You are on page 1of 13

MATERIALISME DIALEKTIKA DALAM KEBUDAYAAN LOKAL

Disusun oleh:
Agung Bahroni

Manusia dengan segala kemampuan yang dimilikinya, selalu berusaha mencari sesuatu
yang baru. Dengan kemampuan berpikir pula manusia senantiasa mencari jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam dirinya. Untuk itulah manusia berpikir jauh diluar
jangkauan untuk mencari sebuah kebenaran. Filsafat merupakan hasil dari pemikiran manusia,
dan dapat pula dikatakan sebagai induk segala ilmu pengetahuan.
Secara historis filsafat merupakan induk dari segala ilmu. Dalam perkembangannya
ilmu makin terspesifikasi dan mandiri, namun mengingat banyaknya masalah kehidupan yang
tidak bisa dijawab oleh ilmu, maka filsafat hadir yang bertugas sebagai tumpuan untuk
menjawabnya. FIlsafat sendiri memberi penjelasan atau jawaban substansial yang radikal atas
masalah tersebut.
Dengan pemikiran yang radikal tersebut timbul beberapa hasil pemikiran dalam
filsafat yang saling bertentangan. Dalam sejarah perkembangan filsafat, terdapat dua aliran
besar yang saling bertolak belakang yaitu idealism dan materialisme. Idealisme mempunyai
konsep dasar yaitu segala sesuatu itu ada karena hasi dari pemikiran atau ide dari akal budi
manusia. Bertolak belakang dengan konsep dassar idealism, materialisme mempunyai konsep
dasar yaitu pemikiran manusia terbentuk oleh segala sesuatu yang dapat dirasakan oleh panca
indera.
Materialisme berkembang dalam periode masyarakat kepemilikan budak sekitar abad
ke-6 sebelum Masehi. Pemikiran filsafat ini merupakan pelopor bagi revolusi kebudayaan
umat manusia karena mereka telah menemukan cara pandang terhadap dunia yang baru.
Mereka menyusun asas kehidupan ini dengan cara yang belum pernah dikenal dalam
kebudayaan manusia sebelumnya. Kehidupan yang pada mulanya berdasarkan pada sistem
kepercayaan, dan menggantinya dengan pendekatan akal budi dan merefleksikan unsur-unsur
alam sebagai materi yang menyusun kehidupan. Dengan demikian mereka telah memajukan
cara pandang manusia dari sistem kepercayaan (mitos) menuju rasionalitas (logika).
Pada awal kelahirannya, filsafat materialisme tidak banyak mendapat perhatian karena
dianggap suatu pemikiran yang aneh. Pada abad 19 materialisme tumbuh subur di barat
karena adanya beberapa faktor. Faktor yang paling jelas adalah aliran materialisme berpegang
1

teguh pada kenyataan dan tidak mengandalkan dalil-dalil yang abstrak. Orang dengan paham
materialisme juga mempunyai harapan-harapan yang besar atas ilmu pengetahuan.
Materialisme dialektika muncul tidak lepas dari pengaruh pemikiran salah seorang
filosof yaitu G.W.F Hegel (1770-1831). Hegel melihat sebuah fenomena dengan dua
argument yang saling bertolak belakang, dalam perdebatan antara dua pendapat tersebut
selalu hadir pendapat ketiga yang menjadi penengah antara kedua pendapat yang dapat
memperbaiki ketegangan antara kedua pendapat yang sebelumnya saling bertolak belakang
tersebut sebagai cara berpikir dialektis yang nantinya akan menyatukan bagian-bagian terbaik
dari keduanya (Gaarder, 1996: 396).
Pemikiran hegel tentang cara berpikir dialektis tersebut menjadi titik awal munculnya
pemikiran dua tokoh filsafat yaitu Karl Marx dan Friedrich Engels. Karl Marx dikenal
sebagai bapak dari materialisme dialektis dan surplus value yaitu suatu nilai surplus yang
diterbitkan oleh kaum buruh tetapi dikuasai oleh kaum kapitalis. Sedangkan Friedrich yang
sebagai kawan Marx yang meneruskan penulisan Marx dengan judul Das Kapital yang
belum selesai karena Marx meninggal. Selain itu Friedrich juga menuliskan buku yang
berhubungan dengan filsafat Anti Duhring dan Ludwig Feurbach tentang ekonomi dan
sejarah (Malaka, 1999: 28).
Kaum materialisme menyangkal adanya jiwa atau roh, mereka menganggapnya hanya
sebagai pancaran materi. Seperti bumi dan bintang yang dapat ditemukan dalam teori gravitasi
yang dikemukakan oleh Newton, makhluk hidup seperti tumbuhan, hewan, dan manusia yang
berkembang yang dapat ditemukan dalam teori evolusi yang dikemukakan oleh Darwin. Dan
seperti itulah sejarah cara berpikir manusia berkembang dengan apa yang disebut
materialisme historis atau yang dinamakan dialektika materialis.

LATAR BELAKANG MATERIALISME DIALEKTIKA


Materialisme muncul karena ada cara pandang hidup manusia yang berbeda. Sebelum
materialism lahir, kehidupan manusia masih percaya akan mitos-mitos tentang kehidupan
yang berkembang dalam masyarakat. Dalam mitos tersebut dijelaskan bahwa kehidupan
manusia diatur oleh para Dewa. Mitos yang berkembang dimasyarakat didukung dengan
adanya cerita tentang mitos-mitos tersebut. Dalam kenyataannya cerita tersebut tidak hanya
cerita belaka, tetapi ada sesuatu yang ingin dijelaskan tentang kehidupan di dunia ini.

Sekitar abad ke-7 sebelum Masehi, mitos-mitos yang berkembang di Yunani


ditransformasikan dari cerita lisan yang turun-temurun dari abad ke abad menjadi sebuah
tulisan oleh Homer dan Hesiod. Dari tulisan tersebut mitos yang selama ini hanya sebuah
bayangan menjadi sesuatu yang bisa didiskusikan. Dalam tulisan mitologi tersebut Homer
menggambarkan Dewa menyerupai manusia. Untuk pertama kalinya dikatakan bahwa mitosmitos itu tidak lain adalah hasil pemikiran manusia.
Penggambaran tentang Dewa menyerupai manusia dalam mitologi Homer dikecam
oleh para filosof Yunani. Hal tersebut secara tidak langsung merendahkan Dewa sebagai titah
yang seharusnya berada diatas manusia. Pernyataan Homer didukung oleh filosof Xenophanes
yang hidup 570 tahun sebelum Masehi yang menyatakan bahwa Dewa adalah hasil ciptaan
manusia berdasarkan imajinasi mereka. Dewa juga memiliki kehidupan yang sama persis
dengan manusia. Pernyataan tersebut merupakan titik awal lahirnya materialisme.
Pada masa tersebut orang-orang Yunani mulai mendirikan koloni-koloni di Italia
selatan dan Asia kecil. Sistem kerja di kota-kota tersebut semua pekerjaan keras dilakukan
oleh para budak sehingga setiap warga Negara bebas memanfaatkan waktu luang mereka
untuk memikirkan kebudayaan dan politik. Dari sinilah setiap warga Negara juga memikirkan
bagaimana masyarakat diatur dengan caranya sendiri tanpa mengacu pada mitos-mitos yang
ada.
Materialisme berkembang dalam periode masyarakat kepemilikan budak sekitar abad
ke-6 sebelum Masehi. Pemikiran filsafat ini merupakan pelopor bagi revolusi kebudayaan
umat manusia karena mereka telah menemukan cara pandang terhadap dunia yang baru.
Mereka menyusun asas kehidupan ini dengan cara yang belum pernah dikenal dalam
kebudayaan manusia sebelumnya. Kehidupan yang pada mulanya berdasarkan pada sistem
kepercayaan, dan menggantinya dengan pendekatan akal budi dan merefleksikan unsur-unsur
alam sebagai materi yang menyusun kehidupan. Dengan demikian mereka telah memajukan
cara pandang manusia dari sistem kepercayaan (mitos) menuju rasionalitas (logika).
Pemikiran para filosof yang menyatakan segala sesuatu berasal dari suatu unsur
pembentuk.Thales berpendapat bahwa unsur asal adalah air. Anaximandros berpendapat
bahwa unsur asal adalah apeiron, yaitu unsur yang tak terbatas. Anaximenes berpendapat
bahwa unsur asal adalah udara. Heraklitos berpendapat bahwa unsur asal adalah api.
Demokritus berpendapat bahwa hakikat alam adalah atom-atom yang amat banyak dan halus.

Atom-atom itulah yang menjadi asal kejadian alam semesta. Hasil dari proyek para filosof
alam tersebut yang telah memicu lahirnya filsafat materialisme.
Untuk menelisik tentang materialisme, diawali dengan pandangan terhadap dunia yang
menganggap kekuatan gaib tertinggi yang mengendalikan dunia ini yang disebut animism
atau supernaturalisme. Prespektif tersebut ditentang oleh naturalism yang menganggap bahwa
alam ini bertumbuh dan berkembang dengan kekuatan murni dari alam itu sendiri. Dari
prespektif naturalism tersebut konstruksi pemahaman mengenai materialisme dibangun
dengan menalar dan mempelajari segala sesuatu yang terjadi di alam untuk dikembangkan
sebagai pengetahuan rasional yang mampu membantu manusia dalam memecahkan berbagai
persoalan dalam kehidupan sehari-hari (Suriasumantri, 2009: 64).
Kaum materialisme menyangkal adanya jiwa atau roh, mereka menganggapnya hanya
sebagai pancaran materi. Thomas Hobbes, seorang ahli pikir Inggris beralasan bahwa seperti
perjalanan yang tidak lepas dari orang yang berjalan, demikian juga gagasan, sebagai sesuatu
yang bersifat rohani juga tidak lepas dari organisme yang berpikir, yang mempunyai gagasan.
Materialisme pada abad 18 dan 19 seringkali sangat bersifat mekanistis, seperti pernah
diutarakan oleh Holbach bahwa segi manusia yang tidak kelihatan disebut jiwa, sedangkan
segi alam yang tidak kelihatan disebut Tuhan.
Pada awal kelahirannya, filsafat materialisme tidak banyak mendapat perhatian karena
dianggap suatu pemikiran yang aneh. Pada abad 19 materialisme tumbuh subur di barat
karena adanya beberapa faktor. Faktor yang paling jelas adalah aliran materialisme berpegang
teguh pada kenyataan dan tidak mengandalkan dalil-dalil yang abstrak. Orang dengan paham
materialisme juga mempunyai harapan-harapan yang besar atas ilmu pengetahuan.
Materialisme adalah filsafat yang revolusioner, karena ia mengajarkan kita bahwa
kapitalisme bukanlah sistem yang lahir dari apa-yang-disebut tabiat alami manusia, tetapi
justru sebaliknya bahwa tabiat manusia itu adalah hasil dari sistem sosial yang ada. Akan
tetapi materialisme tanpa dialektika adalah materialisme yang formalis dan kaku. Tanpa
dialektika, materialisme tidaklah lengkap untuk bisa menjelaskan semua hal yang ada di
dunia.
Dialektika berasal dari kata Yunani yaitu dialego yang memiliki arti bercakap-cakap,
berdebat, berdiskusi. Pada masa Yunani kuno dialektika adalah cara untuk mencari sebuah
kebenaran dengan membeberkan kontradiksi yang terdapat dalam sebuah argumen dan
mengatasi kontradiksi ini. Salah satu tokoh yang menggunakan metode ini adalah Socrates
4

dengan seni berdiskusinya. Untuk mencari sebuah kebenaran tentang sesuatu, Socrates
menjadikan dirinya tidak tahu apa-apa tentang sesuatu tersebut dan kemudian bertanya kepada
lawan diskusinya. Socrates percaya bahwa membeberkan kontradiksi dalam pikiran dan
bentrokan pendapat yang bertentangan adalah cara yang terbaik untuk mencapai kebenaran
(Stallin, 1938).
Cara berpikir dialektis tersebut berkembang menjadi sebuah metode untuk memahami
gejala alam yang memandang bahwa alam ini selalu bergerak dan selalu mengalami
perubahan. Pergerkan dan perubahan yang dialami oleh alam tersebut dianggap sebagai akibat
dari kontradiksi yang terjadi pada alam yang saling mempengaruhi kekuatan yang
bertantangan dengan alam.
Jika materialisme berlawanan dengan idealisme, maka dialektika berlawanan dengan
metafisika. Dialektika tidak memandang alam sebagai tumpukan segala sesuatu yang terjadi
secara kebetulan belaka dan tidak berhubungan satu sama lain, tetapi sebagai keseluruhan
yang berhubungan dan utuh dimana semua gejala organik yang saling berhubungan, saling
bergantung dan saling menentukan. Dalam metode dialektika tidak ada gejala alam yang bisa
dimengerti jika diambil secara terpisah dari gejala-gejala yang ada disekelilingnya. Suatu
gejala bisa dimengerti dan diterangkan jika dipandang dalam hubungannya yang utuh dengan
gejala disekelilingnya sebagai gejala yang ditentukan oleh gejala disekitarnya. Karena itu
metode dialektis menghendaki supaya gejala dilihat bukan saja dari sudut hubungan dan
bergantungnya satu sama lain, tetapi juga dari sudut gerak, perubahan, perkembangan,
kelahiran dan kematiannya (Stallin 1964).
Dalam metode dialektis Hegel mengawali dengan tesis yang berbunyi bahwa akal
dimaknainya sebagai asas dunia yang membuat segala sesuatu menjadi logis, efektif dan
rasional, termasuk segala hal yang terjadi dalam sejarah (Kartodirdjo, 1986: 62). Menurut
Hegel, akal menjadi sebuah alat yang digunakan untuk mengendalikan semua hal yang
dilakukan manusia. Pada hakikatnya semua kegiatan yang dilakukan manusia untuk mencapai
sebuah tujuan yaitu mewujudkan ide manusia itu sendiri. Dalam sejarah kehidupan, dunia
rohani berupa akal atau ide merupakan sesuatu yang menggerakkan segala sesuatu yang
terjadi di dunia ini dengan alur dialektis yang logis.
Karl Marx yang mempelajari secara mendalam filsafat Hegel, menentang pemikiran
Hegel tentang sesuatu yang menggerakkan segala sesuatu di dunia ini adalah roh atau ide.
Marx memiliki pandangan materialisme yang menempatkan pergerakan system ekonomi dan
5

produksi pada perhatian utamanya, terutama implikasi peran system-sistem tersebut terhadap
kehidupan beragama, politik, sosial, dan budaya dalam kehidupan masyarakat (Kartodirdjo,
1986: 64). Pandangan Marx tersebut mempunyai tujuan revolusi pada tataran kaum kapitalis
dengan kaum pekerja. Dengan hadirnya materialisme historis tersebut, diharapkan kaum
pekerja dapat menjungkirbalikkan strata yang terjadi tersebut, sehingga semua memiliki
kesetaraan hidup dalam suatu Negara.
Materialisme dialektis merupakan cara berpikir Marx tentang realitas, yakni
pengertian bahwa realitas tersusun oleh materi yang memiliki relasi langsung dengan subjek
dan relasi ini pun bergerak dalam untaian determinasi resiprokal. Dalam pengertian yang lebih
sederhana, realitas adalah efek dari mekanisme perjuangan kelas. Materialisme historis
merupakan penerapan materialisme dialektis kepada kenyataan yang menyejarah, maka
materialisme historis dapat kita mengerti sebagai gugus pemahaman tentang sejarah sebagai
ikhwal yang tersusun oleh determinasi resiprokal antar subyek dan antara subyek dengan
materi obyektif (Njoto, 1962: 18). Atau dalam arti yang dipermudah, sejarah adalah efek
perjuangan kelassebuah efek yang bergerak dalam arah ganda, kepada sejarah dan kepada
kelas itu sendiri.

TOKOH
1. KARL MARX
Pria dengan nama lengkap Karl Heinrich Marx lahir di Trier, Prusia pada 5 mei 1818
dan meninggal dunia pada 14 Maret 1883 di London, Inggris. Semasa hidupnya Marx dikenal
sebagai seorang filosof, tokoh sosiologi, pakar ekonomi politik dan teori kemasyarakatan dari
Prusia. Marx menjalani sekolah di rumah sampai ia berumur 13 tahun. Setelah lulus dari
Gymnasium Trier, Marx melanjutkan pendidikan nya di Universitas Bonn jurusan hukum
pada tahun 1835. Pada usia nya yang ke-17, dimana ia bergabung dengan klub minuman keras
Trier Tavern yang mengakibatkan ia mendapat nilai yang buruk. Marx tertarik untuk belajar
kesustraan dan filosofi, namun ayahnya tidak menyetujuinya karena ia tak percaya bahwa
anaknya akan berhasil memotivasi dirinya sendiri untuk mendapatkan gelar sarjana. Pada
tahun berikutnya, ayahnya memaksa Karl Marx untuk pindah ke universitas yang lebih baik,
yaitu Friedrich-Wilhelms-Universitt di Berlin. Pada saat itu, Marx menulis banyak puisi dan
esai tentang kehidupan, menggunakan bahasa teologi yang diwarisi dari ayahnya seperti The
Deity namun ia juga menerapkan filosofi atheis dari Young Hegelian yang terkenal di Berlin
6

pada saat itu. Marx mendapat gelar Doktor pada tahun 1841 dengan tesis nya yang berjudul
The Difference Between the Democritean and Epicurean Philosophy of Nature namun, ia
harus menyerahkan disertasi nya ke Universitas Jena karena Marx menyadari bahwa status
nya sebagai Young Hegelian radikal akan diterima dengan kesan buruk di Berlin. Marx
mempunyai keponakan yang bernama Azariel, Hans, dan Gerald yang sangat membantunya
dalam semua teori yang telah ia ciptakan.
Di Berlin, minat Marx beralih ke filsafat, dan bergabung ke lingkaran mahasiswa dan
dosen muda yang dikenal sebagai Pemuda Hegelian. Sebagian dari mereka, yang disebut juga
sebagai Hegelian-kiri, menggunakan metode dialektika Hegel, yang dipisahkan dari isi
teologisnya, sebagai alat yang ampuh untuk melakukan kritik terhadap politik dan agama
mapan saat itu. Pada tahun 1981 Marx memperoleh gelar doktor filsafatnya dari Universitas
Berlin, sekolah yang dulu sangat dipengaruhi Hegel dan para Hegelian Muda, yang suportif
namun kritis terhadap guru mereka. Desertasi doktoral Marx hanyalah satu risalah filosofis
yang hambar, namun hal ini mengantisipasi banyak gagasannya kemudian. Setelah lulus ia
menjadi penulis di koran radikal-liberal. Dalam kurun waktu sepuluh bulan bekerja disana
menjadi editor kepala. Namun, karena posisi politisnya, koran ini ditutup sepuluh bulan
kemudian oleh pemerintah. Esai-esai awal yang di publikasikan pada waktu itu mulai
merefleksikan sejumlah pandangan-pandangan yang akan mengarahkan Marx sepanjang
hidupnya. Dengan bebas, esai-esai tersebut menyebarkan prinsip-prinsip demokrasi,
humanisme, dan idealisme muda. Ia menolak sifat abstrak filsafat Hegelian, impian naif
komunis utopis, dan para aktivis yang menyerukan hal-hal yang dipandangnya sebagai aksi
politik prematur.
Ketika menolak aktivis-aktivis tersebut, Marx meletakkan landasan karyanya. Marx
terkenal karena analisis nya di bidang sejarah yang dikemukakannya di kalimat pembuka pada
buku Communist Manifesto (1848) : Sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada
dasarnya adalah sejarah tentang pertentangan kelas. Marx percaya bahwa kapitalisme yang
ada akan digantikan dengan komunisme, masyarakat tanpa kelas setelah beberapa periode dari
sosialisme radikal yang menjadikan negara sebagai revolusi keditaktoran proletariat(kaum
paling bawah di negara Romawi)

2. FRIEDRICH ENGELS
Friedrich Engels (lahir di Barmen, Wuppertal, Jerman, 28 November 1820
meninggal di London, 5 Agustus 1895 pada umur 74 tahun) adalah anak sulung dari
industrialis tekstil yang berhasil.Sewaktu ia dikirim ke Inggris untuk memimpin pabrik tekstil
milik keluarganya yang berada di Manchester, ia melihat kemiskinan yang terjadi kemudian
menulis dan dipublikasikan dengan judul Kondisi dari kelas pekerja di Inggris (Condition of
the Working Classes in England) (1844). Pada tahun 1844 Engels mulai ikut berkontribusi
dalam jurnal radikal yang yang ditulis oleh Karl Marx di Paris. Kolaborasi tulisan Engels dan
Marx yang pertama adalah The Holy Family. Mereka berdua sering disebut "Bapak Pendiri
Komunisme", di mana beberapa ide yang berhubungan dengan Marxisme sudah kelihatan.
Bersama Karl Marx ia menulis Manifesto Partai Komunis (1848). Setelah Karl Marx
meninggal, ialah yang menerbitkan jilid-jilid lanjutan bukunya yang terpenting Das Kapital.
Perancis menjadi tempat bertemunya Engels dengan Marx. Kendati Marx dan Engels
memiliki kesamaan orientasi teoritis, ada banyak perbedaan di antara kedua orang ini. Marx
cenderung lebih teoritis, intelektual berantakan, dan sangat berorientasi pada keluarga. Engels
adalah pemikir praktis, seorang pengusaha yang rapi dan cermat, serta orang yang sangat
tidak percaya pada institusi keluarga. Banyak kesaksian Marx atas nestapa kelas pekerja
berasal dari paparan Engels dan gagasan-gagasannya. Pada tahun 1844 Engels dan Marx
berbincang lama disalah satu kafe terkenal di Perancis dan ini mendasari pertalian seumur
hidup keduanya. Dalam percakapan itu Engels mengatakan, "Persetujuan penuh kita atas
arena teoritis telah menjadi gamblang...dan kerja sama kita berawal dari sini". Tahun
berikutnya, Engels mepublikasikan satu karya penting, The Condition of the Working Class in
England. Selama masa itu Marx menulis sejumlah karya rumit (banyak di antaranya tidak
dipublikasikan sepanjang hayatnya), termasuk The Holy Family dan The German Ideology
(keduanya ditulis bersama dengan Engels), namun ia pun menulis The Economic and
Philosophic Manuscripts of 1844, yang memayungi perhatiannya yang semakin meningkat
terhadap ranah ekonomi.
Di tengah-tengah perbedaan tersebut, Marx dan Engels membangun persekutuan kuat
tempat mereka berkolabirasi menulis sejumlah buku dan artikel serta bekerja sama dalam
organisasi radikal, dan bahkan Engels menopang Marx sepanjang hidupnya sehingga Marx
menagbdikan diri untuk petualang politik dan intelektualnya. Kendati mereka berasosiasi
begitu kuat dengan nama Marx dan Engels, Engels menjelaskan bahwa dirinya partner junior
Marx.
8

Sebenarnya banyak orang percaya bahwa Engels sering gagal memahami karya Marx.
Setelah kematian Marx, Engels menjadi juru bicara terkemuka bagi teori Marxian dan dengan
mendistorsi dan terlalu meyederhanakan teorinya, meskipun ia tetap setia pada perspektif
politik yang telah ia bangun bersama Marx. Karena beberapa tulisannya meresahkan
pemerintah Prussia, Pemerintahan Perancis pada akhirnya mengusir Marx pada tahun 1845,
dan ia berpindah ke Brussel. Radikalismenya tumbuh, dan ia menjadi anggota aktif gerakan
revolusioner internasional. Ia juga bergabung dengan liga komunis dan diminta menulis satu
dokumen yang memaparkan tujuan dan kepercayaannya. Hasilnya adalah Communist
Manifesto yang terbit pada tahun 1848, satu karya yang ditandai dengan kumandang slogan
politik

KONSEP ALIRAN
Konsep dasar dari materialisme bisa diambil dari pengamatan para filosof alam yang
menyatakan bahwa semua kejadian di alam dan terjadinya alam dibentuk oleh unsur asal. Dari
pernyataan tersebut materialisme menitikberatkan bahwa sesuatu yang nyata atau hakekat
sesuatu adalah adanya materi. Melihat pernyataan para filosof alam tersebut, Karl Marx
mendapatkan sebuah konsep materialisme dalam kehidupan social.
Materialisme yang dimaksud Marx adalah hal-hal yang nyata, realita, apa yang ada
di dalam realita sosial. Marx mengesampingkan hal-hal yang bersifat abstrak, tidak bisa
dilihat, lebih-lebih sesuatu yang sifatnya hanya keyakinan. Konsep Materialisme Marx
merupakan kritik atas gagasan idealisme yang dominan dalam pemikiran filsafat saat itu,
terutama yang dikembangkan oleh Hegel. Aliran idealisme melihat kesadaran dan gagasan
sebagai pangkal yang mempengaruhi dan menyebabkan tindakan individu dan sekaligus
membentuk realita sosial.
Marx membuat sebuah tulisan dengan judul Theses on Feuerbach. Dalam tulisan
tersebut Marx mengkritik pernyataan Feuerbach mengenai materialisme. Dalam tesisnya
Marx tersebut teergambar adanya pertentangan mengenai benda yang tercipta. Sebelas poin
yang disampaikan Marx memang tidak semuanya berhubungan dengan materialisme
dialektika, namun dari kesebelas konsep tersebut ada sebagian yang berhubungan dengan
materialisme dialektika.
Filsafat aliran apapun pada intinya diawali dengan titik tolak sebuah pemikiran inti.
Begitu pula pada aliran materialisme, materialisme yang dikemukakan oleh Marx disini
9

mempunyai latar belakang menolak aliran idealisme. J.W Stallin dalam bukunya
Materialisme Dialektis dan Historis mengatakan materialisme Marxis mempunyai tiga ciri
pokok yang bisa digunakan sebagai acuan dalam memahami materialisme Marx.
Ciri yang pertama adalah dunia menurut sifatnya sendiri adalah materi. Gejala-gejala
yang bermacam-macam dari dunia merupakan bentuk materi yang bergerak, berhubungan,
dan bergantungan. Dunia berkembang sesuai dengan hokum-hukum gerak materi dan tidak
memerlukan sesuatu. Pandangan materialis terhadap alam menurut Engels, adalah fenomena
yang terjadi di alam semata-mata merupakan reaksi alam sebagaimana mestinya, tanpa
adanya tambahan apapun dari luar (Engels, 1976: 79).
Ciri yang kedua materi adalah sebuah kanyataan yang objektif yang berada diluar dan
terlepas dari kesadaran kita. Materi dianggap sebagai sesuatu yang primer karena materi
merupakan sumber perasaan, ide, dan kesadaran. Sementara perasaan, ide, dan kesadaran
merupakan sesuatu yang sekunder karena itu merupakan refleksi dari materi

yang ada.

Kesadaran merupakan hasil dari materi yang dalam perkembangannya telah mencapai tingkat
kesempurnaan yang tinggi yaitu otak, dan otak adalah alat untuk berpikir dan oleh sebab itu
kita tidak bisa memisahkan antara pikiran dan materi.
Ciri yang ketiga adalah menganggap dunia dan hokum-hukumnya sepenuhnya bisa
diketahui. Hukum alam yang telah diuji dengan percobaan dan praktik merupakan sebuah
pengetahuan yang benar dan mempunyai bukti yang objektif, dan tidak ada sesuatu didunia
ini yang tidak bisa diketahui tetapi belum diketahui dan akan bisa diketahui dengan usahausaha keilmuan dan praktik.
Sementara dialektika, mengacu pada konsep yang dibentuk Hegel, yang menyatakan
bahwa perjalanan sejarah manusia yang terbangun atas tiga bagian yang disebut sebagai tesis ,
antitesis, dan sintesis. Tesis merupakan persoalan yang ada. Antitesis adalah tanggapan kritis
dari persoalan tersebut. Sementara sintesis merupakan kondisi baru yang tercapai setelah tesis
mengoreksi antitesis. Dialektika melihat keberadaan masyarakat sebagai proses yang terus
bergerak dan penuh perubahan. Sejarah manusia hingga mencapai bentuk

kebenaran,

menurut Hegel, dalam proses tersebut harus terlebih dahulu melewati kesalahan dan masamasa buruk.
Apabila konsep materialisme berlawanan dengan idealisme, disini dialektika juga
mempunyai pertentangan terhadap sebuah pemikiran yaitu metafisika. Stallin juga
merumuskan ciri pokok dari dialektika marxis yang disusun menjadi empat bagian. Ciri yang
10

pertama yaitu dialektika berpendapat bahwa alam sebagai keseluruhan yang berhubungan dan
utuh dimana segala sesuatu secara organic saling berhubungan, bergantung, dan menentukan.
Oleh karena itu metode dialektis berpendapat bahwa tidak ada gejala alam yang bisa
dimengerti jika diteliti secara terpisah dari gejala yang ada disekelilingnya. Gejala dalam
suatu lapangan alam bisa tidak berarti bila tidak dipandang dalam hubungannya dengan
keadaan-keadaan disekitarnya.
Ciri yang kedua adalah sebuah fenomena dipandang sebagai sesuatu yang terusmenerus bergerak dan berubah. Perubahan dan pergerakan tersebut dipengaruhi oleh segala
sesuatu yang berada disekelilingnya. Pada ciri yang ketiga meneruskan dari ciri yang kedua
adalah perubahan yang terjadi merupakan perubahan yang melalui perubahan kuantitatif ke
perubahan yang kualitatif dimana pperubahan tersebut tidak terjadi berangsur-angsur
melainka dengan cepat dan mendadak dalam bentuk lompatan dari suatu keadaan menuju
keadaan yang lainnya. Perubahan tersebut tidak terjadi secara kebetulan tapi sebagai akibat
yang sewajarnya dari suatu tumppukan perubahan kuantitatif yang tidak terlihat dan
berangsur-angsur. Ciri yang keempat adalah dialektika menjelaskan bahwa kontradiksi intern
terdapat didalam segala sesuatu karena semua mempunyai segi negative dan segi positif.
Apabila disederhanakan konsep materialisme dialektika adalah segala sesuatu yang
ada harus mempunyai sifat empiris yang dapat dibuktikan secara kongkrit oleh panca indera.
Apabila sesuatu itu sudah empiris, maka sesuatu itu harus melalui 3 tahapan metode yaitu
tesis (fenomena sesuatu), antithesis (pertentangan tentang sesuatu), dan sintesis (pernyataan
baru yang telah mendapatkan mediasi dari pernyataan-pernyataan sebelumnya).

IMPLIKASI LOGIS
Dalam mengkaji sebuah kebudayaan disuatu daerah, kita harus mengetahui segala
aspek kehidupak yang berkembang pada masyarakat tersebut. Begitu pula apabila mengamati
tentang kebudayaan Jawa. Masyarakat Jawa memiliki beberapa prinsip kehidupan yang
digunakan pula sebagai pedoman dalam menjalani hidup ini. Salah satu wujudnya adalah
bebasan. Bebasan adalah sebuah bunyi yang menggambarkan suatu keadaan manusia yang
digambarkan dengan kalimat perumpamaan (Poerwadarminta, 1939: 87).
Apabila dilihat dari bentuknya, bebasan merupakan salah satu wujud kesusastraan
Jawa. Bebasan juga banyak ditemukan dalam literasi Jawa, tetapi tidak ada penjelasan tentang
darimana asal-usul bebasan tersebut. Dalam kenyataannya bebasan dalam kehidupan sehari11

hari digunakan sebagai representasi kehidupan yang pernah dialami seseorang. Tetapi belum
ada yang bisa menjelaskan secara mendalam bagaimana bebasan itu ada dalam kehidupan
orang Jawa.
Bebasan dalam praktik kehidupan pada zaman modern ini pada kenyataannya masih
eksis dan terus berkembang. Latar belakang dari bebasan itu sendiri sebenarnya adalah
pengalaman hidup yang pernah dialami oleh generasi sebelumnya. Bebasan diajarkan secara
turun-menurun kepada generasi penerus dengan cara mengucapkannya pada saat seseorang
mengalami suatu keadaan. Salah satu bebasan yang sering digunakan dalam kehidupan
sekarang ini adalah sapa nandur bakale ngundhuh

(siapa yang menanam pasti akan

memanen). Apabila dilihat dari konteksnya, bebasan tersebut mengambil dari konsep
pertanian. Tetapi pada kenyataannya bebasan tersebut diucapkan pada keadaan dimana
seseorang melakukan perbuatan baik ataupun perbuatan buruk.
Dari pernyataan tentang siapa yang menanam akan memanen muncul dari konsep
pertanian. Pada kenyataannya tidak semua masyarakat Jawa adalah petani, tetapi yang
diterapkan disini adalah konsep pertanian. Masyarakat Jawa melihat dalam konsep pertanian
bahwa sesuatu yang ditanam akan sama dengan yang dipanen, bahkan hasil yang dipanen
akan lebih banyak. Begitu pula dengan perbuatan yang dilakukan manusia yang baik ataupun
yang buruk pasti akan mendapatakan hasil yang setimpal dengan yang dilakukan, bahkan bisa
juga lebih banyak. Pernyataan ini mengacu pada hubungan antar manusia dan terlepas dari
manusia dengan Tuhan.
Dari keterangan tersebut kita bisa merumuskan bahwa pemikiran tentang bebasan
muncul dengan adanya pengamatan terhadap realita yang diwujudkan dalam sebuah kalimat.
Dari kalimat-kalimat yang berwujud bebasan tersebut masyarakat Jawa merepresentasikan
keadaan yang pernah dialami sebagai sebuah pengetahuan. Apabila dilihat dari pendekatan
materialisme dialektika, bebasan tidak muncul dari ide atau pemikiran masyarakat Jawa tetapi
bebasan dapat terwujud dari apa yang pernah dilihat dan dirasakan. Materi yang
memunculkan sebuah pemikiran tentang bebasan adalah pengalaman yang ada bukti
empirisnya. Hal tersebut juga berlaku untuk semua bebasan yang ada dan masih berkembang
pada masyarakat Jawa.

12

KESIMPULAN
Berdasarkan seluruh keterangan diatas, pandangan Karl Marx dalam materialisme
dialektika diciptakan sebagai teropong untuk melihat serta mengkritisi suatu realita kongkrit
yang ada disekitarnya. Dengan ketiga unsur dialektis (tesis, antithesis, sintesis) Marx juga
menyatakan bahwa perubahan akan selalu terjadi dalam dunia, dan sebuah fakta tidak pernah
bersifat statis (tetap). Pada kenyataannya prinsip Marx tersebut hanya beroperasi pada ranah
realitas yang kongkrit dan dapat dibuktikan secara empiris dan memiliki metode yang pasti
untuk mengkajinya yaitu dialektis yang disebabkan sifatnya yang materiil sebagai dialektika
materi. Dalam materialisme dialektika, yang disebut ilmu pengetahuan adalah aspek bidang
pengetahuan yang telah teruji melewati ketiga tahapan metode yaitu tesis, antithesis, dan
sintesis. Dalam kebudayaan Jawa yang dikenal masyarakatnya sangat percaya akan adanya
hal mistis juga mempunyai satu aspek kehidupan yang masih berlaku hingga saat ini yaitu
bebasan, dan hal tersebut mempunyai bukti empiris sebagai dasarnya dan bisa dikaji
menggunakan metode dialektis.

DAFTAR PUSTAKA
Engels, F., 1976. Ludwig Feuerbach and the End of Classical German Philosophy. 1st ed.
Peking: Foreign Language Press.
Gaarder, J., 1996. Dunia Sophie. Bandung: Penerbit Mizan.
Kartodirdjo, S., 1986. Ungkapan-Ungkapan Filsafat Sejarah Barat dan Timur. Jakarta:
Penerbit PT Gramedia.
Malaka, T., 1999. MADILOG: Materialisme Dialektika Logika. Jakarta: Pusat Data Indikator.
Njoto., 1962. Marxisme: Ilmu dan Amalnya. Jakarta: Harian Rajat.
Poerwadarminta, W.J.S. 1939. Baoesastra Djawa. Batavia: J.B. Wolters.
Stallin, J.W., 1964. Materialisme Dialektis dan Historis, September 1938. Jakarta: Yayasan
Pembaruan.
Suriasumantri, J. S., 2009. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Dengan Kata Pengantar
Andi Hakim Nasution). Jakarta: Pusat Sinar Harapan.

13