You are on page 1of 7

BAB I PENDAHULUAN Dalam kehidupan sehari hari, masyarakat memiliki kebutuhan kebutuhan yang harus dipenuhi baik kebutuhan

an primer, sekunder maupun tersier. Ada kalanya masyarakat tidak memiliki cukup dana untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karenanya, dalam perkembangan perekonomian masyarakat yang semakin meningkat muncullah jasa pembiayaan yang ditawarkan oleh lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non bank. Lembaga perbankan merupakan salah satu aspek yang diatur dalam syariah Islam, yakni bagian muamalah sebagai bagian yang mengatur hubungan sesama manusia. Pengaturan lembaga perbankan dalam syariah Islam dilandaskan pada kaidah dalam ushul fiqih yang menyatakan bahwa maa laa yatimm al wajib illa bihi fa huwa wajib , yakni sesuatu yang harus ada untuk menyempurnakan yang wajib, maka ia wajib diadakan. Mencari nafkah ( yakni melakukan kegiatan ekonomi ) adalah wajib diadakan. Oleh karena pada zaman modern ini kegiatan perekonomian tidak akan sempurna tanpa adanya lembaga perbankan, maka lembaga perbankan ini pun menjadi wajib untuk diadakan. Semoga dalam makalah ini membantu kita dalam memaknai tentang pembiayaan dalam akad Musyarakah, mudhrabah dan Wadiah. Dan di harapkan mampu memperjelas tentang akad- akad tersebut, sehingga ekonomi islam berjalan sesuai dengan Kaffah.

1. MUSYARAKAH 1

A. Pengertian Secara bahasa syirkah atau musyarakah berarti mencampur. Dalam hal ini mencampur satu modal dengan modal yang lain sehingga tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dalam istilah fikih syirkah adalah suatu akad antara dua orang atau lebih untuk berkongsi modal dan bersekutu dalam keuntungan. B. Landasan Syariah Islam tidak membatasi aktivitas manusia dalam rangka bermuamalah dengan manusia lainnya. Salah satu aktivitas bermuamalah dengan manusia lainnya. Salah satu aktivitas bermuamalah tersebut adalah melakukan investasi. Investasi sangat dianjurkan dalam rangka mengembangkan karunia Allah. Dinamakan karunia Allah karena kekayaan sangat penting dalam kehidupan manusia. Mendiamkan harta, termasuk modal, sedemikian rupa sehingga tidak produktif adalah yang secara Islami tidak dibenarkan. Islam tidak memperbolehkan kakayaan ditumpuk dan ditimbun (QS. Al-Humazah [104]:1-3). Karena hal-hal demikian adalah menyia-nyiakan ciptaan Allah SWT dari fungsi sebenarnya harta dan secara ekonomi membahayakan. Bahaya dari penimbunan harta tersebut berupa terhambatnya pertumbuhan modal. Terhambatnya pertumbuhan modal akan menurunkan jumlah modal kerja yang tersedia untuk investasi. Dari Abu Hurairah, Rasulullah berkata : Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla berfirman: Aku pihak ketiga dari dua orang yang bersyarikat selama salah satunya tidak mengkhianati lainnya. (H.R. Abu Dawud no. 2936, dalam kitab Al Buyu, dan Hakim)

C. Macam-Macam Musyarakah Pada dasarnya musyarakah atau syirkah (kerja sama) itu ada dua bentuk yaitu : (1). Syirkah al milk (kerjasama non kontraktual), dan (2). Syirkah al uqud (kerjasama kontraktual), (Saad Abdul Satar Al Haran, 1993:75). 1. Syirkah al-milk (kerjasama non kontraktual), mengimplikasikan kepemilikan bersama dan terjadi ketika dua atau lebih orang secara kebetulan mendapatkan kepemilikan bersama beberapa aset tanpa melalui persetujuan kerja sama (Saat Abdul Satar Al Haran, 1993:75). 2. Syirkah al uqud menunjukkan kebersamaan dua atau lebih orang untuk menjalankan suatu usaha yang bertujuan membagi keuntungan dengan investasi bersama sebagai kelaziman pada periode pembentukan kerjasama tersebut, berupa kerjasama dalam jumlah modal tertentu, dalam bekerjasama dengan mengkontribusikan tenaga dan keahlian dan kerjasama dalam pembiayaan dimana tidak ada modal dikontribusikan dan para pihak 2

memberli dan menjual atas atas pembiayaan dengan suatu pemahaman bahwa mereka akan membagi keuntungan. Suatu kerjasama dengan karakter campuran dapat terjadi dalam bentuk kerjasama modal dan pekerjaan, lahan pertanian dan pekerjaan perusahaan industri dan hal-hal yang sejenis (Abdurahman Raden Aji Haqqi, 1999:3). Syirkah al-uqud dibagi menjadi menjadi empat macam : 1. mufawadah (kewajiban dan kewenangan penuh), Dalam syirkah muwafadah para pihak adalah orang-orang dewasa yang memiliki kesamaan dalam kontribusi modal, kemampuan mereka untuk memikul tanggung jawab serta bagian keuntungan dan kerugian. Oleh karena itu, setiap pihak dapat bertindak selaku agen (wakil) untuk usaha kerjasama dan bertindak sebagai penjamin (kafil) dari pihak lain. 2. Al-Inan (kewenangan dan kewajiban terbatas), Mengimplikasikan bahwa semua pihak tidak perlu harus dewasa atau memiliki kontribusi yang sama atas modal. Tanggung jawab mereka terhadap kerugian juga sesuai modal mereka. Oleh karena itu, dalam syirkah Al-inan para pihak bertindak sebagai agen, tetapi tidak bertindak sebagai penjamin dari kolega mereka (Abdurahman Raden Aji Haqqi, 1999:3). 3. Al-Abdan (tenaga, keahlian, dan manajemen), Adalah suatu kerjasama para pihak mengkontribusikan kemampuan mereka terhadap manajemen tanpa mengkontribusikan modal. 4. Al wujuh (good will, kepercayaan, pembiayaan dan kontrak). Para pihak menggunakan good will (kepercayaan) terhadap mereka untuk memeroleh pembiayaan dan hubungan mereka dalam memproduksikan modal sedikitpun (wahbah Zulhaili, 1989:51) Para ulama sepakat bahwa syarikah annan/inan dibolehkan dan sah. Sedangkan untuk syarikah lain terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama : Ulama Syafiiyah dan Dhahariyah.

2. MUDHARABAH A. Pengertian Mudharabah

Menurut bahasa, kata mudharabah berasal dari adh-dharbu fil ardhi, yaitu melakukan perjalanan untuk berniaga. Allah swt berfirman: Dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah. (QS Al-Muzzammil : 20). Mudharabah disebut juga qiradh, berasal dari kata qardh yang berarti qath (sepotong), karena pemilik modal mengambil sebagian dari hartanya untuk diperdagangkan dan ia berhak mendapatkan sebagian dari keuntungannya. Menurut istilah fiqh, kata mudharabah adalah akad perjanjian antara kedua belah pihak, yang salah satu dari keduanya memberi modal kepada yang lain supaya dikembangkan, sedangkan keuntungannya dibagi antara keduanya sesuai dengan ketentuan yang disepakati (Fiqhus Sunnah III: 212). B. Landasan syariah a. Al-Quran Dasar hukum yang biasa digunakan oleh para Fuqaha tentang kebolehan bentuk kerjasama ini adalah firman Allah dalam Surah alMuzzammil ayat 20 : ... Artinya : ....dan sebagian mereka berjalan di bumi mencari karunia Allah..... (Al-muzammil : 20) Artinya : Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perdagangan) dari Tuhanmu..... (al-Baqarah : 198). Kedua ayat tersebut di atas, secara umum mengandung kebolehan akad mudharabah, yang secara bekerjasama mencari rezeki yang ditebarkan Allah SWT di muka bumi.

C. Macam-macam 1. Mudharabah Muthlaqah (General Investment)

a) Shahibul maal tidak memberikan batasan-batasan (restriction) atas dana yang di investasikannya. Mudharib di beri wewenang penuh mengelola dana tersebut tanpa terikat waktu, tempat, jenis usaha dan jenis pelayanannya. b) Aplikasi perbankan yang sesuai dengan akad ini ialah time deposit biasa. 2. Mudharabah Muqayyadah a) Shahubul maal memberikan batasan atas dana yang diinvestasikannya. Mudharib hanya bisa mengelola dana tersebut sesuai dengan batasan yang di berikan oleh shahibul maal. Misalnya hanya untuk jenis usaha tertentu saja, tempat tertentu, waktu tertentu, dan lain-lain. b) Aplikasi perbankan yang sesuai dengan akad ini ialah special investment. 3. WADIAH A. Pengertian Wadiah Pengertian wadi`ah menurut Syafii Antonio (1999) adalah titipan murni dari satu pihak kepihak lain, baik individu maupun badan hukum yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja sipenitip mengkehendaki. Menurut Bank Indonesia (1999) adalah akad penitipan barang/uang antara pihak yang mempunyai barang/uang dengan pihak yang diberi kepercayaan dengan tujuan untuk menjaga keselamatan, keamanan serta keutuhan barang/uang. B. Landasan Hukum Wadi`ah diterapkan mempunyai landasan hukum yang kuat yaitu dalam : Al-Qur`nul Karim Suroh An-Nisa` : 58 : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, .. Dalam Al-Hadits lebih lanjut yaitu : Dari Abu Hurairah, diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: Tunaikanlah amanah (titipan) kepada yang berhak menerimanya dan janganlah membalasnya khianat kepada orang yang menghianatimu. (H.R. ABU DAUD dan TIRMIDZI).

C. Macam-Macam 1. WADI`AH YAD AL AMANAH Adalah akad penitipan barang/uang dimana pihak penerima tidak diperkenankan penggunakan barang/uang tersebut dan tidak bertanggung jawab atas kerusakan atau kelalaian yang bukan disebabkan atas kelalaian penerima titipan dan faktor-faktor diluar batas kemampuannya. Hadis Rasulullah : Jaminan pertanggung jawaban tidak diminta dari peminjam yang tidak menyalah gunakan (pinjaman) dan penerima titipan yang tidak lalai terhadap titipan tersebut. Ada lagi dalil yang menegaskan bahwa Wadi`ah adalah Akad Amanah (tidak ada jaminan) adalah :

Amr Bin Syua`ib meriwayatkan dari bapaknya, dari kakeknya, bahwa Nabi SAW bersabda: Penerima titipan itu tidak menjamin. Karena Allah menamakannya amanat, dan jaminan bertentangan dengan amanat. Penerima titipan telah menjaga titipan tersebut tanpa ada imbalan (tabarru)

2. WADI`AH TAD ADH-DHAMANAH Adalah akad penitipan barang/uang dimana pihak penerima titipan dengan atau tanpa ijin pemilik barang/uang, dapat memanfaatkannya dan bertanggung jawab terhadap kehilangan atau kerusakan barang/uang titipan tersebut. Sesuai dengan hadis Rasulullah SAW: Diriwayatkan dari Abu Rafie bahwa Rasulullah SAW pernah meminta seseorang untuk meminjamkannya seekor unta. Maka diberinya unta qurban (berumur sekitar dua tahun), setelah selang beberapa waktu, Rasulullah SAW memrintahkan Abu Rafie untuk mengembalikan unta tersebut kepada pemiliknya, tetapi Abu Rafie kembali kepada Rasulullah SAW seraya berkata, Ya Rasulullah, unta yang sepadan tidak kami temukan, yang ada hanya unta yang besar dan berumur empat tahun. Rasulullah SAW berkata Berikanlah itu karena sesungguhnya sebaik-baik kamu adalah yang terbaik ketika membayar. (H.R MUSLIM)

DAFTAR PUSTAKA

1. Adiwarman Karim, Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan 2. Muhammad Syafi'i Antonio, Bank Syariah Dari Teori Ke Praktik

3. Kumpulan Fatwa DSN-MUI 4. Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia 2003 5.Sofiniyah Ghufron, Konsep dan Implementasi Bank Syariah 2005