You are on page 1of 25

Laporan Pemeriksaan Kekeruhan Warna dan Bakteriologis Koliform pada Rumah Ibu Karina di Desa Gamping Kidul Gamping

Sleman Yogyakarta
Di susun untuk memenuhi tugas semester III mata kuliah Penyehatan Air dan Pengolahan Limbah Cair B

Disusun Oleh :

Non Reguler A Kelompok 8 Farah Debby Pangestika Prita Wahyuni Rizky Karina Utami Sylvia Rusdwitasari Yollanda P07133111050 P07133111071 P07133111074 P07133111076 P07133111080

KEMENTERIAN KESEHATAN R I POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES YOGYAKARTA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN 2012

KATA PENGANTAR

Puji

syukur

penulis

panjatkan

kehadirat

allah

SWT

yang

telah

melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul Laporan Pemeriksaan Kekeruhan Warna dan Bakteriologi Koliform di Desa Gamping Kidul Gamping Sleman Yogyakarta untuk memenuhi tugas semester III Mata Kuliah Penyehatan Udara Jurusan Kesehatan Lingkungan. Penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bimbingan, pengarahan, dan dukungan dari berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dr.Hj.Lucky Herawati,SKM,M.Sc, selaku Direktur Politeknik Kesehatan Yogyakarta. 2. Tuntas Bagyono,SKM,M.Kes, selaku Ketua Jurusan Kesehatan

Lingkungan Politeknik Kesehatan Yogyakarta. 3. Bambang Suwerda S.ST M.Si, selaku dosen pengampu mata kuliah Penyehatan Udara Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Yogyakarta. 4. Teman teman senasib seperjuangan yang ada di kelas non regular A angkatan 2011 Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Yogyakarta. Penulis menyadari bahwa di dalam makalah ini masih banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan, sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun senantiasa penulis harapkan.

Yogyakarta, 25 Oktober 2012

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i KATA PENGANTAR ........................................................................................... 2 DAFTAR ISI ....................................................................................................... 3 BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 5 A. Latar Belakang ...................................................................................... 5 B. Rumusan Masalah ................................................................................ 6 C. Tujuan .................................................................................................. 7 D. Manfaat ................................................................................................ 7 BAB II KAJIAN PUSTAKA ................................................................................. 8 A. Sterilisasi ............................................................................................ 8

B. Pengambilan Sampel ........................................................................... 9 C. Air Sumur Gali ...................................................................................... 9 D. Pencemaran ......................................................................................... 10 E. Kekeruhan ............................................................................................ 10 F. Warna .................................................................................................. 11 G. Coliform ................................................................................................ 11 BAB III METODOLOGI ...................................................................................... 12 A. Jenis Penelitian .................................................................................... 12 B. Waktu dan Tempat Pelaksanaan ......................................................... 13 C. Alat dan Bahan ..................................................................................... 13 1. Sterilisasi .......................................................................................... 14 2. Pengambilan Sampel ...................................................................... 14 3. Pemeriksaan Kekeruhan .................................................................. 14 4. Pemeriksaan Warna ......................................................................... 14 5. Pemeriksaan Koliform ...................................................................... 14 D. Cara kerja ............................................................................................. 15 1. Sterilisasi .......................................................................................... 15 2. Pengambilan Sampel ...................................................................... 15 3. Pemeriksaan Kekeruhan .................................................................. 15 4. Pemeriksaan Warna ......................................................................... 16 5. Pemeriksaan Koliform ...................................................................... 16

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................. 17 A. Hasil Pemeriksaan ................................................................................ 17 1. Kekeruhan ........................................................................................ 17 2. Warna .............................................................................................. 17 3. Koliform ............................................................................................ 17 B. Pembahasan ........................................................................................ 17 C. Keterbatasan ........................................................................................ 20 BAB III PENUTUP ............................................................................................. 21 A. Kesimpulan ............................................................................................ 21 B. Saran ..................................................................................................... 21 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Air adalah unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Bahkan dapat dipastikan tanpa pengembangan sumberdaya air secara konsisten peradaban manusia tidak akan mencapai tingkat yang dinikmati sampai saat ini. Oleh karena itu pengembangan dan pengolahan sumber daya air merupakan dasar peradaban manusia (Sunaryo, dkk, 2005). Air adalah materi esensial di dalam kehidupan. Tidak satupun makhluk hidup di dunia ini yang tidak memerlukan dan tidak mengandung air. Sel hidup baik tumbuhan maupun hewan sebagian besar tersusun oleh air, dimana sel tumbuhan mengandung lebih dari 75% air dan di dalam sel hewan mengandung lebih dari 67% air. Kebutuhan air untuk keperluan sehari-hari berbeda untuk tiap tempat dan tiap tingkatan kehidupan (Suriawiria, 1986). Air merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi kehidupan manusia. Karena itu jika kebutuhan akan air tersebut belum tercukupi maka dapat memberikan dampak yang besar terhadap kerawanan kesehatan maupun sosial. Pengadaan air bersih di Indonesia khususnya untuk skala yang besar masih terpusat di daerah perkotaan, dan dikelola oleh Perusahan Air Minum (PAM) kota yang bersangkutan. Namun demikian secara nasional jumlahnya masih belum mencukupi dan dapat dikatakan relatif kecil yakni 10,77 % (Supas -1985). Untuk daerah yang belum mendapatkan pelayanan air bersih dari PAM umumnya mereka menggunakan air tanah (sumur), air sungai, air hujan, air sumber (mata air) dan lainnya. Salah satu faktor penting penggunaan air dalam kehidupan sehari-hari adalah untuk kebutuhan air bersih. Air bersih merupakan air yang harus bebas dari mikroorganisme penyebab penyakit dan bahan-bahan kimia yang dapat merugikan kesehatan manusia maupun makhluk hidup lainnya. Air merupakan zat kehidupan, di mana tidak ada satupun makhluk hidup di bumi ini yang tidak membutuhkan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 65-75% dari berat manusia terdiri dari air.

Permasalahan yang timbul yakni sering dijumpai bahwa kulaitas air tanah yang digunakan masyarakat kurang memenuhi syarat sebagai air bersih yang sehat bahkan di beberapa tempat bahkan tidak layak untuk digunakan. Air yang layak digunakan, mempunyai standar persyaratan tertentu yakni persyaratan fisis, kimiawi dan bakteriologis, dan syarat tersebut merupakan satu kesatuan. Jadi jika ada satu saja parameter yang tidak memenuhi syarat maka air tesebut tidak layak untuk diguakan sebagai kehidupan sehari-hari. Standar kualitas air bersih ada pada Permenkes No 416 Tahun 1990. Pemakaian air bersih yang tidak memenuhi standar kualitas tersebut dapat menimbulkan gangguan kesehatan, baik secara langsung dan cepat maupun tidak langsung dan secara perlahan. Sebagian besar penduduk di Indonesia masih menggunakan air sumur sebagai sumber air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Namun untuk mendapatkan air bersih yang memenuhi persyaratan kesehatan tidaklah mudah. Hal ini disebabkan adanya bakteri dan unsur-unsur atau kandungan dalam air tersebut yang harus dijernihkan/dimurnikan agar bersih dan layak untuk dijadikan sebagai air bersih untuk sumber air baku dan lainnya. Dengan bertambahnya aktivitas dan jumlah penduduk, maka jumlah air bersih yang diperlukan manusia akan semakin meningkat. Secara global kuantitas sumber daya tanah dan air relatif tetap, sedangkan kualitasnya makin hari makin menurun. Maka pemeriksa akan melakukan pemeriksaan terkait dengan parameter-parameter yang ada di Permenkes No. 416 Tahun 1990. Guna mengetahui kualitas air sumur gali tersebut dan upaya apa yang dapat dilakukan untuk menanggulangi pencemaran yang ada. B. Rumusan Masalah 1. Berapakah nilai parameter kekeruhan air sumur pada rumah Ibu Karina di Gamping Kidul, Gamping, Sleman, Yogyakarta ? 2. Berapakah nilai parameter warna air sumur pada rumah Ibu Karina di Gamping Kidul, Gamping, Sleman, Yogyakarta ? 3. Berapakah nilai parameter bakteriologis coliform air sumur pada rumah Ibu Karina di Gamping Kidul, Gamping, Sleman, Yogyakarta?

4. Apakah Parameter kekeruhan, warna, dan bakteri koliform pada air sumur milik Ibu Karina memenuhi syarat ditinjau pada Permenkes No 416 tahun 1990 ? 5. Bagaimana Kualitas air sumur milik Ibu Karina di Gamping Kidul, Gamping, Sleman, Yogyakarta ?

C. Tujuan Penelitian 1. Mengetahui kualitas kekeruhan air sumur pada rumah Ibu Karina di

Gamping Kidul, Gamping, Sleman, Yogyakarta dengan acuan standar baku mutu air sumur sebagai air bersih. 2. Mengetahui kualitas warna air sumur pada rumah Ibu Karina di Gamping Kidul, Gamping, Sleman, Yogyakarta dengan acuan standar baku mutu air sumur sebagai air bersih. 3. Mengetahui kandungan coloform air sumur pada rumah Ibu Karina di Gamping Kidul, Gamping, Sleman, Yogyakarta dengan acuan standar baku mutu air sumur sebagai air bersih. 4. Mengetahui bagaimana kualitas air sumur pada rumah Ibu Karina di Gamping Kidul, Gamping, Sleman, Yogyakarta.

D. Manfaat Pemeriksaan 1. Memberikan alternatif pemecahan permasalahan terhadap mengatasi pemenuhan kebutuhan masyarakat akan air bersih untuk minum dan lainnya. 2. Sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

E. Ruang Lingkup Pemeriksaan Pemeriksaan meliputi pemeriksaan parameter kekeruhan, parameter warna dan parameter balteriologis Koliform yang mengacu pada Permenkes No 416 Tahun 1990.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Sterilisasi Sterilisasi adalah suatu usaha yang dilakukan untuk membebaskan alat, barang atau bahan dari mikroorganisme hidup termasuk bakteri atau sporanya, atau usaha yang dilakukan untuk membunuh atau menghancurkan

mikroorganisme dan atau sporanya dari alat/bahan yang disteril. Menurut Irwanto , sterilisasi dilakukan dalam 4 tahap, yaitu: 1. Pembersihan sebelum sterilisasi 2. Pembungkusan 3. Proses sterilisasi 4. Penyimpanan yang aseptik. Sterilisasi harus dapat membunuh jasad renik yang paling tahan panas yaitu spora bakteri Sterilisasai adalah tahap awal yang penting dari proses pengujian mikrobiologi. Sterilisasi adalah suatu proses penghancuran secara lengkap semua mikroba hidup dan spora-sporanya. Ada 5 metode umum sterilisasi yaitu : 1. Sterilisasi uap (panas lembap) 2. Sterilisasi panas kering 3. Sterilisasi dengan penyaringan 4. Sterilisasi gas 5. Sterilisasi dengan radiasi Sterilisasi Panas Kering Sterilisasi panas kering biasanya dilakukan dengan menggunakan oven pensteril. Karena panas kering kurang efektif untuk membunuh mikroba dibandingkan dengan uap air panas maka metode ini memerlukan temperatur yang lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang. Sterilisasi panas kering biasanya ditetapkan pada temperature 160-170oC dengan waktu 1-2 jam. Sterilisasi panas kering umumnya digunakan untuk senyawa-senyawa yang tidak efektif untuk disterilkan dengan uap air panas, karena sifatnya yang tidak dapat ditembus atau tidak tahan dengan uap air. Senyawa-senyawa tersebut meliputi minyak lemak, gliserin (berbagai jenis minyak), dan serbuk yang tidak stabil dengan uap air.

Metode ini juga efektif untuk mensterilkan alat-alat gelas dan bedah. Karena suhunya sterilisasi yang tinggi sterilisasi panas kering tidak dapat digunakan untuk alat-alat gelas yang membutuhkan keakuratan (contoh:alat ukur) dan penutup karet atau plastik.

B. Pengambilan Sampel Jenis sampel air : 1. Air kran 2. Air sumur gali 3. Air sungai 4. Air kolam renang 5. Mata air (sumber) 6. Air limbah Pengambilan air sample atau sampel air juga memerlukan teknik. Alat-alat yang digunakan dan daerah sampel air harus steril. Hal ini dimaksudkan agar air yang diambil tidak terkontaminasi oleh bakteri yang ada pada alat yang digunakan. Karena yang diharapkan bakteri yang ada dalam air (kalau ada) murni dari air tersebut.

C. Air Sumur Gali Pengetahuan tentang jenis dan karakteristik masing-masing sarana air bersih sangatlah penting. Sumur gali merupakan jenis sarana air bersih yang paling sederhana dan sudah lama dikenal oleh masyarakat. Sesuai dengan namannya, sumur gali dibuat dengan cara menggali tanah sampai pada kedalaman lapisaan tanah kedap air pertama, dibawah lapisan air tanah dangkal antara 6 meter sampai 15 meter dari permukaan tanah . kualitas air sumur gali ini tergantung pada iklim, jadi jadi kemungkinan besar pada musim kemarau akan berkurang atau kering sama sekali. Jika terjadi air sumur berkurang atau kering sama sekali maka sumur perlu digali lagi pada kedalaman tertentu sampai lapisan tanah yang mengandung air. Dinding sumur gali bisa dibuat dari pasangan batu bata ataupun pipa beton. Sedangkan cara pengambilan airnya dapat dengan beberapa cara antara lain. Menggunakan ember dengan kerekan

tali, menggunakan ember dengan kayu penggulung tali, menggunakan pompa tangan.

D. Pencemaran Pencemaran air adalah masuknya atau di masukannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkanya. Pencemaran air dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu: sumber langsung dan sumber tidak langsung. Sumber sumber langsung adalah buangan yang berasal dari sumber pencemarnya yaitu limbah hasil pabrik atau suatu kegiatan dan limbah domestik berupa buangan tinja dan buangan air bekas cucian,serta sampah. Pencemaran terjadi karena buangan ini langsung di buang ke dalam badan air, (system) seperti sungai , kanal, parit atau selokan. Sedangkan Sumber sumber tidak langsung adalah kontaminan yang masuk melalui air tanah akibat adanya pencemaran pada air permukaan baik dari limbah industri maupun dari limbah domestik. Mengingat bahwa air adalah komponen dari lingkungan hidup, maka pencemaran air merupakan bagian dari pencemaran lingkungan hidup.

E. Kekeruhan Kualitas air bersih dapat dikatagorikan pada 3 macam yaitu fisik, kimia, dan biologi. Kualitas air bersih dapat dibagi lagi dengan banyak parameter-parameter yang telah ditentukan, semua parameter tersebut telah diatur oleh pemerintah pada undang-undang misalnya Permenkes No 416 Tahun 1990 mengenai persyaratan air bersih. Dala hal ini air harus bebas dari pencemaran fisik dalam arti warna, rasa dan bau. Kualitas air secara fisik dari ait yaitu kekeruhan, warna, rasa, bau, suhu. Kekeruhan dapat diartika adanya benda-benda organik yang

terlampur/larut di dalam air seperti tanah liat, lumpur, benda-benda organik yang halus, plonkton dan lain-lain benda organik deikenal sebagai penyebab kekeruhan air. kekeruhan semata-mata sebenarnya tak mempunyai efek langsung terhadpa kesehatan tetapi mempunyai kekeruhan sebagaimana diuraikan perlu diolah lebih lanjut agar sesuai dengan penggunaan air.

10

Menurut standar kualitas, kekeruhan air ditetapkan maksimal 5 NTU. Penyimpangan terhadap standar kualitas dalam hal kekeruhan melebihi bata yang telah ditetapkan akan menyebabkan : 1. Mengganggu estetika 2. Mengurangi efektifitas desinfektan air

F.

Warna Warna dari air biasanya disebabkan oleh ekstrak zat warna dari humus

yang berasal dari hutan atau tanaman rawa dan tanaman-tanaman lain. Zat warna yang timbul ini menyebabkan warna coklat ke kuning-kuningan seperto teh pada permukaan air. Warna dibagi menjadi 2 tipe : 1. True color : yaitu warna yang ada dalam air setelah bahan yang larut diambil. 2. Apparent color : adalah true color ditambah warna lain yang dihasilkan oleh suatu benda dalam bentuk tersuspensi. Penyimpangan pada standar peraturan akan menyebabkan : 1. Mengganggu estetika, air tersebut tidak diterima oleh masyarakat atau konsumen. 2. Kemungkinan masyarakat konsumen akan mencari sumber air yang lain yang mungkin saja lebih tidak memenuhi syarat kecuali parameter warna. 3. Jika warna telah melebihi ambang batas normal, maka rasa dan bau nya menjadi tidak enak.

G. Coliform Bakteri coliform adalah golongan bakteri intestinal, yaitu hidup dalam saluran pencernaan manusia. Bakteri coliform adalah bakteri indikator

keberadaan bakteri patogenik lain. Lebih tepatnya, sebenarnya, bakteri coliform fekal adalah bakteri indikator adanya pencemaran bakteri patogen. Penentuan coliform fekal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri patogen. Selain itu, mendeteksi Coliform jauh lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi bakteri patogenik lain. Contoh bakteri coliform adalah, Esherichia coli dan Entereobacter

11

aerogenes. Jadi, coliform adalah indikator kualitas air. Makin sedikit kandungan coliform, artinya, kualitas air semakin baik. Metode MPN adalah pemeriksaan yang digunakan untuk pemeriksaan baleriologi yang terdapat pada air. MPN terdiri dari tiga tahap, yaitu uji pendugaan (presumtive test), uji konfirmasi (confirmed test), dan uji kelengkapan (completed test). Dalam uji tahap pertama, keberadaan coliform masih dalam tingkat probabilitas rendah; masih dalam dugaan. Uji ini mendeteksi sifat fermentatif coliform dalam sampel. Karena beberapa jenis bakteri selain coliform juga memiliki sifat fermentatif, diperlukan uji konfirmasi untuk mengetes kembali kebenaran adanya coliform dengan bantuan medium selektif diferensial. Uji kelengkapan kembali meyakinkan hasil tes uji konfirmasi dengan mendeteksi sifat fermentatif dan pengamatan mikroskop terhadap ciri-ciri coliform: berbentuk batang, Gram negatif, tidak-berspora. Output metode MPN adalah nilai MPN. Nilai MPN adalah perkiraan jumlah unit tumbuh (growth unit) atau unit pembentuk-koloni (colony-forming unit) dalam sampel. Pada umumnya, nilai MPN juga diartikan sebagai perkiraan jumlah individu bakteri. Satuan yang digunakan, umumnya per 100 mL atau per gram. Jadi misalnya terdapat nilai MPN 10/g dalam sebuah sampel air, artinya dalam sampel air tersebut diperkirakan setidaknya mengandung 10 coliform pada setiap gramnya. Makin kecil nilai MPN, maka air tersebut makin tinggi kualitasnya, dan makin layak minum. Metode MPN memiliki limit kepercayaan 95 persen sehingga pada setiap nilai MPN, terdapat jangkauan nilai MPN terendah dan nilai MPN tertinggi Bakteri coliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik lain. Lebih tepatnya, sebenarnya, bakteri coliform fekal adalah bakteri indikator adanya pencemaran bakteri patogen. Penentuan coliform fekal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri patogen. Selain itu, mendeteksi Coliform jauh lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi bakteri patogenik lain. Contoh bakteri coliform adalah, Esherichia coli dan Entereobacter aerogenes. Jadi, coliform adalah indikator kualitas air. Makin sedikit kandungan coliform, artinya, kualitas air semakin baik.

12

BAB III METODOLOGI

A. Jenis Penelitian Jenis pemeriksaan ada 2 macam yaitu 1. Pemeriksaan Fisik 2. Pemeriksaan Bakteriologi :

: Kekeruhan dan Warna : Coliform

B. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

1. Hari dan Tanggal


Pemeriksaan ini dilakukan dari hari selasa sampai pada hari senin dan pada tanggal 9 Oktober 2012 sampai tanggal 15 Oktober 2012. Pengambilan sampel dilakukan pada hari selasa 9 oktober 2012 dan segera diperiksaa. Untuk pemeriksaan Koliform dapat dibaca pada hari senin 15 Oktober 2012.

2. Tempat Pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Tempat Pengambian Sampel Gamping, Sleman, Yogyakarta.: C. Alat dan Bahan 1. Sterilisasi a. Botol sampel air tanpa pemberat b. Oven c. Kertas payung d. Tali 2. Pengambilan Sampel Sampel kimiawi a. Derigen Sampel mikrobiologis a. Botol Sampel dengan Pemberat dilakukan di Gamping Kidul,

13

b. Kapas c. Alkohol d. Lampu spritus e. Korek api f. Krustang

3. Pemeriksaan Kekeruhan 1. Turbidimeter 4. Pemeriksaan Warna 1. Secara visual 5. Pemeriksaan Koliform 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Alat : Tabung reaksi Rak tabung Incubator Tabung durham Tali Lampu Bunsen Jarum ose Pipet volume steril Botol sample air tanpa pemberat yang steril

10. Kapas 11. Kruistang 12. Propipet 13. Kertas payung 14. Kertas label 15. Alat tulis Bahan: 1. Sampel air (air sumur gali) 2. Lactosa broth triple strength 3. Lactosa broth single strength 4. BGLB (Briliant Green Lactosa Broth)

14

D. Cara kerja 1. Sterilisasi Botol sampel air dengan peberat. a. Disiap botol sampel yang bersih dan kering, disumbat mulut botol dengan kapas bersih bungkus dengan kertas payung pada bagian mulut botol, bungkus semua bagian botol dengan kertas payung diikat dengan benang atau tali. b. Siap disterilkan kedalam oven 110C - 120C selama 18-24 jam. 2. Pengambilan Sampel a. Sampel kimiawi 1) Mengambil air dengan timba kemudiandi masukan ke ember. 2) Memasukan air sumur yang terdapat pada ember ke dalam jerigen secara pelan-pelan ke dalam air sampai penuh dan menghindari adanya aerasi / gelembung udara. 3) Mengangkat jerigen dan menutup dengan rapat. 4) Memberi label, berisi : no. sampel, lokasi sampling, waktu sampling, jenis pemeriksaan, pengambil sampel. 5) Membawa sampel yang telah diambil ke Laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan kimiawi. b. Sampel mikrobiologis 1) Memasukkan botol sampel kedalam sumur gali hingga terisi 2/3 bagian. 2) Mengangkat botol dan tutup dengan rapat. 3) Memberi label berisikan tentang : No.sampel, lokasi sampling, waktu sampling, jenis pemeriksaan, pengambil sampel. 4) Membawa sampel yang telah diambil ke Laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan mikrobiologis. 3. Pemeriksaan Kekeruhan 1) Meletakan sampel pada gelas turbidi, kemudian mengambil akuades sebagai blanko. 2) Memasukan blanko akuades pada alat turbidimeter,

kemuadian pencet tombol read dan catat hasilnya. 3) Memasukan sampel pada relas turbidimeter dan dimasukan pada alat turbidimeter, kemudian catat hasilnya.

15

4. Pemeriksaan Warna Dilihat secara fisik saja. 5. Pemeriksaan Koliform a. Tes Pendugaan/perkiraan 1) Media Lactosa Broth Tripel Strenght dan Lactosa Broth Single Strenght disusun dalam rak tabung dengan ragam 5:5:5 2) Tulis kode : tanggal penanaman dan volumen sampel 3) Sampel digojok dan diambil dengan pipet steril 10 ml dimasukan kedalam tabung Lactosa broth triple strength sebanyak 5 tabung. Dan ambil lagi 1 ml masukkan pada Lactosa broth single strengthsebanyak 1 tabung dan 0,1 ml lagidalam Lactosa broth single strength. 4) Menggojok rak berisi tabung Laktosa Broth tersebut sampai homogen 5) Mengeramkan pada incubator 37 C selama 2x24 jam 6) Setelah 2x24 jam dibaca pertumbuhan bakteri jika terjadi

gelembung udara pada tabung durhan berarti positit, tetapi bila tidak terdapat gelembung hasil negatif. b. Tes Penegasan 1) Uji bakteri dilanjutkan apabila terdapat sebagian besar tabung dengan media LB dinyatakan positif dengan cara memindahkan larutan tersebut ke dalam media BGLB untuk uji penetapan. 2) Memasukkan kembali semua tabung dengan media baru (BGLB) ke dalam suhu 370C selama 2x24. 3) Mengamati pertumbuhan bakteri apakah positif atau negative kemudian membandingkan dengan tabel MPN dan mencatat perbandingan indek MPN nya.

16

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pemeriksaan Dari pemeriksaan kualitas sumur gali yang dilakukan pada rumah Ibu Karina di Gamping Kidul (utaraStikes A. Yani) Sleman Yogyakarta 1. Kekeruhan Pemeriksaan kekeruhan di dapat indeks kekeruhan : Blanko : 1,69 NTU Sampel air sumur gali : 3,4 FTU 2. Warna Pengamatan warna secara fisik terlihat kurang bening. 3. Koliform a) Tes Pendugaan Pengamatan setelah air sample dieramkan dalam suhu 37 C selama 2 x 24 jam dalam keenam tabung durham tedapat gelembung udara dan larutan LB berubah menjadi keruh. Hal ini menunjukkan bahwa ada dugaan bakteri Koliform , dengan hasil sebagai berikut: Ragam 5:5:5 (air sumur gali) Pada 5 tabung @ 10 ml terdapat 5 tabung terdapat gelembung Pada 5 tabung @ 1 ml terdapat 5 tabung terdapat gelembung Pada 5 tabung @ 0,1 ml terdapat 5 tabung terdapat gelembung b) Tes Penegasan Pengamatan setelah air sample dieramkan dalam suhu 37 C selama 2 x24 jam semua tabung durham yang menunjukan adanya gelembung udara. Hal ini menunjukan adanya coliform pada sampel air sumur gali.
0 0

B. Pembahasan 1. Pemeriksaan Kekeruhan

17

Kekeruhan diukur

dengan satuan unit SiO2. Ada beberapa metode

pengukuran kekeruhan, yaitu : a. Nephelometric Method Nephelometric Turbidity Unit Prinsip kekeruhan air dengan cara ini adalah didasarkan pada perbandingan intensitas cahaya yang disebarkan oleh sampel air dalam kondisi tertentu dengan intensitas cahaya yang disebarkan oleh suatu larutan standard dalam kondisi yang sama. Semakij tinggi intensitas yang tersebar semakin tinggi kekeruhan. Alat yang digunakan berupa

Turbidimeter, sampel tube. Alat ini mampu mengukur kekeruhan 0-40 NTU. b. Visual Method Jackson Turbidity Unit Yang dimaksud dengan visual method adalah pengukuran kekeruhan air dengan penggunaan candle turbidimeter.Prinsip pengukuran adalah didasarkan pada panjangnya cahaya melalui suatu suspensi yang dihitung tepat pada saat bayangan nyata lilin (candle) hilang. Makin panjang jalan cahaya, makin rendah kekeruhan air. Turbiditer Hellige Digunakan untuk mengukur kekeruhan 0-15 unit. Prinsip kerjanya dalah penerapan efek Tyndal dalam penyusunan sumber cahaya terhadap sampel air. Dalam hal ini tidak digunakan suspensi standar. Adanya bendabenda lain yang tercampur/larut di dalam iar seperti tanah liat, bendabenda organic yang halus, plankton, dan lain-lain benda organik dikenal sebagai penyebab kekeruhan di dalam air. Kekeruhan semata-mata tak mempunyai efek langsung terhadap kesehatan, tetapi yang mempunyai kekeruhan sebagaimana diuraikan di atas perlu diolah lebih lanjut agar sesuai dengan penggunaan air tersebut. Hasil pengukuran kekeruhan terhadap sampel dari sumur gali milik Ibu Karina di daerah Gamping Kidul, Gamping, Sleman, Yogyakarta dapat diketahui dengan menggunakan Turbidimeter yang ada di Laboratorium Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Dapat diketahui hasil pengukuran bahwa tingkat kekeruhan air sampel tersebut masih memenuhi ambang batas.

2. Pemeriksaan Warna

18

Hasil pengukuran warna terhadap sampel dari sumur gali milik Ibu Karina, di daerah Gamping Kidul, Gamping, Sleman, Yogyakarta diketahui secara fisik melalui pengamatan langsung. Sebenarnya hal ini dapat dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan alat. Namun karena keterbatasan alat maka hanya dilakukan pengamatan secara fisik saja. Hasil dari pengamatan secara fisik adalah air dengan keadaan tidak berwarna, namun juga tidak terlalu bening. Warna dalam air disebabkan larena bahan-bahan koloid dan bahan-bahan yang terlarut dalam air. Warna dibedakan menjadi 2 : warna sesungguhnya dan warna yang tampak. Warna Sesungguhnya : warna yang tampak setelah suspensisuspensi dalam air dipisahkan. Warna yang tampak : warna air termasuk suspense-suspensi dalam air. Batas syarat Warna air minum : 5-50 skala Pt-Co. Penyimpanan batas syarat/warna : > 50, rasa dan bau tidak enak.

3. Pemeriksaan Coliform Bakteri Pemeriksaan kuman golongan Coli (Coliform bakteri) dapat dilakukan sebagai berikut: Dengan cara The Multiple Tube Fermentation Tehnique 1) Pendugaan Persumtive test didasarkan atas kenyataan bahwa Coliform bakteri dapat merubah laktose dengan membantuk gas. Ke dalam tabung laktose yang di dalamnya terdapat medium laktose dan tabung Durham yang terbalik dituangkan contoh air yang akan diperiksa. Kemudian dieramkan selama 2x24 jampada temperatur 37 C jika dalam waktu 2x24 jam terbentuk gas pada tabung Durham, maka test pendugaan dinyatakan positif yang berarti air yang diperiksa tersebut diduga mengandung Coliform bakteri. Sebaliknya, bila tidak timbul gas dapat dinyatakan test pendugaan negative yang berarti air tidak mengandung Coliform. Jika terjadi test pendugaan, maka dilanjutkan dengan test penegasan memastikan adanya Coliform di dalam air tersebut. untuk

19

2) Penegasan Pada confirmed test digunakan medium Brilliant Green Laktose Bile Broth (BGLB), Eosin Metylene Blue Agar (EMB) atau Endo Agar. Semua contoh air dari test pendugaan dipindahkan ke dalam tabung yang berisi BGLB atau digeserkan ke dalam cawan petri berisi EMB atau Endo Agar. Jika dalam tabung BGLB ternyata terdapat gas setelah dieramkan selama 2x24 jam pada temperatur 37 0,5 C, maka Coliform test dinyatakan positif. Demikian pula bila di dalam medium EMB atau Endo Agar terdapat koloni yang tersangka, setelah dieramkan selama 24 jam pada 35 0,5 C maka test tersebut positif. Hasil pemeriksaan sampel air sumur gali milik Ibu Karina di daerah Gamping Kidul, Gamping, Sleman, Yogyakarta menunjukkan adanya jumlah Coli yang tinggi. Hal ini dikarenakan adanya kemungkinan kontaminasi dari penanpungan air buangan (jamban) yang jaraknya dekat antara satu rumah ke rumah lainnya. Selain itu hasil yang menunjukan positif dari semua test karena pada semua tabung terdapat gelembung baik pada pemeriksaan pendugaan dan penegasan.

C. Keterbatasan Pemeriksaan parameter warna pada air sumur gali milik Ibu Karina tidak dapat dilakukan secara kuantitatif hanya dapat dilakukan secara kualitatif. Hal ini dikarenakan keterbatasan alat pada laboratorium. Ehingga pengamatan hanya dilakukna secara visual dan hasinya hanya dapat disebutkan secara kualitatif.

20

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN 1. Pemeriksaan Kekeruhan Air blanko = 1,69 NTU dan Air Sampel = 3,5 NTU nilai parameter kekeruhan air sumur pada rumah Ibu Karina di Gamping Kidul, Gamping, Sleman Yogyakarta adalah 1,81 NTU. 2. Pemeriksaan warna hanya bisa dinilai secara mata telanjang oleh praktikan dikarenakan terbatasnya/tidak adanya alat untuk pemeriksaan warna air di laboratorium Poltekkes Kemenkes Yogyakarta pada saat. 3. Dari hasil pemeriksaan menggunakan perbandingan 5:5:5 didapatkan 1898 koloni/100 ml air sumur gali . 4. Dari hasil pemeriksaan di atas dapat disimpulkan sampel air sumur pada rumah Ibu Karina di Gamping Kidul, Gamping Sleman yogyakarta dapat disimpulkan kekeruhan air sampel sebesar 3,5 NTU tidak melebihi kadar maksimum parameter kekeruhan yang dijinkan yaitu sebesar 25 NTU menurut Permenkes 416 Tahun 1990. 5. Hasil pemeriksaan bakteriologis E.colli sebesar 1898 koloni/ml air sampel melebihi kadar maksimum parameter mikrobiologis yaitu sebesar 50 koloni/100 ml air bukan perpipaan untuk air bersih.(Permenkes 416 Tahun 1990) 6. Hasil pemeriksaan tidak valid karena hasil pengamatan warna tidak menggunakan alat yang seharusnya namun hanya secara subyektif yaitu tidak begitu jernih.

B. Saran 1. Sumur tersebut sebaiknya tidak digunakan mengingat terdapatnya angka bakteriologis Koliform yang melebihi ambang batas dan dapat

membahayajkan bagi orang yang menggunakannya. 2. Jika dalam keadaan terpaksa air sumur tersebut harus digunakan maka air tersebut harus melalui proses pengolah terlebih dahulu sebelum

dikonsumsi. 3. Untuk pemeriksaan warna sebaiknya praktikan harus meneliti ketersediaan alat terlebih dahulu untuk mengukur parameter yang ditentukan guna

21

mendapatkan hasil yang maksimal dan dapat menentukan kualitas air tersebut secara maksimal.

22

DAFTAR PUSTAKA

Sanropie, djasio dkk. 1983. Pedoman Bidang Studi Penyediaan Air Bersih. Jakarta : Departemen Kesehatan RI. Sanropie, djasio dkk. 1984. Penyediaan Air Bersih. Jakarta : Departemen Kesehatan RI. Agustjik, Rohim H.A. 1994. Modul Pelatihan Perbaikan Kualitas Air. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.

23

LAMPIRAN

- Alat dan bahan penambilan sempel air

Pembukaan botol sampel

- Memasukan dalam sumur gali

- Pembungkusan botol sampel

- Memasukan sampel pada djrigen

24

- Djrigen yang sudah diisi

- Pemeriksaan coloform

25