You are on page 1of 30

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN


FRAKTUR FEMUR
A. Konsep Dasar Teori
1. Pengertian Fraktur
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, yang biasanya
disertai dengan luka sekitar jaringan lunak, kerusakan otot, rupture tendon,
kerusakan pembuluh darah, dan luka organ-organ tubuh dan ditentukan sesuai
jenis dan luasnya, terjadinya fraktur jika tulang dikenai stress yang lebih besar
dari yang besar dari yang dapat diabsorbsinya (Smeltzer, 2001).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis
dan luasnya fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang
dapat diabsorpsinya. Fraktur dapat disebabkan pukulan langsung, gaya
meremuk, gerakan punter mendadak, dan bahkan kontraksi otot ekstrem (Bruner
& Sudarth, 2002).
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga
fisik kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu sendiri, dan
jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu
lengkap atau tidak lengkap (Price and Wilson, 2006).
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau
tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2007).
Fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas batang femur yang bias terjadi
akibat trauma langsung (kecelakaan dll) dan biasanya lebih banyak dialami oleh
laki-laki dewasa. Patah pada daerah ini menimbulkan perdarahan yang cukup
banyak menyebabkan penderitaan (FKUI,1995 : 543)
Femur merupakan tulang yang terpanjang pada badan, dimana fraktur dapat
terjadi mulai dari proksimal sampai distal tulang memerlukan gaya yang besar
untuk mematahkan batang femur pada orang dewasa, kebanyakan fraktur ini
terjadi pada pria muda yang mengalami kecelakaan kendaraan bermotor atau
mengalami jatuh dari ketinggian. Biasanya, klien ini mengalami trauma multiple
yang menyertainya. Secara klinis fraktur femur terdiri dari patah tulang paha
terbuka dan patah tulang paha tertutup yang asuhan keperawatannya berbeda.
Sering klien mengalami syok, baik syok hipovolemik karena kehilangan darah

banyak ke dalam jaringan maupun syok neurogenik disebabkan rasa nyeri yang
sangat hebat yang dialami klien. Fraktur femur atau patah tulang paha adalah
rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma
langsung, kelelahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi tulang /
osteoporosis. Ada 2 tipe dari fraktur femur, yaitu:
1) Fraktur Intrakapsuler Femur yang terjadi di dalam tulang sendi, panggul
dan melalui kepala femur (Capital Fraktur)
a. Terjadi di luar sendi dan kapsul, melalui trokhanter femur yang lebih
besar / yang lebih kecil / pada daerah intertrokhanter.
b. Terjadi di bagian distal menuju leher femur tetapi tidak lebih dari 2
inci di bawah trokhanter kecil.
2) Fraktur Ekstrakapsuler
a. Hanya dibawah kepala femur
b. Melalui leher dari femur
2. Klasifikasi
Klasifikasi fraktur secara umum;
a.
Berdasarkan tempat (fraktur humerus, tibia, clavicula, ulna, radius dan cruris
dst).
b.
Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur:
1)
Fraktur komplit (garis patah melalui seluruh penampang tulang atau
2)

melalui kedua korteks tulang).


Fraktur tidak komplit (bila garis patah tidak melalui seluruh garis

penampang tulang).
c.
Berdasarkan bentuk dan jumlah garis patah :
1)
Fraktur Komunitif
: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan

d.

2)

Fraktur Segmental

saling berhubungan.
: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi

3)

Fraktur Multiple

tidak berhubungan.
: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi

tidak pada tulang yang sama.


Berdasarkan posisi fragmen :
1)
Fraktur Undisplaced (tidak bergeser), garis patah lengkap ttetapi kedua
2)

fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh.


Fraktur Displaced (bergeser), terjadi pergeseran fragmen tulang yang

juga disebut lokasi fragmen.


e.
Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan).
1)
Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen
tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih

utuh) tanpa komplikasi. Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri


a)

yang berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:


Tingkat 0 : fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa ceddera jaringan

b)

lunak sekitarnya.
Tingkat 1 : fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan

c)

subkutan.
Tingkat 2 : fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak

d)

bagian dalam dan pembengkakan.


Tingkat 3
: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata
ddan ancaman sindroma kompartement.
Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara

2)

hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya


perlukaan kulit. Fraktur terbuka dibedakan menjadi beberapa grade yaitu :
a) Grade I
: luka bersih, panjangnya kurang dari 1 cm.
b) Grade II
: luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang
c)
f.

ekstensif.
Grade III

: sangat terkontaminasi, dan mengalami kerusakan

jaringan lunak ekstensif.


Berdasar bentuk garis fraktur dan hubungan dengan mekanisme trauma :
1)
Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan
2)

merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.


Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut

3)

terhadap sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasijuga.


Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang

4)

disebabkan trauma rotasi.


Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang

5)

mendorong tulang ke arah permukaan lain.


Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi

otot pada insersinya pada tulang.


g.
Berdasarkan kedudukan tulangnya :
1)
Tidak adanya dislokasi.
2)
Adanya dislokasi
3. Tanda dan Gejala
a. Nyeri
Terjadi karena adanya spasme otot tekanan dari patahan tulang atu
kerusakan jaringan sekitarnya.
b. Bengkak
Bengkak muncul dikarenakan cairan serosa yang terlokalisir pada daerah
fraktur dan ekstravasi daerah jaringan sekitarnya.

c. Memar
Terjadi karena adanya ekstravasi jaringan sekitar fraktur.
d. Spasme otot
Merupakan kontraksi involunter yang terjadi disekitar fraktur.
e. Gangguan fungsi
Terjadi karena ketidakstabilan tulang yang fraktur,nyeri atau spasme otot,
paralysis dapat terjadi karena kerusakan syaraf.
f. Mobilisasi abnormal
Adalah pergerakan yang terjadi pada bagian yang pada kondisi
normalnya tidak terjadi pergerakan.
g. Krepitasi
Merupakan rasa gemeretak yang terjadi saat tulang digerakkan.
h. Deformitas
Abnormal posisi tulang sebagai hasil dari kecelakaan atau trauma dan
pergerakan otot yang mendorong fragmen tulang ke posisi abnormal, dan
menyebabkan tulang kehilangan bentuk normalnya.
4. Etiologi
Berikut ini merupakan beberapa penyebab fraktur, antara lain :
a. Cedera dan benturan seperti pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan
punter mendadak, kontraksi otot ekstrim.
b. Kekerasan langsung; Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada
titik terjadinya kekerasan. Fraktur demikian sering bersifat fraktur terbuka
dengan garis patah melintang atau miring.
c. Kekerasan tidak langsung: Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah
tulang ditempat yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah
biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor
kekerasan.
d. Kekerasan akibat tarikan otot : Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang
terjadi. Kekuatan dapat berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan
penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan penarikan
e. Letih karena otot tidak dapat mengabsorbsi energi seperti berjalan kaki
terlalu jauh.
f. Kelemahan tulang akibat penyakit kanker atau osteoporosis pada fraktur
patologis. Fraktur patologik yaitu fraktur yang terjadi pada tulang
disebabkan oleh melelehnya struktur tulang akibat proses patologik. Proses
patologik dapat disebabkan oleh kurangnya zat-zat nutrisi seperti vitamin D,
kaslsium, fosfor, ferum. Factor lain yang menyebabkan proses patologik

adalah akibat dari proses penyembuhan yang lambat pada penyembuhan


fraktur atau dapat terjadi akibat keganasan.
Menurut Sachdeva dalam Jitowiyono dkk (2010: 16), penyebab fraktur dapat
dibagi menjadi tiga yaitu :
1) Cedera traumatic
a) Cedera langsung, berarti pukulan langsung pada tulang sehingga
tulang patah secara spontan.
b) Cedera tidak langsung, berarti pukulan langsung berada jauh dari
benturan, misalnya jatuh dengan tangan menjulur dan menyebabkan
fraktur klavikula.
c) Fraktur yang disebabkan kontraksi keras dari otot yang kuat.
2) Fraktur patologik
Fraktur patologik yaitu fraktur yang terjadi pada tulang disebabkan oleh
melelehnya struktur tulang akibat proses patologik. Proses patologik
dapat disebabkan oleh kurangnya zat-zat nutrisi seperti vitamin D,
kaslsium, fosfor, ferum. Factor lain yang menyebabkan proses patologik
adalah akibat dari proses penyembuhan yang lambat pada penyembuhan
fraktur atau dapat terjadi akibat keganasan. Dalam hal ini kerusakan
tulang akibat proses penyakit, dimana dengan trauma minor dapat
mengakibatkan fraktur, dapat juga terjadi pada keadaan :
a) Tumor tulang (jinak atau ganas).
b) Infeksi seperti osteomielitis.
c) Rakhitis, suatu penyakti tulang yang disebabkan oleh devisiensi
vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain.
3) Secara spontan, disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus
misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas di kemiliteran.
5. Patofisiologi
Sewaktu tulang patah perdarahan biasanya terjadi di sekitar tempat patah
dan ke dalam jaringan lunak sekitar tulang tersebut, jaringan lunak juga biasanya
mengalami kerusakan. Reaksi peradangan biasanya timbul hebat setelah fraktur.
Sel-sel darah putih dan sel mast berakumulasi menyebabkan peningkatan aliran
darahketempat tersebut. Fagositosis dan pembersihan sisa-sisa sel mati dimulai.
Di tempat patah terbentuk fibrin (hematoma fraktur) dan berfungsi sebagai jalajala untuk melekatkan sel-sel baru. Aktivitas osteoblast terangsang dan terbentuk
tulang baru imatur yang disebut callus. Bekuan fibrin direabsorbsi dan sel-sel

tulang baru mengalami remodeling untuk membentuk tulang sejati. (Carpenito


2000:50)
Insufisiensi pembuluh darah atau penekanan serabut saraf yang berkaitan
dengan pembengkakan yg tidak ditangani dapat menurunkan asupan darah ke
ekstremitas dan mengakibatkan kerusakan saraf perifer. Bila tidak terkontrol
pembengkakan dapat mengakibatkan peningkatan tekanan jaringan, oklusi darah
total dapat berakibat anoksia jaringanyg mengakibatkan rusaknya serabut saraf
maupun jaringan otot. Komplikasi ini dinamakan sindrom kompartemen
(Brunner & suddarth, 2002: 2387).
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekeuatan dan gaya
pegas untuk menahan tekanan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih
besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang
mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. Setelah terjadi
fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan
jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena
kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang.
Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang
mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai
denagn vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih.
Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya
(Doenges, 2000:629).
Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur
a. Faktor Ekstrinsik
Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung
terhadap besar, waktu, dan arah tekanan yang dapat menyebabkan
fraktur.
b. Faktor Intrinsik
Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya tahan
untuk timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan,
elastisitas, kelelahan, dan kepadatan atau kekerasan tulang.
Tahap Penyembuhan Tulang
1) Hematom :
a. Dalam 24 jam mulai pembekuan darah dan haematom
b. Setelah 24 jam suplay darah ke ujung fraktur meningkat
c. Haematom ini mengelilingi fraktur dan tidak diabsorbsi selama
penyembuhan tapi berubah dan berkembang menjadi granulasi.
2) Proliferasi sel :

a. Sel-sel dari lapisan dalam periosteum berproliferasi pada sekitar


fraktur
b. Sel ini

menjadi

prekusor

dari

osteoblast,

osteogenesis

berlangsung terus, lapisan fibrosa periosteum melebihi tulang.


Beberapa hari Trauma
di periosteum
meningkat denganKondisi
fase granulasi
patologis
Traumac.langsung
tdk langsung
membentuk collar di ujung fraktur.
3) Pembentukan callus :
a. Dalam 6-10 hari setelahFraktur
fraktur, jaringan granulasi berubah dan
terbentuk callus.
b. Terbentuk kartilago dan matrik tulang berasal dari pembentukan
Diskontinuitas tulang

Pergeseran fragmen tlg

Nyeri Akut

callus.
c. Callus menganyam massa tulang dan kartilago sehingga diameter

tulang melebihi normal.


Kerusakan fragmen tlg
d. Hal ini melindungi fragmen tulang tapi tidak memberikan

Perubahan jaringan sekitar

kekuatan, sementara itu terus meluas melebihi garis fraktur.


4) Ossification
Pergeseran fragmen
tulang
Spasme
otot
Tekanan
tulang
lbh tinggi dari kapil
a. Callus
yang menetap
menjadi
tulang sumsum
kaku karena
adanya
penumpukan garam kalsium dan bersatu di ujung tulang.
b.
dimulai daritek
callus
bagian luar, kemudian bagian
DeformitasProses ossifikasi
Peningkatan
kapiler

Melepaskan katekolamin

dalam dan berakhir pada bagian tengah


c. Proses ini terjadi selama 3-10 minggu.
Ggn fungsi ekstermitas
Pelepasan histamin
Metabolisme asam lemak
5) Consolidasi dan Remodelling
a. Terbentuk tulang yang berasal dari callus dibentuk dari aktivitas
Hambatan mobilitas
fisik
osteoblast

plasma hilang
dan Protein
osteoklast.

Laserasi kulit

Edema

Bergabung dg trombosit

Emboli

Penekanan pembuluh darahMenyumbat pembuluh darah

6. Pathway
Mengenai
jaringan kutis dan sub kutis

Ketidakefektifan
perfusi jaringan perife
Kerusakan integritas
kulit

Perdarahan
Resiko Infeksi

Operasi volume cairan


Kehilangan
Kurang Pengetahuan
Resiko syok (hipovolemik)

Defisit Perawatan Diri


Ansietas

7. Komplikasi
a. Komplikasi Akut
1) Infeksi
Infeksi terjadi karena adanya kontaminasi kuman pada fraktur terbuka
atau pada saat pembedahan dan mungkin pula disebabkan oleh
pemasangan alat seperti plate, paku pada fraktur.
2) Emboli Lemak
Saat fraktur, globula lemak masuk ke dalam darah karena tekanan
sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler. Globula lemak akan
bergabung dengan trombosit dan membentuk emboli yang kemudian
menyumbat pembuluh darah kecil, yang memasok ke otak, paru, ginjal,
dan organ lain.
3) Sindrom Kompartemen
Masalah yang terjadi saat perfusi jaringan dalam otot kurang dari yang
dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. Berakibat kehilangan fungsi
ekstermitas permanen jika tidak ditangani segera.
4) Syok

Syok hipovolemik akibat perdarahan dan kehilangan cairan ekstrasel ke


jaringan yang rusak sehingga terjadi kehilangan darah dalam jumlah
besar akibat trauma.
b. Komplikasi Kronis
1) Mal Union
Malunion adalah keadaan dimana fraktur menyembuh pada saatnya,
tetapi terdapat deformitas yang terbentuk angulasi, varus / valgus, rotasi,
kependekan atau union secara menyilang misalnya pada fraktur radius
dan ulna. Pada foto roentgen terdapat penyambungan fraktur tetapi pada
posisi yang tidak sesuai dengan keadaan yang normal. Etiologi mal union
adalah fraktur tanpa pengobatan, pengobatan yang tidak adekuat, reduksi
dan imobilisasi yang tidak baik, pengambilan keputusan serta teknik
yang salah pada awal pengobatan, dan osifikasi premature pada lempeng
epifisis karena adanya trauma. Gambaran klinis dari malunion antara lain
deformitas dengan bentuk yang bervariasi, gangguan fungsi anggota
gerak, nyeri dan keterbatasan pergerakan sendi, ditemukan komplikasi
seperti paralysis tardi nervus ulnaris , osteoarthritis apabila terjadi pada
daerah sendi , dan bursitis atau nekrosis kulit pada tulang yang
mengalami deformitas
2) Delayed union
Delayed union adalah fraktur yang tidak sembuh setelah selang waktu 3
-5 bulan (3 bulan untuk anggota gerak atas dan 5 bulan untuk anggota
gerak bawah). Pada pemeriksaan radiologist tidak ada gambaran tulang
baru pada ujung daerah fraktur, gambaran kista pada ujung ujung
tulang karena adanya dekalsifikasi tulang, dan gambaran kalus yang
kurang disekitar fraktur. Etiologi delayed union sama dengan non union,
antara lain vaskularisasi pada ujung ujung fragmen yang kurang,
reduksi yang tidak adekuat, imobilisasi yang tidak adekuat sehingga
terjadi gerakan pada kedua fragmen, waktu imobilisasi yang tidak cukup,
infeksi, distraksi pada kedua ujung karena adanya traksi yang berlebihan,
interposisi jaringan lunak diantara kedua fragmen tulang, terdapat jarak
yang cukup besar antara kedua fragmen, destruksi tulang misalnya oleh
karena tumor atau osteomielitis (fraktur patologis), disolusi hematoma
fraktur oleh jaringan sinovia (fraktur intrakapsuler), kerusakan

periosteum yang hebat sewaktu terjadi fraktur atau operasi, fiksasi


interna yang tidak sempurna, pengobatan yang salah atau sama sekali
tidak dilakukan pengobatan, dan terdapat benda asing diantara kedua
fraktur, misalnya pemasangan screw diantara kedua fragmen. Gambaran
klinis dari delayed union adalah nyeri anggota gerak pada pergerakan
dan waktu berjalan, terdapat pembengkakan, nyeri tekan, terdapat
gerakan yang abnormal pada daerah fraktur, dan pertambahan
deformitas.
3) Non Union
Disebut nonunion apabila fraktur tidak menyembuh antara 6 8 bulan
dan tidak didapatkan konsolidasi sehingga didapat pseudoarthrosis (sendi
palsu). Pseudoarthrosis dapat terjadi tanpa infeksi tetapi dapat juga
terjadi sama sama dengan infeksi disebut infected pseudoarthrosis.
Pada pemeriksaan radiologi terdapat gambaran sklerotik pada ujung
ujung tulang, ujung ujung tulang berbentuk bulat dan halus, hilangnya
ruangan meduler pada ujung ujung tulang , salah satu ujung tulang
dapat berbentuk cembung dan sisi lainnya cekung (psedoarthrosis).
Etiologi dari non union sama dengan etiologi delayed union dan delayed
union yang tidak diobati. Gambaran klinis dari non union adalah nyeri
ringan atau sama sekali tidak ada, gerakan abnormal pada daerah fraktur
yang membentuk sendi palsu yang disebut pseudoarthrosis, nyeri tekan
atau sama sekali tidak ada, pembengkakan bisa ditemukan dan bisa juga
tidak terdapat pembengkakan sama sekali dan ada perabaan ditemukan
rongga diantara kedua fragmen. Terdapat dua jenin non union yang
terjadi menurut keadaan ujung-ujung fragmen tulang, yaitu:
a) Hipertrofik
Ujung ujung tulang bersifat sklerotik dan lebih besar dari normal
yang disebut gambaran elephants foot. Garis fraktur tampak dengan
jelas. Ruangan antar tulang diisi dengan tulang rawan dan jaringan
ikat fibrosa. Pada jenis ini vaskularisasinya baik sehingga biasanya
hanya diperlukan fiksasi yang rigid tanpa pemasangan bone graft.
b) Atrofik (Oligotrofik)
Tidak ada tanda-tanda aktivitas seluler pada ujung fraktur. Ujung
tulang lebih kecil dan bulat serta osteoporotik dan avaskular. Pada

jenis ini disamping dilakukan fiksasi rigid juga diperlukan


pemasangan bone graft.
8. Pemeriksaan Diagnostik
a. Sinar X : melihat gambaran terakhir atau mendekati struktur fraktur.
b. Venogram : menggambarkan arus vaskularisasi.
c. Konduksi saraf dan elektromiogram : mendeteksi cidera saraf.
d. Angiografi : berhubungan dengan pembuluh darah.
e. Antrotropi : mendeteksi keterlibatan sendi.
f. Radiografi : menentukan integritas tulang.
g. CT-Scan : memperlihatkan fraktur atau mendeteksi struktur fraktur.
9. Penatalaksanaan Medis
Empat tujuan utama dari penanganan fraktur adalah :
a. Untuk menghilangkan rasa nyeri
Nyeri yang timbul pada fraktur bukan karena frakturnya sendiri, namun
karena terluka jaringan disekitar tulang yang patah tersebut. Untuk
mengurangi nyeri tersebut, dapat diberikan obat penghilang rasa nyeri dan
juga dengan tehnik imobilisasi. Tehnik imobilisasi dapat dicapai dengan
cara:
1) Pembidaian : benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling tulang.
2) Pemasangan gips.
b. Untuk menghasilkan dan mempertahankan posisi yang ideal dari fraktur
Bidai dan gips tidak dapat mempertahankan posisi dalam waktu yang lama.
Untuk itu diperlukan lagi tehnik yang lebih mantap seperti pemasangan
traksi kontinyu, fiksasi eksternal, atau fiksasi internal tergantung dari jenis
frakturnya sendiri.
1) Penarikan (traksi)
Secara umum traksi dilakukan dengan menempatkan beban dengan tali
pada ekstermitas pasien. Tempat tarikan disesuaikan sedemikian rupa
sehingga arah tarikan segaris dengan sumbu panjang tulang yang patah.
Metode pemasangan traksi antara lain :
a) Traksi manual
Tujuannya adalah perbaikan dislokasi, mengurangi fraktur, dan pada
keadaan emergency.
b) Traksi mekanik, ada 2 macam :
Traksi kulit (skin traction) : dipasang pada dasar sistem skeletal
untuk sturktur yang lain misal otot. Digunakan dalam waktu 4

minggu dan beban < 5 kg.


Traksi skeletal : merupakan traksi definitif pada orang dewasa
yang

merupakan balanced

traction.

Dilakukan

untuk

menyempurnakan luka operasi dengan kawat metal / penjepit


melalui tulang / jaringan metal.
2) Dilakukan pembedahan untuk menempatkan piringan atau batang logam
pada pecahan-pecahan tulang
c. Agar terjadi penyatuan tulang kembali
Biasanya tulang yang patah akan mulai menyatu dalam waktu 4 minggu dan
akan menyatu dengan sempurna dalam waktu 6 bulan. Namun terkadang
terdapat gangguan dalam penyatuan tulang, sehingga dibutuhkan graft
tulang.
d. Untuk mengembalikan fungsi seperti semula
Imobilisasi yang lama dapat mengakibatkan mengecilnya otot dan kakunya
sendi. Maka dari itu diperlukan upaya mobilisasi secepat mungkin.

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian Keperawatan
a. Data Subjektif
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan,
untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-masalah klien
sehingga

dapat

memberikan

arah

terhadap

tindakan

keperawatan.

Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantuang pada tahap ini. Tahap


ini terbagi atas :
1) Pengumpulan Data
a) Anamnesa
1.
Identitas Klien
2.
Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa
nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya
serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang
rasa nyeri klien digunakan :
a.
Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang
b.

menjadi faktor presipitasi nyeri.


Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau
digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau

c.

menusuk.
Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah
rasa sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit
terjadi.

d.

Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang


dirasakan klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau klien
menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi

e.
3.
4.
5.
6.
7.

kemampuan fungsinya.
Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah

bertambah buruk pada malam hari atau siang hari.


Riwayat Penyakit Sekarang
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat Psikososial
Pola-Pola Fungsi Kesehatan
a. Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan terjadinya
kecacatan pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan
kesehatan untuk membantu penyembuhan tulangnya. Selain
itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien seperti
penggunaan

obat

steroid

yang

dapat

mengganggu

metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol yang bisa


mengganggu keseimbangannya dan apakah klien melakukan
olahraga atau tidak.
b. Pola Nutrisi
Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi
kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein,
vitamin C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan
tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu
menentukan

penyebab

masalah

muskuloskeletal

dan

mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat


terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari
yang

kurang

merupakan

faktor

predisposisi

masalah

muskuloskeletal terutama pada lansia. Selain itu juga obesitas


juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien.
c. Pola Eliminasi
Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola
eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi,
konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi
alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi,

kepekatannya, warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini


juga dikaji ada kesulitan atau tidak.
d. Pola Tidur dan Istirahat
Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak,
sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur
klien. Selain itu juga, pengkajian dilaksanakan pada lamanya
tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur
serta penggunaan obat tidur.
e. Pola Aktivitas
Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua
bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien
perlu banyak dibantu oleh orang lain. Hal lain yang perlu
dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien.
Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk
terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang lain
f. Pola Hubungan dan Peran
Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam
masyarakat. Karena klien harus menjalani rawat inap
g. Pola Persepsi dan Konsep Diri
Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul
ketidakutan akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas,
rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara
optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah
(gangguan body image).
h. Pola Sensori dan Kognitif
Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada
bagian distal fraktur, sedang pada indera yang lain tidak
timbul gangguan. begitu juga pada kognitifnya tidak
mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri akibat
fraktur
i. Pola Reproduksi Seksual
Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa melakukan
hubungan seksual karena harus menjalani rawat inap dan
keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami klien. Selain
itu juga, perlu dikaji status perkawinannya termasuk jumlah
anak, lama perkawinannya
j. Pola Penanggulangan Stress

Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya,


yaitu ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi
tubuhnya. Mekanisme koping yang ditempuh klien bisa tidak
efektif.
k. Pola Tata Nilai dan Keyakinan
Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan
beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi.
Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak
klien.
b. Data Objektif
1) Pemeriksaan Fisik
Dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status generalisata) untuk
mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokalis).
a) Keadaan umum : baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda,
seperti :
1. Kesadaran penderita : apatis, sopor, koma, gelisah, komposmentis
tergantung pada keadaan klien.
2. Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat
dan pada kasus fraktur biasanya akut.
3. Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi
b)

maupun bentuk.
Pemeriksaan head-to-toe :
1. Kepala
Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak ada
penonjolan, tidak ada nyeri kepala
2. Mata
Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis (karena
tidak terjadi perdarahan).
3. Hidung
Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung.
4. Telinga
Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi
atau nyeri tekan.
5. Mulut dan Gigi
Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan, mukosa
mulut tidak pucat.
6. Leher
Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan, reflek
menelan ada.
7. Thoraks

Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris.


8. Paru
a. Inspeksi
Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung pada
riwayat penyakit klien yang berhubungan dengan paru.
b. Palpasi
Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama.
c. Perkusi
Suara ketok sonor, tak ada erdup atau suara tambahan lainnya.
d. Auskultasi
Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara tambahan
lainnya seperti stridor dan ronchi.
9. Jantung
a. Inspeksi
Tidak tampak iktus jantung.
b. Palpasi
Nadi meningkat, iktus tidak teraba.
c. Auskultasi
Suara S1 dan S2 tunggal, tak ada mur-mur.
10. Abdomen
a. Inspeksi
Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.
b. Palpasi
Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak teraba.
c. Perkusi
Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan.
d. Auskultasi
Peristaltik usus normal 20 kali/menit.
11. Inguinal-Genetalia-Anus
Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada kesulitan
BAB.
12. Kulit
Terdapat erytema, suhu sekitar daerah trauma meningkat, bengkak,
oedema, nyeri tekan.
13. Ekstermitas
Kekuatan otot, adanya oedema atau tidak, suhu akral, dan ROM.
2) Pemeriksaan Penunjang
a) Pemeriksaan Radiologi
b) Pemeriksaan Laboratorium
1. Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap
penyembuhan tulang.

2. Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan


kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang.
3. Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase
(LDH-5), Aspartat Amino Transferase (AST), Aldolase yang
c)

meningkat pada tahap penyembuhan tulang.


Pemeriksaan lain-lain
1. Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas :
didapatkan mikroorganisme penyebab infeksi.
2. Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan
pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi.
3. Elektromyografi : terdapat kerusakan konduksi saraf yang
diakibatkan fraktur.
4. Arthroscopy : didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek
karena trauma yang berlebihan.
5. Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi
pada tulang.
6. MRI : menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera.
b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidaknyamanan,
kerusakan muskuloskletal, dan penurunan kekuatan/tahanan.
c. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan cedera tusuk, fraktur
terbuka, bedah perbaikan, pemasangan traksi pen, imobilisasi fisik.
d. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan keterbatasan kognitif, kurang terpajan/mengingat,
salah interpretasi informasi.
e. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman kecacatan/ kematian.
f. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan
primer, kerusakan kulit, trauma jaringan, prosedur invasive.
g. Defisit perawatan diri berhubungan dengan (makan, mandi, berpakaian,
toileting) berhubungan dengan trauma / injuri.
h. Resiko syok hipovolemik.
i. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan nyeri
ekstermitas.
3. Perencanaan Keperawatan
No

Diagnosa

Tujuan dan Kriteria Hasil

.
1.

Keperawatan
Nyeri
akut NOC :

Intervensi
NIC:

berhubungan
dengan agen cidera

Pain level
Pain management
Pain control
a. Lakukan pengkajian nyeri secara
Comfort level
komprehensif termasuk lokasi,
Kriteria Hasil
a. Mampu mengontrol nyeri
karakteristik, durasi, frekuensi,
(tahu

penyebab

mampu
tehnik

nyeri,

menggunakan
nonfarmakologi

untuk mengurangi nyeri,


mencari bantuan)
b. Melaporkan bahwa nyeri
berkurang

dengan

menggunakan

kualitas dan faktor presipitasi


b. Observasi reaksi nonverbal dari
ketidaknyamanan
c. Gunakan tehnik
terapeutik

komunikasi

untuk

mengetahui

pengalaman nyeri pasien


d. Kaji kultur yang mempengaruhi
respon nyeri
e. Evaluasi pengalaman nyeri masa

managemen nyeri
lampau
c. Mampu mengenali nyeri f. Evaluasi bersama pasien dan tim
(skala,
frekuensi

intensitas,
dan

tanda

kesehatan

lain

ketidakefektifan

tentang

kontrol

nyeri

nyeri)
masa lampau
d. Menyatakan rasa nyaman g. Bantu pasien dan keluarga untuk
setelah nyeri berkurang

mencari

dan

menemukan

dukungan
h. Kontrol lingkungan yang dapat
mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan,

pencahayaan

dan

kebisingan
i. Kurangi faktor presipitasi nyeri
j. Pilih dan lakukan penanganan
nyeri

(farmakologi,

nonfarmakologi

dan

interpersonal)
k. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
menentukan intervensi
l. Ajarkan
tentang

teknik

nonfarmakologi
m. Berikan
analgetik

untuk

mengurangi nyeri
n. Evaluasi keefektifan

kontrol

nyeri
o. Tingkatkan istrihat
p. Kolaborasikan dengan

dokter

jika ada keluhan dan tindakan


nyeri tidak berhasil
q. Monitor
penerimaan

pasien

tentang manajemen nyeri


Analgesic administration
a. Tentukan
lokasi,
karakter,
kualitas,

dan

derajat

nyeri

sebelum pemberian obat


b. Cek intruksi dokter tentang jenis
obat, dosi, dan frekuensi
c. Cek riwayat alergi
d. Pilih analgesic yang diperlukan
atau kombinasi dari analgesic
ketika pemberian lebih dari satu
e. Tentukan
pilihan
analgesic
tergantung tipe dan beratnya
nyeri
f. Tentukan analgesic pilihan, rute
pemberian, dan dosis optimal
g. Pilih rute pemberian secara IV,
IM

untuk

pengobatan

nyeri

secara teratur
h. Monitor vital sign sebelum dan
sesudah

pemberian

anlgesik

pertama kali
i. Berikan analgesic tepat waktu
terutama saat nyeri hebat
j. Evalusi efektivitas analgesic,
2.

tanda dan gejala


NIC
Exercise therapy : ambulation
a. Monitoring
vital
sign

Hambatan mobilitas NOC:


Joint movement : active
fisik berhubungan
Mobility level
dengan
kekuatan Self care : ADLs
sebelum/sesudah latihan respon
Transfer perfoormance
dan
tahanan
Kriteria hasil:
pasien saat latihan
sekunder
akibat a. Klien meningkat dalam b. Konsultasikan dengan terapi fisik

fraktur

aktivitas fisik
b. Mengerti tujuan

tentang rencana ambulansi sesuai


dari

peningkatan mobilitas
c. Memverbalisasikan
perasaan

tongkat saat berjalan dan cegah


terhadap cidera
d. Ajarkan pasien

dalammeningkatkan
kekuatan dan kemampuan
berpindah
d. Memperagakan
penggunaan

dengan kebutuhan
c. Bantu klien untuk menggunakan

atau

tenaga

kesehatan lain tentang teknik


ambulansi
e. Kaji kemampuan pasien dalam

alat

bantu

untuk mobilisasi (walker)

mobilisasi
f. Latih pasien dalam pemenuhan
kebutuhan ADLs secara mandiri
sesuai kemampuan
g. Damping dan bantu pasien saat
mobilisasi dan bantu penuhi
kebutuhan ADLs pasien
h. Berikan alat bantu jika pasien
memerlukan
i. Ajarkan
pasien
merubah

3.

Resiko infeksi

NOC
Immune status
Knowledge
:

posisi

bagaimana
dan

berikan

bantuan jika diperlukan


NIC
Infection Control
infection a. Bersihkan lingkungan

setelah

control
dipakai pasien lain
Risk control
b. Pertahankan teknik isolasi
Kriteria hasil
c. Batasi pengunjung bila perlu
a. Klien bebas dari tanda d. Instruksikan pada pengunjung
dan gejala infeksi
b. Mendeskripsikan proses
penularann
factor

yang

serta penatalaksanaannya
c. Menunjukkan
mencegah

mencuci

tangan

saat

berkunjung meninggalkan pasien


penyakit, e. Gunakan sabun antimikroba

mempengaruhi penularan

kemampuan

untuk

untuk
timbulnya

untuk cuci tangan


f. Cuci tangan setiap sebelum dan
sesudah tindakan keperawatan
g. Gunakan baju, sarung tangan
sebagai alat penlindung
h. Pertahankan lingkunan aseptic
selama pemasangan alat

infeksi
d. Jumlah

i. Ganti letak IV perifer dan line


leukosit

batas normal
e. Menunjukkan
hidup sehat

dalam
perilaku

central

dan

dressing

sesuai

dengan petunjuk umum


j. Gunakan kateter intermiten untuk
menurunkan

infeksi

kandung

kencing
k. Tingkatkan intake nutrisi
l. Berikan terapi antibiotic bila
perlu
Infection protection
a. Monitor tanda dan gejala infeksi
sistemik dan local
b. Monitor hitung granulosit, WBC
c. Monitor kerentanan terhadap
infeksi
d. Batasi pengunjung
e. Pertahankan teknik aspesis pada
pasien yang beresiko
f. Pertahankan teknik isolasi k/p
g. Berikan perawatan kulit pada
area epidema
h. Inspeksi kulit dan membrane
mukosa
i. Terhadap kemerahan, panas, dan
drainase
j. Inspeksi

kondisi

luka/insisi

bedah
k. Dorong masukkan nutrisi yang
cukup
l. Dorong masukan cairan
m. Dorong istirahat
n. Instruksikan pasien untuk minum
antibiotic sesuai resep
o. Ajarkan pasien dan keluarga

4.

Resiko
hipovolemik

syok NOC
Syok prevention
Syok management

tanda dan gejala infeksi


p. Ajarkan cara menghindari infeksi
q. Laporkan kecurigaan infeksi
r. Laporkan kultur positif
NIC
Syok prevention
a. Monitor status sirkulasi BP,

Kriteria hasil
a. Nadi dalam batas yang
diharapkan
b. Irama jantung

dalam

warna kulit, suhu kulit, denyut


jantung, HR, dan ritme, nadi
perifer, dan kapiler refill
b. Monitor
tanda
inadekuat

batas yang diharapkan


c. Frekunsi napas dalam

oksigenasi jaringan
c. Monitor suhu dan pernafasan
batas yang diharapkan
d. Monitor input dan output
d. Irama pernapasan dalam e. Pantau nilai labor:
HB, HT, AGD, dan elektrolit
batas yang diharapkan
f. Monitor hemodinamik invasi
e. Natrium serum dbn
f. Kalium serum dbn
yang sesuai
g. Klorida serum dbn
g. Monitor tanda dan gejala asites
h. Kalsium serum dbn
h. Monitor tanda awal syok
i. Magnesium serum dbn
i. Tempatkan pasien pada posisi
j. PH darah serum dbn
supine, kaki elevasi untuk
Hidrasi
Indicator
peningkatan preload dengan tepat
a. Mata
cekung
tidak j. Lihat dan pelihara kepatenan
ditemukan
b. Demam tidak ditemukan
c. TD dbn
d. Hematokrit dbn

jalan napas
k. Berikan cairan IV dan atau oral
yang tepat
l. Berikan vasodilator yang tepat
m. Ajarkan keluarga dan pasien
tentang

tanda

dan

gejala

datangnya syok
n. Ajarkan keluarga dan pasien
tentang langkah untuk mengatasi
gejala syok
Syok management
a. Monitor fungsi neurologis
b. Monitor fungsi renal (e.g BUN
dan Cr Lavel)
c. Monitor tekanan nadi
d. Monitor status cairan, input,
output
e. Catat gas

darah

arteri

dan

oksigen di jaringan
f. Monitor EKG
g. Memanfaatkan pemantauan jalur
arteri

untuk

meningkatkan

akurasi pembacaan tekanan darah

h. Menggambarkan gas darah arteri


dan

memonitor

jaringan

oksigenasi
i. Memantau tren dalam parameter
hemodinamik (misalnya CPV,
MAP,

tekanan

pulmonal/arteri)
j. Memantau
factor
pengiriman

jaringan

(misalnya

PaO2

kapiler
penentu
oksigen
kadar

haemoglobin SaO2, CO) jika ada


k. Memantau
tingkat
karbondioksida
5.

sublingual

dan/atau tonometry
NOC
NIC
Circulation status
Peripheral sensation management
perfusi
jaringan
Tissue perfusion : cerebral
a. Monitor adanya daerah tertentu
perifer
Kriteria hasil
yang hanya peka terhadap
Mendemonstrasikan
status
berhubungan
panas/dingin/tajam/tumpul
sirkulasi
yang
ditandai
dengan
nyeri
b. Monitor adanya paretese
dengan:
c. Instruksikan keluarga untuk
ekstermitas
a. Tekanan systole dan
mengobservasi kulit jika ada lesi
diastole dalam rentang
atau laserasi
yang diharapkan
d. Gunakan sarung tangan untuk
b. Tidak
ada
ortostatik
proteksi
hipertensi
e. Batasi gerakan pada kepala,
c. Tidak ada tanda-tanda
leher, dan punggung
peningkatan
tekanan f. Monitor kemampuan BAB
g. Kolaborasi pemberian analgetik
intracranial (tidak lebih
h. Monitor adanya tromboplebitis
dari 15 mmHg)
i. Diskusikan mengenai penyebab
Mendemonstrasikan
perubahan sensasi
kemampuan kognitif yang
Ketidakefektifan

ditandai dengan:
a. Berkomuniakasi

dengan

jelas adn sesuai dengan


kemampuan
b. Menunjukkan

perhatian,

konsentrasi dan orientasi


c. Memproses informasi
d. Membuat
keputusan
dengan benar
e. Menunjukkan
sensori
yang

fungsi

motori
utuh

cranial
tingkat

kesadaran membaik, tidak


ada
6.

Kerusakan
integritas

kulit

gerakan-gerakan

involunter
NOC
Tissue integrity : skin and

NIC
Pressure management
a. Anjurkan
pasien

untuk
mucous membranes
Hemodyalisis akses
menggunakan pakaian yang
dengan imobilisasi Kriteria hasil
longgar.
a. Integritas kulit yang baik
fisik
b. Hindari kerutan pada tempat
bisa
dipertahankan
tidur
(sensai,
elastisitas, c. Jaga kebersihan kulit agar tetap
berhubungan

temperature,

hidrasi,

pigmentasi)
b. Tidak ada luka/lesi pada
kulit
c. Perfusi jaringan baik
d. Menunjukkan

mencegah

kulit

pasien) setiap dua jam sekali


e. Monitor kulit akan adanya
kemerahan.
f. Oleskan lotion atau minyak/baby

pemahaman dalam proses


perbaikan

bersih dan kering.


d. Mobilisasi pasien (ubah posisi

dan

terjadinya

cedera berulang
e. Mampu melindungi kulit

oil pada daerah yang tertekan


g. Monitor aktivitas dan mobilisasi
pasien
h. Monitor status nutrisi pasien
i. Memandikan pasien dengan

sabun dan air hangat


mempertahankan Insision site care
a. Membersihkan, memantau dan
kelembaban
kulit
meningkatkan
proses
perawatan alami
penyembuhan pada luka yang
dan

ditutup dengan jahitan, klip atau


straples
b. Monitor proses kesembuhan area
insisi

c. Monitor tanda dan gejala infeksi


pada area insisi
d. Bersihkan area sekitar jahitan
atau straples, menggunakan lidi
kapas steril
e. Gunakan preparat
sesuai program
f. Ganti balutan

antiseptic

pada

interval

waktu yang sesuai atau biarkan


luka tetap terbuka (tidak dibalut)
7

NOC :
Kowlwdge : disease process
Kowledge : health Behavior

Kurang
pengetahuan
tentang

kondisi, Kriteria Hasil :


prognosis
dan
a. Pasien dan keluarga
kebutuhan
menyatakan pemahaman
pengobatan
berhubungan

tentang penyakit, kondisi,

dengan

prognosis dan program

keterbatasan
kognitif,

kurang

terpajan/mengingat
, salah interpretasi
informasi.

pengobatan
b. Pasien dan keluarga
mampu melaksanakan
prosedur yang dijelaskan
secara benar
c. Pasien dan keluarga
mampu menjelaskan
kembali apa yang
dijelaskan perawat/tim
kesehatan lainnya

sesuai program
NIC :
Teaching : disease Process
a. Berikan penilaian tentang
tingkat pengetahuan pasien
tentang proses penyakit yang
spesifik
b. Jelaskan patofisiologi dari
penyakit dan bagaimana hal ini
berhubungan dengan anatomi
dan fisiologi, dengan cara yang
tepat.
c. Gambarkan tanda dan gejala
yang biasa muncul pada
penyakit, dengan cara yang
tepat
d. Gambarkan proses penyakit,
dengan cara yang tepat
e. Identifikasi kemungkinan
penyebab, dengna cara yang
tepat
f. Sediakan informasi pada pasien
tentang kondisi, dengan cara
yang tepat
g. Hindari harapan yang kosong
h. Sediakan bagi keluarga
informasi tentang kemajuan

pasien dengan cara yang tepat


i. Diskusikan perubahan gaya
hidup yang mungkin diperlukan
untuk mencegah komplikasi di
masa yang akan datang dan atau
proses pengontrolan penyakit
j. Diskusikan pilihan terapi atau
penanganan
k. Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second opinion
dengan cara yang tepat atau
diindikasikan
l. Eksplorasi kemungkinan
sumber atau dukungan, dengan
cara yang tepat
m. Rujuk pasien pada grup atau
agensi di komunitas lokal,
dengan cara yang tepat
n. Instruksikan pasien mengenai
tanda dan gejala untuk
melaporkan pada pemberi
perawatan kesehatan, dengan
cara yang tepat
8

Defisit

perawatan NOC :
NIC :
Self care : Activity of Daily Self Care assistane : ADLs
diri
berhubungan
Living (ADLs)
a. Monitor kemempuan klien
dengan : penurunan
untuk perawatan diri yang
Setelah dilakukan tindakan
mandiri.
atau
kurangnya
keperawatan selama . b. Monitor kebutuhan klien untuk
motivasi, hambatan Defisit perawatan diri teratas
alat-alat bantu untuk kebersihan
dengan kriteria hasil:
diri,
berpakaian,
berhias,
lingkungan,
a. Klien terbebas dari bau
toileting dan makan.
kerusakan
badan
c. Sediakan bantuan sampai klien
b. Menyatakan
mampu secara utuh untuk
muskuloskeletal,
kenyamanan
terhadap
melakukan self-care.
kerusakan
kemampuan
untuk d. Dorong klien untuk melakukan
melakukan ADLs
aktivitas
sehari-hari
yang
neuromuskular,
normal sesuai kemampuan yang

nyeri,

kerusakan

persepsi/

kognitif,

c. Dapat melakukan ADLS


dengan bantuan

kecemasan,
kelemahan

dan

kelelahan.

dimiliki.
e. Dorong untuk melakukan secara
mandiri, tapi beri bantuan ketika
klien
tidak
mampu
melakukannya.
f. Ajarkan klien/ keluarga untuk
mendorong kemandirian, untuk
memberikan bantuan hanya jika
pasien tidak mampu untuk
melakukannya.
g. Berikan aktivitas rutin seharihari sesuai kemampuan.
h. Pertimbangkan usia klien jika
mendorong pelaksanaan
aktivitas sehari-ha

Kecemasan
berhubungan
dengan
Faktor keturunan,
Krisis situasional,
Stress, perubahan
status
kesehatan,
ancaman kematian,
perubahan konsep
diri,
kurang
pengetahuan
dan
hospitalisasi

NOC :
Anxiety control
Fear control
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama......takut
klien teratasi dengan kriteria
hasil :
a. Memiliki
informasi
untuk mengurangi takut
b. Menggunakan
tehnik
relaksasi
c. Mempertahankan
hubungan sosial dan
fungsi peran
d. Mengontrol respon takut

4. Implementasi

NIC:
Coping Enhancement
a. Jelaskan pada pasien tentang
proses penyakit
b. Jelaskan semua tes dan
pengobatan pada pasien dan
keluarga
c. Sediakan
reninforcement
positif
ketika
pasien
melakukan perilaku untuk
mengurangi takut
d. Sediakan perawatan yang
berkesinambungan
e. Kurangi stimulasi lingkungan
yang dapat menyebabkan
misinterprestasi
f. Dorong
mengungkapkan
secara
verbal
perasaan,
persepsi dan rasa takutnya
g. Perkenalkan dengan orang
yang mengalami penyakit
yang sama
h. Dorong
klien
untuk
mempraktekan
tehnik
relaksasi

Pelaksanaan merupakan tindakan mandiri dasar berdasarkan ilmiah, masuk akal


dalam melaksanakan yang bermanfaat bagi klien yang diantisipasi berhubungan
dengan duagnosa keperawatan dan tujuan yang telah ditetapkan (Bulechek and Mc.
Closkey, 1985). Pelaksanaan merupakan pengelolaan dan perwujudan dari rencana
keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan. Tindakan keperawatan
yang dilakukan pada klien dapat berupa tindakan mandiri maupun kolaborasi.
5. Evaluasi
a. Menyatakan nyeri hilang
b. Menunjukan sikap santai
c. Menunjukan keterampilan penggunaan relaksasi dan aktifitas terapeutik sesuai
indikasi untuk situasi individu.
d. Meningkatkan/mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang
mungkin.
e. Mempertahankan posisi fungsional.
f. Meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh.
g. Menunjukan teknik yang memampukan melakukan aktivitas.

DAFTAR PUSTAKA

Filipe,

Malives.

2015.

Pengertian.

Dalam

https://www.academia.edu/9364600/PENGERTIAN. Diakses pada 20


Mei 2016.
Gunawan, Hendri. Fraktur. Dalam : https://www.academia.edu/9034780/Fraktur.
Diakses pada 20 Mei 2016..
Herdman, Heather. 2012. Nanda International Nursing Diagnoses: Definition
Classification 2012-2014. United State of America: Sheridan Books,
Inc.
Ircham Machfoedz, 2007. Pertolongan Pertama di Rumah, di Tempat Kerja,
atau di Perjalanan. Yogyakarta: Fitramaya
Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta:
Media Aesculapius
McCloskey, Joanne et al. 2008. Nursing Intervention Classification (NIC).
United State of America: Mosby
Moorhead, Sue et al. 2008. Nursing Outcome Clasification (NOC). United State
of America: Mosby
NANDA. 2012-2014, Nursing Diagnosis: Definitions and Classification,
Philadelphia, USA
Wilkinson, J.M., & Ahern N.R., 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan
Diagnosa NANDA Intervensi NIC Kriteria Hasil NOC. Edisi
Kesembilan. Jakarta : EGC