You are on page 1of 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ketika akan melakukan analisis dalam suatu sistem kerja, akan timbul
beberapa alternatif metode kerja yang dapat digunakan. Dan beberapa
metode tersebut dipilih satu alternatif terbaik dengan mempertimbangkan
beberapa kriteria yaitu, waktu, biaya, beban fisiologis, dan sebagainya.
Waktu merupakan salah satu kriteria yang paling sering digunakan sebab
kriteria ini memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan dengan kriteria
lainnya. Setelah proses pemilihan alternatif perancangan dan perbaikan
sistem kerja dilakukan, tahap berikutnya adalah melakukan penguluran
waktu kerja.
Pengukuran waktu kerja merupakan usaha untuk menentukan
lamanya kerja yang dibutuhkan seorang operator atau pekerja dalam
menyelesaikan suatu pekerjaan yang spesifik pada tingkat kecepatan
kerja yang normal dalam lingkungan kerja yang terbaik pada saat itu.
Tujuan pengukuran waktu kerja adalah untuk mendapatkan waktu baku
yang harus dicapai oleh pekerja dalam menyelesaikan sutau pekerjaan.
Waktu baku dapat dipergunakan untuk menentukan insentif, perencanaan
pengalokasian jumlah tenaga kerja, menghitung output, penjadwalan
produksi dan lain sebagainya.
Proses
pengukuran waktu baku dapat dilakukan dengan
menggunakan 2 cara, yaitu langsung dan tidak langsung. Pengukuran
secara langsung dapat dilakukan dengan menggunakan Pengukuran Jam
Henti (Stopwatch time Study) dan Sampling Kerja (Work Sampling).
Sedangkan pengukuran tidak langsung bisa dengan menggunakan Data
Waktu Baku (Standart Data) atau juga bisa menggunakan Data Waktu
Gerakan (Predertemined Time System).
Dalam pengamatan kali ini, penulis melakukan metode pengukuran
kerja secara langsung yaitu work sampling untuk dapat mengetahui
pemakaian waktu kerja yang digunakan oleh pekerja. Tujuannya adalah
agar dapat mengurangi ineffective time dan peningkatan produktivitas
dengan cara perbaikan terhadap waktu baku.
1.2 Tujuan
Tujuan dari pengamatan ini adalah:
1. Mampu melakukan pengukuran kerja dengan metode Work sampling
(Sampel Kerja).
2. Dapat menghitung presentasi jam operasi pekerja dan jam
menganggur (idle) pekerja dalam suatu lingkungan kerja.
3. Mampu menghitung waktu normal dan waktu baku sesuai dengan
waktu observasi yang diperoleh

4. Mampu melakukan perbaikan kerja dalam metode perancangan dan


pengukuran kerja.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka merupakan sumber materi yang digunakan sebagai
acuan dalam melaksanakan pengamatan pengukuran kerja yang akan
dijelaskan pada subbab selanjutnya.
2.2 Pengertian Pengukuran Kerja
Pengukuran kerja adalah penerapan teknik yang direncanakan untuk
menerapkan waktu bagi pekerja yang memenuhi syarat untuk
menyelesaikan pekerjaan tertentu pada tingkat prestasi yang ditetapkan.
Faktor yang menyebabkan menurunnya produktivitas perusahaan adalah
sifat dan keadaan barang, proses yang berjalan tidak semestinya, waktu
tidak efektif yang bertumpuk selama produksi berlangsung, kekurangan
pihak manajemen atau kelalaian para buruh. Selain itu bisa menjadi
teknik utama untuk mengurangi kerja, terutama dengan meniadakan
gerak yang tidak perlu dan dengan menggantikan metode yang tidak
memenuhi syarat.
Tujuan pengukuran waktu kerja adalah untuk mendapatkan waktu
baku yang harus dicapai oleh pekerja dalam menyelesaikan suatu
pekerjaan. Pengukuran waktu yang dilakukan terhadap beberapa
alternatif sistem kerja, maka yang terbaik dilihat dari waktu penyelesaian
tersingkat. Pengukuran waktu juga ditujukan untuk mendapatkan waktu
baku penyelesaian pekerjaan, yaitu waktu yang dibutuhkan secara wajar,
normal, dan terbaik.
Proses pengukuran dan pembakuan waktu dapat dilakukan dengan
menggunakan 2 cara yaitu langsung dan tidak langsung. Pengukuran
secara langsung dapat dilakukan dengan menggunakan metode
Pengukuran Jam Henti (Stopwatch time study) dan Sampling Kerja (Work
sampling). Sedangkan pengukuran tidak langsung dapat dilakukan
dengan menggunakan metode Data Waktu Baku (Standart Data) dan Data
Waktu Gerakan (Predetermined Time System).
2.2.1 Pengukuran Kerja secara Langsung
Metode pengukuran langsung yaitu mengamati secara langsung
pekerjaan yang dilakukan oleh operator dan mencatat waktu yang
2

diperlukan oleh operator dalam melakukan pekerjaannya dengan terlebih


dahulu membagi operasi kerja dalam elemen-elemen kerja yang sedetail
mungkin dengan syarat masih bisa diamati dan diukur. Kemudian dari
hasil pengamatan dan pengukuran tersebut akan didapatkan waktu baku
ataupun distribusi waktu operator untuk mengerjakan pekerjaan tersebut.
Ada dua metode yang digunakan pada pengukuran langsung yaitu
metode jam henti (Stopwatch Time Study) dan metode work sampling.

2.2.1.1
Metode Stopwatch Time Study (STS)
Pengukuran waktu kerja menggunakan jam henti diperkenalkan
Frederick W. Taylor pada abad ke-19. Metode ini baik untuk diaplikasikan
pada pekerjaan yang singkat dan berulang (repetitive). Dari hasil
pengukuran akan diperoleh waktu baku untuk menyelesaikan suatu siklus
pekerjaan yang akan dipergunakan sebagai waktu standar penyelesaian
suatu pekerjaan bagi semua pekerja yang akan melaksanakan pekerjaan
yang sama.
Dalam pengukuran kerja, hal-hal penting yang harus diketahui dan
ditetapkan adalah untuk apa hasil pengukuran (dalam hal ini tentu saja
waktu baku) tersebut digunakan dalam kaitannya dengan proses produksi.
Biasanya, penetapan waktu baku akan dikaitkan dengan maksud-maksud
pemberian insentif/bonus pekerja langsung (direct labour). Pengukuran
kerja ini dapat diaplikasikan pada industri manufaktur dengan jumlah
output yang konstan untuk selang waktu yang lama.
2.2.1.2
Metode Work Sampling
Work Sampling, Ratio Delay Study, atau Random Delay Study adalah
suatu teknik kerja untuk mengadakan sejumlah pengamatan terhadap
aktivitas kerja dari mesin, proses atau pekerja/operator. Pengukuran kerja
dengan metode work sampling ini seperti halnya dengan pengukuran
kerja dengan jam henti diklasifikasikan sebagai pengukuran kerja secara
langsung karena pelaksanaan kegiatan pengukuran harus secara
langsung di tempat kerja yang diteliti.
Teknik sampling kerja pertama kali digunakan oleh seorang sarjana
Inggris bernama L.H.C. Tippett dalam aktivitas penelitianya di industri
tekstil. Selanjutnya cara atau metode sampling kerja telah terbukti sangat
efektif dan efisien untuk digunakan dalam mengumpulkan informasi
mengenai kerja mesin atau operatornya. Dikatakan efektif karena metode
ini dengan cepat dan mudah dapat dipakai untuk menentukan waktu
longgar (allowance time) yang tersedia dalam suautu pekerjaan,
pendayagunaan mesin sebaik-baiknya, dan penetapan waktu baku untuk
proses produksi. Dibandingkan dengan metoda kerja yang lain, metode ini
3

akan terasa jauh lebih efisien karena informasi yang dikehendaki akan
didapatkan dalam waktu relatif lebih singkat dengan biaya yang tidak
terlalu besar.
2.2.2 Pengukuran Kerja Secara Tidak Langsung
Metode pengukuran secara tidak langsung yaitu merekam pekerjaan
yang dilakukan oleh operator menggunakan alat bantu (video) dan
kemudian mencatat waktu operasinya di lain tempat kemudian
menganalisanya menggunakan metode tabel PMTS, MOST, dan
sebagainya. Waktu-waktu yang diamati dicatat berdasarkan jarak antar
tempat kerja dan elemen-elemen kerja yang sedetail mungkin dengan
syarat masih bisa diamati dan diukur. Kemudian dari hasil pengamatan
dan pengukuran tersebut akan didapatkan waktu baku ataupun distribusi
waktu operator untuk mengerjakan pekerjaan tersebut.

2.2.2.1
Westing House Systems Rating
Dalam pengukuran kerja, baik secara langsung maupun secara tidak
langsung, menggunakan performance rating yang dapat dijadikan sebagai
dasar nilai terhadap kemampuan kerja yang dapat dilakukan oleh
operator. Sebagai dasar acuannya, penulis menggunakan Westing House
System Rating untuk menetapkan performansi kerja yang dapat diberikan
oleh pekerja selama melakukan kerja.
Westig House menetapkan 4 faktor yang dapat dijadikan bahan
penilaian pekerja (dua diantaranya ditambahakan dari faktor yang
dinyatakan oleh Beudeux), yaitu kecakapan (skill), usaha (effort), kondisi
kerja (condition), dan kekonsistensian pekerja (consistency) dari operator
dalam melakukan kerja. Untuk ini, westing house telah membuat suatu
tabel performance rating yang berisikan nilai nilai angka yang
berdasarkan tingkatan yang ada untuk masing masing faktor tersebut
sesuai dengan yang tertera pada tabel 1.1.
Tabel 1.1 Performance rating Westing House System
Kelas
Superskill
Excellent
Good
Average

SKILL
Lambang
A1
A2
B1
B2
C1
C2
D

Penyesuai
an
+0,15
+0,13
+0,11
+0,08
+0,06
+0,03
0,00

Kelas
Superskill
Excellent
Good
Average

EFFORT
Lambang
A1
A2
B1
B2
C1
C2
D

Penyesuai
an
+0,13
+0,12
+0,10
+0,08
+0,05
+0,02
0,00
4

Fair
Poor

Kelas
Ideal
Excellent
Good
Average
Fair
Poor

E1
E2
F1
F2

-0,05
-0,10
-0,16
-0,22

CONDITION
Lambang Penyesuai
an
A
+0,06
B
+0,04
C
+0,02
D
0,00
E
-0,03
F
-0,07

Fair
Poor

Kelas
Ideal
Excellent
Good
Average
Fair
Poor

E1
E2
F1
F2

-0,04
-0,08
-0,12
-0,17

CONSISTENSY
Lambang Penyesuai
an
A
+0,04
B
+0,03
C
+0,01
D
0,00
E
-0,02
F
-0,04

Nilai dari performance rating didapat dari menjumlahkan seluruh


penyesuaian dari masing-masing fakot kemudian ditambah 1. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada rumus (2-1).
Performance Rating (p) = 1+(skill + effort + condition + consestency)
(2-1)

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1

Metodologi Pengamatan
Berikut metodologi pengmatan yang berisikan diagram allir
pengamatan, alat dan bahan, serta prosedur pelaksanaan penelitian.
3.2 Diagram Alir Penelitian

Gambar 1.1 Diagram alir penelitian

3.3

Alat dan Bahan Penelitian


Alat-alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini antara lain:
1 Tabel Bilangan Random
Digunakan untuk mendapatkan angka random yang selanjutnya
dimodifikasi untuk menetukan jadwal waktu pengamatan.
2 Lembar Waktu Pengamatan.
Digunakan untuk mencatat data pengamatan yang diperoleh.

3.4

Prosedur Pelaksanaan Penelitian


6

1
2
3
4
5

7.
8.

Berikut merupakan prosedur pelaksanaan penelitian Work Sampling


Tiap kelompok mengobservasi suatu sistem kerja yang tempatnya
telah disetujui oleh dosen pembimbing.
Mempersiapkan
peralatan
yang
diperlukan
berupa
lembar
pengamatan (table bilangan random), alat tulis dan stop watch.
Melakukan pre-working sampling untuk menentukan jumlah
pengamatan yang harus dilakukan.
Menggunakan excel untuk merandom mengkonversinya dalam waktu
pada lembar pengamatan.
Membagi konsep menjadi tiga bagian. Satu untuk mengamati jumlah
aktivitas yang terjadi pada waktu tertentu (sesuai table bilangan
random), satu untuk mencatat waktu kedatangan pelanggan,
sedangkan yang lain untuk mengamati keadaan petugas pengukuran
(dengan menggunakan table bilangan random yang sama).
Melaksanakan pengamatan terhadap objek yang ditentukan
sebelumnya dan mengamati dengan baik objek yang diteliti dalam
kondisi kerja beserta jumlah aktivitas yang terjadi.
Melakukan pengujian data.
Membuat laporan praktikum dan analisa data.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pengumpulan dan Pengolahan Data
Setelah melakukan pengamatan selama enam hari, satu hari pre work
sampling dan lima hari work sampling, maka data tersebut diolah lanjut
untuk mendapatkan waktu baku untuk dijadikan perbaikan lanjut.
Data prework sampling diambil secara langsung dengan pengamatan
aktivitas tiga operator dan terdapat tujuh aktivitas pada Cuci Sepeda
Motor Bambu di jalan Watu Gong. Tujuh aktivitas tersebut adalah
persiapan (menaikkan motor), menyiram sepeda, membasuh dengan
7

sabun, membilas, mengelap, menurunkan sepeda, dan other. Yang


termasuk other adalah melayani pembayaran dan memarkir motor.
Pengamatan prework sampling dilakukan selama 1 hari dengan replikasi
sebanyak 150.
Berikut adalah data prework sampling yang akan dilakukan
pengamatan terhadap aktivitas kerja pada Cuci Sepeda Motor Bambu.
4.1.1 Pengumpulan Data
Pengumpulan data ini dilakukan melalui pengamatan secara langsung
dengan melihat kinerja operator yang bekerja di Cuci Sepeda Motor
Bambu
4.1.2 Perhitungan Presentasi Kerja
Dari hasil pengamatan saat pre work sampling, berikut perhitungan
presentasi kerjanya.
Tabel 4.1 Perhitungan presentasi kerja produktif pre work sampling

Elemen Kerja

Jumlah
Kerja Produktif

10

450

33
137
16
51
5

450
450
450
450
450
450

I
: persiapan (menaikkan
motor)
II
: menyiram
III
: membasuh dengan sabun
IV
:membilas
V
:mengelap
VI
: menurunkan motor
Other :melayani pembayaran,
memarkir motor
Total

21
273

Presentasi
Kerja
Produktif

273/450 =
0.606
0.6 = 60%

450

Dilihat pada tabel, presentasi kerja produktif operator adalah sebesar


60% persen. Jadi presentasi kerja tidak produktif sebesar 40%. Bila
dihitung melalui rumus, maka hasil yang didapatkan adalah sebagai
berikut:
Prosentase kerja tidak produktif total (p)
Jumlah aktivitas tidak bekerja
177
x 100
x 100 = 40 % = 0,4
=
Jumlah keseluruhan aktivitas
450
Prosentase kerja produktif total (1-p)
Jumlah aktivitas bekerja
x 100
=
Jumlah keseluruhan aktivitas

273
x 100
450

= 60 % = 0,6

Setelah melakukan pre work sampling, penulis melakukan


pengamatan work sampling di tempat yang sama dengan jumlah operator
8

yang sama pula. Berikut hasil rekapan data jumlah pelanggan yang
mencucikan sepeda motornya selama enam hari:
Tabel 4.2 Akumulasi jumlah pelanggan

Penelitian
Pre WS
WS 1
WS 2
WS 3
WS 4
WS 5

Banyaknya
Pelanggan
8
13
8
11
6
6

4.1.3 Perhitungan Jumlah Pengamatan


Pertama, yang dihitung adalah jumlah pengamatan yang harus
dilaksanaakan
Formulasi :
k 2 . p ( 1 p )
N '=
(s . p)2
k=2

s=5%

tingkat kepercayaan 95 %

0,05

Dari hasil perhitungan pre work sampling, nilai p yaitu kerja yang
tidak produkti didapatkan 0,6 dan yang produktif (1-p)
didapatkan 0,4.
N '=

k 2 . p ( 1 p )
(s . p)2

22 . 0,4(0,6)
=2400
( 0,05.0,4)2

data

Tabel 4.3 Hasil pengamatan WS

Pengamat
an

Pre WS

450

2400

Hari 1
Hari 2
Hari 3
Hari 4

PreWS + WS1
450 + 450= 900
PreWs + WS1 + WS2
450 + 450 + 450 = 1350
PreWs + WS1 + WS2 + WS3
450 + 450 + 450 + 450 = 1800
PreWs + WS1 + WS2 + WS3 + WS4
450 + 450 + 450 + 450 + 450 =
2250

2400
2400
2400
2400

Keterangan
N<N ; data
cukup
N<N ; data
cukup
N<N ; data
cukup
N<N ; data
cukup

tidak
tidak
tidak
tidak

N<N ; data tidak


cukup
9

PreWs + WS1 + WS2 + WS3 + WS4


+ WS5
450 + 450 + 450 + 450 + 450 +
450 = 2700

Hari 5

2400

N>N ; data cukup

Setelah N diketahui, yang dihitung selanjutnya adalah perhitungan


index ketelitian
Perhitungan index ketelitian setelah semua pengamatan yang harus
dilakukan telah selesai silakukan :
Presentasi kerja tidak produktif total (p)
Jumlah aktivitas tidak bekerja
964
x 100
x 100
=
= 40,16 % =
Jumlah keseluruhan aktivitas
2400
0,4016
Presentasi kerja produktif total (1-p)
Jumlah aktivitas bekerja
x 100
=
Jumlah keseluruhan aktivitas

1436
x 100
4556

= 59,82 % =

0,5984
p (1 p )
N'

S . p=k

k=2
S .0,4016=2

tingkat kepercayaan 95 %

0,4016 ( 0,5984 )
2400

= 0,05= 5 %

Dari perhitungan tingkat ketelitian setelah melakukan semua


pengamatan yang diperlukan dapat dilihat bahwa nilai s pada pre work
sampling dengan work sampling mempunyai nilai yang sama. Ini
dikarenakan, jika diliht nilai p dan 1-p pada pre-WS dengan WS memiliki
nilai yang tidak jauh signifikan.
4.1.4 Performance Rating
Performance rating ditentukan berdasarkan pada tabel Wresting
House. Dilihat berdasarkan tabel dan kinerja operator, didapatkan hasil
performance rating tiap elemen kerja sebagai berikut:
Tabel 4.4 Performance rating pada elemen kerja persiapan

Skill
Effort
Conditions
Consistency
Jumlah

0,06
0,08
0,02
0,01
0,17

C1
B2
C
C

10

PR = 100% + 17% = 117% = 1.17


Pemberian nilai performance rating diambil dari rata-rata performance
ketiga pekerja. Skill dinilai sebagai C1 (good) karena para pekerja tampak
jelas sebagai pekerja yang cakap, tidak memerlukan banyak pengawasan,
dan tiada keragu-raguan dalam setiap gerakan kerjanya. Effort dinilai B2
(excellent) karena kecepatan kerja tinggi, gerakan lebih ekonomis dari
operator biasa, dan menerima saran serta petunjuk dengan senang.
Sedangkan penilaian C pada conditions didasarkan atas penilaian karena
kondisi good untuk suatu pekerjaan dapat saja dirasa sebagai kondisi fair
bahkan poor bagi pekerjaan lain; kondisi ideal adalah kondisi yang paling
cocok untuk keadaan yang bersangkutan, yang memungkinkan
performance maksimal dari pekerja. Sedangkan penilaian terhadap
consistency dilakukan karena waktu penyelesaian yang ditnjukkan pekerja
selalu berubah-ubah, dan pemberian nilai good didasarkan pada rentang
perbedaan yang cukup, yaitu tidak terlalu dekat serta jauh.
Tabel 4.5 Performance rating pada elemen kerja menyiram

Skill
Effort
Conditions
Consistency
Jumlah

0,06
0,00
0,02
0,01
0,09

C1
D
C
C

PR = 100% + 9% = 109% = 1.09


Skill dinilai sebagai C1 (good) karena gerakan-gerakan kerja yang
sangat cepat dan terkoordinasi dengan baik. Effort dinilai D (average)
karena kecepatan tidak dapat dipertahankan saat bekerja dan ada
beberapa saran perbaikan yang tidak dapat diterima dengan baik, selain
itu terlihat bahwa pekerja tidak mengeluarkan tenaga dengan cukup.
Tabel 4.6 Performance rating pada elemen kerja membasuh dengan sabun

Skill
Effort
Conditions
Consistency
Jumlah

0,06
0,02
0,02
0,00
0,1

C1
C2
C
D

PR = 100% + 10% = 110% = 1.1


Skill dinilai sebagai C1 (good) karena dapat bekerja secara stabil.
Effort dinilai C2 (good) karena bekerja dan saat menunggu sangat sedikit,
penuh perhatian pada pekerjaan dan menanganinya, serta menggunakan
alat-alat yang tepat. Consistency D (average) karena dianggap
berfluktuasi yang menggambarkan kondisi penyelesaian elemen kerja
rata-rata.

11

Tabel 4.7 Performance rating pada elemen kerja membilas

Skill
Effort
Conditions
Consistency
Jumlah

0,03
0,1
0,02
0,01
0,16

C2
B1
C
C

PR = 100% + 16% = 116% = 1.16


Skill dinilai sebagai C2 (good) karena gerakannya cepat dan
terkoordinasi dengan baik. Effort dinilai B2 (excellent) karena bekerja
secara sistematis, banyak memberi saran, dan penuh perhatian pada
pekerjaannya.

Tabel 4.8 Performance rating pada elemen kerja mengelap

Skill
Effort
Conditions
Consistency
Jumlah

0,06
0,08
0,02
0,01
0,17

C1
B2
C
C

PR = 100% + 17% = 117% = 1.17


Penilaian pada elemen kerja mengelap pada umumnya didasarkan
atas penilaian yang sama dengan elemen kerja membilas.
Tabel 4.9 Performance rating pada elemen kerja menurunkan motor

Skill
Effort
Conditions
Consistency
Jumlah

0,08
0,08
0,02
0,01
0,19

B2
B2
C
C

PR = 100% + 19% = 119% = 1.19


Skill dinilai sebagai B2 (excellent) karena bekerjanya cepat tetapi
halus, gerakan-gerakan kerja secara berurutan tanpa kesalahan, serta
bekerja cepat tanpa mengorbankan mutu. Effort dinilai B2 (excellent)
karena bekerja secara sistematis, banyak memberi saran, dan penuh
perhatian pada pekerjaannya.
Tabel 4.10 Performance Rating pada Elemen Kerja Other

Skill

0,06

C1
12

Effort
Conditions
Consistency
Jumlah

0,08
0,02
0,01
0,17

B2
C
C

PR = 100% + 17% = 117% = 1.17


Skill dinilai sebagai C1 (good) karena kualitas hasil baik dan terlihat
sebagai pekerja yang cakap. Effort dinilai B2 (excellent) karena kecepatan
kerja tinggi dan gerakan lebih ekonomis dari operator biasa.
Jadi P(Performance Rating) rata-rata dari ke-5 aktivitas
1,17%+1,09%+1,1%1,16%+1,17%+1,19%+1,17%
=
7

4.1.5 Allowance / Idle

Tabel 4.11 Jumlah allowance

Allowance/ idle
Pre WS
WS 1
WS 2
WS 3
WS 4
WS 5
Total

% Allowance/ idle =
=

= 1,15 %

Jumlah
177
112
189
103
187
196
964

jumlah idle
x 100
jumlah bekerja
964
100
2400

= 40,17 %= 40,17 %

4.1.6 Waktu Standar dan Output Standart


Total jam pengamatan = 6 hari x 2 jam x 3 operator
= 36
( working ) x ( total jam pengamatan ) x(ratarata PR)
Waktu Normal =
total output saat pengamatan

0,4 x 36 x 1,15
52

= 0,319

13

Waktu sandart = Waktu normal x


100
= 0,319 x 100 40,17

Output standar =
=

100
100 idle
= 0,319 x 1,67 = 0,533

1
waktu standar

1
0,533

= 1,87

4.2 Analisa Data dan Rekomendasi


Setelah diketahui waktu standar dan output standarnya dengan nilai
masing-masing 0,533 jam dan 1,87 itu berarti untuk menyelesaikan satu
output tiap operator membutuhkan waktu sebesar 0,533 jam atau 31,98
menit. Dengan waktu standar seperti itu, maka output standar yang
didapatkan memiliki niai 1,87 atau 2 output. Jadi selama satu jam, Cuci
Sepeda Motor Bambu ini dapat menghasilkan output sebanyak dua
output. Dengan jumlah elemen kerja sebanyak tujuh aktivitas, dua output
yang didapatkan dalam satu jam merupakan hasil yang kurang produktif.
Dengan jumlah operator sebanyak tiga, maka penulis merekomendasikan
satu jam tidak hanya menghasilkan dua output melainkan tiga output. Jadi
setiap operator setiap jamnya menghasilkan tiga output. Meskipun ada
faktor lain yang mempengaruhi seperti banyaknya kerja yang non
produktif dan jumlah input yang datang, untuk lebih produktif setiap jam
output yang keluar sesuai dengan jumlah operator.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan laporan tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulan
sebagai berikut :
1 Sampling kerja atau sering disebut sebagai work sampling, ratio delay
study,atau random observation method adalah salah satu teknik untuk
mengadakan sejumlah besar pengamatan terhadap aktivitas kerja dari
mesin, proses atau pekerja/operator.
2 Performance rating merupakan aktifitas untuk menilai dan
mengevaluasi kecepatan operator untuk menyelesaikan produknya.
Pada penelitian ini rata-rata performance rating pada saat PRE-WS
sebesar 1,15 = 115%.
3 Allowance/idle adalah waktu khusus operator khusus untuk keperluan
seperti istirahat dan alasan-alasan lain. Pada penelitian ini jumlah
allowance/ idle operator yaitu sebesar 40,17 %

14

4 Waktu normal adalah waktu yang dibutuhkan oleh operator unuk


menyelesaikan tugasnya dengan dipengaruhi oleh performance
ratingnya. Dalam penelitian ini, waktu normal didapat dari rumus :
Total jam pengamatan 36
Waktu Normal o,319 jam atau 19,14 menit. Jadi, waktu normal setiap
operator untuk menyelesaikan tiap aktivitas adalah 19,14 menit.
5 Waktu standart adalah waktu normal yang dipengaruhi oleh waktu
allowancenya. Dalam penelitian ini, waktu standart didapat dari rumus
:
Waktu sandart 0,533 jam atau 31,98 menit. Jadi, waktu standart setiap
operator
untuk
menyelesaikan
tiap
aktivitas
dengan
mempertimbangkan faktor allowancenya adalah 31,98 menit.
6 Output standart adalah jumlah pelanggan optimal yang bisa dilayani
oleh semua operator tiap jam. Dalam penelitian ini, output standart
didapat dari rumus :
Output standar 1,87 atau 2. Jadi, jumlah pelanggan optimal yang bisa
dilayani oleh semua operator adalah 2 pelanggan per jam.
5.2 Saran
Dalam pelaksanaan pengamatan ini disarankan untuk:
1 Lebih teliti pada saat melakukan pengamatan.
2 Lebih teliti dalam perhitungan

DAFTAR PUSTAKA
Sanders, Mark. 1993. Human Factor in Engineering and Design. Singapore: Mc-Graw Hill.
Santoso. 2004. Ergonomi Manusia, Peralatan, dan Lingkungan. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Wignjosoebroto, Sritomo. 2003. Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu. Surabaya: Guna Widya

15

JOB DESCRIPTION
Berikut pembagian job description tiap anggota dalam melakukan
pengamatan dan penyusunan laporan:
1 Nurilia Fitri : Melakukan pengamatan, mengerjakan bab 1 dan bab 5
laporan
2 Lalena Bunga Tanjung : Melakukan pengamatan, mengerjakan bab 4
laporan
3 April Fortunella : Melakukan pengamatan, mengerjakan bab 4 laporan
4 M. Utsman B : Melakukan pengamatan, mengerjakan bab 3 dan editing
laporan
5 Rochsi Syahadha : Melakukan pengamatan, mengerjakan bab 2 dan
editing laporan
Pembagian job description ini dibagi berdasarkan proporsi dan tingkat
kesulitan setiap bagian penyusunan laporan.

16