You are on page 1of 5

Ketidakseimbangan Asam Basa

Keseimbangan asam basa adalah homeostasis dari kadar ion hydrogen [H+] pada cairan tubuh.
asam terus diproduksi dalam metabolism yang normal. Walaupun terbentuk banyak asam, kadar
asam dalam cairan tubuh tetap rendah. Kadar [H+] normal darah arteri adalah 4 x 10-8 mEq/L.
meskipun rendah, kadar [H+] yang stabil perlu dipertahankan agar fungsi sel dapat berjalan
normal karena fluktuasinya sangat mempengaruhi kerja enzim sel.
Peningkatan [H+] menyebabkan larutan menjadi bertambah asam dan penurunannya
menyebabkan larutan menjadi bertambah basa. [H+] berada dalam jumlah kecil sehingga
dinyatakan dalam skala pH. pH adalah logaritma negatif dari kadar ion hydrogen (pH= - log
[H+] ) sehingga [H+] sebesar 10-7 g/L sama dengan pH 7. Kadar pH yang rendah berarti larutan
itu lebih bersifat asam, sedangkan pH tinggi berarti larutan itu lebih alkali atau basa. Air
mempunyai pH 7 dan bersifat netral karena jumlah ion hidrogennya tepat sama dengan jumlah
ion hidroksilnya (basa) (OH-). Larutan asam mempunyai pH kurang dari 7 dan basa lebih dari 7
sampai dengan batas 14. Nilai pH rata-rata darah atau cairan ekstrasel adalah sedikit basa yaitu
7,4. Batas normal pH darah adalah dari 7,38-7,42 (deviasi standar 1) atau 7,35-7,45 (deviasi
standar 2). Saat ini, beberapa rumah sakit menyatakan kadar [H+] dalam nanomol per liter
(nmol/L) karena lebih mudah dimengerti.
Asam adalah suatu substansi yang mengandung 1 atau lebih ion [H+] yang dapat dilepaskan
dalam larutan. Proses metabolism dalam tubuh menyebabkan terjadinya pembentukan dua jenis
asam, yaitu yang mudah menguap (volatil) dan tidak mudah menguap (non-volatil). Asam
volatile dapat berubah menjadi bentuk cair atau gas. Karbondioksida sebagai produk akhir dari
oksidasi karbohidrat, lemak dan asam amino dapat dianggap sebagai asam karena mampu
bereaksi dengan air untuk membentuk asam karbonat (H2CO3) yang akan terurai menjadi bentuk
[H+] dan HCO3CO2 + H2O

H2CO3

H+ + HCO3-

Karbondioksida merupakan gas yang dapat dikeluarkan dari paru-paru sehingga disebut sebagai
asam volatile. Asam non volatile menguap tidak dapat berubah bentuk menjadi gas untuk dapat
diekskresi oleh paru-paru, tetapi harus melalui ginjal. Asam non volatile dapat berupa anorganik
maupun organic . asam sulfat merupakan produk akhir oksidasi asam amino yang mengandung
sulfur, sedangkan asam fosfat merupakan produk akhir metabolism fosfolipid, asam nukleat dan
fosfoprotein. Asam organic (asam laktat dan asam keton) dibentuk dari metabolism karbohirat,
lemak dan kemudian dioksidasi menjadi CO2 dan air sehingga dalam keadaan normal, asam asam
ini tidak mempengaruhi pH tubuh. Namun, asam laktat dapt meumpuk dalam tubuh jika tidak
ada oksigen seperti pada syok sirkulatorik atau henti jantung. Pada pasien diabetes mellitus tak
terkontrol, dapat meningkatnya asam keton akibat metabolism lemak. Sekitar 20 mol H2CO3 dan
0,08 mol asam non volatile diproduksi oleh tubuh dan dikeluarkan secara terpisah melalui ginjal
dan paru-paru.

Basa adalah substansi yang dapat menangkap atau bersenyawa dengan ion hydrogen sebuah
larutan. Basa kuat, seperti NaOH terurai dengan mudah dalam larutan dan bereaksi kuat dengan
asam. Basa lemah, seperti NaHCO3 hanya sebagain yang terurai dalam larutan dan kurang
bereaksi kuat dengan asam.
Buffer (larutan penyangga pH )merupakan suatu istilah yang menjelaskan substansi kimia yang
mengurangi perubahan pH dalam larutan yang disebabkan oleh penambahan asam atau basa.
Buffer adalah campuran asam lemah dengan garamnya atau basa lemah dengan garamnya.
Buffer akan sangat efektif jika terurai 50 %. Sistem buffer utama dalam tubuh yang membantu
pH agar tetap konstan adalah :
1.
2.
3.
4.

Sistem buffer asam karbonat-bikarbonat (NaHCO3 dan H2CO3 )


Sistem buffer fosfat monosodium disodium (Na2HPO4 dan NaH2PO4)
Sistem buffer oksihemoglobin-hemoglobin dalam eritrosit (HbO2- dan HHb)
Sistem buffer protein (Pr- dan HPr)

Sistem buffer asam karbonat-bikarbonat adalah buffer yang paling banyak secara kuantitatif dan
bekerja dalam ECF. Sistem buffer non bikarbonat sisanya terutam bekerja di ICF. Sistem buffer
fosfat merupakan buffer penting dalam eritrosit dan sel tubulus ginjal. Hemoglobin adalah suatu
buffer ion H+ yang efektif, dimana saat darah melewati paru, ion H+ tersaturasi dengan oksigen
sehingga kemampuan hemoglobin untuk mengikat H+ menurun dan ion H+ akan berikatan dengan
bikarbonat untuk membentuk CO2 dan dikeluarkan melalui ekspirasi paru.
Berbagai asam dan basa terus masuk ke tubuh melalui absorpsi makanan dan katabolisme
makanan sehingga perlu mempertahankan kestabilan pH yang dilakukan oleh sistem buffer
tubuh, paru-paru dan ginjal. Respon segera terhadap bertambah atau berkurangnnya [H+] adalah
buffer kimiawi ion H+ oleh sistem buffer ECF maupun ICF yang hanya bersifat sementara.
Setelah itu, usaha kedua untuk menstabilkan konsentrasi ion H+ adalah mengendalikan kadar
CO2 pernapasan dan usaha terakhir adalah pengaturan ginjal terhadap keaadan bikarbonat dalam
cairan tubuh.
Sistem Buffer Asam Karbonat-Bikarbonat
Sebagai buffer ECF utama, sistem buffer asam karbonat-bikarbonat sangat penting dalam
pemahaman dan penilaian keseimbangan dan ketidakseimbangan asam-basa. Sistem buffer ini
adalah reaksi kimia yang reversible dan dapat berproses ke kiri atau ke kanan.
(Paru-paru) CO2 + H2O

H2CO3 H+ + HCO3- (Ginjal)

Selama perbandingan H2CO3 terhadap HCO3- adalah 1 : 20, maka pH dapat dipertahankan
sebesar 7,4. Sisi kiri persamaan ini adalah komponen pernapasan yang dikendalikan oleh
berbagai ventilasi alveolar. Paru-paru menggambarkan suatu klep di satu sisi yang dapat
meningkatkan atau menurunkan CO2 melalui hiperventilasi atau hipoventilasi sehingga
menggeser persamaan ini ke kiri atau ke kanan secara berurutan dan memengaruhi [H+] . Sisi

kanan merupakan komponen metabolic ginjal. Ginjal menggambarkan suatu klep di sisi lainnya
yang dapat mengatur HCO3- dengan menahan atau mengeksresi HCO3- (hal ini dicapai melalui
pengendalian sekresi H+ ke dalam tubulus ginjal.
Persamaan Henderson-Hasselbalch
Persamaan Henderson-Hasselbalch menyatakan pH dari persamaan buffer pada keadaan
seimbang. Persamaan ini menjelaskan bahwa pH sama dengan PK sistem buffer ditambah
dengan log dari basa dibagi asam. Bila diterapkan pada sistem buffer asam karbonat-bikarbonat,
maka persamaan ini menjadi :
20 [HCO3-] yang dikendalikan oleh ginjal
pH = 6,1 + log
1 PaCO2 yang dikendalikan oleh paru-paru
6,1 + 1,3 = 7,4
pK dari sistem buffer asam karbonat bikarbonat adalah selalu 6,1. Penyebut dalam persamaan
ini adalah HCO3- , yaitu kadar basa, normalnya 24 mEq/L. Tekanan CO2 parsial dalam darah
arteri (PaCO2 ) digunakan sebagai pembilang sebagai asam (dibandingkan H2CO3- yang biasanya
tidak terukur) dan dikendalikan oleh paru. Persamaan ini menggambarkan bahwa selama
perbandingan HCO3- terhadap PaCO2 adalah 20 berbanding 1, pH akan dipertahankan pada 7,4.
Empat gangguan asam-basa primer dan kompensasinya dapat digambarkan dengan mudah
menggunakan persamaan Henderson-Hasselbalch :
Asidosis metabolic : [HCO3-] menurun sebagai pembilang, dikompensasi oleh paru
dengan PaCO2 juga menurun sebagai penyebut. Asidosis metabolic merupakan gangguan
sistemik yang ditandai dengan penurunan primer kadar bikarbonat plasma, sehingga
terjadi penurunan pH dan dikompensasi pernapasan dengan menurunkan PaCO2 melalui
hiperventilasi sehingga asidosis metabolic jarang terjadi secara akut.
Alkalosis metabolic : [HCO3-] naik sebagai pembilang , dikompensasi oleh paru dengan
PaCO2 juga naik sebagai penyebut. Alkalosis metabolic adalah gangguan sistemik yang
ditandai dengan peningkatan primer kadar bikarbonat plasma, sehingga terjadi
peningkatan pH dan dikompensasi pernapasan dengan menaikkan PaCO2 melalui
hipoventilasi, akan tetapi tingkat hipoventilasi terbatas karena pernapasan terus berjalan
oleh dorongan hipoksia.
Asidosis Respiratorik : PaCO2 naik sebagai penyebut, dikompensasi oleh ginjal dengan
HCO3- juga naik sebagai pembilang.
Alkalosis Respiratorik : PaCO2 turun sebagai penyebut, dikompensasi oleh ginjal dengan
HCO3- juga turun.
Kompensasi untuk gangguan primer ini selalu berbanding lurus, sehingga untuk
mempertahankan perbandingan asam-basa tetap 20 : 1 untuk meminimalisasi penyimpangan dari
pH normal yaitu 7,4. Respon kompensatorik berbanding terbalik dengan gangguan primer yang
terjadi sehingga dapat terjadi gabungan gangguan asam-basa.

Penegakan diagnosis dan pengobatan gangguan asam-basa membutuhkan pendekatan penilaian


klinis yang sistematis oleh para dokter. Tidak terdapat jalan yang mudah untuk melakukan
penilaian yang akurat. Variabel asam-basa tidak dapat berdiri sendiri, tetapi harus
diinterpretasikan dengan pengetahuan menyeluruh mengenai situasi klinis, pengalaman,
penilaian yang baik dan pengetahuan menyeluruh mengenai fisiologi asam-basa.
Alkalosis respiratorik hampir selalu disebabkan oleh hiperventilasi (hembusan CO2 secara
berlebihan). Penyebab paling sering adalah hiperventilasi psikogenik akibat stress dan
kecemasan. Penyebab iatrogenic adalah ventilasi mekanis. Keadaan lain yang merangsang pusat
pernapasan adalah keadaan hipoksemia seperti pneumonia atau gagal jantung kongestif, keadaan
hipermetabolik (demam), stroke, stadium dini pada keracunan aspirin dan septikimiaoleh bakteri
gram negatif. Hiperventilasi kompensatorik pada asidosis metabolic dapat berlanjut beberapa
waktu setelah koreksi asidosis metabolic menyebabkan alkalosis respiratorik.
Penderita alkalosis hiperventilasi dan respiratorik biasanya tidak menyadari bahwa mereka
bernapas secara berlebihan. Hiperventilasi hanya dapat didiagnosis dengan mengukur kadar gas
darah arteri dan tidak diukur dari frekuensi napas yang terlihat. Pasien terlihat sering menguap
atau mendesah dan mungkin mengeluh tidak dapat bernapas. Gejala dan tanda yang timbul
adalah kecemasan (missal : mulut kering, palpitasi, keletihan, telapak tangan dan kaki dingin dan
berkeringat). Pasien sering mengeluh parestesia, otot berkedut, dan tetani (mungkin akiat
hipokalsemia fungsional yang disebabkan oleh alkalosis). Alkalosis juga menyebabkan
vasokonstriksi serebral dan perpindahan kurva oksihemoglobin ke kiri yang menimbulkan
hipoksia serebral dan keluhan kepala tersa dingin dan tidak mampu berkonsentrasi.
Satu-satunya pengobatan alkalosis respiratorik yang berhasil adalah dengan menghilangkan
penyebab yang mendasari. Bila kecemasan akut menyebabkan terjadinya sindrom hiperventilasi,
pernapasan dengan kantong kertas yang dipegang erat di sekitar mulut dan hidung dapat
memulihkan serangan akut. Hiperventilasi dengan ventilator mekanis dapat dikoreksi dengan
mengurangi ventilasi dalam satu menit, menambah ruang hampa udara atau menghirup 3 % CO2
dalam waktu singkat.
Diketahui terdapat empat kombinasi gabungan ketidakseimbangan asam basa, dua kombinasi
memiliki efek aditif pada perubahan pH dan dua kombinasi lainnya memilki efek mengurangi
pH.
Gangguan asam basa campuran dicurigai dari anamnesis dan situasi klinis. Kunci untuk
mendiagnosis gangguan asam basa campuran adalah penyimpangan respons kompensasi yang
diperkirakan untuk gangguan primer. Dapat dihitung perubahan kompensasi yang diperkirakan
atau dapat digunakan nomogram asam basa untuk menginterpretasikan pemeriksaan
laboratorium asam basa

Ketidakseimbangan asam basa campuran yang memiliki efek aditif dan menyebabkan perubahan
pH adalah :
1. Asidosis Metabolik dan asidosis respiratorik (misal : henti kardiopulmonar)
2. Alkalosis metabolic dan alkalosis respiratorik (misal : penderita COPD dengan asidosis
respiratorik kroni kyang mengalami overventilasi yang berlebihan pada pemakaian
ventilator mekanis
Ketidakseimbangan asam basa campuran yang memiliki efek yang menutupi seperti bahwa pH
berada dalam rentang normal :
1. Asidosis Metabolik dan alkalosis respiratorik (misal : keracunan aspirin)
2. Alkalosis metabolic dan asidosis respiratorik (misal : sindrom gawat napas akut, pasien
COPD yang muntah-muntah atau diobati dengan penyedotan nasogastrik atau diuretic)