You are on page 1of 12

BAGIAN ILMU BEDAH

REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN

NOVEMBER 2013

UNIVERSITAS HASANUDDIN

ABSES PERIANAL

DISUSUN OLEH :
Vieryna Widyatuti S
(C11109265)
PEMBIMBING :
Dr. Ferdinandes
Dr. A. Baso Endra
Dr. Hervianti Asri
SUPERVISOR :
Prof. Dr. Chaeruddin Rasjad, Sp. OT, Ph.D

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013

ABSES PERIANAL
I.

Pendahuluan
Abses perianal merupakan infeksi pada jaringan lunak sekitar saluran anal, dengan

pembentukan abses rongga diskrit. Tingkat keparahan dan kedalaman dari abses cukup
variabel, dan rongga abses sering dikaitkan dengan pembentukan saluran fistulous.1
Lokasi klasik abses anorectal tercantum dalam urutan penurunan frekuensi adalah
sebagai berikut: perianal 60%, ischiorectal 20%, intersphincteric 5%, supralevator 4%, dan
submukosa 1%.
Kejadian puncak dari abses anorektal adalah di dekade ketiga dan keempat kehidupan.
Pria lebih sering terkena daripada wanita, dengan dominasi laki-perempuan 2:01-3:01.
Sekitar 30% dari pasien dengan abses anorektal laporan riwayat abses serupa yang baik
diselesaikan secara spontan atau intervensi bedah diperlukan.
Sebuah insiden yang lebih tinggi dari pembentukan abses tampaknya sesuai dengan
musim semi dan musim panas. Sementara demografi menunjukkan disparitas yang jelas
dalam terjadinya abses anal sehubungan dengan usia dan jenis kelamin, tidak ada pola yang
jelas ada di antara berbagai negara atau wilayah di dunia. Meskipun menyarankan, hubungan
langsung antara pembentukan abses anorektal dan kebiasaan buang air besar, diare sering,
dan kebersihan pribadi yang buruk tetap tidak terbukti.
Terjadinya abses perianal pada bayi juga cukup umum. Mekanisme yang tepat adalah
kurang dipahami tetapi tidak tampaknya berkaitan dengan sembelit. Untungnya, kondisi ini
cukup jinak pada bayi, jarang memerlukan intervensi operasi pada pasien ini selain drainase
sederhana.1

II.

Anatomi dan Fisiologi


Sistem pencernaan makanan pada manusia terdiri dari beberapa organ, berturut-turut

dimulai dari : rongga mulut, esofagus, lambung, usus halus, usus besar, rektum, anus.2,3
a. Mulut (oris)
Rongga mulut dibatasi oleh beberapa bagian, yaitu sebelah atas oleh tulang rahang
dan langit-langit (palatum), sebelah kiri dan kanan oleh otot-otot pipi, serta
sebelah bawah oleh rahang bawah.
1) Gigi (dentis)
Fungsi : berperan dalam proses mastikasi (pengunyahan).
Bagian-bagian gigi adalah sebagai berikut:
a) Mahkota gigi : dilapisi oleh email dan di dalamnya terdapat dentin (tulang
gigi).
b) Tulang gigi : terletak di bawah lapisan email.
c) Rongga gigi : berada di bagian dalam gigi. Di dalamnya terdapat pembuluh
darah, jaringan ikat, dan jaringan saraf.
2) Lidah (lingua)
Lidah berfungsi untuk membantu mengunyah makanan yakni dalam hal
membolak-balikkan makanan dalam rongga mulut, membantu dalam menelan
makanan, sebagai indera pengecap, dan membantu dalam berbicara.
Sebagai indera pengecap, pada permukaan lidah terdapat badan sel saraf
perasa (papila). ada tiga bentuk papila, yaitu:
a) Papila fungiformis
b) Papila filiformis.
c) Papila serkumvalata
3) Kelenjar Ludah
Kelenjar ludah menghasilkan saliva. Saliva mengandung enzim ptyalin atau
amylase

dan

ion

natrium,

klorida,

bikarbonat,

Fungsi saliva adalah :


a) melarutkan makanan secara kimia
b) melembabkan dan melumasi makanan
c) mengurai zat tepung menjadi polisakarida dan maltose
d) zat buangan
e) zat antibakteri dan antibody

dan

kalium.

Kelenjar ludah terdiri atas tiga pasang sebagai berikut:


a) Kelenjar sublingual adalah kelenjar saliva yang paling kecil, terletak di
bawah lidah bagian depan.
b) Kelenjar submandibular terletak di belakang kelenjar sublingual dan lebih
dalam.
c) Kelenjar parotid adalah kelenjar saliva paling besar dan terletak di bagian
atas mulut depan telinga.
b. Esofagus (kerongkongan)
Esofagus merupakan saluran sempit berbentuk pipa yang menghubungkan faring
dengan lambung (gaster). Yang panjang kira-kira 25 cm, diameter 2,5 cm. pH
cairannya 5-6. Fungsi : menggerakkan makanan dari faring ke lambung melalui
gerak peristalsis.
c. Lambung (gaster)
Lambung merupakan organ berbentuk J yang terletak di bawah rusuk terakhir
sebelah kiri. Yang panjangnya 20 cm, diameternya 15 cm, pH lambung 1-3,5.
Lambung terdiri atas kardiak, fundus, badan lambung, antrum, kanal pylorus, dan
pylorus.
1) Getah lambung mengandung:
a) Asam klorida (HCl). Berfungsi sebagai desinfektan, mengasamkan makanan
dan mengubah pepsinogen menjadi pepsin.
b) Rennin, merupakan enzim yang berfungsi mengendapkan kasein (protein
susu) dari air susu.
c) Pepsin berfungsi mengubah protein menjadi polipeptida.
d) Lipase, berfungsi untuk mencerna lemak.
2) Adapun fungsi lambung adalah:
a) Penyimpan makanan
b) Memproduksi kimus
c) Digesti protein
d) Memproduksi mucus
e) Memproduksi glikoprotein
f) Penyerapan

d. Usus halus (Intestinum tenue)


Usus halus adalah tempat berlangsungnya sebagian besar pencernaan dan
penyerapan yang panjangnya sekitar 6 m berdiameter sekitar 2,5 cm. sedangkan
pHnya 6,3 7,6. Dinding usus halus terdiri atas tiga lapis, yaitu tunica mucosa,
tunica muscularis, dan tunika serosa. Tunica muscularis merupakan bagian yang
menyebabkan gerakan usus halus.
1) Fungsi usus halus :
a) Mengakhiri proses pencernaan makanan. Proses ini diselesaikan oleh
enzim usus dan enzim pangkreas serta dibantu empedu dalam hati.
b) Usus halus secara selektif mengabsorbsi produk digesti.
2) Usus halus dibedakan menjadi tiga bagian,yaitu:
a) Deudenum (usus dua belas jari). Deudenum panjangnya sekitar 25 cm,
diameternya 5 cm.
b) Jejunum (usus kosong). Panjangnya sekitar 1 m sampai 1,5 m,
diameternya 5 cm.
c) Ileum (usus belit/usus penyerapan). Panjangnya sekitar 2 m sampai 2,5 m,
diameternya 2,5 cm.
3) Kelenjar-kelenjar usus menghasilkan enzim-enzim pencernaan, yaitu :
a) Peptidase, berfungsi mengubah peptide menjadi asam amino
b) Sukrase, berfungsi mengubah sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa
c) Maltase, berfungsi mengubah maltose menjadi glukosa
d) Laktase, berfungsi mengubah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa
e. Usus besar (colon)
Usus besar adalah saluran yang berhubung dengan bagian usus halus (ileum) dan
berakhir dengan anus. Yang panjangnya sekitar 1,5 m dan diameternya kurang
lebih 6,3 cm. pH nya 7,5-8,0.
1) Fungsi dari usus besar adalah :
a) Mengabsorbsi 80 % sampai 90 % air dan elektrolit dari kimus yang tersisa
dan mengubah kimus dari cairan menjadi massa semi padat.
b) Memproduksi mucus
c) Mengeksresikan zat sisa dalam bentuk feses.
2) Usus besar dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu :
a) Caecum. Merupakan pembatas antara ileum dengan kolon.

b) Kolon. Pada kolon terjadi gerakan mencampur isi kolon dengan gerakan
mendorong. Pada kolon ada tiga divisi yaitu :

Kolon asendens; yang merentang dari coecum sampai ke tepi bawah


hati disebelah kanan dan membalik secara horizontal pada fleksura
hepatika.

Kolon transversum ; merentang menyilang abdomen ke bawah hati dan


lambung sampai ke tepi lateral ginjal kiri, tempatnya memutar ke
bawah pada fleksura spienik.

Kolon desendens; merentang ke bawah pada sisi kiri abdomen dan


menjadi kolon sigmoid berbentuk S yang bermuara di rectum.

c) Rectum. Merupakan tempat penampungan sementara feses sebelum


dibuang melalui anus. Yang panjangnya 12-13 cm.
f. Anus
Anus merupakan lubang pada ujung saluran pencernaan. Pada anus terdapat dua
macam otot, yaitu:

1) Sfingter anus internus; bekerja tidak menurut kehendak.


2) Sfingter anus eksterus; bekerja menurut kehendak.
Proses pengeluaran feses di sebut defekasi. Setelah rektum terenggang karena
terisi penuh, timbul keinginan untuk defekasi.2,3
III.

Etiologi
Abses dan fistula Perirectal merupakan gangguan anorektal yang timbul didominasi

dari obstruksi kriptus dubur. Infeksi dari hasil sekresi kelenjar sekarang statis di nanah dan
pembentukan abses dalam kelenjar dubur. Biasanya, abses bentuk awalnya dalam ruang
intersphincteric dan kemudian menyebar di sepanjang ruang potensial yang berdekatan. 4

IV.

Patofisiologi
Sebagaimana disebutkan di atas, abses dan fistula mewakili perirectal gangguan

anorektal yang muncul didominasi dari obstruksi kriptus dubur. Anatomi normal
menunjukkan di mana saja 4-10 kelenjar dubur dikeringkan oleh kriptus masing pada tingkat
linea dentata. Kelenjar dubur biasanya berfungsi untuk melumasi lubang anus. Obstruksi
dubur kriptus hasil dalam stasis sekresi kelenjar dan, ketika kemudian terinfeksi, supurasi dan
pembentukan abses dalam hasil kelenjar dubur. Abses biasanya terbentuk di ruang
intersphincteric dan dapat menyebar di sepanjang ruang berbagai potensi.
Organisme umum terlibat dalam pembentukan abses termasuk Escherichia coli,
spesies Enterococcus, dan spesies Bacteroides, namun, tidak ada bakteri tertentu telah
diidentifikasi sebagai penyebab unik dari abses.
Penyebab kurang umum dari abses perianal yang harus dipertimbangkan dalam
diagnosis

diferensial

meliputi

TBC,

karsinoma

sel

skuamosa,

adenokarsinoma,

actinomycosis, venereum limfogranuloma, penyakit Crohn, trauma, leukemia, dan limfoma.

Ini dapat mengakibatkan pengembangan atipikal fistula-in-ano atau fistula rumit yang gagal
untuk merespon perawatan bedah konvensional. 1
V.

Gejala Klinis
Pasien dengan abses perianal biasanya mengeluhkan ketidaknyamanan perianal

kusam dan pruritus. Nyeri perianal mereka sering diperburuk oleh gerakan dan tekanan
perineum meningkat dari duduk atau buang air besar. Pemeriksaan fisik menunjukkan
eritematosa, kecil, didefinisikan dengan baik, berfluktuasi, subkutan massa di dekat lubang
anus.
Pasien dengan abses iskiorektalis sering hadir dengan demam sistemik, menggigil,
dan sakit parah dan kepenuhan perirectal konsisten dengan sifat lebih maju dari proses ini.
Tanda-tanda eksternal yang minimal dan dapat mencakup eritema, indurasi, atau fluctuancy.
Pada pemeriksaan dubur digital (DRE), massa, berfluktuasi indurated mungkin ditemui.
Penilaian fisik yang optimal dari suatu abses iskiorektalis mungkin memerlukan anestesi
untuk mengurangi ketidaknyamanan pasien yang dinyatakan akan membatasi tingkat
pemeriksaan.
Pasien dengan abses intersphincteric hadir dengan nyeri rektum dan kelembutan
menunjukkan

terlokalisasi

pada

Dre.

Pemeriksaan

fisik

mungkin

gagal

untuk

mengidentifikasi abses intersphincteric. Meskipun jarang, abses supralevator menyajikan


sebuah tantangan diagnostik yang sama. Akibatnya, kecurigaan klinis abses intersphincteric
atau supralevator mungkin memerlukan konfirmasi melalui dihitung (CT) scan tomografi,
magnetic resonance imaging (MRI), atau ultrasonografi dubur. Penggunaan modalitas
terakhir adalah terbatas untuk mengkonfirmasikan adanya abses intersphincteric.4
VI.

Diagnosis
Pemeriksaan colok dubur dibawah anestesi dapat membanru dalam kasus-kasus

tertentu, karena ketidaknyamanan pasien yang signifikan dapat menghalangi penilaian


terhadap pemeriksaan fisik yang menyeluruh. Contohnya, evaluasi terhadap asbeb
ischiorektal yang optimal dapat dilakukan dengan hanya menggunakan pemeriksaan colok
dubur. Dengan adanya obat anestesi, fistula dapat disuntikkan larutan peroksida untuk
memfasilitasi visualisasi pembukaan fistula internal. Bukti menunjukkan bahwa penggunaan
visualisasi endoskopik (transrektal dan transanal) adalah cara terbaik untuk mengevaluasi
kasus yang kompleks abses perianal dan fistula. Dengan teknik endoskopik, tingkat dan
konfigurasi dari abses dan fistula dapat jelas divisualisasikan. Visualisasi endoskopi telah

dilaporkan sama efektifnya seperti

fistulografi. Jika ditangani dengan dokter yang

berpengalaman, evaluasi secara endoskopik adalah prosedur diagnostik pilihan pada pasien
dengan kelainan perirektal karena rendahnya risiko infeksi serta kenyamanan pasien tidak
terganggu. Evaluasi secara endoskopik setelah pembedahan juga efektif untuk memeriksa
respon pasien terhadap terapi.1,5
Pemeriksaan Laboratorium
Belum ada pemeriksaan laboratorium khusus yang dapat dilakukan untuk
mengevaluasi pasien dengan abses perianal atau anorektal, kecuali pada pasien tertentu,
seperti individu dengan diabetes dan pasien dengan imunitas tubuh yang rendah karena
memiliki risiko tinggi terhadap terjadinya sepsis bakteremia yang dapat disebabkan dari abses
anorektal. Dalam kasus tersebut, evaluasi laboratorium lengkap adalah penting.1
Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi jarang diperlukan pada evaluasi pasien dengan abses anorektal,
namun pada pasien dengan gejala klinis abses intersfingter atau supralevator mungkin
memerlukan pemeriksaan konfirmasi dengan CT scan, MRI, atau ultrasonografi dubur.
Namun pemeriksaan radiologi adalah modalitas terakhir yang harus dilakukan karena
terbatasnya kegunaannya. USG juga dapat digunakan secara intraoperatif untuk membantu
mengidentifikasi abses atau fistula dengan lokasi yang sulit.1

MRI abses

VII.

Penatalaksanaan
Pada kebanyakan pasien dengan abses anorektal, terapi medikamentosa dengan

antibiotik biasanya tidak diperlukan. Namun, pada pasien dengan peradangan sistemik,
diabetes, atau imunitas rendah, antibiotik wajib diberikan.
Abses anorektal harus diobati dengan drainase sesegera mungkin setelah diagnosis
ditegakkan. Jika diagnosis masih diragukan, pemeriksaan di bawah anestesi sering
merupakan cara yang paling tepat baik untuk mengkonfirmasi diagnosis serta mengobati.
Pengobatan yang tertunda atau tidak memadai terkadang dapat menyebabkan perluasan abses
dan dapat mengancam nyawa apabila terjadi nekrosis jaringan yang besar, atau bahkan
septikemia. Antibiotik hanya diindikasikan jika terjadi selulitis luas atau apabila pasien
immunocompromised, menderita diabetes mellitus, atau memiliki penyakit katub jantung.
Namun, pemberian antibiotik secara tunggal bukan merupakan pengobatan yang efektif untuk
mengobati abses perianal atau perirektal.
Kebanyakan abses perianal dapat didrainase di bawah anestesi lokal di kantor, klinik,
atau unit gawat darurat. Pada kasus abses yang besar maupun pada lokasinya yang sulit
mungkin memerlukan drainase di dalam ruang operasi. Insisi dilakukan sampai ke bagian
subkutan pada bagian yang paling menonjol dari abses. Dog ear" yang timbul setelah insisi
dipotong untuk mencegah penutupan dini. Luka dibiarkan terbuka dan Sitz bath dapat
dimulai pada hari berikutnya.5

VIII. Komplikasi
Fistula anorektal terjadi pada 30-60% pasien dengan abses anorektal. Kelenjar
intersfingterik terletak antara sfingter internal dan eksternal anus dan seringkali dikaitkan
dengan pembentukan abses. Fistula anorektal timbul oleh karena obstruksi dari kelenjar
dan/atau kripta anal, dimana ia dapat diidentifikasi dengan adanya sekresi purulen dari
kanalis anal atau dari kulit perianal sekitarnya. Etiologi lain dari fistula anorektal adalah
multifaktorial dan termasuk penyakit divertikular, IBD, keganasan, dan infeksi yang
terkomplikasi, seperti tuberkulosis.
Klasifikasi menurut Parks dan persentase fistula anorektal adalah:
1. Intersfingerik 70%
2. Transfingterik 23%
3. Ekstrasfingterik 5%
4. Suprasfingterik 2%6

Daftar Pustaka
1. Hebra

A.

2012.

Perianal

Abscess.

Diunduh

dari

http://emedicine.medscape.com/article/191975-overview
2. Scanlon, Valerie., 2007. Buku Ajar Anatomi dan Fisiologi Edisi 3. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta.
3. Sherwood, Lauralee., 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi II. Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
4. Stamos MJ. Anorectal, Abscess, Fistula And Pilonidal Disease. Diunduh dari :
http://web.squ.edu.om/med-Lib/MED_CD/E_CDs/Surgery/CHAPTERS/CH35.PDF
5. Whiteford MH. 2007. Perianal Abscess/Fistula Disease. Diunduh dari :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2780182/
6. Chapter 297. Diverticular Disease and Common Anorectal Disorders, oleh Susan L.
Gearheart, Harrisons online. Diunduh dari :
http://ezproxy.library.uph.ac.id:2076/content.aspx?
aID=9132775&searchStr=perianal+abscess#9132775