You are on page 1of 73

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah subhanahu wataala


yang telah melimpahkan segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang merupakan salah satu tugas
kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran
Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Shalawat dan
salam senantiasa tercurah atas junjungan kita Rasulullah Muhammad
shollallahu 'alaihi wasallam, sebagai suritaula dan dalam kehidupan ini.
Dengan rahmat dan petunjukNya disertai usaha yang sungguhsungguh, doa, ilmu pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dan
pengalaman selama masa Kepaniteraan Klinik serta dengan arahan dan
bimbingan dokter pembimbing, maka skripsi yang berjudul Hubungan
Antara Intensitas Kebisingan Dengan Kejadian Gangguan Pendengaran
Akibat Bising Pada Karyawan Pabrik PT.Aneka Tambang Tbk UBPN
Pomalaa Sulawesi Tenggara ini akhirnya dapat terselesaikan.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam menyelesaikan
skripsi ini masih banyak kekurangan dan kelemahannya, hal ini
disebabkan karena terbatasnya kemampuan dan pengetahuan yang
dimiliki, namun tetap berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan
yang terbaik dan berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita
semua.

Dengan kerendahan hati, Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak


mungkin terwujud tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
perkenankan penulis menghaturkan terima kasih kepada:
1. Ayahanda tercinta H.S All Djabbar S.H, M.H dan Ibunda tercinta Hj.
Ramlah yang telah mengasuh, mendidik dan membimbing dengan
penuh kasih, serta saudara yang telah mendoakan dan memberikan
dorongan.
2. DR. dr. Sri Ramadhani. M. Kes selaku pembimbing yang dengan
kesediaan, keikhlasan, dan kesabaran meluangkan waktunya untuk
memberikan bimbingan dan

arahan

kepada

penulis

mulai

dari

penyusunan proposal sampai pada penulisan skripsi ini.


3. Staf pengajar Bagian IKM-IKK FK-Unhas yang telah memberikan
bimbingan dan arahan selama penulis mengikuti kepaniteraan klinik di
Bagian IKM-IKK FK-Unhas.
4. Dekan Fakultas Kedokteran Unhas, para Pembantu Dekan, staf
pengajar, dan seluruh karyawan yang telah memberikan bantuan dan
bimbingan kepada penulis selama mengikuti kepaniteraan klnik di FK
Unhas.
5. Kepala Dinas Kesehatan Kota Kolaka

Sulawesi

Tenggara

atas

bantuannya selama pelaksanaan penelitian ini.


6. Direktur

beserta PT.Aneka Tambang Tbk UBPN Pomalaa, Kepala

RS.Antam Pomalaa, Kepala bagian Hiperkes Antam Pomalaa dan

karyawan di bagian hiperkes yang telah membantu dalam pelaksanaan


penelitian ini.
7. Sahabat-sahabatku, Rekanrekan

mahasiswa kepaniteraan klinik,

yang telah banyak memberikan bantuan selama penulis melakukan


penelitian di bagian tingkat VI serta semua pihak yang tidak sempat
disebutkan satu persatu yang telah membantu penulis selama
penyusunan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih sangat jauh dari
kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik
dari semua pihak demi penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini
dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Makassar,

Maret 2016
Penulis

Jabar aljufri

SKRIPSI
FAKULTAS KEDOKTERAN INIVERSITAS HASANUDDIN
MARET 2016
Hubungan Antara Intensitas Kebisingan Dengan Kejadian Gangguan
Pendengaran Akibat Bising Pada Karyawan Pabrik PT.Aneka
Tambang UBPN Pomalaa Sulawesi Tenggara.
Jabar Aljufri, Sri Ramadhani
ABSTRAK
Latar Belakang : Gangguan pendengaran akibat bising atau noise
induced heraing loss (NIHL) adalah gangguan pendengaran akibat
pengaruh bising dalam waktu lama/kronik. Dilingkungan industri, NIHL
menduduki peringkat pertama dalam golongan penyakit akibat kerja.
Kebisingan bisa merusak sel rambut yang berada didalam organ Corti jika
intensitas kebisingan berada diatas nilai ambang batas dan dalam
jangkawaktu yang cukup lama. Pada area pabrik khususnya area Energy
Management ini memiliki tingkat intensitas diatas nilai ambang batas
(>100dB). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengatahui apakah ada
hubungan antara intensitas kebisingan dengan kejadian NIHL pada
karyawan pabrik PT.Aneka Tambang tbk UBPN Pomalaa berdasarakan
lama masa kerja, usia da tingkat pendidikan formal.
Metode Penelitian : penelitian ini adalah penelitian analitik dengan
pendekatan Cross sectional study pada karyawan pabrik PT. Aneka
Tambang tbk UBPN Pomalaa yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Sampel pada penelitian ini terdiri 224 sampel dengan metode
pengambilan Proporsional sampling.
Hasil Penelitian
: menunjukkan bahwa lama masa kerja dengan
intensitas kebisingan yang tinggi diatas nilai ambang batas (NAB) dapat
mempengaruhi terjadinya gangguan
pendengaran akibat bising (p
value=0.000) dimana dari 224 sampel terdapat 46 orang (20,5%) yang
mengalami gangguan pendengaran dan 178 orang (79,5%) tidak
mengalami gangguan pendengaran. Jika dilihat dari faktor usia dari hasil
analisis statistik juga terdapat hubungan untuk terjadinya gangguan
pendengaran akibat bising (p value=0.001) dengan prevalensi 40 tahun
sebanyak 10 (10,5%) dan > 40 tahun 36 (27,9%) tetapi hubungan antara
keduanya sangat lemah. Dan proporsi untuk tingkat kebisingan tidak
memiliki hubungan dengan kejadian gangguam pendengaran akibat bising
(p value=0.970)

Kesimpulan: Terdapat hubungan antara lama masa kerja (>10 tahun) dan
usia karyawan (>40 tahun) dengan kejadian gangguan pendengaran
akibat bising pada karyawan pabrik PT.Aneka Tambang tbk. Dan tidak
terdapat hubungan antara tingka intensitas kebisingan (>85dB) dengan
kejadian gangguan pendengaran akibat bising.
Kata Kunci: intensitas kebisingan, karyawan pabrik, lama masa kerja,
usia,

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL................................................................................

HALAMAN PENGESAHAN .................................................................

ii

HALAMAN PERSETUJUAN CETAK ..................................................

iv

KATA PENGANTAR .............................................................................

ABSTRAK ............................................................................................

viii

DAFTAR ISI ..........................................................................................

ix

DAFTAR GAMBAR ..............................................................................

xi

DAFTAR TABEL ...................................................................................

xii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................


A. Latar Belakang ......................................................................
B. Rumusan Masalah ................................................................
C. Tujuan Penelitian ...................................................................
D. Manfaat Penelitian ................................................................

1
4
4
5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..............................................................


A. Anatomi Telinga .....................................................................
B. Fisiologi Pendengaran ...........................................................
C. Tinjauan Umum Tentang Kebisingan ....................................
D. Etiologi...................................................................................
E. Pengukuran Kebisingan ........................................................
F. Nilai Ambang Batas ................................................................
G. Pembagian Bising .................................................................
H. Pengaruh Kebisingan Pada Pendengaran ...........................
I. Patofisiologi Bising ..................................................................
J. Diagnosis................................................................................
K. Penatalaksanaan ...................................................................
L. Prognosis................................................................................

6
8
9
11
12
13
15
16
19
20
22
25

BAB III KERANGKA KONSEP.............................................................


A. Dasar Pemikiran Variabel yang Diteliti ..................................
B. Kerangka Konsep ..................................................................
C. Definisi Operasional Variabel ................................................
D. Hipotesis Penelitian ...............................................................

26
27
27
29

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN..................................................


A. Jenis Penelitian .....................................................................
B. Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................
C. Populasi dan Sampel Penelitian ...........................................
D. Metode Pengumpulan Data ..................................................
E. Teknik Analisa Data ...............................................................
F. Jenis Data dan Instrumen Penelitian .....................................
G. Manajemen Penelitian ..........................................................
H. Etika Penelitian ......................................................................

30
30
31
31
31
33
34
35

BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN............................


A. Deskripsi Lokasi Penelitian ...................................................

37

BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN............................


A. Hasil Penelitian ......................................................................
B. Pembahasan .........................................................................

45
52

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN..................................................


A. Kesimpulan ............................................................................
B. Saran......................................................................................

57
57

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Anatomi Telinga ................................................................

Gambar 2.2 Kerusakan Sel-sel Rambut Koklea ...................................

20

Gambar 2.3 Audiogram Gangguan Pendengaran akibat bising ..........

22

DAFTAR TABEL

Tabel 6.1 Distribusi Karakteristik karayawan pabrik PT.Aneka Tambang


Tbk UBPN Pomalaa ............................................................

46

Tabel 6.2 Hubungan antara Intensitas kebisingan dengan kejadian


Gangguan pendengaran akibat bising pada karyawan pabrik
PT. Aneka
Tambang Tbk UBPN Pomalaa .............................................

49

Tabel 6.3 Hubungan antara lama masa kerja dengan kejadian Gangguan
pendengaran akibat bising/NIHL pada karyawan pabrik PT.
Aneka Tambang Tbk UBPN Pomalaa .................................

50

Tabel 6.4 Hubungan antara umur karyawan dengan kejadian Gangguan


pendengaran akibat bising/ NIHL pada karyawan pabrik PT.
Aneka Tambang Tbk UBPN Pomalaa .................................

51

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Kemajuan teknologi, penggunaan bahan kimia, perubahan sikap
dan perilaku, pengembang an sikap dan manajemen serta cara deteksi
lingkungan kerja, berpengaruh pada kesehatan dan kesela Amatan di
tempat kerja, yang tercermin pada peningkatan upaya pengenalan,
penilaian dan pengendalian aspek tersebut sebagai kegiatan perlindungan
bagi pekerja. Pendapat bahwa kejadian kecelakaan, timbulnya penyakit
atau peristiwa bencana lain yang mungkin dialami oleh pekerja
merupakan resiko yang harus dihadapi tanpa bisa dihindari, sekarang
mulai banyak ditinggalkan. Sebaliknya kegiatan hygiene perusahaan,
ergonomi, kesehatan dan keselamatan kerja yang mengupayakan
terciptanya tempat kerja yang aman nyaman dan higienis serta tenaga
kerja sehat, selamat dan produktif semakin dibutuhkan. 1
Dalam hubungan dengan industri, maka faktor yang paling
berbahaya bagi keutuhan faal pendengaran ialah suara bising (noise).
Bising industri sudah lama merupakan masalah yang sampai sekarang
belum bisa ditanggulangi secara baik sehingga dapat menjadi ancaman
serius bagi pendengaran para pekerja, karena dapat menyebabkan
kehilangan pendengaran yang sifatnya permanen. Sedangkan bagi pihak
industri, bising dapat menyebabkan kerugian ekonomi karena biaya ganti

rugi. Oleh karena itu untuk mencegahnya diperlukan pengawasan


terhadap pabrik dan pemeriksaan terhadap pendengaran para pekerja
secara berkala. 2
David Robert melaporkan bahwa bising di tempat kerja merupakan
masalah utama dalam kesehatan kerja di berbagai negara. Diperkirakan
sedikitnya 7 juta orang (35% dari total populasi) terpajan dengan bising
85 dBA. Ketulian yang terjadi dalam industri menduduki urutan pertama
dalam daftar penyakit akibat kerja di Amerika Serikat dan Eropa. Phoon W
melaporkan bahwa kelompok tenaga kerja yang terpajan bising selama
kerja memperlihatkan ketulian >20%. 3
Pada pertemuan konsultasi WHO-SEARO (South East Asia
Regional Office), menyebutkan bahwa kebisingan merupakan salah satu
yang menjadi masalah utama dalam penyebab terjadinya gangguan
pendengaran di Indonesia dan khususnya oleh kebisingan lingkungan
kerja. Dari hasil World Health Organisation (WHO) Multi Center Study
pada tahun 1998, Indonesia termasuk 4 negara di Asia tenggara dengan
prevalensi ketulian yang cukup tinggi (4,6%) dan WHO 2007 mengatakan
bahwa prevalensi ketulian di Indonesia masih mencapai 4,2%. Hal ini
tentu masih menimbulkan masalah sosial ditengah masyarakat. 4,5
Masalah kebisingan lingkungan kerjapun dialami pada perusahaan PT.
Antam

Tbk

Pomalaa,

khususnya

pada

lingkungan

kerja

pabrik.

Perusahaan ini telah berdiri sejak tahun 1960, yang bergerak disektor
pertambangan biji nikel, dimana proses pengelolaannya secara garis

besar melalui tiga tahap yaitu : tahap praolahan, tahap peleburan dan
tahap pemurnian. Pada setiap tahap pengolahan biji nikel tersebut,
menimbulkan

kebisingan

yang

bersifat

kontinue

dan

jika

tidak

ditanggulangi dengan baik bisa merusak reseptor pendengaran di organ


Corti yang pada akhirnya dapat menyebabkan ketulian sensorineural bila
paparan berlangsung terus-menerus.
Karyawan PT. Antam Tbk Pomalaa, khususnya yang bekerja di
lingkungan pabrik tentunya memiliki resiko untuk mengalami gangguan
pendengaran atau ketulian sensorineural karena berada pada lingkungan
yang memiliki intensitas kebisingan yang tinggi, human error dalam hal ini
ketidakpatuhan dalam penggunaan alat pelindung diri atau bisa juga
karena waktu paparan yang cukup lama.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Apakah ada hubungan antara intensitas kebisingan dengan kejadian
gangguan pendengaran akibat bising pada karyawan pabrik PT.Antam
Tbk?

1.3 TUJUAN PENELITIAN


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan intensitas kebisingan dengan kejadian
gangguan pendengaran akibat bising/Noice Induced Hearing Loss pada
karyawan pabrik PT. Antam Tbk.

1.3.2 Tujuan Khusus


Adapun tujuan khusus dalam penelitian ini adalah:
a. Untuk mengetahui intensitas kebisingan di tempat kerja karyawan
pabrik PT. Antam Tbk.
b. Untuk mengetahui tingkat gangguan pendengaran akibat bising pada
karyawan pabrik PT.Antam Tbk.
c. Untuk mengetahui hubungan intensitas kebisingan dengan kejadian
gangguan pendengaran akibat bising pada karyawan Pabrik PT. Antam
Tbk, berdasarkan lama masa kerja.
d. Untuk mengetahui hubungan intensitas kebisingan dengan kejadian
gangguan pendengaran akibat bising pada karyawan Pabrik PT.Antam
Tbk, berdasarkan usia.

1.4 MANFAAT PENELITIAN


1.4.1 Manfaat Akademis
Sebagai bahan referensi bagi peneliti lain yang akan melakukan
penelitian serupa selanjutnya.

1.4.2 Manfaat dalam Implementasi atau Praktik


Sebagai informasi dan bahan masukan bagi perusahaan PT. Antam
Tbk untuk memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja pada
karyawan pabrik PT. Antam Tbk, khususnya dalam hal pencegahan
kejadian gangguan pendengaran akibat bising/NIHL .

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. TINJAUAN UMUM TENTANG PENDENGARAN


2.1 ANATOMI TELINGA
2.1.1 Telinga Luar
Telinga luar terdiri daridaun telinga dan liang telinga sampai
membran timpani. Daun telinga terdiridari tulang rawan elastis dan kulit.
Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada
sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya
terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2 - 3 cm. 6
Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak
kelenjar serumen (kelenjar keringat) dan rambut. Kelenjar keringat
terdapat pada seluruh kulit liang telinga. Pada duapertiga bagian dalam
hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen. 6

Gambar 1.1 Anatomi Telinga

2.1.2 Telinga Tengah 6


Telinga tengah berbentuk kubus dengan :
a. batas luar

: membran timpani

b. batas depan

: tuba eustachius

c. batas bawah

: vena jugularis (bulbus jugularis)

d. batas belakang : auditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertikalis


e. batas atas

: tegmen timpani (meningen/otak)

f. batas dalam

: berturut-turut dari atas ke bawah kanalis

semisirkularis horizontal, kanalis fasialis, tingkap lonjong (oval


window), tingkap bundar (round window) dan promontorium.
Memban timpai berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah
liang telinga dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Bagian atas
disebut pars flaksida (membran sharpnell), sedangkan bagian bawah
pars`tensa (membran propria). Membran timpani dibagi dalam 4 kuadran,
dengan menarik garis searah dengan prosesus longus maleus dan garis
yang tegak lurus pada garis itu di umbo, sehingga didapatkan atas-depan,
atas-belakang, bawah-depan serta bawah belakang.
Di dalam telinga tengah terdapat tulang-tulang pendengaran yang
tersusun dari luar ke dalam, yaitu maleus, inkus dan stapes. Tulang
pendengaran di dalam telinga tengah saling berhubungan. Prosesus
longus maleus melekat pada membran timpani, maleus melekat pada
inkus, dan inkus melekat pada stapes, stapes terletak pada tingkap

lonjong yang berhubungan dengan koklea. Hubungan antar tulang-tulang


pendengaran merupakan persendian.

2.1.3 Telinga Dalam 6


Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua
setengah lingkaran dan vestibular yang terdiri dari 3 buah kanalis
semisirkularis.

Ujung

atau

puncak

koklea

disebut

helikotrema,

menghubungkan perilimfa skala timpani dengan skala vestibuli.


Kanalis semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap
dan membentuk lingkaran yang tidak lengkap. Pada irisan melintang
koklea tampak skala vestibuli sebelah atas, media (duktus koklearis)
diantaranya. Skala vestibuli dan skala timpani berisi perilimfa, sedangkan
skala media berisi endolimfa. Ion dan garam yang terdapat di perilimfa
berbeda dengan endolimfa. Hal ini penting untuk pendengaran. Dasar
skala vestibuli disebut sebagai membran vestibuli (Reissners membrane)
sedangkan dasar skala media adalah membran basalis. Pada membran
ini terletak organ Corti.
Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang
disebut membran tektoria, dan pada membran basal melekat sel rambut
yang terdiri dari sel rambut dalam, sel rambut luar, dan kanalis Corti, yang
membentuk organ Corti.

2.2 FISIOLOGI PENDENGARAN


Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh
daun telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau
tulang ke koklea. Getaran tersebut menggetarkan membran timpani, disini
terjadi penguatan bunyi sebesar 15 dB pada frekuensi antara 2 sampai 5
kH. Selanjutnya getaran bunyi diteruskan ke telinga tengah melalui
rangkaian tulang pendengaran yang akan megamplifikasikan getaran
melalui daya ungkit tulang pendengaran yang memberikan penguatan
sebesar 1,3 kali dan efek hidrolik membran timpani sebesar 17 kali. Total
penguatan bunyi yang terjadi sebesar 25 sampai 30 dB. Penguatan bunyi
ini diperlukan agar energi getar yang lebih diamplifikasi untuk diteruskan
ke stapes yang akan menggerakkan tingkap lonjong sehingga perilimfa
pada skala vestibule bergerak. Getaran diteruskan melalui membran
Reissner yang mendorong endolimfa, sehingga akan menimbulkan gerak
relatif antara membaran basilaris dan membran tektoria.

6,8

Gerakan membran basilaris akan menyebabkan gesekan membran


tektoria terhadap rambut sel-sel sensoris. Proses ini merupakan rangkaian
mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut,
sehingga kanal ion terbuka dan terjadi penglepasan ion bermuatan listrik
dari badan sel. Keadaan Ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut,
sehingga melepaskan ion transmitter ke dalam sinapsis yang akan
menimbulkan potensi aksi pada saraf auditoris. Ujung saraf VIII yang
menempel pada dasar sel sensorik akan menampung mikroponik yang

terbentuk. Lintasan impuls auditori selanjutnya menuju ganglion spiralis


korti, saraf VIII, nukleus koklearis di medula oblongata, kolikulus superior,
korpus genukulatum medial, korteks auditori (area 39-40) di lobus
temporalis. 6,8

B. TINJAUAN UMUM TENTANG KEBISINGAN


2.3 PENGERTIAN KEBISINGAN
Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP48/MENLH/11/1996 definisi bising adalah bunyi yang tidak diinginkan dari
usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat
menimbulkan gangguan kesehatan dan kenyamanan lingkungan. Secara
audiologik bisin

adalah campuran bunyi nada murni dengan berbagai

frekuensi.
Kualitas suatu bunyi ditentukan oleh frekuensi dan intensitasnya.
Frekuensi dinyatakan dalam jumlah getaran perdetik/Hertz (Hz). Intensitas
atau arus energi persatuan luas yang dinyatakan dalam desibel (dB)
dengan memperbandingkannya dengan kekuatan dasar 0,0002 dyne/cm 2
yaitu kekuatan dari bunyi dengan frekuensi 1000 Hz yang tepat di dengar
oleh telinga manusia. Telinga manusia mampu mendengar frekuensifrekuensi diantara 16-20.000 Hz.
Bising yang intensitasnya 85 desibel (dB) atau lebih dapat
mengakibatkan kerusakan pada reseptor pendengaran Corti di telinga
dalam. Yang sering mengalami kerusakan adalah alat corti untuk reseptor

bunyi yang berfrekuensi 3000 Hertz (Hz) sampai dengan 6000 Hz dan
yang terberat kerusakan alat corti untuk reseptor bunyi yang berfrekuensi
4000 Hz .6
Gangguan pendengaran akibat bising (Noise Induced Hearing
Loss) ialah gangguan pendengaran yang disebabkan akibat terpajan oleh
bising cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama biasanya
diakibatkan oleh bising lingkungan kerja. Sifat ketuliannya adalah tuli
sensorineural koklea dan umumnya terjadi pada kedua telinga. Ketulian
berarti menurunnya ketajaman pendengaran seseorang di banding orang
normal. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan ketulian disamakan
dengan ditulis dalam buku-buku sebagai Deafness atau Hearing loss
yaitu kurang pendengaran atau gangguan pendengaran, yang masih
dapat dipakai berkomunikasi dengan atau tanpa bantuan alat. 6

2.4 ETIOLOGI
Faktor-faktor

risiko

yang

berpengaruh

untuk

mempermudah

seseorang menjadi tuli akibat terpajan bising antara lain : 2,5,6,7


a. Intensitas kebisingan
Bunyi yang berintensitas lebih dari 85 Db dapat menyebabkan
kerusakan pada reseptor pendengaran yang terdapat di organ Corti di
telinga bagian dalam.
b. Frekuensi kebisingan

Bunyi yang berfrekuensi 3000 Hz sampai dengan 6000 Hz dapat


merusak alat Corti dan yang terberat kerusakan alat corti untuk
reseptor bunyi yang berfrekuensi 4000 Hz.
c. Lamanya waktu pemaparan bising
Lama kerja total makin lama berada dalam suasana bising dengan
intensitas tinggi, maka kerusakan akan lebih berat. Pekerja yang
terpapar bising yang terlalu keras dan berlangsung lama dapat
menyebabkan rusaknya hair cells di dalam organ Corti. Semakin lama
masa kerja dengan pemamparan bising maka kejadian NIHL semakin
tinggi.
d. Kerentanan individu
Ini adalah faktor yang paling sulit diperkirakan sebelumnya. Sebagian
orang yang bekerja pada suasana bising dalam waktu singkat sudah
mengalami kekurangan pendengaran yang cukup berat.
e. Usia
Orang yang bekerja dalam suasana bising untuk pertama kali setelah
berumur 40 tahun, biasanya telinga lebih rentan terhadap bising.
1. Penyakit telinga yang ada telinga dengan kelainan konduktif kurang
retan terhadap bising.
2. Sifat

lingkungan tempat bising ditimbulkan. Akustik ruangan

memainkan peranan penting. Papan-papan yang berbunyi, ruangan


yang bergema dan dinding yang memantulkan akan memperkuat
intensitas bising

3. Jarak dari sumber bising


4. Posisi telinga terhadap bising
Dikatakan bahwa empat faktor pertama adalah faktor yang
terpenting dalam memperkirakan akibat pemaparan bising terhadap
ketajaman pendengaran seorang penderita.
f. Kelainan di telinga tengah
g. Mendapat pengobatan yang bersifat racun terhadap telinga (obat
ototoksik)

seperti

streptomisin,

kanamisin,

garamisin

(golongan

aminoglikosida), kina, asetosal dan lain-lain. Berdasarkan hal tersebut


dapat dimengerti bahwa jumlah pajanan energi bising yang diterima
akan sebanding dengan kerusakan yang didapat dan lain-lain.

2.5 PENGUKURAN KEBISINGAN


Pengukuran

kebisingan

dilakukan

untuk

memperoleh

data

kebisingan di perusahaan atau dimana saja dan mengurangi tingkat


kebisingan tersebut sehingga tidak menimbulkan gangguan. Alat yang
digunakan dalam pengukuran kebisingan adalah sound level meter dan
noise dosimeter. sound level meter adalah alat pengukur level kebisingan
alat ini mampu mengukur kebisingan di antara 30-130 dB dan frekuensifrekuensi dari 20-20.000 Hz.

2.6 NILAI AMBANG BATAS


Nilai ambang batas adalah standar faktor tempat kerja yang dapat
diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan
kesehatan dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam
sehari atau 40 jam seminggu (KEPMENAKER No.Kep-51 MEN/1999).
NAB kebisingan ditempat kerja adalah intensitas suara tertinggi yang
merupakan nilai rata-rata, yang masih dapat diterima tenaga kerja tanpa
mengakibatkan hilangnya daya dengar yang menetap untuk waktu kerja
terus menerus tidak lebih dari 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. Hal ini
dijelaskan dalam pedoman pemaparan terhadap kebisingan (NAB
Kebisingan) berdasar Keputusan Mneteri Tenaga Kerja No. Kep51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang batas Faktor Fisik di Tempat Kerja.
Tabel 1. Batas waktu dan Pajanan kebisingan
Intensitas Bising (dB)
OSHA
INDONESIA

2, 6

Waktu paparan

90

85

Perhari dalam jam


8

92,5

86,5

95

88

100

91

105

94

110

97

115

100

atau kurang

Tabel 2. Batas pajanan bising yang diperkenankan sesuai keputusan


Menteri Tenaga Kerja 1999.

Lama Pajan / hari


24

Jam

Menit

Detik

Intensitas dalam dB
80

16

82

85

88

91

1
30

94
97

15

100

7,50

103

3,75

106

1,88

109

0,94
28,12

112
115

14,06

118

7,03

121

3,52

124

1,76

127

0,88

130

0,44

133

0,22

136

0,11

139

Tidak boleh terpajan lebih dari 140 dB, walau sesaat

2.7 PEMBAGIAN BISING

Berdasarkan sifatnya bising dibedakan menjadi :

1. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi luas


Bising jenis ini merupakan bising yang relatif tetap dalam batas
amplitudo kurang lebih 5 dB untuk periode 0,5 detik berturut-turut.
Contoh: suara katup mesin gas, kipas angin, suara dapur pijar.
2. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi sempit
Bising ini relatif tetap dan hanya pada frekuensi tertentu saja (misal
5000, 1000 atau 4000 Hz), misalnya : suara katup gas, suara gergaji
sirkuler.
3. Bising terputus-putus
Bising jenis ini sering disebut juga intermitten noise, yaitu kebisingan
tidak berlangsung terus-menerus, melainkan ada periode relatif
tenang. Contoh kebisingan ini adalah suara lalu lintas, kebisingan di
lapangan terbang dll.
4. Bising impulsif
Bising jenis ini memiliki perubahan tekanan suara melebihi 40 dB
dalam waktu sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengarnya.
Contoh bising impulsif misalnya suara ledakan mercon, tembakan,
meriam.
5. Bising impulsif berulang-ulang
Sama seperti bising impulsif, tetapi terjadi berulang-ulang misalnya
pada mesin tempa.

Bising yang dianggap lebih sering merusak pendengaran adalah


bising yang bersifat kontinu, terutama yang memiliki spektrum frekuensi
lebar dan intensitas yang tinggi. Untuk melindungi pendengaran manusia
(pekerja)

dari

pengaruh

buruk

kebisingan,

Organisasi

Pekerja

Internasional / ILO (International Labour Organization) telah mengeluarkan


ketentuan jam kerja yang diperkenankan, yang dikaitkan dengan tingkat
intensitas kebisingan lingkungan kerja sebagai berikut.
Di Indonesia, intensitas bising di tempat kerja yang diperkenankan
adalah 85 dB untuk waktu kerja 8 jam perhari, seperti yang diatur dalam
Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja no. SE.01/Men/1978 tentang Nilai
Ambang Batas (NAB) untuk kebisingan di tempat kerja.

2.8 PENGARUH KEBISINGAN PADA PENDENGARAN


Perubahan ambang dengar akibat paparan bising tergantung pada
frekuensi bunyi,intensitas dan lama waktu paparan, dapat menimbulkan: 2,6
1. Adaptasi
Reaksi adaptasi merupakan respon kelelahan akibat rangsangan
oleh bunyi dengan intensitas 70 dB SPL atau kurang, keadaan ini
merupakan fenomena fisiologis pada saraf telinga yang terpajan
bising. Bila telinga terpapar oleh kebisingan mula- mula telinga akan
merasa terganggu oleh kebisingan tersebut, tetapi lama-kelamaan
telinga tidak merasa terganggu lagi karena suara terasa tidak begitu
keras seperti pada awal pemaparan.

2. Peningkatan ambang dengar dengan sementara


Merupakan keadaan terdapatnya peningkatan ambang dengar
akibat pajanan bising dengan intensitas yang cukup tinggi. Pemulihan
dapat terjadi dalam beberapa menit atau jam. Jarang terjadi pemulihan
dalam satuan hari.
3. Peningkatan ambang dengar menetap
Merupakan keadaan dimana terjadi peningkatan ambang dengar
menetap akibat pajanan bising dengan intensitas sangat tinggi
berlangsung

singkat

(explosif)

atau

berlangsung

lama

yang

menyebabkan kerusakan pada berbagai struktur koklea, antara lain


kerusakan organ Corti, sel-sel rambut, stria vaskularis dan lain-lain.
Kenaikan

terjadi

setelah

seseorang

cukup

lama

terpapar

kebisingan, terutama terjadi pada frekwensi 4000 Hz. Gangguan ini paling
banyak ditemukan dan bersifat permanen, tidak dapat disembuhkan.
Kenaikan ambang pendengaran yang menetap dapat terjadi setelah 3,5
sampai 20 tahun terjadi pemaparan, ada yang mengatakan baru setelah
10-15 tahun setelah terjadi pemaparan.
Penderita mungkin tidak menyadari bahwa pendengarannya telah
berkurang dan baru diketahui setelah dilakukan pemeriksaan audiogram.
Pengaruh bising pada pekerja secara umum dibedakan dua macam
yaitu :

a. Pengaruh Auditorial berupa tuli akibat bising (Noise Induced Hearing


Loss/NIHL) dan umumnya terjadi dalam lingkungan kerja dengan
tingkat kebisingan yang tinggi.
b. Pengaruh Non Auditorial dapat bermacam-macam misalnya gangguan
komunikasi, gelisah, rasa tidak nyaman, gangguan tidur, peningkatan
tekanan darah dan lain sebagainya.

2.8.1 Pembagian Tuli akibat bising 2


Ketulian akibat pengaruh bising ini dikelompokkan sebagai berikut:
a. Temporary Threshold Shift = Noice Induced Temporary Threshold Shift
= auditory fatigue = TTS

Non-patologis

Bersifat sementara

Waktu pemulihan bervariasi

Reversible/ bisa kembali normal

b. Permanent Threshold Shift (PTS) = Tuli menetap

Patologis

Menetap

PTS terjadi karena paparan yang lama dan terus menerus. Ketulian ini
disebut tuli perseptif atau tuli sensorineural. Penurunan daya dengar
perlahan dan bertahap sebagai berikut :

Tahap 1 : timbul setelah 10-20 hari terpapar bising, tenaga kerja


mengeluh telinganya berbunyi pada setiap akhir waktu kerja.

Tahap 2 : keluhan telinga berbunyi secara intermitten, sedangkan


keluhan subjektif lainnya menghilang. Tahap ini berlangsung
berbulan-bulan sampai bertahun-tahun.

Tahap 3 : tenaga kerja sudah mulai terasa terjadi gangguan


pendengaran seperti tidak mendengar detak jam, tidak mendengar
percakapan terutama bila ada suara lain.

Tahap 4 : gangguan pendengaran bertambah jelas dan mulai sulit


berkomunikasi.
Pada tahap ini nilai ambang pendengaran menurun dan tidak akan
kembali ke nilai ambang semula meskipun diberi istirahat yang
cukup.

c. Tuli karena trauma akustik


Perubahan pendengaran terjadi secara tiba-tiba, karena suara
impulsf dengan intensitas tinggi, seperti letusan, ledakan dan lainnya.
Diagnosis mudah dibuat karena penderita dapat mengatakan dengan
tepat terjadinya ketulian. Tuli ini biasanya bersifat akut, tinitus, cepat
sembuh secara parsil atau komplit.

2.8.2 Derajat Ketulian


Derajat ketulian atau kuantitas ketulian dapat diukur dengan
audiometer. Derajat ketulian ditentukan dengan membandingkan rata-rata

kehilangan intensitas pendengaran pada frekuensi percakapan, terhadap


skala I.S.0.1964 sebagai berikut:
Derajat pendengaran kehilangan pendengaran :
Normal .................................... -10 sampai 26 dB
Tuli ringan ................................. 27 sampai 40 dB
Tuli Sedang ............................... 41 sampai 55 dB
Tuli sedang berat ...................... 56 sampai 70 dB
Tuli Berat .................................. 71 sampai 90 dB
Tuli Total ..................................... lebih dari 90 dB

2.9 PATOLOGI 6
Telah

diketahui

secara

umum

bahwa

bising

menimbulkan

kerusakan di telinga dalam. Lesinya sangat bervariasi dari disosiasi organ


Corti, ruptur membran, perubahan steresosilia dan organel subseluler.
Bising juga menimbulkan efek pada sel ganglion, saraf, membran tektoria,
pembuluh darah, stria vaskularis. Pada observasi kerusakan organ Corti
dengan mikroskop elektron ternyata bahwa sel-sel sensor dan sel
penunjang merupakan bagian yang paling peka di telinga dalam.
Jenis kerusakan pada struktur organ tertentu yang ditimbulkan
bergantung pada intensitas, lama pajanan dan frekuensi bising. Penelitian
menggunakan intensitas bunyi 120 dB dan kualitas bunyi nada murni
sampai bising dengan waktu pajanan 1-4 jam menimbulkan beberapa

tingkatan kerusakan sel rambut. Kerusakan juga dapat dijumpai pada sel
penyangga, pembuluh darah dan serat aferen.
Stimulasi

bising

dengan

intensitas

sedang

mengakibatkan

perubahan ringan pada silia dan Hensens body, sedangkan stimulasi


dengan intensitas yang lebih keras dengan waktu pajanan yang lebih lama
akan mengakibatkan kerusakan pada struktur sel rambut lain seperti
mitokondria, granula lisosom, lisis sel dan robekan di membrann
Reisner. Pajanan bunyi dengan efek destruksi yang tidak begitu
besar menyebabkan terjadinya floppy silia yang sebagian masih
reversibel. Kerusakan silia menetap.

Gambra 2.2. Keruskan Rambut sel-sel Koklea ditandai dengan


fraktur rootlet silia pada lamina retikularis.

2.10 DIAGNOSIS
2.10.1 Anamnesis

Anamnesis didapati riwayat pernah bekerja atau sedang bekerja di


lingkungan bising dalam jangka waktu yang cukup lama biasanya lima
tahun atau lebih. Untuk menegakkan diagnosis klinik dari ketulian yang
disebabkan oleh bising dan hubungannya dengan pekerja, maka harus
menanyakan : 6, 9
1. Riwayat timbulnya ketulian dan progresifitasnya
2. Riwayat pekerjaan, jenis pekerjaan dan lamanya bekerja
3. Riwayat penggunaan proteksi pendengaran
4. Identifikasi penyebab untuk menyingkirkan penyebab ketulian nonindustri seperti riwayat penggunaan obat- obatan ototoksik atau
riwayat penyakit sebelumnya.

2.10.2 Pemeriksaan Fisis dan Pemeriksaan Audiologik


Pada pemeriksaan otoskopi tidak ditemukan kelainan. Pada
pemeriksaan audiologi, tes pelana didapatkan hasil Rinne positif, Weber
lateralisasi ke telinga yang pendengarannya lebih baik dan Swabach
memendek. Kesan jenis ketuliannya tuli sensorineural yang biasanya
mengenai kedua telinga. Pemeriksaan audiometri nada murni didapatkan
tuli sensorineural pada frekuensi antara 3000-6000 Hz dan pada frekuensi
4000 Hz sering terdapat takik (notch) yang patognomonik untuk jenis
ketulian ini. Sedangkan pemeriksaan audiologi khusus seperti SISI (Short
Increment Sensitivity Index), ABLB (Alternate Binaural Loudness Balance)
dan Speech Audiometry menunjukkan adanya fenomena rekruitmen

(recruitment) yang khas untuk tuli saraf koklea. Rekrutmen adalah suatu
fenomena pada tuli sensorineural koklea, dimana telinga yang tuli menjadi
lebih sensitif terhadap kenaikan intensitas bunyi yang kecil pada frekuensi
tertentu setelah terlampau ambang dengarnya.
Orang yang menderita tuli sensorineural koklea sangat terganggu
oleh bising latar belakang (Backgroungd noise), sehingga bila orang
tersebut berkomunikasi di tempat yang ramai akan mendapat kesulitan
mendengar dan mengerti pembicaraan. Keadaan ini disebut sebagai
coctail party deafness. 6
Apabila seorang yang tuli mengatakan lebih mudah berkomunikasi
di tempat yang sunyi atau tenang, maka orang

tersebut menderita tuli sensorineural koklea.


Gambar 3.Gangguan pendengaran akibat bising

2.11 PENATALAKSANAAN

2.11.1 PENGENDALIAN KEBISINGAN


Pengendalian kebisingan di lingkungan kerja dapat dilakukan
upaya-upaya sebagai berikut :
a. Survai dan analisis kebisingan
Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui kondisi lingkungan
kerja apakah tingkat kebisingan telah melampaui NAB, bagaimana
pola kebisingan di tempat kerja serta mengevaluasi keluhan yang
dirasakan oleh masyarakat sekitar. Perlu dilakukan analisis intensitas
dan frekuensi suara, sifat, jenis kebisingan, terus-menerus atau
berubah dan sebagianya. Berdasarkan hasil survei dan analisis ini,
ditentukan apakah program perindungan ini perlu segera dilaksanakan
atau tidak diperusahaan tersebut.
b. Teknologi Pengendalian
Dalam hal ini dilakukan upaya menentukan tingkat suara yang
dikehendaki

menghitung

reduksi

kebisingan

dan

sekaligus

mengupayakan penerapan teknisnya. Teknologi pengendalian yang


ditujukan pada sumber suara dan media perambatnya dilakukan
dengan mengubah cara kerja, dari yang menimbulkan bising menjadi
berkurang

suara

yang

menimbulkan

bisingnya;

menggunakan

penyekat dinding dan langit-langit yang bisng dengan mesin yang

kurang bising, menggunakan pondasi mesin

yang baik agar tidak

ada sambungan yang goyang dan mengganti bagian-bagian logam


dengan karet, modifikasi mesin atau proses, merawat msin dan alat
secara teratur dan periodik.
c. Pengendalian secara administratif
Pengendalian secara administratif dapat dilakukan dengan
adanya pengadaan ruang konrol pada bagian tertentu dan pengaturan
jam kerja, disesuaikan dengan NAB yang ada.
d. Penggunaan Alat Pelindung Diri
Untuk menghindari kebisingan digunakan alat pelindung telinga.
Alat pelindungi telinga berguna untuk mengurangi intensitas suara
yang masuk ke dalam telinga. Ada dua jenis alat pelindung telinga,
yaitu sumbat telinga atau ear plug dan tutup telinga ear muff.
e. Pemeriksaan Audiometri
Dilakukan pada saat awal masuk kerja secara periodik, secara
khusus dan pada akhir masa kerja, pemeriksaan berkala audiometri
pada pekerja yang terpapar merupakan suara yang tidak diinginkan
sejauh

mungkin

dikurangi

atau

dihilangkan.

Pemerintah

telah

menetapkan nilai ambang kebisingan sebesar 85 dB(A) untuk


lingkungan kerja yaitu iklim kerja yang oleh tenaga kerja masih dapat
dihadapi dalam pekerjaannya sehari- hari tidak mengakibatkan
penyakit atau gangguan kesehatan untuk waktu kerja terus-menerus

tidak lebih dari 8 jam ssehari dan 40 jam seminggu. Waldron


menyatakan bahwa kebisingan dapat dikontrol melalui :
-

Pengendalian pada sumber kebisingan

Meningkatnya jarak antara sumber kebisingan

Mengurangi waktu paparan kebisingan

Menempatkan barrier antara sumber dan pekerja yang terpapar

Pemakaian alat pelindung telinga (ermuff, ear plug)

2.11.2 PENATALAKSANAAN KURATIF & REHABILITATIF


Sesuai

dengan

dipindahkan kerjanya

penyebab

ketulian,

penderita

sebaiknya

dari lingkungan bising. Bila tidak mungkin

dipindahkan dapat dipergunakan alat pelindung telinga terhadap bising,


seperti sumbat telinga (ear plug), tutup telinga (ear muff) dan pelindung
kepala helmet.
Oleh karena tuli akibat bising adalah tuli sensorineural koklea
bersifat menetap (irreversible), bila gangguan pendengaran sudah
mengakibatkan kesulitan berkomunikasi dengan volume percakapan
biasa, dapat dicoba pemasangan alat bantu dengar /ABD (hearing Aid).
Apabila pendengarannya telah sedemikian buruk, sehingga dengan
memakai ABDpun tidak dapat berkomunikasi dengan adekuat perlu
dilakukan

psikoterapi

pendengaran

(auditory

agar

dapat

training)

menerima
agar

dapat

keadaannya.

Latihan

menggunakan

sisa

pendengaran dengan ABD secara efisien dibantu dengan membaca

ucapan bibir (lip reading), mimik dan gerakan anggota badan, serta
bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. Disamping itu, oleh karena
pasien mendengar suaranya sendiri sangat lemah, rehabilitasi suara juga
diperlukan agar dapat mengendalikan volume, tinggi rendah dan irama
percakapan.
Pada pasien yang telah mengalami tuli total bilateral dapat
dipertimbangkan untuk pemasangan implen

koklea (cochlear implant).

2.12 PROGNOSIS
Oleh karena jenis ketulian akibat terpapar bising adalah tuli
sensorineural koklea yang sifatnya menetap, dan tidak dapat diobati
dengan obat maupun pembedahan, maka prognosisnya kurang baik. Oleh
karena itu yang terpenting adalah pencegahan terjadinya ketulian. 6

BAB III
KERANGKA KERJA PENELITIAN

3.1 KERANGKA TEORI

Lingkungan Tempat Kerja

Pemeriksaan Audiologi

Intensitas Kebisingan

Tes Audiometri

Lama Paparan Bising

Tes Rinne (+)

Frekuensi bising

Tes Weber (Lateralisasi ke arah yang tidak s

Penggunaan APD
Tes Swabach (Memendek)
Umur
Kepekaan Individu
Kelainan Telinga Tengah
Penggunaan obat ototoksik
Tingkat Pendidikan Formal

Gangguan Pendengaran Akibat Bising/Noice Induced Hearing Loss

*Ket:

: Variabel yang diteliti


: Variabel yang Tidak diteliti

3.2 KERANGKA KONSEP


Intensitas Kebisingan

Lama Masa Kerja

Gangguan Pendengaran akibat bising / NIHL

Usia

Variabel Independen : Intensitas kebisingan, Lama masa kerja Usia

Variabel Dependen : Gangguan pendengaran akibat bising/NIHL

3.3 DEFINISI OPERASIONAL


Supaya terdapat kesamaan pengertian penelitian ini maka disusun
suatu definisi operasional sebagai berikut :
1. Gangguan pendengaran
Gangguan pendengaran yang dimaksud dalam penelitian ini ialah
semua gangguan pendengaran mulai dari yang bersifat ringan seperti

tinnitus (telinga berdenging), sampai gangguan pendengaran yang berat


berupa ketulian sensorineural yang disebabkan oleh pekerjaan dan bukan
diakibatkan oleh penyakit THT terutama penyakit telinga atau sebab lain
yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Dan juga berdasarkan hasil
audiometri.
Kriteria objektif :
a. Terganggu

jika

responden

mengeluh

mengalami

gangguan

pendengaran seperti telinga berdengung, sampai penurunan


pendengaran, hasil audiometri (+)
b. Tidak terganggu jika responden tidak mengeluh gejala-gejala
diatas.
2. Intensitas bising
Intensitas bising ialah tingkat (derajat) kebisingan rata-rata yang
dihasilkan oleh suara yang meliputi suatu daerah terbatas, dan diukur
dengan sound level meter. Derajat kebisingan diberi satuan desibel (dB).
Kriteria objektif :
a. Rendah : Jika intensitas bisingnya tidak melebihi nilai ambang yang
diperbolehkan (< 85dB)
b. Tinggi : Jika intensitas bisingnya melebihi nilai ambang yang
diperbolehkan (>85dB)
3. Lama Masa Kerja
Lama masa kerja yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jumlah
tahun lamanya bekerja sebagai karyawan pabrik PT.Antam Tbk

a. Singkat jika : responden telah menjadi karyawan pabrik PT.Antam


Tbk 10 tahun
b. Lama jika : responden telah menjadi karyawan pabrik PT.Antam
Tbk > 10 tahun
4. Usia
Usia adalah lamanya waktu hidup sejak dilahirkan sampai saat
pengambilan sampel.
Kriteria objektif :
a. 40 tahun
b. > 40 tahun

3.4 HIPOTESIS PENELITIAN


3.4.1 Hipotesis Nol (H0)
Tidak terdapat hubungan antara Intensitas kebisingan dengan
kejadian gangguan pendengaran akibat bising pada karyawan pabrik PT.
Antan Tbk.
3.4.2 Hipotesis Alternatif

Terdapat hubungan antara Intensitas kebisingan dengan kejadian


gangguan pendengaran akibat bising pada karyawan pabrik PT.
Antan Tbk.

Terdapat hubungan antara lama masa kerja dengan kejadian


gangguan pendengaran akibat bising pada karyawan pabrik PT.
Antam Tbk

Terdapat hubungan antara usia karyawan dengan kejadian


gangguan pendengaran akibat bising.

Terdapat hubungan antara tingkat pendidikan formal dengan


kejadian gangguan pendengaran akibat bising pada karyawan
pabrik PT. Antan Tbk.

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 JENIS PENELITIAN


Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
penelitian Obseravasional Analitik dengan menggunakan desain Cross
Sectional study, yaitu pendekatan dimana peneliti melakukan pengukuran
pada variabel independen dan variabel dependen secara bersamaan pada
satu waktu.

4.2 WAKTU DAN LOKASI PENELITIAN


4.2.1 Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan dari tanggal 31 Mei 13 Juni 2015 di Pabrik
dan Hiperkes RS. Antam Pomalaa, Sulawesi Tenggara.
4.2.2 Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Lokasi Pabrik & di bagian Hiperkes RS.
Antam Pomalaa berdasarkan pertimbangan bahwa RS. Antam merupakan
rumah sakit perusahaan antam, dimana setiap karyawan antam
melakukan chek up kesehatan setiap tahun di rumah sakit tersebut.

4.3 POPULASI DAN SAMPEL


4.3.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan pabrik PT.


Antam

Tbk,

Pomalaa

yang

terpapar

bising

yang

datang

untuk

memeriksakan diri ke Rumah sakit Antam Pomalaa yang berjumlah 507


orang, yang terdiri atas unit kerja Smelting, refinery, ore preparation,
oxygen production, quality control dan energy management.

4.3.2 Sampel
4.3.2.1 Jumlah sampel
Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 244 karyawan yang
terkena paparan bising dan merupakan karyawan PT.Aneka Tambang tbk.
4.3.2.2 Teknik Pengambilan Sampel
Cara penentuan jumlah sampel, untuk populasi kecil atau lebih
kecil dari 10.000, dapat menggunakan formula yang sederhana, seperti
berikut (Notoatmodjo,2005) :
n =

N
1 + N (d2)

Keterangan :
N = Besar Populasi
n = Besar Sampel
d = Tingkat kepercayaan atau ketepatan yang diinginkan = 0,05
Berdasarkan rumus tersebut, maka :
n=

507

1 + 507 (0,052)
=

507

1 + 507 (0,0025)
=

507

1 + 1,2675
=

507
2,2675

223,6 dibulatkan menjadi 224 orang.


Menurut Bungin (2005) dalam menentukan jumlah sampel, pada

penelitian

yang

populasinya

berbeda-beda

di

setiap

unit,

dapat

menggunakan Proporsional sampling untuk mendapatkan perwakilan


yang berimbang di setiap populasi yang ada. Dengan demikian, maka
jumlah sampel dari 6 unit kerja adalah sebagai berikut :
1. Smelting = 111 x 224 = 49
507
Jadi, besar sampel untuk unit kerja smelting sebanyak 49 orang
2. Refinery = 152 x 224 = 67
507
Jadi, besar sampel untuk unit kerja Refinery sebanyak 67 orang
3. Ore preparation = 131 x 224 = 58
507
Jadi, besar sampel untuk unit kerja Ore preparation sebanyak 58 orang
4. Oxygen Production = 28x224 = 12
507
Jadi, besar sampel untuk unit kerja Oxygen Production sebanyak 12 orang
5. Quality Control = 26 x 224 = 12 (pembulatan ke bawah)
507
Jadi, besar sampel untuk unit kerja Quality Control sebanyak 12 orang

6. Energy Management = 59x224 = 26


507
Jadi, besar sampel untuk unit kerja Energy Management sebanyak 26
orang

4.4 JENIS DATA DAN INSTRUMEN PENELITIAN


4.4.1 Jenis Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah :
1. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari instansi catatan
medik dalam hal ini rekam medik di Rumah Sakit Antam
Pomala, sulawesi tenggara.
4.4.2 Instrumen Penelitian
Alat

pengumpulan

data

dan

instrumen

penelitian

yang

dipergunakan adalah alat tulis dan tabel-tabel tertentu untuk merekam


atau mencatat data-data yang didapatkan dari rekam medik.

4.5 MANAJEMEN PENELITIAN


4.5.1 Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan setelah meminta perizinan dari pihak
pemerintah, perusahaan PT.Antam tbk dan RS. Antam Pomalaa, Sulawesi
tenggara. Kemudian nomor rekam medik dalam kriteria yang telah
ditentukan dikumpulkan dibagian rekam medik RS. Antam Pomalaa,
Sulawesi tenggara. Setelah itu dilakukan pengamatan dan pencatatan
langsung ke dalam tabel yang telah disediakan.

4.5.2 Pengelolaan Data


Pengolahan dilakukan setelah pencatatan data dari rekam medik
yang dibutuhkan ke dalam tabel data dilakukan dengan bantuan Microsoft
excel dan SPSS 18.
Untuk analisis data :
a. Analisis Univariat
Didapatkan gambaran distribusi dan frekuensi dari variabel
dependen dan independen. Data disajikan dalam bentuk table, grafik
dan diinterpretasikan.
b. Analisis Bivariat
Dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel independen
(Intensitas Kebisingan, Usia dan lama masa kerja) dan dependen
(Gangguan pendengaran akibat bising), apakah variabel tersebut
mempunyai hubungan yang signifikan atau hanya berhubungan secara
kebetulan. Dalam analisis ini uji statistik yang digunakan adalah uji Chi
Square (X2)
4.5.3 Penyajian Data
Hasil penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel dan grafik disertai dengan
penjelasan.

4.6 ETIKA PENELITIAN

Hal-hal yang terkait etika dengan penelitian dalam penelitian ini


adalah :
1. Sebelum melakukan penelitian maka peneliti akan meminta izin pada
beberapa instansi terkait, antara lain Sub Bagian Kesatuan bangsa
Pemerintah Daerah Kolaka, Perusahaan Antam Tbk, Kepala RS.
Antam Pomalaa, bagian rekam medik RS. Antam Pomalaa, dan
karyawan antam pomalaa.
2. Berusaha menjaga kerahasiaan identitas pasien yang terdapat pada
rekam medik, sehingga diharapkan tidak ada pihak yang merasa
dirugikan atas penelitian yang dilakukan.
3. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat kepada semua
pihak yang terkait sesuai dengan manfaat penelitian yang telah
disebutkan sebelumnya.

BAB V
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

5.1 SEJARAH SINGKAT PERUSAHAAN


Biji nikel ditemukan di Pomalaa oleh E.C, Abendanan pada tahun
1909, eksplorasi mulai dilaksanakan pada tahun 1934 oleh Ooes Borneo
Maatschappij (OBM) dan Bone Tolo Maatschappij. Hasil eksplorasi
menunjukan endapan biji nikel di wilayah berkadar 3 3,5% Ni.
Pengendapan perdana dilaksanakan oleh OBM pada tahun 1938
ke Jepang, sebanyak 150.000 ton biji nikel. Tahun 1942-1945, Sumitomo
Metal Mining Co, mengambil alih pertambangan ini dan mengolahnya
menjadi mette. Pada tahun 1957, pertambangan Pomalaa diambil alih
oleh NV. Petro yang segera mengekspor stik biji nikel yang tersedia di
Jepang.
Pada

tahun

1960

sesuai

dengan

PPn39/1960

dan

UU

Pertambangan No. 73 tahun 1960, pemerintah RI mengambil alih


pertambangan tersebut dan berdirilah PT. Pertambangan Nikel Indonesia
(PNI). Setelah sempat berubah status menjadi PN. Aneka Tambang pada
tahun 1968, dan pada tahun 1974, status perusahaan kembali berubah
menjadi PT. Aneka Tambang (Persero).

Pada 12 September 1973 merupakan perancangan pertama pabrik


Veronica pada bulan November tahun 1944 dilaksanakan operasi
percobaan pabrik jamal II. Tiga bulan kemudian pabrik jamal II secara
komersial dimulai. Tanggal 3 April 1996 memperoleh ISO 9002. Pada
tahun 1997, PT. Antam menjadi perusahaan publik dengan nama PT.
Aneka

Tambang

(Persero) Tbk.

Pada

tanggal

9 Agustus

1999

Internasional (Listing) ASX Australia dan terakhir memperoleh sertifikat


ISO 14001 pada tanggal 20 November 2000.

5.2 LOKASI DAN GEOGRAFIS


Penambangan biji nikel di PT. Antam UBPN berpusat di Pomalaa
Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara. Pomalaa dapat dicapai
dengan kendaraan darat dari Kolaka dan Kendari, juga dengan pesawat
udara dari makassar.
Penambangan tersebut mencakup daerah kuasa pertambangan
(KP) seluas 7.500 Ha. Pada peta Indonesia PT. Antam UBPN Pomalaa
berada pada garis lintang 30304030 LS dan 1201220 BT.
Sungai OkoOko, Kumoro, dan HukoHuko merupakan tiga sungai
dan mengalir dalam konsesi PT. Antam UBPN Pomalaa dan selalu berair
setiap tahun. Temperatur berkisar antara 250-330C, dengan musim
kemarau terjadi pada bulan MeiAgustus, sedangkan musim hujan terjadi
pada bulan SeptemberApril. Agin barat merupakan angin kencang yang
biasa terjadi di bulan FebruaryMaret. Curah hujan ratarata pertahun

1980 mm, dengan rata-rata hari hujan 129 hari. Daerah penambangan
dibagi 3 wilayah yaitu wilayah utara, tangah dan selatan.

5.3 KEGIATAN PENAMBANGAN


Kegiatan penambangan dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan
ekspor biji nikel dan umpan pabrik feronikel. Adapun bagianbagian pada
PT. Antam adalah sebagai berikut :
1. Eksplorasi
Dalam usaha mencari cadangan biji nikel (Nikel Ore) dilakukan
penyelidikan baik secara umum (geologi permukaan), eksplorasi
pendahuluan, eksplorasi detail, sampai perhitungan cadangan dengan
maksud untuk mengetahui seberapa jauh kandungan nikel yang
berada pada daerah tersebut. Upaya di atas dilakukan dengan
pengambilan contoh (sampel) dengan menggunakan alat bor.
2. Pengusapan Tanah (Over Burden)
Sebelum dilakukan penambangan , daerah tambang di bersihkan dari
pohon dan semak, setelah itu dilakukan stiriping atau pengusapan
lapisan sampai pada kedalaman tertentu. Pelaksanaan tersebut di atas
semuanya dilakukan dengan alat berat (Bulldozer).
3. Penambangan
Penambangan termasuk dalam klasifikasi tambang terbuka (sistem
berjenjang) dengan menggunakan alat-alat produksi seperti Bulldozer

sebagai alat dorong, doser shovel sebagai alat gali dan muat, dump
truck sebagai alat angkut.

4. Pengangkutan
Alat angkut yang digunakan adalah dump truck yang berkapasitas
antara 1530 ton.
5. Penumpukan atau Penyimpanan Biji
Biji nikel baik untuk umpan pabrik maupun umpan ekspor sebelum
di tumpuk di stockyard. Batuan besar atau boulder > 20 cm, disaring
disaringan tetap/stationery Grizzly, boulder

di pecahkan dengan mesin

pemecah batu (crushing plan) sampai ukuran < 20 cm dan dikirim ke


pabrik sebagai biji umpan pabrik. Proses pengolahan biji nikel
menggunakan proses ELKEM, pabrik FENI I mulai beroperasi bulan
Ferbruari 1976, dan pabrik FENI II mulai beroperasi percobaannya pada
bulan November 1994 sedangkan pabrik FENI III mulai beroperasi
percobaannya pada tahun 2005.
Untuk Konversi Energy, pada tahun 1988 mulai dioperasikan satu
unit coal firing system untuk menggantikan bahan bakar di rotary klin
dengan bahan batu bara. Untuk optimasi pabrik, diadakan pula
penambahan satu unit proses pengeringan yaitu rotary dryer ini juga
memanfaatkan gas luang dari dapur untuk bahan pemanas.

Secara garis besar pengolahan biji nikel PT. Antam UBPN Pomalaa
dibagi dalam 3 tahap yaitu :
1. Tahap Praolahan
Biji basah yang berasal dari wilayah penambangan utara,
tengah dan selatan serta biji dari pulau Gebe dicampur (blending).
Untuk mendapatkan kondisi yang sesuai. Campuran biji (blender ore)
ini di keringkan dalam satu Rotary Dryer, selanjutnya biji kering
mengalami

kalsinasi

dalam

Rotary

Kiln

untuk

menghilangkan

kandungan Loss In Ignition (LOI). Debu yang berasal dari tahap


praolahan ini ditangkap pada unit penangkapan debu, lalu diproses
dalam Pelletizer untuk membuat pellet yang akan di umpankan
kedalam Rotary Kiln.
2. Tahap Peleburan.
Pada tahap ini Calcined ore dilebur dan direduksi dalam dapur
listrik berkapasitas 20 MVA untuk jamal I dan 25 MVA untuk jamal II,
sebagian bahan produksi digunakan Anthracyte. Proses produksi ini
menghasilkan Crude metal yang akan dimurnikan pada tahap
pemurnian, sedangkan bahan yang tidak tereduksi berupa slag
dikeluarkan dari dapur listrik pada waktu tertentu untuk dibuang. Untuk
pengaturan kebasahan slag ditambahkan batu kapur.
3. Tahap Pemurnian
Crude metal yang berasal dari tahap peleburan dikurangi
kandungan belerangnya di dalam satu unit penghilang sulfur

(desulfuritation), sedangkan untuk mengurangi kandungan Si, C dan P,


dilakukan Blowing Oxygen dan penambahan flux terhadap crude metal
di

dalam

unit

shaking

Converter

(De-ciliconization

dan

De-

carbonization). Gas oxygen yang dipergunakan berasal dari oxygen


plant. Untuk membuat veronikel berbentuk batangan (ingot), metal cair
yang telah dimurnikan dengan spesifikasi dan komposisi tertentu
dicetak pada unit Continuous Casting Machina. Untuk membuat
veronikel berbentuk butiran (shot), metal cair ini dicetak pada unit shot
making. Bentuk batangan atau (ingot) diproduksi dalam 2 jenis, yaitu
High carbon dan low carbon. Sedangkan bentuk butiran (shot)
diproduksi hanya dalam bentuk low carbon.

5.4 PENGAPALAN
Pengapalan dalam rangka ekspor ke Negara tujuan dilakukannya
dengan cara :
1. Pemuatan tidak langsung dalam menggunakan tongkang yang ditarik
oleh kapal tunda (Tung boat) kekapal untuk pemuatan biji nikel dan
veronikel.
2. Pemuatan langsung kekapal dermaga Pomalaa untuk veronikel, biji
nikel yang masih merupakan bahan baku diekspor ke Jepang sebagai
konsumen utama, sedangkan veronikel di ekspor ke berbagai negara.

5.5 REKLAMASI

Sejak tahun 1985, daerah penambangan yang tidak produktif lagi


ditanami dengan tanaman yang sesuai dengan kondisi tanah (reboisasi),
sebagai upaya penghijauan sekaligus usaha mendapatkan devisi bagi
Pomalaa melalui sektor lain. Selain itu pihak PT. Antam Tbk, melakukan
kerja sama dengan Universitas Haluoleo atau UNHALU tentang
penanaman pohon jati putih sebanyak seribu pohon di lokasi bukit 13 dan
hasilnya cukup menggembirakan. Dan selanjutnya akan dilakukan
penanaman di lokasi bukit yang lain.

5.6 FASILITAS
Untuk mendukung kegiatan produksi dan kehidupan UBPN
Pomalaa membangun berbagai sarana sebagai berikut :
1. Bengkel perawatan alat-alat berat dan kendaraan ringan.
2. Bengkel konstruksi dan bengkel listrik.
3. Perumahan karyawan dengan fasilitas air dan listrik.
4. Rumah sakit untuk karyawan dan masyarakat sekitarnya.
5. Sekolah yang dikelola melalui Yayasan Pendidikan Pomalaa (YPP),
yaitu TK, SD, SMP/Tsanawiyah dan SMU (sejak tahun 1984 menjadi
SMU Negeri Pomalaa) uang dikelola oleh Yayasan Pendidikan Nurul
Iman (YAPNI) yaitu Madrasah Tsanawiyah.
6. Perpustakaan umum
7. Tempat ibadah : Mesjid, Gereja (Katolik dan Protestan) dan Pura

8. Fasilitas

olahraga,

untuk

meningkatkan

produktifitas

serta

pemeliharaan kesehatan karyawan beserta keluarga seperti :


a. Lapangan sepak bola
b. Lapangan bola basket
c. Lapangan bola volly
d. Lapangan tennis
e. Lapangan golf
f. Lapangan tenis meja
g. Lapangan bulu tangkis
h. Kolam renang
i. Gedung olah raga yang memiliki fasilitas ganda yang digunakan
untuk berolahraga dan untuk acara-acara perusahaan.

BAB VI
VI. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

6.1 Hasil Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di daerah Pabrik PT. Aneka Tambang
Tbk UBPN Pomalaa Sulawesi Tenggara, dengan pengambilan sampel
selama 14 hari yang dimulai pada tanggal 31 Mei 13 Juni 2015.
Penelitian ini ditujukan bagi karyawan pabrik yang terpapar oleh
kebisingan dengan intensitas di atas nilai ambang batas dan pada
kebisingan dibawah nilai ambang batas normal.
Penelitian dilakukan pada 6 titik unit satuan kerja yang sudah
dikelompokkan masing-masing dan terkhusus hanya pada area pabrik
dengan rotasi kerja terbagi menjadi tiga shift dengan setiap pergantian
delapan jam. Pada area kerja setiap karyawan dilengkapi dengan alat
pelindung diri seperti masker, helmet, google, ear plug, Ear muff dan

sepatu safety. Jumlah populasi adalah jumlah karyawan yang datang ke


rumah sakit untuk melakukan tes audiometri sebanyak 507 karyawan.
Data sampel yang diteliti dengan menggunakan Proporsional
sampling didapatkan hasil 224 karyawan dan semuanya laki-laki. Data
diolah dan dianalisis disesuaikan dengan tujuan penelitian. Hasil analisis
data disajikan dalam bentuk table dilengkapi narasi sebagai berikut :

1. Deskripsi hasil penelitian


Distribusi status karyawan pabrik yang di dapatkan dari data
hiperkes dengan menggunakan analisis univariat yang dibagi atas variabel
seperti intensitas kebisingan,umur, lama masa kerja, hasil pemeriksaan
audiometry, dan unit kerja.
Tabel 6.1 Distribusi Karakteristik karyawan Pabrik PT. Aneka Tambang Tbk
UBPN Pomalaa

No.

Karakteristik Sampel

Jumlah n =224

1 Paparan

Intensitas

Kebisingan
1. 85 dB

24

10,7

- 71,9

12

5,4

- 85

12

5,4

2. > 85 dB

200

89,3

- 86,25

58

25,9

- 88,35

67

29,9

- 96,15

49

21,9

- 108,1

26

11,6

1.) 40

95

42,4

2.) > 40

129

57,6

1.) 10

98

43,8

2.) >10

126

56,3

1.) NIHL

46

20,5

2.) Non NIHL

178

79,5

2 Umur (Tahun)

3 Lama Masa Kerja (Tahun)

4 Hasil Audiometri

5 Unit Kerja
1.) Smelting

49

22

2.) Refinery

67

30

3.) Ore Preparation

58

26

4.) Oxygen Production

12

5.) Quality Control

12

6.) Energy Management

26

12

Sumber : Arsip Hiperkes tahun 2013


Karyawan pabrik yang berjumlah 224 orang memiliki distribusi
paparan intensitas kebisingan yang dibagi atas 2 bagian yaitu dibawah
NAB (<85dB) atau diatas NAB (>85dB). Pembagian intensitas kebisingan
tersebut menunjukkan bahwa paparan intensitas kebisingan 85 dB
memiliki frekuensi hanya sekitar 10,7 % sedangkan intensitas kebisingan
> 85 dB memiliki presentasi yang sangat tinggi yaitu sekitar 89,3%.
Umur karyawan pabrik yang dikategorikan menjadi 40 tahun dan >
40 tahun. Dari data tabel 6.1 menunjukkan bahwa umur rata-rata
karyawan pabrik lebih banyak pada umur > 40 tahun dengan frekuensi
57,6% dibandingkan dengan umur karyawan 40 tahun yaitu sebesar
42,4%.
Lama masa kerja dibagi berdasarkan lama karyawan kerja selama
10 tahun dan > 10 tahun. Dari data tabel 6.1 menunjukkan bahwa lama
masa kerja karyawan pabrik >10 tahun lebih besar dengan frekuensi
56,31% dari pada bekerja selama 10 tahun dengan frekuensi 43,8 %.

Hasil audiometri dibagi berdasarkan pasien mengalami gangguan


pendengaran akibat bising(NIHL) karena ketulian atau tidak Non-NIHL.
Dari data menunjukkan lebih banyak karyawan yang tidak mengalami
NIHL yaitu sebanyak 79,5% dari pada yang Non NIHL hanya sekitar
20,5%.
Dan tempat pengambilan tingkat kebisingan di ambil pada pabrik
PT. Aneka Tambang Tbk khususnya pada unit kerja yaitu Smelting,
refinery, ore preparation, oxygen production, quality control dan energy
management. Hasil data menunjukkan berdasarkan pengambilan data
secara proporsional sampling, maka proporsi sampel untuk smelting
sebesar 22%, refinery sebesar 30%, Ore preparation 26%, oxygen
production sebesar 5%, quality control 5% dan energy management
sebesar 12%.

2. Hasil uji statistik bivariat


Analisis hubungan ini digunakan untuk mengetahui hubungan
antara tiap variabel independen dengan variabel dependen (analisis
bivariat).
a. Hubungan intensitas kebisingan pabrik dengan kejadian gangguan
pendengaran akibat bising/NIHL.

Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa semakin tinggi


intensitas kebisingan maka seseorang akan berisiko untuk mengalami
gangguan pendengaran akibat bising, hal ini disebabkan karena bunyi
yang berintensitas lebih dari 85 dB dapat menyebabkan kerusakan
pada reseptor pendengaran yang terdapat di organ Corti di telinga
bagian dalam.
Tabel 6.2 Hubungan antara Intensitas kebisingan pada paparan karyawan
pabrik dengan kejadian Gangguan pendengaran akibat bising.
Intensita

NIHL

OR

95% CI

Total

s
Bising

Ya

Tidak

n (%)

n (%)

85 dB

5 (20,8)

19 (79,2)

>85 dB

41(20,5

159(`79,5

46

178(79,5)

Total

Low

Up

P n (%)

24(100)
1,021 0,360 2,897

0.970 200(100)

224(100)

(20,5)

Menurut tabel 6.2 intensitas kebisingan > 85 dB dengan jumlah


karyawan yang terpapar sebanyak 200 orang diantaranya terdapat 41
orang yang mengalami gangguan pendengaran akibat bising dan 159
orang tidak mengalami gangguan pendengaran akibat bising. Dari
analisis data menunjukkan bahwa P value (0.970) > (0,05), sehingga
dapat disimpulkan bahwa intensitas kebisingan tidak berhubungan

dengan kejadian gangguan pendengaran akibat bising pada karyawan


pabrik PT. Aneka Tambang Tbk. Tetapi dari Odd Ratio memperlihatkan
bahwa pada paparan intensitas kebisingan >85 dB memiliki resiko 1
kali lebih besar akan mengalami Gangguan pendengaran dibanding
karyawan yang mendapat paparan kebisingan 85 dB.
b. Hubungan lama masa kerja dengan kejadian gangguan pendengaran
akibat bising/ NIHL.
Berdasarkan beberapa penelitian yang pernah dilakukan bahwa
sebagian besar gangguan pedengaran akibat bising adalah setelah
seseorang terpapar kebisingan > 10 tahun.
Tabel 6.3. Hubungan antara lama masa kerja dengan kejadian gangguan
pendengaran akibat bising/NIHL.
Lama

NIHL

OR

Masa

Ya

Tidak

Kerja

n (%)

n (%)

10 tahun

9 (9,2)

89 (90,8)

> 10 tahun

31(29,4)

89 (70,6)

95% CI
Low

Total

Up

P n (%)

98 (100)
0,243 0,111

0,534

0.00 126 (100)


0

Total

46

178(79,5)

224 (100)

(20,5)

Dari tabel 6.3, terdapat 98 orang yang bekerja selama 10 tahun


dimana sekitar 9 orang mengalami gangguan pendengaran dan 89
orang tidak mengalami gangguan pendengaran. Serta terdapat 126

orang yang telah bekerja selama > 10 tahun didapatkan sekitar 37


orang mengalami gangguan pendengaran dan sekitar 89 orang yang
tidak

mengalami

gangguan

pendengaran.

Dari

analisis

data

menunjukkan bahwa Pvalue (0,000) < (0,05). Sehingga dapat


disimpulkan bahwa lama masa kerja berhubungan dengan kejadian
gangguan pendengaran akibat bising. Jika melihat odd ratio < 1, berarti
lama masa kerja merupakan faktor protektif terjadinya ketulian.
c. Hubungan umur kerja dengan kejadian gangguan pendengaran akibat
bising/ NIHL.
Berdasarkan beberapa penelitian yang pernah dilakukan bahwa orang
yang bekerja dalam suasana bising untuk pertama kali setelah
berumur 40 tahun, biasanya telinga lebih rentan terhadap bising.
Tabel 6.4. Hubungan antara Umur Karyawan dengan kejadian gangguan
pendengaran akibat bising/ NIHL.

Umur

NIHL

OR

Ya

Tidak

n (%)

n (%)

40 tahun

10 (10,5)

85 (89,5)

> 40 tahun

36 (27,9)

93 (`72,1)

Total

46 (20,5)

178 (79,5)

95% CI
Low

Up

Total
P n (%)

95 (100)
0,304 0,142 0,650

0.001 129 (100)


224(100)

Dari tabel 6.4, terdapat 129 orang yang bekerja di pabrik dengan
umur > 40 tahun terdiri atas 36 orang yang mengalami gangguan

pendengaran akibat bising dan 93 orang yang tidak mengalami


gangguan pendengaran akibat bising. Serta terdapat 95 orang yang
bekerja di pabrik dengan umur 40 tahun terdiri atas 10 orang yang
mengalami gangguan pendengaran akibat bising dan 85 orang
yang tidak mengalami gangguan pendengaran akibat bising. Dari
analisis data menunjukkan bahwa Pvalue (0,001) < (0,05).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa umur berhubungan dengan
kejadian gangguan pendengaran akibat bising. Dan odd ratio
menunjukkan nilai < 1 yang berarti bahwa umur karyawan > 40
tahun merupakan faktor protektif terjadinya ketulian.

6.2 Pembahasan
Setelah

dilakukan

penelitian

mengenai

hubungan

intensitas

kebisingan dengan kejadian gangguan pendengaran akibat bising pada


karyawan pabrik PT.Aneka Tambang Tbk, maka diperoleh data jumlah
karyawan yang melakukan pemeriksaan audiometri sebanyak 507
karyawan, terdapat 46 (20,5%) karyawan yang mengalami gangguan
pendengaran akibat bising dan 178 (79,5%.) yang tidak mengalami
gangguan pendengaran. Data sampel yang diteliti diperoleh dengan
menggunakan proporsional sampling yaitu sebanyak 224 sampel setelah
memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Berdasarkan pengolahan data dan
analisis statistik yang digunakan terhadap variabel yang diteliti meliputi

intensitas kebisingan, umur, dan lama masa kerja dan diperoleh data
sebagai berikut:
1. Intensitas Kebisingan
Menurut kepustakaan lingkungan kerja dengan intensitas bising
>85 dBA dapat menimbulkan NIHL. Faktor-faktor lain yang dapat
menambah pajanan bising telah disingkirkan dengan kriteria inklusi dan
ekslusi. berdasarkan pertimbangan hal-hal tersebut diatas maka NIHL
yang

terjadi

kemungkinan

berhubungan

dengan

pekerjaan. Pada

penelitian ini didapatkan tidak ada hubungan antara tingkat intensitas


kebisingan yang tinggi terhadap kejadian NIHL, penelitian ini sesuai
dengan penelitian yang dilakukan lusianawaty di perusahaan baja bahwa
intensitas bising tidak berhubungan secara bermakna dengan peningkatan
NIHL. Hal ini dapat terjadi karena penggunaan Alat pelindung telinga yang
digunakan karyawan yang sesuai dengan tingkat kebisingan di area pabrik
PT.Antam

Tbk,

kepatuhan

karyawan

dalam

menggunakan

setiap

pelindung diri, serta pengaturan rotasi yang sangat baik yang telah
dilakukan oleh perusahaan.
Pada penelitian ini yaitu jumlah yang menderita NIHL sesuai
dengan lama masa kerja para pekerja dipengaruhi oleh faktor yang paling
penting yaitu intensitas kebisingan di lingkungan pabrik dengan rata-rata
kebisingan diatas NAB yaitu sekitar 86,5 dB dengan lama kerja per hari
adalah 8 jam. Menurut May intensitas bising sangat tinggi (>100 dB)
memberikan impuls kebisingan secara mekanik untuk merusak organ

telinga di bagian tengah dan telinga dalam. Menurut leensen (2010)


mengenai penelitian retrospektif terhadap kejadian NIHL di Dutch
Contruction Industry bahwa semakin tinggi intensitas kebisingan maka
angka kejadian NIHL juga tinggi.
2. Lama masa kerja
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok lama masa kerja
tertinggi adalah kelompok masa kerja >10 tahun yaitu sebanyak 126 orang
(tabel 6.3) terdapat 37 orang (29,4%) (tabel 6.3) yang mengalami
gangguan

pendengaran

akibat

bising,

dan

pada

tabel

ini

juga

menunjukkan bahwa lama masa kerja berhubungan dengan kejadian


ganguan pendengaran akibat bising di area Pabrik PT. Aneka tambang
Tbk dengan pValue=0.000.
Hasil penelitian ini sepadan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Agung sulistyanto pada tahun 2009 pada masinis DAOP-IV semarang.
Hasil penelitian mendapatkan adanya hubungan yang bermakna antara
lama masa kerja dengan kejadian gangguan pendengaran akibat bising.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Laras pada tahun 2011 pada pekerja
Home Industry knalpot di kelurahan purbalingga Lor juga menyatakan
terdapat hubungan yang bermakna antara lama masa kerja dengan
kejadian

gangguan

pendengaran

akibat

bising.

Sehingga

dapat

disimpulkan bahwa hasil penelitian di area Pabrik PT. Aneka Tambang tbk
bahwa distribusi kasus gangguan pendengaran akibat bising lebih banyak
terjadi pada karyawan yang telah bekerja > 10 tahun.

Bising dengan intensitas yang tinggi dan dalam waktu yang lama
yaitu antara 10-15 tahun akan mengakibatkan robeknya organ corti.
Intensitas bunyi yang sangat tinggi dan dalam waktu yang cukup lama
mengakibatkan perubahan metabolisme dan vaskuler yang dapat
menyebabkan kerusakan degeneratif pada struktur sel-sel rambut di
dalam organ corti. Organ corti yang rusak mengakibatkan kehilangan
pendengaran

yang

permanen.

Pada

audiometri

diagnosis

NIHL

ditunjukkan adanya penurunan pendengaran pada frekuensi 3000-6000


Hz dan kerusakan organ corti untuk reseptor bunyi yang berat terdapat
pada frekuensi 4000 Hz (4 K notch). Proses ketulian bersifat lambat dan
tersembunyi, sehingga pada tahap awal tidak disadari oleh pekerja, sesuai
dengan penelitian yang peneliti lakukan bahwa sebagian besar pekerja
tidak memiliki keluhan apapun pada telinga.

3. Umur Karyawan
Hasil yang didapat adalah karyawan yang menderita NIHL >40
tahun sebesar 10 orang dan yang tidak menderita NIHL 85 orang.
Penderita NIHL paling banyak diderita oleh rentang usia >40 tahun. Dari
analisis didapatkan pValue 0,001 hal ini berarti terdapat hubungan antara
penambahan usia/usia >40 tahun dengan kejadian NIHL. Hal ini Sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Lusianawaty Tana pada pekerja
perusahaan baja di Pulau Jawa menunjukkan kejadian NIHL yang terjadi

pada pekerja > 40 tahun. NIHL yang terjadi pada umur >40 tahun selain
berhubungan dengan faktor bising, kemungkinan pula berhubungan
dengan penurunan ambang pendengaran karena faktor usia/perbiacusis.
Olishifski melaporkan walaupun pengaruh

usia

terhadap

terhadap

pajanan bising masih dalam perdebatan, pada usia diatas 40 tahun terjadi
penurunan ambang pendengaran 0,5 dBA setiap tahun, 20% dari populasi
umum dengan usia 50-59 tahun mengalami kehilangan pendengaran
tanpa mendapat pajanan bising industri.
Berdasarkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun
1990 yang dikatakan tersebut diatas bahwa umur lebih dari 40 tahun lebih
rentan dengan penurunan ambang dengar sehingga berpeluang lebih
besar dalam mengalami ketulian ringan, sedang dan berat maupun sangat
berat, akan tetapi berdasarkan hasil penelitian ini maka kemungkinan
itupun dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya seperti penggunaan alat
pelindung diri, masa kerja dan lingkungan kerja.
BAB VII
PENUTUP

7.1 Kesimpulan
Intensitas kebisingan melebihi NAB (>85dB) didapatkan pada 4 unit
kerja utama, antara 86,25 sampai 108,1 dB, dengan sifat bising yang terus
menerus. Gangguan pendengaran akibat bising (NIHL) pada tenaga kerja

PT. Antam

Tbk

besarnya

20,5%

dan

NIHL

meningkat

dengan

bertambahnya usia dan lamanya masa kerja.


Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang hubungan
antara intensitas kebisingan dengan kejadian gangguan pendengaran
akibat bising pada karyawan pabrik PT. Aneka Tambang Tbk UBPN
Pomalaa Sulawesi Tenggara tahun 2015, yang datanya telah diolah dan
dianalisis maka dapat dapat diambil kesimpulan bahwa:
1. Lama masa kerja karyawan pabrik PT. Antam berpengaruh terhadap
kejadian gangguan pendengaran akibat bising .
2. Faktor usia > 40 tahun dari karyawan memiliki hubungan untuk
terjadinya gangguan pendengaran akibat bising pada karyawan pabrik
PT. Aneka Tambang Tbk UBPN Pomalaa.
3. Tingkat Intensitas Kebisingan tidak berpengaruh terhadap kejadian
gangguan pendengaran akibat bising pada karyawan pabrik PT. Aneka
Tambang Tbk UBPN Pomalaa.

7.2 Saran
Berdasarkan simpulan dari hasil penelitian diatas, maka adapun
saran yang dapat diberikan antara lain :
1. Administratif control dengan pengaturan waktu kerja
2. Disiplin memakai Alat Pelindung Telinga (APT) di lokasi rawan bising
sesuai dengan aturan perusahaan yang berlaku :
a. 85 dB A 94dB A : Ear Plug

b. 94 dB A 99 dB A : Ear Muff
c. 99 dB A : Ear plug + Ear Muff (Kombinasi)
3. Perlu dilakukan penyuluhan secara teratur dengan materi berbedabeda mengenai bising dan pencegahannya serta kegunaan APT bagi
tenaga kerja dan para pengambil keputusan di perusahaan, agar dapat
meningkatkan pengetahuan dan sikap terhadap bising dan praktek
pemakaian APT.
4. Pemeriksaan audiometri secara rutin setiap tahun dilakukan terhadap
tenaga kerja yang bekerja di tempat bising dan memberitahukan
hasilnya, agar tenaga kerja dapat mengetahui kondisi pendengarnya
dan bila terjadi kemunduran pendengaran dapat segera disadari.

DAFTAR PUSTAKA
1. DEPKES RI. Indonesia termasuk 4 negara di Asia Tenggara dengan
Prevalensi

Ketulian

4,6%.

http://www.depkes.go.id/index.phpoption=article=viewaticle&artid= 6 1&
Itemid =3 [diakses 19 september 2013]

2. Irwandi R. Penyakit Akibat Kerja dan Penyakit Terkait Kerja.


http://library.usu.ac.id/download/ft/07002746.pdf

[Diakses september

2013]
3. Tana Lusianawaty, Fx. Halim Suharyanto, Ghani L dan Delima.
Gangguan Pendengaran Akibat Bising Pada Pekerja Perusahaan Baja
di Pulau Jawa.Jurnal Kedokteran. Jakarta; Pusat Penelitian dan
pengembangan penyakit. 2002.
4. Menteri Kesehatan RI. Rencana Strategi Nasional Penanggulangan
Gangguan Pendengaran dan Ketulian untuk Mencapai Sound Hearing
2030. Jakarta; Menkes. 2006
5. Permaningtyas LD, Darmawan AB,dan Krisnansari D. Hubungan Lama
Masa Kerja dengan Kejadian Noise-Induced Hearing Loss. Mandala of
Health Vol.5, Nomor 3. 2011.
6. Bashiruddin

J, Soetirto

Indro.

Gangguan

Pendengaran Akibat

Bising/Noice Induced Hearing Loss. Buku Ajar Telinga Hidung


Tenggorok Kepala & Leher. Jakarta; Balai Penerbit FK UI, Edisi 6, p:
49-52.
7. Soetjipto, Damayani dr.Sp.THT. Gangguan Pendengaran Akibat
Bising.Malang. 2007
8. Munilson Jacky, Edward Yan, Al hafiz. Gangguan Pendengaran Akibat
Bising. Padang; Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok
Bedah kepala dan Leher.

9. Reksoprodjo

H.

Rencana

Pemeliharaan

Pendengaran

Lingkungan Industri di Indonesia. Cermin Dunia Kedokteran.

RIWAYAT HIDUP PENULIS

Nama Lengkap

: Jabar Aljufri

Stambuk

: C 111 10 327

Tempat/Tanggal lahir : Kendari, 12 November 1993

dalam

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Suku

: Bugis

Alamat

: Jl. Perita 3 Utara, Gardenia Regency, No.14

Nama Ayah

: H. S. All Djabbar, S.H, M.H,-

Nama Ibu

: Hj. Ramlah

Riwayat Pendidikan

TK Lepo-Lepo (1998 1999)

SD Negeri 1 Lepo-Lepo (1999 2005)

SMP Negeri 1 Kendari (2005 2007)

SMA Negeri 1 Kendari (2007 2010)

Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar (2010


Sekarang)