You are on page 1of 2

Buletin the WAHID Institute

Agama dan Keyakinan dalam R–KUHP


Alamat Redaksi: Jl. Taman Amir Hamzah No 8 Jakarta 10320 Indonesia. Telp: +62 21–3928233, 3145671 Faks: +62 21–3928250
E–mail: info@wahidinstitute.org. Web: www.wahidinstitute.org ; www.gusdur.net

Wajah Diskriminatif
Pengantar Redaksi Undang Undang Adminduk
J
Indonesia masih jauh dari aminan kebebasan beragama dan berkeyakinan dalam perundang-undangan
meng gembirakan. Coba tengok kita tak kunjung menggembirakan. Saat sorotan terhadap berbagai klausul
sorotan terhadap klausul dalam dalam Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) terkait
Rancangan RKUHP terkait Pasal pasal-pasal penodaan agama kian tajam, lagi-lagi pemerintah memproduksi
penodaan agama semakin menajam undang-undang yang justru kian mempertegas posisi negara dalam
saat pemerintah memproduksi mendiskriminasi hak-hak sebagian warganya, yaitu Undang-undang
undang-undang Administrasi Administrasi Kependudukan (UU Adminduk) yang disahkan pada 8 Desember
Kependudukan pada akhir tahun 2006 silam.
2006, yang justru memperjelas negara Undang-undang ini sendiri lahir dari pergumulan panjang, baik di legislatif
dalam mendiskriminasi hak-hak maupun di masyarakat. Dalam rapat paripurna pengesahannya, beberapa fraksi
sebagian warga sendiri. meminta penundaan. Bahkan salah satu fraksi terbesar di DPR tidak ikut prosesi
Beberapa hal mendasar yang pengambilan keputusan. Ini karena banyaknya substansi UU yang dinilai masih
mencuat menjadi masalah adalah mengandung potensi diskriminasi. Belum lagi kritik masyarakat sipil yang melihat
banyak substansi UU belum DPR tidak transparan dalam proses pembahasannya. Aliansi Nasional Bhineka
sempurna dan dinilai mengandung Tunggal Ika misalnya, secara tegas menolak UU ini karena DPR tidak
potensi dis-kriminasi. Belum lagi kritik mengakomodir hak dasar individu, termasuk tidak melibatkan masyarakat di
masyarakat sipil yang melihat DPR dalamnya.
tidak transparan dalam proses Ketertutupan proses pembahasan UU yang terdiri 14 bab, 42 pasal, dan
pembahasannya. 222 ayat ini jelas bertentangan dengan Pasal 53 UU No. 10 tahun 2004 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, yang berbunyi “Masyarakat
berhak memberikan masukan secara lisan atau tulisan dalam rangka penyiapan
atau pembahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah.”
Alhasil, secara substansi dan konsepsi, UU yang katanya untuk memperbaiki
kinerja pelayanan kependudukan, menjunjung HAM, dan menghapuskan
diskriminasi, ini malah berpotensi menciptakan otoriterisasi kependudukan,
menyuburkan korupsi, mengabaikan hak-hak sipil masyarakat, serta
melanggengkan diskriminasi.
Analisis Pasal
Bila pasal-pasal UU ini kita cermati lebih tajam, maka sebetulnya tidak ada
perubahan signifikan saat UU ini disahkan maupun saat masih sebagai rancangan.
Memang ada terobosan menggembirakan, misalnya adanya klausul pembuatan
akte gratis bagi bayi baru lahir hingga usia 60 hari. Namun dari sudut pandang
kebebasan beragama, sejumlah pasal tidak saja problematis, tapi juga
menandakan semangat antidiskriminasi para pengambil kebijakan kita.
Salah satu ketentuan yang mengganjal, adalah pasal tentang pengakuan identitas
Dew an R
Dewan edaksi: Yenny Zannuba
Redaksi: kepercayaan di luar agama-agama yang diakui pemerintah (Pasal 8 ayat 4).
Wahid, Ahmad Suaedy, Diketahui, pemerintah Indonesia hanya mengakui enam agama; Islam, Katolik,
Rumadi, Moqsith Ghazali Kristen, Hindu, Budha dan Khong Hu Cu (Penjelasan pasal 1 PNPS No. 1
Redaktur: Gamal Ferdhi, Subhi Tahun 1965). Padahal di luar itu ada puluhan, bahkan ratusan aliran kepercayaan
Azhari, Nurul Maarif, Nurun Nisa dan agama lokal masyarakat, yang keberadaannya tidak diakui negara.
Desain: Widhi Cahya Ketentuan lain misalnya, menyangkut pencantuman kolom agama di Kartu

Kerjasama The Wahid Institute—Yayasan TIFA No.10/Februari 2007


Keluarga (Pasal 61 ayat 2) dan Kartu Tanda Penduduk kelompok non agama resmi telah kenyang
(Pasal 64 ayat 2). Ini jelas membuka ruang terjadinya didiskriminasi, justru oleh negara. Negara melakukannya
diskriminasi, lantaran embel-embel agama masih secara sistematis, dengan menciptakan produk hukum
menjadi kategori penting data kependudukan kita. yang tidak mengakomodasi kepentingan mereka,
Kedua pasal itu menjelaskan, siapa saja yang agamanya bahkan menempatkan mereka sebagai pengganggu
belum diakui (agama ilegal, red) diperbolehkan tidak ketertiban umum, penoda agama resmi, kelompok yang
mengisi kolom agama. Sepintas, klausul ini terlihat cukup belum beradab dan sebagainya.
adil, karena memberi opsi yang memungkinkan warga Inilah ironi negara yang berdasar Ketuhanan Yang
negara, baik yang maupun tidak beragama, memiliki Maha Esa, yang di dalam konstitusinya ada jaminan
dokumen kependudukan. Namun keadaannya berbeda setiap warga bebas dari perlakuan diskriminatif atas
ketika itu masuk dalam praktik birokrasi di lapangan, dasar apapun (Pasal 28 ayat 2 UUD 1945) dan setiap
seperti pengurusan perkawinan, warisan, hak asuh anak warga negara bebas menganut agama dan kepercayaan
dan seterusnya. Di sini, warga negara yang tidak memiliki yang diyakininya (Pasal 29 UUD 1945). Namun, warga
status keagamaan diakui akan kesulitan. Dan ini akan negera yang menghayati kepercayaan leluhurnya justru
menjadikan mereka sebagai warga negara “kelas dua” didiskriminasi negara, sedang penganut agama besar
dalam pelayanan publik. yang semuanya impor dan baru malah diakomodasi.
Memang, menempatkan agama sebagai salah satu
identitas warga negara pada dasarnya merupakan hak Beberapa Opsi
individu, karena agama merupakan dimensi terdalam Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk menyikapi lahirnya
penghayatan manusia terhadap nilai-nilai yang dianutnya. UU bertabur masalah ini? Beberapa opsi bisa jadi pilihan.
Agama juga terkait yang transendental. Itu artinya, agama Pertama, menunda pemberlakuan UU ini dan
tidak bisa didefinisikan kecuali oleh pemeluknya. mengembalikannya pada DPR untuk dibahas kembali.
Karenanya, ketika negara merumuskan definisi agama Proses pembahasan ulang ini harus melibatkan warga
dengan caranya sendiri, pada saat yang sama negara masyarakat. DPR juga harus banyak mendengar suara
telah menodai arti agama. Negara telah dari para penganut agama non resmi, untuk mengetahui
memploklamirkan dirinya sebagai pendefinisi tunggal apa yang mereka rasakan dan alami selama ini. Setelah
yang benar. Apalagi dengan definisi itu, negara kemudian pasal-pasalnya diperbaiki, DPR harus mengundang
memilah mana agama yang benar-benar dipeluk berbagai kelompok masyarakat guna memperoleh
penduduk Indonesia dan mana yang tidak (penjelasan respon dan tanggapan.
Pasal 1 PNPS No. 1 1965). Maka tidak heran, agama- Kedua, melakukan uji materiil (judicial review) terhadap
agama seperti Parmalim (Batak), Sunda Wiwitan beberapa pasal yang mengandung potensi diskriminasi.
(Sunda), Kaharingan (Dayak), Tolotang (Sulawesi), Wetu Pasal-pasal itu harus diperhadapkan pada peraturan yang
Telu (Lombok), Ilmu Sejati (Jateng dan Jatim) dan masih menjamin kebebasan berkeyakinan dan kebebasan dari
banyak lagi, tidak masuk kategori agama karena tidak diskriminasi. Misalnya Konvensi tentang Hak Sipil dan
sesuai definisi negara. Politik, Konvensi tentang Antidiskriminasi, Konvensi
Pembedaan agama yang diakui dan tidak diakui tentang Ekosob, dan DUHAM. Bila pasal-pasal UU
dalam UU ini, adalah bentuk lain dari penggolongan ini bertentangan dengan ketentuan di atasnya, maka
penduduk sebagaimana tertuang dalam staatsblad Mahkamah Agung (MA) harus menyatakannya batal
warisan Pemerintah Kolonial Belanda, yang demi hukum.
keberadaannya telah digantikan UU ini. Makanya secara Ketiga, melakukan constitutional review oleh Mahkamah
tidak langsung, melalui UU ini, negara tengah Konstitusi (MK) dengan memperhadapkan UU ini
mengkotak-kotakkan warganya berdasarkan status pada hak-hak dasar warga negara yang ada dalam
agama. Karena negara hanya mengakui enam agama, konstitusi. Upaya ini bisa dilakukan oleh kelompok
maka negara hanya memberi fasilitas kepada enam agama non resmi yang selama ini hak konstitusinya
pemeluk agama itu, seperti bantuan pendirian tempat dilanggar negara.
ibadah, pendidikan dan pemberian jabatan Direktur Keempat, membuat peraturan pemerintah dan berbagai
Jenderal di Departemen Agama. Sementara pemeluk peraturan pelaksana lainnya, dengan melibatkan berbagai
agama yang tidak diakui, tidak akan mendapat bantuan elemen masyarakat, termasuk kelompok pemeluk
apapun, kecuali mereka melebur ke dalam salah satu agama non resmi. Ini penting dilakukan, selain untuk
agama resmi. menggali aspirasi mereka, juga untuk menjamin agar
Menghadapi kepahitan ini, selama ini pemeluk agama para pejabat pelaksana di lapangan tidak bertindak
non resmi hanya diam dalam kertersiksaan. Tak ada diskriminatif dalam melayani seluruh warga negara.
yang bisa dilakukan selain pasrah. Mereka juga tidak Upaya-upaya di atas harus dilakukan setiap warga
reaktif menyikapi setiap tekanan atau ketidakadilan yang negara, sebagai tanggungjawab moral agar bangsa ini
datang dari luar. Bisa saja ini karena ajaran dan doktrin tidak semakin jauh meninggalkan nilai-nilai yang selama
yang mereka yakini. Tapi tidak menutup kemungkinan, ini didengung-dengungkan. Kita berharap, di masa
ini karena ketidakmampuan mereka menghadapi rezim mendatang UU seperti ini tidak lagi diproduksi, supaya
penguasa yang represif. Indonesia menjadi negara yang betul-betul melindungi
Berdasar kenyataan di atas, tanpa UU ini sekalipun, HAM dan setiap warganya bisa menjalankan hak dan
sesungguhnya selama 61 tahun Indonesia merdeka, kewajibannya tanpa dihantui diskriminasi.[]MSA