You are on page 1of 12

Abses submandibular adalah abses yang berlokasi pada submandibular space .

Submandibular space memiliki batas inferior fascia profunda dari hyoid sampai mandibula, batas lateral corpus mandibula, dan batas superior mukosa dasar mulut. Keadaan umum: Lemah, lesu, malaise Demam Asimetri wajah Tanda radang jelas Fluktuasi + Tepi rahang teraba Periodontitis akut Muccobuccal fold Fluktuasi (-)

Pemeriksaan Ekstra oral :

Pemeriksaan intra oral:

Abses pterygomandibular adalah abses yang terjadi pada petrygomandibular space. Abses dibatasi di bagian medial oleh M. pterygoideus dan lateral oleh ramus mandibula. Klinis: nyeri telan, trismus +/-, bengkak EO tidak nyata Intraoral: Fluktuasi (+) ANAMNESA (tanggal 22 Desember 2010) Keluhan utama : Bengkak di bawah dagu Anamnesa Khusus : Bengkak di bawah dagu dirasakan pasien sejak 1 minggu yang lalu, disertai nyeri dan demam. Pasien tidak bisa makan dan minum sejak 1 hari yang lalu karena susah membuka mulut. Riwayat sering nyeri gigi (+) pada rahang kanan bawah, yang terakhir 1 minggu lalu, seperti keluar nanah di mulut. Riwayat sesak napas (-), nyeri dada (-), keluhan telinga dan hidung (-) Riwayat diabetes melitus (-) Anamnesa Umum Telinga Korek Kanan Kiri Nyeri Bengkak Otore Lama Terus menerus Kumat-kumatan Cair lendir nanah Tuli Tinnitus Vertigo : Mual : Muntah : Mau jatuh : Muka menceng Hidung Rinore Kanan Kiri Buntu Bersin : Dingin/lembab : Debu rumah : Berbau : Mimisen Nyeri hidung Suara sengau : Keluhan lain : Tenggorok

Sukar menelan : Sakit menelan : Trismus : + ` Ptyalismus : Rasa ngganjal : Rasa berlendir : Rasa kering : Keluhan lain : Laring Suara parau : Afoni : Sesak nafas : Rasa sakit : Rasa ngganjal : Keluhan lain : STATUS PRAESENS Tanggal : 22 Desember 2010 Status Generalis Keadaan umum : lemah Parese/paralisa : Kesadaran : compos mentis Sesak napas : Gizi : cukup Sianosis : Tensi : 120/80 mmHg Stridor inspiratoir : Nadi : 80 x/menit Retraksi Frekuensi nafas Suhu badan Anemia Muntah Kejang Nistagmus : 20 x/menit : 36,5 C : : : : Suprasternal Interkostal Epigastrial Thorak : Jantung Paru Abdomen : : : : dBN : dBN : dBN Status Lokalis THT Telinga Pembengkakan Fistula auris kongenital Nyeri tekan Meatus acusticus externus : Hiperemi Edema Penyempitan Furunkel Fistel Sekret, sifat Granulasi Polip Kolesteatoma Foetor Kanan Kiri Membrana timpani : Kanan Kiri N/retraksi/bombans Warna Reflek cahaya Perforasi Pulsasi Tes fistula N putih + N putih + gambar Tes pendengaran: Tidak dilakukan Hidung Keadaan luar : Deformitas Hematoma Krepitasi Nyeri Rhinoskopi anterior : Vestibulum Kavum nasi Luas Mukosa Massa Sekret Konka Septum Fenomena palatum molle N N / N N / N / / N / N N / N + / + Gambar Rhinoskopi posterior : Tidak dilakukan Transiluminasi SF: T / T SM: T / T Tenggorok Laring Regio colli Sulit dievaluasi Trismus 2 cm Lidah terangkat Fistel di sublingual (+) D Punksi aspirasi (+) pus Caries (-) Laringoskopi Indirekta : tidak dilakukan PEMERIKSAAN LABORATORIUM 22 Desember 2010 Hb : 13.3 Leukosit : 37.000 Hct : 40,9 Trombosit : 240.000 GDS : 110 Ur/Cr : 54.8/0.62 OT/PT : 28/45 Albumin : 3.62 BJ Plasma : 1.027 Na/K/Cl : 135/4.2/98 PEMERIKSAAN RADIOLOGI Thoraks PA : dbN Cervical AP/lateral : soft tissue swelling pada submandibula dan coli anterior RESUME (22 Desember 2010) Identitas Ny. K/ Perempuan / 35 tahun / Jawa / Islam / 1033981 Anamnesa (22 Desember 2010) Keluhan utama : Bengkak di bawah dagu Bengkak di bawah dagu dirasakan pasien sejak 1 minggu yang lalu, disertai nyeri dan demam. Makan dan minum tidak bisa sejak 1 hari yang lalu karena susah membuka mulut. Riwayat sering nyeri gigi (+) pada rahang kanan bawah, yang terakhir 1 minggu lalu, seperti keluar nanah di mulut. Riwayat sesak napas (-), nyeri pada dada (-), keluhan telinga dan hidung (-). Riwayat diabetes melitus (-). Pemeriksaan Status Generalis (22 Desember 2010) Keadaan umum : lemah, compos mentis Tensi : 120/80 mmHg Nadi : 80 x/menit RR : 20 x/menit Tax : 36.5 C Status Lokalis Telinga : dBN Hidung : dBN Tenggorok : sde Regio Coli :

Edema submental + Edema submandibula + Hiperemi + Gigi-Mulut : Trismus 2 cm Lidah terangkat Fistel di sublingual (+) D Punksi aspirasi (+) pus Caries (-) DAFTAR MASALAH : 1. Abses Submandibular 2. Fistel Sublingualis D RENCANA AWAL RENCANA DIAGNOSA: 1. Punksi aspirasi 2. Foto Thoraks PA 3. Foto cervical AP/lateral 4. Cek laboratorium (DL, FH, OT/PT, Ur/Cr, GDS, SE) RENCANA TERAPI: 1. Pro incisi abses submandibula 2. IVFD RL 20 tpm 3.Inj. Ceftazidin 2 x 1 gr i.v. (skin test) 4.Inj. Metronidazole 3 x 500 mg supp 5.Inj. Gentamycin 2 x 80 mg i.v. 6.Inj. Ketorolac 3 x 30 mg i.v. 7.Inj. Ranitidin 2 x 1 amp i.v. 8.Diet lunak 9.Posisi trendelenburg 10. Rawat luka tiap hari RENCANA MONITOR: 1. Vital Sign 2. Tanda-tanda dehidrasi 3. Obstruksi upper airway RENCANA EDUKASI: 1. Menjelaskan tentang penyakit dan komplikasinya. 2. Menjelaskan tentang rencana tindakan dan terapi yang akan dilakukan. 3. Menjelaskan asupan nutrisi post operasi. PROGNOSA : Dubia ad bonam ABSES BAB IKONSEP DASAR Bab ini ber isi tentang konsep dasar asuhan keperawatan pada klien abses mandabula. Secara umum dan khusus tentang abses menurut definisi, etlologi: A. Definisi Abses adalah suatu penimbunan nanah, biasanya terjadi kibat atau infeksi bakteri. (www.,medicastore.com,2004) Abses adalah infeksi kulit dan subkutis dengan gejalaberupa kantong berisi nanah.(Siregar, 2004).Sedangkan abses mandibula adalah abses yang terjadi di mandibula.Abses dapat terbentuk di ruang submandibula atau salah satu komponennya sebagai kelanjutan infeksi dari daerah leher. (Smeltzer dan Bare, 2001) B. Penyebab Menurut Siregar (2004) suatu infeksi bakteri bisa menyebabkan abses melalui beberapa cara antara lain: 1. Bakteri masuk kebawah kuit akibat luka yang berasal dari tusukan jarum yang tidak steril 2. Bakteri menyebar dari suatu infeksi dibagian tubuh yang lain 3. Bakteri yang dalam keadaan normal hidup di dalam tubuh manusia dan tidak menimbulkan gangguan, kadang bisa menyebabkan terbentuknya abses. Lebih lanjut Siregar (2004) menjelaskan peluang terbentuknya suatu abses akan meningkat jika : 1. Terdapat kotoran atau benda asing di daerah tempat terjadinya infeksi 2. Darah yang terinfeksi mendapatkan aliran darah yang kurang 3.Terdapat gangguan sisitem kekebalan.

Menurut Hardjatmo Tjokro Negoro, PHD dan Hendra Utama, (2001), abses mandibula sering disebabkan oleh infeksi didaerah rongga mulut atau gigi.Peradangan ini menyebabkan adanya pembengkakan didaerah submandibula yang pada perabaan sangat keras biasanya tidak teraba adanya fluktuasi.Sering mendorong lidah keatas dan kebelakang dapat menyebabkan trismus.Hal ini sering menyebabkan sumbatan jalan napas.Bila ada tanda-tanda sumbatan jalan napas maka jalan napas hasur segera dilakukan trakceostomi yang dilanjutkan dengan insisi digaris tengah dan eksplorasi dilakukan secara tumpul untuk mengeluarkan nanah.Bila tidak ada tanda- tanda sumbatan jalan napas dapat segera dilakukan eksplorasi tidak ditemukan nanah, kelainan ini disebutkan Angina ludoviva (Selulitis submandibula).Setelah dilakukan eksplorasi diberikan antibiotika dsis tinggi untuk kuman aerob dan anaerob. Abses bisa terbentuk diseluruh bagian tubuh, termasuk paru-paru, mulut, rektum, dan otot.Abses yang sering ditemukan didalam kulit atau tepat dibawah kulit terutama jika timbul diwajah. C. Patofisiologi Jika bakteri menusup kedalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi infeks. Sebgian sel mati dan hancur, menigglakan rongga yang berisi jaringan dan se-sel yang terinfeksi.Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalalm melawan infeksi, bergerak kedalam rongga tersebut, dan setelah menelan bakteri.sel darah putih kakan mati, sel darah putih yang mati inilah yang memebentuk nanah yang mengisis rongga tersebut. Akibat penimbunan nanah ini, maka jaringan disekitarnya akan terdorong jaringan pada akhirnya tumbuh di sekliling abses dan menjadi dinding pembatas. Abses hal ini merupakan mekanisme tubuh mencefah penyebaran infeksi lebih lanjut jka suat abses pecah di dalam tubuh maka infeksi bisa menyebar kedalam tubuh maupun dibawah permukaan kulit, tergantung kepada lokasi abses.(www.medicastre.com.2004). Pathway (Hardjatmo Tjokro Negoro, PHD dan Hendra Utama, 2001) D. Tanda dan Gejala Menurut Smeltzer dan Bare (2001), gejala dari abses tergantung kepada lokasi dan pengaruhnya terhadap fungsi suatu organ saraf. Gejalanya bisa berupa : 1. Nyeri 2. Nyeri tekan 3.Teraba hangat 4.Pembengakakan 5.Kemerahan 6.Demam Suatu abses yang terbentuk tepat dibawah kulit biasanya tampak sebagi benjolan. Adapun lokasi abses antar lain ketiak, telinga, dan tungkai bawah. Jika abses akan pecah, maka daerah pusat benjolan akan lebih putih karena kulit diatasnya menipis. Suatu abses di dalam tubuh, sebelum menimbulkan gejala seringkali terlebih tumbuh

lebih besar.Abses dalam lebih mungkin menyebarkan infeksi keseluruh tubuh. Adapun tanda dan gejala abses mandibula adalah nyeri leher disertai pembengkakan di bawah mandibula dan di bawah lidah, mungkin berfluktuasi. E. Pemeriksan Diagnosis Menurut Siregar (2004), abses dikulit atau dibawah kulit sangat mudah dikenali. Sedangkan abses dalam sering kali sulit ditemukan.Pada penderita abses, biasanya pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih. Untuk menetukan ukuran dan lokasi abses dalam bissxa dilkukan pemeriksaan rontgen,USG, CT, Scan, atau MRI. F. Pengobatan Menurut FKUI (1990), antibiotika dosis tinggi terhadap kuman aerob dan anaerob harus diberikan secara parentral. Evaluasi abses dapat dilakukan dalam anasksi lokalal untuk abses yang dangkal dan teriokalisasi atau eksplorasi dalam narkosis bila letak abses dalam dan luas.Insisi dibuat pada tempat yang paling berfluktuasi atau setinggi 05 tiroid, tergantung letak dan luas abses.Pasien dirawat inap sampai 1-2 hari gejala dan tanda infeksi reda. Suatu abses seringkali membaik tanpa pengobatan, abses akan pecah dengna sendirinya dan mengeluarkan isinya.kadang abses menghilang secara perlahan karena tubuh menghancurkan. infeksi yang terjadi dan menyerap sisa-sisa infeksi, abses pecah dan bisa meninggalkan benjolan yang keras. Untuk meringankan nyeri dan mempercepat penyembuhan, suatu abses bisa ditusuk dan dikeluarkan isinya.Suatu abses tidak memiliki aliran darah, sehingga pemberian antibiotik biasanya sia-sia Antibiotik biasanya diberikan setelah abses mengering dan hal ini dilakukan untuk mencegah kekambuhan.Antibiotik juga diberikan jika abses menyebarkan infeksi kebagian tubuh lainnya. Infeksi Rongga Mulut (Part 2) Pada postingan sebelumnya mengenai infeksi rongga mulut, sudah sedikit dijelaskan apa sebenarnya infeksi dan bagaimana bisa terjadi dirongga mulut yang berawal dari gigi berlubang dan peradangan gusi. Tulisan ini akan sedikit bercerita, infeksi rongga mulut lainnya yang terjadi bilamana infeksi berlanjut terjadi. Dengan memperhatikan sistem pertahanan tubuh yang cukup baik pada tubuh kita, sebenarnya infeksi bisa diatasi oleh tubuh kita.Hanya saja sistem imunitas tubuh tiap manusia berbeda sangat spesifik sekali. Pada kondisi sistem imun tubuh yang rentan dan rendah, infeksi

rongga mulut dapat menyebabkan kegawat daruratan.Oleh sebab itu, pada tulisan yang pertama saya tekan-kan untuk tidak dianggap remeh.Kenapa bisa menjadi kegawat daruratan? Pada kasus ABSES di rongga mulut, Abses tersebut bisa menyebar ke bagian lain di dalam gusi dan menembus ke tulang (kortikal) dari rahang, ataupun ke bagian rongga kosong antara perlekatan otot di daerah rahang dan wajah. contoh kasus : Abses Submandibula (pada infeksi di gigi-gigi rahang bawah) Keterangan : Kasus ini, merupakan lanjutan dari abses yang terjadi (awalnya adalah abses periapikal-abses diakar gigi) dapat berlanjut menjadi abses submukosa karena adanya infeksi yang hebat menyebabkan pergerakan tekanan nanah-"pus" ke arah mukosa/gusi. Bila pergerakannya ke arah lanjut ke bawah dari akar gigi ke arah tulang rahang bawah (regio submandibular), lamakelaman timbul pembengkakan sekitar wajah diderah bawah.Bila pembengkakan makin membesar dapat menyebabkan terangkatnya lidah dan menyulitkan pernafasan dan penelanan didalam mulut, kondisi ini sudah masuk dalam kategori kegawat daruratan.Pasien sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit ataupun ke dokter gigi spesialis bedah mulut (disarankan). Tindakan yang dapat dilakukan adalah Insisi dan drainase abses untuk mengurangi tekanan abses dan mengeluarkan nanah yang terjebak dan mengurangi tingkat infeksi, selanjutnya dibarengi dengan asupan antibiotik yang tepat secara intravena, dan juga asupan nutrisi yang sudah disesuaikan. Contoh ilustrasi abses yang menembus ke daerah mukosa - Abses submukosa Contoh ilustrasi abses yang menembus ke daerah bawah dari tulang rahang bawah - Abses submandibular Contoh ilustrasi gambaran klinis dari Abses Submandibular (sumber : Contoh ilustrasi penangan pada kasus abses submandibular - Insisi Drainase (membuat jalan keluar dari isi abses - nanah) Bila kondisi tadi bisa diatasi, tentunya pasien harus dievaluasi dan dimonitoring selama perawatan, karena infeksi diharapkan dapat dikendalikan dan diatasi. pola Perjalanan (Penyebaran) Abses Odontogen Posted: Juni 14, 2010 in Mari Belajar!, Penjalaran Infeksi Odontogen

Seperti yang sudah dibahas pada materi sebelumnya, bahwa pola penyebaran abses dipengaruhi oleh 3 kondisi, yaitu virulensi bakteri, ketahanan jaringan, dan perlekatan otot. Virulensi bakteri yang tinggi mampu menyebabkan bakteri bergerak secara leluasa ke segala arah, ketahanan jaringan sekitar yang tidak baik menyebabkan jaringan menjadi rapuh dan mudah dirusak, sedangkan perlekatan otot mempengaruhi arah gerak pus. Dalam skema yang ada dibawah ini, mari kita mencoba membayangkan bahwa cavum oris manusia adalah sebuah peta perjalanan, dimana kita pasti akan bertemu pertigaan, perempatan, lampu merah, dan rambu lalu lintas lainnya. Lalu apa korelasinya? Yaitu bahwa peta yang saya buat di bawah ini adalah prakiraan logis tentang lokasi abses, darimana arah pus, akan kemana, dan kira-kira akan menjadi kondisi seperti apa. Mari membahasnya! Apabila terjadi sebuah kondisi abses periapikal pada sebuah gigi yang mengalami proses infeksi, maka pada prinsipnya, pus yang terkandung harus dikeluarkan, namun jika tidak dikeluarkan, maka ia pun dapat mencari jalan keluar sendiri, eits tunggu dulu jangan berasumsi kalau gitu dibiarin aja!, karena pada proses perjalanannya, pasti sakit dengan intensitas yang berbeda di tiap individu. Kali ini, kita membayangkan jika abses periapikal tidak dirawat dengan baik agar dapat terdrainase, tentunya pus masih akan berkutat di regio periapikal. Seperti yang sempat disebutkan diatas tadi, sesuai dengan pola penyebaran abses yang dipengaruhi oleh 3 kondisi : 1. Virulensi bakteri, 2. Ketahanan jaringan, 3. dan perlekatan otot. Kondisi-kondisi yang tertulis di bawah ini adalah berkaitan dengan poin ke-2 dan ke-3, karena ketahanan jaringan dan letak perlekatan otot mempengaruhi sampai dimana arah gerak pus. Dengan adanya faktor-faktor tersebut, maka akan tercipta kondisi-kondisi seperti yang tertera pada gambar, dengan syarat dan ketentuan yang berlaku : a. Abses Submukosa (Submucous Abscess) Disebut submukosa karena memang dikarenakan pus terletak dibawah lapisan mukosa, akan tetapi, jika berbeda tempat, berbeda pula namanya. Ada 4 huruf a yang tertera pada gambar, kesemuanya merupakan abses submukosa, namun untuk yang terletak di palatal, disebut sebagai

Abses Palatal (Palatal Abscess). Yang terletak tepat dibawah lidah dan diatas (superior dari) perlekatan otot Mylohyoid disebut abses Sublingual (Sublingual Abscess). Yang terletak di sebelah bukal gigi disebut dengan Abses vestibular, kadangkala sering terjadi salah diagnosa karena letak dan secara klinis terlihat seperti Abses Bukal (Buccal Space Abscess), akan tetapi akan mudah dibedakan ketika kita melihat arah pergerakan polanya, jika jalur pergerakan pusnya adalah superior dari perlekatan otot masseter (rahang atas) dan inferior dari perlekatan otot maseter (rahang bawah), maka kondisi ini disebut Abses Bukal, namun jika jalur pergerakan pusnya adalah inferior dari perlekatan otot maseter (rahang atas) dan superior dari perlekatan otot maseter (rahang bawah), maka kondisi ini disebut Abses Vestibular. b. Abses Bukal (Buccal Space Abscess) Abses Bukal (Buccal Space Abscess) dan Abses Vestibular kadang terlihat membingungkan keadaan klinisnya, akan tetapi akan mudah dibedakan ketika kita melihat arah pergerakan polanya, jika jalur pergerakan pusnya adalah superior dari perlekatan otot masseter (rahang atas) dan inferior dari perlekatan otot maseter (rahang bawah), maka kondisi ini disebut Abses Bukal, namun jika jalur pergerakan pusnya adalah inferior dari perlekatan otot maseter (rahang atas) dan superior dari perlekatan otot maseter (rahang bawah), maka kondisi ini disebut Abses Vestibular. c. Abses Submandibular (Submandibular Abscess) Kondisi ini tercipta jika jalur pergerakan pus melalui inferior (dibawah) perlekatan otot Mylohyoid dan masih diatas (superior) otot Platysma. d. Abses Perimandibular Kondisi ini unik dan khas , karena pada klinisnya akan ditemukan tidak terabanya tepian body of Mandible, karena pada region tersebut telah terisi oleh pus, sehingga terasa pembesaran di region tepi mandibula. e. Abses Subkutan (Subcutaneous Abscess) Sesuai namanya, abses ini terletak tepat dibawah lapisan kulit (subkutan).Ditandai dengan terlihat jelasnya pembesaran secara ekstra oral, kulit terlihat mengkilap di regio yang mengalami pembesaran, dan merupakan tahap terluar dari seluruh perjalanan abses. Biasanya jika dibiarkan, akan terdrainase spontan, namun disarankan untuk melakukan insisi untuk drainase sebagai perawatan definitifnya.

f. Sinusitis Maksilaris Sebenarnya ini merupakan sebuah kelanjutan infeksi yang lumayan ekstrim, karena letak akar palatal gigi molar biasanya berdekatan dengan dasar sinus maksilaris, maka jika terjadi infeksi pada periapikal akar palatal gigi molar, jika tidak tertangani dari awal, maka penjalran infeksi dimungkinkan akan berlanjut ke rongga sinus maksilaris dan menyebabkan kondisi sinusitis. Dari penjelasan mengenai tata letak persebaran abses ini, saya bertujuan membuka jalur berpikir kita, bahwa pola perjalanan ini bisa dilogika, bisa dipahami, dan bisa diprediksi, darimana asal absesnya..akan kemana setelah ini.. kapan seharusnya mulai melakukan tindakan.. tindakan apa yang tepat jika di lokasi tertentu.. semua merupakan kesatuan yang logis. Jadi pesan saya adalah..teruslah memahami setiap permasalahan secara teratur, dan kita akan menemukan solusinya. Semoga bermanfaat. PHLEGMON LAPKAS KKP BEDAH 12-10-2010 nama : Mr. bone umur : 69 thn keluhan : - pembengkakan di leher 2 minggu yg lalu. - nx menelan - sesak napas - bengak dasar mulut (kecoklatan dan keras seperti papan) - demam Pemeriksaan Fisik : -KU = cukup -Kes = CM -TD = 120/80 -N = 88 -R = 20 -S = 37C Konjungtiva anemis (-) Inframandibular : edema (+), hiperemis (+), nyeri (+), fluktuasi (+), trismus (+) Dasar lidah terangkat Thoraks : t.a.k Abdomen :t.a.k Ext. Sup &inf : t.a.k - Pemeriksaan penunjang :

Pemeriksaan Laboratorium darah leukositosis infeksi akut Pemeriksaan kultur dan sensitivitaspemilihan antibiotik. Foto x-ray lateral pembengkakan jaringan lunak dan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain adanya obstruksi jalan nafas. CT-scan - DIAGNOSIS : PHLEGMON DASAR MULUT atau ANGINA LUDWIG adalah radang pada jaringan lunak atau jaringan ikat yang menyebar akibat infeksi. - Diagnosis Banding : karsinoma lingua sublingual hematoma Abses glandula salivatorius Limfadenitis Peritonsilar abses. - Epidemiologi : Penderita terbanyak berkisar antara umur 20-60 tahun pernah dilaporkan terjadi sejak 12 hari-84 tahun dominan terjadi pada laki-laki (3:1 sampai 4:1) 95% kasus melibatkan submandibula bilateral dan gangguan jalan nafas Angka morbilitas : - dulu : 50% blm d temukan antibiotik - sekarang : 8% penanganan lebih baik - Etiologi : 50%-90% angina Ludwig berawal dari infeksi odontogenik Sialadenitis (radang kelenjar saliva) abses peritonsilar fraktur mandibula terbuka infeksi kista duktus thyroglossus Epiglotitis injeksi obat intravena melalui leher trauma oleh karena bronkoskopi intubasi endotrakeal laserasi oral luka tembus di lidah infeksi saluran pernafasan atas trauma pada dasar atau lantai mulut - Patogenesis :

Nekrosis pulpa karena karies dalam yang tidak terawat dan periodontal pocket dalam merupakan jalan bakteri untuk mencapai jaringan periapikal. Karena jumlah bakteri yang banyak, maka infeksi yang terjadi akan menyebar ke tulang spongiosa sampai tulang cortical. Jika tulang ini tipis, maka infeksi akan menembus dan masuk ke jaringan lunak. Odontogen dapat menyebar melalui jaringan ikat (perkontinuitatum), pembuluh darah (hematogenous), dan pembuluh limfe (limfogenous). Yang paling sering terjadi adalah penjalaran secara perkontinuitatum karena adanya celah/ruang di antara jaringan yang berpotensi sebagai tempat berkumpulnya pus. Selain infeksi gigi abses juga dapat disebabkan pericoronitis, yaitu suatu infeksi gusi yang disebabkan erupsi molar ketiga yang tidak sempurna. - Gejala klinis : Demam, takipnu dan takikardi Timbul bersamaan dengan sepsis. Pembengkakan submentalmulut tidak dapat membuka. Pembengkakan yang menegang Bengkak meluas ke arah lateral dan pasien mengalami abrasi pada hidung nyeri tenggorok dan leher pembengkakan di daerah submandibulahiperemis nyeri tekan dan keras pada perabaan (seperti kayu) Trismus disfonia (a hot potato voice - Penatalaksanaan : 4 Prinsip utama : 1. Proteksi dan kontrol jalan napas 2. Pemberian antibiotik yang adekuat 3. Insisi dan drainase abses 4. Hidrasi dan nutrisi adekuat Tracheostomy --> jika terdapat sesak napas berat. untuk mengurangi pembengkakan mukosa dapat diberikan nebulisasi epinefrin Antibiotik IV penisilin, klindamisin, siprofloksasin, cefoxitin, piperacilin-tazobactam, amoksisilin-clavulanate, metronidazole. pengobatan gigi mungkin diperlukan untuk infeksi gigi yang menyebabkan angina Ludwig's. - Perawatan Luka Paska Bedah : Infus RL/D5 sesuai kebutuhan cairan 60cc/kgBB/hari

Injeksi antibiotika dilanjutkan sampai 5 hari. Kumur-kumur dengan obat kumur antiseptik/oral highiene yang baik. Latihan buka mulut supaya tidak trismus, atau supaya muskulus mylohioid dan sekitarnya kontraksi sehingga pus terpompa keluar. Rawat luka dengan kompres larutan garam faali, sehingga luka terjaga kebersihannya. Evaluasi sumber infeksi (gigi) dan apakah ada diabetes mellitus. Jangan lupa dianjurkan untuk berobat lanjutan sumber infeksinya - Komplikasi : a. Obstruksi jalan napas b. Infeksi carotid sheath c. Tromboplebitis supuratif pada vena jugular interna d. Mediastenitis e. Empiema f. Efusi pleura g. Osteomielitis mandibula h. Pneumonia aspirasi - Pencegahan : pemeriksaan gigi ke dokter secara rutin dan teratur penanganan infeksi gigi dan mulut yang tepat dapat mencegah kondisi yang akan meningkatkan terjadinya angina Ludwig. - Prognosis : Kematian pada era preantibiotik adalah sekitar 50% diagnosis dini, perlindungan jalan nafas yang segera ditangani, pemberian antibiotik intravena yang adekuat, penanganan dalam ICU sembuh tanpa komplikasi angka mortalitas menurun< 5%