You are on page 1of 5

Nayesha Shafira Elthaf XII IPA 3

Confession of a Shopaholic
(Pengakuan Seorang Maniak Belanja) Judul Film Sutradara Produser Penulis Skenario Berdasarkan Pemeran : Confession of a Shopaholic : P. J. Hogan : Jerry Bruckheimer : Tim Firth, Tracey Jackson : Novel Shopaholic oleh Sophie Kinsella : Isla Fisher Hugh Dancy Krysten Ritter John Goodman Joan Cusack John Lithgow Leslie Bibb Julie Hagerty Tanggal Rilis : 13 Februari 2009 (Amerika Serikat) 11 Maret 2009 (Indonesia) Durasi : 104 menit

1. Sinopsis Cerita Film ini berpusat pada seorang maniak belanja bernama Rebecca Bloomwood. Ia adalah seorang jurnalis untuk sebuah majalah tentang perkebunan dan selalu bermimpi untuk suatu saat dapat bekerja untuk majalah tentang fashion bernama Alette. Akibat kebiasaan buruknya berbelanja berlebihan bahkan untuk barang-barang yang tidak penting sekalipun, Rebecca kehabisan uang, semua kartu kreditnya ditolak, bahkan ia mempunyai hutang ribuan dollar. Ia terpaksa harus mencari pekerjaan baru karena perusahaan lama tempat ia bekerja bangkrut dan memecat seluruh pegawainya. Berencana untuk interview di Alette, ternyata posisi

jurnalis di Alette sudah penuh terisi. Seorang resepsionis menyarankannya untuk interview dengan Successful Savings, salah satu majalah ekonomi yang masih satu induk perusahaan dengan Alette karena menurut resepsionis tersebut, sekali kita sudah bekerja untuk induk perusahaan tersebut, akan sangat mudah untuk dipromosikan ke Alette. Rebecca pun melaksanakan interviewnya dan diterima di Successful Savings. Ia kemudian berjuang sekuat tenaganya untuk menjalankan pekerjaannya sebagai jurnalis di majalah yang ia tidak punya pengetahuan apapun tentangnya, berpadu dengan masalah cinta dengan bosnya sendiri, masalahnya dengan sahabatnya, dan juga masalah dengan penagih hutang yang mengejar-ngejarnya kemanapun ia pergi. 2. Kekuatan Cerita Kelakuan Rebecca Bloomwood yang konyol dan spontan sangat menghibur penonton, seperti tarian kipasnya yang tidak terkontrol, konyolnya ia ketika rapat karyawan di Successful Savings, dan banyak lainnya. Selain menjadi hiburan, film ini juga menyampaikan nilai-nilai moral yang kuat bagi penontonnya, terutama bagi kaum perempuan metropolis seperti Rebecca Bloomwood. Bagaimana ia tetap berusaha keras menjalani pekerjaan yang sebenarnya bukan bidangnya, bagaimana ia berhasil melihat sisi positif dan pelajaran dari masalah yang menimpanya dan bahkan kemudian menginspirasi banyak orang lewat tulisannya tentang masalah tersebut, bagaimana ia berhasil mengatasi masalah-masalahnya yang tidak terhitung jumlahnya, bagaimana ia tetap percaya diri dalam semua keadaan yang dihadapinya, bagaimana ia berhasil berubah dari seorang yang maniak belanja menjadi seorang yang bisa memprioritaskan mana barang yang ia butuhkan dan mana yang ia hanya sekedar inginkan. Film ini berhasil menyampaikan banyak sekali nilai dan pesan. Apalagi di era metropolis ini, banyak sekali perempuan-perempuan yang bisa menyamakan keadaannya dengan keadaan Rebecca. Kekuatan pada film ini juga tampak dari keberhasilannya dalam menggambarkan atau menghidupkan seorang tokoh Rebecca Bloomwood dari novel karya Sophie Kinsella. Dimana tokoh Rebecca Bloomwood adalah seorang yang mewakili mayoritas wanita-wanita metropolis. Film ini berhasil menggambarkan keadaan sebenarnya, dibalik segala pakaian-pakaian mahal, tas-tas bermerk, ratusan pasang sepatu yang dimiliki seorang wanita metropolis. Film ini seolah-olah mengatakan, Inilah kenyataannya. Sutradara film ini juga berhasil menyampaikan pesan-pesan seperti konsekuensi apa yang dialami Rebecca yang maniak belanja dan lain sebagainya. Apalagi fim ini disampaikan seperti berupa diary dimana Rebecca menjadi naratornya, sehingga seolah-olah tokoh Rebecca tersebut sendirilah yang menyampaikan pengakuan-pengakuan tulusnya sebagai seorang maniak belanja kepada para penonton.

3. Apresiasi Kritikan Berdasarkan Pendekatan Struktural a. Strukur Film Struktur Intrinsik Film yang didasari novel karya Sophie Kinsella berjudul Shopaholic ini merupakan film drama komedi bertemakan kehidupan metropolitan, yaitu tentang seorang wanita metropolitan maniak belanja yang harus menghadapi masalah yang datang bertubi-tubi. Lain dengan film-film kebanyakan yang biasanya mengangkat satu tema atau masalah seperti masalah percintaan saja atau masalah keluarga saja, dalam film ini semua masalah berpadu menjadi satu, mulai dari masalah percintaan, masalah ekonomi, masalah pekerjaan, masalah gaya hidup, masalah prinsip, masalah persahabatan, dan banyak masalah lainnya. Amanat yang disampaikan banyak sekali dalam film Confession of a Shopaholic ini, yaitu memberikan semangat untuk terus berjuang dalam menghadapi masalah dalam bentuk apapun seperti yang selalu dilakukan Rebecca Bloomwood, seorang tokoh yang suka bekerja keras dan pantang mundur. Alur ceritanya menggunakan alur maju, karena ceritanya runtut dari Rebecca yang masih bekerja di majalah tentang perkebunan dan maniak belanja, hingga menjadi Rebecca yang sukses di majalah Successful Savings dan tidak maniak belanja lai. Sudut pandang film ini adalah sudut pandang pelaku utama, karena diceritakan langsung oleh Rebecca yang bertindak sebagai narrator. Penempatan setting film ini sangat bagus dan sesuai dengan ceritanya yang tentang kehidupan metropolitan, yaitu di New York, Amerika Serikat. Apalagi di film ini, mode dan trend pakaian menjadi unsure penting karena Rebecca sangat suka berbelanja barang-barang / pakaian bermerk dan up-to-date, cocok dengan lokasi shootingnya, New York, yang merupakan salah satu kota metropolitan dan pusat mode dunia. Sutradara P.J Hogan mengemas film ini dalam bentuk komedi, padahal jika dikaji lebih dalam, film ini merupakan film yang cukup serius mengingat adanya perbincanganperbincangan mengenai ekonomi dan bisnis. Struktur Ekstrinsik Seluruh penyampaian film ini tentunya tidak bisa lepas dari budaya kota metropolitan, sehingganya setting New York yang diambil sebagai latar tempat film ini sangat sesuai dan mendukung. New York adalah salah satu kota paling metropolitan dan

merupakan pusat mode dunia, sehingga budayanya dapat dipakai sang sutradara dan penulis novel untuk menghidupkan suasana metropolitan di film ini. Kita bisa lihat bagaimana para penduduk kota metropolitan tersebut bekerja, berjalan di trotoartrotoar, dan tentunya, berbelanja, sama halnya dengan Rebecca Bloomwood. b. Tekstur Film Confession of a Shopaholic ini benar-benar memperlihatkan kehidupan metropolitan Rebecca Bloomwood luar dan dalam. Dapat dilihat dari segi kostum yang digunakan, sebagai seorang maniak belanja yang mengerti tentang mode dan fashion, pakaian yang digunakan Rebecca sangat sesuai dengan kepribadiannya dan mengikuti trend saat itu. Rebecca, walaupun pindah bekerja ke majalah bisnis pun tetap memakai pakaianpakaian yang fashionable. Selain ditonjolkan oleh kostum, soundtrack film ini cukup mendukung dengan adanya lagu-lagu yang jika dikaji liriknya tentang seseorang yang maniak belanja. Dalam beberapa adegan ada juga lagu-lagu atau sound yang mendukung suasana untuk membuatnya lebih dramatik. Teknik pengambilan gambarnya lumayan bagus, dikarenakan film ini merupakan film drama biasa, dimana tidak ada adegan action atau sci fi, sehingga teknik pengambilan gambar tidak terlalu ditonjolkan di film ini. Satu yang pasti, film ini berhasilkan memperlihatkan kehidupan Rebecca Bloomwood. c. Makna berdasarkan bentuk dan isi Film ini bercerita tentang kehidupan metropolitan Rebecca Bloomwood. Cerita film ini diangkat dari sebuah novel karya Sophie Kinsella yang berjudul Shopaholic. Film ini mengandung banyak makna dan pesan, terutama bagi perempuan-perempuan metropolitan seperti Rebecca. Di film ini, disampaikan bahwa perjuangan keras pasti akan menghasilkan sesuatu yang berharga. Seperti yang dilakukan Rebecca ketika ia pindah kerja dan ia kemudian berusaha untuk mengadaptasi diri, ketika ia berusaha mencari cara untuk membayar utang ribuan dollarnya, ketika ia berusaha berubah dari seorang yang maniak belanja menjadi seorang yang mempunyai prioritas-prioritas hidup. Film ini sangat cocok ditonton untuk kalangan remaja hingga dewasa, film ini membuka pandangan kita terhadap hal-hal baru seperti kehidupan metropolitan yang sebenarnya, bagiamana realita dan apa yang berada dibalik indahnya metropolitan. 4. Penilaian Menurut saya, film ini memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan. Tema yang diangkat adalah kota metropolitan, dan di dalamnya mengandung banyak masalah-masalah yang diangkat. Hal ini menurut saya bagus karena membuat filmnya menjadi rumit, spontan, dan tidak bisa ditebak jalan ceritanya. Hal ini juga membuat film ini berbeda dari film kebanyakan.

Dari segi pesan yang disampaikan, film ini juga bagus karena memuat amanat-amanat walaupun tidak disampaikan secara langsung. Menurut saya, justru akan lebih baik sebuah amanat di sebuah film disampaikan secara implisit seperti ini, karena akan mengundang para penonton untuk mengkaji lebih dalam. Sedangkan dari segi latar dan teknis, film ini bisa kita acungi jempol. Kelemahan film ini adalah adanya beberapa adegan yang terkesan seperti dipaksakan, seperti adegan Rebecca yang tiba-tiba menampar seseorang dari Finlandia sebagai bagian dari actingnya sebagai seorang yang bisa berbahasa Finlandia. Pada akhirnya, orang Finlandia tersebut tidak marah dan malah menyukai sifat Rebecca. Selain itu, pertemuannya dengan Luke di toko hotdog, Luke yang ternyata bos Successful Savings, dan Luke yang ternyata adalah anak dari bos besar majalah Alette, majalah tempat bekerja impian Rebecca, agak sedikit kurang masuk di akal dan terkesan sangat dipaksakan. Terlepas dari kekurangannya, saya memberikan nilai 8 dari 10 untuk film ini.