You are on page 1of 6

TROMBOSIS ARTERI MESENTERIKA

Latar Belakang Trombosis arteri mesenterika memiliki angka kematian tertinggi dari semua penyebab iskemia mesenterika. Pertama kali dijelaskan pada akhir abad ke-15, sedikit kemajuan dibuat dalam pengobatan sebelum abad ke-20.

Pada tahun 1901, pasien dengan sejarah panjang nyeri postprandial ditemukan memiliki plak aterosklerotik dengan trombus atasnya dari arteri mesenterika superior (SMA). Sebuah contoh dari oklusi lengkap diilustrasikan pada gambar di bawah. Mekanisme patofisiologis dimana iskemia menghasilkan rasa sakit masih kurang dipahami.

Gambar 1. Oklusi aorta komplit (Leriche syndrome) dengan emboli akut arteri mesenterika superior

Pada pertengahan abad ke-20, secara umum dipahami bahwa iskemia mesenterika merupakan manifestasi aterosklerosis visceral. Pada tahun 1958, Shaw dan Maynard menggambarkan thromboendarterectomy pertama dari SMA untuk pengobatan akut dan kronis iskemia mesenterika. Beberapa solusi bedah lainnya telah sejak mencoba, mulai dari reimplantation cabang visceral ke dalam aorta berdekatan dengan penggunaan cangkokan vena autogenous. Pada tahun 1972, Stoney dan Wylie memperkenalkan thromboendarterectomy visceral transaortic dan memotong aortovisceral, kedua teknik bedah yang sangat efektif.

Pasien dengan trombosis arteri mesenterika akut muncul dengan keluhan nyeri akut abdomen, pasien memiliki riwayat nyeri abdomen setelah makan, nyeri biasanya berlangsung selama 10-20 menit setelah makan dan bertahan hingga 1 jam. Rasa nyeri ini menyebar, dan pasien mungkin mengeluh tinja berdarah. Biasanya, pasien memiliki sejarah keterlibatan arteri lainnya seperti infark miokard (MI) atau penyakit pembuluh darah perifer

Epidemiologi dan faktor resiko Factor resiko thrombosis arteri terdiri atas atherosclerosis, hipovolemia, gagal jantung kongestif, usia lanjut, dan intraabdomen maligna. 2 dari 3 penderita adalah wanita. Penelitian lain menunjukkan bahwa Inflammatory Bowel Disease (IBD) juga merupakan factor resiko dari trombosis arteri mesentrika.

Etiologi Gambaran patologi yang paling sering ditemukan pada pasien dengan trombosis arteri mesenterika akut adalah aterosklerosis. Biasanya lesi aterosklerosis secara berkelanjutan mengganggu aliran darah pada saluran cerna, menyebabkan pemburukan gejala yang progressif. Tidak seperti gejala emboli yang seringkali terjadi pada percabangan arteri dengan gejala iskemik saluran cerna yang terbatas di lokasi sekitar emboli, thrombosis muncul pada pembuluh darah yang terkena, dengan bagian usus yang terkena meliputi lokasi yang lebih luas.

Patofisiologi Plak aterosklerosis biasanya berasal dari arteri mesenterika superioratau pada arteri celiac. plak ini tumbuh dari waktu ke waktu. Arteri mesenterika superior adalah pembuluh darah yang paling sering terkena thrombosis., thrombus terbentuk pada kondisi aliran darah yang lambat. Sehingga terjadi penghentian secara akut aliran darah ke bagian usus. Pada kondisi awal, saat terjadinya kematian mukosa usus, gejala dimulai dengan keluarnya darah bersama tinja. Bagian usus secara lambat laun menjadi nekrosis, secara tidak langsung terjadi pula peningkatan pertumbuhan bakteri di usus, bila sampai tahap lanjut, dapat terjadi perforasi yang bisa menjadi sepsis hingga mengakibatkan kematian

Gambar 2. Spesimen Makros dari Usus mati.

Gambar 3. Spesimen makros dari hemorrhagic dead bowel setelah reseksi dari pasien dengan iskemia mesenterika akut.

Gejala Pasien dengan thrombosis arteri mesenterika akut, muncul dengan riwayat penurunan berat badan, nyeri postpandrial dan phagopobia (takut makan), gejala semakin lama akan semakin memburuk. Pasien yang telah lama memiliki riwayat iskemik mesenterium kronis memberikan gejala malnutrisi.

Pasien mengeluhkan nyeri akut pada abdomen yang terasa sangat berat dan tak kunjung berhenti. pasien juga mengeluhkan terdapat gumpalan darah pada fecesny,. Dari riwayat penyakit sebelumnya, berhubungan dengan, stroke, infark miokard dan penyakit arteri perifer, pasien juga mungkin memiliki riwayat merokok yang lama atau diabetes yang tidak terkontrol. Oleh karena volume cairan yang berlebihan dan adanya hiperkoagulasi, pasien dalam perawatan bedah intensif mudah mengalami thrombosis arteri mesenterika.

Dalam pemeriksaan Fisik pasien mengalami nyeri andomen dan bila ada tanda peritonitis bisa dimungkinkan terjadi perforasi usus. Pasien dengan riwayat iskemik mesenterika kronis mungkin ditemukan dalam pemeriksaan fisik dengan malnutrisi.

Pemeriksaan laboratorium harus mencakup (1) Protombin Time, (2) APTT, (3) Complete Blood Count karena mungkin menunjukkan adanya leukositosis dan atau hemokonsentrasi. (4) Pemeriksaan kimia mungkin menunjukkan asidosis atau meningkatnya amylase atau level LDH. (5) Foto thorax (6) EKG. Penelitian pada 9 pasien thrombosis mesenterika akut ditemukan bahwa D-dimer level lebih tinggi daripada pasien dengan IBD (Inflamattory Bowel Disease) atau obstruksi usus. Penulis menemukan bahwa level D-dimer lebih besar dari 1,5 mg/L.

Pada foto abdomen menunjukkan diagnostic presumtif pada 20-30 % pasien. Adanya gas dalam usus, perut distended, menebalnya dinding perut dan air fluid level merupakan penemuan yang tidak spesifik. Pemeriksaan dengan CT-scan memiliki spesifikasi > 95 % termasuk thrombosis arteri mesenterika superior, thrombosis vena mesenterika, pneumatosis intestinal, adanya gas pada vena porta, dan iskemik organ lain. Penemuan akhir termasuk udara intramular dan udara pada system vena portal. Jika ada perforasi usus, udara bebas pada abdomen mungkin dapat diobservasi.

Biplane autography adalah criteria standart untuk mendiagnosis iskemik mesenterika, dan hal itu dapoat mengkonfirmasi penyakit dan perluasan oklusi. Tidak seperti pasien dengan penyakit emboli, mereka yang dengan akut thrombosis mempunyai sirkulasi kolateral yang baik karena adanya iskemia kronik.

Gambar 4. Gas dalam dinding usus besar, tanda radiografi akhir iskemia usus.

Gambar 5. arteri yang berkelok-kelok, tanda radiografi yang sudah ada iskemia usus

Terapi Jika pasien sudah didignosis trombosis mesenterika akut, pasien diharuskan operasi. Karena resiko infark usus, perforasi, sepsis dan kematian.

Daftar Pustaka

http://emedicine.medscape.com/article/191560-overview#showall