You are on page 1of 32

Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Usia Dewasa Pertengahan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keluarga merupakan bagian dari manusia yang setiap hari selalu
berhubungan dengan individu manusia. Keadaan yang harus disadari adalah setiap
individu merupakan bagian dari keluarga dan dikeluarga juga semua dapat
diekspresikan. Asuhan keperawatan keluarga yaitu suatu rangkaian kegitatan yang
diberi via praktek keperawatan pada keluarga.
Asuhan keperawatan keluarga digunakan untuk membantu menyelesaikan
masalah

kesehatan

keluarga

dengan

menggunakan

pendekatan

proses

keperawatan. Agar pelayanan kesehatan yang diberikan dapat diterima oleh


keluarga, maka perawat harus mengerti, memahami tipe dan struktur keluarga,
tahu tingkat pencapaian keluarga dalam melakukan fungsinya dan perlu paham
setiap tahap perkembangan keluarga dan tugas perkembangannya.
Status sehat atau sakit dalam keluarga saling mempengaruhi satu sama lain.
Suatu penyakit dalam keluarga mempengaruhi seluruh keluarga dan sebaliknya
mempengaruhi jalanya suatu penyakit dan status kesehatan anggota keluarga.
Keluarga cenderung dalam pembuatan keputusan dan proses terapeutik pada
setiap tahap sehat dan sakit pada para anggota keluarga. Keluarga merupakan para
anggota sebuah keluarga baiasanya hidup bersama-sama dalam satu rumah
tangga, atau jika mereka hidup secara terpisah, mereka tetap menganggap rumah
tangga tersebut sebagai rumah tangga mereka.
Pada keluarga dewasa merupakan tahap dimana semua anak akan pergi atau
keluar meninggalkan rumah atau orang tuanya. Didalam kehidupan keluarga
dewasa dimana orang tuanya akan merasa banyak kehilangan karena perginya
anak-anak dari rumah. Pada keluarga ini juga terdapat berbagai masalah yang
dialami oleh keluarga itu sendiri. Dan perawat sangat berperan penting dalam
memenuhi kebutuhan yang berkaitan dengan kesehatan kepada keluarga.

Dari data yang sudah kami sajikan tentang keluarga pada dewasa
pertengahan, maka disini kelompok tertarik untuk membahas lebih spesifik
tentang konsep dan asuhan keperawatan keluarga pada dewasa pertengahan , agar
dapat memenuhi kebutuhan akan informasi yang mengenai kesejahteraan hidup
dan khususnya kesehatan, yang nantinya akan kami bahas secara rinci dan
mendalam pada bab selanjutnya.

B.

Tujuan Penulisan

1. Tujuan umum
Untuk memahami aplikasi konsep dasar asuhan keperawatan keluarga dewasa
pertengahan.
2. Tujuan khusus
a.

Mahasiswa dapat menjelaskan konsep dasar keluarga.

b. Mahasiswa dapat menjelaskan konsep keluarga dewasa.


c.

Mahasiswa dapat menerapkan asuhan keperawatan keluarga dewasa.

C. Metode Penulisan
Dalam pembuatan makalah ini tim penulis menggunakan metode deskriptif
yaitu dengan mengumpulkan data-data yang diambil dari sumber buku
perpustakaan dan internet, diskusi kelompok, serta konsultasi dengan dosen
pembimbing.

D. Sistematika Penulisan
Makalah ini disusun berdasarkan sistematika penulisan dalam 3 BAB yaitu :
BAB I : Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan,
dan sistematika penulisan.
BAB II : Tinjauan teori yang terdiri dari konsep dasar teori dan konsep asuhan
keperawatan pada klien dengan keluarga dewasa.
BAB III : Kasus Asuhan Keperawatan pada keluarga dewasa
BAB IV : Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

DAFTAR PUSTAKA

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Keperawatan Keluarga


1.

Pengertian
Keluarga adalah sebuah sistem sosial dan kumpulan dari beberapa
komponen yang saling berinteraksi satu dengan lainnya (Logans, 2004).
Keluarga adalah sebagaimana sebuah kesatuan yang komplek dengan atribut yang
dimiliki tetapi terdiri dari beberapa komponen yang masing-masing mempunyai
sebagaimana individu ( Illis, 2004 ). Keluarga adalah sebuah kelompok yang
terdiri dari dua orang atau lebih masing-masing mempunyai hubungan
kekerabatan yang terdiri dari bapak, ibu, adik, kakak, dan nenek. (Raisner, 2009).
Duvall (1986, dalam Ali, 2009 ), menguraikan bahwa keluarga adalah
sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran dan adopsi yang
bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya dan meningkatkan
perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari setiap anggota keluraga.
Istilah keluarga akan menghadirkan gambaran adanya individu dewasa dan
anak yang hidup bersama secara harmonis dan memuaskan. Keluarga bukan
sekedar gabungan dan jumlah dari beberapa individual. Keluarga memiliki
keragaman seperti anggota individunya dan klien memiliki nilai nilai tersendiri
mengenai keluarganya yang harus dihormati. Keluarga sebagai suatu kelompok
hubungan yang indentifikasi klien sebagai keluarga atau jaringan individu yang
mempengaruhi kehidupan masing masing tanpa melihat adanya hubungan
biologis atau pun hukum (Perry, 2009, hal 202).
Menurut (Friedman, 1998), membuat defenisi yang berorientasi pada tradisi
dan digunakan sebagai referensi secara luas :

a.

Keluarga terdiri dari orang orang yang disatukan oleh ikatan perkawinan, darah
dan ikatan adopsi.

b.

Para anggota sebuah keluarga biasanya hidup bersama sama dalam satu rumah,
atau jika mereka hidup secara terpisah, mereka tetap menganggap rumah tangga
tersebut sebagai rumah mereka.

c.

Anggota keluarga berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dalam peran
peran sosial keluarga seperti suami-istri, ayah dan ibu, anak laki laki dan anak
perempuan, saudara dan saudari.

d.

Keluarga sama sama menggunakan kultur yang sama, yaitu kultur yang diambil
dari masyarakat dengan beberapa ciri unik tersendiri.

2.

Tipe Keluarga
Keluarga yang memerlukan pelayanan kesehatan berasal dari berbagai
macam pola kehidupan. Sesuai dengan perkembangan sosial maka tipe keluarga
berkembang mengikuti. Agar dapat mengupayakan peran serta keluarga dalam
meningkatkan derajat kesehatan maka perawat perlu mengetahui berbagai tipe
keluarga (Suprajitno, 2004).
Menurut (Friedman, 2009), adapun tipe keluarga sebagai berikut :

a.

Tipe keluarga tradisional

1) Keluarga Inti (The nuclear family)


Keluarga yang terdiri dari suami istri dan anak (kandung atau angkat).
2) Keluarga Dyad
Suatu rumah tangga yang terdiri dari suami istri tanpa anak.
3) Single Parent
Keluarga yang terdiri dari satu orang tua dengan anak (kandung atau angkat).
Kondisi ini dapat disebabkan oleh perceraian atau kematian.
4) Single adult living alone
Suatu rumah tangga yang terdiri dari 1 orang dewasa hidup sendiri.
5) The childless
Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah, bisa disebabkan karena mengejar
karir atau pendidikan.
6) Keluarga Besar (The extended family)
Keluarga yang terdiri dari keluarga inti ditambah keluarga lain, seperti paman,
bibi, kakek, nenek dan lain-lain.

7) Commuter family
Kedua orang tua bekerja diluar kota, dan bisa berkumpul pada hari minggu atau
hari libur saja.
8) Multi generation
Beberapa generasi atau kelompok umum yang tinggal bersama dalam 1 rumah.

9) Kin-network family
Beberapa keluarga yang tinggal bersama atau saling berdekatan dan menggunakan
barang-barang pelayanan seperti dapur, sumur yang sama.
10) Blended family
Keluarga yang dibentuk dari janda atau duda dan membesarkan anak dari
perkawinan sebelumnya.
11) Keluarga usila
Keluarga terdiri dari suami dan istri yang ssudah usia lanjut, sedangkan anak
sudah memisahkan diri.
b. Tipe keluarga non tradisional
1) Keluarga Orang Tua Tunggal Tanpa Menikah (The unmerrid teenage mother).
Keluarga yang terdiri dari 1 orang dewasa terutama ibu dan anak dari hubungan
tanpa nikah.
2) The step parents family
Keluarga dengan orang tua tiri.
3) Commune family
Keluarga yang terdiri dari lebih dari satu paangan monogami yang menggunakan
fasilitas secara bersama.
4) The nonmarrital hetero seksual cohabiting family
Keluarga yang hidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa nikah.
5) Keluarga Homoseksual (Gay and lesbian family)
Seorang yang mempunyai persamaan seks tinggal dalam 1 rumah sebagaimana
pasangan suami istri.
6) Cohabitating couple

Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan karena alasan
tertentu.
7) Groupmarriage family
Beberapa orang dewasa yang telah merasa saling menikah berbagi sesuatu
termasuk seks dan membesarkan anak.
8) Group nertwork family
Beberapa keluarga inti yang dibatasi oleh norma dan aturan, hidup berdekatan dan
saling menggunakan barang yang sama dan bertanggung jawab membesarkan
anak.
9) Foster family
Keluaraga yang menerima anak yang tidak ada hubungan saudara untuk waktu
sementara.
10) Home less family
Keluarga yang terbentuk tanpa perlindungan yang permanen karena keadaan
ekonomi atau problem kesehatan mental.
11) Gang
Keluarga yang dekstruktif dari orang-orang muda yang mencari ikatan emosional,
berkembang dalam kekerasan dan kriminal.

3.

Fungsi Keluarga
Menurut (Friedman, 2009), mengidentifikasi lima fungsi dasar keluarga yaitu :

a.

Fungsi afektif
Berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga yang merupakan basis
kekuatan

keluarga.

Berguna

untuk

pemenuhan

kebutuhan

psikososial.

Keberhasilan melaksanakan fungsi afektif tampak pada kebahagian dan


kegembiraan dari seluruh anggota keluarga. Tiap anggota keluarga saling
mempertahankan iklim yang positif. Hal tersebut dipelajari dan dikembangan
melalui interaksi dan hubungan dalam kelurga. Dengan demikian kelurga yang
berhasil melaksanakan fungsi afektif, seluruh keluarga dapat mengembangkan
konsep diri yang positif. Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga dalam
fungsi afektif adalah :

1)

Saling mengasuh, cinta kasih, kehangatan, saling menerima, saling mendukung


antar anggota keluarga. Setiap anggota yang mendapatkan kasih sayang dan
dukungan dari anggota yang lain maka kemampuan untuk memberikan kasih
sayang akan maningkat yang pada akhirnya tercipta hubungan yang hangat dan
saling mendukung. Hubungan intim didalam keluarga merupakan modal dasar
memberi hubungan dengan orang lain diliat keluarga atau masyarakat.

2)

Saling menghargai bila anggota keluarga saling menghargai dan mengakui


keberadaan dan hak setiap anggota keluarga serta selalu mempertahankan iklim
yang positif maka fungsi afektif akan tercapai.

3)

Ikatan dan identifikasi, ikatan dimulai sejak pasangan sepakat memulai hidup
baru. Ikatan anggota keluarga dikembangkan melalui proses identifikasi dan
penyesuian pada berbagai aspek kehidupan anggota keluarga. Orang tua harus
mengemban proses identifikasi yang positif sehingga anak-anak dapat meniru
perilaku yang positif tersebut.
Fungsi afektif merupakan sumber energi yang menentukan kabahagian keluarga
keretakan keluarga. Keretakan keluarga, kenakalan anak atau masalah kelurga
timbul karena fungsi afektif keluarga tidak terpenuhi.

b. Fungsi sosialisasi
Individu, yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam
lingkungan sosial. Sosialisasi dimulai sejak lahir, keluarga merupakan tempat
individu untuk belajar bersosialisasi. Keberhasilan perkembangan individu dan
keluarga dicapai melalui interaksi atau hubungan antar anggota keluarga yang
diwujudkan dalam sosialisasi. Anggota keluarga belajar disiplin, belajar normanorma, budaya dan perilaku melalui hubungan dan interaksi dengan keluaarga.
c.

Fungsi reproduksi
Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan menambah sumber
daya manusia.

d. Fungsi ekonomi
Keluarga memenuhi kebutuhan anggota keluarga yang seperti kebutuhan
makanan, tempat tinggal dan lain sebagainya.
e.

Fungsi perawatan kesehatan

Keluarga juga berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan kesehatan


yaitu mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan merawat anggota keluarga
yang sakit. Kemampuan keluarga memberikan asuahan kesehatan mempengaruhi
status kesehatan keluarga. Kesanggupan kelurga melaksanakan pemeliharaan
kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang dilaksanakan.
Tugas kesehatan keluarga adalah sebagai berikut :
1) Mengenal masalah.
2) Membuat keputusan tindakan yang tepat.
3) Memberikan perawatan pada anggota keluarga yang sakit.
4) Mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat.
5) Mempertahankan hubungan dengan fasilitas kesehatan masyarakat.

4. Dimensi dasar struktur keluarga


Menurut (Friedman, 2009), struktur keluarga terdiri atas:
a.

Pola dan proses komunikasi


Pola interaksi keluarga yang berfungsi:

1) Bersifat terbuka dan jujur.


2) Selalu menyelesaikan konflik keluraga.
3) Berfikir positif.
4) Tidak mengulang-ulang isu dan pendapatnya sendiri.
Karakteristik komunikasi keluarga yang berfungsi:
a. Karakteristik pengirim:
1)

Yakin dalam mengemukakan pendapat.

2)

Apa yang disampaikan jelas dan berkualitas.

3)

Selalu minta maaf dan menerima umpan balik.

b. Karakteristik penerima :
1)

Siap mendengar.

2)

Memberikan umpan balik.

3)

Melakukan validasi.

b. Struktur peran

Peran adalah serangkaian prilaku yang diharapkan sesuai dengan posisi sosial
yang diberikan. Yang dimaksud dengan posisi atau status individu dalam
masyarakat misalnya sebagai suami atau istri atau anak.
c.

Struktur kekuatan
Kekuatan merupakan kemampuan dalam (potensial atau aktual) dari individu
untuk mengendalikan atau mempengaruhi untuk merubah prilaku seseorang
kearah positif. Tipe struktur kekuatan antara lain :

1) Legitimate power/authority
Hak untuk mengatur seperti orang tua pada anak.
2) Referent power
Seseorang yang ditiru.
3) Reword power
Pendapat ahli.

4) Coercive power
Dipaksakan sesuai keinginan.
5) Informational power
Pengaruh melalui persuasi.
6) Affectif power
Pengaruh melalui manipulasi cinta kasih.
d. Nilai nilai dalam keluarga
Nilai merupakan suatu sistem, sikap dan kepercayaan yang secara sadar atau
tidak, memepersatukan anggota keluarga dalam satu budaya. Nilai keluarga juga
merupakan suatu pedoman prilaku dan pedoman bagi perkembangan norma dan
peraturan. Norma adalah pola perilaku yang baik, menurut masyrakat bardasarkan
sistem nilai dalam keluarga. Budaya adalah kumpulan dari pola perilaku yang
dapat dipelajari, dibagi dan ditularkan dengan tujuan untuk menyelesaikan
masalah.

5. Peran Perawat Keluarga


Perawatan kesehatan keluarga adalah pelayanan kesehatan yang ditujukan pada
keluarga sebagai unti pelayanan untuk mewujudkan keluarga sehat. Fungsi

perawat membantu keluarga untuk menyelesaikan masalah kesehatan dengan cara


meningkatkan kesanggupan keluarga melakukan fungsi dan tugas perawatan
kesehatan keluarga (Suprajitno, 2004). Peran perawat dalam melakukan
perawatan kesehatan keluarga adalah sebagai berikut (Suprajitno, 2004) :
a.

Pendidik
Perawat perlu melakukan pendidikan kesehatan kepada keluarga agar :

1) Keluarga dapat melakukan program asuhan kesehatan secara mandiri.


2) Bertanggung jawab terhadap masalah kesehatan keluarga
b. Koordinator
Koordinasi diperlukan pada perawatan agar pelayanan komperhensif dapat
dicapai. Koordianasi juga diperlukan untuk mengatur program kegiatan atau terapi
dari berbagai disiplin ilmu agar tidak terjadi tumpang tindih dan pengulangan.
c.

Pelaksanaan
Perawat dapat memberikan perawatan langsung kepada klien dan keluarga
dengan menggunakan metode keperawatan.

d. Pengawas kesehatan
Sebagai pengawas kesehatan harus melaksanakan hime visit yang teratur
untuk mengidentifikasi dan melakukan pengkajian tentang kesehatan keluarga.
e.

Konsultan
Perawat sebagai narasumber bagi keluarga dalam mengatasi masalah
kesehatan. Agar keluarga mau meminta nasehat kepada perawat, hubungan
perawat dan klien harus terbina dengan baik , kemampuan perawat dalam
menyampaikan informasi yang disampaikan secara terbuka dapat dipercaya.

f.

Kolaborasi
Bekerja sama dengan pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan anggota
tim kesehatan lain untuk mencapai kesehatan keluarga yang optimal.

g. Fasilisator
Membantu keluarga dalam menghadapi kendala seperti masalah sosial
ekonomi, sehingga perawat harus mengetahui sistem pelayanan kesehatan seperti
rujukan dan penggunaan dana sehat.

h. Penemu kasus
Menemukan dan mengidentifikasi masalah secara dini di masyrakat sehingga
menghindari dari ledakan kasus atau wabah.
i.

Modifikasi lingkungan
Mampu memodifikasi lingkungan baik lingkungan rumah maupun masyarakat
agar tercipta lingkungan sehat.

6. Tingkat Pencegahan
Mengembangkan sebuah kerangka kerja, yang disebut sebagai tingkat
pencegahan, yang digunakan untuk menjelaskan tujuan dari keperawatan
keluarga. Tingkat pencegahan tersebut mencakup seluruh spektrum kesehatan dan
penyakit, juga tujuan tujuan yang sesuai untuk masing masing tingkat. Leavell
dkk. (1965, dalam Friedman, 1998). Ketiga tingkatan tersebut adalah adalah :
1. Pencegahan primer yang meliputi peningkatan kesehatan ddan tindakan preventif
khusus yang dirancang untuk menjaga orang bebas dari penyakit dan cedera.
2.

Pencegahan sekunder yang terdiri dari atas deteksi dini, diagnosa, dan
pengobatan.

3.

Pencegahan tertier, yang mencakup tahap penyembuhan dan rehabilitasi,


dirancang untuk meminimalkan ketidakmampuan klien dan memaksimalkan
tingkat fungsinya.
Ketiga tingkat pencegahan itu, merupakan tujuan dari keperawatan keluarga.
Tujuan tujuan tersebut terdiri atas peningkatan, pemeliharaan, pemulihan
terhadap kesehatan ( Hanson, 1987 dalam

Friedman, 1998). Peningkatan

kesehatan merupakan pokok terpenting dari keperawatan keluarga. Akan tetapi,


sudah tentu, pendeteksian secara dini, diagnosa dan pengobatan merupakan tujuan
penting pula. Pencegahan tertier atau rehabilitasi dan pemulihan kesehatan secara
khusus menjadi tujuan yang penting bagi keperawatan keluarga saat ini,
mengingat perkembangan keperawatan kesehatan dirumah dan pravelensi
penyakit penyakit kronis, serta ketidakberdayaan dikalangan lanjut usia yang
populasinya semakin meningkat dan cepat (Friedman, 1998).

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN.H DAN NY.T (DEWASA
PERTENGAHAN)
A. INDENTITAS UMUM KELUARGA
1. INDENTITAS KEPALA KELUARGA
Nama

: Tn. H

Umur

: 57 tahun

Agama

: islam

Suku

: melayu

Pendidikan

: SD

Perkerjaan

: Pensiun

Alamat

: Jln. 28.Oktober Gg. karakterdes

No. Telpon

: -

2. KOMPOSISI KELUARGA
No Nama

L/P

Umur

Hub.

Perkerjaan

Pendidikan

Tidak

SD

Klg
1

Tn. H

57

Suami

berkerja
2

Ny . T

52

Istri

IRT

SD

3. GENOGRAM

Ket :
: Perempuan

: Laki laki

: Penderita

:Hubungan perkawinan dan satu rumah

4. TYPE KELUARGA

a.

Jenis Type Keluarga : keluarga The nuclear family

b. Masalah Yang terjadi dengan tipe tersebut : Keluarga mengatakan sering merasa
sakit sakitan dan merasa kesepian karena hanya tinggal suami isteri.
5. SUKU BANGSA
a.

Asal Suku Bangsa : Tn. H bersuku banjar dan Ny. T bersuku melayu. Mereka
bisa menerima satu sama lain meskipun berbeda suku.

b. Budaya yang berhubungan dengan kesehatan: selama ini tidak ada hal hal yang
bertentangan dengan budaya.
6. AGAMA DAN KEPERCAYAAN YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN
Agama Tn. H adalah Islam, dan begitu pula dengan Ny.T. Tn. H dan Ny. T
Mengatakan selalu berusaha untuk memenuhi shalat 5 waktu dan mereka selalu
berjamaah di rumah kecuali jika Tn. H tidak ada dirumah, dan begitu juga dengan
Ny. T jika Ny. T pergi pengajian, mereka melakukan shalat sendiri-sendiri.
7. STATUS SOSIAL EKONOMI KELUARGA
a.

Anggota yang keluarga yang mencari nafkah : Dahulunya Tn. H, yang berkerja
sebagai kuli bangunan.

b. Penghasilan : Tidak ada


c.

Upaya lain : Rp. 2.000.000,00 Rp. 2.500.000

d. Harta benda yang dimiliki ( perabotan transportasi, dll ) : rumah, motor yamaha,
kulkas, Tv, kursi, serta lemari lemari.
e.

Kebutuhan yang dikeluarkan tiap bulan : keluarga mengatakan kebutuhan tiap


bulan yang dikeluarkan hanya buat makan dan keperluan sehari hari saja, kurang
lebih Rp.1.500.000 perbulan.

8. AKTIVITAS REKREASI KELUARGA


Keluarga mengatakan hanya dirumah, karena biasanya kalau libur anak dan
cucunya berkunjung kerumahnya. Tetapi kadang kadang juga pergi jalan
kerumah anak dan keluarga.

B. RIWAYAT DAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA


1.

Tahap perkembangan keluarga saat ini : disini keluarga termasuk dalam tahap
perkembangan usia dewasa pertengahan, dan anak anak mereka sudah pada
meninggalkan mereka dari rumah.

2.

Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi dan kendalanya :


memepertahankan kesehatan, karena keluarga cemas ketika salah satunya sakit.

3. Riwayat kesehatan keluarga inti


a

Riwayat kesehatan keluarga saat ini :


Ny. T mengatakan pernah mengalami sakit usus buntu dan sekarang sudah
dioperasi.
Tn. H mengatakan selama ini megalami sesak napas, dan kadang kadang sering
kambuh.

b.

Riwayat penyakit keturunan


Menurut keluarga tidak ada keluarga yang memilki riwayat sakit yang sama
dengan mereka.

c. Riwayat kesehatan masing masing anggota keluarga


No

Nama

BB

Umur

Keadaan kesehatan

Imunisasi
Bcg/polio

( Masalah
kesehatan

/DPT/HB/ca

Tindakan
yang

telah

dilakukan

mpak
1

Tn. A

85

57

kg

Tn. H biasanya kalau


cuaca dingin asmanya

Menembus

pola nafas

obat yang

dan hanya

telah

minum

obat

direspkan

yang

diresepkan

dokter.

dokter karena
Tn. H

Jika tidak minum


obat

Gangguan

kambuh

telah

juga

klien

mengatakan
sudah

mengatakan asmanya

ketergantung

akan kambuh.

an obat.

Tn.

mengatakan

juga
bahwa

matanya sudah mulai


kabur,

tidak

melihat
dengan

bisa
barang

jarak

yang

jauh.

Ny. T

65

52

kg

-Ny. T mengatakan

-Nyeri

bahwa

perut dan operasi

dia

pernah

Melakukan

mengalami usus buntu

minum

dan sudah dioperasi.

obat yang negeri.


di

dirumah sakit

beli

diapotik
-Klien

mengatakan

bahwa

tekanan

-Pusing

darahnya turun naik.

Sumber pelayanan kesehatan yang dimanfaatkan : Menurut Tn. H dan Ny. T jika
dirinya sakit biasanya berobat di puskesmas.

Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya :


Tn. H : Klien mengatakan bahwa sudah 7 tahun klien merasakan sakit asma dan 2
tahun terakhir penglihatan sudah mulai kabur.
Ny. T : klien mengatakan bahwa dahulunya sakit usus buntu dan sudah dioperasi
dan klien mengatakan biasanya klien merasakan nyeri pada perut dan minum obat
yang dibelikan anaknya diapotek, klien mengatakan jika klien sakit biasa, dirinya
hanya berobat kepuskesmas.

C. PENGKAJIAN LINGKUNGAN
1. Karakteristik rumah
a.

Luas rumah : 7 x 12 meter

b. Type rumah : sederhana


c.

Kepemilikan : pribadi

d. Jumlah dan ratio kamar/ruangan : 4 buah kamar tidur, Ventilasi/jendela : Ada 10


ventilasi yang terdapat di dalam rumah
e.

Pemanfaatan ruangan : Ruang tamu, ruang tengah/ keluarga, dapur, wc/toilet, 4


Kamar tidur.

f.

Septic tank : ada, letak dibelakang rumah berjarak 1 meter dari rumah

g. Sumber air minum : air hujan yang dimasak dan air galon
h. Kamar Mandi/ WC : memiliki satu wc dan sekaligus kamar mandi
i.

Sampah limbah RT : dibuang ditempat pembuangan sampah sejauh 100 meter

j.

Kebersihan lingkungan : keadaan kebersihan lingkungan bersih karena kelurga


mengatakan jika tidak ada aktifitas selalu membersihan samping rumah.

k. Keadaan didalam rumah : rumah Tn. H tampak bersih dan rapi.


l.

Keadaan diluar rumah : Halaman rumah Tn. H juga bersih dan rapi terbukti tidak
ada sampah yang berserakan, dipinggir rumah klien juga terdapat sumur yang
kecil dan sudah disemen rapi.

2. Karakteristik tetangga dan komunitas RW


a.

Kebiasaan : setiap minggu Ny. T melakukan pengajian dengan tetanga.

b.

Aturan/kesepakatan : apabila ada orang baru atau tamu yang menginap wajib
lapor RT / RW

c.

Budaya : didalam satu jalu klien semua suku ada dan kebanyakan orang melayu.

3.

Mobilitas geografis keluarga : klien mengatakan dia hanya dirumah saja tetapi
biasanya jika ingin pergi, keluarga berkunjung kerumah anak dan keluarganya.

4.

Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat : keluarga mengatakan


tiap bulan klien ada melakukan kegiatan arisan keluarga dan pengajian dengan
tetanga.

5.

System pendukung keluarga : Saat ini dalam keluarga ada maslah dalam
kesehatan, hubungan satu anggota keluarga dengan yang lainnya cukup baik dan
sudah terbiasa saling pengertian.

D. STRUKTUR KELUARGA
1.

Pola/cara komunikasi keluarga : Menurut Ny. T dalam keluarganya


berkomunikasi biasa menggunakan bahasa melayu.

2. Struktur kekuatan keluarga : Dalam pengambilan keputusan keluarga Tn. H dan


Ny. T selalu memutuskan secara bersama-sama dan memilih yang terbaik.
Perbedaan-perbedaan pendapat yang ada selalu bisa di atasi jika mereka bicara
dengan baik- baik.

3. Struktur peran ( peran masing masing anggota keluarga ) : Dalam keluarga Tn.
H sebagai kepala keluarga berkewajiban memipin keluarga dan dibantu Ny. T.
4. Nilai dan norma keluarga : Sebagai bagian dari masyarakat jawa dan beragama
islam keluarga memiliki nilai-nilai dan norma yang dianut seperti sopan santun
terhadap suami terhadap isteri. Selama ini dirinya dan suaminya makan bersama
setiap hari dari sarapan sampai makan malam.

E. FUNGSI KELUARGA
1. Fungsi Afektif : klien mengatakan selama ini klien antara suami istri saling tolong
menolong dan saling pengertian dan selalu komunikasi kepada anak anak
mereka.
2.

Fungsi sosialisasi : klien mengatakan sampai sejauh ini baik dan hubungan
dengan keluarga besarnya mau pun kecil baik baik saja. Hubungan keluarga
dengan orang lain pun baik, terutama tetangga-tetangga terdekat.

3. Fungsi perawatan kesehatan


a.

Menurut keluarga, masalah kesehatan yang sering dihadapinya yaitu asma dan
pusing dan persiapan tuanya.

b. Apa yang dilakukan keluarga dalam menghadapi masalah kesehatan yang sedang
dialami : klien mengatakan sejauh ini dirinya hanya berbicara dengan anak dan
antar suami isteri dan minum obat.
c.

Kemana keluarga meminta pertolongan apabila ada anggota keluarga yang


mengalami masalah kesehatan : Ke puskesmas.

d.

Tindakan apa yang dilakukan keluarga untuk mencegah timbulnya masalah


kesehatan : klien mengatakan

biasanya keluarga hanya makan teratur dan

olahraga yaitu jalan pagi setiap hari minggu.


4. Fungsi reproduksi
a.

Perencanaan jumlah anak : tidak ingin mempunyai anak lagi

b. Akseptor : tidak
5. Keterangan lain : Ny. T mengatakan sejak dilakukan operasi sejak 10 tahun yang
lalu Ny. T tidak mengalami menstruasi lagi.
6. Fungsi ekonomi

Fungsi ekomoni dahulunya tidak ada kendala karena kebutuhan tiap bulan diberi
anak anaknya.

F. STRESS DAN KOPING KELUARGA


1.

Stressor jangka pendek : klien mengatakan merasa kesepian karena dahulunya


terasa ramai dirumah tetapi sekarang hanya tinggal berdua saja.

2.

Sressor jangka panjang : keluarga mengatakan cemas dengan keadaan suami


karena tidak bisa putus obat.

3.

Respons keluarga terhadap stressor : jika terdapat masalah selalu diselesaikan


dengan anak anak juga.

4. Strategi koping : klien mengatakan itu memang waktu yang tepat, dimana anak
sudah menikah dan membangun rumah tangga sendiri.
5. Strategi adaptasi disfungsional : tidak ada.
G. KEADAAAN GIZI KELUARGA
Pemenuhan gizi : biasanya Ny. T selalu masak, masakan kesukaan suaminya yaitu
masakan bersantan dan bening.
Upaya lain :

kadang kadang juga klien mengatakan anaknya membawakan

makan seperti sayur-sayuran dan lauk pauk.


H. HARAPAN KELUARGA
1.

Terhadap masalah kesehatan : klien mengatakan mungkin ini masalah yang


didapatkan dimasakan lanjut usia.

2. Terhadap petugas kesehatan yang ada : klien mengatakan agar mahasiswa yang
datang bisa berbagi pengetahuan.

F. PEMERIKSAAN FISIK
No

Pemeriksaan
Fisik

Nama Anggota Keluarga


Tn. H

Ny. T

BB

85 kg

52 kg

TB

165 cm

150 cm

Keadaan Umum

Kepala :

Rambut

Hitam

tampak

ubun Hitam

sedikit

uba,

disela sela rambut dan panjang dan keriting.


agak keriting.
Mata

Konjungtiva

pink, Konjungtiva pink, sclera

sclera pucat.penglihatan pucat, dan penglihatan


agak mulai menurun.

mulai menurun.

sinusitis (-),
Hidung

polip

(-),

penciuman sinusitis (-),

baik.

polip

(-),

penciuman

baik.

Mulut

Mulut bersih, mukosa Mulut

bersih,

mukosa

lembab, lidah bersih, lembab, lidah bersih, gigi


gigi sudah rapuh.

sudah rapuh
.

Telinga
3

Pendengaran baik.

Pendengaran baik.

Leher
JVP

Kelenjar Tiroid

Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran


vena jugularis.

vena jugularis.

Tidak ada

Tidak ada pembengkakan

pembengkakan.
4

Dada
Mamae

Inspeksi

Tidak ada

Tidak ada

pembengkakan, simetris pembengkakan, simetris

Palpasi

Paru

antara kiri dan kanan.

antara kiri dan kanan.

Tidak ada

Tidak ada

pembengkakan.

pembengkakan.

Inspeksi

Palpasi

Saat bernafas

Saat

bernafas

menggunakan otot

menggunakan

bantuan pernafasan.

bantuan pernafasan.

Tidak simetris

Tidak ada kelainan.

tidak
otot

penurunan antara kiri


dan kanan

Terdengar bunyi dalnes. Tidak ada penimbunan

Perkusi

cairan.

Auskultasi

Bunyi nafas vesikuler,

RR normal

RR normal

Letak

Jantung

Bunyi nafas ronchi,

cordis

normal.
normal Ictus cordis normal yaitu

yaitu ics 5 dan 6.

Perkusi

Irama

Dan Letak normal dan ukuran

ukuran normal.

Palpasi

Ictus

normal.

Auskultasi

teratur,

ics 5 dan 6
suara Irama

teratur,

sura

tambahan tidak ada

tambahan tidak ada

TD : 140/90 mmHg

TD : 130/80 mmHg

Simetris, warna normal,

Simetris, warna normal,

asites (-)

asites (-)

Abdomen

Inspeksi

Tidak ada nyeri tekan, Ada nyeri tekan, tidak

Palpasi

tidak ada benjolan

ada benjolan
Bising usus (+)

Auskultasi

Bising usus (+)

Perkusi

Organ pada abdomen Organ


normal

Genetalia

Eksremitas

normal
-

atas

pada

abdomen

dan bawah

Inspeksi

Berfungsi dengan baik

Berfungsi dengan baik

Perkusi

Reflek patella lemah.

Klien

Klien

mengatakan

mengatakan kadanga terasa lemah.

kadang kadang klien


mengatakan
lemah

terasa

jika

akan

berjalan.

I. TIPOLOGI MASALAH KESEHATAN


NO DAFTAR MASALAH KESEHATAN
1

ANCAMAN :
Resiko kesepian
Ketidakefetifan manajemen kesehatan diri.

KURANG/TIDAK SEHAT :
Ganggauan pola nafas

DIFISIT
-

J. DAFTAR MASALAH PENGKAJIAAN KHUSUS BERDASARKAN 5


TUGAS sKELUARGA DENGAN DIAGNOSA KEFEKTIFAN MANAJEMEN
KESEHATAN DIRI.
NO KRITERIA
1

PENGKAJIAN

Mengenal Masalah Keluarga belum bisa mengenal masalah.


klien mengatakan bahwa klien ingin
mengatasi

penyakit

agar

suami

tidak

tergantung dengan obat.


2

Mengambil

Klien belum bisa mengambil keputusan

Keputusan yang tepat

tetapi jika klien sakit anak datang dengan


membawa obat.

Merawat

anggota Jika Tn. H sakit istri klien meminta bantuan

keluarga yang sakit atau pertolongan dengan tetangga.

ataupun

punya

masalah
4

Memodifikasi

Klien masih belum bisa mengubah

lingkungan

atau
memodifikasi lingkungan.

Memanfaatkan sarana

Klien mengatakan

belum mengetahui

kesehatan

pemanfaatan sarana kesehatan yang ada.

K. DAFTAR MASALAH PENGKAJIAN KHUSUS BERDASARKAN 5


TUGAS KELUARGA DENGAN DIAGNOSA GANGGUAN POLA NAFAS
NO KRITERIA
1

PENGKAJIAN

Mengenal Masalah Tn H, sudah mengenal masalah.


Dengan klien mengatakan bahwa dia tidak
bisa kalau tidak minum obat.
Klien juga mengatakan bahwa masalah ini
dirasakan sejak 10 tahun yang lalu, waktu
masuk rumah sakit, rontgen tidak ada
masalah, cuma ada penyempitan saluran
nafas.
Klien mengatakan sejak sakit dia sudah
berhenti merokok.

Mengambil

Tn.H mengatakan bahwa dirinya tidak bisa

Keputusan yang tepat

putus minum obat.

Jadinya biasanya isteri selalu mengingatkan.


3

Merawat

anggota
Ny. T selalu menemani Tn. H, jika sakit dan

keluarga yang sakit mengurut urut dada Tn. H.


ataupun

punya

masalah
4

Memodifikasi
lingkungan

Menciptakan lingkungan yang bersih karena


Tn. H juga alergi terhadap debu.

Memanfaatkan sarana
Jika sakit klien pergi kepuskesmas dengan
kesehatan

menggunakan JAMKESMAS.

L. DAFTAR MASALAH PENGKAJIAAN KHUSUS BERDASARKAN 5


TUGAS KELUARGA DENGAN DIAGNOSA RESIKO KESEPIAN
NO KRITERIA

PENGKAJIAN

Mengenal Masalah keluarga sudah bisa mengenal masalah

Keluarga

mengatakan

biasanya

merasa

kesepian, keluarga meengatakan menelpon


atau melihat foto foto anaknya.,
2

keluarga bermusyawarah untuk berkunjung

Mengambil

Keputusan yang tepat


3

kerumah anak cucu terdekat.

anggota
Klien mengatakan biasanya kesepian kita

Merawat

keluarga yang sakit saling bercerita.


ataupun

punya

masalah
4

Memodifikasi

Keluarga kadang kadang merasa kesiapan

lingkungan

karena hanya diam berdua saja dirumah.


Keluarga memasang foto anak- anak dan
cucunya diruangan tamu dan kamarnya.

Memanfaatkan sarana -

kesehatan

M. DAFTAR MASALAH
NO DATA

PROBLEM

ETIOLOGI

1.

Kurang pengetahuan

Keefektifan

Ds :

Keluaraga
mengatakan bahwa
dirinya kurang bisa
dalam

mengatasi

Manajemen
Kesehatan Diri.

masalah kesehatan
yang dialaminya.
Do:

Keluarga tampak
binggung

ketika

ditanya.
2.Ds :

Kurang mengenal

Gangguan pola nafas

Klien mengatakan masalah


bahwa

biasanya

kalau

kehabisan

obat

klien

merasakan

sesak

dan ketika terkena


debu juga.
Do :

Klien

tampak

terenggah

terenggah
.
Ds
3. :

Kurang
Klien mengatakan tugas
merasa

oleh anak-anaknya.
Do:
Klien

perkembangan

kesepian dewasa pertengahan

sejak ditinggalkan

mengetahui Resiko kesepian

tampak

sedih ketika dikaji.

N. SKORING
1. Keefektifan manajemen kesehatan diri b.d kurang pengetahuan
KRITERIA

BOBOT

Pembenaran

2/3

Sifat masalah ini termasuk

K
O
R
SIFAT MASALAH
o Tidak sehat

ancaman karena jika tidak

o Ancaman kesehatan

diberi pengetahuan keluarga

Krisis

atau

tidak tahu dan tetap minum

keadaan
1

sejahtera

obat tiap hari dan kita tahu


efek yang terjadi akibat terlalu
banyak minum obat streroid.

KEMUNGKINAN
MASALAH

DAPAT

Masalah

tersebut

mungkin

hanya sebagian dapat diubah

DIUBAH

karena

melihat

kondisi

o Dengan Mudah

keluarga yang ketergantungan

o Hanya Sebagian

dengan obat.

o Tidak dapat

PONTISIAL
MASALAH

1
DAPAT

DICEGAH

Potensial

masalah

dicegah

cukup,

dapat
karena

keluarga mengatakan bahwa

o Tinggi

keluarga ingin sembuh dari

o Cukup

sakit.

o Rendah

MENONJOLNYA
MASALAH
o Masalah berat, harus 2
segera ditangani
o Ada masalah, tapi tidak

Masalah

ini

merupakan

masalah berat, sehingga harus


ditangi,

sehingga

keluarga

tidak terlalu ketergantungan


dengan obat.

perlu segera ditangani

o Masalah tidak dirasakan


0
2/3 + 1/2+ 2/3+1 =2 1/3
2. Gangguan pola nafas b.d kurang mengenal masalah
KRITERIA

SKOR

SIFAT MASALAH

BOBOT Pembenaran
1

Sifat masalah

o Tidak sehat

ini

sudah

o Ancaman kesehatan

tidak

sehat

o Krisis atau keadaan sejahtera

karena
melihat
kondisi klien.

KEMUNGKINAN MASALAH

DAPAT DIUBAH

Kemungkinan
masalah

o Dengan Mudah

dapat diubah

o Hanya Sebagian

hanya

o Tidak dapat

sebagian
karena
masalah

ini

sudah terlalu
berat.
PONTISIAL

MASALAH

DAPAT DICEGAH

Potensial
masalah

o Tinggi

dapat dicegah

o Cukup

cukup, karena

o Rendah

kemungkinan
hanya
tergantung
kondisi klin

MENONJOLNYA MASALAH
o Masalah berat, harus segera 2
ditangani

Masalah ini
berat
dan
harus segera
ditangani,

o Ada masalah, tapi tidak perlu 1

karena agar
tidak
menimbulkan
komplikasi
yang
lebih
berat.

segera ditangani
o Masalah tidak dirasakan

1+1+2/3+1 =3 2/3
3. Resiko Kesepian b.d Kurang mengetahui tugas perkembangan dewasa
pertengahan
KRITERIA

SKOR

SIFAT MASALAH

BOBOT Pembenaran
1

Sifat

o Tidak sehat

masalah ini

o Ancaman kesehatan

merupakan

o Krisis atau keadaan sejahtera

krisis
karena
kelurga
masih bisa
mengatasi
masalah
tersebut.

KEMUNGKINAN

MASALAH

DAPAT DIUBAH

Karena
menurut

o Dengan Mudah

pengkajian

o Hanya Sebagian

yang kami

o Tidak dapat

lakukan
keluarga
mengatakan
bahwa
mungkin
memang
waktunya
kami
hidup
berdua

lagi.
PONTISIAL

MASALAH

DAPAT DICEGAH

Karena
tindakan

o Tinggi

masalah

o Cukup

yang

o Rendah

dihadapi
keluarga
wajar,
mungkin
beradaptasi
dengan
keadaan.

MENONJOLNYA MASALAH
o

Masalah

berat,

harus

segera 2

tidak perlu
ditangani

ditangani
o Ada masalah, tapi tidak perlu 1

karena klien
baru

segera ditangani
o Masalah tidak dirasakan

Masalah ini

merasakan
hal tersebut.

2/3 +2+2/3+1/2 = 3 5/6s

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA PRIORITAS


1. Gangguan Pola Nafas b.d Kurang mengenal masaqlah
2. Keefektifan Manejemen Diri b.d kurang pengetahuan
3. Resiko Kesepian b.d Kurang mengetahui tugas perkembangan dewasa
pertengahan

C. RENCANA KEPERAWATAN
No

1.

Dx keperawatan

Intervensi Keperawatan
Tujuan dan kriteria

Tindakan

hasil

keperawatan

Gangguan Pola

Nafas

Gangguan

b.d terjadi

yang 1.

Rasional

mengecek 1.

berkurang atau

untuk

mengetahui

mengkaji keadsaan umum klien.

kurang

kuyrun

waktunya keadaan

mengenal

setelah

dilakukan klien.

masalah

tindakan selama 1 X 2.

umum

melakukan

30 menit.

PENKES

2. untuk memberi wawasan

Dengan KH :

berhubungan

kepada klien dan kelurga

1.

dapat dengan penyakit tentang

klien

melakukan apa yang klien.


telah disarankan.

atau

keadaan klien.

3. ajarkan klien

2. klien mengerti, hal

hal

yang 3.

agar

klien

dapat

untuk melakukan hal hal yang

olaharaga yang baik tepat


klien.

untuk dia.

kondisi

tepat

bagi

kesehatan

4. minta klien diurinya.


untuk

4. untuk mengetahui kondisi

memeriksaa diri klien.


kerumah sakit.
2.

Keefektifan

Klien

Manejemen

setelah

mengerti 1.

mengkaji 1.

dilakukan kemampuan

untuk

mengetahui

kemampuan klien

Diri b.d kurang tindakan selama 3 X klien.


pengetahuan

45 menit.

2.

Dengan KH:

penkes

1. klien mengatakan

kesehatan.

bahwa sudah

3. ajarkan klien 3.

mengerti dengan hal

cara manejemen mengerti dengan hal hal

hal yang harus

diri.

dilakukan

melakukan 2. agar klien memahami


manejemen diri yang tepat.

agar

kjlien

makin

yang harus dilakukan dan


dihindari.

2. klien mengerti hal 4.

evaluasi 4. agar untuk memahami

hal yang harus kemampuam


dihindari
3.

Kesepian

klien.

Kesepian

Resiko

kemampuan klien.

tidak 1.

kaji

faktor 1. untuk memastikan faktor

b.d terlalalu larut setelah penyebab

penyebab kesepian.

Kurang

dilakukan

tindakan keluarga merasa

mengetahui

selama

tugas

menit.

2. beri informasi

2.

perkembangan

Dengan KH :

kepada keluarga

memahami tentang tugas

dewasa

1. Klien mengatakan tentang tugas

pertengahan

tidak

terlalu

45 kesepian.
agar

klien

makin

perkembangan.

sepi perkembangan.

lagi.

3. ajarkan klien

3.

2. keluarga

cara cara

mengatasi kesepian secara

mengatakan bahwa

mengatasi

wajar.

dirinya sudah

kesepian.

mengerti tugas

4. ajak pasien

4.

perkembangannya.

untuk

kemampuan keluarga dalam

mengevaluasi

mengatasi

kembali.

kesepian.

BAB IV
PENUTUP

agar

untuk

klien

mampu

mengetahui

masalah

A. Kesimpulan
Keluarga adalah bagian terkecil dari masyarakat. Selain itu keluarga juga
mempunyai tahap perkembangan salah satunya keluarga dengan anak dewasa
pertengahan. Kondisi keluarga usia dewasa pertengahan berkisar antara usia 40-60
tahun dan anak terakhirnya telah meninggalkan rumah atau sudah menikah. Tugas
yang harus terpenuhi pada keluarga dengan usia ini adalah mampu menyediakan
lingkungan yang meningkatkan kesehatan, mempertahankan hubungan-hubungan
yang memuaskan dan penuh arti dengan para orangtua lansia dan anak-anak,
memperkokoh hubungan perkawinan.
Peran perawat keluarga dengan anak usia dewasa pertengahan adalah
pelayanan kesehatan yang ditujukan pada keluarga sebagai suatu inti pelayanan
untuk mewujudkan keluarga sehat serta membantu keluarga untuk menyelesaikan
masalah kesehatan dengan cara meningkatkan kesanggupan keluarga melakukan
fungsi dan tugas perawatan kesehatan keluarga. Selain itu peran atau tugas
perawat yang lain ialah sebagai pendidik, coordinator, pelaksanaan, pengawas
kesehatan,

konsultan,

kolaborasi,

fasilitator,

penemu

kasus,

modifikasi

lingkungan.

B. Saran
1. Perawat
Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan, hal pertama yang harus
dilakukan adalah membangun hubungan saling percaya dengan didasarkan sifat
empati bukan simpati, dan mengetahu tugas perkembangan keluarga khususnya
keluarga dengan anak usia dewasa pertengahan.
2. Puskesmas
Tenaga

kesehatan

khususnya

pekerja

puskesmas

mampu

mengaplikasikannya kepada masyarakat terutama pada keluarga dengan anak usia


dewasa pertengahan.
3. Keluarga
Keluarga memahami tugas perkembangan khususnya pada keluarga dengan
usia dewasa pertengahan dan mampu mengaplikasikannya terhadap keluarganya.

DAFTAR PUSTAKA

Mubarak, wahit iqbal. 2009. Ilmu Keperawatan Komunitas Buku 1. Jakarta :


EGC
Mubarak, wahit iqbal. 2009. Ilmu Keperawatan Komunitas Buku 2. Jakarta :
EGC
Setiawati, santun. 2008. Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta : Trans info
media
M. Friedman, marilyn. 1998. Keperawatan Keluarga. Jakarta : EGC