You are on page 1of 23

Tugas Makalah Pertumbuhan dan Perkembangan Sel Sperma

Oleh : Nur Rahmah Kurnianti NPM : 611 11 020

Fakultas kedokteran dan ilmu kesehatan Prodi S1 Kedokteran Universitas Batam 2012

Kata Pengantar
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan ridhonya penulis masih di beri kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini yang berjudul Pertumbuhan dan Perkembangan Sel Sperma. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan juga jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dna saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga

terselesaikannya makalah ini dapat memberikan informasi, pengetahuan dan manfaat bagi kita semua.

Penulis,

Nur Rahmah Kurnianti

Daftar Isi

Kata Pengantar BAB I I.1 I.2 I.3 I.4 BAB II II.1 II.2 II.3 II.4 II.5 II.6 II.7 BAB III Pendahuluan Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Manfaat Pembahasan Pengertian Sperma Spermatogenesis Tahap-tahap Spermatogenesis Pembentukan Sperma Faktor-faktor hormonal yang merangsang spermatogenesis Pematangan Sperma di Epididimis Semen Penutup

III.1 Kesimpulan III.2 Saran Daftar Pustaka

BAB I Pendahuluan

I.1

Latar Belakang
Peristiwa pembentukan sel kelamin (gamet) yang kita kenal dengan peristiwa

gametogenesis. Pada Laki-laki sel kelamin dibentuk oleh testis, sedangkan pada wanita dibentuk oleh ovarium. Gametogenesis ada dua yaitu spermatogenesis dan oogenesis. Ada dua jenis proses pembelahan sel yaitu mitosis dan meiosis. Bila ada sel tubuh kita yang rusak maka akan terjadi proses penggantian dengan sel baru melalui proses pembelahan mitosis, sedangkan sel kelamin atau gamet sebagai agen utama dalam proses reproduksi manusia menggunakan proses pembelahan meiosis. Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa mitosis menghasilkan sel baru yang jumlah kromosomnya sama persis dengan sel induk yang bersifat diploid (2n) yaitu 23 pasang atau 46 kromosom, sedangkan pada meiosis jumlah kromosom pada sel baru hanya bersifat haploid (n) yaitu 23 kromosom. Secara umum gamet atau sel kelamin mengalami perkembangan melalui tingkatan sebagai berikut : 1. Tingkatan sebagai calon 2. Tingkat perbanyakan 3. Tingkat pertumbuhan 4. Tingkat pembelahan meiosis 5. Pengeluaran sel sperma

I.2

Rumusan Masalah
1. jelaskan pengertian spermatogenesis ? 2. jelaskan tahap-tahap spermatogenesis ? 3. Bagaimana pembentukan sperma? 4. Jelaskan faktor-faktor hormonal yang merangsang spermatogenesis ?

5. Bagaimana Pematangan Sperma di Epididimis ? 6. Apakah cairan semen itu?

I.3

Tujuan
1. Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan pengertian spermatogenesis 2. Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan tahap-tahap spermatogenesis 3. Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan pembentukan sperma 4. Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan faktor-faktor hormonal yang merangsang spermatogenesis 5. Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan Pematangan Sperma di Epididimis 6. Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan cairan semen

I.4

Manfaat
1. Dapat mengetahui pengertian spermatogenesis 2. Dapat mengetahui tahap-tahap spermatogenesis 3. Dapat mengetahui pembentukan sperma 4. Dapat mengetahui faktor-faktor hormonal yang merangsang spermatogenesis 5. Dapat mengetahui Pematangan Sperma di Epididimis 6. Dapat mengetahui cairan semen

BAB II PEMBAHASAN II.1 Pengertian Sperma


Sperma istilah berasal dari kata Yunani ()''''sperma (yang berarti "benih") dan mengacu ke sel-sel reproduksi laki-laki. Dalam jenis reproduksi seksual dikenal sebagai anisogamy dan oogamy, ada perbedaan ditandai dalam ukuran gamet dengan yang lebih kecil yang disebut sel "laki-laki" atau sperma.

gambar II.1.a ( sel sperma )

Sperma yang pertama kali terlihat pada tahun 1677 oleh Antonie van Leeuwenhoek menggunakan mikroskop, ia menggambarkan mereka sebagai animalcules (binatang kecil), mungkin karena keyakinannya pada preformationism, yang meskipun masing-masing berisi bahwa sperma manusia sepenuhnya terbentuk tetapi kecil. Sel sperma manusia adalah haploid, sehingga kromosom 23 yang dapat bergabung dengan 23 kromosom dari sel telur wanita untuk membentuk sel diploid. Sebuah sel sperma yang motil uniflagellar disebut sebagai spermatozoa, sedangkan sel sperma motil non-disebut sebagai suatu spermatium. Sel sperma tidak dapat membagi dan memiliki rentang hidup yang terbatas, tetapi setelah fusi dengan sel telur selama pembuahan, zigot totipoten terbentuk dengan potensi untuk berkembang menjadi organisme baru. Sel sperma memberikan kontribusi setengah dari informasi genetik untuk keturunan diploid. Pada mamalia, jenis kelamin keturunannya ditentukan oleh sel sperma: spermatozoa bantalan sebuah kromosom Y akan mengarah ke keturunan (XY) pria, sementara satu bantalan kromosom X akan mengarah ke keturunan (XX) perempuan (ovum selalu memberikan kromosom X).

Sel sperma manusia adalah sel reproduksi pada laki-laki dan hanya akan bertahan hidup di lingkungan yang hangat, sekali meninggalkan tubuh kelangsungan hidup sperma berkurang dan dapat menyebabkan sel mati, mengurangi kualitas sperma. Sel sperma datang dalam dua jenis; "laki-laki" dan "perempuan". Sperma selsel yang menimbulkan perempuan (XX) keturunan setelah pembuahan berbeda dalam bahwa mereka membawa kromosom X, sedangkan sperma sel-sel yang menimbulkan laki-laki (XY) keturunan membawa kromosom Y. Pada manusia laki-laki, sel sperma terdiri dari 5 pM kepala oleh 3 pM dan 50 ekor pM panjang. Para flagelata ekor, yang mendorong sel sperma (sekitar 1-3 mm / menit pada manusia) dijahit dalam kerucut elips. Semen memiliki sifat alkali, dan mereka tidak mencapai motilitas penuh (hipermotilitas) sampai mereka mencapai vagina dimana pH basa dinetralkan oleh cairan vagina bersifat asam. Proses bertahap memakan waktu 20-30 menit. Saat ini, fibrinogen dari vesikula seminalis bentuk gumpalan, mengamankan dan melindungi sperma. Sama seperti mereka menjadi hypermotile, fibrinolisin dari prostat melarutkan bekuan, yang memungkinkan sperma untuk kemajuan optimal. Spermatozoa ditandai oleh minimal sitoplasma dan DNA yang paling padat dikenal pada eukariota. Dibandingkan dengan kromosom mitosis dalam sel somatik, DNA sperma setidaknya enam kali lipat lebih tinggi kental. Spermatozoa memberikan kontribusi dengan DNA / kromatin, sentriol dan mungkin juga faktor oosit-mengaktifkan (tolol). Hal ini juga dapat berkontribusi dengan RNA Messenger ayah (mRNA), juga berkontribusi terhadap perkembangan embrio. Sel sperma terdiri dari kepala, bagian tengah dan ekor. Kepala berisi inti dengan kromatin yang padat serat melingkar, dikelilingi oleh akrosom anterior, yang berisi enzim yang digunakan untuk menembus sel telur wanita. Bagian tengah memiliki inti berfilamen pusat dengan berputar di sekitar itu banyak mitokondria, digunakan untuk produksi ATP untuk perjalanan melalui rahim, leher rahim perempuan dan tabung rahim. Ekor atau "flagel" mengeksekusi gerakan cambuk yang mendorong spermatosit tersebut.

II.2

Spermatogenesis
Spermatogenesis merupakan proses pembentukan dan pematangan

spermatozoa (sel benih pria). Spermatogenesis dimulai dengan pertumbuhan spermatogonium menjadi sel yang lebih besar disebut spermatosit primer. Sel-sel ini membelah secara mitosis menjadi dua spermatosit sekunder yang sama besar, kemudian mengalami pembelahan meiosis menjadi empat spermatid yang sama besar. Spermatid adalah sebuah sel bundar dengan sejumlah besar protoplasma dan merupakan gamet dewasa dengan sejumlah kromosom haploid. Proses ini berlangsung dalam testis (buah zakar) dan lamanya sekitar 72 hari. Proses spermatogenesis sangat bergantung pada mekanisme hormonal tubuh. Spermatozoa ( sperma) yang normal memiliki kepala dan ekor, di mana kepala mengandung materi genetik DNA, dan ekor yang merupakan alat pergerakan sperma. Sperma yang matang memiliki kepala dengan bentuk lonjong dan datar serta memiliki ekor bergelombang yang berguna mendorong sperma memasuki air mani. Kepala sperma mengandung inti yang memiliki kromosom dan juga memiliki struktur yang disebut akrosom. Akrosom mampu menembus lapisan jelly yang mengelilingi telur dan membuahinya bila perlu. Sperma diproduksi oleh organ yang bernama testis dalam kantung zakar. Hal ini menyebabkan testis terasa lebih dingin dibandingkan anggota tubuh lainnya. Pembentukan sperma berjalan lambat pada suhu normal, tapi terus-menerus terjadi pada suhu yang lebih rendah dalam kantung zakar. Pada tubulus seminiferus testis terdapat sel-sel induk spermatozoa atau spermatogonium. Selain itu juga terdapat sel Sertoli yang berfungsi memberi makan spermatozoa juga sel Leydig yang terdapat di antara tubulus seminiferus. Sel Leydig berfungsi menghasilkan testosteron. Spermatogonium berkembang menjadi sel spermatosit primer. Sel spermatosit primer bermiosis menghasilkan spermatosit sekunder. Spermatosit sekunder membelah lagi menghasilkan spermatid. Spermatid berdeferensiasi menjadi spermatozoa masak. Bila spermatogenesis sudah selesai, maka ABP (Androgen Binding Protein) testosteron tidak diperlukan lagi, sel Sertoli akan menghasilkan hormon inhibin untuk memberi umpan balik kepada hiposis agar menghentikan

sekresi FSH dan LH. Kemudian spermatozoa akan keluar melalui uretra bersama-sama dengan cairan yang dihasilkan oleh kelenjar vesikula seminalis, kelenjar prostat, dan kelenjar Cowper. Spermatozoa bersama cairan dari kelenjar-kelenjar tersebut dikenal sebagai semen atau air mani. Pada waktu ejakulasi, seorang laki-laki dapat mengeluarkan 300 400 juta sel spermatozoa. Pada laki-laki, spermatogenesis terjadi seumur hidup dan pelepasan spermatozoa dapat terjadi setiap saat. Pada akhir proses, terjadi pertumbuhan dan perkembangan atau diferensiasi yang rumit, tetapi bukan pembelahan sel, yaitu mengubah spermatid menjadi sperma yang fungsional. Nukleus mengecil dan menjadi kepala sperma, sedangkan sebagian besar sitoplasma dibuang. Sperma ini mengandung enzim yang memegang peranan dalam menembus membran sel telur. Spermatogenesis terjadi secara diklik di semua bagian tubulus seminiferus. Di setiap satu bagian tubulus, berbagai tahapan tersebut berlangsung secara berurutan. Pada bagian tubulus yang berdekatan, sel cenderung berada dalam satu tahapan lebih maju atau lebih dini. Pada manusia, perkembangan spermatogonium menjadi sperma matang membutuhkan waktu 16 hari. Spermatogenesis dipengaruhi oleh hormon gonadotropin, Follicle Stimulating Hormone (FSH), Luteinizing hormone (LH), dan hormon testosteron. Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa sperma diproduksi oleh tubulus seminiferus. Hal yang mengagumkan dari kerja tubulus seminiferus ini adalah mampu memproduksi sperma setiap hari sekitar 100 juta spermatozoa. Jumlah yang normal spermatozoa berkisar antara 35 200 juta, tetapi mungkin pada seseorang hanya memproduksi kurang dari 20 juta, maka orang tersebut dapat dikatakan kurang subur. Biasanya faktor usia sangat berpengaruh terhadap produksi sperma. Seorang laki-laki yang berusia lebih dari 55 tahun produksi spermanya berangsur-angsur menurun. Pada usia di atas 90 tahun, seseorang akan kehilangan tingkat kesuburan. Selain usia, faktor lain yang mengurangi kesuburan adalah frekuensi melakukan hubungan kelamin. Seseorang yang sering melakukan hubungan kelamin

akan berkurang kesuburannya. Hal ini disebabkan karena sperma belum sempat dewasa sehingga tidak dapat membuahi sel telur. Berkebalikan dengan hal itu, apabila sperma tidak pernah dikeluarkan maka spermatozoa yang telah tua akan mati lalu diserap oleh tubuh. Selama pembentukan embrio, sel germinal primordial berimigrasi ke dalam testis dan menjadi sel germinal imatur yang di sebut spermatogonia yang berada di dua atau tiga lapisan dalam tubulus seminiferus. Spermatogonia mulai mengalami pembelahan mitosis, yang di mulai saat pubertas, dan terus berproliferasi dan berdiferensiensi melalui berbagai tahap perkembangan untuk membentuk sperma, yang tampak pada gambar tahap-tahap perkembangan sperma dari spermatogonia.

gambar II.2.a (potongan melintang tubulus seminiferous)

II.3

Tahap-tahap Spermatogenesis
Spermatogensis terjadi di tubulus seminiferous selama masa seksual aktif

akibat stimulasi oleh hormone gonadotropik hipofisis anterior yang di mulai rata-rata pada umur 13 tahun dan terus berlanjut hampir di seluruh sisa kehidupan, namun sangat menurun pada usia tua. Pada tahap pertama spermatogenesis, spermatogonia berimigrasi di antara selsel sertoli menuju lumen sentral tubulus seminiferous. Sel-sel sertoli ini sangat besar, dengan pembungkus sitoplasma yang berlebihan yang mengelilingi spertogonia yang sedang berkembang sampai menuju bagian tengah lumen tubulus.

gambar II.3.a (tahap perkembangan sperma dari spermatogonia)

Meiosis
Spermatogonia yang melewati lapisan pertahanan masuk ke dalam lapisan sel sertoli akan di modifikasi secara berangsur-angsur dan membesar untuk membentuk spermatosit primer yang besar. Setiap spermatosit tersebut, selanjutnya mengalami pembelahan mitosis untuk membentuk dua spermatosit sekunder. Setelah beberapa hari, spermatosit sekunder ini juga membelah menjadi spermatid, 46 kromosom spermatozoa(23 pasang kromosom) di bagi sehingga 23 kromosom di berikan ke satu spermatid dan 23 lainnya ke spermatid yang kedua. Keadaan ini juga membagi gen kromosom sehingga hanya setengah karakteristik genetic bayi yang berasal dari ayah, sedangkan setengah sisanya di turunkan dari oosit yang berasal dari ibu. Keseluruhan proses spermatogenesis, dari spermatogonia menjadi

spermatozoa, membutuhkan waktu sekitar 74 hari. Kromosom kelamin , pada setiap spermatogonium, satu dari ke-23 pasang kromosom yang mengandung informasi genetic yang menentukan jenis kelamin masing-masing anak. Selama pembelahan meiosis kromosom Y pria pergi menuju sebuah spermatid yang kemudian menjadi sebuah sperma jantan.

gambar II.3.b (tahap-tahap spermatogenesis)

II.4

Pembentukan Sperma
Ketika spermatid di bentuk pertama kali, spermatid tetap memiliki sifat-sifat

yang lazim dari sel-sel epiteloid, tetapi spermatid tersebut segera berdiferensiesi dan memanjang menjadi spermatozoa seperti tampak gambar di atas,masingmasing spermatozoa terdiri atas kepala dan ekor. Kepala terdiri atas inti sel yang padat dengan hanya sedikit sitoplasma dan lapisan membrane sel di sekeliling permukaannya. Di bagian luar, dua pertiga anterior kepala terdapat selubung tebal yang di sebut akrosom yang terutama di bentuk oleh apparatus golgi. Selubung ini mengandung sejumlah enzim yang serupa dengan enzim yang ditemukan pada lisosom dari sel sel yang khas, meliputi hialuronidase (yang dapat mencerna filament proteoglikan jaringan) dan enzim proteolitik yang sangat kuat (yang dapat mencerna protein). Enzim ini memainkan peranan penting sehingga memungkinkan sperma untuk memasuki ovum dan membuahinya. 1. Struktur Sel Sperma Sel-sel sperma memiliki struktur yang khusus.

Gambar II.4.a (Struktur sperma manusia)

struktur spermatozoa tersebut terlihat mempunyai bentuk mirip seperti kecebong (anak katak yang baru menetas), terdapat bagian kepala dan ekor, dapat terlihat bahwa sel-sel sperma memiliki struktur sebagai berikut. 1) Kepala Pada bagian ini terdapat inti sel. Bagian kepala dilengkapi dengan suatu bagian yang disebut dengan akrosom, yaitu bagian ujung kepala sperma yang berbentuk agak runcing dan menghasilkan enzim hialuronidase yang berfungsi untuk menembus dinding sel telur. Di bagian kepala ini terdapat 22 kromosom tubuh dan 1 kromosom kelamin yaitu kromosom Xatau Y, kromosom X untuk membentuk bayi berkelamin perempuan, sedangkan kromosom Y untuk membentuk bayi berkelamin laki-laki. Kromosom kelamin laki-laki inilah nantinya yang akan menentukan jenis kelamin pada seorang bayi. 2) Bagian tengah Bagian tengah mengandung mitokondria yang berfungsi untuk pembentukan energi. Energi tersebut berfungsi untuk pergerakan dan kehidupan sel sperma. Bahan bakar dalam pembentukan energi ini adalah fruktosa. 3) Ekor Bagian ekor lebih panjang, bersifat motil atau banyak bergerak. Fungsinya adalah untuk alat pergerakan sperma sehingga dapat mencapai sel telur. Pergerakan sel ini maju didorong oleh bagian ekor dengan pergerakan menyerupai sirip belakang ikan. Ekor sperma, yang di sebut flagellum, memiliki tiga komponen utama: 1. kerangka pusat yang di bentuk dari 11 mikrotubulus,yang secara keseluruhan di sebut aksonema, struktur tersebut serupa dengan struktur silia yang terdapat permukaan sel tipe lain. 2. 3. Membrane sel tipis yang menutupi aksonema Sekelompok mitokondria yang mengililingi aksonema di bagian proksimal ekor yang di sebut badan ekor.

Gerakan maju-mundur ekor (gerakan flagella) memberikan motilitas pada sperma. Gerakan ini di sebabkan oleh gerakan meluncur longitudinal secara ritmis di antara tubulus posterior dan anterior yang membentuk aksonema. Energy untuk proses inidi suplai dalam bentuk adenosine trifosfat yang di sintesis oleh mitokondria di badan ekor. Sperma yang normal bergerak dalam medium cair dengan kecepatan 1 sampai 4 mm/menit. Kecepatan ini akan memungkinkan sperma untuk bergerak melalui traktus genitalia pada wanita untuk mencapai ovum Pembentukan sperma dipengaruhi oleh hormon FSH (Folicel Stimulating Hormone) dan LH (Lutenizing Hormone). Pembentukan FSH dan LH dikendalikan oleh hormon gonadotropin yaitu hormon yang disekresikan oleh kelenjar hipothalamus dari otak. Proses spermatogenesis juga dibantu oleh hormon testosteron. Sperma yang sudah terbentuk di dalam testis seperti pada proses di atas, kemudian akan disalurkan ke bagian epididimis dan kemudian ke vas deferens, dan bercampur dengan sekret dari kelenjar prostat dan cowperi. Dari tempat itu kemudian dikeluarkan melalui uretra yang terdapat di dalam penis. Seperti yang sudah Anda ketahui, bahwa uretra juga merupakan saluran kencing sehingga mungkin akan timbul pertanyaan, dapatkah sperma ini keluar bersamaan air kencing? Jika hal ini terjadi maka spermatozoa akan mati karena air kencing bersifat asam, sehingga hal ini tidak pernah terjadi. Ada pengaturan oleh saraf-saraf uretra untuk pembagian kedua tugas ini. Ketika seorang laki-laki dan seorang wanita bersenggama (melakukan hubungan seksual) maka saraf akan mengontrol katup uretra agar tidak terbuka. Bahkan, sebelum terjadi ejakulasi, cairan basa dari kelenjar cowperi akan menetralkan sisa-sisa air kencing yang terdapat di dalam saluran tersebut.

II.5

Faktor-faktor hormonal yang merangsang spermatogenesis


Proses pembentukan spermatozoa dipengaruhi oleh kerja beberapa hormon.

Hormon-hormon tersebut adalah sebagai berikut:

1) Testosteron Testosteron adalah hormon yang bertanggung jawab terhadap pertumbuhan seks sekunder pria seperti pertumbuhan rambut di wajah (kumis dan jenggot), pertambahan massa otot, dan perubahan suara. Hormon ini diproduksi di testis, yaitu di sel Leydig. Produksinya dipengaruhi oleh FSH (Follicle Stimulating Hormone), yang dihasilkan oleh hipofisis. Hormon ini penting bagi tahap pembelahan sel-sel germinal untuk membentuk sperma, terutama pembelahan meiosis untuk membentuk spermatosit sekunder. Hormon ini berfungsi merangsang perkembangan organ seks primer pada saat embrio, mempengaruhi perkembangan alat reproduksi dan ciri kelamin sekunder serta mendorong spermatogenesis. 2) Luteinizing Hormone / LH Hormon ini dihasilkan oleh kelenjar hipofisis anterior. Fungsi LH adalah merangsang sel Leydig untuk menghasilkan hormon testosteron. Pada masa pubertas, androgen/testosteron memacu tumbuhnya sifat kelamin sekunder. Pada pria, awal pubertas antara usia 13 sampai 15 tahun terjadi peningkatan tinggi dan berat badan yang relatif cepat bersamaan dengan pertambahan lingkar bahu dan pertambahan panjang penis dan testis. Rambut pubis dan kumis serta jenggot mulai tumbuh. Pada masa ini, pria akan mengalami mimpi basah. 3) Follicle Stimulating Hormone / FSH Hormon ini dihasilkan oleh kelenjar hipofisis anterior. FSH berfungsi untuk merangsang sel Sertoli menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) yang akan memacu spermatogonium untuk memulai proses spermatogenesis. Proses pemasakan spermatosit menjadi spermatozoa disebut spermiogenesis. Spermiogenesis terjadi di dalam epididimis dan membutuhkan waktu selama 2 hari. 4) Estrogen Estrogen dibentuk oleh sel-sel Sertoli ketika distimulasi oleh FSH. Sel-sel Sertoli juga mensekresi suatu protein pengikat androgen yang mengikat testoteron dan estrogen

serta membawa keduanya ke dalam cairan pada tubulus seminiferus. Kedua hormon ini tersedia untuk pematangan sperma. 5) Hormon Pertumbuhan Hormon pertumbuhan diperlukan untuk mengatur metabolisme testis. Hormon pertumbuhan secara khusus meningkatkan pembelahan awal pada spermatogenesis. 6) Hormon Gonadotropin

Hormon gonadotropin dihasilkan oleh hipotalamus. Hormon ini berfungsi untuk merangsang kelenjar hipofisa bagian depan (anterior) agar mengeluarkan hormon FSH dan LH.

II.6

Pematangan Sperma di Epididimis

Pematangan Sperma di Epididimis


Setelah terbentuk di tubulus seminiferus, sperma membutuhkan waktu beberapa hari untuk melewati tubulus epididimis yang panjangnya 6 meter, sperma yang bergerak dari tubulus seminiferus dan dari bagian awal epididimis merupakan sperma yang tidak motil dan tidak dapat membuahi ovum .akan tetapi, setelah sperma berada dalam epididimis selama 18 sampai 24 jam,sperma memiliki kemampuan motilitas, walaupun beberapa inhibiter protein dalam cairan epididimis mencegah motilitas akhir sampai setelah ejakulasi.

Penyimpanan Sperma .
Dua testis orang dewasa membentuk sperma dengan jumlah mencapai 120 juta per hari. Sejumlah kecil sperma-sperma ini dapat disimpan di epididimis, namun sebagian besar disimpan di vas deferens. Sperma tersebut dapat tetap disimpan sehingga fertilitasnya dapat dipertahankan paling tidak selama sebulan. Selama waktu tersebut, sperma-sperma itu dijaga dalam keadaan yang sangat inaktif oleh berbagai

zat inhibitor yang terdapat dalam sekresi duktus. Sebaliknya,pada aktivitas seksual dan ejakulasi yang tinggi, penyimpanan dapat berlangsung tidak lebih beberapa hari. Setelah ejakulasi, sperma menjadi motil, dan juga mampu untuk membuahi ovum, suatu proses yang disebut pematangan, Sel sel sertoli dan epitel epididimis menyesekresikan suatu cairan nutrisi khusus yang di ejakulasikan bersama dengan sperma. Cairan ini mengandung hormone ( meliputi testosterone dan estrogen ), enzim-enzim, dan zat nutrisi khusus yang sangat penting untuk pematangan sperma.

Fisiologi Sperma yang Matang.


Sperma normal yang motil dan infertil mampu menggerarkan flagel melalui medium cair dengan kecepatan kira-kira 1 sampai 4 mm/menit. Aktivitas sperma sangat meningkat dalam suatu medium yang netral dan sedikit basa seperti yang terdapat dalam semen yang diejakulasi, namun sangat menurun dalam medium yang sangat asam. Suatu medium yang sangat asam dapat mematikan sperma dengan cepat. Aktivitas sperma dapat meningakat dengan nyata bersamaan dengan peningkatan suhu namun kecepatan metabolismenya juga ikut meningkat, sehingga umur sperma berkurang. Walaupun sperma dapat hidup dalam beberapa minggu dalam duktus genitalia testis pada keadaan inaktig, harapan hidup sperma dalam ejakulat di traktus genitalia wanita hanya 1 sampai 2 hari.

Fungsi Vesikula Seminalis


Setiap vesikula seminalis merupakan tubulus berlokus-lokus dan berkelokkelok, yang di lapisi oleh epitel sekretoris yang mnyekresi bahan-bahan mucus yang mengandung banyak frukstosa, asam sitrat, dan zat nutrisi lainnya, sejumlah besar prostaglandin dan fibrinogen . selama proses emisi/pengisian dan ejakulasi, setiap vesikula seminalis mengelurakan isinya ke dalam duktus ejakulatorius sesaat setelah vas deferens mengelurkan sperma. Hal ini sangat menambah jumlah semen yang di ejakulasikan, dan fruktosa serta zat lain dalam cairan seminalis merupakan zat nutrisi yang di butuhkan oleh sperma yang di ejakulasikan sampai salah satu sperma tersebut membuahi ovum.

Prostaglandin di yakini membantu proses pembuahan dengan dua cara : (1) bereaksi dengan mucus serviks wanita sehingga serviks lebih dapat meneima pergerakan sperma dan mungkin menyebabkan kontraksi peristaltic balik dalam uterus dan tuba falopii untuk menggerakkan sperma ejakulasi mencapai ovarium (beberapa sperma mencapai ujung atas tuba fallopii dalam waktu 5 menit).

Fungsi Kelenjar Prostat


Kelenjar prostat menyekresi cairan encer, seperti susu, yang mengandung kalsium, ion sitrat, ion fosfat, enzim pembekuan dan profibrinolisin. Selama pengisian sampai kelenjar prostat berkontraksi sejalan dengan kontraksi vas deferens sehingga cairan encer seperti susu yang di keluarkan oleh kelenjar prostat menambah jumlah semen lebih banyak lagi. Sifat cairan prostat yang sedikit basa mungkin penting untuk keberhasilan fertilisasi ovum, karena cairan vas deferens relative asam akibat adanya asam sitrat dan hasil akhir metabolism sperma, dan sebagai akibatnya. Akan mengahambat fertilisasi sperma. Selain itu, secret vagina bersifat asam ( dengan pH 3,5 sampai 4,0). Sperma tidak dapat bergerak optimal sampai pH sekitarnya meningkat menjadi sekitar 6,0 sampai 6,5. Akibatnya, cairan prostat yang sedikit basa dapat menetralkan sifat asma cairan seminalis lainnya Selma ejakulasi, dan juga meningkatkan motalitas dan fertilitas sperma.

II.7

Semen
Semen yang di ejakulasikan selama aktivitas seksual pria, terdiri atas cairan

dan sperma yang beralsal dari vas deferens(kira-kira 10 persen dari keseluruhan semen), cairan vesikula seminalis (hampir 60 persen), caira kelenjar prostat (kira-kira 30 persen), dan sejumlah kecil kelenjar mukosa, terutama kelenjar bulbouretra. Jadi bagian terbesar semen adalah cairan vesikula seminalis, yang merupakan cairan terakhir yang di ejakulasikan dan berfungsi untuk mendorong sperma melalui duktus ejakulatorius dan uretra. pH rata-rata campuran sekitar 7,5. Cairan prostat yang bersifat basa lebih menetralkan keasaman yang ringan dari bagian semen lainnya. Cairan prostat membuat semen terlihat seperti susu, sementara cairan dari vesikula seminalis dan kelenjar mukosa membua semen menjadi agak kental. Selain itu, enzim pembekuan

dari cairan prostat menyebankan fibrinogen cairan vesikula seminalis membentuk koagulum fibrin yang lemah, yang menahan semen di daerah vagina yang lebuh dalam, tempat servik uterus berada. Koagulum kemudian di larutkan 15 sampai 30 menit kemudian karena terjadinya lisis oleh fibrinolisin yang dibentuk profibrinolisin prostat. Pada menit pertama setelah ejakulasi, sperma masih relative tidak bergerak, yang mungkin di sebabkan oleh viskositas koagulum. Sewaktu koagulum di larutkan, sperma secara simulatan menjadi sangat motil. Walaupun sperma dapat hidup beberapa minggu dalam duktus genitalia pria, begitu sperma di ejakulasikan di dlam semen, jangka waktu hidup maksimal sperma hanya 24 sampai 48 jam pada suhu tubuh. Akan tetapi, pada suhu yang lebih rendah, semen dapat di simpan untuk bebrapa minggu : dan ketika di bekukan pada -100C, sperma dapat di simpan sampai bertahun-tahun.

BAB III PENUTUP


III.1 Kesimpulan
1. Spermatogenesis adalah Proses pembentukan dan pemasakan spermatozoa. Spermatogenesis terjadi di tubulus seminiferus. 2. Spermatogenesis mencakup pematangan sel epitel germinal melalui proses pembelahan dan diferensiasi sel, yang bertujuan untuk membentuk sperma fungsional. 3. Tahap tahap spermatogenesis. i. Pada dinding tubulus seminiferus telah ada calon sperma (spermatogonium/spermatogonia) yang berjumlah ribuan. ii. Setiap spermatogonia melakukan pembelahan mitosis kemudian mengakhiri sel somatisnya membentuk spermatosit primer yang siap miosis. iii. Spermatosit primer (2n) melakukan pembelahan meiosis pertama membentuk 2 spermatosit sekunder (n) iv. Tiap spermatosit sekunder melakukan pembelahan meiosis kedua, menghasilkan 2 spermatid yang bersifat haploid. (n) v. Keempat spermatid ini berkembang menjadi sperma matang yang bersifat haploid yang semua fungsional , yang berbeda dengan oogenesis yang hanya 1 yang fungsional.

4. Struktur sperma matang terdiri dari : kepala , leher , badan, dan ekor 5. sperma membutuhkan waktu beberapa hari untuk melewati tubulus epididimis yang panjangnya 6 meter 6. Proses pembentukan spermatozoa dipengaruhi oleh kerja beberapa hormon yang dihasilkan kelenjar hipofisis yaitu: i. LH (Luteinizing Hormone) ii. FSH (Folicle Stimulating Hormone) iii. Hormon Testosteron. iv. Estrogen v. Hormon Pertumbuhan vi. Gonadotropin 7. Bagian terbesar semen adalah cairan vesikula seminalis

III.2 Saran
untuk mempelajari materi spermatogenesis penting untuk menegatahui ilmu anatomi dan fisiologi system reproduksi yang mana berkaitan dengan materimateri yang terdapat di spermatogenesis. Dan penulis mengharapkan untuk itu diperlukan fasilitas tambahan yang lebih menunjang pembelajaran, misalnya seperti penambahan buku2 referensi yang lebih lengkap di perpustakaan.

Daftar Pustaka

Hall,guyton.2008.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11.Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Dorland, W.A Newman.Kamus Kedokteran DORLAND Edisi 31. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.