You are on page 1of 3

ANALISIS EFEKTIVITAS Dari penjabaran sebelumnya, dapat dinilai mengenai efektivitas dari pelaksanaan Sensus Pajak Nasional ini,

dilihat dari berbagai sisi, antara lain dari kekuatan dasar hukum, kompetensi dari responden, dampak psikologis, dan ketercapaian tujuan.

Dasar Hukum Dasar hukum untuk pelaksanaan SPN ini adalah Peraturan Menteri Keuangan Nomor 149/PMK.03/2011, sedangkan untuk ketentuan teknisnya, SPN didasarkan pada Peraturan Jenderal Pajak Nomor Per-30/PJ/2011. Perdirjen ini mencantumkan konsideransi yaitu UU No. 6 Tahun 1983 tentang KUP, UU Nomor 7 Tahun 1983 tentang PPh,UU nomor 8 Tahun 1983 tentang PPN dan PPNBM, UU Nomor 12 Tahun 1985 tentang PBB dan PMK Nomor 149/PMK.03/2011 tentang SPN. PMK ini sendiri menggunakan konsideransi pertimbangan pada pasal 9 ayat (3) UU PBB serta amanat Presiden melalui Nota Keuangan yang disampaikan pada 16 Agustus 2011. Selanjutnya konsideran merujuk pada UU KUP, UU PPh, UU PPN, UU PBB, dan Keputusan Presiden Nomor 56/P Tahun 2010. Dasar hukum PMK tentang SPN ini tidak merujuk langsung pada UU. Tidak ada ketentuan yang mengacu pelaksanaan SPN secara eksplisit maupun implisit. Padahal segala hal yang berkenaan dengan pajak harus berdasarkan Undang-undang. Ketentuan ini mengacu pada pasal 23A UUD 1945. Sebenarnya terdapat konsideran yang tercantum pada poin pertimbangan pertama yaitu pasal 9 ayat (3) UU PBB. Namun pasal tersebut tidak memberikan keterangan tentang ketentuan pelaksanaan sensus pajak. Pasal ini juga hanya mengatur PBB/BPHTB, tidak termasuk jenis pajak yang lain. (http://ipungefendy.wordpress.com/2012/01/13/telaah-atas-dasar-hukum-sensus-pajak-nasionalspn/)

Kompetensi dan Faktor Psikologis Responden Dalam pedoman pelaksanaannya, untuk kondisi tertentu di mana Wajib Pajak yang bersangkutan sulit ditemui, maka dimungkinkan informasi diperoleh dari pihak lain yang kompetensinya tidak dibatasi secara tegas dan jelas, misalnya pada sensus di cluster perumahan hanya dapat ditemui pembantu rumah tangga, maka informasi perpajakan Wajib Pajak bersangkutan diperoleh berdasarkan pengetahuan pembantu rumah tangga tersebut, sehingga validitas dan keakuratannya kurang kuat.

Beberapa Wajib Pajak yang dapat ditemui tidak berbeda jauh dalam memberikan informasi, seperti mendasarkan jawabannya pada SPT yang telah dilaporkan, bukan didasarkan pada kondisi riil yang lebih akurat, atau menanyakannya terlebih dahulu pada konsultan atau bawahannya yang mengurusi urusan perpajakan, sehingga informasi yang diinginkan untuk perbaikan data tidak diperoleh. Berdasarkan pengalaman dari beberapa petugas di lapangan, sebagian besar responden cenderung bersifat retensif dan tertutup pada petugas. Hal ini sedikit banyak dipengaruhi oleh faktor psikologis. Sebagai contoh, SPN ini dilaksanakan tidak berselang lama setelah sejumlah kasus yang melibatkan beberapa pegawai pajak dalam kasus korupsi, sehingga banyak dari responden enggan untuk memberikan informasi apa adanya dengan alasan tersebut, terlepas dari relevan atau tidaknya dengan pelaksanaan SPN ini. Untuk responden yang kooperatif, kebanyakan juga memberikan informasi sesuai dengan yang dilaporkannya dalam SPT, sehingga tidak banyak informasi baru yang diperoleh. Dilihat dari dampak psikologis masyarakat sebagai responden, pelaksanaan SPN ini dinilai kurang efektif.

Ketercapaian Tujuan Berbagai faktor di atas bermuara pada ketercapaian tujuan. Pelaksanaan SPN ini memiliki tujuan awal yang sangat baik, yaitu perbaikan data untuk menjaring berbagai potensi perpajakan melalui peningkatan tax ratio. Pencapaian tujuan ini diukur di antaranya melaui penentuan target dan perbandingannya dengan capaian yang diperoleh. Terdapat anggaran yang harus dikeluarkan untuk pencapaian tujuan ini. Mulai dari biaya penyusunan dan percetakan lembar Formulir Isian Sensus (FIS), Sumber Daya Manusia (SDM) yang dibutuhkan untuk melaksanakan wawancara SPN (Pihak Ketiga atau Outsourching), Biaya publikasi dan sosialisasi kegiatan SPN hingga kompensasi yang diberikan kepada para pegawai yang terlibat dalam pelaksanaan SPN. Pada pelaksanaan SPN kesatu, untuk itu semua, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak telah menganggarkan total pengeluaran sebesar 200 Milliar. Mengenai pencapaian output, dari target awal yang ditentukan, yakni sebanyak 1,5 juta Wajib Pajak (WP) baru yang akan dijaring, akhirnya diturunkan menjadi hanya 900 ribu WP saja. Hingga batas waktu SPN, pendataan ternyata baru dapat dilakukan kepada 646.655 Wajib Pajak saja.

Dalam hal kondisi respon WP terhadap SPN, hasilnya pun tak jauh berbeda. Ditjen Pajak memetakan empat (4) kondisi WP setelah dilakukan sensus. Kondisi pertama, WP yang dapat ditemui dan bersedia menjawab pertanyaan sekaligus mengisi formulir berjumlah 69,92%. Kedua, WP yang dapat ditemui dan hanya bersedia menjawab ataupun hanya mengisi formulir berjumlah 1,75%. Ketiga, WP tidak berada ditempat saat dilakukan sensus sebanyak 16,4%. Dan yang terakhir, alamat WP sudah berpindah dan tidak diketahui lagi alias kosong sebanyak 11,93% (Ada Apa dengan Sensus Pajak, kolom Indonesian Tax Review). Dua hal yang disebut menjadi penyebab tingkat ketercapaian ini yaitu perihal kurang efektifnya sosialisasi dan kurang kompetennya para petugas SPN. Hal ini penting mengingat pada kedua hal inilah, kurang lebih agenda keberhasilan SPN diletakkan. Sosialisasi akan terkait dengan upaya untuk mengubah cara pandang dan persepsi WP, sedangkan kompetensi petugas akan terkait dengan kemampuan mengeksplorasi data pada saat wawancara. (http://keuangannegara.com/kolom-pakar-kolom-pakar/1690/spn-anggaran-dan-reviewpencapaian.html)