You are on page 1of 2

PKBL BUMN: CSR atau Bukan?

18.Feb.2008

Minggu lalu, antara 13-17 Februari 2008 sekitar 50 BUMN menggelar pameran di
Jakarta Hilton Convention Center (JHCC). Mereka memamerkan mitra-mitranya yang
telah mereka bantu melalui Program Kemitraan. Memang, secara hukum BUMN
dinyatakan memiliki tujuan pendirian yang bukan saja untuk mengejar keuntungan,
melainkan juga “turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha
golongan ekonomi lemah, koperasi dan masyarakat”, yang tercantum dalam Pasal 2 UU
Nomor 19/2003.

Lebih lanjut, dalam Kep-236/MBU/2003 dinyatakan dengan jelas bahwa BUMN


diwajibkan menjalankan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) yang
biayanya diperoleh dari penyisihan sebagian laba bersih perusahaan. Dalam Keputusan
tersebut juga ditekankan bahwa PKBL merupakan “tugas sosial” karena tugas tersebut
bukan merupakan bisnis inti BUMN, serta diperlukan sebuah pembukuan khusus yang
terpisah dengan laporan keuangan BUMN yang melaksanakannya.

Program Kemitraan sendiri dinyatakan sebagai pembinaan dan pengembangan yang


dilakukan oleh BUMN terhadap usaha kecil (kekayaan bersih sampai Rp. 200 juta dan
penjualan sampai Rp. 1 miliar per tahun) dan mikro (penjualan sampai Rp. 100 juta per
tahun). Sementara, Bina Lingkungan merupakan bantuan untuk kegiatan-kegiatan
nonekonomis. Sebagai bantuan ekonomis, Program Kemitraan sebagian besar berupa
pinjaman kepada usaha kecil dan mikro tersebut, dan sebagian kecilnya berupa hibah
untuk aktivitas pendukung berupa pendidikan, pelatihan, magang, penelitian dan
sebagainya.

Dalam sebuah presentasi di bulan April 2007, Menneg BUMN kala itu, Sugiharto
menyatakan bahwa PKBL merupakan perwujudan dari CSR. Tapi benarkah demikian?
Mungkin ada baiknya kalau pernyataan tersebut ditimbang dengan cermat. Dalam
definisi CSR yang dianut oleh Lingkar Studi CSR, sebuah perusahaan baru dianggap
menjalankan CSR dengan benar apabila ia telah mengupayakan terlebih dahulu
minimisasi dampak negatif, baru kemudian melakukan maksimisasi dampak positif.
Tampaknya Kementerian Negara BUMN tidak berpendirian demikian, sehingga PKBL
dianggap sama dengan CSR, walau pelaksananya tidak diwajibkan melakukan minimisasi
dampak negatif dahulu. Jadi, walaupun sebuah BUMN tidak memedulikan dampak
negatifnya, namun melaksanakan apa yang diwajibkan dalam ketentuan mengenai PKBL,
maka ia bisa dianggap melakukan “CSR”, tentunya dalam pemahaman Kementerian
Negara BUMN.

Berikutnya, sebagaimana yang ditemukan oleh Dahlsrud (How Corporate Social


Responsibility is Defined, 2008), berbagai definisi CSR secara konsisten menunjukkan
unsur voluntari, yang berarti sebuah perusahaan menjalankan terlebih dahulu seluruh
ketentuan dalam peraturan legal, kemudian menambahkan dengan hal-hal yang
melampaui apa yang diatur. Terkait dengan hal tersebut, ada dua pendirian mengenai apa
yang dihitung sebagai CSR, yaitu (1) apa yang di luar regulasi saja, dan (2) mencakup
yang ada di dalam dan di luar regulasi. Masalah dengan PKBL adalah bahwa ia sudah
diatur dengan ketat, dan BUMN-BUMN tidak melakukan hal di luar itu. Dengan
demikian, kalau mengacu pada pendirian pertama, maka PKBL bukanlah CSR.
Sementara, mengacu pada pendirian kedua, PKBL adalah sebuah CSR minimum, karena
tidak mengandung hal yang “beyond compliance”.

Terakhir, PKBL didasarkan pada laba bersih yang BUMN bukukan di tahun sebelumnya.
Hal ini sangat problematik dari sudut pandang CSR. Kalau sebuah BUMN tidak
membukukan keuntungan, maka ia boleh tidak menjalankan “tugas sosial”-nya itu. Ini
tentu saja bukan ciri-ciri CSR, karena CSR harus dilaksanakan, terlepas dari untung atau
tidak (belum)-nya perusahaan. Sudah semenjak 1997 seluruh pakar CSR bersepakat
bahwa CSR adalah aktivitas “before profit”, bukan “after profit” sebagaimana yang
dianut oleh Kementerian Negara BUMN.

Dengan memerhatikan hal-hal di atas, jelaslah bahwa PKBL BUMN masih belum bisa
dianggap sebagai CSR yang sesungguhnya. Ia tidak mewajibkan perusahaan untuk
terlebih dahulu meminimumkan dampak negatifnya, ia tidak mengandung voluntarisme
untuk melampaui regulasi, dan ia juga merupakan pengeluaran yang disandarkan atas
keuntungan—bukan dipandang sebagai investasi. Itu dari sisi teoretisnya.

Dari sisi praktis sangat penting dipikirkan bagaimana cara terbaik untuk
mendayagunakan berbagai bisnis inti BUMN untuk mendongkrak kinerja usaha kecil dan
mikro yang dibantunya. Jadi, Pertamina atau Telkom tidak lagi sekadar ”bermitra”
dengan usaha kain batik, misalnya, sebagaimana yang ditunjukkan dalam pameran.
Melainkan, dua BUMN itu bisa menjadi mitra sejati bagi usaha kecil dan mikro yang
bergelut memperjuangkan kemandirian energi serta menjembatani kesenjangan digital.
Bukankah ”bimbingan dan bantuan” optimum hanya bisa diberikan apabila itu terkait
dengan keahliannya?