You are on page 1of 13

Internet adalah "Alat Bantu", bukan "Solusi Pendidikan" (di tingkat Sekolah).

Internet
(tanpa bahasa Inggris) sebagai sumber informasi yang sangat terbatas. Bahan pelajaran
(dalam bahasa Indonesia) juga sangat sedikit. Kelihatannya kurikulum kita juga tidak
berbasis-penelitian, jadi untuk apa Internet di sekolah? Internet di sekolah jelas bukan
prioritas kan? (Informasi Lanjut)

Pendidikan Yang Bermutu adalah:

Pendidikan Berbasis-Guru yang Mampu dan Sejahtera, di Sekolah yang Bermutu, dengan
Kurikulum yang Sesuai dengan Kebutuhan Siswa-Siswi dan "Well Balanced" (seimbang,
dengan banyak macam keterampilan termasuk teknologi), yang Diimplementasikan secara
PAKEM (Pembelajaran Kontekstual). ("Mampu" termasuk Kreatif)
Kami di Pendidikan.Network sudah terus mendukung perkembangan teknologi di
DepDikNas maupun di sekolah sejak tahun 1998. Tetapi kami juga wajib untuk memonitor
perkembangan teknologi dari sisi keuntungan dan kemajuan mutu pendidikan secara rialistik dan
holistik, kalau tidak, kita dapat lebih mundur dan hanya menghabiskan banyak dana
pendidikan yang sedang kurang. Apakah pembelajaran teknologi di sekolah adalah penting?

Tanggung jawab sekolah yang besar dalam memasuki era globalisasi adalah mempersiapkan
siswa-siswi untuk menghadapi tantangan-tantangan yang sangat cepat perubahannya. Salah satu
dari tantangan yang dihadapi oleh para siswa adalah menjadi pekerja yang bermutu.

Kemampuan berbicara dalam bahasa asing, kemahiran komputer dan Internet, dan
kemampuan menggunakan program-program seperti Microsoft merupakan tiga kriteria
utama yang pada umumnya diajukan sebagai syarat untuk memasuki lapangan kerja di
Indonesia (dan di seluruh dunia).

Mengingat hanya sekitar 30% dari lulusan SMA di seluruh


wilayah Nusantara ini yang melanjutkan ke tingkat perguruan
tinggi formal, dan dengan adanya komputer yang telah merambah
di segala bidang kehidupan manusia, maka dibutuhkan suatu
tanggung jawab yang besar terhadap system pendidikan untuk
meningkatkan kemampuan berbahasa dan kemahiran komputer
bagi para siswa kita. Pembelajaran teknologi adalah sangat
penting dan semua sekolah adalah wajib untuk mengajar
Teknologi Informasi Komunikasi (TIK).
Walapun kita sangat mendukung pembelajaran teknologi, kita juga harus menjaga bahwa
"teknologi pembelajaran", yang hanya sebagai beberapa medium untuk menyampaikan
pendidikan dan belum tentu meningkatkan mutu pendidikannya, tidak menjadi fokusnya
mamajemen pendidikan sampai merugikan aspek-aspek lain yang betul dapat
meningkatkan mutu pendidikan.

Misalnya, JarDikNas. Salah satu tujuan utama adalah meningkatkan mutu pendidikan lewat
informasi yang lebih lengkap. Tetapi kelihatannya informasi mengenai masalah-masalah di
lapangan sudah banyak sekali. Termasuk informasi mengenai keadaan di banyak sekolah yang
ambruk dan mengancam keamanan anak-anak kita. Kapan masalah-masalah begini akan
diatasi?
Misalnya, Meningkatkan Peran dan Mutu Perpustakaan Sekolah. Apakah hal utama
adalah "Library Management System"?

Senayan Open Source Library Management System

Apakah Teknologi Adalah Solusi Perpustakaan?


Implementasi teknologi di bidang pendidikan perlu diintegrasikan ke dalam perencanaan
(master plan) terhadap semua aspek pengembangan pendidikan secara seimbang (bukan
secara proyek). Sering pengumuman yang muncul di media mengenai teknologi di arena
pendidikan kelihatannya kurang menilaikan penelitian dan pengalaman di dunia pendidikan.
Kasus-kasus teknologi dan pendidikan tertentu kelihatannya juga diankat sebagai solusi
umum.

Padahal ada hal-hal yang perlu diatasi dulu misalnya: "Sekolah tak Bisa Tangkal Situs Porno"
yang akan perlu SDM di tingkat sekolah yang sangat bermutu dan rajin.

Memang kita wajib untuk mencari solusi yang kreatif, tetapi kita juga wajib untuk belajar
dari pengalaman-pengalaman yang ada di dunia supaya kita tidak hanya mengulangkan
kegagalan negara lain. Kelihatannya pertanyaan-pertanyaan dasar yang penting sering tidak
ditanyakan, seperti, mengapa di negara-negara maju mereka tidak melaksanakan ini? Mengapa di
negara mana saja dasarnya pendidikan masih berbasis-kelas konvensional, bukan berbasis-TI?
Mungkin negara lain belum memikirkan? Percayalah, dunia pendidikan termasuk bidang
yang paling rajin untuk mencari kesempatan untuk menggunakan teknologi. Sering isu
pendidikan dan 'teknologi baru' sudah dibahas dan diuji coba sebelum teknologinya muncul di
pasar.

Yang perlu diperhatikan adalah inovasi-inovasi baru (dan sering yang tidak baru) akan ditunjuk
dan didorongkan oleh perusahaan-perusahaan teknologi yang sangat beruntung kalau
teknologinya didadopsi di dunia pendidikan. 'Tetapi kita sebagai pendidik harus selalu
melihat semua aplikasi teknologi dari kenyataan dan keuntungan terhadap mutu pendidikan'
(bukan dari retorika).
Apakah, karena makin banyak siswa-siswi sekarang main
Internet di warnet daripada menggunakan waktunya di rumah
untuk mengulang pelajaran dari sekolah dan mengerjakan PRnya
ini sebagai salah satu faktor penyebab hasil Ujian Nasional
(UN) kelihatannya menjadi lebih buruk?

Kita perlu tahu!

Kalau kita melihat beberapa macam teknologi pendidikan, misalnya; Whiteboard-


Elektronik, OHP, Video, Televisi, e-Learning, Internet, dll, selalu mutu akhirnya 100%
tergantung mutu content dan proses pengajaran. Teknologi sendiri hanya sebagai medium.
Kalau berhasil atau gagal tergantung content dan proses pengajaran, bukan teknologinya.
Dengan teknologi seperti TV-Edukasi misalnya, siaran TV masuk sekolah kayaknya gagal karena
kurang meneliti pengalaman-pengalaman di negara lain, dan juga tidak melihat dari keadaan dan
keperluan guru di sekolah. Hasil sekolah 100% tergantung mutu pendidikannya, bukan
teknologi yang mereka menggunakan untuk menyampaikan pendidikannya.

Kebetulan kemarin di seminar "Cutting Cost with ICT Convergence" salah satu wilayah yang
disebut yang belum memasang teknologi wireless adalah daerah Pacitan. Pacitan adalah salah
satu daerah di mana kami sudah menyaksikan pelaksanan pendidikan yang sangat
bermutu. Guru-gurunya bersemangat melaksanakan PAKEM dan sangat mengembankan
kreativitas siswa-siswinya. Sekolah-sekolah yang belum terlatih juga belajar PAKEM secara
mandiri - salut!

Mohon ingat ......

Pendidikan Berbasis-Guru yang Mampu dan Sejahtera, di Sekolah yang Bermutu, dengan
Kurikulum yang Sesuai dengan Kebutuhan Siswa-Siswi dan "Well Balanced" (seimbang,
dengan banyak macam keterampilan termasuk teknologi), yang Diimplementasikan secara
PAKEM adalah solusi utama untuk menyiapkan anak-anak kita untuk menghadapi
tantangan-tantangan masa depan.
Pembelajaran Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) adalah
hal yang sangat penting di semua sekolah. Tetapi akses ke
Internet untuk siswa-siswi di sekolah di luar pelatihan
khusus sebenarnya tidak begitu penting, kecuali untuk
melanjutkan pelajaran yang dibimbing oleh guru.

Pasti banyak siswa-siswi tidak akan setuju karena main Internet


memang "fun", tetapi kami belum melihat bukti bahwa anak-
anak sekolah yang sering menggunakan Internet secara
bebas lebih berhasil di UN daripada yang menggunakan waktunya untuk mengulang
pelajaran sekolahnya dan rajin mengerjakan PRnya. Mungkin sebaliknya?

Suka atau tidak suka, siswa-siswi kita akan dinilai dari hasil mereka di UN atau Ujian
Sekolah (bukan dari kemampuan mereka "Chatting di Internet"). Selain masalah ujian, kapan
siswa-siswi akan punya waktu di sekolah dengan kurikulum yang sangat padat untuk
menggunakan Internet kecuali di kelas TI. Apakah kita ingin mengganti guru dengan pelajaran
dari Internet (machine)? Sudah sering dicoba di negara lain!

Sekarang kita sedang mencoba "Sistem Pembelajaran Berbasis-TI". Kami pertama kali
kenal Pembelajaran Berbasis-TI pada tahun 1992 di luar negeri, memang bukan sesuatu yang
baru dan masih hanya digunakan di kursus/kelas tertentu saja. Tetapi kalau kreativitas
sebagian dari siswa-siswi kita dapat ditingkatkan oleh 'membuat program-program'
seperti ini yaitu memang baik.

Kita lihat bahwa pemerintah akan siapkan Rp 1 Triliun untuk "melengkapi laboratorium
komputer" di sekolah-sekolah SMP/SMA/SMK untuk e-learning. Tetapi kalau sekolahnya
hanya memiliki satu laboratorium komputer itu pasti akan dipakai terus untuk mengajar TI,
bukan?. Apakah semua sekolah akan menerima cukup komputer untuk melengkapi
beberapa lab/kelas?

Apakah "Pembelajaran Berbasis-TI" atau "E-Learning" betul adalah solusi rialistik


untuk seluruh Indonesia? Atau, Pembelajaran Berbasis-TI hanya akan membesarkan
jaraknya lagi antara sekolah yang punya dan yang tidak? Memang semua sekolah wajib
untuk mempunyai lab komputer untuk mengajar TI (ini saja belum), tetapi kita akan perlu
beberapa kelas lagi (di semua sekolah) yang dilengkapi dengan komputer supaya mata
pelajaran yang lain juga dapat menggunakan komputer. Kalau kita melihat dari harga
teknologinya (yang setiap beberapa tahun perlu diupdate), kurikulum yang sering dirubah,
ongkos pemiliharaan teknologinya, dll, dengan anggaran yang sekarang tidak cukup untuk
mengelola pendidikan 'Berbasis-Guru' dengan baik atau meningkatkan kesejahteraan
guru dan staf TU sampai jadi manusiawi, bagaimana mungkin? (Saran 12/11/2007)

Mengapa kita selalu mencari solusi baru (yang sering tidak baru seperti TV-Edukasi atau
Pembelajaran Berbasis-TI) untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia? Apakah karena
alokasi anggaran memang tidak cukup untuk memperbaiki pendidikannya dan kita hanya
mencari kesibukan? Atau karena paradigma lama kita (proyek) belum merubah sejak awal?
Mengapa teknologi sering dianggap sebagai solusinya?

Misalnya, sekarang DepDikNas sedang membangun jaringan JarDikNas. Salah satu tujuan
utama adalah meningkatkan mutu pendidikan lewat informasi yang lebih lengkap. Tetapi
kelihatannya informasi mengenai masalah-masalah di lapangan sudah banyak sekali. Termasuk
informasi mengenai keadaan di banyak sekolah yang ambruk dan mengancam keamanan
anak-anak kita. Kapan masalah-masalah begini akan diatasi?

Apakah tidak lebih baik kalau kita menggunakan 100% dari anggaran Rp.42 triliun itu untuk
mengatasi hal-hal yang sudah jelas dapat meningkatkan mutu pendidikan di tingkat sekolah,
sesuai pemintaan dari lapangan dan perencanaan terhadap semua aspek kebutuhan sekolah?

Maksud kami, kalau atap sekolahnya bocor dan mau ambruk, tetapi yang diberikan
adalah sambungan ke Internat, apakah ini betul bermanfaat? Kita perlu mulai dengan
sekolah yang paling ketinggalan supaya mengarah ke keadilan akses pendidikan yang bermutu
(dan melihat dari segala aspek). Tetapi karena JarDikNas sudah berjalan sebaiknya kita "Berfikir
Optimis" dan mudah-mudahan banyak sekolah akan diberikan komputer, kalau betul ini
memang positif. Untuk berita baru (5-1-2008) membaca ini "Pemindahan Jardiknas"
(termasuk saran-sarannya). Memang itu sulit untuk "berpikir optimis"!

"Kata Menkominfo, akses-akses informasi pada jaringan ICT tersebut, akan ditekankan pada
unsur e-education (pendidikan), e-health (kesehatan), dan e-economy (ekonomi) yang dapat
mengurangi gap di bidang ICT antara daerah pedesaan dan daerah perkotaan".
Tetapi ini akan sangat tergantung peran dan mutunya SDM di pemerintah, bukan?.
Internet adalah "Alat Bantu", bukan "Solusi Pendidikan" (di tingkat Sekolah). Internet
(tanpa bahasa Inggris) sebagai sumber informasi yang sangat terbatas. Bahan pelajaran
(dalam bahasa Indonesia) juga sangat sedikit. Kelihatannya kurikulum kita juga tidak
berbasis-penelitian, jadi untuk apa Internet di sekolah? Internet di sekolah jelas bukan
prioritas kan? (Informasi Lanjut)

Pendidikan Yang Bermutu adalah:

Pendidikan Berbasis-Guru yang Mampu dan Sejahtera, di Sekolah yang Bermutu, dengan
Kurikulum yang Sesuai dengan Kebutuhan Siswa-Siswi dan "Well Balanced" (seimbang,
dengan banyak macam keterampilan termasuk teknologi), yang Diimplementasikan secara
PAKEM (Pembelajaran Kontekstual). ("Mampu" termasuk Kreatif)
Kami di Pendidikan.Network sudah terus mendukung perkembangan teknologi di
DepDikNas maupun di sekolah sejak tahun 1998. Tetapi kami juga wajib untuk memonitor
perkembangan teknologi dari sisi keuntungan dan kemajuan mutu pendidikan secara rialistik dan
holistik, kalau tidak, kita dapat lebih mundur dan hanya menghabiskan banyak dana
pendidikan yang sedang kurang. Apakah pembelajaran teknologi di sekolah adalah penting?

Tanggung jawab sekolah yang besar dalam memasuki era globalisasi adalah mempersiapkan
siswa-siswi untuk menghadapi tantangan-tantangan yang sangat cepat perubahannya. Salah satu
dari tantangan yang dihadapi oleh para siswa adalah menjadi pekerja yang bermutu.

Kemampuan berbicara dalam bahasa asing, kemahiran komputer dan Internet, dan
kemampuan menggunakan program-program seperti Microsoft merupakan tiga kriteria
utama yang pada umumnya diajukan sebagai syarat untuk memasuki lapangan kerja di
Indonesia (dan di seluruh dunia).

Mengingat hanya sekitar 30% dari lulusan SMA di seluruh


wilayah Nusantara ini yang melanjutkan ke tingkat perguruan
tinggi formal, dan dengan adanya komputer yang telah merambah
di segala bidang kehidupan manusia, maka dibutuhkan suatu
tanggung jawab yang besar terhadap system pendidikan untuk
meningkatkan kemampuan berbahasa dan kemahiran komputer
bagi para siswa kita. Pembelajaran teknologi adalah sangat
penting dan semua sekolah adalah wajib untuk mengajar
Teknologi Informasi Komunikasi (TIK).
Walapun kita sangat mendukung pembelajaran teknologi, kita juga harus menjaga bahwa
"teknologi pembelajaran", yang hanya sebagai beberapa medium untuk menyampaikan
pendidikan dan belum tentu meningkatkan mutu pendidikannya, tidak menjadi fokusnya
mamajemen pendidikan sampai merugikan aspek-aspek lain yang betul dapat
meningkatkan mutu pendidikan.

Misalnya, JarDikNas. Salah satu tujuan utama adalah meningkatkan mutu pendidikan lewat
informasi yang lebih lengkap. Tetapi kelihatannya informasi mengenai masalah-masalah di
lapangan sudah banyak sekali. Termasuk informasi mengenai keadaan di banyak sekolah yang
ambruk dan mengancam keamanan anak-anak kita. Kapan masalah-masalah begini akan
diatasi?

Misalnya, Meningkatkan Peran dan Mutu Perpustakaan Sekolah. Apakah hal utama
adalah "Library Management System"?

Senayan Open Source Library Management System

Apakah Teknologi Adalah Solusi Perpustakaan?


Implementasi teknologi di bidang pendidikan perlu diintegrasikan ke dalam perencanaan
(master plan) terhadap semua aspek pengembangan pendidikan secara seimbang (bukan
secara proyek). Sering pengumuman yang muncul di media mengenai teknologi di arena
pendidikan kelihatannya kurang menilaikan penelitian dan pengalaman di dunia pendidikan.
Kasus-kasus teknologi dan pendidikan tertentu kelihatannya juga diankat sebagai solusi
umum.

Padahal ada hal-hal yang perlu diatasi dulu misalnya: "Sekolah tak Bisa Tangkal Situs Porno"
yang akan perlu SDM di tingkat sekolah yang sangat bermutu dan rajin.

Memang kita wajib untuk mencari solusi yang kreatif, tetapi kita juga wajib untuk belajar
dari pengalaman-pengalaman yang ada di dunia supaya kita tidak hanya mengulangkan
kegagalan negara lain. Kelihatannya pertanyaan-pertanyaan dasar yang penting sering tidak
ditanyakan, seperti, mengapa di negara-negara maju mereka tidak melaksanakan ini? Mengapa di
negara mana saja dasarnya pendidikan masih berbasis-kelas konvensional, bukan berbasis-TI?
Mungkin negara lain belum memikirkan? Percayalah, dunia pendidikan termasuk bidang
yang paling rajin untuk mencari kesempatan untuk menggunakan teknologi. Sering isu
pendidikan dan 'teknologi baru' sudah dibahas dan diuji coba sebelum teknologinya muncul di
pasar.

Yang perlu diperhatikan adalah inovasi-inovasi baru (dan sering yang tidak baru) akan ditunjuk
dan didorongkan oleh perusahaan-perusahaan teknologi yang sangat beruntung kalau
teknologinya didadopsi di dunia pendidikan. 'Tetapi kita sebagai pendidik harus selalu
melihat semua aplikasi teknologi dari kenyataan dan keuntungan terhadap mutu pendidikan'
(bukan dari retorika).

Apakah, karena makin banyak siswa-siswi sekarang main


Internet di warnet daripada menggunakan waktunya di rumah
untuk mengulang pelajaran dari sekolah dan mengerjakan PRnya
ini sebagai salah satu faktor penyebab hasil Ujian Nasional
(UN) kelihatannya menjadi lebih buruk?

Kita perlu tahu!

Kalau kita melihat beberapa macam teknologi pendidikan, misalnya; Whiteboard-


Elektronik, OHP, Video, Televisi, e-Learning, Internet, dll, selalu mutu akhirnya 100%
tergantung mutu content dan proses pengajaran. Teknologi sendiri hanya sebagai medium.
Kalau berhasil atau gagal tergantung content dan proses pengajaran, bukan teknologinya.
Dengan teknologi seperti TV-Edukasi misalnya, siaran TV masuk sekolah kayaknya gagal karena
kurang meneliti pengalaman-pengalaman di negara lain, dan juga tidak melihat dari keadaan dan
keperluan guru di sekolah. Hasil sekolah 100% tergantung mutu pendidikannya, bukan
teknologi yang mereka menggunakan untuk menyampaikan pendidikannya.

Kebetulan kemarin di seminar "Cutting Cost with ICT Convergence" salah satu wilayah yang
disebut yang belum memasang teknologi wireless adalah daerah Pacitan. Pacitan adalah salah
satu daerah di mana kami sudah menyaksikan pelaksanan pendidikan yang sangat
bermutu. Guru-gurunya bersemangat melaksanakan PAKEM dan sangat mengembankan
kreativitas siswa-siswinya. Sekolah-sekolah yang belum terlatih juga belajar PAKEM secara
mandiri - salut!

Mohon ingat ......

Pendidikan Berbasis-Guru yang Mampu dan Sejahtera, di Sekolah yang Bermutu, dengan
Kurikulum yang Sesuai dengan Kebutuhan Siswa-Siswi dan "Well Balanced" (seimbang,
dengan banyak macam keterampilan termasuk teknologi), yang Diimplementasikan secara
PAKEM adalah solusi utama untuk menyiapkan anak-anak kita untuk menghadapi
tantangan-tantangan masa depan.
Pembelajaran Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) adalah
hal yang sangat penting di semua sekolah. Tetapi akses ke
Internet untuk siswa-siswi di sekolah di luar pelatihan
khusus sebenarnya tidak begitu penting, kecuali untuk
melanjutkan pelajaran yang dibimbing oleh guru.

Pasti banyak siswa-siswi tidak akan setuju karena main Internet


memang "fun", tetapi kami belum melihat bukti bahwa anak-
anak sekolah yang sering menggunakan Internet secara
bebas lebih berhasil di UN daripada yang menggunakan waktunya untuk mengulang
pelajaran sekolahnya dan rajin mengerjakan PRnya. Mungkin sebaliknya?

Suka atau tidak suka, siswa-siswi kita akan dinilai dari hasil mereka di UN atau Ujian
Sekolah (bukan dari kemampuan mereka "Chatting di Internet"). Selain masalah ujian, kapan
siswa-siswi akan punya waktu di sekolah dengan kurikulum yang sangat padat untuk
menggunakan Internet kecuali di kelas TI. Apakah kita ingin mengganti guru dengan pelajaran
dari Internet (machine)? Sudah sering dicoba di negara lain!

Sekarang kita sedang mencoba "Sistem Pembelajaran Berbasis-TI". Kami pertama kali
kenal Pembelajaran Berbasis-TI pada tahun 1992 di luar negeri, memang bukan sesuatu yang
baru dan masih hanya digunakan di kursus/kelas tertentu saja. Tetapi kalau kreativitas
sebagian dari siswa-siswi kita dapat ditingkatkan oleh 'membuat program-program'
seperti ini yaitu memang baik.

Kita lihat bahwa pemerintah akan siapkan Rp 1 Triliun untuk "melengkapi laboratorium
komputer" di sekolah-sekolah SMP/SMA/SMK untuk e-learning. Tetapi kalau sekolahnya
hanya memiliki satu laboratorium komputer itu pasti akan dipakai terus untuk mengajar TI,
bukan?. Apakah semua sekolah akan menerima cukup komputer untuk melengkapi
beberapa lab/kelas?

Apakah "Pembelajaran Berbasis-TI" atau "E-Learning" betul adalah solusi rialistik


untuk seluruh Indonesia? Atau, Pembelajaran Berbasis-TI hanya akan membesarkan
jaraknya lagi antara sekolah yang punya dan yang tidak? Memang semua sekolah wajib
untuk mempunyai lab komputer untuk mengajar TI (ini saja belum), tetapi kita akan perlu
beberapa kelas lagi (di semua sekolah) yang dilengkapi dengan komputer supaya mata
pelajaran yang lain juga dapat menggunakan komputer. Kalau kita melihat dari harga
teknologinya (yang setiap beberapa tahun perlu diupdate), kurikulum yang sering dirubah,
ongkos pemiliharaan teknologinya, dll, dengan anggaran yang sekarang tidak cukup untuk
mengelola pendidikan 'Berbasis-Guru' dengan baik atau meningkatkan kesejahteraan
guru dan staf TU sampai jadi manusiawi, bagaimana mungkin? (Saran 12/11/2007)

Mengapa kita selalu mencari solusi baru (yang sering tidak baru seperti TV-Edukasi atau
Pembelajaran Berbasis-TI) untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia? Apakah karena
alokasi anggaran memang tidak cukup untuk memperbaiki pendidikannya dan kita hanya
mencari kesibukan? Atau karena paradigma lama kita (proyek) belum merubah sejak awal?
Mengapa teknologi sering dianggap sebagai solusinya?

Misalnya, sekarang DepDikNas sedang membangun jaringan JarDikNas. Salah satu tujuan
utama adalah meningkatkan mutu pendidikan lewat informasi yang lebih lengkap. Tetapi
kelihatannya informasi mengenai masalah-masalah di lapangan sudah banyak sekali. Termasuk
informasi mengenai keadaan di banyak sekolah yang ambruk dan mengancam keamanan
anak-anak kita. Kapan masalah-masalah begini akan diatasi?

Apakah tidak lebih baik kalau kita menggunakan 100% dari anggaran Rp.42 triliun itu untuk
mengatasi hal-hal yang sudah jelas dapat meningkatkan mutu pendidikan di tingkat sekolah,
sesuai pemintaan dari lapangan dan perencanaan terhadap semua aspek kebutuhan sekolah?

Maksud kami, kalau atap sekolahnya bocor dan mau ambruk, tetapi yang diberikan
adalah sambungan ke Internat, apakah ini betul bermanfaat? Kita perlu mulai dengan
sekolah yang paling ketinggalan supaya mengarah ke keadilan akses pendidikan yang bermutu
(dan melihat dari segala aspek). Tetapi karena JarDikNas sudah berjalan sebaiknya kita "Berfikir
Optimis" dan mudah-mudahan banyak sekolah akan diberikan komputer, kalau betul ini
memang positif. Untuk berita baru (5-1-2008) membaca ini "Pemindahan Jardiknas"
(termasuk saran-sarannya). Memang itu sulit untuk "berpikir optimis"!

"Kata Menkominfo, akses-akses informasi pada jaringan ICT tersebut, akan ditekankan pada
unsur e-education (pendidikan), e-health (kesehatan), dan e-economy (ekonomi) yang dapat
mengurangi gap di bidang ICT antara daerah pedesaan dan daerah perkotaan".
Tetapi ini akan sangat tergantung peran dan mutunya SDM di pemerintah, bukan?.
Internet adalah "Alat Bantu", bukan "Solusi Pendidikan" (di tingkat Sekolah). Internet
(tanpa bahasa Inggris) sebagai sumber informasi yang sangat terbatas. Bahan pelajaran
(dalam bahasa Indonesia) juga sangat sedikit. Kelihatannya kurikulum kita juga tidak
berbasis-penelitian, jadi untuk apa Internet di sekolah? Internet di sekolah jelas bukan
prioritas kan? (Informasi Lanjut)

Pendidikan Yang Bermutu adalah:

Pendidikan Berbasis-Guru yang Mampu dan Sejahtera, di Sekolah yang Bermutu, dengan
Kurikulum yang Sesuai dengan Kebutuhan Siswa-Siswi dan "Well Balanced" (seimbang,
dengan banyak macam keterampilan termasuk teknologi), yang Diimplementasikan secara
PAKEM (Pembelajaran Kontekstual). ("Mampu" termasuk Kreatif)
Kami di Pendidikan.Network sudah terus mendukung perkembangan teknologi di
DepDikNas maupun di sekolah sejak tahun 1998. Tetapi kami juga wajib untuk memonitor
perkembangan teknologi dari sisi keuntungan dan kemajuan mutu pendidikan secara rialistik dan
holistik, kalau tidak, kita dapat lebih mundur dan hanya menghabiskan banyak dana
pendidikan yang sedang kurang. Apakah pembelajaran teknologi di sekolah adalah penting?

Tanggung jawab sekolah yang besar dalam memasuki era globalisasi adalah mempersiapkan
siswa-siswi untuk menghadapi tantangan-tantangan yang sangat cepat perubahannya. Salah satu
dari tantangan yang dihadapi oleh para siswa adalah menjadi pekerja yang bermutu.

Kemampuan berbicara dalam bahasa asing, kemahiran komputer dan Internet, dan
kemampuan menggunakan program-program seperti Microsoft merupakan tiga kriteria
utama yang pada umumnya diajukan sebagai syarat untuk memasuki lapangan kerja di
Indonesia (dan di seluruh dunia).
Mengingat hanya sekitar 30% dari lulusan SMA di seluruh
wilayah Nusantara ini yang melanjutkan ke tingkat perguruan
tinggi formal, dan dengan adanya komputer yang telah merambah
di segala bidang kehidupan manusia, maka dibutuhkan suatu
tanggung jawab yang besar terhadap system pendidikan untuk
meningkatkan kemampuan berbahasa dan kemahiran komputer
bagi para siswa kita. Pembelajaran teknologi adalah sangat
penting dan semua sekolah adalah wajib untuk mengajar
Teknologi Informasi Komunikasi (TIK).
Walapun kita sangat mendukung pembelajaran teknologi, kita juga harus menjaga bahwa
"teknologi pembelajaran", yang hanya sebagai beberapa medium untuk menyampaikan
pendidikan dan belum tentu meningkatkan mutu pendidikannya, tidak menjadi fokusnya
mamajemen pendidikan sampai merugikan aspek-aspek lain yang betul dapat
meningkatkan mutu pendidikan.

Misalnya, JarDikNas. Salah satu tujuan utama adalah meningkatkan mutu pendidikan lewat
informasi yang lebih lengkap. Tetapi kelihatannya informasi mengenai masalah-masalah di
lapangan sudah banyak sekali. Termasuk informasi mengenai keadaan di banyak sekolah yang
ambruk dan mengancam keamanan anak-anak kita. Kapan masalah-masalah begini akan
diatasi?

Misalnya, Meningkatkan Peran dan Mutu Perpustakaan Sekolah. Apakah hal utama
adalah "Library Management System"?

Senayan Open Source Library Management System

Apakah Teknologi Adalah Solusi Perpustakaan?


Implementasi teknologi di bidang pendidikan perlu diintegrasikan ke dalam perencanaan
(master plan) terhadap semua aspek pengembangan pendidikan secara seimbang (bukan
secara proyek). Sering pengumuman yang muncul di media mengenai teknologi di arena
pendidikan kelihatannya kurang menilaikan penelitian dan pengalaman di dunia pendidikan.
Kasus-kasus teknologi dan pendidikan tertentu kelihatannya juga diankat sebagai solusi
umum.
Padahal ada hal-hal yang perlu diatasi dulu misalnya: "Sekolah tak Bisa Tangkal Situs Porno"
yang akan perlu SDM di tingkat sekolah yang sangat bermutu dan rajin.

Memang kita wajib untuk mencari solusi yang kreatif, tetapi kita juga wajib untuk belajar
dari pengalaman-pengalaman yang ada di dunia supaya kita tidak hanya mengulangkan
kegagalan negara lain. Kelihatannya pertanyaan-pertanyaan dasar yang penting sering tidak
ditanyakan, seperti, mengapa di negara-negara maju mereka tidak melaksanakan ini? Mengapa di
negara mana saja dasarnya pendidikan masih berbasis-kelas konvensional, bukan berbasis-TI?
Mungkin negara lain belum memikirkan? Percayalah, dunia pendidikan termasuk bidang
yang paling rajin untuk mencari kesempatan untuk menggunakan teknologi. Sering isu
pendidikan dan 'teknologi baru' sudah dibahas dan diuji coba sebelum teknologinya muncul di
pasar.

Yang perlu diperhatikan adalah inovasi-inovasi baru (dan sering yang tidak baru) akan ditunjuk
dan didorongkan oleh perusahaan-perusahaan teknologi yang sangat beruntung kalau
teknologinya didadopsi di dunia pendidikan. 'Tetapi kita sebagai pendidik harus selalu
melihat semua aplikasi teknologi dari kenyataan dan keuntungan terhadap mutu pendidikan'
(bukan dari retorika).

Apakah, karena makin banyak siswa-siswi sekarang main


Internet di warnet daripada menggunakan waktunya di rumah
untuk mengulang pelajaran dari sekolah dan mengerjakan PRnya
ini sebagai salah satu faktor penyebab hasil Ujian Nasional
(UN) kelihatannya menjadi lebih buruk?

Kita perlu tahu!

Kalau kita melihat beberapa macam teknologi pendidikan, misalnya; Whiteboard-


Elektronik, OHP, Video, Televisi, e-Learning, Internet, dll, selalu mutu akhirnya 100%
tergantung mutu content dan proses pengajaran. Teknologi sendiri hanya sebagai medium.
Kalau berhasil atau gagal tergantung content dan proses pengajaran, bukan teknologinya.
Dengan teknologi seperti TV-Edukasi misalnya, siaran TV masuk sekolah kayaknya gagal karena
kurang meneliti pengalaman-pengalaman di negara lain, dan juga tidak melihat dari keadaan dan
keperluan guru di sekolah. Hasil sekolah 100% tergantung mutu pendidikannya, bukan
teknologi yang mereka menggunakan untuk menyampaikan pendidikannya.

Kebetulan kemarin di seminar "Cutting Cost with ICT Convergence" salah satu wilayah yang
disebut yang belum memasang teknologi wireless adalah daerah Pacitan. Pacitan adalah salah
satu daerah di mana kami sudah menyaksikan pelaksanan pendidikan yang sangat
bermutu. Guru-gurunya bersemangat melaksanakan PAKEM dan sangat mengembankan
kreativitas siswa-siswinya. Sekolah-sekolah yang belum terlatih juga belajar PAKEM secara
mandiri - salut!
Mohon ingat ......

Pendidikan Berbasis-Guru yang Mampu dan Sejahtera, di Sekolah yang Bermutu, dengan
Kurikulum yang Sesuai dengan Kebutuhan Siswa-Siswi dan "Well Balanced" (seimbang,
dengan banyak macam keterampilan termasuk teknologi), yang Diimplementasikan secara
PAKEM adalah solusi utama untuk menyiapkan anak-anak kita untuk menghadapi
tantangan-tantangan masa depan.
Pembelajaran Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) adalah
hal yang sangat penting di semua sekolah. Tetapi akses ke
Internet untuk siswa-siswi di sekolah di luar pelatihan
khusus sebenarnya tidak begitu penting, kecuali untuk
melanjutkan pelajaran yang dibimbing oleh guru.

Pasti banyak siswa-siswi tidak akan setuju karena main Internet


memang "fun", tetapi kami belum melihat bukti bahwa anak-
anak sekolah yang sering menggunakan Internet secara
bebas lebih berhasil di UN daripada yang menggunakan waktunya untuk mengulang
pelajaran sekolahnya dan rajin mengerjakan PRnya. Mungkin sebaliknya?

Suka atau tidak suka, siswa-siswi kita akan dinilai dari hasil mereka di UN atau Ujian
Sekolah (bukan dari kemampuan mereka "Chatting di Internet"). Selain masalah ujian, kapan
siswa-siswi akan punya waktu di sekolah dengan kurikulum yang sangat padat untuk
menggunakan Internet kecuali di kelas TI. Apakah kita ingin mengganti guru dengan pelajaran
dari Internet (machine)? Sudah sering dicoba di negara lain!

Sekarang kita sedang mencoba "Sistem Pembelajaran Berbasis-TI". Kami pertama kali
kenal Pembelajaran Berbasis-TI pada tahun 1992 di luar negeri, memang bukan sesuatu yang
baru dan masih hanya digunakan di kursus/kelas tertentu saja. Tetapi kalau kreativitas
sebagian dari siswa-siswi kita dapat ditingkatkan oleh 'membuat program-program'
seperti ini yaitu memang baik.

Kita lihat bahwa pemerintah akan siapkan Rp 1 Triliun untuk "melengkapi laboratorium
komputer" di sekolah-sekolah SMP/SMA/SMK untuk e-learning. Tetapi kalau sekolahnya
hanya memiliki satu laboratorium komputer itu pasti akan dipakai terus untuk mengajar TI,
bukan?. Apakah semua sekolah akan menerima cukup komputer untuk melengkapi
beberapa lab/kelas?

Apakah "Pembelajaran Berbasis-TI" atau "E-Learning" betul adalah solusi rialistik


untuk seluruh Indonesia? Atau, Pembelajaran Berbasis-TI hanya akan membesarkan
jaraknya lagi antara sekolah yang punya dan yang tidak? Memang semua sekolah wajib
untuk mempunyai lab komputer untuk mengajar TI (ini saja belum), tetapi kita akan perlu
beberapa kelas lagi (di semua sekolah) yang dilengkapi dengan komputer supaya mata
pelajaran yang lain juga dapat menggunakan komputer. Kalau kita melihat dari harga
teknologinya (yang setiap beberapa tahun perlu diupdate), kurikulum yang sering dirubah,
ongkos pemiliharaan teknologinya, dll, dengan anggaran yang sekarang tidak cukup untuk
mengelola pendidikan 'Berbasis-Guru' dengan baik atau meningkatkan kesejahteraan
guru dan staf TU sampai jadi manusiawi, bagaimana mungkin? (Saran 12/11/2007)
Mengapa kita selalu mencari solusi baru (yang sering tidak baru seperti TV-Edukasi atau
Pembelajaran Berbasis-TI) untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia? Apakah karena
alokasi anggaran memang tidak cukup untuk memperbaiki pendidikannya dan kita hanya
mencari kesibukan? Atau karena paradigma lama kita (proyek) belum merubah sejak awal?
Mengapa teknologi sering dianggap sebagai solusinya?

Misalnya, sekarang DepDikNas sedang membangun jaringan JarDikNas. Salah satu tujuan
utama adalah meningkatkan mutu pendidikan lewat informasi yang lebih lengkap. Tetapi
kelihatannya informasi mengenai masalah-masalah di lapangan sudah banyak sekali. Termasuk
informasi mengenai keadaan di banyak sekolah yang ambruk dan mengancam keamanan
anak-anak kita. Kapan masalah-masalah begini akan diatasi?

Apakah tidak lebih baik kalau kita menggunakan 100% dari anggaran Rp.42 triliun itu untuk
mengatasi hal-hal yang sudah jelas dapat meningkatkan mutu pendidikan di tingkat sekolah,
sesuai pemintaan dari lapangan dan perencanaan terhadap semua aspek kebutuhan sekolah?

Maksud kami, kalau atap sekolahnya bocor dan mau ambruk, tetapi yang diberikan
adalah sambungan ke Internat, apakah ini betul bermanfaat? Kita perlu mulai dengan
sekolah yang paling ketinggalan supaya mengarah ke keadilan akses pendidikan yang bermutu
(dan melihat dari segala aspek). Tetapi karena JarDikNas sudah berjalan sebaiknya kita "Berfikir
Optimis" dan mudah-mudahan banyak sekolah akan diberikan komputer, kalau betul ini
memang positif. Untuk berita baru (5-1-2008) membaca ini "Pemindahan Jardiknas"
(termasuk saran-sarannya). Memang itu sulit untuk "berpikir optimis"!

"Kata Menkominfo, akses-akses informasi pada jaringan ICT tersebut, akan ditekankan pada
unsur e-education (pendidikan), e-health (kesehatan), dan e-economy (ekonomi) yang dapat
mengurangi gap di bidang ICT antara daerah pedesaan dan daerah perkotaan".
Tetapi ini akan sangat tergantung peran dan mutunya SDM di pemerintah, bukan?.