You are on page 1of 21

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Retardasi mental merupakan masalah dunia dengan implikasi yang
besar terutama bagi Negara berkembang. Diperkirakan angka kejadian retardasi
mental berat sekitar 0.3% dari seluruh populasi dan hamper 3% mempunyai IQ
dibawah 70.Sebagai sumber daya manusia tentunya mereka tidak bias dimanfaatkan
karena 0.1% dari anak-anak ini memerlukan perawatan, bimbingan serta pengawasan
sepanjang hidupnya. Sehingga retardasi mental masih merupakan dilema, sumber
kecemasan bagi keluarga dan masyarakat.Demikian pula dengan diagnosis,
pengobatan dan pencegahannya masih merupakan masalah yang tidak kecil. Untuk itu
disini saya akan membahas bagaimana retardai mental itu sendiri dan upaya-upaya
apa yang harus dilakukan.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah definisi Retardasi Mental?
2. Bagaimanakah klasifikasi retardasi mental?
3. Bagaimanakah etiologi Retardasi mental?
4. Bagaimanakah diagnosis dan gejala klinis retardasi mental?
5. Apa sajakah uji laboraturium dan diagnostik pada retardasi mental?
6. Bagaimanakah penatalaksanaan pada klien dengan retardasi mental?
7. Bagaimanakah cara pencegahan dan pengobatan retardasi mental?
8. Bagaimana proses asuhan keperawatan klien dengan retardasi mental?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi retardasi mental
2. Dapat menjelaskan klasifikasi retardasi mental
3. Dapat menjabarkan etiologi dari retarasi mental
4. Mengetahui diagnosisi dan gejala klinis retardasi mental
5. Mengetahui apa saja uji laboraturim dan diagnostik retardasi mental
6. Mengetahui penatalaksanaan klien dengan retardasi mental
7. Menjelaskan pencegahan dan pengobatan retardasi mental
8. Dapat menjelaskan proses asuhan keperawatan klien dengan retardasi mental


2

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi
Retardasi mental adalah penurunan fungsi intelektual yang menyeluruh
secara bermakna dan secara langsung menyebabkan gangguan adaptasi sosial,
dan bermanifestasi selama masa perkembangan. Keterbelakangan Mental
(Retardasi Mental, RM) adalah suatu keadaan yang ditandai dengan fungsi
kecerdasan umum yang berada dibawah rata-rata disertai dengan berkurangnya
kemampuan untuk menyesuaikan diri (berpelilaku adaptif), yang mulai timbul
sebelum usia 18 tahun.
Orang-orang yang secara mental mengalami keterbelakangan,
memiliki perkembangan kecerdasan (intelektual) yang lebih rendah dan
mengalami kesulitan dalam proses belajar serta adaptasi sosial. 3% dari jumlah
penduduk mengalami keterbelakangan mental.
American Association on Mental Deficiency (AAMD) membuat
definisi retardasi mental yang kemudian direvisi oleh Rick Heber (1961) sebagai
suatu penurunan fungsi intelektual secara menyeluruh yang terjadi pada masa
perkembangan dan dihubungkan dengan gangguan adaptasi sosial. Ada 3 hal
penting yang merupakan kata kunci dalam definisi ini yaitu penurunan fungsi
intelektual, adaptasi sosial, dan masa perkembangan. Penurunan fungsi
intelektual secara umum menurut definisi Rick Heber diukur berdasarkan tes
intelegensia standar paling sedikit satu deviasi standar (1 SD) di bawah rata-rata.
Periode perkembangan mental menurut definisi ini adalah mulai dari lahir sampai
umur 16 tahun. Gangguan adaptasi sosial dalam definisi ini dihubungkan dengan
adanya penurunan fungsi intelektual. Menurut definisi ini tidak ada kriteria
bahwa retardasi mental tidak dapat diperbaiki seperti definisi retardasi mental
sebelumnya.
Banyak pakar menyatakan bahwa definisi ini terlalu liberal, karena
dengan batasan tes intelegensi di bawah satu deviasi standar (1 SD) terdapat
hampir 16% dari populasi dapat digolongkan sebagai retardasi mental.2 Pada
tahun 1973 melalui Manual on Terminology and Classfication in Mental
Retardation penurunan fungsi intelektual yang menyeluruh secara bermakna dan
secara langsung menyebabkan gangguan adaptasi sosial, dan bermanifestasi
3

selama masa perkembangan. Menurut definisi ini penurunan fungsi intelektual
yang bermakna berarti pada pengukuran uji intelegensia berada pada dua deviasi
standar di bawah rata-rata. Berdasarkan kriteria ini ternyata kurang dari 3%
populasi yang dapat digolongkan sebagai retardasi mental. Periode perkembangan
menurut definisi ini adalah mulai dari lahir sampai umur 18 tahun. Gangguan
adaptasi sosial menurut definisi ini secara langsung disebabkan oleh penurunan
fungsi intelektual.Grossman merevisi definisi Heber tersebut. Menurut Grossman
retardasi mental adalah penurunan fungs intelektual yang menyeluruh secara
bermakna dan secara langsung menyebabkan gangguan adaptasi sosial, dan
bermanifestasi selama masa perkembangan. Menurut definisi ini penurunan
fungsi intelektual yang bermakna berarti pada pengukuran uji intelegensia berada
pada dua deviasi standar di bawah rata-rata. Berdasarkan kriteria ini ternyata
kurang dari 3% populasi yang dapat digolongkan sebagai retardasi mental.
Periode perkembangan menurut definisi ini adalah mulai dari lahir sampai umur
18 tahun. Gangguan adaptasi sosial menurut definisi ini secara
langsung disebabkan oleh penurunan fungsi intelektual

B. Klasifikasi
Uji intelegensia pertama kali diperkenalkan oleh seorang psikolog
Perancis yang bernama Alfred Binet dan Theodore Simon pada tahun 1900. 916
Dr Lewis Terman mengadaptasi pemeriksaan intelegensia berdasarkan skala Binet
tersebut di Stanford University. Saat ini uji intelegensia tersebut dinamakan
Stanford Binet Intelligence Scale yang sudah direvisi 4 kali yaitu tahun 1937,
1960, 1973, dan 1986. William Stern pada tahun 1912 membuat konsep
intelligence quotient (IQ) sebagai suatu perbandingan antara mental age (MA) dan
chronological age (CA)
IQ =


Pada tahun 1939 David Wechsler mempublikasikan suatu tes
intelegensia yang mengukur fungsi intelektual yang lebih global. Uji ini
kemudian disebut Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC) yang
kemudian direvisi tahun 1976 dan disebut Wechsler Intelligence Scale for
Children Revised (WISC-R), dan direvisi kembali tahun 1990 yang disebut WISC
third edition (WISC-III). Uji intelegensia tersebut dipakai untuk anak umur 6-16
4

tahun. Pada tahun 1966 dipublikasikan Wechsler Preschool and Primary Scale of
Intelligence (WPPSI) yang kemudian direvisi tahun 1989 disebut WPPSI-R,
untuk anak umur 4-61/2 tahun.2 Berdasarkan The ICD-10 Classification of
Mental and Behavioural Disorders, WHO, Geneva tahun 1994 retardasi mental
dibagi menjadi 4 golongan yaitu :
Mild retardation (retardasi mental ringan), IQ 50- 69
Moderate retardation (retardasi mental sedang), IQ 35-49
Severe retardation (retardasi mental berat), IQ 20-34
Profound retardation (retardasi mental sangat berat), IQ <20
1. Retardasi mental ringan
Retardasi mental ringan dikategorikan sebagai retardasi mental
dapat dididik (educable). Anak mengalami gangguan berbahasa tetapi
masih mampu menguasainya untuk keperluan bicara sehari-hari dan untuk
wawancara klinik. Umumnya mereka juga mampu mengurus diri sendiri
secara independen (makan, mencuci, memakai baju, mengontrol saluran
cerna dan kandung kemih), meskipun tingkat perkembangannya sedikit
lebih lambat dari ukuran normal. Kesulitan utama biasanya terlihat pada
pekerjaan akademik sekolah, dan banyak yang bermasalah dalam
membaca dan menulis. Dalam konteks sosiokultural yang memerlukan
sedikit kemampuan akademik, mereka tidak ada masalah. Tetapi jika
ternyata timbul masalah emosional dan sosial, akan terlihat bahwa mereka
mengalami gangguan, misal tidak mampu menguasai masalah perkawinan
atau mengasuh anak, atau kesulitan menyesuaikan diri dengan tradisi
budaya.

2. Retardasi mental sedang
Retardasi mental sedang dikategorikan sebagai retardasi mental
dapat dilatih (trainable). Pada kelompok ini anak mengalami
keterlambatan perkembangan pemahaman dan penggunaan bahasa, serta
pencapaian akhirnya terbatas. Pencapaian kemampuan mengurus diri
sendiri dan ketrampilan motor juga mengalami keterlambatan, dan
beberapa diantaranya membutuhkan pengawasan sepanjang hidupnya.
Kemajuan di sekolah terbatas, sebagian masih bisa belajar dasardasar
membaca, menulis dan berhitung.
5

3. Retardasi mental berat
Kelompok retardasi mental berat ini hampir sama dengan
retardasi mental sedang dalam hal gambaran klinis, penyebab organik,
dan keadaan-keadaan yang terkait. Perbedaan utama adalah pada
retardasi mental berat ini biasanya mengalami kerusakan motor yang
bermakna atau adanya defisit neurologis.

4. Retardasi mental sangat berat
Retardasi mental sangat berat berarti secara praktis anak sangat
terbatas kemampuannya dalam mengerti dan menuruti permintaan atau
instruksi. Umumnya anak sangat terbatas dalam hal mobilitas, dan
hanya mampu pada bentuk komunikasi nonverbal yang sangat
elementer.

C. Etiologi
Terjadinya retardasi mental tidak dapat dipisahkan dari tumbuh kembang
seorang anak. Seperti diketahui faktor penentu tumbuh kembang seorang anak
pada garis besarnya adalah3,4,5 faktor genetik/heredokonstitusional yang
menentukan sifat bawaan anak tersebut dan faktor lingkungan. Yang dimaksud
dengan lingkungan pada anak dalam konteks tumbuh kembang adalah suasana
(milieu) dimana anak tersebut berada. Dalam hal ini lingkungan berfungsi sebagai
penyedia kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang. Kebutuhan dasar anak
untuk tumbuh kembang ini secara garis besar dapat digolongkan menjadi 3
golongan, yaitu:
a. Kebutuhan fisis-biomedis (asuh)
- Pangan (gizi, merupakan kebutuhan paling penting)
- Perawatan kesehatan dasar (Imunisasi, ASI, penimbangan bayi
secara teratur, pengobatan sederhana, dan lain lain)
- Papan (pemukiman yang layak)
- Higiene, sanitasi
- Sandang
- Kesegaran jasmani, rekreasi
b. Kebutuhan emosi/kasih sayang (asih). Pada tahuntahun pertama
kehidupan hubungan yang erat, mesra dan selaras antara ibu dan anak
6

merupakan syarat mutlak untuk menjamin suatu proses tumbuh
kembang yang selaras, baik fisis, mental maupun sosial.
c. Kebutuhan akan stimulasi mental (asah). Merupakan cikal bakal
proses pembelajaran (pendidikan dan pelatihan) pada anak. Stimulasi
mental ini membantu perkembangan mental psikososial (kecerdasan,
ketrampilan, kemandirian, kreativitas, kepribadian, moral-etika dan
sebagainya). Perkembangan ini pada usia balita disebut sebagai
perkembangan psikomotor. Kelainan/penyimpangan tumbuh kembang
pada anak terjadi akibat gangguan pada interaksi antara anak dan
lingkungan tersebut, sehingga kebutuhan dasar anak tidak terpenuhi.
Keadaan ini dapat menyebabkan morbiditas anak, bahkan dapat
berakhir dengan kematian. Kalaupun kematian dapat diatasi, sebagian
besar anak yang telah berhasil tetap hidup ini mengalami akibat
menetap dari penyimpangan tersebut yang dikategorikan sebagai
kecacatan, termasuk retardasi mental. Jelaslah bahwa dalam aspek
pencegahan terjadinya retardasi mental praktek pengasuhan anak dan
peran orangtua sangat penting.
Etiologi retardasi mental dapat terjadi mulai dari fase pranatal, perinatal dan
postnatal. Beberapa penulis secara terpisah menyebutkan lebih dari 1000 macam
penyebab terjadinya retardasi mental, dan banyak diantaranya yang dapat dicegah.
Ditinjau dari penyebab secara langsung dapat digolongkan atas penyebab
biologis dan psikososial. Penyebab biologis atau sering disebut retardasi mental tipe
klinis mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Pada umumnya merupakan retardasi mental sedang sampai sangat berat
b. Tampak sejak lahir atau usia dini
c. Secara fisis tampak berkelainan/aneh
d. Mempunyai latar belakang biomedis baik pranatal, perinatal maupun
postnatal
e. Tidak berhubungan dengan kelas sosial
Penyebab psikososial atau sering disebut tipe sosiokultural mempunyai ciri-
ciri sebagai berikut :
a. Biasanya merupakan retardasi mental ringan
b. Diketahui pada usia sekolah
c. Tidak terdapat kelainan fisis maupun laboratorium
7

d. Mempunyai latar belakang kekurangan stimulasi mental (asah)
e. Ada hubungan dengan kelas sosial
Melihat struktur masyarakat Indonesia, golongan sosio ekonomi
rendah masih merupakan bagian yang besar dari penduduk, dapat
diperkirakan bahwa retardasi mental di Indonesia yang terbanyak adalah
tipe sosio-kultural.
Etiologi retardasi mental tipe klinis atau biologikal dapat dibagi dalam
1. Penyebab pranatal
a. Kelainan kromosom
b. Kelainan genetik /herediter
c. Gangguan metabolik
d. Sindrom dismorfik
e. Infeksi intrauterin
f. Intoksikasi
B. Penyebab perinatal
a. Prematuritas
b. Asfiksia
c. Kernikterus
d. Hipoglikemia
e. Meningitis
f. Hidrosefalus
g. Perdarahan intraventrikular
C. Penyebab postnatal
a. Infeksi (meningitis, ensefalitis)
b. Trauma
c. Kejang lama
d. Intoksikasi (timah hitam, merkuri)
Penyebab Pranatal
a. Kelainan kromosom
Kelainan kromosom penyebab retardasi mental yang terbanyak
adalah sindrom Down. Disebut demikian karena Langdon Down pada
tahun 1866 untuk pertama kali menulis tentang gangguan ini, yaitu bayi
yang mempunyai penampilan seperti mongol dan menunjukkan
keterbelakangan mental seperti idiot. Hal ini tidak sepenuhnya benar,
8

karena sebagian besar dari golongan ini termasuk retardasi mental sedang.
Sindrom Down merupakan 10-32% dari penderita retardasi mental.
Diperkirakan insidens dari sindrom Down antara 1-1,7 per 1000 kelahiran
hidup per tahun. Risiko timbulnya sindrom Down berkaitan dengan umur
ibu saat melahirkan. Ibu yang berumur 20-25 tahun saat melahirkan
mempunyai risiko 1:2000, sedangkan ibu yang berumur 45 tahun
mempunyai risiko 1:30 untuk timbulnya sindrom Down. Analisis
kromosom pada sindrom Down 95% menunjukkan trisomi 21,
sedangkan 5% sisanya merupakan mosaik dan translokasi. Kelainan
kromosom lain yang bermanifestasi sebagai retardasi mental adalah
trisomi-18 atau sindrom Edward, dan trisomi-13 atau sindrom Patau,
sindrom chat, sindrom Klinefelter, dan sindrom Turner. Berdasarkan
pengamatan ternyata kromatin seks, yang merupakan kelebihan
kromosom -X pada laki-laki lebih banyak ditemukan di antara penderita
retardasi mental dibandingkan laki-laki normal. Diperkirakan kelebihan
kromosom-X pada laki-laki memberi pengaruh tidak baik pada kesehatan
jiwa, termasuk timbulnya psikosis, gangguan tingkah laku dan
kriminalitas. Kelainan kromosom-X yang cukup sering menimbulkan
retardasi mental adalah Fragile-X syndrome, yang merupakan kelainan
kromosom-X pada band q27. Kelainan ini merupakan X-linked, dibawa
oleh ibu. Penampilan klinis yang khas pada kelainan ini adalah dahi yang
tinggi, rahang bawah yang besar, telinga panjang, dan pembesaran testis.
Diperkirakan prevalens retardasi mental yang disebabkan fragile-X
syndrome pada populasi anak usia sekolah adalah 1 : 2610 pada laki-laki,
dan 1: 4221 pada perempuan.3,12
b. Kelainan metabolik
Kelainan metabolik yang sering menimbulkan retardasi mental
adalah Phenylketonuria (PKU), yaitu suatu gangguan metabolik dimana
tubuh tidak mampu mengubah asam amino fenilalanin menjadi tirosin
karena defisiensi enzim hidroksilase. Penderita laki-laki tenyata lebih
besar dibandingkan perempuan dengan perbandingan 2:1. Kelainan ini
diturunkan secara autosom resesif. Diperkirakan insidens PKU adalah
1:12 000-15 000 kelahiran hidup. Penderita retardasi mental pada PKU
66,7% tergolong retardasi mental berat dan 33,3% retardasi mental
9

sedang.1,3,4 Galaktosemia adalah suatu gangguan metabolisme
karbohidrat disebabkan karena tubuh tidak mampu menggunakan
galaktosa yang dimakan. Dengan diet bebas galaktosa bayi akan
bertambah berat badannya dan fungsi hati akan membaik, tetapi menurut
beberapa penulis perkembangan mental tidak mengalami
perubahan.Penyakit Tay-Sachs atau infantile amaurotic idiocy adalah
suatu gangguan metabolisme lemak, dimana tubuh tidak bisa mengubah
zat-zat pralipid menjadi lipid yang diperlukan oleh sel-sel otak.
Manifestasi klinis adalah nistagmus, atrofi nervus optikus, kebutaan, dan
retardasi mental sangat berat. Hipotiroid kongenital adalah defisiensi
hormon tiroid bawaan yang disebabkan oleh berbagai faktor (agenesis
kelenjar tiroid, defek pada sekresi TSH atau TRH, defek pada produksi
hormon tiroid). Kadang-kadang gejala klinis tidak begitu jelas dan baru
terdeteksi setelah 6-12 minggu kemudian, padahal diagnosis dini sangat
penting untuk mencegah timbulnya retardasi mental atau paling tidak
meringankan derajat retardasi mental. Gejala klasik hipotiroid kongenital
pada minggu pertama setelah lahir adalah miksedema, lidah yang tebal
dan menonjol, suara tangis yang serak karena edema pita suara, hipotoni,
konstipasi, bradikardi, hernia umbilikalis. Prevalens hipotiroid
kongenital berkisar 1:4000 neonatus di seluruh dunia. Defisiensi yodium
secara bermakna dapat menyebabkan retardasi mental baik di negara
sedang berkembang maupun di negara maju. Diperkirakan 600 juta
sampai 1 milyar penduduk dunia mempunyai risiko defisiensi yodium,
terutama di negara sedang berkembang. Penelitian WHO1 mendapatkan
710 juta penduduk Asia, 227 juta Afrika, 60 juta Amerika Latin, dan 20-
30 juta Eropa mempunyai risiko defisiensi yodium. Akibat defisiensi
yodium pada masa perkembangan otak karena asupan yodium yang
kurang pada ibu hamil meyebabkan retardasi mental pada bayi yang
dilahirkan. Kelainan ini timbul bila asupan yodium ibu hamil kurang dari
20 ug ( normal 80-150 ug) per hari. Dalam bentuk yang berat kelainan
ini disebut juga kretinisme, dengan manisfestasi klinis adalah
miksedema, kelemahan otot, letargi, gangguan neurologis, dan retardasi
mental berat. Di daerah endemis, 1 dari 10 neonatus mengalami retardasi
mental karena defisiensi yodium.
10

c. Infeksi
Infeksi rubela pada ibu hamil triwulan pertama dapat
menimbulkan anomali pada janin yang dikandungnya. Risiko timbulnya
kelainan pada janin berkurang bila infeksi timbul pada triwulan kedua
dan ketiga. Manifestasi klinis rubela kongenital adalah berat lahir
rendah, katarak, penyakit jantung bawaan, mikrosefali, dan retardasi
mental. Infeksi cytomegalovirus tidak menimbulkan gejala pada ibu
hamil tetapi dapat memberi dampak serius pada janin yang
dikandungnya. Manifestasi klinis antara lain hidrosefalus, kalsifikasi
serebral, gangguan motorik, dan retardasi mental.
d. Intoksikasi
Fetal alcohol syndrome (FAS) merupakan suatu sindrom yang
diakibatkan intoksikasi alkohol pada janin karena ibu hamil yang minum
minuman yang mengandung alkohol, terutama pada triwulan pertama. Di
negara Amerika Serikat FAS merupakan penyebab tersering dari
retardasi mental setelah sindrom Down. Insidens FAS berkisar antara 1-3
kasus per 1000 kelahiran hidup. Pada populasi wanita peminum
minuman keras insidens FAS sangat meningkat yaitu 21-83 kasus per
1000 kelahiran hidup, padahal di Eropa dan Amerika 8% wanita
merupakan peminum minuman keras.
2. Penyebab Perinatal
Koch menulis bahwa 15-20% dari anak retardasi mental
disebabkan karena prematuritas. Penelitian dengan 455 bayi dengan
berat lahir 1250 g atau kurang menunjukkan bahwa 85% dapat
mempelihatkan perkembangan fisis rata-rata, dan 90% memperlihatkan
perkembangan mental rata rata. Penelitian pada 73 bayi prematur dengan
berat lahir 1000 g atau kurang menunjukkan IQ yang bervariasi antara
59-142, dengan IQ rata-rata 94. Keadaan fisis anak-anak tersebut baik,
kecuali beberapa yang mempunyai kelainan neurologis, dan gangguan
mata. Penulis-penulis lain berpendapat bahwa semakin rendah berat
lahirnya, semakin banyak kelainan yang dialami baik fisis maupun
mental. Asfiksia, hipoglikemia, perdarahan intraventrikular, kernikterus,
meningitis dapat menimbulkan kerusakan otak yang ireversibel, dan
merupakan penyebab timbulnya retardasi mental.
11

3. Penyebab Postnatal
Faktor-faktor postnatal seperti infeksi, trauma, malnutrisi,
intoksikasi, kejang dapat menyebabkan kerusakan otak yang pada
akhirnya menimbulkan retardasi mental.
4. Etiologi pada Kelompok SosioKultural
Proses psikososial dalam keluarga dapat merupakan salah satu
penyebab retardasi mental. Sebenarnya bermacam-macam sebab dapat
bersatu untuk menimbulkan retardasi mental. Proses psikososial ini
merupakan faktor penting bagi retardasi mental tipe sosio-kultural, yang
merupakan retardasi mental ringan.

D. Diagnosis dan Gejala klinis
Dengan melakukan skrining secara rutin misalnya dengan menggunankan
DDST (Denver Developmental Screening Test), maka diagnosis dini dapat segera
dibuat. Demikian pula anamnesis yang baik dari orang tuanya, pengasuh atau
gurunya, sangat membantu dalam diagnosis kelainan ini. Setelah anak berumur 6
tahun dapat dilakukan test IQ. Sering kali hasil evaluasi medis tidak khas dan
tidak dapat diambl kesimpulan. Pada kasusu seperti ini, apabila tidak ada kelainan
pada system susunan saraf pusat, perlu, anamnesis yang teliti apakah ada keluarga
yang cacat, mencari masalah lingkungan/factor nonorganic lainnya dimana
diperkirakan mempengaruhi kelainan pada otak anak.
Gejala klinis retardasi mental terutama yang berat sering disertai beberapa
kelainan fisik yang merupakan stigmata kongenita, yang kadang-kadang
gambaran stigmata mengarah kesuatu sindrom penyakit tertentu. Dibawah ini
beberapa kelainan fisik dan gejala yang sering disertai retardasi mental, yaitu :
1. Kelainan pada mata :
Katarak
Bintik cherry-merah pada daerah macula
Kornea keruh
2. Kejang :
Kejang umum tonik klonik
Kejang pada masa neonatal
3. Kelainan pada kulit :
Bintik-caf-au-lait
12

4. Kelainan rambut :
Rambut rontok
Rambut cepat memutih
Rambut halus
5. Kepala :
Mikrosefali
Makrosefali
6. Perawakan pendek :
Kretin
Sindrom prader-willi
7. Distonia :
Sindrom hallervorden

Sedangkan gejala dari retardasi mental tergantung dari tipenya, adalah sebagai
berikut :
A. Retardasi mental ringan
Kelompok ini merupakan bagian terbesar dari retardasi mental.
Kebanyakan dari kelompok ini termasuk dalam tipe social budaya, dan
diagnosis dibuat setelah anak beberapa kali tidak naik kelas. Golongan ini
termasuk mampu didik, artinya selain dapat diajar baca tulis bahkan
sampai kelas 4-6 SD, juga bias silatih keterampilan tertentu sebagai bekal
hidupnya kelak dan mampu mandiri seperti orang dewasa yang normal.
Tetapi pada umumnya mereka ini kurang mampu menghadapi stress
sehingga tetap membutuhkan bimbingan dari keluarganya.
B. Retardasi mental sedang
Kelompok ini kira-kira 12% dari seluruh penderita retardasi
mental, mereka ini mampu latih tetapi tidak mampu didik. Taraf
kemampuan intelektualnya hanya dapat sampai kelas 2 SD saja, tetapai
dapat dilatih menguasai suatu keterampilan tertentu misalnya
pertukangan,pertanian dll. Dan apabila bekerja nanti mereka ini perlu
pengawasan.Mereka juga perlu dilatih bagaimana mengurus diri
sendiri.Kelompok ini juga kurang mampu menghadapi stress dan kurang
dapat mandiri,sehingga memerlukan bimbingan dan pengawasan.
C. Retardasi mental berat
13

Sekitar 7% dari seluruh penderita retardasi mental masuk
kelompok ini.Diagnosis mudah ditegakkan secara dini,karena selain
adanya gejala fisik yang menyertai juga berdasarkan keluhan dari orang
tua dimana anak sejak awal sudah tedapat keterlambatan perkembangan
motorik dan bahasa.Kelompok ini termasuk tipe klinik.Mereka dapat
dilatih hygiene dasar saja dan kemampuan berbicara yang sederhana,tidak
dapat dilatih keterampilan kerja,dan memerlukan pengawasan dan
bimbingan sepanjang hidupnya.
D. Retardasi mental sangat berat
Kelompok ini sekitar 1% dan termasuk dalam tipe klinik.Diagnosa
ini mudah dibuat karena gejala baik mental dan fisik sangat
jelas.Kemampuan berbahasanya sangat minimal.Mereka ini seluruh
hidupnya tergantung pada orang di sekitarnya

E. Uji Laboratorium Dan Diagnostik
a. Uji intelegensi standar ( stanford binet, weschler, Bayley Scales of infant
development )
b. Uji perkembangan seperti DDST II
c. Pengukuran fungsi adaftif ( Vineland adaftive behaviour scales,v Woodcock-
Johnson Scales of independent Behaviour, School edition of the adaptive
behaviour scales )

F. Penatalaksanaan
a. Obat-obat psikotropika ( tioridazin,Mellaril untuk remaja dengan perilaku
yang membahayakan diri sendiri
b. Psikostimulan untuk remaja yang menunjukkan tanda-tanda gangguan
konsentrasi/gangguan hyperaktif.
c. Antidepresan ( imipramin (Tofranil)
d. Karbamazepin ( tegrevetol) dan propanolol ( Inderal )
e. Meningkatkan perkembangan otak yang sehat dan penyediaan pengasuhan
dan lingkungan yang merangsang pertumbuhan
f. Harus memfokuskan pada kesehatan biologis dan pengalaman kehidupan
awal anak yang hidup dalam kemiskinan dalam hal ini ;
- perawatan prenatal
14

- pengawasan kesehatan regular
- pelayanan dukungan keluarga
Penatalaksanaan anak dengan retardasi mental adalah multidimensi
dan sangat individual. Tetapi perlu diingat bahwa tidak semua anak
penanganan multidisiplin merupakan jalan yang baik. Sebaiknya dibuat
rancangan suatu strategi pendekatan bagi setiap anak secara individual untuk
mengembangkan potensi anak tersebut seoptimal mungkin. Untuk itu perlu
melibatakn psikolog untuk menilai perkembangan mental anak terutama
kemampuan kognitifnya,dokter anak untuk memeriksa fisik anak,menganalisis
penyebab,dan mengobati penyakit atau kelainan yang mungkin ada. Juga
kehadiran pekerja social kadang-kadanng diperlukan untuk menilai situasi
keluarganya. Atas dasar itu maka buatlah strategi terapi. Seringkali melibatkan
lebih banyak ahli lagi,misalnya ahli saraf bila anka juga menderita
epilepsi,palsiserebral,dll. Psikiater,bila anaknya menunjukkan kelainan
tingkah laku atau bila orang tuanya membutuhkan dukungan terapi keluarga.
Ahli rehabilitasi,bila diperlukan untuk merangsang perkembangan motorik dan
sensoriknya. Ahli terapi wicara,untuk memperbaiki gangguan bicaranya atau
untuk merangsang perkembangan bicarnya. Serta diperlukan buruh pendidikan
luar biasa untuk anak-anak yang retardasi mental ini.
Pada orang tuanya perlu diberi penerangan yang jelas mengenai
keadaan anaknya, dan apa yang dapat diharapkan dari terapi yang diberikan.
kadang-kadang diperlukan waktu yang lama untuk meyakinkan orang tua
mengenai keadaan anaknya, maka perlu konsultasi pula dengan psikolog dan
psikiater. Disamping itu diperlukan kerja sama yang baik antara guru dengan
orang tuanya,agar tidak terjadi kesimpang siurandalam strategi penanganan
anak disekolah dan dirumah. Anggota keluarga lainnya juga harus diberi
pengertian. Disamping itu masyarakat perlu diberikan penerangan tenteng
retardasi mental,agar mereka dapat menerima anak
Sekolah khusus untuk anak retardasi mental ini adalah SLB-C.Di
sekolah ini diajarkan keterampilan-keterampilan dengan harapan mereka dapat
mandiri dikemudian hari. Diajarkan pula tentang baik buruknya suatu tindakan
tertentu,sehingga mereka diharapkan tidak melakukan tindakan yang tidak
terpuji,seperti mencuri,merampas,kejahatan seksual,dll.
15

Semua anak yang retardasi mental ini juga memerlukan perawatan
seperti pemeriksaan kesehatan yang rutin,imunisasi,dan monitoring terhadap
tumbuh kembangnya. Anak-anak ini sering juga disertai dengan kelainan fisik
yang memerlukan penanganan khusus.

G. Pencegahan dan Pengobatan Retardasi Mental
a. Pencegahan Primer
Dapat dilakukan dengan pendidikan kesehatan pada masyarakat, perbaikan
keadaan sosio ekonomi, konseling genetik dan tindakan kedokteran (misal
: pertolongan persalinan yang baik, pengurangan kehamilan pada wanita di
atas 40 tahun tahun dan pencegahan peradangan otak pada anak.
b. Pencegahan Sekunder
Meliputi diagosa dan pengobatan dini peradangan otak, perdarahan
subdural, kraniostenosis (sutura tngkorak menutup terlalu cepat)
c. Pencegahan tersier
Merupakan pendidikan penderita atau latihan khusus sebaiknya di sekolah
luar biasa. Dapat diberi neuroleptika kepada yang gelisah, hiperaktif atau
destruktif.
Konseling kepada orang tua dilakukan secara fleksibel dan pragmatis
dengan tujuan antara lain membantu mereka dalam mengatasi frustasi oleh
karena mempunyai anak dengan retardasi mental.
Latihan dan pendidikan Retardasi Mental
Pendidikan dengan retardasi mental secara umum adalah :
- Mempergunakan dan mengembangkan sebaik-baiknya kapasita
yang ada
- Memperbaiki sifat-sifat yang salah atau anti sosial
- Mengajarkan suatu keahlian (skill) agar anak itu dapat mencari
nafkah kelak
Latihan diberikan secara kronologis meliputi :
- Latihan rumah : pelajaran-pelajaran mengenai makan sendiri,
berpakaian sendiri, kebersihan badan
- Latihan sekolah : yang penting dalam hal ini ialah perkembangan
sosial
16

- Latihan teknis : diberikan sesuai dengan minat, jenis kelamin dan
kedudukan sosial
- Latihan moral : dari kecil anak harus diberitahukan apa yang baik
dan apa yang tidak baik, agar ia mengerti maka tiap-tiap
pelanggaran disiplin perlu disertai dengan hukuman dan tiap
perbuatan yang baik perlu diberi hadiah.




























17

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGN RETARDASI MENTAL

1. Pengkajian
Pengakjian dapat dilakukan melalui:
a. Neuroradiologi dapat menemukan kelainan dalam struktur kranium,
misalnya klasifikasi atau peningkatan tekanan intrakranial.
b. Ekoesefalografi dapat memperlihatkan tumor dan hamatoma.
c. biopsi otak hanya berguna pada sejumlah kecil anak retardasii mental.
Juga tidak mudah bagi orang tua untuk menerima pengambilan
jaringan otak dalan jumlah kecil sekalipun karena dianggap
menambah kerusakan otak yang memang tidak adekuat.
d. Penelitian bio kimia menentukan tingkat dari berbagai bahan
metabolik yang diketahui mempengaruhi jaringan otak jika tidak
ditemukan dalam jumlah besar atau kecil, misalnya hipeglekimia pada
neonatus prematur, penumpukan glikogen pada otot dan neuron,
deposit lemak dalam otak dan kadar fenilalanin yang tinggi.
Atau dapat melakukan pengkajian sebagai berikut:
1. Lakukan pengkajian fisik.
2. Lakukan pengkajian perkembangan.
3. Dapatkan riwayat keluarga, teruma mengenai retardasi mental dan
gangguan herediter dimana retardasi mental adalah salah satu
jenisnya yang utama
4. Dapatkan riwayat kesehatan unutk mendapatkan bukti-bukti adanya
trauma prenatal, perinatal, pascanatal, atau cedera fisik.
5. Infeksi maternal prenatal (misalnya, rubella), alkoholisme, konsumsi
obat.
6. Nutrisi tidak adekuat.
7. Penyimpangan lingkungan.
8. Gangguan psikiatrik (misalnya, Autisme).
9. Infeksi, teruma yang melibatkan otak (misalnya, meningitis,
ensefalitis, campak) atau suhu tubuh tinggi.
10. Abnormalitas kromosom.
18

11. Bantu dengan tes diagnostik misalnya: analis kromosom,
disfungsimetabolik, radiografi, tomografi, elektro ersafalografi.
12. Lakukan atau bantu dengan tes intelegensia. Stanford, binet,
Wechsler Intellence, Scale, American Assiciation of Mental
Retardation Adaptif Behavior Scale.
13. Observasi adanya manifestasi dini dari retardasi mental:
Tidak responsive terhadap kontak.
Kontak mata buruk selama menyusui.
Penurunan aktivitas spontan
Penurunan kesadaran terhadap suara getaran
Peka rangsang.
Menyusui lambat.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan
kerusakan fungsi kognitf.
b. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak
yang menderita retardasi mental.
c. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b.d kelainan fs. Kognitif
d. Gangguan komunikasi verbal b.d kelainan fs, kognitif
e. Risiko cedera b.d. perilaku agresif/ketidakseimbangan mobilitas fisik
f. Gangguan interaksi sosial b.d. kesulitan bicara /kesulitan adaptasi
sosial
g. Gangguan proses keluarga b.d. memiliki anak RM
h. Defisit perawatan diri b.d. perubahan mobilitas fisik/kurangnya
kematangan perkembangan
3. Intervensi
a. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan
kerusakan fungsi kognitf.
Hasil yang ingin dicapai
- Anak dan keluarga aktif terlibat dalam program stimulai bayi.
- Keluarga menerapkan konsep-konsep dan melanjutkan aktivitas
perawatan anak di rumah.
- Anak melakukan aktivitas hidup sehari-hari pada kapasitas optimal
19

Intervensi keperawatan / rasional.
1. Libatkan anak dan keluarga dalam program stimulasi dini pada
bayii
Rasional : untuk membantu memaksimalkan perkembangan anak.
2. Kaji kemajuan perkembangan anak dengan interval regular, buat
catatan yang terperinci untuk membedakan perubahan fungsi
samar
Rasional : sehingga rencana perawatan dapat diperbaiki sesuai
kebutuhan.
3. Bantu keluarga menyusun tujuan yang realitas untuk anak,
Rasional : untuk mendorong keberhasilan pencapaian sasaran dan
harga diri.
4. Berikan penguatan positif / tugas-tugas khusus untuk perilaku
anak
Rasional : karena hal ini dapat memperbaiki motivasi dan
pembelajaran.
5. Berikan pada remaja informasi praktik sosial dan kode prilaku
yang kongkrit dan terdefinisi dengan baik,
Rasional : karena kemudahan persuasi anak dan kurangnya
penilaian dapat membuat anak nerada pada resiko berbahaya.

b. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak yang
menderita retardasi mental.
Hasil yang diharapkan
- Keluarga mengekspresikan perasaan dan kekhawatiran
mengenai kelahiran anak dengan retardasi mental dan
impikasinya.
- Anggota keluarga membuat keputusan yang realistik
berdasarkan kebutuhan dan kemampuan mereka.
- Anggota keluarga menunjukan penerimaan terhadap anak.

Intervensi keperawatan / rasional.
1. Berikan informasi pada keluarga sesegera mungkin pada saat
atau setelah kelahiran.
20

Rasional ; Agar keluarga mampu menerima keadaan yang
sesungguhnya.
2. Ajak kedua orang tua untuk hadir pada konferensi pemberian
informasi.
Rasional : Agar orang tua mendapatkan banyak informasi
tentang retardasi mental.
3. Diskusikan dengan anggota keluarga tentang manfaat dari
perawatan dirumah, beri kesempatan pada mereka untuk
menyelidiki semua alternatif residensial sebelummembuat
keputusan.
Rasional : Agar mereka dapat mengambil keputusan yang
terbaik bagi mereka dan anaknya.
4. Dorong keluarga untuk~ bertemu dengan keluarga lain yang
mempunyai masalah yang sama
Rasional : sehingga mereka dapat menerima dukungan
tambahan

4. Evaluasi
- Pasien mencapai potensi pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.
- Keluarga mampu menerima keadaan yang anaknya yang retardasi mental.














21

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Retardasi mental adalah bentuk gangguan atau kekacauan fungsi mental
atau kesehatan mental yang disebabkan oleh kegagalan mereaksinya mekanisme
adaptasi dari fungsi-fungsi kejiwaan terhadap stimulus eksteren dan ketegangan-
ketegangan sehingga muncul gangguan fungsi atau gangguan struktur dari suatu
bagian, satu organ, atau sistem kejiwaanmental. Retardasi mental bisa saja
terjadi pada setiap individu / manusia karena adanya faktor-faktor dari dalam
maupun dari luar, gejala yang ditimbulkan pada penderita retardasi mental
umumnya rasa cemas, takut, halusinasi serta delusi yang besar.
B. Saran
- Disarankan kepada para ibu agar memperhatikan kesehatan dirinya seperti
memperhatikan gizi, hati-hati mengkonsumsi obat-obatan dan mengurangi
kebiasaan buruk seperti: minum-minuman keras dan merokok.
- Pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan perlu melakukan langkah
prepentif guna menanggulangi gangguan mental yang dapat membahayakan
kesehatan anak dan remaja caranya yaitu dengan menggalakkan penyuluhan
tentang retardasi mental kepada masyarakat.