You are on page 1of 18

LAPORAN ASISTENSI PRACOASS

KELOMPOK 18
ARISTY TRESNAHADI (G1G010001)
ANUNG SAPTIWULAN (G1G010011)

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
JURUSAN KEDOKTERAN GIGI
PURWOKERTO
2016

Bidang Bedah Mulut Pencabutan Sederhana


Nama Coass : Meitika Wahyu Wedhawati S.KG
Angkatan Coass : Coass 7
A. Ringkasan Kasus
Pasien perempuan berusia 48 tahun datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut
Pendidikan UNSOED ingin mencabut gigi bawah kiri belakang. Gigi bawah
kiri belakang terlihat berlubang dan berwarna kehitaman. Setelah dilakukan
pemeriksaan intra oral pada test palpasi hasilnya negatif (-), perkusi hasilnya
negatif (-), mobilitas hasilnya negatif (-), vitalitas hasilnya negatif (-) dan
keadaan gigi tersebut karies profunda mesio proksimal. Pasien tersebut di
diagnosa nekrosis pulpa dan pasien mengiginkan untuk dilakukan pencabutan.
B. Pemeriksaan Subyektif
Pasien datang ingin dicabut gigi bawah kiri belakang
C. Pemeriksaan Obyektif
1. Palpasi negatif
2. Perkusi negatif
3. Mobilitas negatif
4. Vitalitas negatif
5. Keadaan gigi : karies profunda mesio proksimal
6. Pemeriksaan Tekanan darah : 110/70 mmHg
D. Assesment
Nekrosis Pulpa
E. Planning
Ekstraksi
F. Hasil Pengamatan
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan dari segi
kelengkapan bilik kerja yang seharusnya sudah tersedia pada awal mula akan
dilakukan pemeriksaan, yaitu tidak terdapat kantung plastik berwarna kuning
untuk sampah medis dan tidak adanya hand towel. Setelah memenuhi
kelengkapan bilik kerja operator selanjutnya melakukan ekstraksi gigi dengan
langkah-langkah sebagai berikut :
1. Operator melakukan prosedur administratif terlebih dahulu, kemudian
operator meminta izin kepada dosen supervisor untuk mempersilahkan
masuk pasien ke bilik dan melakukan pemeriksaan awal.

2. Posisi operator dan pasien


Posisi operator arah jam 9, ketinggian kursi gigi pada ekstraksi gigi rahang
bawah dataran oklusal pasien sudah sekitar di atas siku.
3. Permeriksaan awal, terdiri dari pemeriksaan subyektif (S), obyektif (O),
assessment (A), dan planning (P). Pengisian odontogram dan pemeriksaan
tekanan darah. Dari pemeriksaan pasien didapatkan tekanan darah pasien
100/70 mmHg.
4. Setelah pemeriksaan awal, kemudian meminta persetujuan tindakan medis
atau informed consent kepada pasien sekaligus menjelaskan prosedur yang
di lakukan.
5. Selanjutnya operator melakukan evaluasi pra anestesi denagan form yang
sudah disediakan pasien tidak sedang dalam perawatan dokter dan tidak
pernah dirawat inap dirumah sakit selama lima tahun terakhir. Pasien tidak
mempunyai alergi terhadap obat tertentu. Akhir-akhir ini pasien tidak
minum obat tertentu. Pasien tidak pernah menderita demam rematik atau
penyakit jantung, serangan santung, asma atau hay fever, mudah
mengalami pendarahan atau memar, serta epilepsi. Pasien juga tidak
pernah menderita hipertensi, diabetes, luka sulit sembuh.
6. Operator melakukan tindakan asepsis dengan menggunakan kapas yang
diberi povidone iodine, kemudian ulaskan pada area yang akan di anestesi
pada trigonum retromolar pad.
7. Operator melakukan tindakan anestesi topikal dengan menggunakan
procaine anesthetic gel. Kemudian anestesi dengan teknik blok fisher dan
infiltrasi untuk gigi 35 dengan menggunakan spuit injeksi yang berisi
pehacain sebanyak 2ml. 1 ml untuk menganetesi nervus alveolaris inferior,
0,5 ml untuk mensarafi nervus lingualis dan 0,5 ml untuk mensarafi
nervus bucalis longus.
8. Setelah pasien merasa kebas kemudian dilakukan separasi jaringan lunak
atau gingiva yang menempel pada gigi menggunakan ekskavator,
selanjutnya gigi diluksasi menggunakan bein. Ketika gigi sudah mulai
goyang operator melakukan ekstraksi gigi menggunakan tang premolar
dengan arah bukal-palatal, dan rotasi.

9. Operator memeriksa kembali area soket memastikan tidak ada akar sisa
dan tulang yang tajam, kemudian operator melakukan kuretase untuk
membuang jaringan granulasi.
10. Soket kemudian di irigasi menggunakan povidone iodine yang
disemprotkan dengan spuit injeksi
11. Operator melakukan kompresi atau penekanan soket bekas pencabutan
dan meletakan kain kassa di atasnya serta pasien diminta untuk menggigit
dengan gigi atau jaringan antagonis.
12. Operator melakukan edukasi pasca pencabutan, sekaligus edukasi cuci
tangan dan cara menyikat gigi.
13. Operator menunjukan hasil tindakan kepada supervisor dan meminta
tanda tangan untuk rekam medik dan resep. Operator meresepkan obat
untuk pasien yaitu amoxicillin tablet 500 mg diminum 8 jam sekali selama
3 hari dan paracetamol tablet 500 mg diminum 8 jam sekali selama 3 hari.
G. Pembahasan
Ekstraksi gigi yang ideal adalah tindakan mengeluarkan gigi atau akar
gigi tanpa rasa sakit dari soketnya, dengan trauma minimal sehingga tanpa
komplikasi. Keberhasilan pencabutan gigi dengan tang tergantung pada
melonggarkan alveolus, memutuskan legamen periodontal dan memisahkan
perlekatan gingiva.
1. Indikasi
a. Karies yang tidak dapat direstorasi, misalnya karies yang besar,
bivurcation involvment.
b. Fraktur akar yang tidak dapat direstorasi yaitu > 1/3 ekstraksi dan <
1/3 apikoektomi
c. Pertimbangan pembuatan protesa : estetik, adaptasi, retensi, dan
stabilisasi protesa
d. Penyebab infeksi, misalnya abses, osteomyelitis
e. Gigi goyang parah, misalnya zenile, penyakit periodontal
f. Gigi impaksi yang harus dicabut karena menyebabkan gangguan
neurologis, fokus infeksi, penyebab kelainan pada tulang (dentigerous
cyst)
g. Supernumerari (misalnya: mesiodens, paramolar)

h. Fokus infeksi penyebab endokarditis bakterialis, rheumatoid artritis,


i.
j.
k.
l.
m.

penyakit kulit
Adanya fraktur rahang
Penyebab ulkus
Pertimbangan ortho
Malposisi yang tidak bisa dirawat ortho
Supraklusi menyebabkan gangguan fungsi pengunyahan, estetik,

stabilitas protesa, ulkus pada gigi antagonis


2. Kontra indikasi
a. Pasca terapi radiasi seperti osteoradionecrosis, suplai darah menurun
b. Sinusitis akut
c. Vascular malformation seperti hemangioma, AV fistula
d. Pulpitis totalis akut
e. Perikoronitis atau pericoronal abses akut
f. Stomatisis akut
g. Kelainan kardiovaskular seperti hipertensi, vasokonstriktor endogen
dan eksogen, endokarditis bakteriale, myocardial infark
h. Kelainan darah
i. Kehamilan absolut pada trimester 1 dan 3
j. Medically compromised patient
k. Sedang menjalani radioterapi
Tahap tahap ektraksi yang dilakukan, yaitu:
1. Persiapan alat dan ruangan
Alat-alat yang diperlukan harus sudah ditentukan dengan benar, steril dan
tertutup. Begitu juga ruangan, kebersihan, penerangan dan pengatur suhu
ruangan serta ketenangan dan kenyamanan sudah ditata dengan baik
sehingga pasien dapat rileks dan nyaman masuk ruang operrasi.
2. Permeriksaan umum terdiri dari pemeriksaan subyektif, pemeriksaan
obyektif, pengisian odontogram dan pemeriksaan tekanan darah.
3. Asepsis merupakan tekhnik mencegah kontak dengan mikroba patogen.
Caranya dengan menggunakan kapas yang diberi povidone iodine,
kemudian ulaskan pada area yang akan di anestesi searah jarum jam dari
ke arah luar.
4. Anestesi
Anestesi yang

dilakukan

pada

pencabutan

sederhana

biasanya

menggunakan anestesi lokal. Anestesi lokal bertujuan menghilangkan rasa


sakit pada area tertentu tanpa menghilangkan kesadaran dan bekerja

dengan cara mendepresi rangsangan pada saraf tepi atau menghambat


jalannya konduksi sakit pada saraf tepi. Ada 3 macam anestesi local, yaitu
:
a. Anestesi topical
: Pada bagian superficial
b. Anestesi infiltrasi
: Pada akhiran saraf
c. Anestesi blok
: Pada bagian proximal cabang saraf utama
Nervus Trigeminus (N. V) merupakan Nervus cranialis V yg menginervasi
sebagian besar jar. orofacial ada 3 cabang:
a. N. Opthalmicus
Merupakan cabang terkecil dari ganglion gasseri keluar dari cranium
melalui fissura orbitalis superior. Menginervasi struktur di dalam;
orbita, dahi, kulit kepala, sinus frontalis, palpebra superior
b. N. Maxillaris
Keluar dari cranium melalui foramen rotundum menuju fossa
pterygopalatina terus berjalan melalui fissura orbitalis inferior ke
anterior canalis infra orbitalis. Keluar melalui foramen infra orbitalis;
N. infra orbitalis. N. Infra orbitalis menginervasi palpebra inferior, sisi
lateral hidung & labium oris superior.
1) Cabang pertama N. Maxillaris meliputi:
a) pharyngeus
b) n. palatinus mayus
Inervasi; mucoperiosteum sebelah palatal molar dan premolar
rahang atas
c) n. palatinus minor
d) n. nasopalatinus
Inervasi; mucoperiosteum palatal regio gigi anterior rahang
atas
e) n. nasalis superior
2) Cabang kedua N. Maxillaris
N. Alveolaris Superior Posterior
Inervasi: semua akar gigi molar ke-2, 3 dan akar gigi molar pertama
kecuali akar mesiobukal
3) Cabang ketiga N. Maxillaris
N. Alveolaris Superior Medius
Inervasi: gigi premolar pertama & ke-2 akar mesiobukal gigi molar
pertama

4) Cabang keempat N. Maxillaris


N. Alveolaris Superior Anterior
Inervasi: gigi insisivus sentral, insisivus lateral, caninus, membran
mukosa labial, periosteum, alveolus unilateral.
c. N. Mandibularis
Cabang terbesar keluar dari ganglion gasseri. Dari cranium keluar
melalui foramen ovale membentuk 3 cabang;
1) Buccalis longus
Berjalan diantara kedua caput m. pterygoideus externus
menyilang ramus dan masuk ke pipi melalui m. buccinators.
Inervasi: membran mukosa bukal, mucoperiosteum lateral gigi
molar atas dan bawah
2) n. lingualis
Berjalan ke bawah superfisial dari m. pterygoideus internus
berlanjut kelingual apeks gigi molar ke-3 RB. Masuk ke basis
lidah melalui dasar mulut. Inervasi: 2/3 anterior lidah,
mucoperiosteum & membran mukosa lingual
3) n. alveolaris inferior
Cabang terbesar N. Mandibularis. Turun dibalik m. pterygoideus
externus disebelah posterior-lateral n.lingualis, berjalan antara
ramus mandibula & ligamentum sphenomandibularis masuk ke
canalis mandibula. Bersama arteri alveolaris inferior berjalan di
dalam canalis mandibula & mengeluarkan percabangan untuk
inervasi geligi RB dan keluar melalui foramen mental. Cabang n.
Alveolaris inferior:
a) n. Mylohyoideus

: Inervasi: m. Mylohyoideus, venter

anterior m.digastrici di dasar mulut.


b) r. Dentalis brevis
: Inervasi; molar,

premolar,

proc.

Alveolaris & periosteum, membran mukosa bukal


c) r. Mentalis : Inervasi: kulit dagu, membran mukosa labium
oris inferior
d) r. Incisivus : Inervasi: gigi incisivus sentral-lateral, caninus
5. Posisi operator dan pasien
Posisi operator posisi operator pada jam 9 kecuali untuk mencabut gigi
posterior rahang bawah kanan pada jam 11. Posisi pasien kepala, leher,

dan pundak harus lurus,dataran oklusal rahang bawah sejajar lantai,


dataran oklusal rahang atas membentuk sudut 45-60 derajat dengan lantai.
Ketinggian kursi gigi pada ekstraksi gigi rahang bawah dataran oklusal
pasien sekitar di atas siku.
6. Separasi
Separasi menggunakan ekskavator atau sonde untuk membuka jaringan
lunak atau gingiva yang masih menempel pada gigi.
7. Luksasi
Luksasi biasanya menggunakan bein atau elevator. Alat ini digunakan
untuk mengungkit gigi dari alvoelaris. Pergerakan dapat berupa
mendorong atau menarik untuk mengeluarkan objek ke arah atas
8. Pencabutan gigi dengan tang
a. Tang Rahang Atas
1) Bentuk Lurus untuk pencabutan gigi anterior bermahkota dan sisa
akar.
2) Bentuk S untuk pencabutan gigi yang letaknya ditengah (premolar
atau molar) bermahkota atau sisa akar.
3) Bentuk Bayonet untuk pencabutan M3 atau sisa akar.
Tang untuk pencabutan gigi molar rahang atas bermahkota dibedakan
atas kiri dan kanan sesuai dengan bentuk paruh. Sedang untuk gigi I,
C, dan P tidak dibedakan.
b. Tang Rahang Bawah
Tang yang digunakan untuk gigi-gigi RB mempunyai ciri
antara paruh dan pegangan membentuk sudut 90 derajat atau
dimodifikasi lebih dari 90 derajat (untuk gigi yang letaknya di sudut
mulut). Tang rahang bawah umumnya tidak dibedakan antara kanan
dan kiri, tapi ada juga yang dibedakan. Untuk gigi I, C, dan P bentuk
beak pada umumnya tumpul, yang membedakannya terletak pada
lebar paruh (beak) dalam ukuran mesio-distal. Untuk tang molar
ditandai yaitu pada beaknya ada ujung yang tajam pada kedua sisi dan
tengah.
9. Kuretase

Setelah gigi keluar dari soket, dilakukan pembuangan jaringan granulasi,


kemudian periksa adakah akar sisa atau tulang yang tajam untuk
meminimalisir terjadinya komplikasi paska ektraksi.
10. Kompresi
Penekanan soket bekas pencabutan dan diletakan kain kassa di atasnya
serta pasien diminta untuk menggigit dengan gigi atau jaringan antagonis.
11. Tahap pasca ekstraksi
a. Kontrol perdarahan
b. Instruksi paska ekstraksi
c. Resepkan obat antibiotik dan analgetik
d. Kontrol dan evaluasi
H. Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan prosedur ekstraksi yang dilakukan oleh
operator telah sesuai dengan urutan prosedur ekstraksi yang seharusnya.
Tetapi yang perlu diperhatikan pada saat melakukan anestesi, operator harus
benar-benar mengetahui teknik anestesi dan lokasi anestesi yang benar,
sehingga tidak berkali-kali menusukkan jarum ke mukosa pasien.
Daftar Pustaka
Agus, Purwanto., 2012, Petunjuk Praktif Anestesi Lokal, Jakarta, EGC.
Bakar, Abu., 2015, Kedokteran Gigi Klinik Edisi 2, Yogyakarta, Quantum
Sinergis Media
Michell, R., David, A.M., Lorna, McCaul., 2009. Kedokteran Gigi Klinik
Edisi 5 (Handbook of Clinical Dentistry), Jakarta, EGC.
Pedersen, Gordon W., 2012, Buku Ajar Praktis Bedah Mulut, Jakarta, EGC.
1. Kasus
: Insersi Crown PFM
2. Nama Coass : Neta Jelita Permatasari
3. Angkatan
: Coass 7
A. Ringkasan Kasus:
Pasien laki-laki berusia 25 tahun datang ke RSGMP Unsoed mengeluh gigi
depannya yang patah. Setelah dilakukan pemeriksaan intra oral menunjukkan
bahwa gigi 22 vitalitas gigi (+), perkusi (-), palpasi (-). Pasien didiagnosa
pulpitis reversibel dan dilakukan pembuatan crown PFM.
B. S (Pemeriksaan Subyektif):

Melanjutkan perawatan mahkota vital / crown gigi 22


C. O (Pemeriksaan obyektif):
Vitalitas (+)
D. A (Assessment):
Pulpitis reversibel
E. P (Planning):
Procrown vital / insersi crown vital
F. Hasil Pengamatan:
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, operator melakukan prosedur
administratif terlebih dahulu. Sebelum melakukan tindakan perawatan
operator telah menyediakan diagnostik set. Selanjutnya operator melakukan
pemasangan prosedur insersi crown PFM. Berikut merupakan langkah
pemasangan crown PFM:
1) Sebelum melakukan tindakan insersi crown gigi 22, dilakukan
pembersihan gigi 22 dengan menggunakan pinset dan cotton pelet.
2) Selanjutnya crown dibersihkan menggunakan alkohol dan dilakukan
percobaan (tray in).
3) Ketika dilakukan tray in, crown PFM tersebut tidak langsung pas sehingga
perlu dilakukan preparasi sedikit pada permukaan labial.
4) Setelah crown fit pada gigi, crown dilepas dari gigi.
5) Melakukan pemasangan retraction cord yang telah dicelupkan ke dalam
pehacain menggunakan plastis filling instrument dan eskavator. Retraction
cord digunakan untuk fitting surface area servikal crown PFM.
6) Mencabut retraction cord
7) Mengaduk bahan luting cement (GIC tipe 1) dengan menggunakan agaate
spatel dengan perbandingan liquid dan powder 1:1.
8) Luting cement dimasukkan ke dalam crown menggunakan plastic filling
instrument
9) Diinsersi pada gigi pasien dan ditahan selama kurang lebih 1 menit dan
dibersihkan kelebihan bahan lutingnya dari servikal gigi
10) Instruksi pasien
Setelah selesai melakukan seluruh tindakan, operator menunjukkan hasil
insersi crown kepada supervisor dan meminta tanda tangan untuk rekam
medis pasien
G. Pembahasan

Porcelain Fused to Metal


Restorasi porcelain fused to metal melibatkan penggabungan dari
kebaikan sifat mekanik logam dengan sifat estetik porcelain yang baik. Secara
umum, restorasi terdiri dari sub-struktur logam campur yang berikatan
dengan vinir porcelain. Restorasi logam-keramik telah berhasil digunakan
untuk mahkota dan jembatan multiunit (multiunit bridge) selama 30 tahun.
Restorasi ini digunakan lebih dari 60 persen pada kasus restorasi mahkota dan
jembatan (Anusavice, 2003).
Keuntungaan PFM sebagai bahan crown adalah:
1.
2.
3.
4.

adanya metal core dapat mendukung gigi


tahan terhadap tekanan mastikasi dan resisten terhadap fraktur
tahan lama di dalam rongga mulut
Metal yang di lapisi dengan porselen membuat crown yang dipakai

menjadi estetis karena memiliki warna yang sama dengan gigi.


5. Dapat digunakan dengan kavitas yang luas dan besar
6. Cocok untuk digunakan pasien yang memiliki kebiasaan bruxism
7. Warna PFM sebagai crown dapat bertahan lama (tidak dapat berubah
warna (Sinabutar, 2008).
Kekurangan Porcelain fused to Metal dalam bidang kedokteran gigi:
1. Lebih banyak jaringan gigi yang harus dihilangkan (lebih banyak
dibandingkan porselen) untuk substruktur metal
2. Harga lebih mahal karena setidaknya membutuhkan dua kali kunjungan
dan juga bila menggunakan alloi metal yang mahal
3. Teknis lab yang lebih sulit. Prosedur teknis dari pola wax investing dan
casting alloi metal yang mahal meliputi banyak variabel teknis dan
pertimbangan banyaknya langkah operatif dan siklus firing, membuat
kualitas akhir dari restorasi yang sangat sensitif.
4. Chipping pada porselen ketika tekanan pada gigi yang ekstrim, tetapi
dapat diatasi oleh dokter gigi dalam 20-30 menit
5. Dari sudut pandang estetik, PFM tidak menyerupai aspek natural dari
gigi, karena inti metal yang menghalangi cahaya untuk masuk. Tidak
adanya translusensi, karena faktanya restorasi PFM hanya dapat

mengabsorbsi atau memantulkan cahaya, sementara jaringan gigi


menunjukkan derajat translusensi yang tinggi (Zarone, dkk., 2011)
6. Terbentuk bayangan gelap pada bagian servikal (Pahlevan, 2006)
7. Pada sistem logam-keramik, kegagalan terjadi pada daerah yang memiliki
ikatan paling lemah, sehingga jika ikatan adhesif antara keramik dan
logam sudah cukup, kegagalan akan kohesif di dalam keramik.
8. Pada noble alloy yang digunakan untuk PFM seperti emas, palladium,
persentase kecil dari indium, harga lebih mahal dan kurang beradaptasi
dengan sistem keramik yang berbeda. Sebagai contoh cairan palladium
dapat mengabsorbsi gas dalam jumlah banyak yang kemudian dapat
dilepaskan selama casting dan menyebabkan banyak mikroporositas.
9. Pada base metal alloy yang digunakan untuk PFM, terkadang
menyebabkan pembentukan oksida yang besar, sulit saat finishing dan
polishing dikarenakan ductility yang rendah, dan dapat menyebabkan
shrinkage pada casting yang lebih besar. Sebagai contoh oksida Ni dan Cr
dalam sistem base metal menurunkan koefisien ekspansi porselen Vita
(Vident)

dan

diduga

dapat

memicu

stres

interfasial

sehingga

menyebabkan kegagalan (Venkatachalam, dkk., 2009)


10. Pada crown PFM, untuk kepentingan gigi sebelahnya, pembentukan dan
lokasi serta ukuran area kontak sangat penting. Adanya diskrepansi pada
area kontak dapat menyebabkan impaksi makanan. Pasien dapat merasa
sangat kesulitan untuk mempertahankan area tersebut bersih yang dapat
menyebabkan karies pada gigi sebelahnya (Sadaf dan Ahmad, 2011).
TAHAP PEMBUATAN CROWN ANTERIOR
1. Seleksi warna
a. Kondisi lingkungan sekitar sangat berpengaruh, terhadap persepsi
operator, maka perlu dikontrol, misalnya:
- ruangan praktek
- sinar lampu
- back ground pakaian dll, perlu warna netral
- Bila digunakan rubber dam untuk isolasi perlu dilepas terlebih
dahulu.
b. shade guide

sebaiknya disesuaikan dengan bahan yang akan digunakan.


Pemilihan warna dilakukan sebelum mulai preparasi, dicocokkan
dengan gigi tetangganya atau pilih yang terbaik.
2. Preparasi crown PFM:
Prinsip Umum Preparasi Crown Anterior (Mahkota Jaket Anterior):
- Konsep preparasi seimbang.
- Pada gigi vital pengasahan disesuaikan dengan morfologi dan
-

demensi ruang pulpa, Untuk ini perlu X-ray photo.


Finishing line / the margin of the restoration berupa shoulder /
chamfer terletak di bawah gingival margin

Tahap dan Cara Preparasi Anterior Crown:


1. Pengasahan bidang proksimal
Alat : pointed tapered cylindrical
Cara :
a.Membuat garis pedoman pada permukaan labial proksimal gigi
berjarak 1-1,5 mm dari titik kontak
b. Dilakukan pengasahan dan hindari terasahnya gigi tetangga
c.Bidang proksimal dibuat konvergen ke arah insisal dengan sudut
kemiringan 6o untuk mendapatkan resistensi jaringan gigi yang
cukup serta arah pasang mahkota yang baik
d. Pengasahan dengan gerakan konstan dan tanpa tekanan
e.Setelah selesai periksa menggunakan sonde untuk melihat ada
tidaknya undercut pada kontak proksimal
2. Pengasahan bidang insisal
Alat : straight cylindrical atau wheel diamond bur
Cara :
a. Buat pedoman pengasahan sebesar 1-1,5 mm dari tepi insisal atau
dengan menggunakan pedoman groove sedalam 1-1,5 mm dari
tepi insisal dengan menggunakan bur
b. Pengasahan dilakukan dengan kemiringan 45o ke arah palatal.
c. Lakukan pengecekan dengan membandingkan ketinggian bidang
insisal gigi yang normal dan oklusi pada saat edge to edge harus
sudah open
d. Hati-hati jangan perforasi kamar pulpa
3. Pengasahan bidang labial
Alat : straight cylindrical bur dan round end tapered cylindrical bur
Cara :

a. Membuat pedoman groove menggunakan bur diamond tipe


straight cylindrical yang sesuai sebanyak 3 buah pada bagian 2/3
insisal sedalam 1-1,5 mm dan 2 groove pada 1/3 servikal
sedalam 0,5 mm
b. Pengasahan permukaan labial :
- 2/3 insisal menggunakan bur diamond tipe round end tapered
cylindrical dari pedoman groove ke arah mesial dan distal
-

sesuai dengan bentuk anatomi mahkota gigi


1/3 servikal dilakukan sejajar sumbu gigi sampai dasar

groove, dengan gerakan dari groove ke arah mesial dan distal.


c. Pengecekan dilakukan dengan sonde untuk melihat ada tidaknya
undercut
4. Pengasahan bidang palatal
Alat : Flame bur round end tapered cylindrical bur
Cara :
a. Umumnya hampir sama dengan bidang labial. Arah gerakan bur
dari tengah ke mesial / distal mengikuti anatomi bidang palatal
b. Preparasi dibagi menjadi 2 tahapan :
- Bidang di atas singulum
- Bidang singulum
c. Periksa hasil preparasi menggunakan sonde dan kaca mulut dari
arah insisal baik bidang palatal maupun bidang labial harus
sejajar sumbu gigi
5. Pengasahan bidang servikal
Alat : round end tapered cylindrical bur (chamfer) / flat end tapered
bur (shoulder) / pointed tapered cylindrical (knife-edge)
Cara :
a. Dengan menggunakan bur sejajar sumbu gigi mengelilingi gigi
membentuk finishing line
b. Untuk estetik tepi preparasi dapat masuk ke dalam sulkus
gingiva
c. Hasil preparasi diperiksa dengan menggunakan sonde
6. Penyelesaian tahap akhir preparasi
Alat : fine finishing bur berbentuk round end tapered cylindrical dan
bentuk pointed tapered cylindrical
Cara :

a. Semua sudut pertemuan dari 2 atau 3 bidang yang telah diasah


dihaluskan menggunakan bur tersebut
b. Hasil penghalusan diperiksa dengan sonde
Penurunan Jaringan Gingiva (Gingiva Retraction):
Cara-cara retraksi gusi antara lain:
-

Mekanis : dengan menggunakan rubber dam atau mahkota sementara.


Kombinasi mekanis dan khemis: dengan tali (cord) yang diulasi
bahan kimia tertentu yaitu; aluminium chloride, aluminium sulfate,
ferric sulfate atau epinephrine (untuk ini perlu diperhatikan keadaan
umum / riwayat medis penderita).

Mencetak:
-

Setelah tahap retraksi gingiva dilakukan pencetakan


Untuk mendapatkan bentuk negatif dari gigi dan jaringan sekitarnya
Sendok cetak yang digunakan dapat berupa sendok cetak sebagian
atau sendok cetak penuh untuk RA atau RB maupun untuk gigi
posterior maupun anterior sesuai kebutuhan
Kemudian diisi / dituang dengan dental stone (gips tipe IV) untuk

memperoleh model kerja (bentuk positif)


Bahan Cetak yang dipakai :
-

Heavy Body/ Putty type Digunakan sebagai cetakan pertama untuk

membuat Individual Tray


Light Body/ Syringe Type atau Injection Type digunakan sebagai
cetakan kedua, untuk mendapatkan detail cetakan yang tajam

Teknik mencetak menggunakan double Impression technic


-

Memakai dua bahan dengan viskositas yang berbeda (putty

dikombinasikan dengan regular atau light body)


Pertama dilakukan pencetakan dengan bahan cetak putty,setelah
mengeras

dikeluarkan

dari

mulut

penderita,

daerah

target

dipotong/dikerok sekitar 2 mm
Selanjutnya aduk base dan catalyst dari light body (perbandingan
1 : 1), masukkan dalam sendok cetak tadi (pada daerah yang sudah
dikerok) dan sebagian ditaruh ke sekeliling gigi yang bersangkutan
untuk mendapatkan detail yang tajam.

Kemudian sendok cetak dikeluarkan dan dicuci dengan desinfektan

untuk membersihkan saliva


Kemudian dilakukan pengecoran dengan gips keras untuk
mendapatkan model kerja

Catatan gigit (occlusal Records):


Sebagai pedoman menentukan oklusi pada model kerja.
Bahan yang digunakan :
- Lempeng malam merah
- Gips cetak
- Bahan cetak (jenis heavy body / putty)
3. Membuat mahkota sementara
a. Cetak gigi pada model kerja 1 dengan alginat, kemudian disimpan
sejenak dengan menggunakan tissue lembab
b. Setelah preparasi gigi selesai, olesi gigi yang telah dipreparasi serta
daerah di sekitarnya dengan vaseline.
c. Cetakan alginat yang telah dibuat dicobakan kemudian diberi tanda
dengan pensil warna, tujuannya untuk mempermudah reposisi
kedudukan pada saat dimasukkan kembali ke dalam mulut.
d. Buat adonan cold cure acrylic sewarna gigi pada dappen glass
e. Masukkan adonan akrilik tersebut ke dalam cetakan alginat.
Posisikan kembali cetakan ke dalam mulut, fiksasi sebentar hingga
hampir mengeras.
f. Keluarkan cetakan alginat dari dalam mulut, buang kelebihan akrilik
pada alginat, rapihkan bagian proksimal, bukal/ labial, palatal/
lingual. Kemudian lepaskan akrilik dari alginat.
g. Cobakan kembali mahkota tiruan sementara tersebut ke dalam mulut
h. Poles mahkota sementara dengan pemoles akrilik.
4. Instruksi Lab:
i. Lakukan pengisian lembar instruksi lab yang kemudian ditandatangani
oleh supervisor
j. Kirim model kerja ke laboratorium gigi beserta lembar instruksi lab
5. Insersi Crown dan Sementasi
a. Sterilisasi daerah isolasi gulungan kapas (cotton roll), penyedot ludah.
b. Tonggak preparasi mahkota jaket. Mahkota jaket dibersihkan dengan
larutan germicidal / alkohol.
c. Dikeringkan.

d. Semen diaduk konsistensi tepat sebagai bahan perekat


e. Semen dioleskan pada : - tonggak preparasi - bagian dalam mahkota
jaket.
f. Kalau perlu sebelumnya tonggak preparasi diolesi dengan pernis
kavitas.
g. Mahkota jaket dipasang, ditekan supaya semen mengeras. Kelebihan
semen dihilangkan.
Macam semen perekat:
a.
b.
c.
d.

Semen Fosfat mechanical interlocking.


Semen Polykarboksilat Mekanis dan khemis
Semen lonomer Kaca Tipe I Mekanis dan khemis
Resin Mekhanis, khemis dan mengikat masuk melalui prismataprismata email dengan tehnik ETSA. Semen ini paling kuat, khusus

untuk gigi yang telah dirawat saluran akarnya.


H. Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan, prosedur insersi crown operator telah sesuai
dengan prosedur yang seharusnya.

DAFTAR PUSTAKA
Anusavice, Kenneth J., 2003, Phillips Science of Dental Materials 11nd, United
States of America: Elsevier Science.
Pahlevan A., 2006, A New Design for Anterior Porcelain Fused to Metal Fixed
Prosthetic Restorations; PTU Type III, Journal of Dentistry, Vol. 3(2): 100103.
Sadaf D and Ahmad MZ., 2011, Porcelain fused to metal (PFM) crowns and caries in
adjacent teeth, Journal of the College of Physicians and Surgeons Pakistan,
Vol. 21 (3): 134-137.
Sinabutar, E, 2008, Perbedaan Marginal Gap Cavosurface Margin Berbentuk
Shoulder dan Champer Overlay PFM.
Venkatachalam B, Goldstein GR, Pines MS, and Hittelman EL, 2009, Ceramic
Pressed to Metal Versus Feldspathic Porcelain Fused to Metal: A
Comparative Study of Bond Strength, The International Journal of
Prosthodontics, Vol. 22 (1): 94-100.
Zarone F, Russo S, and Sorrentino R., 2011, From porcelain-fused-to-metal to
zirconia: Clinical and experimental considerations, Dental Materials, Vol.
27: 83-96.