan agama Islam. Subhanallah. Semoga rahmat Allah SWT selalu tercurah baginya.