You are on page 1of 6

Biofarmasi 3 (1): 26-31, Pebruari 2005, ISSN: 1693-2242

 2005 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta

Skrining Fitokimia dan Analisis Kromatografi Lapis Tipis Komponen


Kimia Buah Labu Siam (Sechium edule Jacq. Swartz.) dalam
Ekstrak Etanol
The phytochemical screenings and thin layer chromatography analysis of
chemical compounds in ethanol extract of labu siam fruit (Sechium edule Jacq.
Swartz.)

SOERYA DEWI MARLIANA♥, VENTY SURYANTI, SUYONO


Jurusan Kimia FMIPA Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta 57126.

Korespondensi: Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta 57126. Tel. & Fax.: +62-271-663375. e-mail: soerya_dewi@mipa.uns.ac.id.

Diterima: 3 Januari 2005. Disetujui: 15 Januari 2005.

Abstract. The phytochemical screenings and analysis of chemical compounds in ethanol extract of labu siam fruit
(Sechium edule Jacq. Swartz.) with Thin Layer Chromatography (TLC) has been carried out. Isolation was done by
Soxhlet extraction for 6 hours with petroleum ether and the residue was extracted by maseration during 24 hours with
ethanol.The isolated compounds in ethanol extract were identified by phytochemical screenings methode and TLC. The
result showed the presence of alkaloid, saponin, cardenolin/bufadienol and flavonoid.

Keywords: phytochemistry, TLC, Sechium edule Jacq. Swartz.

PENDAHULUAN yang berguna bagi kesehatan. Oleh karena itu pada


penelitian ini dilakukan analisis komponen kimia
Famili Cucurbitaceae merupakan salah satu buah labu siam dalam ekstrak etanol.
ragam tanaman yang banyak terdapat di Indonesia.
Famili ini mencakup lebih dari 750 jenis yang
terbagi dalam 100 genus. Selain itu famili BAHAN DAN METODE
Cucurbutaceae telah cukup diketahui mempunyai
potensi sebagai obat pada beberapa penyakit. Alat dan bahan
Menurut Duke (2003) tanaman pada famili ini Seperangkat alat ekstraksi Soxhlet, seperangkat
mengandung beberapa senyawa seperti saponin evaporator buchii, alat-alat gelas, oven, plat KLT,
yang berguna sebagai anti tumor pada paru-paru bejana KLT, lampu UV 254 nm dan 366 nm. Labu
dan rahim, senyawa betasitosterol sebagai siam (Sechium edule Jacq. Swartz.) petroleum eter
antioksidan dan mencegah kanker payudara serta p.a (E. merck),etanol p.a (E. merck), HCl p.a (E.
senyawa spinasterol dan stigmasterol berguna merck),H2SO4 p.a (E. merck), NH3 p.a (E. merck),
sebagai pencegah radang tenggorokan dan obat NaCl p.a (E. merck), kloroform p.a (E. merck),
peresa nyeri. Na2SO4 anhidrat p.a (E. merck), asam asetat glasial
Salah satu spesies tanaman dalam famili Cucur- p.a (E. merck), benzena p.a (E. merck), logam Mg
bitaceae yang biasa digunakan untuk mengobati (Reidel de Haen), pereaksi Mayer, pereaksi Wagner,
penyakit adalah labu siam (Sechium edule Jacq. pereaksi Dragendorff, AlCl3 p.a (E. merck), FeCl3 (E.
Swartz.). Spesies ini merupakan satu-satunya merck), pereaksi gelatin, aseton p.a (E. merck) dan
spesies dalam genus Sechium (Tjitrosoepomo, akuades.
1989). Kebanyakan orang mengenal labu siam
sebagai sayuran, namun sejak lama bagian daun Cara kerja
dari tanaman ini digunakan untuk mengobati Persiapan sampel buah labu siam
penyakit batu ginjal, arteriosclerosis dan tekanan Buah labu siam dicuci, dikupas kulitnya, dibuang
darah tinggi. Sedangkan bagian buahnya biasa bijinya, dipotong tipis-tipis kemudian dikeringkan
digunakan untuk mengurangi retensi urin (Hernando dengan oven pada suhu 100oC selama 3-4 jam.
dan Leon, 1994). Namun pengetahuan tentang Selanjutnya labu siam kering diblender sampai
kandungan kimia yang sudah dipelajari pada labu berbentuk serbuk.
siam masih sedikit sekali diantaranya adalah citrul-
line, asam alfa amino ureido butirat, asam oksalat, Ekstraksi sampel labu siam
dan asam gamma amino butirat (Duke, 2003). Sebanyak 35 g serbuk labu siam diekstraksi
Melihat banyaknya khasiat tanaman dari labu Soxhlet menggunakan 350 mL petroleum eter
siam tersebut diperkirakan tanaman tersebut selama 6 jam. Residunya dikeringkan untuk proses
mengandung bermacam-macam senyawa kimia selanjutnya.
MARLIANA dkk. – Fitokimia buah Sechium edule 27

Residu kemudian dimaserasi (direndam dalam sampai heksana jernih. Residu yang tertinggal
etanol selama 24 jam disertai dengan pengadukan). dipanaskan diatas penangas air kemudian
Selanjutnya dilakukan penyaringan dengan buchner ditambahkan 3 mL pereaksi FeCl3 dan 1 mL
untuk memisahkan ekstrak etanol dari ampasnya. H2SO4 pekat. Jika terlihat cincin merah bata
Filtrat yang terkumpul dipekatkan dengan destilasi menjadi biru atau ungu maka identifikasi
biasa. menunjukkan adanya kardenolin dan
bufadienol.
Analisis skrining fitokimia (ii) Metode Lieberman-Burchard yaitu dengan cara
Uji alkaloid. Uji Alkaloid dilakukan dengan menguapkan sampel sampai kering. Kemudian
metode Mayer,Wagner dan Dragendorff. Sampel ditambahkan kedalamnya 10 mL heksana,
sebanyak 3 mL diletakkan dalam cawan porselin diaduk selama beberapa menit lalu biarkan.
kemudian ditambahkan 5 mL HCl 2 M , diaduk dan Selanjutnya diuapkan diatas penangas air dan
kemudian didinginkan pada temperatur ruangan. ditambahkan 0,1 g Na2S04 anhidrat lalu diaduk.
Setelah sampel dingin ditambahkan 0,5 g NaCl lalu Larutan disaring sehingga diperoleh filtrat.
diaduk dan disaring. Filtrat yang diperoleh Kemudian filtrat dipisahkan menjadi 2 bagian, A
ditambahkan HCl 2 M sebanyak 3 tetes , kemudian dan B. Filtrat A sebagai blangko dan filtrat B
dipisahkan menjadi 4 bagian A, B, C, D. Filtrat A ditambahkan 3 tetes pereaksi asam asetat
sebagai blangko, filtrat B ditambah pereaksi Mayer, glasial dan H2SO4, senyawa kardenolin dan
filtrat C ditambah pereaksi Wagner, sedangkan bufadienol akan menunjukkan warna merah
filtrat D digunakan untuk uji penegasan. Apabila sampai ungu.
terbentuk endapan pada penambahan pereaksi (iii) Metode Kedde yaitu dengan cara menguapkan
Mayer dan Wagner maka identifikasi menunjukkan sampel sampai kering kemudian menambahkan
adanya alkaloid. Uji penegasan dilakukan dengan 2 mL kloroform, lalu dikocok dan disaring. Filtrat
menambahkan amonia 25% pada filtrat D hingga dibagi menjadi 2 bagian, A dan B. Filtrat A
PH 8-9. Kemudian ditambahkan kloroform, dan sebagai blangko, dan filtrat B ditambah 4 tetes
diuapkan diatas waterbath. Selanjutnya reagen Kedde. Senyawa kardenolin dan
ditambahkan HCl 2M, diaduk dan disaring. Filtratnya bufadienol akan menunjukkan warna ungu
dibagi menjadi 3 bagian. Filtrat A sebagai blangko, Uji flavonoid. Sebanyak 3 mL sampel diuapkan,
filtrat B diuji dengan pereaksi Mayer, sedangkan dicuci dengan heksana sampai jernih. Residu
filtrat C diuji dengan pereaksi Dragendorff. dilarutkan dalam 20 mL etanol kemudian disaring.
Terbentuknya endapan menunjukkan adanya Filtrat dibagi 4 bagian A, B, dan C. Filtrat A sebagai
alkaloid. blangko, filtrat B ditambahkan 0,5 mL HCl pekat
Uji tanin dan polifenol. Sebanyak 3 mL sampel kemudian dipanaskan pada penangas air, jika
diekstraksi akuades panas kemudian didinginkan. terjadi perubahan warna merah tua sampai ungu
Setelah itu ditambahkan 5 tetes NaCl 10% dan menunjukkan hasil yang positif (metode Bate
disaring. Filtrat dibagi 3 bagian A, B, dan C. Filtrat A Smith-Metchalf). Filtrat C ditambahkan 0,5 mL HCl
digunakan sebagai blangko, ke dalam filtrat B dan logam Mg kemudian diamati perubahan warna
ditambahkan 3 tetes pereaksi FeCl3, dan ke dalam yang terjadi (metode Wilstater). Warna merah
filtrat C ditambah garam gelatin. Kemudian diamati sampai jingga diberikan oleh senyawa flavon, warna
perubahan yang terjadi. merah tua diberikan oleh flavonol atau flavonon,
Uji saponin. Uji Saponin dilakukan dengan warna hijau sampai biru diberikan oleh aglikon atau
metode Forth yaitu dengan cara memasukkan 2 mL glikosida. Filtrat D digunakan untuk uji KLT.
sampel kedalam tabung reaksi kemudian Uji antrakuinon. Uji antrakuinon dilakukan
ditambahkan 10 mL akuades lalu dikocok selama 30 dengan uji Brontrager dan uji Brontrager
detik, diamati perubahan yang terjadi. Apabila termodifikasi. Uji Brontrager dilakukan dengan cara
terbentuk busa yang mantap (tidak hilang selama melarutkan 2 mL sampel dengan 10 mL akuades
30 detik) maka identifikasi menunjukkan adanya kemudian disaring, filtrat diekstrak dengan 5 mL
saponin. Uji penegasan saponin dilakukan dengan benzena. Hasil ekstrak dibagi menjadi 2 bagian, A
menguapkan sampel sampai kering kemudian dan B. Filrat A digunakan sebagai blangko dan filtrat
mencucinya dengan heksana sampai filtrat jernih. B ditambahkan 5 mL ammonia kemudian dikocok,
Residu yang tertinggal ditambahkan kloroform, bila terdapat warna merah berarti hasil positif.
diaduk 5 menit, kemudian ditambahkan Na2SO4 Uji Brontrager termodifikasi dilakukan dengan
anhidrat dan disaring. Filtrat dibagi menjadi menjadi melarutkan 2 mL sampel dengan 10 mL 0,5 N KOH
2 bagian, A dan B. Filtrat A sebagai blangko, filtrat dan 1 mL larutan hidrogen peroksida. Kemudian
B ditetesi anhidrat asetat, diaduk perlahan, dipanaskan pada waterbath selama 10 menit, didi-
kemudian ditambah H2SO4 pekat dan diaduk nginkan dan disaring. Pada filtratnya ditambahkan
kembali. Terbentuknya cincin merah sampai coklat asam asetat bertetes-tetes sampai pada kertas
menunjukkan adanya saponin. lakmus menunjukkan asam. Selanjutnya diekstrak
Uji Kardenolin dan bufadienol. Uji Kardenolin dengan 5 mL benzena. Hasil ekstrak dibagi menjadi
dan Bufadienol menggunakan 3 metode yaitu 2 bagian, A dan B. Larutan A digunakan sebagai
metode Keller Killiani, metode Liebeman-Burchard blangko, sedangkan larutan B dibuat basa dengan
dan metode Kedde. 2-5 mL larutan amonia. Perubahan warna pada
(i) Metode Keller-Killiani yaitu dengan menguapkan lapisan basa diamati. Warna merah atau merah
2 mL sampel, dan mencucinya dengan heksana muda menunjukkan adanya antrakuinon.
28 Biofarmasi 3 (1): 26-31. Pebruari 2005.

Analisis kromatografi lapis Tabel1. Hasil skrining fitokimia ekstrak etanol labu siam.
tipis (KLT)
Uji alkaloid. Filtrat D pada Kandungan
Metode pengujian Hasil Ket.
skrining fitokimia ditambah kimia
amonia 25% hingga PH 8-9. Alkaloid Pendahuluan
Kemudian ditambahkan Mayer Endapan putih +
Wagner Endapan coklat muda +
kloroform, dan dipekatkan diatas
Dragendorff Endapan coklat muda +
waterbath. Fase kloroform Penegasan
ditotolkan pada plat silika gel Fraksi CHCl3
G60. Elusi dilakukan dengan Mayer Endapan putih +
metanol : NH4OH pekat = 200 : Wagner Endapan kuning +
3. Plat dikeringkan dan diamati Dragendorff Endapan kuning +
pada cahaya tampak, UV 254 nm Fraksi air
dan 366 nm. Kemudian plat Mayer Endapan putih +
Wagner Endapan putih kekuningan +
disemprot dengan pereaksi
Dragendorff Endapan putih kekuningan +
Dragendorff, dikeringkan dan
diamati pada cahaya tampak, UV Tanin & + FeCl3 Tidak ada perubahan -
254 nm dan 366 nm. Polifenol + Gelatin Tidak ada perubahan -
Uji saponin. Sampel
ditambah dengan HCl 2M, Saponin Pendahuluan
diaduk, direfluks 6 jam diatas -Uji Forth Membentuk buih +
waterbath, kemudian Penegasan
-Uji Lieberman Burchard Cincin warna hijau +
didinginkan. Setelah itu
dinetralkan dengan amonia, Kardenolin/ Uji Lieberman Burchard Cincin hijau +
diuapkan diatas waterbath, Bufadienol Uji Keller Killiani Merah +
ditambah n-heksana kemudian Uji Kedde Merah jambu muda +
disaring. Filtratnya kemudian
diuapkan diatas waterbath, Flavonoid Uji Bate Smith & Mertcalf Orange +
ditambah 5 tetes kloroform, dan Uji Wilstater sianidin Merah +
ditotolkan pada plat silika gel
Antraquinon Uji Borntrager Tidak ada perubahan -
G60. Elusi dilakukan dengan
Uji Brontrager termodifikasi Tidak ada perubahan -
kloroform : aseton = 4 : 1. Plat
dikeringkan dan diamati pada Keterangan: (+) = ada, (-) = tidak ada
cahaya tampak, UV 254 nm dan
366 nm. Kemudian plat
disemprot dengan SbCl3 dioven
24 jam dan disertai pengadukan. Hasil ekstrak
pada suhu 110oC selama 10 menit, dan diamati
etanol diperoleh cairan berwarna kuning. Ekstrak
pada cahaya tampak, UV 254 nm dan 366 nm.
etanol ini selanjutnya digunakan untuk analisis
Uji kardenolin/bufadienol. Sampel ditotolkan
berikutnya.
pada plat silika gel G60. Dielusi menggunakan CHCl3
: MeOH = 1:1. Plat dikeringkan dan diamati pada
Analisis skrining fitokimia
cahaya tampak, UV 254 nm dan 366 nm.
Komponen yang terdapat dalam ekstrak etanol
Selanjutnya disemprot dengan pereaksi kedde,
labu siam dianalisis golongan senyawanya dengan
dikeringkan di udara, dan diamati pada cahaya
tes uji warna dengan beberapa pereaksi untuk
tampak, UV 254 nm dan 366 nm. Noda biru sampai
golongan senyawa alkaloid, tanin dan polifenol,
ungu mengindikasikan adanya lakton tak jenuh.
saponin, kardenolin dan bufadienol, flavonoid, dan
Uji flavonoid. Filtrat C pada skrining fitokimia
antrakuinon. Pereaksi-pereaksi spesifik yang
ditotolkan pada plat silika gel G60. Dielusi dengan
digunakan kebanyakan bersifat polar sehingga bisa
butanol : asam asetat : air = 3:1:1, kemudian
berinteraksi dengan sampel berdasarkan prinsip
dikeringkan dan diamati pada cahaya tampak, UV
‘like dissolve like’. Hasil skrining fitokimia ekstrak
254 nm dan 366 nm. Selanjutnya plat disemprot
etanol disajikan pada Tabel 1.
dengan amonia, dikeringkan dan diamati kembali
Terbentuknya endapan pada uji Mayer, Wagner
pada cahaya tampak, UV 254 nm dan 366 nm.
dan Dragendorff berarti dalam ekstrak etanol labu
siam terdapat alkaloid. Tujuan penambahan HCl
adalah karena alkaloid bersifat basa sehingga
HASIL DAN PEMBAHASAN
biasanya diekstrak dengan pelarut yang
mengandung asam (Harborne, 1996). Perlakuan
Ekstraksi sampel labu siam
ekstrak dengan NaCl sebelum penambahan pereaksi
Hasil ekstraksi Soxhlet 35 gram serbuk labu siam
dilakukan untuk menghilangkan protein. Adanya
dengan 350 ml petroleum eter diperoleh ekstrak
protein yang mengendap pada penambahan
encer berwarna hijau muda. Ekstraksi ini dilakukan
pereaksi yang mengandung logam berat (pereaksi
untuk mengambil komponen non polar dari sampel
Mayer) dapat memberikan reaksi positif palsu pada
buah labu siam. Residu dari ekstraksi Soxhlet
beberapa senyawa (Santos et al., 1998).
kemudian dimaserasi dengan pelarut etanol selama
MARLIANA dkk. – Fitokimia buah Sechium edule 29

Hasil positif alkaloid pada uji Mayer ditandai Bi3+ + H 2O BiO+ + 2H


+
dengan terbentuknya endapan putih. Diperkirakan
endapan tersebut adalah kompleks kalium-alkaloid. Gambar 3. Reaksi hidrolisis bismut
Pada pembuatan pereaksi Mayer, larutan
merkurium(II) klorida ditambah kalium iodida akan Agar ion Bi3+ tetap berada dalam larutan, maka
bereaksi membentuk endapan merah merkurium(II) larutan itu ditambah asam sehingga kesetimbangan
iodida. Jika kalium iodida yang ditambahkan akan bergeser ke arah kiri. Selanjutnya ion Bi3+ dari
berlebih maka akan terbentuk kalium bismut nitrat bereaksi dengan kalium iodida
tetraiodomerkurat(II) (Svehla, 1990). Alkaloid membentuk endapan hitam Bismut(III) iodida yang
mengandung atom nitrogen yang mempunyai kemudian melarut dalam kalium iodida berlebih
pasangan elektron bebas sehingga dapat digunakan membentuk kalium tetraiodobismutat (Svehla,
untuk membentuk ikatan kovalen koordinat dengan 1990). Pada uji alkaloid dengan pereaksi
ion logam (McMurry, 2004). Pada uji alkaloid Dragendorff, nitrogen digunakan untuk membentuk
dengan pereaksi Mayer, diperkirakan nitrogen pada ikatan kovalen koordinat dengan K+ yang
alkaloid akan bereaksi dengan ion logam K+ dari merupakan ion logam. Reaksi pada uji Dragendorff
kalium tetraiodomerkurat(II) membentuk kompleks ditunjukkan pada Gambar 4 (Miroslav, 1971). Untuk
kalium-alkaloid yang mengendap. Perkiraan reaksi menegaskan hasil positif alkaloid yang didapatkan,
yang terjadi pada uji Mayer ditunjukkan pada dilakukan uji Mayer, Wagner dan Dragendorff pada
Gambar 1. fraksi CHCl3 dan fraksi air dari sampel.

HgCl2 + 2KI HgI2 + 2KCl Bi (NO3)3 + 3KI BiI3 + 3KNO3


coklat
HgI2 + 2KI K2 [ HgI2 ]
BiI3 + KI K [BiI4]
Kalium tetraiodomerkurat(II) Kalium tetraiodobismutat

+ K2 [HgI4] + K [HgI4]- + K [BiI4] + [BiI4]_


N N N N
K+ K+ oranye
Kalium-Alkaloid Kalium-Alkaloid
endapan endapan

Gambar 1. Perkiraan reaksi uji Mayer Gambar 4. Reaksi uji Dragendorff

Hasil positif alkaloid pada uji Wagner ditandai Pada uji tanin diperoleh hasil negatif, adanya
dengan terbentuknya endapan coklat muda sampai tanin akan mengendapkan protein pada gelatin.
kuning. Diperkirakan endapan tersebut adalah Tanin bereaksi dengan gelatin membentuk
kalium-alkaloid. Pada pembuatan pereaksi Wagner, kopolimer mantap yang tidak larut dalam air
iodin bereaksi dengan ion I- dari kalium iodida (Harborne, 1996). Reaksi ini lebih sensitif dengan
menghasilkan ion I3- yang berwarna coklat. Pada uji penambahan NaCl untuk mempertinggi
Wagner, ion logam K+ akan membentuk ikatan penggaraman dari tanin-gelatin.
kovalen koordinat dengan nitrogen pada alkaloid Timbulnya busa pada uji Forth menunjukkan
membentuk kompleks kalium-alkaloid yang adanya glikosida yang mempunyai kemampuan
mengendap. Reaksi yang terjadi pada uji Wagner membentuk buih dalam air yang terhidrolisis
ditunjukkan pada Gambar 2. menjadi glukosa dan senyawa lainnya (Rusdi,
1990). Reaksi pembentukan busa pada uji saponin
I2 + I - I3- ditunjukkan pada Gambar 5. Selain uji Forth juga
coklat dilakukan uji Lieberman-Burchard yang merupakan
uji karakteristik untuk sterol tidak jenuh dan
+ KI + I2 triterpen (Santos et al., 1978).
+ I3-
N N
K+ coklat
Kalium-Alkaloid CH2OH
OH O
endapan H2O + OH

CO CO2H OH
Gambar 2. Perkiraan reaksi uji Wagner.
O
CH2OH
Hasil positif alkaloid pada uji Dragendorff juga OH O
OH
ditandai dengan terbentuknya endapan coklat muda
sampai kuning. Endapan tersebut adalah kalium- OH
alkaloid. Pada pembuatan pereaksi Dragendorff, 1-Arabinopiriosil-3β-asetil oleanolat Aglikon Glukosa
bismut nitrat dilarutkan dalam HCl agar tidak terjadi
reaksi hidrolisis karena garam-garam bismut mudah
terhidrolisis membentuk ion bismutil (BiO+), yang Gambar 5. Reaksi hidrolisis saponin dalam air.
reaksinya ditunjukkan pada Gambar 3.
30 Biofarmasi 3 (1): 26-31. Pebruari 2005.

Hasil positif pada uji Keller Kiliani menunjukkan Wilstater disebabkan karena terbentuknya garam
adanya deoksi gula untuk glikosida (Santos et al., flavilium (Achmad, 1986) seperti pada Gambar 8.
1978). Warna merah yang terbentuk kemungkinan
disebabkan terbentuknya kompleks. Atom oksigen
yang mempunyai pasangan elektron bebas pada
gugus gula bisa mendonorkan elektronnya pada O HCl
O
Fe3+ membentuk kompleks. Perkiraan reaksi yang + Cl-
OH OH
terjadi pada uji Keller Killiani ditunjukkan pada O
+
OH
Gambar 6. Flavonol

O O ..
CH2OH CH2OH O +O
- O Cl- +
+ Cl-
OH O + FeCl3 O
O-
OH OH OH
OH OH
-
OH O
Garam Flavilium
3+
Deoksi gula Fe merah tua

Fe3+- Gula Gambar 8. Mekanisme reaksi pembentukan garam


flavilium (Achmad, 1986).
Gambar 6. Perkiraan reaksi uji Keller Killiani.
Uji Brontrager bisa mendeteksi antrakuinon
Adanya kardenolin/bufadienol dapat dilakukan namun uji ini akan menunjukkan negatif untuk
juga uji Lieberman-Burchard yang merupakan uji glikosida antrakuinon yang sangat stabil atau
karakteristik untuk sterol tidak jenuh dan triterpen turunan tereduksi dari tipe antranol. Karena itu uji
(Santos et al., 1978). Hasil positif pada uji Brontrager dimodifikasi dengan sebelumnya
Lieberman-Burchard ditandai dengan terbentuknya menghidrolisis dan mengoksidasi senyawa ini.
cincin hijau yang berasal dari reaksi antara sterol Antrakuinon akan memberikan karakteristik warna
tidak jenuh atau triterpen dengan asam (CH3 COOH merah, violet, hijau atau ungu dengan basa. Tidak
dan H2SO4). terjadinya perubahan warna pada uji Borntrager
Uji Kedde dilakukan untuk menunjukkan adanya dan uji Brontrager termodifikasi menunjukkan tidak
lakton tidak jenuh (Santos, 1978). Hasil positif pada adanya antrakuinon pada ekstrak etanol labu siam.
uji Kedde diperkirakan karena terjadi reaksi antara Skrining fitokimia tidak dikerjakan untuk
lakton tidak jenuh pada kardenolin/bufadienol terpenoid karena tidak ada pereaksi yang spesifik
dengan 3,5 dinitrobenzen (pereaksi Kedde). untuk terpenoid. Uji Lieberman-Burchard yang biasa
Karbonil (C=O) pada lakton tidak jenuh memiliki dikerjakan untuk terpenoid hanya mendeteksi gugus
ikatan π yang mudah putus dan membentuk ikatan steroid, padahal selain terdapat pada terpenoid,
baru dengan senyawa 3,5 dinitrobenzen. Karena gugus ini juga terdapat pada saponin, kardenolin
gugus nitro pada senyawa 3,5 dinitrobenzen dan bufadienol. Hasil skrining fitokimia yang telah
merupakan gugus pengarah meta maka dilakukan menunjukkan bahwa dalam sampel
diperkirakan ikatan yang terjadi adalah antara atom ekstrak etanol labu siam mengandung alkaloid,
oksigen pada gugus karbonil dengan atom karbon tanin dan polifenol, saponin, kardenolin/bufadienol,
posisi meta pada 3,5 dinitrobenzen. Perkiraan dan flavonoid, namun tidak mengandung
senyawa yang terbentuk dapat dilihat pada Gambar antrakuinon.
7. Hasil positif dengan semua pereaksi tersebut
baru menunjukkan adanya gula jantung (kardenolin Analisis kromatografi lapis tipis (KLT)
dan bufadienol). Prosedur uji dengan KLT dilakukan untuk lebih
-
menegaskan hasil yang didapat dari skrining
O
N+ O
fitokimia. Karena berfungsi sebagai penegasan,
maka uji KLT hanya dilakukan untuk golongan-
O O O O golongan senyawa yang menunjukkan hasil positif
-
O
N+ N+
O-
pada skrining fitokimia (alkaloid, saponin,
+ N+ O
O O
- kardenolin/bufadienol dan flavonoid). Uji KLT pada
O
tanin dan polifenol tidak dilakukan karena tidak
ditemukan prosedur yang tepat. Hasil uji KLT
Lakton tidak jenuh 3,5 dinitrobenzen ditunjukkan pada Tabel 2.
Pelarut pengembang yang digunakan pada KLT
Gambar 7. Perkiraan mekanisme reaksi pada uji Kedde untuk alkaloid adalah etil asetat : metanol : air
(100:16,5:13,5). Setelah plat disemprot dengan
Uji Wilstater cyanidin biasa digunakan untuk pereaksi Dragendorff akan menunjukkan bercak
mendeteksi senyawa yang mempunyai inti α- coklat jingga berlatar belakang kuning (Harborne,
benzopyron. Warna orange yang terbentuk pada uji 1996). Timbulnya noda dengan Rf 0,9 berwarna
Bate Smith-Mertcalf dan warna merah pada uji kuning muda pada pengamatan dengan sinar
tampak, berwarna kuning pada UV 254 nm dan
MARLIANA dkk. – Fitokimia buah Sechium edule 31

Tabel 2. Hasil uji kromatografi lapis tipis (KLT) ekstrak etanol labu siam.

Sinar tampak UV 254 UV 366


Kandungan
Rf Tanpa Tambah Tanpa Tambah Tanpa Tambah Ket.
kimia
pereaksi pereaksi perekasi pereaksi pereaksi pereaksi
Alkaloid 0,9 Kuning muda Merah Kuning Kuning Hijau muda Hijau kekuningan +

Saponin 0,84 - Merah jambu - - Kuning Kuning +


0,79 - Merah jambu - - Kuning Kuning +

Kardenolin/ 0,41 Hijau muda Kuning merah - - Merah Merah biru +


Bufadienol
Flavonoid 0,92 - Kuning muda - - Biru Biru +
0,54 - Kuning muda - - Biru Biru +

berwarna hijau muda pada UV 366 nm menegaskan KESIMPULAN


adanya kandungan alkaloid pada ekstrak etanol labu
siam. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak
Salah satu pelarut pengembang yang biasa etanol buah labu siam (Sechium edule Jacq.
digunakan untuk uji KLT saponin adalah heksana: Swartz.) mengandung alkaloid, saponin, kardenolin/
aseton (4:1). Setelah penyemprotan dengan SbCl3 bufadienol dan flavonoid. Hasil analisis KLT ekstrak
dalam asam asetat, saponin terdeteksi sebagai noda buah labu siam mengandung alkaloid, saponin,
berwarna merah jambu sampai ungu (Santos et al, kardenolin/bufadienol dan flavonoid.
1978). Timbulnya noda dengan Rf 0,84 dan 0,79
yang berwarna merah jambu pada pengamatan DAFTAR PUSTAKA
dengan sinar tampak dan berwarna kuning pada UV
366 nm menegaskan adanya kandungan saponin Achmad, S.A. 1986. Kimia Organik Bahan Alam. Jakarta:
pada ekstrak etanol labu siam. Karnunika.
Pelarut pengembang yang digunakan pada KLT Duke, J.A. 2003. Phytochemical and Ethnobotanical
Databases. Agricultural Research Service. [Online
untuk kardenolin/bufadienol adalah CHCl3 : metanol
Database] National Germplasm Resources Laboratory.
(1:1). Setelah penyemprotan dengan pereaksi Beltsville, Maryland. (http://www.ars-grin.gov/duke)
Kedde, noda biru violet mengindikasikan adanya Harborne, J., 1996. Metode Fitokimia: Penuntun Cara
lakton tidak jenuh yang terdapat pada Modern Menganalisis Tumbuhan. Cetakan kedua.
kardenolin/bufadienol (Harborne, 1996). Timbulnya Penerjemah: Padmawinata, K. dan I. Soediro.
noda dengan Rf 0,41 yang berwarna kuning Bandung: Penerbit ITB.
kemerahan pada pengamatan dengan sinar tampak Hernando, J.E. and J. Leon. 1992. Plant Production and
dan berwarna biru pada UV 366 nm menegaskan Protection Series. No. 26. Rome: FAO. Italy.
McMurry, J. and R.C. Fay. 2004. McMurry Fay Chemistry.
adanya kandungan kardenolin/bufadienol pada
4th edition. Belmont, CA.: Pearson Education
ekstrak etanol labu siam. International.
Pelarut pengembang yang digunakan pada uji Miroslav, V. 1971. Detection and Identification of Organic
KLT flavonoid adalah butanol : asam asetat : air Compound. New York: Planum Publishing Corporation
(3:1:1). Setelah disemprot dengan amonia, timbul and SNTC Publishers of Technical Literatur.
noda dengan Rf 0,92 dan 0,54 yang berwarna Rusdi. 1990. Tetumbuhan Sebagai Sumber Bahan Obat.
kuning muda setelah disemprot dengan amonia Padang: Pusat Penelitian Universitas Andalas.
pada pengamatan dengan sinar tampak dan Santos, A.F., B.Q. Guevera, A.M. Mascardo, and C.Q.
Estrada. 1978. Phytochemical, Microbiological and
berwarna biru pada UV 366 nm menegaskan adanya
Pharmacological, Screening of Medical Plants. Manila:
kandungan flavonoid pada ekstrak etanol labu siam. Research Center University of Santo Thomas.
Hasil uji KLT menegaskan bahwa dalam sampel Svehla, G. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif
ekstrak etanol labu siam mengandung alkaloid, Makro dan Semimikro. Edisi kelima. Penerjemah:
saponin, kardenolin/bufadienol dan flavonoid. Setiono, L. dan A.H. Pudjaatmaka. Jakarta: PT Kalman
Media Pusaka.
Tjitrosoepomo, G. 1989. Taksonomi Tumbuhan (Sperma-
tophyta). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.