You are on page 1of 41

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang dalam kondisi sakit tubuh manusia akan mengalami perubahan-perubahan fisiologis sebagai kompensasi tubuh dalam mempertahankan homeostatis tubuh, baik itu orang dewasa maupun anak-anak. Perubahan-perubahan yang terjadi meliputi kebutuhan akan kebutuhan nutrisi, kebutuhan cairan dan elektrolit ketika sakit, perubahan kebutuhan aktivitas, perubahan kondisi suhu tubuh yang berkaitan erat dengan infeksi yang terjadi ketika sakit. Ketika seorang anak sakit perubahan akan kebutuhan nutrisi, cairan, aktivitas, peningkatan suhu tubuh dengan hubungannya dengan infeksi saling berhubungan satu sama lain dan hal tersebut nantinya akan berhubungan dengan cara penanganan terhadap penyakit yang dialami sang anak. Seringkali orang tua ataupun tenaga kesehatan tidak mengetahui bahwa kelima faktor tersebut saling berhubungan dan hanya mementingkan satu dari keempat faktor tersebut dalam rencana penanganan ketika seorang anak atau klien anak sakit, padahal penanganan kelima faktor tersebut memiliki hubungan yang saling terikat satu sama lain. Contohnya, ketika kita menghitung kebutuhan nutrisi (kalori)seseorang terutama anak baik ketika sehat maupun sakit pasti akan melihat pola kebutuhan aktivitas. Ketika seorang anak sakit misalnya demam akan terjadi peningkatan suhu tubuh yang ada pengaruhnya dengan infeksi dalam tubuh seorang anak yang menyebabkan demam. saat terjadi demam kebutuhan cairan seseorang akan terjadi peningkatan karena peningkatan suhu tubuh dapat menyebabkan dehidrasi. Sehingga dalam makalah ini kami akan membahas keterkaitan kelima kebutuhan tersebut ketika diaplikasikan dalam suatu kasus. Kita akan menyajikan analisa dari masing-masing kebutuhan terhadap contoh kasus yang diberikan.

1.2

Rumusan Masalah 1. Bagaimana analisa konsep nutrisi terhadap kasus penyakit yang disajikan?

2.

Bagaimana analisa konsep peningkatan suhu tubuh dan penanganannya terhadap kasus penyakit yang disajikan?

3.

Bagaimana analisa kebutuhan cairan pasien pada kasus penyakit yang disajikan ?

4.

Bagaimana analisa kebutuhan aktifitas pasien pada kasus penykit yang disajikan ?

5.

Bagaimana analisa konsep infeksi dan pencegahan infeksi yang harus dilakukan pada kasus penyakit yang disajikan.

1.3

Tujuan 1. 2. Menganalisa konsep nutrisi terhadap kasus penyakit yang disajikan. Menganalisa konsep peningkatan suhu tubuh dan penanganannya terhadap kasus penyakit yang disajikan. 3. Menganalisa kebutuhan cairan pasien pada kasus penyakit yang disajikan. 4. Menganalisa kebutuhan aktifitas pasien pada kasus penykit yang disajikan. 5. Menganalisa konsep infeksi dan pencegahan infeksi yang harus dilakukan pada kasus penyakit yang disajikan.

1.4

Manfaat 1. Mampu menganalisa konsep nutrisi terhadap kasus penyakit yang disajikan. 2. Mampu menganalisa konsep peningkatan suhu tubuh dan

penanganannya terhadap kasus penyakit yang disajikan. 3. Mampu menganalisa kebutuhan cairan pasien pada kasus penyakit yang disajikan. 4. Mampu menganalisa kebutuhan aktifitas pasien pada kasus penyakit yang disajikan. 5. Mampu menganalisa konsep infeksi dan pencegahan infeksi yang harus dilakukan pada kasus penyakit yang disajikan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Dasar Nutrisi Pengertian Nutrisi Nutrisi merupakan proses pemasukan dan pengolahan zat makanan oleh tubuh yang bertujuan menghasilakan energy dan digunakan dalam aktivitas tubuh. Nutrisi merupakan zat-zat yang diperlukan oleh tubuh yang ditemukan pada makanan. Nutrien adalah sejenis zat kimia organik maupun anorganik yang terdapat dalam makanan dan dibutuhkan oleh tubuh untuk menjalankan fungsinya. Nutrisi essensial (kelompok nutrien) yang seimbang terdiri dari: 1. Air, sebagai komponen penyususn sel yang utama air juga berperan dalam menyalurkan zat-zat makanan menuju sel, membantu proses kimia dalam tubuh dan berperan dalam mengontrol temperatur tubuh. 2. Karbohidrat merupakan zat gizi yang terdapat dalam makanan, pada umumnya dalam bentuk amilum. Berfungsi sebagai sumber energi bagi tubuh. terbagi menjadi: a) Monosakarida b) Disakarida c) Polisakarida 3. Protein, merupakan substansi organik dengan kandungan unsur karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen. Dijumpai dalam sitoplasma semua sel hidup, baik hewan ataupun tumbuhan. 4. Lemak, Merupakan senyawa yang mengandung unsur karbon,hidrogen, dan oksigen. Lemak dasar tersusun atas trigliserida dan asam lemak. 5. Vitamin, terbagi menjadi 2 macam antara lain : a) Vitamin yang larut dalam lemak: A,D,E,K b) Vitamin yang larut dalam air: B,C 6. Mineral, tersusun atas: kalsium, magnesium, fosfor, Zat besi, Klorin dan Natrium, kalium, sulfur.

2.1.1

Kebutuhan Nutrisi Tiap Hari Tabel. Kebutuhan Energi per Hari Umur 0-6 bulan 7-12 bulan 1-3 tahun 4-6 tahun 7-9 tahun Berat Badan (kg) 5.5 8.5 12 18 23.5 Tinggi Badan (cm) 60 71 89 108 120 Energi (kkal) 560 800 1220 1720 1860

Tabel. Kebutuhan Protein per Hari Umur 0-6 bulan 7-12 bulan 1-3 tahun 4-6 tahun 7-9 tahun Berat Badan (kg) 5.5 8.5 12 18 23.5 Tinggi Badan (cm) 60 71 89 108 120 Protein (gr) 12 15 23 32 36

Tabel. Jenis Mineral, Sumber, Dan Fungsi Jenis Mineral Kalsium Susu. Sumber Fungsi Pembentukan gigi dan tulang, aktivitas neuromuskular, dan

koagulasi (penggumpalan) darah. Fosfor Telur, daging, dan Penyangga susu. Yodium Garam Besi dan tulang. Pengaturan metabolisme tubuh beryodium dan memperlancar pertumbuhan. Komponen hemoglobin dan pembentukan gusi

dan makanan laut. Hati, telur, daging.

membantu oksidasi dalam sel. Pengaktifan enzim, pembentukan

Magnesium

Biji-bijian, susu, dan gigi dan tulang, dan membantu

daging. Zinc

kegiatan neuromuskular.

Makanan laut dan Bahan pembentuk enzim dan hati. insulin.

Tabel. Kebutuhan Mineral per Hari Umur 0-6 bulan 7-12 bulan 1-3 tahun 4-6 tahun 7-9 tahun BB (kg) 5.5 8.5 12 18 23.5 TB (cm) 60 71 89 108 120 Ca (mg) 600 400 500 500 500 P (mg) 200 250 250 350 400 Fe (mg) 3 5 8 9 10 Zn (mg) 3 5 10 10 10 I ( 50 70 70 100 120

Tabel. Kebutuhan Vitamin per Hari


Umur BB (kg) TB (cm) Vit.A (RE) Tiamin (mg) Riboflavin (mg) Niasin (mg) B12 (mg) Vit.C (mg)

0-6 bulan 7-12 bulan 1-3 tahun

5.5

60

350

0,3

0,3

2,5

0,1

25

8.5 12

71 89

350 350

0,4 0,5

0,4 0,6

3,8 5,4

0,1 0,5

25 25

4-6 tahun

18

108

360

0,7

0,9

7,6

0,7

25

7-9 tahun

23.5

120

407

0,7

0,9

8,1

0,9

25

Kebutuhan Nutrisi Berdasarkan Umur Tumbuh Kembang Anak Kebutuhan nutrisi pada setiap anak berbeda mengingat kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan sel atau organ pada anak berbeda, dan perbedaan ini yang menyebabkan jumlah dan komponen zat gizi berlainan. Secara umum kebutuhan nutrisi pada anak dapat dikelompokkan berdasarkan usia anak, mulai

umur 0-4 bulan, 4-6 bulan, 6-9 bulan, 9-12 bulan,usia toddler atau usia pra sekolah, usia sekolah dan usia remaja. a. Umur 0-4 Bulan Pada umur ini kebutuhan nutrisi bayi semuanya melalui air susu ibu yang terdapat komponen yang paling seimbang, akan tetapi apabila terjadi gangguan dalam air susu ibu maka dapat menggunakan susu formula dan nilai kegunaan atau manfaat jauh lebih baik dari menggunakan ASI. Pemberian ASI eksklusif adalah sampai empat bulan tanpa makanan yang lain, sebab kebutuhannya sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan pada bayi, dan proses pemberian ASI ini dapat dilakukan melalui proses menyusui. Pada proses menyusui ini akan memberikan dampak yang baik seperti pada proses awal menyusui, setelah bayi lahir terdapat zat kekebalan tubuh yang terdapat pada kolostrom yang kaya akan protein dan mengandung immunoglobulin A yang tinggi melalui keluarnya pertama dari ASI, di samping itu proses menyusui akan membantu reflex bayi untuk menghisap yang menyebabkan kebutuhan kasih sayang pada bayi terpenuhi dan membentuk proses bonding. Proses pengeluaran ASI dapat terjadi karena adanya reflek menghisap juga dapat dipengaruhi oleh proses hormonal terutama oksitosin dan prolaktin Air susu ibu merupakan makanan ideal pada bayi, di samping mempunyai zat gizi yang ideal juga mempunyai beberapa manfaat seperti harganya murah dan sederhana, tersedia pada suhu yang ideal dan tidak perlu dipanaskan atau disterilkan dahulu, bebas dalam pencemaran kuman yang dapat mengurangi kemungkinan timbulnya gangguan saluran pencernaan, akan mempercepat pengembalian besarnya rahim pada bentuk dan ukuran sebelum mengandung. ASI mempunyai peran yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan bagi anak mengingat zat gizi yang ideal terdapat di dalamnya, di antaranya immunoglobulin (IgA, IgG, IgM, IgD dan IgE), lisozim merupakan suatu enzim yang tinggi jumlahnya yang berfungi bakteriostatik terhadap enterobakteria dan kuman gram negatif dan sebagai pelindung terhadap berbagai macam virus, kemudian laktoperioksidase enzim yang berfungsi membunuh streptococcus, farktor bifidus merupakan karbohidrat yang mengandung nitrogen yang berfungsi mencegah pertumbuhan organisme yang tidak diinginkan, faktor anti stafilokokus

merupakan asam lemak yang melindungi serangan stafilokokus, laktoferin, dan transferin komponen protein yang dapat mengurangi tersedianya zat besi pada pertumbuhan kuman, komponen komplemen yaitu C3 dan C4 yang berfungsi untuk pertahanan tubuh, adanya sel makrofag dan netrofil yang berfungsi menfagosit kuman, adanya lipase yang merupakan zat anti virus.

Tidak semua anak mendapatkan asi secara langsung, banyak kita temukan anakanak kebutuhan nutrisinya melalui susu formula. Untuk itu dalam pemakaian susu formula atau susu botol juga perlu perhatian di antaranya: sterilkan dahulu sebelum memberikan pada bayi dengan cara dipanaskan, jangan membuat lamalama susu dalam botol, ikuti petunjuk pemakaian susu formula dan lain-lain. b. Umur 4-6 Bulan Pada usia ini kebutuhan nutrisi pada anak tetap yang utama adalah ASI kemudian ditambah lagi dengan bubur susu dan sari buah, pemenuhan kebutuhan nutrisi pada anak terdapat tambahan mengingat seiring dengan perkembangan fungsi sistem pencernaan. Perubahan kebutuhan nutrisi anak hanya perubahan bentuk makan akan tetapi kadar zat gizi tetap seimbang dengan komposisi yang ada. c. Umur 6-9 bulan Kebutuhan nutrisi pada anak usia ini adalah tetap diteruskan kebutuhan nutrisi dari ASI kemudian ditambah dengan bubur susu, bubur tim saring dan buah, penambahan bentuk kebutuhan nutrisi disesuaikan dengan ukuran kebutuhan nutrisi pada usia anak, makanan lebih pada dari usia sebelumnya mengingat perkembangan gigi sudah mulai dan pada usia ini bayi mulai mengunyah apa saja dan memasukkan semua makanan ke dalam mulut, untuk itu perlu pengawasan dalam setiap aktivitas anak. d. Umur 10- 12 bulan. Pada usia anak ini masih tetap diberikan asi dengan penambahan pada bubur susu, bubur tim kasar dan buah, bentuk makanan yang disediakan dapat lebih padat dan bertambah jumlahnya mengingat pertumbuhan gigi dan kemampuan fungsi pencernaan sudah bertambah. Pada usia ini anak sering senang makan sendiri dengan sendok atau suka mencoba makan sendiri dan makan dengan

tangan, pada anak seusia ini adalah merupakan usaha yang baik dalam menuntun ketangkasan dan merasakan bentuk makanan. e. Usia Todler dan Pra Sekolah Pada usia ini kemampuan kemandirian dalam pemenuahan kebutuhan nutrisi sudah mulai muncul, sehingga segala peralatan yang berhubungan dengan makan seperti garpu, piring, sendok, dan gelas semuanya harus di jelaskan pada anak atau diperkenalkan dan dilatih tentang penggunaan, sehingga dapat mengikuti aturan yang ada. Dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi pada usia ini sebaiknya penyediaan bervariasi menunya untuk mencegah kebosanan, berikan susu dan makanan yang dianjurkan antara lain: daging, sup, sayuran, dan buahbuahan, pada anak ini juga perlu makanan padat sebab kemampuan mengunyah sudah mulai kuat. f. Usia Sekolah Pada usia sekolah ini kebiasaan makan pada anak tergantung pada kehidupan sosial di sekolah, kadang-kadang anak malas makan di rumah karena kondisi yang tidak disukai, pada usia ini kemampuan makan dengan menggunakan sendok, piring, dan garpu sudah baik. Pada usia sekolah tata cara dalam makan seperti makan dengan duduk, mencuci tangan sebelum makan, tidak mengisi mulut secara penuh dan mengambil makanan secara bersamaan dan lain-lain kebiasaan tersebut harus dilakukan. Kadang-kadang usia sekolah juga malas untuk makan akibat stress atau sakit sehingga perlu pemantauan, dan anak sekolah cenderung suka g. makan secara bersamaan dengan teman sekolahnya.

Usia Remaja. Pada masa remaja kebutuhan kalori semakin meningkat karena perubahan

menjadi pubertas dan aktivitas. Pada masa remaja sangat menyadari akan gambaran diri sehingga perlu pemantauan diet dalam makanan, seperti takut akan obesitas dan takut timbulnya acne atau jerawat akibat makanan. Pada masa ini terjadi pertumbuhan yang cepat baik tinggi maupun berat badan kebutuhan gizipun meningkat.

2.1.2 Nutrisi Pada Anak Sakit Gizi merupakan bagian dari proses kehidupan dan proses tumbuh kembang anak, sehingga pemenuhan kebuuhan gizi secara adekuat menentukan kualitas tumbuh kembang, sebagai sumber daya manusia dimasa datang. Konsumsi makanan yang adekuat perlu dijaga selalu pada anak sakit, karena kita tahu pada anak yang sakit sering nafsu makannya sangat merosot, tidak sanggup memasukkan makanannnya sendiri, dan anak tidak mau makan karena masalah hambatan psikis, anoreksia, dan masalah-masalh saluran cerna, dan lain sebagainya. Jadi tujuan kita memberikan diit pada anak sakit adalah untuk menjaga agar anak tetap mengkonsumsi makanan dengan baik. Berdasarkan alasan-alasan tersebut, Berbagai pertimbangan dari segi gizi diperlukan. Sebagaimana diketahui bahwa anak yang sakit akan mengalami peningkatan metabolisme dan katabolism, ini berarti terjadi gangguan gizi yang dimulai semenjak anak mulai terganggu kesehatannya. Gangguan gizi ini akan mempengaruhi sistem imunitas, kardiovaskuler, saluran napas, dan sistem organ lain sehingga selanjutnya akan terjadi resiko peningkata infeksi, memperlambat pada penyembuhan luka, dan waktu perawatan lebih panjang. Tunjangan diit yang dilakukan sebaiknya secara enteral karena cara ini yang paling alami, kecuali beberapa indikasi yang mengharuskan diit secara parenteral. Masalah yang sering dihadapai pada anak sakit adalah masalah kesulitan makan, dimana anak tampak kehilangan nafsu makannya, dan makan merupakan suatu hal yang berat baginya terutama apbila ada tanda-tanda peningkatan suhu tubuh. Untuk mengusahakan agar anak bisa tumbuh dan berkembang secara optimal, perlu dijaga keseimbangan gizinya dengan memberikan cukup kalori, protein, lemak, mineral dan vitamin yang bisa diterima oleh penderita secara psikologis. Kehilangan nitrogen membutuhkan pengganti berupa kalori yang cukup sehingga berat badan penderita bisa dipertahankan dan dicegah kemungkinan kekurangan gizi. Bila keadaan penderita memungkinkan secepatnya kembali ke makanan biasa. Dalam mengatur diit anak sakit tersebut perlu kiranya bagi kita semua untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Jumlah makanan 2. Macam dan susunan makanan. 3. Bentuk makanan 4. Cara pemberian makanan. a. Jumlah makanan Jumlah makanan yang diberikan kepada anak sakit hendaklah selalu dihitung dalam bentuk kebutuhan kalori. Cara perhitungan kalori meliputi: 1. Metabolisme basal Metabolisme basal dihitung berdasarkan luas permukaan tubuh, yakni kira-kira sesuai dengan 1500kkal/24 jam untuk tiap luas permukaan

tubuh, atau kurang lebih 55kkal/kgBB/hari. Setiap kenaikan suhu tubuh 1C, menyebabkan kenaikan basal metabolisme sebesar 10%. BMR (basal metabolic rate) bisa dihitung menurut rumus: BMR(kkal/ 2. /jam) = 55 umur(tahun).Pertumbuhan jaringan

Pertumbuhan jaringan memerlukan energi sebesar 5kkal/gram jaringan yang dibentuk.

3.

Memenuhi kebutuhan energi aksi dinamik spesifik (SDA). Pemenuhan kebutuhan energi SDAyang besarnya diperkirakan 1-6 kkal/kgBB/hari. SDA ini dapat dihitun dengan rumus: 0,01 x (BMR+ energi untuk aktivitas).

4.

Mengganti energi yang terbuang melalui feses dan air kemih. Besar energi yang diperlukan untuk itu adalah 2-10% total energi yang diperlukan tubuh.

5.

Memenuhi kebutuhan energi selam sakit. Berbagai kebutuhan energi seperti penggantian jaringan yang

rusak,meningkatkan pembentukan zat anti, meningkatkan metabolisme, dan mempertahankan pertumbuhan yang normal. Rasio antara masukan kalori dan nitrogen dalam keadaan basal adalah 150-300:1, dan pada saat trauma kebutuhan protein menjadi lebih tinggi sehingga rasio protein nitrogen menjadi 00:1. Pada penyakit ginjal dan hati bahkan rasionya menjadi 800:1, karena terjadi retraksi terhadap protein.

10

Besarnya energi yang diperlukan sangat tergantung pada macam penyakit, berat penyakit, dan lama sakit. Bila besar energi yang dibutuhkan dihitung dengan metabolisme basal sebagai patokan, maka diperkirakan peningkatannya sekitar 10-25% atau bahkan sampai 100%, terutama pada keadaan luka bakar dan trauma mayor. Berbagai keadaan berikut yang dapat menaikkan kebutuhan kalori dapat dilihat pada tabel berikut. no 1. keadaan demam Kenaikan kalori (%) 12% untuk setiap kenaikan 1C (di atas 37C) 2. 3. 4. 5. 6. 7. Gagal jantung Kasus bedah Luka bakar Sepsis berat Gagal tumbuh MEP 15-25% 20-30% Sampai 100% 40-50% 50-100% Sampai 2 kali kebutuhan basal (6 kkal setiap kenaikan 1 kgBB) Sumber: kemer, 1983.

DIIT PADA ANAK SAKIT Kebutuhan kalori pada anak sakit menurut harris benedict adalah: Kebutuhan kalori pada anak sakit = KKB/BMR/BEE + 40 x (TB-100) kkal/hari. Sedangkan, Laki- laki BMR/BEE = 66, 47 + (13,75 x berat (kg)) + (5,0 x tinggi (cm)) (6,76 x usia (tahun)) = . Kal/hari. Wanita :

11

BMR/BEE = 65,51 + (9,56 x berat (kg)) + (1,85 x tinggi (cm)) (4,68 x usia (tahun)) = . Kal/hari. BEE (Basal Energy Expenditure) adalah pengeluaran kalori secara teoritis dalam keadaan puasa dan istirahat tanpa stres. Kebutuhan kalori pada keadaan sakit Beratnya penyakit Ringan Sedang Berat Kebutuhan kalori tambahan + 10% + 25% + 50 100%

Kebutuhan kalori berdasarkan usia anak Usia (tahun) <1 13 46 7 10 11 18 Kal/kg BB/hari 80 95 75 90 65 75 55 75 45 55

Kebutuhan kalori pada anak yang sakit Berat badan (kg) 0 10 10 20 Kebutuhan Kalori 100 kal/kg 10 kg pertama : 100 kal/kg, selebihnya sampai 20 kg : 50 kal/kg. > 20 kg 10 kg pertama : 100 kal/kg, 10 kg kedua : 50 kal/kg, selebihnya 20 kal/kg

12

2.2 Konsep Dasar Peningkatan Suhu dan Penatalaksanaannya. Gejala sakit pada anak yang sering kita jumpai adalah demam. Demam adalah gejala berupa naiknya suhu tubuh sebagai respon normal tubuh terhadap suatu gangguan. Demam bukanlah suatu penyakit melainkan suatu tanda dari berbagai proses dalam tubuh. Kita sering khawatir bila kita atau anggota keluarga kita mengalami demam. namun demam tidak selalu berdampak buruk bagi tubuh kita, bahkan demam sesungguhnya merupakan mekanisme pertahanan tubuh kita terhadap berbagai penyakit terutama infeksi. Suhu tubuh dikendalikan oleh suatu bagian dari otak yang disebut hipotalamus. Hipotalamus berusaha agar suhu tubuh tetap hangat (36,5-37,4 C ) meskipun lingkungan luar tubuh berubah-ubah. Hipotalamus mengatur suhu dengan cara menyeimbangkan antara produksi panas pada otot dan hati dan pengeluaran panas pada kulit dan paru-paru. Ketika ada infeksi, sistem kekebalan tubuh meresponnya dengan melepaskan zat kimia dalam aliran darah. Zat kimia tersebut akan merangsang hipotalamus untuk menaikkan suhu tubuh dan akhirnya akan menambah jumlah sel darah putih yang berguna dalam melawan kuman. 2.2.1 Mekanisme Terjadinya Demam Castillo, et al (1998) melaporkan bahwa hipertermia, 58% disebabkan oleh infeksi, 42% disebabkan oleh nekrosis jaringan atau oleh perubahan mekanisme termoregulasi yang terjadi jika lesi mengenai daerah anterior hipotalamus. Terjadinya demam disebabkan oleh pelepasan zat pirogen dari dalam lekosit yang sebelumnya telah terangsang baik oleh zat pirogen eksogen yang dapat berasal dari mikroorganisme atau merupakan suatu hasil reaksi imunologik yang tidak berdasarkan suatu infeksi. Pirogen eksogen ini juga dapat karena obat-obatan dan hormonal, misalnya progesterone. Pirogen eksogen bekerja pada fagosit untuk menghasilkan IL-1, suatu polipetida yang juga dikenal sebagai pirogen endogen. IL-1 mempunyai efek luas dalam tubuh. Zat ini memasuki otak dan bekerja langsung pada area preoptika hipotalamus. Di dalam hipotalamus zat ini merangsang pelepasan asam arakhidonat serta mengakibatkan peningkatan sintesis PGE-2 yang langsung dapat menyebabkan suatu pireksia/ demam.

13

Penyebab demam selain infeksi ialah keadaan toksemia, adanya keganasan atau akibat reaksi pemakaian obat (Gelfand, et al, 1998). Sedangkan gangguan pada pusat regulasi suhu sentral dapat menyebabkan peninggian temperature seperti yang terjadi pada heat stroke, ensefalitis, perdarahan otak, koma atau gangguan sentral lainnya. Pada perdarahan internal saat terjadinya reabsorbsi darah dapat pula menyebabkan peninggian temperature. 2.2.2 Penyebab Demam Demam bukanlah suatu penyakit, melainkan salah satu tanda dari penyakit. Sebagian besar demam disebabkan oleh adanya infeksi dalam tubuh. Infeksi dapat disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, dan parasit. Demam merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh untuk melawan dan mengeliminasi infeksi. Demam dapat timbul berhari-hari selama proses infeksi masih berlangsung dalam tubuh, dan bila infeksi sudah teratasi maka suhu tubuh akan kembali turun hingga normal. Oleh karena itu demam biasanya menjadi tanda dari perjalanan suatu penyakit. Pada anak-anak, penyebab utama demam adalah infeksi virus. Yang termasuk infeksi virus di antaranya infeksi saluran nafas akut (ISPA), sariawan, cacar air, campak, dan diare. Demam yang disebabkan infeksi bakteri diantaranya infeksi saluran kemih (ISK), pneumonia, meningitis, otitis media, dan tonsilitisfaringitis streptokokus 2.2.3 Gejala yang Sering Menyertai Demam Terlepas dari penyebab demam, demam sering disertai dengan gejala lain sebagai berikut: 1. Menggigil, merasa kedinginan, tangan dan kaki teraba dingin (gejala tersebut ada respon tubuh yang normal untuk meningkatkan suhu tubuh). 2. 3. 4. 5. 6. Sakit kepala. Badan terasa pegal. Nafsu makan turun. Merasa lemas. Dehidrasi.

14

2.2.4

Nilai Normal Suhu Tubuh dan Cara Pengukuran Suhu tubuh manusia mempunyai variasi tiap harinya dimana pada pagi hari

suhu tubuh relatif lebih rendah dan pada sore/malam hari relatif lebih tinggi. Perbedaan suhu tersebut berkisar 0,5 derajat celcius. Perbedaan itu normal dan sering disebut variasi diurnal. Nilai normal suhu tubuh juga dapat dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, suhu udara, dan faktor lingkungan. Tabel. Nilai normal suhu tubuh Teknik pengukuran Meraba tangan Sangat tidak akurat dan dalam 36,0 C 37,5 >37,5 C C tidak Nilai normal Kriteria demam Keterangan

direkomendasikan. Suhu di Aman dan akurat. Lebih dibandingkan dengan suhu aksila. Tidak dianjurkan akurat

mulut (oral).

pada anak usia < 5th atau anak sulit bekerja sama. Suhu (aksila) ketiak 36,0 - 37,3 C >37,3 C Cukup akurat Hasil lebih rendah 0,5 dibandingkan dengan suhu oral. Mudah Akurat Tidak nyaman bagi anak. Suhu telinga 36,0 - 37,5 C >37,5 C Keakuratannya dilakukan C

pada semua usia. Suhu rektal (anus) 36,6 - 37,9 C >37,9 C

15

masih diperdebatkan oleh para ahli Tidak dianjurkan

pada bayi usia < 3 bulan.

Dalam mengukur suhu kita perlu memahami bahwa suhu tubuh bervariasi, tergantung pada teknik pengukuran yang dipakai. Dan lebih menggunakan 1 teknik pengukuran untuk memonitor perubahan suhu. Berikut ini adalah cara mengukur suhu tubuh pada anak: a. Mengukur suhu di dalam mulut (oral) Bila anak baru saja minum atau makan, tunggu 20-30 menit sebelum mengukur tempratur di dalam rongga mulut. Pastikan tidak ada makanan, permen, dll. Di dalam mulut anak. Letakkan ujung termometer di bawah lidah, minta anak untuk mengatupkan bibirnya di sekeliling termometer. Ingatkan anak untuk tidak menggigit termometer atau berbicara saat ada termometer di dalam mulutnya. Minta anak rileks dan bernafas biasa melalui hidung. Setelah terdengar nada beep (pada termometer digital), atau tunggu 5 menit, kemudian baca hasil yang tertera. b. Mengukur suhu ketiak (aksila) Buka baju anak. Taruh termometer di ketiak, lipat tangan anak serongkan ke dada sehingga termometer terjepit. Setelah terdengar nada beep (pada termometer digital), atau tunggu 5 menit, kemudian baca hasil yang tertera. c. Mengukur tempratur rektal (anus) Lumasi ujung termometer dengan jelly pelicin yang larut air.

16

Baringkan anak dipangkuan anda atau di atas tempat yang rata dan agak keras. Satu tangan memegang bagian bawah pantat anak agar tidak bergerakgerak. Tangan yang lain memasukkan termometer melalui anus sejauh 1-2 cm, tetapi bila terasa ada tahanan, jangan masukkan lebih jauh dari 1 cm.

Termometer dijepit diantara dua jari saat bagian tangan anda yang lain memegang pantat anak. Tenangkan anak/bayi. Setelah terdengar nada beep (pada termometer digital), atau tunggu 5 menit, kemudian baca hasil yang tertera.

2.2.5

Penanganan Demam

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, demam mempunyai manfaat melawan infeksi. Namun demam juga memberikan dampak negatif diantaranya terjadi peningktan metabolisme tubuh, dehidrasi ringan, dan dapat membuat anak sangat tidak nyaman. Oleh karena itu demam perlu ditangani dengan baik. Penanganan demam yang baik bukan semata-mata untuk menurunkan suhu tubuh melainkan juga mencari penyebab demam dan mengatasi penyebab demam tersebut. Untuk mengetahui secara pasti penyebab demam pada anak anda, konsultasikan anak ke dokter. a. Farmakoterapi : Obat penurun panas (antipiretik) Antipiretik adalah obat yang mempunyai efek menurunkan suhu tubuh pada keadaan demam. tujuan pemberian antipiretik bukan untuk menormalkan suhu tubuh melinkan untuk menurunkan suhu tubuh (tidak harus sampai normal) dan membuat anak merasa lebih nyaman. Yang termasuk antipiretik adalah paracetamol, obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS), dan aspirin. Konsultasikan dengan dokter apabila akan memberikan obat penurun panas. Paracetamol (acetaminophen) (contoh: Pamol, Sanmol, Tempral) merupakan obat pilihan pada anak-anak. Dosis yang dianjurkan adalah 1015mg/kgBB setiap 4-6 jam (4 kali/hari).paracetamol terbukti efektif dan aman apabila diberikan sesuai dosis yang direkomendasikan. Ibuprofen (contoh: Proris) merupakan golongan OAINS yang sering diberikan. Dosis yang dianjurkan adalah 5-10mg/kgBB setiap 6-8 jam (3-4 kali/hari). Ibuprofen juga terbukti efektif dan aman sebagai antipiretik, namun tidak dianjurkan pada anak
17

usia 6 bulan atau diberikan dalam jangka waktu lama. Baik paracetamol maupun ibuprofen terbukti efektif menurunkan demam dan direkomendasikan pada anakanak. Namun pemberian kombinasi keduanya tidak direkomendasikan karena belum terdapat penelitian yang membuktikan efektivitasnya. Selain itu pemberian kombinasi ibuprofen dan paracetamol pada anak demam dapat meningkatkan resiko terjadinya kerusakan hati dan ginjal. Sedangkan aspirin tidak direkomendasikan pengguanaanya pada anak meskipun efektif untunk mengurangi demam. karena pemberian aspirin pada anak demam yang disebabkan infeksi virus dapat meningkatkan resiko terjadinya syndrom reye, yaitu sebuah penyakit yang ditandai dengan kerusakan hati dan ginjal. b. Terapi suportif 1) Kompres Mengompres dilakukan dengan handuk atau washcloth (washlap atau lap khusus badan) yang dibasahi dengan dibasahi air hangat (30C) kemudian dilapkan seluruh badan. Penurunan suhu tubuh terjadi saat air menguap dari permukaan kulit. Oleh karena itu, anak jangan dibungkus dengan lap atau handuk basah atau didiamkan dalam air karena penguapan akan terhambat. Tambah kehangatan airnya bila demamnya semakin tinggi. Dengan demikian, perbedaan antara air kompres dengan suhu tubuh tidak terlalu berbeda. Jika air kompres terlalu dingin akan mengerutkan pembuluh darah anak. Akibatnya, panas tubuh tidak mau keluar. Anak jadi semakin menggigil untuk mempertahankan keseimbangan suhu tubuhnya. Mengompres dapat pula dilakukan dengan meletakkan anak di bak mandi yang sudah diisi air hangat. Lalu basuh badan, lengan, dan kaki anak dengan air hangat tersebut. Sebenarmya mengompres kurang efektif dibandingkan obat penurun demam. Bila ibu memakai metode kompres, hendaknya digabungkan dengan pemberian obat penurun demam, kecuali anak alergi terhadap obat tersebut.

18

Jangan mengompres dengan alkohol karena uap alkohol dapat terserap ke kulit atau paru-paru anak. Membedong anak di bawah umur 3 bulan dengan banyak pakaian atau selimut dapat sedikit menaikkan suhu tubuh. Menurut penelitian, suhu rektal 38.5C atau lebih tidak dihubungkan dengan membedong dengan kain tebal tadi. Oleh karena itu, dianjurkan bila anak demam, cukup memakai baju atau selimut tipis saja sehingga aliran udara berjalan baik. 2) Menaikkan Asupan Cairan Anak Demam pada anak dapat meningkatkan risiko terkena dehidrasi (kekurangan cairan). Tanda dehidrasi paling mudah adalah berkurangnya kencing dan air kencing berwarna lebih gelap daripada biasanya. Maka dari itu, orang tua sebaiknya mendorong anak untuk minum cairan dalam jumlah yang memadai. Anak dengan demam dapat merasa tidak lapar dan sebaiknya tidak memaksa anak untuk makan. Cairan seperti susu (ASI atau sapi atau formula) dan air harus tetap diberikan atau bahkan lebih sering. Anak yang lebih tua dapat diberikan sup atau buah-buahan yang banyak mengandung air. Bila anak tidak mampu atau tidak mau minum dalam beberapa jam, orang tua sebaiknya diperiksakan ke dokter. 3) Istirahatkan Anak Saat Demam Demam menyebabkan anak lemah dan tidak nyaman. Orang tua sebaiknya mendorong anaknya untuk cukup istirahat. Sebaiknya tidak memaksa anak untuk tidur atau istirahat atau tidur bila anak sudah merasa baikan dan anak dapat kembali ke sekolah atau aktivitas lainnya ketika suhu sudah normal dalam 24 jam. Selama anak demam, orang tua hendaknya tetap memperhatikan gejalagejala lain yang muncul. Tanyakan pada anak, adakah keluhan lain yang dirasakan, semisal: pusing, sakit kepala, nyeri saat kencing, kesulitan bernafas, dan lain-lain. Karena demam bisa jadi merupakan tanda bahwa ada gangguan pada kesehatan anak atau gejala dari penyakit tertentu. Oleh karena itu, para orang tua hendaknya bijaksana dalam menghadapinya. Orang tua

19

hendaknya tahu kapan anak dengan demam dapat dirawat sendiri di rumah atau diperiksakan ke tempat pelayanan kesehatan. 4) Gunakan pakian tipis pada anak agar suhu tubuh terkonversi keluar.

2.3 Konsep Dasar Kebutuhan Cairan Anak Dalam tubuh faal sel tergantung pada keseimbangan cairan dan elektrolit. Keseimbangan ini diatur oelh banyak mekanisme fisiologis yang terdapat dalam tubuh. Pada bayi dan anak sering terjadi gangguan keseimbangan tersebut, yang biasanya disertai perubahan PH cairan tubuh pula. Jumlah air dalam tubuh harus dipertahankan dalam batas-batas tertentu untukberlangsungnya metabolisme yang baik. Tubuh manusia terdiri dari: 1. Lean body mass (tubuh tanpa jaringan lemak), yaitu air, tulang, jaringan bukan lemak. 2. Jaringan lemak. Air merupakan 73% dari lean body mass sedangkan jaringan lemak hanya mengandung sedikit air. Oleh karena itu tubuh orang gemuk relatif mengandung lebih sedikit air dibanding dengan orang kurus. Tabel. Perbandingan lemak dan air dalam tubuh Lemak (%) Orang gemuk Pria normal Orang kurus bayi 50 16 7 Air (%) 50 60 87 78

Pada bayi dan penderita malnutrisi, kadar air dan lean body mass lebih tinggi dari normal, yaitu kira-kira 82%. Perubahan perbandingan air dan lean body mass juga terdapat pada penderita dehidrasi dan dengan edema. Perubahan ini terutama terjadi pada air ekstrasel. Bahan-bahan yang diperlukan manusia seperti air, elektrolit, zat makanan dan sebagainya, dapat diperhitungkan berdasarkan:

20

1. Berat badan dan umur 2. Luas permukaan badan. Pengukuran luas permukaan badan sukar, tetapi dengan nomogram west dapat dihitung bila diketahui BB dan PB. Tabel. Hubungan berat badan dan luas permukaan badan Berat badan (kg) 3,3 5 8 10 15 20 30 60 Luas permukaan badan (m2) 1,20 0,25 0,35 0,45 0,60 0,80 1,05 1,70 Relatif bayi dan anak kecil memiliki permukaan badan yang lebih luas dibandingkan orang dewasa. Proses fisiologis dalam tubuh sebenarnya lebih tergantung pada luas permukaan badan dari pada berat badan dan panjang badan serta umur. Di indonesia umumnya masih digunakan berat badan sebagai dasar perhitungan jumlah bahan yang diperlukan oleh tubuh. Darrow menganjurkan cara perhitungan jumlah kalori dan cairan untuk rumat (maintenance) sebagai berikut: Berat badan Kebutuhan cairan Neonatus Kurang 50kal/kgBB/hari Berat badan 3-10 kg Kurang 70kal/kgBB/hari Berat badan 10-15 kg Kurang 55kal/kgBB/hari Berat badan 15-25 kg Kurang lebih lebih lebih lebih kalori dan

21

45kal/kgBB/hari Kebutuhan cairan tergantung pada metabolisme kalori. Untuk membentuk panas, metabolisme 100 kalori memerlukan 150 ml air. Neodehidrasi isotoniknatus memerlukan air sebanyak:150/100 X 50=

75ml/kgBB/hari, sedangkan seorang anak dengan berat badan 3-10 kg memerlukan air 150/100 X 70 = 105ml/kgBB/hari dan seterusnya.

Perlu dikemukakan pula bahwa untuk setiap kenaikan suhu badan 1C diatas 37C harus ditambah 12% dari jumlah cairan yang telah diperhitungkan untuk rumus tersebut. Kebutuhan mineral seperti nantrium, kalium, kalsium dan sebagainya kirakira 2 mEq untuk metabolisme 100 kalori. DEHIDRASI Keadaan ini terjadi bila cairan yang dikeluarkan dari tubuh melebihi cairan yang masuk. Normal cairan keluar tubuh melaui: a. b. c. d. Ginjal sebagai urine. Kulit sebagai keringat dan uap. Paru-paru sebagai uap. Usus sebagai tinja.

Cairan yang keluar biasanya disertai elektrolit. Pembagian dehidrasi berdasarkan tonisitas darah: 1. Dehidrasi isotonik: tidak ada perubahan konsentrasi elektrolit darah. 2. Dehidrasi hipotonik: konsentrasi elektrolit darah turun. 3. Dehidrasi hipertonik: konsentrasi elektrolit darah naik, biasanya disertai rasa haus dan gejala neurologis. Karena tonisitas darah terutama ditentukan oleh kadar natrium didalam plasma, maka biasanya oenentuan jenis dehidrasi tersebut dilakukan berdasarkan kadar natrium tersebut, yaitu:

22

1. Dehidrasi isotonik, bila kadar Na dalam plasma 130-150 mEq/l dan dapat juga disebut sebgai dehidrasi isonatrium. 2. Dehidrasi hipotonik, bila kada Na dalam plasma kurang dari 130 mEq/l dan dapat disebut sebagai dehidrasi hiponatremi. 3. Dehidrasi hipertonik, bila kadar Na dalam plasma 130-150 mEq/l dan dapat disebut sebagai dehidrasi hiperntaremi. Dehidrasi juga dapat dibagi berdasarkan derajatnya, yaitu: a. Dehidrasi ringan bila kehilangan cairan mencapai 5% BB. b. Dehidrasi sedang bila kehilangan cairan diantara 5-10% BB. c. Dehidrasi berat bila kehilangan cairan lebih dari 10% BB. Anak besar dan orang dewasa, bila kehilangan cairan lebih dari 5%BB sudah dianggap menderita dehidrasi berat. Untuk mempertahankan volume plasma, tubuh akan mengguanakan cairan intersisil dan intrasel, sehingga terjadi dehidrasi intrasel. Karena itu rehidrasi baru dianggap lengkap, bila cairan ekstrasel, maupun cairan intrasel dan intersisil suda kembali normal. Dehidrasi pada anak dapat disebabkan karena masukan cairan yang kurang atau karena terlampau banyaknya cairan yang hilang. Kehilangan cairan yang berebihan dapat terjadi melalui: 1. Kulit, misalnya banyak berkeringat pada udara panas, demam, luka bakar, dsb. 2. Traktus digestivus, misalnya melalui muntah-muntah, diare, fistel, dll. 3. Traktus urinarius, misalnya diabetes insipidus, DM. 4. Paru-paru, misalnya hiperventilasi. 5. Pembuluh darah, misalnya perdarahan. Gejala dehidrasi Rasa haus, BB turun, kulit,bibir dan lidah kering, saliva menjadi kental, turgor kulit dan tonus otot berkurang. Mata dan ubun-ubun cekung, pembentukan urine berkurang, anak menjadi apatis, gelisah, kadang-kadang disertai kejang dan akhirnya timbul gejala asidosis dan renjatan dengan nadi

23

dan jantung berdenyut cepat, lemah, TD menurun, kesadaran menurun dan pernafasan kussmaul. DIARE Diare adalah defekasi encer lebih dari tigakali sehari dengan / tanpa darah dan/atau lendir dalam tinja. Diare akut adalah diare yang terjadi secara mendadak dan berlangsung kurang dari 7 hari pada bayi dan anak yang sebelumnya sehat. Berdasarkan patofisiologinya, maka penyebab diare dibagi menjadi: 1. Diare sekresi, yang dapat disebabkan oleh virus, kuman patogen, apatogen saraf, hiperperistaltik usus halus akibat efek bahan kimia atau makanan, gangguan psikis, hawa dingin, alergi dan defisiensi imun terutama IgA sekretonik. 2. Diare osmotik, yang dapat disebabkan oleh malabsorpsi makanan, kekurangan kalori protein (KKP), atau bayi BBLR dan baru lahir. Manifestasi klinis: Awalnya anak menjadi cengeng, gelisah, suhu badan meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul disre. Tinja makin cair mungkin mengandung darah atau lendir. Gejala muntah dapat terjadi sebelum dan atau sesudah diare. Bila telah banyak kehilangan air dan elektrolit maka terjadilah gejala dehidrasi. BB turun, pada bayi, ubun-ubun besar cekung, tonus dan turgor kulit berkurang, Mukosa mulut kering. Penatalaksanaan Prinsip: 1. Diare cair membutuhkan penggantian cairan dan elektrolit tanpa melihat etiologinya. Tujuan terapi rehidrasi untuk mengoreksi kekurangan cairan dan elektrolit secara cepat (terapi reidrasi) kemudian mengganti cairan yang hilang sampai diare berhenti.

24

Jumlah cairan yang diberikan harus sama dengan jumlah cairan yang telah hilang melalui diare/muntah (previous water loss = PWL), ditambah dengan banyaknya cairan yang hilang melalui keringat, urine, dan pernafasan (normal water loss = NWL) dan ditambah dengan banyaknya cairan yang hilang melalui tinja dan muntah yang masih terus berlangsung (concomitant water loss = CWL) jumlah ini tergantung pada deajat dehidrasi serta berat badan masing-masing anak atau golongan umur.

Tabel. Jumlah cairan (ml) yang hilang pada anak umur < 2 tahun (BB 310 kg) sesuai dengan derajat dehidrasi. dehidrasi ringan Sedang Berat PWL 50 75 125 NWL 100 100 100 CWL 25 25 25 jumlah 175 200 250

Tabel. Jumlah cairan (ml) yang hilang pada anak umur 2-5 tahun (BB 10-15 kg) sesuai dengan derajat dehidrasi. dehidrasi ringan Sedang Berat PWL 30 55 80 NWL 80 80 80 CWL 25 25 25 jumlah 135 155 185

Tabel. Jumlah cairan (ml) yang hilang pada anak umur >5 tahun (BB 15-25 kg) sesuai dengan derajat dehidrasi.

dehidrasi ringan Sedang Berat

PWL 25 50 80

NWL 65 65 65

CWL 25 25 25

jumlah 115 140 170

25

Tabel. Cara menilai pasien untuk dehidrasi A 1.Tanyakan tentang: - diare - Muntah - haus - Air seni kurang B dari - 4-10 kali sehari - jarang C - Lebih 10x - Sangat kering - Lebih dari normal - Sedikit, gelap - Tidak sanggup minum - Tidak berkemih selam 6 jam 2. Lihat: - Keadaan - Air mata - Mulut lidah - Pernafasan dan - Baik, waspada - Ada - Normal - Basah - Normal awas - Tidak ngantuk iritabel - Tidak ada - Cekung - Kering baik, - Sangat dan ngantuk, tidak sadar, dari

4x/hari - tidak ada atau sedikit - normal - normal

terkulai atau kejang. - Tidak ada.

- Lebih cepat dai - Sangat kering normal dan cekung. - Sangat cepat

dan dalam. 3.Raba: - Kulit - Nadi - Fontanela (pada bayi) - Cubitan kembali cepat - Cubitan kembali lambat - Cubitan sangat lambat kembali - Sangat cepat, lemah, teraba. - Sangat cekung. 4.BB Kehilangan < 25- Kehilangan 25-100 Kehilangan lebi 100kgBB kgBB dari 100 gr tidak

- Lebih cepat dari - Lebih cepat daro normal - Cekung normal - Cekung

perkgBB

26

Tidak dehidrasi

terdapat Dehidrasi ringan

Dehidrasi berat

2.4 Konsep Dasar Kebutuhan Aktivitas Selain keperluan energy pada metabolism basalaktivitas fisik juga membutuhkan energi. Seseorang yang lebih aktif membutuhkan energy lebih dari pada yang tidak aktif. Jumlah kalori yang digunakan dari berbagai aktivitas pada seorang pria dengan berat badan 75 kg dapat dilihat pada table di bawah ini. Selain itu jumlah energy yang dibutuhkan tubuh juga dipengaruhi oleh beberapa factor seperti bentuk tubuh intensitas dan lamanya aktifitas fisik. Jumlah kalori yang diperlukan seorang dewasa dengan berat ( 75 kg ) ketika bersepeda dengan kecepatan 12 mil perjam adalah 017 kalori/kg berat badan/menit. Dengan berat badan sama berlari dengan kecepatan 5 mil/jam sebesar 014 kalori/kg berat badan/menit dan berjalan dengan kecepatan 3 mil per jam sebesar 006 kalori/kg berat badan/menit. Dan ketika berenang dengan gaya bebas dikeluarkan kalori sebesar 013 kalori/kg berat badan/menit. No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Aktivitas Basket Boxing Menyapu Memasak Menari Makan Memancing Merawat kebun Menunggang kuda Mencat Bermain Piano Lari Kcal/min 90 - 100 90 - 100 40 - 45 30 35 35 - 125 10 - 20 40 - 50 35 - 90 30 - 100 20 - 60 25 - 30 90 - 210

27

13 14 15 16 17

Berdiri Berenang Mengetik (alat listrik) Berjalan Menulis

15 - 20 40 - 120 15 - 20 15 - 60 20-25

Aktivitas manusia dapat dibedakan atas aktivitas sangat ringan ringan sedang dan berat. Aktivitas sangat ringan seperti jalan santai menjahit mengendarai mobil meningkatkan kebutuhan energy sebesar 13% dari nilai BMR. Aktivitas ringan seperti memperbaiki mobil akan meningkatkan kebutuhan energy sekitar 150% dari BMR. Aktivitas sedang seperti merawat kebun menari naik sepeda akan meningkatkan kebutuhan energy sebesar 175% dari BMR. Dan aktivitas berat seperti bermain bola kaki mensekap kayu akan meningkatkan kebutuhan energy sebesar 200% dari BMR. Total Energi merupakan Nilai BMR dan tingkat aktivitas menentukan energy yang dibutuhkan tubuh ada beberapa factor yang mempengaruhi kebutuhan total energy: pertama usia karena terjadi penurunan kebutuhan energy pada saat istirahat dan ketika beraktivitas sering dengan bertambahnya usia (untuk 21 tahun keatas) maka total energi yang dibutuhkan orang dewasa lebih rendah dari pada anak-anak. Selama periode pertumbuhan tubuh lebih banyak membutuhkan energy. Pertumbuhan tercepat terjadi pada usia dua tahun pertama remaja dan kehamilan. Sebagai contoh : remaja yang aktif membutuhkan kalori sebesar 3600 Kcal dan seorang wanita berusia 70 tahun hanya memerlukan 1800 Kcal. Kedua ukuran tubuh Seseorang dengan ukuran tubuh yang besar

memiliki kebutuhan energy total yang lebih besar dari pada orang berbadan kecil. Ketiga suhu lingkungan. Suhu kamar dibawah 20C/68F meningkatkan kebutuhan energy. Keempat kehamilan. Kehamilan meningkatkan BMR wanita. Ibu hamil membutuhkan energy yang lebih banyak untuk melakukan aktivitas fisik.

28

Kebutuhan energy total yang dibutuhkan. Kebutuhan kalori setiap hari pada seorang wanita atau pria berusia 23 tahun dengan tingkat aktivitas sedang dan suhu lingkungan sedang yaitu 20C/68F dapat dilihat pada table berikut ini. Berat Jenis Kelamin Laki Laki Wanita Lb 154 128 Kg 70 58 Kebutuhan kalori/hari Kcal 2700 2000

Cara lain menghitung kebutuhan kalori seseorang adalah berdasarkan besar badan dan tingkat aktivitas menurut golongan umur dan jenis kelamin seperti table di bawah ini. Golongan Umur (tahun) <1 1-3 4-6 79 Laki-laki : remaja & dewasa 10 12 13 15 16 19 20 39 40 49 50 59 60 69 < 70 Wanita : remaja & dewasa 10 12 13 15 16 19 20 39 40 49 50 59 2350 1.13 F x A 1.05 F x A 1.0 F x A 0.95 F x A 0.90 F x A 2600 0.97 M x A 1.02 M x A 1.00 M x A 0.95 M x A 0.90 M x A 0.80 M x A 0.70 M x A Kebutuhan Kalori 1090 1360 1830 2190

29

60 69 < 70 Keterangan :

0.80 F x A 0.70 F x A

M = berat badan x 46 kalori = kebutuhan kalori laki-laki dewasa pada berat badan tertentu. F = berat badan x 40 kalori = kebutuhan kalori wanita dewasa pada berat badan tertentu. A = indeks aktivitas : ringan = 0.90 ; Sedang = 1.0 ; aktif = 1.17.

2.5 Konsep Dasar Infeksi dan Pencegahan Infeksi yang Harus Dilakukan Infeksi adalah prosesinvasif oleh mikroorganismedan berpoliferasi di dalam tubuh yang menyebabkan sakit (Potter & Perry, 2005). Infeksi adalah invasi tubuh oleh mikroorganisme dan berproliferasi dalam jaringan tubuh. (Kozier, et al, 1995). Menurut Perry Potter, 2005 proses terjadinya infeksi seperti rantai yang saling terkait antar berbagai faktor yang mempengaruhi, yaitu agen

infeksi, reservoir, portal of exit, cara penularan, portal of entry dan host/pejamu yang rentan. Cara Penularan Mikroorganisme Proses penyebaran mikroorganisme ke dalam tubuh, baik pada manusia maupun hewan, dapat melalui berbagai cara, diantaranya : 1. Kontak Tubuh. Kuman masuk ke dalam tubuh melalui proses penyebaran secara langsung maupun tidak langsung. Penyebaran secara langsung melalui sentuhan dengan kulit, sedangkan secara tidak langsung dapat melalui benda yang terkontaminasi kuman. 2. Makanan dan Minuman. Terjadinya penyebaran dapat melalui makanan dan minuman yang telah terkontaminasi, seperti pada penyakit tifus abdominalis, penyakit infeksi cacing, dan lain-lain. 3. Serangga. Contoh proses penyebaran kuman melalui serangga adalah penyebaran penyakit malaria oleh plasmodium pada nyamuk aedes dan beberapa penyakit saluran pencernaan yang dapat ditularkan melalui lalat.

30

4.

Udara. Proses penyebaran kuman melalui udara dapat dijumpai pada penyebaran penyakit system pernafasan (penyebaran kuman tuberkulosis) atau sejenisnya.

Faktor yang Mempengaruhi Proses Infeksi 1. Sumber Penyakit. Sumber penyakit dapat mempengaruhi apakah infeksi berjalan dengan cepat atau lambat. 2. Kuman Penyebab. Kuman penyebab dapat menentukan jumlah

mikroorganisme, kemampuan mikroorganisme, kemampuan mikroorganisme masuk ke dalam tubuh. 3. Cara Membebaskan Sumber dari Kuman. Cara membebaskan kuman dapat menetukan apakah proses infeksi cepat teratasi atau diperlambat, seperti tingkat keasaman (pH), suhu, penyinaran (cahaya) dan lain-lain. 4. Cara Penularan. Cara penularan seperti kontak langsung, melalui makanan atau udara, dapat menyebabkan penyebaran kuman ke dalam tubuh. 5. Cara Masuknya Kuman. Proses penyebaran kuman berbeda, tergantung dari sifatnya. Kuman dapat masuk melalui saluran pernafasan, saluran pencernaan, kulit, dan lain-lain. 6. Daya Tahan Tubuh. Daya tahan tubuh yang baik dapat memeprlambat proses infeksi atau mempercepat proses penyembuhan. Demikian pula sebaliknya, daya tahan tubuh yang buruk dapat memperburuk proses infeksi. Selain factor-faktor di atas, terdapat factor lain seperti status gizi atau nutrisi, tingkat stress pada tubuh, factor usia, dan kebiasaan yang tidak sehat.

31

BAB III PEMBAHASAN Kasus An.M datang ke puskesmas dengan keluhan batuk, pilek, panas, diare sudah 2 hari keluar cairan bening dari telinga terus menerus. Berdasarkan RPS didapatkan bahwa anak batuk 3 hari kemudian besoknya timbul demam di sore hari. Sebelum demam paginya anak diare setelah diberi makan bubur, diare sudah 2 hari kira-kira sehari sebanyak 7 kali. Ibu An.M mengatakan jika 2 minggu yang lalu setelah berobat dari puskesmas terdapat keluar cairan dari telinga kiri berwarna bening dan tidak berbau. Sampai saat ni masih keluar cairan namun jumlahnya sudah berkurang. Saat sakit nafsu makan turun, suhu: 38C, N:112x/mnt, RR: 45x/mnt, TB: 68 cm, BB: 7,2 kg. Anak mendapat terapi demacoline, GG, vit.B complex, corosorb tab 3x1/4, cotrimoxazol syrup 2x1sdt, chloramphenicol tetes telinga 3x2 tetes. 1. 2. 3. 4. 5. Analisa kasus berdasarkan konsep nutrisi. Analisa berdasarkan peningkatan suhu tubuh dan penanganannya. Analisa berdasarkan kebutuhan cairan pasien. Analisa berdasarkan kebutuhan aktivitas pasien. Analisa berdasarkan konsep infeksi dan pencegahan infeksi yang harus dilakukan. 3.1 Analisa Berdasarkan Konsep Nutrisi Didapatkan data dari kasus tersebut bahwa An. M memiliki BB: 7,2 kg; TB:68 cm. Berdasarkan analisa kasus terhadap teori tentang konsep nutrisi kebutuhan energi pada keadaan normal An. M pada usia 3th adalah : 1220 kkal, sedangkan kebutuhan kalorinya : 75 90 kkal/kgBB/hari Sedangkan kebutuhan nutrisi pada An. M yang sakit dapat dihitung sesuai rumus dari harris benedict, yaitu: Kebutuhan kalori pada anak sakit = KKB/BMR/BEE + 40 x (TB-100) kkal/hari.

32

Dimana, BMR/BEE = 66, 47 + (13,75 x berat (kg)) + (5,0 x tinggi (cm)) (6,76 x usia (tahun)) = . Kal/hari. (misalkan An. M laki-laki), sehingga kebutuhannya: BMR = 66,47 + (13,75 x 7,2) + (5,0 x 68) (6,76 x 3) = 66, 47 + 99 + 34 20,28 = 179, 19 kal/ hari Kebutuhan kalori anak saat sakit = 179,19 + 40 x (68-100) kkal/hari = 179,19 + 40 x (- 32) = 179,19 + (- 1280) = 1459,19 kkal/hari Artinya naik 239,19 kkal/hari dari kebutuhan energi saat keadaan sehat. Hal ini sesuai dengan teori yang di sebutkan bahwa terjadi peningkatan kebutuhan kalori sebanyak 20% pada perhitungan kebutuhan nutrisi An.M sehingga kondisi sakitnya An.M dikategorikan berdasarkan beratnya penyakit yang didasarkan pada perhitungan kebutuhan nutrisi sebagai derajat sedang. Hal tersebut perlu menjadi perhatian tenaga kesehatan untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi/ gizi dari An.M dimana pada kondisi sakitnya An. M mengalami penurunan nafsu makan. Diharapkan nantinya tindakan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien bertujuan untuk

mempertahankan status nutrisi pasien ketika sakit dan meningkatkan berat badan pasien saat sakit. Kalori dalam makanan berasal dari nutrien protein, lemak dan karbohidrat. Setiap gram protein menghasilkan 4 kalori, lemak 9 kalori, dan karbohidrat 4 kalori. Distribusi kalori dalam makanan anak yang dalam keseimbangan diet
33

(balanced diet) adalah 15% berasal dari protein, 35% dari lemak dan 50% dari karbohidrat. Pemenuhan kebutuhan nutrisi anak antara lain: Setelah berumur 1 tahun menunya harus bervariasi untuk mencegah kebosanan dan diberi susu serelia (seperti bubur beras, roti) daging, sup, sayuran dan buah-buahan. Makanan padat yang diberikan tidak perlu diblender lagi melainkan yang kasar supaya anak yang sudah mempunyai gigi belajar mengunyah. Adakalanya anak tidak mau makan dan sebagai gantinya ibu memberikan susu. Kebiasaan demikian akan mengarah kepenolakan segala makanan padat sehingga dietnya hanya terdiri dari susu saja. Berikan nasehat pada ibu atau pengasuhnya bahwa kebiasaan demikian tidak baik untuk anaknya. Ibu harus dapat bertindak keras, jika anak sehat tidak mau makan makanan padatnya. Jangan diberi susu sebagai pengganti tetapi bawa pergi makanan itu dan coba lagi jika anak sudah lapar. Bagi anak-anak pada golongan sosio-ekonomi menengah dan atas umur permulaan masuk sekolah tidak 7 tahun melainkan jauh lebih muda. Pada umur dua setengah atau tiga tahun mereka sudah dikirim ke playgroup, untuk diteruskan ke taman kanak-kanak pada umur 4-6 tahun. Bagi anak pra sekolah makanan sehari-harinya dapat terdiri dari: 1. Makan pagi a. Bubur beras atau roti disemir dengan mentega atau margarine b. Telur, daging atau ikan c. 1 gelas susu 2. Makan siang a. Nasi b. Daging, ayam, ikan, telur, tahu atau tempe c. Sayur seperti tomat, wortel, bayam d. Buah seperti pisang, jeruk, papaya, apel e. 1 gelas susu 3. Makan sore atau malam a. Nasi atau roti disemir dengan mentega atau margarine b. Daging, ikan, ayam, tahu, tempe

34

c. Sayur mayor d. Buah atau pudding e. 1 gelas susu Bila dalam kondisi diare dianjurkan untuk meneruskan pemberian makanan bahkan ditingkatkan selama diare untuk menghindarkan efek buruk pada status gizi. Dianjurkan untuk tidak memberikan buah-buahan terlebih dahulu apabila diare karena akan mempersering frekuensi defekasi dan menjadikan tubuh semakin banyak kehilangan cairan. Bagi anak yang masih menyusui ibunya ASI anjurkan ibu untuk tetap memberikan ASI.

3.2

Analisa Berdasarkan Peningkatan Suhu Tubuh dan Penanganannya 1. Pada kasus diatas didapatkan data bahwa An.M mengalami peningkatan suhu tubuh sampai 38C. Berdasarkan teori yang telah ada diatas disebutkan bahwa setiap terjadi peningkatan suhu tubuh diatas 37C berarti terjadi peningkatan 10% BMR per-1C dan juga terjadi peningkatan kebutuhan kalori sampai 12% per-1C sehingga: BMR = 179,19 x 0,1 = 17,92 kal/hari Sehingga jumlah BMR ketika anak mengalami peningkatan suhu tubuh 38C = 179,19 + 17,92 = 197,1 kal/hari Kebutuhan kalori anak saat sakit saat terjadi peningkatan suhu tubuh 38C menjadi: = 197,1 + 40 x (68-100) kkal/hari = 197,1 + 40 x (- 32) = 197,1 + (- 1280) = 1477,1 kkal/hari = 1477,1 x 12/100

35

= 177,25 = 1477,1 + 177,25 = 1654,35 kkal/hari (total kebutuhan kalori ketika terjadi peningkatan suhu tubuh 38C) 2. Selain kebutuhan kalori yang perlu diperhatikan juga penaatalaksanaan yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan ketika terjadi peningkatan suhu tubuh antara lain: a. Farmakoterapi: Obat penurun panas (antipiretik) misal,

paracetamol, pamol, ibuprofen, OAINS, aspirin, tempra. Aspirin tidak dianjurkan karena memiliki banyak efek samping (syndrom reye). b. Kompres c. Menaikkan Asupan Cairan Anak. Dalam teori disebutkan bahwa Kebutuhan cairan tergantung pada metabolisme kalori. Untuk membentuk panas, metabolisme 100 kalori memerlukan 150 ml air. Neonatus memerlukan air sebanyak:150/100 X 50= 75ml/kgBB/hari, sedangkan seorang anak dengan berat badan 3-10 kg memerlukan air 150/100 X 70 = 105ml/kgBB/hari dan seterusnya. (rumus darrow). Apabila terjadi peningkatan suhu tubuh 1C (bila diatas 37C) maka kebutuhan cairan yang diperlukan bertambah menjadi 12% per kenaikan 1C, sehingga: Pada kasus diketahui BB An.M: 7,8 kg, maka cairan yang diperlukan: 150/100 x 70 = 105 ml/kgBB/hari = 105 x 12/100 = 12,6 = 105 + 12,6 = 117,6 ml/kgBB/hari Jadi kebutuhan cairan yang diperlukan An.M ketika terjadi peningkatan suhu tubuh 38C = 117,6 ml/kgBB/hari.

36

d. Gunakan pakian tipis pada anak.

3.3

Analisa Berdasarkan Kebutuhan Cairan Pasien Pada kasus didapatkan hasil pengkajian An.M sudah diare selama 2 hari

dengan frekuensi BAB 7 kali sehari. Sesuai dengan teori diatas berarti An.M masuk dalam kategori dehidrasi ringan akibat diare. Analisa kebutuhan cairan menggunakan rencana pengobatan rehidrasi B. Rencana pengobatan rehidrasi B Dalam 3 jam pertama, berikan 75ml/kgBB atau bila berat badan anak tidak diketahui dan atau memudahkan dilapangan, berikan oralit sesuai umur. Tabel. Kebutuhan oralit per-kelompok umur umur Jumlah oralit yang Jumlah oralit yang

diberikan tiap BAB < 12 bulan 1-4 tahun >5 tahun 50-100 ml 100-200 ml 200-300 ml

disediakan dirumah 400ml/hari (2 bks) 600-8ml/hari, 3-4 bks 800-1000ml/ bks hari, 4-5

dewasa

300-400 ml

1200-2800 ml/ hari

Tabel. Jumlah oralit yang diberikan pada 3 jam pertama umur Jumlah oralit < 1 tahun 300 ml 1-5 tahun 600 ml >5 tahun 1200 ml Dewasa 2400 ml.

Bila anak menginginkan lebih banyak oralit berikanlah. Dorong ibu untuk memberikan ASI. Untuk bayi < 6 bulan yang tidak mendapat ASI, berikan juga 100-200 ml air masak selama masa ini. 1 jam pertama : 25-50 ml/kgBB peroral atau intragastrik Selanjutnya : 125 ml/kgBB/hari atau ad libitium (oral sebanyak anak mau minum). Pemberian Cairan parentral
37

a.

Untuk anak umur 1 bl-2 tahun berat badan 3-10 kg 1 jam pertama : 40 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infus set berukuran 1 ml=15 tts atau 13 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes). 7 jam berikutnya : 12 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infusset berukuran 1 ml=15 tts atau 4 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes). 16 jam berikutnya : 125 ml/kgBB/ oralit

b. Untuk anak lebih dari 2-5 tahun dengan berat badan 10-15 kg 1 jam pertama : 30 ml/kgBB/jam atau 8 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 10 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes). c. Untuk anak lebih dari 5-10 tahun dengan berat badan 15-25 kg 1 jam pertama : 20 ml/kgBB/jam atau 5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 7 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes). 7 jam berikut : 10 ml/kgBB/jam atau 2,5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 3 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes). 16 jam berikut : 105 ml/kgBB oralit per oral.

d. Untuk bayi baru lahir dengan berat badan 2-3 kg Kebutuhan cairan: 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 5% + 1 bagian NaHCO3 1 %. Kecepatan : 4 jam pertama : 25 ml/kgBB/jam atau 6 tts/kgBB/menit (1 ml = 15 tts) 8 tts/kg/BB/mt (1mt=20 tts). Untuk bayi berat badan lahir rendah

Kebutuhan cairan: 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 10% + 1 bagian NaHCO3 1 %). Pengobatan dietetik o o Susu (ASI, susu formula yang mengandung laktosa rendah dan lemak tak jenuh. Makanan setengah padat (bubur atau makanan padat (nasi tim).

38

Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan misalnya susu yang tidak mengandung laktosa dan asam lemak yang berantai sedang atau tak jenuh.

3.4

Analisa Berdasarkan Kebutuhan Aktivitas Pasien aktivitas sangat erat hubungannya dengan BMR seseorang pada kasus ini

mungkin anak akan mengalami penurunan aktivitas sehingga peningkatan BMR yang berhubungan dengan kebutuhan aktivitas tidak terjadi. Kalori yang dibutuhkan untuk aktivitas oleh pasien yang berumur 3 tahun sebnayak 1360 kkal/hari

3.5

Analisa Berdasarkan Konsep Infeksi dan Pencegahannya Dari kasus diatas didapatkan bahwa An.M kondisi penyakitya dapat

disebabkan oleh beberapa hal: 1. diare, dapat disebabkan oleh infeksi virus (enterovirus, adenovirus, retrovirus, virus ECHO dll.), infeksi bakteri (E.coli, shigella, salmoella, vibrio, dll). 2. Keluarnya cairan dari telinga kiri bisa disebabkan akibat infeksi nasofaring, orofaring, atau sinusitis yang pernah dialami sebelumnya, infeksi ini disebut juga dengan OMA. Infeksi ini dapat pula menyebabkan diare serta gangguan gastrointestinal lainnya seperti muntah 3. Demam/ peningkatan suhu tubuh pada pasien mungkn bisa disebabkan karena adanya peradangan pada telinga atau karena adanya peningkatab metabolisme tubuh akibat diare. Cara pencegahan infeksi a. Menjaga hygine tubuh pasien b. Menjaga kebersihan alat-alat makan, pakaian serta lingkungan pasien. c. Selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. d. Meminum antibiotik yang sudah diresepkan oleh dokter.

39

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Banyak hal yang perlu diperhatikan ketika seorang anak sakit selain memperhatikan pengobatan secara farmakologis atau medis, kesembuhan seseorang dari sakit juga tidak dapat dilepaskan dari perawatan yang dilakukan ketika sakit. Sebagai perawat sangat diperlukan kemampuan untuk mengetahui apa saja kebutuhan-kebutuhan dasar yang dibutuhkan ketika akan merawat pasiennya, karena hal tersebut mempengaruhi proses kesembuhan. Dari analisa kasus yang telah disajikan diatas dapat dilihat bahwa ketika seorang anak sakit kebutuhan akan cairan dan elektrolit, nutrisi, kebutuhan aktivitas sangat berpengaruh terhadap proses peningkatan suhu tubuh dan terjadinya infeksi dalam tubuh. Dengan nutrisi yang baik tubuh akan dapat menjalankan perannya ketika terjadi infeksi dalam tubuh atau ketika terjadi peningkatan suhu tubuh akibat peningkatan metabolisme.masing-masing darikelima kebutuhan tersebut memliki peran yang berbeda dalam mempertahankan kondisi tubuh kita dan mencapai homeostasi namun kelima kebutuhan tersebut juga saling berkaitan dalam mekanisme tubuh kita.

4.2

Saran Diharapkan untuk kita sebagai calon perawat lebih memeperhatikan

kebutuhan dasar pasien ketika merawat pasien dengan cara menganalisa keterkaitan kelima kebutuhan tersebut terhadap penyakit pasien sehingga nantinya ketika akan melakukan tindakan kita akan mengerti apa saja yang perlu diperioritaskan, sehingga proses penyembuhan dan pemulihan pasien bisa cepat terjadi.

40

DAFTAR PUSTAKA Mansjoer, Arief. 2007. Kapita selekta kedokteran edisi ketiga jilid 2. Jakarta: media aesculapius. Perry, Potter. 2006. Buku ajar fundamental keperawatan: konsep, proses, dan praktek edisi 4 volume 2. Jakarta: EGC Perry, Potter. 2006. Buku ajar fundamental keperawatan: konsep, proses, dan praktek edisi 4 volume 1. Jakarta: EGC Staf pengajar ilmu kesehatan anak FKUI. 2007.buku kuliah ilmu kesehatan anak volume 1. Jakarta: Infomedika Jakarta. Staf pengajar ilmu kesehatan anak FKUI. 2007.buku kuliah ilmu kesehatan anak volume 2. Jakarta: Infomedika Jakarta. WHO. 1995. Penataaksanaan dan pencegahan diare akut, petunjuk klinis edisi 2. Jakarta: EGC.

41