You are on page 1of 8

TUGAS PENCEMARAN UDARA EPIDEMIK ASTHMA Kelompok: Aulia Mutiara R Candra Alfi K Ema Fiki Munaya Nurmala Kurata

A Nia Ratna S (1006668203)

Bagian 1 - PENDAHULUAN 1. Asma adalah suatu penyakit paru-paru kronis yang ditandai dengan kesulitan bernafas akibat adanya gangguan terhadap saluran pernafasan. Gangguan ini berupa inflamasi atau cidera pada saluran pernafasan sehingga seseorang yang memiliki asma akan lebih sensitif terhadap suatu alergi atau bahkan stres. Ketika saluran pernafasan ini bereaksi, maka akan terjadi penyempitan pada paru-paru dan paru-paru miskin akan oksigen, oleh karena itu orang yang memiliki asma akan mengalami gejala berupa mengi, batuk, sesak nafas, dan bahkan katup udara tertutup sehingga dapat mengakibatkan kematian karena tidak adanya asupan oksigen ke dalam organ vital tubuh. (www.nhlbi.nih.gov) 2. Wabah atau epidemi (dalam epidemiologi) adalah suatu keadaan dimana terjadi kenaikan frekuensi penyakit (epidemik rate) yang dramatis pada suatu populasi dalam periode waktu tertentu. Berdasarkan definisi di atas, dijelaskan bahwa suatu kondisi dikatakan menjadi sebuah wabah apabila keadaan telah melampaui kondisi endemik rate, jadi dalam hal ini kita belum bisa menentukan apakah ini suatu kondisi wabah atau bukana, karena data yang ada belum memberikan informasi yang mencukupi untuk menentukan status wabah itu sendiri. Untuk menentukan status wabah, informasi yang dibutuhkan diantaranya, yaitu: Data penduduk beserta demografinya Data kejadian kasus dari tahun-tahun sebelumnya Jumlah populasi penduduk Data Surveilans ke-4 Rumah Sakit Data riwayat penyakit, diagnosis penyakit, dan hasil Laboratorium Dan sumber lain yang mendukung.

3. Belum bisa ditentukan, karena harus didukung dengan informasi yang valid dan relevan. 4. k menentukan definisi kasus sementara dibutuhkan kriteria waktu, tempat dan orang. Kasus berdasarkan waktu dan tempat, telah diperoleh informasi bahwa kasus asma terjadi pada akhir bulan Januari 1986 di Kota Barcelona yang terletak di tepi Laut Mediterania. Untuk kriteria orang, informasi yang tersedia hanya berupa jumlah orang yang berobat sebanyak 288 orang dari total populasi 1,7 jiwa, serta belum didukung data demografi yang lebih lengkap. 5. Berdasarkan tabel 1 dan data sebelumnya, dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan yang drastis pada kasus penyakit asthma. Oleh karena itu, kasus ini dapat didefinisikan sebagai wabah asthma pada bulan januari 1986. 6.

Grafik Jumlah Kasus selama Bulan Januari


120 100 80 60 40 20 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10111213141516171819202122232425262728293031 Jumlah Kasus

Informasi yang didapatkan dari grafik di atas adalah modus kejadian kasus pada tanggal 21 Januari 1986 dengan perbedaan yang sangat signifikan dibanding hari yang lain. Disimpulkan bahwa KLB terjadi pada tanggal 21 Januari 1986. 7. Karakteristik wabah ada 3 yaitu ada age, model transmisi, dan jumlah yang adekuat. Dari data yang ada baru didapat informasi tentang jumlah kasus, sehingga informasi yang dibutuhkan lagi adalah agen penyebab dan model transmisinya. 8. Gambar terlampir

9.

Jumlah Kasus Berdasarkan Distribusi Waktu


20 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 00:00 - 00:59 01:00 - 01:59 02:00 - 02:59 03:00 - 03:59 04:00 - 04:59 05:00 - 05:59 06:00 - 06:59 07:00 - 07:59 08:00 - 08:59 09:00 - 09:59 10:00 - 10:59 11:00 - 11:59 12:00 - 12:59 13:00 - 13:59 14:00 - 14:59 15:00 - 15:59 16:00 - 16:59 17:00 - 17:59 18:00 - 18:59 19:00 - 19:59 20:00 - 20:59 21:00 - 21:59 22:00 - 22:59 23:00 - 23:59

Jumlah Kasus

Hipotesa dari grafik di atas, yaitu kasus asma banyak terjadi antara jam 10.00 15.59 dan kasus paling tinggi terjadi antara jam 11.00 12.59.

Bagian 2 10. Dari data disimpulkan bahwa agen penyebab kejasian asma bukan karena pencemaran udara baik itu SO2 , asap hitam atau NO2. Bukan pula karena serbuk sari atau spora, karena pada hari itu kadarnya di bawah normal. Kesimpulannya, penyebab kasus asma adalah karena tekanan atmosfer yang tinggi dan kemandegan udara dengan kecepatan angin yang sangat rendah. Semakin tinggi tekanan, kadar oksigen semakin rendah, dengan udara yang mandeg dan kecepatan angin yang rendah maka sirkulasi udara tidak berjalan normal. 11. Informasi tersebut dapat digunakan untuk menggali masalah ini lebih lanjut namun dibutuhkan informasi tambahan. Dari 8 produk tersebut, yang kemungkinan dapat menyebabkan pencemaran udara yaitu batu bara, butane, bensin dan bahan bakar minyak. Perlu informasi tambahan yaitu waktu pembonkaran, bahan apa saja yang dibongkar dan konsentrasi udara pada saat pembongkaran

12. Pembongkaran Batu Bara Ya Hari Wabah Asma Jumlah Ya Tidak 4 196 200 Tidak 9 521 530 13 717 730 Jumlah

RR =

OR =

Pembongkaran Bahan Bakar Minyak Ya Hari Wabah Asma Jumlah Ya Tidak 3 150 153 Tidak 10 567 577 13 717 730 Jumlah

RR =

OR =

Pembongkaran Bensin Ya Hari Wabah Asma Jumlah Ya Tidak 2 180 182 Tidak 11 537 548

Jumlah 13 717 730

RR =

OR =

Pembongkaran Kapas Ya Hari Wabah Asma Jumlah Ya Tidak 7 399 406 Tidak 6 318 324

Jumlah 13 717 730

RR =

OR =

Pembongkaran Kopi Ya Hari Wabah Asma Jumlah Ya Tidak 5 300 305 Tidak 8 417 425

Jumlah 13 717 730

RR =

OR =

Pembongkaran Jagung Ya Hari Wabah Asma Jumlah Ya Tidak 1 135 136 Tidak 12 582 594

Jumlah 13 717 730

RR =

OR =

Pembongkaran Kedelai Ya Hari Wabah Asma Jumlah Ya Tidak 13 249 262 Tidak 0 468 468

Jumlah 13 717 730

RR =

OR =

Pembongkaran Butane Ya Hari Wabah Asma Jumlah Ya Tidak 1 140 141 Tidak 12 577 582

Jumlah 13 717 730

RR =

OR =

13. Interpretasi: Dari hasil analisis hubungan antara pembongkaran batu bara dengan hari wabah asma diperoleh RR = 0,084 dan OR = 1,181. Artinya orang yang terekspose pada saat hari pembongkaran batu bara memiliki resiko sebesar 1,181 kali dibanding orang yang tidak terekspose. Karena nilai OR > 1, maka pembongkaran batu bara merupakan faktor resiko untuk terjadinya asma. Dari hasil analisis hubungan antara pembongkaran baham bakar minyak dengan hari wabah asma diperoleh RR = 0,048 dan OR = 1,134. Artinya orang yang terekspose pada saat hari pembongkaran bahan bakar minyak memiliki resiko sebesar 1,134 kali dibanding orang yang tidak terekspose. Karena nilai OR > 1, maka pembongkaran bahan bakar minyak merupakan faktor resiko untuk terjadinya asma. Dari hasil analisis hubungan antara pembongkaran bensin dengan hari wabah asma diperoleh RR = 0,039 dan OR = 0,542. Artinya orang yang terekspose pada saat hari pembongkaran bensin memiliki resiko sebesar 0,542 kali dibanding orang yang tidak terekspose. Karena nilai OR < 1, maka pembongkaran bensin merupakan faktor preventif untuk terjadinya asma. Dari hasil analisis hubungan antara pembongkaran kapas dengan hari wabah asma diperoleh RR = 0,299 dan OR = 0,930. Artinya orang yang terekspose pada saat hari pembongkaran kapas memiliki resiko sebesar 0,930 kali dibanding orang yang tidak terekspose. Karena nilai OR < 1, maka pembongkaran kapas merupakan faktor preventif untuk terjadinya asma. Dari hasil analisis hubungan antara pembongkaran kopi dengan hari wabah asma diperoleh RR = 0,418 dan OR = 0,869. Artinya orang yang terekspose pada saat hari pembongkaran kopi memiliki resiko sebesar 0,869 kali dibanding orang yang

tidak terekspose. Karena nilai OR < 1, maka pembongkaran kopi merupakan faktor preventif untuk terjadinya asma. Dari hasil analisis hubungan antara pembongkaran jagung dengan hari wabah asma diperoleh RR = 0,025 dan OR = 0,359. Artinya orang yang terekspose pada saat hari pembongkaran jagung memiliki resiko sebesar 0,359 kali dibanding orang yang tidak terekspose. Karena nilai OR < 1, maka pembongkaran jagung merupakan faktor preventif untuk terjadinya asma. Dari hasil analisis hubungan antara pembongkaran kedelai dengan hari wabah asma diperoleh RR = 0,347 dan OR = ~. Artinya orang yang terekspose pada saat hari pembongkaran kedelai memiliki resiko sebesar ~ kali dibanding orang yang tidak terekspose. Karena nilai OR > 1, maka pembongkaran kedelai merupakan faktor resiko untuk terjadinya asma. Dari hasil analisis hubungan antara pembongkaran butane dengan hari wabah asma diperoleh RR = 0,015 dan OR = 0,343. Artinya orang yang terekspose pada saat hari pembongkaran butane memiliki resiko sebesar 0,343 kali dibanding orang yang tidak terekspose. Karena nilai OR < 1, maka pembongkaran butane merupakan faktor preventif untuk terjadinya asma. 14. Pembongkaran Kedelai Ya Hari Wabah Asma Jumlah Ya Tidak 13 249 262 Tidak 1 468 469 Jumlah 14 717 731

RR =

OR =

Interpretasi: Dari hasil analisis hubungan antara pembongkaran kedelai dengan hari wabah asma diperoleh RR = 0,322 dan OR = 24,285. Artinya orang yang terekspose pada saat hari pembongkaran kedelai memiliki resiko sebesar 24,285 kali dibanding orang yang tidak terekspose. Karena nilai OR > 1, maka pembongkaran kedelai merupakan faktor resiko untuk terjadinya asma. 15. A. ?

B. Strategi pencegahan wabah asma: Salah satu strategi pencegahan asthma adalah menghindari faktor resiko asthma. Dari hasil perhitungan OR diatas, didapat bahwa OR yang paling besar adalah pembongkaran kedelai. Oleh karena itu dapat ditarik kesimpulan bahwa kedelai dapat menyebabkan asthma.