You are on page 1of 5

LAPORAN HASIL PELATIHAN

PENDAMPINGAN AKREDITASI FASYANKES PRIMER


BAGI TIM DINAS KESEHATAN KABUPATEN/KOTA
TAHUN 2016
TANGGAL 17 S/D 28 FEBRUARI 2016

DISUSUN OLEH:
dr. Elrista Layamidesi, MKM
Edi Prianto, SKM, MPH
Nova Andriana, SKM

DINAS KESEHATAN KOTA BENGKULU


TAHUN 2016
I. PENDAHULUAN
Dalam rangka meningkatkan pelayanan Fasilitas Kesehatan
Tingkat Pertama kepada masyarakat terutama puskesmas perlu
dilakukan

berbagai

upaya

peningkatan

kinerja

dengan

pembakuan dan pengembangan system manajemen mutu serta


perbaikan kinerja yang berkesinambungan
Akreditasi merupakan upaya yang bertujuan mendorong
peningkatan mutu dan kinerja pada Fasilitas Kesehatan Tingkat
Pertama. Penilaian ini dilakukan oleh lembaga independen yang
memperoleh kewenangan dari Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia.
Penilaian dalam akreditasi puskesmas dilakukan terhadap:
1. Manajemen Puskesmas;
2. Penyelenggaraan Upaya Kesehatan;
3. Pelayanan Klinis.
Standar yang digunakan untuk penilaian telah ditetapkan oleh
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.Untuk memenuhi
standar penilaian tersebut Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama
perlu didampingi oleh fasilitator yang memenuhi kriteria yang
telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.

II.

AKREDITASI PUSKESMAS
Akreditasi puskesmas merupakan pengakuan terhadap
puskesmas

yang

diberikan

oleh

lembaga

independen

penyelenggara akreditasi yang ditetapkan oleh Menteri setelah


dinilai bahwa puskesmas tersebut memenuhi standar pelayanan

fasilitas kesehatan tingkat pertama yang telah ditetapkan untuk


meningkatkan mutu pelayanan secara berkesinambungan.
Akreditasi puskesmas menilai tiga kelompok pelayanan
yang ada di puskemas, meliputi:
1. Kelompok
administrasi
manajemen

puskesmas,

yang

diuraikan dalam :
a. BAB I. Penyelenggaraan Pelayanan Puskesmas (PPP),
b. BAB II. Kepemimpinan dan Manajemen Puskesmas (KMP),
c. BAB III> Penigkatan Mutu dan Manajemen Resiko (PMMR).
2. Penyelenggaraan upaya puskesmas, yang diuraikan dalam :
a. BAB IV. Upaya Kesehatan Masyarakat Berorientasi Sasaran
(UKMBS),
b. BAB V. Kepemimpinan dan Manajemen Upaya Kesehatan
Masyarakat (KMUKM),
c. BAB VI. Sasaran Kinerja Upaya Kesehatan Masyarakat.
3. Pelayanan klinis.
a. BAB VII. Layanan Klinis Berorientasi Pasien (LKBP),
b. BAB VIII. Manajemen Penunjang Layanan Klinis (MPLK),
c. BAB IX. Peningkatan Mutu Klinis dan Keselamatan Pasien
(PMKP).
Penilaian keberhasilan puskesmas dapat dilakukan oleh
internal

organisasi

puskesmas

itu

sendiri.

Namun

untuk

menjamin bahwa perbaikan mutu, peningkatan kinerja dan


penerapan

manajemen

berkesinambungan

di

resiko

puskesmas,

dilaksanakan
maka

perlu

secara
dilakukan

penilaian oleh pihak eksternal dengan menggunakan standar


akreditasi yang telah dijabarkan di atas.
Ketentuan kelulusan akreditasi adalah sebagai berikut :
1. Tidak terakreditasi (remedial), jika :
BAB I dan II 75%; BAB IV, V dan VII 60%; BAB III, VI, VIII
dan IX 20%.
2. Terakreditasi dasar, jika :
BAB I dan II 75%; BAB IV, V dan VII 60%; BAB III, VI, VIII
dan IX 20%.
3. Terakreditasi madya, jika :

BAB I, II,IV dan V 75%; BAB VII dan VIII 60%; BAB III, VI,
dan IX 40%.
4. Terakreditasi utama, jika:
BAB I, II,IV, V, VIIdan VIII 80%; BAB III, VI, dan IX 60%.

5. Terakreditasi purnama, jika semua BAB 80%.


Hingga akhir tahun 2015 belum ada satupun puskesmas di
Provinsi

Bengkulu

yang

terakreditasi.

Puskesmas

wajib

diakreditasi secara berkala paling sedikit tiga tahun sekali dan


akreditasi merupakan salah satu persyaratan kredensial sebagai
fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang bekerjasama
dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
Pelaksanaan akreditasi dimuat dalam:
1. Undang-Undang

No.

24

Tahun

2011

tentang

Badan

Penyelenggara Jaminan Sosial;


2. Permenkse No. 75 Tahun 2014 tentang Puskesmas;
3. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 59 Tahun 2015 tentang
Komisi Akreditasi FKTP;
4. Permenkes No. 46 Tahun 2015 tentang Akreditasi.

III.

PENDAMPINGAN AKREDITASI
Pendampingan akreditasi

merupakan

kegiatan

yang

dilakukan oleh Tim Pendamping Akreditasi memenuhi kriteria


yang telah ditetapkan dan disahkan dengan Keputusan Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pendampingan praakreditasi
merupakan

kegiatan

puskesmas

agar

Pendampingan

pendampingan

dapat

paska

untuk

memenuhi
akreditasi

mempersiapkan

standar
merupakan

akreditasi.
kegiatan

pedampingan yang dilakukan setelah puskesmas dinyatakan


lulus

akreditasi

untuk

memelihara

serta

meningkatkan

pencapaian Standar Akreditasi dari waktu ke waktu sampai


dilakukan penilaian akreditasi berikutnya.

Tim Pendamping Akreditasi Puskesmas dibentuk oleh Dinas


Kesehatan

Kabupaten/Kota

Keputusan

Kepala

Dinas

dan

ditetapkan

Kesehatan

dengan

Surat

Kabupaten/Kota,

beranggotakan minimal 3 (tiga) orang dengan kriteria :


1. Merupakan tenaga kesehatan terdiri dari satu orang dokter
umum dan dua orang tenaga kesehatan lain dengan jenjang
pendidikan minimal D3.
2. Memiliki kompetensi dalam bidang manajemen kesehatan,
pelayanan

klinis

dan

penyelenggaraan

upaya

kesehatan

masyarakat di puskesmas.
3. Memiliki sertifikat kelulusan Pelatihan Pendamping Akreditasi
Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama.
4. Membuat
pernyataan
kesediaan

melaksanakan

tugas

pendampingan selama 3 tahun masa kerja terhitung sejak


tanggal ditetapkan Surat Keputusan Kadinkes Kab/Kota.
IV.

PENUTUP
Mengingat pentingnya peningkatan mutu dan kinerja
puskesmas maka perlu dilakukan penilaian melalui mekanisme
akreditasi.

Keberhasilan

puskesmas

dalam

meraih

status

akreditasi sangat tergantung pada kegiatan pendampingan yang


dilakukan oleh Tim Pendamping Akreditasi Kabupaten/Kota. Agar
Tim dapat bekerja dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan
maka perlu ketetapan berupa Surat Keputusan Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota.
Kegiatan

pendampingan

akreditasi

bukan

merupakan

kegiatan untuk mencari nilai yang menghasilkan juara, namun


lebih kepada kegiatan yang berorientasi pada peningkatan mutu
kinerja

puskesmas.

Hal

ini

membutuhkan

waktu

dalam

pelaksanaannya. Untuk itu kegiatan pendampingan harus mulai


dilakukan secepatnya agar penilaian akreditasi dapat dilakukan
pada akhir tahun 2016.