You are on page 1of 12

Hari Pendidikan Nasional yang diperingati pada tanggal 2 Mei setiap tahunnya telah menjadi momentum untuk memperingatkan

segenap negeri akan pentingnya arti pendidikan bagi anak negeri yang sangat kaya ini. Di tahun 2003, telah dilahirkan pula Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional melalui UU No. 20 tahun 2003 yang menggantikan UU No. 2 tahun 1989. Tersurat jelas dalam UU tersebut bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan. Bila merujuk pada Undang-Undang Dasar 1945, tersebutkan dalam pasal 31 ayat 1 bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan dan pada ayat 2 disebutkan bahwa setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Dan dalam UU No. 20/2003 pasal 5, bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu, warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus, warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus, warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus serta setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat. Peran masyarakat dalam pendidikan nasional, terutama keterlibatan di dalam perencanaan hingga evaluasi masih dipandang sebagai sebuah kotak keterlibatan pasif. Inisiatif aktif masyarakat masih dipandang sebagai hal yang tidak dianggap penting. Padahal secara jelas di dalam pasal 8 UU No. 20/2003 disebutkan bahwa masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan. Peran serta masyarakat saat ini hanyalah dalam bentuk Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, dimana proses pembentukan komite sekolahpun belum keseluruhannya dilakukan dengan proses yang terbuka dan partisipatif. Kewajiban pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan dasar pun hingga saat ini masih sangat jauh dari yang diharapkan. Masih terlalu banyak penduduk Indonesia yang belum tersentuh pendidikan. Selain itu, layanan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan bermutu pun masih hanya di dalam angan. Lebih jauh, anggaran untuk pendidikan (di luar gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan) di dalam APBN maupun APBD hingga saat ini masih dibawah 20% sebagaimana amanat pasal 31 ayat 4 UUD 1945 dan pasal 49 UU No. 20/2003, bahkan hingga saat ini hanya berkisar diantara 2-5%. Bila melihat peristiwa yang belum lama terjadi di Indonesia, misalnya kasus tukar guling SMP Negeri 56 Jakarta serta kasus Kampar adalah sebongkah cerminan dari kondisi pendidikan di Indonesia, dimana kalangan pendidik dan kepentingan pendidikan masihlah sangat jauh dari sebuah kepentingan dan kebutuhan bersama, dimana pendidikan masih menjadi korban dari penguasa. Sementara di berbagai daerah, pendidikan pun masih berada dalam kondisi keprihatinan. Mulai dari kekurangan tenaga pengajar, fasilitas pendidikan hingga sukarnya masyarakat untuk mengikuti pendidikan karena permasalahan ekonomi dan kebutuhan hidup. Pada beberapa

wilayah, anak-anak yang memiliki keinginan untuk bersekolah harus membantu keluarga untuk mencukupi kebutuhan hidup karena semakin sukarnya akses masyarakat terhadap sumber kehidupan mereka. Belum lagi bila berbicara pada kualitas pendidikan Indonesia yang hanya berorientasi pada pembunuhan kreatifitas berpikir dan berkarya serta hanya menciptakan pekerja. Kurikulum yang ada dalam sistem pendidikan Indonesia saat ini sangat membuat peserta didik menjadi pintar namun tidak menjadi cerdas. Pembunuhan kreatifitas ini disebabkan pula karena paradigma pemerintah Indonesia yang mengarahkan masyarakatnya pada penciptaan tenaga kerja untuk pemenuhan kebutuhan industri yang sedang gencar-gencarnya ditumbuhsuburkan di Indonesia. Sistem pendidikan nasional yang telah berlangsung hingga saat ini masih cenderung mengeksploitasi pemikiran peserta didik. Indikator yang dipergunakanpun cenderung menggunakan indikator kepintaran, sehingga secara nilai di dalam rapor maupun ijasah tidak serta merta menunjukkan peserta didik akan mampu bersaing maupun bertahan di tengah gencarnya industrialisasi yang berlangsung saat ini. Pendidikan juga saat ini telah menjadi sebuah industri. Bukan lagi sebagai sebuah upaya pembangkitan kesadaran kritis. Hal ini mengakibatkan terjadinya praktek jual-beli gelar, jual-beli ijasah hingga jual-beli nilai. Belum lagi diakibatkan kurangnya dukungan pemerintah terhadap kebutuhan tempat belajar, telah menjadikan tumbuhnya bisnis-bisnis pendidikan yang mau tidak mau semakin membuat rakyat yang tidak mampu semakin terpuruk. Pendidikan hanyalah bagi mereka yang telah memiliki ekonomi yang kuat, sedangkan bagi kalangan miskin, pendidikan hanyalah sebuah mimpi. Ironinya, ketika ada inisiatif untuk membangun wadah-wadah pendidikan alternatif, sebagian besar dipandang sebagai upaya membangun pemberontakan. Dunia pendidikan sebagai ruang bagi peningkatan kapasitas anak bangsa haruslah dimulai dengan sebuah cara pandang bahwa pendidikan adalah bagian untuk mengembangkan potensi, daya pikir dan daya nalar serta pengembangan kreatifitas yang dimiliki. Sistem pendidikan yang mengebiri ketiga hal tersebut hanyalah akan menciptakan keterpurukan sumberdaya manusia yang dimiliki bangsa ini yang hanya akan menjadikan Indonesia tetap terjajah dan tetap di bawah ketiak bangsa asing. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana sistem pendidikan di Indonesia menciptakan anak bangsa yang memiliki sensitifitas terhadap lingkungan hidup dan krisis sumber-sumber kehidupan, serta mendorong terjadinya sebuah kebersamaan dalam keadilan hak. Sistem pendidikan harus lebih ditujukan agar terjadi keseimbangan terhadap ketersediaan sumberdaya alam serta kepentingan-kepentingan ekonomi dengan tidak meninggalkan sistem sosial dan budaya yang telah dimiliki oleh bangsa Indonesia. Hari Pendidikan Nasional tahun ini di tengah-tengah pertarungan politik Indonesia sudah selayaknya menjadi sebuah tonggak bagi bangkitnya bangsa Indonesia dari keterpurukan serta lepasnya Indonesia dari ?penjajahan?? bangsa asing. Sudah saatnya Indonesia berdiri di atas kaki sendiri dengan sebuah kesejahteraan sejati bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Sebuah fakta memprihatinkan tersaji dari data pokok pendidikan tahun 2004/2005 keluaran Dinas Pendidikan (Diknas) Surabaya. Diperkirakan, puluhan ribu anak usia sekolah belum bisa mengenyam pendidikan. Berdasarkan data di Dinas Pendidikan (Diknas) Surabaya, angka partisipasi murni (APM) pendidikan untuk tingkat SD di kota ini mencapai 90, 99 persen. APM ini merupakan perbandingan antara jumlah siswa dengan jumlah penduduk usia sekolah. Itu berarti, 90 persen penduduk usia SD di Surabaya sudah bisa bersekolah. Angka 90 persen memang terkesan tinggi dan lebih bernuansa keunggulan. Tapi tidak untuk masalah partisipasi pendidikan di kota sekelas Surabaya. Akan lebih terasa kalau kesimpulannya berbunyi, masih ada 9,01 persen anak usia sekolah SD di Surabaya yang tidak bisa sekolah. Demikian juga dengan APM untuk tingkat SMP yang mencapai 79,18 persen. Dengan kata lain masih ada 21,82 persen anak usia sekolah SMP yang tidak bisa mengenyam pendidikan SMP. Ini masih belum pada jenjang SMA/sederajat yang tingkat APM-nya masih 79,79 persen. Memang, hingga saat ini belum ada data valid yang menyebutkan angka pasti, berapa jumlah anak yang belum bisa mengenyam pendidikan minimal sembilan tahun di Surabaya. Tapi dari data ini, setidaknya sudah bisa diprediksi berapa kisarannya. Mari kita hitung. Untuk jenjang pendidikan dasar (SD/sederajat) yang APM-nya mencapai 90,99 persen. Dalam data itu disebutkan bahwa jumlah murid di jenjang ini mencapai angka 284.750 anak. Jika dihitung dengan menggunakan persentase APM, maka diketahui jumlah anak usia SD yang masih belum mengenyam pendidikan mencapai angka 26 ribu. Untuk jenjang pendidikan menengah pertama (SMP/sederajat) yang APM- nya mencapai 79,18 persen, berarti 20,82 persen anak usia SMP (Dengan asumsi umur 13-15 tahun) belum menduduki bangku SMP. Jumlah siswa pada jenjang ini mencapai 108.912 anak. Dengan persentase APM di atas, maka diperkirakan jumlah anak usia SMP yang tidak sekolah sekitar 28 ribu siswa. Selain itu, dari data ini juga terungkap angka putus sekolah tengah jalan pada jenjang pendidikan dasar (SD) mencapai 0,1 persen. Ini artinya, sekitar 260 anak tak menyelesaikan pendidikan SD-nya. Sedangkan, untuk tingkat SMP/sederajat mencapai 0,38 persen. Yakni, diperkirakan sebanyak 400 anak tak melanjutkan SMP. Ini belum termasuk angka transisi. Yaitu, angka yang menunjukkan persentase siswa yang bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Di jenjang SD menuju SMP, angkanya sebesar mencapai 90,39. Artinya, masih ada sekitar 9 persen siswa sekolah tidak bisa melanjutkan

pendidikannya. Sementara itu, angka transisi dari jenjang SMP/sederajat ke SMA/sederajat lebih parah lagi. Yakni hanya 62 persen. Berarti 38 persen lulusan SMP langsung putus sekolah. Pakar pendidikan dari Universitas Negeri Surabaya Muchlas Samani menilai kondisi ini sangat ironis. Misalnya untuk anak yang tidak mampu mengenyam pendidikan. Surabaya sama sekali tidak kekurangan ruang kelas baik di tingkat SD maupun SMP. Untuk diketahui, pada jenjang SD/sederajat, jumlah ruang kelasnya sedikitnya mencapai 14.162 ruang. Asumsinya, satu kelas idealnya diisi 40 siswa. Maka jumlah kelas di kota ini bisa menampung 566.480 siswa SD. Bandingkan dengan jumlah siswa di Surabaya pada usia ini yang hanya 284.750 anak. Bandingkan juga dengan prediksi angka anak yang tidak mengenyam pendidikan pada usia ini sebesar 26 ribu. Bukankah masih terlalu banyak kapasitas yang tak termanfaatkan? "Jadi, adanya anak usia 7-12 tahun yang belum masuk SD dan anak usia 13-15 tahun belum masuk SMP, bukan karena tidak ada sekolah yang dapat menampungnya, tapi karena faktor lain," paparnya. Hal ini diakui oleh kepala Diknas kota Surabaya Drs Sahudi MPd. Menurutnya, masalah ini sebenarnya sudah menjadi hal yang klasik di kota ini. "Tapi data ini tidak bisa dijadikan dasar patokan satu- satunya. Sebab, masih ada beberapa variabel yang tidak diperhitungkan pada data ini," tuturnya. Seperti apa? Misalnya, berapa jumlah anak sekolah yang dimasukkan orang tuanya pada pesantren tidak diperhitungkan. "Atau juga banyaknya anak yang tidak bisa melanjutkan pendidikan karena memiliki kekurangan fisik. Jadi data ini bisa jadi kurang," lanjutnya. Malah, lanjut dia, data ini sudah mengalami penurunan pada tiap periodenya. Data pokok pendidikan pada tahun 2003/2004 menunjukkan jika persentase APM, persentase putus sekolah, maupun angka transisi lebih tinggi dibanding tahun ini. Akar Permasalahan Lalu, apa yang menjadi pokok masalah sehingga fakta ini masih saja terus terjadi? Menurut Sahudi faktor ekonomi tampaknya masih cukup dominan. Banyak orang tua yang tidak mempunyai biaya menyekolahkan anaknya. "Buntutnya, mereka tidak bisa membiayai anaknya sekolah," tutur Sahudi. Selain itu, masih banyak masyarakat yang pola pikirnya kurang maju. Mereka lebih mementingkan bagaimana bisa mendapat penghidupan layak dibanding memberikan pendidikan bagi putra-putrinya. "Dan ini terjadi di kawasan pinggiran. Terbesar ada di wilayah Surabaya utara," lanjutnya.

Hal ini diperkuat oleh pengalaman Muklas Samani selama di Plan International (sebuah lembaga internasional) yang melakukan penyuluhan di daerah pinggiran. Di sana diketahui bahwa masyarakat tidak menganggap pendidikan itu penting dan tidak menjamin mendapatkan pekerjaan yang baik. Di kalangan masyarakat tersebut ada ungkapan seperti ini "Meskipun ayah atau ibu tidak sekolah, toh juga dapat pergi haji" atau ungkapan "Sekolah buang-buang uang saja. Toh kalau lulus belum tentu mendapat pekerjaan". Tapi, tambah Muklas, sudah sepatutnya pemerintah kota (dalam hal ini Diknas) segera mencarikan solusi. "Bagaimana pun juga, ini sudah menjadi amanat pemerintah untuk memberikan pendidikan minimal pada rakyat," katanya. Lain lagi dengan yang diungkapkan ketua dewan pendidikan Jawa Timur Daniel Muhammad Rosyid. Menurutnya, hal ini tidak lepas dari kondisi sekolah kita yang terlalu formal. Maksudnya, sepertinya sekolah saatini yang merasa dibutuhkan. Termasuk, dalam menetapkan kisaran biaya pada calon siswa. "Padahal, seharusnya siswa mendapat kemudahan ketika akan memasuki sekolah," jelas pakar yang juga dosen ITS ini. Daniel sendiri cukup prihatin dengan kondisi ini. Sebab, jika hal ini tidak segera ditangani, maka akan menimbulkan satu lost generation (satu generasi hilang). "Ini akan berdampak pada kondisi sosial ekonomi di kota ini. Misalnya, tingginya angka kriminalitas maupun hal lain. Dan ini adalah PR besar," lanjut Daniel kepada koran ini kemarin. Tapi, tampaknya angka ini tidak akan beranjak secara signifikan. Sebab, Diknas tahun depan menargetkan angka APM bisa naik menjadi 92 persen. Mengapa? "Sebab, untuk bisa mengangkat APM secara cepat bukan hal yang mudah. Banyak faktor yang melatarbelakangi hal ini," lanjutnyaPendidikan di Indonesia saat ini tidak hanya bisa dikatakan jongkok melainkan tengkurap alias sudah sangat parah. Berdasarkan hasil penelitian The Political and Economic Risk Consultacy (PERC) medio September 2001 dinyatakan bahwa sistem pendidikan di Indonesia berada diurutan 12 dari 12 negara Asia, bahkan lebih rendah dari Vietnam. Sementara itu berdasarkan hasil penilaian Program Pembangunan PBB (UNDP) pada tahun 2000 menunjukkan kualitas SDM Indonesia menduduki urutan ke-109 dari 174 negara atau sangat jauh dibandingkan dnegan Singapura yang berada pada urutan ke-24, Malaysia pada urutan ke-61, Thailand urutan ke-76, dan Filipina urutan ke-77 (Satunet.com). hasil penelitian yang lainnya pun juga menggambarkan betapa Negara Indonesia ini tertinggal jauh dengan negara lain dalam bidang pendidikan. Belum tuntas dengan ketertinggalan kita diantara Negara lain, pendidikan Indonesia juga dinodai dengan tinta pekat oleh pelaku pendidikan itu sendiri. Tahun 2007 kita dikagetkan dengan meninggalnya Cliff Muntu, Praja tingkat II IPDN dalam aksi premanisme dan kekerasan yang dilakukan oleh senior-seniornya. Sesungguhnya premanisme pendidikan sudah menjadi tontonan umum di masyarakat kita, satu contoh lagi pada jawapos 20/12/08 diberitakan seorang guru SMP lamongan yang menyuruh muridnya untuk melayani nafsu bejadnya di tenda. Krisis

kejujuran pun juga dialami oleh pendidikan kita. Data menunjukkan bahwa 18 pengawas, 17 guru, dan seorang kepala sekolah yang tergabung dalam Komunitas Air Mata Guru (KAMG) diminta untuk mengundurkan diri karena telah membongkar kebocoran UN 2007 (wibowo, 41:2008). Sungguh julukan apa lagi yang harus kita katakan pada pendidikan ini bila kejujuran dihadiahi dengan kedzaliman sepihak bukan ucapan terimakasih. Tidak berheti disitu, pendidikan yang kita saksikan saat ini juga melahirkan ratusan pengangguran terdidik pertahunnya. Menurut badan statistic tenaga kerja, pengangguran sarjana lulusan universitas sekitar 385 jiwa-pemuda (184.497); pemudi (200.921), bila ditotalkan sekitar 708.254 jiwa. Itu semua tentunya bukan prestasi yang pantas kita banggakan. Mahalnya pendidikan juga kita rasakan saat ini. Berapa juta orang yang tak mampu untuk melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi hanya karena tidak memiliki dana yang memadai. Kesenjangan pendidikan yang semakin parah ini sampai membuat orang mengatakan bahwa rakyat miskin dilarang sekolah. Padahal semua warga berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Bukankah majunya pendidikan juga akan menjadikan bangsa ini terpandang?. Silang sengkarut dunia pendidikan kita diatas masih belum mencapai klimaksnya. Banyak dari kalangan pemerhati dan pelaku pendidikan, tidak mempersoalkan hal yang lebih mendasar. Yakni tentang sistem pendidikan nasional yang ditudingnya masih mewarisi sistem pendidikan kolonial. Diakui atau tidak, sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini memang adalah sistem pendidikan yang sekular-materialistik. Hal tersebut dapat kita lihat dalam realita disekitar kita. Pendidikan yang ada dalam Negara kita ini semakin tinggi semakin sedikit pula porsi pendidikan agamanya (sekuler). Padahal hal tersebut sangat penting, betapa tidak ketika seseorang itu pandai dan memiliki kedudukan namun dalam dirinya tidak terdapat aqidah yang kuat maka jabatannya itupun akan digunakan untuk korupsi, mencabuli muridnya, menganiaya juniornya dan bahkan menindas para orang-orang yang jujur seperti yang tergabung dalam KAMG. Dampak dari pendidikan yang sekuler juga bisa kita lihat pada maraknya budaya bebas pada remaja kita, mulai dari pacaran, freesex, aborsi dan juga tawuran. Pantas saja di Negara ini gagal dalam melahirkan orang-orang yang sholeh dan intelektual. Selain sekuler sisterm pendidikan saat ini juga materialistik. Hal ini juga dapat kita lihat betapa seorang mahasiswa kebanyakan kuliah hanya untuk mencari pekerjaan. Padahal motivasi yang dibangun atas dasar materi adalah motivasi terendah setelah emosi dan spiritual. Mereka besar kemungkinan akan terjangkit krisis kepribadian, ya inilah awal kehancuran bangsa. Melihat peliknya masalah yang dihadapi sistem pendidikan yang saat ini, maka kami dari Hizbut Tahrir Indonesia memberikan solusi alternatif dengan islam. Solusi ini pun juga sudah teruji selama 13 abad lamanya dan pernah dicontohkan Rasulullah Saw. Inilah sistem pendidikan islam, dimana tujuan sistem pendidikan ini adalah membentuk manusia yang (1) berkepribadian Islam, (2) menguasai tsaqofah Islam, (3) menguasai ilmu kehidupan (sainsteknologi dan keahlian) yang memadai. Sehingga tidak heran jika pada zaman kekhilafahan islam dahulu banyak sekali ilmuan yang juga sekaligus sebagai ulama yang menggali hukum islam untuk dijadikan solusi kehidupan. Sebut saja Ibnu Sina, Ibnu Haitsam, Ibnu Khaldun, Ibnu Rusydi, dan masih banyak lagi merupakan ilmuwanilmuwan Islam yang karya-karyanya tercatat terus dipakai bahkan hingga saat ini. Tidak hanya itu, dalam sistem islam juga menjamin pendidikan gratis karena pendidikan dalam pandangan islam adalah hak setiap warga, sehingga tidak memandang batasan kaya dan

miskin. Negara juga memfasilitasi jalannya pendidikan dengan biaya dari baitul Maal. Contohnya, Madrasah Al Muntashiriah yang didirikan Khalifah Al Muntashir di kota Baghdad. Di sekolah ini setiap siswa menerima beasiswa sebesar satu dinar (4,25 gram emas). Kehidupan keseharian mereka dijamin sepenuhnya. Fasilitas seperti perpustakaan, bahkan rumah sakit dan pemandian tersedia lengkap di sana. Begitu pula dengan Madrasah An-Nuriah di Damaskus yang didirikan pada abad keenam Hijriah oleh Khalifah Sultan Nuruddin Muhammad Zanky. Di sekolah ini terdapat fasilitas lain seperti asrama siswa, perumahan staf pengajar, tempat peristirahatan untuk siswa, staf pengajar dan para pelayan serta ruang besar untuk ceramah. Khalifah Umar Ibnu Khattab jauh sebelum itu, memberikan gaji kepada tiga orang guru yang mengajar anak-anak di kota Madinah masing-masing sebesar 15 dinar setiap bulan (kira-kira 7,7 juta). Tentu saja tidak akan pernah cukup kertas ini untuk menulis bagaimana keagungan sistem islam baik secara material maupun spiritual. Menuju kegemilangan islam tidak hanya cukup sistem pendidikan islam, namun membutuhkan juga sistem perpolitikan islam, perekonomian islam, dan sistem pertahanan islam. Semua itu bisa terwujud tidak dari sistem kapitalis demokrasi saat ini melainkan sistem pemerintahan islam dalam bingkai Khilafah islamiyah. Khilafalah yang mampu mewujudkan kesejahteraan umat. Bukankah kejayaan diatas terlahir dari sistem islam bukan dari sistem kapitalis seperti saat ini?. Oleh karena itu mari kita jemput dan kita perjuangkan Khilafah yang juga merupakan janji Allah Swt. Oleh I Wayan Suyadnya Pendidikan merupakan suatu yang hakiki dan mutlak harus diperoleh warga negara serta wajib disediakan oleh negara dalam rangka menunjang proses pembangunannya, baik berupa pembangunan fisik ataupun pembangunan sosial budaya termasuk di dalamnya bidang pendidikan. Telah jauh sebelumnya pertanyaan yang menyelimuti dunia pendidikan nasional kita banyak sekali dipertanyakan. Kenapa pendidikan nasional kita kalah bersaing dengan negara-negara tetangga yang notabene dulu justru belajar di Indonesia, mengapa pendidikan nasional tidak mampu mencetak masyarakat-masyarakat yang dalam teorinya disebut sebagai manusia Indonesia seutuhnya, itu adalah segelintir pertanyaan yang akan diikuti oleh pertanyaan lainnya. Siapa yang salah, institusi pendidikan? Orang tua? Siswa sendiri? Ataukah sistem pendidikan nasional Indonesia sudah seperti lingkaran setan (vicious circle) yang terlalu banyak dan kompleks jenis permasalahannya. Kita akan mecoba untuk mencari jawabannya! Ajaran tahun baru yang telah lewat beberapa minggu ini, masih terlintas dengan jelas dalam ingatan berbagai persoalan pendidikan menghiasi berbagai media elektronik ataupun media cetak yang memuat persoalan-persoalan klasik dunia pendidikan Indonesia. Persoalan yang dari tahun ke tahun pada intinya adalah sama. Kemudian pertanyaan muncul, kalaulah permasalahan itu sama kenapa tidak diambil sebuah tindakan yang nyata untuk mengatasi hal tersebut. Permasalahan mahalnya harga buku di sekolah, tingginya biaya pendidikan atau SPP yang tidak terjangkau oleh kalangan lapisan bawah, bahkan dibeberapa masyarakat sempat menyulut emosi masyarakat sehingga pernah ada teman LSM menyatakan bahwa orang miskin dilarang untuk sekolah. Permasalahan ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada sistem pendidikan tingkat SD sampai SMU tetapi juga pada tingkatan universitas yang katanya melahirkan masyarakat

pembaharu (agent of social change) yang juga dianggap masyarakat intelektual, malah terjebak juga dengan kapitalisme pendidikan. Pendidikan mahal sebenarnya bukanlah sesuatu yang perlu untuk ditakutkan, justru yang perlu ditakutkan adalah persoalan tingginya biaya pendidikan tetapi dengan kualitras yang dihasilkan bersifat tetap (stagnan) atau malah mengalami degradasi. Sistem Pendidikan yang Rapuh Konsep pendidikan mengacu pada konsep pendidikan untuk semua (Education for All) yang dicetuskan di Bangkok, Thailand pada tahun 1990 sudah sangat jelas dikatakan bahwa pendidikan merupakan hal yang mutlak harus dipenuhi oleh setiap negara bagi warga negaranya. Masyarakat memiliki sebuah kepastian untuk memperoleh pendidikan yang layak sesuai dengan apa yang diatur dalam Amandemen UUD 1945 pasal 31 ayat (1) yang mengatur secara tegas hal tersebut. Masyarakat berhak untuk memperoleh pendidikan. Pendidikan seyogyanya sebagai suatu hal yang bersifat partisipasif, artinya masyarakat memiliki wewenang dan hak yang sama dalam pengelolaan pendidikan tidak saja pada masalah pembiayaan tetapi juga pada masalah konsep pendidikan tersebut ke depan. Wajib belajar sembilan tahun yang dideklerasikan pada tahun 1994 semasa kepemimpinan Soeharto dan Orde Baru-nya ternyata hanya merupakan isapan jempol atau dengan kata lain konsep diatas kertas. Pencanangan wajib belajar sembilan tahun ini pada awalnya diharapkan mampu untuk mengatasi permasalahan buta huruf dan kemampuan baca tulis (literacy) masyarakat Indonesia. Namun demikian konsep tersebut ternyata sangat sulit untuk dilaksanakan oleh pemerintah, karena tidak ditunjang dengan sarana prasarana dan insfrastruktur yang memadai. Kenyataan ini sesuai dengan hasil laporan yang dikeluarkan setiap tahun oleh UNDP dalam Human Development Report, yang menggarisbawahi bahwa perkembangan pendidikan dan pembangunan manusia Indonesia memiliki mutu yang rendah. Sungguh tragis, mantan negara yang dianggap paling stabil pertumbuhan ekonominya di Asia mengalami hal seperti ini. Sehingga dengan keadaan seperti pemerintah perlu melakukan intervensi berupa investasi dan pembenahan sektor pendidikan nasional baik dari sisi konsep maupun strategi pelaksanaan di lapangan yang disertai dengan konsep pembangunan pendidikan yang bersifat partisipasif, yang berguna dalam perencanaan sosial masyarakat. Upaya partsipasif dalam konsep pendidikan d Indonesia tidaklah pernah ada dan kita temui sampai saat ini kecuali model pendidikan yang dicoba untuk diterapkan oleh Romo Mangunwijaya dengan proyek Kali Code-nya. Pendidikan partisipasif dimaksudkan masyarakat memiliki peran yang besar untuk aktif berperan serta dalam perumusan tujuan pendidikan di daerahnya. Namun demikian seiring dengan perkembangan zaman, nampaknya upaya partispasif ini tidak diterima oleh sebagian masyarakat guna mempertahankan status quo mereka dalam birokrasi pemerintahan termasuk di dalamnya institusi pendidikan. Kelemahan sistem pendidikan nasioanal di Indonesia, adalah sistem pendidikan kita terlalu bertumpu pada sebuah kesamaan konsep pendidikan. Jauh sebelumnya kita ketahui bahwa Bangsa Indonesia adalah suatu bangsa yang bersifat pluralistik, oleh karena itu setiap masyarakat memiliki karakter atau model sosial kemasyarakatan yang berbeda. Termasuk di dalamnya konsep mengenai pendidikan itu sendiri. Pendidikan itu sendiri merupakan suatu kebudayaan. Sehingga dengan karakteristik masyarakat Indoensia yang heterogen seharusnya konsep pendidikan yang selama ini dipikul rata mulai ditinggalkan. Karena penyebab utama rapuhnya sistem pendidikan nasional adalah penyeragaman muatan atau kurikulum pendidikan nasional. Disamping hal lain seperti manajemen yang lemah dalam perencanaan pendidikan nasional, ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan perubahan global, dan masalah pendekatan

pendidikan yakni kurikulum yang sesuai. Sedangkan faktor lain yang kurang diperhatikan dalam pendidikan di negara-negara berkembang seperti yang dungkapkan oleh Todaro (2002) adalah permasalahan tingkatan pendapatan termasuk lingkungan keluarga, pendidikan orangtua, kondisi rumah, jumlah anak-anak di rumah tangga, interaksi kelompok- yaitu. jenis anak-anak dengan siapa anak berhubungan; Kepribadian- yaitu. anak menerima warisan kecerdasan/inteligen dan kemampuan; dan awal ilmu gizi dan kesehatan, sejak dari kehamilan ibu sampai kelahiran bayi. Reformulasi Konsep Pembaharuan konsep di bidang pendidikan merupakan suatu karakter dunia modern. Penekanan dunia yang modern tidak hanya pada aspek ekonomi semata-mata sepeti yang dialami oleh Indonesia selama 35 tahun terakhir, tetapi juga ditekankan pada pendidikan sebagai sebuah gambaran keseimbangan sosial budaya dengan ekonomi pembaharuan konsep pendidikan pada dasarnya berkisar pada persepsi bahwa pendidikan merupakan sebuah menara gading yang memiliki kemampuan untuk mencetak agen-agen perubah atau pembaharu (sosial change of agent), selama ini segi kognitif tetap memiliki tempat yang spesial di lingkungan pendidikan, namun demikian diperlukan juga reformulasi konsep untuk menyesuaikan pendidikan pada keadaan yang bersifat global dalam artian bahwa pendidikan nasional bukan merupakan pendidikan yang berkarakter pendidikan yang berlandaskan globalisasi dunia tetapi konsep pendidikan yang masih menekankan pentingnya aspek pendidikan sebagai budaya bangsa. Kurikulum pendidikan, seharusnya dirancang untu memberikan pengalaman-pengalaman yang memancing adanya keunggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, tanpa perlu menghilangkan sebuah hal yang lebih penting yakni pendidikan yang menojolkan kreativitas dan intelektualitas. Kurikulum kedepan harus bersifat praktis dan sesuai dengan ciri dan karakteristik daerah bersangkutan. Penguatan muatan lokal sangat perlu, sehingga sistem pendidikan nasional Indonesia mampu untuk mencetak siswa ataupun mahasiswa yang mampu untuk menjawab tantangan zaman yang disertai dengan ciri-ciri yang khas antar daerahnya. Sebgai contoh, Bali yang terkenal dengan konsep pariwisatanya haruslah menekankan kurikulum pendidikan yang sesuai dengan ciri dan karakteristik masyarakat Bali itu sendiri, seperti pengembangan Bahasa Inggris, Jepang dan lainnya disertai dengan memupuk jiwa seni yang tinggi, bukan dalam artian orang Bali harus menjadi tukang ukir ataupun pelukis. Sebaliknya pendidikan di Kalimantan haruslah juga dengan keadaan geografis atau ciri budaya masyarakat Kalimantan, sepeti pendidikan dengan konsep pertambangan atau pemanfaatan hasil-hasil hutan. Sehingga sangat tepat di Kalimantan konsep pendidikan nasional diarahkan untuk mencetak ahli-ahli di bidang pertambangan dan pemanfaatan hasil hutan, setiap daerah di Indonesia akan memiliki ciri khas tersendiri dalam bidang pendidikan. Dengan kata lain konsep kurikulum menyajikan hal-hal yang praktis dan disesuaikan dengan latar belakang kehidupan yang bervariasi, tujuan hidup yang berbeda, serta daya terhadap pemahaman persoalan yang berbeda pula. Ada beberapa hal selain hal diatas yang perlu untuk ditindak lanjuti untuk memperkuat konsep pendidikan nasional disamping perbaikan kurikulum dengan berbasis muatan lokal yang berdasarkan karakteristik daerah. Pertama, memperbanyak pembukaan sekolah ketrampilan. Konsep ini berhasil dilaksanakan di Jepang. Konsep pendidikan semacam ini menuntut bahwa sistem pendidikan diarahkan pada peningkatan kualitas dan bukan kuantitas. Selama ini yang terjadi di Indonesia adalah pendidikan diorientasikan

pada kuantitas yakni seberapa banyak sarjana atau lulusan SMU yang dicetak. Kita bandingkan di Indonesia dengan di Jepang, dalam satu kabupaten di Indonesia kemungkinan terdapat sekitar 8-10 sekolah negeri seperti SMU dengan 2 sekolah negeri yang bergerak dalam bidang keterampilan. Sedangkan di Jepang adalah perbandingannya 2 sekolah SMU Negeri dan 15 sekolah keterampilan, bahkan sekarang mungkin sudah lebih tinggi. Sehingga orientasi pendidikan nasional Indonesia kedepan menekankan pada pentingnya kualitas manusia Indoensia. Kedua, mempersulit saringan masuknya mahasiswa ke pergurun tinggi dan juga memperketat pembukaan perguruan tinggi swasta yang tidak ketahuan secara jelas mutunya. Sekarang begitu terlihat banyak sekali lulusan perguruan tinggi tetapi miskin ilmu. Hal ini sebagai cerminan bahwa masyarakat kita telah terjebak pada budaya pemakaian gelar dan jabatan akademis. Saringan masuk ke pergurun tinggi bukan berarti dimaksudkan untuk menghilangkan hak azazi seseorang untuk memperoleh pendidikan, namun memberikan sebuah upaya yang baru bahwa orang-orang yang berkesempatan untuk kuliah adalah orang-orang yang memang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan studinya dengan baik. Namun demikian konsep pendidikan ini tidak seketat yang dibayangkan, konsep ini memberikan sebuah kesempatan untuk melakukan ujian kepada masyarakat yang sebelumnya gagal untuk masuk dalam ujian saringan setelah yang bersangkutan selama 2 tahun bekerja di sektor industri atau jasa. Cuma permasalahannya siapkah industri kita mendukung program ini? Ketiga, melaksanakan Pajak Sosial untuk pendidikan, yakni upaya melibatkan peran aktif masyarakat dalam pembangunan pendidikan. Kuncinya adalah masyarakat Indonesia harus berubah menjadi masyarakat aktif (active society). Siapkah masyarakat Indonesia menjadi masyarakat aktif (active society) seperti yang diuraikan oleh Amitai Etzioni (1968). Yakni masyarakat yang memiliki beberapa karakteristik seperti: (i) masyarakat memiliki pengetahuan yang tinggi, (ii) masyarakat memiliki banyak alternatif tujuan hidup, (iii) menyokong fasilitas kekuasaan yang tinggi untuk memperlancar program. Sehingga dengan kata lain masyarakat Indonesia jika ingin menjadi sebuah masyarakat yang aktif dalam segala bidang kehidupannya harus memliki pengetahuan, aktif dalam pengambilan keputusan dan memiliki akses terhadap kekuasaan. Siapkah kita untuk menjadi masyarakat yang aktif untuk memperbaiki konsep pendidikan tersebut? Kalau kita siap, niscaya pengangguran tenaga kerja intelektul kita tidak akan terjadi, dan yang terpenting adalah permasalahan pendidikan yang setiap tahun kita temui dapat kita kurangi.

Urgensi Pendidikan Islam

A. Latar Belakang Pendidikan mempunyai arti penting bagi kehidupan manusia. Pendidikan diakui sebagai kekuatan yang dapat mendorong manusia mencapai kemajuan peradaban. Selain itu pendidikan memberikan bekal kepada manusia untuk menyongsong hari esok yang lebih cerah dan lebih manusiawi. Persoalan pendidikan memang masalah yang sangat penting dan aktual sepanjang masa, karena hanya dengan pendidikan manusia akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam kapabilitas mengelola alam yang dikaruniakan Allah kepada makhluk-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan sangat besar kontribusinya dalam pembinaan moral, kesejahteraan dan kemajuan suatu bangsa. Oleh karena itu, untuk mengukur kemajuan suatu umat atau bangsa dapat dilihat seberapa jauh tingkat pendidikannya.

Mengingat demikian urgennya pendidikan Islam bagi pembinaan etika moral generasi muda, maka menjadi hal yang sangat penting untuk diwacanakan tentunya dalam kerangka akademik. B. Urgengsi Pendidikan Islam M. Athiyah mengemukakan bahwa pentingnya pendidikan Islam adalah untuk membentuk budi pekerti. Sementara budi pekerti adalah jiwa dari pada pendidkan Islam. Dan Islam telah menyimpulkan bahwa mencapai suatu akhlak yang sempurna adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan Islam. Iman Al-Ghazali berpendapat bahwa pentingnya pendidikan Islam ialah usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Pendidikan Islam bukan sekedar mengisi otak dengan segala macam ilmu yang berorientasi pragmatis, melainkan mendidik akhlak dan jiwa (spiritual), mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci berlandaskan iman dan taqwa. Muhammad Quthb, berpendapat bahwa hakekat pendidikan Islam ialah pembinaan rohani, pendidikan intelektual dan pembinaan jasmani. Hubungannya dengan pembinaan ruhani, Muhammad Quthub menjelaskan bahwa ruhani adalah pusat eksistensi manusia yang menjadi titik perhatian. Ruhani adalah landasan, tempat dan penuntun kepada kebenaran. Dalam pendidikan intelektual, Quthb menjelaskan bahwa Islam memberi kemungkinan kepada manusia untuk mengetahui hal-hal yang gaib sebesar kemampuannya. Sedangkan dalam pembinaaan jasmani, ia menjelaskan bahwa Islam begitu menghormati jasmani, tidak membiarkannya apa adanya, sebab apabila dibiarkan maka ia tidak menjadi energi yang bermanfaat, melainkan justru merusak eksistensi jasmani itu sendiri. Apabila nilai-nilai moral dan akhlak tidak diajarkan atau dimarjinalisasikan dalam kehidupan manusia, maka akibatnya adalah manusia akan mengambil kehidupan duniawi ini sepuaspuasnya dengan membuat berbagai tatanan di atas standar materialistik. Sekalipun kesenangan itu musnah seluruhnya akibat jiwa yang kosong dari iman, dan kekosongan dari norma-norma agama. Kesenangan dan kenikmatan hidup yang dibangun selain dari prinsip moral, akan berubah menjadi perburuan hawa nafsu yang pada akhirnya mencelakakan manusia. Kehidupan yang dibangun di atas prinsip materialistik murni untuk mencapai kesejahteraan, sudah dapat dipastikan bahwa yang dicapai hanya kesejahteraan lahiriah, sedangkan kesejahteraan ruhaniah tidak akan terpenuhi. Keadaan ini apabila sampai pada tingkat teratas strata kehidupan dan berbagai segmen kehidupan, maka akan terjadi kehancuran yang mengenaskan. Akhirnya cita-cita manusia untuk mencapai ketaqwaan hanyalah menjadi suatu harapan yang hampa. Di sinilah letaknya urgensi pendidikan Islam sebagaimana makna faktual al-Qur'an surat al-Hujurat ayat 13 yaitu: "Hai manusia, sesunguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal dan menghargai dan sesunggunya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang taqwa(QS. Al-Hujurat: 13). Dalam hal itu proses untuk mencapai dan meningkatkan kesejahteraan hidup, maka setiap orang/individu diperintahkan untuk belajar secara terus menerus sepanjang hidupnya, dan hal itu merupakan konsekuensi logis ditetapkannya manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini. Pendidikan merupakan bagian dari tugas kekhalifaan manusia. Oleh karena itu, kegiatan pendidikan harus dilaksanakan secara konsisten dan penuh tanggung jawab. Dalam hal ini Islam memberikan pandangan bahwa konsep-konsep yang mendasar tentang pendidikan dan tanggung jawab umat muslim untuk menjabarkan dan mengaplikasikannya ke dalam praktek pendidikan.

Pendidikan dalam arti yang luas, adalah proses mengubah dan memisahkan nilai suatu kebudayaan atau derajat kepada masing-masing individu dalam masyarakat. Firman Allah Swt; "Allah akan mengangkat beberapa derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan ..(QS. Al-Mujadilah ayat: 11)" Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam merupakan keharusan mutlak untuk dilaksanakan secara konsisten dengan penuh rasa tanggung jawab, guna mencapai kesejahteraan hidup sebagai wujud peribadatan dan ketaqwaan kepada Allah Swt. C. Penutup Urgensi pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang berakhlak mulia atau manusia yang bertaqwa. Karena dengan nilai-nilai moral dan akhlak manusia menjadi mulia, baik dalam pandangan Allah maupun pandangan manusia. Bahwa pendidikan Islam adalah suatu keharusan mutlak bagi setiap generasi dan dilaksanakan secara konsisten dengan penuh rasa tanggung jawab, guna mencapai kesejahteraan hidup; dan menjadi fasilitas untuk beribadah kepada Allah. Dan pendidikan Islam dapat mengubah karakteristik jahiliyah menjadi karakteristik madaniah, yang dulunya biadab menjadi beradab.