You are on page 1of 41

ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA

DENGAN GOUT
Konsep Dasar Lansia
Pengertian Lansia
Usia lanjut dikatakan sebagai tahap ahir perkembangan pada daur kehidupan manusia
( Budi Anna Keliat,1999). Sedangkan menurut pasal 1 ayat (2), (3),(4) No. 13 Tahun 1998
tentang Kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia
lebih dari 60 tahun.
Klasifikasi Lansia
1. Pralansia
Seseorang yang berusia antara 45-59 tahun.
2. Lansia
Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih
3. Lansia resiko tinggi
Seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih / seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih
dengan masalah kesehatan ( Depkes RI, 2003)
4. Lansia potensial
Lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan kegiatan yang dapat menghasilkan
barang / jasa ( Depkes RI, 2003)
5. Lansia tidak potensial
Lansia yang tidak berdaya mencari nafkah,sehingga hidupnya bergantung pada bantuan
orang lain ( Depkes RI,2003)
Karakteristik Lansia
Menurut Anna Budi Keliat (1999), lansia memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Berusia lebih dari 60 tahun ( sesuai dengan pasal 1 ayat (2) UU No.13 tentang kesehatan)
2. Kebutuhan dan masalah yang bervariasi dari rentang sehat sampai sakit, dari kebutuhan
biopsikososial sampai spiritual, serta dari kondisi adaptif hingga kondisi maladaptif.
3. Lingkungan tempat tinggal yang bervariasi.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN GOUT
A. Pengertian
Artritis pirai (Gout) adalah suatu proses inflamasi yang terjadi karena deposisi kristal asam
urat pada jaringan sekitar sendi. gout terjadi sebagai akibat dari hyperuricemia yang
berlangsung lama (asam urat serum meningkat) disebabkn karena penumpukan purin atau
ekresi asam urat yang kurang dari ginjal.
Artritis gout adalah suatu sindrom klinis yang mempunyai gambaran khusus,yaitu artritis
akut. Artritis akut disebabkan karena reaksi inflamasi jaringan terhadap pembentukan kristal
monosodium urat monohidrat.

B. Etiologi GOUT
Gejala artritis akut disebabkan oleh reaksi inflamasi jaringan terhadap pembentukan kristal
monosodium urat monohidrat. Karena itu,dilihat dari penyebabnya penyakit ini termasuk
dalam golongan kelainan metabolik. Kelainan ini berhubungan dengan gangguan kinetik
asam urat yang hiperurisemia. Hiperurisemia pada penyakit ini terjadi karena:
1. Pembentukan asam urat yang berlebih.
a. Gout primer metabolik disebabkan sistensi langsung yang bertambah.
b. Gout sekunder metabolik disebabkan pembentukan asam urat berlebih karana penyakit
lain, seperti leukemia,terutama bila diobati dengan sitostatika,psoriasis,polisitemia vera dan
mielofibrosis.
2. Kurang asam urat melalui ginjal.
a. Gout primer renal terjadi karena ekskresi asam urat di tubuli distal ginjal yang sehat.
Penyabab tidak diketahui
b. Gout sekunder renal disebabkan oleh karena kerusakan ginjal, misalnya glumeronefritis
kronik atau gagal ginjal kronik..
3. Perombakan dalam usus yang berkurang. Namun secara klinis hal ini tidak penting.
C. Patofisiologi
Banyak faktor yng berperan dalam mekanisme serangan gout. Salah satunya yang telah
diketahui peranannya adalah kosentrasi asam urat dalam darah. Mekanisme serangan gout
akut berlangsung melalui beberapa fase secara berurutan.
1. Presipitasi kristal monosodium urat.
Presipitasi monosodium urat dapat terjadi di jaringan bila kosentrasi dalam plasma lebih dari
9 mg/dl. Presipitasi ini terjadi di rawan, sonovium, jaringan para- artikuler misalnya bursa,
tendon, dan selaputnya. Kristal urat yang bermuatan negatif akan dibungkus (coate) oleh
berbagai macam protein. Pembungkusan dengan IgG akan merangsang netrofil untuk
berespon terhadap pembentukan kristal.
2. Respon leukosit polimorfonukuler (PMN)
Pembentukan kristal menghasilkan faktor kemotaksis yang menimbulkan respon leukosit
PMN dan selanjutnya akan terjadi fagositosis kristal oleh leukosit.
3. Fagositosis
Kristal difagositosis olah leukosit membentuk fagolisosom dan akhirnya membram vakuala
disekeliling kristal bersatu dan membram leukositik lisosom.
4. Kerusakan lisosom
Terjadi kerusakn lisosom, sesudah selaput protein dirusak, terjadi ikatan hidrogen antara

permukan kristal membram lisosom, peristiwa ini menyebabkan robekan membram dan
pelepasan enzim-enzim dan oksidase radikal kedalam sitoplasma.
5. Kerusakan sel
Setelah terjadi kerusakan sel, enzim-enzim lisosom dilepaskan kedalam cairan sinovial, yang
menyebabkan kenaikan intensitas inflamasi dan kerusakan jaringan.
D. Manifestasi Klinis
Secara klinis ditandai dengan adnya artritis,tofi dan batu ginjal. Yang penting diketahui
bahwa asm urat sendiri tidak akan mengakibatkan apa-apa. Yang menimbulkan rasa sakit
adalah terbentuk dan mengendapnya kristal monosodium urat. Pengendapannya
dipengaruhi oleh suhu dan tekanan. Oleh sebab itu, sering terbentuk tofi pada daerahdaerah telinga,siku,lutut,dorsum pedis,dekat tendo Achilles pada metatarsofalangeal digiti 1
dan sebagainya.
Pada telinga misalnya karena permukaannya yang lebar dan tipis serta mudah tertiup
angin,kristal-kristal tersebut mudah mengendap dan menjadi tofi. Demikian pula di dorsum
pedis,kalkaneus karena sering tertekan oleh sepatu. Tofi itu sendiri terdiri dari kristal-kristal
urat yang dikelilingi oleh benda-benda asing yang meradang termasuk sel-sel raksasa.
Serangan sering kali terjadi pada malam hari. Biasanya sehari sebelumnya pasien tampak
segar bugar tanpa keluhan. Tiba-tiba tengah malam terbangun oleh rasa sakit yang hebat
sekali.
Daerah khas yang sering mendapat serangan adalah pangkal ibu jari sebelah dalam,disebut
podagra. Bagian ini tampak membengkak, kemerahan dan nyeri ,nyeri sekali bila sentuh.
Rasa nyeri berlangsung beberapa hari sampai satu minggu,lalu menghilang. Sedangkan tofi
itu sendiri tidak sakit,tapi dapat merusak tulang. Sendi lutut juga merupakan tempat
predileksi kedua untuk serangan ini.
Tofi merupakan penimbunan asm urat yang dikelilingi reaksi radang pada sinovia,tulang
rawan,bursa dan jaringan lunak. Sering timbul ditulang rawan telinga sebagai benjolan
keras. Tofi ini merupakan manifestasi lanjut dari gout yang timbul 5-10 tahun setelah
serangan artritis akut pertama.
Pada ginjal akan timbul sebagai berikut:
1. Mikrotrofi dapat terjadi di tubuli ginjal dan menimbulkan nefrosis
2. Nefrolitiasis karena endapan asam urat
3. Pielonefritis kronis
4. Tanda-tanda aterosklerosis dan hipertensi
Tidak jarang ditemukan pasien dengan kadar asam urat tinggi dalam darah tanpa adanya
riwayat gout yang disebut hiperurisemia asimtomatik. Pasien demikian sebaiknya dianjurkan
mengurangi kadar asam uratnya karena menjadi faktor resiko dikemudian hari dan
kemungkinan terbentuknya batu urat diginjal.

E. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan serangan akut
Obat yang diberikan pada serangan akut antara lain:
1. Kolkisin, merupakan obat pilihan utama dalam pengobatan serangan arthritis gout
maupun pencegahannya dengan dosis lebih rendah. Efek samping yang sering ditemui
diantaranya sakit perut , diare, mual atau muntah-muntah. Kolkisin bekerja pada
peradangan terhadap Kristal urat dengan menghambat kemotaksis sel radang. Dosis oral
0,5 0,6 mg per jam sampai nyeri, mual atau diare hilang. Kontraindikasi pemberian oral
jika terdapat inflamammatory bowel disease.
2. OAINS
Semua jenis OAINS dapat diberikan yang paling sering digunakan adalah indometasin. Dosisi
awal indometasin 25-50 mg setiap 8 jam. Kontraindikasinya jika terdapat ulkus peptikus
aktif, gangguan fungsi ginjal, dan riwayat alergi terhadap OAINS.
3. Kortikosteroid
untuk pasien yang tidak dapat memakai OAINS oral, jika sendi yang terserang
monoartikular, pemberian intraartikular sangat efektif, contohnya triamsinolon 10-40 mg
intraartikular.
4. Analgesic diberikan bila rasa nyeri sangat berat. Jangan diberikan aspirin karena dalam
dosis rendah akan menghambat ekskresi asam urat dari ginjal dan memperberat
hiperurisemia.
5. Tirah baring merupakan suatu keharusan dan diteruskan sampai 24 jam setelah serangan
menghilang.
B. Penatalaksanaan periode antara
1. Diet dianjurkan menurunkan berat badan pada pasien yang gemuk, serta diet rendah
purin.
2. Hindari obat-obatan yang mengakibatkan hiperurisemia, seperti tiazid, deuretik, aspirin,
dan asam nikotinat yang menghambat ekskresi asam urat dari ginjal.
3. Kolkisin secara teratur
4. Penurunan kadar asam urat serum
a. Obat urikosurik, bekerja menghambat reabsorbsi tubulus terhadap asam urat yang telah
difiltrasi dan mengurangi peyimpanannya
b. Inhibitor xantin oksidase atau alopurinol, bekerja menurunkan produksi asam urat
dan meningkatkan pembentukan xantin serta hipoxantin dengan cara menghambat
enzim xantin oksidase.
E. Pemeriksaan penunjang
Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan kadar asam urat yang tinggi dalam darah ( >
6mg%). Kadar asam urat normal dalam serum pada pria 8mg% dan pada wanita 7mg%.
pemeriksaan kadar asam urat ini akan lebih tepatlagi bila dilakukan dengan cara enzimatik.
Kadang-kadang didapatkan leukositosis ringan dengan led meninggi sedikit. Kadar asam
urat dalam urin juga sering tinggi (500 mg%/liter per 24 jam).
Disamping ini pemeriksaan tersebut,pemeriksaan cairan tofi juga penting untuk

menegakkan diagnosis. Cairan tofi adalah cairan berwarna putih seperti susu dan kental
sekali sehingga sukar diaspirasi. Diagnosis dapat dipastikan bila ditemukan gambarankristal
asam urat ( berbentuk lidi) pada sediaan mikroskopik.
Kriteria diagnostik Artritis Gout ( ARA 1977)
A. Kristal urat dalam cairan sendi
B. Tofus yang mengandung kristal urat
C. Enam dari kriteria dibawah ini:
1. Lebih dari satu kali serangan ertritis akut
2. Inflamasi maksimal pada hari pertama
3. Artritis monoartikular
4. Kemerahan sekitar sendi
5. Nyeri atau bengkak sendi metatarsofalangeal 1
6. Serangan unilateral pada sendi metatarsofalangeal 1
7. Serangan unilateral pada sendi tarsal
8. Dugaan adanya tofus
9. Hiperurikemia
10. Pembengkakan asimetri sebuah sendi pada foto rontgen
11. Kista subkortikal tanpa erosi pada foto rontgen
12. Kultur mikroorganisme cairan sendi selama serangan inflamasi sendi negatif
Klasifikasi Gout
Gout primer
Merupkan akibat langsung pembentukan asam urat tubuh yang berlebih atau akibat
penurunan ekresi asam urat
Gout sekunder
Disebabkan karena pembentukan asam urat yang berlebih atau ekresi asam urat yang
bekurang akibat proses penyakit lain atau pemakaian obat tertentu.
DASAR DATA PENGKAJIAN PASIEN
AKTIVITAS/ISTIRAHAT
Gejala: Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stress pada sendi :
kekakuan pada pagi hari.
Tanda: Malaise
Keterbatasan rentang gerak ; atrofi otot, kulit : kontraktur atau kelainan pada sendi dan otot
KARDIOVASKULER
Gejala : Jantung cepat, tekanan darah menurun
INTEGRITAS EGO
Gejala: Faktor-faktor stress akut atau kronis : Misalnya finansial, pekerjaan,

ketidakmampuan, factor-faktor hubungan Keputusasaan dan ketidak berdayaan


Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi misalnya ketergantungan orang lain
MAKANAN ATAU CAIRAN
Gejala: Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi makanan/ cairan adekuat :
mual,anoreksia,kesulitan untuk mengunyah.
Tanda: Penurunan berat badan,kekeringan pada membran mukosa
HIGIENE
Gejala: Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas pribadi, ketergantungan pada
orang lain.
NEUROSENSORI
Gejala: Kebas/kesemutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari tangan
Tanda: Pembengkakan sendi
NYERI / KENYAMANAN
Gejala: Fase akut dari nyeri Terasa nyeri kronis dan kekakuan
KEAMANAN
Gejala: Kesulitan dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga,kekeringan pada
mata dan membran mukosa
INTERAKSI SOSIAL
Gejala: Kerusakan interaksi dan keluarga / orang lsin : perubahan peran: isolasi
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa 1: Gangguan nyaman nyeri berhubungan dengan penurunan fungsi tulang
Kriteria hasil: Nyeri hilang atau terkontrol
INTERVENSI
Mandiri
1. Kaji keluhan nyeri, catat lokasi dan intensitas (skala 0 10). Catat factor-faktor yang
mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal
2. Berikan matras atau kasur keras, bantal kecil. Tinggikan linen tempat tidur sesuai
kebutuhan
3. Biarkan pasien mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur atau duduk di kursi.
Tingkatkan istirahat di tempat tidur sesuai indikasi

4. Dorong untuk sering mengubah posisi. Bantu pasien untuk bergerak di tempat tidur,
sokong sendi yang sakit di atas dan di bawah, hindari gerakan yang menyentak.
5. Anjurkan pasien untuk mandi air hangat atau mandi pancuran pada waktu bangun.
Sediakan waslap hangat untuk mengompres sendi-sendi yang sakit beberapa kali sehari.
Pantau suhu air kompres, air mandi
6. Berikan masase yang lembut
Kolaborasi
1. Beri obat sebelum aktivitas atau latihan yang direncanakan sesuai petunjuk seperti asetil
salisilat (aspirin)
RASIONAL
1. Membantu dalam menentukan kebutuhan managemen nyeri dan keefektifan program
2. Matras yang lembut/empuk, bantal yang besar akan mencegah pemeliharaan kesejajaran
tubuh yang tepat, menempatkan setres pada sendi yang sakit. Peninggian linen tempat tidur
menurunkan tekanan pada sendi yang terinflamasi / nyeri
3. Pada penyakit berat, tirah baring mungkin diperlukan untuk membatasi nyeri atau cedera
sendi.
4. Mencegah terjadinya kelelahan umum dan kekakuan sendi. Menstabilkan sendi,
mengurangi gerakan/rasa sakit pada sendi
5. Panas meningkatkan relaksasi otot dan mobilitas, menurunkan rasa sakit dan melepaskan
kekakuan di pagi hari. Sensitifitas pada panas dapat dihilangkan dan luka dermal dapat
disembuhkan
6. Meningkatkan elaksasi/mengurangi tegangan otot,relaksasi, mengurangi tegangan otot,
memudahkan untuk ikut serta dalam terapi
Diagnosa 2: intoleransi aktivitas berhubungan dengan perubahan otao
Kriteria hasil: Klien mampu berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan
INTERVENSI
Mandiri
1. Perahankan istirahat tirah baring/duduk jika diperlukan.
2. Bantu bergerak dengan bantuan seminimal mungkin.
3. Dorong klien mempertahankan postur tegak, duduk tinggi, berdiri dan berjalan.
Kolaborasi
1. Berikan lingkungan yang aman dan menganjurkan untuk menggunakan alat bantu.
Berikan obat-obatan sesuai indikasi seperti steroid
RASIONAL
1. Untuk mencegah kelelahan dan mempertahankan kekuatan.

2. Meningkatkan fungsi sendi, kekuatan otot dan stamina umum.


3. Memaksimalkan fungsi sendi dan mempertahankan mobilitas.
4. Untuk menekan inflamasi sistemik akut
Diagnosa 3: Resiko tinggi cedera berhubungan dengan penurunan fungsi tulang
Kriteria hasil: Klien dapat mempertahankan keselamatan fisik
INTERVENSI
1. Kendalikan lingkungan dengan : Menyingkirkan bahaya yang tampak jelas, mengurangi
potensial cedera akibat jatuh ketika tidur misalnya menggunakan penyanggah tempat tidur,
usahakan posisi tempat tidur rendah, gunakan pencahayaan malam siapkan lampu panggil
2. Memantau regimen medikasi
3. Izinkan kemandirian dan kebebasan maksimum dengan memberikan kebebasan dalam
lingkungan yang aman, hindari penggunaan restrain, ketika pasien melamun alihkan
perhatiannya
RASIONAL
1. Lingkungan yang bebas bahaya akan mengurangi resiko cedera dan membebaskan
keluarga dari kekhawatiran yang konstan
2. Hal ini akan memberikan pasien merasa otonomi, restrain dapat meningkatkan
agitasi,mengagetkan pasien akan meningkatkan ansietas
DAFTAR PUSTAKA
Doenges E Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta
Kalim, Handono, 1996., Ilmu Penyakit Dalam, Balai Penerbit FKUI : Jakarta
Mansjoer , Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ke 3. Jakarta : Media Aeusculapius
Nugroho , wahjudi. 2002. Keperawatan Gerontik. EGC : Jakarta
Pranarka, kris. 2010. Buku Ajar Geriatri ( Ilmu Kesehatan Usia Lanjut ) Edisi ke 4. Balai
penerbit fakultas kedokteran universitas Indonesia: Jakarta
Prof .dr.H.M. Noer, Sjaifoellah. 2000. Buku Ajar Penyakit Dalam Edisi ke 3. Balai penerbit
FKUI: Jakarta
R. Maryam,S, Fatma, M.dkk. 2008. Mengenal Usia Lanjut Dan Perawatannya. Salemba
medika : Jakarta

Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan Lansia Yang Menderita Rematik

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seiring dengan keberhasilan Pemerintah dalam Pembangunan Nasional, telah
mewujudkan hasil yang positif di berbagai bidang, yaitu adanya kemajuan ekonomi,
perbaikan lingkungan hidup, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama
di bidang medis atau ilmu kedikteran sehingga dapat meningkatkan kualitas
kesehatan penduduk serta meningkatkan umur harapan hidup manusia. Akibatnya
jumlah penduduk yang berusia lanjut meningkat dan bertambah cenderung lebih
cepat.
Saat ini, di seluruh dunia jumlah orang lanjut usia diperkirakan ada 500 juta dengan
usia rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2
milyar. Di Negara maju seperti Amerika Serikat pertambahan orang lanjut usia
bertambah 1000 orang per hari pada tahun 1985 dan diperkirakan 50% dari
penduduk berusia 50 tahun sehingga istilah Baby Boom pada masa lalu berganti
menjadi ledakan penduduk lanjut usia.
Secara demografi, menurut sensus penduduk pada tahun 1980 di Indonesia jumlah
penduduk 147,3 juta. Dari angka tersebut terdapat 16,3 juta orang (11%) orang
yang berusia 50 tahun ke atas, dan 5,3 juta orang (4,3%) berusia 60 tahun ke atas.
Dari 6,3 juta orang terdapat 822,831 (23,06%) orang yang tergolong jompo, yaitu
para lanjut usia yang memerlukan bantuan khusus sesuai undang-undang bahkan
mereka harus dipelihara oleh Negara.
Secara individu, pada usia diatas 55 tahun terjadi penuaan secara alamiah. Hal ini
akan menimbulkan masalah fisik, mental, sosial, ekonomi, dan psikologis. Survei
rumah tangga tahun 1980 angka kesakitan penduduk usia lebih dari 55 tahun,
sebesar 25,70% diharapkan pada tahun 2000 nanti angka tersebut akan menurun
menjadi 12,30% (Depkes RI, Pedoman Pembinaan Kesehatan Lanjut usia bagi
Petugas Kesehatan I, 1992)
Pada sistem muskuloskeletal termasuk di dalamnya adalah tulang, persendian, dan
otot-otot akan mengalami perubahan pada lansia yang dapat mempengaruhi
penampilan fisik dan fisiologisnya. Semua perubahan ini sangat mempengaruhi
rentang gerak, gerak secara keseluruhan, dan cara berjalan.
Kekuatan muskular mulai merosot pada usia sekitar 40 tahun, dengan suatu
kemunduran yang dipercepat setelah usia 60 tahun. perubahan gaya hidup dan
penggunakan sistem neuromuscular adal penyebab utama kehilangan kekuatan
otot. Secara umum, terdapat kemunduran kartilago sendi, sebagian besar terjadi
pada sendi-sendi yang menahan berat dan pemebentukan tulang di permukaan
sendi. Komponen-komponen kapsul sendi pecah dan kolagen yang terdapat pada

jaringan penyambung meningkat progresif yang jika tidak dipakai lagi, mungkin
menyebabkan inflamasi, nyeri, penurunan mobilitas sendi, dan deformitas.
Penyakit inflamasi artikular yang paling sering terjadi pada lansia adalah Atritis
Reumatoid.
Berbagai penyakit sendi, termasuk Atritis Reumatoid dapat terjadi resiko jatuh pada
lansia. Jatuh merupakan kejadian terbesar pada lansia. Jatuh adalah suatu kejadian
yang dilaporkan penderita atau saksi mata yang melihat kejadian, sehingga
mengakibatkan seseorang mendadak terbaring/terduduk di lantai atau tempat
yang lebih rendak dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka (Reuben,
1996 dalam Buku Ajar Geriatri, Darmojo, 1999).
Penyakit kronis, pengobatan, dan faktor lingkungan seperti penerangan yang
kurang, lantai yang licin, tersandung, alas kaki kurang pas, kursi roda yang tidak
terkunci, serta jalan menurun/ adanya tangga juga dapat memperbesar risiko jatuh
pada lansia. Karena hal-hal tersebut maka perhatian dan dukungan keluarga
terhadap lansia menjadi sangat penting.
Keluarga mempunyai peran yang penting dalam perawatan pasien lansia. Peran
penting tersebut dimiliki keluarga dikarenakan keluarga paling banyak berhubungan
dengan pasien (lansia), keluarga adalah orang yang paling dekat dan paling
mengetahui keadaan pasien, Pasien (lansia) yang dirawat di rumah sakit nantinya
akan kembali ke lingkungan keluarga.
Salah satu aspek penting dalam keperawatan adalah keluarga. Keluarga adalah unit
terkecil dalam masyarakat merupakan klien keperawatan atau si penerima asuhan
keperawatan. Keluarga berperan dalam menentukan cara asuhan yang diperlukan
anggota keluarga yang sakit. Secara empiris dapat dikatakan bahwa kesehatan
anggota keluarga menjadi sangat berhubungan atau signifikan.
Prioritas tertinggi dari keluarga adalah kesejahteraan anggota keluarganya. Hal ini
tercapai apabila fungsi-fungsi dari keluarga untuk memenuhi kebutuhan tiap
individu yang ada dalam keluarga dapat tercapai dan terpenuhi.
Keluarga Tn. T yang beralamatkan di RT 13 RW 09 Desa Kasih Sayang Kembar
Purwokerto menjadi studi kasus dalam asuhan keperawatan keluarga saat ini
dikarenakan terdapat alasan yang mendukung dijadikannya Tn. T sebagai sasaran
Asuhan Keperawatan Keluarga yaitu keluarga Tn. T merupakan keluarga resiko
tinggi kesehatan karena didalamnya terdapat usia lanjut.
1.2 Pembahasan masalah
Asuhan keperawatan keluarga pada Tn. T diprioritaskan pada diagnosa keperawatan
pertama yaitu nyeri berhubungan dengan agen cedera fisik (rematik)
1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum


Keluarga Tn. T bisa dan mampu meningkatkan derajat kesehatannya melalui
pemberian asuahan keperawatan keluarga.
1.3.2 Tujuan khusus
1.

Mengidentifikasi masalah kesehatan yang terjadi di dalam keluarga Tn. T

2.
Menganalisa dan merumuskan masalah keperawatan yang terjadi pada
keluarga Tn. T kemudian menentukan prioritas masalah melalui skoring keluarga
3.

Menyusun rencana tidakan keperawatan keluarga

4.
Memberikan implementasi pendidikan kesehatan dan memberikan fasilitas
perawatan kesehatan
5.
Mengevaluasi terhadap asuhan keperawatan yang diberikan kepada keluarga
Tn. T

1.4 Manfaat
1.4.1 Mahasiswa
1.
Untuk melatih dan membiasakan mahasiswa dalam menyelesaikan masalah
kesehatan keluarga melalui Asuhan Keperawatan keluarga.
2.
Untuk meningkatkan ketrampilan berfikir kritis dalam menyesuiakan masalah
kesehatan keluarga melalui Asuhan Keperawatan keluarga.

1.4.2 Keluarga
Meningkatkan kemampuan keluarga dalam menyelesaikan masalah kesehatan
sendiri, sehingga tercipta peningkatan stastus dan derajat kesehatan keluarga yang
optimal.

KONSEP DASAR
1. Pengertian Lansia
Mengenai kapankah orang disebut lanjut usia, sulit dijawab secara memuaskan .
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia lanjut usia meliputi :

Usia pertengahan (middle age) ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun

Lanjut usia (elderly) ialah kelompok usia antara 60 sampai 74

Lanjut usia tua (old) ialah kelompok usia antara 75 sampai 90

Usia sangat tua (very old) ialah kelompok usia diatas 90

2. perubahan-perubahan yang terjadi pada lanjut usia


-

Perubahan sel

Sistem pernafasan

Sistem pendengaran

Sistem penglihatan

Sistem kardiovaskuler

Sistem pengaturan temperature tubuh

Sistem respirasi

Sistem gastrointestinal

Sistem genitourinaria

Sistem endokrin

Sistem kulit

Sistem musculoskeletal

Perubahan-perubahan mental

Perubahan-perubahan psokososial

Peningkatan spiritual

3. Penyakit Radang Sendi : Atritis Reumatoid


a. Patofisiologi
Atritis Reumatoid adalah suatu penyakit kronis, sistemik, yang secara khas
berkembang perlahan-lahan dan ditandai oleh adanya radang yang sering kambuh
pada sendi-sendi diartrodial dan struktur yang berhubungan. AR sering disertai
dengan nodul-nodul rheumatoid, arthritis, neuropati, skleritis, perikarditis,
limfadenopati, dan splenomegali. AR ditandai oleh periode-periode remisi dan
bertambah parahnya penyakit (Stanley dan Beare, 2007).

b. Manifestasi Klinis
pada lansia, AR dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok :
1) Kelompok 1 adalah AR klasik. Sendi-sendi kecil pada kaki dan tangan sebagian
besar terlibat. Terdapat faktor raumatoid, dan nodula-nodula rheumatoid yang
sering terjadi. Penyakit dalam kelompok ini dapat mendorong kea rah kerusakan
sendi yang progresif.
2) Kelompok 2 termasuk klien yang memenuhi criteria dari American
Rheumatologic Association untuk AR karena mereka mempunyai radang sinovitis
yang terus-menerus dan simetris, sering melibatkan pergelangan tangan dan sendisendi jari.
3) Kelompok 3, sinovitis terutama mempengaruhi bagian proksimal sendi, bahu,
dan panggul. Awitannya mendadak, sering ditandai dengan kekakuan pada pagi
hari. Pergelangan tangan pasien sering mengalami hal ini, dengan adanya bengkak,
nyeri tekan, penurunan kekuatan genggaman, dan sindrom carpal tunnel. Kelompok
ini mewakili suatu penyakit yang dapat smbuh sendiri yang dapat dikendalikan
secara baik dengan menggunakan prednisone dosis rendah atau agens
antiinflamasi dan memiliki prognosis yang baik.
Jika tidak diistirahatkan, AR akan berkembang menjadi empat tahap :
1) Terdapat radang sendi dengan pembengkakan membran sinovial dan kelebihan
produksi cairan sinovial. Tidak ada perubahan yang bersifat merusak terlihat pada
radiografi. Bukti osteoporosis mungkin ada.
2) Secara radiologis, kerusakan tulang pipih atau tulang rawan dapat dilihat. Klien
mungkin mengalami keterbatasan gerak tetapi tidak ada deformitas sendi.
3) Jaringan ikat fibrosa yang keras menggantikan pannus, sehingga mengurangi
ruang gerak sendi. Ankilosis fibrosa mengakibatkan penurunan gerakan sendi,
perubahan kesejajaran tubuh, dan deformitas. Secara radiologis terlihat adanya
kerusakan kartilago dan tulang,
4) Ketika jaringan fibrosa mengalami klasifikasi, ankilosis tulang dapat
menyebabkan terjadinya imobilisasi sendi secara total. Atrofi otot yang meluas dan
luka pada jaringan lunak seperti nodula-nodula mungkin terjadi.

c. Penalaksanaan
Penanganan medis bergantung pada tahap penyakit ketika diagnosis dibuat dan
termasuk dalam kelompok mana yang sesuai dengan kondisi tersebut. Untuk

menghilangkan nyeri dengan menggunakan aggens inflamasi, obat yang dapat


dipilih dalah aspirin. Namun, efek antiinflamasi dari aspirin tidak terlihat pada dosis
kurang dari 12 tablet perhari, yang dapat menyebabkan gejala gastrointestinal dan
sistem saraf pusat. Obat antiinflamasi non steroid sangat bermanfaat, tetapi
dianjurkan menggunakan dosis yang direkomendasikan oleh pabrik dan
pemantauan efek samping secara hati-hati sangat perlu dilakukan. Terapi
kotikosteroid yang diinjeksikan melalui sendi mungkin digunakan untuk infeksi di
dalam satu atau dua sendi. Injeksi secara cepat dihubungkan dengan nekrosis dan
penurunan kekuatan tulang. Biasanya, injeksi yang diberikan ke dalam sendi
apapun tidak boleh diberikan lebih dari tiga kali. Rasa nyeri dan pembengkakan
umumnya hilang untuk waktu 1 sampai 6 minggu.
Penalaksanaan keperawatn menekankan pemahaman klien tentang sifat alami AR
kronis dan kelompok serta tahap-tahap yang berbeda untuk memantau
perkembangan penyakit. Klien harus ingat bahwa walaupun pengobatan mungkin
mengurangi radang dan nyeri sendi, mereka harus pula mempertahankan
pergerakan dan kekuatan untuk mencegah deformitas sendi. Suatu program
aktivitas dan istirahat yang seimbang sangat penting untuk mencegah peningkatan
tekanan pada sendi.

ASUHAN KEPERWATAN KELUARGA DENGAN LANSIA


A. Pengkajian
1.

Data Umum

a. Identitas Keluarga
Identitas Kepala Keluarga
Nama

: Tn. T

Jenis Kelamin

: Laki Laki

Suku

: Jawa

Umur

: 67 Tahun

Agama

: Islam

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: Petani

Telp

: 085740032156

Alamat

: RT 13 RW 09 Dusun Kasih Desa Sayang


Kec. Kembar Kab. Purwokerto Jateng

b. Komposisi Keluarga
No
Nama
Jenis kelamin
Hub. Dg keluarga
Umur
Pendidikan
Pekerjaan

1
Tn. T
L
KK
67 th
SD
Pensiunan
2
Tn. M
L
Menantu
30 th
SMA
Buruh Pabrik
3
Ny. S
P
Anak
25 th
SMP
IRT
4
An. A
L
Cucu
5 th

TK
Pelajar

c. Genogram

Keterangan :
: Laki-laki
: Perempuan
: Sakit
: meninggal
: Tinggal serumah
d. Tipe Keluarga
keluarga Tn. T merupakan keluarga besar yang terdiri dari ayah, ibu, anak,
menantu, serta cucu ( The extended family). Terkadang Tn. T merasa istirahatnya
terganggu karena aktivitas bermain yang dilakukan cucu beserta teman-temannya.
e. Suku Bangsa
Tn. T menyatakan bahwa keluarganya merupakan suku jawa dan tinggal di
lingkungan orang-orang yang bersuku jawa. Tn. T berkomunikasi dengan bahasa
Jawa dan bahasia Indonesia baik antara anggota keluarga maupun kelurga sekitar.
f. Agama

Semua anggota keluarga Tn. T beragama Islam dan menjalankan ibadah sesuai
keyakinan di rumah dan di masjid. Dalam menjalankan perintah agama keluarga
cukup taat dan rajin mengikuti kegiatan keagamaan seperti sholat jamaah di
Musholla, sholat Jumat di Mesjid, acara tahlilan/yasiinan (bapak-bapak dan ibu-ibu),
dan acara keagamaan lainnya.
g. Status Sosial Ekonomi Keluarga
penghasilan keluarga Rp. 1.150.000 perbulan di, yang diperoleh dari hasil
pensiunan Tn. T sebesar Rp. 400.000 dan hasil kerja Tn. M sebagai buruh pabrik
sebesar Rp. 750.000. Sedangkan Ny. S tidak menghasilkan uang karena hanya
bekerja sebagai ibu rumah tangga. Tn. T memelihara ternak berupa ayam sebanyak
5 ekor. Pengeluaran perbulan untuk keperluan makan sekitar Rp. 700.000,- dan
sisanya untuk keperluan lain lain seperti membayar listrik, kebutuhan anak
sekolah.
h. Aktivitas Rekreasi Keluarga
Kegiatan yang dilakukan keluarga setiap hari mereka menonton TV bersama-sama,
dan semua berkumpul menonton TV ketika malam hari. Kadang mereka berkumpul
bersama tetangga atau saudara dekat untuk berbincang-bincang bersama. Jika
memiliki tabungan cukup dan kesehatan yang mendukung mereka berwisata ke
tempat rekreasi terdekat.
2. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga
a.

Tahap perkembangan keluarga saat ini dengan lansia

Tahap perkembangan keluarga Tn. T saat ini adalah keluarga usia lanjut, yang
dimulai pada masa pension dan salah satu atau kedua orang tua meninggal. Semua
anak Tn. T sudah menikah dan mempunyai tempat tinggal sendiri-sendiri, hanya
anak yang terakhir yang tinggal serumah dengannya dan mempunyai seorang anak
yang masih berumur 5 tahun. Menantu Tn. T bekerja sebagai buruh pabrik.
b.

Tahap perkembangan yang belum terpenuhi

Tidak ada tahap perkembangan keluarga sampai saat ini yang belum terpenuhi.
c.

Riwayat kesehatan keluarga inti

Tn. T mengatakan tidak mempunyai penyakit keturunan. Tn. T mengatakan


beberapa minggu ini sering merasa linu di persendian kakinya sehingga kaku untuk
berjalan, ketika bangun pagi kakinya merasa senut-senut (nyeri) dan berat untuk
berjalan. Tn. T mengatakan pernah hampir jatuh karena kakinya merasa tidak kuat
menopang badannya.
-

Anak Tn. T (Ny. S) tidak memiliki masalah kesehatan.

Menantu Tn. T (Tn. M) mengatakan tidak mempunyai penyakit keturunan


dan tidak memiliki masalah kesehatan
-

Cucu Tn. T (An. A) tidak mempunyai masalah kesehatan

d. Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya


Tn. T mengatakan istrinya (Ny . S) meninggal dunia karena penyakit kanker
payudara, Ny. S (anak dari Tn. T) mengatakan Ayah mertuanya memiliki riwayat
diabetes. Keluarga dari pihak Tn. M saat ini hubungannya baik, minimal setiap
minggu bersilaturahmi, tidak ada konflik dengan keluarga.
3. Data Lingkungan
a. Karakteristik Rumah
Rumah Tn. T merupakan rumah permanen dengan ukuran panjang 10 meter dan
lebar 7 meter. Di rumah tersebut terdapat :
Kamar tidur ( terdapat 3 kamar tidur, 1 kamar tidur berada di depan samping
ruang tamu, 2 kamar tidur berada di samping ruang keluarga ).
Kamar kosong ( 3 kamar kosong. Model rumah Tn. T adalah model rumah
jaman dahulu yang banyak terdapat kamar-kamar yang jarang digunakan dan
biasanya kamar tersebut digunakan untuk menaruh barang-barang yang tidak
terpakai).
Ruang tamu berukuran 3x3 meter, Ruang tamu cukup rapi dan bersih,
terdapat perabotan
Ruang makan Tn. T biasanya bergabung dengan ruang keluarga atau ruang
menonton TV.
-

Kamar mandi bergabung dengan WC berjumlah 2.

Lantai rumah Tn. T terbuat dari semen, kecuali dapur lantainya masih berupa tanah,
Lantai dapur tampak licin dan lembab. Atap rumah dari genting. Ventilasi ada
beberapa yaitu : di ruang tamu ada jendela, di ruang keluarga, di 2 kamar tidur dan
2 kamar kosong, serta dapur. Ventilasi masih terlalu sempit, < 10 m luas lantai.
Kamar tamu ada sebuah lampu neon 20 watt, ruang keluarga terdapat bola lampu
15 watt, masingmasing kamar dan dapur terdapat lampu pijar 10 watt.
Sumber air keluarga berasal dari sumur gali yang telah dipasang pompa air, kualitas
air tergantung musim, pada musim hujan warna air keruh kekuning-kuningan, pada
musin kemarau warna air agak bening, kadang-kadang air agak berbau. Sumber air
minum keluarga menggunakan air sumur yang ditampung dan diendapkan dalam
tong. Jarak septictank dengan sumur 8 meter. Keluarga mengatakan membuang
air limbah keluarga langsung ke kolam dibelakang rumah dengan membuat saluran

yang menuju ke kolam penampungan. Untuk pembuangan sampah dilakukan


penampungan dulu di ember sampah kemudian di pindah dan di bakar di dalam
lubang di samping rumah. Untuk sarana penerangan keluarga Tn. T menggunakan
listrik semuanya. Di belakang rumah terdapat kolam penampungan limbah keluarga
beserta ikan lele peliharaan, dan terdapat kandang ayam.
Gambar Denah Rumah :

Jalan
U
B

T
S

Kamar kosong
kamar
Kamar
kamar
kamar kosong

ruang tamu

Kamar kosong
dapur

ruang keluarga

kamar kosong

Kandang ayam

Kolam penampungan + ikan

K.M + WC
b. Karakteristik Tetangga dan Komunitas
Rumah Tn. T berada di wilayah kelurahan yang mayoritas penduduk sekitarnya
adalah petani. Sarana jalan tersebut belum diaspal. Sarana kesehatan di lingkungan
tersebut berupa bidan desa. Di dekat rumah Tn. T 7 meter terdapat masjid.
Tetangga Tn. T mayoritas beragama islam serya memiliki sifat kebersamaan serta
menganut adat jawa, misalnya selamatan, yasinan setiap malam jumat, dll. Jika
ada kegiatan sosial kemasyarakatan biasanya diumumkan melalui pengeras suara
yang ada di musholla atau mesjid.
c. Mobilitas Geografis Keluarga
Keluarga Tn. T Keluarga jarang bepergian ke tempat-tempat yang jauh. Kegiatan
rutin Tn. T adalah pergi ke sawah untuk sekedar melihat-lihat, sawah tersebut tidak
jauh dari rumahnya (sekitar 1 km), aktivitas lainnya menonton TV dan mengikuti
kegiatan keagamaan. Tempat tinggal keluarga juga tidak berpindah pindah.
Keluarga Tn.T yang lain berada di sekitar tempat tinggalnya (masih satu desa).
d. Perkumpulan Keluarga Dan Interaksi Keluarga Dengan Masyarakat.
Keluarga Tn. T mengatakan setiap hari raya semua anak-anak dan keluarga Tn. T
berkumpul di rumah. Saudara-saudara Tn. T yang berada di sekitar rumah sering

datang berkunjung. Tn. T dan keluarganya rutin mengikuti kegiatan, seperti


pengajian.
e. Sistem Pendukung Keluarga
Tn. T memiliki keluarga yang berada di sekitar rumahnya sehingga sewaktu-waktu
dapat dimintai bantuan. Tn. T memiliki ASKES. Jika sakit biasanya keluarga Tn. T
dibawa ke Bidan, dan jika perlu rujukan ke Puskesmas yang berjarak 5 meter dari
rumah.

4. Struktur Keluarga
a. Pola Komunikasi Keluarga
keluarga Tn. T dalam berkomunikasi menggunakan bahasa jawa dan bahasa
Indonesia. Komunikasi antar anggota lancar dan tidak ada konflik dalam keluarga.
Dalam keluarga mempunyai kebiasaan berkomunikasi setiap malam ketika
menonton TV, keluarga bertukar pendapat dan menceritakan hal-hal yang terjadi
dalam keluarga.
b. Struktur Kekuatan Keluarga
Dalam keluarga Tn. T adalah penentu keputusan terhadap suatu masalah karena
Tn. T dianggap sebagai orang yang paling tua dan sebagai kepala keluarga. Untuk
anak-anak yang telah berkeluarga keputusan diserahkan kepada keluarga masingmasing, tetapi anak-anaknya juga sering meminta pendapat Tn. T. keluarga Tn. T
sangat menyayangi dan menghargai Tn. T, apabila Tn. T sakit keluarga langsung
mengantarkannya berobat, anak-anaknya juga mengingatkannya untuk minum obat
jika Tn. T lupa.
c. Struktur Peran ( Formal Dan Informal )
Tn. T berperan sebagai kepala keluarga, seorang ayah ayah dan kakek. Tn. T
juga sering mengasuh cucunya jika kedua anaknya sibuk atau ada keperluan.
-

Tn. A berperan sebagai anak (menantu), suami, dan bapak.

Ny. S berperan sebagai anak, istri, dan ibu.

An. A berperan sebagai anak, An. A belum menyadari dan menjalankan


perannya karena masih kecil.
d. Nilai Dan Norma Keluarga
Tn. T mengatakan ia terbiasa menanamkan pada anak-anaknya sikap hormatmenghormati dan menyayangi antar keluarga dan dengan tetangga. Keluarga Tn. T
menganut agama Islam, dalam kehidupan keseharian menggunakan keyakinan

sesuai syariat islam. Keluarga Tn. T menganut norma atau adat yang ada di
lingkungan sekitar misalnya takziah atau menjenguk tetangga yang sakit.
Disamping itu keluarga menganut kebudayaan Jawa, norma yang dianut juga
kebudayaan jawa. Dalam kebiasaan keluarga Tn. T tidak ada yang bertentangan
dengan kesehatan.
5. Fungsi Keluarga
a. Fungsi Afektif
Keluarga Tn. T mengatakan berusaha memelihara keharmonisan antar anggota
keluarga, saling menyayangi, dan menghormati. Keluarga Tn. T sangat harmonis,
rukun dan tentram. Apabila ada anggota yang membutuhkan atau sakit maka
keluarga yang lain berusaha membantu.
b. Fungsi Sosialisasi
Tn. T mengatakan interaksi antar anggota keluarga dapat berjalan dengan baik.
keluarga Tn. T menganut kebudayaan jawa. Keluarga Tn. T berusaha untuk tetap
memenuhi aturan yang ada keluarga, misalnya saling menghormati dan
menghargai. Keluarga juga mengatakan mengikuti norma yang ada di masyarakat
sekitar, sehingga dapat menyesuiakan dan berhubungan baik dengan para
tetangga atau masyarakat sekitar.
c. Fungsi Perawatan Kesehatan
-

Kemampuan mengenal masalah kesehatan

Keluarga mengatakan mengetahui penyakit di keluarganya tetapi tidak mengetahui


sama sekali apa penyebabnya. Keluarga Tn. T mengatakan hanya sedikit
mengetahui tentang tanda dan gejala, serta tidak mengetahui apa-apa saja yang
harus dihindari untuk mencegah terjadinya penyakit pada Tn. T. Tn.
-

Kemampuan mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan

Keluarga mengatakan linu pada sendi kaki yang diderita oleh Tn. T merupakan
sakit yang biasa diderita oleh orang tua. Keluarga terus mengingatkan kepada Tn. T
untuk tidak banyak melakukan aktivitas dan beristirahat saja.
-

Kemampuan merawat anggota keluarga yang sakit

Jika ada keluarga yang sakit, hal pertama yang dilakukan adalah mengerokinnya
dan jika sakitnya berlarut segera dibawa ke Bidan atau ke Puskesmas terdekat.
-

Kemampuan keluarga memelihara/ memodifikasi lingkungan rumah yang sehat

Keluarga mengatakan tiap hari selalu membersihkan lingkungan rumahnya


(menyapu, mengepel), sistem pembuangan limbah keluarga langsung ke saluran

kolam di belakang rumah, pembuangan sampah ditampung sementara di ember


sampah kemudian di bakar di lubang pembakaran setiap dua hari sekali.
Kemampuan menggunakan fasilitas kesehatan yang terdapat di lingkungan
setempat
Keluarga Tn. T mengatakan jika ada keluarga yang sakit segera dibawa ke Bidan,
dan jika perlu rujukan dibawa ke Puskesmas terdekat. Tn. T seringkali tidak mau
dibawa ke pelayanan kesehatan kecuali benar-benar dirasa parah.
d. Fungsi Reproduksi
Tn. T memiliki tiga orang anak yang sudah menikah semua. Ny. S dan Tn. A memiliki
satu orang anak, Ny. S menggunakan alat kontrasepsi berupa pil untuk mengatur
jarak anak selanjutnya.
e. Fungsi Ekonomi
Keluarga Tn. T termasuk keluarga mampu, hal ini dapat dilihat dari penghasilan
keluarga tiap bulannya sekitar Rp.1.150.000/perbulan. Keluarga Tn. T dapat
memenuhi setiap kebutuhan sandang, pangan dan papan walaupun dengan
kapasitas seadanya. Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, Tn.A menanam
sayur di tepi sawah Tn. T yang dikelola olehnya. Jika ingin makan lauk-pauk, Tn. T
biasa memancing ikan bersama kawan-kawannya di sungai dekat rumah

6. Stres Dan koping Keluarga


a. Stressor Jangka Pendek Dan Panjang
-

Stresor jangka pendek

Keluarga Tn. MS mengatakan pernah mengalami stres ketika Ny. S (istri Tn. T)
meninggal dunia karena kanker payudar, namun hal tersebut tidak berlangsung
lama karena keluarga sudah mengikhlaskannya. Hal-hal lain yang menimbulkan
stress dalam keluarga segera dapat diatasi.
-

Stresor jangka panjang

Keluarga Tn. MS mengatakan hampir tidak pernah mengalami stres baik itu stes
jangka panjang ( > 6 bulan ).
b. Kemampuan Keluarga Berespon Terhadap Situasi/Stressor
Pemecahan masalah dalam keluarga Tn. T biasanya dengan cara musyawarah antar
anggota keluarga, kadang juga melibatkan anaknya. Dalam menentukan
pengobatan yang harus dijalani salah satu anggota keluarga, Tn. A pengambil
keputusan karena Tn. A yang dianggap mampu dan memiliki fisik yang kuat.

c. Strategi Adaptasi Disfungsional


Dalam menghadapi suatu permasalahan keluarga Tn. MS biasanya
mengkonsentrasikan pada bagaimana cara pemecahan masalah tersebut. Sehingga
keluarga tidak terganggu dalam melakukan pekerjaan keseharian.
7. Pemeriksaan Fisik
a. Tn T
Tekanan Darah

: 130/100 mmHg

Berat Badan

: 57 kg

Tinggi Badan

: 160 cm

Nadi

: 80 x/mnt

RR

: 20x/mnt

Termometer
Kekuatan otot

: 36,5 C
:5

Skala nyeri : 6
b. Tn A
Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Berat Badan

: 59 kg

Tinggi Badan

: 163 cm

Nadi

: 80 x/mnt

RR

: 20x/mnt

Termometer

: 36,3 C

Keadaan fisik tidak menunjukan adanya kelainan


c. Ny. S
Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Berat Badan

: 52 kg

Tinggi Badan

: 155 cm

Nadi

: 80 x/mnt

RR

: 20x/mnt

Termometer

: 36,5 C

Keadaan fisik tidak menunjukan adanya kelainan


d. An. A
Tekanan Darah

: 110/80 mmHg

Berat Badan

: 25 kg

Tinggi Badan

: 65 cm

Nadi

: 80 x/mnt

RR

: 20x/mnt

Termometer

: 36,5 C

Keadaan fisik tidak menunjukan adanya kelainan

8. Harapan Keluarga
Keluarga sangat berharap agar masalah kesehatan yang terjadi di dalam keluarga
dapat teratasi atas bantuan dari pertugas kesehatan.

B. Diagnosa Keperawatan Keluarga


1. Analisa Dan Sintesa Data
No
Data Penunjang
Masalah
Etiologi
1.

DS :
- Tn. T mengatakan sering merasa linu di persendian kakinya sehingga kaku untuk
berjalan
- Tn. T mengatakan ketika bangun pagi kakinya merasa senut-senut (nyeri) dan
berat untuk berjalan.
- Tn. T mengatakan pernah hampir jatuh karena kakinya merasa tidak kuat
menopang badannya

DO :
-

Tn. T berumur 67 tahun

TD 130/100 mmHg

Kekuatan otot
4

Skala nyeri 6

Lantai tanah yang berada di dapur tampak licin dan lembab

Resiko Jatuh

Reumathoid, lantai yang licin, ketidakmampuan keluarga merawat anggota yang


sakit.

DS :
- Keluarga mengatakan mengetahui penyakit di keluarganya tetapi tidak
mengetahui sama sekali apa penyebabnya. Keluarga Tn. T mengatakan hanya

sedikit mengetahui tentang tanda dan gejala, serta tidak mengetahui apa-apa saja
yang harus dihindari untuk mencegah terjadinya penyakit pada Tn. T. Tn.
- Jika ada keluarga yang sakit, hal pertama yang dilakukan adalah mengerokinnya
dan jika sakitnya berlarut segera dibawa ke Bidan atau ke Puskesmas terdekat
-

Tn. T mengatakan tidak ada pantangan makanan

DO :
- Keluarga tidak bisa menjawab pertanyaan tentang pengertian penyakit,
pencegahan, perawatan dan pengobatannya
- Tn. T bertanya apa saja makanan yang harus dihindari agar tidak sakit, Tn. T
tampak bingung

Kurang pengetahuan, ketidak tahuan tentang penyakit

Kurang informasi dan keterbatasan kemampuan mencapai informasi,


ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan

DS :
- Tn. T mengatakan sering merasa linu di persendian kakinya sehingga kaku untuk
berjalan
- Tn. T mengatakan ketika bangun pagi kakinya merasa senut-senut (nyeri) dan
berat untuk berjalan.
- Tn. T mengatakan pernah hampir jatuh karena kakinya merasa tidak kuat
menopang badannya

DO:
-

Skala nyeri sedang (6)

Klien tampak perlahan-lahan saat berjalan karena menahan nyeri.

Klien tampak lambat dalam berjalan.

Tingkat funsional klien 0, namun kadang-kadang 1

Hambatan mobilitas fisik


Nyeri, gangguan muskulus skeletal, kaku sendi (AR).

DS :
- Tn. T mengatakan sering merasa linu di persendian kakinya sehingga kaku untuk
berjalan
- Tn. T mengatakan ketika bangun pagi kakinya merasa senut-senut (nyeri) dan
berat untuk berjalan.
- Tn. T mengatakan pernah hampir jatuh karena kakinya merasa tidak kuat
menopang badannya
DO:
-

skala nyeri sedang (6)

Klien tampak perlahan-lahan saat berjalan karena menahan nyeri

Nyeri
Agen cedera fisik ( rematik)

2. Perumusan Diagnosa Keperawatan Keluarga


No
Diagnosa Keperawatan
1
Resiko jatuh b.d Reumathoid, lantai yang licin, ketidakmampuan keluarga merawat
anggota yang sakit.
2
Kurang pengetahuan, ketidak tahuan tentang penyakit b.d Kurang informasi dan
keterbatasan kemampuan mencerapai informasi, ketidakmampuan keluarga
mengenal masalah kesehatan.
3

Hambatan mobilitas fisik b.d Nyeri, gangguan muskulus skeletal, kaku sendi,
gangguan sensori perseptual.
4
Nyeri b.d agen cedera fisik (rematik).

3. Prioritas Masalah
a. Resiko jatuh b.d Reumathoid, lantai yang licin, ketidakmampuan keluarga
merawat anggota yang sakit.
KRITERIA
SKORE
PEMBENARAN
Sifat masalah
(bobot 1)
Skala :
3 : Aktual
2 : Resiko
1 : Sejahtera
2/3 x 1 = 2/3
Tn. T dan keluarga mengetahui bahwa Tn. T memiliki penyakit linu pada kakinya
dan pernah hampir jatuh.
Kemungkinan masalah dapat diubah (bobot 2)
Skala :
2 : Mudah
1 : Sebagian
0 : Tidak dapat
1/2 x 2 = 1

Keluarga mengatakan Tn. T sering tidak mau diajak ke tempat pelayanan


kesehatan, kecuali benar-benar parah. Tn. T merasa masih dapat beraktivitas
sehingga sering tidak mau dibantu dalam beraktivitas.
Potensial masalah untuk dicegah (bobot 1)
3 : Tinggi
2 : Cukup
1 : Rendah
3/3 x 1 = 1
Keluarga mengatakan jika Tn. T tidak banyak melakukan aktivitas dan banyak
beristirahat maka penyakit Tn. T dapat terminimalisir.
Menonjolnya masalah (bobot 1)
2 : Berat, segera ditangani
1 : Tidak perlu segera ditangani
0 : tidak dirasakan
0/2 x 1 = 0
Keluarga mengatakan hanya satu kali Tn. T pernah hampir jatuh dan Tn. T sudah
bisa mengimbangkan tubuhnya untuk berjalan walaupun lambat.
Total
2 2/3

b. Kurang pengetahuan, ketidaktahuan tentang penyakit b.d Kurang informasi dan


keterbatasan kemampuan mencerapai informasi, ketidakmampuan keluarga
mengenal masalah kesehatan
KRITERIA
SKORE
PEMBENARAN
Sifat masalah
(bobot 1)

Skala :
3 : Aktual
2 : Resiko
1 : Sejahtera
2/3 x 1 = 2/3
- Tn. T mengatakan sering merasa linu di persendian kakinya sehingga kaku untuk
berjalan. Ketika bangun pagi kakinya merasa senut-senut (nyeri) dan berat untuk
berjalan. Tn. T pernah hampir jatuh karena kakinya merasa tidak kuat menopang
badannya
Kemungkinan masalah dapat diubah (bobot 2)
Skala :
2 : Mudah
1 : Sebagian
0 : Tidak dapat
2/2 x 2 = 2
Keluarga Tn. T mengatakan jika ada anggota keluarga yang sakit segera dibawa ke
Bidan atau Puskesmas terdekat, namun belum ada pertugas yang menjelaskan
bagaimana penyakitnya.
Potensial masalah untuk dicegah (bobot 1)
3 : Tinggi
2 : Cukup
1 : Rendah
2/3 x 1 = 2/3
Tn. T mengatakan sudah mulai mengurangi aktivitasnya agar penyakitnya tidak
bertambah parah, Tn. T belum tahu makanan apa yang harus dihindari.
Menonjolnya masalah (bobot 1)
2 : Berat, segera ditangani
1 : Tidak perlu segera ditangani
0 : tidak dirasakan

2/2 x 1 = 1
Tn. T mengatakan penyakitnya mengganggu aktivitas geraknya sehingga
menyusahkan keluarga yang lain.
Total
3 4/3

c. Hambatan mobilitas fisik b.d Nyeri, gangguan muskulus skeletal, kaku sendi,
gangguan sensori perseptual.
KRITERIA
SKORE
PEMBENARAN
Sifat masalah
(bobot 1)
Skala :
3 : Aktual
2 : Resiko
1 : Sejahtera
3/3 x 1 = 1
Tn. T mengatakan Tn. T mengatakan penyakitnya mengganggu aktivitas geraknya
sehingga menyusahkan keluarga yang lain.
Kemungkinan masalah dapat diubah (bobot 2)
Skala :
2 : Mudah
1 : Sebagian
0 : Tidak dapat
1/2 x 2 = 1

Keluarga Tn. T mengatakan Tn T sudah bisa menyeimbangkan badannya walaupun


dengan gerakan yang lambat.
Potensial masalah untuk dicegah (bobot 1)
3 : Tinggi
2 : Cukup
1 : Rendah
2/3 x 1 = 2/3
Tn. T mengatakan aktivitasnya terganggu.
Menonjolnya masalah (bobot 1)
2 : Berat, segera ditangani
1 : Tidak perlu segera ditangani
0 : tidak dirasakan
2/2 x 1 = 1
Tn. T mengatakan capek dengan penyakitnya yang tidak sembuh-sembuh dan
mengganggu geraknya sehingga menyusahkan keluarga.
Total
3 2/3

d. Nyeri b.d agen cedera fisik (rematik)


KRITERIA
SKORE
PEMBENARAN
Sifat masalah
(bobot 1)
Skala :
3 : Aktual

2 : Resiko
1 : Sejahtera
3/3 x 1 = 1
Tn. T mengatakan ketika bangun pagi kakinya merasa senut-senut (nyeri) dan berat
untuk berjalan
Kemungkinan masalah dapat diubah (bobot 2)
Skala :
2 : Mudah
1 : Sebagian
0 : Tidak dapat
1/2 x 2 = 1
Tn. T mengatakan nyerinya ketika bangun pagi tidak hilang-hilang, padahal sudah
minum obat dari warung. Keluarga mengatakan Tn. T sering tidak mau diajak ke
tempat pelayanan kesehatan, kecuali benar-benar parah.
Potensial masalah untuk dicegah (bobot 1)
3 : Tinggi
2 : Cukup
1 : Rendah
3/3 x 1 = 1
Tn. T mengatakan sakitnya tidak bertambah parah jika banyak beristirahat.
Menonjolnya masalah (bobot 1)
2 : Berat, segera ditangani
1 : Tidak perlu segera ditangani
0 : tidak dirasakan
2/2 x 1 = 1
Tn. T mengatakan sakitnya mengganggu aktivitasnya, kadang Tn. T tidak tahan
dengan senut-senutnya.
Total

Maka prioritas masalahnya sebagai berikut :


No
Diagnosa Keperawatan
Skore
1
Nyeri b.d Agen cedera fisik (rematik).
4
2
Kurang pengetahuan, ketidak tahuan tentang penyakit b.d Kurang informasi dan
keterbatasan kemampuan mencerapai informasi, ketidakmampuan keluarga
mengenal masalah kesehatan.
3 4/3
3
Hambatan mobilitas fisik b.d Nyeri, gangguan muskulus skeletal, kaku sendi,
gangguan sensori perseptual.
3 2/3
4
Resiko jatuh b.d Reumathoid, lantai yang licin, ketidakmampuan keluarga merawat
anggota yang sakit.
2 2/3

E. Rencana Asuhan Keperawatan

No Dx
Tujuan

Kriteria
Intervensi
1
Setelah dilakukan perawatan selama 5 hari, Tn. T mengalami penurunan rasa nyeri
atau dapat mentolerir rasa nyeri dengan kriteria :
1.

Klien memahami mekanisme nyeri yang terjadi

2.

klien mengetahui dan dapat memperagakan teknik distraksi dan relaksasi

3.

klien tidak banyak mengeluh tentang nyerinya

Non verbal
Pain management (1400)
1.
Monitor nyeri : lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, keparahan dan faktor
presipitasi
2.

Observasi respon non verbal klien saat nyeri terjadi

3.

Gunakan komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri klien

4.

Jelaskan mekanisme nyeri yang terjadi pada klien

5.

Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi untuk mengurangi rasa nyeri

6.

Berikan support sistem untuk mentolerir nyeri

7.

Libatkan orang terdekat klien

(keluarga) untuk pemberian support sistem


8.

Kolaborasi dalam pemberian analgetik

9.
Kontrol faktor-faktor pemicu timbulnya nyeri : pembatasan aktivitas, nutrisi
tinggi serat, minum air putih banyak, psikis tidak terganggu
10. Identifikasi PQRST sebelum dilakukan pengobatan
11.

Berikan obat analgetik

12. Menganjurkan klien untuk bergerak perlahan pada setiap melakukan aktivitas
2
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan, keluarga mengetahui tentang penyakit
yang diderita keluarganya (AR), dengan kriteria hasil :

- Keluarga dapat menjelaskan tentang pengertian, penyebab, tanda dan gejala,


serta penalaksanaan pada penyakit AR.
- Keluarga dapat melakukan perawatan dengan mengontrol makanan-makanan
yang harus dihindari lansia
Verbal pengetahuan
Teaching : Disease Prosess (5602)
1.
Menilai tingkat pengetahuan keluarga yang berhubungan dengan penyakit
yang diderita oleh anggota keluarga (AR)
2.

Menjelaskan pengertian penyakit (AR)

3.

Menjelaskan patofisiologi penyakit (AR)

4.

Menjelaskan tanda dan gejala yang muncul dari penyakit yang dialami (AR)

5.

Menjelaskan penalaksanaan atau hal-hal yang harus dihindari

6.

Mengidentifikasi kemungkinan penyebab terjadinya penyakit

7.

Mendiskusikan dengan keluarga tentang pilihan terapi yang bisa dilakukan

2
Setelah dilakukan perawatan selama 5 hari klien mampu melakukan mobilisasi
sesuai kemampuan, klien dan keluarga mampu melakukan perawatan pada lansia
yang imobilisasi dengan kriteria :
1.

Mampu memotivasi diri untuk melakukan mobilisasi sesuai kemampuan

Non verbal
Immobilization care (0940)
1.

Diskusikan dengan klien tentang imobilisasi

2.
Berikan contoh dan demonstrasi mobilisasi yang aman dan dapat dilakukan
oleh klien
3.

Observasi terjadinya nyeri

4.

Motivasi klien untuk melakukan mobilisasi sesuai kemampuan

5.
Beri reinforcement atas upaya pemahaman informasi dan usaha mobilisasi
yang dilakukan

4
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 5 hari klien dapat mencegah
terjadinya jatuh dan aman dalam pergerakannya, dengan kriteria hasil :
- Menggunakan alat bantu yang dibutuhkan
- Menempatkan barang-barang di tempat yang sesuai agar tidak menggangu lansia
- Memperhatikan kondisi lantai
Verbal pengetahuan
Fall Prevention (6490)
1. Mengidentifikasi ketidaktahuan dan kelemahan fisik yang kemungkinan menjadi
potensi terjadinya jatuh
2.

Mengidentifikasi lingkungan sekitar yang dapat menjadi penyebab jatuh

3.

Memonitor nyeri, kelemahan, keseimbangan tubuh lansia

4.

Mengajarkan pada pasien bagaimana mencegah terjadinya jatuh

5.

Menyarankan keluarga untuk membantu kegiatan pasien apabila diperlukan

DAFTAR PUSTAKA
Bandiah, S. (2009) Lanjut Usia dan Keperawatan gerontik. Yogyakarta : Nuha
Medika.
Jhonson R. dan Leny R (2010) keperawatan keluarga plus contoh askep keluarga.
Yogyakarta : Nuha Medika.