You are on page 1of 40

KONSEP DASAR PENYAKIT

I.

PENGERTIAN
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan
sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg. Pada populasi
manula, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmhg dan tekanan
diastolic 90 mmHg. (Suzanne C. Smeltzer, 2001)
Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi
peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita yang
mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90
mmHg

saat

istirahat

diperkirakan

mempunyai

keadaan

darah

tinggi.

(http://www.ningharmanto.com/2009/01/hipertensi/)
Secara sederhana, seseorang dikatakan menderita Tekanan Darah Tinggi jika
tekanan Sistolik lebih besar daripada 140 mmHg atau tekanan Diastolik lebih besar dari
90 mmHg. Tekanan darah ideal adalah 120 mmHg untuk sistolik dan 80 mmHg untuk
Diastolik.
Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih
tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah
diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah kurang dari 120/80
mmHg didefinisikan sebagai normal. Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi
kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi biasanya terjadi pada tekanan darah
140/90 mmHg atau ke atas, diukur di kedua lengan tiga kali dalam jangka beberapa
minggu.
II.

EPIDEMIOLOGI
Hipertensi dikenal sebagai salah satu penyebab utama kematian di Amerika Serikat.
Sekitar seperempat jumlah pendududk dewasa menderita hipertensi, dan insidennya
lebih tinggi dikalangan Afro-Amerika setelah usia remaja.
Sekitar 20% populasi dewasa mengalami hipertensi essensial dan sisanya mengalami
kenaikan tekanan darah dengan penyebab tertentu.

III.

ETIOLOGI
Sekitar 20% populasi dewasa mengalami hipertensi, lebih dari 90% diantara
mereka menderita hipertensi essensial (primer), dimana tidak dapat ditentukan penyebab

medisnya. Sisanya mengalami kenaikan tekanan darah dengan penyebab tertentu


(hipertensi sekunder).
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi 2 jenis :
1.

Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang tidak / belum

diketahui penyebabnya (terdapat pada kurang lebih 90 % dari seluruh hipertensi).


2.

Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan/ sebagai akibat dari

adanya penyakit lain.


Hipertensi primer kemungkinan memiliki banyak penyebab; beberapa perubahan
pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan
meningkatnya tekanan darah.
Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi sekunder. Pada sekitar 510% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%,
penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB).
Penyebab hipertensi lainnya yang jarang adalah feokromositoma, yaitu tumor
pada kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) atau
norepinefrin (noradrenalin).
Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder:
1.

2.

Penyakit Ginjal

Stenosis arteri renalis

Pielonefritis

Glomerulonefritis

Tumor-tumor ginjal

Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan)

Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal)

Terapi penyinaran yang mengenai ginjal

Kelainan Hormonal

Hiperaldosteronism

Sindroma Cushing

3.

Feokromositoma

Obat-obatan

Pil KB

Kortikosteroid

Siklosporin

Eritropoietin

Kokain

Penyalahgunaan alkohol

Kayu manis (dalam jumlah sangat besar)

4. Penyebab Lainnya

Koartasio aorta

Preeklamsi pada kehamilan

Porfiria intermiten akut

Keracunan timbal akut

Adapun penyebab lain dari hipertensi yaitu :


1. Peningkatan kecepatan denyut jantung
2. Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama
3. Peningkatan TPR yang berlangsung lama
IV.

FAKTOR PREDISPOSISI
Berdasarkan faktor pemicu, Hipertensi dapat disebabkan oleh beberapa hal
seperti umur, jenis kelamin, dan keturunan. Hipertensi juga banyak dijumpai pada
penderita kembar monozigot (satu telur), apabila salah satunya menderita Hipertensi.
Dugaan ini menyokong bahwa faktor genetik mempunyai peran didalam terjadinya
Hipertensi.
Sedangkan yang dapat dikontrol seperti kegemukan/obesitas, stress, kurang
olahraga, merokok, serta konsumsi alkohol dan garam. Faktor lingkungan ini juga
berpengaruh terhadap timbulnya hipertensi esensial. Hubungan antara stress dengan
Hipertensi, diduga melalui aktivasi saraf simpatis. Saraf simpatis adalah saraf yang
bekerja pada saat kita beraktivitas, saraf parasimpatis adalah saraf yang bekerja pada
saat kita tidak beraktivitas.
Peningkatan aktivitas saraf simpatis dapat meningkatkan tekanan darah secara
intermitten (tidak menentu). Apabila stress berkepanjangan, dapat mengakibatkan
tekanan darah menetap tinggi. Walaupun hal ini belum terbukti, akan tetapi angka

kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan. Hal ini
dapat dihubungkan dengan pengaruh stress yang dialami kelompok masyarakat yang
tinggal di kota.
Berdasarkan penyelidikan, kegemukan merupakan ciri khas dari populasi
Hipertensi dan dibuktikan bahwa faktor ini mempunyai kaitan yang erat dengan
terjadinya Hipertensi dikemudian hari. Walaupun belum dapat dijelaskan hubungan
antara obesitas dan hipertensi esensial, tetapi penyelidikan membuktikan bahwa daya
pompa jantung dan sirkulasi volume darah penderita obesitas dengan hipertensi lebih
tinggi dibandingan dengan penderita yang mempunyai berat badan normal.
V.

PATOFISIOLOGI
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di
pusat vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf
simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla
spinalis ke ganglia simpatis di torak dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor
dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis
ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang
merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan
dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor
seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap
rangsangan vasokonstriktor. Individu dengan hipertensi sangat sensitive terhadap
norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bias terjadi.
Pada saat bersamaan dimana system simpatis merangsang pembuluh darah
sebagai respon rangsang emosi. Kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan
tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang
menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya,
yang dapat memperkuat respon vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang
mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal, mengakibatnkan pelepasan rennin.
Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi
angiotensin II, saat vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi
aldosteron oleh korteks adrenal. Hormone ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh
tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor tersebut
cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.

VI.

MANIFESTASI KLINIS

Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala; meskipun


secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan
dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud
adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan;
yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan
tekanan darah yang normal.
Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut:

sakit kepala

kelelahan

mual

muntah

sesak nafas

gelisah

pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak,
mata, jantung dan ginjal.

Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan


koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensif,
yang memerlukan penanganan segera.

VII.

KLASIFIKASI
The Joint National Committee on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood
Pressure membuat suatu klasifikasi baru yaitu :

Klasifikasi Tekanan Darah untuk Dewasa Usia 18 Tahun atau Lebih *


Kategori

Sistolik

Diastolik

Normal
Normal tinggi
Hipertensi
Tingkat 1 (ringan)
Tingkat 2 (sedang)
Tingkat 3 (berat)

(mmhg)
< 130
130-139

(mmhg)
<85
85-89

140-159
160-179
180

90-99
100-109
110

Tidak minum obat antihipertensi dan tidak sakit akut. Apabila tekanan sistolik
dan diastolic turun dalam kategori yang berbeda, maka yang dipilih adalah kategori
yang lebih tinggi. berdasarkan pada rata-rata dari dua kali pembacaan atau lebih yang
dilakukan pada setiap dua kali kunjungan atau lebih setelah skrining awal.
Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih
tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah
diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah kurang dari 120/80
mmHg didefinisikan sebagai "normal". Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi
kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi biasanya terjadi pada tekanan darah
140/90 mmHg atau ke atas, diukur di kedua lengan tiga kali dalam jangka beberapa
minggu.
Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau
lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih dalam
kisaran normal. Hipertensi ini sering ditemukan pada usia lanjut. Sejalan dengan
bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah; tekanan
sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat
sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun
drastis.
Disamping itu juga terdapat hipertensi pada kehamilan ( pregnancy-induced
hypertension, PIH ) PIH adalah jenis hipertensi sekunder karena hipertensinya
reversible setelah bayi lahir. PIH tampaknya terjadi akibat dari kombinasi peningkatan
curah jantung dan TPR. Selama kehamilan normal volume darah meningkat secara
drastis. Pada wanita sehat, peningkatan volume darah diakomodasikan oleh penurunan
responsifitas vascular terhadap hormon-hormon vasoaktif, misalnya angiotensin II. Hal
ini menyebabkan TPR berkurang pada kehamilan normal dan tekanan darah rendah.
Pada wanita dengan PIH, tidak terjadi penurunan sensitivitas terhadap vasopeptidavasopeptida tersebut, sehingga peningkatan besar volume darah secara langsung

meningkatkan curah jantung dan tekanan darah. PIH dapat timbul sebagai akibat dari
gangguan imunologik yang mengganggu perkembangan plasenta. PIH sangat berbahaya
bagi wanita dan dapat menyebabkan kejang,koma, dan kematian.
VIII.

KOMPLIKASI
Adapun komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit hipertensi menurut TIM
POKJA RS Harapan Kita (2003:64) dan Dr. Budhi Setianto (Depkes, 2007) adalah
diantaranya :

Penyakit pembuluh darah otak seperti stroke, perdarahan otak, transient ischemic
attack (TIA).

Penyakit jantung seperti gagal jantung, angina pectoris, infark miocard acut
(IMA).

IX.

Penyakit ginjal seperti gagal ginjal.

Penyakit mata seperti perdarahan retina, penebalan retina, oedema pupil.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang menurut FKUI (2003:64) dan Dosen Fakultas
kedokteran USU, Abdul Madjid (2004), meliputi :

Pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum memulai terapi


bertujuan menentukan adanya kerusakan organ dan factor resiko lain atau
mencari penyebab hipertensi. Biasanya diperiksa urin analisa, darah perifer
lengkap, kimia darah (kalium, natrium, kreatinin, gula darah puasa, kolesterol
total, HDL, LDL

Pemeriksaan EKG. EKG (pembesaran jantung, gangguan konduksi), IVP


(dapat mengidentifikasi hipertensi, sebagai tambahan dapat dilakukan
pemerisaan lain, seperti klirens kreatinin, protein, asam urat, TSH
ekordiografi.

dan

Pemeriksaan diagnostik meliputi BUN /creatinin (fungsi ginjal), glucose (DM)


kalium serum (meningkat menunjukkan aldosteron yang meningkat), kalsium
serum (peningkatan dapat menyebabkan hipertensi: kolesterol dan tri gliserit
(indikasi

pencetus

hipertensi),

pemeriksaan

tiroid

(menyebabkan

vasokonstrisi), urinanalisa protein, gula (menunjukkan disfungsi ginjal), asam


urat (factor penyebab hipertensi)

X.

Pemeriksaan radiologi : Foto dada dan CT scan

PENATALAKSANAAN
Olah raga lebih banyak dihubungkan dengan pengobatan hipertensi, karena olah
raga isotonik (spt bersepeda, jogging, aerobic) yang teratur dapat memperlancar
peredaran darah sehingga dapat menurunkan tekanan darah. Olah raga juga dapat
digunakan untuk mengurangi/ mencegah obesitas dan mengurangi asupan garam ke
dalam tubuh (tubuh yang berkeringat akan mengeluarkan garam lewat kulit).
Pengobatan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi 2 jenis yaitu:
1.

Pengobatan non obat (non farmakologis)

2.

Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis)

Pengobatan non obat (non farmakologis)


Pengobatan non farmakologis kadang-kadang dapat mengontrol tekanan darah
sehingga pengobatan farmakologis menjadi tidak diperlukan atau sekurang-kurangnya
ditunda. Sedangkan pada keadaan dimana obat anti hipertensi diperlukan, pengobatan
non farmakologis dapat dipakai sebagai pelengkap untuk mendapatkan efek pengobatan
yang lebih baik.
Pengobatan non farmakologis diantaranya adalah :
1. Diet rendah garam/kolesterol/lemak jenuh
2. Mengurangi asupan garam ke dalam tubuh.
Nasehat pengurangan garam, harus memperhatikan kebiasaan makan penderita.
Pengurangan asupan garam secara drastis akan sulit dilaksanakan. Cara pengobatan ini

hendaknya tidak dipakai sebagai pengobatan tunggal, tetapi lebih baik digunakan
sebagai pelengkap pada pengobatan farmakologis.
3. Ciptakan keadaan rileks
Berbagai cara relaksasi seperti meditasi, yoga atau hipnosis dapat mengontrol
sistem saraf yang akhirnya dapat menurunkan tekanan darah.
4. Melakukan olah raga seperti senam aerobik atau jalan cepat selama 30-45 menit
sebanyak
3-4 kali seminggu.
5. Berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol
Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis)
Obat-obatan antihipertensi. Terdapat banyak jenis obat antihipertensi yang
beredar saat ini. Untuk pemilihan obat yang tepat diharapkan menghubungi dokter.

Diuretik
Obat-obatan jenis diuretik bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh

(lewat kencing) sehingga volume cairan ditubuh berkurang yang mengakibatkan daya
pompa jantung menjadi lebih ringan. Contoh obatannya adalah Hidroklorotiazid.

Penghambat Simpatetik
Golongan obat ini bekerja dengan menghambat aktivitas saraf simpatis (saraf

yang bekerja pada saat kita beraktivitas ). Contoh obatnya adalah : Metildopa, Klonidin
dan Reserpin.

Betabloker
Mekanisme kerja anti-hipertensi obat ini adalah melalui penurunan daya pompa

jantung. Jenis betabloker tidak dianjurkan pada penderita yang telah diketahui mengidap
gangguan pernapasan seperti asma bronkial. Contoh obatnya adalah : Metoprolol,
Propranolol dan Atenolol. Pada penderita diabetes melitus harus hati-hati, karena dapat
menutupi gejala hipoglikemia (kondisi dimana kadar gula dalam darah turun menjadi
sangat rendah yang bisa berakibat bahaya bagi penderitanya). Pada orang tua terdapat
gejala bronkospasme (penyempitan saluran pernapasan) sehingga pemberian obat harus
hati-hati.

Vasodilator
Obat golongan ini bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi otot

polos (otot pembuluh darah). Yang termasuk dalam golongan ini adalah : Prasosin,

Hidralasin. Efek samping yang kemungkinan akan terjadi dari pemberian obat ini adalah
: sakit kepala dan pusing.

Penghambat ensim konversi Angiotensin


Cara kerja obat golongan ini adalah menghambat pembentukan zat Angiotensin

II (zat yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah). Contoh obat yang
termasuk golongan ini adalah Kaptopril. Efek samping yang mungkin timbul adalah :
batuk kering, pusing, sakit kepala dan lemas.

Antagonis kalsium
Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung dengan cara menghambat

kontraksi jantung (kontraktilitas). Yang termasuk golongan obat ini adalah : Nifedipin,
Diltiasem dan Verapamil. Efek samping yang mungkin timbul adalah : sembelit, pusing,
sakit kepala dan muntah.

Penghambat Reseptor Angiotensin II


Cara kerja obat ini adalah dengan menghalangi penempelan zat Angiotensin II

pada reseptornya yang mengakibatkan ringannya daya pompa jantung. Obat-obatan


yang termasuk dalam golongan ini adalah Valsartan (Diovan). Efek samping yang
mungkin timbul adalah : sakit kepala, pusing, lemas dan mual.
Dengan pengobatan dan kontrol yang teratur, serta menghindari faktor resiko
terjadinya hipertensi, maka angka kematian akibat penyakit ini bisa ditekan.

Pathway

Faktor predisposisi : usia, jenis kelamin, merokok, stress, kurang olah


raga, genetic, alcohol,konsumsi garam, obesitas

Tek.sistemik darah

Beban kerja jantung

HIPERTENSI

Perubahan situasi

Kerusakan vaskuler pembuluh darah


Informasi yg minim

Aliran darah makin


cepat ke seluruh tubuh,
sedangkan nutrisi
dalam sel sudah
mencukupi kebutuhan

Perubahan struktur

Misinterpretasi
informasi

Krisis situasional

Metode koping
tidak efektif

Penyumbatan pembuluh darah

Vasokontriksi
Nutrisi lebih
dari kebutuhan

Ansietas

Kurang
pengetahuan
Koping individu
tidak efektif

Gangguan sirkulasi

Otak

Ginjal

Vasokontriksi
pemb.darah ginjal

Resistensi
Suplai O2
pembuluh darah otak
otak
Sinkop

Pembuluh darah

Retina

Spasme arteriol
Sistemik

Koroner

Vasokontriksi

Iskemia
miokard

Blood flow darah

Diplopia

Afterload

Nyeri
kepala

Nyeri dada

Respon RAA
Fatigue
Ggn.perfusi
serebral

Merangsang
aldosteron

Intoleransi
aktivitas

Retensi Na

Kelebihan
vol.cairan

Edema

Penurunan
curah jantung

Resti
Injuri

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


I. PENGKAJIAN
AKTIVITAS/ISTIRAHAT
Gejala : kelemehan, keletihan, napas pendek, gaya hidup monoton.
Tanda : frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea
SIRKULASI
Gejala : riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup dan penyakit
serebrovaskular. Episode palpitasi, perspirasi.

Tanda : kenaikan TD (pengukuran serial dari kenaikan tekanan darah diperlukan untuk
menegakan diagnosis). Hipotensi postural (mungkin berhubungna dengan
regimen obat ). Nadi : denyutan jelas dari karotis, jugularis, radialis ;
perbedaan denyut seperti denyut femoral melambat sebagai kompensasi
denyutan radialis atau brakialis; denyut popliteal, tibialis posterior, pedalis
tidak teraba atau lemah. Frekuensi/irama : takikardia berbagai disritmia. Bunyi
jantung : terdengar S2 pada dasar ; S3 (CHF dini); S4 (pergeseran ventrikel
kiri/hipertrofi ventrikel kiri). Murmur stenosis valvular. Ekstremitas ;
perubahan warna kulit, suhu dingin (vasokonstriksi perifer) ; pengisian kapiler
mungkin melambat /tertunda (vasokonstriksi)
INTEGRITAS EGO
Gejala : riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, atau marah kronik
(dapat

mengindikasikan

kerusakan

serebral).

Faktor-faktor

stress

multiple(hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan)


Tanda : letupan suara hati, gelisah, penyempitan kontinu perhatian, tangisan yang
meledak. Gerak tangan empati, otot muka tegang (khusus sekitar mata),
gerakan fisik cepat, pernapasan menghela, peningkatan pola bicara.

ELIMINASI
Gejala : gangguan ginjal saat ini atau yang lalu (seperti, infeksi/obstruksi atau riwayat
penyakit ginjal dimasa lalu)
MAKANAN/CAIRAN
Gejala : makanan yang disukai, yang dapat mencakup makanan tinggi garam, tinggi
lemak, tinggi kolesterol (seperti makanan yang digoreng, keju, telur);
kandungan tinggi kalori. Mual, muntah. Perubahan berat badan akhir-akhir ini
(meningkat/menurun).

Tanda : berat badan normal atau obesitas. Adanya edema (mungkin umum atau tertentu);
kongesti vena; glukosuria (hampir 10% pasien hipertensi adalah diabetik)
NEUROSENSORI
Gejala : keluhan pening/pusing. Berdenyut. Sakit kepala suboksipital (terjadi saat
bangun dan menghilang secara spontan stelah beberapa jam ).

Episode

kebas/kelemahan pada satu sisi tubuh. Gangguan penglihatan (diplopia,


penglihatan kabur). Episode epistaksis.
Tanda : status mental : perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara, afek, proses
pikir, atau memori (ingatan). Respon motorik : penurunan kekuatan genggaman
tangan dan /atau reflex tendon dalam. Perubahan-perubahan retinal optik: dari
sklerosis/penyempitan arteri ringan sampai berat dan perubahan sklerotik
dengan edema atau papiledema, eksudat, dan hemoragi tergantung pada
berat/lamanya hipertensi.
NYERI/KETIDAKNYAMANAN
Gejala : angina (penyakit arteri koroner/keterlibatan jantung). Nyeri hilang timbul pada
tungkai/klaudasi (indikasi arteriosklerosis pada arteri ekstremitas bawah). Sakit
kepala oksipital berat seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Nyeri
abdomen/massa (feokromositoma)

PERNAPASAN
Gejala : dispnea yang berkaitan dengan aktivitas/kerja. Takipnea, ortopnea, dispnea
nokturnal paroksismal. Batuk dengan/tanpa pembentukan sputum. Riwayat
merokok.
Tanda : distress respirasi/penggunaan otot aksesori pernapasan. Bunyi napas tambahan
(krekles/mengi). Sianosis.
KEAMANAN

Gejala : gangguan koordinasi/cara berjalan. Episode parestesia unilateral transien.


Hipotensi posturnal.
PEMBELAJARAN/PENYULUHAN
Gejala : faktor-faktor risiko keluarga :hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung, DM,
penyakit serebrovaskular/ginjal.
Faktor-faktor risiko etnik : seperti orang Afrika-Amerika, Asia tenggara. Penggunaan pil
KB atau hormone lain; penggunaan obat/alcohol.
II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Risiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan Peningkatan afterload,
vasokontriksi pembuluh darah.
2. Gangguan perfusi serebral berhubungan dengan penurunan suplai oksigen otak
3. Perubahan nutrisi : lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan
berlebih sehubungan dengan kebutuhan metabolik.
4. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular serebral dan iskemia
miokard
5. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan edema, peningkatan cairan
intravaskular
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan Kelemahan umum dan ketidakseimbangan
antara suplai dan kebutuhan oksigen
7. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan Krisis situasional
8. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan rencana pengobatan berhubungan
dengan Misinterpretasi informasi
9. Risiko injuri/cedera berhubungan dengan penglihatan ganda ( diplopia )
10. Ansietas berhubungan dengan perubahan kondisi kesehatan

III. RENCANA KEPERAWATAN


NO

TUJUAN DAN KRITERIA

DIAGNOSA

Gangguan

INTERVENSI

HASIL

perfusi Setelah

diberikan

asuhan

1.

Pantau TD,

RASIONAL

Normalnya

autoregulasi

serebral

keperawatan diharapkan pasien

catat

adanya

mempertahankan

berhubungan

dapat

hipertensi

sistolik

darah otak yang konstan

secara terus menerus

pada saat ada fluktuasi TD

sadar penuh,bebas dari gejala

dan tekanan nadi yang

sistemik.

atau

semakin berat.

autoregulasi dapat mengikuti

dengan

mencapai

atau

penurunan mempertahankan tingkat umum

suplai oksigen otak

komplikasi

neurologis

merugikan dengan kriteria hasil

kerusakan

vaskularisasi
Pasien
mendemonstrasikan
tanda vital stabil

Kehilangan
kerusakan
serebral

lokal/menyebar.

dapat
tanda-

aliran

2.

Pantau
frekuensi

Perubahan

pada

ritme

jantung,

(paling sering Bradikardi)

adanya

dan Disritmia dapat timbul

Bradikardi, Tacikardia

yang mencerminkan adanya

atau bentuk Disritmia

depresi/trauma pada batang

lainnya.

otak pada pasien yang tidak

catat

memiliki kelainan jantung


sebelumnya.

Napas yang tidak teratur


dapat menunjukkan lokasi
adanya gangguan serebral
3.

Pantau
pernapasan

dan memerlukan intervensi

meliputi

pola dan iramanya.

yang lebih lanjut.


Pengkajian

kecenderungan

adanya perubahan tingkat


4.

Catat status
neurologis

dengan

teratur

dan

bandingkan

dengan

keadaan normalnya

kesadaran

adalah

sangat

berguna dalam menentukan


lokasi
dan

penyebaran/luasnya
perkembangan

dari

kerusakan serebral.

Efektif dalam menurunkan

tekanan

darah

untuk

mencegah krisis hipertensif


5.

yang

Berikan
obat anti hipertensif
misal
(hiperstat)

diazoksida
dan

dapat

dihubungkan

dengan intoksifikasi PCP.

hidralazin (apresolin)
2

Perubahan nutrisi : Setelah

diberikan

asuhan

1. Kaji

lebih dari kebutuhan keperawatan diharapkan pasien

pasien

tubuh

hubungan

berhubungan mampu

dengan

masukan hubungan

berlebih sehubungan dengan


dengan
metabolik.

mengidentifikasi
antara
kegemukan,

hipertensi
dengan

pemahaman

Kegemukan adalah risiko

tentang

tambahan terhadap tekanan

langsung

tinggi

disproporsi antara kapasitas

kegemukan

aorta dan peningkatan curah


jantungberkaitan

menunjukkan

perubahan pola makan


Mempertahankan

dengan

peningkatan masa tubuh


2. Bicarakan pentingnya
menurunkan

berat

karena

antara hipertensi dan

kebutuhan kriteria hasil :


Pasien

darah

kalori

masuka

dan

batasi

badan dengan pemeliharaan

batasan lemak, garam

kesehatan optimal

dan gula

kesalahan kebiasaan makan


menunjang

terjadinya

aterosklerosis

dan

kegemukan, yang merupakan


predisposisi

Melakukan/mempertahankan

hipertensi.

Kelebiah masukan garam

program olahraga yang tepat

memperbanyak

secara individual

cairan

volume

intravaskuler

dan

dapat merusak ginjal yang


lebih memperburuk kondisi
3. Tetapkan
pasien

keinginan

motivasi untuk.menurunkan

untuk

berat badan adalah internal.

menurunkan

berat

badan

Individu harus berkeinginan


untuk

menurunkan

berat

badan

bila

maka

tidak

program tidak akan berhasil


.
4. Kaji ulang masukan
kalori

harian

dan

pilihan diet.

Mengidentifikasi
kekuatan/kelemahan
program

diet

dalam
terakhir.

membantu

dalam

menentukan individu untuk


5. Rujuk ke ahli gizi
sesuai indikasi

penyesuaian/penyuluhan
Memberikan konseling dan
bantuan dengan memenuhi
kebutuhan diet individual

Kelebihan

volume Setelah

diberikan

asuhan

cairan berhubungan keperawatan diharapkan pasien


dengan edema

menunjukkan

1. Awasi denyut jantung,


TD, CVP

Tacikardi

dan

hipertensi

terjadi karena 1. Kegagalan

keseimbangan

ginjal untuk mengeluarkan

haluaran,BB

urine, 2. Pembatasan cairan

stabil, tanda vital dalam rentang

berlebih selama mengobati

normal dan tak ada oedema

hipovolemia/hipotensi

masukan

dan

atau

dengan kriteria hasil :

perubahan fase oliguri gagal


ginjal dan 3. Perubahan

Menyatakan pemahaman diet


individu/pembatasan cairan

pada renin-angiotensin.
2. Catat pemasukan dan
pengeluaran

secara

akurat.

3. Awasi

Perlu
fungsi

untuk

menentukan

gnjal,

kebutuhan

penggantian cairan

berat

jenis

urine

Mengukur kemampuan ginjal


untuk

mengkonsentrasikan

urine
4. Timbang
dengan

tiap

hari

alat

dan

pakaian yang sama

Penimbangan berat badan


harian adalah pengawasan
status

cairan

Peningkatan

terbaru.

berat

badan

lebih dari 0,5 kg per hari


5. Kaji kulit, wajah area
tergantung
edema

untuk

diduga ada retensi cairan.


Edema terjadi terutama pada
jaringan

yang

tergantung

pada tubuh contoh : tangan,

6. Berikan obat sesuai


indikasi (diuretik)

kaki, area lumbosakral


Membantu

dalam

pengeluaran cairan
4

Nyeri

berhubungan Setelah

diberikan

asuhan

dengan peningkatan keperawatan diharapkan pasien


tekanan

1. Observasi

derajat

nyeri

vascular Nyeri terkontrol dengan kriteria

Mengungkapkan
yang

nyeri

mempermudah

intervensi

selanjutnya
metode
memberikan

2. Pertahankan
baring

pengurangan
Mengikuti

derajat

yang dirasakan pasien dan

serebral dan iskemia hasil :


miokard

Mengetahui

regimen

tirah

selama

fase

Meminimalkan
stimulasi/meningkatkan

akut

relaksasi

farmakologi yang diresepkan


Skala nyri 0-1

3. Berikan

tindakan

nonfarmakologi untuk
Wajah pasien tidak meringis

menghilangkan

sakit

Tindakan yang menurunkan


tekanan vaskular

kepala atau nyeri dada

dan

misal, kompres dingin

memblok

pada

efektif dalam menghilangkan

dahi,

pijat

punggung dan leher,


teknik

relaksasi

sakit

yang

serebral

memperlambat/
respon
kepala

simpatis
dan

( panduan imajinasi,
distraksi

komplikasinya.

dan

aktivitas

waktu

senggang.
4. Minimalkan aktivitas
vasokontriksi
dapat

yang

meningkatkan

sakit kepala misalnya,


mengejan saat BAB,
batuk

panjang,

membungkuk.

Aktivitas yang meningkatkan


vasokontriksi

menyebabkan

sakit kepala pada adanya


penigkatan tekanan vaskular
serebral.

5. Kaji tanda-tanda vital


Mengetahui keadaan umum
pasien. Peningkatan tandatanda vital mengindikasikan
6. Kolaborasi :
-

nyeri belum dapat terkontrol.

Analgesik
Menurunkan/mengontrol
nyeri

dan

rangsang

menurunkan
sistem

saraf

simpatis.
Dapat mengurangi tegangan
-

Antiansietas

mis,

lorazepam, diazepam
5

Intoleransi aktivitas Setelah

diperberat oleh stres.


Menyebutkan parameter

asuhan

1. Kaji respon pasien

berhubungan dengan keperawatan diharapkan pasien

terhadap aktivitas,

membantu dalam mengkaji

Kelemahan

dalam

perhatikan frekuensi

respons fisiologi terhadap

yang

nadi lebih dari 20 kali

stres aktivitas dan bila ada,

per menit di atas

merupakan indikator dari

frekuensi istirahat,

kelebihan kerja yang

peningkatan tekanan

berkaitan dengan tingkat

darah yang nyata

aktivitas

umum dapat

diberikan

dan ketidaknyamanan yang

berpartisipasi

dan

aktivitas

ketidakseimbangan

diinginkan/diperukan

antara

suplai

dengan

dan kriteria hasil :

kebutuhan oksigen

Melaporkan
dalam

peningkatan

toleransi

aktivitas

yang dapat diukur


Menunjukkan
dalam

selama /sesudah
aktivitas, dpsnea atau

penurunan

nyeri dada, keletihan

tanda-tanda

dan kelemahan yang

intoleransi fisiologi

berlebihan, diaforesis,
pusing atau pingsan

2. Instruksikan pasien

tentang teknik

Teknik menghemat energi

penghematan energi ,

mengurangi pengguanan

misalnya

energi, juga membantu

menggunakan kursi

keseimbangan antara suplai

saat mandi, duduk saat

dan kebutuhan oksigen

menyisir rambut atau


menggosok gigi,
melakukan aktivitas
dengan perlahan
3. Kaji sejauh mana
aktivitas yang dapat
ditoleransi

Mengidentifikasi sejauh
mana kemampuan pasien
dalam melakukan aktivitas
dan perawatan diri.

4. Berikan dorongan
untuk melakukan
aktivitas/perawatan

Kemajuan aktivitas bertahap

diri bertahap jika

mencegah peningkatan kerja

dapat ditoleransi

jantung tiba-tiba.
Memberikan bantuan hanya
sebatas kebutuhan hanya
akan mendorong

kemandirian dalam
melakukan aktivitas.
6

Ansietas

Setelah diberikan asuhan

1. Observasi tingkah

Ansietas ringan dapat

berhubungan dengan keperawatan diharapkan pasien

laku yang

ditunjukkan dengan peka

perubahan

kondisi tampak rileks

menunjukkan tingkat

rangsang dan insomnia.

kesehatan

Kriteria hasil:

ansietas

Ansietas berat yang

Melaporkan cemas

berkembang kedalam

berkurang sampai hilang

keadaan panik dapat

Mampu mengidentifikasi

menimbulkan perasaan

cara hidup yang sehat

terancam, ketidakmampuan

untuk membagikan

untuk berbicara dan

perasaannya

bergerak.

2. Tinggal bersama
pasien,

Menegaskan pada

mempertahankan

pasien atau orang terdekat

sikap yang tenang.

bahwa walaupun perasaan

Mengakui atau

pasien diluar kontrol

menjawab

lingkungannya tetap aman

kekhawatirannya dan
mengizinkan perilaku
pasien yang umum.

yang akurat yang dapat

3. Jelaskan prosedur,

menurunkan kesalahan

lingkungan sekeliling

interpretasi yang dapat

atau suara yang

berperan pada reaksi

mungkin didengar

ansietas

oleh pasien

4. Bicara singkat dengan

Memberikan informasi

Rentang perhatian
mungkin menjadi pendek,

kata sederhana.

konsentrasi berkurang yang


membatasi kemampuan
untuk menerima informasi.

5. Kurangi stimulasi dari


luar : tempatkan pada
ruangan yang tenang,
kurangi lampu yang
terlalu terang, kurangi
orang jumlah orang

Menciptakan
lingkungan yang terapiutik

yang berhubungan
dengan pasien

Koping
tidak

individu Setelah

diberikan

asuhan

efektif keperawatan diharapkan pasien

berhubungan dengan mampu


Krisis situasional

mengidentifikasi

1. kaji

keefektifan

Mekanisme

adaptif

perlu

strategi koping dengan

untuk mengubah pola hidup

mengobservasi

seseorang,

perilaku koping efektif dengan

perilaku

kriteria hasil :

kemampuan

mengintegrasikan

menyatakan perasaan

yang diharuskan ke dalam

dan

kehidupan sehari-hari

Menyatakan

kesadaran

kemampuan
koping/kekuatan pribadi
Mengidentifikasi

potensial

situasi stres dan mengambil


langkah untuk menghindari
atau mengubahnya.
Mendemonstrasikan
pengguanaan

keterampilan

misal,

mengatasi

perhatian,

keinginan

dalam

partisipasi

dalam

hipertensi

kronik

dan
terapi

rencana pengobatan
2. Bantu pasien untuk

Manifestasi

mekanisme

mengidentifikasi

koping maladaptif mungkin

stresor spesifik dan

merupakan indikator marah

kemungkinan strategi

yang ditekan dan diketahui

untuk mengatasinya

telah menjadi penentu utama

atau metode koping efektif

TD diastolik
3. Libatkan pasien dalam
perencanaan

Keterlibatan

memberikan

pasien perasan kontrol diri

perawatan

dan

dorongan

partisipasi

maksimum

beri
dalam

rencana pengobatan

yang

berkelanjutan,

memperbaiki
koping,

keterampilan
dan

meningkatkan

kerja

dapat
sama

dalam regimen terapeutik

4. Dorong pasien untuk


mengevaluasi

Fokus

perhatian

pasien

realitas

situasi

prioritas/tujuan hidup.

terhadap

Tanyakan apakah

yang ada relatif terhadap

yang

pandangan pasien tentang

anda

lakukan

merupakan apa yang

apa yang diinginkan.

anda inginkan?
5. Bantu

pasien

utuk

mengidentifikasi dan
mulai

merencanakan

Perubahan yang perlu harus


diprioritaskan

secara

realistik untuk menghindari

perubahan hidup yang

rasa tidak menentu dan tidak

perlu.

berdaya.

Bantu

untuk

menyesuaikan
daripada membatalkan
tujuan diri/keluarga
8

Kurang pengetahuan Setelah diberikan asuhan

1. Kaji kesiapan dan

Kesalahan konsep dan

mengenai

kondisi keperawatan diharapkan pasien

hambatan dalam

menyangkal diagnosakarena

dan

rencana menyatakan pemahaman

belajar. Termasuk

perasaan sejahtera yang

orang terdekat

sudah lama dinikmati

pengobatan

tentang proses penyakit dan

berhubungan dengan regimen pengobatan dengan

mempengaruhi minat

Misinterpretasi

pasien/orang terdekat untuk

informasi

kriteria hasil :

mempelajari penyakit,

Mengidentifikasi efek

kemajuan dan prognosis.

samping obat dan

Bila pasien tidak menerima

kemungkinan komplikasi

realitas bahwa membutuhkan

yang perlu diperhatikan

pengobatan kontinu, maka

Mempertahankan TD dalam

perubahan perilaku tidak

parameter normal

akan dipertahankan.
2. Tetapkan dan

Pemahaman bahwa tekanan

nyatakan batas TD

darah tinggi dapat terjadi

normal. Jelaskan

tanpa gejala adalah untuk

tentang hipertensi

memungkinkan pasien

efeknya pada jantung,

melanjutkan pengobatan

pembuluh darah,

meskipun ketika merasa

ginjal dan otak.

sehat.

3. Hindari mengatakan

Karena pengobatan untuk

TD normal dan

hipertensi adalah sepanjang

gunakan istilah

kehidupan, maka dengan

terkontrol dengan baik

penyampaian ide terkotrol

saat

akan membantu pasien untuk

menggambarkan TD

memahami kebutuhan untuk

pasien dalam batas

melanjutkan

yang diinginkan.

pengobatan/medikasi.

4. Bantu pasien dalam

Faktor-faktor risiko ini telah

mengidentifikasi

menunjukkan hubungan

faktor-faktor risiko

dalam menunjang hipertensi

kardiovaskuler yang

dan penyakit kardiovaskular

dapa diubah misal,

serta ginjal.

obesitas, diet tinggi


lemak jenuh dan
kolesterol, pola hidup
monoton,merokok,

minum alkohol, pola


hidup penuh stres.
5. Atasi masalah dengan
pasien untuk
mengidentifikasi cara
dimana perubahan
gaya hidup yang tepat
dapat dibuat untuk
mengurangi faktorfaktor penyebab
Hipertensi
6. Bahas pentingnya
menghentikan
merokok dan bantu
pasien dalam
membuat rencana
untuk berhenti
merokok.

Dengan mengubah pola


perilaku yang
biasa/memberikan rasa
amanakan sangat
menyusahkan. Dukungan,
petunjuk dan empati dapat
meningkatkan keberhasilan
pasien dalam menyelesaikan
tugas
Nikotin meningkatkan
pelepasan ketokolamin,
mengakibatkan peningkatan
frekuensi jantung, TD, dan
vasokontriksi, mengurangi
oksigenasi jaringan, dan
meningkatkan beban kerja
miokardium.

Risiko

tinggi Setelah

asuhan

1. Pantau TD. Ukur pada

Perbandingan dari tekanan

penurunan

curah keperawatan diharapkan pasien

kedua tangan/ paha

memberikan gambaran yang

untuk evaluasi awal.

lebih

Gunakan

keterlibatan/ bidang masalah

jantung berhubungan mampu


dengan Peningkatan aktivitas

diberikan
berpartisipasi
yang

dalam

menurunkan

ukuran

lengkap

tentang

afterload,

tekanan darah/ beban kerja

manset yang tepat dan

vaskular.

vasokontriksi

jantung dengan criteria hasil :

teknik yang akurat.

diklasifikasikan pada orang

pembuluh darah.

Mempertahankan

Hipertensi

dewasa sebagai peningkatan

tekanan

tekanan

darah dalam rentang individu

130,

yang dapat diterima

diastolik
hasil

diastolik

Memperlihatkan irama dan

di

sampai

pengukuran
atas

dipertimbangkan

130

sebagai

frekuensi jantung yang stabil

peningkatan

pertama,

dalam rentang normal pasien

kemudian

maligna.

Hipertensisistolik

juga

merupakan faktor risiko yang


ditentukan

untuk

penyakit

serebrovaskular dan penyakit


iskemi jantung bila tekanan
diastolik 90-115.
2. Catat

keberadaan,

Denyutan

karotis

kualitas

denyutan

sentral dan perifer

,jugularis,radialis

dan

femoralis

mungkin

terpalpasi.

Denyut

pada

tungkai mungkin menurun,


mencerminkan

efek

dari

vasokontriksi ( peningkatan
SVR ) dan kongesti vena
3. Auskultasi

tonus

jantung

bunyi

dan

nafas

S4 umum terdengar pada


pasien

hipertensi

karena

adanya

berat

hipertrofi

atrium. Adanya krakel, mengi


dapat

mengindikasikan

kongesti

paru

terhadap

terjadinya

sekunder
atau

gagal jantung kronik


warnakulit,

Adanya pucat, dingin, kulit

kelembaban, suhu dan

lembab dan masa pengisian

masa

kapiler

4. Amati

kapiler

pengisian

lambat

berkaitan
vasokontriksi
mencerminkan

mungkin
dengan
atau

dekompensasi/penurunan
curah jantung.
Menurunkan

stres

ketegangan
5. Pertahankan
pembatasan
seperti

istirahat

tempat

tidur/ kursi,

jadwal

periode

di

istirahat

tanpa

gangguan,

bantu

pasien

melakukan

aktivitas

perawatan

diri sesuai kebutuhan


lingkungan

tenang,

nyaman,
aktivitas

keributan lingkungan.
Batasi

jumlah

pengunjung
lamanya tinggal.

darah

dan

dan

tekanan
perjalanan

penyakit hipertensi

Membantu

6. Berikan

kurangi

yang

mempengaruhi
aktivitas

dan

menurunkan
simpatis;
relaksasi.

untuk
rangsang
meningkatkan

7. Kolaborasi :
-

Berikan

obat-obat

Tiazid mungkin digunakan

sesuai indikasi seperti

sendiri

Diuretik

dengan

tiazid

dan

vasodilator

atau
obat

dicampur
lain

untuk

menurunkan TD pada pasien


dengan fungsi ginjal yang
relatif normal. Diuretik ini
memperkuat

agen-agen

antihipertensi lain dengan


membatasi
Vasodilator

retensi

cairan.

menurunkan

aktivitas kontriksi arteri dan


vena

pada

ujung

saraf

simpatik.
10

Risiko injuri/cedera

Setelah diberikan asuhan

berhubungan dengan

keperawatan diharapkan pasien

penglihatan ganda

tidak mengalami suatu injury

( diplopia )

dalam perawatan di rumah sakit


maupun di rumah dengan
kriteria hasil :

1. Jauhkan dari benda-

benda tajam

2. Berikan penerangan
yang cukup
3. Usahakan lantai tidak

Meminimalkan risiko
cedera

Meminimalkan
terjadinya benturan

licin dan basah


-

Pasien tidak
mengalami cedera.

jatuh

4. Pasang side rail


5. Anjurkan pada
keluarga klien untuk
selalu menemani klien
dalam beraktivitas

Meminimalkan klien

Menghindari klien
terjatuh pada saat istirahat

Untuk meningkatkan
menjaga keamanan

IV. EVALUASI
Dx 1: Pasien dapat mendemonstrasikan tanda-tanda vital stabil
Dx 2: Pasien menunjukkan perubahan pola makan
Mempertahankan berat badan dengan pemeliharaan kesehatan optimal
Melakukan/mempertahankan program olahraga yang tepat secara individual
Dx 3: Pasien menunjukkan keseimbangan masukan dan haluaran,BB stabil, tanda vital dalam
rentang normal dan tak ada oedema
Menyatakan pemahaman diet individu/pembatasan cairan
Dx.4: Pasien mengungkapkan metode yang memberikan pengurangan
Mengikuti regimen farmakologi yang diresepkan
Skala nyri 0-1
Wajah pasien tidak meringis
Dx.5:Pasien tampak rileks
Melaporkan cemas berkurang sampai hilang
Mampu mengidentifikasi cara hidup yang sehat untuk membagikan perasaannya
Dx.6 : Pasien tampak rileks
Melaporkan cemas berkurang sampai hilang
Mampu mengidentifikasi cara hidup yang sehat untuk membagikan perasaannya
Dx.7 : Menyatakan kesadaran kemampuan koping/kekuatan pribadi

Mengidentifikasi potensial situasi stres dan mengambil langkah untuk menghindari


atau mengubahnya.
Mendemonstrasikan pengguanaan keterampilan atau metode kopi
Dx.8 : Mengidentifikasi efek samping obat dan kemungkinan komplikasi yang perlu
diperhatikan
Mempertahankan TD dalam parameter normal

Dx.9 : Mempertahankan tekanan darah dalam rentang individu yang dapat diterima
Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung yang stabil dalam rentang normal pasien
Dx.10 : Pasien tidak mengalami cedera.

DAFTAR PUSTAKA

Doenges,Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : pedoman untuk perencanaan


dan pendokumentasian perawatan pasien edisi 3. Jakarta :EGC
Price, Sylvia A.2005. Patofisiologi : konsep klinis proses-proses penyakit edisi 6 volume 1.
Jakarta ;EGC
Smeltzer, Suzanne C. 2001.Keperawatan Medikal-Bedah edisi 8 volume 2. Jakarta :EGC
http://id.wikipedia.org/wiki/Tekanan_darah_tinggi