You are on page 1of 19

I.

Judul Percobaan
II. Tanggal Percobaan
III. Selesai Percobaan
1.
Tujuan Percobaan

: Titrasi Pengendapan dan Aplikasi


: 21 November 2011
: 21 November 2011
: 1. Membuat dan menentukan standarisasi larutan AgNO dengan NaCl
2. Menentukan kadar Cl- dalam air laut

V. Dasar Teori
Reaksi pengendapan telah dipergunakan secara luas dalam kimia analitik, dalam
penentuan gravimetric dan dalam pemisahan sample menjadi komponen-komponennya.
Pengendapan merupakan sebuah taknik dasar yang sangat penting dalam banyak
prosedur analitik.
Titrasi-titrasi yang melibatkan reaksi pengendapan tidak berjumlah banyak dalam
analisis titrimetrik seperti titrasi-titrasi yang terlibat dalam reaksi redoks atau asam
basa. Contoh dari titrasi pengendapan dibatasi pada yang melibatka pngendapan dari
ion perak dengan anion-anion seperti halogen atau tiosinat. Penggunaan reaksi semacam
ini terbats karena kurangnya indikator yang cocok. Dalam beberapa kasus, terutama
dalam titrasi dari larutan encer dan titran ditambahkan secara perlahan, penjenuhan
yang luar biasa tidak terjadi dan tingkat pengendapan menjadi lambat.
Dasar reaksi titrasi pengendapan ialah terjadinya endapan pada reaksi antara zat
analit dengan penitrasi, misalnya :
Ag+ + X- AgX(g)

dimana X = halogen

Ag+ + CrO4- Ag2CrO4(s) merah bata


Indikator K2CrO4 digunakan pada titrasi antara ion halida dan ion perak, dimana
kelebihan ion Ag+ akan bereaksi dengan CrO4- membentuk perak kromat yang berwarna
merah bata (Cara Mohr).
Pada titik ekivalen :
Ekivalen Ag+ = Ekivalen ClAda beberapa cara unuk menentukan saat tercapai titik ekivalen pada titrasi
pengendapan :
1. Dengan pembentukan endapan berwarna ( Cara Mohr )
2. Dengan pembentukan persenyawaan berwarna yang larut ( Cara Volhard )
3. Dengan indikator adsorpsi ( Cara Fajans )
1.

CARA MOHR
Indikator K2CrO4, titran adalah AgNO3. Terutama untuk menentukan garam

klorida dengan titrasi langsung, atau menentukan garam perak dengan titrasi kembali

setelah ditambah larutan NaCl berlebih. pH harus diatur agar tidak terlalu asam
maupun terlalu basa (antara 6 dan 10).Indikator menyebabkan terjadinya reaksi pada
titik akhir dengan titrant sehingga terbentuk endapan yang berwarna merah bata, yang
menunjukkan titik akhir karena warnanya berbeda dari warna endapan analat dengan
Ag+.
Pada analisa Cl- mula-mula terjadi reaksi :
Ag+ + Cl-

AgCl

Sedang pada titik akhir, titrant juga bereaksi menurut reaksi :


2Ag+ + CrO4-

Ag2CrO4

Konsentrasi CrO4- yang ditambahkan sebagai sebagai indikator tidak boleh


sembarang, tetapi harus dihitung berdasar Ksp AgCl dan Ksp Ag2CrO4.
2.CARA VOLHARD
Indikator Fe3+ titrant KSCN atau NH4SCN. Untuk menentukan garam perak
dengan titrasi langsung, atau garamgaram khlorida, bromida, iodida, tiosianat,
dengan titrasi kembali setelah ditambah larutan baku AgNO3 berlebih. juga untuk
anion-anion lain yang lebih mudah larut dari AgSCN, tetapi dengan usaha khusus. pH
harus cukup rendah, kira-kira 0,3 M H+, agar Fe3+ tidak terhidrolisa.
3.CARA FAJANS
Indikatornya ialah salah satu indikator adsorpsi menurut macam anion yang
diendapkan oleh Ag+, pH tergantung dari macam anion dan indikator yang dipakai.
Faktor yang perlu di pertimbangkan dalam memilih sebuah indikator adsorpsi
yang cocok untuk sebuah titrasi pengendapan. Faktor-faktor ini dirangkum di bawah
ini :
1. AgCl seharusnya tidak diperkenankan untuk mengental menjadi partikelpartikel besar pada titik ekivalen, mengingat hal ini akan menurunkan secara
drastis permukaan yang tersedia untuk adsorpsi dari indikator.
2. Adsorpsi dari indikator seharusnya dimulai sesaat sebelum titik ekivalen dan
meningkat secara cepat pada titik ekivalen.
3. Ph dari media titrasi harus dikontrol untuk menjamin sebuah konsentrasi ion
dari indikator asam lemah atau basa lemah tersedia cukup.
4. Amat disarankan bahwa ion indikator bermuatan berlawanan dengan ion yang
ditambahkan sebagai titran.

Jadi dalam tiga cara tersebut titrant masing-masing tertentu, indicator dan Ph
untuk cara Mohr dan Volhart tertentu, sedang dalam cara Fajans indikator tidak harus
tertentu dan Ph disesuaikan dengan indikator.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan adalah sebagai berikut :
1. Temperatur. Semakin meningkat temperatur, maka meningkat pula kelarutannya.
2. Pemilihan Pelarutan. Garam anorganik lebih dapat larut dalam air dari pada
dalam larutan organik, kelarutan dalam air lebih besar dari pada dalam larutan
organik.
3. Efek ion-sekutu. Dengan adanya ion sekutu yang berlebihan, kelarutan dari
sebuah endapan bisa jadi lebih besar dari pada tetapan kelarutan produk.
4. Efek aktivitas.
5. Efek Ph.
6. Efek hidrolisis.
7. Hidroksida metal.
8. Efek pembentukan kompleks.

VI.

Alat dan Bahan


Alat alat
1. Labu Ukur 100 mL

1 buah

2. Erlenmeyer 250 mL

2 buah

3. Buret

1 buah

4. Spatula

1 buah

5. Pipet Gondok 10 ml

1 buah

6. Gelas Ukur

2 buah

7. Pipet tetes

6 buah

Bahan
1.

NaCl

2.

Air suling

3.

AgNO3

4.

Indikator metyl jingga

5.

Air Laut

VII.

CARA KERJA

Penentuan (standarisasi) larutan AgNO3 0,1 N dengan NaCl sebagai


baku

NaCl
Buret

Ditimbang 0,062 g
Dipindahkan dalam labu ukur
100 ml
Dilarutkan dengan air suling
Diencerkan sampai tanda batas

Dibilas dan diiisi


dengan AgNO3

Hasil
AgNO3 dalam
buret

Dipipet sebanyak 25
mL dengan pipet
seukuran
Dimasukkan ke dalam
erlenmeyer 100ml
Ditambah 10 ml air
suling
Ditambah 5 tetes
indikator K2CrO4

Digunakan untuk
titran

Hasil

Ditritasi sambil terus


dikocok
Titrasi dihentikan saat
terjadi endapan merah
bata

Hasil
Dibaca dan dicatat angka pada
buret saat awal dan akhir titrasi
Dicatat volume larutan AgNO3
yang digunkan dalam titrasi
Dihitung konsentrasi AgNO3

Hasil

Penentuan Kadar Cl- Dalam Air Laut


Air laut
Diukur massanya dengan neraca
analitis
Diukur volumenya
Dicari massa jenisnya

Hasil
Dipipet 10 ml
diencerkan dalam labu ukur 100 ml

Hasil
Dipipet 10 ml
Diencerkan dalam labu ukur 100 ml

Hasil
Diambil 10 ml
Ditambahkan 5 tetes K2CrO4 5 %

Hasil
Dititrasi dengan AgNO3 sampai
terjadi endapan merah bata

Hasil

*percobaan dilakukan 3
kali*percobaan dilakukan 3
kali

VIII. Hasil Pengamatan


Penentuan (standarisasi) larutan AgNO3 0,1 N dengan NaCl p.a sebagai baku

No.
perc.
1.

Alur
NaCl 0,062 g

dipindahkan
dalam labu ukur
100 ml
diencerkan
samapi tanda
batas dengan air
suling.

Larutan Baku

dipipet 10 ml
ditambahkan 10
ml air suling
ditambah 1 ml
indikator K2CrO4

larutan baku dalam


erlenmeyer

Hasil

dititrasi
dengan
AgNO3
dalam
buret

Hasil
Pengamatan
NaCl : serbuk
putih

Dugaan /
Reaksi
Di lampiran

Simpulan
1. [ AgNO3 ] =
0,0137 N

indikator K2CrO4 :
kuning
AgNO3 : jernih tak
berwarna
Larutan Baku :
jernih tak berwarna
Larutan Baku +
indikator K2CrO4

2. [ AgNO3 ]=
0,0132 N
3. [ AgNO3 ] =
0,0131 N

: kuning jernih
larutan setelah
dititrasi :
Merah bata dan
ada endapan.
V AgNO3 :
V1 = 7,7 ml
V2 = 8,0 ml
V3 = 8,1 ml

4. [ AgNO3 ]
rata-rata =
0,0133N

No.
perc.
1.

Alur
Air laut

Diukur massanya
dengan neraca
analitis
Diukur volumenya
Dicari massa
jenisnya

Hasil

Dipipet 10 ml
diencerkan dalam
labu ukur 100 ml

Hasil

Dipipet 10 ml
diencerkan dalam
labu ukur 100 ml

Hasil

Diambil 10 ml
Ditambahkan 5
tetes K2CrO4 5 %

Hasil

Dititrasi dengan
AgNO3 sampai
terjadi endapan
merah bata

Hasil

Hasil
Pengamatan
Air laut : jernih,
tak berwarna

Dugaan /
Reaksi
Di lampiran

Simpulan
1. %Cl- =
7,2640%

AgNO3 : Jernih
tak berwarna
larutan baku :
jernih tak
berwarna

2. %Cl- =
8,4235 %

larutan baku +
indikator :
kuning
larutan setelah
titrasi : merah
bata dan
terdapat
endapan.
v AgNO3
v1 = 1,6 ml
v2 : 1,9 ml
v3 : 2,0 ml

3. %Cl- =
9,0719 %

%Cl- rata-rata =
8,2531%

IX. ANALISIS DAN PEMBAHASAN

1.

Standarisasi larutan AgNO3 dengan menggunakan larutan NaCl


Dalam suatu proses standardisasi suatu larutan diperlukan larutan yang sudah
diketahui konsentrasinya terlebih dahulu. Larutan yang diketahui konsentrasinya ini
disebut larutan baku. Pada standardisasi AgNO3 dengan menggunakan larutan NaCl
sebagai baku, langkah pertama yang dilakukan adalah menimbang NaCl yang
berbentuk serbuk berwarrna putih sebanyak 0,062 gram. Kemudian kita membuat
larutan baku dari zat NaCl yang telah ditimbang yaitu dengan memindahkannya pada
labu ukur 100 ml dan ditambahkan dengan air suling dan dikocok agar NaClterlarut
sempurna. Setelah itu baru diencerkan dengan menambahkan air suling sampai tanda
batas pada labu ukur. Dalam penambahan air suling tidak boleh melebihi tanda batas
karena jika telah melebihi tanda batas maka dianggap telah gagal dalam pembuatan
larutan baku. Dimana air suling dalam percobaan ini digunakan sebagai pelarut karena
sifatnya yang polar. Dari pembuatan larutan baku didapatkan konsentrasi larutan baku
NaCl adalah 0,0106 N. Dan reaksi yang terjadi adalah :
Setelah pembuatan larutan baku NaCl, langkah selanjutnya dilakukan titrasi NaCl
sebagai

baku

(analit)

dengan

larutan

AgNO3

sebagai

titran

yang

dicari

konsentrasinya.Larutan baku NaCl digunakan untuk menstandartkan larutan AgNO3


dengan cara mengambil sebanyak 10 mL larutan baku (analit) dengan menggunakan
pipet seukuran (pipet gondok) agar larutan yang diambil tepat (valid) atau dengan kata
lain untuk meminimalisir kesalahan. Selain itu volume pipet gondok telah ditentukan
dengan standar ketelitian yang variabel dengan tingkat ketelitian pengukuran yang
tinggise hingga keakuratannya terjamin.Selanjutnya larutan baku yang telah dipipet
dimasukkan dalam erlenmeyer 250 mL dan ditambahkan air suling sebanyak 10 mL
yang bertujuan untuk memperjelas pengamatan pada saat titrasi tanpa menggunakan
pipet seukuran. Penambahan air tidak dengan menggunakan pipet seukuran (tidak harus
setepat pengambilan NaCl) namun menggunakan gelas ukur

karena tidak

diperhitungkan nantinya konsentrasi air suling yang diambil. Setelah itu, menyiapkan
larutan AgNO3untuk distandarisasi yaitu dengan memasukkan larutan AgNO3 (tiran)
pada buret yang sebelumnya telah disiapkan dan telah dibersihkan.

Ketika akan melakukan titrasi ditambahkan 5 tetes indikator K2CrO45 % yang


berwarna kuning pada larutan baku yang ada pada erlenmeyer.Titrasi menggunakan
perak nitrat sebagai titran dimana akan terbentuk garam yang sukar larut. Standarisasi
larutan AgNO3 dengan NaCl merupakan titrasi yang tergolong dalam presipitimetri
jenis argentometri.
Reaksi yang terjadi adalah :

Metode Mohr biasanya digunakan untuk mentitrasi ion halida seperti NaCl dengan
AgNO3 sebagai pentitran dan K2CrO4 sebagai indikator. Ketika NaCl dimasukkan ke
dalam Erlenmeyer dan ditambahkan indikator K2CrO4 yang kemudian dititrasi sedikit
demi sedikit dengan AgNO3 akan terbentuk endapan putih yang merupakan AgCl. Dan
ketika NaCl sudah habis bereaksi dengan AgNO3 sementara jumlah AgNO3 masih ada
maka AgNO3 akan bereaksi dengan indikator K2CrO4 yang berwarna krem. Dalam
titrasi ini, perlu dilakukan secara cepat dan pengocokannya pun juga kuat agar
Ag+ tidak teroksidasi menjadi AgO yang menyebabakan titik akhir titrasi menjadi sulit
dicapai.
Kadar garam dalam larutan pemeriksaan dapat ditentukan dengan megukur
volume larutan standar yang digunakan sehingga seluruh ion Ag + dapat tepat
diendapkan.
Pada titik akhir titrasi akan menunjukkkan perubahan warna suspensi dari
kuning manjadi kuning-coklat. Perunbahan ini terjadi karena timbulnya Ag 2CrO4 saat
hampir mencapai titik ekivalen, hampir semua ion Cl- berikatan manjadi AgCl. Larutan
standar yang digunakan dalam metode ini adalah AgNO3 yang memiliki normalitas
0,100 N, adanya indikator K2CrO4 menyebabkan terjadinya reaksi pada titik akhir
dengan titran sehingga terbentuk endapan yang berwarna merah bata, yang
menunjukkan titik akhir adalah perubahan warnanya dari warna endapan analit dengan
Ag+. Pada analisa Cl- terjadi reaksi :
Ag+(aq) + Cl-(aq) AgCl(s)
sedangkan pada titik akhir titran juga bereaksi menurut reaksi:
2Ag+(aq) + CrO42-(aq) Ag2 CrO4 (s)

Pengaturan pH sangat diperlukan agar tidak terlalu rendah ataupun tinggi jadi
pengendalian pH sangat diperlukan untuk memberikan konsentrasi yang tepat dari anion
indikator tanpa mengendapkan zat yang tidak diinginkan. Apabila pH terlalu tinggi maka
akan tenrbentuk endapan AgOH yang selanjutnya terurai menjadi Ag 2O sehingga titran
terlalu banyak terpakai. Dan reaksi yang akan terjadi adalah :
2Ag+(aq) + 2OH-(aq)

2AgOH (s)

Ag2O(s) + H2O(l)

Bila pH terlalu rendah, ion CrO4- sebagian akan berubah manjadi Cr2O7-, reaksi yang akan
terjadi adalah :
2H+ + 2CrO4-2

Cr2O7-2 + H2O

Reaksi inilah yang mengurangi konsentrasi indikator dan menyebabkan tidak


menimbulkan endapan atau sanagt terlambat.
Selama titrasi larutan harus diaduk atau digoyang secara baik bila tidak akan
terjadi kelebihan titran yang menyebabkan indikator mengendap sebelum titik ekivalen
tercapai dan dioklusi oleh endapan AgCl yang terbentuk kemudian, akibatnya titik akhir
manjadi tidak tajam.
Titrasi dalam percobaan ini dilakukan sebanyak 3 kali. Dan dari percobaan kami
diperoleh V1AgNO3 sebanyak 7,7 mL, V2 AgNO3 sebanyak 8,0 mL, dan V3 AgNO3
sebanyak 8,1 mL. Sehingga diperoleh Normalitas AgNO 3 0,0133 N melalui rumus N1.V1
= N2.V2(mek HCl = mek AgNO3).
Kelemahan titrasi ini adalah jika terjadi kelebihan titran akan menyebabkan
indikator mengendap sebelum titik ekivaklen tercapai, sehingga titik akhir titrasi tidak
akurat. Selain itu indikator kalium kromat juga harus dengan konsentrasi tertentu, jika
kelebihan warna kalium kromat akan menjadi kuning sehingga perubahan warna pada
saat titik ekivalen sulit dilihat karena kalium romat bereaksi dengan AgNO3 membentuk
Ag2Cr2O4 yang berwarna krem.
2.

Menentukan kadar Cl- dalam air laut


Pada aplikasi titrasi pengendapan yaitu penentuan kadar Cl- dalam air laut, langkah
pertama yang dilakukan adalah dengan mengukur berat jenis air laut,yaitu dengan
menimbang piknomete rkosong dan juga menimbang piknometer yang sudah diisi dengan
air laut. Dari sini dapat dihitung massa jenis air laut. Yaitu dengan menggunakan rumus

. Dimana m (massa) diperoleh dengan mengurangi massa piknometter yang sudah


diisi dengan air laut dengan massa piknometer kosong. Sedangkan Volume diproleh dar
ivolume piknometer itu sendiri. Dan pada percobaan ini diperoleh massa jenis air laut
adalah 1,0409 g/mL.Setelah itu, air laut dalam piknometer dipipet 10 mLdan diencerkan
1000 kali pada labu ukur 100 mL.Kemudian dari larutan yang sudah diencerkan tersebut
diambil 10 mL dengan menggunakan pipet gondok, dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 250
mL dan ditambah 5 tetes indicator K2CrO4 5 % sehingga larutan yang awalnya bening tak
berwarna berubah menjadi kuning bening. Kemudian dititrasi dengan larutan AgNO 3 yang
telah distandarisasi yaitu 0,0133 N.
Adanya indikator K2CrO4 menyebabkan terjadinya reaksi pada titik akhir dengan
titran sehingga terbentuk endapan yang berwarna merah bata, yang menunjukkan titik
akhir adalah perubahan warnanya dari warna endapan analit dengan Ag +. Pada analisa Clterjadi reaksi :
Ag+(aq) + Cl-(aq) AgCl(s)
sedangkan pada titik akhir titran juga bereaksi menurut reaksi:
2Ag+(aq) + CrO42-(aq) Ag2 CrO4 (s)

Titrasi dihentikan sampai terdapat endapan berwarna kemerah-merahan dimana


endapan tersebut adalah Ag2CrO4 yang merupakan reaksi antara indikator K2CrO4 dengan
AgNO3 pada titik akhir titrasi.Titrasi aplikasi ini dilakukan sebanyak 3 kali. Dan volume
AgNO3berturut-turut yang diperlukan adalah sebesar V1 = 1,6 mL; V2 = 1,9 mL; V3 = 2,0
mL, dan diperoleh kadar rata rata Cl- dalam air laut adalah sebesar 8,2531 %.
X. DISKUSI
Dalam percobaan titrasi pengendapan ini adabeberapa kendala yang kami dapatkan,
yaitu pada saat melakukan aplikasi dar ititrasi pengendapan dalam menentukan kadar Cldalam air laut. Dalam melakukan percobaan ini, air laut terlebih dahulu diencerkan 1000
kali dengan menggunakan labu ukur 100 mL. Dan dalam pengenceran ini dapat diketahui
bahwa hanya beberapa tetessaja air laut yang ada dalam larutan baku karena telah
diencerkan sebanyak 1000 kali. Sehingga dalam penentuan kadarCl- dalam air laut pun
tidak bias diperoleh hasil yang maksimal.

XI. KESIMPULAN
Dari hasil percobaan dan analisis data serta pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:
1.

Standarisasilarutan AgNO3denganlarutanNaCl
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa normalitas atau konsentrasi
AgNO3 (argentum nitrat) dapat diketahui melalui analisis menggunakan metode
titrimetri, titrasi argentometri dengan standar primer natrium klorida (NaCl) 0,0106
N yang melibatkan K2CrO4 sebagai indikator yang menunjukkan perubahan warna
menjadi endapan merah bata pada titik ekivalen.
Konsentrasi dari AgNO3 dapat diketahui berdasarkan volume AgNO3 rata-rata
yang diperoleh dari titrasi dan dengan rumus N1.V1 = N2. V2(mek HCl = mek
AgNO3) didapatkan konsentrasi AgNO3 0,0133 N.

2.

PenentuankadarCl- dalam air laut


Penentuan kadarCl- dalam
smenggunakan

metode

titrasiar

airlaut
gentometri

dapat
yang

dikeahui

melalui

analisi

melibatkanK2CrO4 sebagai

indikator yang menunjukkan perubahan warna menjadi endapan merah bata pada
titik ekivalen.
Perhitungan kadarCl- dalam sampel air lautanalisisdenganmenggunakan rumus
persen berat. Dan diperolehkadarCl- rata rata adalahsebesar 8,2531 %.

DAFTAR PUSTAKA
Basset, J. et al. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Edisi 4.
Jakarta: Buku kedokteran EGC.
Day, R.A. Underwood.A.L.1986. Quantitative Analysis. New York: Prentice Hall
(terjemahan oleh A. Hadyana P 1998). Analisis Kimia Kuantitatif (ed. Ke-6) Jakarta :
Erlangga.
Tim DDKA. 2001. Panduan Praktikum Dasar-Dasar Kimia Analitik. Surabaya: Jurusan
Kimia FMIPA Unesa.

LAMPIRAN

1. Penentuan (standarisasi) larutan AgNO3 0,1 N dengan NaCl p.a sebagai baku
Diketahui : massa NaCl = 0,062 gram = 62 mg
v NaCl = 10 ml
v AgNO3= 7,7 ml ; 8 ml ; 8,1 ml
ditanya : [AgNo3] rata-rata.........?
jawab :
mmol NaCl =

62mg
= 1,0609 mmol
58, 443mg / mmol

M NaCl =

1, 0609mmol
= 0,0106 M
100ml

N NaCl =

M 0, 0137 N 0, 0132 N 0, 0131 N


=
= 0,0106 N
n
3

I.

II.

III.

m.ek NaCl
0,0106N.10 ml
N AgNO3

=
=
=

m.ek AgNO3
N AgNO3 . 7,7 ml
0,0137 N

m.ek NaCl
0,0106 N . 10 ml
N AgNO3

=
=

m.ek AgNO3
N AgNO3 . 8 ml
0,0132 N

m.ek NaCl
0,0106 N . 10 ml
N AgNO3

=
=

[AgNO3] rata-rata

m.ek AgNO3
N AgNO3 . 8,1 ml
0,0131 N
0, 0137 N 0, 0132 N 0, 0131 N
= 0,0133 N
3

LAMPIRAN
PERHITUNGAN

2. Penentuan Kadar Cl- Dalam Air Laut


Diketahui : massa air laut = 52,0485 gram
V air laut = 50 ml
V sampel = 10 ml
N AgNO3 = 0,0133 N
V AgNO3 = 1,6 ml ; 1,9 ml; 2 ml
ditanya : %Cl-............?
jawab :
m 52, 0485 g

air laut =
= 1,0409 g/ml
v
50ml
massa sampel = . V sampel
= 1,0409 g/ml . 10 ml
= 10,04090 gram
I.

m.ek Cl-

m.ek AgNO3

0,013 N . 1,6 ml

0,0213 m.ek

massa Cl- dalam 1/1000 ml = 0,0213 m.ek . 35,5 mg / m.ek


= 0,7561 mg
massa Cl- dalam 1000 ml =
1000ml
x0, 7561mg 756,1mg 0, 7561gram
1ml

0, 7561g
%Cl
x100 7, 2640%
10, 4090 g

II.

m.ek Cl-

m.ek AgNO3

0,013 N . 1,9 ml

0,0247 m.ek

massa Cl- dalam 1/1000 ml = 0,0247 m.ek . 35,5 mg / m.ek


= 0,8768 mg
massa Cl- dalam 1000 ml =

7, 2640

8, 4235 9, 0719 %
3

0,8768 g
%Cl
x100 8, 4235%
10, 4090 g

III.

m.ek Cl-

m.ek AgNO3

0,013 N . 2,0 ml

0,0266 m.ek

massa Cl- dalam 1/1000 ml = 0,0266 m.ek . 35,5 mg / m.ek


= 0,9443 mg
massa Cl- dalam 1000 ml =
1000ml
x0,9443mg 944,3mg 0, 9443 gram
1ml

0,9443 g
%Cl
x100 9, 0719%
10, 4090 g

Kadar Cl- rata-rata =

7, 2640

8, 4235 9, 0719 %
3

REAKSI
3.
4.
5.

2Ag+(aq) + CrO42-(aq)

Ag2 CrO4 (s)

= 8,2531 %

1.

LAMPIRAN FOTO HASIL PERCOBAAN


StandarisasilarutanAgNO3dengan NaCl

HasilSetelahtitrasidarikirikekanan :
V1AgNO3
: 7,7 mL
V2AgNO3
: 8,0 mL
V3AgNO3
: 8,1 mL

2.

PenentuankadarCl-dalamair laut
HasilSetelahtitrasidarikirikekan
an :
V1HCl
: 3,0 mL
V2HCl
: 3,0 mL
HasilSetelahtitrasidarikirikekanan
V3HCl
: 3,0 mL:

V1AgNO3
V2AgNO3
V3AgNO3

: 1,6 mL
: 1,9 mL
: 2,0mL