You are on page 1of 6

Spesifikasi dan mutu BBM Indonesia: Antara tuntutan standar mutu internasional , security of supply dan kemampuan ekonomi

Mutu dan spesifikasi Bahan Bakar Minyak (BBM) di tiap negara berbeda satu sama lain, karena tiap negara memiliki kriteria dan pertimbangan tersendiri dalam menentukan spesifikasi BBM untuk dipasarkan dinegaranya. Namun seiring dengan semakin derasnya arus globalisasi, isu lingkungan dan diberlakukannya pasar bebas di berbagai belahan dunia, cepat atau lambat, mutu dan spesifikasi BBM di seluruh dunia akan mengarah pada standart spesifikasi yang sudah diakui dunia internasional , seperti standart spesifikasi BBM WWFC (World Wide fuel Charter), Euro, EPA (Environmental protection Agency ) ataupun CARB (California Air Resource Board). Lalu bagaimana dengan Indonesia? Di Indonesia sendiri , BBM yang beredar pada saat ini, mungkin baru bensin Pertamax dan Pertamax plus yang diklaim Pertamina sudah memenuhi standart WWFC. Namun sayangnya, bensin jenis ini baru memenuhi sekitar 3.2% dari pasokan bensin nasional yang rata-rata 12 juta kilo liter pertahunnya , Sedangkan selebihnya masih merupakan bensin premium tanpa timbal yang relatif sederhana mutu dan spesifikasinya sekalipun dibandingkan dengan standart spesifikasi WWFC kategori 1. Sementara pasokan bahan bakar solar sebanyak 15 juta kilo liter/tahun, dengan spesifikasi yang masih perlu ditingkatkan mutunya agar memenuhi spesifikasi standar internasional. Namun perlu difahami bahwa untuk meningkatkan atau memodifikasi mutu dan spesifikasi bahan bakar minyak agar memenuhi syarat spesifikasi yang ramah lingkungan sekaligus memenuhi standar internasional bukanlah suatu perkara mudah. Indonesia , meskipun salah satu negara pengekspor minyak (anggota Opec) dan memiliki ratusan jenis minyak mentah dari berbagai lapangan di seluruh Indonesia, namun tidak semua minyak mentah yang kita miliki layak olah untuk memenuhi komponen bahan bakar minyak bermutu tinggi sebagai prasyarat tuntutan spesifikasi bahan bakar yang ramah lingkungan masa kini. Selain itu, kondisi unit kilang yang ada saat inipun, sebagai unit proses produksi bahan bakar minyak yang kita miliki, relatif terbatas kemampuannya , baik ditinjau dari aspek untuk memenuhi syarat mutunya maupun dalam jumlah kapasitas produksinya. Selain hal diatas, tersendatnya pemenuhan mutu dan spesifikasi bahan bakar di Indonesia selama ini adalah masalah besarnya kebutuhan bahan bakar minyak , serta borosnya pemakaian energi minyak di Indonesia. Besarnya pemakaian energi minyak ini disebabkan belum adanya subtitusi energi pengganti minyak dan kondisi sistem, infrastruktur transportasi yang belum memadai di negeri ini. Contoh sederhana mengenai borosnya pemakaian energi minyak adalah seringnya terjadi kemacetan dimana-mana di kota- kota besar akibat jumlah kendaraan yang sangat banyak dan terbatasnya sarana jalan dan transportasi , yang mengakibatkan bahan bakar minyak terbuang percuma. Dampak lainnya, tentu pada akhirnya akan berpengaruh pada meningkatnya kadar pencemaran di kota-kota besar itu sendiri . Selain masalah-masalah diatas target pemenuhan mutu BBM kita, juga terbentur oleh kondisi perekonomian di Indonesia, yang sampai saat ini dapat dikatakan masih berjalan ditempat, akibat krisis yang berkepanjangan. Karena seperti telah dijelaskan, untuk meningkatkan mutu bahan bakar minyak sesuai standar spesifikasi yang kita harapkan bukanlah pekerjaaan mudah dan juga membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Anggaran ini dibutuhkan terutama untuk rekonfigurasi kilang yang sudah ada

ataupun pembangunan kilang baru, agar dapat memenuhi target proses produksi bahan bakar minyak sesuai mutu yang kita harapkan dan pemenuhan kebutuhan pasokan (security of supply) bahan bakar minyak di Indonesia. Kalau hal ini belum bisa dilakukan, jalan pintas yang dapat ditempuh tiada lain, selain mengimpor kebutuhan bahan bakar minyak sesuai mutu yang kita harapkan itu. Dan hal ini sudah tentu akan menambah beban anggaran yang relatif sangat besar, mengingat kebutuhan bahan bakar minyak yang sangat besar setiap tahunnya di Indonesia. Kebutuhan BBM di Indonesia setiap tahunnya sekitar 65 juta kilo liter. Kebutuhan BBM akan semakin tinggi pada saat ekonomi sedang booming. Pada keadaan ekonomi saat ini, kenaikannya mungkin hanya berkisar 5-6 % pertahun , namun pada saat ekonomi sedang booming, kenaikkanya bisa mencapai dua kali lipatnya. Mutu & Spesifikasi Bensin nasional Mutu dan spesifikasi bensin di Indonesia ditentukan dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti, faktor perkembangan teknologi kendaraan, kemampuan kapasitas produksi Pertamina, ekonomi, dan faktor lingkungan. Sedangkan secara umum karakteristik bensin yang perlu diperhatikan dalam kaitannya sebagai bahan bakar kendaraan yang ramah lingkungan adalah ; 1. kandungan senyawa timbal 2. kandungan sulfur 3. kandungan benzena 4. kandungan aromat 5. kandungan olefin 6. kandungan senyawa oksigenat Kandungan timbal Seiring dengan kebijakan pemerintah yakni program Langit Biru yang tertuang dalam SK Menteri Pertambangan dan Energi No 1585/32/MPE/1999 tanggal 13 Oktober 1999 ,menetpakan bahwa bensin yang dipasarkan wajib memenuhi persyaratan tanpa timbal paling lambat Januari 2003 .Pertaminapun telah menetapkan penghapusan bensin tanpa timbal mulai 1 Juli 2001 di daerah Jabotabek dan secara nasional tahun 2003 ( Setelah ada perbaikan/penambahan unit kilang Pertamina ). Oleh sebab itu bila kebijakan diatas ini diterapkan sesuai rencana, maka sesungguhnya pada tahun ini diseluruh kawasan di Indonesia sudah bebas dari bensin bertimbal dan hanya beredar bensin premium TT ( RON (angka oktana riset) 88, max. 0.013 gr Pb/lt) Kandungan timbal max. 0.013 gr Pb/lt adalah standar spesifikasi WWFC kategori 1 dan Euro 1. Namun mengingat keterbatasan Unit produksi Kilang yang ada, produksi bensin tanpa timbal di Indonesia diperkirakan baru sekitar 3 juta Kl. Bensin ini di produksi di Kilang Balongan dan Kasim. Sementara pasokan 9 juta Kl bensin , berupa bensin bertimbal dengan kadar 0.3 gr Pb/lt dengan kandungan sulfur 0.2 % wt .

Kandungan sulfur Dalam spesifikasi bensin Indonesia kandungan sulfur ditetapkan Max. 0.2%. Angka ini mesih relatif tinggi dibandingkan standar WWFC kategori 1 (Max. 0.1%) ataupun standar Euro 1 (Max. 0.05%). Kandungan sulfur dalam minyak mentah Indonesia yang diolah sebagai bahan bakar, sebenarnya relatif rendah ,rata-rata dibawah 0,1%. Oleh sebab itu standar spesifikasi WWFC kategori 1 relatif bisa diberlakukan dalam spesifikasi bensin Indonesia. Pengurangan kandungan sulfur dapat menurunkan

emisi SOx( sulfur oksida), CO (Karbon monoksida), HC (Hidrokarbon) dan NOx (Nitrogen oksida). Misalnya penurunan kandungan sulfur dalam bensin dari 200 ppm menjadi 50 ppm akan mengurangi emisi CO, HC dan NOx sampai kira-kira 3-5%. Selain itu penurunan sulfur akan memperpanjang usia katalitik konverter pada kendaraan, karena sulfur bersifat racun bagi keaktifan katalis. Untuk kendaraan berteknologi maju seperti GDI (Gasoline Direct Injection) yang saat ini sedang gencar dikembangkan ataupun standar LEV (low Emission vehicle) California, merekomendasikan bensin dengan sulfur 30 ppm. Inti permasalahan sesungguhnya dalam menurunkan sulfur pada bensin- terlebih lagi untuk penurunan sulfur sampai 30 ppm atau bahkan zero sulfur (0 ppm)- adalah masalah kebutuhan dana yang tidak sedikit. Mengingat hal ini terkait dengan penambahan ataupun rekonfigurasi unit kilang yang lebih modern dan andal pada unit kilang yang ada saat ini. Kandungan senyawa benzena Benzena merupakan salah satu senyawa aromatik yang berbahaya .Indonesia belum menetapkan pembatasan kandungan benzena dalam spesifikasinya. Benzena perlu dibatasi keberadaannya dalam bensin kerena bersifat karsinogen bagi kesehatan manusia. Di negara Asean Baru Thailan dan Filipina yang membatasi kandungan benzena. Di asia baru Jepang dan Taiwan yang membatasi kandungan benzena (3.5-5% vol. max). Standar WWFC kategori 1 dan Euro ,untuk kandungan benzena adalah 5% vol. Kandungan senyawa Aromatik Indonesia belum membatasi kandungan aromatik dalam spesifikasi bensinnya. Senyawa aromatik dapat mempengaruhi meningkatnya emisi HC, CO dan NOX. Senyawa aromatik sebenarnya merupakan senyawa yang memiliki angka oktana paling tinggi di dalam bensin. Oleh sebab itu pembatasan senyawa ini tentunya akan mengurangi angka oktana pada bensin secara signifikan. Sementara itu komponen dasar bensin Indonesia umumnya masih memiliki nilai angka oktana yang relatif rendah. Sebagai konsekuensinya pembatasan senyawa ini akan meningkatkan biaya impor senyawa pengganti beroktana tinggi, seperti HOMC ( High Octane Mogas Componen). Selain itu menurunkan kandungan aromatik dalam bensin di unit Kilang bukanlah pekerjaan yang sederhana, karena menurunkan kadar aromatik akan mempengaruhi kinerja unit kilang lainnya, seperti unit FCC (Fluid Catalitic Cracking). Batasan kadar aromatik standar WWFC kategori 1 dan Euro 1 adalah 50 % vol. Kandungan olefin Olefin perlu dibatasi dalam bensin, mengingat sifatnya yang kurang stabil dan mudah teroksidasi membentuk endapan gum/getah di mesin kendaraan. Tingginya senyawa olefin akan menurunkan kinerja mesin kendaraan, yang pada gilirannya akan meningkatkan emisi gas buang kendaraan. Indonesia belum membatasi kandungan olefin dalam spesifikasi bensinnya. Untuk olefin batasan satandar WWFC ada pada kategori 2 yakni max. 20% dan Euro 3, max 18 % vol. Senyawa Oksigenat Senyawa oksigenat adalah senyawa yang mengandunng senyawa oksigen, misalnya senyawa alkohol (etanol, butanol, dsb) dan eter (metil tersier butil Eter- MTBE, ETBE dsb). Senyawa-senyawa ini digunakan biasanya sebagai pengungkit angka oktana

bensin, menggantikan senyawa timbal yang dianggap sebagai sumber pencemaran di udara. Meskipun begitu penggunaan senyawa inipun perlu dibatasi. Karena senyawa oksigenat berpotensi membentuk senyawa oksidan, ozon, senyawa peroksida yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan bila dipakai secara berlebihan. Indonesia sebenarnya belum memasukkan spesifikasi kandungan senyawa oksigenat ini dalam spesifikasi bensin nasional.. Namun hal ini tidaklah terlalu bermasalah, mengingat biasanya bensin premium yang dipasarkan saat ini memakai pengungkit angka oktana dari jenis senyawa HOMC, yang relatif tidak ada kandungan oksigenatnya. Dalam spesifikasi WWFC kategori 1 , kandungan oksigen dalam bensin ditetapkan tidak lebih dari 2.7 % wt Mutu & Spesifikasi bahan bakar Solar nasional Dibandingkan bensin , bahan bakar solar Indonesia sebenarnya memiliki mutu dan spesifikasi yang relatif lebih baik dipasaran intenasional. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan solar kita banyak diselundupkan ke negara tetangga karena memang harganya relatif lebih murah dan mutunya cukup baik Meskipun begitu mutu spesifikasi solar Indonesia masih perlu ditingkatkan lagi , untuk mengantisipasi semakin meningkatnya kadar pencemaran dari kendaraan berbahan bakar solar. Karakteristik utama pada bahan bakar solar yang perlu mendapat perhatian dalam kaitannya dengan pencemaran udara adalah kandungan senyawa aromatik dan kandungan sulfur Kandungan senyawa aromatik Kadar senyawa aromatik belum ditetapkan dalam spesifikasi solar Indonesia. Dalam spesifikasi WWFC kategori 2 , kandungan total aromatik dibatasi max 25%wt dan poliaromatik 5% wt. Senyawa aromatik dianggap sebagai senyawa yang memberikan kontribusi tebesar pada pembentukan emisi partikulat pada proses pembakaran bahan bakar solar dibandingkan senyawa lainnya..Para ahli menduga bahwa kontribusi terbesar partikulat di kota-kota besar berasal dari emisi gas buang kendaraan disel. Kendala utama dalam penurunan kandungan aromatik ini pada unit kilang adalah dibutuhkannya gas hidrogen yang lebih banyak untuk menjenuhkan senyawa cincin aromatik dalam bahan bakar solar. Dan hal ini tentu membutuhkan biaya tambahan dalam unit pemrosesan dalam memproduksi bahan bakar tersebut di kilang.

Kandungan sulfur Sulfur didalam solar Indonesia sebenarnya relatif rendah , rata-rata dibawah 0.5%. Batasan ini sebenarnya sudah masuk dalam standar WWFC kategori 1 yang menetapkan max 0.5% wt. Namun hal ini masih dianggap terlalu tinggi dan masih bisa ditingkatkan mutunya setara dengan spesifikasi WWFC kategori 2. Kendala utama penurunan kandungan sulfur dalam solar adalah diperlukannya proses pemurnian (hydrotreating) yang lebih modern dan handal. pada unit kilang. Atau dengan kata lain perlu adanya rekonfigurasi kilang dari kilang yang ada saat ini. Dan hal ini tentu akan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Apalagi dengan adanya kecenderungan di dunia internasional yang mengarah pada spesifikasi bahan bakar solar dengan kandungan sulfur sangat rendah atau bahkan bebas sulfur . sudah tentu , hal ini merupakan tantangan yang cukup berat untuk dapat memenuhinya.

Peningkatan angka Setana Nilai angka setana pada bahan bakar Solar nasional ditentukan minimal 45 dengan kandungan sulfur 5000 ppm. Sedangkan Standar WWFC category 1 , angka setana dipatok minimal 48 dengan kandungan sulfur 5000 ppm. Konsep untuk bahan bakar solar nantinya diharapkan Indonesia memiliki 3 jenis bahan bakar solar yang disebut solar jenis Super, Premium, Reguler, yang memiliki angka setana masing-masing 53, 52 dan 48 . Penutup: Secara umum mutu dan spesifikasi bahan bakar bensin di Indonesia masih relatif sederhana, meski dibandingkan dengan spesifikasi level terbawah WWFC kategori 1. Sedangkan untuk bahan bakar solar mutunya sebenarnya sudah cukup baik dan relatif sudah memenuhi spesifikasi WWFC kategori 1 Namun mutunya masih perlu ditingkatkan untuk mengantisipasi meningkatnya pencemaran udara yang ditimbulkan kendaraan bermesin disel. Oleh sebab itu hal ini merupakan tantangan bagi kita semua untuk dapat meningkatkan mutu dan spesifikasi bahan bakar kita , minimal setara dengan WWFC kategori 1 untuk bahan bakar bensin dan WWFC kategori 2 untuk bahan bakar solar. Namun, perlu disadari bahwa masalah mutu dan spesifikasi bahan bakar nasional sebenarnya bukanlah masalah sederhana dan bukan masalah di sektor migas semata ,tetapi lebih jauh lagi, merupakan masalah kompleks yang terkait dengan masalah pelik lainnya, seperti masalah sistem transportasi, masalah prilaku borosnya pemakaian energi minyak, serta belum terlaksananya substitusi energi selain BBM secara optimal. Dan perlu disadari juga bahwa untuk mencapai target mutu dan spesifikasi BBM Nasional sesuai standar Internasional , memerlukan biaya yang tidak sedikit. Hal ini sudah tentu memerlukan pemikiran bersama antar semua unsur terkait , untuk bisa mencari solusi terbaik, agar pada saatnya nanti kita memiliki BBM dengan mutu yang tidak lagi bermasalah bagi lingkungan dan anak cucu kita. Karena mesti diingat, bahwa bumi yang kita tempati saat ini sesungguhnya bukanlah warisan nenek moyang kita, tetapi justru merupakan pinjaman dari Anak cucu yang akan menggantikan kita kelak.

Tabel 1; Perbandingan spesifikasi utama Bensin premium Indonesia terhadap spesifikasi World wide fuel charter (WWFC) properti Indonesia WWFC kategori 1 kategori 2 kategori 3 Research Octane 88 91,95,98 91,95,98 91,95,98 Number (RON) Sulphur (%wt) Benzene (%vol) Aromatic (% vol) Olefin (%vol) timbal (gr/lt) Kandungan oksigen (%wt) 0.2 0.013 0.10 5.0 50 0.013 2,7 0.02 2.5 40 20 tidak terdeteksi 2,7 0.003 1.0 35 10 tidak terdeteksi 2,7

Tabel 2 ; Perbandingan spesifikasi utama Solar Indonesia terhadap spesifikasi World wide fuel charter (WWFC) properti Indonesia World wide fuel caharter kategori 1 kategori 2 kategori 3 angka Cetane min 45 48 53 55 Sulphur (%wt) 0.5 0.5 0.03 0.003 total Aromatic 25 15 (% wt) max polyAromatic(% wt ) max Distilasi (oC) Final 5 2 320(90% rec)* 350

370 ( 95 % 340( 90%rec)* rec)* 365

boiling -

point (o C) max
ket: * % vol. Recovery (teruapkan)

Persentase Pasokan bensin nasional

21

2.5 0.7

Premium Premium TT Pertamax 75.8 pertamax +

penulis Muhammad Fuad (Pemerhati lingkungan, bekerja di Lemigas)