You are on page 1of 2

Antibiotik merupakan substansi kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme (bakteri, fungi, atau aktinomiset) yang mampu menghambat

pertumbuhan atau membunuh mikroba lain.selain itu antibiotik mampu menghentikan proses biokimia di dalam proses infeksi bakteri (Lim 1998). Anibiotik memiliki kinerja sebagai bakterisidal (membunuh bakteri secara langsung) atau bakteriostatik (menghambat pertumbuhan bakteri). Beberapa cara kerja antibiotik terhadap bakteri yaitu menghambat sintesis dinding sel, menghambat sintesis protein, merusak membran plasma, menghambat sintesis asam nukleat, dan menghambat metabolisme esensial. Antibiotik yang mengambat sintesis protein adalah streptomisin, kloramfenikol,eritromisin,dan tetrasiklin (Ekenstierna 2003). Bakteri memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap lingkungan yang mengandung antibiotik. Resistensi antibiotik terjadi jika suatu antibiotik kehilangan kemampuannya secara efektif menghambat atau membasmi pertumbuhan bakteri. Bakteri yang mengalami resistensi terhadap antibiotik memiliki kesempatan jauh lebih besar untuk melanjutkan hidupnya dibanding bakteri yang tidak resisten (Lim 1998). Mekanisme resistensi bakteri meliputi mutasi genetika yang membuat bakteri menghasilkan zat kimia yang membuat bakteri lebih resisten terhadap antibiotik atau menghilangkan sel yang menjadi target serangan antibiotik (Hadioetomo 1993). Tujuan : Melihat pengaruh antibiotika terhadap pertumbuhan mikroba. Pembahasan Pengujian resistensi bakteri terhadap antibiotika dilakukan dengan menggunakan streptomisin sebagai antibiotika dengan Staphylococcus aureus sebagai target bakteri. Streptomisin adalah antibiotika yang dihasilkan dari bakteri streptomiset yang memiliki kemampuan sebagai penghambat sintesis protein. Streptomisin mengikat protein S12 dan subunit 30s ribosom dari bakteri dan melakukan pengikatan formil-methionyl-tRNA ke subunit 30s. Hal ini mencegah inisiasi sintesis protein dan menyebabkan kematian sel-sel bakteri. Streptomisin pada konsentrasi rendah hanya menghambat pertumbuhan bakteri yang dilakukan dengan salah pembacaan prokariotik mRNA oleh ribosom. Streptomisin adalah antibiotika bakterisidal yang berpengaruh terhadap bakteri gram negatif seperti Staphylococcus aureus (Pelczar 2006). Hasil pengukuran zona bening menunjukkan zona bening yang paling besar terletak pada tingkat pengenceran 10-6 (10 mg/ml) dengan luas zona bening 132,67 mm2. Hal ini disebabkan jumlah bakteri jauh lebih sedikit dari pada konsentrasi streptomisin sehingga pertumbuhan bakteri menjadi terhambat dengan dilihat melalui luas zona bening yang terbentuk. Berbeda halnya dengan jumlah bakteri di tingkat pengenceran 10-5 pada masing-masing konsentrasi streptomisin (10 mg/ml, 50 mg/ml, dan 100 mg/ml) yang tidak menunjukkan zona bening. Hal ini disebabkan pertumbuhan bakteri jauh lebih cepat dan banyak dibandingkan jumlah konsentrasi streptomisin. Keadaan ini menunjukkan pada tingkat pengenceran 10-5 S. aureus lebih resisten dibandingkan tingkat pengenceran yang lain. Berdasarkan perbandingan kekeruhan di berbagai konsentrasi, tingkat kekeruhan terkecil terletak pada tingkat pengenceran 10-4 dan 10-5 dengan konsentrasi streptomisin 40 mg/ml. Hal ini

menunjukkan pada konsentrasi ini S. aureus mengalami penghambatan pertumbuhan. Berbeda halnya dengan konsentrasi streptomisin 5 mg/ml pada tingkat pengenceran 10-4 dan 10-5 yang sangat keruh. Hal ini menunjukkan S. aureus resisten terhadap streptomisin yang dapat dilihat dengan pertumbuhan yang cepat dan dalam jumlah yang banyak. Semakin sedikit konsentrasi streptomisin yang diberikan maka semakin banyak jumlah bakteri yang tumbuh. Hal ini menunjukkan bakteri lebih resisten pada konsentrasi antibiotika rendah. Simpulan Resistensi bakteri terhadap antibiotika dapat dilihat melalui zona bening dan tingkat kekeruhan kultur bakteri. Zona bening kecil dan tingkat kekeruhan yang besar menunjukkan bakteri resisten terhadap antibiotika yang diberikan. Zona bening tidak terbentuk pada tingkat pengenceran 10-5 pada masing-masing konsentrasi streptomisin (10 mg/ml, 50 mg/ml, dan 100 mg/ml). Kekeruhan terbesar terletak pada tingkat pengenceran 10-4 dan 10-5 dengan konsentrasi streptomisin 5 mg/ml. Semakin sedikit konsentrasi streptomisin yang diberikan maka semakin banyak jumlah bakteri yang tumbuh. Hal ini menunjukkan bakteri lebih resisten pada konsentrasi antibiotika rendah. Begitu pula jika jumlah bakteri yang tersedia jauh lebih banyak dibanding konsentrasi streptomisin yang diberikan yang membuat bakteri resisten dari antibiotika karena antibiotika yang diberikan tidak menghambat pertumbuhan bakteri.