You are on page 1of 16

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN POST PARTUM

OLEH :
NI LUH PUTU YULIASTINI
1102105021

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS UDAYANA
2015

A. Konsep Dasar
1. Definisi
Masa nifas dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan
kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas kurang lebih selama 6 minggu

(Syaifuddin, 2002)
Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai
sampai alat alat kandungan kembali seperti pra-hamil. Lama masa nifas ini yaitu 6

8 minggu (Rustam Mochtar,1998 )


Masa nifas adalah periode sekitar 6 minggu sesudah melahirkan anak, ketika alat-

alat reproduksi tengah kembali kepada kondisi normal (Barbara F. weller 2005 )
Post partum adalah proses lahirnya bayi dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan
alat alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari
24 jam(Abdul Bari Saifuddin,2002 ).

2. Klasifikasi
Menurut Mochtar (1998) Periode post partum dibagi menjadi 3 :
a. Immediate post partum : 24 jam pertama post partum
b. Early post partum : minggu pertama post partum
c. Late post partum : minggu ke 2-6 post partum
Masa nifas dibagi dalam 3 periode yaitu :
a.Puerperium dini adalah kondisi kepulihan dimana seorang ibu sudah diperbolehkan berdiri
dan berjalan
b. Puerperium Intermedial adalah kondisi kepulihan organ genital secara menyeluruh
dengan lama 6-8 minggu
c.Remote Puerperium waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila
saat hamil atau waktu persalinan mengalami komplikasi. Waktu yang diperlukan untuk
sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan ataupun tahunan

3. AdaptasiFisiologi Post Partum


a.

Sistem reproduksi
1) Involusi uterus
Pada involusi uteri, jaringan ikat dan jaringan otot mengalami proses proteolitik,
berangsur-angsur akan mengecil. Sesudah plasenta lahir berat rahim 1000 gram,

seminggu kemudian 500 gr, 2 minggu post partum 375 gram dan pada akhir
puerpurium 50 gr.
Waktu

Posisi Fundus Uteri

1 2 jam PP

Antara umbilicus sympisis pubis.

12 jam PP

Pada umbilicus atau 1 jari di atasnya.

3 hari PP

3 Jari di bawah umbilicus.

10 hari PP

Tidak dapat diraba di atas sympisis.

Proses proteolitik adalah pemecahan protein yang akan dikeluarkan melalui


urine. Dengan penimbunan air saat hamil akan terjadi pengeluaran urine setelah
persalinan sehinga pemecahan protein dapat dikeluarkan. (Manuaba I.B.G.,
2001)
Proses involusi terjadi karena :
a) Autolysis
Proses pengahancuran jaringan otot-otot uterus yang tumbuh karena
hiperplasi. Faktor penyebab autolisis ini dimungkinkan terjadi arena
penghancuran protoplasma dari jaringan yang diserap oleh darah kemudian
dikeluarkan oleh ginjal, hal inilah yang menyebabkan ibu sering berkemih
pada hari pertama post partum.
b) Aktivitas otot-otot
Kontraksi dan retraksi dari otot-otot setelah partus yang diperlukan untuk
menjepit pembuluh darah yang pecah karena adanya pelipatan plasenta. Dan
berguna untuk mengeluarkan isis uterus yang dipulihkan dengan adanya
kontraksi dan retraksi uterus yang terus menerus menyebabkan terganggunya
peredaran darah dalam uterus, sehingga jaringan otot-otot uterus menjadi
lebih kecil.
c) Ischemia
Kurangnya suplai darah ke uterus. Pada masa kehamilan uterus mendapat
suplai darah yang banyak agar mengadakan hipertrophy dan hiperplasi.
Sedangkan setelah bayi dilahirkan hipertrophy dan hiperplasi uterus tidak
diperlukan lagi, maka suplai darah pun berkurang dan kembali seperti
sebelum hamil.

Selain perubahan uterus, pada ovarium pun juga terjadi perubahan, yaitu pada
waktu kehamilan ovarium tidak memecah sel telur. Hal ini terjadi karena adanya hormon
progesteron dan estrogen yang menekan FSH.Pada masa nifas hormon progesteron dan
estrogen menurun sehingga FSH kembali akan mempengaruhi primordial folicel, terjadi
folicel de graf dan bila ovum tidak dibuahi akan terjadi menstruasi.
b. Sistem Kardiovaskuler
Kehilangan darah 400 500 ml pada persalinan melalui jalan lahir adalah normal
dan akan menjadi dua kali lebih besar pada sectio caesaria cardial output. Kembali ke
keadaan sebelum hamil sekitar minggu ke-3 post partum. Hipotensi ortostatik
mungkin tejadi pada 48 jam I post partum. Bradikardi dapat terjadi 6 8 hari post
partum. Bradikardi akan kembali normal dalam 3 bulan.
c.

Sistem Perkemihan
Selama proses persalinan vesika urinaria bisa mengalami trauma akibat tekanan
sehingga menyebabkan oedema dan menimbulkan overdistensi dan pengeluaran
kandung kemih tidak sempurna. Diuresis terjadi dalam 12 jam pertama post partum.
Berkemih spontan dalam 6 jam pertama post partum.

d. Sistem Gastrointestinal
Motilitas dan tonus otot sistem gastrointestinal biasanya kembali normal dalam 2
minggu post partum. Setelah persalinan ibu merasa lapar dan haus karena
penggunaan energi. Pada periode awal post partum dapat terjadi konstipasi karena
penurunan motilitas usus dan tonus otot abdomen, kehilangan cairan, rasa tidak
nyaman pada perineum, penggunaan enema kala 1 dan hemoroid.
e.

Sistem Endokrin
Setelah plasenta lahir, esterogen dan progesteron mengalami penurunan sedangkan
prolaktin akan rneningkat. Menstruasi terjadi setelah 12 minggu post partum pada ibu
menyusui dan 36 minggu post partum pada ibu menyusui. Laktasi adalah

pembentukan dan pengeluaran ASI.


Setelah kelahiran ketika hormon yang dihasilkan plasenta tidak lagi menghambatnya,
kelenjar pituitary mengeluarkan prolaktin (hormon laktogenik). Sampai hari ketiga
setelah melahirkan, terbukti adanya efek prolaktin pada payudara. Pembuluh darah
dalam payudara menjadi bengkak tensi darah dan ini menyebabkan hangat, bengkak
dan rasa sakit. Sel-sel yang menghasilkan air susu mulai berfungsi dan air susu
mencapai puting melalui saluran susu. Mengganti kolostrum yang telah
mendahuluinya kemudian laktasi dimulai.
Ketika bayi menghisap, reflek saraf merangsang lobus posterior kelenjar pituitary
untuk mensekresi hormon oksitosin. Oksitosin merangsang efek letdown
(mengalirkan), menyebabkan ejeksi air susu dan sinus laktiferus payudara ke duktus
yang terdapat pada puting. Ketika sel-sel laktasi terangsang untuk mengalirkan air
susu lebih banyak. Proses ini bisa berlanjut sampai berbulan-bulan bahkan tahunan.
(Mary Hamilton, 2005).
Faktor yang mempengaruhi laktasi:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Faktor anatomis buah dada


Faktor Fisiologis
Faktor nutrisi
Faktor istirahat
Faktor isapan anak
Faktor obat-obatan
Faktor psikologis.

4. Patofisiologi (terlampir)
5. Tanda Gejala
Masa nifas dimulai setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu akan
tetapi seluruh alat genetalia baru pulih kembali seperti sediakala dalam waktu 3 bulan
(Prawirohardjo, 1991). Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan fisilologi yaitu :
Perubahan fisik
Involusi uterus dan pengeluaran lochea
Laktasi dan pengeluaran ASI
Perubahan system tubuh lainnya
Perubahan psikis
Pada masa puerperium atau nifas tampak perubahan:

a. Uterus : Proses kembalinya uterus keadaan sebelum hamil setelah melahirkan


disebut involusi.Secara berangsur-angsur, kondisi uterus akan membaik dengan
pengecilan ukuran (involusi) dari uterus itu sendiri. Adapun tinggi fundus uteri
(TFU) post partum menurut masa involusi (Bobak,2004:493). Peningkatan kadar
estrogen dan progesteron bertanggung jawab untuk pertumbuhan masif uterus
selama masa hamil. Pertumbuhan uterus prenatal tergantung pada hiperplasia
(peningkatan jumlah sel-sel otot), hipertropi, pembesaran sel-sel yang sudah ada.
Pada masa pasca partum penurunan kadar hormon-hormon ini menyebabkan
terjadinya autolisis, perusakan secara langsung jaringan hipertropi yang
berlebihan. Sel-sel tambahan yang terbentuk selama masa hamil menetap. Inilah
penyebab ukuran uterus sedikit lebih besar setelah hamil.
Subinvolusi ialah kegagalan uterus untuk kembali pada keadaan tidak hamil. Penyebab
subinvolusi yang paling sering adalah tertahannya fragmen plasenta dan infeksi.
(Bobak.2004:493)
Tabel 1. TFU menurut masa involusi

b. Kontraksi : Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah


bayi lahir. Selama 1 samapi 2 jam pertama pascapartum intensitas kontraksi uterus
bisa berkurang dan menjadi tidak teratur. Karena penting sekali untuk
mempertahankan kontraksi uterus selama masa ini, biasanya suntikan oksitosin
secara IV atau IM diberikan segera setelah plasenta lahir. Ibu yang merencanakan

menyusui bayinya dianjurkan membiarkan bayinya di payudara segera setelah


lahir karena isapan bayi pada payudara merangsang pelepasan oksitosin.
(Bobak.2004:493)
c. Involusi tempat plasenta
Ukuran bekas tempat plasenta segera setelah lahir kira-kira sebesar telapak
tangan, akhir minggu ke 2 berdiameter 2-4 cm.
d. Vagina dan Perineum
Vagina dan pintu keluar vagina membentuk lorong luas dan secara perlahan
mengecil tetapi jarang kembali ke ukuran nulipara.
Pada post partum terdapat lochia yaitu cairan/sekret yang berasal dari kavum uteri dan
vagina. Macam macam lochia :
a. Lochia rubra: berisi darah segar dan sisa sisa selaput ketuban, terjadi
selama 2 hari pasca persalinan
b. Lochia Sanguinolenta: berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, terjadi
hari ke 3 7 pasca persalinan
c. Lochia serosa: Keluar cairan tidak berisi darah berwarna kuning. Terjadi hari
ke 7 14 hari pasca persalinan
d. Lochia alba: Cairan putih setelah 2 minggu pasca persalinan
e. Payudara
Pada masa nifas akan timbul masa laktasi akibat pengaruh hormon laktogen
(prolaktin) terhadap kelenjar payudara. Kolostrum diproduksi mulai di akhir masa
kehamilan sampai hari ke 3-5 post partum dimana kolostrum mengandung lebih
banyak protein dan mineral tetapi gula dan lemak lebih sedikit. Produksi ASI akan
meningkat saat bayi menetek pada ibunya karena menetek merupakan suatu
rangsangan terhadap peningkatan produksi ASI. Makin sering menetek, maka ASI
akan makin banyak diproduksi. Perubahan yang terjadi pada payudara meliputi :
Proliferasi jaringan kelenjar mamma dan lemak, Pengeluaran kolustrum yang
berwarna kuning, mengandung banyak protein albumin dan globulin yang baik
untuk meningkatkan sistem imunitasi bayi dan Hipervaskularisasi pada
permukaan dan bagian dalam mamma. Dibawah ini gambar perawatan payudara
pada post partum:

e. Serviks
Serviks segera setelah kala III, serviks dan segmen bawah uterus menjadi struktur
tipis, kolaps, dan kendur. Mulut serviks mengecil perlahan-lahan sampai pada
akhir minggu pertama sulit untuk dimasukkan satu jari.
Adaptasi psikologis
Adaptasi psikologis post partum adalah suatu proses penyesuaian seorang ibu pasca
melahirkan yang dimulai dan masa-masa ketergantungan pada orang lain sampai dengan
tahap mandiri. Adapun tahapan adaptasi psikologi post partum dapat terbagi dalam
beberapa fase, antara lain (Reva Rubin, 2003) membagi menjadi 3 fase :
1. Fase taking in yaitu fase ketergantungan, hari pertama sampai dengan hari ketiga post
partum, fokus pada diri sendiri, berperilaku pasif dan ketergantungan, menyatakan ingin
makan dan tidur, sulit membuat keputusan.

2. Fase taking hold yaitu fase transisi dari ketergantungan kemandiri, dari ketiga sampai
dengan kesepuluh post partum, fokus sudah ke bayi, mandiri dalam perawatan diri, mulai
memperhatikan fungsi tubuh sendiri dan bayi, mulai terbuka dalam menerima pendidikan
kesehatan.
3. Fase letting go yaitu fase dimana sudah mengambil tanggung jawab peran yang baru, hari
kesepuluh sampai dengan enam minggu post partum, ibu sudah melaksanakan fungsinya,
ayah berperan sebagai ayah dan berinteraksi dengan bayi.
6. Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang
a. Jumlah darah lengkap, hemoglobin/hematokrit ( Hb/Ht )
b. Urinalisis; kadar urin, darah.
7.

8.

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan umum : TD, nadi, keluhan, dll
Keadaan umum
: suhu, selera makan, dll
Payudara
: ASI, putting susu
Dinding perut
: perineum, kandung kemih, rectum
Sekret yang keluar misalnya lochea, flour albus

Terapy/Tindakan Penanganan
Memberikan tablet zat besi untuk mengatasi anemia
Memberikan antibiotik bila ada indikasi
Observasi ketat 2 jam post partum (adanya komplikasi perdarahan)
6-8 jam pasca persalinan : istirahat dan tidur tenang, usahakan miring kanan kiri
Hari ke- 1-2 : memberikan KIE kebersihan diri, cara menyusui yang benar dan perawatan
payudara, perubahan-perubahan yang terjadi pada masa nifas, pemberian informasi tentang

senam nifas.
Hari ke- 2 : mulai latihan duduk
Hari ke- 3 : diperkenankan latihan berdiri dan berjalan

Perawatan Pasca Persalinan


1. Mobilisasi
Karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, tidur terlentang selama 8 jam pasca
persalinan. Kemudian boleh miring-miring ke kanan dan kiri untuk mencegah terjadinya
thrombosis dan tromboemboli.Pada hari ke-2 diperbolehkan duduk, hari ke-3 jalan-jalan
dan hari 4-5 sudah diperbolehkan pulang.
2. Diet

Makanan harus bermutu, beergizi dan cukup kalori, sebaiknya makan-makanan yang
mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan buah-buahan.
3. Miksi
Hendaknya kencing dilakukan sendiri akan secepatnya. Bila kandung kemih penuh dan
sulit tenang, sebaiknya dilakukan kateterisasi.Dengan melakukan mobilisasi secepatnya
tak jarang kesulitan miksi dapat diatasi.
4. Defekasi
Buang air besar, harus dilakukan 3-4 hari pasca persalinan.Bila terjadi obstipasi dan
timbul koprostase hingga skibala tertimbun di rectum, mungkin terjadi febris.Lakukan
klisma atau berikan laksan peroral ataupu perektal.Dengan melakukan mobilasasi sedini
mungkin tidak jarang kesulitan defekasi dapat diatasi.
5. Perawatan payudara
o Dimulai sejak wanita hamil supaya putting susu lemas, tidak keras dan kering
sebagai persiapan untuk menyusui bayi
o Jika putting rata. Sejak hamil ibu dapat menarik-narik puting susu. Ibu harus tetap
menyusui agar putting selalu sering tertarik.
o Putting Lecet. Putting lecet dapat disebabkan cara menyusui atau perawatan
payudara yang tidak benar dan infeksi monilia. Penatalaksanaan dengan tehink
menyusui yang benar, putting harus kering saat menyusui, putting diberi lanolin,
monilia diterapi dan menyusui pada payudara yang tidak lecet. Bila lecetnya luas
menyusui di tunda 24-48 jam dan ASI dikeluarkan dengan tangan atau dipompa.
o Payudara bengkak. Payudara bengkak disebabkan pengeluaran ASI yang tidak
lancar karena bayi tidak cukup sering menyusui atau terlalu cepat disapih.
Penatalaksanaanya dengan menyusui lebih sering, kompres hangat. Susu
dikeluarkan dengan pompa dan pemberian analgesic.
o Mastitis. Payudara tampak edema, kemerahan dan nyeri yang biasanya terjadi
beberapa minggu setelah melahirkan. Penetalaksanaan dengan kompres
hangat/dingin, pemberian antibiotic dan analgesic, menyusui tidak dihentikan.
o Abses payudara. Pada payudara dengan abses ASI dipompa, abses di insisi,
diberikan antibiotic dan analgesic.
o Bayi yang tidak suka menyusui. Keadaan ini dapat disebabkan pancaran ASI yang
terlalu kuat sehingga mulut bayi terlalu penuh, bingung putting pada bayi yang
menyusui diselang seling dengan susu botol, putting rata dan terlalu kecil atau
bayi mengantuk. Pancaran ASI yang terlalu kuat diatasi dengan menyusui lebih
sering, memijat payudara sebelum menyusui, serta menyusui dengan terlentang

dengan bayi ditaruh diatas payudara. Pada bayi dengan bingung putting, hindari
dengan pemakaian dot botol dan gunakan sendok atau pipet untuk memberikan
pengganti ASI. Pada bayi mengantuk yang sudah waktunya diberikan ASI,
usahakan agar bayi terbangun.
o Dianjurkan sekali supaya ibu menyusukan bayinya karena sangat baik untuk
kesehatan bayinya.

6. Laktasi
Disamping ASI merupakan makanan utama bayi yang tidak ada bandingannya, menyusui
bayi sangat baik untuk menjelmakan rasa kasih sayang antara ibu dan anak.Setelah
partus, pengaruh menekan dari estrogen dan progesterone terhadap hipofisis hilang.
Timbul pengaruh lactogen hormone (prolaktin) kembali dan pengaruh oksitosin
mengakibatkan miopitelium kelenjar susu berkontraksi, sehingga terjadi pengeluaran air
susu. Umumnya produksi ASI berlangsung betul pada hari ke-2-3 pp.Pada hari pertama,
air susu mengandung kolostrum yang merupakan cairan kuning lebih kental daripada
susu, mengandung banyak protein dan globulin
7. Perasaan mulas sesudah partus akibat kontraksi uterus kadang sangat menggangu selama
2-3 hari pasca persalinan dan biasanya lebih sering pada multipara dibanding primipara.
Perasaan mulas lebih terasa saat menyusui, dapat pula timbul bila masih ada sisa selaput
ketuban , sisa plasenta atau gumpalan darah dalam kavum uteri. Pasien dapat diberikan
analgesic atau sedative.
8. Latihan senam dapat diberikan mulai hari ke 2 misalnya:
a. Ibu terlentang lalu kedua kaki ditekuk, kedua tangan diatruh di atas dan menekan
perut. Lakukan pernafasan dada lalu pernafasan perut.
b. Dengan posisi yang sama, angkat bokong lalu taruh kembali.
c. Kedua kaki diluruskan dan disilangkan, lalu kencangkan otot seperti menahan miksi
dan defekasi.
d. Duduklah pada kursi, perlahan bunbgkukkan badan sambil tangan berusaha
menyentuh tumit.
9. Nasehat untuk ibu post natal
o Sebaiknya bayi disusui
o Bawakan bayi untuk imunisasi
o Lakukanlah KB
o Fisioterapi post natal sangat baik bila diberikan
o Frekuensi Kunjungan pada Masa Nifas

Kjgn

Waktu

6-8 jam post

partum

Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.


Mendetaksi dan merawat penyebab lain perdarahan, Rujuk bila

perdarahan berlanjut.
Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota

Tujuan

keluarga. bagaimana mencegah perdarahan karena atonia uteri.


Pemberian ASI awal.
Membina hubungan antara ibu dan bayinya.
Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia.
6 hari post Memastikan involusi uteri berjalan normal: uterus
partum

berkontraksi, fundus di bawah pusat, tak ada perdarahan

abnormal, tidak ada bau.


Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan

abnormal.
Memastikan ibu mendapatkan makanan, cairan dan cukup

istirahat.
Memastikan

memperlihatkan tanda-tanda penyulit.


Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan bayi, tali

ibu

menyusui

dengan

baik

dan

tidak

pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari3

minggu

hari.
Sama seperti di atas ( 6 hari post partum)

post partum
6
minggu

Menanyakan kepada ibu tentang penyulit-penyulit yang

dialami pada ibu maupun pada bayinya.


Menberikan konseling untuk KB.

post partum

9. Komplikasi
Pembengkakan payudara
Mastitis (peradangan pada payudara)
Endometritis (peradangan pada endometrium)
Post partum blues: Wanita mengalami gangguan mood, puncaknya pada hari ke -5
dan berakhir pada hari ke 14. Ibu merasa down, mudah menangis tanpa alasan yang

jelas, ibu merasa kelalahan, konsentrasi rendah, merasa kehilangan, sedih, dan
terkadang merasa bermusuhan dengan suaminya.
Infeksi puerperalis ditandai dengan pembengkakan, rasa nyeri, kemerahan pada
jaringan terinfeksi atau pengeluran cairan berbau dari jalan lahir selam persalinan
atau sesudah persalinan.
10. Prognosis

Masa Nifas normal jika involusi uterus, pengeluaran lochea, Pengeluaran ASI, dan
perubahan sistem tubuh, termasuk keadaan psikologis normal (Saifudi, AB. 2002)

B.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

I. PENGKAJIAN
1. Identitas
Meliputi identitas klien, yang terdiri dari nama, umur, alamat, status perkawinan.

a.
b.
c.
d.

Terdapat juga identitas penanggung, misal suami.


2. Status Kesehatan Saat Ini
Meliputi keluhan saat MRS dan keluhan utama saat ini.
3. Riwayat Obstetri
1.Riwayat menstruasi
Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu
4. Riwayat Persalinan dan Kelahiran Saat Ini
Tipe persalinan
Lama persalinan (kala I, kala II, kala III, kala IV)
Penggunaan analgesik dan anastesi
Apakah terdapat masalah dalam persalinan.
e. Kesanggupan dan pengetahuan dalam perawatan bayi, seperti breast care, perineal
care, nutrisi, senam nifas, KB, menyusui
5. Keadaan Bayi
Meliputi BB, PB, apakah ada kelainan atau tidak.
6. Riwayat Keluarga Berencana
Apakah klien melaksanakan KB

Bila ya, jenis kontrasepsi apa yang digunakan.


II.
DIAGNOSA
1. Kesiapan meningkatkan pemberian ASI berhubungan dengan pengisapan regular pada
payudara
2. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis berhubungan dengan laporan
isyarat, mengekspresikan perilaku, sikap melindungi area nyeri, perubahan tekanan
darah, perubahan frekuensi nafas
3. Resiko Infeksi b.d stasis cairan tubuh, gangguan peristalsis, dan prosedur invasif
4. Risiko perdarahan berhubungan dengan komplikasi pascapartum
5. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang pajanan informasi ditandai dengan

pengungkapan masalah
III.

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN (terlampir)

IV. EVALUASI
Evaluasi terdiri dari SOAP, dimana:

S: menunjukkan data subjektif yang kita peroleh dari klien setelah dilakukan tindakan
keperawatan
O: menunjukkan data objektif yang dapat kita peroleh setelah dilakukan tindakan
keperawatan
A: adalah analisis perawat terhadap berhasil atau tidaknya intervensi yang dilakukan untuk
mencapai tujuan dan kriteria hasil
P: merupakan rencana perawat setelah dilakukan analisis terhadap hasil dari intervensi
asuhan keperawatan

DAFTAR PUSTAKA
Bagus, Ida. 1993. Penuntun Kepaniteraan Klinik Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: EGC.
Bobak,I.M.,Lowdermilk,

D.L.,

&Jensen,M.D.(2005).BUKU

AJAR

KEPERAWATAN

MATERNITAS.EDISI 4. Aliran Bahasa : Maria & Peter. Jakarta:EGC


Departemen Kesehatan RI. 1993. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dalam Konteks Keluarga.
Jakarta: Departemen Kesehatan
Dochterman, Joanne Mcclosckkey. 2000. Nursing Intervention Classification. America : Mosby
Farrer, Helen. 1999. Perawatan Maternitas. Jakarta: EGC
Guyton & Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta : EGC.
Herdman, Heather. 2011. Nanda Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasaifikasi 20092011.Jakarta : EGC
Manuaba, Ida Ayu Chandranita. 2008 Buku Ajar Patologi Obstetri untuk Mahasiswa Kebidanan.
Jakarta : EGC
Pilleteri, Adele. 2002. Buku Saku Keperawatan Kesehatan Ibu dan Anak.Jakarta: EGC
Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: P.T Bina Pustaka Sarwono
Prawirahardjo.
Sarwono, P. 1994. Ilmu Kebidanan. Balai Penerbit UI. Jakarta
Swanson, Elizabeth. 2004. Nursing Outcome Classification.America : Mosby
Varney,

Helen

dkk.

2002.

Buku

Saku

EGChttp://creasoft.files.wordpress.com/2008/04/1salinrumah.pdf

Bidan.

Jakarta:

(diakses14 desember

2013 )
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan
Kesehatan Maternal dan Neonatal. Tridasa. Jakarta