You are on page 1of 18

i

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ANSIETAS

MAKALAH

oleh: Kelompok 12 Suhariyati Aldila K. P. Wahyu Elok P. Kikianita O. Fitania M. NIM 112310101001 NIM 112310101006 NIM 112310101043 NIM 112310101063 NIM 112310101064

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER 2014

ii

PRAKATA

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan kasih-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Ansietas yang diajukan sebagai tugas pemicu matakuliah Keperawatan Klinik VIII (Jiwa). Dalam proses pembuatan makalah ini, penulis didukung oleh berbagai pihak sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Ns. Erti Ikhtiarini Dewi, M.Kep, Sp.Kep.J, selaku penanggung jawab matakuliah (PJMK) Keperawatan Klinik VIII (Jiwa); 2. teman-teman angkatan 2011, yang selalu memberikan dorongan semangat dan dukungan, sehingga makalah ini dapat selesai tepat waktu. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun dari para pembaca untuk menyempurnakan makalah ini.

Jember, Januari 2014

Penulis

ii

iii

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ............................................................................................... PRAKATA .............................................................................................................. DAFTAR ISI ........................................................................................................... BAB 1. PENDAHULUAN ....................................................................................... 1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1.2 Tujuan ..................................................................................................... BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................... 2.1 Pengertian ................................................................................................ 2.2 Psikopatologi/Psikodinamika ................................................................. 2.2.1 Etiologi Ansietas ............................................................................. 2.2.2 Proses Ansietas .............................................................................. 2.2.3 Tanda Gejala Ansietas .................................................................. 2.2.4 Komplikasi Ansietas....................................................................... 2.3 Diagnosa Medis dan Diagnosa Keperawatan ....................................... 2.3.1 Diagnosa Medis............................................................................... 2.3.2 Diagnosa Keperawatan .................................................................. 2.4 Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan ........................................... 2.4.1 Penatalaksanaan Medis ................................................................. 2.4.2 Penatalaksanaan Keperawatan..................................................... i ii iii 1 1 2 3 3 4 4 5 7 7 8 8 8 8 8 9

BAB III. PENUTUP ................................................................................................ 14 3.1 Kesimpulan .............................................................................................. 14 3.2 Saran ......................................................................................................... 14 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 15

iii

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Globalisasi telah membuat perubahan diberbagai ilmu pengetahuan dan teknologi kelompok dan individu semakin ketat, damak dari perubahan tersebut merupakan salah satu stressor bagi individu, apabila seseorang tidak bisa bertahan dengan perubahan yang terjagdi. Hal tersebut akan dirasakan sebagai stressor yang berkepanjangan, koping individu yang tidak efektif menjadikan sesorang mengalami gangguan secara psikologis. Masalah gangguan jiwa sangat mempengaruhi produktifitas dari kualitas kesehatan perseorangan maupun masyarakat. Gangguan jiwa walaupun tidak menyebabkan kematian, namun akan menimbulkan penderitaan yang mendalam bagi individu dan beban berat bagi keluarga, baik mental maupun materi karena penderita menjadi kronis dan tidak produktif. Data riset kesehatan dasar tahun 2007 (Rikerdas) menunjukkan bahwa gangguan mental emosional (depresi dan kecemasan) dialami sekitar 11,6% populasi usia di atas 15 tahun (sekitar 24.708.000 orang). Sedangkan sekitar 0,48% populasi (1.065.000 orang) mengalami gangguan jiwa berat (Depkes,2012). Kecemasan atau ansietas masih menjadi salah satu masalah kesehatan jiwa yang masih banyak terjadi kasus baik di Negara-negara maju maupun berkembang. Cemas adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak didukung oleh situasi (Videbeck, 2008) dimana suatu respon dari pengalaman yang dirasa tidak menyenangkan dan di ikuti perasaan gelisah, khawatir, dan takut. Kecemasan merupakan aspek subjektif dari emosi seseorang karena melibatkan faktor perasaan yang tidak menyenangkan. Kecemasan merupakan salah satu bentuk emosi negative, baik bersifat rasional maupun irasional. Ini merupakan persoalan tersendiri bagi yang mengalaminya. Dalam makalah ini, kelompok akan membahas mengenai ansietas atau kecemasan yang menjadi masalah kesehatan jiwa. Pada makalah ini akan membahas

tentang konsep dasar, psikopatologi, diagnose hingga penatalaksanaan baik medis maupun non medis.

1.2 Tujuan 1.2.1 Mahasiswa mampu memahami pengertian ansietas; 1.2.2 Mahasiswa mampu memahami psikopatologi ansietas; 1.2.3 Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa keperawatan ansietas; 1.2.4 Mahasiswa mampu memahami dan mengaplikasikan penatalaksanaan baik medis maupun penatalaksanaan keperawatan dari ansietas.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Cemas (ansietas) adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak didukung oleh situasi. Ketika merasa cemas individu merasa tidak nyaman takut dan memiliki firasat akan ditimpa malapetaka padahal ia tidak mengerti mengapa emosi yang mengancam tersebut terjadi. Ansietas merupakan alat peringatan internal yang memberikan tanda bahaya kepada individu (Videbeck, 2008: 307). Ansietas adalah keadaan ketika individu/kelompok mengalami perasaan glisah (penilaian atau opini) dan aktivitas system sarafautonom dalam berespons terhadap ancanan yang tidak jelas, nonspesifik (Carpenito & Lynda, 2007: 11). Ansietas adalah perasaan gelisah yang samar-samar dari ketidaknyamanan atau ketakutan yang mengiringi respons autonom (alasannya sering kali tidak spesifikatau tidak diketahui oleh penderita); rasa ketakutan yang disebabkan oleh karena mengantisipasi keadaan yang berbahaya. Ini merupakan tanda yang memperingatkan akan bahaya yang akan terjadi yang mana memungkinkan penderita untuk mengukur dan mengatasi ancama tersebut (NANDA, 2010: 26) Gangguan ansietas adalah sekelompok kondisi yang memberi gambaran penting tentang ansietas yang berlebihan, disertai respon perilaku, emosional dan fisiologis. Cemas dibagi menjadi beberapa tingkatan yaitu sebagai berikut. a. Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. b. Ansietas sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. Mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. c. Ansietas berat, cendrung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak dapat berfikir tentang hal lain dikarenakan mengurangi ketegangan. d. Tingkat Panik dari ansietas berhubungan dengan terperangah, ketakutan dan teror. Tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan.

2.2 Psikopatologi/Psikodinamika 2.2.1 Etiologi Ansietas Penyebab timbulnya kecemasan dapat ditinjau dari 2 faktor yaitu: a. faktor internal yaitu tidak memiliki keyakinan akan kemampuan diri; b. faktor eksternal dari lingkungan seperti ketidaknyamanan akan kemampuan diri, threat (ancaman), conflik (pertentangan), fear (ketakutan), unfuled need (kebutuhan yang tidak terpenuhi). (Videbeck, 2008:312).

Berbagai teori telah dikembangkan untuk menjelaskan faktor predisposisi pada kecemasan sebagai berikut. a. Pandangan Psikoanalitis Kecemasan adalah konflik emosional yang terjadi anatara dua elemen kepribadian: id dan superego. b. Pandangan Interpersonal kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap ketidaksetujuan dan penolakan interpersonal. c. Pandangan Perilaku, kecemasan merupakan frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan individu untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

2.2.2

Proses Ansietas Etiologi Predisposisii

Faktor Internal: tidak memiliki keyakinan akan kemampuan diri

Faktor eksternal: dari lingkungan 1. ketidaknyamanan akan kemampuan diri 2. Threat (ancaman) 3. Conflik (pertentangan) 4. Fear (ketakutan) 5. Unfuled need (kebutuhan yang tidak terpenuhi)

pandangan psikoanalitis

Pandangan Interpersonal

Pandangan Perilaku

Id

Superego

perasaan takut terhadap ketidaksetujuan dan penolakan interpersonal

sesuatu yang mengganggu kemampuan individu

ANSIETAS (CEMAS) Psikologis Fisiologis

Psikologis
Rasa takut akan adanya ancaman Kesulitan berpikir logis Persepsi penilaian diri buruk

Fisiologis
Munculnya aktivitas involunter Peningkatan Pertahanan Diri

Gg Rasa Nyaman

Gangguan proses pikir Efektif

Harga Diri Rendah

Kelenjar adrenal melepas Malu untuk bersosialisasi adrenalin (Epinefrin)

Vasokonstriksi PD dan Isolasi sosial peningkatan denyut jantung Peningkatan Curah Jantung

2.2.3 Tanda Gejala Ansietas Tanda dan gejala cemas secara garis besar di bagi menjadi cemas secara psikologis dan cemas secara fisiologis. a. Psikologis: terwujud dalam gejala-gejala kejiwaan seperti tegang, bingung, khawatir, sukar berkonsentrasi, perasaan tidak menentu dan sebagainya. b. Fisiologis: terwujud dalam gejala-gejala fisik terutama pada sistem saraf misalnya tidak dapat tidur, jantung berdebar-debar, gemetar, perut mual-muntah, diare, nafas sesak disertai tremor pada otot. (Videbeck, 2008: 308).

Menurut Carpenito (2007), tanda mayor ansietas dibagi menjadi tiga kategori: fisiologis, emosional, dan kognitif. Gejala berfariasi tergantung tingkat ansietas. a. Fisiologis: gelisah, insomnia, peningkatan TD, diare, kegelisahan, sering berkemih, diaphoresis, gemetar, peningkatan RR, dilatasi pupil, suara tremor, pucat atau kemerahan, mual muntah, ruam panas dingin, anoreksia, mau pingsan. b. Emosional Individu menyatakan bahwa ia merasakan: ketakutan, gugup, ketidak berdayaan, kurang percaya diri, kehilangan kontrol, tidak dapat rileks. Individu memperlihatkan: menangis, tidak sabaran, marah berlebih, cenderung menyalahkan orang lain, kontak mata buruk, kritisme pada diri sendiri,menarik diri,kurang inisiatif, reaksi kaku. c. Kognitif: tidak dapat berkonsentrasi, kurang kesadaran terhadapsekitar, mudah lupa,blok pikiran, penurunan kemampuan belajar, konfusi, orientasi pada sama lalu dari pada masa kini atau masa depan.

2.2.4 Komplikasi Ansietas a. Waham b. Resiko bunuh diri c. Gangguan makan d. Penyalagunaan napza e. Gangguan memori f. Halusinasi g. Delusi

2.3 Diagnosa Medis dan Diagnosa Keperawatan 2.3.1 Diagnosa Medis Diagnosa medis yang berkaitan dengan gangguan ansietas menurut Kim (2005) adalah Depresi.

2.3.2 Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan prioritas adalah ansietas, sedangkan diagnosa lain yang mungkin muncul: a. gangguan rasa nyaman, b harga diri rendah, c. isolasi sosial, d. gangguan proses pikir, dan e. peningkatan curah jantung.

2.4 Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan 2.4.1 Penatalaksanaan Medis Penatalaksanaan medis pada klien dengan ansietas menurut Suliswati (2005) yaitu meliputi: a. Terapi psikofarmaka Terapi psikofarmaka merupakan pengobatan untuk cemas dengan memakai obatobatan yang berkhasiat memulihkan fungsi gangguan neuro-transmitter (sinyal penghantar saraf) di susunan saraf pusat otak (limbic system). Obat-obatan yang paling sering digunakan dalam mengatasi ansietas adalah benzodiazepine (BDPs) (Fracchione, 2005). Adapun beberapa jenis obat yang lazim digunakan adalah Diazepam, Lorazepam, Alprazolam, Propanolol dan Amitriptilin. b. Terapi somatik Gejala atau keluhan fisik (somatik) sering dijumpai sebagai gejala ikutan atau akibat dari kecemasan yang bekerpanjangan. Untuk menghilangkankeluhankeluhan somatik (fisik) itu dapat diberikan obat-obatan yang ditujukan pada organ tubuh yang bersangkutan.

2.4.2 Penatalaksanaan Keperawatan Penatalaksanaan non farmakologi yang dapat dilakukan perawat yang untuk mengurangi tingkat kecemasan pada pasien meliputi: a. Distraksi Distraksi merupakan metode untuk menghilangkan kecemasan dengan cara mengalihkan perhatian pada hal-hal lain sehingga pasien akan lupa terhadap cemas yang dialami. Stimulus sensori yangmenyenangkan menyebabkan pelepasan endorphin yang bias menghambat stimulus cemas yang mengakibatkan lebih sedikit stimuli cemas yang ditansmisikan ke otak (Potter & Perry, 2005). Salah satu metode distraksi yang dapat dilakukan khususnya pada yang beragam Islam yaitu dengan Murottal (mendengarkan bacaan Al Quran), membaca Al Quran dan Dzikir yang dapat menurunkan hormon-hormon stress, mengaktifkan hormon endorphin alami. b. Relaksasi Terapi relaksasi yang dilakukan dapat berupa relaksasi meditasi, relaksasi imajinasi dan visualisasi serta relaksasi progresif.

Selain terapi yang telah dijelaskan di atas, perencanaan tindakan keperawatan yang dapat diberikan untuk mengurangi tingkat kecemasan pada pasien yaitu:

10

No 1

Diagnosa Keperawatan Tujuan Ansietas TUM : Pasien dapat mengontrol bahkan terbebas dari ansietas TUK 1 : Pasien dapat mengalami penurunan tingkat ansietas, sedikitnya satu tingkat.

Rencana Tindakan Keperawatan Kriteria Evaluasi

Rasional Intervensi

Setelah dilakukan interaksi dengan pasien selama 1x24 jam, pasien dapat mengalami penurunan gejala ansietas dengan kriteria hasil: a. Tidak tampak tandatanda ansietas seperti ketegangan, ketakutan, insomnia, tremor, peka rangsang, isolasi, keletihan, gelisah, penyimpangan persepsi.

1.

Kaji tingkat ansietas (mis. kemampuan untuk memahami, kemampuan pemecahan masalah, dll) 2. Pertahankan lingkungan yg aman dan tenang 3. Kurangi rangsang 4. Bicara dan tenangkan pasien 5. Dorong keterlibatan dalam aktivitas, bergantung pada tingkat ansietas 6. Pandu keikutsertaan dalam perawatan diri 7. Arahkan kembali sesuai kebutuhan 8. Bantu pasien dalam mengidentifikasikemungkinan sumber stress 9. Kenalkan humor dalam mengurangi ansietas 10. Berikan penyuluhan kesehatan tentang ansietas (dampak terhadap tubuh, tingkat ansietas, dampak kimiawi pada tubuh) 11. Kaji penggunaan alcohol, kafein, nikotin, dan obat-obatan lain. 1. 2. 3. Bantu pasien untuk menghubungkan perilaku dengan perasaan Beri dorongan pada pasien untuk membicarakan perasaan tenang ansietas Dapatkan persepsi pasien tentang ansietas

Penting bagi perawat untuk mengurang tingka ansietas sampai ke tingkat sedang, rendah, atau hilang sehingga pasiendapat mulai berkonsentrasi pada keikutsertaan dalam mengembangkan rencana perawatan dan mencapai perubahan perilaku

TUK 2 : Pasien dapat mengenali ansietasnya sendiri dan ikut serta dalam mengembangkan

Setelah dilakukan interaksi dengan pasien selama 1x24 jam, pasien mampu mengenali ansietasnya sendiri dengan kriteria

Untuk dapat mengenali ansietas pada diri pasien sendiri diperlukan bantuan dari tenaga medis khusunya perawat.

11

perawatan untuk hasil: memberikan perubahan a. Pasien mampu mendiskusikan dan memantau perilaku sendiri setiap shift b. Mampu mengidentifikasi stressor c. Secara aktif ikut serta dalam aktivitas unit d. Melakukan interaksi dengan sebaya e. Mengembangkan tujuan yang realistis f. Menghubungkan perilaku dengan perasaan (mis. kehilangan pekerjaan) TUK 3: Pasien dapat menerima perubahan fisik dan emosi pada proses penuaan Setelah dilakukan interaksi dengan pasien selama 1x24 jam, pasien mampu menerima perubahan fisik dan emosi pada proses penuaan dengan kriteria hasil: a. Pasien mampu mengenali keterbatasan b. Mengungkapkan ketakutan tentang proses penuaan

4. 5.

6. 7. 8.

yang dialami Focus pada saat ini dan di sini Kembangkan rencana ruang dengan pasien (mis. tetap di luar ruangan selama 50 menit setiap jam) Bantu pasien mengidentifikasi bagaimana ansietas dimanifestasikan melalui perilaku Gali dengan pasien cara mengantisipasi ansietas Berikan penyuluhan kesehatan tentang penatalaksanaa stress dan penetapan tujuan

Ketika pasien telah mengenali tingkat ansietasnya diharapkan pasien mampu melakukan perawatan untuk memberikan perubahan pada tingkat ansietas yang dialami

1. Berikan penyuluhan kesehatan tentang proses Proses penuaan dapat penuaan termasuk reaksi berduka membangkitkan ansietas 2. Beri dorongan pada pasien untuk berfungsi pada beberapa orang semandiri mungkin 3. Beri dorongan pada psien untuk mendiskusikan perasaan/ketakutan 4. Bantu pasien dalam mengidentifikasi strategi koping yang efektif 5. Bantu pasien dalam mengidentifikasi sistem pendukung 6. Gali dengan pasien penggunaan sistem pendukung secara efektif

12

c. d.

Berfungsi pada tingkat optimal Menggunakan kekuatan untuk mengembangkan koping terhadap proses penuaan Ikut serta dalam merencanakan pulang 1. Gali mekanisme koping dengan pasien; bantu pasien untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang telah berhasil mengurangi ansietas 2. Bantu pasien untuk mengidentifikasi mekanisme koping adaptif dalm pengharapan cultural pasien sendir 3. Bicarakan pentingnya program latihan teratur 4. Berikan penyuluhan kesehatan dalam proses pemecahan masalah (mis. mengatur, memprioritaskan, menerapkan, mengevaluasi) Menggunakan teknik relaksasi termasuk napas dalam 1. Instruksikan pasien untuk napas lambat dan dalam (mata dapat terpejam atau terbuka) 2. Minta pasien untuk duduk atau berbaring dalam posisi yang nyaman dalam ruangan yang tenang (pasien harus memejamkan Salah satu manfaat dari relaskasi adalah untuk menurunkan kecemasan dengan cara mengatur pernapasan dan merieksasikan otot-otot pada bagian tubuh.

TUK 4: Pasien dapat menunjukkan strategi koping efektif dalam hubungannya dengan krisis maturasi dan situasi.

Setelah dilakukan interaksi dengan pasien selama 1x24 jam, pasien mampu menunjukkan strategi koping efektif dalam hubungannya dengan krisis maturasi dan situasi dengan kriteria hasil: a. Pasien mampu mengembangkan rencana pribadi untuk menurunkan ansietas dengan menggunakan proses pemecahan masalah b. Mengidentifikasi dukungan/sumber komunitas c. Memperagakan teknik relaksasi d. Memenuhi kebutuhan perawatan diri

13

e. f.

Membentuk hubungan interpersonal Ikut serta dalam merencanakan pulang

3.

4.

5.

6.

7.

mata kecuali tindakan ini membuatnya merasa tidak nyaman) Pada periode sepanjanglatihan minta pasien untuk berfokus pada pernapasan (lambat dan dalam) Untuk memulai latihan, instruksikan pasien untuk mengambil posisi yang nyaman dan bayangkan sedang berada pada tempat yang nyaman (mis. di pantai). Kemudian instruksikan pasien untuk menegangkan dengan perlahan (selama 5 detik) (tanpa cedera) dan kemudian rileks setiap kelompok otot (10-15 detik) Mulai dengan ibu jari kaki dan kaki dan beralih secara progresif ke atas-betis, paha, bokong, pinggang, tangan (buat genggaman), lengan bawah, lengan atas, bahu, leher, dan berakhir dengan wajah (meringis). Setelah merelaksasikan wajah, pasen harus tetap tenang selama 15 menit (atau selama yang dapat ditoleransi oleh pasien), berkonsentrasi dengan dami, tenang dan pernapasan. Instruksikan pasien untuk menggunakan keseluruhan latihan atau hanya untuk area yang tegang bila waktu memungkinkan Instruksikan pasien untuk menggunakanprosi napas dalam bila waktu terbatas

14

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Cemas (ansietas) adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak didukung oleh situasi. Gangguan ansietas adalah sekelompok kondisi yang memberi gambaran penting tentang ansietas yang berlebihan, disertai respon perilaku, emosional dan fisiologis. Yang disebabkan oleh 2 faktor, yaitu internal dan eksternal.

3.2 Saran Dalam mengatasi ansieta tidak hanya terapi farmakologis yang diberikan akan tetapi efek terepeutik dari perawat sangat membantu dalam proses kesembuhan klien dengan ansietas. Agar efek dari ansietas dapat konstruktif individu hasrus dapat menggunakan koping yang efektif sehingga efek destruktif dari ansietas dapat dihindari.

15

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito Moyet, Lynda Juall. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Alih bahasa oleh Yasmin Asih. Jakarta: EGC.

Depkes RI. 2012. Deteksi Kesehatan Jiwa Dilakukan di Pukesmas. [Serial on line]. www.depkes.go.id.php/berita/press-release/1480-deteksi-kesehatan-jiwa dilakukan-di-pukesmas.html . [16 Februari 2014].

Fricchione, Gregory. 2005. Generalized Anxiety Disorder. N England J Med. 351:67582.

Kim, Mi Ja, dkk. 2005. Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC.

NANDA. 2010. Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Ahli bahasa Fatiah Istiqomah. Jakarta: EGC.

Potter, Ptaricia. A & Perry, Anne Griffin. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC.

Suliswati, dkk. 2005. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. EGC: Jakarta.

Stuart, Gail W. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.

Videbeck, Sheila I. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.