You are on page 1of 15

ABOUT

IKAWARTIKAJUST ANOTHER WORDPRESS.COM SITE


Ekosistem Estuaria
IKAWARTIKA APRIL 3, 2012 TINGGALKAN KOMENTAR

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Estuari adalah jenis perairan yang memiliki variasi yang tinggi ditinjau
dari faktor fisik, kimia, biologi, ekologi dan jenis habitat yang terbentuk di
dalamnya. Oleh karena itu interaksi antara komponen fisik, kimia dan biologi
yang membentuk suatu ekosistem sangat kompleks. Hal ini disebabkan karena
dinamika dari estuari sangat besar, baik dalam skala waktu yang pendek karena
adanya pasang surut maupun dalam skala waktu yang panjang karena adanya
pergantian musim.

Pada ekosistem estuari ini terbentuk habitat-habitat yang memiliki ciri


khas tersendiri dengan organisme-organisme penyusunnya yang spesifik seperti
Habitat Rawa Asin. Oleh karena itu ekosistem estuary sangat erat kaitannya
dengan habitat rawa asin. Hal ini disebabkan karena organisme tersebut harus
mampu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Respon dari tingkah
laku organisme tersebut dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya juga
beragam dan memiliki ciri khas tersendiri. Pada batas ambang toleransi
organisme terhadap lingkungan membatasi keberadaannya di suatu organisme.
Organisme yang mampu bertahap pada kondisi fisik dan kimia perairan dapat
tetap hidup dan tinggal nyaman di habitatnya, tetapi bagi organisme yang tidak
mampu bertahan pada ambang toleransinya akan menjadi organisme
pengunjung transisi, dimana pada saat sesuai dengan batas ambangnya
organisme ini akan masuk ke habitat di estuari, tetapi jika tidak maka organisme
ini akan meninggalkan daerah estuari ini.

Seperti halnya pada setiap ekosistem, pada ekosistem estuari ini juga
dibentuk oleh komponen biotic dan abiotik yang saling berinteraksi satu sama
lain. Keanekaragaman komponen biotic dan abiotik yang terdapat didalamnya
menyebabkan terjadinya interaksi yang cukup kompleks dan menarik untuk
diteliti. Namun ekosistem estuary ini ternyata tidak cukup dikenal oleh

masyarakat pada umumnya dan jarang sekali dibahas atau disosialisasikan,


padahal ekosistem estuary ini memiliki keanekaragaman yang cukup tinggi.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari pembuatan makalah mengenai Ekosistem Estuari ini adalah
sebagai berikut :

Untuk mengetahui dan memahami komposisi organisme laut di daerah


estuary

Untuk mengetahui keadaan ekosistem estuary, khususnya keadaan rawa asin

Untuk mengetahui komponen komponen biotic dan abiotik dalam daerah


muara ( estuary ) beserta interaksi/ hubungan timbal balik yang terbentuk
didalamnya.

Untuk mengetahui keanekaragaman organisme dan adaptasi organisme


( makhluk hidup ) yang terdapat dalam daerah estuary terhadap lingkungannya.

Untuk mengetahui pemanfaatan organisme organisme penyusun ekosistem


estuary tersebut terhadap bidang perikanan.

Memperkenalkan dan memberikan informasi mengenai ekosistem estuary.

II. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Ekosistem Estuaria

Ekosistem estuary merupakan bagian dari ekosistem air laut yang terdapat
dalam zona litoral ( kelompok ekosistem pantai ). Estuaria merupakan tempat
pertemuan air tawar dan air asin. Estuaria adalah suatu perairan semi tertutup
yang terdapat di hilir sungai dan masih berhubungan dengan laut, sehingga
memungkinkan terjadinya percampuran air laut dan air tawar dari sungai atau
drainase yang berasal dari muara sungai, teluk, rawa pasang surut.[1]

Ekosistem estuaria terdapat pada wilayah pertemuan antara sungai dan laut.
Tempat ini berperan sebagai daerah peralihan antara kedua ekosistem akuatik.
Estuari (muara) merupakan tempat bersatunya sungai dengan laut. Estuari
sering dipagari oleh lempengan lumpur intertidal yang luas atau rawa garam.
Salinitas air berubah secara bertahap mulai dari daerah air tawar ke laut.
Salinitas ini juga dipengaruhi oleh siklus harian dengan pasang surut airnya.
Nutrien dari sungai memperkaya daerah estuari.

Komunitas tumbuhan yang hidup di estuari antara lain rumput rawa garam,
ganggang, dan fitoplankton. Komunitas hewannya antara lain berbagai cacing,
kerang, kepiting, dan ikan. Bahkan ada beberapa invertebrata laut dan ikan laut
yang menjadikan estuari sebagai tempat kawin atau bermigrasi untuk menuju
habitat air tawar. Estuari juga merupakan tempat mencari makan bagi vertebrata
semi air, yaitu unggas air.

Bentuk estuaria bervariasi dan sangat bergantung pada besar kecilnya air
sungai, kisaran pasang surut, dan bentuk garis pantai. Kebanyakan estuaria
didominasi subtrat lumpur yang berasal dari endapan yang dibawa oleh air tawar
maupun air laut. Karena partikel yang mengendap kebanyakan bersifat organik,
subtrat dasar estuaria biasanya kaya akan bahan organik. Bahan organic ini
menjadi cadangan makanan utama bagi organisme estuaria.

Dengan kondisi lingkungan fisik yang bervariasi dan merupakan daerah


peralihan antara darat dan laut, estuari mempunyai pola pencampuran air laut
dan air tawar yang tersendiri. Menurut (Kasim, 2005)[2], pola pencampuran
sangat dipengaruhi oleh sirkulasi air, topografi , kedalaman dan pola pasang
surut karena dorongan dan volume air akan sangat berbeda khususnya yang
bersumber dari air sungai. Berikut pola pencampuran antara air laut dengan air
tawar:

Pola dengan dominasi air laut (Salt wedge estuary) yang ditandai dengan
desakan dari air laut pada lapisan bawah permukaan air saat terjadi pertemuan
antara air sungai dan air laut. Salinitas air dari estuaria ini sangat berbeda
antara lapisan atas air dengan salinitas yang lebih rendah dibanding lapisan
bawah yang lebih tinggi.
Pola percampuran merata antara air laut dan air sungai (well mixed estuary).
Pola ini ditandai dengan pencampuran yang merata antara air laut dan air tawar
sehingga tidak terbentuk stratifikasi secara vertikal, tetapi stratifikasinya dapat
secara horizontal yang derajat salinitasnya akan meningkat pada daerah dekat
laut.
Pola dominasi air laut dan pola percampuran merata atau pola percampuran
tidak merata (Partially mixed estuary). Pola ini akan sangat labil atau sangat
tergantung pada desakan air sungai dan air laut. Pada pola ini terjadi
percampuran air laut yang tidak merata sehingga hampir tidak terbentuk
stratifikasi salinitas baik itu secara horizontal maupun secara vertikal.
Pada beberapa daerah estuaria yang mempunyai topografi unik, kadang terjadi
pola tersendiri yang lebih unik. Pola ini cenderung ada jika pada daerah muara
sungai tersebut mempunyai topografi dengan bentukan yang menonjol
membetuk semacam lekukan pada dasar estuaria. Tonjolan permukaan yang
mencuat ini dapat menstagnankan lapisan air pada dasar perairan sehingga,
terjadi stratifikasi salinitas secara vertikal. Pola ini menghambat turbulensi dasar
yang hingga salinitas dasar perairan cenderung tetap dengan salinitas yang
lebih tinggi.
2.2 Klasifikasi Estuaria

Berdasarkan stratifikasinya, estuaria diklasifikasikan menjadi tiga


jenis[3], yaitu :

Estuaria berstratifikasi nyata atau baji garam


Dicirikan oleh adanya batas yang jelas antara air tawar dan air laut, didapatkan
dilokasi dimana aliran air tawar lebih dominan dibanding penyusupan air laut.

Estuaria bercampur sempurna atau estuaria homogen vertical


Pengaruh pasang surut sangat dominant dan kuat sehingga air bercampur
sempurna dan tidak membentuk stratifikasi.

Estuaria berstratifikasi sebagian (moderat)


Aliran air tawar seimbang dengan masuknya air laut bersama arus pasang.

Berdasarkan salinitas ( kadar garamnya ), estuaria dibedakan menjadi tiga jenis,


yaitu :

Oligohalin yang berkadar garam rendah ( 0,5% 3 % )


Mesohalin yang berkadar garam sedang ( 3% 17 %)
Polihalin yang berkadar garam tinggi, yaitu diatas 17 %
2.3 Karakteristik Estuaria

Karakteristik ( ciri ciri ) ekosistem estuaria adalah sebagai berikut :

Keterlindungan
Estuaria merupakan perairan semi tertutup sehingga biota akan terlindung dari
gelombang laut yang memungkinkan tumbuh mengakar di dasar estuaria dan
memungkinkan larva kerang-kerangan menetap di dasar perairan.

Kedalaman

Kedalaman estuaria relatif dangkal sehingga memungkinkan cahaya matahari


mencapai dasar perairan dan tumbuhan akuatik dapat berkembang di seluruh
dasar perairan, karena dangkal memungkinkan penggelontoran (flushing)
dengan lebih baik dan cepat serta menangkal masuknya predator dari laut
terbuka (tidak suka perairan dangkal).

Salinitas air
Air tawar menurunkan salinitas estuaria dan mendukung biota yang padat.

Sirkulasi air
Perpaduan antara air tawar dari daratan, pasang surut dan salinitas menciptakan
suatu sistem gerakan dan transport air yang bermanfaat bagi biota yang hidup
tersuspensi dalam air, yaitu plankton.

Pasang
Energi pasang yang terjadi di estuaria merupakan tenaga penggerak yang
penting, antara lain mengangkut zat hara dan plangton serta mengencerkan dan
meggelontorkan limbah.

Penyimpanan dan pendauran zat hara


Kemampuan menyimpan energi daun pohon mangrove,lamun serta alga
mengkonversi zat hara dan menyimpanya sebagai bahan organik untuk nantinya
dimanfaatkan oleh organisme hewani.

2.4 Tipe-tipe Estuaria

Pembagian tipe-tipe estuari dapat dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu, kekuatan
gelombang, pasang surut dan keberadaan sungai. Kuat lemahnya ketiga faktor
ini tergantung dari bentuk geomorfologinya[4].

Secara umum tipe-tipe estuari dapat dibagi menjadi tujuh tipe, yaitu:

Embayments and drown river valleys (Teluk dengan sungai dari lembah bukit)

Wave-dominated estuaries (Estuari dengan dominasi gelombang)


Wave-dominated deltas (Delta dengan dominasi gelombang)
Coastal lagoons and strandplains (Lagun dengan hamparan tanah datar)
Tide-dominated estuaries (Estuari dengan dominasi pasang surut)
Tide-dominated deltas (Delta dengan dominasi pasang surut)
Tidal creeks (Daerah pasang surut dengan banyak anak sungai)
2.5 Produktivitas Hayati Estuaria

Ekosistem estuaria merupakan ekosistem yang produktif. Produktivitas hayatinya


setaraf dengan prokduktivitas hayati hutan hujan tropik dan ekosistem terumbu
karang[5]. Produktivitas hayati estuaria lebih tinggi dibandingkan dengan
produktivitas hayati perairan laut dan perairan tawar. Hal ini disebabkan oleh
factor factor berikut :

Estuaria berperan sebagai penjebak zat hara.


Jebakan ini bersifat fisik dan biologis. Ekosistem estuaria mampu menyuburkan
diri sendiri melalui :

Dipertahankanya dan cepat didaur ulangnya zat-zat hara oleh hewan-hewan


yang hidup di dasar esutaria seperti bermacam kerang dan cacing.
Produksi detritus, yaitu partikel- partikel serasah daun tumbuhan akuatik makro
(makrofiton akuatik) seperti lamun yang kemudian dimakan oleh bermacam ikan
dan udang pemakan detritus.
Pemanfaatan zat hara yang terpendam jauh dalam dasar lewat aktivitas mikroba
(organisme renik seperti bakteri ), lewat akar tumbuhan yang masuk jauh
kedalam dasar estuary atau lewat aktivitas hewan penggali liang di dasar
estuaria seperti bermacam cacing.
Di daerah tropik estuaria memperoleh manfaat besar dan kenyataanya bahwa
tetumbuhan terdiri dari bermacam tipe yang komposisinya sedemikian rupa
sehingga proses fotosintesis terjadi sepanjang tahun. Estuaria sering memiliki
tiga tipe tumbuhan, yaitu tumbuhan makro (makrofiton) yang hidup di dasar
estuary atau hidup melekat pada daun lamun dan mikrofiton yang hidup
melayang-layang tersuspensi dalam air (fitoplankton). Proses fotosintesis yang
berlansung sepanjang tahun ini menjamin bahwa tersedia makanan sepanjang
tahun bagi hewan akuatik pemakan tumbuhan. Dalam hal ini mereka lebih baik,

dinamakan hewan akuatik pemakan detritus, karena yang dimakan bukan daun
segar melainkan partikel-partikel serasah makrofiton yang dinamakan detritus.
Aksi pasang surut (tide) menciptakan suatu ekosistem akuatik yang permukaan
airnya berfluktuasi. Pasang umumnya makin besar amplitudo pasang surut,
makin tinggi pula potensi produksi estuaria, asalkan arus pasang tidak tidak
mengakibatkan pengikisan berat dari tepi estuaria. Selain itu gerak bolak-balik
air berupa arus pasang yang mengarah kedaratan dan arus surut yang
mengarah kelaut bebas, dapat mengangkut bahan makanan, zat hara,
fitoplanton, dan zooplankton.
2. 6 Peran Ekologis Estuaria

Secara singkat peran ekologi estuaria yang penting adalah sebagai berikut:

Merupakan sumber zat hara dan bahan organik bagi bagian estuari yang jauh
dari garis pantai maupun yang berdekatan denganya lewat sirkulasi pasang
surut (tidal circulation).
Menyediakan habitat bagi sejumlah spesies ikan yang ekonomis penting sebagai
tempat berlindung dan tempat mencari makan (feeding ground).
Memenuhi kebutuhan bermacam spesies ikan dan udang yang hidup dilepas
pantai, tetapi bermigrasi keperairan dangkal dan berlindung untuk memproduksi
dan/atau sebagai tempat tumbuh besar (nursery ground) anak mereka.
Sebagai potensi produksi makanan laut di estuaria yang sedikit banyak
didiamkan dalam keadaan alami. Kijing yang bernilai komersial (Rangia euneata)
memproduksi 2900 kg daging per ha dan 13.900 kg cangkang per ha pada
perairan tertentu di texas.
Perairan estuaria secara umum dimanfaatkan manusia untuk tempat
pemukiman,
Tempat penangkapan dan budidaya sumberdaya ikan
Jalur transportasi, pelabuhan dan kawasan industry
Ada tiga komponen fauna di estuaria yaitu komponen lautan,air tawar dan air
payau.Binatang laut stenohalin merupakan tipe yang tidak mampu mentolerir
perubahan salinitas. Komponen ini terbatas pada mulut estuaria. Binatang laut
eurihalin membentuk subkelompok kedua. Spesies ini mampu menembus hulu
estuaria. Komponen air payau terdiri atas polikaeta Nereis diversicolor,berbagai
tiram(crassostrea), kerang(Macoma balthica), siput kecil (hydrobia) dan udang
(palaemonetes). Komponen terakhir berasal dari air tawar. Organisme ini tidak
dapat mentolerir salinitas di atas 5 dan terbatas hulu estuaria.

Spesies yang tinggal di estuaria untuk sementara seperti larva, beberapa spesies
udang dan ikan yang setelah dewasa berimigrasi ke laut.Spesies ikan yang
menggunakan estuaria sebagai jalur imigrasi dari laut ke sungai dan sebaliknya
seperti sidat dan ikan salmon.

Jumlah spesies yang mendiami estuaria sebagaimana yang dikemukakan Barnes


(1974)[6],pada umumnya jauh lebih sedikit daripada yang mendiami habitat air
tawar atau air asin di sekitarnya. Hal ini karena ketidakmampuan organisme air
tawar mentolerir kenaikan salinitas dan organisme air laut mentolerir penurunan
salinitas estuaria.

2.7.2

Tumbuhan

Hampir semua bagian esturaria terendam terdiri dari subtract lumpur dan tidak
cocok untuk melekatnya makroalga. Selain karena subtract,pengaruh sinar
cahaya yang minim menyebabkan terbentuknya dua lapisan. Lapisan bawah
tanpa tumbuhan hidup dan lapisan atas mempunyai tumbuhan yang terbatas. Di
daerah hilir estuaria terdapat padang rumput laut(Zostera dan Cymodeca).

Selain itu terdapat padang lamun. Lamun didefinisikan sebagai satu-satunya


tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang mampu beradaptasi secara penuh di
perairan yang salinitasnya cukup tinggi atau hidup terbenam di dalam air dan
memiliki rhizoma, daun, dan akar sejati. Beberapa ahli juga mendefinisikan
lamun (Seagrass) sebagai tumbuhan air berbunga, hidup di dalam air laut,
berpembuluh, berdaun, berimpang, berakar, serta berbiak dengan biji dan tunas.

Gambar 1. Morfologi lamun

Algae mikro yang hidup sebagai plankton nabati atau hidup melekat pada daun
lamun.

2.7.3 Plankton

Plankton estuaria miskin dalam jumlah spesies. Dengan demikian,yang


ditemukan hanya jenis diatom dan diflagellata.Jenis diatom yang dominan adalah
Skeletonema,Asterionella dan Melosira.Sedangkan diflagellta yang melimpah
adalah Gymnodinium,Gonyaulax dan Ceratium.Banyaknya zooplankton yang
berkembang membuktikan bahwa terjadi keterbatasan produktivitas
fitoplankton.

III. KESIMPULAN

Estuaria merupakan tempat pertemuan air tawar dan air asin.Tempat ini
berperan sebagai daerah peralihan antara kedua ekosistem akuatik. Estuari
(muara) merupakan tempat bersatunya sungai dengan laut. Estuari sering
dipagari oleh lempengan lumpur intertidal yang luas atau rawa garam. Salinitas
air berubah secara bertahap mulai dari daerah air tawar ke laut. Salinitas ini juga
dipengaruhi oleh siklus harian dengan pasang surut aimya. Nutrien dari sungai
memperkaya estuari.

Ekosistem estuaria disusun oleh komponen biotic dan abiotik yang saling
melakukan interaksi. Biota yang menyusun estuaria diantaranya adalah berbagai
macam hewan dan tumbuhan.

Hewan yang mendiami estuaria dapat berbentuk spesies endemik (seluruh


hidupnya tinggal di estuaria) seperti berbagai macam kerang dan kepiting serta
berbagai macam ikan, spesies yang tinggal di estuaria untuk sementara seperti
larva, beberapa spesies udang dan ikan yang setelah dewasa berimigrasi ke laut
serta spesies ikan yang menggunakan estuaria sebagai jalur imigrasi dari laut ke
sungai dan sebaliknya seperti sidat dan ikan salmon.

Secara umum, tumbuhan yang hidup di ekosistem estuaria adalah Tumbuhan


Lamun (sea grass) dan Algae mikro yang hidup sebagai plankton nabati atau
hidup melekat pada daun lamun.

Organism organism yang hidup di estuaria melakukan berbagai adaptasi untuk


mempertahankan hidupnya, seperti adaptasi morfologi yang berkaitan dengan
bentuk dan ukuran tubuh, adaptasi fisiologi yang berkaitan dengan pengaturan
osmosis dalam tubuh dan adaptasi tingkah laku ( behavioral ) yang berkaitan
dengan hubungan interaksi organisme.

Ekosistem estuaria memiliki beberapa peranan terhadap alam dan organisme


lainnya. Ekosistem estuaria mempunyai peranan yang cukup besar terhadap
keanekaragaman ekosistem di dunia ini. Oleh karena itu, ekosistem estuaria

perlu dijaga kelestariannya, karena dalam ekosistem estuaria terdapat berbagai


organisme yang turut menyusun keanekaragaman hayati.

DAFTAR PUSTAKA

Kasim, MaRuf. 2005. Estuary : Lingkungan unik yang sangat penting.


http://maruf.wordpress.com/2005/12/27/estuary-lingkungan-unik-yang-sangatpenting/
Kasim, MaRuf. 2005. Pola Percampuran Estuary.
http://maruf.wordpress.com/2005/12/22/pola-percampuran-estuary/
NIWA Science. 2007. New Zealand Estuaries.
http://www.niwa.cri.nz/edu/students/estuaries.
Nybakken, James W. 1988. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta:PT.
Gramedia.

www.atlasnasionalindonesia.com

[1] Science. 2007. New Zealand Estuaries. Nybakken, James W. 1988. Biologi
Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta:PT. Gramedia.

[2] Kasim, MaRuf. 2005. Estuary : Lingkungan unik yang sangat penting NIWA

[3] Anshori, Moch dan Djoko Martono. 2006. Biologi untuk SMA Kelas X. Jakarta :
Pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

[4] Kasim, MaRuf. 2005. Pola Percampuran Estuary.

[5] Kasim, MaRuf. 2005. Estuary : Lingkungan unik yang sangat penting NIWA

[6] Science. 2007. New Zealand Estuaries. Nybakken, James W. 1988. Biologi
Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta:PT. Gramedia.

Tentang iklan-iklan ini

Share this:
TwitterFacebook

POSTED IN: UNCATEGORIZED


Navigasi pos Pos Sebelumnya
Tinggalkan Balasan

Ketikkan komentar di sini...


Cari
Type keywords and press Enter
Cari
Pos-pos Terbaru

Ekosistem Estuaria
3
Hello world!
Arsip

April 2012
Kategori

Uncategorized
Meta

Daftar
Masuk
RSS Entri
RSS Komentar
WordPress.com
BLOG DI WORDPRESS.COM.
Ikuti
:)

https://ikawartika.wordpress.com/2012/04/03/ekosistem-estuaria-2/