You are on page 1of 8

Mayoritas mouthwash mengandung bahan aktif, alkohol, penyegar, air dan bahan lain.

Bahan
aktif yang ada pada mayoritas mouthwash antara lain: Povidone iodine, Carbenoxolone sodium,
Chlorthexidine gluconate sebagai antiseptik dan desinfektan, Chlorbutanol hemihydrate
merupakan antiseptik untuk membunuh bakteri, virus dan jamur, Benzydamine hydrochloride
yang menghambat kerja suatu substansi dari tubuh yang disebut cyclo-oxygenase yang
memproduksi berbagai zat-zat kimia tubuh termasuk prostaglandin. Terdapat juga pewarna dan
pemanis dalam mouthwash untuk menarik dan meningkatkan rasa nyaman konsumen.[3]
Menurut Robin Seymour, profesor perbaikan masalah gigi dari Newcastle University, saat ini
banyak produk mouthwash yang mengandung alkohol hingga 26 persen per satu kemasan.
Alkohol bekerja sebagai agen 'pembawa' yang mengoptimalkan fungsi menthol, eucalyptol dan
thymol untuk menembus lapisan luar gigi dan menyingkirkan plak. Juga sebagai pemberi kesan
kesat dan bersih di mulut.
Banyak penduduk muslim baik di dalam maupun di luar negeri yang khawatir akan
kehalalan mouthwash yang mengandung alkohol ini. Alkohol yang mencapai 26% ini
dimungkinkan dapat ikut tertelan dalam proses berkumur dan masuk ke dalam tubuh kita.
Penggunaan mouthwash yang mengandung alkohol perlu diperhatikan terutama untuk anak-anak.
Banyak orang yang sebetulnya menyukai rasa alkohol ini, karena itu kalau tidak hati-hati
mouthwash ini akhirnya sengaja atau tidak, ditelan/tertelan dan akhirnya jadi kebiasaan buruk.
Selain ditakutkan dapat menelan bahan beralkohol, mouthwash yang beralkohol juga dapat
membuat mulut menjadi kering. Mouthwash yang tinggi kadar alkoholnya juga dapat merusak
jaringan di dalam mulut. Menurut Dr Lewis West, dokter gigi asal Toronto, pada sebagian orang
alkohol dapat menyebabkan gigi menjadi lebih sensitif.

Akibat sampingan dari alkohol pada mouthwash yang lain adalah mengurangi produksi air liur
yang akan memperparah bau mulut dan mengiritasi mukosa, menyebabkan penebalan jaringan
mukosa serta meningkatkan risiko terjadinya kanker mukosa mulut. Di samping itu, asetaldehid
yang berasal dari dari alkohol yang terurai ketika kita mulut gencar berkumur boleh jadi akan
berakumulasi didalam mulut. Asetaldehid juga termasuk sebagai karsinogen, zat yang dapat
memicu timbulnya kanker. Alkohol juga dapat mempengaruhi lidah sehingga mengganggu kerja
indera pengecapan.
Alkohol sebagai Campuran dalam Obat
Adapun mencampurkan sebagian obat dengan sedikit alkohol maka hal ini tidaklah menjadikan
haramnya obat-obat tersebut jika campurannya sedikit, di mana tidak tampak bekasnya setelah
tercampur. Hal ini merupakan pendapat para ulama. Alkohol juga begitu penting dalam bidang
farmasi dan pengobatan, sebagaimana perkataan Syaikh Muhammad Rosyid
Ridho rohimahulloh dalam fatawa beliau -yang dinukil oleh Syaikh Ibnu
Utsaimin rohimahulloh- mengatakan, Kesimpulannya bahwasanya alkohol adalah dzat yang
suci dan mensucikan dan merupakan dzat yang sangat penting dalam bidang farmasi dan
pengobatan, kedokteran, serta pabrik-pabrik. Dan alkohol menjadi campuran dalam obat-obatan
yang sangat banyak sekali. Pengharaman penggunaan alkohol bagi kaum muslimin (sebagai
campuran obat-pen) akan menghalangi mereka untuk menjadi ahli (pakar) pada bidang ilmu
dan proyek.[4] Dan pengharaman penggunaan alkohol bisa jadi merupakan sebab terbesar
meninggalnya orang-orang yang sakit dan yang terluka atau menyebabkan lama sembuhnya
penyakit mereka atau semakin parah sakit mereka.

Jadi, halal atau haramkah?
Alkohol sendiri pada mouthwash yang sejatinya tidak untuk ditelan sebenarnya diperbolehkan,
namun disamping boleh atau tidaknya alkohol dalam mouthwash ini, terdapat banyak sekali
kemudhorotan dari efek samping yang ditimbulkan, mulai dari iritasi mukosa, peradangan,
memperparah bau mulut, menganggu kerja indera pengecapan, gigi menjadi sensitif, kanker
mukosa mulut, bahkan menjadi kebiasaan untuk menelan rasa enak yang ditimbulkan alkohol
pada mouthwash ini. Untuk kebiasaan penelanan mouthwash beralkohol yang sifatnya bisa
menjadi aditif, jelas urusannya menjadi haram.

Alangkah baiknya apabila kita menghindari kemudhorotan yang terjadi dari efek
samping mouthwash beralkohol dengan memilih mouthwash yang tidak beralkohol, atau
membuatnya sendiri di rumah dengan cara tradisional, salah satunya dengan daun sirih. Dengan
mencuci bersih beberapa lembar daun sirih lalu direbus dengan 1,5 gelas air. Setelah dingin, air
rebusan ini digunakan untuk berkumur setelah gosok gigi, sebagai pengganti mouthwash. Dari
penelitian yang dilakukan di Laboratorium Biokimia Institut Pertanian Bogor (IPB) terungkap,
minyak asiri dalam daun sirih memiliki aktivitas antibakteri yang cukup besar. Berkumur daun
sirih juga dapat menguatkan gigi, menyembuhkan luka kecil di mulut, menghilangkan bau mulut,
dan menghentikan perdarahan gusi[5]. Cara herbal ini tentu jauh lebih baik daripada
menggunakan mouthwash beralkohol yang justru dapat membahayakan kesehatan mulut. (rim)


[1] Shelley Moore, History of Mouthwash, http://www.ehow.com/about_4596013_history-of-
mouthwash.html, 2 Januari 2011
[2] A.N.A Andayani, The study of Listerine Consumer Behavior in Jakarta, Master Theses
from MBIPB, 2010, ph. 67
[3] Rani Larasati, Efek Mouthwash, http://www.thedentistblog.blogspot.com/
[4] Muhammad Abduh Tuasikal, Salah Kaprah Alkohol dan
Khamr, http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/2888-salah-kaprah-dengan-alkohol-dan-
khomr.html, 27 Januari 2010
[5] Anonim, Herbal Penangkal Bau Mulut, 12 Maret 2012
Hukum Menggunakan Alkohol
Sebagai Antiseptik
Jun 19
Posted by Fadhl Ihsan
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para
sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.
Mungkin beberapa orang masih ragu untuk menggunakan alkohol antiseptik untuk mengobati
luka dan lainnya. Sebagai jalan agar tidak merasa ragu lagi, silakan membaca artikel berikut ini.
Semoga Allah memberi kepahaman.
Pengertian Antiseptik
Antiseptik adalah larutan antimikroba yang digunakan untuk mencegah infeksi [1], sepsis [2],
dan putrefaksi. Antiseptik berbeda dengan antibiotik dan disinfektan. Antibiotik digunakan untuk
membunuh mikroorganisme di dalam tubuh, dan disinfektan digunakan untuk membunuh
mikroorganisme pada benda mati. Beberapa antiseptik merupakan germisida, yaitu mampu
membunuh mikroba, dan ada pula yang hanya mencegah atau menunda pertumbuhan mikroba
tersebut. Antibakterial adalah antiseptik yang hanya dapat dipakai melawan bakteri. [3]
Di antara contoh antiseptik adalah alkohol. Ini adalah jenis antiseptik yang cukup potensial,
bekerja dengan cara menggumpalkan protein yang merupakan struktur utama dari kuman
sehingga kumannya mati. Alkohol antiseptik relatif aman untuk kulit. Jenis yang digunakan
biasanya adalah etil alkohol atau etanol dengan konsentrasi 60-90%. Jenis alkohol lainnya adalah
1-propanol (6070%) and 2-propanol/isopropanol (7080%) atau bisa jadi campuran dari jenis-
jenis alkohol tadi. [4] Efek sampingnya, menimbulkan rasa terbakar bila digunakan pada kulit
yang terkelupas.
Bedakan Antara Alkohol dan Khomr
Perlu dipahami sekali lagi, kata alkohol digunakan untuk mengungkapkan salah satu dari tiga
hal berikut:
Pertama: Alkohol untuk senyawa kimia yang memiliki gugus fungsional OH, dan senyawanya
biasa diakhiri kata alkohol atau nol. Contohnya, kandungan alkohol dalam madu lebah adalah:
benzyl alkohol, beta-methallyl alkohol, ethanol, isobutanol, 2-butanol, 2-methyl-1-butanol, 3-
methyl-1-butanol, 3-methyl-1-butanol, 3-pentanol, n-butanol, n-pentanol, n-propanol,
phenylethyl alkohol.
Kedua: Alkohol biasa digunakan untuk menyebut etanol (C2H5OH). Semacam yang biasa kita
temui dalam parfum, antiseptik, mouthwash, deodorant, kosmetik, dsb.
Ketiga: Alkohol untuk minuman keras. Minuman ini biasa disebut minuman beralkohol (alcohol
beverage) atau alkohol saja, dan sifatnya memabukkan. Di dalam minuman ini terdapat unsur
etanol, namun bukan keseluruhannya.
Dari penjelasan di atas, etanol yang terdapat dalam antiseptik masuk dalam kategori yang kedua.
Dan perlu kami tekankan sekali lagi, alkohol yang jelas-jelas diharamkan adalah alkohol yang
sifatnya memabukkan yaitu alkohol kategori ketiga. Dalil pengharamannya terdapat dalam Al
Quran Al Karim. Allah Taala berfirman,


Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khomr, berjudi, (berkorban untuk)
berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah rijsun termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah
perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud
hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar
dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah
kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS. Al Ma-idah: 90-91)
Yang dimaksudkan dengan khomr dalam ayat di atas dijelaskan dalam sabda Nabi shallallahu
alaihi wa sallam,


Setiap yang memabukkan adalah khomr. Setiap yang memabukkan pastilah haram. [5]
Jadi, khomr adalah segala sesuatu yang memabukkan. Oleh karenanya, semua minuman keras
menjadi haram dikarenakan definisi ini, baik itu bir, wiski, vodka, rhum, dan lainnya. Inilah yang
jelas-jelas haramnya. Walaupun itu diminum satu tetes dan tidak menimbulkan mabuk karena
sedikit, tetap dinilai haram, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,


Sesuatu yang apabila banyaknya memabukkan, maka meminum sedikitnya dinilai haram. [6]
Artinya jika miras dalam jumlah banyak diminum bisa memabukkan, maka minum satu tetes saja
tetap haram walaupun itu tidak memabukkan.
Sedangkan alkohol yang masuk dalam kategori pertama dan kedua tidak bisa kita katakan haram.
Karena sekali lagi, illah (sebab) pelarangan khomr adalah karena memabukkan dan bukan
sekedar alkohol atau etanol yang terkandung di dalamnya. Begitu pula dalam Al Quran dan Al
Hadits tidak pernah sama sekali mengharamkan alkohol atau etanol, yang diharamkan adalah
khomr.
Oleh karenanya, untuk alkohol kategori pertama dan kedua kita kembalikan ke kaedah, Hukum
asal segala sesuatu adalah halal [7]. Dasarnya adalah firman Allah,


Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak
menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS.
Al Baqarah: 29)


Katakanlah: Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya
untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik? (QS. Al
Arof: 32)
Perbedaan alkohol (etanol) dan minuman beralkohol (arak) sangat jelas kita lihat dari reaksinya:
1. Alkohol (etanol) dibentuk dari petrokimia (proses dari bahan bakar fosil) melalui hidrasi
etilena.
2. Minuman beralkohol (arak) dibentuk dari melalui fermentasi gula dengan ragi (yeast).
Reaksi sederhana pembentukan etanol:
C2H4 (g) + H2O (g) C2H5OH (l)
Reaksi sederhana pembentukan minuman beralkohol:
C6H12O6 2C2H5OH + 2CO2
Perbedaan khas lainnya antara etanol dan minuman beralkohol, yaitu asalnya, etanol murni atau
etanol kadar tinggi tidak bisa dikonsumsi. Hal ini berbeda dengan minuman beralkohol.
Seandainya alkohol (etanol) murni atau alkohol kadar tinggi (di atas kadar 60%) ingin
dikonsumsi maka cuma ada dua kemungkinan, yaitu sakit peruh atau bahkan mati. Oleh karena
itu, seringkali kita lihat bahwa alkohol kadar tinggi (di atas 60%) hanya dipakai untuk luar tubuh
dan tidak dikonsumsi.
Jika sudah memahami hal ini, pantaskah alkohol antiseptik dihukumi sama dengan khomr? Tidak
tepat pula jika dikatakan bahwa alkohol antiseptik adalah barang najis. Karena kita sudah ketahui
sendiri bahwa alkohol antiseptik bukanlah khomr sehingga tidak bisa disamakan dengan miras
(vodka, wiski dan lainnya). Apalagi pendapat yang terkuat dari pendapat ulama yang ada, khomr
tidaklah najis sebagaimana telah kami jelaskan dalam tulisan-tulisan sebelumnya di web ini.
Lantas mengapa penggunaan alkohol antiseptik mesti diragukan?
Pendukung dari Fatwa Ulama
Fatwa Pertama:
Soal: Apa hukum cairan beralkohol dan alkohol yang digunakan untuk mengobati luka? Lalu
bagaimana hukum menggunakan Bir untuk maksud ini? Bagaimana pendapat Anda mengenai
Bir yang tertulis bebas alkohol?
Jawab:
Cairan beralkohol dan alkohol yang digunakan untuk membersihkan luka (alkohol antiseptik) itu
diperbolehkan. Adapun Bir jika sedikit saja digunakan padahal kalau diminum banyak pasti
memabukkan-, maka tidak boleh digunakan. Adapun jika Bir itu bebas dari alkohol, maka kita
kembalikan pada hukum asal minuman yaitu halal.
Hanya Allah yang memberi taufik.
Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.
Yang menandatangai fatwa ini:
Anggota: Abdullah bin Quud, Abdullah bin Ghodyan
Wakil Ketua: Abdur Rozaq Afifi
Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz [8]
Fatwa Kedua:
Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin pernah memberi penjelasan sebagai berikut.
Lalu bagaimana jika seseorang ingin mengobati lukanya dengan alkohol antiseptik, boleh
ataukah tidak? Jawabannya, boleh. Karena sudah kami tegaskan ini bukanlah haram. Oleh karena
itu, kalau sudah diketahui penggunaan alkohol semacam itu tidaklah haram, apabila ada
kebutuhan, hal ini tentu saja dibolehkan dan menghilangkan segala kerancuan yang ada. [9]
Kemunduran Islam Akibat Diharamkannya Alkohol Antiseptik
Coba kita simak penjelasan Syaikh Muhammad Rosyid Ridho dalam Fatawanya hal. 1631, yang
dinukil oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin. Ringkasnya, beliau rahimahullah
berkata,
Alkohol adalah zat yang suci dan mensucikan. Alkohol merupakan zat yang sangat urgen dalam
dunia farmasi dan pengobatan dalam kedokteran serta pabrik-pabrik. Alkohol telah tercampur
dalam banyak obat-obatan. Pengharaman penggunaan alkohol bagi kaum muslimin menghalangi
mereka untuk bisa menjadi pakar dalam banyak bidang ilmu dan teknologi. Hal ini malah akan
menyebabkan orang-orang kafir unggul atas kaum muslimin dalam bidang kimia, farmasi,
kedokteran, pengobatan, dan industri. Pengharaman penggunaan alkohol bisa jadi merupakan
sebab terbesar meninggalnya orang-orang yang sakit dan yang terluka atau menyebabkan lama
sembuh atau semakin parah. Syaikh Ibnu Utsaimin lantas memberi tanggapan, Ini perkataan
yang amat bagus dari beliau rahimahullah. [10]
Kesimpulan
Menggunakan alkohol antiseptik dibolehkan dengan beberapa alasan:
1. Alkohol antiseptik bukanlah khomr. Sedangkan yang dilarang dalam Al Quran dan Al Hadits
adalah khomr yaitu segala sesuatu yang memabukkan.
2. Asal alkohol adalah zat yang suci dan halal, termasuk pula alkohol antiseptik. Dan jikalau mau
dikatakan alkohol itu termasuk khomr namun ini jelas kurang tepat-, kita katakan bahwa khomr
itu suci dan tidak najis.
3. Alkohol antiseptik digunakan untuk luar tubuh dan tidak bisa dikonsumsi, berbeda dengan
khomr yang memang diproduksi untuk diminum (dikonsumsi).
4. Alkohol antiseptik digunakan dalam keadaan darurat dan termasuk antiseptik yang relatif
aman bagi kulit.
Semoga para pembaca tidak ada keraguan lagi untuk menggunakan alkohol antiseptik setelah
membaca tulisan ini. Kami harapkan para pembaca dapat menyimak tulisan-tulisan kami
sebelumnya tentang alkohol dan khomr di web ini.
Semoga Allah selalu memberikan tambahan ilmu yang bermanfaat kepada kita sekalian.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal (Alumni Teknik Kimia UGM angkatan 02-07)
Footnote:
[1] Infeksi adalah kolonalisasi yang dilakukan oleh spesies asing terhadap organisme inang, dan
bersifat pilang membahayakan inang.
[2] Sepsis adalah kondisi medis serius di mana terjadi peradangan di seluruh tubuh yang
disebabkan oleh infeksi. Sepsis dapat menyebabkan kematian pada pasiennya.
[3] Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Antiseptik
[4] Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Antiseptic
[5] HR. Muslim no. 2003.
[6] HR. Abu Daud no. 3681, At Tirmidzi no. 1865, An Nasa-i no. 5607, Ibnu Majah no. 3393.
Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Ghoyatul Marom 58.
[7] Lihat Al Wajiz fii Iidhohi Qowaidil Fiqhi Al Kulliyah, Syaikh Dr. Muhammad Shidqi bin
Ahmad Al Burnu, hal. 191, Muassasah Ar Risalah, cetakan kelima, tahun 1422 H.
[8] Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhut Ilmiyyah wal Ifta, Soal kedua dari Fatwa no. 3900,
22/119
[9] Liqo-at Al Bab Al Maftuh, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, Kaset 188, no. 18,
Asy Syamilah
[10] Lihat Majmu Fatawa wa Rosail Ibnu Utsaimin, 11/192, Darul Wathon-Daruts Tsaroya,
cetakan terakhir, 1413 H.