You are on page 1of 11

TELAAH JURNAL

TOXOPLASMA INFECTION IN PREGNANT WOMEN:


A CURRENT STATUS IN SONGKLANAGARIND HOSPITAL,
SOUTHERN THAILAND

Oleh:
Dwi Novia Putri, S.Ked
Adiguna Darmanto, S.Ked
Retno Tharra, S.Ked
Giovianto Ryelcius, S.Ked
Wulan Meilani, S.Ked
Ratri Shintya Dewi, S.Ked

04054821517049
04054821517060
04084821517037
04054821618092
04054821618101
04084821618234

Pembimbing:
dr. H. Agustria Zainu Saleh, Sp.OG (K)

BAGIAN ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI FK UNSRI


RUMAH SAKIT MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
2016

TELAAH KRITIS JURNAL


1. Judul Jurnal:
Infeksi Toxoplasma pada wanita hamil di Rumah Sakit Songklanagarind, Thailand bagian
selatan.
2. Gambaran Umum
a. Latar Belakang
Toxoplasma gondii merupakan protozoa golongan parasit intraseluler obligat.
Toxoplasma gondii mampu menyebabkan kondisi yang membahayakan dan mengancam
hidup wanita hamil dan individu dengan sistem imun yang kurang baik. Sumber infeksi
parasit berasal dari konsumsi daging mentah/setengah matang yang mengandung kista
parasit, konsumsi air/makanan yang mengandung ookista, atau kontak dengan tanah yang
terkontaminasi feses kucing. Infeksi Toxoplasma pada wanita hamil memiliki pengaruh
yang besar pada fetus. Kelainan berat dapat terjadi seperti, hidrosefalus, kalsifikasi
intraserebral, retinokoroiditis dan retardasi mental, walaupun, gejala klinis pada bayi
yang baru lahir biasanya asimptomatik.
Deteksi antibodi anti-Toxoplasma pada wanita hamil merupakan pendekatan
yang paling banyak digunakan dalam menegakan diagnosis infeksi Toxoplasma. Antibodi
yang terdeteksi, yang mengindikasikan infeksi Toxoplasma sekarang atau sebelumnya
pada wanita hamil, sangat penting dalam menilai apakah fetus berisiko tinggi terinfeksi
Toxoplasma. Adanya antibodi IgG anti-Toxoplasma menunjukan adanya infeksi
sebelumnya, sedangkan antibodi IgM anti-Toxoplasma menunjukan adanya infeksi di
waktu sekarang. Walaupun begitu, antibodi IgM spesifik menetap untuk beberapa bulan
hingga tahun setelah infeksi awal. Hal ini menimbulkan kesulitan dalam menegakan
diagnosis apakah infeksi Toxoplasma pada ibu terjadi sebelum atau sesudah konsepsi.
Kesalahan interpretasi hasil IgM positif pada uji serum tunggal konvensional

juga

berujung pada kesalahan pengambilan keputusan dalam memberikan tata laksana dan
terminasi pada kehamilan. Penilaian aviditas IgG untuk infeksi Toxoplasma dalam wanita
hamil diperkenalkan pada penelitian terkini dalam membantu membedakan antara infeksi

di masa lalu atau sekarang. Aviditas dari tes ini sangat baik dalam menentukan infeksi
Toxoplasma pada wanita hamil, terutama mereka yang berada pada trimester pertama.
Maka dari itu, penelitian ini dilakuakn untuk menentukan seroprevalensi dari
infeksi Toxoplasma pada wanita hamil yang melakukan antenatal clinic (ANC) di Rumah
Sakit Songklanagarind, Thailand selatan, untuk mengetahui hubungan faktor risiko
infeksi Toxoplasma dengan wanita hamil dengan seropositif dan untuk menetapkan tahap
infeksi Toxoplasma dalam wanita hamil menggunaan pengukuran aviditas.
b. Subjek dan Metode Penelitian
Desain dan Sampling
Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional prospektif yang dilakukan di Rumah
Sakit Songklanagarind, Hat Yai, provinsi Songkla, Thailand sejak Desember 2012 hingga
Agustus 2013. Rumah sakit umum ini terikat pada Universitas Prince of Songkla, dengan
kapasitas 850 pasien, yang berlokasi di Thailand bagian selatan dan didirikan sebagai
sarana proses belajar-mengajar, riset, dan pelatihan untuk tenaga medis, dan untuk
penyedia tenaga kesehatan publik, khususnya di kalangan warga Thailand selatan.
Penelitian ini melibatkan 760 wanita hamil yang sebelumnya telah diberikan informed
concent. Kuesioner didesign untuk mengetahui sosiodemografi dan faktor risiko biologis
terkait dengan infeksi Toxoplasma, dan riwayat klinis dan tanda-tanda infeksi dan gejala
sekarang yang berkaitan dengan toxoplasmosis. Penelitian ini dilakukan dengan
persetujuan komite etik Fakultas Kedokteran, Universitas Prince of Songkla, Thailand.
Pengumpulan Serum
Diperkirakan 5 mL sampel dari darah vena diambil dan serum dikumpulkan dan disimpan
pada suhu -20oC hingga pengujian lebih lanjut.
Skrining antibodi anti-Toxoplasma IgG dan IgM
Antibodi anti-Toxoplasma IgG dan IgM diuji dengan menggunakan standard ELISA
commercial kit (IgG-Trinity Biotech dan IgM-Trinity Biotech, New York) sesuai dengan
instruksi penggunaan alat. Sampel positif antibodi anti-Toxoplasma IgG dan IgM juga
diuji aviditasnya dengan menggunakan standard ELISA commercial kit (IgG-NovaLisa
Dietzenbach, Jerman); aviditas tinggi (>40%) mengindikasikan adanya infeksi dahulu
(>4-5 bulan) dan aviditas rendah (<40%) mengindikasikan adanya infeksi di waktu
sekarang (4-5 bulan).

Analisis Statistik
Data diperoleh dari hasil kuesioner dan uji laboratorium yang ada, diatur, dan dianalsis
menggunakan program statistik SPSS versi 17.0 (SPSS, Inc., Chicago, IL). Data dengan
variabel kuantitatif dinyatakan dalam mean (SD) dan range, sedangkan variabel
kualitatif diperkirakan dan disajikan dalam frekuensi dan persentase. Analisis univariat
dan bivariat digunakan untuk menyelidiki hubungan antara seropositif Toxoplasma
sebagai variabel bebas dan kemungkinan faktor demografi dan faktor risiko sebagai
variabel terikat; p<0,05 dianggap signifikan menurut statistik.

c. Hasil
Total 760 wanita hamil bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini. Usia
responden berkisar antara 14-47 tahun dengan rerata 29,56,34 tahun. Sebagian besar
responden berusia 26-35 tahun (408, 53,7%), dengan pendidikan terakhir setingkat SMA
(369, 48,6%) dan bekerja sebagai buruh (317, 41,7%). Sebagian besar responden berada
pada trimester pertama kehamilan (621, 81,7%), tidak sedang mengonsumsi antibiotik
(664, 87,4%), memiliki 1 anak (637, 83,8%) dan tidak pernah mengalami keguguran
(592, 77,9%) seperti pada Tabel 1.
Sebagian besar, seroprevalensi infeksi Toxoplasma dalam penelitian ini
berjumlah 190 (25,0%, 95% CI=22,05-28,20) yang mana 167 (22,0%, 95% CI=19,025,0) positif hanya memiliki antibodi IgG anti-Toxoplasma dan 23 (3,0%, 95% CI=2,04,0) positif memiliki kedua antibodi IgG dan IgM anti-Toxoplasma. Sampel serum hanya
positif antibodi IgM anti-Toxoplasma (19, 2,5%) ditemukan pada pengumpulan sampel
serum setelah 4 minggu kemudian. Serum sampel ini kemudian dilaporkan sebagai false
positive karena tidak ditemukannya seroconversion.
Untuk analisis univariat, penelitian ini menunjukan bahwa kelompok usia,
pekerjaan dan sumber konsumsi air memiliki hubungan yang signifikan dengan
seropositif wanita hamil (p<0,05), seperti yang ditunjukan Tabel 1. Setelah dilakukan
analisis logistik regresi multivariat, teruji bahwa usia 26 (OR=1,65, 95% CI=1,13-2,44),
bekerja sebagai buruh (OR=1,57, 95% CI=1,13-2,18) dan mengonsumsi air
(pipa/keran/hujan) yang kurang bersin (OR=1,75, 95% CI=1,08-2,84) merupakan faktor
risiko terinfeksi Toxoplasma, seperti yang ditunjukan Tabel 2.

d. Diskusi
Infeksi Toxoplasma pada wanita hamil menunjukan variasi pada seroprevalensi
secara global. Dalam penelitian ini, keseluruhan seroprevalensi pada infeksi kronik
Toxoplasma sebesar 25% dari total responden. Temuan ini berada dalam kisaran 2,6%28% dari seroprevalensi yang pernah dilaporkan penelitian di Thailand sebelumnya.
Meskipun begitu, prevalensi yang kami temukan memiliki rerata yang lebih tinggi
dibandingkan penelitian sebelumnya di negara Asia lain seperti China, Jepang dan
Taiwan dengan masing-masing persentasi 3,89%, 10,3% dan 11,8%. Secara global,
seroprevalensi dari infeksi Toxoplasma tetap tinggi pada banyak negara di benua berbeda
seperti Kongo (84,7%), Ethiopia (83,6%), India (45%), Brazil (59%) dan Tanzania
(30,9%). Seroprevalensi bisa beragam dalam pandangan global, tetapi risiko dari infeksi
parasit pada populasi manusia, terutama pada wanita hamil, perlu diberikan perhatian
lebih. Temuan kami menunjukan bahwa kita memerlukan pendekatan holistik untuk
memberikan edukasi pada wanita hamil mengenai toxoplasmosis demi mengurangi angka
kejadian infeksi dan beban penyakit secara keseluruhan dalam masyarakat.
Dalam penelitian ini, 2,5% wanita hamil memiliki hasil false positive pada
antibodi IgM anti-Toxoplasma setelah dilakukan pemeriksaan sampel serum kedua
setelah 4 minggu kemudian untuk menguji seroconversion. Fenomena ini kemungkinan
terjadi akibat host natural antibodi IgM bereaksi dengan anti-Toxoplasma antigen tanpa
menimbulkan infeksi. Sementara itu, wanita hamil dengan kedua antibodi IgG dan IgM
anti-Toxoplasma positif memiliki aviditas IgG yang tinggi, yang mengindikasikan adanya
infeksi sebelumnya. Antibodi IgM yang ditemukan dapat berada untuk beberapa bulan
atau tahun setelah infeksi awal. Sebagaian besar wanita hamil ini berada pada fase
trimester pertama kehamilan. Pada keadaan kedua antibodi IgG dan IgM antiToxoplasma positif, kemungkinan dari infeksi akut atau hasil false IgM positif telah
diprediksi. Pengukuran aviditas IgG dapat digunakan sebagai alat konfirmasi dalam
menentukan tahap infeksi pada wanita hamil yang dicurigai terinfeksi Toxoplasma
dengan menggunakan satu sampel serum. Tingginya aviditas antibodi IgG menunjukan
tidak adanya risiko toxoplasmosis kongenital pada fetus, terutapa pada wanita hamil di
trimester pertama, tanpa memperhatikan hasil antibodi IgM.
Data epidemiologi kami menunjukan bahwa kelompok usia 26 tahun, bekerja
sebagai buruh dan mengonsumsi air yang kurang bersih merupakan faktor yang berkaitan

erat dengan infeksi Toxoplasma. Walaupun begitu, tidak ada hubungan yang signifikan
antara riwayat obstetri dan Toxoplasma seropositif dalam penelitian ini. Sebagian besar
wanita hamil tidak memiliki pengetahuan mengenai toxoplasmosis dan hal ini dapat
berujung pada Toxoplasma seropositif, karena mereka tidak mengetahui cara yang tepat
untuk melindungi diri sendiri dari infeksi Toxoplasma.
Mengingat faktor risiko berkaitan lainnya, beberapa dari wanita hamil memiliki
riwayat kontak dengan kucing (37%) tapi tidak memiliki hubungan signifikan dengan
infeksi Toxoplasma. Temuan ini berlawanan dengan beberapa penelitian sebelumnya, di
mana memiliki riwayat kontak dengan kucing merupakan salah satu faktor vital transmisi
infeksi Toxoplasma. Penelitian juga menunjukan bahwa infeksi Toxoplasma dapat
ditransmisi oleh hewan peliharaan lain pada pemilik/majikannya. individu yang
mengonsumsi daging yang terinfeksi kista Toxoplasma merupakan cara transmisi
penyakit. Sebagian besar wanita hamil pernah mengonsumsi daging yang kurang matang,
tapi tidak ada hubungan yang signifikan dengan tingginya infeksi Toxoplasma. Hal ini
mungkin dikarenakan tidak adanya kontaminasi kista Toxoplasma pada daging yang
dikonsumsi dan diperlukan penelitian lebih lanjut. Temuan kami sejalan dengan
penelitian sebelumnya, menunjukan bahwa mengonsumsi air yang kurang bersih
(pipa/keran/hujan) memiliki hubungan yang signifikan dengan seropositif Toxoplasma
pada wanita hamil, mengindikasikan air mungkin terkontaminasi dengan ookista
Toxoplasma. Walaupun begitu, seropositif tinggi (32%) juga ditemukan pada wanita
hamil yang mengonsumsi air yang dimasak matang tapi tidak memiliki hubungan yang
signifikan. Berdasarkan hasil di atas, hal ini dapat menjadi indikator yang baik dari faktor
lainnya yang berkontribusi dalam infeksi Toxoplasma dan membutuhkan penelitian lebih
lanjut.
e. Kesimpulan
Temuan kami menunjukan tingkat infeksi Toxoplasma yang tinggi pada
kelompok wanita hamil dan menunjukan risiko yang lebih tinggi pada kelompok umur
26 tahun, statussosioekonomi menengah ke bawah dan mengonsumsi air yang kurang
bersih. Pada pedoman berikutnya perlu ditambahkan untuk mengurangi infeksi
Toxoplasma dan akhirnya memusnahkan beban penyakit; pertama, skrining rutin
toxoplasmosis pada wanita usia produktif

dan wanita hamil, terutama pada usia

kehamilan muda perlu digalakan untuk monitoring dan tujuan pencegahan. Kedua,
edukasi kesehatan mengenai toxoplasmosis dan risiko pajanan diperlukan untuk
meningkatkan pengetahuan

mengenai penyakit dan untuk mengurangi efek infeksi

Toxoplasma pada populasi dan khususnya wanita hamil. Terakhir, diagnosis serologis
melalui deteksi antibodi anti Toxoplasma dan pengukuran aviditas IgG pada wanita hamil
mampu membantu menentukan kapan terjadinya infeksi dan pengambilan keputusan
mengenai penatalaksanaan yang tepat terutama pada usia awal kehamilan.
3. Telaah Kritis
Berdasarkan jurnal yang diakses dari Parasites and Vectors merupakan bagian dari
kedokteran berbasis bukti (evidence-based medicine) diartikan sebagai suatu proses
evaluasi secara cermat dan sistematis suatu artikel penelitian untuk menentukan reabilitas,
validitas, dan kegunaannya dalam praktik klinis. Komponen utama yang dinilai dalam
critical appraisal adalah validity, importancy, applicability. Tingkat kepercayaan hasil
suatu penelitian sangat bergantung dari desain penelitian dimana uji klinis menempati
urutan tertinggi. Telaah kritis meliputi semua komponen dari suatu penelitian dimulai dari
komponen pendahuluan, metodologi, hasil, dan diskusi. Masing-masing komponen
memiliki kepentingan yang sama besarnya dalam menentukan apakah hasil penelitian
tersebut layak atau tidak digunakan sebagai referensi.
Telaah kritis meliputi semua komponen dari suatu penelitian dimulai dari komponen
pendahuluan, metodologi, hasil, dan diskusi. Masing-masing komponen memiliki
kepentingan yang sama besarnya dalam menentukan apakah hasil penelitian tersebut layak
atau tidak digunakan sebagai referensi.

Penilaian PICO VIA (Population, Intervention, Comparison, Outcome, Validity,


Importancy, Applicability)
I. Population
Sebanyak 760 wanita hamil yang melakukan antenatal clinic (ANC) di Rumah Sakit
Songklanagarind, Thailand selatan, dan telah diberikan informed concent.
II. Intervention
Responden pada penelitian tidak dilakukan intervensi.

III.

Comparison
Penelitian ini membandingkan faktor sosiodemografi dan faktor risiko biologis terkait yang
berpengaruh signifikan terhadap terjadinya infeksi Toxoplasma.

IV.

Outcome
Penelitian menunjukan tingkat infeksi Toxoplasma yang tinggi pada kelompok wanita hamil
dan

menunjukan

risiko

yang

lebih

tinggi

pada

kelompok

umur

26

tahun,

statussosioekonomi menengah ke bawah dan mengonsumsi air yang kurang bersih.


V. Study Validity
Research questions
Is the research question well-defined that can be answered using this study design?
Ya. Metode penelitian dengan studi cross-sectional dapat menjawab tujuan dari penelitian ini.
Does the author use appropriate methods to answer their question?
Ya. Metode yang digunakan penulis adalah analytics statistics, metode ini tepat untuk tujuan
penelitian.
Is the data collected in accordance with the purpose of the research?
Ya. Data yang diambil dari Rumah Sakit Songklanagarind sesuai dengan tujuan penelitian.
Randomization
Was the randomization list concealed from patients, clinicians, and researchers?
Pada penelitian ini tidak dilakukan randomisasi, teknik yang digunakan pada penelitian ini
adalah total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi.
Interventions and co-interventions
Were the performed interventions described in sufficient detail to be followed by others? Other
than intervention, were the two groups cared for in similar way of treatment?
Penelitian ini hanya mengambil data sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi tanpa dilakukan
intervensi. Penelitian tidak memberikan perlakuan khusus kepada kedua kelompok.
VI.

Importance
Is this study important?
Ya. Penelitian ini penting karena infeksi Toxoplasma pada wanita hamil memiliki pengaruh
yang besar pada fetus. Kelainan berat dapat terjadi seperti, hidrosefalus, kalsifikasi
intraserebral, retinokoroiditis dan retardasi mental, walaupun, gejala klinis pada bayi yang
baru lahir biasanya asimptomatik.

VII.

Applicability
Are your patient so different from these studied that the results may not apply to them?
Tidak, karena Thailand berada di kawasan Asia tenggara dan merupakan negara
berkembang, sama seperti Indonesia.
Is your environment so different from the one in the study that the methods could not be use
there?
Tidak, karena Thailand berada di kawasan Asia tenggara dan merupakan negara
berkembang, sama seperti Indonesia.

Kesimpulan: Jurnal ini valid, penting, dan dapat diterapkan sehingga jurnal ini dapat digunakan
sebagai referensi.