You are on page 1of 5

Pembekalan KKN PAR (Partisipatory Action Research) 2013 Oleh : Yulianti Farida Mahasiswa PGMI Fakultas Tarbiyah IAIN

Sunan Ampel Surabaya Kuliah Kerja Nyata adalah salah satu mata kuliah yang harus ditempuh oleh mahasiswa dan merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh LPM (Lembaga Pemberdayan Masyarakat) IAIN Sunan Ampel Surabaya. KKN ini diharapkan akan mampu menjadikan masyarakat berdaya dan mandiri, hal ini dikarenakan KKN Transformatif dengan metodologi PAR (Participatory Action Research) memungkinkan mahasiswa dan masyarakat untuk bisa saling berkolaborasi untuk saling belajar.1 Sebelum KKN dilaksanakan, mahasiswa diberikan bekal selama lima hari dengan mengikuti kegiatan pembekalan yang termasuk dalam serangkaian kegiatan KKN. Kegiatan pembekalan KKN dilaksanakan mulai tanggal 14-18 Januari 2013 yang dilaksanakan di ruang yang telah disediakan oleh LPM menurut kelompoknya masing-masing. Dalam hal ini, penulis adalah termasuk mahasiswa yang mengikuti kegiatan pembekalan KKN dan termasuk salah satu anggota kelompok 3 yang tempat KKN nya ada di Desa Ngengor, Kecamatan Pilangkenceng Kabupaten Madiun. Pembekalan KKN yang dijalani penulis dan kelompoknya bertempat di Gedung Perkuliahan Fakultas Adab ruang A, dengan dipandu oleh tiga DPL yang handal dan mengetahui tentang seluk beluk tempat KKN. Ketiga Dosen tersebut adalah ibu Sri dan bapak Achmad Room Fitrianto yang merupakan dosen Fakultas Syariah serta bapak Rudy Al-Hana yang merupakan dosen Fakultas Dakwah. Pada hari pertama pembekalan, senin, 14 Januari 2013. Mahasiswa diberikan bekal tentang pengenalan masing-masing desa tujuan KKN dan seluk beluk desa tersebut. Akan tetapi yang akan dibahas penulis disini adalah tentang Desa Ngengor, karena desa tersebut adalah desa tujuan KKN penulis. Selayang pandang tentang Desa Ngengor yang dijelaskan oleh DPL adalah Desa Ngengor merupakan salah satu Desa yang ada di Kecamatan Pilang Kenceng Kabupaten Madiun. Desa ini dekat dengan Desa Gandul dan Desa Luworo. Antara ketiga desa tersebut, Desa Ngengor bisa dikatakan desa yang palng maju, hal ini disebabkan dari letak Desa Ngengor yang cukup dekat dari kantor Kecamatan dan paling mudah akses masuknya. Hampir sebagian besar masyarakat Desa Ngengor adalah seorang petani. Pada tahun lalu, sejumlah mahasiswa KKN dan LPM IAIN Sunan Ampel Surabaya telah membuat

Agus Afandi, dkk. 2013. Modul Participatory Actin Research(PAR). LPM IAIN Sunan Ampel : Surabaya

sebuah program yang bisa meningkatkan taraf hidup dan pendapatan masyarakat Desa Ngengor yaitu dengan membuat program peternakan kambing. Program ini dikatakan cukup berhasil, walaupun terdapat pro dan kontra didalamnya. Salah satu bentuk permasalahan dari program ini adalah mengenai pemasaran kambing yang masih dikuasai blantik dan belum bisa memasarkan dengan optimal. Permasalahan lain yang dihadapi oleh desa Ngengor adalah, kurangnya minat penduduk untuk bisa lebih memanfaatkan pekarangan yang dimiliki, padahal mereka memiliki pekarangan yang cukup luas. Dari kedua masalah ini, akan menjadi sebuah program kerja lanjutan yang akan dijalankan oleh Penulis dan kelomponya untuk dapat memecahkan dan mengatasi masalah tersebut. Disamping pengenalan tentang Desa, pada pembekalan KKN hari pertama juga ada pembentukan perangkat KKN, diantaranya ada pemilihan dan pengangkatan Kordes (Koordinator Desa), SekDes (Sekretaris Desa), dan BeDes (Bendahara Desa). Selain itu mahasiswa juga diberikan tugas untuk mengobservasi lingkungan sekitar IAIN Sunan Ampel Surabaya dan mencari masalah yang ditemukan ketika observasi, dimana dalam hal ini penulis dan kelompok memutuskan untuk mengobservasi di gang belakang kampus, gang Salafiyah, yaitu tentang kesadaran masyarakat sekitar terhadap penghijauan. Masalah ini kami ambil karena, ketika kami mengobservasi, kami melihat setiap rumah di kawasan tersebut jarang memiliki pohon, yang terlihat hanya bangunan rumah yang saling berdesakan, terasa panas dan terlihat gersang. Padahal, jika masyarakat sekitar bisa lebih mengoptimalkan rumahnya untuk ditanami sebuah tanaman.
Sebab Permasalahan Akibat

Bagan tersebut merupakan acuan yang kita gunakan untuk mempelajari teknik mapping. Mapping adalah suatu teknik dalam PRA untuk menggali informasi yang meliputi sarana fisik dan kondisi sosial dengan menggambar kondisi wilayah secara umum dan menyeluruh menjadi sebuah peta. 2menentukan sebab dan akibat dari masalah yang telah kita ambil. Diantara penyebab dari masalah tentang kesadaran terhadap lingkungan masyarakat

Ibid, hal 66

gang Salafiyah, RT 07 RW 05 adalah kurangnya kesadaran dari masyarakat sekitar untuk memanfaatkan rumahnya dengan baik, serta kurangnya motivasi dari perangkat desa setempat untuk mensosialisaikan pentingnya menanam pohon. Sedangkan akibatnya adalah lingkungan terasa panas dan terlihat gersang dan menimbulkan masalah baru yaitu sering terjadi banjir dan air yang tidak layak konsumsi, sehingga warga sekitar harus menggunakan air PDAM/PAM .
Strategi Analisis

Misi

Objektif

Strategi

Misi yang kami tentukan terhadap masalah kerentanan tersebut adalah menciptakan lingkungan yang bersih hijau dan asri. Sedangkan objektifnya adalah memanfaatkan lahan yang sempit untuk bisa tetap melakukan penghijauan dan mensosialisasikan kepada perangkat desa setempat dan masyarakat tentang pentingnya akan kesadaran lingkungan dan menciptakan lingkungan yang bersih. Kemudian, strategi yang kami lakukan adalah dengan mengadakan sosialisasi tebu lampot, mengadakan lomba kebersihan dan penghijauan lingkungan dan pemanfaatan limbah rumah tangga organik dan mengadakan penyuluhan tentang penghijauan dan pemanfaatan limbah rumah tangga. Analisis dari strategi yang kami gunakan adalah untuk mensosialisasikan tabu lampot dan proses pemanfaatan limbah dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan kegiatan PKK di wilayah setempat yang dilakukan setiap 1 bulan sekali serta dengan mengadakan lomba penghijauan lingkungan yang diikuti oleh seluruh warga di RT tersebut. Dana hadiah diperoleh dari donatur , sponsor dan iuran warga. Pada hari kedua, Selasa tanggal 15 Januari 2012. Kami dan kelompok lain mempresentasikan hasil obervasi di depan kelas. Dan DPL memberikan penguatan dan penjelasan lebih lanjut atas apa yang telah kami lakukan. Selain presentasi, setiap kelompok diberikan waktu istirahat untuk berdiskusi tentang Desa masing-masing dengan kelompoknya sendiri-sendiri dengan ditemani oleh DPL masing-masing. Diskusi yang kami bahas adalah tentang proses pemberangkatan survey dan pemberangkatan KKN, program apa saja yang telah dilakukan oleh mahasiswa KKN sebelumnya dan sarann dari DPL kami adalah mencari

tahu, program apa saja yang masih berjalan dan mengecek kembali hasil bumi warga dengan laporan yang dibuat peneliti terdahulu apakah masih sesuai atau telah berubah. Selain itu, kami juga dibekali materi tentang transect, yaitu kegiatan yang dilakukan oleh tim PRA dan Narasumber langsung (NSL) untuk berjalan menelusuri wilayah desa, di sekitar hutan, atau daerah aliran sungai yang dianggap cukup memiliki informasi yang dibutuhkan.3 Dengan kata lain transect adalah kegiatan membaur dengan masyarakat dan lingkungan sekitar untuk menggali informasi dan mengumpulkan data. Selain transect, materi lain yang diberikan adalah tentang SLF (mengetahui aset-aset yang dimilik warga) dan tentang Kerangka Kerja Penghidupan Berkelanjutan, yaitu cara dari mengelola" isu-isu kompleks terkait dengan kerentanan.4

Bagan diatas, juga digunakan oleh penulis dan kelompok untuk mengobservasi dan menganalisis kembali wilayah gang salafiyah jika dilihat dari aset yang dimiliki yang mempengaruhi rentan kesadaran lingkungan. Diantaranya adalah jika dilihat dari aset alam yaitu keadaan air yang cukup memperihatinkan yaitu warna air yang kuning dan berbau sehingga kurang bisa memaksimalkan pertumbuhan tanaman. Dan ketersediaan tanah/ lahan yang cukup untuk melakukan penghijauan. Jika dilihat dari aset keuangan adalah iuran sampah warga tiap bulan, koperasi RT dan donatur. Sedangkan aset manusianya adalah pendidikan yang lebih tinggi, kesadaran lingkungan yang kurang, pengetahuan, perasaan memiliki terhadap lingkungan dan masalah kesehatan. Sedangka apabila dilihat dari aspek fisik adalah, pupuk, bibit, peralatan penghijauan (cangkul, dll), letak geografis, teras, pot dan
3 4

Ibid, hal 68 PPT Livelihood Framework.

pupuk organik. Dan apabila dilhat dari aspek sosialnya adalah kesadaran masyarakat, gotong royong, motivasi aparatur/pemerintah terdekat. Pada hari ketiga, Rabu 16 Januari 2012. Kegiatan pembekalan yang dilakukan adalah dengan mempresentasikan masing-masing kelompok terhadap hasil observasi dan diskusi mengenai aset-aset penghidupan yang telah dilakukan pada hari sebelumnya. Pada hari ini, bapak Achmad Room Fitrianto memberikan sebuah permasalahan yang menarik sebagai intermezzo yang membuat kita tertantang untuk menyelesaikan, yaitu tentang bagaimana melakukan pendekatan dan menyelesaikan masalah tentang tradisi kawin kontrak yang ada pada sebuah desa. Kelompok kami memberikan pendapat bahwa cara pendekatan yang paling efektif adalah dengan cara kita ikut melebur dalam masyarakat, bahkan bila perlu kita menjjadi subjek/ pelaku dalam masalah tersebut sehingga kita bisa menggali informasi dan mengumpulkan data (melakukan investigasi). Selain itu hal yang kami lakukan adalah dengan mendekati tokoh-tokoh agama, birokrasi yang ada dalam tersebut dan berharap agar bisa membatu menyelesaikan masalah ini. Sedangkan solusi kami adalah dengan melihat hasil investigasi dan hasil pengumpulan data, misalnya ketika ditemukan penyebabnya adalah masalah ekonomi, maka solusi yang akan kami tawarkan addalah dengan memberikan keterampilan dan lapangan kerja. Dan apabila penyebabnya adalah masalah sosial budaya atau tradisi yang telah mendarah daging, maka solusi yang kami tawarkan adalah dengan mensosialisasikan kepada pemerintah atau lembaga terkait tentang bahaya atau kerugian kawin kontrak (hak pola asuh anak). Selain intermezzo, materi lain yang diberikan oleh DPL adalah tentang pemetaan kampung dan survei belanja rumah tangga, yaitu sebuah teknik untuk memperoleh gambaran kehidupan masyarakat secara utuh, sehingga diketahui tingkat kehidupan masyarakat dari aspek kelayakan hidup, yakni kelayakan nutrisi dan gizi, kekayaan kesehatan rumah, pendidikan, dan tingkat konsumsi.5 Selain itu, pada hari tersebut kami juga diberikan waktu untuk berdiskusi merencanakan program apa saja yang akan kami jalankan selama KKN. Berdasarkan hasil meteri yang telah penulis dapat, penulis dapat menyimpulkan bahwa yang terpenting selama KKN adalah bagaimana cara kita supaya bisa membaur, menyatu dengan masyarakat, sehingga secara tidak langsung program yang telah rencanakan dapat berjalan dengan baik dan meningkatkan taraf hidup mereka, tanpa menggurui mereka dan menganggap seseorang mahasiswa KKN adalah sebagai dewa penyelamat.
5

Agus Afandi, dkk. 2013. Modul Participatory Actin Research(PAR). LPM IAIN Sunan Ampel : Surabaya, 70