You are on page 1of 3

Ateisme

In Barat, ateisme, psikologi on Maret 10, 2009 at 1:14 am

AKAR DAN SEJARAH ATEISME


Kata ateisme (atheism) berakar dari dua kata bahasa Yunani, a yang berarti tanpa atau tidak
dan theos yang berarti tuhan. Seorang ateis (atheist), berdasarkan akar katanya, adalah
orang tanpa keimanan pada Tuhan; tidak harus meyakini bahwa Tuhan tidak ada. Meski
demikian beberapa kamus mendefinisikan ateisme sebagai keyakinan tidak ada tuhan. Untuk
menghindari kebingungan, beberapa orang membedakan antara ateisme positif dan ateisme
negatif. Yang pertama merujuk pada negasi keberadaan tuhan, sementara yang kedua berarti
hidup tanpa tuhan, sesuai dengan akar Yunani kata tersebut. Sebagai lawan dari ateisme
biasanya digunakan kata teisme (theism) yang diartikan sebagai keimanan pada Tuhan
personal yang aktif penciptaan makhluk dan menurunkan wahyu. Dengan demikian, ateisme
adalah kebalikan dari deisme, yang menganggap tuhan tidak lagi berperan dalam penciptaan,
dan panteisme yang percaya bahwa tuhan sama dengan alam semesta. Ateisme negatif, secara
luas, adalah ketidakpedulian terhadap persoalan eksistensi tuhan, yang mencakup tidak hanya
tuhan teistik saja. Ateisme positif, di sisi lain, adalah ketidakpercayaan aktif terhadap semua
tuhan. atau tuhan teistik saja. Untuk memertahankan konsep ateisme positif, dalam makna
diatas, ada dua hal yang harus dilakukan. Pertama alasan-alasan untuk percaya pada tuhan
teistik harus ditolak, dan, kedua, alasan-alasan untuk tidak percaya pada tuhan teistik mesti
dijabarkan.
Pada zaman Yunani kuno ateisme muncul di Athena pada paruh kedua abad kelima, sekalipun
tokoh ateis yang muncul tidak muncul dari Athena. Orang yang terkenal sebagai ateis saat itu
adalah seorang tokoh sofis, Protagoras. Salah satu pernyataannya Tentang para dewa aku
tidak dapat memastikan apakah mereka ada atau tidak, atau seperti apa bentuk mereka,
karena banyak hal yang menghalangi dan umur manusia yang pendek. Bellerophon adalah
salah satu orang Yunani yang pernyataannya bercorak ateistik. Bellerophon menyatakan:
Adakah orang yang menyatakan ada para dewa di surga? Tidak ada Aku mengatakan
bahwa tirani membunuh sangat banyak orang dan merebut harta mereka; dengan
melakukan ini, mereka lebih makmur daripada orang yang setiap hari beribadah.
Pada masa helenisme, terma ateis terutama menjadi label untuk mereka yang saling
bermusuhan secara filosofis, tapi hal ini tidak dianggap terlalu serius. Menjelang akhir abad
kedua, Tatian melaporkan bahwa orang pagan menyebut orang Kristen sebagai atheotatous
orang yang paling ateis. Hal ini selanjutnya diklarifikasi oleh Justinus yang mengakui bahwa
orang Kristen adalah ateis, karena sikap mereka terhadap tuhan-tuhan pagan, karena mereka
tidak punya kuil atau patung-patung sesembahan, dan karena mereka tidak melakukan
persembahan.
Pada masa Kristen, kondisi berbalik, dengan orang Kristen yang menyebut kaum pagan
sebagai ateis. Origen menyebut agama pagan sebagai politeisme ateis atau ateisme
politeisme. Sejarah ateisme masa pra-Modern penting karena tiga hal. Pertama, orang Yunani
menemukan ateisme teoritis. Kedua, orang Yunani menemukan kata atheos, yang oleh orang
Romawi diterjemahkan menjadi atheus, yang pada permulaan zaman modern melahirkan kata
atheist dan atheism. Ketiga, orang Yunani dan Romawi, pagan dan Kristen, menjadikan terma
ateis sebagai sebutan untuk lawan masing-masing. Menurut Michael Martin, konsep ateisme
yang kita kenal sekarang berkembang dalam konteks kesejarahan agama monoteistik Barat.
Makna ateisme dapat diperluas, mencakup penolakan pada segala sesuatu yang bersifat
supernatural dan kejadian-kejadian yang umumnya dikaitkan dengan ide tentang tuhan. Dia

tidak percaya pada surga, neraka, setan, malaikat, dan hal lain yang terkait dengan yang Gaib.
Orang yang pertama kali secara terus terang, di zaman modern, mengakui dirinya sebagai
seorang ateis dan membela ateisme, dalam pengertian yang kita pahami sekarang, adalah Jean
Meslier. Dengan mendasarkan tulisan dan refleksinya observasi kehidupan sehari-hari, dia
menulis Memoir of the Thoughts and Feelings of Jean Meslier, Clear and Evident
Demonstrations of the Vanity and Falsity of All the Religions of the World. Judul buku yang
muncul di pasaran pada tahun 1729, setelah kematian penulisnya, secara jelas menunjukkan
kecenderungan ateistik. Dari sini, bermulalah sejarah ateisme, seperti yang kita kenal
sekarang.
Pada zaman posmodern, muncul apa yang disebut ateisme ateistik. Arti istilah ini lebih dari
sekedar menegasikan tuhan dan nilai-nilai yang diderivasi darinya. Ateisme posmodern
dibangun bukan berdasar ideologi dan tokoh tertentu. Etika ateisme posmodern didasarkan
atas filsafat, nalar, pragmatisme, hedonisme individual dan hedonisme sosial, oleh manusia
dan untuk manusia sendiri, bukan oleh dan untuk tuhan. Kebaikan dan kejahatan ada bukan
sebagai konsep relijius, tapi sebagai faktor untuk menjamin kebahagiaan manusiawi terbesar
yang mungkin dicapai. Hubungan hedonistik menjadi dasar bagi hubungan antar manusia,
sebuah etika tanpa kewajiban dan sanksi transenden.
PSIKOLOGI ATEIS
Dalam sebuah survei di Amerika Serikat pada tahun tujuan puluhan dan delapan puluhan,
orang yang mengaku tidak mengikuti agama apapun adalah orang yang lebih muda,
kebanyakan pria, berpendidikan dan berpendapatan tinggi, lebih liberal, sering tidak bahagia
dan terasingkan dari masyarakat kebanyakan. Berdasarkan 12.043 wawancara pada tahun
2004, sembilan persen dari orang Amerika yang mengaku tidak ikut agama apapun atau
secara terang-terangan mengaku ateis atau agnostik cenderung secara politik liberal,
Demokrat, mandiri, lebih muda, hidup di Barat, mahasiswa, dan mereka yang tinggal dengan
seseorang tanpa pernikahan. Di Australia, kaum sekular memiliki tingkat pendidikan lebih
baik daripada kebanyakan penduduk, secara sosial bebas, mandiri, dan kosmopolit. Di
Kanada, data sensus dan survei nasional menunjukkan bahwa yang mengaku tidak beragama
kebanyakan muda, pria, masyarakat perkotaan, dan kelas elit. Disamping itu data dari semua
budaya menunjukkan bahwa wanita lebih relijius daripada pria.
Beberapa ateis dibesarkan tanpa ajaran agama sama sekali, yang lain memilih menolak ajaran
masa kanak-kanak. Apostasi dan konversi dianggap sebagai penolakan terhadap identitas dan
kepercayaan orang tua. Menurut seorang psikoanalis Kristen, Stanley Leavy, ateisme dapat
merupakan ekspresi pembebasan dari dominasi orang tua seseorang. Penelitian tentang orang
yang berasal dari keluarga relijius dan kemudian memilih menjadi ateis menunjukkan bahwa
mereka memiliki hubungan yang renggang dengan orang tua masing-masing. Caplovitz dan
Sherrow menyatakan bahwa kualitas hubungan dengan orang tua ialah salah satu variabel
penting, disamping komitmen pada intelektualisme.
Orang ateis memiliki kemampuan adaptasi terhadap realitas dan psikoanalisisyang
merupakan metode efektif untuk beradaptasi terhadap realitassecara alamiah mendorong
pada ateisme. Schumaker, dalam sebuah survei literatur, melaporkan hubungan antara
ketidakberagamaan dan masalah-masalah psikologis. Berbeda dengan Ventis yang
menyimpulkan orang non-relijius secara psikologis lebih sehat daripada orang relijius. Dalam
kaitannya dengan kemampuan intelektual, L. M. Terman dan koleganya pada tahun 1925
mulai memelajari seribu lima ratus dua puluh delapan remaja berbakat yang memiliki IQ
lebih dari 140, berusia sekitar dua belas tahun. Ketika mencapai usia pertengahan sepuluh
persen pria dan delapan belas persen wanita memiliki kepercayaan relijius yang kuat. Sekitar
enam puluh dua persen pria dan lima puluh tujuh wanita mengakui memiliki sedikit

kecenderungan relijius, sementara dua puluh delapan persen pria dan dua puluh tiga persen
wanita menyebutnya sebagai sama sekali tidak penting.
endnotes:
[1] Baca, misalnya, Oxford Learners Pocket Dictionary, h. 22.
[2] Michael Martin, Cambridge Companion to Atheism, h. 1.
[3] Ibid., h. 2.
[4] Jan N. Bremmer, Atheism in Antiquity, dalam Michael Martin, ibid., h. 12-6.
[5] Ibid., h. 20-1.
[6] Ibid., h. 21-2.
[7] David Mills, Atheist Universe, h. 26
[8] Michael Onfray, In Defense of Atheism, the Case against Christianity Judaism and Islam,
h. 29
[9] Ibid., h. 57-8.
[10] Benjamin Beit-Hallahmi, Atheist A Pscychological Profile, dalam Michael Martin, ibid.,
h. 300-1.
[11] Ibid., h. 302.
[12] Ibid., h. 305-6.
[13] Ibid., h. 306-7.