You are on page 1of 17

PENDAHULUAN

Wanita menderita banyak penyakit ginekologi karena infeksi bakteri atau penyakit
menular seksual. Salah satu masalah ginekologi yang paling umum adalah servisitis kronis.
Servisitis adalah kondisi yang sangat umum. Bahkan lebih dari setengah dari semua perempuan
dapat mengembangkan servisitis di beberapa titik dalam kehidupan dewasa mereka. Servisitis
adalah peradangan dari serviks uterus. Servisitis pada wanita memiliki banyak fitur yang sama
dengan uretritis pada pria dan banyak kasus disebabkan oleh infeksi menular seksual. Gangguan
ini mempengaruhi sekitar 60 % perempuan karena infeksi bakteri seperti gonore atau infeksi pra
dan pasca persalinan. Factor resiko untuk pengembangan cervisitis termasuk mulai hubungan
seksual pada usia dini, resiko tinggi perilaku seksual, riwayat penyakit menular seksual, dan
memiliki banyak pasangan seks. 1,2
Serviks uteri adalah penghalang penting bagi masuknya kuman-kuman ke dalam genitalia
interna dalam hubungan ini seorang nullipara dalam keadaan normal kanalis servikalis bebas
kuman. Pada multipara dengan ostium uteri eksternum sudah lebih terbuka, batas ke atas dari
daerah bebas kuman ialah ostium uteri internum sehingga lebih rentan terjadinya infeksi oleh
berbagai kuman yang masuk dari luar ataupun oleh kuman endogen itu sendiri. Penyebab
servisitis yang bukan merupakan penyakit menular seksual dapat mencakup kelainan pada
intrauterine, cedera pada serviks uterus karena masuknya benda asing ke dalam vagina, seperti
terjadinya reaksi alergi terhadap spermisida atau kondom. Dan control jalan kelahiran yang
berkurang seperti penutup serviks atau diafragma, atau karena kanker.

2,4

Jika serviks sudah terinfeksi maka akan mempermudah pula terjadinya infeksi pada alat
genitalia yang lebih dalam lagi, seperti uterus, tuba, atau bahkan sampai ke ovarium dan karena
itu fungsi genitalia sebagai alat reproduksi bisa terganggu atau bahkan tidak bisa difungsikan.
Banyak kasus servisitis tidak diobati karena perempuan yang terinfeksi tidak tahu apa yang harus
mereka lakukan, karena seringkali tidak ada gejala yang jelas. Jika servisitis tidak diobati, dapat
menyebabkan penyakit radang panggul, infertilitas, kehamilan ektopik, nyeri panggul kronis,
aborsi spontan, kanker serviks, atau komplikasi lain selama kehamilan. 3,4

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Anatomi Serviks

Serviks adalah bagian khusus dari uterus yang terletak di bawah isthmus. Pada sisi
anterior, batas atas serviks, ostium interna layaknya kurang lebih setinggi lipatan refleksi
peritoneum antar uterus dan kandung kemih (Cunningham, 1989).
Serviks adalah bagian rahim yang paling sempit, terhubung ke fundus uteri oleh uterine
isthmus. Serviks berasal dari bahasa latin yang berarti leher. Bentuknya silinder atau lebih
tepatnya kerucut. Batas atas serviks adalah ostium interna. Serviks letaknya menonjol melalui
dinding vagina anterior atas. Bagian yang memproyeksikan ke dalam vagina disebut sebagai
portio vaginalis. Rata-rata ukurannya adalah 3 cm panjang dan 2,5 cm lebar portio vaginalis.
Ukuran dan bentuk serviks bervariasi sesuai usia, hormone, dan paritas. Sebelum melahirkan,
ostium eksternal masih sempit, hanya berbentuk lingkaran kecil di tengah serviks. Bagian luar
dari serviks menuju ostium eksternal disebut ektoserviks. Lorong antara ostium eksterna ke
2

rongga endometrium disebut sebagai kanalis endoservikalis. Pasokan darah dari serviks berasal
dari arteri iliaka interna, yang membentuk arteri uterine. Serviks dan cabang arteri vagina dari
uterus mensuplai vagina bagian atas. (Julian, 1997).

Leher rahim teratas adalah segmen bawah rahim yang terlihat melalui vagina. Ini adalah
bagian penting dari saluran kelamin, memenuhi beberapa fungsi seperti 5,9:

Fungsi haid : leher rahim adalah saluran yang dilalui mengalirnya darah dari rahim pada
kuartal pertama, dalam kasus tidak adanya bawaan dari leher rahim atau dari obstruksi,

yang darah haid berhenti dalam rahim.


Fungsi statis : melalui keadaannya antara rahim dan vagina, ia mempertahankan posisi

normal dari organ panggul.


Fungsi seksual : dengan banyaknya persarafan, leher rahim merangsang sekresi beberapa

hormon dan sekresi kelenjar serviks.


Pemupukan fungsi : sekresi kelenjar endoserviks (serviks glere) oleh komposisi nikmat

munculnya sperma.
Kehamilan : leher rahim sangat penting baik selama kehamilan, menjadi penghalang
antara vagina dan rahim, juga saat persalinan.
Mengingat samua fungsi-fungsi ini, mencegah dan mengobati penyakit leher rahim

mungkin memiliki efek bermanfaat banyak pada kesehatan perempuan. Servisitis (endo
cervicitis) adalah radang pada selaput lendir canalis servikalis. Karena epitel selaput kanalis
servikalis hanya terdiri dari satu lapisan silindris yang mana dengan mudah terjadi infeksi. Pada
seorang multipara dalam keadaan normal canalis servikalis bebas kuman, dengan ostium uteri
eksternum sudah lebih terbuka, batas atas dari daerah bebas kuman ostium uteri internum. 5,7

Definisi

Servisitis adalah peradangan jaringan serviks. Hampir semua kasus servisitis disebabkan
oleh penyakit menular seksual dan bisa juga karena cedera pada jaringan serviks, control jalan
lahir yang berkurang seperti diafragma dan bahkan kanker. Kondisi ini memiliki gejala khusus
yang membantu dalam diagnosis. Servisitis merupakan infeksi jangka panjang yang tidak
memiliki gejala khusus dan karena itu tidak diobati oleh banyak wanita. Kondisi ini hanya
terdeteksi dengan pemeriksaan ginekologi rutin. 8, 9
Ada dua jenis servisitis, yaitu servisitis akut dan kronis. Servisitis akut biasanya
merupakan infeksi bakteri atau virus dengan gejala yang spesifik. Servisitis kronik adalah infeksi
jangka panjang yang mungkin tidak memiliki gejala dan hanya dapat terdeteksi pada
pemeriksaan ginekologi rutin. Servisitis adalah peradangan dari selaput lendir dari kanalis
servikalis, karena epitel selaput lendir kanalis servikalis hanya terdiri dari satu lapisan sel
silindris sehingga lebih mudah terinfeksi dibanding selaput lendir vagina. 7
Walaupun begitu canalis cervicalis terlindung dari infeksi oleh adanya lendir yang kental
yang merupakan barrier terhadap kuman-kuman yang ada dalam vagina.7
Terjadinya servisitis dipermudah oleh adanya robekan serviks, terutama yang
menimbulkan ectropion. 7
Servisitis juga merupakan : 4
a. Infeksi non spesifik dari serviks,
b. Erosi ringan (permukaan licin), erosi kapiler (permukaan kasar), erosi folikuler (kistik).

Biasanya terjadi pada serviks bagian posterior. Jika tidak ditangani, dapat menyebabkan
masalah medis yang lama, termasuk ketidakmampuan untuk hamil dan mempertahankan
kehamilan. 4
Servisitis adalah infeksi serviks sering juga terjadi, akan tetapi biasanya tidak
menimbulkan banyak gejala luka serviks yang dalam dan meluas dan langsungke dasar
ligamentum dapat menyebabkan infeksi yang menjalar ke parametrium (Saifuddin, 1994)
Servisitis adalah inflamasi serviks yang mungkin akut atau kronik. Mungkin menjalar ke
uterus dan parametrium (Sinclair, 1992).
Servisitis adalah infeksi pada serviks uteri (Manuaba, 2001)
Servisitis adalah radang dari selaput lendir canalis servicalis (Bagian Obstetri &
Ginekologi, 1980)
Servisitis adalah suatu proses peradangan yang melibatkan epitel cervix dan stroma yang
mendasarinya (Sanusi, 1989).

Etiologi
Sebagaimana disebutkan di atas servisitis akut disebabkan karena infeksi seperti herpes,
gonore, dan klamidia. Penyebab servisitis kronis termasuk infeksi bakteri juga sering
menyebabkan servisitis akut . ketika episode akut servisitis tidak diobati, maka akan berkembang
menjadi servisitis kronis dan mungkin juga menjalar ke uterus dan parametrium. Gejala yang
ditimbulkan oleh infeksi atau peradangan pada serviks antara lain, lendir purulen dan banyak,
oedem, dan kemerahan, serta nyeri tekan. Resiko servisitis meningkat saat seseorang wanita
menderita diabetes, vaginitis akut dan servisitis berulang atau memiliki banyak pasangan
seksual. Servisitis disebabkan oleh kuman-kuman seperti : trikomonas vaginalis, kandida, dan
mikoplasma atau mikroorganisme aerob dan anaerob endogen vagina seperti streptococcus,
enterococcus, e.coli, dan stafilococcus. Kuman-kuman ini menyebabkan deskuamasi pada epitel
gepeng dan perubahan inflamasi kronik dalam jaringan serviks yang mengalami trauma. 3,8

Pada gambaran sitologi servisitis kronis pada mukosa squamous-kolumnar leher rahim.
Terlihat limfosit kecil yang bulat di submukosa dan terlihat juga adanya perdarahan. Servisitis
dapat juga disebabkan oleh robekan serviks terutama yang menyebabkan ectropion, robekan
serviks tersebut dapat terjadi akibat alat kontrasepsi, tindakan intrauterine seperti dilatasi, dan
lain-lain. Servisitis sering disebabkan oleh infeksi melalui aktivitas seksual.

5,8

penyebab

servisitis sangat bervariasi, paling sering disebabkan oleh: 6

infeksi Chlamydia trachomatis


infeksi trichomonas vaginalis
trikomoniasis asosiasi dengan kandidiasis
gonorrheae neisseria (gonore)
herpes simplex virus
human papilloma virus (HPV)
penyebab kurang umum lainnya adalah: mikosis, sifilis, tuberculosis, mycoplasma.

Beberapa kasus servisitis disebabkan oleh penggunaan kondom wanita (cervical cap dan
difragma), penyangga uterus (Pessarium), alergi spermisida pada kondom pria, paparan terhadap
bahan kimia, infeksi vagina-serviks, trauma obstetric- terjadi selama kelahiran (trauma leher
rahim), trauma local sekunder untuk kontak seksual, penggunaan buffer internal, intrauterine
device (IUD), cacat ektopik bawaan (epitel kelenjar pada saluran serviks), local maneuver seperti
kuretase, histeroskopi, dll. 1,5
Servisitis sering terjadi dan mengenai hampir 50% wanita dewasa dengan factor resiko : 5,7

Perilaku seksual bebas resiko tinggi


Riwayat IMS
Memiliki pasangan seksual lebih dari Satu.
Aktivitas seksual pada usia dini
Pasangan seksual dengan kemungkinan menderita IMS
Servisitis juga dapat disebabkan oleh bakteri (Stafilokokus dan Streptokokus) atau akibat
pertumbuhan berlebihan bakteri normal flora vagina (vaginosis bacterial).

Menurut Bagian Obstetri & Ginekologi, 1980:


1.
2.
3.
4.
5.

Gonorrhoe : sediaan hapus dari fluor cervix terutama yang purulent


Sekunder terhadap kolpitis
Tindakan intrauterine : dilatasi
Alat-alat/obat kontrasepsi
Robekan cervix terutama yang menyebabkan ectropion.

Menurut Manuaba, 2001:


Infeksi servisitis sering terjadi karena luka kecil bekas persalinan yang tidak dirawat dan infeksi
karena hubungan seks.

Diagnosis

Servisitis dapat dicurigai setelah dilakukan pemeriksaan klinis dengan melihat adanya
perubahan inflamasi, lesi ulseratif, cacat atau secret dari leher rahim. Diagnosis servisitis
selanjutnya ditentukan oleh pemeriksaan kolposkopi dan pap smear. Pemeriksaan sitologi bakteri
berguna untuk mendeteksi etiologi infeksi serviks. 5
Gejala servisitis berupa : 4
a. Fluor hebat, biasanya berlangsung lama, warna putih keabu-abuan, atau kuning yang
kental atau purulen dan biasanya berbau.
b. Sering menimbulkan erusio (erythroplaki) pada portio yang tampak seperti daerah merah
menyala.
c. Pada pemeriksaan inspekulo kadang-kadang dapat dilihat fluor yang purulen keluar dari
kanalis servikalis. Kalau portio normal tidak ada ectropion, maka harus diingat
kemungkinan gonorrhoe.
d. Sekunder dapat terjadi kolpitis dan vulvitis.
e. Pada servisitis kronik kadang dapat dilihat bintik putih dalam daerah selaput lendir yang
merah karena infeksi. Bintik-bintik ini disebabkan oleh ovulonobothi dan akibat retensi
kelenjar-kelenjar serviks karena saluran keluarnya tertutup oleh pengisutan dari luka
serviks atau karena peradangan.
f. Gejala-gejala non spesifik seperti dispaureni (nyeri saat senggama), nyeri punggung, rasa
berat di panggul, dan gangguan kemih.
g. Perdarahan uterus abnormal:
Pasca senggama
8

Pasca menopause
Diantara haid

Namun pada beberapa kasus tidak ditemukan gejala dan tanda, disarankan agar penderita
keputihan menjalani pemeriksaan skrining klamidia. 8
Beberapa gambaran patologis yang dapat ditemukan : 6
1) Serviks kelihatan normal, hanya pada pemeriksaan mikroskopis ditemukan infiltrasi
leukosit dalam stroma endoserviks. Servicitis ini menimbulkan gejala, kecuali
pengeluaran secret yang agak putih-kuning.
2) Di sini ada portio uteri di sekitar ostium uteri eksternum, tampak daerah kemerahmerahan yang tidak dipisahkan secara jelas dari epitel porsio di sekitarnya, secret yang
dikeluarkan terdiri atas mucus bercampur nanah.
3) Sobeknya pada serviks uteri di sini lebih luas dan mukosa endoserviks lebih terlihat dari
luar (ekstropion). Mukosa dalam keadaan demikian mudah terkena infeksi dari vagina
karena radang menahun, serviks bisa menjadi hipertropis dan mengeras, secret
mukopurulen bertambah banyak.
Pada pemeriksaan panggul dalam dapat memperlihatkan adanya : 2

Keputihan
Serviks kemerahan
Edema ( inflamasi) dinding vagina.

Klasifikasi
a. Servisitis Akut
Infeksi yang diawali di endoserviks dan ditemukan pada gonorroe, infeksi postabortum,
yang disebabkan oleh streptococcus, stafilococcus, dan lain-lain. Dalam hal ini serviks merah
dan membengkak dan mengeluarkan cairan mukopurulen, akan tetapi gejala-gejala pada
serviks biasanya tidak seberapa tampak ditengah-tengah gejala lain dari infeksi yang
9

bersangkutan. Pengobatan diberikan dalam rangka pengobatan infeksi tersebut. Penyakitnya


dapat sembuh tanpa bekas atau dapat menjadi kronik. 4
b. Servisitis kronik
Penyakit ini dijumpai pada sebagian wanita yang pernah melahirkan. Luka-luka kecil
atau besar pada servik karena partus atau abortus memudahkan masuknya kuman-kuman ke
dalam endoserviks serta kelenjar-kelenjarnya sehingga menyebabkan infeksi menahun. 4
Beberapa gambaran patologis dapat ditemukan :
a. Serviks terlihat normal; hanya pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan infiltrasi
leukosit dalam stroma endoserviks. Servisitis ini tidak menimbulkan gejala, kecuali
pengeluaran secret yang agak putih-kuning.
b. Pada portio uteri di sekitar ostium uteri eksternum tampak daerah kemerah-merahan
yang tidak dipisahkan secara jelas dari epitel porsio di sekitarnya, secret yang
dikeluarkan terdiri atas mucus bercampur nanah.
c. Sobekan pada serviks uteri lebih luas dan mukosa endoserviks lebih kelihatan dari
luar (ektropion) . karena radang menahun serviks bisa menjadi hipertropis dan
mengeras, secret mukopurulen bertambah banyak.4
Menurut Sanusi 1989 :
1. Servisitis Gonokokus :
Bersifat asimptomatik
Gejala : disuria dan sering kencing karena uretritis yang bersamaan
Serviks dapat tampak eritematosa, secret serviksnya mukopurulen atau purulen.
2. Servisitis Klamidia :
Ditularkan melalui hubungan seks karena infeksi Chlamydia trachomatis
Bersifat asimptomatik dan dapat menetap berbulan-bulan
Secret serviks bersifat mukopurulen dan epitel endoserviksnya tampak
hipertrofik.
3. Servisitis Herpetika :
Disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe 2 (HSV-2)
Ditularkan melalui hubungan seksual dengan lama inkubasi berkisar antara 2-20
hari dengan rata-ratanya 6 hari.
Gejala : sering mengeluh secret vagina, disuria, dan dispaurenia introitus.
4. Servisitis Kronika non spesifik :
Sering ditemukan kista nabothi
10

Biasanya serviks menebal dan ostium serviks uteri patulosa. Epitel endoserviks
terevensi (ektropion) dengan akibatnya secret mucus berlebihan.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan pertama kali yang dilakukan adalah dengan speculum. Pada pasien-pasien
dengan fluor albus dapat dilakukan terlebih dahulu pemeriksaan inspeksi keputihan dengam
mikroskop ( dapat terlihat candidiasis, trichomoniasis, atau bacterial vaginosis), tes gonorrhea,
atau chlamydia. Metode pemeriksaan lain yang digunakan untuk menyelidiki penyakit leher
rahim adalah :

Pemeriksaan klinis : uji vagina, di mana dokter mencatat perubahan patologis dan

mungkin sekresi serviks.


Pemeriksaan bakteriologis dari sekresi serviks dan uji kultur dan kepekaan terhadap

antibiotic diperlukan untuk menentukan etiologi infeksi dengan sediaan apus.


Pap smear : untuk melihat adanya perubahan sitologi (seluler) serviks.
Kolposkopi : metode pemeriksaan leher rahim yang menggunakan sebuah alat optic
yang meningkatkan citra, yang disebut colposcope, selama kolposkopi tes Lugol juga

dilakukan (solusi diterapkan pada mukosa serviks)


Pemeriksaan patologi anatomi : yaitu sepotong mukosa yang diambil untuk biopsy
dengan conization atau kuretase endoserviks (kuretase di dalam kanal leher rahim).

11

Penatalaksanaan
Pengobatan servisitis kronis terdiri dari dua tahap. Tahap pertama terdiri dari pengobatan
medis sesuai etiologinya , yang bertujuan untuk membasmi infeksi. Langkah selanjutrnya adalah
menggunakan prosedur pembedahan, diantaranya: electrocauterization, cryotherapy, terapi laser,
loop eksisi (electrorezection), conization, dan amputasi serviks.8
1. Medikamentosa
Pengobatan medikamentosa bertujuan untuk membasmi infeksi, tergantung pada
agen etiologi dan kepekaan agen etiologi yang ditemukan, dengan memberikan antibiotic
spesifik dan jika perlu diberikan pengobatan dengan antibiotic atau antijamur oral. Untuk
servisitis yang disebabkan oleh infeksi bakteri (Chlamydia, gonorrhea) diberikan
antibiotika. Pada infeksi herpes dapat diberikan antiviral. Terapi hormonal (dengan
estrogen atau progesterone) dapat diberikan pada pasien menopause. 4, 5, 6
Jika servisitisnya tidak spesifik dapat diobati dengan rendaman AgNO3 10% dan
irigasi. Erosi akibat servisitis dapat disembuhkan dengan obat keras seperti , AgNO3 10%
atau Albothyl yang menyebabkan nekrosis pada epitel silindris dengan harapan bahwa
kemudian diganti dengan oleh banyaknya epitel gepeng berlapis. Berikutnya dianjurkan
untuk memberikan pengobatan untuk penyembuhan mukosa, tetapi dalam banyak kasus
gagal untuk mencapai remisi lengkap dari lesi, sehingga pasien akan memerlukan
tindakan bedah. Hanya setelah sekitar 2 bulan setelah pemberantasan infeksi dengan
medikamentosa tidak menampakkan perubahan dan jika perubahan serviks terus
berlangsung, diindikasikan untuk dilakukan tindakan pembedahan (operasi). 5, 8, 9
2. Pembedahan
Pembedahan dilakukan pada hari-hari pertama setelah menstruasi, agar dapat
memberikan waktu penyembuhan untuk bekas luka setelah pembedahan sampai haid
berikutnya sehingga dapat mencegah infeksi. Sebelum melakukan pembedahan terlebih
dahulu dibutuhkan pemeriksaan ginekologi. Prosedur ini tidak boleh dilakukan pada
keadaan peradangan akut serviks, pada keadaan ini prosedur pembedahan harus ditunda,
karena beresiko memperparah peradangan. 8
Metode pembedahan yang dilakukan tergantung pada usia, kedalaman, dan
keadaan permukaan lesi, munculnya perubahan kolposkopi dan sitologi, pembedahan
dapat dilakukan dengan salah satu prosedur berikut : 5,8
Electrocauterization
12

Cryotherapy adalam metode yang dilakukan dengan menghancurkan jaringan


patologis sampai kedalaman 3-4 mm, dengan pembekuan, dengan menggunakan

karbondioksida, nitrogen cair, dan Freon.


Terapi laser : metode modern dengan menguapkan sel-sel, tanpa menyebabkan
nekrosis jaringan, tidak ada luka dan karena itu tidak ada sekresi berikutnya

seperti dalam kasus electrocauterization.


Loop eksisi menggunakan arus elektrik, daerah lesi dipotong untuk dilakukan

biopsy.
Conization : sebagian mukosa serviks dipotong. Metode ini digunakan untuk luka

infeksi yang lama, luka berulang, dan displastik.


Pemotongan serviks : operasi pengangkatan leher rahim, dalam kasus dysplasia
serviks yang terkait dengan hipertropi.
Diantara semua prosedur tindakan bedah di atas, electrocauterization adalah

prosedur yang paling sering digunakan dan merupakan prosedur di mana jaringan yang
digumpalkan (dibakar) di bawah pengaruh kalori dari sebuah arus alternative. Hal ini
dilakukan dalam beberapa hari pertama setelah menstruasi. Anestesi local tidak
diperlukan karena hanya sedikit sekali ujung saraf yang terdapat di serviks. Sebelum
melakukan electrocauterization terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan penggul untuk
mengetahui ada tidaknya kontraindikasi dalam prosedur pembedahan ini, seperti
kehamilan, peradangan akut, atau subakut, dan febris. Pembedahan dianjurkan dalam 48
jam pertama setelah istirahat, dan pada hari ke-5 pemberian antibiotic oral untuk
menghindari reaktivasi dari infeksi laten. 8
Pada serviks, tempat dilakukannya electrocauterization akan membentuk kerak
yang akan hilang dalam waktu 3-4 minggu, di mana cairan vagina yang kotor akan
tertahan yang dapat keluar saat keluarnya darah, tidak begitu banyak, yang mungkin
memakan waktu 10-15 hari. Penyembuhan penuh dicapai dalam waktu sekitar 6 minggu,
selama masa penyembuhan di mana sisa pembedahan keluar melalui vagina pasien
dianjurkan untuk tidak dulu melakukan hubungan seksual. 8

Prognosis
13

Prognosis servisitis biasanya baik, namun penyakit ini dapat kambuh. Servisitis ringan
dengan etiologi jelas biasanya memberi respon baik terhadap terapi. Servisitis akut yang
disebabkan oleh penyakit kelamin yang menular melalui hubungan seksual dapat disembuhkan
dengan obat. Kebanyakan kasus lain servisitis dapat disembuhkan dengan pengobatan. Semua
wanita dengan servisitis perlu pemeriksaan teratur sampai kondisinya benar-benar sembuh
karena servisitis biasanya sembuhketika masa pengobatan selesai. Pada kasus yang berat,
servisitis dapat berlangsung selama beberapa bulan. Jika servisitis itu disebabkan oleh penyakit
menular seksual, kedua pasangan harus diobati. 1, 5, 6

Komplikasi
Servisitis dapat berlanjut selama bertahun-tahun, dengan fluor albus yang sedikit atau
banyak, biasanya tanpa rasa sakit, demam, gangguan haid, atau terganggunya kehidupan seksual.
2, 4

Kadang-kadang servisitis dapat mengakibatkan peradangan pada organ-organ panggul


seperti : 5,6

Peradangan pada ligament yang menyokong rahim dan organ panggul yang dapat

menyebabkan sakit perut, dismenore, dispaurenia, menorhagia.


Salpingitis (radang tuba fallopi) yang dapat menyebabkan infertilitas, obstruksi

sekunder tuba terhadap proses inflamasi.


Infeksi kronis saluran kemih.
Peradangan kronis leher rahim dapat menyebabkan stenosis serviks yang dapat
diikuti oleh infertilitas. Juga iritasi kronis memiliki kontribusi dalam
menyebabkan kanker serviks. Oleh karena itu, pengobatan servisitis kronis dapat
dianggap sebagai tindakan pencegahan dalam memerangi kanker serviks.
Servisitis dapat berlangsung berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.5

14

Pencegahan
Cara menghindari servisitis : 2, 5

Hindari bahan kimia iritan seperti sabun intravaginal atau tampon dengan deodorant.
Pastikan bahwa benda asing yang dimasukkan ke dalam vagina ( seperti: pembalut wanita

khusus) digunakan secara tepat dengan mengikuti petunjuk pemakaian.


Tidak melakukan senggama untuk mencegah IMS atau tidak berganti-ganti pasangan.
Berlatih perilaku seksual yang aman, seperti monogamy, adalah salah satu cara
menurunkan prevalensi servisitis. Selain itu, wanita yang memulai aktivitas seksual pada
usia lanjut telah terbukti insiden lebih rendah terhadap servisitis. Rekomendasi lain ialah
dengan menggunakan kondom secara rutin selama hubungan seksual. Jika servisitis
disebabkan oleh penyakit menular seksual, pasien disarankan untuk memberitahu

pasangan seksualnya.
Jika rentan terhadap infeksi, kenakan celana dalam katun. Hindari celana dalam yang
terbuat dari bahan non-ventilasi. Bahan sintetis dalam keadaan vagina yang basah dan
hangat, yang memicu infeksi vagina atau serviks.

15

KESIMPULAN

Servisitis adalah radang selaput lendir canalis servikalis, disebabkan oleh karena epitel
selaput lendir servikalis hanya terdiri dari satu lapisan sel silindris maka mudah terinfeksi
dibandingkan selaput lendir vagina.
Servisitis merupakan infeksi non spesifik dari serviks, erosi ringan (permukaan licin),
erosi kapiler (permukaan kasar), erosi folikuler (kistik) dan biasanya terjadi pada serviks bagian
posterior.
Servisitis disebabkan oleh kuman-kuman seperti trikomonas vaginalis, kandida, dan
mikoplasma atau mikroorganisme aerob dan anaerob endogen vagina, seperti: streptokokus,
enterokokus, e.coli, dan stafilokokus. Kuman-kuman ini mengalami deskuamasi pada epitel
gepeng dan perubahan inflamasi kronik dalam jaringan serviks yang mengalami trauma dan
dapat juga disebabkan oleh robekan serviks terutama yang disebabkan ectropion, alat
kontrasepsi, tindakan intrauterine seperti dilatasi, dan lain-lain.
Klasifikasi servisitis dibagi menjadi 2 : servisitis akut dan servisitis kronik.
sPengobatan servisitis , terutama servisitis kronis terdiri 2 tahap: pengobatan medis atau
medikamentosa dan dengan pembedahan.

16

DAFTAR PUSTAKA

1. David, Ovedoff. 1995. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Bina Pura Aksara.
2. Taber, Benzion. 1995. Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri dan Gynecologi. Jakarta:
EGC.
3. Manuaba. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, Dan Keluarga Berencana Untuk
Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
4. Prawirohardjo. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
5. Sastrawinata, sulaiman. 1981. Ginekologi. Bandung: Elstar offset.
6. Robin, Cotran, Humar. 1999. Buku Saku Robbins, Dasar Patologi Penyakit. Jakarta:
EGC.
7. Biggs, WS, Williams RM. Common gynecologic Infections. Prim Care. 2009; 36:33-51.
(PubMed).
8. Diseases characterized by urethritis and cervicitis. Sexually transmitted diseases
treatment guidelines 2006. Update to CDCs sexually transmitted diseases treatment
guidelines 2006: fluoroquinolones no longer recommended for treatment of gonococcal
infections. Available at www.guidelines.gov. accessed January 25, 2010.
9. http://obginround.blogspot.com/2011/05/servisitis.html.

17