You are on page 1of 32

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pemeriksaan yang pertama kali dilakukan untuk menilai adanya masalah pada kesuburan
pria adalah dengan melakukan analisis sperma. Pemeriksaan sperma dilakukan melalui
bahan sperma yang dikeluarkan melalui jalan masturbasi ataupun melalui sanggama terputus.
Pemeriksaan sebaiknya dilakukan segera (paling lambat 1 jam setelah sperma dikeluarkan).
Syarat pemeriksaan sperma analisis:
1. Keadaan pria hari pemeriksaan hendaknya cukup sehat, tidak dalam keadaan lelah,
lapar dan cukup beristirahat sebelumnya.
2. Sperma dikeluarkan setelah didahului oleh abstinensia seksual (tidak ejakulasi dengan
cara apapun) selama 3 4 hari (rekomendasi WHO abstinensia 2 sampai 7 hari).
3. Sperma dikeluarkan secara mastrurbasi di Laboratorium, dan harus di tampung secara
utuh.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian sperma
2. Untuk mengetahui pemeriksaan laboratorium sperma

1|Sperma

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Sperma


Yang diartikan mani atau semen (sperma) ialah ejakulat berasal dari seorang pria berupa
cairan kental dan keruh, berisi sekret dari kelenjar prostat, kelenjar-kelenjar lain dan
spermatozoa. Pemeriksaan sperma merupakan salah satu jalan yang termudah untuk
mengetahui tingkat kesuburan/fertilitas dan infertilitas seorang pria. Tingkat kesuburan ini
memberi kesan, akan kemampuan seorang pria untuk memperoleh keturunan. Sudah jelas
bagi kita semua bahwa seorang pria dengan tingkat kesuburan yang rendah atau dengan kata
lain steril sulit baginya untuk memperoleh keturunan, demikian juga sebaliknya. Oleh karena
hal tersebut diatas, maka seyogyanyalah seorang pria memeriksakan dirinya untuk
mengetahui tingkat kesuburannya.
2.2 Andrologi
Menurut kamus kedokteran artinya ilmu tentang pria dengan objek sistem reproduksi
pria. Jadi Andrologi adalah disiplin ilmu kedokteran yang bergerak dalam bidang sistem
reproduksi pria, dimulai dari kandungan sampai dewasa, berbagai kelainan bawaan/ kelainan
dapatan, terapi infertilitas dan gangguan fungsi seks serta pengaturan fertilitas pada pria.
Setiap pemeriksaan andrologi seyogyanya dilengkapi dengan pemeriksaan sperma, sebab
hasil-hasilnya mempunyai arti penting dalam diagnosa andrologi. Karena pemeriksaan
sperma bertujuan untuk meneliti segala unsur-unsur sperma.
Komposisi sperma
Sperma adalah zat setengah cair atau setengah kental yang terdiri dari dua bagian yaitu
plasma sperma (plasma semen) dan spermatozoa. Plasma sperma dihasilkan oleh kelenjarkelenjar prostat, vesika seminalis, epididimis, cowper dan littre. Sedangkan spermatozoa
dihasilkan oleh aktifitas tubuli seminiferi.

2|Sperma

Spermatozoa
Sel tunggal yang terdiri atas kepala, leher dan ekor, panjang 50 , kepala berbentuk oval
(lonjong), berisi nukleus, lebar 2,5-3,5 dan panjang 4-5 . Akrosom adalah suatu massa
yang terdapat pada bagian anterior spermatozoa yang merupakan struktur berupa selubung
yang menutupi 2/3 daerah kepala spermatozoa. Mengandung enzim-enzim : akrosin,
hyaluronidase, CPE (corona penetrating enzyme). Akrosin adalah enzim proteolitik untuk
menembus zona pellusida, hyaluronidase untuk menembus cumulus ooforus dan CPE untuk
menembus corona radiata.
Spermatozoa abnormal
Terdapat pada orang yang fertil maupun pada orang yang infertil. Terjadi karena gangguan
pada waktu spermatogenesis dan spermiogenesis. Sebab-sebab : faktor hormonal, nutrisi,
obat, akibat radiasi, penyakit.
Plasma semen
Plasma semen yang merupakan sekret kelenjar genital tambahan sebenarnya tidak
dikeluarkan sekaligus sewaktu ejakulasi, tetapi secara bertahap. Ada 4 tahap atau fraksi yaitu:
1. Fraksi Pre ejakulasi
Hasil sekresi dari kelenjar Cowper / Bulbo urethra dan kelenjar Littre. Sekret ini
dikeluarkan dari penis jauh sebelum ejakulasi, volume 0,2 ml. Diduga berfungsi untuk
melicinkan urethra dan melicinkan vagina waktu coitus.
2. Fraksi Awal
Hasil sekresi dari kelenjar Prostat, sekretnya berupa lendir, volume 0,5 ml. lendir
mengandung berbagai zat untuk memelihara spermatozoa ketika berada di luar tubuh.
3. Fraksi Utama
Terdiri dari lendir yang berasal dari vesicula seminalis dan spermatozoa yang berasal
dari epididimis. Volume 2 ml.
4. Fraksi Akhir
Terdiri dari lendir yang berasal dari vesicula seminalis dan sedikit sekali spermatozoa
(yang non motil). Volume 0,5 ml.

3|Sperma

Kandungan zat kimia semen


1. Fruktosa
- Dihasilkan oleh vesicula seminalis.
- Berada dalam plasma semen
- Sumber energi bagi motiitas spematozoa
- 1,5-7,0 mg/ml.
2. Asam sitrat
- Dihasilkan oleh kelenjar prostat
- Menjaga keseimbangan osmotik semen
- Bila zat ni tidak ditemukan dalam semen berarti ada kelainan pada kelenjar prostat.
- Mencegah terjadinya kalkuli konkresi prostat dengan cara mengikat ion Ca.
3. Spermin
- Dihasilkan oleh kelenjar prostat
- Menyebabkan bau yang khas pada semen seperti bau bunga akasia
- Suatu bakteriostatik.
4. Seminin
- Dihasilkan oleh kelenjar prostat
- Mengencerkan lendir servix.
5. Enzim Phosphatase Asam, Glukoronidase, Lisozim dan Amilase
- Dihasilkan oleh kelenjar prostat.\
- Memelihara atau memberi nutrisi bagi spermatozoa di luar tubuh demi kelangsungan
hidup spermatozoa
6. Prostaglandin
- Dihasilkan oleh kelenjar vesicula seminalis dan kelenjar prostat.
- Merangsang kontraksi otot polos saluran genitalia wanita sewaktu ejakulasi dan
untuk vasodilatasi pembuluh darah.
- Melancarkan spermatozoa saat bermigrasi dari vagina ke tuba fallopi dengan
mengurangi gerakan uterus.
7. Na, K, Zn, Mg
- Dihasilkan oleh kelenjar prostat dan vesicula seminalis
- Memelihara pH plasma semen agar tetap pada pH normal 7,2-7,8.

4|Sperma

2.3 Persiapan dan Persyaratan


Seseorang yang akan memeriksakan spermanya, sebaiknya terlebih dahulu melakukan
pantangan (abstinensi) untuk tidak mengeluarkan sperma sedikit-dikitnya selama 3 hari (3 x
24 jam) dengan alasan menurut penyelidikan, jangka waktu sebesar itu sudah cukup untuk
suatu spermiogenesis dan untuk sampel yang baik. Tetapi untuk baiknya pasien diminta
supaya tidak mengadakan kegiatan seksual selama 3-5 hari. Pengeluaran ejakulat sebaiknya
dilakukan pagi hari sebelum melakukan aktifitas, sedekat mungkin sebelum pemeriksaan
laboratorium.
2.4 Cara memperoleh Sperma
Banyak penderita tidak mengerti bagaimana cara memeriksakan sperma. Kita harus
maklum, bahwa pemeriksaan sperma lain dengan pemeriksaan kencing atau tinja, karena
bahan-bahan yang terakhir itu dengan wajar dapat dikeluarkan oleh penderita. Tetapi masalah
memperoleh sperma yang akan diperiksa merupakan persoalan tersendiri untuk penderita.
Hal ini dapat dimengerti, sebab tidak pada setiap kesempatan seseorang dapat mengeluarkan
sperma. Adapun cara-cara yang digunakan untuk memperoleh sampel sperma yaitu dengan :
1. Masturbasi
Merupakan suatu metode pengeluaran sperma yang paling dianjurkan. Tindakan ini
berupa menggosok kemaluan lelaki (penis) berulang-ulang, sampai terjadi ketegangan dan
pada klimaks akan keluar sperma. Sebelum melakukan masturbasi hendaknya penis dicuci
dahulu agar tidak tercemar oleh kotoran. Untuk mempermudah masturbasi kadang-kadang
dalam menggosok penis diberi pelicin misalnya sabun, krim atau jelly. Tetapi saat dipakai
jangan sampai mencapai lubang keluarnya sperma. Kebaikan dari cara ini, di samping
menghindari kemungkinan tumpah ketika menampung sperma, juga pencemaran sperma
dari zat-zat yang tak diinginkan dapat dihindari. Tempat penampungan sperma sebaiknya
dari botol kaca yang bersih, kering dan bermulut lebar atau boleh dengan tempat lain
dengan syarat tidak spermatotoksik.
2. Coitus Interuptus
Cara ini dilakukan dengan menyela atau menghentikan hubungan saat akan keluar
sperma. Walaupun cara ini banyak dilakukan untuk memperoleh sampel sperma untuk
diperiksa,

namun

cara

ini

kurang

baik

karena

hasilnya

kurang

dapat

dipertanggungjawabkan, lebih-lebih bila hasil pemeriksaannya mendapatkan hasil dimana


jumlah spermatozoanya di bawah kriteria normal (oligosperma). Tetapi cara ini
5|Sperma

kelemahannya dikhawatirkan sebagian telah tertumpah ke dalam vagina sehingga tidak


sesuai lagi untuk pemeriksaan. Seperti yang telah kita ketahui, bahwa sperma yang
dikeluarkan pada waktu ejakulasi terbagi menjadi beberapa tahap, paling sedikit dua tahap.
Tahap pertama adalah merupakan ejakulat yang mengandung spermatozoa yang
terbanyak, sedangkan tahap yang kedua hanya mengandung spermatozoa sedikit saja atau
bahkan sering tidak dijumpai spermatozoa, tetapi mengandung porsi fruktosa yang
terbanyak. Dalam pengendalian orgasme sewaktu melakukan interuptus tidak menjamin
bahwa sebagian besar atau sebagian kecil terlanjur dikeluarkan di vagina sehingga
mengakibatkan kita memperoleh sampel sperma yang tidak lengkap, sehingga
memberikan hasil yang tidak sewajarnya.
3. Coitus Condomatosus
Dengan alasan apapun pengeluaran sperma dengan memakai kondom untuk
menampung mani tidak dianjurkan dan tidak diperkenankan karena zat-zat pada
permukaan karet kondom mengandung suatu bahan yang bersifat spermicidal yang
mempunyai pengaruh melemahkan atau membunuh spermatozoa, biarpun kondom sudah
dicuci dan dikeringkan. Selain daripada itu kemungkinan terjadi tumpahnya sperma
sewaktu pelepasan kondom atau menuangkan ke botol penampung. Tetapi ada beberapa
kondom khusus yang dipergunakan untuk keperluan penampungan sperma, karena bahan
dipakai tidak bersifat spermasida.
4. Vibrator
Masih ada cara lain untuk mempermudah mengeluarkan sperma ialah dengan
vibrator. Alat ini mempunyai berbagai ukuran, terbuat dari plastik dengan permukaan
halus, dapat digerakkan dengan baterai yang menghasilkan getaran lembut. Alat ini kalau
ditempelkan pada glans penis, akan menimbulkan rasa seperti mastrubasi dan dengan
fibrasi yang cukup lama, diharapkan sperma akan keluar.
5. Refluks Pasca Sanggama
Dengan memeriksa sperma yang telah ke vagina. Cara ini tidak dianjurkan karena
dipergunakan cairan fisiologis untuk pembilasan, dan sperma tercampur dengan sekret
vagina, sehingga akan didapatkan hasil yang tidak mencerminkan keadaan sesungguhnya.

2.5 Wadah Penampung


Mani langsung dikeluarkan ke dalam satu wadah terbuat dari gelas atau plastik yang
bermulut lebar dan yang lebih dahulu dibersihkan dan dikeringkan. Wadah harus dapat
6|Sperma

ditutup dengan baik untuk menjaga jangan sampai sebagian tertumpah. Pasien diminta
mencatat waktu pengeluaran mani tepat sampai menitnya dan menyerahkan sampel itu
selekasnya kepada laboratorium. Laboratorium juga wajib mencatat waktu pemeriksaanpemeriksaan dijalankan.
2.6 Penyerahan Sampel Sperma
Segera setelah sperma ditampung, maka sperma harus secepatnya diserahkan kepada
petugas laboratorium. Hal tersebut perlu dilakukan karena beberapa parameter sperma
mempunyai sifat mudah berubah oleh karena pengaruh luar. Sperma yang dibiarkan begitu
saja

akan

berubah

pH,

viskositas,

motiltas

dan

berbagai

sifat

biokimianya.

2.7 Waktu Pemeriksaan


Setelah penderita diberikan penerangan tentang cara-cara serta syarat-syarat
pengeluaran sperma dan lainnya, maka waktu pengeluaran sperma dapat pula ditetapkan. Hal
ini tergantung dari kesiapan pasien dan kesiapan laboratorium. Kalau syarat-syarat serta
semua persiapan baik penderita maupun laboratorium telah dipenuhi, maka pengeluaran
sperma dapat dilakukan.
Segera setelah diterima petugas laboratorium, hendaknya sperma secepatnya
diperiksa. Sperma harus diletakkan di dalam suhu kamar. Contoh sperma tidak boleh
didinginkan dibawah 20OC atau dipanaskan diatas 40OC, oleh karena kedua hal ini dapat
mempengaruhi motilitas dan viabilitas spermatozoa.
Hal-Hal Lain
Hal lain yang perlu diutarakan pada pasien adalah pada waktu abstinensia janganlah
minum obat - obat apapun, apalagi minum obat-obat perangsang seks, tonikum atau
semacamnya. Hal ini diperlukan agar benar-benar sperma yang diperiksa tidak dipengaruhi
oleh obat obatan. Kalau perlu dicatat obat yang dimakan dalam 1-2 minggu sebelum
analisis dilakukan.

7|Sperma

BAB III
PEMERIKSAAN SPERMA

3.1 Parameter Pemeriksaan Sperma


Parameter sperma dapat berupa parameter sperma dasar serta parameter biokimia
sperma. Dalam pemeriksaan rutin atau pemeriksaan dasar, yang dilakukan adalah mengukur
parameter yang diperlukan sebagai dasar umum untuk mendiagnosis keadaan andrologis,
serta yang mudah dilakukan dengan tidak memakai alat-alat serta pengetahuan yang lebih
rumit. Berikut parameter pemeriksaan sperma meliputi :
Pemeriksaan Makroskopis :
1. Liquefaksi
2. Viscositas
3. pH Sperma
4. Bau Sperma
5. Warna Sperma
6. Volume Sperma
Pemeriksaan Mikroskopis
1. Pergerakan (Motilitas) Spermatozoa
2. Vitalitas Spermatozoa
3. Jumlah Spermatozoa
4. Morfologi Spermatozoa
5. Aglutinasi spermatozoa (khusus)
6. Benda-benda khusus sperma (khusus)
Pemeriksaan Kimiawi dan Enzim
1. Kadar Fruktosa
2. Acid Phospatase/ACP (khusus)

8|Sperma

3.2 Pemeriksaan Makroskopis


Pemeriksaan makroskopis memperhatikan volume, warna kekeruhan dan kentalnya mani,
selain itu biasanya pH juga diperiksa. Mengukur volume dilakukan dengan memindahkan
ejakulat kedalam gelas ukur 5 atau 10 ml sesuai dengan keadaan yang dihadapi.
3.2.1 Likuefaksi (pencairan)
Sperma yang baru saja dikeluarkan selalu menunjukkan adanya gumpalan diantara lendir
putih yang cair. Liquefaction ini terjadi karena daya kerja dari enzim-enzim yang diproduksi
oleh kelenjar prostat antara lain enzim seminin. Untuk sperma yang normal gumpalan ini
akan mencair setelah waktu 15-20 menit.
Makna Klinis :
Jika liquefaction melebihi dari waktu 20 menit atau lebih lama lagi berarti terjadi
gangguan pada kelenjar prostat dan defisiensi enzim seminin.
3.2.2 Pemeriksaan Viscositas (Kepekatan)
Setelah terjadi likuefaksi, biasanya cairan sperma menjadi homogen, tetapi tetap
menunjukkan suatu sifat kepekatan. Untuk mengukur suatu viscositas dari sperma yang
termudah dengan jalan menyentuh permukaan sperma dengan pipet atau batang pengaduk,
kemudian ditarik, maka akan terjadi benang yang panjangnya antara 3-5 cm. makin panjang
benang yang terjadi, maka makin tinggi viscositasnya. Pengukuran viscositas seperti tersebut
diatas sifatnya sangat subyektif dan tergantung dari keterampilan si pemeriksa. Ada suatu
cara yang lebih tepat untuk mengukur suatu viscositas dengan mempergunakan suatu pipet
standar yang disebut Pipet Elliasson. Pipet ini mempunyai volume 0, 1 ml.
Prosedur :
1. Sperma diisap dengan pipet Elliason sampai menunjukkan volume 0,1 ml.
2. Kemudian tekanan dilepaskan
3. Tetesan pertama diukur dengan stopwatch.
Normal : 1-2 detik
Catatan :

9|Sperma

Baik liquefaction maupun viscositas tergantung dari daya kerja enzim-enzim kelenjar
prostat. Perlu ditekankan bahwa viscositas sangat erat hubungannya dengan motilitas
spermatozoa, artinya viscositas yang tinggi sering disertai dengan motilitas yang rendah.
Makna klinis :
- Jika semen terlalu kental (panjang benang > 5 cm) maka enzim likuefaksi dari prostat
kurang berfungsi.
- Jika terlalu encer (panjang benang <> 8 maka radang akut pada kelenjar genitalia
tambahan

atau

epiddiymitis.

Sedang

pada

pH

<>

ml

Hypospermia disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :


- Sampel tumpah karena tidak hati-hati, ini disebut kesalahan tehnis.
- Gangguan patologis dan genetis pada organ genitalia
- Vesicula seminalis tidak berfungsi
- Gangguan hormonal atau akibat radang.
- Hyperspermia disebabkan oleh abstinensi yang terlalu lama dan kelenjar genitalia
tambahan terlalu aktif.

3.3 Pemeriksaan Mikroskopis


Pemeriksaan mikroskopis dilakukan setelah sperma mengalami liquefaction. Jadi
kira-kira 20 menit setelah dikeluarkan. Adapun pemeriksaan mikroskopis yang umum
dilakukan meliputi :
3.3.1 Pergerakan (Motilitas) Spermatozoa
1. Mekanisme pergerakan
Spermatozoa bergerak (Motil), dengan maksud agar sampai dialat reproduksi wanita untuk
pembuahan. Energi untuk motilitas bersumber pada bagian tengah spermatozoa. Dibagian
tengah itu dapat diibaratkan generator spermatozoa. Energi dari bagian tengah disalurkan
kebagian distal, yaitu ke ekor, kemudian ekor bergerak. Jadi ekor dapat diibaratkan sebagai
kemudi juga sebagai pendorong spermatozoa.
Energi yang keluar menyebabkan dua macam gerakan. Pertama, gerakan bergelombang
keujung ekor. Gelombang itu makin ke ekor makin lemah. Gerakan kedua bersifat sirkuler.

10 | S p e r m a

Energi yang keujung ekor itu tidak lurus kebelakang tapi arahnya melingkari batang tubuh
bagian tengah, terus keujung ekor.
Resultante dari dua gerak tersebut menyebabkan motilitas spermatozoa, seluruh tubuh
spermatozoa mulai dari kepala sampai ke ekor bergerak melingkar pada as-nya dan ke depan.
Hal ini menyebabkan gerak lurus ke depan aktif, lincah dengan irama getar ekor yang
teratur.Irama getar ekor spermatozoa normal manusia ialah 15x/detik. Pada sapi getaran itu
kira-kira 20 x/detik.
Maka dari itu dapat dibayangkan bahwa hanya spermatozoa yang normal saja yang dapat
bergerak normal pula. Sebab andaikata bentuk kepala spematozoa tak normal katakanlah
bentuk terato maka arah gerakan tak mungkin lurus ke depan sebab bagian depan sedemikian
tak ideal untuk memperoleh gerak lurus . Demikian pula andaikata terdapat bagian tengah
yang bengkok, bagian ekor yang melingkar, bagian kepala yang masih tertempel oleh sisa
sitoplasma (imatur) kesemuanya mengakibatkan terganggunya gerak lurus ke depan dan
lincah.
2. Macam Motilitas spermatozoa
Berdasarkan mekanisme motilitas tersebut dapat dibedakan dua macam motilitas
spermatozoa, yaitu :
- Spermatozoa Motilitas Baik.
Spermatozoa bergerak lurus kedepan, lincah, cepat dengan beat ekor yang berirama.
- Spermatozoa Motilitas Kurang Baik.
Semua motilitas spermatozoa kecuali yang tersebut spermatozoa motilitas baik, dianggap
spermatozoa dengan motilitas kurang baik atau jelek. Yang termasuk motilitas
spermatozoa kurang baik ialah :
- Motilitas bergetar atau berputar
Spermatozoa hanya bergetar dalam satu bidang saja dan kadang-kadang berhenti.
Ekor hanya bergetar kekiri atau ke kanan tak bergetar rotasi meskipun frekuensi
getarnya dapat tinggi. Karena terdapat kelainan morfologis atau kelainan pengantaran
energi gerak melingkar maka spermatozoa dapat menempuh gerakkan kurva,
spematozoa motilitasnya berputar-putar saja.
- Motilitas tanpa arah

11 | S p e r m a

Pada keadaan ini ekor spermatozoa dapat bergetar tinggi atau rendah. Kepala bergerak
tak teratur. Kelainan ini disebabkan adanya bentuk spermatozoa abnormal maupun
distribusi dan pengantaran energi tak normal pada spermatozoa.
- Motilitas karena asimetri kepala atau ekor
Motilitas jenis ini disebabkan karena kelainan morfologi spermatozoa sehingga
memyebabkan motilitasnya melingkar baik searah maupun berlawanan dengan jarum
jam. Kalau morfologi ekor spermatozoa asimetri, amplitudo getaran juga tidak teratur.
Kalau pengantaran energi rotasi ada atau tak teratur sedang ekor asimetri terjadi
motilitas dengan arah melingkar.
- Motilitas spermatozoa imatur
Spermatozoa imatur mungkin berbentuk normal dan mungkin pula tidak normal
karena adanya beban droplet (sisa) sitoplasma maka arah gerak kepala berat sebelah.
Kalau sistem pengantaran energi belum masak pula dapat terjadi motilitas yang
bemacam-macam rocking melingkar dan gerak tak teratur. Demikian pula andaikata
sisa sitoplasma terletak dibagian tengah atau ekor spermatozoa motilitas yang timbul
akan bermacam-macam.
- Motilitas spermatozoa teraglutinasi
Motilitas spermatozoa ini terbatas karena spermatozoa melekat satu dengan yang lain
(aglutinasi sejati) atau karena melekat pada benda lain (sel bulat, kristal, bakteri,
protozoa dll) bila terdapat aglutinasi palsu. Tergantung macam aglutinasi (kepalakepala, ekor-ekor, dan ekor-kepala) motilitas yang terjadi akan berlainan pula.
- Motilitas spermatozoa terperangkap
Motilitas jenis ini terbatas karena terperangkap oleh sperma yang belum mengalami
likuefaksi total, meskipun telah melewati batas normal waktu likuefaksi. Hal ini akan
terlihat kalau sperma diperiksa motilitas berurutan yaitu langsung setelah ejakulasi dan
setiap setengah jam setelah ejakulasi.
- Motilitas spermatozoa yang lemah
Spema yang kekurangan energi mempunyai gerakan lemah, meskipun arahnya ke
depan beat ekor teratur, lurus namun tak lincah. Hal ini dapat disebabkan karena
sperma telah lama tak diperiksa, sehingga energi untuk motilias berkurang. Dalam hal
ini fruktosa telah banyak dipecah (fruktolisis). Penyebab lain ialah memang cadangan
energi berkurang sejak awal misalnya pada kelainan vesika seminalis.
- Spermatozoa yang tidak bergerak
Spermatozoa yang sama sekali tidak bergerak dan tetap diam ditempat.Pemeriksaan
12 | S p e r m a

3. Motilitas Spermatozoa :
Pemeriksaan motilitas spermatozoa dilakukan dengan cara meneteskan setetes sperma pada
gelas obyek. Tetesan diusahakan sama besarnya untuk setiap pemeriksaan. Bilamana tetesan
tidak sama besarnya pengamatan spermatozoa secara prosentase dan kuantitatif akan berbeda.
Terdapat beberapa cara untuk mendapatkan tetesan sperma yang sama, yaitu :
- Sperma diteteskan dengan pipet
Diharapkan dengan tetesan pipet volume sperma yang diteteskan sama. Dalam hal ini
untuk setiap sperma harus memakai pipet yang berbeda dan harus baru/bersih benar.
Sebab kalau sebuah pipet telah pernah digunakan untuk satu sperma, kemudian
dipergunakan untuk sperma lainnya akan ada unsur pada sperma pertama yang
terpindahkan ke sperma kedua. Kalau misalnya sperma yang kedua azoospermi maka
kemungkinan akan dinilai tidak azoospermi sebab telah tercampur oleh spermatozoa dari
sampel pertama.
- Sperma diteteskan dengan batang pangaduk terbuat dari pada gelas
Cara ini kebanyakan akan memperoleh tetesan yang sama besar. Apalagi kalau ujung
batang gelas tidak sama besarnya. Keadaan yang mempengaruhi ialah kekentalan sperma .
Bila sperma kental tetesan akan berbeda bilamana sperma encer. Perbedaan-perbedaan ini
dapat diatasi kalau para pemeriksa sperma banyak pengalaman meneteskan sperma pada
gelas objek.
- Sperma diteteskan dengan batang kawat baja berujung bulat
Dengan cara ini memang diperoleh ukuran tetesan yang sama. Untuk menghindari
kontaminasi sperma lain maka setelah loop dipakai untuk satu spesimen sperma, kemudian
dibakar, setelah itu dapat dipergunakan untuk memeriksa sperma yang lain.
Tujuan

: untuk mengetahui dan menentukan baik tidaknya pergerakan (motilitas)


spermatozoa dan jumlah prosentase yang bergerak.

Prinsip

: Sperma dengan zat tambahan atau tidak dilihat pergerakannya dibawah


mikroskop dengan perbesaran 10x45 dan hasilnya dilaporkan dalam persen
(%)

Alat :
- Objek Glass

- Cover glass

- Pipet tetes

- Mikroskop

13 | S p e r m a

Prosedur :
1. Ambil 1 tetes sperma letakkan diatas objek glass
2. Tutup dengan cover glass.
3. Periksa dibawah mikroskop perbesaran objektif 40-45x.
4. Periksa adanya spermatozoa yang : Bergerak aktif (%) atau Bergerak tidak aktif (%) atau
Tidak bergerak (%)

4. Penilaian motilitas spermatozoa


Penilaian motilitas spermatozoa dilakukan sebagai berikut :
- Spermatozoa yang bergerak aktif adalah spermatozoa yang bergerak cepat ke depan,
lincah dan aktif (%)
- Spermatozoa yang kurang aktif bergerak adalah spermatozoa yang bergerak berputar di
tempat (%)
- Spermatozoa tidak bergerak (%).
- Jumlah spermatozoa yang aktif ditentukan dalam persen (%). Misalnya : jumlah
spermatozoa 110 yang bergerak aktif 50 maka spermatozoa yang aktif adalah 50/110 x
100% = 45,5%
- Besar kecilnya tetesen dan berat ringannya gelas penutup berpengaruh pada motilitas
spermatozoa. Sebelum diteteskan sperma terlebih dahulu diaduk rata sehingga homogen.
Motilitas spermatozoa biasanya dilihat setelah terjadi likuefaksi lengkap.
- Pemeriksaan harus segera dilakukan setelah gelas obyek ditempelkan. Bila terlalu lama
dibiarkan baru kemudian diperiksa akan terjadi perbedaan dalam miotilitas spermatozoa.
- Untuk tahap permulaan sediaan diperiksa dengan pembesaran objektif 10 x. Setelah itu
diganti dengan pembesaran objektif 40 x
- Dalam keadaan normal yang motil aktif harus diatas 70%, yang motil lemah dibawah 20%
dan tidak motil dibawah 0%.
5. Berkurangnya derajat motilitas
Spermatozoa akan berkurang motilitasnya bila dibiarkan setelah ejakulasi. Angka yang
dilaporkan perlu dihubungkan dengan waktu yang sudah berlalu sejak saat ejakulasi, semakin
banyak

waktu

lewat,

semakin

berkurang

motilitas

spermatozoa.

Penilaiannya

- Biasanya didapat bahwa sampai 1 jam setelah dikeluarkan, mani berisi 70% atau lebih

14 | S p e r m a

spermatozoa aktif, angka itu terus menerus menurun sehingga menjadi 50% sekitar 5 jam
lewat ejakulasi.
- Pada keadaan normal kemunduran motilitas terjadi kira-kira 10-20% dalam waktu 2-3
jam.
- Dalam melaksanakan pemeriksaan motilitas berurutan ini temperatur laboratorium harus
dijaga agar konstan, sebab perbedaan suhu juga berpengaruh terhadap motilitas
spermatozoa.
- Dalam pemeriksaan rutin tidak banyak gunanya mengikuti penyusutan motilitas dari jam
ke jam, berkurangnya motilitas banyak dipengaruhi oleh cara menyimpan sampel.

3.3.2 Pemeriksaan Vitalitas Spermatozoa


Spermatozoa yang tidak bergerak, belum tentu mati. Adakalanya lingkungannya tidak
cocok, spermatozoa tidak bergerak. Tetapi kalau keadaan lingkungannya suatu ketika baik,
ada kemungkinan spermatozoa bergerak lagi. Maka dari itu perlu dibedakan lagi antara
spermatozoa yang hidup dengan spermatozoa yang mati. Pemeriksaan ini adalah pemeriksaan
vitalitas spermatozoa.
Untuk memeriksa vitalitas spermatozoa, dilakukan pengecatan vital atau vital staining.
Cara ini digunakan untuk memastikan diagnosa nekrozoospermia.
Metode

:Eosin-Nigrosin Supravital Stainning Sperma Viability

Tujuan

:Untuk membedakan dan mengetahui sperma yang hidup dan yang mati.

Prinsip

:Sampel sperma dibuat hapusan, diwarnai, dikeringkan dan diperiksa sperma


yang mati dan yang hidup dibawah mikroskop perbesaran 10 x 100.

Alat :
- Pipet tetes
- Objek glass
- Mikroskop

- Botol semprot
Reagensia :

- Rak dan bak pewarnaan

- Eosin 5 %

- Tabung reaksi

- Negrosin 10 %

15 | S p e r m a

Cara Kerja :
1. Sampel sperma diteteskan kedalam tabung reaksi kecil
2. Ditambahkan 1 tetes eosin 5 % dan 1 tetes negrosin 10 %, di aduk
3. Diambil 1 tetes, dibuat hapusan diatas objek glass, dikeringkan.
4. Diperiksa dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x100 pada 100 lapang pandang dan
hasil dinyatakan dalam persen ( % ).
Penilaian :
Spermatozoa yang mati akan berwarna merah
Spermatozoa yang hidup akan terlihat tidak berwarna
Nilai Normal : 75 % atau lebih spermatozoa yang hidup.
Catatan :
- Spermatozoa yang mati berwarna kemerahan karena dinding spermatozoa rusak, zat warna
masuk ke dalam sel.
- Spermatozoa yang hidup tetap tidak berwarna karena dinding sel masih utuh, tak dapat
ditembus zat warna.
- Untuk membuat pengecatan vitalitas yang baik, zat warna harus baru, jangan terlalu kental
dan jangan banyak endapan.

3.3.3 Pemeriksaan Jumlah Spermatozoa


Menghitung jumlah spermatozoa dapat dilakukan dengan metode hemocytometer
biasa menggunakan pipet Thoma atau dengan modifikasi hemocytometer dengan
pengenceran dalam tabung menggunakan Clinipette. Larutan yang biasa yang dipergunakan
ialah larutan pengencer 5% Natrium bikarbonat dalam aquadest ditambah dengan
formaldehide 1 ml.
Larutan pengencer ini juga bertindak sebagai zat spermisida yang mematikan
spermatozoa, serta merupakan garam fisiologis. Dengan demikian spermatozoa yang terdapat
didalam kamar hitung dapat lebih cermat dihitung. Jumlah spermatozoa dihitung menurut
beberapa cara :

16 | S p e r m a

1. Jumlah Spermatozoa per ml ejakulat.


2. Jumlah Spermatozoa per volume ejakulat.
Namun yang umum dipakai adalah spermatozoa per ml ejakulat. Bilamana menghendaki
perhitungan untuk seluruh ejakulat, tinggal mengalikan dengan volume ejakulat.
Tujuan : Untuk mengetahui jumlah sperma yang terdapat dalam sampel sperma yang
diperiksa.
Prinsip : Sampel sperma diencerkan dalam pipet lekosit dengan larutan pengencer tertentu,
diperiksa dalam bilik hitung.
Alat :

Reagensia :

- Kamar hitung Improved Neubauer atau

- Larutan Pengencer Sperma :

Burker

- NaHCO3 ...............................5 gram

- Pipet Thoma leukosit atau eryhtrosit

- Formalin 5%,..............................1 ml

- Kertas saring / tissue

- Larutan Eosin 2%.......................5 ml


- Aquadest add.........................100 ml

Prosedur :
1. Cara Pipet Thoma :
2. Isap sperma dengan pipet leukosit sampai tanda 0,5 tepat.
3. Isap larutan Pengencer Sperma sampai tanda 11 tepat.
4. Kocok selama 2 menit, buang cairan 3-4 tetes, masukkan dalam kamar hitung improved
Neubauer dengan menempelkan ujung pipet ditepi kaca penutup.
5. Hitung sel sperma yang terdapat dalam 4 kotak sedang
6. Hasilnya dinyatakan dalam juta/ml
7. Cara Tabung dengan Clinipette :
8. Masukkan 400 ul cairan pengencer sperma kedalam tabung reaksi dengan clinipette.
9. Buang 20 ul dengan clinipette cairan tadi.
10. Pipet 20 ul sperma yang telah dihomogenkan dan campur dengan larutan pengencer.
11. Kocok beberapa kali tabung atau letakkan diatas pengocok khusus (vibrator).
12. Masukkan dalam kamar hitung improved Neubauer dengan menempelkan ujung
clinipette ditepi kaca penutup.
13. Hitung sel sperma yang terdapat dalam 4 kotak sedang
14. Hasilnya dinyatakan dalam juta/ml
17 | S p e r m a

Perhitungan :
Misal jumlah didapat : 200 spermatozoa
200 x 50 = 10.000/mm3
= 10.000 x 1000 = 10 juta/ml
Nilai Normal : 20 70 juta / ml
Catatan :
- Untuk mempermudah penghitungan didalam bilik hitung dapat digunakan pipet eryhtrosit
sebagai pipet pengencer dan sperma diisap sampai 0,5 tepat dan pengencer 101.
pengenceran pipet 200x dikalikan untuk perhitungan.
- Untuk pengenceran yang lebih teliti sebaiknya menggunakan pengenceran menggunakan
Clinipette dalam tabung. Pengenceran dapat diubah sesuai dengan keinginan.
- Menurut R. Gandasoebrata bila tidak memiliki larutan pengencer Natrium bikarbonat
maka dapat digunakan aquadest sebagai larutan pengencer.

3.3.4 Pemeriksaan Morfologi Spermatozoa


Pemeriksaan morfologi spermatozoa ditujukan untuk melihat bentuk-bentuk
spermatozoa yang didasarkan atas bentuk kepala dari spermatozoa. Seperti diketahui
spermatozoa mempunyai beberapa macam bentuk. Dengan pemeriksaan ini diketahui
beberapa banyak bentuk spermatozoa normal dan abnormal. Bentuk yang normal adalah
spermatozoa yang kepalanya berbentuk oval dan mempunyai ekor yang panjang. Untuk
pemeriksaan morfologi ini dimulai dengan pembuatan preparat smear di atas objek glass,
yang dibiarkan kering dalam temperatur kamar. Setelah preparat smear tersebut kering, maka
selanjutnya dilakukan prosedur pewarnaan.
Agar memperoleh hasil yang baik pemeriksaan morfologi spermatozoa dilakukan
pengecatan khusus. Terdapat berbagai macam pengecatan guna memeriksa morfologi
spermatozoa, diantaranya Giemsa, Wright, Romanowsky, May Grunwald, Kiewit de Jong.
Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya kelainan morfologi sperma dalam sampel yang
diperiksa.

18 | S p e r m a

Prinsip : Sperma dibuat hapusan diwarnai dengan giemsa, dicuci, dikeringkan dan diperiksa
morfologi sperma dibawah mikroskop dengan anisol perbesaran 10 x 100.
Alat alat :
- Pipet tetes
- Objek glass
- Rak dan Bak pewarnaan
- Mikroskop
- Botol semprot
- Lampu spritus
Reagensia :
- Karbol Fuchsin 0,25 %
Cara Kerja :
a) Cara Karbol Fuchsin
1. Setetes sperma dibuat hapusan diatas objek glass.
2. Difiksasi dengan nyala api 2 5 kali
3. Diwarnai dengan carbol fuchsin 0,25% selama 5 Menit, dicuci dengan air.
4. Dikeringkan dan diperiksa dibawah mikroskop perbesaran 10 x 100 dalam 100
spermatozoa
b) Cara Giemsa
1. Sediaan hapus difiksasi dengan metanol selama 10 menit
2. Sisa metanol dibuang, sediaan dibiarkan kering di udara.
3. Sediaan dicat dengan larutan Giemsa (17 tetes giemsa dicampur dengan 5 ml aquades)
selama 20 menit.
4. Sediaan dibilas dengan aquadest dan dikeringkan. diperiksa dibawah mikroskop
perbesaran 10 x 100 dalam 100 spermatozoa
c) Cara Hematoxilin Meyer
1. Sediaan hapus ditetesi larutan formalin 10% selama 1 menit.
2. Sediaan dibilas dengan aquadest.
3. Sediaan dicat dengan hematoksilin menurut Meyer selama 2 menit.
4. Sediaan dibilas dengan aquadest dan dikeringkan diudara. diperiksa dibawah
mikroskop perbesaran 10 x 100 dalam 100 spermatozoa
19 | S p e r m a

d) Cara O.Steeno
1. Sediaan hapus dimasukkan ke dalam larutan metanol selama 5 menit dan dikeringkan
diudara.
2. Sediaan dicelupkan kedalam larutan safranin 0,1% selama 5 menit
3. Sediaan dibilas dalam air buffer dua kali.
4. Sediaan dicelupkan kedalam larutan kristal violet 0,25% selama 5 menit
5. Sediaan dibilas dengan aquadest dan dikeringkan diudara. diperiksa dibawah
mikroskop perbesaran 10 x 100 dalam 100 spermatozoa
e) Cara lain dengan Fast Green, Wright, Bryan/leishman, Papanicolou, Romanowsky dan
lainnya.
3.4 Morfologi spermatozoa :
1. Spermatozoa Normal :
Spermatozoa yang kepalanya berbentuk oval, reguler, dengan bagian tengah utuh dan
mempunyai ekor tak melingkar dengan panjang 45 um.
2. Spermatozoa Abnormal :
Spermatozoa disebut abnormal bilamana terdapat satu atau lebih dari bagian spermatozoa
yang abnormal. Jadi meskipun kepala spermatozoa oval, tetapi kalau bagian tengah menebal,
maka dikatakan abnormal.
Abnormalitas kepala
- Kepala oval besar
Spermatozoa normal dengan ukuran kepala lebih besar dari normal. Panjang kepala
>5 dan lebar >3
- Kepala oval kecil
Spermatozoa normal dengan ukuran kepala lebih kecil dari normal. Panjang kepala
<3>2 .
- Kepala pipih (tapering head = lepto)
Kepala spermatozoa berbentuk seperti cerutu dengan kedua sisinya sejajar, bentuk
ramping dan agak panjang, akrosomnya dapat berujung lancip atau tidak.
- Kepala berbentuk pir (piriform head)

20 | S p e r m a

Kepalanya nyata atau bahkan lebih menyolok berbentuk sebagai tetesan air, bagian
runcing berhubungan dengan bagian tengah.
- Kepala dua (duplicated head)
Spermatozoa dengan memiliki dua kepala.
- Kepala berbentuk amorfous (terato)
Bentuk kepala yang tak menentu atau sangat besar dengan struktur yang aneh.
Abnormalitas bagian tengah
- Bagian tengah tebal
- Bagian tengah patah
- Tak mempunyai bagian tengah
Abnormalitas ekor
- Ekor sangat melingkar
- Ekor patah yang meninggalkan sisa ekor.
- Ekor lebih dari satu
- Ekor sebagai tali terpilin
Spermatozoa imatur
Spermatozoa yang masih mengandung sisa sitoplasma, yang paling tidak besarnya
separuh dari ukuran kepala dan masih terikat, baik pada kepala, bagian tengah maupun pada
ekor spermatozoa.
Leukosit dalam sperma :
Dalam sperma kecuali terdapat spermatozoa juga terdapat rundzellen / round cell atau
sel bundar yang terdiri dari leukosit dan sel-sel spermiogenesis. Dalam keadaan biasa
terdapat leukosit dalam sperma, jumlahnya meningkat melebihi normal akan berpengaruh
terhadap gambaran spermiogenesis, sehingga perlu dilakukan penghitungan leukosit.
Menghitung rundzellen (sel bundar) :
Karena terdiri dari dua sel yaitu sel muda sperma dan leukosit, maka untuk membedakannya
dapat dilakukan penghitungan sebagai berikut :

21 | S p e r m a

- 1 tetes sperma ditambah 1 tetes larutan Sedicolor (larutan Methylen Blue) diaduk rata
diobjek glass, dibiarkan beberapa menit, diperiksa di mikroskop dengan pembesaran 400600 kali.
- Dilakukan diferensiasi antara sel spermatozoa muda dan leukosit yang dinyatakan dalam
100%.
- Ciri-ciri sel :
Sel spermiogenesis : Dinding sel tampak tebal dengan inti yang kompak.
Leukosit : Dinding kelihatan tipis dengan inti yang khas untuk leukosit.
- Dihitung 100-200 sel bundar dan cara ini dilakukan jika junlah sel bundar per Lp lebih
dari 6-10.
- Jika pada sediaan jelas terlihat adanya leukosit maka dapat dipakai cara tanpa pengecatan,
yaitu : 0,1 ml sperma diteteskan diatas objek glass lalu ditutup dengan gelas penutup dan
diperiksa dengan pembesaran 400-600 kali.
- Jika didapat sel leukosit 6-10/Lp atau lebih, kemungkinan menunjukkan adanya infeksi
pada traktus genitalis.

3.5 Aglutinasi Spermatozoa


Aglutinasi spermatozoa ialah penggumpalan atau perlekatan antara satu spermatozoa
dengan beberapa spermatozoa yang lain. Aglutinasi spermatozoa dapat disebabkan oleh
faktor imunologis dan non-imunologis. Cara membedakan keduanya dengan mengukur titer
antibodi yang terdapat pada pasangan suami isteri. Namun guna informasi pendahuluan
proses aglutinasi spermatozoa, dapat dilakukan cara :
Satu tetes sperma diberi garam fisiologis. Kalau terjadi aglutinasi sejati, spermatozoa
akan tetap melekat satu dengan yang lain. Kalau dengan penambahan garam fisiologis
spermatozoa lepas satu dengan yang lain, maka aglutinasi tersebut adalah aglutinasi palsu.
Cara lain oleh Hellinga (1976) Setetes sperma segar, setelah likuefaksi total, diletakkan
pada objek glass, lalu ditutup dengan gelas penutup. Sediaan dibiarkan tidak disentuh
sedikitpun selama paling tidak 1 jam. Pada sperma tertentu akan terjadi penggumpalan satu
dengan yang lain. Macam-macam aglutinasi atau penggerombolan spermatozoa tersebut
yaitu:
1. Aglutinasi ekor dan ekor
Pada keadaan ini ujung atau bagian ekor yang lebih proksimal bersentuhan atau berlekatan
satu dengan yang lain, sedangkan kepalanya bebas bergerak. Ini dinamakan tail to tail
agglutination (TT).
22 | S p e r m a

2. Aglutinasi kepala dan kepala


Pada keadaan ini kepala spermatozoa saling berlekatan atau bergerombol, sedangkan
kepalanya bebas bergerak. Ini dinamakan head to head agglutination (HH).
3. Aglutinasi kepala dengan ekor
Pada keadaan ini kepala satu spermatozoa atau lebih berlekatan dengan ekor sebuah
spermatozoa atau lebih. Ini dinamakan head to tail agglutination (HT).
4. Spermatozoa saling menggerombol atau melekat pada suatu sel muda spermatozoa, epitel
atau lain-lain benda pada sperma.
5. Spermatozoa dapat menggerombol seperti benang pada pinggir daerah sperma tertentu. Ini
dinamakan aglutinasi rantai (string agglutination).

3.6 Benda-Benda Khusus Spermatozoa


Didalam sperma kecuali spermatozoa dan spermatozoa muda, terdapat benda-benda
khusus lainnya. Benda-benda itu berasal dari saluran genital atau kelenjar asesoria atau
benda-benda lain baik hidup maupun benda mati.
1. Benda-benda mati
- Sel epitil
Biasanya berupa sel epitil pipih, yang berasal dari lepasan sel pada saluran
urogenitalis. Sel pada traktus urogenitalis memang mudah lepas, apalagi kalau terjadi
proses keradangan, sehingga tambahan diagnostik untuk sesuatu keradangan.
- Kristal-kristal
Kristal-kristal ini berasal dari kelenjar-kelenjar asesoria.kristal yang banyak dijumpai
pada sperma : fosfat, urat dan sitrat.
- Lemak
Lemak dalam sperma berasal dari kelenjar prostat, berbentuk bundar jernih. Benda ini
tak banyak artinya dalam klinis.
- Benda prostat
Berasal dari prostat, berbentuk bundar tepinya tidak rata, serta tidak berinti.
2. Benda-benda hidup
- Bakteri
Bakteri ini berasal dari infeksi traktus urogenitalis, benruknya tak nampak jelas.
- Protozoa

23 | S p e r m a

Infeksi traktus urogenitalis oleh protozoa sering terjadi, misal Trichomonas, amoeba
dan Clamydia trachomatis.
- Jamur
Dapat dijumpaipad pasien yang dermatitis didaerah genitalia atau perineum.
3.6 Pemeriksaan Kimia
Karbohidrat yang ada dalam mani ialah fruktosa dan kadar fruktosa itu mempunyai
korelasi positif dengan kadar testosteron dalam tubuh. Penetapan kadar fruktosa memakai
reaksi Selivanoff sebagai dasar, pada reaksi itu fruktosa bereaksi dengan resorcinol dengan
menyusun warna merah.
Parameter

: Penetapan Fruktosa

Tujuan

: Untuk mengetahui dan menentukan kadar fruktosa dalam semen yang


bertalian dengan kadar testosteron.

Prinsip

: Fruktosa akan berubah menjadi furfural oleh pengaruh HCl dan


pemanasan, furfural yang terjadi akan berkondensasi dengan resorsinol
menyusun senyawa yang berwarna merah.

Reagensia :
1. Larutan Ba(OH)2 0,3 N dibuat dengan melarutkan 47,5 g Ba(OH)2.8H2O dalam 1000
aqusdest.
2. Larutan ZnSO4 0,175 M dibuat dari 50 g ZnSO4.7H2O dalam 1000 ml aquadest.
3. Larutan resorcinol 0,1% dalam 100 ml alkohol 95%, larutan ini bertahan 2 bulan bila
disimpan dalan lemari es.
4. HCl 10 N dibuat dari 1 volume aquadest ditambah 6 volume HCl pekat.
5. a. Standard fruktosa stock 50 mg fruktosa larutkan dalam 100 ml larutan asam
benzoat 0,2%.
b. Standard fruktosa sebagai larutan kerja. 1 ml standard fruktosa stock diencerkan
dengan aquadest sampai 100 ml. Pada cara dicantumkan dibawah, larutan kerja ini
sesuai dengan 200 mg /dl fruktosa mani.
Prosedur Kerja :

24 | S p e r m a

1. Lakukan deproteinisasi mani yang akan diperiksa dengan terlebih dahulu mengencerkan
0,1 ml mani dengan 2,9 ml air. Kemudian tambah 0,5 ml larutan Ba(OH)2, campur,
tambahkan 0,5 ml larutan ZnSO4, campur lagi dan pusinglah kuat-kuat.
2. Sediakan 3 tabung T (test), S (standard) dan B (blanko). Tabung T diisi 2 ml cairan atas
dari langkah 1, tabung S diisi 2 ml standard fruktosa larutan kerja dan tabung B diisi 2 ml
air/ aquadest.
Blanko Standard Sampel
Aquadest 2 ml -- -Standard -- 2 ml
Sampel -- -- 2 ml
Resorsinol 2 ml 2 ml 2 ml
HCl 6 ml 6 ml 6 ml
3. Kepada tabung T, S dan B masing dibubuhkan 2 ml resorsinol dan 6 ml HCl.
4. Campur isi tabung masing-masing, panasilah dalam bejana air 90OC selama 10 menit.
5. Bacalah absorbansi T dan S terhadap B pada 490 nm.
6. Hitunglah kadar fruktosa dengan rumus AT/AS x 200 = mg / dl fruktosa mani.
Catatan :
Kadar fruktosa dalam mani normal berkisar antara 120-450 mg/dl dan fruktosa itu
berasal dari vesiculae seminales. Selain dipengaruhi oleh kadar testosteron dalam tubuh,
banyaknya fruktosa dalam mani juga mengalami perubahan oleh proses-proses dalam
vesiculae seminales dan ductuli ejaculatorii, pada hipoplasia dan radang vesiculae seminales
dan pada penyumbatan partial ductuli ejaculatorii kadar fruktosa menurun. Penyumbatan
ductuli ejaculatorii yang total berakibat kadar fruktosa dalam mani menjadi nol.

3.7 Terminologi dalam Spermatologi


Berikut beberapa terminalogi yang dipergunakan dalam spermatologi :
1. Azoospermia : Dalam ejakulat tidak terdapat / ditemukan sperma
2. Aspermatogenesis : Tidak terjadi pembuatan spermatozoa di dalam testis.
25 | S p e r m a

3. Aspermia : Tidak terdapat ejakulat


4. Normospermia : Jumlah volume sperma 2-5 ml.
5. Hypospermia : Volume ejakulat kurang dari 1 ml
6. Hyperspermia : Volume ejakulat lebih dari 6 ml
7. Hypospermatogenesis : Proses pembentukan spermatozoa sangat sedikit didalam testis.
8. Oligospermia : Jumlah spermatozoa di bawah kriteria normal (di bawah 20 juta tiap ml
sperma)
9. Normozoospermia : Jumlah spermatozoa dalam batas normal berkisar antara 40-200
juta/ml.
10. Asthenospermia : Jumlah spermatozoa yang bergerak dengan baik di bawah 50%.
11. Necrospermia : Semua spermatozoa dalam keadaan mati.
12. Extrem oligospermia : Jumlah spermatozoa di bawah 1 juta untuk tiap 1 ml ejakulat.
13. Asthenozoospermia : Spermatozoa yang lemah sekali gerak majunya.
14. Teratozoospermia : Bentuk spermatozoa yang abnormal lebih dari 40%.
15. Nekrozoospermia : Bila semua spermatozoa tidak ada yang bergerak atau hidup.
16. Kriptozoospermia : Bila ditemukan spermatozoa yang tersembunyi yaitu bila ditemukan
dalam sedimen sentrifugasi sperma.
17. Polizoospermia : Bila jumlah spermatozoa lebih dari 250 juta per ml sperma
18. Leukospermia : Warna sperma putih keruh serupa susu karena terdapat leukosit yang
banyak.
19. Hemospermia : Warna sperma kemerahan karena terdapat erythrosit yang banyak.
20. Residual Body : Sisa sitoplasma yang melekat pada spermatozoa yang belum matur.

3.8 Hal-Hal yang Hrus Dierhatikan dalam Pengambilan Sampel


1. Bila pengambilan dengan cara masturbasi, jangan sampai ada sperma yang tertumpah
keluar wadah atau sperma tidak semuanya dikeluarkan. Semua sperma dikeluarkan sampai
tetes terakhir.
2. Sperma yang telah berhasil dikeluarkan, ditampung dalam wadah yang memenuhi syarat
yang telah ditentukan karena sifat sperma, khususnya spermatozoa mudah rusak karena
pengaruh luar.
3. Penyerahan sampel sperma ke laboratorium harus segera karena beberapa parameter
sperma mempunyai sifat mudah berubah karena pengaruh luar . sperma yang dibiarkan
26 | S p e r m a

begitu saja akan berubah pH, viskositas , motilitas spermatozoanya dan berbagai sifat
biokimianya.
4. Bila setelah senggama ke-1, kemudian penderita mengalami mimpi basah (night
pollution), maka jarak abstinensia dihitung sejak mimpi basah. Hal ini perlu diutarakan
sebab waktu 3 5 hari abstinensia sudah cukup untuk memulihkan kembali semua unsur
sperma, baik dari sekret kelenjar asesoris alat kelamin laki laki maupun jumlah
spermatozoa dari kegiatan tubuli seminiferi.
5. Abstenentia yang kurang atau lebih dari waktu yang ditentukan akan mempunyai nilai
lain, dan ini menjadikan nilai hasil pemeriksaan sperma tidak sepenuhnya benar.
Pemeriksaan ulang dapat dilakukan karena pemeriksaan yang hanya satu kali belum
mencerminkan spermiogram ( Gambaran ) rata rata.
6. Segera setelah di terima petugas laboratorium, hendaknya sperma secepatnya diperiksa.
Sperma harus diletakkan di dalam suhu kamar.
7. Hal lain yang perlu diberitahukan kepada pasien ialah pada waktu abstensia janganlah
minum obat-obat apapun, apalagi minum obat-obat perangsang seks, tonikum, atau
semacamnya. Hal ini agar diperlukan benar-benar sperma yang diperiksa tidak
dipengaruhi oleh obat-obatan.
Hal-hal yang harus diperhatikan pada pemeriksaan motilitas sperma
- Tetesan pada objek glass diusahakan sama besarnya untuk setiap pemeriksaan. Bilamana
tetesan tidak sama besarnya pengamatan spermatozoa secara prosentase dan kuantitatif
akan berbeda
- Tekanan gelas penutup pada tetesan sperma harus rata dan sama bagi tiap sampel sperma
untuk memperoleh hasil pemeriksaan yang cermat, sebab besar kecilnya tetesan dan berat
ringannya gelas penutup berpengaruh pada motilitas spermatozoa.
- Pemeriksaan harus dilakukan setelah gelas objek ditempelkan. Bila terlalu lama dibiarkan,
baru kemudian diperiksa, akan terjadi perbedaan dalam motilitas spermatozoa.
- Pemeriksaan motilitas sperma biasanya dilaksanakan setelah liquefaksi terjadi
keseluruhan. Pada saat itu sperma telah homogen, sehingga spermatozoa dapat lebih
bebas. Liquefaksi sempurna biasanya terjadi 15- 30 menit setelah ejakulasi.
- Pemeriksaan motilitas berurutan sampai 2-3 jam seteleh ejakulasi dimaksudkan untuk
mengetahui derajat penurunan motilitas spermatozoa. Sebab pada keadaan normal,
kemunduruan motilitas terjadi kira-kira 10-20 % dalam waktu 2 3 jam. Tetapi kalau

27 | S p e r m a

dalam waktu tersebut turunnya motilitas lebih dari 20 %, berarti daya tahan motilitas
spermatozoa itu berkurang.
- Dalam melaksanakan pemeriksaan motilitas berurutan ini, temperatur laboratorium harus
dijaga agar konstan, sebab perbedaan suhu juga berpengaruh terhadap motilitas
spermatozoa.
- Sperma yang diteteskan pada gelas obyek kemudian ditutup dengan gelas penutup.
Menutupnya harus baik agar jangan sampai ada gelembung udara di dalamnya atau jangan
sampai tetesan sperma luber keluar gelas penutup.
- Tekanan gelas penutup pada tetesan sperma harus rata dan sama bagi setiap sampel
sperma. Untuk maksud itu tidak boleh sembarang ukuran gelas penutup dipergunakannya.
Gelas penutup harus yang sama ukurannya yaitu 18 mm x 18 mm.
Hal hal yang harus diperhatikan pada pemeriksaan vitalitas
- Spermatozoa yang hidup (Viable) tidak berwarna, dengan latar belakang kemerahan,
sedangkan spermatozoa yang mati berwarna kemerahan karena dinding spermatozoa
rusak, zat warna masuk kedalam sel, sel berwarna merah. Spermatozoa hidup tetap tak
berwarna karena dinding sel masih utuh, tidak dapat ditembus zat warna.
- Untuk membuat pengecatan vitalitas yang baik, zat warna harus baru jangan terlalu kental
dan jangan banyak endapan.
Hal hal yang perlu diperhatikan pada pemeriksaan jumlah sperma
- Biasanya didapat 70 juta atau lebih banyak spermatozoa per ml ; kalau jumlah kurang dari
20 juta per ml , ada kemungkinan mati itu kurang memadai dalam hal fertilitas.
- Tetapi kita harus berhati hati dalam mengambil kesimpulan seperti itu. Tidak jarang
dilihat bahwa hasil pemeriksaan mani berikutnya atau yang mendahuluinya berbeda jauh.
Dapat juga dilakukan pada pemeriksaan motilitas hanya sedikit sekali spermatozoa
kelihatan bergerak aktif.
Hal hal yang harus diperhatikan pada pemeriksaan morfologi sperma
- Untuk sperma dengan kepadatan tinggi, tetesan dibuat kecil dan hapusannya lebih cepat
dan berat dan untuk spermatozoa kepadatan rendah dibuat tetesan lebih besar dan
hapusannya lebih lambat dan ringan.
- Jika jumlah kepadatan spermatozoa kurang dari 10 juta / ml sediaan hapus dibuat dari
sentrifugasi dengan 2000 rpm selama 15 menit.
28 | S p e r m a

- Sediaan / hapusan sperma dapat diwarnai dengan cat : Giemsa, Mayer, O. Steeno, Fast
green, Wright, Bryan / leishman dan papanocolou.
- Sel-sel bundar terdapat pula pada ejakulat, dan dapat diamati pada analisis sperma. Pada
pemeriksaan sperma dengan pengecetan sederhana, yakni dengan metilin blue, sel sel
tersebut telah tampak sel-sel itu ialah lekosit, polimorfonuklear dan monosit.

Hal hal yang harus diperhatikan pada perlakuan mikroskop


- Letakkan mikroskop ditempat yang datar dan tidak licin.
- Bersihkan lensa dengan kertas lensa atau kain yang lembut yang dibasahi dengan xylol
setiap kali setelah selesai bekerja.
- Jangan merendam/membersihkan lensa dengan alkohol atau sejenisnya karena akan
melarutkan perekatnya sehingga lensa dapat lepas.
- Bersihkan dan lumari penyangga setiap minggu.
- Periksa kelurusan sumbu kondensor setiap bulan.
- Simpanlah mikroskop ditempat yang tingkat kelembabannya rendah, dapat dengan cara
memberikan lampu wolfram atau dengan silica gel.
- Jangan menyentuh lensa objektif dengan jari.
- Jangan biarkan mikroskop tanpa lensa okuler atau objektif, karena kotoran akan mudah
masuk.
- Saat mikroskop disimpan, lensa objektif 40 x atau 100 x tidak boleh berada lurus dibawah
kondensor, karena dapat mengakibatkan lensa pecah bila ulir mikrometer atau
makrometernya rusak.

29 | S p e r m a

BAB IV
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Pemeriksaan sperma merupakan salah satu jalan yang termudah untuk mengetahui
tingkat kesuburan/fertilitas dan infertilitas seorang pria. Tingkat kesuburan ini memberi
kesan, akan kemampuan seorang pria untuk memperoleh keturunan. Seorang pria dengan
tingkat kesuburan yang rendah atau steril sulit baginya untuk memperoleh keturunan. Oleh
karena hal tersebut diatas, maka seyogyanyalah seorang pria memeriksakan dirinya untuk
mengetahui tingkat kesuburannya.
Seseorang yang akan memeriksakan spermanya, sebaiknya terlebih dahulu melakukan
pantangan (abstinensi) untuk tidak mengeluarkan sperma sedikit-dikitnya selama 3 hari (3
x 24 jam) dengan alasan menurut penyelidikan, jangka waktu sebesar itu sudah cukup
untuk suatu spermiogenesis dan untuk sampel yang baik.
Segera setelah diterima petugas laboratorium, hendaknya sperma secepatnya
diperiksa. Sperma harus diletakkan di dalam suhu kamar. Contoh sperma tidak boleh
didinginkan dibawah 20OC atau dipanaskan diatas 40C, oleh karena kedua hal ini dapat
mempengaruhi motilitas dan viabilitas spermatozoa.

30 | S p e r m a

DAFTAR PUSTAKA

Koentjoro Soehadi.T, K.M.Arsyad, Analisis Sperma, Fakultas Kedokteran UNAIR Surabaya,


FK Univ. Sriwijaya Palembang .Juli 1982.
IDI, Pengaruh pajanan Pb terhadap kualitas spermatozoa, Majalah Kedokteran Indonesia
(The Journal of the Indonesian Medical Association), Vol.51 .No.5,Mei 2001.
Depkes RI, PusLabkes, Petunjuk Pelaksanaan Pemantapan Mutu Internal Lab.kes,1997.
Penuntun Laboratorium Klinik, R.Gandasoebrata, Penerbit Dian Rakyat, Jakarta, 1989
Tinjauan Klinis atas Hasil Pemeriksaan Laboratorium, Frances.K.Widmann, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta, 1995
Diktat Kimia Klinik Jilid I, Pusdiknakes, Departemen Kesehatan RI, Jakarta, 1989
Diktat Penuntun Praktikum Kimia Klinik, Muhamad Muslim, SMAK Depkes Banjarmasin,
Banjarbaru, 1991
Ronald A.Sacher, Richard A. Mc.Pharson, Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium,
Edisi 11, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

31 | S p e r m a

LAMPIRAN
Daftar Nilai normal pemeriksaan spermatozoa :
1. Volume : 2-5 ml
2. Warna : berwarna putih seperti kanji, putih keabuan, putih kekuningan
3. Bau : Berbau khas seperti bunga akasia
4. pH : 6,8-7,8
5. Koagulum : Ada saat sperma baru keluar berupa gumpalan putih.
6. Liquefaksi : likuefaksi 15-20 menit.
7. Viskositas : Waktu 1 tetesan 1-2 detik. Lebih 2 detik viskositas tinggi
8. Aglutinasi : Baik aglutinasi sejati atau palsu tidak ada.
9. Leukosit : Jika lebih dari 1.000/mm ada infeksi atau pencemaran pada traktus genitalis dan
atau kelenjar asesoria.
10. Motilitas : Motil aktif > 60-70%, motil tak aktif <20-30% dan tidak motil <10%.
11. Jumlah : 20-70 juta spermatozoa/ml ejakulat.
12. Viabilitas : Diatas 75% atau lebih yang hidup.
13. Morfologi Normal : Yang normal morfologinya harus diatas 75%.
14. Fruktosa : 150 450 mg/dl fruktosa

32 | S p e r m a