You are on page 1of 41

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Di negara-negara miskin seperti negara Afrika, Asia, Amerika Latin, termasuk
Indonesia banyak terjadi kasus kekurangan gizi terutama terjadi pada masa anak-anak.
Hal ini disebabkan karena negara miskin memiliki tingkat ekonomi yang rendah.
Tingkat pengetahuan keluarga tentang nutrisi kurang, perawatan anak yang belum
memadai, sifat tahayul terhadap bahan makanan dan kesehatan lingkungan yang
buruk.
United Nation Children Fund (UNICEF) mengkategorikan kekurangan gizi
sebagai kegawatdaruratan yang tidak kentara Silent Emergency (Laily Savitri,
2000).
Pada tahun- tahun terakhir ini bangsa Indonesia sedang mengalami masa-masa
sulit, yaitu terjadinya krisis moneter yang menghantarkan perekomian Indonesia ke
titik yang paling rendah. Harga-harga barang naik, rupiah mengalami keterpurukan
dan banyaknya pegawai yang di PHK.
Keadaan yang demikian berdampak besar terhadap pola konsumsi makan
masyarakat Indonesia akibatnya terjadi penurunan status gizi anak yang salah satu
diantaranya di tandai dengan penyakit Kwashiorkor.
Kwashiorkor adalah gangguan gizi yang disebabkan oleh kekurangan protein.
(Ratna Indrawati, 1994).
Di tinjau dari golongan umur, Kwashiorkor sering terjadi pada anak balita.
Angka kejadian tertinggi pada umur 1,5 2 tahun yaitu saat setelah terjadinya
penyapihan sedangkan anak belum mengenal jenis makanan lain. Kekurangan protein
atau Kwashiorkor pada masa anak-anak bukanlah masalah main-main karena bukan
saja menyebabkan kematian tetapi juga mengganggu sistem kekebalan tubuh, bahkan
dalam skala yang berat dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan.
Diagnosa dini serta penatalaksanaan yang dapat sangat diperlukan untuk
menghindari akibat yang lebih parah. Untuk itu tenaga bidan atau perawat dituntut
memiliki kemampuan dan ketrampilan lebh dalam melakukan asuhan keperawatan
kepada klien dan keluarga yang meliputi aspek promotif, preventif, kuratif, dan
1

2
rehabilitatif, secara terpadu dan berkesinambungan serta memandang klien sebagai
satu kesatuan yang utuh secara bio psiko sosial spiritual.

B. TUJUAN
1.

Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan pada pasien dengan
meningitis

2.

Tujuan Khusus
a.

Mahasiswa mampu mengetahui pengertian MEP.

b.

Mahasiswa mampu menyebutkan penyebab MEP.

c.

Mahasiswa mampu mengetahui diagnosa-diagnosa yang mungkin muncul


pada pasien MEP.

d.

Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan pada pasien dengan MEP.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. ANATOMI FISIOLOGI SISTEM PENCERNAAN


Saluran pencernaan makanan merupakan saluran yang menerima makanan dari
luar dan mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh dengan jalan proses pencernaan
(pengunyahan, penelanan, dan pencampuran) dengan enzim dan zat cair yang
terbantang mulai dari mulut (oris) sampai anus.

B. ALAT-ALAT PENGHASIL GETAH CERNA


1.

Kelenjar ludah

2.

Kelenjar getah lambung

3.

Kelenjar hati

4.

Kelenjar pankreas

5.

Kelenjar getah usus

C. STRUKTUR PENCERNAAN
1.

Mulut / Oris
Mulut adalah suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air.
Mulut merupakan bagian awal dari sistem pencernaan lengkap yang berakhir di
anus.
Didalam rongga mulut terdapat :
a) Geligi, ada 2 (dua) macam yaitu;
Gigi sulung, mulai tumbuh pada anak-anak umur 6-7 bulan. Lengkap pada
umur 2 tahun jumlahnya 20 buah disebut juga gigi susu, terdiri dari 8
buah gigi seri (dens insisivus), 4 buah gigi taring (dens kaninus) dan 8
buah gigi geraham (premolare).
Gigi tetap (gigi permanen) tumbuh pada umur 6-18 tahun jumlahnya 32
buah terdiri dari; 8 buah gigi seri (dens insisiws),

4 buah gigi taring

(dens kaninus), 8 buah gigi geraham (molare) dan 12 buah gigi geraham
(premolare).

4
Fungsi gigi terdiri dari; gigi seri untuk memotong makanan, gigi taring
gunannya untuk memutuskan makanan yang keras dan liat, dan gigi
geraham gunannya untuk mengunyah makanan yang sudah dipotongpotong.
b) Lidah
Lidah dibagi menjadi 3 (tiga) bagian;
Pangkal lidah (Radiks lingua), pada pangkal lidah yang belakang terdapat
epiglotis yang berfungsi untuk menutup jalan napas pada waktu kita
menelan makanan, supaya makanan jangan masuk ke jalan napas.
Punggung lidah (Dorsum lingua), terdapat puting-puting pengecap atau
ujung saraf pengecap.
Ujung lidah (Apeks lingua)
Fungsi lidah yaitu; mengaduk makanan, membentuk suara, sebagai alat
pengcepa dan menelan, serta merasakan makanan.
Otot lidah; otot-otot ekstrinsik lidah berasal dari rahang bawah, (M.
Mandibularis, os Hioid dan prosesus stiloid) menyebar ke dalam lidah
membentuk anyaman bergabung dengan otot instrinsik yang terdapat pada
lidah. M. Genioglossus merupakan otot lidah yang terkuat berasal dari
permukaan tengah bagian dalam yang menyebar sampai ke radiks lingua.
c) Kelenjar ludah
Disekitar rongga mulut terdapat tiga buah kelenjar ludah yaitu:
Kelenjar parotis: letaknya dibawah depan dari telinga di antara prosesus
mastoid, kiri dan kanan os mandibular, duktusnya duktus stensoni. Duktus
ini keluar dari glandula parotis menuju ke rongga mulut melalui pipi
(muskulus buksinator).
Kelenjar submaksilaris: terletak dibawah rongga mulut bagian belakang,
duktusnya bernama duktus wartoni, bermuara di rongga mulut dekat
dengan frenulum lingua.
Kelenjar sublingualis; letaknya dibawah selaput lendir dasar rongga mulut
bermuara di dasar rongga mulut. Kelenjar ludah disarafi oleh saraf-saraf
tersadar.

5
2.

Faring
Merupakan

organ

yang

menghubungkan

rongga

mulut

dengan

kerongkongan (osofagus), di dalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel)


yaitu kumpulan kelenjar limfe yang banyak mengandung limfosit dan merupakan
pertahanan terhadap infeksi.
Ke atas bagian depan berhubungan dengan rongga hidung dengan
perantaraan lubang bernama koana. Keadaan tekak berhubungan dengan rongga
mulut dengan perantaraan lubang yang disebut ismus fausium.
Bagian superior disebut nasofaring, Pada nasofaring bermuara tuba yang
menghubungkan tekak dengan ruang gendang telinga.
Bagian media disebut orofaring, bagian ini berbatas ke depan sampai di akar
lidah bagian inferior.
3.

Esofagus
Merupakan saluran yang menghubungkan tekak dengan lambung,
panjangnya 25 cm, mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak dibawah
lambung. Lapisan dinding dari dalam ke luar, lapisan selaput lendir (mukosa),
lapisan submukosa, lapisan otot melingkar sirkuler dan lapisan oto memanjang
longitudinal.
Esofagus terletak di belakang trakea dan di depan tulang punggung setelah
melalui toraks menembus diafragma masuk ke dalam abdomen menyambung
dengan lambung.
Esofagus dibagi mejadi tiga bagian;
Bagian superior (sebagian besar adalah otot rangka)
Bagian tengah (campuran otot rangka dan otot halus)
Bagaian inferior (terutama terdiri dari otot halus)

4.

Gaster / Lambung
Merupakan bagian dari saluran yang dapat mengembang paling banyak
terutama di daerah epigaster, lambung terdiri dari bagian atas fundus uteri
berhubungan dengan esofagus melalui orifisium pilorik, terletak dibawah
diapragma didepan pankreas dan limpa, menempel disebelah kiri fundus uteri.
a) Bagian lambung terdiri dari;
Fundus ventrikuli, bagian yang menonjol ke atas terletak sebelah kiri
osteum kardium dan biasanya penuh berisi gas.

6
Korpus venrtikuli, setinggi osteum kardium, suatu lekukan pada bagian
bawah kurvatura minor.
Antrum pilorus, bagian lambung membentuk tabung mempunyai otot yang
tebal membentuk sfingter pilorus.
Kurvantura minor, terdapat sebelah kanan lambung terbentang dari ostium
kardiak sampai ke pilorus.
Kurvantura mayor, lebih panjang dari kurvantura minorterbentang dari sisi
kiri osteum kardiakum melalui fundus ventrikuli menuju ke kanan sampai
ke pilorus inferior. Ligamentum gastro lienalis terbentang dari bagian atas
kurvantura mayor sampai ke limpa.
Osteum kardiakum, meruapakan tempat dimana esofagus bagian abdomen
masuk ke lambung. Pada bagian ini terdapat orifisium pilorik.
b) Fungsi lambung terdiri dari;
1) Menampung makanan, menghancurkan dan menghaluskan makanan oleh
peristaltik lambung dan getah lambung
2) Getah cerna lambung yang dihasilkan:
Pepsin fungsinya; memecah putih telur menjadi asam amino (albumin
dan pepton).
Asam garam (HCl) fungsinya; mengasamkan makanan, sebagai anti
septik dan desinfektan, dan membuat suasana asam pada pepsinogen
sehingga menjadi pepsin.
Renin fungsinya; sebagai ragi yang membekukan susu dan membentuk
kasein dari kasinogen (kasinogen dan protein susu).
Lapisan lambung; jumlahnya sedikit memecah lemak yang merangsang
sekresi getah lambung.
5.

Pankreas
Sekumpulan kelenjar yang strukturnya sangat mirip dengan kelenjar ludah
panjangnya kira-kira 15 cm, lebar 5 cm mulai dari duodenum samapai ke limpa
dan beratnya rata-rata 60-90 gr. Terbentang pada vertebralumbalis I dan II di
belakang lambung.
a) Bagian dari pankreas
Kepala pankreas, terletak di sebelah kanan rongga abdomen dan di dalam
lelukan duodenum yang melingkarnya.

7
Badan pankreas, merupakan bagian utama dari organ ini letaknya di
belakang lambung dan di depan vertebra umbalis pertama.
Ekor pankreas, bagian runcing di sebelah kiri yang sebenamnya
menyentuh limpa.
Fungsi pankreas
Fungsi eksokrin, yang membentuk getah pankreas yang berisi enzim dan
elektrolit.
Fungsi endokrin, sekelompok kecil sel epitelium yang berbentuk pulaupulau kecil atau pulau langerhans, yang bersama-sama membentuk organ
endokrin yang mensekresikan insulin.
Fungsi sekresi eksternal, yaitu cairan pankreas yang dialirkan ke
duodenum yang berguna untuk proses pencernaan makanan di intestinum.
Fungsi sekresi internal, yaitu sekresi yang dihasilkan oleh pulau-pulau
lanngerhans sendiri yang langsung dialirkan ke dalam peredaraan darah.
Sekresinya disebut hormon insulin dan hormon glukagon, hormon tersebut
dibawa ke jaringan untuk membantu metabolisme karbohidrat.
Hasil sekresi
Hormon insulin, hormon insulin ini langsung dialirkan ke dalam darah
tanpa melewati duktus. Sel-sel kelenjar yang menghasilkan insulin ini
termasuk sel-sel kelenjar endokrin.
Getah pankreas, sel-sel yang memproduksi getah pankreas ini termasuk
kelenjar eksokrin, getah pankreas ini dikirim ke dalam duodenum melalui
duktus pankreatikus, duktus ini bermuara pada papila vateri yang terletak
pada dinding duodenum.
Pankreas menerima darah dari arteri pankreatika dan mengalirkan
darahnya ke vena kava inteferior melalui vena pankreatika.
Jaringan pankreas terdiri dari atas lobulus dari sel sekretori yang
tersusun mengitati saluran-saluran kecil dari lobulus yang terletak di dalam
ekor pankreas dan berjalan melalui badan pankreas dari kiri ke kanan.
Saluran kecil ini menerima saluran dari lobulus lain dan kemudian
bersatu untuk membentuk saluran utama yaitu duktus wirsungi.

8
b) Struktur pankreas
Merupakan kumpulan kelenjar yang masing-masing mempunyai
saluran, saluran dari masing-masing kelenjar bersatu menjadi duktus yang
jari-jarinya 3 mm, duktus ini disebut duktus pankreatikus.
Pankreas mempunyai 2 macam sel kelenjar, dimana sel itu
dikumpulkan dan menyerupai pulau-pulau yang disebut pulau langerhans.
Pulau-pulau ini membuat insulin yang langsung masuk ke pembuluh darah
dan kelenjar bagian tubuh.
Di dalam pankreas terdapat kelenjar-kelenjar yang membuat ludah
perut atau getah perut yang mengalir ke dalam pembuluh-pembuluh kelenjar.
Pembuluh ini bersatu ke dalam saluran wirsungi kemudian masuk ke dalam
duodenum pada tempat papilla/arteri kelenjar perut menghasilkan 1 liter
ludah perut dalam satu hari.
6.

Kantung Empedu
Sebuah kantong berbentuk terang dan merupakan membran berotot,
letaknya dalam sebuah lobus di sebelah permukaan bawah hati sampai pinggir
depannya, panjangnya 812 cm berisi 60 cm
a) Fungsi kantung empedu
Sebagai persediaan getah empedu, membuat getah empedu menjadi kental.
Getah empedu adalah cairan yang dihasilkan oleh sel-sel hati jumlah
setiap hari dari setiap orang dikeluarkan 500-1000 cc sekresi yang
digunakan untuk mencerna lemak. 80% dari getah empedu pigmen
(warna) insulin dan zat lainnya.
b) Bagian dari kantung empedu
Fundus vesikafelea, merupakan bagian kantung empedu yang paling akhir
setelah korpus vesikafelea.
Korpus vesikafelea, bagian dari kantung empedu yang didalamnya berisi
getah empedu.
Leher kantung kemih. Merupakan leher dari kantung empedu yaitu saluran
yang pertama masuknya getah empedu ke badan kantung empedu lalu
menjadi pekat berkumpul dalam kantung empedu.

9
Duktus sistikus. Panjangnya 3 cm berjalan dari leher kantung empedu
dan bersambung dengan duktus hepatikus membentuk saluran empedu ke
duodenum.
Duktus hepatikus, saluran yang keluar dari leher.
Duktus koledokus saluran yang membawa empedu ke duodenum.
7.

Hati
Merupakan kelenjar terbesar di dalam tubuh, terletak dalam rongga perut
sebelah kanan, tepatnya dibawah difragma.
Berdasarkan fungsinya, hati juga termasuk sebagai alat sekresi. Hal ini
dikarenakan hati membantu fungsi ginjal dengan cara memecah beberapa
senyawa yang bersifat racun dan menghasilkan amonia, urea, dan asam urat
dengan memanfaatkan nitrogen dari asam amino. Proses pemecahan senyawa
racun oleh hati disebut proses detoksifikasi.

8.

Usus Halus / Intestinum Minor


Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang
terletak di antara lambung dan usus besar. Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu
usus dua belas jari (duodenum), usus kosong (jejenum), usus penyerapan (illeum).
Pada usus dua belas jari terdapat dua muara saluran yaitu dari pankreas dan
kantung empedu.
a) Bagian-bagian usus halus;
Usus dua belas jari (duodenum) adalah bagian pertama usus halus yang
panjangnya 25 cm, berbentuk sepatu kuda, dan kepalanya mengelilingi
kepala pankreas. Saluran empedu dan saluran pankreas masuk ke dalam
duodenum pada satu lubang yang disebut ampulla hepatopankreatika,
ampulla vateri, 10 cm dari pilorus.
Usus kosong (jejenum), menempati dua perlima sebelah atas pada usus
halus yang selebihnya.
Usus penyerapan (illeum), menempati tiga perlima akhir.

9.

UsusBesar / Intestinum Mayor


Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu
dan rektum.

10
a) Fungsi usus besar;
Menyerap air dari makanan
Tempat tinggal bakteri koli
Tempat feses
b) Bagian-bagian usus besar atau kolon;
Kolon asendens. Panjangnya 13 cm, terletak dibawah abdomen sebelah
kanan membujur ke atas dari ileum ke bawah hati. Di bawah hati
melengkung ke kiri, lengkungan ini disebut fleksura hepatika.
Kolon transversum. Panjangnya 38 cm, membujur dari kolon asendens
sampai ke kolon desendens berada di bawah abdomen, sebelah kanan
terdapat fleksura hepatika dan sebelah kiri terdapat fleksura lienalis.
Kolon desendens. Panjangnya 25 cm, terletak di bawah abdomen bagian
kiri membujur dari atas ke bawah dari fleksura lienalis sampai ke depan
ileum kiri, bersambung dengan kolon sigmoid.
Kolon sigmoid. Merupakan lanjutan dari kolon desendens terletak miring,
dalam rongga pelvis sebelah kiri bentuknya menyerupai huruf S, ujung
bawahnya berhubungan dengan rektum.
Rektum. Terletak di bawah kolon sigmoid yang menghubungkan
intestinum mayor dengan anus, terletak dalam rongga pelvis di depan os
sakrum dan os koksigis.
10. Usus Buntu
Usus buntu dalam bahasa latin disebut appendiks vermiformis. Pada awalnya
organ ini dianggap sebagai organ tambahan yang tidak memiliki fungsi, tetati saat ini
diketahui bahwa fungsi apendiks adalah sebagai organ imunologik dan secara aktif
berperan

dalam

sekresi

immunoglobulin

(suatu

kekebalan

tubuh)

dimana

memiliki/berisi kelenjar limfoid.


11. Umbai Cacing
Umbai cacing adalah organ tambahan pada usus buntu. Umbai cacing terbentuk
dari caecum pada tahap embrio. Dalam orang dewasa, umbai cacing berukuran 10 cm
tetapi bisa bervariasi 2 sampai 20 cm.walaupun lokasi apendiks selalu tetap, lokasi
umbai cacing bisa berbeda-beda bisa di retrocaecal atau di pinggang (pelvis) yang
jelas tetap terletak di peritoneum.

11
12. Rektum
Rektum dalam bahasa latin regere (meluruskan , mengatur). Organ ini berfungsi
sebagai tempat penyimpanan sementara feses. Mengembangnya dinding rektum
karena penumpukan material di dalam rektum akan memicu sistem saraf yang
menimbulkan keinginan untuk melakukan defekasi. Jika defekasi tidak terjadi, sering
kali material akan dikembalikan ke usus besar, dimana penyerapan air akan kembali
dilakukan. Jika defekasi tidak terjadi untuk periode yang lama, konstipasi dan
pengerasan feses akan terjadi.
13. Anus
Anus adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rektum
dengan dunia luar (udara luar). Terletak di dasar pelvis bagian posterior dari
peritoneum. Dindingnya diperkuat oleh 3 otot sfingter yaitu:
Sfingter ani internus (sebelah atas), bekerja tidak menurut kehendak.
Sfingter levator ani, bekerja juga tidak menurut kehendak.
Sfingter ani eksternus (sebelah bawah), bekerja sesuai kehendak.

BAB III
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN TUMBUH KEMBANG
KONSEP TUMBUH KEMBANG MANUSIA

A. PENGERTIAN TUMBUH KEMBANG


Pertumbuhan adalah merupakan peningkatan jumlah dan besar sel di seluruh
bagian tubuh selama sel-sel tersebut membelah diri dan mensintesis protein-protein
baru, menghasilkan penambahan jumlah dan berat secara keseluruhan atau sebagian.
Dalam pertumbuhan manusia juga terjadi perubahan ukuran, berat badan, tinggi
badan, ukuran tulang dan gigi, serta perubahan secara kuantitatif dan perubahan fisik
pada diri manusia itu. Dalam pertumbuhan manusia terdapat peristiwa percepatan dan
perlambatan. Peristiwa ini merupakan kejadian yang ada dalam setiap organ tubuh.
(Soetjiningsih,2006 : 11)
Pertumbuhan adalah suatu proses alamiah yang terjadi pada individu,yaitu
secara bertahap,berat dan tinggi anak semakin bertambah dan secara simultan
mengalami peningkatan untuk berfungsi baik secara kognitif, psikososial maupun
spiritual
Perkembangan (development) adalah perubahan secara berangsur-angsur dan
bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh, meningkatkan dan meluasnya kapasitas
seseorang melalui pertumbuhan, kematangan atau kedewasaan (maturation), dan
pembelajaran (learning). Perkembangan manusia berjalan secara progresif, sistematis
dan berkesinambungan dengan perkembangan di waktu yang lalu. Perkembangan
terjadi perubahan dalam bentuk dan fungsi kematangan organ mulai dari aspek fisik,
intelektual, dan emosional. Perkembangan secara fisik yang terjadi adalah dengan
bertambahnya sempurna fungsi organ. Perkembangan intelektual ditunjukan dengan
kemampuan secara simbol maupun abstrak seperti berbicara, bermain, berhitung.
Perkembangan emosional dapat dilihat dari perilaku sosial lingkungan anak.
(Soetjiningsih,2006 :16)
B. FAKTOR YANG MEMPENGARUHITUMBUHKEMBANG
Setiap manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda-beda
antara satu dengan manusia lainnya, bisa dengan cepat bahkan lambat, tergantung
pada individu dan lingkungannya. Proses tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktorfaktor di antaranya :
(Soetjiningsih,2006 : 2)
12

13
a. Faktor heriditer/ genetik
Faktor heriditer Pertumbuhan adalah suatu proses alamiah yang terjadi pada
individu, yaitu secara bertahap, berat dan tinggi anak semakin bertambah dan
secara simultan mengalami peningkatan untuk berfungsi baik secara kognitif,
psikososial maupun spiritual
Merupakan faktor keturunan secara genetik dari orang tua kepada anaknya.
Faktor ini tidak dapat berubah sepanjang hidup manusia, dapat menentukan
beberapa karkteristik seperti jenis kelamin, ras, rambut, warna mata,
pertumbuhan fisik, dan beberapa keunikan sifat dan sikap tubuh seperti
temperamen.
Faktor ini dapat ditentukan dengan adanya intensitas dan kecepatan dalam
pembelahan sel telur, tingkat sensitifitas jaringan terhadap rangsangan, umur
pubertas, dan berhentinya pertumbuhan tulang. Potensi genetik yang berkualitas
hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan yang positif agar memperoleh
hasil yang optimal.
b.

Faktor Lingkungan/ eksternal


Lingkungan merupakan faktor yang mempengaruhi individu setiap hari
mulai lahir sampai akhir hayatnya, dan sangat mempengaruhi tercapinya atau
tidak potensi yang sudah ada dalam diri manusia tersebut sesuai dengan
genetiknya. Faktor lingkungan ini secara garis besar dibagi menjadi 2 yaitu :
(Soetjiningsih,2006 :2)
1. Lingkungan pranatal (faktor lingkungan ketika masihdalam kandungan)
Faktor prenatal yang berpengaruh antara lain gizi ibu pada waktu hamil, faktor
mekanis, toksin atau zat kimia, endokrin, radiasi, infeksi, stress, imunitas, dan
anoksia embrio.
2. Lingkungan postnatal (lingkungan setelah kelahiran)
Lingkungan postnatal dapat di golongkan menjadi :
a. Lingkungan biologis, meliputi ras, jenis kelamin, gizi, perawatan kesehatan,
penyakit kronis, dan fungsi metabolisme
b. Lingkungan fisik, meliputi sanitasi, cuaca, keadaan rumah, dan radiasi.
c. Lingkungan psikososial, meliputi stimulasi, motivasi belajar, teman sebaya,
stress, sekolah, cinta kasih, interaksi anak dengan orang tua.
d. Lingkungan keluarga dan adat istiadat, meliputi pekerjaan atau pendapatan
keluarga, pendidikan orang tua, stabilitas rumah tangga, kepribadian orang
tua.

14
c.

Faktor Status Sosial ekonomi


Status sosial ekonomi dapat berpengaruh pada tumbuh kembang anak.
Anak yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan status sosial yang tinggi
cenderung lebih dapat tercukupi kebutuhan gizinya dibandingkan dengan anak
yang lahir dan dibesarkan dalam status ekonomi yang rendah.
1. Faktor nutrisi
Nutrisi adalah salah satu komponen penting dalam menunjang kelangsungan
proses tumbuh kembang. Selama masa tumbuh kembang, anak sangat
membutuhkan zat gizi seperti protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin,
dan air. Apabila kebutuhan tersebut tidak di penuhi maka proses tumbuh
kembang selanjutnya dapat terhambat.
2. Faktor kesehatan
Status kesehatan dapat berpengaruh pada pencapaian tumbuh kembang. Pada
anak dengan kondisi tubuh yang sehat, percepatan untuk tumbuh kembang
sangat mudah. Namun sebaliknya, apabila kondisi status kesehatan kurang
baik, akan terjadi perlambatan.
(Soetjiningsih,2006 :2)

C. CIRI PROSES TUMBUHKEMBANG


Menurut Soetjiningsih, tumbuh kembang anak dimulai dari masa konsepsi
sampai dewasa memiliki ciri-ciri tersendiri yaitu :
1.

Tumbuh kembang adalah proses yang kontinyu sejak konsepsi sampai maturitas
(dewasa) yang dipengaruhi oleh faktor bawaan daan lingkungan.

2.

Dalam periode tertentu terdapat percepatan dan perlambatan dalam proses tumbuh
kembang pada setiap organ tubuh berbeda.

3.

Pola perkembangan anak adalah sama, tetapi kecepatannya berbeda antara anak
satu dengan lainnya.

4.

Aktivitas seluruh tubuh diganti dengan respon tubuh yang khas oleh setiap organ.
Secara garis besarmenurutmarkumtumbuh kembang dibagi menjadi 3 yaitu:
a. Tumbuh kembang fisis
Tumbuh kembang fisis meliputi perubahan dalam ukuran besar dan fungsi
organisme atau individu. Perubahan ini bervariasi dari fungsi tingkat
molekuler yang sederhana seperti aktifasi enzim terhadap diferensi sel, sampai

15
kepada proses metabolisme yang kompleks dan perubahan bentuk fisik di
masa pubertas.
b. Tumbuh kembang intelektual
Tumbuh kembang intelektual berkaitan dengan kepandaian berkomunikasi
dan kemampuan menangani materi yang bersifat abstrak dan simbolik, seperti
bermain, berbicara, berhitung, atau membaca.
c. Tumbuh kembang emosional
Proses tumbuh kembang emosional bergantung pada kemampuan bayi umtuk
membentuk ikatan batin, kemampuan untuk bercinta kasih.
Prinsip tumbuh kembang menurut Potter & Perry (2005) yaitu:
Perkembangan merupakan hal yang teratur dan mengikuti arah rangkaian
tertentu.
Perkembangan adalah suatu yang terarah dan berlangsung terus menerus, dalam
pola sebagai berikut Cephalocaudal yaitu pertumbuhan berlangsung terus dari kepala
ke arah bawah bagian tubuh, Proximodistal yaitu perkembangan berlangsung terus
dari daerah pusat (proksimal) tubuh kearah luar tubuh (distal), Differentiation yaitu
perkembangan berlangsung terus dari yang mudah kearah yang lebih kompleks.
Perkembangan merupakan hal yang kompleks, dapat diprediksi, terjadi dengan
pola yang konsisiten dan kronologis.
(Soetjiningsih, 2006 :33)

D. TAHAP-TAHAP TUMBUH KEMBANG ANAK


Tahap-tahap tumbuh kembang pada Anak adalah sebagai berikut :
1.

Neonatus (bayi lahir sampai usia 28 hari)


Dalam tahap neonatus ini bayi memiliki kemungkinan yang sangat besar
tumbuh dan kembang sesuai dengan tindakan yang dilakukan oleh orang tuanya.
Sedangkan perawat membantu orang tua dalam memenuhi kebutuhan tumbuh
kembang bayi yang masih belum diketahui oleh orang tuanya.
(Soetjiningsih2006, :33)

2.

Bayi (1 bulan sampai 1 tahun)


Dalam tahap ini bayi memiliki kemajuan tumbuh kembang yang sangat
pesat. Bayi pada usia 1-3 bulan mulai bisa mengangkat kepala,mengikuti objek
pada mata, melihat dengan tersenyum dll. Bayi pada usia 3-6 bulan mulai bisa
mengangkat kepala 90, mulai bisa mencari benda-benda yang ada di depan mata

16
dll. Bayi usia 6-9 bulan mulai bisa duduk tanpa di topang, bisa tengkurap dan
berbalik sendiri bahkan bisa berpartisipasi dalam bertepuk tangan dll. Bayi usia 912 bulan mulai bisa berdiri sendiri tanpa dibantu, berjalan dengan dtuntun,
menirukan suara dll. Perawat disini membantu orang tua dalam memberikan
pengetahuan dalam mengontrol perkembangan lingkungan sekitar bayi agar
pertumbuhan psikologis dan sosialnya bisa berkembang dengan baik.
(Setjiningsih,2006 :33)
3.

Todler (usia 1-3 tahun)


Anak usia toddler ( 1 3 th ) mempunyai sistem kontrol tubuh yang mulai
membaik, hampir setiap organ mengalami maturitas maksimal. Pengalaman dan
perilaku mereka mulai dipengaruhi oleh lingkungan diluar keluarga terdekat,
mereka mulai berinteraksi dengan teman, mengembangkan perilaku/moral secara
simbolis, kemampuan berbahasa yang minimal. Sebagai sumber pelayanan
kesehatan, perawat berkepentingan untuk mengetahui konsep tumbuh kembang
anak usia toddler guna memberikan asuhan keperawatan anak dengan optimal.
(Soetjiningsih,2006 :33)

4.

Pra Sekolah (3-6 tahun)


Anak usia pra sekolah adalah anak yang berusia antara 3-6 tahun ( Wong,
2000), anak usia prasekolah memiliki karakteristik tersendiri dalam segi
pertumbuhan dan perkembangannya. Dalam hal pertumbuhan, secara fisik anak
pada tahun ketiga terjadi penambahan BB 1,8 s/d 2,7 kg dan rata-rata BB 14,6
kg.penambahan TB berkisar antara 7,5 cm dan TB rata-rata 95 cm.
Kecepatan pertumbuhan pada tahun keempat hampir sama dengan tahun
sebelumnya.BB mencapai 16,7 kg dan TB 103 cm sehingga TB sudah mencapai
dua kali lipat dari TB saat lahir. Frekuensi nadi dan pernafasan turun sedikit demi
sedikit. Pertumbuhan pada tahun kelima sampai akhir masa pra sekolah BB ratarata mencapai 18,7 kg dan TB 110 cm, yang mulai ada perubahan adalah pada
gigi yaitu kemungkinan munculnya gigi permanent ssudah dapat terjadi.
(Soetjiningsih, 2006 :33)

5.

Usia sekolah (6-12 tahun)


Kelompok usia sekolah

sangat dipengaruhi oleh teman sebayanya.

Perkembangan fisik, psikososial, mental anak meningkat. Perawat disini


membantu memberikan waktu dan energi agar anak dapat mengejar hoby yang
sesuai dengan bakat yang ada dalam diri anak tersebut.

17
6.

Remaja ( 12-18/20 tahun)


Perawat

membantu

para

remaja

untuk

pengendalian

emosi

dan

pengendalian koping pada jiwa mereka saat ini dalam menghadapi konflik.
7.

Dewasa muda (20-40 tahun)


Perawat disini membantu remaja dalam menerima gaya hidup yang mereka
pilih, membantu dalam penyesuaian diri, menerima komitmen dan kompetensi
mereka, dukung perubahan yang penting untuk kesehatan.

8.

Dewasa menengah (40-65 tahun)


Perawat membantu individu membuat perencanaan sebagai antisipasi
terhadap perubahan hidup, untuk menerima faktor-faktor risiko yang berhubungan
dengan kesehatan dan fokuskan perhatian individu pada kekuatan, bukan pada
kelemahan.

9.

Dewasa tua
Perawat membantu individu untuk menghadapi kehilangan (pendengaran,
penglihatan, kematian orang tercinta).
(Soetjiningsih, 2006 :33)

E. PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL
Dalam perkembangan psikoseksual dalam tumbuh kembang dapat dijelaskan
beberapa tahap sebagai berikut :
1. Tahap oral-sensori (lahir sampai usia 12 bulan)
Dalam tahap ini biasanya anak memiliki karakter diantaranya aktivitasnya
mulai melibatkan mulut untuk sumber utama dalam kenyamanan anak,
perasaannya mulai bergantung pada orang lain (dependen), prosedur dalam
pemberian makan sebaiknya memberkan kenyamanan dan keamanan bagi anak.
2. Tahap anal-muskular (usia 1-3 tahun / toddler)
Dalam tahap ini anak biasanya menggunakan rektum dan anus sebagai
sumber kenyamanan, apabila terjadi gangguan pada tahap ini dapat menimbulkan
kepribadian obsesif-kompulsif seperti keras kepala, kikir, kejam dan temperamen.
3. Tahap falik (3-6 tahun / pra sekolah)
Tahap ini anak lebih merasa nyaman pada organ genitalnya, selain itu
masturbasi dimulai dan keinggintahuan tentang seksual.Hambatan yang terjadi
pada masa ini menyebabkan kesulitan dalam identitas seksual dan bermasalah
dengan otoritas, ekspresi malu, dan takut.

18
4. Tahap latensi (6-12 tahun / masa sekolah)
Tahap ini anak mulai menggunakan energinya untuk mulai aktivitas
intelektual dan fisik, dalam periode ini kegiatan seksual tidak muncul, penggunaan
koping dan mekanisme pertahanan diri muncul pada waktu ini.
5. Genital (13 tahun keatas / pubertas atau remaja sampai dewasa)
Tahap ini genital menjadi pusat kesenangan seksual dan tekanan, produksi
horman seksual menstimulasi perkembangan heteroseksual, energi ditunjukan
untuk mencapai hubungan seksual yang teratur, pada awal fase ini sering muncuul
emosi yang belum matang, kemudian berkembang kemampuan untuk menerima
dan memberi cinta.
(Taslim, 2003 :71)

F. PERKEMBANGAN BIOLOGIS
Teori biologisme, biasa disebut teori nativisme menekankan pentingnya peranan
bakat. Pendirian biologisme ini dimulai lebniz (1646-1716) yang mengemukakan teori
kontunuitas yang dilanjutkan dengan evoluisionisme. Selanjutnya Haeckel (18341919) seorang ahli biologi Jerman mengemukakan teori biogenese, yang menyatakan
bahwa perkembangan ontogenese (individu) merupakan rekapitulasi dari filogesenasi.
Para penganut bilogisme menekankan pada faktor biologis, menekankan fasefase perkembangan yang harus dilalui. Sedangkan penganut sosiologisme atau
empirisme menekankan peranan lingkungan pada perkembangan pribadi. Wolf
menentang teori biogenese dan mengemukakan teori epigenese, yang menyatakan
bahwa perkembangan organisme itu tidak ditentukan oleh performansinya, melainkan
ada sesuatu yang baru. William Stern mengemukakan teori konvergensi yang berusaha
mensitesakan kedua teori tersebut.
Sebagai makhluk kodrati yang kompleks, manusia memiliki inteligensi dan
kehendak bebas. Dalam hal perkembangan, pada awalnya manusia berkembang alami
sesuai dengan hukum alam. Kemudian perkembangan alami manusia ini menjadi jauh
melampui

perkembangan

makhluk

lain

melalui

intervensi

inteligensi

dan

kebebasannya.
(Allen, 2009 :23)

19
G. PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL
Teori perkembangan kepribadian yang dikemukakan Erik Erikson,1950
merupakan salah satu teori yang memiliki pengaruh kuat dalam psikologi. Bersama
dengan Sigmund Freud, Erikson mendapat posisi penting dalam psikologi. Hal ini
dikarenakan ia menjelaskan tahap perkembangan manusia mulai dari lahir hingga
lanjut usia; satu hal yang tidak dilakukan oleh Freud. Selain itu karena Freud lebih
banyak berbicara dalam wilayah ketidaksadaran manusia, teori Erikson yang
membawa aspek kehidupan sosial dan fungsi budaya dianggap lebih realistis.
diantaranya :
(Erikson, 2007 :3)
1.

Trust vs mistrust -- bayi (lahir 12 bulan)


Anak memiliki indikator positif yaitu belajar percaya pada orang lain, tetapi
selain itu ada segi negatifnya yaitu tidak percaya, menarik diri dari lingkungan
masyarakat,dan bahkan pengasingan. Pemenuhan kepuasan untuk makan dan
menghisap, rasa hangat dan nyaman, cinta dan rasa aman itu bisa menghasilkan
kepercayaan. Pada saat kebutuhan dasar tidak terpenuhi bayi akan menjadi curiga,
penuh rasa takut, dan tidak percaya. Hal ini ditandai dengan perilaku makan, tidur
dan eliminasi yang buruk.

2.

Otonomi vs ragu-ragu dan malu (autonomy vs shame & doubt) todler


(1-3 tahun)
Gejala positif dari tahap ini adalah kontrol diri tanpa kehilangan harga diri,
dan negatifnya anak terpaksa membatasi diri atau terpaksa mengalah.Anak mulai
mengembangkan kemandirian dan mulai terbentk kontrol diri.Hal ini harus
didukung oleh orang tua, mungkin apabila dukungan tidak dimiliki maka anak
tersebut memiliki kepribadian yang ragu-ragu.
(Erikson, 2007 :3)

3.

Inisiatif vs merasa bersalah (initiative vs guilt) -- pra sekolah ( 3-6 tahun)


Anak mulai mempelajari tingkat ketegasan dan tujuan mempengaruhi
lingkungan dan mulai mengevaluasi kebiasaan diri sendiri. Disamping itu anak
kurang percaya diri, pesimis, pembatasan dan kontrol yang berlebihan terhadap
aktivitas pribadinya. Rasa bersalah mungkin muncul pada saat melakukan
aktivitas yang berlawanan dengan orang tua dan anak harus diajari memulai
aktivitas tanpa mengganggu hak-hak orang lain.
(Erikson,2007 : 3)

20
4.

Industri vs inferior (industry vs inferiority) -- usia sekolah (6-12 tahun)


Anak mendapatkan pengenalan melalui demonstrasi ketrampilan dan
produksi benda-benda serta mengembangkan harga diri melalui pencapaian, anak
biasanya terpengaruhi oleh guru dan sekolah.Anak juga sering hilang harapan,
merasa cukup, menarik diri dari sekolah dan teman sebaya.
(Erikson,2007 : 3)

5.

Identitas vs bingung peran (identity vs role confusion) -- remaja (12 - 18 tahun)


Teman sebaya memiliki pengaruh yang sangat besar yang kuat terhadap
perilaku anak, anak mengembangkan penyatuan rasa diri sendiri, kegagalan untuk
mengembangkan rasa identitas dengan kebingungan peran,sering muncul dari
perasaan tidak adekuat, isolasi dan keragu-raguan.
(Erikson,2007 : 3)

6.

Intimasi vs isolasi (intimacy vs isolation) dewasa muda (18-25sampai 45tahun)


Individu mengembangkan kedekatan dan berbagi hubungan dengan orang
lain, yang mungkin termasuk pasangan seksualnya, ketidakpastian individu
mengenai akan mempunyai kesulitan mengembangkan keintiman, individu tidak
bersedia atau tidak mampu berbagi mengenai diri sendiri hal ini akan menjadikan
individu meraa sendiri.
(Erikson,2007 : 3)

7.

Generativitas vs stagnasi atau absorpsi diri dewasa tengah (45 65 tahun)


Absorpsi diri orang dewasa akan direnungi selanjutnya, mengekspresikan
kepedulian pada dunia di masa yang akan datang, perenungan diri sendiri
mengarah pada stagnasi kehidupan. Orang dewasa membimbing generasi
selanjutnya, mengekspresikan kepada dunia dimasa yang akan datang.
(Erikson,2007 : 3)

8.

Integritas ego vs putus asa -- dewasa akhir (65 tahun keatas)


Masa lansia dapat melihat kebelakang dengan rasa puas dan penerimaan
hidup dan kematian, pencaian yang tidak berhasil dalam krisis ini bisa
menghasilkan perasaan putus asa karena individu melihat kehidupan sebagai
bagian dari ketidakberuntungan.

21
Selain teori tersebut menurut, diketahui bahwa gejolak emosi remaja dan
masalah remaja lain pada umumnya disebabkan antara lain oleh adanya konflik
peran sosial. Di satu pihak ia sudah ingin mandiri sebagai orang dewasa, di pihak
lain ia masih harus terus mengikuti kemauan orang tua. Rasa ketergantungan pada
orang tua di kalangan anak anak Indonesia lebih besar lagi, karena memang
dikehandaki demikian oleh orang tua.Konflik peran yang yang dapat
menimbulkan gejolak emosi dan kesulitan kesulitan lain pada amasa remaja dapat
dikurangi dengan memberi latihan latihan agar anak dapat mandiri sedini
mungkin. Dengan kemandiriannya anak dapat memilih jalannya sendiri dan ia
akan berkembang lebih mantap. Oleh karena ia tahu dengan tepat saat saat yang
berbahaya di mana ia harus kembali berkonsultasi dengan orang tuanya atau
dengan orang dewasa lain yang lebih tahu dari dirinya sendiri.
(Erikson,2007 : 3)

H. PERKEMBANGAN MORAL
Moral merupakan bagian yang cukup penting dalam jiwa remaja. Sebagian
orang berpendapat bahwa moral bisa mengendalikan tingkah laku anak yang beranjak
dewasa ini sehingga ia tidak melakukan hal hal yang merugikan atau bertentangan
dengan kehendak atau pandangan masyarakat.Di sisi lain tiadanya moral seringkali
dituding sebagai faktor penyebab meningkatnya kenakalan remaja.
Para sosiolog beranggapan bahwa masyarakat sendiri punya peran penting
dalam pembentukan moral. W.G. Summer (1907), salah seorang sosiolog,
berpendapat bahwa tingkah laku manusia yang terkendali disebabkan oleh adanya
kontrol dari masyarakat itu sendiri yang mempunyai sanksi sanksi tersendiri buat
pelanggar pelanggarnya.Bayi berada dalam tahap perkembangan moral yang oleh
Piaget (Hurlock, 1980) disebut moralitas dengan paksaan (preconventional level) yang
merupakan tahap pertama dari tiga tahapan perkembangan moral.
(Duska dan Ronald, 2002 :21)
Menurut teori Kohlbergmenyatakan bahwa perkembangan moral meliputi
beberapa tahap meliputi :
1.

Tingkat premoral (prekonvensional) : lahir sampai 9 tahun


Anak menyesuaikan minat diri sendiri dengan aturan, berasumsi bahwa
penghargaan atau bantuan akan diterimanya, kewaspadaan terhadap moral yang
bisa diterima secara sosial, kontrol emosi didapatkan dari luar.

22
2.

Tingkat moralitas konvensional : 9-13 tahun


Usaha yang dilakukan untuk memyensngkan orang lain, kontrol emosi didapat
dari dalam, anak menyesuaikan diri untuk menghindari penolakan dan
menghindari kritikan dari yang berwenang.

3.

Tingkat moralitas pasca konvensional : 13 tahun sampai meninggal


Individu memperoleh nilai moral yang benar, pencapaian nilai moral yang benar
terjadi setelah dicapai formal operasional dan tidak semua orang mencapai
tingkatan ini.
Konsep kunci untuk memahami perkembangan moral, khususnya teori Kohlberg,
ialah internalisasi (internalization), yakni perubahan perkembangan dari perilaku
yang dikendalikan secara eksternal menjadi perilaku yang dikendalikan secara
internal.
(Duska dan Ronald, 2002 :21)

I.

PERKEMBANGAN SPIRITUAL
Sejalan dengan perkembangan social, perkembangan keagamaan mulai disadari
bahwa terdapat aturan-aturan perilaku yang boleh, harus atau terlarang untuk
melakukannya.Perkembangan spiritual anak sangat bepengaruh sekali dalam tumbuh
kembang anak. Agama sebagai pedoman hidup anak untuk masa yang akan datang.
Selain itu, moral seorang anak juga dapat dibentuk melalui perkembangan spiritual.
Anak diberi pengetahuan adanya kepercayaan terhadap Tuhan YME sesuai dengan
kepercayaan

yang

dianut

orang

tua.

Karena

agama

seorang

anak

itu

diturunkan/diwariskan oleh orang tuanya.(Jamaris 2006:19)


Para ahli berpendapat bahwa perkembangan spiritual dibagi menjadi 3 tahapan
yaitu :
1. Masa kanak-kanak (sampai tujuh tahun)
Tanda-tandanya antara lain : sikap keagamaan resepsif meskipun banyak
bertanya, pandangan ke- Tuhanan masih dipersonifikasikan, penghayatan secara
rohaniah masih belum mendalam meskipun mereka telah melakukan kegiatan
ritual.
(Jamaris,2006:19)
2. Masa anak sekolah
Tanda-tandanya antara lain : sikap keagamaan resepsif tetapi disertai
pengertian, pandangan dan faham ke-Tuhanan diterangkan secara rasional

23
berdasarkan kaidah-kaidah logika yang bersumber pada indikator alam semesta
sebagai manifestasi dari eksistensi dan keagungan-Nya, pengahayatan secara
rohaniah makin mendalam dalam melaksanakan ritual.
(Jamaris, 2006:19)
3. Masa remaja (12-18 tahun)
Tanda-tanda masa remaja awal : sikap negatif disebabkan alam pikirannya
yang kritis melihat

kenyataan orang-orang beragama secara hypocrit yang

pengakuan dan ucapannya tidak selalu sama dengan perbuatannya, pandangan


dalam hal ke-Tuhanan menjadi kacau karena ia bingung terhadap berbagai konsep
tentang aliran dan paham yang saling bertentangan.
Tanda-tanda masa remaja akhir : sikap kembali kearah positif dengan
tercapainya

kedewasaan

intelektual,

pandangan

dalam

hal

ke-Tuhanan

dipahamkan dalam konteks agama yang dianut dan dipilih, penghayatan


rohaninya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan membedakan
agama sebagai doktrin bagi para penganutnya.
Perawat bisa membantu dengan melakukan tindakan memberikan
pengetahuan kepada anak tentang apa yang terbaik bagi kesehatan anak dan
keadaan dimana anak memerlukan dorongan secara spiritual demi kesembuhan
penyakitnya. Allah selamanya mendengar bisikan dan pembicaraan, melihat
setiap gerak-geriknya dan mengetahui apa yang dirahasiakan , memperhatikan
khusu', taqwa dan ibadah.
(Jamaris 2006:19)

24
BAB IV
LAPORAN PENDAHULUAN MEP

A. DEFINISI
Defisiensi gizi dapat terjadi pada anak yang kurang mendapatkan masukan
makanan dalam waktu lama. Istilah dan klasifikasi gangguan kekurangan gizi amat
bervariasi dan masih merupakan masalah yang pelik. Walaupun demikian, secara
klinis digunakan istilah malnutrisi energi dan protein (MEP) sebagai nama umum.
Penentuan jenis MEP yang tepat harus dilakukan dengan pengukuran antropometri
yang lengkap (tinggi badan, berat badan, lingkar lengan atas dan tebal lipatan kulit),
dibantu dengan pemeriksaan laboratorium (Ngastiyah, 1997).
Kwashiorkor adalah MEP berat yang disebabkan oleh defisiensi protein.
Penyakit kwashiorkor pada umumnya terjadi pada anak dari keluarga dengan status
sosial ekonomi yang rendah karena tidak mampu menyediakan makanan yang cukup
mengandung protein hewani seperti daging, telur, hati, susu dan sebagainya. Makanan
sumber protein sebenarnya dapat dipenuhi dari protein nabati dalam kacang-kacangan
tetapi karena kurangnya pengetahuan orang tua, anak dapat menderita defisiensi
protein.
Marasmus adalah MEP berat yang disebabkan oleh defisiensi makanan sumber
energi (kalori), dapat terjadi bersama atau tanpa disertai defsiensi protein. Bila
kekurangan sumber kalori dan protein terjadi bersama dalam waktu yang cukup lama
maka anak dapat berlanjut ke dalam status marasmik kwashiorkor. (Ngastiyah, 1997)
Marasmus adalah bentuk malnutrisi kalori protein yang terutama akibat
kekurangan kalori yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun pertama
kehidupan dan mengurusnya lemak bawah kulit dan otot. (Ngastiyah, 1997)

B. ETIOLOGI
Penyebab terjadinya kwashiorkor adalah inadekuatnya intake protein yang
berlansung kronis. Faktor yang dapat menyebabkan hal tersbut diatas antara lain:
1. Pola makan
Protein (dan asam amino) adalah zat yang sangat dibutuhkan anak untuk
tumbuh dan berkembang. Meskipun intake makanan mengandung kalori yang
cukup, tidak semua makanan mengandung protein/asam amino yang memadai.
Bayi yang masih menyusui umumnya mendapatkan protein dari ASI yang
24

25
diberikan ibunya, namun bagi yang tidak memperoleh ASI protein adri sumbersumber lain (susu, telur, keju, tahu dan lain-lain) sangatlah dibutuhkan. Kurangnya
pengetahuan ibu mengenai keseimbangan nutrisi anak berperan penting terhadap
terjadi kwashiorkhor, terutama pada masa peralihan ASI ke makanan pengganti
ASI.
2. Faktor sosial
Hidup di negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, keadaan
sosial dan politik tidak stabil, ataupun adanya pantangan untuk menggunakan
makanan tertentu dan sudah berlansung turun-turun dapat menjadi hal yang
menyebabkan terjadinya kwashiorkor.
3. Faktor ekonomi
Kemiskinan keluarga/ penghasilan yang rendah yang tidak dapat memenuhi
kebutuhan berakibat pada keseimbangan nutrisi anak tidak terpenuhi, saat dimana
ibunya pun tidak dapat mencukupi kebutuhan proteinnya.
4. Faktor infeksi dan penyakit lain
Telah lama diketahui bahwa adanya interaksi sinergis antara MEP dan
infeksi. Infeksi derajat apapun dapat memperburuk keadaan gizi. Dan sebaliknya
MEP, walaupun dalam derajat ringan akan menurunkan imunitas tubuh terhadap
infeksi.
Penyebab Marasmus :
Marasmus ialah suatu bentuk kurang kalori protein yang berat. Keadaan ini
merupakan hasil akhir dari interaksi antara kekurangan makanan dan penyakit
infeksi. Selain faktor lingkungan, ada beberapa faktor lain pada diri anak sendiri
yang dibawa sejak lahir, diduga berpengaruh terhadap terjadinya marasmus. Secara
garis besar sebab sebab marasmus antara lain :
a.

Pemasukan kalori yang tidak cukup, marasmus terjadi akibat masukan kalori
yang sedikit.

b.

Pemberian makanan yang tidak sesuai dengan yang dianjurkan akibat dari
ketidak tahuan orang tua si anak ; misalnya pemakaian secara luas susu kaleng
yang terlalu encer.

c.

Kebiasaan makan yang tidak tepat. Seperti mereka yang mempunyai hubungan
orangtua dan anak terganggu.

d.

Kelainan metabolic. Misalnya : renal asidosis, idiopathic hypercalcemia,


galactosemia, lactose intolerance. Malformasi kongenital misalnya: penyakit

26
jantung bawaan, penyakit hirschprung, deformitas palatum, palatoschizis,
micrognathia, stenosis pilorus, hiatus hernia, hidrosefalus, cystic fibrosis
pancreas.

C. PATOFISIOLOGI
1.

Marasmus
Untuk kelangsungan hidup jaringan diperlukan sejummlah energi yang
dalam keadaan normal dapat dipenuhhi dari makanan yang diberikan. Kebutuhan
ini tidak terpenhi pada masukan yang kurang, karena itu untuk pemenuhannya
digunakan cadangan protein senagai sumber energi. Pengahancuran jaringan pada
defesiensi kalori tidak saja membantu memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga
memungkinkan sintesis glukosa dan metabolit esensial lainnya, seperti berbagai
asam amino.

2.

Kwashiorkor
Pada defesiensi protein murni tidak terjadi katabolisme jaringan yang sangat
lebih, karena persediaan energi dapat dipenuhi oleh jumlah kalori dalam dietnya.
kelainanan yang mencolok adalah gangguan metabolik dan perubahan sel yang
meyebabkan edem dan perlemakan hati. Karena kekurangan protein dalam diet,
akan terjadi kekurangan berbagai asam amino esensial dalam serum yang
diperlukan untuk sentesis dan metabolisme. Makin kekurangan asam amnino
dalam serum ini akan menyebabkan kurangnya produksi albumin oleh hepar yang
kemudian berakibat edem. perlemakan hati terjadi karena gangguan pembentukan
beta-lipoprotein, sehingga transport lemak dari hati kedepot terganggu, dengan
akibat terjadinya penimbunan lemah dalam hati.

27
D. PATHWAY

Status sosial

Ekonomi rendah

Ekonomi tinggi

Kurang pengetahuan dan pendidikan

Intake makanan tidak adekuat

MEP

Gangguan nutrisi,vitamin
dan mineral

Defisiensi protein

Defisiensi sumber kalori

Malnutrisi berkepanjangan

Penurunan jumlah protein


tubuh

Katabolisme karbohidrat,
glukosa (inadekuat)

Intake karbohidrat

Terjadinya perubahan
biokimia dalam tubuh

Katabolisme lemak, asam


lemak, gliselor

Defisiensi asam amino


esensial

Hilangnya lemak di
bantalan tubuh

hipoglikemia

Gula darah
kwashiorkor

Metabolisme sel

Gangguan absorbsi dan


transportasi zat zat gizi

Turgor kulit menurun dan


keriput

Gangguan integritas kulit

energi
Pengambilan energi selain
protein (otot)
Lemah otot

Gangguan metabolisme
otak

Gangguan pertumbuh

28

29

distropi

Penyusutan otot

Atropi

Penurunan berat badan

Aktivitas

Nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh

Menurunya kesadaran
dan mental

Intelektual

Intoleransi aktifitas
Sulit konsentrasi

Gangguan tumbuh
kembang

30
E. GAMBARAN KLINIK
Gambaran klinik antara Marasmus dan Kwashiorkor sebenarnya berbeda
walaupun dapat terjadi bersama-sama (Ngastiyah, 1997)
Gambaran Klinik Kwashiorkor
Perubahan mental (cengeng atau apatis)
Pada sebagian besar anak ditemukan edema ringan sampai berat)
Gejala gastrointestinal (anoreksia, diare)
Gangguan pertumbuhan rambut (defigmentasi, kusam, kering, halus, jarang dan
mudah dicabut)
Kulit kering, bersisik, hiperpigmentasi dan sering

ditemukan gambaran crazy

pavement dermatosis.
Pembesaran hati (kadang sampai batas setinggi pusat, teraba kenyal, licin dengan
batas yang tegas)
Anemia akibat gangguan eritropoesis.
Pada pemeriksaan kimia darah ditemukan hipoalbuminemia dengan kadar globulin
normal, kadar kolesterol serum rendah.
Pada biopsi hati ditemukan perlemakan, sering disertai tanda fibrosis, nekrosis dan
infiltrasi sel mononukleus.
Hasil autopsi pasien kwashiorkor yang berat menunjukkan terjadinya perubahan
degeneratif pada semua organ (degenerasi otot jantung, atrofi fili usus, osteoporosis
dan sebagainya)
Gambaran Klinik marasmus
Pertumbuhan berkurang atau terhenti, otot-otot atrofi
Perubahan mental (cengeng, sering terbangun tengah malam)
Sering diare, warna hijau tua, terdiri dari lendir dengan sedikit tinja.
Turgor kulit menurn, tampak keriput karena kehilangan jaringan lemak bawah kulit
Pada keadaan marasmik yang berat, lemak pipi juga hilang sehingga wajah tampak
lebih tua, tulang pipi dan dagu kelihatan menonjol
Vena superfisial tampak lebih jelas
Perut membuncit dengan gambaran usus yang jelas.

31
F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.

Pemeriksaan Fisik
a) Mengukur TB dan BB
b) Menghitung indeks massa tubuh, yaitu BB (dalam kilogram) dibagi dengan
TB (dalam meter)
c) Mengukur ketebalan lipatan kulit dilengan atas sebelah belakang (lipatan
trisep) ditarik menjauhi lengan, sehingga lapisan lemak dibawah kulitnya
dapat diukur, biasanya dangan menggunakan jangka lengkung (kaliper).
Lemak dibawah kulit banyaknya adalah 50% dari lemak tubuh. Lipatan
lemak normal sekitar 1,25 cm pada laki-laki dan sekitar 2,5 cm pada wanita.
d) Status

gizi

juga

dapat

diperoleh

dengan

mengukur

LLA

untuk

memperkirakan jumlah otot rangka dalam tubuh (lean body massa, massa
tubuh yang tidak berlemak).
2.

Pemeriksaan laboratorium : albumin, kreatinin, nitrogen, elektrolit, Hb, Ht,


transferin.

G. TANDA DAN GEJALA


1.

Marasmus
a.

Perubahan psikis , anak menjadi cengeng, cerewet walaupun mendapat


minum.

b.

Pertumbuhan berkurang atau terhenti.

c.

Berat badan anak menurun, jaringan subkutan menghilang ( turgor jelek


dan

d.

kulit keriput.

Vena superfisialis kepala lebih nyata, frontal sekung, tulang pipi dan dagu
terlihat menonjol, mata lebih besar dan cekung.

2.

e.

Hipotoni akibat atrofi otot

f.

Perut buncit

g.

Kadang-kadang terdapat edem ringan pada tungkai

h.

Ujung tangan dan kaki terasa dingin dan tampak sianosis.

Kwashiorkor
a.

Secara umum anak tampak sembab, latergik, cengeng dan mudah terangsang,
pada tahap lanjut anak menjadi apatus dan koma.

b.

Pertumbuhan terlambat

c.

Udema

32
d.

Anoreksia dan diare.

e.

Jaringan otot mengecil, tonus menurun, jaringan subcutis tipis dan lembek.

f.

Rambut berwarna pirang , berstruktur kasar dan kaku serta mudah dicabut.

g.

Kelainan kulit, tahap awal kulit kering, bersisik dengan garis-garis kulit yang
dalam dan lebam, disertai defesiensi vitamin B kompleks, defesiensi
eritropoitin dan kerusakan hati.

h.

Anak mudah terjangkit infeksi

i.

Terjadi defesiensi vitamin dan mineral

H. PENATA LAKSANAAN
Prinsip pengobatanya adalah:
1.

Memberikan makanan yang mengandung banyak proteinbernilai biologik tinggi,

2.

tinggi kalori, cukup cairan, vitamin dan mineral

3.

Makanan harus dihidangkan dalam bentuk mudah dicerna dan diserap

4.

Makanan diberikan secara bertahap, karena toleransi terhadap makanan


sangatrendah.

5.

Penanganan terhadap penyakit penyerta.

6.

Tindak lanjut berupa pemantauan kesehatan penderita dan penyuluhan gizi


terhadapkeluarga.
Dalam aplikasinya penanganan marasmus berat pada tahap awal adalah

mengatasi kelainan akut, seperti diare, bronkopneumonia, atau penyakit infeksi berat
lainnya, gangguan elektrolit dankeseimbangan asam basa, renjatan(shock), gagal
ginjal, gagal jantung. Dalam keadaan dehidrasi danasidosis pedoman pemberian cairan
paraenteral adalah sebagai berikut:
1. Jumlah cairan adalah 250 ml/kg BB/hari
2. Jenis cairan yang dipilih adalah Darrow-glukosa aa dengan kadar glukosa
dinaikkan menjadi 10% bila terdapat hipoglikemia.
3. Cara pemberiannya adalah sebanyak 60 ml/kg BB diberikan dalam 4-8 jam
pertama,kemudian sisanya diberikan dalam waktu 16-20 jam berikutnya. Selain itu
ASI ataususu formula dapat diberikan per oral bila anak telah dapat minum.
Pengobatan cairanintravena tersebut dapat dimodifikasi sesuai keadaan penderita
dan jenis penyakit penyerta

33
4. Makanan tinggi energi tinggi protein (TETP) diolah dengan kandungan protein
yang dianjurkanadalah 3,0 5,0 g/kg BB sehari. Biasanya dalam pemberian
makanan diperlukan pula penambahanvitamindan mineral, khususnya vitamin A,
vitamin B kompleks, vitamin C, asam folat mineralkalium, magnesium, dan besi.

34
BAB IV
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. RIWAYAT KEPERAWATAN
Pada umumnya anak masuk rumah sakit dengan keluhan gangguan pertumbuhan
(berat badan semakin lama semakin turun), bengkak pada tungkai, sering diare dan
keluhan lain yang menunjukkan terjadinya gangguan kekurangan gizi.

B. RIWAYAT KEPERAWATAN SEKARANG


Meliputi pengkajian riwayat prenatal, natal dan post natal, hospitalisasi dan
pembedahan yang pernah dialami, alergi, pola kebiasaan, tumbuh-kembang,
imunisasi, status gizi (lebih, baik, kurang, buruk), psikososial, psikoseksual, interaksi
dan lain-lain. Data fokus yang perlu dikaji dalam hal ini adalah riwayat pemenuhan
kebutuhan nutrisi anak (riwayat kekurangan protein dan kalori dalam waktu relatif
lama).

C. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA


Meliputi pengkajian pengkajian komposisi keluarga, lingkungan rumah dan
komunitas, pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga, fungsi dan hubungan angota
keluarga, kultur dan kepercayaan, perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan,
persepsi keluarga tentang penyakit klien dan lain-lain.

D. PENGKAJIAN FISIK
Meliputi pengkajian pengkajian komposisi keluarga, lingkungan rumah dan
komunitas, pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga, fungsi dan hubungan angota
keluarga, kultur dan kepercayaan, perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan,
persepsi keluarga tentang penyakit klien dan lain-lain.Pengkajian secara umum
dilakukan dengan metode head to too yang meliputi: keadaan umum dan status
kesadaran, tanda-tanda vital, area kepala dan wajah, dada, abdomen, ekstremitas dan
genito-urinaria.
Fokus pengkajian pada anak dengan Marasmik-Kwashiorkor adalah pengukuran
antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkaran lengan atas dan tebal lipatan kulit).
Tanda dan gejala yang mungkin didapatkan adalah:
33

35
1.

Penurunan ukuran antropometri


Perubahan rambut (defigmentasi, kusam, kering, halus, jarang dan mudah
dicabut)

2.

Gambaran wajah seperti orang tua (kehilangan lemak pipi), edema palpebra
Tanda-tanda gangguan sistem pernapasan (batuk, sesak, ronchi, retraksi otot
intercostal)

3.

Perut tampak buncit, hati teraba membesar, bising usus dapat meningkat bila
terjadi diare.

4.

Edema tungkai
Kulit kering, hiperpigmentasi, bersisik dan adanya crazy pavement dermatosis
terutama pada bagian tubuh yang sering tertekan (bokong, fosa popliteal, lulut,
ruas jari kaki, paha dan lipat paha)

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada pemeriksaan laboratorium, anemia selalu ditemukan

terutama jenis

normositik normokrom karen


Adanya gangguan sistem eritropoesis akibat hipoplasia kronis sum-sum tulang
di samping karena asupan zat besi yang kurang dalam makanan, kerusakan hati dan
gangguan absorbsi. Selain itu dapat ditemukan kadar albumin serum yang menurun.
Pemeriksaan radiologis juga perlu dilakukan untuk menemukan adanya kelainan pada
paru.

F. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang mungkin dapat ditemukan pada anak dengan
Marasmik-Kwashiorkor adalah:
1.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak adekuat.

2.

Gangguan intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan otot

3.

Gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan nutrisi

4.

Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d asupan kalori dan protein yang
tidak adekuat.

36

G. INTERVENSI DAN RASIONAL


NO
1.

TTD
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TUJUAN
INTERVENSI
RASIONAL
Gangguan
pertumbuhan
dan Setelah dilakukan tindaka 1. Jelaskan kepada keluarga 1. Meningkatkan pemahaman
perkembangan b/d asupan kalori keperawatan selama 2 x

tentang

dan protein yang tidak adekuat.

24 jam diharapkan Klien

malnutrisi,

akan

nutrisi pemulihan, susunan

pemulihan

menu

dapat

menunjukkan

pening-katan status gizi.

dan

penyebab

keluarga tentang penyebab

kebutuhan

dan kebutuhan nutrisi untuk

pengolahan

klien

sehingga

meneruskan

upaya

makanan sehat seimbang,

terapi dietetik yang telah

Kriteria:

tunjukkan

diberikan

Keluarga klien dapat

sumber

contoh

makanan

menjelaskan penyebab

ekonomis

gangguan nutrisi yang

sosial ekonomi klien.

dialami
kebutuhan
35

pemulihan,

jenis

sesuai

nutrisi

status

susunan

keluarga dalam pemenuhan

kesempatan

kebutuhan

makanan

sendiri.

sehat

keluarga
melakukannya

nutrisi

klien,

mempertegas peran keluarga


dalam

upaya

pemulihan

status nutrisi klien.

seimbang.

klien

partisipasi

makanan per sonde, beri

untuk

perawat,

hospitalisasi.

klien, 2. Tunjukkan cara pemberian 2. Meningkatkan

menu dan pengolahan

Dengan

selama

bantuan 3. Laksanakan
keluarga
dapat

pemberian 3. Roborans

meningkatkan

roborans sesuai program

nafsu makan, proses absorbsi

terapi.

dan memenuhi defisit yang

35

37

NO

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TUJUAN
mendemonstrasikan
pemberian

diet

INTERVENSI

(per

TTD
RASIONAL
menyertai
keadaan
malnutrisi.

sonde/per oral) sesuai 4. Timbang berat badan, ukur 4. Menilai


program dietetik.

lingkar lengan atas dan

perkembangan

masalah klien.

tebal lipatan kulit setiap


pagi.

2.

Gangguan

intoleransi

aktifitas Setelah dilakukan tindaka

berhubungan dengan kelemahan keperawatan selama 2 x


otot

1. Tentukan

penyebab 1. Untuk mengetahui penyebab

keletihan

keletihan dan menentukan

24 jam diharapkan
gangguan intoleransi

prioritas keletihan
2. Ajarkan untuk melakukan 2. Melatih otot dan Mencegah

aktifitas teratasi dengan

latihan rentang gerak aktif

kriteria hasil :

pada anggota gerak yang

peningkatan rentang

sehat

gerak sendi dan tidak ada


tanda inflamasi

terjadinya keram

3. Lakukan latihan rentang 3. Melatih

persendian

gerak pasif pada anggota

menurunkan

gerak yang sakit.

akibat tirah baring

4. Kolaborasi/konsultasi
dengan ahli terapi.

4. Sangat

resiko

membantu

dan
iritasi

dalam

membuat program latihan /


aktivitas

individu

dan

36

38

NO

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TUJUAN

TTD
RASIONAL
menentukan alat bantu yang

INTERVENSI

sesuai.
3.

Gangguan

integritas

kulit Setelah dilakukan

1. Anjurkan pada keluarga 1. Mencegah ulcus decubitus.

berhubungan dengan perubahan tindakan keperawatan

tentang

status Nutrisi

selama 2x24 jam di

merubah posisi sesering

harapkan turgor kulit

mungkin.

membaik

pentingnya

2. Anjurkan keluarga lebih 2. Mencegah iritasi kulit dan

Kriteria Hasil:

sering mengganti pakaian

Kulit kembali halus

anak bila basah atau kotor

kenyal dan utuh

dan

kulit

anak

tetap 3. Tindakan

kering.

untuk

4. Kolaborasi
untuk

dengan

dokter.

pengobatan 4. Untuk memenuhi kebutuhan

lebih lanjut.

gizi

interdependent

bidan/perawat

3. Kolaborasi dengan dokter


kulit

mengurangi gatal.

nutrisi yang adekuat


dengan

ahli

pemenuhan

nutrisi.

37

39

NO
4.

TTD
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TUJUAN
INTERVENSI
RASIONAL
Gangguan
pertumbuhan
dan Klien akan mencapai 1. Ajarkan kepada orang tua 1. Meningkatkan pengetahuan
perkembangan b/d asupan kalori pertumbuhan
dan protein yang tidak adekuat.

perkembangan

dan
sesuai

tentang

standar

pertumbuhan

fisik

standar usia.

tugas-tugas

Kriteria Hasil:

sesuai usia anak.

Pertumbuhan

dan

perkembangan

fisik 2. Lakukan

keluarga

keterlambatan pertumbuhan
dan perkembangan anak.

pemberian 2. Diet khusus untuk pemulihan

(ukuran

makanan/ minuman sesuai

malnutrisi

antropometrik) sesuai

program

secara

standar usia.

pemulihan.

terapi

diet

kognitif

diprogramkan
bertahap

sesuai

dengan kebutuhan anak dan

Perkembangan
motorik,

tentang

kemampuan toleransi sistem


pencernaan.

bahasa/
dan 3. Lakukan

personal/sosial sesuai

antropo-metrik

standar usia.

berkala.

pengukuran 3. Menilai
secara

perkembangan

masalah klien.

4. Lakukan stimulasi tingkat 4. Stimulasi diperlukan untuk


perkembangan
dengan usia klien.

sesuai

mengejar

keterlambatan

perkembangan anak dalam


aspek motorik, bahasa dan
personal/sosial.

38

40

NO

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TUJUAN

INTERVENSI
5. Lakukan
rujukan
lembaga

TTD

RASIONAL
ke 5. Mempertahankan

pendukung

kesinambungan

program

stimulasi pertumbuhan dan

stimulasi pertumbuhan dan

perkembangan

perkembangan anak dengan

(Puskesmas/Posyandu)

memberdayakan

sistem

pendukung yang ada.

39

41

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Aziz Alimul A.2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak.Jakarta


Alimul Hidayat, A
Aziz ( 2006 ). Pengantar ilmu keperawatan Anak
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Amin huda nurarif,2013.asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa medis dan nanda jilid
II.media action:jakarta.
http://ivank-revank.blogspot.com/2012/01/anatomi-dan-fisiologi-sistem-pencernaan.html.