You are on page 1of 73

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Konsep dan Teori Kesehatan Urban Perkotaan


Perawatan kesehatan masyarakat adalah suatu upaya pelayanan keperawatan yang

merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang dilaksanakan oleh perawat dengan mengikutsertakan tim kesehatan lain dan masyarakat untuk memperoleh tingkat kesehatan yang lebih tinggi dari individu, keluarga dan masyarakat (Depkes RI, 1996). Dari definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa unsure-unsur perawatan kesehatan masyarakat adalah (1) bagian integral dari pelayanan kesehatan, khususnya keperawatan; (2) merupakan bidang khusus dari keperawatan; (3) gabungan dari ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat, dan ilmu sosial; (4) sasaran pelayanan adalah individu, kelompok, masyarakat yang sehat maupun yang sakit; (5) ruang lingkup kegiatan adalah promotif, prefentif, kuratif, rehabilitatif, resosialitatif; (6) bertujuan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat dan derajat kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Keperawatan kesehatan masyarakat memiliki tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dari keperawatan ini adalah meningkatkan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat sehingga tercapai derajat kesehatan yang optimal agar dapat menjalankan fungsi kehidupan sesuai dengan kapasitas yang mereka miliki. Sedangkan tujuan khusus dari

keperawatan kesehatan masyarakat adalah meningkatkan berbagai kemampuan individu, keluarga, kelompok khusus dan masyarakat dalam hal mengidentifikasi masalah kesehatan dan keperawatan yang dihadapi, menetapkan masalah kesehatan/keperawatan dan prioritas masalah, merusmuskan berbagai alternatif pemecahan masalah kesehatan/keperawatan,

menanggulangi masalah kesehatan/keperawatan yang mereka hadapi, meningkatkan kemampuan dalam memelihara kesehatan secara mandiri ( self care ), serta tertanganinya kelompok-kelompok resiko tinggi yang rawan terhadap masalah kesehatan . Keperawatan kesehatan masyarakat cakupannya sangat luas, tidak hanya menangani suatu permasalahan yang membutuhkan adanya penyembuhan dari suatu penyakit tetapi juga adanya upaya pencegahan. Oleh karena itu di ruang lingkup keperawatan masyarakat mencakup peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan kesehatan (preventif),

pemeliharaan kesehatan dan pengobatan (kuratif),pemulihan kesehatan (rehabilitatif), dan mengembalikan serta memfungsikan kembali baik individu, keluarga dan kelompokkelompok masyarakat kelingkungan sosial dan masyarakat (resosialitatif).
1

2.1.1 Sejarah Perkembangan dan Karakteristik Kota (Urban) Masyarakat perkotaan tentunya memiliki perbedaan dengan masyarakat yang lain. Mereka memiliki ciri dan karakter tersendiri yang membuat mereka memerlukan ruang lingkup area tersendiri dalam bidang keperawatan. Sebelum membahas panjang tentang keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan akan dijelaskan terlebih dahulu tentang definisi kota dan masyarakat perkotaan. Menurut Prof. Drs. R. Bintarto kota adalah suatu sistem jaringan kehidupan manusia dengan kepadatan penduduk yang tinggi, strata sosial ekonomi yang heterogen, dan corak kehidupan yang materialistik. Sebelum kota menjadi tempat pemukiman yang tetap, pada mulanya kota sebagai suatu tempat orang pulang balik untuk berjumpa secara teratur, terdapat semacam daya tarik pada penghuni luar kota untuk kegiatan rohaniah dan perdagangan serta kegiatan lain, penghuninya sebagian besar telah mampu memenuhi kebutuhannya lewat pasar setempat dan ciri kota ada pasarnya. Dalam suatu kota diisi oleh suatu golongan spesialis non agraris dan yang berpendidikan dan merupakan sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai oleh strata sosial ekonomi yang heterogen serta corak matrialistis. Sedangkan masyarakat perkotaan adalah masyarakat yang tinggal di kota yaitu di wilayah yang memiliki kegiatan utama bukan pertanian dan biasanya mereka tinggal di kota bertujuan untuk memperbaiki hidup mereka. Masyarakat perkotaan sering disebut urban community. Oleh karena itu urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Gejala urbanisasi di sebuah kota dapat dilihat dari jumlah penduduk yang terus berubah (bertambah) dan terjadi perubahan pada tatanan masyarakat. Keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan ini termasuk dalam lingkup keperawatan komunitas. Karena masyarakat perkotaan merupakan komunitas yang tinggal di daerah perkotaan dengan semua keadaan dan kondisi yang ada di lingkungan kota. Keperawatan masyarakat perkotaan memiliki 8 karakteristik dan merupakan hal yang penting dalam melakukan praktik (Allender, 2001) yaitu: a. Merupakan lahan keperawatan b. Merupakan kombinasi antara keperawatan publik dan keperawatan klinik c. Berfokus pada populasi d. Menekankan terhadap pencegahan akan penyakit serta adanya promosi kesehatan dan kesejahteraan diri e. Mempromosikan tanggung jawab klien dan self care f. Menggunakan pengesahan/pengukuran dan analisa g. Menggunakan prinsip teori organisasi h. Melibatkan kolaborasi interprofesional
2

Perawat kesehatan masyarakat memiliki peran dalam mengelola perawatan kesehatan dalam daerah tersebut serta menjadi pendidik kesehatan dalam masyarakat tersebut.

2.1.2 Teori Betty Neuman


Neuman mengemukakan model sistem (sistem model) dalam pendidikan dan praktik keperawatan. Neuman menggunakan pendekatana manusia utuh dengan memasukkn konsep holistik, pendekatan sistem terbuka, dan kosep stressor. Model ini menganalisis lima variabel penunjang komunitas yang meliputi fisik, psikologi, sosio kultural, perkembangan, dan spiritual. Adapun tujuan dari model sistem neuman ini adalah untuk mempertahankan stabilitas klien dan keluarga dalam lingkungan yang dinamis. Dalam teorinya, Neuman memiliki asumsi dan definisi tersendiri untuk keperawatan ataupun klien. Berikut ini merupakan asumsi-asumsi Neuman (Neuman, 1995 dalam Meleis 2007): 1. Perawat-klien bersifat dinamis. Keduanya memiliki karakteristik yang unik dan universal dan saling bertukar energi yang konstan dengan lingkungannya. 2. Hubungan antara variabel klien fisiologi, psikologi, sosiokultural, perkembangan, dan spiritual mempengaruhi mekanisme protektif klien dan menunjukkan respon kilen. 3. Klien menunjukkan batasan yang normal terhadap respon dengan lingkuangannya yang menunjukkan kesehatan dan stabilitas. 4. Stresor menyerang garis pertahanan yang fleksibel, kemudian garis pertahanan yang normal. 5. Tindakan perawat berfokus pada pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Secara garis besar, konsep model sistem Neuman meliputi stressor, lima variabel (fisik, psikologi, sosio kultural, perkembangan, dan spiritual), garis pertahanan dan perlawanan, stuktur dasar sebagai sumber energi, dan tingkat pencegahan. Stressor adalah kekuatan lingkungan yang menghasilkan ketegangan dan berpotensial untuk menyebabkan sistem tidak stabil. Neuman mengklasifikasi stressor menjadi tiga bagian yaitu intrapersonal, interpersonal, dan ekstrapersonal.

Garis pertahanan menurut Neuman terdiri dari garis pertahanan normal dan garis pertahanan fleksibel. Garis pertahanan normal merupakan lingkaran utuh yang mencerminkan suatu keadaan stabil untuk individu, sistem atau kondisi yang menyertai pengaturan karena adanya stressor yang disebut wellness normal dan digunakan sebagai dasar untuk menentukan adanya deviasi dari keadaan wellness untuk sistem klien. Selain itu ada berbagai stressor yang dapat menginvasi garis pertahanan normal jika garis pertahanan fleksibelnya tidak dapat melindungi secara adekuat. Jika itu terjadi, maka sistem klien akan bereaksi dengan menampakan adanya gejala ketidakstabilan atau sakit dan akan mengurangi kemampuan sistem untuk mengatasi stressor tambahan. Garis pertahanan normal ini terbentuk dari beberapa variabel dan perilaku seperti pola koping individu, gaya hidup dan tahap perkembangan. Garis pertahanan normal ini merupakan bagian dari garis pertahanan fleksibel. Sedangkan garis perlawanan menurut Neuman merupakan serangkaian lingkaran putus-putus yang mengelilingi struktur dasar. Artinya garis resisten ini melindungi struktur dasar dan akan teraktivasi jika ada invasi dari stressor lingkungan melalui garis normal pertahanan (normal line of defense). Struktur dasar dari Neuman meliputi range temperatur normal, struktur genetik , pola respon, kekuatan dan kelemahan organ, struktr ego dan pengetahuan atau kebiasaan. Selanjutnya, konsep dari model sistem Neuman adalah adanya tingkatan pencegahan. Tingkat pencegahan ini membantu memelihara keseimbangan yang terdiri dari pencegahan primer, sekunder dan tersier. Pencegahan primer terjadi sebelum sistem bereaksi terhadap stressor yang meliputi promosi kesehatan dan mempertahankan kesehatan. Pencegahan primer mengutamakan pada penguatan flexible lines of defense ( garis pertahanan fleksibel) dengan cara mencegah stress dan mengurangi faktor-faktor resiko. Intervensi dilakukan jika resiko atau masalah sudah diidentifikasi tapi sebelum reaksi terjadi. Strateginya mencakup immunisasi, pendidikan kesehatan, olah raga, dan perubahan gaya hidup. Pencegahan sekunder meliputi berbagai tindakan yang dimulai setelah ada gejala dari stressor. Pencegahan sekunder mengutamakan pada penguatan internal lines of resistance (garis perlawanan resisten), mengurangi reaksi dan meningkatkan faktor-faktor resisten sehingga melindungi struktur dasar melalui tindakan-tindakan yang tepat sesuai gejala. Tujuannya adalah untuk memperoleh kestabilan sistem secara optimal dan memelihara energi. Jika pencegahan sekunder tidak berhasil dan rekonstitusi tidak terjadi maka struktur dasar tidak dapat mendukung sistem dan intervensi-intervensinya sehingga bisa menyebabkan kematian. Pencegahan tersier dilakukan setelah sistem ditangani dengan strategi-strategi pencegahan sekunder. Pencegahan tersier difokuskan pada perbaikan kembali ke arah
4

stabilitas sistem klien secara optimal. Tujuan utamanya adalah untuk memperkuat resistansi terhadap stressor untuk mencegah reaksi timbul kembali sehingga dapat mempertahankan energi. Pencegahan tersier cenderung untuk kembali pada pencegahan primer.

2.1.3 Community as a Partner


Komunitas sebagai mitra bermanfaat untuk meningkatkan kesempatan bermitra dalam promosi kesehatan (Flynn, 1998 dalam Stone et al, 2002). Model ini berfungsi untuk membangun dukungan, kolaborasi, dan koalisi sebagai suatu mekanisme peningkatan peran serta aktif masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi implementasi upaya kesehatan masyarakat (Efendi & Makhfudli, 2009). Perbedaan antara model komunitas sebagai mitra dengan model komunitas sebagai klien oleh Neuman (1972) adalah model komunitas sebagai mitra menekankan filosofi pelayanan kesehatan primer yang menjadi landasannya (Anderson, 2000). Fokus dalam model adalah lingkaran pengkajian masyarakat pada puncak model yang menekankan anggota masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan kesehatan dan pelaksanaan proses keperawatan. Stressor menjadi tekanan rangsangan yang menghasilkan ketegangan yang potensial menyebabkan ketidakseimbangan di dalam system komunitas. Stressor ini dapat bersifat internal maupun eksternal yang menimbulkan gangguan di dalam komunitas. Derajat reaksi merupakan jumlah ketidakseimbangan akibat stressor yang mengganggu garis pertahanan komunitas. Stressor dan derajat reaksi menjadi bagian dari diagnose keperawatan. a. Pengkajian Inti dari pengkajian adalah individu yang membentuk komunitas (Anderson, 2000). Pengkajian menurut teori ini meliputi demografi, nilai, keyakinan, dan sejarah dari penduduk setempat. Faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat antara lain subsistem lingkungan, pendidikan, keamanan dan transportasi, politik dan pemerintahan, pelayanan kesehatan dan sosial, komunikasi, ekonomi, dan rekreasi.

Roda Pengkajian Komunitas

rekreasi

lingkungan

ekonomi
Masyarakat

pendidikan

komunikasi pelayanan kesehatan & sosial

keamanan& transportasi politik& pemerintahan

Garis tebal yang mengelilingi komunitas menunjukkan garis pertahanan normal atau tingkat kesehatan komunitas yang dicapai setiap saat. Garis pertahanan normal meliputi angka imunitas yang tinggi, moralitas bayi yang rendah, pola koping atau tingkat pendapatan kelas menengah. Garis pertahanan fleksibel digambarkan dengan garis putus-putus yang mengelilingi komunitas dan garis pertahanan normal. Kedelapan subsistem dibatasi dengan garis putus-putus untuk mengingatkan bahwa subsistem tersebut tidak terpisah tetapi saling mempengaruhi. Seluruh bentuk roda tersebut menjadi parameter pengkajian pekerja komunitas yang memandang komunitas sebagai mitra. b. Diagnosa Diagnosa keperawatan komunitas memberikan arahan dalam mencapai tujuan dan intervensi keperawata. Tujuannya diperoleh dari stressor dan juga dari penguatan garis pertahanan (Anderson, 2000). c. Intervensi Intervensi komunitas yang menganut komunitas sebagai mitra menganggap semua intervensi keperawatannya bersifat preventif (Anderson, 2000). Pencegahannya terdiri dari pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Pencegahan primer bertujuan menguatkan garis pertahanan sehingga stressor tidak dapat masuk dan menimbulkan reaksi atau melakukan perlawanan terhadap stressor. Contohnya adalah imunisasi pada anak prasekolah. Pencegahan sekunder dilakukan ketika stressor memasuki komunitas sehingga dilakukan pendukungan garis pertahanan dan resistensi untuk meminimalkan derajat reaksi terhadap stressor. Contohnya adalah program rujukan. Sedangkan pencegahan tersier dilakukan ketika stressor memasuko garis pertahanan dan muncul derajat reaksi sehingga dilakukan pencegahan agar mencegah ketidakseimbangan tambahan dan meningkatkan keseimbangan. Contohnya adalah penambahan tim spesialis di daerah bencana. d. Evaluasi Hal-hal yang dievaluasi antara lain intervensi keperawatan komunitas, dan keterlibatan anggota komunitas dalam proses keperawatan dalam mencapai kesesuaian dengan komunitas. Cara mengevaluasinya adalah dengan umpan balik. Parameter pengkajian sering kali digunakan untuk evaluasi. masing-masing parameter adalah proses kerja perawat dengan komunitas sebagai mitra. Kemitraan ini membutuhkan kekuatan dan modal komunitas dan tidak hanya fokus pada kebutuhan dan kekurangan dari suatu komunitas.Komunitas sebagai mitra mengetahui
6

nilai dari komunitas dan pelayanan kesehatan bekerja sama untuk membuat sistem pelayanan kesehatan yang ramah, mudah diakses, berbudaya, dan responsive terhadap kebutuhan komunitas (Pender, 1996 dalam Stone et al, 2002). Untuk meningkatkan keaktifan dari masyarakat dalam praktek kesehatan, perawat meningkatkan jaringan di masyarakat. Kemudian perawat berkolaborasi dengan komunitas untuk mengembangkan kebijakan public dan mentargetkan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit. Karakteristik dari kebijakan kesehatan public dan kesehatan komunitas dan kota terdiri dari pelayanan kesehatan primer (Flynn dalam Anderson&McFarla, 2000). Peran perawat adalah merealisasikan

perkembangan masa depan dari kebijakan kesehatan public dan kesehatan kota dan komunitas. Masyarakat dapat melakukan tindakan untuk membuat kota lebih sehat dalam merespon gejala, berhadapan dengan masalah dasar, dan melakukan tindakan khusus seperti membuat persetujuan dalam masyarakat. Konsep kebijakan public sehat didasarkan pada prinsip pelayanan kesehatan primer dalam mencapai tujuan sehat untuk semua dan kebijakan promosi kesehatan (WHO 1986 dalam Anderson&McFarla, 2000). Perawat memberikan pelayanan kesehatan public untuk memberikan kesempatan masyarakat untuk hidup lebih positif dengan mempengaruhi kebijakan public dan kebijakan promosi kesehatan (Royal Collage of Nursing, 2007). Kebijakan public sehat ditunjukkan untuk menciptakan komunitas yang sehat, menggunakan pendekatan teknologi kesehatan yang memadai, bersiat menyeluruh dan berorientasi masa depan seta menjawab pertanyaan bagaimana agar komunitas dapat terstruktur untuk meningkatkan kesehatan. Prinsip kebijakan promosi kesehatan mencakup kebijakan multisektoral, ekologik, tanggung jawab dalam meningkatkan pilihan promosi kesehatan, melibatkan berbagai bidang, berhubungan denganpelayanan kesehatan, dan peran serta. Menurut Duhl (1986 dalam Anderson&McFarla, 2000), kota sehat adalah kota yang harus merespon setiap kebutuhan perkembangan, menyelesaikan kerusakan sistem dan perpecahan warga, memiliki kemampuan untuk memodifikasi diri untuk memenuhi setiap perubahan kebutuhan, kompeten agar warga kota dapat memanfaatkannya, dan mendidik warga. Warga dapat menciptakan kota yang lebih sehat dengan cara merespon gejal, menyelesaikan isu yang ada, melakukan kegiatan khusus seperti membuat consensus dari kesepakan seluruh warga. Perawata kesehatan komunitas memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk bekerja dengan komunitas sebagai mitra dalam memfasilitasi promosi kesehatan komunitas, kebijakan public sehat dan kota, serta komunitas sehat di masa depan.

2.1.3 Epidemiologi
a. Riwayat Alamiah Penyakit dan Tingkat Pencegahannya serta Faktor-faktor Timbulnya suatu Penyakit Menurut Clemen-Stone dkk (2002) konsep kunci dari epidemiologi adalah suatu studi mengenai penyakit di populasi yang lebih signifikan daripada studi kasus penyakit individu. Sedangkan menurut Effendi dan Makhfudli (2009), definisi dari epidemiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang sifat, penyebab, pengendalian, dan faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi dan distribusi penyakit, kecacatan, atau kematian dalam populasi manusia. Pada epidemiologi digunakan sampel grup yang lebih besar sehingga dapat menyimpulkan bagaimana pola distribusi kesehatan, penyakit, dan frekuensi kondisi dari suatu populasi. Riwayat Alamiah Penyakit dan Tingkat Pencegahannya Riwayat alamiah penyakit didefinisikan sebagai sebuah perjalanan penyakit dari mulai onset sampai dengan resolusi (Clemen-Stone, 2002). Riwayat alamiah penyakit juga didefinisikan menjadi dua periode yang berbeda yaitu prepatogenesis dan patogenesis (Leavell & Clark, 1965 dalam Clemen-Stone dkk, 2002). Prepatogenesis merupakan periode dimana penyakit tidak berkembang tetapi masih berinteraksi dengan host, agent, dan environment yang jika interaksi diantaranya terjadi dapat menimbulkan stimulus penyakit dan meningkatkan potensial host terhadap penyakit atau dapat disimpulkan bahwa prepatogenesis adalah peroide dimana sebelum terjadinya suatu penyakit. Sedangkan patogenesis adalah periode dalam riwayat alamiah penyakit dimulai ketika penyakit tersebut memunculkan suatu stimuli dan terdapat perubahan jaringan pada manusia. Dengan melihat masalah ini tentunya harus dilakukan langkah-langkah pencegahan sebelum munculnya suatu penyakit di masyarakat. Pencegahan terhadap suatu penyakit salah satunya dapat dilakukan dengan mengadakan promosi kesehatan. Menurut Clemen-Stone dkk (2002) secara tingkat pencegahan terdapat tiga tingkat aktivitas pencegahan yaitu primer (promosi kesahatan dan perlindungan spesifik), sekunder (diagnosa awal, pengobatan yang dilakukan dengan segera, dan membatasi kecacatan) dan tersier (rehabilitasi). Pencegahan primer terdiri atas promosi kesehatan dan perlindungan spesifik. Pencegahan ini dilakukan pada periode prepatogenesis. Pada promosi kesehatan hal-hal yang dapat diinformasikan diantaranya, edukasi kesehatan, standar nutrisi yang baik sesuai dengan fase perkembangan hidup, memberikan perhatian pada perkembangan personal, ketersediaan yang adekuat pada penggunaan tempat tinggal; rekreasi; dan kondisi tempat kerja. Sedangkan pada perlindungan spesifik hal-hal yang diinformasikan
8

diantaranya, penggunaan imunisasi yang spesifik, kebersihan individu, penggunaan sanitasi lingkungan, perlindungan terhadap bahaya pekerjaan, perlindungan dari kecelakaan, pengkonsumsian nutrisi yang spesifik, perlindungan dari zat karsinogen, dan penghindaran terhadap alergen. Pencegahan sekunder terdiri atas diagnosa awal dan pengobatan segera, serta membatasi terjadinya kecacatan. Pencegahan sekunder ini ada pada periode patogenesis, bersama dengan pencegahan tersier. Pada diagnosa awal dan pengobatan dengan segera, hal-hal yang dilakukan yaitu pengukuran penemuan kasus baik individual dan massa dan mengadakan survey skrining. Untuk membatasi terjadinya kecacatan hal-hal yang dapat disampaikan yaitu, pengobatan yang adekuat untuk pertahanan diri dari penyakit dan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut dari gejala-gejala yang masih ada, ketersediaan fasilitas untuk membatasi terjadinya kecacatan dan untuk mencegah kematian. Pencegahan tersier yaitu rehabilitasi. Pada pencegahan ini hal-hal yang dilakukan yaitu, ketersediaan rumah sakit dan fasilitas komunitas untuk melatih kembali dan sebagai sarana edukasi untuk digunakan secara maksimal dari kapasitas yang tersedia, pendidikan masyarakat dan industri untuk memanfaatkan proses rehabilitasi, melakukan sebuah pekerjaan sepenuh mungkin, penempatan yang selektif, terapi bekerja di rumah sakit, dan penggunaan koloni yang terlindungi. Faktor-faktor Timbulnya Suatu Penyakit Untuk menganalisis riwayat alamiah penyakit diperlukan identifikasi terhadap tiga variable atau faktor-faktor yang menjadi pemicu timbulnya suatu penyakit yaitu host, agent, dan environment. Variable ini dikenal dengan triangle epidemiologi dimana satu sama lain saling berhubungan (Budiarto dan Anggraeni, 2002). a. Host Host adalah keadaan seseorang yang menjadi risiko untuk terjangkitnya suatu penyakit. Jadi faktor host ini adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh manusia atau merupakan faktor intrinsik. Faktor host yang dapat menjadi risiko terjadinya suatu penyakit diantaranya, genetik (penyakit yang memang diturunkan), umur (seseorang dengan lanjut usia lebih berisiko untuk terjangkit penyakit), jenis kelamin (beberapa penyakit tertentu terkadang cenderung ada pada jenis kelamin tertentu), keadaan fisiologi (Pada saat kehamilan dan setelah melahirkan, ibu dapat berisiko terjangkitnya berbagai penyakit tertentu), kekebalan (seseorang yang memiliki kekebalan tubuh yang tidak baik jelas cenderung mudah berisiko terserang suatu penyakit), penyakit yang diderita sebelumnya dan sifat manusia/perilaku seseorang.
9

b. Agent Agent adalah sesuatu yang dapat memicu timbulnya suatu penyakit. Agent dapat berupa suatu unsur mati atau hidup. Dapat bersifat biologis, kimia, fisik, mekanis, psikososial. Misalnya virus, bakteri, jamur, sinar radioaktif, obat-obatan,

karbonmonoksida, rokok, alkohol, dll c. Environment/ lingkungan Environment merupakan faktor yang berada di luar dari host atau biasa disebut dengan faktor ekstrinsik. Faktor ini adalah faktor yang menunjang terjadinya suatu penyakit selain host dan agent. 1) Lingkungan fisik, adalah lingkungan berdasarkan letak geografisnya. Misalnya pada Negara dengan iklim tropis dengan subtropis jelas akan berbeda permasalahan penyakitnya; 2) Lingkungan sosial ekonomi Pekerjaan. Pekerjaan yang berinteraksi dengan bahan-bahan kimia ataupun radioaktif dapat menimbulkan penyakit. Urbanisasi. Perpindahan penduduk yang secara besar-besaran dan

menimbulkan kepadatan penduduk menyebabkan lingkungan menjadi kumuh dan rentan terhadap timbulnya berbagai penyakit. Perkembangan ekonomi. Peningkatan ekonomi terkadang dapat menimbulkan gaya hidup yang justru tidak sehat. Misalnya pengkonsumsian makanan yang mengandung kolesterol tinggi yang dapat mengakibatkan penyakit hipertensi. Bencana alam. Terjadinya bencana alam mengakibatkan terjadinya perubahan ekologi dan terjadi ketidakteraturan di masyarakat yang nantinya

memunculkan berbagai macam infeksi. 3) Lingkungan biologis, yaitu lingkungan yang berada di sekitar kita baik flora, fauna, maupun manusia itu sendiri. Flora pada Negara yang berbeda dapat menimbulkan pola penyakit yang berbeda pula. Masalah pada lingkungan ini juga tidak lepas dari ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Triangle Epidemiologi Host

Agent

Environment
10

Terdapat hubungan yang jelas antara terjadinya suatu penyakit dengan faktor-faktor yang menjadi penyebabnya. Faktor-faktor pada host, agent, environment merupakan faktorfaktor yang saling terkait dan saling berhubungan satu sama lain. Langkah pencegahan dan penanganan yang tepat serta pengetahuan yang memadai sangat bermanfaat guna terhindarnya ataupun memustusnya rantai suatu penyakit.

b. Penggunaan Pendekatan Epidemiologi dalam Keperawatan Komunitas Penggunaan pendekatan epidemiologi dalam keperawatan komunitas diantaranya yaitu investigasi wabah, skrining, dan surveilans. Investigasi wabah, baik yang bersifat menular atau tidak, pada dasarnya memiliki proses atau langkah yang sama. Tujuan dari investigasi wabah itu sendiri yaitu untuk mengontrol dan mencegah penyebaran suatu penyakit. Langkahlangkah investigasi wabah diantaranya yaitu melakukan evaluasi awal dengan verifikasi diagnosis dan konfirmasi wabah yang sedang terjadi, mengidentifikasi orang-orang yang mengalaminya dan berisiko serta bagaimana karakteristiknya, tentukan dan tes hipotesis yang telah dibuat, dan yang terakhir rencanakan manajemen wabah seperti pengendalian dan pencegahan. Penggunaan pendekatan epidemiologi yang kedua yaitu tes skrining. Skrining yaitu kegatan mengidentifikasi secara presumptif (dugaan) terhadap penyakit yang belum dikenali dengan melakukan tes, ujian, atau prosedur lain yang dapat diterapkan dengan cepat dan tidak mahal untuk suatu populasi. Skrining dilakukan untuk membedakan antara orang yang tampaknya sehat atau orang yang mungkin memiliki penyakit dengan orang yang mungkin tidak memiliki penyakit. Selain itu, skrining juga dilakukan untuk mengurangi morbiditas atau mortilitas dari penyakit dengan pengobatan dini terhadap kasus-kasus yang ditemukan. Tes skrining memiliki tiga tipe yaitu mass screening, case finding, dan multiphasic screening. Mass screening merupakan tes skrining untuk seluruh populasi atau untuk kelompok yang dipilih secara selektif memiliki risiko tinggi. Contohnya seperti prosedur XRay masal. Case finding (penemuan kasus) adalah tipe dari tes skrining dimana seorang klinikus menggunakan tes skrining untuk menemukan penyakit pada pasiennya yang

melakukan tes kesehatan atau konsultasi terhadap gejala yang muncul (smptomatik) atau gejala yang belum muncul (asimptomatik). Multiphasic screening yaitu skrining yang penggunaannya dilakukan beberapa tes skrining pada kesempatan atau waktu yang sama. Misalnya tes kesehatan untuk mahasiswa atau pegawai baru.
11

Tes skrining memiliki karakteristik yang berbeda jika dibandingkan dengan tes diagnostik. Kriteria tes skrining salah satunya yaitu mendeteksi penyakit sebelum gejala datang, sedangkan tes diagnostik merupakan tes yang dilakukan ketika gejala sudah datang. Umumnya tes skrining ini ditawarkan atau dilakukan pada populasi yang tampak sehat sebagai cara untuk menentukan apakah mereka memiliki penyakit sebelum adanya gejala yang muncul sehingga dapat menginisiasi untuk melakukan treatment dan akan bermanfaat dalam menentukan prognosis untuk pasien. Namun, tes skrining tidak cukup akurat untuk menginisiasi dilakukannya treatment, jika ditemukan hasil tes skrining yang abnormal harus dilanjutkan dengan melakukan tes diagnostik. Program skrining harus memenuhi beberapa kriteria. Kriteria-kriteria tersebut antara lain: memiliki sensitifitas dan spesifitas tinggi, memenuhi standar yang dapat diterima: simpel, biaya murah, aman, dan dapat diterima pasien, penyakit yang fokus untuk dilakukan skrining harus cukup dianggap serius dalam hal kejadian, kematian, ketidaknyamanan, keterbatasan fisik, dan biaya, bukti menunjukkan bahwa prosedur tes ini mendeteksi penyakit pada tahap lebih awal sebelum datangnya gejala pengobatan yang umumnya lebih diterima yaitu yang lebih mudah atau lebih efektif daripada pengobatan yang tersedia saat munculnya gejala. pengobatan yang tersedia dapat diterima oleh pasien yang ditetapkan oleh studi tentang kepatuhan pengobatan prevalensi dari penyakit yang menjadi fokus sasaran harus tinggi pada sebuah populasi untuk dilakukan skrining. sebagai follow up layanan diagnostik dan pengobatan harus tersedia disertai dengan pemberitahuan yang memadai dan layanan rujukan bagi orang-orang yang pada saat dilakukan skrining Selanjutnya, yang terakhir adalah surveilans. Surveilans adalah kegiatan positif

mengumpulkan dan menganalisis data serta menyebarluaskan informasi atas dasar hasil analisis tersebut kepada yang berkepentingan (Effendi & Makhfudli, 2009). Tujuannya yaitu memberikan pengobatan dan isolasi terhadap penyakit yang timbul pada suatu kasus yang dicurigai dengan segera. Surveilans memiliki beberapa unsur diantaranya pencatatan kematian, laporan penyakit, laporan wabah, pemeriksaan laboratorium, penyakit kasus, penyelidikan wabah atau kejadian luar biasa, survei, penyelidikan tentang distribusi dari vektor dan reservoir penyakit, penggunaan obat-obatan, serum, dan vaksin, serta keterangan mengenai penduduk dan lingkungan
12

Ciri khas yang terdapat pada surveilans yaitu : Pengumpulan data epidemiologi yang sitematis dan teratur secara terus menerus Pengolahan, analisis, dan interpretasi data yang telah didapat yang menghasilkan suatu informasi Penyebaran hasil informasi (perolehan data) kepada orang-orang atau lembaga yang berkepentingan Menggunakan informasi (data) tersebut dalam rangka memantau, menilai, dan merencanakan kembali program-program atau pelayanan kesehatan Beberapa kegunaan dari surveilans: a. Mengetahui & melengkapi gambaran epidemiologi dari suatu penyakit b. Menentukan penyakit mana yang diprioritaskan untuk diobati atau diberantas c. Meramalkan terjadinya wabah d. Menilai dan memantau pelaksanaan program pemberantasan penyakit menular dan program-program kesehatan lainnya, seperti program mengatasi kecelakaan, program kesehatan gigi, program gizi, dan lainnya. e. Mengetahui jangkauan atau cakupan dari pelayanan kesehatan Pada intinya, penggunaan pendekatan epidemiologi yang telah diuraikan sebelumnya memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mencegah dan mengontrol penyebaran penyakit pada suatu populasi tertentu. Sehingga diharapkan prognosis penyakit akan lebih baik, mempercepat kesembuhan, memperlambat proses penyakit, mengurangi kecacatan dan kematian. Peran perawat komunitas disini sangatlah penting demi peningkatan status kesehatan masyarakat. Maka dari itu, perawat disarankan untuk mempelajari penggunaan pendekatan epidemiologi ini dalam memberikan pelayanan kesehatan komunitas.

Fix sampe sini dulu 2.2 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas (Perkesmas) pada

Mayarakat Urban (Poor and Homeless)


Urbanisasi merupakan proses perpindahan penduduk dari wilayah pedesaan menuju ke wilayah perkotaan. Kebanyakan para urban bertujuan untuk mencari pekerjaan di kota besar dengan alasan sektor mata pencaharian di kampung halaman yang dirasa kurang. Mereka menginginkan pekerjaan yang dapat menghasilkan pendapatan yang lebih sehingga mereka dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Namun, pada kenyataan yang terjadi di Indonesia sekarang ini, sebagian besar penduduk kota di wilayah Indonesia merupakan warga miskin yang tidak memiliki pekerjaan dan tempat tinggal. Banyak kaum pria, wanita, pemuda, dan

13

bahkan anak-anak tidak memiliki tempat tinggal, terlebih lagi masalah kesehatan yang timbul diantara mereka semakin meningkat (Allender, 2010). Angka kemiskinan di Indonesia pada tahun 2011 mencapai 30,02 juta jiwa atau mencapai 12, 49% (BPS, 2011). Kemiskinan menurut Allender dan Spradley (2005) dalam Sahar (2008), miskin adalah sedikit atau tidak ada barang yang dimiliki atau tidak adekuatnya jangkauan terhadap sumber-sumber keluarga dan komunitas. Pada intinya kemiskinan dapat diartikan sebagai keadaan yang sangat kekurangan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mencakup sandang, pangan, dan papan. Ciri-ciri keluarga miskin yaitu status sosial rendah di masyarakat ditandai dengan pendapatan yang sangat rendah, tidak ada aset yang tersimpan, tidak ada jaringan kekuasaan, pendidikan yang sangat rendah, status pekerjaan sangat rendah dan berisiko. Karena kemiskinan dapat berdampak terhadap kesehatan individu atau anggota keluarga. Menurut Biro Pusat Statistik ciri-ciri miskin adalah: a. Luas lantai hunian kurang dari 8 m2 per anggota rumah tangga b. Jenis lantai hunian sebagian besar tanah atau lainnya c. Fasilitas air bersih tidak ada d. Fasilitas jamban atau WC tidak ada e. Kepemilikan aset (kursi tamu) tidak tersedia Berdasarkan ciri tersebut dapat dibedakan antara keluarga miskin dan tidak miskin, apabila suatu rumah tangga memenuhi 3 dari 8 kriteria tersebut dapat dikatakan termasuk kategori rumah tangga atau keluarga miskin. Keluarga tersebut perlu difasilitasi atau diadvokasi dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka termasuk pelayanan kesehatan dan keperawatan secara optimal. Banyak stresor terkait kemiskinan yang berdampak pada kesehatan. Orang miskin dan kelompok rentan hidup dengan sumber daya yang tidak adekuat. Stresor yang datang terus menerus akan berdampak pada kesehatan fisik, kesehatan jiwa, dan pandangan terhadap kesehatan. Orang yang hidup dalam kemiskinan sering merasa putus asa, tidak berdaya, dan tidak mampu menyelesaikan masalahnya yang pada akhirnya dapat menyebabkan depresi. Selain itu, menurut Crimmins, Haywars, & Seeman (2004 dalam Allender, Rector & Warner 2010) kemiskinan dan tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan penyakit tertentu, peningkatan insiden penurunan kesehatan fisik dan kognitif serta peningkatan angka kematian. Kemiskinan dapat menyebabkan seseorang tidak mempunyai rumah (homeless).
14

f. Konsumsi lauk pauk dalam seminggu tidak bervariasi g. Kemampuan membeli pakaian minimal 1 (satu) stel setahun untuk anggota rumah tangga tidak ada h. Jenis dinding terbuat dari papan/triplek

Menurut Maurer & Smith (2005) homeless adalah orang yang tidak mempunyai tempat bermalam yang tetap atau orang yang mempunyai tempat bermalam yang sengaja disediakan untuk menginap atau sebuah tempat umum atau milik pribadi yang tidak diperuntukkan untuk menginap. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang menjadi homeless diantaranya adalah kemiskinan, pengangguran, gangguan mental, kecanduan, atau faktor tambahan seperti klisis finansial, bencana alam, atau pilihan pribadi. Gangguan mental, harga diri rendah berhubungan dengan perlakuan yang tidak menyenangkan seperti disia-sia, diperlakukan secara kejam atau perlakuan yang menyebabkan seseorang menjadi homeless. Beberapa orang dengan gangguan mental kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari, mengatur dirinya sendiri, berinteraksi interpersonal, dan pergi bekerja. Untuk dapat hidup dengan baik, mereka memerlukan motivasi yang tinggi dan tentunya dengan adanya support service. Dengan pendekatan yang spesifik pada klien dan juga didukung dengan penggunaan model keperawatan yang sesuai, diharapkan perawat mampu memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal pada masyarakat miskin (poor) dan tidak memiliki tempat tinggal (homeless). Berbagai pendekatan dalam pelayanan keperawatan di suatu komunitas digunakan dalam pelayanan kesehatan pada keluarga miskin sebagai populasi rentan (vulnerable population). Terdapat banyak model keperawatan komunitas yang diterapkan guna meningkatkan kesehatan maupun kesejahteraan dalam ruang lingkup komunitas atau masyarakat. Model-model pelayanan keperawatan komunitas meliputi beberapa model yang akan dijelaskan di bawah ini. 2.2.1 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas Menurut Florence Nightingales (1859) Model pelayanan kesehatan dilihat dari model Florence Nightingale, yang filosofinya berorientasi pada lingkungan. Menurut Florence Nightingale, tujuan keperawatan untuk memfasilitasi proses penyembuhan tubuh dengan memanipulasi lingkungan klien

mendapatkan ketenangan, nutrisi, kebersihan, cahaya, kenyamanan, sosialisasi, dan harapan yang sesuai (Potter & Perry, 2005). Lingkungan dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang dapat dimanipulasi menjadi tempat dimana klien berada pada kondisi yang terbaik agar alam dapat berperan dalam kesehatannya (Selanders, 1998, dalam Alligood, 2010). Teori ini memiliki komponen fisik (ventilasi, kehangatan, cahaya, nutrisi, obat-obatan, temperatur ruangan, dan aktivitas) dan psikologis (obrolan / celotehan tentang harapan dan saran dan menyediakan variasi). Komponen-komponen dari filosofi Florence Nightingale meliputi lingkungan, manusia, sehat, dan perawat. Komponen berikutnya yaitu manusia. Florence Nightingale dalam teorinya lebih banyak menempatkan manusia sebagai seseorang yang menerima perawatan, namun dia juga
15

meyakini bahwa manusia adalah makhuk yang dinamis dan kompleks yang terdiri dari komponen fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual. Komponen ketiga yaitu sehat. Florence Nightingale menuliskan bahwa kesehatan bukan untuk menjadi baik, tetapi untuk dapat menggunakan setiap kekuatan yang kita miliki dengan baik. Dari pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Florence Nightingale meyakini pencegahan dan promosi kesehatan disamping perawatan klien dari sakit menjadi sehat (Alligood, 2010). Komponen terakhir yaitu perawat. Florence Nightingale meyakini bahwa perawat adalah profesi spiritual yang membantu alam menyembuhkan klien. Ada 3 jenis perawat menurut Florence Nightingale, yaitu nursing proper (merawat klien yang sakit), general nursing (promosi kesehatan), dan midwifery nursing. Perawat mengkaji situasi klien, mengidentifikasi kebutuhan, membuat intervensi, mengimplementasikan rencana perawatan, mendokumentasikan, kembali mengevaluasi situasi, dan mengubah rencana untuk pelayanan kesehatan klien yang lebih baik hingga tujuan asuhan keperawatan tercapai (Alligood, 2010). Teori lingkungan Florence Nightingale penting dalam keperawatan kesehatan komunitas karena teori ini berfokus pada perawatan preventif populasi. Florence Nightingale mengobservasi bahwa penyakit-penyakit umum terjadi dalam lingkungan yang buruk dan kesehatan dapat ditingkatkan dengan menyediakan ventilasi yang adekuat, air bersih, ketenangan, kehangatan, cahaya, dan kebersihan. Inti dari teori Florence Nightingale yaitu kondisi lingkungan yang buruk, tidak baik untuk kesehatan dan kondisi lingkungan yang baik dapat mengurangi penyakit. Beberapa orang meyakini bahwa disamping lingkungan yang baik, pelayanan sosial seperti transportasi, edukasi, dan pelayanan kesehatan merupakan hal yang penting. Mengontrol pencemaran lingkungan dan melindungi lingkungan merupakan tujuan utama dalam semua setting. (Allender, Rector, & Warner, 2010). Florence Nightingale menyatakan bahwa kebersihan, udara segar, sanitasi, kenyamanan, dan sosialisasi penting untuk penyembuhan. Florence Nightingale meyakini bahwa ada 5 poin yang penting dalam mencapai rumah sehat, yaitu: udara bersih, air bersih, drainase (saluran pembuangan) yang efisien, kebersihan, dan cahaya. Florence Nightingale meyakini bahwa lingkungan sehat penting untuk penyembuhan sehingga dapat mencegah kematian. Sebagai contoh, suara bising dapat mengganggu istirahat, oleh karena itu, klien yang rawat jalan yang diperbolehkan beristirahat di rumah akan terganggu istirahatnya dan akan berpengaruh pada proses penyembuhan penyakitnya. Dalam hal ini, Florence Nightingale meyakini bahwa perawat harus melakukan observasi akurat dari klien dan harus berpikir kritis tentang perawatan klien serta melakukan tindakan yang tepat dan penting untuk membantu penyembuhan klien (McEwen & Wills, 2011).
16

Teori Florence Nightingale yang berorientasi pada lingkungan, dapat diaplikasikan ke dalam proses keperawatan sesuai komponen yang ada, meliputi: ventilasi dan kehangatan, cahaya, kebersihan ruangan dan dinding, kesehatan rumah, kebisingan, tempat tidur, kebersihan personal, obrolan dan saran, serta makanan dan observasi penyakit. Terkait ventilasi dan kehangatan, perawat dapat mengkaji suhu tubuh klien, suhu ruangan, ventilasi yang adekuat, udara segar, dan bau tidak sedap. Terkait cahaya, perawat dapat mengkaji cahaya ruangan yang adekuat, cahaya matahari dalam ruangan. Terkait kebersihan ruangan dan dinding, perawat dapat mengkaji kelembaban, debu, atau lumut (Alligood, 2010). Terkait kesehatan rumah, perawat mengkaji udara bersih di lingkungan sekitar, air bersih, drainase, kebersihan (pengolahan sampah), dan pencahayaan. Terkait kebisingan, perawat mengkaji level kebisingan pada ruangan dan area sekitar. Terkait tempat tidur, perawat mengkaji kelembaban tempat tidur, keriput, kotoran, dan berat tempat tidur. Terkait kebersihan personal, perawat mengkaji klien kering dan bersih setiap waktu (mengkaji kondisi kulit klien). Terkait obrolan dan saran, perawat mencegah pembicaraan tanpa alasan atau memberi saran tanpa fakta dengan berbicara menstimulasi pikiran klien. Terkait makanan, perawat mengkaji diet klien dan makanan yang disukai atau tidak. Terkait observasi penyakit, perawat mengobservasi semua hal tentang klien, mencatat hasil observasi (faktual atau opini), observasi lingkungan dan membuat rencana keperawatan (Alligood, 2010). 2.2.2 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas Menurut Hildegard E. Peplau (1952) Hildegard E. Peplau (1952) membuat model keperawatan interpersonal, yang merupakan kemampuan seorang perawat untuk memahami tingkah lakunya guna membantu orang lain, mengindentifikasi kesulitan yang dirasakannya, dan untuk menerapkan prinsip hubungan manusia pada permasalahan yang timbul di semua level pengalaman (Alligood, 2010). Terdapat tahapan atau fase dalam model keperawatan komunitas menurut Peplau, yaitu: Fase orientasi: Lebih difokuskan untuk membantu klien menyadari ketersediaan bantuan dan rasa percaya terhadap kemampuan perawat untuk berperan serta secara efektif dalam pemberian asuhan keperawatan kepada klien. Fase identifikasi: Terjadi ketika perawat menfasilitasi ekspresi perasaan klien dan tetap mampu memberikan asuhan keperawatan yang diperlukan. Ekspresi perasaan tanpa penolakan diri perawat memungkinkan pengalaman menderita sakit sebagai suatu kesempatan untuk mengorientasikan kembali perasaan dan menguatkan bagian yang positif dari kepribadian klien. Fase eksplorasi: Perawat membantu klien dalam memberikan gambaran kondisi klien saat ini dengan cara mendorong klien untuk menggali dan mengungkapkan perasaan, emosi, pikiran, serta sikapnya tanpa paksaan dan mempertahankan suasana
17

terapeutik yang mendukung. Memungkinkan suatu situasi dimana klien dapat merasakan nilai hubungan sesuai pandangan atau persepsinya terhadap situasi. Fase ini merupakan inti hubungan dalam proses interpersonal Fase resolusi: Secara bertahap klien melepaskan diri dari perawat. Resolusi ini memungkinkan penguatan kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan menyalurkan energi ke arah realisasi potensi. Selain itu terdapat asumsi yang dibuat dalam model keperawatan Peplau. Asumsi utama atau asumsi dasar dalam pengembangan model konsep dan teori hubungan interpersonal oleh Peplau dibedakan menjadi asumsi eksplisit dan implisit. Asumsi ekplisit memberi pandangan bahwa: Perawat akan membuat pasien belajar ketika ia menerima penanganan perawatan Menjalankan fungsi keperawatan dan pendidikan keperawatan dengan membantu perkembangan pasien ke arah kedewasaan Keperawatan menggunakan prinsip-prinsip dan metode-metode yang membimbing proses ke resolusi dari masalah interpersonal. Asumsi implisit: mempertegas profesi keperawatan memiliki tanggung jawab legal dalam penggunaan keperawatan secara efektif dan segala konsekuensinya kepada pasien Dalam kaitannya dengan perspektif paradigma keperawatan, Peplau juga menguraikan secara terperinci berdasarkan 4 komponen dasar, yaitu: a. Manusia Individu dipandang sebagai suatu organisme yang berjuang dengan caranya sendiri untuk mengurangi ketegangan yang disebabkan oleh kebutuhan. Setiap individu merupakan makhluk yang unik, mempunyai persepsi yang dipelajari dan ide yang telah terbentuk dan penting untuk proses interpersonal. b. Lingkungan Merupakan kekuatan yang berada di luar organisme dimana budaya, adat istiadat, dan kebiasaan serta keyakinan merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menghadapi individu c. Kesehatan Suatu perkembangan kepribadian dan proses kemanusiaan yang berkesinambungan ke arah kehidupan yang kreatif, konstruktif dan produktif d. Keperawatan Suatu proses interpersonal yang bermakna. Proses interpersonal merupakan maturing force dan alat edukatif baik bagi perawat maupun klien. Pengetahuan diri dalam konteks
18

interaksi interpersonal merupakan hal yang penting untuk memahami klien dalam mencapai resolusi masalah. Menurut Tomey dan Alligood (2006), perawat juga mempunyai 6 peran yang terdiri dari peran sebagai: a. Stranger/Sebagai orang yang asing: perawat menghadapi klien seperti tamu yang dikenalkan pada suatu sistem baru. b. Resource Person/Narasumber: perawat memberikan jawaban yang spesifik terhadap pertanyaan tentang masalah yang yang ditanyakan. c. Teacher/Pendidik: mengembangkan hubungan yang demokratis sehingga merangsang individu untuk berperan serta aktif dalam mengarahkan asuhan. d. Surrogate/Wakil pengganti: membantu individu belajar tentang keunikan tiap manusia sehingga dapat mengatasi konflik interpersonal. e. Counselors/Konselor: meningkatkan pengalaman individu menuju keadaan sehat yaitu kehidupan yang kreatif, konstruktif dan produktif. f. Consequences/Konsekuens: sistem diri dengan kepribadian yang berkembang.

2.2.3 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas Menurut Virginia Henderson (1966) Dalam teori Henderson disebutkan bahwa fungsi unik dari perawat adalah membantu individu baik sakit maupun sehat, berkontribusi dalam pemulihan kesehatan atau untuk kondisi kematian yang damai dengan kekuatan, kemauan, dan pengetahuan dalam waktu sesingkat mungkin. Henderson menekankan pada kebutuhan dasar manusia sebagai fokus utama pada praktik keperawatan. Dengan mengetahui kebutuhan dasar manusia, maka akan diketahui bagaimana cara keperawatan untuk membantu memenuhi kebutuhan tersebut. Kebutuhan dasar manusia menurut Henderson atau empat belas kebutuhan dasar manusia meliputi bernapas dengan normal, kebutuhan akan nutrisi, kebutuhan eliminasi, gerak dan keseimbangan tubuh, kebutuhan istirahat dan tidur, kebutuhan berpakaian, mempertahankan temperatur tubuh dan sirkulasi, kebutuhan kebersihan diri, kebutuhan akan rasa aman dan nyaman, berkomunikasi dengan orang lain dan berekspresi, kebutuhan spiritual, kebutuhan bekerja, kebutuhan bermain dan rekreeasi serta kebutuhan belajar. Teori Henderson yang lebih berfokus pada empat belas kebutuhan dasar manusia dan praktik keperawatannya yang berusaha membentuk klien untuk melakukan empat belas kebutuhan dasar dapat diterapkan pada masyarakat urban, hanya saja jika masyarakat tersebut mempunyai biaya untuk mendapatkan pelayanan keperawatan. Hal ini dikarenakan teori Henderson hanya menilik kebutuhan dasar apa yang belum terpenuhi dari suatu klien, tanpa mempertimbangkan kondisi klien dengan keterbatasan ekonomi dan tidak memberikan
19

alternatif agar kebutuhan tersebut terpenuhi. Maka, teori ini tidak dapat menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan pada kondisi keterbatasan ekonomi.

2.2.4 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas Menurut Martha Rogers (1970) Martha Rogers pada tahun 1961 mendeskripsikan teori tentang manusia sebagai satu kesatuan yang utuh. Sejak awal teori tersebut sudah menjadi kontroversi dan bahan perdebatan di kalangan perawat dan petinggi keperawatan. Sebelumnya para tenaga kesehatan memberikan pelayanan kesehatan dengan membagi-bagi berdasarkan area atau fungsinya. Sehinggga membutuhkan banyak tenaga profesional dan para pemberi pelayanan kesehatan tidak mengetahui secara keseluruhan tentang masalah kliennya. Namun Rogers mendorong para tenaga kesehatan untuk melanjutkan interaksi mutual dengan manusia sebagai kesatuan sistem energi. Sehingga para perawat dapat memperhatikan seseorang sebagai satu kesatuan utuh saat merencanakan dan memberikan pelayanan kesehatan. Dalam pengaplikasiannya, pelayanan keperawatan komunitas memiliki tiga prinsip dasar dalam mendeskripsikan manusia sebagai kesatuan yaitu: a. Proses kehidupan berjalan searah dengan irama spiral b. Energi memiliki pola gelombang dan organisasi c. Energi manusia dan lingkungan saling berhubungan dan saling menguntungkan, saling melengkapi dan menyatu Jadi, model Rogers ini sangat efektif untuk promosi kesehatan. Bagi masyarakat perkotaan yang mengalami kemiskinan dan tidak memiliki rumah, perawat dapat memberikan pendidikan kesehatan agar masyarakat tersebut minimal dapat mempertahankan status kesehatannya.

2.2.5 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas Menurut Dorothea Orem (1971) Model teori menurut Orem adalah teori keperawatan self care deficit yang mempunyai tiga teori anakan, yaitu teori self care, teori self care deficit, dan teori sistem keperawatan. Pada teori self care, perawatan diri sendiri merupakan perilaku yang dipelajari dan secara disengaja dilakukan sebagai respon untuk memenuhi kebutuhan. Sedangkan teori self care deficit dimaksudkan bahwa perawatan diperlukan karena seseorang dengan keterbatasannya sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan perawatan diri sendiri. Disini, sosok perawat dibutuhkan ketika terdapat perawatan diri yang kurang. Pada teori sistem keperawatan, keseluruhan dari tindakan keperawatan merupakan sistem keperawtan. Orem mengemukakan terdapat beberapa macam sistem keperawatan yang dapat digunakan, yaitu meliputi pelayanan yang seluruhnya terkompensasi, kompensasi sebagian, dan suportif edukatif.
20

Masyarakat urban yang lebih difokuskan pada masyarakat miskin dan tidak mempunyai rumah tetap membutuhkan pelayanan keperawatan. Hanya dengan keadaannya yang terbatas dalam hal ekonomi, sehingga memerlukan pelayanan yang berbeda. Dengan aplikasi teori Orem yaitu teori self care, dapat membantu masyarakat miskin dan tidak mempunyai tempat tinggal dengan memandirikan keluarga tersebut. Perawat dapat memberikan pelayanan berupa membantu keluarga untuk mengatasi masalah kesehatan tersebut, merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan. Tidak hanya itu, perawat juga dapat memberitahu cara memodifikasi lingkungan agar kesehatan anggota keluarga tersebut tetap terjaga sebagai upaya preventif terhadap masalah kesehatan. Dengan hal itu, diharapkan masyarakat miskin dan atau tanpa tempat tinggal dapat menjadi mandiri dalam hal menjaga kesehatan sesuai dengan kondisi ekonomi mereka. Berdasarkan teori Orem, jika klien dalam hal ini adalah masyarakat urban yang mempunyai keterbatasan ekonomi tidak mampu untuk terlibat perawatan diri secara efektif, maka intervensi keperawatan dibutuhkan. Intervensi keperawatan ini dapat diberikan dengan dibantu sepenuhnya, dibantu sebagian, atau hanya dukungan atau edukasi. Yang dimaksud dengan dibantu sebagian disini adalah ketika klien dapat mengerjakan sesuatu hal, maka klien yang melakukannya, perawat hanya membantu pada perawatan diri yang tidak bisa dilakukan klien secara mandiri. Akan tetapi, semua kembali pada arahan untuk memandirikan klien, agar klien tidak terlalu terbebani biaya kesehatan. 2.2.6 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas Menurut Kings (1971) King (1981) menyatakan bahwa Theory of Goal Attainment adalah teori normatif, yaitu harus menetapkan standar praktik untuk semua perawat-pasien saling berinteraksi. Perawat dan pasien saling berkomunikasi, menetapkan tujuan dan mengambil tindakan untuk mencapai tujuan. Setiap individu membawa satu set yang berbeda dari nilai-nilai, ide, sikap, persepsi untuk pertukaran. Perawat dan pasien membentuk sistem antar pribadi dimana saling mempengaruhi dan keduanya dipengaruhi oleh faktor situasional di lingkungan. Theory of Goal Attainment terdiri dari konsep persepsi, komunikasi, interaksi, transaksi, diri, peran, pertumbuhan, dan stress pengembangan, stressor, koping, waktu dan ruang pribadi. King (1981, 1991)

mengidentifikasi bahwa persepsi, komunikasi, dan interaksi merupakan elemen penting dalam transaksi. Ketika transaksi dilakukan, tujuan biasanya tercapai. Theory of Goal Attainment, beberapa yang berkaitan dengan

interaksi individu, perawat - klien dan keperawatan. Ketika menjelaskan individu, model ini
21

menunjukkan bahwa (1) individu sosial, hidup, rasional, makhluk bereaksi dan (2) adalah pengendali, bertujuan, berorientasi tindakan, dan waktu berorientasi pada perilaku mereka.
Perception Nurse Judgment Action Reaction Patient Action Judgment Perception Feedback Interaction Transaction Feedback

Mengenai interaksi perawat - klien, King (1981) percaya bahwa (1) persepsi perawat dan klien mempengaruhi proses interaksi, (2) tujuan, kebutuhan, dan nilai-nilai perawat dan klien mempengaruhi proses interaksi, (3) individu memiliki hak untuk berpartisipasi dalam keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka, kesehatan, dan pelayanan masyarakat, (5) individu memiliki hak untuk menerima atau menolak perawatan, dan (6) tujuan dari profesionalitas kesehatan dan tujuan dari penerima pelayanan kesehatan mungkin tidak kongruen. Metodologi dalam pembelajaran proses keperawatan (Daubenmire, M.J., & King, I.M. (1973) antara lain sebagai berikut: Mengakui: perilaku mungkin dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu. Persepsi, perasaan, dan pikiran harus disimpulkan untuk setiap individu sampai dikomunikasikan melalui perilaku verbal atau nonverbal. Amati & tindakan: perubahan keadaan pasien dan mengakui perubahan dalam keadaan perawat dengan mengidentifikasi pola perilaku: variabel fisiologis dan psikologis. Menafsirkan: pola perilaku yang didasarkan pada pengetahuan tentang teori dan konsep perilaku manusia Memverifikasi: interpretasi dengan observasi lebih lanjut dan pengukuran dalam situasi perawat-pasien. Mensintesis: informasi untuk merencanakan dan melaksanakan tindakan keperawatan untuk meningkatkan sumber daya pasien atau mengubah tekanan bio-psiko-sosio-kultural. Menganalisa: situasi perawat dan pasien (perilaku fisiologis, verbal, maupun nonverbal dikomunikasikan atau diamati), tindakan perawat; faktor dalam sistem; pola diidentifikasi
22

perilaku; hubungan diidentifikasi dalam pengamatan, informasi yang dikumpulkan, dan pengetahuan. Tampilan: proses keperawatan sebagai proses interpersonal yang berkelanjutan yang dinamis di mana perawat dan pasien masing-masing dipengaruhi oleh perilaku dari yang lain dan oleh faktor dalam sistem di mana mereka beroperasi

2.2.7 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas Menurut Betty Neuman (1972) Model Neuman biasanya disebut model Health Care System. Konsep ini memaparkan mengenai keperawatan yang berhubungan dengan garis pertahanan diri dalam menurunkan stress. Garis pertahanan ini melindungi struktur dasar, yaitu sesuatu yang ada pada klien yang harus dijaga agar klien tersebut tetap survive. Menurut teori Neuman, garis pertahanan ada tiga yaitu garis pertahanan normal, fleksibel, dan resisten. Garis pertahanan normal merupakan rentang respon normal seseorang terhadap stress. Garis pertahanan fleksibel adalah suatu keadaan yang selalu berubah yang disebabkan oleh beberapa faktor dan bersifat fluktuatif. Sedangkan garis pertahanan restisten merupakan faktor internal yang melindungi perlawanan klien terhadap serangan dari stresor. Kekuatan garis pertahanan resisten dipengaruhi oleh derajat reaksi klien terhadap serangan stresor pada garis pertahanan. Kekuatan garis pertahanan dan resisten dipengaruhi oleh perkembangan, psikologis, fisiologi, sosiokultural dan spiritual klien. Stresor dapat muncul dari lingkungan internal, eksternal maupun buatan. Buatan disini misalnya perpindahan tempat tinggal. Stresor juga dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu intrapersonal, interpersonal, dan ekstrapersonal atau intraclient, interclient dan ekstraclient. Stresor intrapersonal yaitu stresor yang terdapat pada individu yang berhubungan dengan lingkungan internal. Stresor interpersonal merupakan stresor yang terjadi pada individu dan berpengaruh pada sistem. Stresor ekstrapersonal adalah stresor diluar individu. Sebagai contoh, ada satu keluarga miskin. Ada anaknya yang sedang sakit dan tidak mampu untuk berobat. Ayahnya merasa bersalah karena sebagai kepala keluarga dia tidak mampu membiayai anaknya untuk berobat. Ayahnya berharap anaknya cepat sembuh. Rasa bersalah ayahnya merupakan stresor intrapersonal. Harapan ayahnya akan kesembuhan anaknya ini merupakan stresor interpersonal. sedangkan pembayaran biaya perawatan merupakan stresor ekstrapersonal. Setiap kali terjadi serangan pada struktur dasar maka sistem akan melakukan rekonstitusi. Rekonstitusi merupakan stabilisasi sistem dan membawa sistem ke garis pertahanan normal. Rekonstitusi bisa memperluas garis pertahanan normal ke tingkat
23

sebelumnya, menstabilkan sistem pada tingkat yang lebih rendah, dan mengembalikannya pada tingkat semula sebelum sakit. Ketika sistem klien tidak mampu mencegah serangan maka perlu adanya intervensi keperawatan. Sebelumnya diperlukan pengkajian stresor, faktor-faktor yang mempengaruhi, dan derajat serangan. Ada tiga tingkatan intervensi keperawatan, yaitu pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Pencegahan primer meliputi tindakan sebelum serangan stresor terjadi dan hal ini untuk mencegah adanya serangan dengan meningkatkan kekuatan garis pertahanan atau mengurangi potensi untuk terpapar stresor. Pencegahan sekunder terjadi setelah serangan pada garis pertahanan. Pencegahan ini untuk meminimalisir reaksi terhadap stresor. Sedangkan pencegahan tersier difokuskan pada perbaikan kembali ke arah stabilitas sistem klien secara optimal. Tujuan utamanya adalah untuk memperkuat resistansi terhadap stressor untuk mencegah reaksi timbul kembali atau regresi, sehingga dapat mempertahankan energi. Model Neuman dapat digunakan pada masyarakat miskin dan homeless. Apalagi masyarakat miskin dan homeless mengalami banyak stresor dalam waktu yang bersamaan. Dengan adanya garis pertahanan yang kuat, maka akan melindungi struktur dasar klien. Serta klien dapat mencapai tingkat kesehatan yang maksimal.

2.2.8 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas Menurut Ida Jean Orlando (1972) Ida Jean Orlando (1972) mengemukakan tentang beberapa konsep utama, diantaranya adalah konsep disiplin proses keperawatan (nursing process discipline) yang juga dikenal dengan sebutan proses disiplin atau proses keperawatan. Disiplin proses keperawatan meliputi komunikasi perawat kepada pasiennya yang sifatnya segera, mengidentifikasi permasalahan klien yang disampaikan kepada perawat, menanyakan untuk validasi atau perbaikan (Tomey, 2006). Orlando juga menggambarkan mengenai konsep disiplin dalam proses keperawatan sebagai interaksi total (total interactive) yang dilakukan tahap demi tahap, apa yang terjadi antara perawat dan pasien dalam hubungan tertentu, perilaku pasien, reaksi perawat terhadap perilaku tersebut dan tindakan yang harus dilakukan, mengidentifikasi kebutuhan pasien untuk membantunya serta untuk melakukan tindakan yang tepat. Asumsi Orlando terhadap paradigma keperawatan hampir seluruhnya terkandung dalam teorinya. Sama dengan teori-teori keperawatan pendahulunya, asumsi dari Orlando tidak spesifik, tetapi terdapat empat area ditekuninya: 1. Perawat Perawat adalah suatu profesi yang mempunyai fungsi otonomi yang didefinisikan sebagai fungsi profesional keperawatan. Fungsi profesional yaitu membantu mengenali dan menemukan kebutuhan klien yang bersifat segera. Hal itu merupakan tanggung jawab perawat
24

untuk mengetahui kebutuhan klien dan membantu memenuhinya. Dalam teorinya tentang disiplin proses keperawatan mengandung elemen dasar, yaitu perilaku klien, reaksi perawat, dan tindakan perawatan yang dirancang untuk kebaikan klien. 2. Manusia Manusia bertindak atau berperiaku secara verbal dan nonverbal, kadang-kadang dalam situasi tertentu manusia dalam memenuhi kebutuhannya membutuhkan pertolongan, dan akan mengalami distress jika mereka tidak dapat melakukannya. Hal ini dijadikan dasar pernyataan bahwa perawat profesional harus berhubungan dengan seseorang yang tidak dapat menolong dirinya dalam memenuhi kebutuhannya. 3. Sehat Orlando tidak mendefinisikan tentang sehat, tetapi berasumsi bahwa bebas dari ketidaknyamanan fisik dan mental, dan merasa adekuat dan sejahtera berkontribusi terhadap sehat. Perasaan adekuat dan sejahtera dalam memenuhi kebutuhannya berkontribusi terhadap sehat. 4. Lingkungan Orlando berasumsi bahwa lingkungan merupakan situasi keperawatan yang terjadi ketika perawat dan klien berinteraksi, dan keduanya mempersepsikan, berpikir, merasakan, dan bertindak dalam situasi yang bersifat segera. Pasien dapat mengalami distress terhadap lingkungan terapeutik dalam mencapai tujuannya, perawat perlu mengobservasi perilaku pasien untuk mengetahui tanda-tanda distress. Alligood (2010) mengemukakan bahwa teori keperawatan Orlando menekankan adanya hubungan timbal balik antara klien dan perawat, serta apa yang mereka katakan dan kerjakan akan saling mempengaruhi. Ketika perawat menggunakan proes ini untuk mengkomunikasikan reaksinya dalam merawat pasien, Orlando menyebutnya sebagai nursing process discipline. Itu merupakan alat yang dapat perawat gunakan untuk melaksanakan fungsinya dalam merawat pasien. Orlando menggambarkan model teorinya dengan lima konsep utama, yaitu: a. Fungsi keperawatan profesional (Professional nursing function) Tanggung jawab perawat yaitu membantu apapun yang klien butuhkan untuk memenuhi kebutuhannya. Perawat harus mengetahui benar profesionalnya, aktivitas perawat profesional yaitu tindakan yang dilakukan perawat secara bebas dan bertanggung jawab guna mencapai tujuan dalam membantu klien. b. Mengenal perilaku klien (Patients presenting behavior) Mengenali perilaku klien dengan mengobservasi apa yang dikatakan klien maupun perilaku nonverbal yang ditujukan kepada klien.
25

c. Reaksi segera (Immediate reaction) Reaksi segera meliputi persepsi, ide, dan perasaan perawat dan klien. Reaksi segera adalah respon segera atau respon internal dari perawat dan persepsi individu klien. d. Disiplin proses keperawatan (Deliberative nursing process) Disiplin proses keperawatan diartikan sebagai interaksi total (totally interactive) yang dilakukan tahap demi tahap, apa yang terjadi antara perawat dan klien dalam hubungan tertentu, perilaku klien, reaksi perawat terhadap perilaku tersebut dan tindakan dalam hubungan yang harus dilakukan, mengidentifikasi kebutuhan pasien untuk membantunya serta untuk melakukan tindakan yang tepat. e. Peningkatan (Improvement): peningkatan berarti tumbuh lebih, klien menjadi lebih berguna dan produktif.

2.2.9 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas Menurut Sr Callista Roy (1976) Model adaptasi Roy memandang klien sebagai suatu kesatuan adaptasi untuk menyesuaikan dengan lingkungannya. Ada tiga konsep yang menjadi dasar dalam teori Roy, yaitu manusia / klien, adaptasi, dan perawat. Manusia / klien dalam model adaptasi Roy dipandang secara holistik sebagai suatu sistem adaptasi yang berinteraksi dengan lingkungan. Klien disini tidak hanya individu, melainkan termasuk keluarga, kelompok, maupun komunitas. Tujuan interaksi klien dengan lingkungan adalah respon adaptif positif untuk berubah baik dalam lingkungan internal maupun eksternal sehingga meningkatkan integritas sistem. Kemampuan klien untuk beradaptasi tergantung dari pengalaman dan kemampuan mengatasi / menguasai suatu perubahan. Kemampuan mengatasi perubahan (tingkat adaptasi) dipengaruhi oleh tiga kategori stimulus. (1) Stimulus fokal merupakan stimulus internal dan langsung berhadapan dengan individu. (2) Stimulus kontekstual, yaitu stimulus lain pada situasi sama yang mempengaruhi respon klien terhadap stimulus fokal dan dapat diobservasi. (3) Stimulus Residual, stimulus tambahan yang relevan, tetapi sukar untuk diobservasi (mis. keyakinan, nilai, pengalaman yang lalu). Model Roy dapat langsung digunakan pada perawatan klien baik individu, keluarga, komunitas, maupun pada masyarakat miskin dan homeless. Misalnya pada masyarakat homeless. Remaja wanita homeless rentan terhadap seksual abuse. Pada suatu hari, dia mengetahui bahwa dirinya hamil. Stimulus fokal bagi individu pada kasus ini adalah keadaan kehamilannya itu. Untuk stimulus fokal bagi komunitas yaitu peningkatan jumlah kehamilan pada remaja. Untuk stimulus kontekstualnya yaitu respon remaja tersebut pada kehamilannya, misalnya perilaku dia menjaga kehamilan. Stimulus kontekstual bagi komunitas misalnya
26

sikap komunitas terkait aktivitas seksual. Stimulus residual bagi individunya yaitu umur dan tingkat maturitas remaja. Sedangkan stimulus residual bagi komunitasnya adalah tingkat edukasi. Peran perawat dalam teori Roy adalah membantu klien dalam beradaptasi dengan lingkungannya agar tetap survive. Hal ini dilakukan dengan cara menekan stimulus, meningkatkan tingkat adaptasi klien dan menggali sumber-sumber koping yang dimiliki klien.

2.2.10 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas Menurut Madeleine Leininger (1978) Model keperawatan Leininger biasa dikenal dengan model keperawatan transkultural, mengingat Leininger menitikberatkan pada aspek kebudayaan yang terkait dengan status kesehatan klien. Keperawatan transkultural merupakan suatu area / wilayah keilmuwan budaya pada proses belajar dan praktik keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya kepada manusia (Leininger, 2002). Konsep utama yang disoroti dari model keperawatan ini adalah konsep caring dan perbedaan budaya (Leininger, 1980 dalam Leininger, 200). Diharapkan dengan

mempertimbangkan aspek kebudayaan dan memahaminya sebagai perbedaan, seorang perawat bisa menghilangkan stereotype. Mengindari asumsi seperti inilah yang diharapkan dapat membantu seorang perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dari berbagai latar belakang budaya.

27

Tujuan keperawatan berbasis transkultural ini adalah memberikan perawatan yang konsisten dengan ilmu dan pengetahuan keperawatan dengan caring sebagai fokus sentral (Chinn dan Jacobs, 1995 dalam Tomey, 2006). Model konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan asuhan keperawatan dalam konteks budaya digambarkan dalam bentuk matahari terbit (Sunrise Model) seperti yang terdapat pada gambar berikut. Dari model tersebut dapat diketahui bahwa terdapat berbagai macam faktor yang mempengaruhi keadaan suatu individu. Factor-faktor inilah yang perlu dikaji untuk dijadikan landasan berpikir untuk menentukan asuhan keperawatan apa yang tepat. Sedangkan untuk strategi keperawatan terkait intervensi menurut Leininger dibagi menjadi tiga, yaitu mempertahankan budaya, negosiasi budaya, dan restrukturisasi budaya.

2.2.11 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas Menurut Jean Watson (1979) Watson mendefinisikan caring sebagai moral ideal yang berorientasi dan meliputi pada aspek-aspek diluar tindakan yang aktual sebagai hubungan transpersonal antara perawat dan klien yang mana tujuannya adalah meningkatkan kualitas-kualitas dalam kehidupan manusia. Caring science merupakan suatu orientasi human science dan kemanusiaan terhadap proses, fenomena, dan pengalaman human caring. Transpersonal Caring mengakui kesatuan dalam hidup dan hubungan-hubungan yang terdapat dalam lingkaran caring yang konsentrik dari individu, pada orang lain, pada masyarakat, pada dunia, pada planet Bumi, pada alam semesta (Watson, 2004). Watson mengemukakan terdapat konsep-konsep atau asumsi utama dalam ilmu keperawatan, dimana konsep ini sebaiknya dijadikan landasan dalam perawatan klien yakni: a. Caring dapat diimplementasikan dan di terapkan secara interpersonal. b. Caring berisi carative factor yang menghasilkan kepuasan dari kebutuhan tertentu manusia. c. Caring yang Efektif dapat dijadikan sebagai promosi kesehatan dan pertumbuhan individu dan keluarga d. Respon caring bukan hanya pada momen tertentu sekarang tetapi juga masa depan. e. Lingkungan caring adalah sesuatu yang menawarkan perkembangan dari potensi yang ada, dan di saat yang sama membiarkan sesorang untuk memilih tindakan yang terbaik bagi dirinya saat itu. f. Caring lebih bersifat Healthogenic dari pada Curing. g. Praktik Caring lebih merupakan sentral dari keperawatan.

28

Teori Carative Factor Original carative factors kemudian dikembangkan oleh Watson menjadi clinical

caritas processes yang menawarkan pandangan yang lebih terbuka (Watson, 2004), yaitu: a. Menerapkan perilaku yang penuh kasih sayang dan kebaikan dan ketenangan dalam konteks kesadaran terhadap caring. b. Hadir dengan sepenuhnya, dan mewujudkan dan mempertahankan sistem kepercayaan yang dalam dan dunia kehidupan subjektif dari dirinya dan orang dirawat. c. Memberikan perhatian terhadap praktik - praktik spiritual dan transpersonal diri orang lain, melebihi ego dirinya. d. Mengembangkan dan mempertahakan suatu hubungan caring yang sebenarnya, yang saling membantu dan saling percaya. e. Hadir untuk menampung dan mendukung ekspresi perasaan positif dan negatif sebagai suatu hubungan dengan semangat yang dalam dari diri sendiri dan orang yang dirawat. f. Menggunakan diri sendiri dan semua cara yang diketahui secara kreatif sebagai bagian dari proses caring, untuk terlibat dalam penerapan caring-healing yang artistik, g. Terlibat dalam pengalaman belajar mengajar yang sebenarnya yang mengakui keutuhan diri orang lain dan berusaha untuk memahami sudut pandang orang lain. h. Menciptakan lingkungan healing pada seluruh tingkatan, baik fisik maupun nonfisik, lingkungan yang kompleks dari energi dan kesadaran, yang memiliki keholistikan, keindahan, kenyamanan, martabat, dan kedamaian. i. Membantu terpenuhinya kebutuhan dasar, dengan kesadaran caring yang penuh, memberikan human care essentials yang memunculkan penyesuaian jiwa, raga dan pikiran, keholistikan, dan kesatuan diri dalam seluruh aspek care; dengan melibatkan jiwa dan keberadaan secara spiritual. j. Menelaah dan menghargai misteri spritual, dan dimensi eksistensial dari kehidupan dan kematian seseorang, soul care bagi diri sendiri dan orang yang dirawat.

Clinical Caritas Process Watson memperkenalkan clinical caritas process (CCP), untuk menempatkan

carative factor-nya, yang berasal dari bahasa yunani cherish, yang berarti memberi
29

cinta dan perhatian khusus. Jadi, clinical caritas process adalah suatu praktik perawatan pasien dengan sepenuh hati kesadaran, dan cinta. Merawat pasien dengan penuh kesadaran, sepenuh hati dan cinta, hadir secara jiwa dan raga, supportif dan mampu mengekspresikan perasaan negatif dan positif dari dasar-dasar nilai spiritual diri dalam hubungannya dengan pasien sebagai one-being-cared-for. Terlibat dalam proses pengalaman belajar mengajar, yang dihadirkan sebagai kesatuan menjadi dan berarti (being and meaning), dan mencoba melihat dan mengacu pada kerangka berpikir orang lain.

2.2.12 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas Menurut Nola Pender (1982) Nola Pender menggambarkan model keperawatan dengan pelayanan keperawatan intervensi langsung untuk promosi kesehatan. Karena promosi kesehatan merupakan penekanan utama dalam keperawatan kesehatan masyarakat atau komunitas. Promosi kesehatan merupakan prioritas dalam praktik keperawatan kesehatan masyarakat. Pender mendefinisikan promosi atau pelayanan kesehatan sebagai tindakan yang diarahkan berarti termasuk dalam tingkat kesejahteraan dan aktualisasi diri dalam individu atau keompok pada keluarga miskin dan masyarakat urban dalam menyelesaikan stressornya (Pender, Murdaugh, & Parsons, 2006). Model promosi kesehatan Pender ini berusaha untuk menjelaskan perilaku proaktif. Jadi dalam model ini, perawat diminta untuk berperilaku proaktif dengan memahami teori pembelajaran sosial pada masyarakat urban atau keluarga miskin, misalnya kontrol persepsi, status kesehatan, manfaat meningkatkan kesehatan dan hambatan untuk terlibat dalam mempromosikan kesehatan perilaku. Lima jenis faktor modifikasi yang mempengaruhi persepsi masyarakat tentang mengejar perilaku promosi kesehatan antara lain: Faktor demografi, seperti usia dan ras Karakteristik biologis, seperti tinggi dan berat badan Pengaruh impersonal, seperti harapan orang lain Faktor-faktor situasional, seperti ketersediaan makanan sehat Faktor perilaku, seperti stres menghadapi pola Dengan menggunakan model Pender, seorang perawat kesehatan masyarakt perlu melakukan pengkajian atau wawancara terhadap masyarakat urban atau keluarga miskin atau perumahan penghasilan rendah dengan persepsi mereka tentang bagaimana meningkatkan kesehatan dan keselamatan. Dengan mengetahui pendapat dan persepsi meraka, perawat dapat mempengaruhi motivasi warga dan kemampuan untuk mengubah keadaan mereka agar dapat
30

menyelesaikan masalah yang bisa dilakukan atau warga dapat menemukan koping untuk dirinya sendiri. Dalam model promosi kesehatan Pender, perilaku dipengaruhi oleh karakteristik individu meliputi faktor biologis, psikologis, dan sosial budaya pribadi yang relevan dengan perilaku yang terlibat. Karakteristik individu dan perilaku spesifik kognisi dapat

menyebabkan suatu komitmen untuk meningkatkan kegiatan kesehatan. Komitmen ini meliputi intervensi untuk bertindak dan rencana spesifik dari suatu tindakan. Komitmen untuk bertindak yang harus mengarah pada kinerja perilaku kesehatan dalam mempromosikan sebenarnya kecuali ada gangguan. Misalnya, niat klien untuk diet dapat digerogoti oleh penyakit serius dari anggota keluarga dan kebutuhan untuk makan di restoran cepat saji dengan berangsur-angsurnya dengan pendekatan model dalam mengubah perilaku dan persepsi yang dibantu oleh perawat sehingga klien dapat kembali ke gaya hidup yang lebih normal. Model Pender berlaku untuk individu, keluarga dan kelompok atau komunitas. Faktor biologis bagi individu akan mencakup adanya masalah kesehatan lain dan mungkin ketidaknyamanan atau tanda kompilasi kehamilan, semua yang mungkin memotivasi remaja untuk mencari perawatan sebelum melahirkan. Faktor-faktor yang sama juga dapat mempengaruhi upaya keluarga untuk mencari perawatan. Bagi masyarakat, prevalensi kondisi serius lainnya mungkin mencegah perhatian yang memadai terhadap masalah kehamilan remaja. Beberapa macam model keperawatan komunitas yang telah disebutkan, terdapat beberapa yang diterapkan sebagai pedoman bagi keperawatan komunitas perkotaan bagi masyarakat urban (poor & homeless). Model keperawatan yang sering digunakan adalah model keperawatan menurut Dorothea Orem (1971) yang mengemukakan tentang keperawatan mandiri atau Self Care Deficit Nursing Theory. Model Keperawatan yang dikemukakan oleh Betty Neuman (1972) yang lebih dikenal dengan istilah model Health Care System juga biasa digunakan. Selain itu model keperawatan menurut Florence Nightingale yang berorientasi pada lingkungan dan Leininger yang mengacu pada keperawatan transkultural. Keempat model keperawatan tersebut dapat mengemukakan intervensi keperawatan yang sebaiknya dilakukan dalam komunitas masyarakat perkotaan khususnya kaum urban yang hidup miskin dan tidak memiliki tempat tinggal. Fix sampe sini mak

31

2.3 Asuhan Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan


2.3.1 Pengkajian Keperawatan Komunitas Pengkajian keperawatan komunitas merupakan suatu proses tindakan untuk mengenal komunitas. Terdapat tiga dimensi komunitas sebagai klien yaitu: lokasi, populasi dan sistem social (Allender, 2001). Berikut ini akan dijelaskan mengenai pengkajian dalam berbagai dimensi komunitas. 1. Tabel pengkajian dari dimensi lokasi
Variable Lokasi Batasan komunitas Lokasi pelayanan kesehatan Geografi Iklim Flora & Fauna Lingkungan yg dibuat manusia Implikasi Kesehatan Komunitas Batasan menentukan terjadinya sehat sakit, menentukan penyebaran penyakit. Tersedianya akses pelayanan kesehatan Kematian, atau kerusakan yang disebabkan karena bencana alam. Tersedianya tempat rekreasi Iklim yg ekstrim mempengaruhi kesehatan. Tanaman beracun atau penyakit yang dibawa o/ hewan dapat mempengaruhi kesehatan komunitas. Lingkungan dapat mempengaruhi level kesehatan komunitas (polusi yang disebabkan oleh manusia) Pertanyaan Pengkajian Dimana lokasi komunitas?Apakah lokasi bagian dari komunitas yg luas?Apa saja komunitas kecil di dalamnya? Dimana lokasi institusi kesehatan?Apakah dekat dengan komunitas? Apakah geografis mendorong kesehatan?atau merupakan ancaman? aktifitas

Berapa rata-rata temperature?Seberapa ekstrim?Apakah berdampak bagi kesehatan? Apakah tumbuhan dan hewan merupakan ancaman bagi kesehatan? Apa industri besar yang ada?Apakah air, udara, ataupun tanah berdampak bagi manusia?

2. Tabel pengkajian dari dimensi populasi


Variable Populasi Ukuran Kepadatan Komposisi Rata-rata Pertumbuhan Perbedaan budaya Kelas social Mobilitas Implikasi Kesehatan Komunitas Jumlah individu dan institusi kesehatan Peningkatan penduduk dapat meningkatkan stress. Tinggi rendahnya kepadatan berpengaruh kepada tersedianya pelayanan kesehatan Komposisi dari populasi menentukan tipe kebutuhan kesehatan Kecepatan pertumbuhan penduduk meningkatkan permintaan akan pelayanan kesehatan Kebutuhan akan kesehatan berubah sesuai dengan budaya. Praktik kesehatan/ pengetahuan dipengaruhi o/ budaya. Perbedaan kelas mempengaruhi pemanfaatan terhadap pelayanan kesehatan Mobilisasi mempengaruhi ketersediaan pelayanan. Pertanyaan Pengkajian Apakah komunitas kota, pinggiran kota atau pedesaan? Seberapa padat populasi? Komposisi umur, jenis kelamin, status perkawinan dalam komunitas? Jumlah populasi yang berubah selama 2 dekade terakhir? Diskriminasi kelompok yang ditunjukkan?apakah kelompok mempunyai keunikan dalam praktik /kebutuhan kesehatan? Apakah kelas yg berbeda menyarankan kebutuhan & pelayanan kesehatan? Bagaimana frekuensi anggota yg masuk & keluar dalam komunitas??

3. Tabel pengkajian dimensi Sistem Sosial


Variabel Sistem Sosial Implikasi Kesehatan Komunitas Pertanyaan Pengkajian

32

Sistem kesehatan Sistem keluarga Sistem ekonomi Sistem pendidikan Sistem agama, kesejahteraan Sistem politik Sistem rekreasi, legal, komunikasi

Setiap sistem harus memenuhi fungsi dari kesehatan komunitas. Kolaborasi antar sistem mengidentifikasi tujuan & mengatasi masalah kesehatan. Kesepakatan mengenai sarana untuk mencapai tujuan komunitas. Komunikasi antar organisasi di setiap sistem.

Apa saja fungsi dari setiap sistem utama? Apa saja subsistem utama? Seberapa baik organisasi melakukan fungsinya? Apakah terdapat konflik antar sistem? Apakah ada kesepakatan mengenai tujuan komunitas? Apakah ada sistem yang dominan dibandingkan yg lain?

Tipe Pengkajian Komunitas Jenis pengkajian kebutuhan masyarakat (Allender & Speadley, 2001(hlm.364)) a. Windshield Survei Windshield survei mengumpulkan dan mengunakan data yang telah tersedia di masyarakat untuk mempelajari masalah masyarakat tersebut. Dalam pengkajian ini perawat dapat menemukan data-data yang berada di masyarakat diantaranya, pelayanan kesehatan, sosial dan pemerintah, keadaan ekonomi, dan data umum yang da di masyarakat. Pengkajian ini dapat digunakan jika perawat sedang bertugas di dalam keluarga, grup, organisasi, atau populasi. Berikut komponen-komponen pengkajian dalam windshield survei (Stone, McGuire, Eigsti,2002 ( hlm 471); Efendi & Makhfudli, 2009 (hlm. 154));

Inti komunitas Observasi 1. Sejarah-Apa yang Anda dapat dari pengamatan sementara diwilayah tersebut? Tanyakan sejarah wilayah tersebut kepada tokoh masyarakat 2. Demografi-tipe orang seperti apa yang Anda jumpai? Data usia, jenis kelamin, keluarga. Apakah penduduknya homogen? 3. Kelompok etnis-identifikasi berbagai suku atau etnis yang Anda jumpai. Catat perbedaan dan cirri-ciri tiap suku atau etnis. 4. Nilai dan keyakinan-Apakah disana terdapat rumah ibadah? Apakah tempat itu terlihat homogen? Subsistem 1. Lingkungan fisik-keadaan lingkungan atau geografis, batas wilayah, peta wilayah, iklim, dan kondisi perumahan. 2. Pelayanan kesehatan dan sosial-masalah akut dan kronik? Unit pelayanan kesehatan baik modern atau tradisional. Adakah klinik, rumah sakit, tenaga kesehatan, home care, tempat pelayanan sosial, pusat emergensi, serta kesehatan jiwa komunitas 3. Ekonomi- status ekonomi masyarakat, industry yang ada, kegiatan yang menunjang roda perekonomian, serta jumlah pengangguran 4. Keamanan dan transportasi- bagaimana penduduk bepergian? Jenis transportasi umum dan individu yang digunakan? Apakah Anda melihat bus, taxi, trotoar, jalur sepeda, atau fasilitas untuk orang dengan kekurangan fisik. Jenis pelayanan perlindungan yang tersedia (contoh; pemadam kebakaran, polisi, sanitasi). Kejahatan yang sering terjadi. Apakah masyarakat merasa aman? 5. Pemerintah dan politik- apakah ada tanda dari aktivitas politik

Data

33

6. 7.

8.

1. 2.

(contoh poster, pertemuan) partai apa yang mendominasi? Apa hak komunitas dalam pemerintahan? Komunikasi- identifikasi jenis komunikas, media cetak, dan elektronik yang biasa dipakai Pendidikan-identifikasi fasilitas dan program kerja institusi pendidikan. Apakah di institusi pendidikan terdapat unit kesehatan siswa (UKS) Rekreasi- dimana tempat bermain anak? Fasilitas apa yang tersedia?siapa saja yang berperan serta Persepsi Penduduk-bagaimana pendapat tentang komunitasnya? Identifikasi kekuatan. Persepsi Anda-pernyataan umum mengenai kesehatan komunitas. Perasaan/ masalah aktual atau potensial.

3.

Berorientasi Masalah (Problem-Oriented Assessment) Jenis pengkajian kebutuhan masyarakat yang kedua berfokus pada satu masalah yang

akan di kaji lebih lanjut di komunitas. Pengkajian berorientasi masalah digunakan jika dengan Windshield Survei tidak cukup untuk menegakkan diagnosa sedangkan jika menggunakan pengkajian komprehensif membutuhkan dana yang terlalu mahal. 4. Pengkajian Subsistem Komunitas (Community Subsistem Assessment) Pada pengkajian subsistem komunitas, perawat komunitas berfokus pada satu dimensi kehidupan komunitas. Komunitas memiliki tiga dimensi yaitu lingkungan, sosial sistem, dan populasi. Kesehatan komunitas dipengaruhi oleh keadaan lingkungan seperti pelayanan kesehatan, keadaan geografis, iklim, tumbuhan, hewan, dan tempat tinggal. Dimensi yang kedua /subsistem yaitu sosial sistem, terdiri dari sepuluh variabel diantaranya sistem kesehatan, keluarga, ekonomi, pendidikan, religious, kesejahteraan, politik, rekreasi, legal, dan komunikasi. Dimensi yang ketiga yaitu populasi, pemahaman tentang variabel populasi akan mempermudah perawat komunitas dalam melakukan pengkajian. Variabel populasi antaralain jumlah, kepadatan, komposisi populasi, rata-rata pertumbuhan atau kematian, perbedaan budaya, status sosial, dan mobilitas. Pengkajian subsistem akan lebih baik jika dilakukan dalam tim. Setiap anggota dalam tim mengkaji beberapa variabel di tiap dimensi, selanjutnya informasi yang telah didapat dapat di sharing bersama. Dengan cara ini akan didapatkan gambaran pengkajian yang komprehensif. 5. Pengkajian Komprehensif (Comprehensive Assessment) Pengkajian komprehensif berusaha menemukan seluruh data kesehatan yang relevan. Pengkajian dimulai dengan mereview semua data yang ada di komunitas. Selanjutnya melakukan survei dengan menyusun data-data demografis terutama populasi (termasuk variabel-variabel populasi). Untuk mendapatkan data yang lebih detail dengan melakukan
34

interview secara langsung dengan masyarakat. Pengkajian komprehensif tidak hanya menjelaskan sistem dari komunitas tetapi juga bagaimana kekuatan atau kelebihan dapat tersebar, bagaimana keputusan itu dibuat, dan bagaimana perubahan dapat terjadi ((within & Altschuld, 1995) Allender & Speadley, 2001). Pengkajian ini banyak menghabiskan waktu dan biaya, sehingga pengkajian ini jarang digunakan. 6. Pengkajian asset komunitas (community assets assessment) Pengkajian yang terakhir ini berfokus pada kekuatan dan kemampuan komunitas dari pada masalahnya sendiri ((Ammerman & Parks,1998) Allender & Speadley, 2001). Pada pengkajian ini perawat berperan sebagai partner dalam intervensi keperawatan komunitas. Tiga level pendataan penngkajian asset komunitas 1. Pendataan keahlian, talenta, ketertarikan, dan pengalaman individu 2. Pendataan asosiasi dan organisasi kota lokal 3. Pendataan institusi local

Metode Pengkajian Komunitas Pengkajian komunitas dapat dilakukan dengan berbagai macam metode. Perbedaan metode yang digunakan bukan menjadi suatu masalah asalkan tujuan pengumpulan datanya dapat terpenuhi. Pengumpulan data dalam area komunitas dapat melatih sikap professional perawat dalam membuat keputusan, teknik komunikasi yang efektif, dan kemampuan menginvestigasi dengan baik. Berikut metode pengkajian komunitas yang dapat digunakan antara lain; survei, studi epidemiologi deskriptif, musyawarah a. Survei Survei merupakan suatu metode pengkajian dengan beberapa pertanyaan dalam yang akan digunakan untuk menganalisa area atau group

rangka mengumpulkan data

tertentu. Metode survei dikembangkan dalam tiga tahap pengkajian(Allender & Speadley, 2001); 1. Tahap perencanaan Menentukan apa dan kenapa informasi tersebut Menentukan data yang tepat untuk dikumpulkan Memilih populasi yanga akan di survei Memilih metode /instrument survei yang akan digunakan (contoh; wawancara, kuesioner, atau panggilan telepon) Menentukan jumlah sampel

2. Tahap pengumpulan data Identifikasi data kolektif


35

Menolak dan menerima penngurus

3. Tahap analisis dan penyajian data Sajikan data dalam bentuk tabel dan analisi. Menentukan hubungan dan analisis data Menyajikan laopran dalam bentuk tabular, grafika, dan tekstular.

b. Studi Epidemiologi Deskriptif Pengakajian studi epidemiologi merupakan pengkajian terhadap frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan pada sekelompok (Allender & Speadley, 2001). Pengkajian dengan metode ini sangat baik dilakukan karena perawat dapat mengetahui kapan dan dimana penyebaran penyakit itu berada. Dan dapat menentukan intervensi apa yang akan dilakukan kepada sekelompok masyarakat tersebut. c. Musyawarah Musyawarah merupakan pertemuan seluruh warga desa untuk membahas dan merencanakan penanggulangan masalah kesehatan hasil survei (Efeny & Makhfudli, 2009). Dengan adanya musyawarah masyarakat, pemuka masyarakat, dan petugas kesehatn dapat dipertemukan untuk membahas penyelesaian dari masalah yang didapat dari hasil survei. d. Focus Group Di desain untuk memperoleh opini masyarakat. Merupakan grup kecil (5-15 orang). Anggota yang ada dalam grup berasal dari variable demografik yang sama. Keuntungan metode ini adalah efisien dan murah.

Sumber Data Komunitas Primer Diperoleh secara langsung, melalui wawancara, dll. Sumber data yang diperoleh dari sumber utama lebih akurat dan komperhensive. Sekunder, berasal dari seseorang yang mengetahui komunitas dengan baik dan mencatat apa yang meraka lakukan. a. Sumber Internasional Data internasional bersumber dari beberapa lembaga salah satunya the World Healthh Organization (WHO). Dengan mengunakan internet perawat dapat mengakses data internasional terkait dengan informasi imigran dan pengungsi local. b. Sumber Nasional Data nasional bersumber dari lembaga pemerintahan yang melakukan survei kesehatan terkait dengan pelayanan kesehatan komunitas. c. Sumber Negara
36

Data ini bersumber dari departemen kesehatan pemerintah. Data-data yang diberikan lebih akurat. Data yang diberikan berupa data statistic kehidupan dan angka kematian. d. Sumber Lokal

Analisis data Untuk menjadikan keperawatan langsung yang bernilai, pengkajian data harus diproses dan dialysis. Analisis ini meliputi klasifikasi, interpretasi, dan validasi. 1. Klasifikasi Data pertama kali harus di klasifikasi dan dipisahkan ke kelompok spesifik. Contohnya, beberapa data dapat merefleksikan dimensi biofisik, diaman data lain berhubungand negan dimensi sosial. 2. Interpretasi Ketikda data sudah diklasifikasi, data kemudian harus di intepretasikan. Intepretasi data meliputi perbandingan spesifik data klien dengan norma yang diketahui dan standar atau syarat diagnostik. Contohnya, perawat kesehatan komunitas mungkin mencatat bahwa sebagian anak memiliki lebih banyak injuri daripada anak normal pada usia itu. Intepretasi juga mengandung sekelompok petunjuk ke pola yang dapat diketahui dan tren pada data dan membuat kesimpulan berdasarkan data. Kesimpulan ini yang bisa disebut sebagai diagnostik hipotesa. Hipotesis diagnostik merupakan kemungkinana penjelasan dari kondisi klien dan dihasilkan pada dasar dari pola data dan tren. Sebagai contoh data mungkin mengandung sejarah injuri yang bisa ditanyakan pda anak dengan pengalaman masalah ekonomi dan tidak adekuatnya dukungan emosi dan sosial. Data ini mennyarankan hipotesis dari kekerasan pada anak untuk menjelaskan lengan patah saat ini. 3. Validasi Aspek terakhir dari analisis data adalah kesimpulan validasi atau hipotesa diagnostik. Data yang telah divalidasi oleh beberapa prosedur kemudian disimpan. Kemudian dapat dipaparkan berupa visualisasi berupa chart, graphic dan table untuk mendukung suatusintesa data. Proses validasi ini dapat disebut sebagai evaluasi hipotesa. Karena data dapat menghasilkan beberapa diagnostik hipotesa, perawat kesehatan komunitas harus memprioritaskan hipotesis yang sesuai dengan isyarak diagnostik yang ada. Perawat mengevaluasi hipotesis apakah cocok dengan keadaan klien. Kemudian hipotesis diuji dengan mengumpulkan data tambahan baik pendukung maupun penghambat diagnsotik. Gambar 1. Hubungan setiap langkah proses diagnostik Pengumpulan data Analisis data Pengembangan diagnostic hipotesis Evaluasi hipotesis Pernyataan diagnosis
37

Tidak dikonfirmasi

2.3.2 Diagnosis Keperawatan kesehatan komunitas Terdapat beberapa masalah yang sering muncul pada masyarakat pekotaan ialah : 1. Masalah kebiasaan Masalah kebiasaan yang sering muncul ialah seperti : 1) Kurangnya oleh raga, 2) makanan yang tinggi kolesterol dan rendah serat, 3) Merokok yang umum bagi masyrakat kota, 4) sex bebas dan lainnya 2. Pelayanan kesehatan Tersedianya Pelayanan kesehatan merupakan hal yang menjadi suatu kewajiban untuk tersedianya di kota. Contoh pelayanan yang ada ialah : Rumah Sakit, Kementrian kesehatan, harga obat, dan lainnya 3. Lingkungan Lingkungan dibagi 2 berdasatkan bentuknya. Ialah fisik dan biologic. Fisik meliputi : ketersediaan air, udara, tanah. Temperature, perumahan, gedung, jalanan. Lingkunga biologik meliputi : agen, kimia, tanaman, hewan dan manusia. Panduan untuk menyatakan diagnose keperawatan dibagi menjadi 4 tipe konsep (carpenito, 1995): 1. Actual Nursing diagnoses Menjelaskan masalah kesehatan yang ada dialami oleh klien 2. High-risk nursing diagnose Mencerminkan adanya potensi untuk berkembangnya masalah kesehatan karena adanya faktor risiko yang teridentifikasi 3. Wellness nursing diagnose Mencerminkan keadaan klien yang dapat ditingkatkan ke tingkat yang lebih tinggi. Diagnosa mungkin lebih baik disebut sebagai helath-promotive nursing

diagnoses,mengindikasikan perlunya intervensi untuk secara aktif mempromosikan kesehatan. Tipe lain dari diagnosis kesehatan diidentifikasi oleh perawat kesehatan masyarakat adalah positive nursing diagnoses. ini termasuk tanggapan positif klien di mana tidak ada perubahans diperlukan dan intervensi keperawatan yang terdiri dari penguatan dari keadaan saat ini. 4. Syndrome Syndrom merupakan sekelompok terkait diagnosa actual dan risiko tinggi. Diagnosa actual dan risikomerupakan focus diagnose maslah keperawatan; pematauan terhadap
38

keadaan promotif dan diagnosa positif mungkin dianggap diagnosa kesehatan. Diagnosa keperawatan juga bisa disebut sebagai diagnosa kemungkinan. Sebuah diagnosa yang mungkin bukan merupakan kategori diagnosis, tapi diagnosis disarankan oleh data yang ada saat ini yang cukup untuk konfirmasi. Gambar 2. Skema kategorisasi diagnose keperawatan Nursing diagnosis

Problem focused nursing diagnosis

Wellness nursing diagnose

Syndromes Actual nursing diagnose

Positive diagnoses

nursing

Health-promotive nursing diagnoses High-risk diagnose Anderson dan Mc Farlane (1996) menggunakan teori Neuman dari komunitas dan menggunakan diagnosis keperawatan berdasarkan sistem penggabungan penarikan nursing

kesimpulan. Pada sistem ini mereka menggunakan logika berpikir atau penarikan kesimpulan untuk menggambarkan masalah, menjelaskan faktor etiologi, serta identifikasi tanda dan gejala yang menjadi karakteristik masalah. Tanda dan gejala dari diagnosis keperawatan kesehatan komunitas adalah pernyataan kesimpulan yang menjelaskan durasi atau besarnya masalah durasi atau besarnya masalah. Contoh diagnose keperawatan kesehatan komunitas: Tingginya angka mortalitas bayi berhubungan dengan a) ketidakmampuan sumber di departemen kesehatan setempat dalam memenuhi kebutuhan antepartum; b)pelayanan antepartum yang tidak dapat diakses; c) kurangnya tenaga kesehatan terlatih yang ditunjukan dengan: Angka mortalitas bayi sebesar 17,3 tiap 1000 kelahiran hidup, Data klinik yang menyatakan kurangnya tenaga, Tidak ada bus yang melewati depan klinik, Jam kerja mulai pukul 08.00-17:00, senin sampai jumat, yang tidak bisa diakses oleh komunitas yang bekerja,
39

Tidak ada perawat atau bidan yang berlisensi di komunitas Sedangkan Carl O. Helvie (1998) berfokus pada konsep energy atau memasukan teori

energy di dalam diagnosis keperawatan kesehatan komunitas. Salah satu dari diagnosis menurut Helvie ini adalah sebagai berikut: Defisit energy komunitas berhubungan dnegan ketidakmampuan dan ketidaksesuaian layanan kesehatan bagi masyarakat miskuin yang ditunjukan dengan a) kurangnya fasilitas layanan kesehatan; b) kurangnya pengetahuan terhadap pencegahan, data yang mendukung 3000 masyarakat miskin tidak mendapatkan layanan kesehatan: 90% (2700 orang) dari populasi ini berobat ke unit gawat darurat untuk kasus yang bukan gawat darurat dan 90% populasi miskin tidak dapat mendiskusikan perilaku pencegahan yang bisa dilakukan. Peranan yang dapat dilakukan oleh perawat dalam menangani masalah kesehatan masyarakat perkotaan yaitu pelaksanan pelayanan keperawatan, pendidik, pengamat kesehatan, koordinator pelayanan kesehatan, pembaharu, pengorganisir pelayanan kesehatan, role model, fasilitator, tempat bertanya/fasilitator, pengelola/manager.

.3.3

Perencanaan

Langkah-langkah dalam perencanaan yang perlu diperhatikan (Effendy, F. & Makhfudli, 2009): a. Menggunakan Model Model digunakan dalam mengidentifikasi karakteristik target populasi untuk intervensi, menjelaskan sasaran program, menetapkan intervensi keperawatan dan hasilnya. (Allender, J.A. & Spradley, B. W., 2001) Omaha System, fokus utama model ini adalah perawatan komunitas yang mempunyai tiga rencana yaitu klasifikasi masalah, intervensi, dan nilai skala masalah untuk hasil. Model ini melibatkan 40 klien bermasalah yang diagi dalam 4 domain: lingkungan, psikososial, fisiologis, dan perilaku sehat dengan tanda dan gejalanya. Omaha system ini menggambarkan situasi yang ditemukan di klien komunitas. The Health Planning Process Hal ini banyak digunakan oleh pendidik kesehatan (health educator) ketika membuat . mendesign program program pendidikan. Proses keperawatan hamper sama dengan proses perencanaan kesehatan (The health planning process). Masing-masing model tersebut membantu mempromosikan pelayanan kesehatan yang efektif . b. Menentukan prioritas
40

Melalui pengkajian, perawat dapat mengidentifikasi respon komunitas yang aktual atau potensial yang memerlukan suatu tindakan. Salah satu system yang biasa digunakan adalah hierarki komunitas. Kebutuhan Maslow :
Aktualisasi diri

Kebutuhan Komunitas :
Aktualisas komunitas

Harga Diri Kasih sayang dan rasa memiliki

Kebanggaan komunitas Pendidikan partisipasi Keamanan perlindungan

aman Fisiologi Aktivitas yang mendukung kehidupan

c. Menentukan kriteria hasil Penentuan kriteria hasil (outcomes) harus ditujukan untuk komunitas. Kriteria hasil harus menunjukkan apa yang akan dilakukan komunitas serta kapan dan sejauh mana tindakan akan bisa dilakukan. Kriteria hasil harus spesifik, dapat diukur, dapat dicapai, rasional, dan ada batas waktu. d. Menentukan Rencana Tindakan Rencana tindakan adalah desain spesifik intervensi untuk membantu komunitas dalam mencapai kriteria hasil. Rencana tindakan dilaksanakan berdasarkan komponen penyebab dari diagnosis keperawatan. oleh sebab itu, rencana mendefinisikan suatu aktivitas yang diperlukan untuk membatasi faktor-faktor pendukung terhadap suatu permasalahan. e. Dokumentasi Rencana tindakan keperawatan ditulis dalam suatu bentuk yang bervariasi guna mempromosikan perawatan yang meliputi perawatan individu, keluarga, dan komunitas ; perawatan yang berkesinambungan ; komunikasi ; dan evaluasi. Dokumentasikan hal-hal yang telah dilakukan mulai dari waktu, kegiatan apa saja yang telah dilakukan, perawat dan tenaga kesehatan yang hadir, klien (siapa saja yang ada/hadir dan jumlanhnya), hingga respon klien sebelum, saat dan setelah kegiatan dilakukan. Dokumentasi ini sebagai bukti legal keperawatan dan juga sangat penting ketika perawat mengevaluasi asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan. Beberapa hal yang harus diperhatian dalam dokumentasi (Allender, J.A. & Spradley, B. W., 2001), (1) database (informasi subjektif dan objektif); (2) Aggregate needs, merupakan area yang yang berhubungan dengan kesehatan klien yang dapat diidentifikasi untuk intervensi; (3)objectives, merupakan pernyataan yang
41

menggambarkan tingkah laku dimana perawat dan klien mengharap hal ini dapat terpenuhi/pernyataan spesifik tentang hasil yang diinginkan dalam tingkah laku yang dapat diukur.: (4) planned actions merupakan aktivitas yang spesifik atau metode untuk pemenuhan sesuatu yang objektif atau hasil yang diharapkan; (5) Outcome measurement, menilai keefektivitasan pencapaian apakah hasil yang diperoleh sesuai dengan kebutuhan dan keinginan atau tidak.

.3.4

Implementasi
Ruang lingkup praktik keperawatan masyarakat meliputi: upaya-upaya peningkatan

kesehatan (promotif), pencegahan (preventif), pemeliharaan kesehatan dan pengobatan (kuratif), pemulihan kesehatan (rehabilitatif) dan mengembalikan serta memfungsikan kembali baik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat ke lingkungan sosial dan masyarakatnya (resosialisasi). Berbeda dengan asuhan keperawatan individu ataupun keluarga, asuhan keperawatan untuk masyarakat perkotaan berfokus pada pencegahan penyakit pada sebuah populasi (preventif) dan kontrol lingkungan (promotif) (Nies, 2001). Sehingga dapat dikatakan dalam memberikan asuhan keperawatan masyarakat perkotaan (komunitas) kegiatan yang ditekankan adalah upaya preventif dan promotif tapi juga tidak mengabaikan upaya kuratif, rehabilitatif dan resosialitatif. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah:
-

Menetapkan tujuan dan sasaran pelayanan, tujuan terdiri dari tujuan umum dan khusus. Tujuan umum meliputi hal-hal general berkaitan dengan masalah keperawatan masyarakat perkotaan yang ingin dicapai perawat melalui asuhan keperawatan yang sedang dibuat. Tujuan ini harus lebih dispesifikasikan lagi kedalam tujuan khusus agar nantinya perawat dapat menentukan indikator/kriteria keberhasilan yang lebih spesifik juga.

Menetapkan rencana kegiatan untuk mengatasi masalah kesehatan dan keperawatan. Pada tahap sebelumnya dalam proses keperawatan perawat akan melakukan serangkaian pengkajian (mulai dari pengumpulan data serta analisa data yang didapatkan) dan kemudian dari hasil analisa data, perawat akan menentukan masalahmasalah keperawatan (diagnosa keperawatan) yang terjadi dalam masyarakat perkotaan. Diagnosa tersebut harus disusun berdasarkan masalah yang prioritas, aktual dan resiko. Penetapan rencana kegiatan yang akan dibuat mengacu pada diagnosa keperawatan yang telah ditetapkan. Setiap kegiatan yang akan dilakukan harus memiliki dasar pemikiran yang kuat (rasional).
42

Menetapkan kriteria keberhasilan dari rencana tindakan yang akan dilakukan. Setiap asuhan yang diberikan oleh perawat tentunya memiliki tujuan tertentu. Untuk mengetahui apakah tujuan dari setiap kegiatan yang telah direncanakan tercapai atau tidak, maka perawat harus metapkan pula hal-hal yang menjadi tolak ukur (kriteria/indikator) keberhasilan. Misalnya, salah satu tujuan dalam askep ialah masyarakat memahami cara pencegahan DBD, maka indikator keberhasilannya ialah masyarakat (perwakilan/sampel) mampu menyebutkan semua cara yang sebelumnya telah dijelaskan oleh perawat (3M plus).

Menetapkan kegiatan alternatif jika kegiatan yang akan dilakukan memiliki potensi sulit dilakukan untuk masyarakat. Prinsip yang umum digunakan dalam pelaksanaan atau implementasi pada

keperawatan komunitas adalah : a. Inovative Perawat kesehatan masyarakat harus mempunyai wawasan luas dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi (IPTEK) dan berdasar pada iman dan taqwa (IMTAQ) (Mubarak, 2005). b. Integrated Perawat kesehatan masyarakat harus mampu bekerjasama dengan sesama profesi, tim kesehatan lain, individu, keluarga, kelompok dan masyarakat berdasarkan azas kemitraan (Mubarak, 2005). c. Rasional Perawat kesehatan masyarakat dalam melakukan asuhan keperawatan harus menggunakan pengetahuan secara rasional demi tercapainya rencana program yang telah disusun (Mubarak, 2005). d. Mampu dan mandiri Perawat kesehatan masyarakat diharapkan mempunyai kemampuan dan kemandirian dalam melaksanakan asuhan keperawatan serta kompeten (Mubarak, 2005). e. Ugem Perawat kesehatan masyarakat harus yakin dan percaya atas kemampuannya dan bertindak dengan sikap optimis bahwa asuhan keperawatan yang diberikan akan tercapai. Dalam melaksanakan implementasi yang menjadi fokus adalah : program kesehatan komunitas dengan strategi : komuniti organisasi dan partnership in community (model for nursing partnership) (Mubarak, 2005). Implementasi meliputi persiapan dan tindakan. Dalam persiapannya, tenaga professional dan klien harus mempunyai ide yang jelas tentang apa, bagaimana, siapa, kapan,
43

dimana dan bagaimana rencana (asuhan keperawatan) akan dilaksanakan. Sedangkan dalam tindakannya, ada beberapa tindakan yang perlu diambil dalam implementasi, diantaranya (Allender, J.A. & Spradley, B. W., 2001) : a. Perawat menggunakan teori yang tepat b. Perawat membantu memfasilitasi lingkungan yang kondusif untuk melaksanakan rencana seperti ruangan yang tenang yang digunakan untuk sesi belajar (teaching). c. Perawat dengan tim kesehatan lain menyiapkan klien untuk pelayanan dengan mengkaji pengetahuan klien, pemahamannya, serta sikap dan degan hati hati, menginterpretasikan rencana kepada klien. Interaksi ini dapat membina hubungan saling percaya antara perawat dan klien. d. Rencana dimodifikasi dan kemudian dilaksanakan oleh professional atau klien. Modifikasi membutuhkan observasi yang konstan dan simpangan selama implementasi karena tindakan ini menentukan kesuksesan rencana. e. Perawat dan tim monitor, mendokumentasikan perkembangan fase implementasi dengan proses evaluasi yang merupakan pencapaian tindakan yang terus menerus dari tindakan perencanaan. Tugas dalam implementasi (Clark, M.J., 1999): a. Mengidentifikasi kebutuhan pengetahuan dan kemampuan. Contohnya ; pengetahuan tentang tindakan kontrasepsi dan perkembanagan remaja dibutuhkan untuk

mengimplementasikan rencana untuk meningkatkan penggunaan kontrasepsi yang marak digunakan pada aktivitas seksual remaja. b. Menunjukkan tanggungjawab dalam implementasi Tanggungjawab perencaan perawatan dipegang oleh perawat komunitas. c. Delegation. Untuk meraih delegasi yang efektif, perawat komunitas perlu

mengidentifikasi dengan tepat apa yang dibutuhkan serta harus dilaksanakan dan mana yang menjadi prioritas untuk pencapaian hasil. Kemudian perawat mencocokkan keduanyauntuk memenuhi tugas delegasi yang tepat. d. Mengakui rintangan dalam implementasi. Idealnya, intervensi yang dipilih diidentifikasi selama evaluasi pendekatan alternative untuk menyelesaikan masalah, tetapi point ini berfungsi untuk melihat kembali beberapa batasan (hambatan) yang mungkin timbul selama perencanaan. e. Menyediakan lingkungan untuk implementasi, contohnya menyediakan kenyamanan dan kemanan klien selama implementasi, termasuk waktu, personnel, dan peralatan.

44

f. Melaksanakan aktivitas/tindakan yang direncanakan. Tindakan yang direncanakan dilaksanakan oleh seseorang yang diberi tanggungjawab. Tindakan ini dapat terjadi pada level pencegahan primer, sekunder, atau tersier tergantung kebutuhan klien.

2.3.5 Evaluasi
Evaluasi merupakan komponen penting dalam proses keperawatan untuk menilai apakah askep yang telah dilaksanakan berhasil atau tidak. Evaluasi yang dilakukan termasuk dari pendapat/respon peserta (klien) dan juga analisis dari perawat (Nies, 2001). Dari evaluasi yang dilakukan perawat akan menemukan kelebihan dan kekurangan dari kegiatan yang telah dilakukan. Dari situlah perawat dapat menilai apakah kegiatan yg dilakukan optimal atau tidak jika nantinya diberikan kembali ke dalam masyarakat. Pada intinya tujuan dari tahap ini adalah sebagai bahan acuan utnuk tindak lanjut asuhan keperawatan yang akan dilakukan berikutnya. Evaluasi memuat keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan keperawatan. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan membandingkan antara proses dengan pedoman atau rencana proses tersebut. Sedangkan keberhasilan tindakan dapat dilihat dengan membandingkan antara tingkat kemandirian masyarakat dalam perilaku kehidupan sehari-hari dan tingkat kemajuan kesehatan masyarakat komunitas dengan tujuan yang telah ditetapkan atau dirumuskan sebelumnya (Mubarak, 2005). Evaluasi dilakukan atas respon komunitas terhadap program kesehatan dalam upaya mengukur kemajuan terhadap tujuan obyektif program. Data evaluasi merupakan hal penting untuk memperbaiki database dan diagnosis keperawatan komunitas yang dihasilkan dari analisis pengkajian data komunitas.Hal-hal yang perlu dievaluasi adalah masukan (input), pelaksanaan (proses) dan hasil akhir (output). Penilaian yang dilakukan berkaitan dengan tujuan yang akan dicapai, sesuai dengan perencanaan yang telah disusun semula. Sejalan dengan landasan teoretis dalam menjalin kemitraan dengan komunitas, program evaluasi yang kita jalankan didasarkan pada beberapa prinsip ((Lundy, 2009) yaitu: a. Memperkuat Program Tujuan perawatan adalah promosi kesehatan dan peningkatan kepercayaan diri komunitas. Evaluasi membantu pencapaiain ini dengan cara menyediakan proses yang sistematik dan berkelanjutan dalam mengakaji program dampaknya serta hasil akhir program tersebut. b. Menggunakan Pendekatan Multipel

45

Selain pendekatan multidisiplin, metode evaluasi mungkin banyak dan bermacammacam. Tidak ada satu pendekatan yang lebih unggul, tetapi metode yang dipilih harus sealan anegan tujuan program. c. Merancang Evaluasi untuk Memenuhi Isu Nyata Program berbasis dan berfokus-komunitas, yang berakar pada comunitas nyata dan berdasarkan pengkajian comunitas, harus memiliki rancangan evalausi untuk mengukur kriteria mengenai pentingnya program tersebut bagi komunitas. d. Menciptakan proses partisipasi Apabila anggota komunitas merupakan bagian dari pengkajian, analisis, perencanaan, dan implementasi, merekapun harus menjadi mitra dalam evaluasi. e. Memungkinkan Fleksibilitas Pendekatan evaluasi harus fleksibel dan bersifat prestiktif; jika tidak, akan sulit untuk mendokumentasikan munculnya perubahan yang sering kali meningkat secara tajam dan komplek. f. Membangun Kapasitas Proses evaluasi, selain mengukur hasil akhir, harus meningkatkan ketrampilan, pengetahuan, dan perilaku individu yang terlibat didalamnya. Hal ini serupa dengan kontek profesional maupun nonprofesional. Komponen penting dalam fokus evaluasi (Lundy, 2009) adalah: a. Relevansi atau hubungan antara kenyataan yang ada dengan pelaksanaan b. Perkembangan atau kemajuan proses c. Efisiensi biaya d. Efektifitas kerja e. Dampak : apakah status kesehatan meningkat/menurun, dalam jangka waktu berapa? Perubahan ini dapat diamati seperti gambar dibawah ini:

Gambar 2.1 Perubahan dampak kesehatan

Keterangan: : peran masyarakat : peran perawat


46

Evaluasi ada 2 konsep dasar : hasil evaluasi dan proses evaluasi. (Allender, J.A. & Spradley, B. W., 2001). Hasil evaluasi merupakan pengkajian dari intervensi keperawatan, sedangkan proses evaluasi merupakan pemeriksaan kualitas dari tindakan yang telah diambil dan proses yang digunakan untuk mencapai hasil. Proses evaluasi terdiri atas dua tahap yaitu mengukur pencapaian tujuan klien baik kognitif, afektif, psikomotor, dan perubahan fungsi tubuh serta gejalanya ; dan membandingkan data yang terkumpul dengan tujuan dan pencapaian tujuan. Evaluasi memerlukan maksud/tujuan, standar yang spesifik dan kriteria yang digunakan untuk menilai/menghakimi, dan kemampuan untuk menilai/menghakimi (judgment skills). Tujuan dari evaluasi dalam keperawatan adalah untuk menentukan apakah tindakan perencanaan sesuai dengan yang klien butuhkan. Contohnya ; evaluasi digunakan untuk menentukan keefektifan program kelompok promosi kesehatan yang berhubungan dengan orangtua. Kriteria merupakan langkah yang diperlukan untuk mencapai pencapaian besar, yaitu sasaran (the goal). Contohnya, perempuan penderita diabetes mempunyai masalah kegemukan. Maka perawat komunitas dapat membantunya dengan mnyertakan klien tersebut dalam program penurunan berat badan. Misalnya, perempuan tadi direncanakan untk mendapatkan sasarannya (goal), dengan mengidentifikasi criteria spesifik seperti pembatasan kalori per harinya dan program latihan. Mereka mengevaluasi goal mereka dengan

menentukan/menilai apakah mereka mendapatkan kriteria tersebut atau tidak. Evaluasi memerlukan judgment skills dimana perawat dapat membandingkan hasil yang nyata dengan hasil yang diharapkan dan mencari ketidaksesuainnya. Ketika tingkah laku (behavior) klien cocok dengan tingkah laku yang diinginkan, maka sasarn tercapai. Jika sasaran tidak tercapai, perawat dapat menguji beberapa kemungkinan kegagalannya, diantaranya data yang tidak adekuat, diagnosis yang salah, rencana yang tidak realistis, atau implementasi yang tidak efektif. (Allender, J.A. & Spradley, B. W., 2001). Kesimpulan yang bisa diambil yaitu tujuan akhir perawatan komunitas adalah kemandirian keluarga yang terkait dengan lima tugas kesehatan, yaitu: mengenal masalah
kesehatan, mengambil keputusan tindakan kesehatan, merawat anggota keluarga, menciptakan

lingkungan

yang dapat mendukung upaya peningkatan kesehatan keluarga serta

memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia, sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pemecahan masalah keperawatan melalui proses asuhan keperawatan komunitas.

47

.4

Masalah Kesehatan yang Lazim Terjadi di Daerah Perkotaan terkait dengan Urban Health Disparity 2.4.1 Kebutuhan Kesehatan Khusus pada Bayi, Balita, Anak Sekolah, Remaja, Dewasa, Lansia, serta Agregat Pekerja di daerah Perkotaan Semakin banyaknya penduduk yang tinggal di perkotaan menunjukkan semakin cepatnya arus urbanisasi. Urbanisasi menjadi lebih cepat seiring dengan globalisasi industri dan teknologi ke seluruh dunia. Sebenarnya urbanisasi yang terencana akan membawa dampak yang positif terhadap pembangunan ekonomi, sosial dan kesehatan. Mereka yang hidup di kota cenderung memiliki akses yang lebih besar pada pelayanan sosial dan kesehatan, tingkat melek huruf lebih tinggi dan harapan hidup yang lebih lama. Namun, sebagian besar urbanisasi terjadi secara cepat dan tidak terencana. Kepadatan jumlah populasi di perkotaan yang tidak terkontrol akan memunculkan adanya kesenjangan, berbagai bentuk pengucilan dan

marjinalisasi, dan masalah lingkungan yang serius. Terdapat kesenjangan yang lebar antara orang-orang dari status sosial ekonomi yang berbeda. Urban health disparity didefinisikan sebagai perbedaan dalam mendapatkan kesempatan atau peluang untuk mencapai level kesehatan yang optimal, yang dialami oleh populasi yang kurang beruntung secara sosial (CDC, 2008). Sementara health inequities didefinisikan sebagai kesenjangan kesehatan yang sistematis, merupakan produk sosial (dan karena itu dapat dimodifikasi) (WHO dan UN-HABITAT, 2010). Health inequities adalah hasil dari keadaan dimana orang tumbuh, hidup, kerja dan usia, dan sistem kesehatan yang dapat mereka akses, yang dibentuk oleh kekuatan politik, sosial dan ekonomi. Karakteristik demografi (usia, jenis kelamin dan status sosio ekonomi penduduk kota) mempengaruhi kesehatan, baik di tingkat individu maupun keseluruhan populasi. Kelompok populasi tertentu memerlukan pertimbangan khusus karena mereka memiliki masalah kesehatan atau kebutuhan tertentu dalam lingkungan perkotaan. Dalam masyarakat perkotaan, tiap tahapan rentang umur memiliki kebutuhan kesehatan dan keamanan khusus. 1) Bayi/ Infant Karakteristik pertumbuhan fisik bayi di tahun pertama kehidupan ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangan yang cepat, dengan berat lahir biasanya dua kali lipat dalam 6 bulan pertama dan menjadi tiga kali lipat pada akhir tahun pertama. ASI. Ketahanan hidup dan keberhasilan tumbuh kembang bayi bergantung pada nutrisi yang baik selama tahun pertama kehidupan. Nutrisi atau pemilihan makanan untuk bayi dipengaruhi oleh faktor sosial-ekonomi, budaya, ras, dan etnik. Perbedaan status ekonomi diantara masyarakat perkotaan
48

menyebabkan adanya perbedaan pula terhadap karakteristik kesehatan bayi. Bayi yang berasal dari keluarga ekonomi lemah, sebagian besar lahir dengan berat lahir rendah (low birth weight; < 2500 gram) atau bahkan sangat rendah (very low birth weight; < 1500 gram) (Hitchcock et all., 1999). Hal ini disebabkan karena kurangnya nutrisi ibu selama kehamilan sehubungan dengan rendahnya pendapatan keluarga untuk menyediakan nutrisi yang cukup. Kasus malnutrisi juga banyak dialami oleh mereka yang status ekonominya rendah. Jika status gizi ibu terganggu, maka kemampuannya untuk menghasilkan ASI dengan kandungan nutrisi yang tepat akan terganggu pula. ASI yang diberikan kepada bayi kurang mengandung nutrien karena si ibu tidak mengkonsumsi makanan yang cukup nutrisinya untuk kebutuhan tumbuh kembang si bayi. Padahal ASI merupakan sumber ideal nutrisi dan energi untuk bayi selama 4 sampai 6 bulan pertama (Hitchcock et all., 1999). Selain itu, bayi yang kurang mendapat asupan nutrisi dapat mengalami kelainan kongenital yang berujung pada kecacatan ataupun penyakit kronis. Contoh kondisi kelainan kongenital antara lain adalah hidrocephalus, bibir sumbing, intestinal atresia, down syndrome, malformasi tulang dsb. Pada masyarakat perkotaan, para ibu banyak yang bekerja sehingga ada kemungkinan mereka memutuskan untuk tidak menyusui bayinya, dan lebih memillih pemberian susu formula. Hal ini menyebabkan bayi yang menderita reaksi infeksi dan alergi. Bayi yang diberi ASI memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik daripada bayi yang diberi susu formula karena dalam ASI terkandung immunoglobulin yang penting untuk melawan infeksi dan alergi. Pada tahapan perkembangan psikososial, bayi berada pada tahapan basic trust vs mistrust (Hitchcock et.all., 1999). Pemberian ASI oleh ibu sangat penting pada tahap ini karena dapat menjadi awal terbentuknya ikatan antara ibu dan anak. Kondisi-kondisi seperti bayi dengan berat lahir rendah, malnutrisi, kelainan kongenital, kecacatan, dan kondisi kronis penyakit, menyebabkan tingginya angka mortalitas dan morbiditas pada bayi di daerah perkotaan (Hitchcock et all., 1999). Selain itu tingginya angka kematian bayi juga didukung sebagai akibat langsung dari kontaminasi air dan sanitasi yang buruk. Penyakit gastrointestinal dapat menyebabkan kekurangan gizi dan kematian, terutama di kalangan bayi karena imunitasnya belum sempurna berkembang. Pneumonia dan penyakit diare adalah penyebab utama kematian anak secara global, dan menjadi masalah tertentu di daerah perkotaan karena kepadatan, polusi udara dan minimnya akses masyarakat miskin terhadap pelayanan kesehatan, terutama berkaitan dengan imunisasi.
49

Perkembangan kognitif bayi berada pada tahap sensorimotorik (Hitchcock et all., 1999). Pada tahap tersebut bayi menggunakan indera dan keterampilan motorik untuk belajar tentang dunia. Sementara itu berdasarkan tahapan perkembangan psikoseksual, bayi berada pada tahap oral. Pada tahap tersebut bayi merasakan kesenangan melalui mulut atau berfokus pada aktivitas oral. Oleh karena bayi berada pada kedua tahap perkembangan tersebut, maka berdampak pada aspek keamanannya. Bayi seringkali juga mengalami cidera atau injuri. Bayi memiliki tingkat cidera tertinggi kedua dari semua kelompok anak-anak (Stanhope & Lancaster, 2000). Keterampilan motorik yang belum matang tidak memungkinkan bayi untuk melarikan diri dari cidera. Cidera yang seringkali dialami bayi antara lain seperti tersedak, luka bakar, aspirasi. Kondisi lain yang turut menyebabkan tingginya angka kematian bayi dan termasuk masalah kesehatan pada bayi adalah SIDS (Sudden Death Infant Syndrome). SIDS lebih sering terjadi pada bayi yang premature dan berat lahirnya rendah dan kemungkinan juga pada bayi dengan infeksi saluran napas atas. Kasus SIDS ditemukan lebih banyak terjadi pada bayi laki-laki dan yang berasal dari status ekonomi rendah (Stanhope & Lancaster, 2000) 2) Balita (Toddler dan Pra Sekolah) Pertumbuhan fisik dan kemampuan motorik agak melambat saat memasuki masa balita. Balita mengalami penurunan nafsu makan dibandingkan pada masa bayi. Tahap perkembangan psikososial pada toddler adalah tahap autonomy vs shame/guilt (Hitchcock et all., 1999). Pada tahap ini, toddler mulai mengembangkan otonomi dan kontrol diri. Tahap perkembangan kognitif toddler berada pada tahap preoperasional. Sementara itu tahap perkembangan psikososial pada anak prasekolah adalah tahap initiative vs guilt (Hitchcock et all., 1999). Pada tahap ini anak merasa antusias untuk belajar hal yang baru dan berinisiatif. Masalah kesehatan yang dialami balita di masyarakat perkotaan hampir sama dengan kelompok bayi. Lingkungan yang buruk seperti polusi udara, kurangnya sanitasi dan kontaminasi air, kepadatan populasi, dan minimnya sarana kesehatan, mempermudah penyebaran penyakit menular (communicable disease). Balita di daerah perkotaan rentan terhadap kematian akibat penyakit malaria, DHF, pneumonia, asma dan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin seperti campak dan tuberkulosis. Hal ini karena pada masa ini, seharusnya balita masih mendapatkan imunisasi. Namun, karena kurangnya pengetahuan dan akses
50

terhadap layanan kesehatan mengakibatkan peningkatan jumlah anak yang tidak divaksinasi. Balita memiliki karakteristik aktif, rasa ingin tahu besar dan memiliki kemampuan logika yang relatif belum matang. Selain itu keterampilan motorik balita meningkat dan membuat pengawasan sulit. Oleh karena itu, balita paling sering mengalami jatuh, keracunan, serta kecelakaan kendaraan bermotor. Kasus keracunan yang seringkali dialami balita yaitu keracunan makanan dan keracunan timbal (plumbism). Keracunan timbal menjadi isu lingkungan utama yang mempengaruhi anak-anak. Plumbism ditemukan paling sering di antara balita dan anak prasekolah. Keracunan timbal terjadi karena kontaminasi lingkungan oleh limbah industri (Hitchcock et all., 1999). 3) Anak Sekolah Anak usia sekolah tumbuh lebih lambat dari balita dan bayi. Anak usia sekolah membutuhkan banyak kalori. Pemilihan makanan pada usia ini dipengaruhi oleh teman. Disamping makanan utama, pada usia ini anak suka jajan. Oleh karena itu pilihan jajanan atau makanan selingan yang dikonsumsi harus diperhatikan kebersihan dan nutrisinya. Di daerah perkotaan sering dijumpai jajanan yang tidak sehat dan kurang bersih, sehingga menimbulkan penyakit yang disebabkan mikroorganisme patogen. Selain itu, anak usia sekolah banyak mengkonsumsi gula. Oleh karena itu seringkali anak usia sekolah mengalami masalah pada gigi. Kandungan lemak, gula dan garam yang tinggi pada makanan olahan, makan makanan siap saji dan makanan ringan yang dibeli dari pedagang kaki lima, restoran dan gerai makanan cepat saji yang telah meningkat jumlahnya di sebagian besar kota, menyebabkan terjadinya obesitas pada anak usia sekolah. Tahap perkembangan psikososial anak usia sekolah adalah tahap industry vs inferiority (Hitchcock et all., 1999). Pada tahap ini, anak sedang mengembangkan harga diri dan menjadi aktif terlibat dalam beberapa kegiatan di rumah, sekolah, dan masyarakat. Hal ini penting untuk mengembangkan keterampilan kognitif dan sosial Kepuasan anak usia sekolah dalam mencapai sukses untuk mengembangkan keterampilan baru, membawanya pada peningkatan rasa harga diri dan tingkat kompetensi. Sementara itu, tahap perkembangan kognitif anak usia sekolah adalah tahap concrete operation (Hitchcock et all., 1999). Mereka mampu melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain dan memikirkan tindakan, mengantisipasi konsekuensi dan kemungkinan untuk memikirkan kembali tindakan. Pada usia sekolah, cidera jarang terjadi. Sebab dan akibat cidera bervariasi dengan level
51

umur dan perkembangan. Hal ini menunjukkan perbedaan kemampuan kognitif, persepsi, motorik dan bahasa . Masalah lain yang kemungkinan bisa terjadi pada anak usia sekolah adalah ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). ADHD dikarakteristikan dengan perhatian yang kurang, perilaku impulsive, dan hiperaktifitas. Anak yang hiperaktif memiliki kesulitan dengan sekolah, interaksi dengan teman dan

tindakan yang tidak dapat diterima (Clark, 1999). Kasus kekerasan pada anak juga banyak terjadi pada usia sekolah. Kekerasan pada anak dapat kategorikan sebagai kekerasan fisik, emosional, seksual atau kombinasi ketiganya (Hitchcock et all., 1999). Kekerasan yang terjadi pada anak menyebabkan tauma fisik dan mental pada anak. 4) Remaja dan Dewasa Muda Remaja dan dewasa muda berumur antara 15 sampai 24 tahun. Selama tahap kehidupan, remaja dan dewasa muda memiliki akses terhadap zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan, seperti penggunaan alkohol, tembakau, obat-obatan, dan seks bebas, serta perilaku baik, seperti olahraga secara rutin dan diet sehat untuk meningkatkan kesehatan. Pada saat ini, karakteristik seksual meningkat, dan tercapai kematangan reproduksi. Umumnya, anak perempuan memasuki masa puber lebih awal dari anak laki-laki (umur 9 sampai 10 untuk anak perempuan dan 10 sampai 11 untuk anak laki-laki). Kulit menjadi lebih tebal dan lebih keras selama masa pubertas. Pengaruh androgen pada laki-laki dan perempuan, kelenjar sebasea menjadi aktif, terutama pada wajah, leher, bahu, punggung atas, dada, dan alat kelamin. Kelenjar sebaceous dapat menjadi tersumbat dan meradang,

menyebabkan jerawat yang umum pada remaja. Pada laki-laki, perkembangan seksual dimulai dengan pembesaran testis. Karena testis tumbuh, skrotum juga ikut membesar, dan kulit skrotum menjadi lebih gelap dan rambut muncul pada dasarnya. Selama periode ini, pertumbuhan tinggi badan secara keseluruhan mulai berjalan cepat. Pada perempuan, pembesaran payudara merupakan tanda pertama pubertas dimulai. Rambut tipis sepanjang labia juga muncul. Selama tahap ini perkembangan tinggi dimulai, disertai dengan timbunan lemak. Beberapa sindrom tidak dapat didiagnosis hingga usia remaja. Gangguan genetik sering ditemukan pada anak dengan perkembangan pubertas yang tertunda. Sindrom Turner disebabkan oleh tidak adanya salah satu kromosom X pada wanita dengan 3 ciri-ciri: perawakan pendek, infantilisme seksual, dan
52

amenore. Sindrom Klinefelter disebabkan oleh adanya satu atau lebih tambahan kromosom X pada laki-laki. Meskipun remaja mampu mengidentifikasi masalah kesehatan diri sendiri, mereka sering enggan mencari perawatan kesehatan. Faktor-faktor berikut mempengaruhi kesehatan remaja dalam pemanfaatan perawatan layanan, 1) keparahan penyakit; 2) durasi tanda dan gejala; 3) pembatasan rutinitas sehari-hari; 4) biaya; 5) ketersediaan penyedia, compotent simpatik, 6) kesadaran akan kebutuhan untuk perawatan Diet yang seimbang penting untuk pertumbuhan yang optimal selama masa remaja, gizi buruk dapat menghambat pertumbuhan dan menunda pematangan seksual. Salah satu penyakit yang di derita remaja dan dewasa muda adalah anoreksia nervosa, terutama remaja perempuan, walaupun juga terjadi pada lakilaki (Neinstain, 1991). Gejala yang terjadi mungkin termasuk kelaparan dengan penurunan berat badan yang signifikan, amenore, aktivitas fisik kompulsif, dan citra tubuh yang terdistorsi. Selain itu terdapat juga prnyakit bulimia nervosa, yaitu pola makan diikuti dengan muntah paksa dan / atau penggunaan

pencahar. Obesitas juga sering terjadi, yaitu berat badan 20% lebih besar dari berat badan ideal untuk tinggi badan tertentu. Obesitas dapat merugikan perkembangan remaja harga diri dan sosial. Penyalahgunaan zat (tembakau, alkohol, dan obat-obatan terlarang) biasanya terjadi pada remaja yang memiliki prestasi sekolah rendah, teman-teman yang merokok, dan harga diri rendah. Peningkatan aktivitas seksual di kalangan remaja telah menyebabkan peningkatan STD. Infeksi virus gangguan imunitas, virus yang terkait dengan AIDS meningkat di kalangan remaja. Ancaman lain bagi remaja yaitu kekerasan. Ini merupakan suatu ancaman tersendiri bagi remaja dan sangat tidak bagus untuk perkembangan anak. 5) Dewasa Tingkat mortalitas untuk orang dewasa telah mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, tetapi kanker masih merupakan penyebab utama kematian secara keseluruhan, diikuti oleh penyakit kardiovaskular. Tiga faktor risiko lain yang saling terkait yang berkontribusi terhadap penyakit dan kematian pada kelompok usia adalah kurang olahraga, kegagalan menjaga berat badan yang tepat, dan konsumsi alkohol. Beberapa hal yang dianggap sebagai pemicu dan dapat mempengaruhi kemungkinan terkena kanker adalah: Tembakau: penyebab utama kanker di paru-paru.
53

Paparan ultraviolet (UV). Terlalu banyak terpapar sinar matahari (yang berisi sinar UV) dapat mengakibatkan kanker kulit. Alkohol: berisiko lebih besar terkena beberapa jenis kanker. Paparan agen penyebab kanker, karsinogen, di lingkungan, termasuk di beberapa makanan.

Ada sejumlah pemeriksaan teratur, pemeriksaan kesehatan non invasif atau invasif minimal yang direkomendasikan untuk orang dewasa, seperti pemeriksaan untuk hipertensi, diabetes, kolesterol, darah tinggi, dan kanker. Kematian untuk penyakit kardiovaskuler pada orang dewasa telah cukup berkurang, tetapi masalah kesehatan akibat perilaku tidak sehat (seperti merokok dan minum) dapat

dikurangi jika dewasa bersedia untuk memodifikasi perilaku mereka. 6) Lansia Status kesehatan lansia telah meningkat, baik dari segi hidup lebih lama dan tetap fungsional. Masyarakat perlu untuk menangani kebutuhan khusus untuk lansia seperti dari pendapatan, perumahan, perawatan pribadi, perawatan kesehatan, transportasi, dan fasilitas masyarakat dan layanan untuk orang tua. Adapun beberapa faktor yang dihadapi para lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka adalah sebagai berikut: (a) Penurunan Kondisi Fisik Setelah memasuki masa lansia umumnya terjadi perubahan patologis, misalnya tenaga berkurang, kulit keriput, gigi makin rontok, tulang makin rapuh, dsb. Secara umum kondisi fisik seseorang yang sudah memasuki masa lansia mengalami penurunan secara berlipat ganda. Hal ini dapat menimbulkan gangguan atau kelainan fungsi fisik, psikologik maupun sosial, yang selanjutnya dapat menyebabkan suatu keadaan ketergantungan kepada orang lain. (b) Penurunan Fungsi dan Potensi Seksual Penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali berhubungan dengan berbagai gangguan fisik seperti, gangguan jantung, gangguan metabolisme, misal diabetes mellitus, vaginitis, baru selesai operasi: misalnya prostatektomi, kekurangan gizi karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu makan sangat kurang, dan penggunaan obatobat tertentu, seperti antihipertensi, golongan steroid, tranquilizer. (c) Perubahan Aspek Psikososial
54

Lansia

umumnya

mengalami

penurunan

fungsi

kognitif

dan

psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik (konatif) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat lansia menjadi kurang cekatan. Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga mengalami perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepribadian lansia. (d) Perubahan yang Berkaitan dengan Pekerjaan Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun tujuan pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau jaminan hari tua, namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya, karena pensiun sering diartikan sebagai kehilangan penghasilan,

kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, position dan harga diri. Reaksi setelah orang memasuki masa pensiun lebih tergantung dari model kepribadiannya seperti yang telah diuraikan pada point tiga di atas. (e) Perubahan dalam Peran Sosial di Masyarakat Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia. Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang, penglihatan kabur dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan. Hal itu sebaiknya dicegah dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang bersangkutan masih sanggup, agar tidak merasa terasing atau diasingkan. 7) Aggregat Pekerja Masalah kesehatan agregat pekerja di perkotaan umumnya berkaitan dengan faktor lingkungan, perilaku dan akses pelayanan kesehatan, serta kependudukan. Pertumbuhan kota biasanya diikuti oleh industrialisasi, munculnya kawasan industri akan menimbulkan derajat pencemaran dan berdampak buruk terhadap lingkungan kehidupan masyarakat perkotaan. Bertentangan dengan perubahan kota yang amat pesat, sistem pelayanan kesehatan kota di banyak negara berkembang termasuk Indonesia kurang dinamis dan pendekatannya masih relatif sama dengan pedesaan. Sebagai akibat perkembangan kota yang sangat cepat dan dinamis akan
55

berdampak pada perkembangan dan masalah kesehatan masyarakat yang khas perkotaan (Depkes RI). Penyakit yang timbul karena hubungan kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja. Ada beberapa jenis penyakit yang sering ditemukan pada agregat pekerja menurut Keputusan Presiden RI Nomor 22/1993 tentang penyakit yang timbul karena hubungan kerja yaitu: Pnemokoniosis yang disebabkan debu mineral pembentuk jaringan parut (silikosis, antrakosilikosis, asbestosis) dan silikotuberkolosis yang silikosisnya merupakan faktor utama penyebab cacat atau kematian; penyakit paru dan saluran pernapasan (bronkhopulmoner) yang disebabkan oleh debu logam keras, debu kapas, vlas, henep dan sisal (bissinosis); asma akibat kerja yang disebabkan oleh penyebab sensitisasi dan zat perangsang; alveolitis allergika yang disebabkan oleh faktor dari luar sebagai akibat penghirupan debu organik, penyakit yang disebabkan oleh logam atau persenyawaannya yang beracun; penyakit akibat alcohol, glikol, keton, gas atau uap; kelainan pendengaran dan polusi udara, radiasi, kanker, pencemaran bahan kimia (Ferry & Makhfudli, 2009). Faktor lain yang mempengaruhi status kesehatan agregat pekerja yaitu pelayanan kesehatan kerja, perilaku kerja, kapasitas, beban kerja, dan lingkungan kerja. Contoh kapasitas kerja yang baik adalah ketika seorang pekerja mendapatkan gizi yang baik, memiliki status kesehatan dan kondisi fisik yang prima, maka pekerja tersebut akan dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Beban kerja yang terlalu berat juga dapat memicu terjadinya stress pada agregat pekerja, sehingga dapat menimbulkan gangguan mental dan fisik. Hal lain yang berkontribusi mempengaruhi kesehatan pada agregat pekerja adalah lingkungan kerja. Lingkungan kerja yang panas, bising, berdebu, terpapar zat kimia dan lain sebagainya dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada agregat pekerja. Gangguan kesehatan atau penyakit yang didapatkan dari tempat kerja ini bukan hanya membahayakan diri pekerja itu sendiri, tetapi dapat membahayakan keluarga dan orang terdekatnya. (Stanhope & Lancaster, 1996). Hubungan antara pekerjaan dan pengaruhnya terhadap kesehatan dapat digambarkan melalui bagan berikut.

56

Host Pekerja & Keluarga Pekerja

Agent: Bahaya yang didapatkan dari tempat kerja (biological, chemical, ergonomic, physical, psychosocial) (Stanhope & Lancaster, 1996)

Environment: Seluruh faktor eksternal yang mempengaruhi interaksi host-agent , fisik dan sosial

Agregat pekerja yang masih berusia muda rentan mengalami penyakit menular seksual, hepatitis dan kehamilan. Pekerja yang lebih muda lagi berisiko mangalami kecelakaan kerja berhubungan dengan keterbatasan keahlian dan kurang pelatihan kerja. Pekerja dengan usia menengah berisiko mengalami serangan jantung dan kanker. Pekerja di usia lanjut akan rentan mengalami kecelakaan kerja yang diakibatkan oleh penurunan kapasitas muskuloskeletal dan fungsi sensorik (Mary Jo Clark, 1999).

2.4.2 Penyakit akibat Pencemaran Udara, Air, dan Suara 1) Penyakit akibat Pencemaran Udara Pencemaran udara didefinisikan sebagai berbagai macam partikel yang mengontaminasi udara (debu, asap, kabut, dan asap rokok), polutan gas (gas dan uap), serta bau yang mencemari udara (Kjellstrom, Lodh, McMichael, dkk, 2006). Partikel ini dapat berupa gas belerang dioksida, nitrogen dioksida, partikel asap knalpot, batubara, kabut asap, pestisida, dll. Polutan gas dapat berupa senyawa belerang, senyawa nitrogen, dan amonia. Sedangkan bau dihasilkan dari pembakaran senyawa-senyawa organik yang mengganggu dan menimbulkan rasa tidak nyaman. Terdapat tiga tipe utama pencemaran udara yang memiliki dampak buruk terhadap kesehatan manusia. Pertama, emisi dari pembangkit tenaga listrik dan
57

pembakaran fosil yang menimbulkan sulfur oksida serta partikel kompleks yang berpotensi mengganggu kesehatan manusia. Kedua, photochemical oxidant, seperti ozon, panas yang bercampur dengan hidrokarbon, oksida nitrogen, dan karbon monoksida di dalamnya. Ketiga, macam-macam polutan individual, seperti arang, hidrogen sulfida, dan asbes (Jarvis, 1981). Bahan-bahan diatas umumnya dihasilkan oleh pabrik maupun kilang.Faktor-faktor yang memperparah

pencemaran udara, seperti penggunaan kendaraan bermotor terutama di perkotaan serta faktor alam seperti angin dan letak geografis (Clark, 1999). Polusi udara tentunya berdampak pada kesehatan manusia karena

menimbulkan berbagai penyakit yang mengancam kehidupan. Umumnya penyakit tersebut menyerang saluran pernapasan manusia. Terkait dengan penyakit yang ditimbulkan, polusi udara dibagi menjadi 2, yaitu polusi udara outdoor dan indoor. Polusi udara indoor terjadi karena polutan di dalam ruangan, biasanya dihasilkan oleh peralatan rumah tangga seperti formaldehid, karbon monoksida, karbon dioksida, asbes, bahan kimia lainnya, serta asap rokok. Salah satu faktor yang memperparah yaitu tren bangunan yang memiliki sedikit ventilasi udara, sehingga pertukaran udara di dalam ruangan dengan udara di luar menjadi sulit. Penyakit yang timbul karena pencemaran udara indoor ini diantaranya iritasi mata sampai gangguan pernapasan, gangguan hidung, tenggorokan, penyakit jantung, kerusakan sistem saraf pusat, dan berbagai macam kanker (Clark, 1999). Polusi udara outdoor disebabkan oleh pembakaran minyak bumi dan batu bara, limbah industri, pembakaran kayu serta area pertanian, juga pembangkit listrik. Penyakit yang timbul biasanya asma, penyakit jantung kronik, penyakit pernapasan akut, dan kanker paru-paru (Smith & Maurer, 1995). Beberapa

karsinogen juga ditemukan di udara perkotaan, seperti polosiklik hidrokarbon yang juga menyebabkan kanker. Semua itu merupakan dampak dari pencemaran udara khusunya di perkotaan. Cara untuk mengatasi pencemaran udara ini adalah dengan mengurangi emisi atau tingkat pencemaran yang ada. Misalnya, penggunaan bensin bebas timbal dan meminimalkan penggunaan solar. Sedangkan untuk masalah kesehatan yang sudah ada, sebaiknya dilakukan pencegahan, seperti menggunakan masker ketika di jalan raya, membangun rumah dengan ventilasi yang memadai, dan proteksi diri lainnya seperti mengonsumsi makan bergizi maupun vitamin. Selain itu juga bisa dilakukan dengan menjaga lingkungan tetap asri agar mampu menetralisir pulosi yang ada.
58

Penyakit akibat Pencemaran Air Ketersediaan air yang bersih dan aman sangat diperlukan demi terciptanya kesehatan. Tetapi berbeda dengan realita yang ada, air mengalami kontaminasi yang berbahaya untuk digunakan oleh masyarakat terutama masyarakat perkotaan. Ada tiga sumber utama kontaminasi air, yaitu industri, limbah air selokan, dan bahan kimia pertanian (Smith & Maurer, 1995). Walaupun industri menjadi sumber utama polusi, polutan juga berasal dari pertambangan, simpanan kimia di bawah tanah, septictank, dan penggunaan garam. Selain itu, pestisida dan pupuk juga bisa mencemari persediaan air yang menyebabkan polusi kimia air. Berbagai penyakit yang berasal dari polusi persediaan air, yaitu hepatitis, polio, mikroba yang mengakibatkan penyakit gastrointestinal, kanker kandung kemih dan kolorektal, gangguan system saraf pusat, iritasi kulit, alopecia, neuropatik peripheral, kejang, sirosis, anomali kongenital, anemia, gagal ginjal, esofagitis, gastritis, kanker perut, dan penyakit jantung (Clark, 1999). Selain itu terjadi pula iritasi atau peradangan pada mata dan hidung, kulit, dan sistem gastrointestinal, namun masalah kesehatan yang paling berbahaya berhubungan dengan paparan kronis (misalnya, toksisitas hati) tembaga dan kromium arsenik dalam air minum. Ekskresi bahan kimia melalui ginjal yang toksik bagi ginjal berupa bahan kimia seperti kadmium, tembaga, merkuri, dan klorobenzena (WHO 2003). Pestisida dan kontaminasi kimia lainnya yang masuk ke saluran air melalui pertanian dan limbah industri dapat bertahan di lingkungan. Zat kimia tersebut mengganggu fungsi sistem endokrin, sehingga terjadi gangguan reproduksi, perkembangan dan perilaku. Gangguan endokrin dapat mengurangi kesuburan dan meningkatkan resiko bayi lahir mati, cacat lahir, dan gangguan hormon yang meyebabkan kanker payudara, testis, dan kanker prostat. Efek pada perkembangan sistem saraf mencakup gangguan perkembangan mental, psikomotor, kognitif, dan kelainan perilaku (WHO and International Programme on Chemical Safety, 2002). Bahan kimia dalam air minum juga bersifat karsinogenik. Menanggulangi pencemaran air dapat dilakukan dengan menambahkan bahan kimia abate ke saluran air untuk meminimalkan kontaminasi. Hal lain yang dapat dilakukan adalah pertanian secara organik dan manajemen hama terpadu. Terkait dengan masalah kesehatan, cara mengatasi penyakit akibat polusi air yaitu dengan mengonsumsi air yang bersih, tidak tercemar, dan memasak air dulu sebelum
59

diminum. Pendidikan kesehatan juga mungkin dilakukan agar masyarakat semakin sadar dan peduli akan kelestarian air. 4 Penyakit akibat Pencemaran Suara Level dari pencemaran suara di masyarakat kita mengalami peningkatan secara drastis dan berdampak besar terhadap gangguan pendengaran. Masalah lain yang juga berhubungan dengan pencemaran suara meliputi stress, penyakit mental, ketidakmampuan bersosialisasi, dan kondisi patologis seperti aterosklerosis dan penyakit jantung. Polutan untuk pencemaran suara yang berdampak buruk terhadap kesehatan diantaranya suara bus, truk, sepeda motor, truk sampah, kereta, kendaraan off-road seperti pesawat terbang, motorboats, dan yang bersuara keras lainnya (Clark, 1999).Tingkat keparahan dari paparan pencemaran suara berkaitan dengan frekuensi dan intensitas kebisingan serta lama paparan. Efek psikologikal juga terpengaruhi dengan pencemaran suara ini, terutama pendengaran. Bukti menunjukkan bahwa paparan yang terlalu lama terhadap kebisingan berperan meningkatkan kecemasan dan stress emosional yang mungkin mengakibatkan mual, sakit kepala, dan impotensi. Terdapat dua kategori untuk gangguan akibat pencemaran suara ini, yaitu secara sosial dan klinik. Secara sosial misalnya kejengkelan, gangguan tidur, gangguan aktivitas sehari-hari, dan kinerja menurun. Sedangkan secara klinis seperti hipertensi, penyakit antung iskemik, dan gangguan jiwa (Hollander, Van Kempen, Hoogenven, 2000). Efek lainnya meliputi insomnia, penyakit kulit, kecelakaan, disritmia jantung, dan penggunaan obat-obatan. Langkah yang dapat kita ambil untuk mengatasi pencemaran suara yaitu dengan mengisolasi kebisingan, baik dengan menggunakan bahan

penyerap suara atau dengan memindahkan klien dari sumber kebisingan. Jika hal tersebut tidak bisa dilakukan, gunakan alat pelindung telinga untuk mengurangi kebisingan. Klien juga harus diberi tahu jika level suara tertentu dapat mengakibatkan kerusakan telinga. 2.4.3 Masalah Emergency dan Bencana 1) Masalah Emergency Keadaan darurat (emergency) adalah situasi/kondisi/kejadian yang tidak normal, yaitu terjadi tiba-tiba, mengganggu kegiatan/organisasi/kumunitas, dan perlu segera ditanggulangi. Keadaan darurat dapat berubah menjadi bencana (disaster) yang mengakibatkan banyak korban atau kerusakan Pada tahun 1997,
60

Noji mengatakan bahwa kondisi emergency/darurat melibatkan tanggapan langsung terhadap efek dari bencana dan dapat dibagi menjadi dua fase, fase isolasi awal dan fase bantuan kemudian. Pada fase isolasi, pertolongan hadir dari kelompok komunitas itu sendiri karena tidak adanya waktu untuk mendatangkan pertolongan dari luar komunitas. Jika lokasi terjadinya kejadian darurat terisolasi dan sulit untuk diakses, maka fase isolasi itu akan menjadi lama. Sedangkan fase bantuan adalah fase ketika bantuan datang dari luar komunitas. Keadaan emergency dapat diklasifikasikan ke dalam tiga bentuk, yaitu 1) Natural hazard. 2) Technological hazard. 3) Huru-hara. Beberapa contoh dari natural hazard adalah banjir, gempa bumi, angin badai, tanah longsor dan sebagainya yang melibatkan peran serta alam sekitar dalam menciptakan keadaan darurat tersebut. Peristiwa kebakaran, pemadaman listrik, kecelakaan lalu lintas, bendungan yang bocor merupakan beberapa bentuk dari technological hazard. Sedangkan kondisi yang huru-hara seperti kerusuhan dan perang yang melibatkan banyak orang dan juga diselesaikan bersama. Tujuan utama dari manajemen emergency adalah mencegah ataupun mengurangi tingkat kematian dan kecacatan. Adapun hal-hal yang biasa dilakukan saat kondisi emergency adalah sebagai berikut: Pusat Operasi Emergency dan Sistem Medis Emergency: diperlukan dalam keadaan bencana yang menjatuhkan banyak korban dan memerlukan penanganan langsung dari pihak pelayanan kesehatan. Pusat operasi dan sistem medis ini dapat didirikan dekat dengan lokasi bencana. Dasar-dasar Manajemen saat Keadaan Emergency. Garb dan Eng pada tahun 1969 mengatakan, terdapat delapan prinsip dasar yang seharusnya diikuti oleh semua pihak yang memiliki kepekaan untuk menolong korban bencana. Adapun delapan prinsip tersebut adalah: 1. Mencegah terjadinya bencana jika memungkinkan 2. Meminimalisir korban jika bencana tidak dapat dicegah 3. Mencegah berjatuhannya korban selanjutnya, yang terjadi karena dampak dari bencana 4. Menolong korban 5. Menyediakan pertolongan pertama pada cedera 6. Mengevakuasikan korban cedera untuk mendapatkan pelayanan medis 7. Menyediakan pelayanan medis secara pasti
61

8. Promosikan untuk dapat merekronstruksi kehidupan Pengklasifikasian Korban: dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya dengan membedakan warna (American Red Cross, 1982). Terdapat empat kategori dalam pengklasifikasian korban, yaitu prioritas pertama, prioritas kedua, prioritas ketiga, dan meninggal atau sudah tidak dapat diselamatkan lagi. 1. Merah: sangat penting, menjadi prioritas pertama. pasien yang mendapatkan prioritas pertama adalah pasien dengan kebutuhan akan perawatan cedera, hipoksia, ataupun mendekati hipoksia. Contoh masalah dari kategori ini adalah shock, luka di dada, hemoragik, cedera kepala yang mengeluarkan banyak darah. 2. Kuning: Penting, prioritas kedua. Adalah pasien yang memiliki cedera dengan efek sistemik dan komplikasi, namun belum shock ataupun hipoksia. contohnya adalah fraktur, frkatur terbuka. Pasien dengan gejala prioritas kedua harus dilakukan observasi lebih teliti, mungkin saja suatu saat kondisi pasien berubah dan dapat dikategorikan ulang sebagai prioritas pertama. 3. Hijau: prioritas ketiga. Adalah pasien yang memiliki cedera minimal dan tidak disertai dengan komplikasi sistemik. Pasien ini dapat menungggu beberapa jam untuk perawatan tanpa masalah.

Contohnya dalah kebakaran ringan, terkilir, luka robek ringan. 4. Hitam: meninggal atau sudah tidak dapat diselamatkan. Adalah pasien yang tidak lagi memiliki harapan untuk hidup ataupun hanya menyisakan sedikit harapan hidup. Contohnya adalah pasien yang cedera berat di kepala ataupun dada. Perawat berhak memberikan pelayanan saat kondisi emergency muncul, diantaranya: 1. Melakukan survey lapangan 2. Pengkajian hasil survey Lingkup yang seharusnya menjadi fokus pengkajian adalah 1) Masalah kesehatan individu. 2) Masalah kesehatan yang lalu dan yang sekarang sedang diderita pada komunitas secara umum. 3) Lingkungan fisik sekitar. 3. Menentukan tindakan langsung
62

Setelah mengkaji dan mendirikan diagnosa dari permasalahan yang perlu diatasi, maka perawat harus menempatkan klien pada prioritas penanganan yang tepat, apakah bisa diatasi hanya di pusat kesehatan bencana atau harus dirujuk ke rumah sakit terdekat. 4. Berkonsentrasi pada kondisi kesehatan utama setelah kondisi emergency Setelah keadaan darurat dilalui, mulai muncul kebiasaan buruk berupa ketidakpedulian dengan kebersihan tubuh yang akan menimbulkan penyakit lain. Hal ini harus menjadi perhatian perawat. 5. Melaksanakan peran perawat di pusat pertolongan pertama emergeny. 6. Kebutuhan psikologis saat emergency. Kondisi-kondisi bencana akan membuat psikologis korban terganggu, hal ini akan memperburuk kondisi kesehatan pasien, sehingga perawat harus memperhatikan aspek psikologis pasien juga untuk melengkapi penyembuhan korban. 2) Masalah akibat Bencana Disaster/bencana adalah setiap kejadian baik perbuatan manusia maupun alami yang menyebabkan kerusakan dan kehancuran yang tidak dapat diatasi tanpa bantuan. Pada dasarnya ada dua jenis bencana yaitu bencana yang alami dan buatan manusia. Pertama yang disebabkan oleh alam, seperti angin topan, tornado, hujan es, topan, badai salju, kekeringan, banjir, tanah longsor, gempa bumi, letusan gunung berapi, wabah penyakit menular, dan keringanan yang disebabkan kebakaran hutan. Kedua akibat perbuatan manusia, seperti perang konvensional, perang nonkonvensional (misalnya, nuklir, kimia), transportasi kecelakaan, runtuhnya struktur, ledakan/bom, kebakaran, bahan beracun, polusi, kerusuhan sipil (misalnya, kerusuhan demonstrasi) (Stanhope, 2004). Pengelolaan bencana termasuk tiga tahap bencana: persiapan, respon, dan pemulihan. Peran perawat dalam tahap persiapan bencana yaitu seorang perawat memfasilitasi persiapan kerja dan tempat masyarakat. Dalam organisasi, perawat dapat membantu memulai atau memperbarui rencana bencana menyediakan program pendidikan dan material mengenai bencana spesifik ke daerah tersebut, dan mengatur latihan bencana (Stanhope, 2004). Peran perawat saat bencana tergantung pada peran di institusi, pengalaman perawat dan kesiapsiagaan masyarakat, pelatihan khusus, dan juga minat khusus. dalam situasi ini, penting untuk diingat bahwa semua masalah yang mengancam jiwa didahulukan. sekali petugas penyelamat mulai tiba di TKP, rencana langsung untuk triase harus
63

dimulai. Triase adalah proses memisahkan korban dan mengalokasikan pengobatan berdasarkan potensi korban untuk bertahan hidup. Prioritas tertinggi selalu diberikan kepada korban yang memiliki cedera mengancam kehidupan dan yang memiliki probabilitas tinggi untuk bertahan hidup begitu stabil (Stanhope, 2004). Peran perawat dalam fase pemulihan beragam seperti dalam kesiapan dan fase respon dari bencana. Pemulihan dimulai selama fase darurat dan berakhir dengan kembalinya ketertiban masyarakat normal dan berfungsi. Untuk orang di daerah dampak fase ini dapat bertahan seumur hidup (misalnya korban bom atom Hiroshima). Berikut ini merupakan tahap respon emosi para korban bencana: (1) Denial: selama tahap I, korban mungkin menyangkal besarnya masalah atau, lebih mungkin, akan

memahami masalah tetapi mungkin tampak tidak terpengaruh secara emosional. Masalah yang terjadi ditolak atau belum sepenuhnya "terdaftar." Korban mungkin tampak luar biasa tidak peduli. (2) Respon emosional yang kuat: dalam tahap kedua, orang tersebut sadar akan masalah dan menganggapnya sebagai hal yang luar biasa dan tak tertahankan. Reaksi umum selama tahap ini gemetar, mengencangkan otot-otot, berkeringat, kesulitan berbicara, menangis, sensitivitas, tinggi, gelisah, sedih, marah dan pasif. Korban mungkin ingin menceritakan kembali atau menghidupkan kembali pengalaman bencana berulang-ulang. (3) Penerimaan: selama tahap ketiga, korban mulai menerima masalah yang disebabkan oleh bencana dan membuat upaya terkonsentrasi untuk

menyelesaikannya. Dia merasa lebih penuh harapan dan percaya diri. Hal ini terutama penting bagi korban untuk mengambil tindakan khusus untuk membantu mereka dan keluarga mereka. (4) Pemulihan: tahap keempat merupakan pemulihan dari reaksi krisis. Korban merasa bahwa mereka kembali normal. Rutinitas menjadi penting lagi. Rasa kesejahteraan dipulihkan. Kemampuan untuk membuat keputusan dan melaksanakan kembali rencana. Korban mengembangkan memori realistis dari pengalaman (Smith, 1995) Bencana memiliki jumlah ukuran yang mungkin berbeda baik itu prediktabilitas, frekuensi, pengendalian, waktu, dan ruang lingkup atau intensitas. Dimensi ini mempengaruhi sifat dan kemungkinan perencanaan persiapan, serta tanggapan terhadap peristiwa aktual. (1) Prediktabilitas, beberapa kejadian lebih mudah diprediksi maka orang lain. Kemajuan dalam meteorologi, misalnya, telah membuat lebih layak untuk secara akurat memprediksi kemungkinan beberapa jenis alam, cuaca bencana yang terkait (misalnya, tornado, banjir, dan badai),
64

sementara yang lain, seperti gempa bumi tidak diperkirakan. Man bencana dibuat, seperti ledakan atau rongsokan, juga kurang diprediksi. (2) Frekuensi. Meskipun bencana alam relatif jarang, mereka muncul lebih sering pada lokasi geografis tertentu. Misalnya, penduduk California beresiko untuk gempa bumi, dan orang yang dekat sistem sungai besar adalah risiko lebih besar untuk banjir daripada orang yang tinggal di tempat lain. (3) Pengendalian, peringatan pra dan tindakan pengendalian yang dapat mengurangi dampak dari bencana. Contohnya, Los Angeles sedang dalam proses perkuatan sistem jalan bebas hambatan untuk memperkuat resistensi jalan raya untuk kerusakan gempa ketika gempa bumi 1994 mencapai daerah tersebut. (4) Waktu. Ada beberapa karakteristik waktu yang berkaitan dengan dampak bencana yaitu kecepatan terjadinya bencana, waktu yang tersedia untuk memperingatkan penduduk, dan panjang sebenarnya waktu dari fase dampak. Kerusakan yang paling umumnya disebabkan oleh kombinasi terburuk yang mungkin dari faktor waktu permulaan yang cepat, tidak ada kesempatan untuk memperingatkan rakyat, dan durasi yang panjang dari fase dampak. (5) Ruang lingkup dan intensitas. Bencana dapat terkonsentrasi pada daerah yang sangat kecil atau melibatkan wilayah geografis yang sangat besar biasanya mempengaruhi banyak orang. Bencana bisa sangat intens dan sangat merusak, menyebabkan banyak luka, kematian, dan kerusakan properti, atau kurang intens, dengan kerusakan relatif sedikit dilakukan untuk properti atau individu (Smith, 1995). Kunci untuk manajemen bencana yang efektif adalah pra perencanaan bencana dan persiapan. Perencanaan untuk bencana melibatkan lima bidang utama yakni penggunaan teknologi untuk acara perkiraan, penggunaan teknik untuk mengurangi risiko, pendidikan publik tentang potensi bahaya, respon darurat yang terkoordinasi, dan penilaian yang sistematis dari pengaruh bencana untuk lebih mempersiapkan masa depan . Tanggung jawab untuk mengatasi kelima bidang perencanaan bencana juga dimiliki oleh wilayah lokal, negara bagian, federal, dan lembaga sukarela. Sebagai anggota tim potensial, perawat harus berperan aktif dalam mempersiapkan bencana dengan berpartisipasi dalam perencanaan masyarakat dan latihan bencana. Perawat dapat menjadi relawan atau mungkin diperlukan untuk mengambil bagian dalam persiapan bencana. Perawat juga dapat berfungsi sebagai educator dalam mempengaruhi pemahaman masyarakat tentang perlunya persiapan untuk bencana. Rencana bencana harus dipraktekkan,
65

dievaluasi, dan diperbaharui secara berkala oleh seluruh peserta dalam persiapan bencana (Smith, 1995). Pertama, pencegahan dan mitigasi. Beberapa jenis bencana khususnya buatan manusia mungkin dapat dicegah sedangkan bencana lain tidak dapat dicegah, namun dampaknya dapat dikurangi. Beberapa bencana telah dicegah oleh penegakan kode bangunan yang baik atau dengan pengelolaan lahan air yang tepat. Banyak buatan manusia bisa mencegah bencana dengan mengamati tindakan pencegahan keselamatan yang tepat, termasuk perawatan peralatan biasa. Pendidikan publik adalah strategi lain yang dapat digunakan untuk mengurangi dampak dari situasi berbahaya. Kedua, respon emergency. Tujuan primer dari manajemen bencana adalah mencegah atau meminimalkan kematian, cacat, penderitaan, kehilangan salah satu bagian dari korban bencana. Tujuan ini dicapai berbeda sesuai dengan tipe dari bencana itu sendiri dan juga tipe penyelamat. Memprioritaskan korban untuk pengobatan dapat dilakukan dengan banyak cara, beberapa komunitas

menggunakan kode warna (Palang Merah Amerika). Hal ini karena sistem ini yang terbaik dan paling mudah dipahami, yaitu merah untuk yang paling mendesak sebagai tanda prioritas pertama, kuning untuk hal mendesak di prioritas kedua, hijauu untuk prioritas ketiga, dan hitam untuk korban yang sekarat atau meninggal dunia (Smith, 1995). Ada beberapa prinsip manajemen bencana diantaranya, mencegah terjadinya bencana bila memungkinkan, meminimalkan jumlah korban jika bencana tidak dapat dicegah, mencegah korban lebih lanjut dari terjadi setelah dampak awal bencana. menyelamatkan korban, memberikan pertolongan pertama pada luka, mengevakuasi yang terluka ke fasilitas medis, memberikan perawatan medis, dan promosikan rekonstruksi kehidupan (Smith, 1995). Kemudian ada model dimensi dan perawatan klien pada setting bencana. Model dimensi ini dapat digunakan oleh perawat kesehatan komunitas dan yang terlibat dalam respon bencana, perencanaan tanggap bencana untuk membimbing perkembangan, implementasi, dan evaluasi pada rencana bencana. Pertama, pengkajian dimensi kesehatan pada bencana. Dimensi dari perspektif kesehatan yang bisa digunakan untuk mengkaji efek dari bencana yang terjadi: 1. Dimensi biofisik Biologi manusia juga merupakan faktor dalam memprediksi jenis efek sebagai akibat dari bencana. Dalam kasus epidemi influenza, penyakit yang
66

berpotensi disertai oleh dehidrasi ketidakseimbangan elektrolit dapat diharapkan. Dalam ledakan, cedera dapat terdiri dari luka bakar dan trauma, sedangkan banjir hasil terutama di tenggelam. Contoh data pengaruh bencana pada biofisik: Longsor, dapat menyebabkan sesak napas, dapat menyebabkan radang dingin dan efek lain dari paparan dingin, dapat menyebabkan patah tulang atau bentuk lain dari trauma. 2. Dimensi psikologikal Faktor psikologis yang berpengaruh saat bencana terjadi. Misalnya, keakraban dengan gempa bumi dapat membatasi panik pada beberapa orang, sedangkan baru ke daerah, yang belum pernah berpengalaman dan gempa bumi, mungkin panik dan menanggapi mereka yang tidak tepat. Perawat kesehatan masyarakat harus menilai sikap anggota masyarakat terhadap kesiapsiagaan bencana. 3. Dimensi sosial Faktor dimensi sosial juga dapat mempengaruhi cara orang untuk respon bencana dan bahkan dapat menimbulkan adanya ketegangan rasial bisa memicu pecahnya kekerasan di beberapa komunitas. Perang adalah bencana lain yang timbul dari kondisi lingkungan sosial. Dalam menilai sebuah komunitas, perawat mengidentifikasi faktor-faktor sosial yang mungkin berkontribusi terhadap bencana dan cara orang menanggapi mereka. 4. Dimensi Perilaku Faktor perilaku yang berhubungan dengan pola konsumsi dan bahkan kegiatan rekreasi juga dapat mempengaruhi terjadinyabencana anggotamasyarakat. Pola dan Merokok penggunaan obat dapat misalnya sering

dan pengaruhnya konsumsi seperti

terhadap kesehatan merokok, minum,

berkontribusi terhadap

bencana.

menjadi penyebab kebakaranresidental dan kebakaran hutan dan sikat yang mengakibatkanhilangnya nyawa serta kerusakan properti yang luas (Clark, 1999). Kedua, diagnosa keperawatan. Berdasarkan pengkajian faktor biofisik, psikologis, sosial dan perilaku/behavioral, perawat membuat diagnosa

keperawatan sesuai dengan perawatan bencana. Ketiga, Perencanaan. Kegiatan yang berkaitan dengan perawatan bencana terjadi di beberapa daerah. Keempat, evaluasi. Evaluasi berfokus pada kecukupan rencana untuk membatasi bencana dan memenuhi kebutuhan mereka yang terlibat di dalamnya (Clark, 1999).
67

2.4.4 Masalah Khusus Kejiwaan pada Masyarakat Perkotaan 1) Gangguan Jiwa Berat Gangguan jiwa berat menyerang kemampuan berpikir dan perilaku manusia. Karena keterbatasan data, cukup sulit untuk menjelaskan tingkat prevalansi penyakit kejiwaan. Gangguan jiwa berat bersifat persisten, dan dapat terjadi pada semua usia, ras, dan tingkat sosial ekonomi. Gangguan jiwa berat lebih sering terjadi pada wanita dengan penghasilan rendah, dan memiliki pendidikan rendah. Gangguan jiwa berat meliputi gangguan suasana hati dan depresi, kecemasan, menarik diri, skizofrenia, dan sindrom otak organik. Sebagian besar orang dengan gangguan mental berat hidup dalam kemiskinan karena mereka tidak mampu untuk mendapatkan atau mempertahankan standar hidup yang layak. 2) Masalah kesehatan mental pada populasi berisiko tinggi Kesehatan jiwa merupakan proses dinamis yang memungkinkan

perkembangan fisik, kognitif, afektif, dan fungsi sosial individu. Kesehatan mental individu dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi aspek biopsikososial atau karakteristik kepribadian dari individu. Faktor eksternal meliputi tekanan lingkungan sosial, seperti nilai, keyakinan, dan aset material dari komunitas. Masalah kesehatan mental dapat dimanifestasikan dalam banyak jalan. Insiden tidak terduga atau bahkan kejadian yang sudah diantisipasi dapat mengurangi fungsi fisik, kognitif, afektif, dan fungsi sosial. Sebagai contoh, kematian tak terduga maupun yang sudah diantisipasi dalam keluarga dapat mengakibatkan rasa kehilangan yang mungkin mengganggu pola aktivitas pertahanan anggota keluarga. Penurunan napsu makan, kesedihan, kesulitan mengambil keputusan dan gangguan pola tidur adalah hal yang umum terjadi saat kehilangan. Kematian anggota keluarga dapat memberikan efek pada usia yang berbeda dengan bermacam cara. Misalnya pada bayi dan anak-anak, kehilangan pengasuhan dan perhatian dapat memberikan defisit emosional jangka panjang, sedangkan pada dewasa akan meningkatkan risiko stres berhubungan dengan perubahan peran, dan pada lansia mudah untuk mengalami isolasi sosial. Bagaimanapun juga kehilangan bukan satu-satunya penyebab menurunnya kesehatan mental. Penyebab lain antara lain masalah kesehatan fisik, trauma, kekerasan dalam rumah tangga, kehilangan pekerjaan, dan bencana alam tak terduga (Marcia Stanhope dan Jeanette Lancaster, 2000).
68

3) Napza (Narkotika, alkohol, Psikotropika, dan zat adiktif lainnya) Napza tergolong dalam zat psikoaktif yang bekerja mempengaruhi kerja sistem penghantar sinyal saraf sel-sel susunan saraf pusat yang dapat menyebabkan terganggunya fungsi kognitif, persepsi, perilaku, serta dapat menyebabkan ketergantungan baik fisik maupun psikis. Berikut ini merupakan beberapa obat-obatan psikoaktif yang sering disalahgunakan:
Klasifikasi Obat-obatan penenang Obat-obatan Alkohol Penggunaan Kekebalan Ya Ketergantungan fisik Ya Ketergantungan psikis Ya

Mengurangi ketegangan; melepaskan hambatanhambatan Obat bius/tidur Menyebabkan keadaan santai dan tidur Obat penenang Mengurangi rasa Miltown cemas dan Valium ketegangan Candu/Narkotik Opium dan Mengurangi rasa sebangsanya sakit; Kodein menyebabkan Heroin keaddaan santai Morphin dan lamunan yang menyenangkan Metadon Mengobati ketergantungan heroin Obat perangsang Amfetamin Meningkatkan Benzedrine gairah; Dexedrine mengurangi Methedrine kelesuan Kokain Meningkatkan gairah; mengurangi kelesuan Nikotin Meningkatkan gairah Kafein Meningkatkan gairah Halusinogen LSD* Meluaskan Mescaline* pikiran dan Psilocybin* mengakibatkan Phencyclidine perubahan(PCP) perubahan Marijuana persepsi, pikiran, dan

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya Ya (jika tanpa obat mengakibatkan depresi fisik dan psikologis) Ya

Sedikit Sedikit Ya Ya Ya ? Tidak

Mungkin Tidak Tidak Tidak Tidak ? Tidak

Ya Ya Hanya sebagian pemakai ? bagi kecil

Hanya untuk pemakai berat 69

perasaan

Tabel 1.1 Obat-obatan psikoaktif yang biasa disalahgunakan (Rita L. Atkinson, 2005) *LSD, mescaline, psilocybin semuanya menunjukkan cross-tolerance misalnya pamakai LSD akan mengembangkan toleransi yang meningkat terhadap mescaline, begitu juga pemakai psilocybin akan membutuhkan mescaline atau LSD lebih banyak ubtuk memperoleh dampak yang sama. PCP adalah obat-obatan sintetik yang digunakan sebagai obat bius bedah hingga reaksi seperti psikotik yang parah terlihat pada pasien. Dalam dosis tinggi, PCP dapat mengakibatkan keadaan koma yang panjang dan kadang-kadang menyebabkan kematian. Peran perawat sangatlah penting dalam meminimalisir masalah kesehatan mental dan ketergantungan terhadap obat-obatan yang terjadi di masyarakat saat ini. Peran perawat dalam masalah kesehatan mental yaitu pertama perawat harus mengakses dan menggunakan data epidemiologi untuk mengetahui dan melayani penyakit mental di populasi. Selanjutnya, peran perawat yaitu sebagai advokat. Perawat melihat peningkatan akses klien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan mental, mengurangi stigma dan meningkatkan pengetahuan masyarakat, dan meningkatkan pelayanan dalam komunitas kesehatan jiwa (Christoffel, 2000). Aspek lain dari peran perawat yaitu sebagai edukator. Perawat komunitas kesehatan mental mengajarkan klien secara individu maupun kelompok tentang kondisi kesehatan mental mereka, protokol perawatan, cara untuk membuat lebih mandiri dalam komunitas, strategi pencegahan dan promosi kesehatan, dan masih banyak lagi. Sebagian besar orang tidak mengetahui dengan pasti peran perawat dalam ketergantungan obat. Perawat kesehatan komunitas memiliki posisi yang unik dalam menyediakan informasi dan pendidikan tentang efek dan efek samping penggunaaan obat-obatan dan dapat mengkaji tingkat penggunaan atau penyalahgunaan. Membantu klien dan keluarga dengan akses yang tepat dan memberikan dukungan merupakan kagiatan perawat yang sangat penting (Judith Ann Allender, 2005).

70

Daftar Pustaka Allender, J. A., Rector, C., & Warner, K. D. (2010). Community Health Nursing: promoting and protecting the publics health. 7th Ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins Alligood, M. R. (2010). Nursing Theory: utilization and application 4th edition. Missouri: Mosby Elsevier Ann, J. Allender. Walton, B. Spredley. (2001). Community Health Nursing: concepts and practice. Philadephia: Lippincott Arias, K. M. (2011). Investigasi dan pengendalian wabah di fasilitas pelayanan kesehatan. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC. Anderson, E. T. (2000). Community as partner: Theory and practice in nursing. 3rd ed. Philadelphia : Lippincott. Atkinson, R. L. (2005). Pengantar psikologi. Jakarta: Erlangga. Badan Pusat Statistik. (2011). Profil Kemiskinan di Indonesia.

www.bps.go.id/getfile.php?news=861, diakses pada tanggal 21 Februari 2012 Best, M. et al. (2008). Canadian community health nursing: Standard of practice. Ontario: Community Health Nurse Association of Canadia. Budiarto, Eko dan Anggraeni, Dewi. (2002). Pengantar Epidemiologi. Jakarta: EGC. Burkhart, F. N. (1991). Media, emergency warnings, and citizen response. Boulder, CO: Westview. Clark, M. J. D. (1999). Nursing in TheCommunity: dimensions of community health nursing. 3rd edition. Stanford: Appleton and Lange CDC. (2008). Community Health and Program Services (CHAPS): Health Disparities Among Racial/Ethnic Populations. Atlanta: U.S. Department of Health and Human Services. Clark, M. J. (1999). Nursing in the community: Dimensions of community health nursing. 3rd Ed. Connecticut: Appleton & Lange. Clemen-Stone, S., Mc. Guire, S. L., Eigsti, D. G. (2002). Comprehensive Community Health Nursing: Family, Anggregat & Community Practice. 6th ed. Missouri: Mosby. Departemen Kesehatan RI. (1990). Pembangunan Kesehatan Masyarakat di Indonesia. Jakarta: DepKes RI Department of Health, Social Services and Public Safety. (2003). Community Health Nursing: current practice and possible futures Eldeman, C .L and Mandle C. L. (2006). Health Promotion Throughout the Life Span. St. Louis: Mosby
71

Efendi, Ferry, & Makhfudli. (2009). Keperawatan kesehatan komunitas: Teori dan praktik dalam keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. http://currentnursing.com/nursing_theory/unitary_human_beings.html. Diunduh tanggal 16 Feb 2012. Pukul 10.30. http://id.hicow.com/perawatan/perawat/kesehatan-1092456.html Freudenberg, N et all. (2009). Urban health and society. Hal 93 Hitchcock, J. E., Schubert, P. E., dan Thomas, S. A. (1999). Community health nursing: Caring in action. New York: Delmar Publishing Iqbal Mubarak,Wahit. (2005). Pengantar Keperawatan Komunitas. Jakarta: Sagung Seto Jarvis, L. L. (1981). Community health nursing: Keeping the public healthy. Philadelphia: F. A. Davis Company. Kusnanto. (2003). Pengantar Profesi dan Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta: EGC. Kjellstrom, T., Lodh, M., McMichael, T., Ranmuthugala, G., Shrestha, R., & Kingsland, S. (2006). Air and Water Pollution: Burden and Strategies for Control. Disease Control Priorities in Developing Countries (chapter 43). Halaman 812-825. Leininger, M & McFarland, M. R. (2002). Transcultural nursing: Concepts, theories, research and practice. 3rd Ed. USA: Mc-Graw Hill Companies Lundy, Karen Saucier. (2009). Community Health Nursing: Caring for The Publics Health 2nd ed. UK: Jones and Barlett Publisher. McEwen, M.M, and Wills, E.M. (2011). Theoretical Basis for Nursing. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins McKenzie, J. F., Pinger, R. R., & Kotecki, J. E. (2005). An introduction to community health ed. 5th. India : Jones And Bartlett Publishers. Meleis, Afaf I. (2007). Theoretical Nursing: development and progress. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins Mubarak, Wahit Iqbal dan Chayatin, Nurul. (2005). Ilmu Keperawatan Komunitas 1. Jakarta: Salemba Medika. Nies, Mary A., McEwen, M. (2001). Community/ public health nursing: promoting the healthy of population (4th Ed). Missouri: Sauders Elsevier. Potter, P.A. & Perry, A.G. (2005). Buku ajar fundamental keperawatan: Konsep, proses, dan praktik. Edisi 4. Alih bahasa: Asih, Y., dkk. Jakarta: EGC Sahar, Junaiti. (2008). Model Pelayanan Keperawatan Komunitas (Perkesmas) pada Keluaraga Miskin. Tim CHN FIK UI Stanhope, M and Lancaster, J. (2004). Community and Public Health Nursing. St Louis: Mosby.
72

Tomey, A. M., Alligood, M. R. (2006). Nursing Theorists and Their Work. 6th Edition. Missouri: Mosby Elsevier Smith, C. M. & Maurer, F. A. (1995). Community health nursing: Theory and practice. Philadelphia: W. B. Saunders Company. Smith, L. Jervis, D.T. (1990). Handbook of emergency management: Programs and policies dealing with major hazards and disasters. New York: Greenwood Press. Stanhope, M. & Lancaster, J. (2000). Community and public health nursing. 5th Ed. St. Louis: Mosby. Ward, S. L. & Hisley, S. M. (2009). Maternal-child nursing care. Philadelphia: F.A. Davis Company. WHO (World Health Organization). 2003. Guidelines for Drinking Water Quality. 3rd ed. Geneva: WHO. http://www.who.int/water_sanitation_health/dwq/guidelines3rd/en/. WHO and International Programme on Chemical Safety. 2002. Global Assessment of the State of Science of Endocrine Disruptors. Document WHO/PCS/EDC/02.2. Geneva: WHO and the International Programme on Chemical Safety. http://www.cyh.com http://www.nlm.nih.gov http://www.agingcare.com/Health-Conditions www.depkes.go.id, diakses tanggal 20 Februari 2012, pukul 12 44 WIB. Mc. Ewen and Wills, E. M. (2011). Theoretical Basis for Nursing. 3rd Ed. China: Lippincot Willians & Wilkins. Royal Collage of Nursing. (2007). Nurses as partner in delivering public health. London: Royal Collage of Nursing. Stone, S. M., McGuire, S. L. & Eigsti, D. G. (2002). Comprehensive community health nursing: Family, Aggregate, & Community Practice. 6th ed. St. Louis: Mosby. Valanis, B. (1999). Epidemiology in health care. Edisi 3. USA : Library of Congress Cataloging in-Publication Data. WHO dan UN-HABITAT. (2010). Hidden Cities: Unmasking and Overcoming Health Inequities in Urban Settings. Geneva: WHO Press.

73